Kadang kehidupan itu berputar, ada saatnya aku duduk dengan wine dan cowok-cowok kelas ataspun berusaha mendekatiku dan aku dengan gampangnya memainkan mereka. Diantara jas-jas mahal dan jam tangan miliaran aku mengendalikan mereka dengan kerlinganku. Tapi hidup juga ada di bawah, dimana ketika aku bahkan dipermainkan tanpa busana dan harga diri oleh para kuli yang penghasilannya di bawah UMR.
Penderitaan tak berujung sang majikan. Setelah kepergian Mang Yusuf dan yang lainnya Lizzy kembali termenung sendirian. Air mata mengalir membasahi pipinya karena dia masih tidak habis pikir dengan nasib yang sedang dialaminya sekarang. Terbayang kedua orang tuanya membuat hatinya semakin sakit. Mungkin keadaannya tidak akan seburuk ini kalau kedua orang tuanya masih selalu berada di sisinya. Bahkan sejak beberapa hari lalu Lizzy sudah tidak bisa merasakan hidup bebas lagi.