Langsung ke konten utama

Draft Napsu terpendam penjaga kos 2

Beberapa hari setelah peristiwa malam itu aku jadi semakin tak karuan. Setiap kali mengingat apa yang terjadi di kamar aku merasakan campuran antara penyesalan dan keinginan yang kuat. Penyesalan itu muncul karena aku tahu tindakanku sangat berisiko. Namun di sisi lain keinginan untuk merasakan sentuhan kasar Parman lagi terus mengganggu pikiranku siang dan malam. Aku sering gelisah di kamar sendirian. Tubuhku langsung terasa panas setiap kali bayangan penis kerasnnya yang menghujam kembali muncul di kepala. Aku berusaha menahan diri tapi semakin hari semakin sulit.

Hingga suatu sore ketika aku baru pulang kuliah suasana kos terlihat biasa saja. Lampu halaman menyala redup dan udara sekitar terasa sejuk. Aku berjalan pelan menuju lorong sambil memegang tas kuliah. Saat itu aku melihat Pak Parman sedang duduk santai di kursi kayu depan rumah kos. Ia mengobrol dengan seorang temannya yang merupakan tukang nasi goreng yang biasa mangkal di depan kos. Mereka tertawa kecil sambil membahas hal-hal sehari-hari. 

Aku mendekat dengan langkah yang sengaja dibuat biasa. Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Tanpa banyak berpikir aku sengaja menjatuhkan kunci kamarku ke lantai di depan mereka. Bunyi logam itu cukup jelas terdengar di sore yang cukup sepi. Pak Parman langsung menoleh dan melihat kunci tersebut. Matanya bertemu dengan mataku sebentar. Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya seolah ia langsung mengerti maksudku.

Malam itu aku sengaja tidak langsung tidur. Aku berbaring di ranjang dengan lampu tidur kecil yang masih menyala. Tanktop tipis tanpa bra dan hotpants pendek melekat di tubuhku. Aku pura-pura memejamkan mata tapi sebenarnya seluruh indraku sedang waspada. Jantungku berdegup kencang sejak tadi sore ketika Pak Parman melihat kunci yang sengaja kujatuhkan. Aku tahu dia mengerti sinyal itu. Sekarang aku hanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Waktu berlalu sangat lambat. Jam dinding menunjukkan sudah lewat tengah malam. Kos mulai benar-benar sepi. Hanya sesekali terdengar suara angin atau derit pintu di lantai atas. Aku menggeliat pelan di ranjang sambil merasakan kelembaban yang mulai muncul di antara pahaku. Penantian itu membuat gairahku semakin membara meski ada sedikit rasa takut di dada.

Akhirnya terdengar suara halus kunci berputar di lubang pintu. Bunyi itu sangat pelan seolah dilakukan dengan sangat hati-hati. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Aku tetap memejamkan mata dan mengatur napas agar terlihat seperti orang yang tertidur pulas. Langkah pertama masuk adalah langkah Parman yang sudah sangat kukenal. Tapi tak lama kemudian ada langkah kedua yang lebih berat dan agak ragu-ragu. Itu pasti temannya si tukang nasi goreng.

Mereka menutup pintu pelan lalu memutar kunci dari dalam. Suasana kamar langsung terasa semakin pengap dengan kehadiran dua pria dewasa. Aku bisa mendengar bisikan pelan mereka. Parman berbicara sangat rendah kepada temannya. "Ini tuh amoy yang sering gue ceritain ke lu. Badannya mulus kan. Malam ini kita bisa nikmatin sepuasnya. 

"Iya bro.. mulus banget.. baju tidurnya juga seksi banget nih. Udah kayak perek aja.. hehe.. Sahut temannya yang sudah dipenuhi gairah.

Mereka mendekat ke ranjang. Aku merasakan kasur agak turun ketika Parman duduk di tepi sebelah kanan. Tangan kasarnya langsung menyentuh paha mulusku dengan lembut seolah menguji apakah aku benar-benar tidur. Sentuhan itu membuat bulu kudukku meremang tapi aku tetap diam. Tak lama tangan yang lebih kasar lagi menyentuh betis kakiku dari sisi kiri. Itu pasti tangan teman Parman.

Parman berbisik lagi. "Lihat ini. Dia suka pura-pura tidur padahal tubuhnya sudah basah duluan." Jari Parman naik pelan ke pinggir hotpantsku dan menyusup ke dalam. Ia menemukan celana dalam yang sudah lembab. Aku menggigit bibir dalam hati agar tidak mendesah. Temannya ikut berani. Tangan besarnya meraba payudaraku dari atas tanktop tipis lalu meremas pelan dengan rasa ingin tahu yang kuat.

