Langsung ke konten utama

Rahasia Dibalik Seragam Sekolah

By : Analconda13

Namaku Valerie Lin dan aku masih berusia 17 tahun. Aku duduk di kelas XII IPA di salah satu SMA swasta elite di Jakarta Utara. Banyak orang bilang aku gadis Chindo yang sempurna karena kulitku putih mulus. Rambut hitamku lurus panjang dan selalu aku cat dengan highlight cokelat mahal. Mataku sipit dengan bulu mata lentik. Tubuhku seksi tanpa usaha. Tapi aku benci disebut seperti itu. Aku lebih suka orang melihatku sebagai Valerie yang manja. Aku bisa menangis kalau baju mahalku kotor atau kalau sopir telat jemput lima menit saja.

Kehidupan sehari-hariku monoton tapi mewah. Setiap pagi aku bangun di kamar tidur suite yang seluas apartemen orang biasa. Mama biasanya sudah pergi ke salon atau arisan sosialita. Papa entah berada di kantor atau di hotel atau bersama perempuan lain. Aku makan sarapan sendirian. Pembantu menemani aku tapi aku tetap memerintah dia seenaknya. Aku memakai seragam sekolah dengan rok yang aku gulung lebih pendek dari aturan. Kemejaku agak ketat di dada. Kaos kakiku tinggi sehingga kakiku terlihat lebih panjang.

Sekolah terasa membosankan bagiku. Teman-temanku kebanyakan anak orang kaya juga. Tapi aku merasa tidak ada yang benar-benar mengerti diriku. Mereka iri dengan barang branded milikku dan liburan ke Eropa tiap semester. Namun tidak ada yang tahu bahwa setiap malam aku pulang ke rumah yang penuh teriakan.

Orang tuaku bertengkar hampir setiap hari. Mereka bertengkar soal selingkuhan Papa soal uang Mama yang boros dan soal aku yang terlalu manja. Kadang aku duduk di tangga marmar sambil memeluk lutut. Aku mendengarkan mereka saling menghina. Setelah itu aku lari ke kamar lalu mengunci pintu dan membuka laptop.

Itulah rahasia terdalamku.

Aku sering menonton film dewasa. Bukan film biasa. Aku suka cerita yang ada figur ayah dominan. Figur itu melindungi tapi juga kasar sekaligus lembut. Aku menonton hampir setiap malam. Kadang sampai pagi. Tubuhku bereaksi sangat kuat. Aku merasa panas gelisah basah dan haus sentuhan. Padahal aku masih perawan dan belum pernah mendapat sentuhan dari siapa pun. Pikiranku sudah sangat kotor. Aku merasa malu tapi tidak bisa berhenti. Hanya dengan itu aku merasa hidup di tengah rumah yang dingin ini.

Aku benci sekaligus menunggu-nunggu sore hari. Sopir kami Pak Budi sering telat. Kadang karena macet. Kadang karena Papa memakai mobil lain tanpa bilang. Kadang karena Mama lupa memberi instruksi. Aku sering berdiri di gerbang sekolah selama tiga puluh menit sampai dua jam sendirian sambil memeluk tas sekolahku. Teman-teman sudah pulang semua. Hanya ada aku dan para satpam.

Salah satunya adalah Pak Joko. Dia berusia lima puluh delapan tahun. Dia duda. Kulitnya hitam karena sering terpapar matahari. Rambutnya sudah banyak uban. Tubuhnya tegap meski sudah tua. Seragam satpamnya selalu rapi. Suaranya pelan dan dalam seperti suara ayah yang aku bayangkan dulu waktu kecil. Dia tidak banyak bicara tapi selalu ada. Dia memberiku payung saat hujan deras. Dia membelikan es teh manis dari warung depan sekolah. Atau dia sekadar menyapa.

"Neng Valerie nunggu lagi ya? Sabar ya." Pak Joko berkata.

Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai satpam biasa. Tapi lama-lama setiap kali sopir telat aku sengaja duduk di kursi panjang dekat pos satpam. Aku mulai curhat tentang Mama yang egois. Aku curhat tentang Papa yang jarang pulang. Aku curhat tentang betapa aku merasa tidak diinginkan di rumah sendiri.

