Langsung ke konten utama

Draft Pemburu Amoy Pecinan 2

Beberapa hari setelah kejadian tak senonoh didalam toko malam itu. Hubungan rahasia antara aku dan Livi berkembang dengan cepat. Setiap sore saat toko sepi atau saat Koh Aliong dan istrinya sedang istirahat di lantai dua rumah.. aku mulai mendidik Livi dengan cara yang lebih dalam. Awalnya aku hanya memuji dia saat kami bercinta kasar beberapa waktu yang lalu. Tapi lama kelamaan aku sengaja memasukkan kata-kata kotor dan penghinaan ringan untuk melihat reaksinya.

Malam itu toko sudah ditutup seperti biasanya. Livi gadis chindo yang manis itu duduk di pangkuanku di belakang meja kasir. Rok abu abu seragam sekolahnya terangkat ke pinggang dan celana dalamnya sudah diturunkan ke lutut. Aku memeluknya dari belakang sambil jari-jari tanganku yang kapalan bermain didalam kemlauannya yang sudah basah.

"Non Ching Ching kayaknya udah pantes jadi lonte kecil ya sekarang… suka dientot kasar sama kuli pribumi tua kayak bapak. bisikku di telinganya sambil memasukkan dua jari sekaligus.

Livi menggigil dan napasnya tersengal. Awalnya dia masih malu-malu tapi aku sengaja mengulang kata-kata itu setiap kali kami bercinta dengan tujuan untuk semakin membakar birahinya.

"Ayo non.. jangan diam aja kalau lagi diewe sama bapak. Bilang dong non… bilang kalau non Livi itu lonte cina murahan yang suka dihina sama pribumi. perintahku pelan tapi tegas sambil mengusap klitorisnya lebih cepat.

Livi menggigit bibir dan wajahnya merah padam. Tapi setelah beberapa hari kulatih sepertinya dia mulai terbiasa. Bahkan dia mulai menikmati kata-kata hinaan rasis yang kuumpat untuk dirinya.

"Iyaa.. paaak… Livi ini lonte cina murahan… suka dikatai cabul sama pribumi… aaahh… hhngg… enak pak… please.. masukin jarinya lebih dalam lagi… rengeknya manja dengan suara terengah penuh gairah sambil memutar pinggulnya di jariku.

Aku tersenyum puas melihat hasil kerja kerasku selama ini. Proses pencucian otak terhadap Livi sudah mulai berhasil dengan sempurna. Dulu dia seorang perawan murni yang innocent yang selalu menolak segala sentuhan apalagi hal-hal kasar seperti ini. Namun kini dia rela membiarkan memeknya dipeju berkali-kali. Semua itu karena keberhasilanku dalam meyakinkan Livi bahwa memek yang dipeju sampai positif hanyalah resiko seks yang lumrah terjadi. Yang penting tidak sampai hamil besar benar maka semuanya aman dan tidak masalah. Keyakinan itu kini tertanam kuat di benaknya sehingga dia semakin terbuka menerima segala bentuk kenikmatan.

Kali ini aku masukkan tiga jari sekaligus ke dalam liang kewanitaannya yang sempit dan basah. Lalu aku memompa dengan irama cepat tanpa henti. Livi mendesis dan melenguh keras karena sensasi yang membanjiri tubuhnya. Tubuhnya yang masih rapat itu kini mulai terbiasa dengan penetrasi kasar. Aroma tubuhnya yang seksi semakin kuat bercampur dengan lendir kawin yang keluar deras. Aku terus memompa lebih dalam lagi supaya dia semakin terbiasa dengan rasa penuh dan basah di dalam sana.

Payudaranya yang montok naik turun mengikuti irama tanganku. Kulit putihnya memerah karena birahi yang sudah mencapai puncak. Aku tahu otaknya sudah terprogram untuk menikmati setiap saat seperti ini. Oleh karena itu aku tidak ragu untuk terus menggenjot liang kewanitaannya dengan jari-jari ini sampai dia mengerang tanpa kendali.

"Sssshh.. gimana non enak kan dikobelin sama bapak.. coba kalau cici non si Caroline itu mau diginiin juga sama bapak. Pasti bapak bakal tambah betah deh kerja dimari.. hehe.. Sahutku.

"Aakkhh... kenapa harus ci Caroline sih pak.. emangnya bapak gak puas apa udah mainin badan aku kayak gini.. sssshh... 

"Bukannya gak puas non.. tapi kalau semua anak majikan bisa bapak entotin gratis kan enak banget non.. bapak mah yakin non kalau cici non udah ngerasain kontol bapak seperti yang non ching ching rasain sekarang. Dia pasti gak bakalan galak lagi sama bapak. Yang ada cici non malah minta dikontolin terus kali sama bapak..

"Berarti cici aku bakalan bapak kerjain terus dong tiap hari..

"Yah pastilah non. Tapi kalau cici non si Caroline itu mah gak bakalan bapak mainin pake jari lagi memeknya.. tapi bapak sodokin kasar pakai gagang gayung atau gagang sikat wc yang warna hitam itu.. soalnya bapak masih sakit hati sama cici non yang dulu pernah ngeludahin bapak.

Kata kata pengakuan dariku membuat Livi merinding ketakutan namun dia juga tak bisa memungkiri kalau kata kata kasarku pada cicinya juga berhasil membakar gairahnya. Ketika teringat kejadian waktu diludahin itu amarahku pada Caroline sempat kembali meledak sehingga aku mencoba melampiaskan rasa kesalku pada adiknya yang manis itu.

"Amoy yang sombong kayak Cici non itu sekali kali emang harus dikasih pelajaran biar gak ngelunjak sama pribumi. Kalau non pengen tahu.. kayak gini nih non cara kasih hukumannya. Jlebbb.. Jlebbb.. Jlebb.. Aku pun menghentak hentakan ketiga jari tanganku kedalam kemaluan Livi dengan sangat cepat dan dalam.. seolah sedang memberikan hukuman untuk cicinya.

"Aaaakh.. aakkhh.. terusin pak.. jangan berhenti... Engghh... Enakk banget paak.. dihukum kaya gini... Aaahh.. jadiin aku budak seks bapak aja... uuhhh.. biarr aku bisa ngerasain enak terus tiap hari.. Livi langsung melenguh keras dan tubuhnya menggelinjang liar.

