Langsung ke konten utama

Amoy Pengundang Birahi 2


"Bangun non. Nanti ketinggalan pesawat.. suara supir Cecilia berusaha membangunkannya dari luar kamar.

Sehari sebelumnya Cecilia memang sudah berpesan kepada sopirnya supaya dibangunkan karena takut kesiangan.

"Buka aja pintunya. ucap pamannya Cecilia.

"Saya ngga berani pak. jawab supirnya.

Paman Cecilia berkunjung untuk menjemput keponakannya. Cecilia ingin liburan di luar kota dan nginep sementara di rumah paman serta bibinya tapi dia takut naik pesawat sendirian jadi pamannya datang hanya untuk menjemputnya.

Pamannya membuka pintu kamar Cecilia yang tidak terkunci. Siapa sangka mereka berdua langsung terkejut ketika melihat seorang perempuan cantik yang telanjang bulat sedang berbaring di kasur.

"Aduh.. Cecil.. kamu kok tidurnya sambil telanjang kayak gini sih ? Cecilia dibangunkan oleh paman dan supirnya yang masuk ke kamar.

"Hehe.. mungkin kemarin abis kecapean kuliah kali pak.. soalnya bini saya dikampung juga sering tidur telanjang kayak gini. Apalagi kalau abis dipake sama saya.. Sahut sopirnya sambil tersenyum mesum.

Setelah bangun mereka berdua tidak langsung pergi. Cecilia pun tidak terlihat malu-malu bertelanjang tubuh di hadapan mereka.

"Aku mandi bentar ya. Nyalain aja mobilnya sama tolong koper ku angkatin ke mobil pak. ucap Cecilia yang bergegas masuk ke kamar mandi.

Paman dan supirnya duduk menunggu di dalam mobil tapi waktu terus bergulir. Pamannya tidak tenang lalu memutuskan masuk memanggil Cecilia yang masih di kamar mandi. Ketika pintu diketuk Cecilia membuka pintu dalam keadaan telanjang lagi.

Bodohnya Cecilia. Seluruh pakaiannya ada di dalam koper tadi. Saking buru-burunya dia langsung berjalan ke mobil bersama pamannya dalam keadaan telanjang bulat lalu masuk ke kursi tengah disusul pamannya yang duduk di kursi depan sebelah supir. Untung di rumahnya sedang tidak ada siapa-siapa selain mereka bertiga.

Cukup lama Cecilia bertelanjang tubuh di dalam mobil. Supir dan pamannya tak henti-hentinya mencuri pandang dari spion tengah. Kadang pamannya menoleh ke belakang untuk memandang tubuh Cecilia dengan modus berbasa-basi. Seumur hidup mengenal keponakan cantiknya ini pertama kalinya ia bisa melihatnya telanjang apalagi sedekat ini.

Cecilia yang memang nakal dan suka eksib sengaja tidak langsung berpakaian. Dia sengaja berlama-lama dengan dalih mengeringkan tubuhnya memakai kipas elektrik kecil yang tersedia di dalam mobil.

"Sering dapet pemandangan kayak gini pak ? tanya paman ke supir terang-terangan di depan Cecilia.

"Waduh haha.. jawab pak supir serba salah.

"Dia mah lebih juga pernah. sahut Cecilia.

"Oya lebih kayak apa tuh Cel" balas si paman.

"Sini ke belakang biar tau" jawab Cecilia.

Di tengah kemacetan sang paman pindah ke kursi belakang tanpa turun dari mobil. Cecilia langsung menyambutnya dengan mencium bibirnya. Mereka berpelukan sambil cipokan dengan mesra.

"Saya mana pernah kayak begituan sama non Cecilia. ucap pak supir dari depan.

"Oh ngga pernah ya? Ya udah sini pernahin" jawab Cecilia nakal sambil sekujur tubuhnya digerayangi oleh pamannya dengan penuh nafsu. Tentu saja pak supir tidak berani karena ada omnya Cecilia. Dia tidak mau kehilangan pekerjaannya.

Bukan tanpa alasan omnya Cecilia begitu bernafsu. Sejak kemarin ketika sampai Cecilia sudah tampil menggoda dengan berpakaian minim di rumahnya. Gayanya yang supel dan bitchy itu juga sangat menggemaskan bagi lelaki manapun yang bertemu dengannya.

Tubuh Cecilia yang masih lembab karena habis mandi diciumi dan dijilati oleh omnya. Sejak kejadian yang lalu di hotel di mana ia menjadi wanita bayaran Cecilia semakin tidak jaim lagi dalam melampiaskan nafsunya. Dengan terang-terangan Cecilia meraba-raba bagian selangkangan omnya yang masih berpakaian lengkap. Omnya pun menuruti kemauan Cecilia. Mereka berdua kini telanjang bulat di kursi tengah mobil.