Pak Joko mendengarkan. Dia benar-benar mendengarkan. Dia tidak menghakimi. Dia tidak bilang kamu manja. Dia tidak bilang kamu kaya kok susah. Dia hanya mengangguk. Kadang dia menepuk pundakku pelan dengan tangan kasarnya dan berkata.

"Neng masih kecil masih banyak yang harus dilalui. Tapi nanti juga ada yang sayang Neng seutuhnya." Pak Joko berkata.

Sentuhannya hangat. Aku ketagihan.

Malam harinya setelah menonton film dewasa lagi aku sering membayangkan tangan kasar Pak Joko yang memeluk aku. Aku membayangkan suaranya yang pelan memanggil namaku. Aku membayangkan figur ayah yang akhirnya memberiku kasih sayang yang aku rindukan. Aku tahu ini salah karena dia tua dan aku murid sekolahnya. Tapi semakin hari semakin aku sengaja membuat alasan untuk pulang malam.

Aku mulai datang ke pos satpam lebih sering. Kadang aku pura-pura lupa barang. Kadang aku bilang ada tugas kelompok yang harus diselesaikan di sekolah. Aku duduk lebih dekat. Rokku naik sedikit lebih tinggi saat aku duduk menyilangkan kaki. Aku memanggilnya pak Joko dengan suara manja yang biasa aku pakai minta beli baju baru yang mahal ke Papa.

Belakangan ini entah kenapa aku merasakan Pak Joko mulai melihatku dengan cara yang berbeda dari biasanya. Aku bisa merasakannya dari caranya menatapku lebih lama. Aku merasakannya dari cara tangannya yang ragu-ragu saat menepuk pundakku. Aku juga merasakannya dari suaranya yang sedikit bergetar.

"Non.. itu sopirnya udah datang jemput.. udah buruan pulang gih..

Tapi aku tidak mau pulang. Aku ingin lebih lama di dekatnya. Aku ingin merasakan kasih sayang yang selama ini hilang. Dan aku ingin lebih dari itu.

Aku tahu ini berbahaya. Aku tahu ini bisa menghancurkan segalanya. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa ada seseorang yang benar-benar memberikan perhatian padaku. Bukan sebagai Valerie si anak kaya manja tapi sebagai gadis yang kesepian dan sangat haus akan sentuhan serta perhatian.

Aku masih ingat hari itu dengan sangat jelas. Hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah Jakarta sejak siang. Seperti biasa Pak Budi telat hampir satu setengah jam. Aku berdiri di bawah kanopi gerbang sekolah dengan rok seragam yang sudah agak basah di bagian bawah. Tas sekolahku yang harganya selangit aku peluk erat di dada. HPku sudah mati karena baterai habis. Aku terlalu malas minta tolong teman-teman yang sudah pulang duluan.

“Non Valerie masuk ke pos aja dulu. Hujannya deras banget. Suara Pak Joko terdengar dari belakangku.

Aku menoleh. Pak Joko berdiri di pintu pos satpam yang kecil sambil memegang payung hitam besar. Seragam cokelatnya agak kusut tapi wajahnya tetap tenang. Aku mengangguk manja lalu berlari kecil ke dalam pos itu. Ruangannya sempit. Hanya ada meja kecil dua kursi plastik kipas angin tua dan radio yang selalu nyala pelan.

Aku duduk di kursi yang biasa dia pakai. Bau tubuhnya langsung menyeruak. Bau itu campuran keringat sabun batangan dan sedikit rokok kretek. Anehnya aku tidak jijik. Malah nyaman.

“Om aku nunggu lama banget hari ini.” Kataku dengan suara kecil dan bibir manyun. “Papa sama Mama pasti lagi berantem lagi. Makanya sopirnya lupa.

Pak Joko hanya menghela napas pelan sambil menuangkan air panas ke dalam gelas plastik. “Es tehnya habis Neng. Minum air hangat aja ya.” Dia menyodorkan gelas itu.

Aku menerimanya. Aku sengaja menyentuh jari-jarinya lebih lama dari yang seharusnya. Hangat. Aku langsung teringat adegan di film dewasa semalam yaitu tangan pria tua yang memegang pinggang gadis muda dengan kuat. Pipiku langsung panas. Aku cepat menunduk dan pura-pura meniup air hangat itu.