"Haha.. emang udah jadi lonte beneran kamu Ching Ching.. dikasih hukuman kok malah keenakan.. Kamu suruh bapak berbuat kayak gitu karena kamu pengen dapet kontol pribumi gratisan kan.. Ucapku sambil terus menggenjot memeknya dengan jari.

Livi mendesis dan matanya setengah terpejam karena birahi yang semakin membara. 

"Aaahh… pak… iya… ching ching suka… suka dibilang lonte… hhngg… tapi lonte yang bisa dipake gratis sama bapak.. terussin paakk.. katain ching ching semau bapak... memek Livi basah sekali pak… enggh.. erangnya terengah dengan suara gemetar penuh nafsu.

"Lonte cina kayak kamu mana puas kalau cuma dikobelin pake jari begini.. memek kamu tuh mesti dijejelin kontol pribumi yang ukurannya segede singkong gajah baru bisa puas.. Ledekku.

Aku tarik jari-jariku keluar dari kemaluannya yang sudah basah oleh lendir kawin lalu kuangkat tubuh Livi sedikit. Aku keluarkan kejantanan yang sudah keras dan tegak lalu arahkan ke bibir kemaluannya yang sudah licin. Tanpa disuruh Livi langsung menurunkan pinggulnya pelan-pelan hingga batangku menghujam masuk ke dalam liang kewanitaannya yang hangat dan basah. Dia langsung menjerit kecil karena kenikmatan. 

"Aaahhh… kontol bapak… gedeee bangeet.. mengisi memek Livi… uhh… genjot Livi pak… genjot jalang kecilmu… rengeknya dengan suara parau sambil mulai naik turun di pangkuanku. 

"Uuuhh iyaaa non.. bapak juga udah gak tahan nih.. pengen buru buru nikmatin memeknya non ching ching.. ssshhh.. bapak genjot sekarang aja ya non..

Aku pegang pinggang ramping Livi dengan erat lalu mulai memompa dari bawah dengan gerakan kasar. Setiap hantaman membuat payudaranya bergoyang liar dibalik baju seragam sekolahnya. Suara daging bertemu daging terdengar nyaring di toko yang sepi. Livi yang duduk di atas pangkuanku bergerak semakin liar. Dia memutar pinggulnya dan meremas buah dadanya sendiri sambil terus meracau kata-kata yang sudah aku ajarkan.

"Aakkhh.. aaaaahh.. sodok terus paaak...nnggghh.. masukin yang dalem kontolnya.. jadiin.. aku lonte cina piaraan bapaaak.. yang bisa baaapak.. pake tiap hari.. uuunghh..

Aku terus mendidiknya dengan genjotan brutal sepanjang malam itu. Livi mencapai klimaks berkali-kali di atas kontolku. Tubuhnya bergetar hebat setiap kali kenikmatan menyapu dirinya. Saat aku merasakan kejantanan mulai menegang dan mau crot aku langsung bilang. 

"Gua bakal isi rahim lu penuh sama peju. Lu gak papa kan kalo hamil. Kalo hamil jangan minta tanggung jawab gua. Gua cuma mau ngentot memek lonte lu.

Livi yang sudah kecuci otaknya menjawab dengan suara parau karena birahi 

"Boleh pak. Hamilin aja Livi tapi jangan sampe Livi hamil besar beneran. Livi masih pengen sekolah pak.

Aku langsung memompa lebih cepat dan kasar lagi sampai akhirnya air mani menyembur deras memenuhi rahimnya. Livi melenguh keras dan tubuhnya kejang menikmati setiap tetes peju yang masuk. Setelah selesai tubuhnya lemas dan penuh keringat. Aku peluk dia erat sambil bisikkan pujian mesum di telinganya. Saat itu rencana terpendam untuk membagikan foto mesumnya memang masih belum dimulai. Aku masih fokus melatih Livi agar semakin ketagihan dengan hinaan dan genjotan kasar.

Berbagi Foto Mesum Anak Majikanku. 

Suatu malam setelah kami selesai bercinta di dalam toko aku duduk bersandar di bangku sambil Livi berlutut di depanku. Dia membersihkan kontolku dengan mulutnya yang sudah semakin terampil.

"Ngomong ngomong.. non Ching Ching masih ingat gak sih sama video amoy minimarket yang pernah kita tonton waktu itu ? Tanyaku sambil mengusap rambutnya.

Livi mengangguk pelan dan mulutnya masih penuh kontolku. "Mmmhh… 

"Sebenarnya bapak tuh salut banget loh sama amoy yang ada di video minimarket itu. Kata orang orang sih.. sebelum kejadiannya.. tuh amoy emang suka nyebarin foto-foto telanjangnya yang udah diedit ke orang-orang kelas bawah.. mulai dari supir.. tukang parkir sampe kuli bangunan… tapi karena udah diblur wajahnya.. ya jadinya orang orang pada gak tau identitas aslinya..

Livi masih berlutut dilantai sambil mengulum penisku dengan mulutnya. Suara kecipak basah air liurnya terdengar jelas olehku dan sepertinya Livi sangat tertarik dengan ceritaku kali ini.

"Non tau sendiri kan orang orang mesum kayak gitu kalau udah liat foto amoy telanjang kayak gimana reaksinya.. Nah ketika tuh amoy baca komentar komentar mesum tentang dirinya.. ehhh dianya malahan tambah sange dan makin ketagihan buat nyebarin foto telanjangnya.

"Non mau gak nyoba nyebarin foto kayak gitu. Bapak yakin nanti non bakal suka rasanya… deg-degan malu tapi sange berat. Kataku lagi.

Livi mengeluarkan penisku dari mulutnya. Matanya membesar penuh keraguan tapi ada juga kilat penasaran. "Tapi… itu kan bahaya banget pak… kalau nanti identitasku sampai ketahuan sama mereka gimana ?

Aku tersenyum tipis sambil mengusap pipi Livi yang memerah. Jempolku menyapu bibirnya yang basah oleh air liur. Kontolku masih tegang di depan wajahnya.

"Bahaya memang ada, Non. Tapi Bapak nggak bakal biarin identitas Non ketahuan," kataku pelan dan meyakinkan. "Kita blur wajahnya sampai nggak kelihatan sama sekali. Hanya badan Non yang mulus, payudara yang kencang, dan memek yang pink yang akan orang-orang lihat. Mereka nggak akan tahu itu Non Livi."

Livi menggigit bibirnya. Matanya bolak-balik antara kontolku dan wajahku. Keraguannya masih ada, tapi ada juga rasa penasaran yang semakin kuat.

