Beberapa hari setelah sesi foto dan penyebaran ke group chat pedagang kaki lima suasana di toko mulai terasa berbeda bagiku. Aku masih bekerja seperti biasa karena aku mengangkat kardus berat lalu menyusun barang di rak dan melayani pelanggan dengan sopan. Namun mataku selalu mencuri pandang ke arah Livi. Gadis itu berusaha keras bersikap normal di depan orang tuanya sehingga dia masih manja memanggil Papa dan Mama dengan suara lembut. Dia tertawa kecil saat Koh Aliong bercanda dan bersikap kekanak-kanakan seperti biasa. Tapi aku tahu yang sebenarnya karena tubuhnya sudah mulai meninggalkan jejak yang sulit disembunyikan.
⚠️ DISCLAIMER / ATTENTION ⚠️ Cerita ini murni fiksi dan hanya untuk tujuan hiburan semata. Semua tokoh, peristiwa, nama tempat, atau dialog di dalamnya adalah hasil rekaan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menghina, menghasut kebencian, atau menjelekkan kelompok etnis, ras, agama, atau golongan tertentu. Segala kesamaan nama atau kejadian dengan peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten ini dan tidak membawa materi cerita ini ke ranah nyata. Seminggu berlalu lagi seperti mesin motor tua yang nyaris mogok. Aku melakukan ojol dari pagi sampai siang merokok di pinggir jalan dan tidur gelisah di kasur busa yang semakin tipis. Bayangan Vanessa masih nempel di kepala bersama aroma air laut di atas kapal pesiar serta desahan yang manis. Aku membuka aplikasi XBang Oriental hanya sekali lalu memeriksa countdown. Kali ini aplikasi tersebut cukup pelit sehingga bukan lima nama segar melainkan hanya dua profil baru yang muncul di bagian Fresh B...