Aku tetap berpura-pura tidur meski napasku mulai tidak teratur. Tubuhku sedikit menggeliat alami ketika jari Parman menggesek liang kewanitaanku yang semakin basah. Temannya menarik nafas berat sambil terus meremas payudaraku.

"Gilee.. montok banget nih tetek.. kayak nantangin buat dikenyot. Kata Tukang nasgor.

Parman tersenyum kecil dan berbisik kepada temannya. "Sabar dulu. Kita buka bajunya pelan-pelan. Malam ini masih panjang.

Mereka mulai menarik tanktopku ke atas dengan gerakan sangat hati-hati. Payudaraku terbuka di udara dingin kamar. Puting susuku sudah mengeras karena gairah. Tangan keduanya langsung menyentuh kulit putihku dengan penuh nafsu. Aku tahu malam ini tidak akan berhenti hanya dengan sentuhan. Dua pria ini akan menguasai tubuhku bergantian atau bahkan bersama-sama. Dan aku diam-diam sangat menantikannya.

Aku pura-pura menggeliat pelan di ranjang seolah sedang gelisah dalam tidur. Tubuhku bergerak sedikit ke kiri dan ke kanan. Itu membuat tangan mereka semakin berani menyusuri kulitku. Parman tersenyum kecil melihat reaksiku. Ia menganggap geliatanku sebagai undangan untuk lebih jauh. Jarinya yang kasar semakin dalam menggesek liang kewanitaanku yang sudah sangat basah. Sementara temannya yang tukang nasi goreng itu mulai meremas payudaraku dengan lebih kuat dari sebelumnya.

Aku menikmati setiap sentuhan mereka. Gelombang panas terus menjalar dari antara pahaku hingga ke dada. Tapi aku tidak mau terlihat murahan di hadapan mereka. Aku ingin tetap mempertahankan sedikit kendali meski tubuhku sudah berkhianat. Ketika jari Parman semakin agresif aku akhirnya tidak tahan lagi. Aku membuka mata dan berpura-pura tersentak kaget. Tubuhku meronta pelan sambil berusaha mendorong tangan mereka.

"Mau apa kalian. Kenapa masuk ke dalam kamarku" kataku dengan suara bergetar pura-pura ketakutan.

Tukang nasi goreng langsung panik. Matanya membelalak dan tangannya cepat membekap mulutku dengan telapak tangan besarnya yang masih bau minyak goreng. "Tenang non. Bapak cuma pengen cari hiburan sebentar aja kok. Soalnya dagang nasi goreng sekarang sepi non" katanya dengan suara tergesa sambil mencoba menenangkanku. 

Sambil berkata demikian tangannya yang lain tidak berhenti. Ia malah meremas buah dadaku lebih kuat. Jempolnya memainkan puting susuku yang sudah mengeras. Parman di sisi lain hanya tertawa pelan dan menahan kedua kakiku agar tetap terbuka. "Lihat ini. Dia memang suka pura-pura. Tapi tubuhnya jujur banget. Sudah basah sekali" ujar Parman sambil menggerakkan jarinya lebih cepat di dalam celana dalamku.

Aku meronta lebih kuat tapi gerakanku justru membuat hotpantsku semakin melorot. Bekapan di mulutku membuat suaraku hanya menjadi gumaman tertahan. Tubuhku bergetar karena campuran rasa malu dan kenikmatan yang semakin kuat. Tukang nasi goreng itu semakin berani. Ia menunduk dan mulai mencium leherku sambil terus meremas payudaraku tanpa henti. Parman menarik hotpantsku hingga benar-benar lepas lalu membuka paha mulusku lebar-lebar.

Mereka berdua sekarang benar-benar liar. Tangan dan mulut mereka menjelajahi tubuhku dari dua sisi. Aku masih berusaha meronta kecil tapi semakin lama semakin sulit karena rasa nikmat yang datang bertubi-tubi. Aku tahu sebentar lagi aku tidak akan bisa berpura-pura menolak lagi.