"Bayangkan saja," lanjutku sambil memegang kepalanya lembut. "Non kirim foto telanjang. Misalnya foto berdiri di depan cermin kamar mandi, tangan Non memegang payudara sendiri. Atau foto dari belakang, pantat Non yang bulat ke kamera. Lalu Non baca komentar dari supir angkot, tukang bangunan, atau orang-orang mesum yang tidak kenal Non. Mereka bilang, 'Memek amoynya pasti enak', 'Mau jilatin pantat non ini', atau 'Sange banget pengen crot di badan amoy'."

Napas Livi semakin cepat. Tangannya tanpa sadar meremas pahanya sendiri.

"Non pasti deg-degan tiap buka komentar. Memek Non bisa basah meski hanya duduk di kamar. Semakin banyak yang melihat, semakin sange Non-nya. Seperti amoy di video minimarket itu. Awalnya takut, tapi lama-lama ketagihan."

Aku menatap matanya dalam. "Mau coba, Non? Bapak bantu edit fotonya supaya aman. Kita mulai dari satu foto saja. Non bisa pilih pose yang berani.

Livi diam cukup lama dan wajahnya merah. Tapi aku bisa lihat putingnya mengeras lagi di balik seragam sekolahnya. Setelah beberapa kali kubujuk akhirnya gadis chindo itu mengangguk pelan dan suaranya kecil serta malu-malu.

"Iya deh.. pak… aku setuju. Tapi bapa atur yang rapi ya… soalnya aku takut kalau sampe identitasku bocor.

"Bagus. Kalau gitu mulai besok bapak foto-foto badan non yang seksi dulu. Non cukup pasrah aja. Biar bapak yang nyebarin pelan-pelan ke orang-orang yang bapak pilih. Mereka bakal ngocok sambil liat foto non dan non bakal merasa jadi pusat perhatian tanpa mereka tahu itu non Livi… Ching Ching si anak manja yang sok polos" kataku puas.

Livi mengangguk lagi kali ini lebih cepat. Napasnya mulai berat. Aku tahu hasutan itu sudah masuk ke pikirannya dalam-dalam terutama setelah dia sering nonton video-video mesum yang aku kasih.

Malam itu kami akhiri dengan Livi berlutut lagi. Dia mengisap kontolku sambil aku bisikkan kata-kata kotor di telinganya.

"Iya… gitu… hisap kontol bapak jalang kecil. Besok body telanjang non bakal dilihat banyak laki-laki rendahan… mereka bakal ngomong non ini lonte cina murahan… non suka kan?" bisikku.

Livi hanya mendesah di sekitaran kontolku dan matanya berkaca-kaca penuh gairah.

Keesokan harinya suasana di toko terasa biasa saja di permukaan. Aku bekerja seperti biasa. Aku mengangkat kardus menyusun barang dan melayani beberapa pelanggan yang datang. Tapi sepanjang hari mataku sering mencuri pandang ke arah Livi. Gadis itu tampak sedikit gelisah. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya dan wajah imutnya sesekali memerah tanpa sebab yang jelas. Kami hanya bertukar pandang sebentar tapi tatapannya sudah berbeda. Ada campuran malu gugup dan rasa penasaran yang semakin besar.

Jam tujuh malam tepat Pak Aliong dan istrinya naik ke lantai dua seperti biasa. Mereka sudah lelah setelah seharian. Livi yang tadi bilang mau beresin toko mendapat izin tinggal di bawah lebih lama.

Begitu langkah kaki mereka menghilang di tangga aku langsung mengunci pintu toko dari dalam. Lampu utama aku matikan dan hanya menyisakan lampu temaram di belakang meja kasir serta satu lampu kecil di gudang yang cahayanya kuning keemasan. Suasana toko langsung terasa lebih intim dan sedikit menyeramkan.

Livi berdiri di belakang meja dan tangannya memilin-milin ujung rok abu-abunya. Rambut panjangnya tergerai sampai pinggang.

"Non… hari ini kita mulai ya" kataku pelan sambil mendekat. "Bapak sudah siapin HP cadangan yang aman. Tidak ada identitas dan tidak ada watermark. Non cukup pasrah dan ikuti perintah bapak."

Livi mengangguk kecil dan suaranya hampir tidak terdengar. "Iya pak… tapi… jangan terlalu banyak ya… aku masih malu.

Aku tersenyum dan mengusap pipinya lembut. "Mulai pelan-pelan. Sekarang buka kemeja non dulu. Satu per satu kancingnya.

Dengan jari-jari yang agak gemetar Livi mulai membuka kancing kemeja putih seragamnya satu demi satu. Ketika kancing terakhir terbuka dia melepaskan kemeja itu dari bahunya. Bra putih tipisnya terlihat dan membungkus payudaranya yang montok serta kencang. Kulit putih halusnya langsung terpapar cahaya lampu temaram.

"Bagus… sekarang bra-nya non. Lepas pelan-pelan" perintahku.

Livi menarik napas dalam lalu meraih ke belakang punggungnya. Bra itu jatuh ke lantai. Payudaranya yang putih montok dengan puting kecil berwarna pink muda langsung terbebas. Putingnya sudah agak mengeras karena udara dingin dan gugup.

Aku mengangkat HP cadangan dan mulai memotret. Suara shutter pelan terdengar.

"Pegang payudaramu sendiri non. Angkat sedikit… ya seperti itu. Lihat ke kamera… bagus" kataku.

Livi patuh meski wajahnya memerah sampai ke leher. Tangannya memegang kedua payudaranya dan sedikit menekannya hingga terlihat lebih penuh.

"Bagus sekali… sekarang putar badan non. Punggung ke bapak tapi kepala menoleh ke belakang" perintahku.

Livi membalikkan tubuhnya. Rok abu-abunya masih melekat di pinggang. Punggungnya yang ramping dan halus terlihat indah di bawah cahaya kuning. Aku memotret dari berbagai sudut. Aku ambil gambar punggung pinggang ramping dan bokong yang masih tertutup rok.

"Sekarang angkat roknya pelan-pelan… sampai pinggang" kataku lagi.

Rok itu naik perlahan dan memperlihatkan celana dalam putih tipis yang sudah agak basah di bagian tengah. Bulu halus di bawahnya samar terlihat.

"Tarik celana dalamnya ke bawah… pelan-pelan sampai lutut" perintahku.

