By : Analconda13 Pagi itu kabut masih menyelimuti kota Pematang Siantar saat aku berdiri di depan rumah kayu kami yang sudah usang. Aku Sui Ling berusia 20 tahun dengan kulit putih halus khas perempuan Chindo dan rambut hitam lurusku terikat ponytail sederhana. Tas ransel tua di punggungku terasa berat meski hanya berisi baju secukupnya dan sedikit makanan bekal. Ayah dan ibuku berdiri di teras dengan wajah lelah namun penuh harap.
Beberapa hari sudah berlalu sejak hukuman kasar di ranjang kamar Evelyn. Gadis chindo itu mencoba bersikap lebih patuh dihadapan ayah tirinya yang kejam dan penuh kuasa. Setiap hari gadis itu mencoba pulang tepat waktu dan memakai pakaian sopan ketika pergi keluar rumah dan memanggil Khalid dengan sebutan tuan tanpa banyak protes. Tapi di dalam hatinya api pemberontakan masih menyala kecil. Chastity belt sesekali masih dipasang lagi sebagai pengingat hukuman yang telah diterimanya. Hampir setiap malam ketika mamanya sedang tidak ada dirumah karena suatu urusan maka Khalid akan selalu memperlakukan tubuhnya dengan cara kasar sehingga meninggalkan bekas tamparan samar di payudara dan pantatnya. Meskipun terlihat mengerikan tapi Evelyn mulai merasa tubuhnya perlahan berubah. Ia semakin sensitif terhadap sentuhan kasar ayah tirinya meskipun perangainya yang sulit diatur terkadang masih memberontak.