Tukang nasi goreng tak tahan lagi. Napasnya semakin berat dan kasar. Ia naik ke atas ranjang dengan gerakan cepat lalu mengangkangi wajahku. Tubuhnya yang agak gemuk dan bau keringat bercampur minyak goreng langsung menutupi pandanganku. Tangan besarnya memegang kedua tanganku lalu menekannya di atas kepalaku sehingga aku benar-benar terkunci di bawahnya.

Aku meronta lebih kuat tapi bekapan Parman di mulutku masih kuat. Mataku membelalak ketika melihat kejantanan tukang nasi goreng yang sudah tegang keras tepat di depan wajahku. Batangnya tidak terlalu panjang tapi cukup tebal dengan ujung yang mengkilap karena lendir.

"Buka non mulutnya. Non kan udah sering nyicipin nasgor buatan Abang. Sekarang waktunya non cicipin kontol Abang. Hehe" katanya sambil tertawa kecil penuh nafsu. Ia menggesek-gesekkan kepala batangnya ke bibirku yang masih tertutup.

Parman yang berada di belakang hanya tertawa pelan sambil terus menggesek jarinya di liang kewanitaanku. "Buka saja Regina. Kasih dia sedikit kenikmatan. Dia sudah lama ngebayangin ini setiap kali lihat non lewat depan gerobaknya" ujar Parman sambil menahan kakiku agar tetap terbuka lebar.

Aku menggeleng pelan dan mencoba meronta lagi tapi tangan tukang nasi goreng menekan kepalaku lebih kuat. Akhirnya bibirku sedikit terbuka karena tekanan. Ia langsung mendorong pinggulnya maju sehingga kepala batangnya masuk ke dalam mulutku. Rasa asin dan bau tubuhnya langsung memenuhi lidahku. Ia mendesah panjang dan mulai menggerakkan pinggulnya pelan-pelan.

"Bagus non. Hisap pelan dulu. Ahh enak sekali mulut non yang kecil ini" erangnya sambil menikmati sensasi tersebut.

Parman di bawah tidak tinggal diam. Ia menarik hotpantsku hingga benar-benar lepas lalu menunduk dan mulai menjilat liang kewanitaanku dengan lidahnya yang kasar. Sensasi dua tempat sekaligus membuat tubuhku bergetar hebat. Aku mendesah tertahan di sekitar batang tukang nasi goreng. Air mataku mengalir di sudut mata karena campuran malu dan kenikmatan yang sangat intens.

Mereka berdua semakin koordinasi. Tukang nasi goreng mulai memompa mulutku lebih dalam sementara Parman menggenjot liang kewanitaanku dengan jarinya semakin cepat. Tubuhku hanya bisa menggeliat pasrah di antara mereka berdua.

Parman berlutut di antara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar. Ia memegang batangnya yang keras lalu menggesek-gesekkan kepalanya di celah basahku beberapa kali sebelum akhirnya mendorong masuk dengan satu hentakan pelan tapi kuat. Batangnya menghujam liang kewanitaanku hingga aku menggeliat hebat di ranjang.

Ia mulai menggenjot kemaluanku dengan ritme sedang tapi dalam. Setiap kali ia mendorong pinggulnya maju pahaku semakin terbuka lebar. "Enak sekali non. Liangnya sempit dan panas" desis Parman sambil terus memompa.

Di atas wajahku tukang nasi goreng semakin liar. Ia jambak rambutku dengan satu tangan lalu menaik turunkan kepalaku dengan kasar agar penisnya bisa masuk lebih dalam ke dalam mulutku. Batangnya yang tebal memenuhi rongga mulutku hingga ujungnya hampir menyentuh tenggorokanku. Ia mendesah kasar setiap kali mendorong pinggulnya maju. "Hisap lebih kuat non. Ahh enak banget" erangnya sambil mempercepat gerakan.

Aku menggeliat kewalahan di antara mereka berdua. Tubuhku bergetar hebat karena sensasi yang datang dari dua arah sekaligus. Parman yang menggenjot liang kewanitaanku semakin cepat dan dalam sementara tukang nasi goreng memompa mulutku tanpa ampun. Aku hanya bisa mengeluarkan suara gumaman tertahan dan air liur yang mulai menetes dari sudut bibirku.

Parman kemudian mengangkat kedua kakiku ke pundaknya sehingga posisiku semakin terbuka dan rentan. Ia meremas buah dadaku dengan kedua tangan lalu memelintir puting susuku dengan kasar. Rasa sakit bercampur kenikmatan membuatku mendesah keras di sekitar batang tukang nasi goreng. Punggungku melengkung tinggi. Tubuhku semakin basah oleh keringat dan cairan kawin yang mengalir deras.