Livi menurut. Celana dalam itu meluncur turun dan memperlihatkan memeknya yang mungil putih serta sudah mulai mengkilap basah. Aku memotret dari dekat. Aku ambil gambar paha mulus bokong bulat yang masih ada bekas merah samar dari hantaman kemarin dan celah memek yang tertutup rapat tapi sudah licin.

"Jangan tutup non. Buka kakinya sedikit… lebih lebar. Sentuh memekmu sendiri pakai jari" kataku tegas.

Livi gemetar tapi dia melakukannya. Dua jarinya menyentuh bibir memeknya yang basah dan membukanya sedikit hingga bagian dalam yang pink terlihat. Suara klik terdengar berulang.

Aku terus memberi instruksi dengan suara rendah dan tegas sambil sesekali memasukkan kata-kata kotor untuk memperkuat pencucian otaknya.

“Lihat… memek jalang kecil non sudah basah lagi. Besok foto-foto ini bakal dilihat sama tukang becak dan satpam… mereka bakal ngocok kontolnya sambil bayangin ngentot Livi si anak manja ini. Non suka kan?

"Aaaahh.. Iya pak… malu… tapi… aku basah banget…" katanya sambil mendesah kecil.

Aku suruh dia berganti pose. Dia duduk di meja dengan kaki terbuka lebar berlutut di lantai seperti anjing betina sambil mengangkat bokong membungkuk sambil memegang payudaranya bahkan pose membuka memek dengan dua jari sambil menatap kamera dengan ekspresi manja.

Setiap kali dia patuh aku puji dia.

"Bagus… jalang kecil bapak… semakin lama semakin nakal" kataku.

Sesi foto berlangsung hampir tiga puluh menit. Livi akhirnya telanjang bulat di dalam toko yang temaram. Tubuhnya mengkilap keringat tipis memeknya basah dan wajahnya campuran malu berat dengan gairah yang sudah menyala.

Aku meletakkan HP dan mendekat. Aku memeluk tubuh telanjangnya dari belakang sambil mengusap memeknya yang licin.

"Bagus sekali hari ini Ching Ching. Besok bapak mulai pilih orang yang bakal dikirimi foto-foto ini pelan-pelan" kataku.

Livi hanya mengangguk lemah dan tubuhnya gemetar di pelukanku.

Malam itu juga setelah sesi foto selesai dan Livi sudah naik ke lantai dua dengan kaki masih agak goyah aku tidak langsung pulang. Aku duduk di belakang meja kasir dengan HP cadangan di tangan. Lampu toko hanya menyala temaram.

Aku memilih sekitar dua belas foto terbaik dari sesi tadi. Foto-foto yang paling vulgar dan menggoda. Ada Livi telanjang dengan payudaranya dipegang sendiri pose membungkuk memperlihatkan bokong dan memek dari belakang pose duduk kaki terbuka lebar sambil menyentuh memeknya dan beberapa close-up tubuhnya yang putih mulus.

Dengan teliti aku edit satu per satu. Aku blur sedikit bagian wajahnya. Tidak sepenuhnya ditutup tapi cukup kabur agar orang tidak langsung mengenali bahwa itu Livi. Matanya hidung dan mulutnya jadi samar tapi ekspresi manja dan malu-malu itu masih terlihat jelas. Rambut panjangnya yang hitam legam aku biarkan tergerai sebagai ciri khas tapi tanpa konteks toko atau rumah. Tubuhnya yang ramping payudara montok pinggang kecil dan memek pink yang mulus tetap sangat jelas dan menggoda.

Setelah editing selesai aku duduk sebentar sambil merokok. Pikiranku berputar. Aku harus memilih orang pertama yang tepat. Orang yang bisa dipercaya tidak akan langsung menyebarkan lebih luas tapi cukup rendahan dan bernafsu sehingga reaksinya akan membuat Livi semakin ketagihan.

Aku memilih Mang Ujang tukang becak tua yang biasa mangkal di mulut gang Pecinan Lama sekitar lima puluh meter dari toko. Usianya sekitar lima puluh lima tahun badannya kurus hitam giginya sudah banyak yang copot dan dia terkenal suka mesum kalau lagi ngobrol sama kuli-kuli lain. Dia sering melihat Livi lewat tapi tentu tidak berani macam-macam. Orang yang pas untuk langkah pertama.

Sekitar pukul sepuluh malam aku kirim pesan lewat nomor HP cadangan yang sudah aku daftarkan di aplikasi chatting anonim.

Pesan pertama berisi empat foto terbaik.

"Bro ini body amoy SMA cantik yang suka main rahasia. Pure lokal kulit putih mulus memek pink rapet. Mau? Foto-foto baru. Kalau suka bisa minta lebih" tulisku.

Aku tambahkan dua foto lagi. Satu pose Livi berlutut seperti anjing betina dan satu close-up memeknya yang sedang dibuka dengan jari.

Beberapa menit kemudian Mang Ujang langsung online. Statusnya berubah sedang mengetik lama sekali.

Mang Ujang: "Wah anjir… beneran ini? Gila… badannya mulus banget. Putingnya pink. Memeknya juga bersih. Ini beneran amoy sini bro? Berapa?

Aku balas dengan santai.

"Gratis buat yang pertama. Nikmati aja. Dia suka dikirim ke om-om kayak lo. Tapi jangan nyebar dulu ya. Kalau suka nanti aku kirim video juga" balasku.

Mang Ujang membalas dengan banyak stiker mesum dan voice note pendek yang suaranya serak penuh nafsu.

"Gila bro… kontol gue langsung ngaceng. Anak ini montok banget. Payudaranya kenceng. Kalau boleh minta foto lagi dong… terutama yang memeknya deket-deket" katanya.

Aku tersenyum puas. Langsung aku kirim tiga foto tambahan.

Keesokan paginya aku tunjukkan chat dan foto-foto yang sudah terkirim ke Livi saat toko belum ramai. Kami berada di gudang belakang.

Livi melihat layar HP dengan mata membelalak. Wajahnya merah padam dan tangannya gemetar memegang HP.

"Itu… foto aku… udah dikirim ke orang ya pak?" suaranya kecil sekali.

"Iya. Ke Mang Ujang tukang becak yang biasa mangkal di depan gang. Dia lagi ngocok sekarang pasti. Lihat chatnya… dia bilang memek non pink dan bersih payudara non bikin kontolnya ngaceng" jawabku.

Livi menggigit bibirnya kuat-kuat. Napasnya mulai berat. Aku bisa lihat roknya mulai basah di bagian depan.

"Malu pak… tapi… kok aku jadi basah lagi…" rengeknya manja dengan suara gemetar.