Bandara sudah di depan. Antrean mobil menunggu untuk antar-jemput. Supirnya bingung harus bagaimana.

"Nanti beli tiket next flight aja. Di depan kalau tidak salah ada hotel" ucap Cecilia sebentar melepaskan bibirnya dari cipokan omnya.

"Ya udah gitu aja" balas omnya singkat.

"Nanti kalau tante nanya bilang aja kamu ketiduran sampai siang" tambahnya lagi.

Kemudian mereka berpakaian lengkap karena mobil diperiksa security sebelum masuk hotel.

"Om udah lama ya nafsu sama aku" tanya Cecilia sesaat sebelum mobil berhenti.

"Emang kenapa" balas omnya.

"Dari dulu kan tiap ketemu om suka megang-megang aku" jawab Cecilia. Memang omnya Cecilia ini dari dulu setiap kali ketemu ada saja modusnya untuk bisa menyentuh tubuh indah Cecilia.

"Abis kamu cantik banget Cel" balas omnya lagi.

"Nanti lampiasin aja sepuasnya mumpung tidak ada tante" balas Cecilia. Mereka pun turun dari mobil dan langsung check-in.

Next flight yang mereka booking masih empat jam lagi. Begitu masuk kamar Cecilia dan omnya langsung bercinta dengan mesra layaknya pasangan suami istri. Tidak ada satu inci pun di tubuh Cecilia yang luput dari jamahan omnya.


Sambil menjilati memek Cecilia yang tengah berbaring terlentang sambil mengangkang omnya berkata "Ngga nyangka perempuan secantik kamu bisa liar begini Cel".

"Abis kemarin malem om yang mulai" balas Cecilia. Maksudnya kemarin malam ketika menginap di rumahnya Cecilia saat mengobrol berduaan di malam hari omnya tidak henti-henti berusaha menyentuhkan tubuhnya ke tubuh Cecilia dengan berbagai macam modusnya.

Selama empat jam itu mereka gonta-ganti gaya tanpa henti. Omnya ternyata cukup prima untuk meladeni hasrat liar dan hyper Cecilia.

Awalnya Cecilia merebahkan diri di kasur dengan kaki mengangkang lebar. Omnya menungganginya sambil memompa kejantanan ke dalam liang kewanitaannya secara kasar dan dalam. Setiap hujaman membuat Cecilia melenguh panjang sambil mencengkeram seprai.

Kemudian Cecilia berbalik posisi. Dia menunggangi omnya dengan gerakan naik turun yang brutal. Payudaranya bergoyang-goyang di depan wajah omnya. Omnya meremas buah dadanya sambil menghisap puting susu yang sudah menegang. Cecilia mengerang keenakan setiap kali kontol besar itu menusuk titik paling sensitifnya.

Mereka berpindah ke tepi kasur. Cecilia berjongkok di lantai sementara omnya berdiri. Dia mengulum kejantanan omnya dengan rakus. Air liurnya membasahi batang sampai ke buah zakar. Omnya memegang kepala Cecilia dan merojok mulutnya pelan-pelan sampai Cecilia tersedak tapi tetap tidak melepaskan.

Setelah itu omnya menidurkannya telentang lagi lalu mengangkat kedua kakinya ke atas bahu. Dia menggenjot dengan tempo cepat dan kasar. Suara kulit bertemu kulit memenuhi kamar. Cecilia mendesis dan melolong setiap kali peju omnya hampir keluar tapi ditahan.

Gaya berikutnya Cecilia berlutut di atas kasur dengan tangan bertumpu. Omnya masuk dari belakang sambil meremas pantatnya kencang. Hujaman demi hujaman membuat tubuh Cecilia maju mundur. Lendir kawin sudah membasahi paha mulusnya.

Cecilia bahkan memanggil supirnya untuk mengantarkan koper yang berisi pakaian. Ketika supirnya tiba ia menyuruhnya masuk. Si supir melihat Cecilia sedang doggy style dengan omnya itu. Kontol omnya masih menghujam dalam-dalam ke memek Cecilia yang sudah basah kuyup sementara Cecilia menoleh ke arah pintu dengan wajah penuh birahi.

"Nghh.. anghhh.. taro disitu aja pak.. ucap Cecilia sambil disodok-sodok memeknya.

Supirnya mematung melihat anak majikannya yang sangat cantik dan seksi itu sedang ML di hadapannya. Melihat itu Cecilia berkata lagi "Bapak nonton boleh pergi boleh tapi jangan ikutan ya aku capek ahmng.. ahnggh...

