Beberapa hari setelah peristiwa malam itu aku jadi semakin tak karuan. Setiap kali mengingat apa yang terjadi di kamar aku merasakan campuran antara penyesalan dan keinginan yang kuat. Penyesalan itu muncul karena aku tahu tindakanku sangat berisiko. Namun di sisi lain keinginan untuk merasakan sentuhan kasar Parman lagi terus mengganggu pikiranku siang dan malam. Aku sering gelisah di kamar sendirian. Tubuhku langsung terasa panas setiap kali bayangan penis kerasnnya yang menghujam kembali muncul di kepala. Aku berusaha menahan diri tapi semakin hari semakin sulit.
Aku bekerja di sebuah resto steak yang juga menyediakan salad bar di dalam mal. Beberapa minggu terakhir ini ada seorang customer bapak-bapak yang rajin berkunjung ke resto tempatku bekerja. Ketika dia makan matanya selalu memandangiku. Kalau aku lewat dekat mejanya dia selalu tersenyum. Dia berusaha mengajakku berkomunikasi tetapi belum pernah berhasil karena suasana resto sedang ramai sehingga aku dan waiter waitress lainnya sangat sibuk melayani tamu.