Mereka berdua semakin brutal. Parman menghantam liang kewanitaanku dengan hentakan yang keras dan cepat. Sementara tukang nasi goreng terus menjambak rambutku dan memompa mulutku tanpa henti. Aku sudah benar-benar kewalahan tapi rasa nikmat yang luar biasa membuatku tidak ingin berhenti.

Mereka berdua seolah sudah tidak sabar lagi. Parman menarik tubuhku dengan kasar lalu membalikkan posisiku hingga tengkurap di ranjang. Ia menarik pinggulku ke atas sehingga aku sekarang berada dalam posisi doggy. Kedua lututku menekuk di kasur dan wajahku tertelungkup di bantal. Posisi ini membuat pantatku terangkat tinggi dan liang kewanitaanku terbuka lebar di hadapan mereka.

Tukang nasi goreng langsung berlutut di belakangku. Ia memegang pinggulku dengan kedua tangan yang kasar lalu mendorong batangnya yang tebal ke dalam kemaluanku dengan satu hentakan kuat. "Ahh enak sekali non. Dari belakang lebih dalam" erangnya sambil mulai menggenjotku dengan ritme cepat dan brutal. Setiap hantaman membuat tubuhku terdorong ke depan. Payudaraku bergoyang liar di bawah tanktop yang sudah naik ke atas.

Parman naik ke depan ranjang dan memegang kepalaku. Ia mengarahkan batangnya yang masih basah oleh air liurku ke mulutku lalu mendorongnya masuk dalam-dalam. "Sekarang giliran bapak yang pakai mulut non yang enak ini" katanya sambil mulai memompa pinggulnya. Batangnya menghujam tenggorokanku sehingga membuatku sesak napas dan mengeluarkan suara gluk-gluk yang memalukan.

Aku menggeliat kewalahan di antara mereka. Tubuhku terhentak maju mundur mengikuti hentakan dari belakang dan depan. Sensasi doggy yang dalam ditambah mulut yang penuh membuatku semakin sulit bernapas. Cairan kawinku mengalir deras membasahi paha dan kasur. Aku hanya bisa mendesah dan mengerang tertahan di sekitar penis Parman.

Semakin lama hentakan tukang nasi goreng semakin cepat dan kasar. Ia mencengkeram pinggulku kuat-kuat sambil memompa tanpa ampun. "Non mau keluar ya? Keluar saja non. Abang juga udah mau.. katanya dengan suara parau.

Aku tidak tahan lagi. Tubuhku menegang hebat. Liang kewanitaanku berdenyut kuat menggenggam batang tukang nasi goreng. Aku mencapai klimaks dengan hebat. Tubuhku bergetar tak terkendali. Desahanku pecah di sekitar batang Parman sementara lendir kawinku menyembur keluar membasahi paha tukang nasi goreng.

Tak lama setelah itu tukang nasi goreng juga mencapai puncaknya. Ia mendorong batangnya sedalam mungkin lalu menyemburkan air maninya yang hangat dan sangat banyak ke dalam liang kewanitaanku. Tubuhnya mengejang beberapa kali sambil mendesah keras. "Ahh penuh non. Peju abang keluarnya banyak banget nih. Erangnya puas.

Parman masih memompa mulutku pelan sambil tersenyum melihatku yang sudah lemas dan penuh cairan. Tubuhku gemetar hebat di posisi doggy dengan sperma tukang nasi goreng yang masih mengalir keluar dari kemaluanku.

Parman menarik tubuhku yang masih lemas turun dari ranjang dengan kasar. Kaki ku gemetar sehingga hampir tidak bisa berdiri. Ia memposisikan aku berdiri di dekat pintu kamar yang sengaja dibuka sedikit. Ia membungkukkan tubuhku hingga aku menungging tinggi. Kepalaku dijepit di celah pintu sehingga wajahku terdorong ke luar lorong kos yang sepi. Dari posisi ini aku bisa melihat lorong kos yang gelap dan sepi dengan samar-samar cahaya lampu taman.

"Posisi baru non. Biar non bisa lihat kalau ada orang lewat" bisik Parman di telingaku sambil tertawa pelan.