Si supir berdiri di dekat pintu dengan tangan sudah masuk ke dalam celana. Dia memutuskan untuk coli di tempat saja sambil melihat anak bosnya yang amoy itu. Matanya tidak berkedip mengikuti setiap gerakan tubuh Cecilia yang sedang digauli dari belakang oleh omnya.

Cecilia menoleh ke arah supir. Wajahnya sudah basah oleh keringat dan air liur. Dia melihat tangan supir yang bergerak naik turun di balik celana. Nafas Cecilia semakin berat. Hasratnya naik lagi meski tubuhnya sudah lelah.

"Sini pak.. aku bantu kocokin.. biar cepat keluar.. Panggil Cecilia..

Dia mengulurkan tangan ke arah supir. Dengan gerakan lambat dia meraih pinggang supir lalu menariknya mendekat. Resleting celana supir dibukanya pelan-pelan. Kontol yang sudah setengah tegang itu keluar. Cecilia menggenggamnya sesaat sambil menatap wajah supir yang mematung.

Tanpa berkata apa-apa Cecilia membuka mulut. Lidahnya menjulur lalu menjilat ujung kejantanan itu. Slurpo.. Dia mengulum perlahan dari kepala sampai ke tengah batang. Air liurnya mulai membasahi. Sementara itu omnya tetap merojok memeknya dari belakang dengan tempo yang tidak berkurang.

Cecilia mengulum semakin dalam. Kepala kontol menyentuh tenggorokannya. Dia menggerakkan kepala maju mundur sambil sesekali menjilati buah zakar supir. Suara hisapan basah bercampur dengan desahan tumpul dari tenggorokannya.

Omnya memegang pinggul Cecilia lebih kencang. Hujaman dari belakang semakin dalam dan kasar. Cecilia terdorong maju setiap kali omnya menyodok. Kontol di mulutnya ikut masuk lebih dalam. Air mata mulai keluar di sudut matanya tapi dia tidak melepaskan.

Beberapa saat kemudian tubuh omnya menegang. Dia menghentak beberapa kali dengan cepat lalu muncrat dalam-dalam ke memek Cecilia untuk kesekian kalinya. Peju hangat memenuhi liang kewanitaannya. Cecilia ikut klimaks. Tubuhnya bergetar hebat. Memeknya meremas kontol omnya sambil dia tetap mengulum kontol supir.

Supir masih belum keluar. Tangannya sekarang memegang kepala Cecilia membantu gerakan oral itu. Waktu sudah mepet. Mereka harus segera bersiap.

"Kalian berdua lanjutin di mobil aja saya yang nyetir" ucap omnya.

Mereka semua pun berpakaian lalu menuju mobil. Di mobil Cecilia dan supirnya duduk di tengah lalu mereka kembali melepaskan pakaian mereka.

Lalu lintas sangat macet. Si supir tampak senang. Cecilia yang sudah lelah hanya meladeni nafsu menggebu-gebu dari supirnya itu seadanya. Cecilia rebahan ditindih dan dientot oleh supirnya.

"Kok belom keluar sih" tanya Cecilia.

"Saya sukanya cewek di atas non" jawab supirnya.

Menyadari waktu yang tersisa sedikit Cecilia tidak terima kalau ia gagal membuat cowo muncrat. Cecilia pun totalitas. Supirnya disuruh bersandar. Cecilia naik ke pangkuannya sambil memeluknya. Kontol supirnya ia arahkan masuk ke memeknya lalu mulai menungganginya dengan ulekan yang luar biasa nikmat. Tidak lupa Cecilia pun mencipok supirnya itu dengan sangat hot jauh lebih hot daripada yang ia dan omnya alami barusan.

"Ahmngg ahnggg aku udah lama pingin ngentot sama kamu ahngg" Cecilia memulai dirty talknya sambil menunggangi kontol supirnya itu. Pamannya terpaksa menegur karena goyangan Cecilia sampai membuat badan mobil turut bergoyang.

"Kamu pernah ngintip aku mandi kan ahngg besok-besok kalau ngintip lagi ahngg langsung masuk aja ahngg aku mau kok ngentot sama kamu ahngg" Cecilia terus lanjut tanpa menghiraukan teguran omnya itu.

Sekejap kemudian supirnya pun muncrat. Cecilia menyudahinya dengan memberikan ciuman brutal yang membuat wajah mereka berdua dipenuhi air liur.

"Udah puas kan? Jangan ketagihan ya ntar aku repot" ucap Cecilia.