Aku memeluknya dari belakang dan bisik di telinganya.

"Ini baru permulaan Ching Ching. Besok bapak kirim ke dua-tiga orang lagi. Lambat laun non bakal jadi bahan fantasi banyak laki-laki kelas bawah di sekitar sini… tanpa mereka tahu itu non Livi si anak manja" bisikku.

Livi hanya mengangguk pelan dan tubuhnya semakin panas di pelukanku.

Kiriman Foto Telanjang Berikutnya 

Keesokan harinya setelah toko tutup dan Pak Aliong beserta istrinya sudah naik ke lantai dua aku lagi-lagi memanggil Livi ke gudang belakang. Gadis itu sudah mulai terbiasa dengan rutinitas rahasia ini. Wajahnya langsung memerah saat aku mengeluarkan HP cadangan.

"Hari ini kita naik level Ching Ching" kataku sambil tersenyum. "Bapak sudah siapin group chat pedagang kaki lima di Pasar Pecinan Lama. Mereka semua om-om dan bapak-bapak kelas bawah yang suka ngobrol mesum tiap malam. Foto-foto yang kita edit kemarin bapak akan kirim ke situ."

Livi menggigit bibirnya kuat-kuat. "Group chat… banyak orang sekaligus ya pak? Aku… aku takut ketahuan…" katanya.

"Tenang. Wajahmu sudah di-blur. Mereka cuma bisa lihat body mulusmu. Sekarang duduk di pangkuan bapak sambil nonton bareng" kataku.

Aku duduk di kursi kayu tua dan menarik Livi ke pangkuanku. Roknya aku angkat dan tanganku langsung menyusup ke celana dalamnya yang sudah agak basah. Sambil jari tengahku mengusap pelan celah memeknya aku membuka group chat Pedangang Pecinan Solid yang beranggotakan sekitar dua puluh delapan orang. Mereka pedagang sayur tukang bakso penjual es satpam pasar dan lain-lain.

Aku upload lima foto terbaik sekaligus ke group itu dengan caption.

"Malam bro-bro. Ada amoy Pecinan baru nih. Body putih mulus payudara kenceng memek pink rapet. Siapa yang mau koleksi? Gratis buat yang pertama minta" tulisku.

Beberapa detik kemudian group chat langsung ramai.

Bang Asep pedagang ayam: "Wah anjirrr!! Ini beneran?? Badannya gila mulusnya. Payudaranya montok banget.

Mang Joko tukang bakso: "Ini amoynya beda lagi ya sama yang waktu kejadian di minimarket? Yang itu kan agak kurus yang ini lebih montok dan putih.

Bang Dani penjual es: "Sialan.. pasti amoy Pecinan lagi nih.. tampangnya mah pada keliatan polos tapi dibelakang binal kayak lonte.. Lihat aja rambut panjangnya pasti anak orang kaya yang lagi sange berat."

Mang Ujang tukang becak yang kemarin sudah dapet foto: "Haha gue udah punya beberapa fotonya bro. Memeknya beneran pink dan kecil. Kalau lo pada tau siapa ini pasti pada ngantri.

Bang Asep: "Liat aja kalau sampe gue tahu siapa amoy yang difoto ini.. pasti bakalan gue ajakin semua pedagang kaki lima di mari buat perkosa tuh amoy. Bayangin dia dientot bergantian di belakang pasar sambil mulutnya diisi kontol juga."

Chat semakin panas. Banyak yang mengirim emoji api kontol dan stiker mesum. Beberapa meminta foto lebih vulgar lagi. Aku kirim satu foto tambahan. Livi dalam pose berlutut dengan bokong terangkat tinggi dan memek terbuka.

Livi yang duduk di pangkuanku melihat semuanya dengan mata membelalak. Napasnya semakin cepat tubuhnya panas dan memeknya semakin basah membasahi jariku.

"Pak… mereka… mereka ngomong gitu tentang aku…" suaranya gemetar campuran malu yang sangat dalam dan gairah yang meledak-ledak. "Mau… mau diperkosa bareng-bareng… aaahh…" rengeknya.

Aku memasukkan dua jari sekaligus ke dalam memeknya sambil terus scroll chat di depannya.

"Dengar kan Ching Ching? Mereka bilang kamu lonte. Kamu suka ya didengerin kata-kata kotor kayak gini? Memekmu banjir banget sekarang" kataku.

Livi mengangguk lemah dan pinggulnya bergerak pelan mengikuti gerakan jariku. "Iya pak… malu… tapi… aku basah banget… mereka mau perkosa aku… hhngg…" erangnya.

Aku terus membiarkannya membaca chat yang semakin kotor sambil memainkan memeknya dengan jari. Sesekali aku bisikkan kata-kata tambahan di telinganya.

"Bayangin besok kamu jalan di pasar mereka lihat kamu tapi gak tahu itu kamu yang fotonya mereka ocokin tiap malam. Kamu bakal basah terus kan jalang kecil?" bisikku.

Livi hanya mendesah manja dan menggelinjang di pangkuanku. Dia sudah semakin dalam tenggelam dalam permainan yang aku bangun.

Aku semakin bergairah melihat reaksi Livi yang sudah sangat basah dan gemetar di pangkuanku. Memeknya banjir cairan hanya karena membaca chat-chat kotor dari para pedagang kaki lima itu.

"Naik ke pangkuan bapak non. Sekarang" perintahku serak sambil menurunkan resleting celanaku.

Livi berdiri sebentar lalu membalikkan badannya sehingga punggungnya menghadap ke dadaku. Dia mengangkat rok abu-abunya tinggi-tinggi menurunkan celana dalamnya sampai ke lutut lalu perlahan duduk di pangkuanku dengan posisi membelakangi aku. Posisi itu reverse cowgirl.

Aku memegang kontolku yang sudah sangat keras dan mengarahkannya ke memeknya yang basah kuyup. Livi menurunkan pinggulnya pelan-pelan. Kepala kontolku menyelinap masuk ke lubangnya yang masih cukup sempit dan membuatnya mendesah panjang.

"Aaahh… pak… masuk lagi…" erangnya manja.

Aku memegang pinggang rampingnya dengan kedua tangan dan mendorong pinggulku ke atas sehingga kontolku masuk lebih dalam hingga separuh. Livi menggelinjang dan tangannya memegang HP dengan gemetar.