Ia berdiri tepat di belakangku lalu memegang pinggulku dengan kuat. Batangnya yang masih keras langsung menghujam liang kewanitaanku yang sudah penuh cairan dari tukang nasi goreng. Hentakan pertama membuatku tersentak keras. Kepalaku terjepit pintu sehingga aku tidak bisa bergerak ke depan. Tangan Parman menekan leherku dari belakang dan menjepitnya semakin kuat dengan daun pintu.

Aku menggeliat hebat dalam posisi berdiri menungging itu. Setiap kali Parman menghantam dari belakang tubuhku terdorong maju dan wajahku semakin tertekan ke celah pintu. Aku bisa melihat lorong kos yang sepi tapi rasa takut ada orang yang tiba-tiba lewat membuat gairahku semakin tinggi. Parman menggenjotku dengan ritme brutal. Batangnya menghujam sangat dalam hingga membuat suara basah yang memalukan terdengar setiap kali ia memompa.

Tangan kirinya mencengkeram pinggulku sementara tangan kanannya menekan leherku semakin kuat. Napasku tercekat. Aku hanya bisa mengeluarkan desahan tertahan dan air liur yang menetes dari mulutku. "Enak kan non. Berdiri begini lebih dalam" desis Parman sambil mempercepat hentakannya.

Payudaraku bergoyang liar di udara. Kaki ku gemetar hebat mencoba menahan tubuh agar tidak roboh. Posisi ini membuat liang kewanitaanku terasa sangat penuh dan sensitif. Setiap hantaman Parman membuatku semakin mendekati klimaks lagi. Aku menggeliat kewalahan tapi pintu yang menjepit kepalaku membuatku tidak bisa lari ke mana-mana.

Parman semakin liar. Ia menarik pinggulku ke belakang setiap kali ia mendorong maju sehingga benturan semakin keras. Tangan yang menekan leherku membuat pandanganku mulai berkunang-kunang tapi justru sensasi itu membuat kenikmatan semakin intens.

Aku memicingkan mata di celah pintu yang sempit. Jantungku langsung berdegup kencang ketika melihat salah seorang penghuni kos keluar dari kamarnya di ujung lorong. Pria itu menguap sambil berjalan pelan menuju kamar mandi umum sambil memegang handuk. Tubuhku langsung menegang karena takut. Aku berusaha meronta kecil tapi Parman semakin menekan leherku dengan pintu.

"Brenti dulu pak.. ada orang.." kataku dengan suara tercekat dan panik.

Pak Parman malah tersenyum di belakangku. Ia tidak mengurangi kecepatan sama sekali. "Nanggung non.. bentar lagi mau keluar nih" jawabnya dengan suara parau penuh gairah. Ia justru menggenjot liang kewanitaanku lebih keras dan cepat. Setiap hantaman membuat tubuhku terdorong maju sehingga wajahku semakin terjepit ke celah pintu. Aku bisa melihat pria itu masih berjalan pelan di lorong yang tidak terlalu jauh.

Parman mengangkat sebelah kakiku tinggi-tinggi hingga posisiku semakin terbuka. Batangnya menghujam lebih dalam dari sebelumnya. Suara basah benturan tubuh kami terdengar jelas di lorong yang sepi. Aku menggigit bibir kuat-kuat agar tidak berteriak. Jantungku hampir copot melihat pria itu sempat melirik ke arah pintu kamarku sebentar sebelum melanjutkan langkahnya.

Parman semakin brutal. Ia mencengkeram pinggulku dengan satu tangan sementara tangan lainnya terus menekan leherku kuat-kuat dengan daun pintu. Napasku semakin sesak. Sensasi itu bercampur dengan ketakutan dan kenikmatan membuat tubuhku bergetar hebat. Tak lama kemudian Parman mendesis kasar di telingaku. Tubuhnya menegang. Ia menyemburkan air maninya yang panas dan banyak ke dalam liang kewanitaanku sambil terus menghujam beberapa kali lagi hingga tetes terakhir.

Sperma Parman memenuhi dalamanku dan sebagian menetes ke lantai. Tubuhku gemetar hebat di posisi menungging itu. Pria di lorong akhirnya masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Baru setelah itu Parman melepaskan jepitan pintu di leherku. Aku langsung tersengal-sengal mencoba mengambil napas.

Ia menarik batangnya keluar pelan. Cairan campuran air mani dan lendir kawinku mengalir deras dari kemaluanku ke paha mulusku. Parman menepuk pantatku pelan sambil tertawa kecil. "Untung non diam. Kalau non teriak tadi pasti ketahuan" katanya puas.