Malam itu setelah akhirnya sampai rumah dan mendengar Mama sama Papa bertengkar soal perempuan murahan lagi aku langsung lari ke kamar. Pintu aku kunci. Lampu aku matikan. Laptop aku buka.

Aku menonton video yang kali ini lebih intens. Seorang gadis seusia aku dipeluk dari belakang oleh pria yang jauh lebih tua. Dia dipanggil sayang dan nak. Tangan pria itu menyusup ke balik roknya. Aku menyentuh diri sendiri sambil membayangkan suara Pak Joko yang pelan memanggil namaku. Aku klimaks dengan cepat. Napasku tersengal. Tapi setelah itu aku malah merasa kosong. Aku merasa malu. Sangat malu.

Keesokan harinya aku sengaja datang ke sekolah lebih awal. Dan sore harinya aku sengaja bilang ke Pak Budi lewat chat bahwa aku ada les tambahan sampai jam enam. Padahal tidak ada les apa-apa.

Jam lima sore gerbang sudah sepi. Aku duduk lagi di pos satpam. Kali ini aku membawa dua gelas es teh dari kantin. Satu untukku dan satu untuknya.

"Pak Joko ini buat bapak. Makasih kemarin udah nemenin nunggu.” Kataku.

Dia terlihat kaget tapi tersenyum tipis. Keriput di sudut matanya semakin kelihatan. “Neng baik banget. Bapak biasa aja kok.” Pak Joko berkata.

Kami ngobrol lama. Aku cerita tentang Papa yang kemarin pulang jam tiga pagi bau parfum perempuan. Aku cerita tentang Mama yang lebih sibuk selfie di Instagram daripada nanya kabar aku. Pak Joko mendengarkan sambil merokok di luar pos. Kadang dia mengangguk.

“Orang tua Neng pasti sayang kok. Kadang mereka cuma nggak tahu caranya nunjukin.” Katanya pelan.

Aku menggeleng. Air mata tiba-tiba menggenang. “Aku nggak butuh sayang mereka lagi Om. Aku cuma pengen ada yang ngerti aku. Yang nemenin aku. Yang peluk aku kalau aku takut.” Kataku.

Aku berdiri lalu mendekat ke arahnya. Hujan masih rintik-rintik di luar. Aku memeluk pinggangnya pelan dan menyandarkan kepala di dada bidangnya yang keras. Bau keringat dan rokoknya lagi-lagi menyeruak. Tubuhku bereaksi dengan cepat. Dada terasa sesak dan ada panas yang turun ke bawah perut.

Pak Joko membeku. Tangan kanannya menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya menepuk punggungku pelan. “Neng ini nggak boleh.” Pak Joko berkata.

Tapi dia tidak mendorongku pergi.

Aku semakin erat memeluknya. “Cuma sebentar Om. Aku dingin.” Kataku.

Malamnya di kamar aku menonton video lagi. Kali ini aku membayangkan tangan Pak Joko yang kasar itu menyentuh payudaraku dari balik kemeja seragam. Aku orgasme dua kali berturut-turut sambil berbisik nama dia pelan-pelan.

Beberapa hari kemudian.

Aku sudah punya rutinitas baru. Setiap sore aku mencari alasan untuk tinggal lebih lama di sekolah. Kadang aku pura-pura ada PR kelompok. Kadang aku bilang sopir macet parah. Pak Joko mulai terbiasa dengan kehadiranku. Dia bahkan menyimpan satu kursi khusus untukku di pojok pos.

Suatu sore hujan deras lagi. Listrik di pos sempat mati sebentar. Aku ketakutan gelap lalu langsung naik ke pangkuannya tanpa permisi. Rok seragamku naik tinggi sampai paha. Aku duduk menyamping dengan kepala bersandar di bahunya.

“Om peluk aku erat-erat ya. Aku takut petir.” Bisikku manja dengan suara sengaja dibuat lemah.