"Terus baca chatnya Ching Ching. Bacain keras-keras apa yang mereka tulis tentang kamu" bisikku di telinganya sambil mulai menggerakkan pinggulku naik-turun pelan.

Livi mulai membaca dengan suara gemetar dan parau sambil aku menggenjotnya dari bawah.

Bang Asep: "Sialan… kulitnya putih banget. Pasti amoy Tionghoa beneran. Mereka emang suka pura-pura polos padahal memeknya selalu lapar kontol pribumi." 

Livi membacanya dengan suara yang terputus-putus karena kenikmatan. Livi mendesah keras saat aku mendorong lebih dalam. 

"Ahh… pak… mereka bilang… aku pura-pura polos… hhngg!!" erangnya.

Aku mempercepat gerakan pinggulku. Kontolku keluar-masuk memeknya dengan irama stabil dan suara basah schlup… schlup… terdengar jelas di gudang yang sunyi. Kedua tanganku merayap ke depan meremas payudaranya yang montok dari belakang sambil memilin putingnya.

"Terus baca… jangan berhenti" perintahku sambil menghentak lebih kuat.

Livi melanjutkan dengan suara yang semakin pecah.

Mang Joko: "Amoy Pecinan lagi nih. Rambut panjang badan mulus. Pasti anak orang kaya yang lagi sange. Mau gue entot kasar sampe nangis.

Bang Dani: "Hahaha bener. Mereka mah di depan sombong belakang suka jadi lonte gratisan. Kalau gue ketemu langsung gue tarik ke gang terus gue perkosa bareng temen-temen.

"Aaahhh… pak… mereka mau… mau perkosa aku… bareng-bareng… uhh!!" Livi meracau. Tubuhnya semakin liar dan pinggulnya mulai turun-naik sendiri mengikuti hantamanku. Memeknya semakin licin dan berdenyut-denyut menggigit kontolku.

Aku semakin kasar. Aku angkat pinggulku lebih tinggi dan menghunjam dari bawah dengan kuat hingga kontolku masuk hingga pangkal setiap kali. Payudaranya bergoyang-goyang liar di telapak tanganku. Aku remas kuat-kuat sambil terus menggenjotnya.

"Bilang dong non… bilang kamu suka dibenci sama mereka" kataku sambil menggigit lehernya dari belakang.

Livi hampir menangis karena kenikmatan dan malu. Suaranya manja dan pecah saat membaca chat yang terus masuk.

Mang Ujang: "Badan ini emang enak banget. Memeknya kecil tapi basah. Pasti ketagihan kontol kuli. Amoy cina murahan."

"Iya pak… aku… aku suka… suka dibenci… suka dikatain lonte cina murahan… aaahhh!! Genjot lebih keras pak…!!" rengeknya.

Aku memeluk pinggangnya erat dan menggenjotnya dengan cepat serta kuat dari bawah. Posisi ini membuat kontolku menyentuh titik sensitifnya setiap hantaman. Livi hampir tidak bisa fokus membaca lagi tapi aku paksa dia terus melihat HP.

Chat semakin gila.

Bang Asep: "Kalau ketemu gue mau isi mulutnya pake kontol dulu baru dientot bergantian. Biar tau rasa jadi pelacur pribumi." 

Livi membacanya dengan suara yang semakin terputus-putus karena kenikmatan yang melanda tubuhnya.

Livi klimaks pertama kali di pangkuanku. Tubuhnya mengejang hebat dan memeknya menyembur cairan hangat membasahi kontolku serta pahaku. Dia menjerit manja tertahan.

"Aaaahhh pak… aku keluar…!!" jeritnya.

Tapi aku tidak berhenti. Aku terus menggenjotnya kasar sambil meremas payudaranya tanpa ampun dan membuatnya terus terombang-ambing di atas kontolku.

"Terus baca… masih banyak chatnya jalang kecil" perintahku.

Livi gemetar hebat. Air mata kenikmatan mengalir di pipinya tapi dia tetap membaca chat-chat yang semakin rasis dan menghina dengan suara putus-putus sambil tubuhnya digenjot tanpa henti.

Aku semakin tidak bisa menahan diri. Dengan Livi duduk di pangkuanku membelakangi aku kontolku sudah tertanam dalam di memeknya yang banjir. Aku memeluknya erat dari belakang. Kedua tanganku meraih payudaranya yang montok dan kenyal lalu meremasnya kuat-kuat. Jari-jariku menekan daging putihnya hingga memutih di antara celah-celah jemariku sementara ibu jariku memilin putingnya yang sudah sangat keras dan tegang.

"Uhh… non… payudara jalangmu enak banget diremas" desisku serak di telinganya sambil mulai menggenjot lebih keras dari bawah.

Plok! Plok! Plok! Plok!

Pinggulku naik-turun dengan kuat dan menghunjam memek Livi dari bawah dengan irama kasar. Setiap hantaman membuat bokongnya yang putih memantul di pangkuanku. Kontolku keluar-masuk hampir seluruhnya dan suara basah schlup… schlup… schlup… semakin keras serta mesum.

Livi menggelinjang liar kepalanya mendongak ke belakang dan rambut panjangnya mengenai wajahku. 

"Aaahh… pak… remas lebih keras… dadaku… hhngg!! Genjot Livi… genjot jalangmu pak!!" erangnya.

Tepat saat itu dari lantai dua rumah tua terdengar suara karaoke yang nyaring. Koh Aliong sedang menjalankan rutinitas sore harinya seperti biasa. Suara lantangnya menyanyi lagu Mandarin lawas mengalun keras melalui speaker kecil irama klasik yang mellow tapi penuh semangat.

Wo de xin wo de ai … Laaa laaa laaa~~

Suara karaoke itu cukup keras dan cukup lama. Secara sempurna menyamarkan erangan liar kami berdua di gudang belakang toko. Aku tersenyum puas. Ini kesempatan emas.

Aku semakin ganas. Aku remas payudaranya lebih kuat hampir kasar menarik-narik putingnya sambil pinggulku menghantam dari bawah dengan kekuatan penuh. Setiap dorongan membuat Livi terlonjak di pangkuanku dan memeknya semakin berdenyut serta menggigit kontolku rakus.

Livi masih berusaha membaca chat di HP-nya dengan suara putus-putus yang sudah sangat parau.

Bang Asep: "Amoy cina murahan… pasti memeknya longgar karena sering dientot kuli pribumi…

"Aaahhh… pak… mereka bilang… aku murahan… hhngg…!!" erang Livi.

Suara Koh Aliong semakin keras di atas.