Mereka pun berpakaian.

Cecilia dan omnya kemudian berangkat naik pesawat untuk liburan di tempat om dan tantenya itu.

POV Cecilia

Tidak ada kejadian spesial selama liburan di rumah omku karena bibiku selalu ikut ke mana pun aku pergi. Liburan pun telah berakhir. Aku kembali sibuk kuliah.

Saat ini aku tengah bercumbu di dalam mobil taksi online di parkiran kampusku padahal lima belas menit lagi kelas dimulai dan hari ini jadwalku presentasi tugas. Padahal baru beberapa bulan lalu aku dibayar dua ratus juta buat melayani seorang pemilik hotel dan sekarang tubuhku sedang dinikmati gratisan oleh supir taksi online yang baru pertama kali kutemui.

Memang sih aku hari ini tidak pakai beha cuma tanktop putih tipis ngatung yang menampakkan perutku dan cardigan hitam untuk menutupinya. Tapi sejak aku masuk mobilnya si pak supir melihatin aku dengan wajah mupeng banget. Bahkan di sepanjang perjalanan aku digombalin terus. Mana AC mobilnya tidak dingin lagi aku sampai terpaksa melepas cardigan biar tidak mati kepanasan.

Tadinya aku duduk di kursi belakang tapi kemudian pindah ke depan niatnya supaya kena hembusan angin AC tapi si pak supir kayaknya menangkap lain. Begitu aku duduk dia langsung modus mau memasang seat beltku sambil menggerayangi mencari ujung sabuk pengamannya otomatis badannya nempel-nempel ke badanku.

"Ngga usah Pak udah deket kok" ucapku menghentikan upayanya menggerayangi aku secara tidak langsung itu.

Hujan turun deras. Lobi kampus penuh sesak oleh antrean kendaraan. Ketika mau turun karena tidak bawa cash aku harus bayar secara digital tapi internet mati total. Karena tidak enak menghambat antrean aku suruh pak supir cari parkir saja dulu.

Internet tidak kunjung nyala. Si supir dari tadi melihatin aku yang mengutak-atik hape di sebelahnya cuma pakai tanktop tanpa beha. Keringatku sudah mengucur dari tadi saking panasnya mobilnya. Tanktop putih tipis ini pun jadi agak menerawang.

"Kenapa sih Pak ngeliatin gitu" ucapku.

"Eh ngga apa-apa mbaknya seksi banget" balasnya.

"Aku bayarnya nanti aja ya internetnya lagi mati" balasku lagi.

"Ngga bisa gitu dong mbak. Nanti saya lapor pihak berwajib" balasnya nyolot.

"Yailah cuma seratus ribu doang Pak. Mobil bapak saya beli juga bisa ini cuma internetnya saja lagi mati" balasku dengan kesal.

"Kalau ngga gini deh kalau saya boleh megang-megang mbak mbaknya ngga usah bayar" ucapnya.

"Megang apa" aku penasaran.

"Megang itu teteknya" jawabnya.

Hah gila saja. Tubuhku yang dibayar pemilik hotel seharga dua ratus juta ini sekarang mau dipegang-pegang cuma untuk seratus ribu.

"Ngga ah najis" balasku dengan memasang wajah jijik.

"Ya udah terserah mbak saja" balasnya.

Kalau dipikir-pikir lagi baru beberapa minggu lalu tubuhku ini dinikmati secara gratisan oleh om sekaligus supirku sendiri. Tapi waktu itu akunya yang lagi ingin sedangkan sekarang aku lagi pusing memikirkan tugas kampus. Tidak ada gairah ke arah sana. Mana setengah jam lagi kelas dimulai dan aku mesti presentasi. Duh.

Aku yang dari tadi menatap ke luar jendela menoleh ke arahnya. Dia sedang memandangi aku seperti ketika pertama kali aku masuk mobilnya dengan tatapan penuh nafsu.

"Megang aja ya ngga lebih. Cepetan aku ada kelas" ucapku dengan ketus.

"Oke" ucapnya. Kemudian ia melancarkan aksinya. Payudaraku diusap-usap digenggam dan diremasnya tanpa masuk ke dalam tanktop.

"Turunin aja senderannya biar mbaknya nyaman" ucapnya. Entah kenapa aku pun menurutinya. Kini aku duduk senderan sambil payudaraku dimainkan dengan tangannya. Kemudian lenganku diangkatnya lalu ketiakku dijilatnya.

"Wangi banget ketek cewek cantik" ucapnya. Aku yang tadinya risih dan kesal entah kenapa mulai terbawa suasana.