Tangan Pak Joko gemetar saat memeluk pinggangku. Aku bisa merasakan dadanya naik turun lebih cepat. Ada sesuatu yang mengeras di bawah pahaku. Aku pura-pura tidak tahu tapi aku sengaja menggesekkan tubuhku pelan-pelan mengikuti irama napasnya.

“Non Valerie lagi apa ?” Suaranya parau hampir seperti geraman pelan. Pak Joko bertanya.

Aku hanya menggeleng dan menyembunyikan wajah di lehernya. Kulitnya panas. Aku mencium bau sabun dan keringat yang membuat hasratku semakin membara. Tanganku tanpa sadar merayap ke dada bidangnya dan merasakan detak jantungnya yang kencang.

Kali ini dia tidak bilang tidak boleh. Dia hanya memelukku lebih erat. Tangan kasarnya menempel di punggungku tepat di atas resleting rok. Kami diam cukup lama. Hanya suara hujan dan napas kami yang saling bercampur.

Saat hujan reda dan Pak Budi akhirnya datang aku turun dari pangkuannya dengan kaki lemas. Celana dalamku sudah basah sekali. Aku pulang dengan perasaan bersalah yang luar biasa tapi juga excited yang tidak bisa kutahan.

Aku tahu ini baru permulaan. Aku tahu aku sedang bermain api. Tapi untuk pertama kalinya ada seseorang yang membuat aku merasa diinginkan. Benar-benar diinginkan.

Hari itu hujan turun lebih deras dari biasanya. Langit Jakarta seolah ikut meratapi kekacauan di rumahku. Pagi harinya Papa dan Mama bertengkar hebat sampai Mama melempar vas bunga ke dinding. Aku kabur ke sekolah dengan mata sembab. Rok seragamku sengaja kugulung lebih pendek dan kemeja kutinggalkan satu kancing atas terbuka.

Sepanjang pelajaran aku gelisah. Pikiranku terus ke pos satpam kecil itu. Aku memikirkan Pak Joko. Aku memikirkan pelukannya yang semakin lama semakin erat tiap sore. Aku sudah tidak bisa bohong lagi pada diriku sendiri. Aku menginginkannya. Bukan hanya kasih sayang ayahnya tapi juga tubuhnya. Aku menginginkan tangan kasarnya. Aku menginginkan suaranya yang parau. Aku menginginkan segalanya.

Jam pulang sekolah aku langsung chat Pak Budi. Aku bilang jangan jemput dulu karena ada tugas kelompok sampai jam tujuh. Itu bohong tentu saja. Aku berjalan pelan menuju pos satpam sambil memeluk tas. Gerbang sudah sepi. Hanya ada suara hujan deras yang memukul atap seng.

Pak Joko sedang duduk di kursi sambil merokok dan menatap hujan. Begitu melihatku matanya langsung melembut.

“Neng... lagi nunggu jemputan ya? Hujannya deras banget hari ini.

Aku mengangguk lalu langsung masuk ke pos tanpa diundang. Ruangan kecil itu terasa lebih sempit karena hujan membuat udara lembab dan panas. Aku duduk di pangkuannya seperti biasa tapi kali ini lebih berani. Kedua kakiku mengangkang di atas pahanya. Rok seragamku naik sampai pinggang. Aku bisa merasakan tubuhnya langsung menegang di bawahku.

"Pak Joko aku takut sendirian hari ini. Peluk aku yang erat.” Bisikku manja sambil menyandarkan dada ke dadanya.

Tangan kasarnya naik ke punggungku. Dia ragu-ragu sebentar lalu memeluk pinggangku kuat. Aku bisa merasakan kehangatan telapak tangannya menembus kemeja tipis. Napasnya mulai berat. Aku menggesekkan pinggulku pelan ke arahnya dan merasakan sesuatu yang keras dan panas mulai bangkit di balik celana seragam satpamnya.

"Uuuhh.. Non.. Valerie sebenarnya kita nggak boleh berbuat begini.. Gumamnya parau tapi tangannya justru semakin erat memelukku. Bapak ini kan sudah seumuran sama papamu.. apalagi kamu juga masih sekolaahh.. Pak Joko berkata.