Tubuhku lemas sekali. Aku masih berdiri menungging di dekat pintu dengan napas tersengal dan cairan yang terus menetes.

Tiba-tiba leherku dijepit lagi oleh pintu dengan kuat. Kali ini bukan Parman melainkan tukang nasi goreng yang sudah berdiri di belakangku. Ia mendorong tubuhku lebih rapat ke celah pintu sehingga wajahku kembali terjepit ke luar lorong. Tangan kasar dan hitamnya langsung turun ke antara pahaku yang masih basah oleh sperma Parman.

Ia memasukkan tiga jarinya sekaligus ke dalam kemaluanku yang sudah longgar dan licin. Jari-jarinya yang tebal dan kasar mulai mengocok liang kewanitaanku dengan gerakan cepat dan kuat. Aku mendesis-desis keenakan. Tubuhku bergetar hebat karena sensasi yang sangat intens setelah baru saja klimaks tadi.

"Enak ya non dimainin gini memeknya.." bisik tukang nasi goreng di telingaku dengan suara serak sambil terus mengocok semakin cepat. Jari-jarinya memutar dan menekan titik sensitif di dalamku tanpa ampun.

Aku menggeliat kewalahan. Leherku yang terjepit pintu membuat napasku tercekat. Desahanku keluar pendek-pendek dan tertahan. "Ahh.. ahh.." hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Cairan kawinku semakin banyak mengalir membasahi tangan kasarnya. Ia semakin liar. Tangan kirinya menjepit leherku semakin kuat dengan pintu sementara tangan kanannya mengocok memekku dengan ritme yang semakin cepat dan brutal.

Sensasinya terlalu kuat. Tubuhku menegang hebat. Aku mencoba menahan tapi tidak sanggup. Klimaks kedua datang dengan sangat deras. Aku mendesis panjang. Lendir kawinku muncrat keluar membasahi tangan tukang nasi goreng dan lantai di depan pintu. Tubuhku bergetar tak terkendali. Kaki ku lemas sekali sehingga aku hampir jatuh. 

Tukang nasi goreng masih mengocok beberapa kali lagi hingga tetes terakhir lendir kawinku keluar. Baru setelah itu ia melepaskan jepitan pintu di leherku. Aku langsung jatuh lemas ke depan. Tubuhku bersandar di pintu dengan napas tersengal-sengal. Cairan dari kemaluanku terus menetes ke lantai. Pandanganku berkunang-kunang dan seluruh tubuhku terasa lemah tak bertenaga.

Parman yang berdiri di samping hanya tersenyum puas melihat keadaanku. 

Keduanya akhirnya puas. Tukang nasi goreng menarik tangannya yang basah oleh lendir kawinku lalu mengusapnya ke pantatku pelan. Mereka berdua merapikan pakaian dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa di kamar itu. Parman membuka pintu kamar pelan-pelan dan mengintip ke lorong kos yang masih sepi. Setelah memastikan aman mereka keluar satu per satu dengan langkah biasa.

Sebelum benar-benar pergi Parman menoleh ke belakang dan menatapku yang masih bersandar lemas di pintu. Tubuhku penuh keringat cairan dan lemas tak bertenaga. Ia tersenyum kecil lalu berkata dengan suara rendah tapi tegas.

"Lain kali pintu kamarnya gak usah dikunci non. Biar bapak sama teman bapak bisa bebas ngentotin non Regina kapan aja.

Setelah mengucapkan itu ia menutup pintu pelan. Suara langkah mereka berdua perlahan menjauh di lorong kos yang sunyi. Aku masih berdiri menungging lemas di dekat pintu dengan napas tersengal. Sperma dari keduanya masih mengalir pelan dari liang kewanitaanku ke lantai. Tubuhku gemetar hebat. Campuran rasa lelah puas dan malu memenuhi pikiranku.

Kamar yang tadinya penuh desahan dan hentakan kini kembali hening. Hanya suara napasku yang tersisa di dalam ruangan sempit itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Budak Napsu Sopir Bus Antarkota

Draft Kisah Tragis Dibalik Pudarnya Kajayaan Pertokoan Glodok

Draft Preman Tanah Abang

Draft Pemburu Amoy Pecinan

Draft Aku Rela Dijadikan Budak Seks Saat Hamil

Draft Rahasia Dibalik Seragam Sekolah

Draft Arisan sosialita Yang Brutal

Draft Budak Napsu Ojol Jalanan 2

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 7