Dia terus menciumi ketiakku sambil meremas-remas payudaraku. Aku menyudahinya dengan merapatkan lenganku.

"Udah kan" ucapku.

"Bentar banget mbak. Lima menit lagi deh" dia menawar.

"Ya udah cepetan" balasku.

Dia melanjutkan aksinya. Tapi ketika lenganku hendak diangkatnya aku tahan. Geli ah dijilatin ketek. Eh mulutnya malah nyosor ke tempat lain. Sekarang leher sampai dadaku yang diciuminya sambil tangannya berusaha memelorotkan tanktopku tapi aku tahan. Setiap kali pentilku terbuka dia langsung nyosor hendak menghisapnya tapi langsung dengan sigap aku naikkan kembali tanktopku sehingga dia terpaksa menghisap putingku dari luar karena ketutupan tanktop. Padahal sih pentilku sudah tidak karuan ngejiplak gara-gara tanktopku yang sudah basah oleh keringat ini makin ditambah basah oleh liurnya.

Kayaknya sih sudah lewat lima menit. Tapi aku biarkan saja dia meneruskan. Karena di lobi juga terlihat masih padat antrean kendaraan dan kalau telat nanti tinggal alasan hujan gede. Ini pertama kalinya aku menyusui supir taksi online di parkiran pas hujan gede begini. Apalagi di luar lagi rame. Tapi karena hujannya gede banget jadi tidak ada yang curiga.

Tiba-tiba dari jendela pengemudi ada yang mengetuk. Kami berdua kaget.

"Butuh payung" suara anak kecil ojek payung menawarkan jasanya. Si supir melirik ke arahku mungkin dikiranya lima menit sudah habis dan aku siap pergi sekalian pakai ojek payung. Tapi aku menggelengkan kepala ke anak kecil ojek payung itu. Dia pun pergi.

Seketika anak itu pergi si supir langsung menggerayangi aku lagi. Kali ini ketika dia menarik turun tanktopku tidak aku tahan. Bahkan aku tidak kuasa lagi untuk tidak menjambak rambutnya ketika dia memainkan putingku dengan lidahnya.

Sambil membiarkan tubuhku dinikmati oleh pak supir aku memperhatikan anak kecil tadi. Dia terlihat berjalan ke pos security dan mengobrol dengan security di sana. Entah apa isi obrolannya tapi bahaya juga kalau sampai mobil ini disamperin sama security. Aku tepuk-tepuk kepala supir yang lagi asik menyusu itu.

"Pak itu anak kecilnya ngadu kali ya"

"Oh iya ya uda pindah aja dulu ya mbak" ucapnya buru-buru sambil mundurin mobil. Aku tidak merapikan pakaianku dan masih bertelanjang dada serta hanya diam saja.

"Mbaknya ngga telat masuk kelas" tanyanya lagi.

"Tunggu hujan reda" balasku singkat.

Kali ini mobil parkir cukup jauh di tanah lapang. Hujan mengguyur sangat deras. Tidak tampak seorang pun lalu lalang. Hanya beberapa kendaraan roda empat lewat untuk mencari parkir.

"Mbak sori ya saya dari tadi kebelet" ucapnya sambil mengambil botol plastik kosong. Kemudian dia membuka resletingnya dan mengeluarkan kontolnya lalu kencing di botol tersebut.

Tubuhku yang dari tadi sudah dirangsang olehnya ini jadi makin terasa tidak karuan melihatnya seperti itu. Tapi karena mesti jaim aku pura-pura cuek sambil merapikan tanktopku.

"Ini kita ngapain parkir jauh banget" tanyaku basa-basi. Dia sudah selesai kencing tapi risletingnya belum ditutup dan kontolnya masih keluar dari celananya. Aku mengajak ngomong dia tapi mataku ke selangkangannya.

"Ngentot aja yuk mbak tanggung banget nih" ucapnya sambil mengurut-ngurut kontolnya yang berangsur makin tegang itu.

"Cuma buat seratus ribu" balasku iseng.

"Yaelah paling mbak juga kelojotan nanti" balasnya lagi.

Memang kontolnya jauh lebih besar dari pemilik hotel supir dan omku. Aku tidak ingat pernah melihat kontol sebesar itu. Kayaknya ini pertama kalinya deh.

"Kalau ngga gini deh mbak cobain dulu kontol saya pakai mulut mbak ntar kalau suka baru masukin ke memek mbak gimana" ucapnya lagi untuk meyakinkan aku. Deal yang sangat konyol. Modus orang kampung alay tapi entah kenapa aku tidak bisa menolaknya.