“Aku sudah tujuh belas pak.. aku gak mau dianggap seperti anak kecil terus.. Jawabku sambil mendongak menatap wajahnya. Mataku sengaja dibuat berkaca-kaca dan bibirku manyun seperti biasa saat minta sesuatu. "Cuma bapak yang sayang dan perhatian sama aku. Bukan Papa yang ada dirumah dan bukan siapa-siapa. Cuma bapak. Kataku.

Kami saling pandang cukup lama. Hujan semakin deras dan suaranya menenggelamkan segala keraguan. Aku melihat ada api di mata Pak Joko yang selama ini selalu ditahannya. Tangannya naik ke pipiku. Ibu jarinya yang kasar mengusap bibir bawahku pelan.

Lalu tanpa kata lagi dia menunduk.

Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut dulu dan ragu-ragu. Bibirnya kering dan agak kasar karena usia tapi hangat. Aku mendesah pelan lalu membuka mulut sedikit. Lidahnya menyusup masuk dengan hati-hati dan mencari lidahku. Rasa rokok kretek dan kopi hitam langsung memenuhi mulutku. Ciumannya semakin dalam dan semakin lapar. Tangan kirinya memegang tengkukku lalu menekanku lebih dekat sementara tangan kanannya merayap ke bawah rok dan meremas paha dalemku yang sudah basah.

Aku mengerang kecil ke dalam mulutnya. Payudaraku menekan dada bidangnya. Puting susuku sudah mengeras sejak tadi. Aku menggoyang pinggulku lebih cepat dan menggesekkan selangkanganku yang hanya tertutup celana dalam tipis ke tonjolan keras di celananya.

"Paakk aku basah banget paak.. Desahku saat ciuman kami terlepas sejenak. Seutas air liur menghubungkan bibir kami.

Pak Joko menggeram pelan. Matanya sudah gelap penuh nafsu. Dia mengangkat tubuhku sedikit lalu membuka resleting celananya dengan satu tangan. Aku membantu dengan tangan gemetar dan menarik celana dalamku ke samping. Kepala kemaluannya yang besar dan panas langsung menyentuh bibir vaginaku yang sudah banjir.

Kami tidak bicara lagi.

Dia menarik pinggulku ke bawah perlahan. Aku merasakan kepalanya masuk dan meregangkan dindingku yang sempit. Sakit tapi nikmat yang luar biasa. Aku menggigit bahunya sambil mendesah panjang.

"Aaahhh.. punya bapak gede banget.. Kataku.

Aku merasakan Pak Joko memeluk pinggangku erat. Dia menggerakkan pinggulnya naik turun pelan di dalam pos satpam yang sempit itu. Hujan deras di luar membuat suara desah kami tertutup. Setiap dorongan semakin dalam dan semakin cepat. Tangan kasarnya meremas payudaraku dari balik kemeja lalu mencubit puting susuku yang sensitif. Aku naik turun di pangkuannya. Rok seragamku bergoyang-goyang. Bunyi basah percintaan kami bercampur dengan suara hujan. Aku mencium lehernya lalu menghisap kulitnya dan meninggalkan bekas merah kecil.

"Paakkk.. Joko aku milik bapaaakk sekarang. Bisikku sambil semakin cepat menggoyang pinggul.

Dia mendesah kasar. 

"Uughh.. bapaakk jugaaa.. udaah nggak tahan lagi non.. Pak Joko menggeram.

Beberapa menit kemudian aku mencapai klimaks pertama yang sangat kuat. Tubuhku mengejang hebat. Liang kewanitaanku berdenyut-denyut menggenggam kejantanan miliknya. Pak Joko menyusul tak lama kemudian. Dia menyemburkan air maninya yang hangat jauh kedalam rahimku sambil memelukku erat sekali seolah takut aku hilang. Crertt.. Crertt.. Kami terdiam lama sambil masih menyatu. Napas kami tersengal. Sperma hangatnya menetes keluar dari selangkanganku yang masih berdenyut. Aku menyembunyikan wajah di lehernya. Aku merasa puas malu bahagia dan ketakutan bercampur jadi satu.

Hujan masih deras di luar. Pos satpam kecil itu sekarang jadi saksi rahasia terbesarku. Aku tahu ini baru permulaan. Dan aku sudah tidak bisa mundur lagi.

Komentar