Qing qing de wo ai ni … Oooohhh laaa~~

Aku memanfaatkan itu. Aku angkat pinggulku lebih tinggi dan menggenjot sekuat tenaga. Kontolku menghunjam dalam-dalam berulang kali. Tangan kiriku tetap meremas payudara kirinya kasar sementara tangan kananku turun ke klitorisnya mengusapnya cepat dan kuat.

Livi sudah tidak bisa mengontrol suaranya lagi. Erangannya bercampur dengan lagu karaoke dari atas.

"Pak… enak… genjot Livi lebih keras… aaahhh… aku lonte… lonte cina murahan… uhh!! Remas dadaku… hhngg!!" erangnya.

Aku menjepit putingnya kuat-kuat sambil terus menghantam memeknya tanpa ampun. Tubuh Livi terguncang-guncang di pangkuanku dan cairannya terus muncrat-muncrat membasahi paha kami berdua serta lantai gudang.

Suara karaoke Koh Aliong masih mengalun keras dan menyamarkan jeritan kenikmatan putrinya yang sedang digenjot liar oleh kuli pribumi di lantai bawah.

Ai ni yi sheng yi shi … Laaa laaa~~

Livi semakin liar. Pinggulnya turun-naik sendiri dengan ganas mengikuti hantamanku. Memeknya berdenyut-denyut kuat tanda dia sudah mendekati klimaks lagi.

Aku terus menggenjot Livi dengan kasar dari bawah sambil meremas payudaranya kuat-kuat. Suara karaoke Koh Aliong masih mengalun keras dari lantai dua dan menyamarkan erangan liar kami.

Tiba-tiba tubuh Livi menegang hebat di pangkuanku. Memeknya berdenyut-denyut kuat menggigit kontolku dan cairannya menyembur hangat membasahi batang kontolku serta paha kami.

"Aaaahhh… Pak… aku keluar…!! Keluar lagi… hhngg!!!" jerit Livi tertahan. Tubuhnya bergetar hebat pinggulnya kejang-kejang di atas pangkuanku. Kakinya mengejang lurus dan jari-jarinya mencengkeram lenganku kuat sekali. Dia menyender lemas ke belakang punggungnya menempel di dada bidangku kepalanya terkulai di bahuku sambil napasnya tersengal-sengal.

Aku berhenti sejenak dan membiarkan dia menikmati klimaksnya yang panjang sambil kontolku masih tertanam dalam di memeknya yang berdenyut. Aku menciumi lehernya yang basah keringat sambil meremas payudaranya pelan.

Tapi nafsuku belum puas.

Begitu getaran tubuh Livi mulai mereda aku langsung memeluk pinggangnya erat dan mengangkat tubuhnya kasar dari pangkuanku. Kontolku copot dari memeknya dengan bunyi plop yang basah dan diikuti tetesan cairan yang jatuh ke lantai.

"Belum selesai jalang" kataku serak sambil menyeretnya kasar menuju meja gudang.

Aku menelungkupkan Livi di atas meja kayu dengan kasar. Tubuh rampingnya membungkuk dan payudaranya tertekan ke permukaan meja yang dingin. Kedua kakinya aku paksa menapak di lantai dan pinggulnya terangkat tinggi. Rok seragam abu-abunya aku gulung kasar hingga ke pinggang memperlihatkan bokong putihnya yang sudah memerah bekas hantaman sebelumnya serta memeknya yang merah mengkilap dan masih menetes cairan orgasme.

Tanpa menunggu aku berdiri di belakangnya memegang pinggul rampingnya dengan kedua tangan kasar lalu mendorong kontolku yang masih sangat keras masuk ke dalam memeknya yang basah sekali hingga pangkal dalam satu hantaman kuat.

PLAAK!!

"Aaahhh!! Pak… kasar…!" Livi menjerit manja dan tubuhnya maju ke depan karena hantaman itu.

Aku langsung menggenjotnya kasar dari belakang. Pinggulku bergerak brutal dan menghantam bokongnya dengan keras serta cepat. Suara plak plak plak plak yang nyaring memenuhi gudang dan bercampur dengan lagu Mandarin Koh Aliong yang masih mengalun dari atas.

Wo ai ni… de xin … Laaa laaa~~

Aku memegang pinggulnya kuat sambil terus menghunjam dalam-dalam. Setiap hantaman membuat meja bergoyang dan tubuh Livi terguncang-guncang. Bokongnya yang putih semakin memerah karena benturan berulang.

"Enak kan jalang? Digenjot kasar sambil papanya nyanyi di atas" desisku sambil menepuk bokongnya keras sekali.

Livi hanya bisa mendesah dan meracau putus-putus.

"Iya pak… enak… genjot Livi… genjot lonte cina murahanmu… aaahh… lebih keras pak!!" erangnya.

Aku semakin ganas. Aku menarik rambut panjangnya ke belakang dengan satu tangan dan membuat punggungnya melengkung sementara tangan satunya memegang pinggulnya kuat. Kontolku keluar-masuk dengan cepat dan kasar serta bola-bolaku menepuk memeknya setiap kali masuk hingga pangkal.

Suara karaoke Koh Aliong terus menyamarkan jeritan kenikmatan putrinya yang sedang diperlakukan kasar di lantai bawah.

Aku terus menggenjot Livi dengan brutal dari belakang. Kontolku menghunjam memeknya yang sudah sangat basah dan longgar karena dua kali klimaks sebelumnya. Setiap hantaman keras membuat bokong putihnya bergoyang dan memerah.

Livi sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya menegang hebat di atas meja dan tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih. Memeknya berdenyut-denyut kuat menggigit batang kontolku.

"Aaaahhh… Pak… lagi… aku keluar lagi…!! Aaahhhhh!!!" jeritnya.

Livi klimaks untuk ketiga kalinya dengan hebat. Tubuhnya kejang-kejang liar dan cairan hangatnya menyembur deras membasahi kontolku paha kami serta lantai gudang. Lututnya hampir goyah tapi aku menahan pinggulnya kuat-kuat agar tetap terangkat tinggi.

Aku tidak berhenti sama sekali. Malah aku semakin kasar. Aku menjambak rambut panjangnya dengan tangan kiri dan menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya teregang. Tangan kananku memegang pinggulnya erat sebagai pegangan.