Aku pun mulai mengocok kontolnya. Gantian kini dia yang senderan sambil aku kocokin. Ekspresiku pun jadi mupeng mengocok dia dengan mulut menganga ingin cepat-cepat memasukkannya ke mulutku. Aku menoleh ke kanan kiri depan belakang. Tidak tampak siapa-siapa dan hujan sangat deras. Aku pun membungkuk lalu mencium kemudian menjilati dan mengulum kontol supir itu.

"Gimana mbak mau ngga saya entotin" tanyanya sambil tangannya masuk ke celah jeans untuk meremas pantatku. Aku biarkan saja tangannya menjamah area tersebut.

"Bapak kontolnya gede banget" ucapku dengan mulut penuh air liurku sendiri.

"Iyalah gimana mau ngentot ngga" balasnya.

Aku melepaskan kontolnya dari mulutku kemudian menatapnya dengan wajah kami berdekatan. Aku menatapnya dengan memasang ekspresi manis campur sange. Kalau ia mencium aku aku akan langsung melepaskan seluruh pakaianku dan membiarkannya melakukan apapun yang ia inginkan terhadapku.


Dan itulah yang terjadi. Dia mencium aku dan aku langsung membalasnya dengan ciuman yang lebih liar. Lidahku menjilati seluruh mulutnya seolah sedang membersihkannya. Aku yang tadi jaim kini sudah bodo amat. Bertambah lagi satu orang lelaki yang tahu betapa liar dan nakalnya aku.

Sambil cipokan kami saling melucuti pakaian masing-masing. Kemudian aku inisiatif pindah ke kursi tengah disusul olehnya. Aku dan supir online itu kini telanjang bulat di kursi belakang mobilnya. Tubuhku dijilati dari ujung ke ujung olehnya. Belum selesai aku melepas sepatu dia sudah buru-buru merebahkan aku.

"Baru ini gw ketemu cewek secantik loe" ucapnya sambil menjilati tubuhku. Kemudian dia duduk. Aku pangku menghadapnya. Kontol besarnya itu masuk perlahan kemudian hapeku berdering di tas di kursi depan. Aku berusaha mengambilnya dengan sedikit kayang ke belakang tapi posisi ini malah makin membuat kontolnya menusuk semakin dalam ke titik sensitifku. Aku malah mendesah dan menggoyang-goyangkan pinggulku tanpa kunjung menjawab dering hapeku sampai deringnya hilang. Pak supir pun makin menggoyang-goyangkan pinggulnya dan makin bikin aku keenakan.

Hapeku berdering lagi. Tampak nama ketua kelompok tugas presentasi ku di layar hape. Harus aku angkat.

"Loe di mana" tanya ketua kelompokku.

"Hhh hhh hujan gede nih ahhh gede banget bakal telat kayaknya hhh" jawabku sambil menahan diri untuk tidak mendesah. Si pak supir malah makin meningkatkan tempo goyangannya bikin aku hampir mengerang keenakan karena klimaks tapi kutahan dengan menahan mulutku dengan tanganku sendiri.

"Gedean mana sama punya gw" terdengar salah satu anggota kelompok laki-laki yang memang alay dan bercandanya mesum nyeletuk dari sana. Alay banget padahal kenal juga tidak. Tapi di kampus ini aku memang terkenal sebagai primadona kampus yang cantik dan seksi dan sudah terbiasa digodain mesum begitu bukan hanya oleh mahasiswa bahkan oleh dosen juga. Mungkin karena gaya berpakaianku yang menonjolkan keseksian tubuhku.

"Hhhh jauh lebih gede yang ini hhhh" ucapku meladeni candaan celetukannya itu tanpa sengaja.

"Ya udah Cecil buruan ya" ucap ketua kelompok kemudian teleponnya ditutup.

Setelah panggilan itu aku membiarkan pak supir lanjut mengentot aku sampai aku klimaks berkali-kali. Dia muncrat tiga kali semuanya di memekku. Tidak mau mengotori mobilnya katanya. Sialan berarti dia mendingan mengotori aku daripada mengotori mobilnya.

Beneran ternyata aku dibuat kelojotan olehnya. Setelah selesai mengentot dan berpakaian ketika mobil bergerak dari parkiran ke lobby aku sempatkan menyepong kontolnya sambil dia menyetir tanpa dia minta. Tidak sampai muncrat sih.

Hujan belum reda tapi sudah mendingan. Waktu yang mepet ini aku tidak mungkin sempat bersih-bersih.

"Tutup tuh risletingnya ntar dilihat orang" ucapku sebelum turun dari mobil.

"Tutupin dong" jawabnya.