"Emang dasar lonte cina murahan kamu Ching Ching!" kataku dengan suara serak penuh nafsu sambil terus menghantamnya tanpa ampun. "Lihat nih… badan kamu gak bisa bohong lagi. Memeknya banjir payudaranya keras suka digenjot kasar sama kuli pribumi. Kamu emang jalang kecil yang haus kontol!

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

Hantaman pinggulku semakin keras dan cepat. Rambut Livi aku tarik kuat seperti tali kekang dan membuat punggungnya melengkung indah. Bokongnya memantul setiap kali kontolku masuk hingga pangkal.

Livi hanya bisa meracau putus-putus dengan suara parau dan manja.

"Iya pak… aku lonte… lonte cina murahan… aaahh… genjot terus… jambak rambutku lagi pak… hhngg!!" erangnya.

Suara karaoke Koh Aliong masih mengalun keras dari lantai dua dan menyamarkan jeritan putrinya yang sedang diperlakukan seperti pelacur di bawah.

Aku merasakan kenikmatan naik dengan sangat cepat. Bola-bolaku menegang dan kontolku berdenyut-denyut hebat di dalam memek Livi yang panas serta licin.

"Aarrghh… Ching Ching… bapak mau keluar…!!" desisku.

Dengan hantaman terakhir yang sangat kuat aku klimaks hebat di dalam memeknya. Kontolku berdenyut-denyut kuat dan menyemburkan sperma panas serta kental langsung ke dalam rahim Livi. Jet demi jet keluar dengan deras dan memenuhi dalam dirinya hingga meluber keluar dari celah memeknya yang masih digenjot pelan.

"Aaahh… panas… pak… penuh… uhh…" Livi mendesah lemah dan tubuhnya gemetar hebat menahan semburan spermaku.

Aku terus menekan pinggulku ke bokongnya sambil menyemburkan sisa-sisa sperma. Tanganku masih menjambak rambutnya dan meremas payudaranya dari samping. Napas kami berdua tersengal-sengal keras dan bercampur dengan lagu Mandarin yang masih mengalun dari atas.

Akhirnya aku mencabut kontolku perlahan. Sperma putih kental langsung mengalir deras dari memek Livi yang menganga dan menetes ke lantai gudang.

Livi masih telungkup lemas di atas meja. Tubuhnya berkeringat rambut acak-acakan dan memeknya merah serta penuh sperma.

Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan mencoba menenangkan degupan jantung yang masih kencang. Kontolku yang masih setengah keras aku masukkan kembali ke celana lalu merapikan baju kerjaku yang kusut. Sperma dan cairan Livi masih menempel di paha dan kontolku tapi aku tak peduli. Aku menatap Livi yang masih telungkup lemas di atas meja gudang tubuhnya berkeringat roknya tergulung di pinggang dan spermaku yang putih kental masih mengalir pelan dari memeknya yang merah serta menganga.

"Bagus sekali malam ini Ching Ching" kataku pelan sambil menepuk bokongnya sekali lagi. "Bapak pulang dulu. Besok kita lanjut lagi.

Livi hanya mengangguk lemah tanpa menoleh dan suaranya kecil serta parau.

"Iya pak… hati-hati…" jawabnya.

Aku keluar dari gudang belakang mengunci pintu toko seperti biasa lalu berjalan menyusuri gang sempit yang gelap menuju kontrakanku yang hanya beberapa rumah dari toko. Udara malam terasa sejuk di kulitku yang masih panas. Sepanjang jalan pikiranku dipenuhi bayangan tubuh Livi yang telungkup di meja erangannya yang manja dan spermaku yang memenuhi rahimnya. Rasa dendam lama terhadap keluarga Pak Aliong kini semakin terpuaskan dengan cara yang paling mesum.

Sementara itu di dalam toko Livi berdiri dengan susah payah. Kakinya gemetar hebat dan lututnya lemas setelah tiga kali klimaks berturut-turut. Sperma putih kental masih menetes pelan dari antara pahanya yang mulus. Dia mengambil tisu dari meja kasir dan membersihkan memeknya serta pahanya sebisanya. Cairan yang lengket itu sulit dibersihkan total tapi dia berusaha sekuat tenaga.

Dengan tangan gemetar Livi menurunkan rok abu-abunya merapikan kemeja putih seragam sekolahnya yang kusut dan basah keringat. Dia mengancingkannya satu per satu dan merapikan rambut panjangnya yang acak-acakan dengan sisir kecil yang selalu disimpan di laci meja. Wajahnya masih merah padam bibirnya bengkak karena ciuman kasar dan matanya masih berkaca-kaca sisa kenikmatan.

Dia berdiri di depan cermin kecil di sudut toko dan memeriksa penampilannya sekali lagi. Dari luar dia terlihat seperti Livi yang biasa. Gadis manja imut dan polos. Hanya napasnya yang masih agak tersengal dan sedikit goyah saat berjalan yang menjadi bukti apa yang baru saja terjadi.

Livi mematikan lampu toko yang tersisa lalu naik ke lantai dua melalui tangga kayu tua. Langkahnya pelan dan hati-hati agar tidak terdengar mencurigakan.

Sesampainya di atas Koh Aliong masih menyanyikan lagu Mandarin terakhirnya dengan suara lantang. Ibunya sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.

"Livi sudah selesai beresin toko?" tanya mamanya sambil melirik sekilas.

"Iya ma… sudah" jawab Livi dengan suara manja seperti biasa meski tenggorokannya masih terasa kering. "Ada beberapa barang yang ditata ulang tadi.

Pak Aliong mematikan karaoke-nya dan mengangguk puas. "Bagus. Kamu cepat istirahat ya besok sekolah pagi.

Livi mengangguk patuh lalu masuk ke kamarnya. Begitu pintu kamar tertutup dia langsung ambruk di tempat tidur. Tubuhnya masih terasa penuh memeknya berdenyut-denyut pelan dan sperma yang tersisa di dalamnya membuatnya merasa kotor sekaligus puas.

Dia menatap langit-langit kamar dengan mata kosong pipinya memerah lagi saat mengingat kata-kata kasar yang aku ucapkan tadi.

"Dasar lonte cina murahan…

Livi menggigit bibirnya kuat-kuat. Tangannya tanpa sadar turun ke bawah roknya dan menyentuh memeknya yang masih basah serta lengket.

Malam itu dia tidur dengan perasaan yang campur aduk. Malu takut tapi juga semakin ketagihan.

Komentar

  1. live have fallen

    teruskan suhu

    BalasHapus
  2. Satu lubang lagi yang masih perawan....
    Destroy it!

    BalasHapus

Posting Komentar