Aku pun menunduk dan menutup risletingnya dengan mulutku dengan cara menggigitnya. Kemudian aku cipok dia dengan singkat. Kayaknya ketika aku mencipoknya ada beberapa orang di luar mobil yang melihat ke dalam deh tapi bodo amat ah.

Kemudian aku melangkah buru-buru ke kelas untuk presentasi. Dengan memek yang terisi lendir pak supir dan kulitku yang lembab oleh sisa-sisa percumbuan kami tadi. Aku bahkan tidak sempat mengaca dulu saking buru-burunya. Siapa sangka mungkin yang aku presentasikan nanti di kelas bukan tugas kuliah tapi tubuhku sendiri.

"Aduh Pak maap telat hujannya gede banget" ucapku memohon untuk masuk kelas.

Saat ini bukan cuma tanktop tapi cardiganku juga basah karena keringatku merembes. Rambutku juga lepek karena basah. Seluruh kulitku lembab oleh keringat. Penampilanku persis seperti orang habis kehujanan padahal sebenarnya karena habis dicumbui di parkiran.

Mungkin karena tidak tega melihat aku yang basah kuyup begini dan karena mupeng melihat penampilanku pak dosen akhirnya mengizinkan aku masuk meski sudah telat satu jam lebih. Dan pas banget giliran kelompok terakhir yang presentasi yakni kelompokku. Karena aku telat dan belum briefing apa-apa jadinya aku ditugaskan buat mengklik next next slide powerpoint saja di komputer. Komputernya ada di meja dosen jadi aku duduk persis di sebelah dia.

Sepanjang presentasi aku hanya duduk mengklik mouse saja. Sesekali aku melirik ke pak dosen di sebelahku dan memergoki dia lagi melihatin aku. Pak dosen ada di sebelah kananku persis. Kelompok presentasi di sebelah kiriku. Layar komputer ada di depanku. Menyadari pak dosen melihatin aku aku kemudian memiringkan tubuhku sedikit ke arahnya tapi kepalaku tetap menghadap layar komputer. Seisi kelas tidak ada yang bisa melihat aku dengan jelas karena tertutup meja dan layar komputer. Jadi cuma pak dosen ini saja yang bisa melihatin aku dengan sangat jelas dan sangat dekat bahkan sesekali kaki kami bersentuhan.

Ketika kelompokku menjelaskan satu slide yang panjang penjelasannya aku dengan sengaja menyenggol pulpen pak dosen di meja. Pulpennya jatuh ke kolong. Aku ambil dengan membungkuk ke arahnya sambil menahan rambutku agar tidak tergerai ke bawah. Payudaraku yang hanya tertutup tanktop basah dan tipis tanpa bra ini bisa dilihat makin jelas olehnya. Aku sengaja menyuguhkan pemandangan tubuhku selain karena berterima kasih boleh ikut kelas meskipun telat sejam lebih juga karena tubuh dan pikiranku masih horny mode.

Sepanjang presentasi aku duduk menghadap pak dosen memunggungi kelompokku tapi kepalaku menoleh ke layar monitor.
Waktu menunduk mengambil pulpen sebelah bahuku terekspos karena cardigannya melorot sebelah tapi tidak aku benarkan posisinya. Sebenarnya ingin aku copot saja cardigannya tapi males ah banyak mahasiswa dan mahasiswi lain.

Presentasi selesai. Kelas pun selesai. Tapi karena aku telat banget aku dikasih tugas buat merangkum semua file tugas kelompok hari itu cuma empat sih di komputer tersebut. Gampang sebenarnya tinggal copy paste.

Pas seisi kelas bubaran aku masih duduk di meja dosen mengutak-atik komputer. Cardiganku tutup rapat dengan menahannya pakai tanganku. Sampai kelas kosong dan tinggal pak dosen yang tersisa baru aku lepaskan tanganku. Belahan dada dan pusarku pun kembali bisa dinikmati oleh pak dosen yang dari tadi duduk di sampingku.

Suara berisik orang lalu lalang di lorong pas bubaran kelas. Aku inisiatif berjalan ke pintu dan menutup pintu kelas yang tadi dibiarkan terbuka.

"Kenapa keganggu berisik ya" tanya pak dosen.

"Iya Pak" jawabku sambil kembali duduk.

"Kalau saya di sini kamu keganggu tidak" tanyanya lagi.

"Tidak kok malah aku senang ada yang menemani" jawabku.

Aku kemudian menanyakan sesuatu terkait tugas tersebut. Dia menjelaskan dengan memegang mouse yang sedang aku pegang otomatis tangannya memegang tanganku. Kemudian dia berdiri dan makin merapatkan tubuhnya dengan sedikit membungkuk sambil mengajari aku dengan merangkul aku. Dari posisinya dia bisa memandangi dadaku dari atas dengan jelas. Tapi kayaknya masih kurang jelas deh maka aku bermurah hati dengan melepaskan cardiganku.

Aku menghalau tangannya yang sedang merangkul aku. Dia agak kaget mungkin dikiranya aku tersinggung digerayangi begitu. Tapi kemudian tanpa berkata apa-apa aku melepaskan cardiganku.

"Gimana tadi sori aku gerah" ucapku setelah melepaskan cardigan. Dia pun kembali menjelaskan. Rangkulannya yang tadi bersentuhan dengan kain cardigan kini bersentuhan dengan kulitku langsung.

"Kamu keringetan banget" ucapnya sambil mengusap-usap lengan dan bahuku.

"Iya habis gerah banget" jawabku. Seandainya ini bukan di ruang kelas mungkin aku akan jauh lebih nekad dari ini dan sepertinya pak dosen itu pun berpikiran sama. Meski tanpa terucap aku dan pak dosen itu menyepakati untuk menikmati sebatas sentuhan-sentuhan tipis ini kali ini. Entah deh di lain waktu.

Penjelasan dia selesai. Aku kembali mengerjakan tugasnya. Tapi dia tetap merangkul aku sambil aku mengklik-klik mouse dan mengetik di keyboard. Tangannya juga mulai menjamah area payudaraku. Aku pura-pura tidak ngeh dan fokus mengerjakan tugas sambil bergumam sendiri mengucapkan kalimat yang perlu kuketik.

Setiap kali remasannya di payudaraku semakin bernafsu dan masuk ke dalam tanktopku aku menoleh ke arah pintu. Dia pun jadi kembali sadar bahwa kita lagi di ruang kelas dan di luar banyak orang serta mereka bisa membuka pintu kapan pun. Dia pun sadar dan kembali menggerayangi aku secara normal tidak berlebihan.

Tugas sudah selesai. Aku tutup semua tabs di monitor tapi tetap duduk kalem digerayangi olehnya. Menyadari tampilan monitor yang polos pak dosen bertanya.

"Kamu sudah selesai".

"Sudah bapak sudah selesai belum" balasku.

Dia serba salah dan bingung bagaimana menjawab aku. Apalagi hapenya berdering. Ada mahasiswi menagih jadwal bimbingan skripsi. Si pak dosen ini ternyata seharusnya sudah ada di ruangannya sejak lima belas menit yang lalu.

Tapi sebelum dia beranjak dari kursinya aku kasih satu atraksi lagi.

"Eh bentar Pak aku mau copy filenya ke flash disk bentar". Colokan flash disk ada di cpu di kolong meja persis di hadapannya jadi aku duduk di pangkuannya sambil nungging ke kolong meja untuk menyolok flash disk kemudian kembali menggerakkan mouse dari posisi yang sama yakni di pangkuannya.

Dia tak kuasa untuk tidak memegang pinggulku. Aku pun dengan murah hati sedikit menggoyang-goyangkan pinggulku. Terasa sangat jelas kontolnya yang sudah mengeras. Atraksi ini cukup singkat. Setelah selesai mengcopy file aku nungging lagi ke kolong meja untuk mengambil flash disk dengan tangannya masih memegang pinggulku.

Pada posisi ini entah kenapa tiba-tiba dia berdiri dan menahan punggungku dengan tangannya agar aku tidak bangkit. Jadinya aku nungging sambil kemudian dia menghentak-hentakkan pinggulnya ke aku yang lagi nungging mengambil flash disk. Kami berdua masih berpakaian komplit tapi sepertinya nafsunya sudah di ubun-ubun dan sedikit lagi klimaks jadi aku biarkan saja dan bersabar sedikit.

Untuk membantunya aku keluar dari kolong meja agar dia bisa melihat aku meremas-remas payudaraku sendiri sambil di dry humping olehnya. Tidak lama kemudian dia melenguh karena orgasme.

"Bapak ditungguin mahasiswi lain tuh" ucapku sambil memakai cardiganku kembali.

Kami berdua pun kemudian berjalan ke luar kelas dan masuk elevator yang sama. Di elevator karena hanya kami berdua dan tidak ada cctv-nya dia bilang.

"Sori dan makasih ya jangan bilang siapa-siapa".

Aku pun merespon dengan tersenyum dan mencium bibirnya hingga lidah kami bertautan sekejap.

Ting. Pintu lift terbuka. Lantai tujuan tiba dan di luar banyak orang. Kami pun berjalan ke tempat tujuan masing-masing.

Komentar