By : Analconda13
Aku sengaja tidak memakai bra pagi ini. Setiap hembusan AC toko yang dingin langsung membuat puting susuku mengeras dan menonjol samar tapi jelas di balik kain tipis baju yang kupilih. Aku bisa merasakan tatapan mereka dan hal itu justru membuat liang kewanitaanku semakin basah di balik rok pendekku.
Rambut hitamku yang bergelombang panjang sebahu sengaja kubiarkan tergerai sehingga menyapu bahu dan buah dadaku setiap kali aku bergerak. Aku tahu betul bagaimana pelanggan pria terutama preman-preman yang biasa bolak balik di koridor toko melirikku dengan tatapan penuh nafsu yang sudah tidak ditutupi lagi. Mata mereka seolah menelanjangiku di tempat dan membayangkan bagaimana rasanya meremas payudaraku yang kencang lalu menjepit puting susu yang menonjol itu. Mereka bahkan membayangkan aku merintih di bawah mereka saat kejantanan mereka memompa liang kewanitaanku.
Aku hanya tersenyum sinis dalam hati. Dasar SDM rendah kampungan pikirku sambil melayani seorang wanita yang membeli baju. Tapi di balik sikap sombong dan superior itu aku menyimpan sisi gelap yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun.
Dibalik itu semua diam diam aku punya sisi eksibisionis yang kuat. Aku suka menjadi objek fantasi liar para pria pribumi ini. Dalam pikiranku aku sering membayangkan mereka pulang ke rumah sambil menggenggam batangnya yang sudah keras. Mereka membayangkan aku telanjang di depan mereka memamerkan tubuh mulusku merangkak atau membiarkan mereka menyetubuhi aku sesuka hati. Aku suka membayangkan betapa kotor dan kasar fantasi mereka tentang aku seperti disetubuhi brutal di gang belakang toko lalu buah dadaku digoyang-goyang sambil mereka mengerang. Semakin rendah dan liar fantasi mereka semakin basah liang kewanitaanku.
Tapi tak seorang pun tahu rahasia ini. Di luar aku memang terlihat sombong angkuh dan seolah tak tersentuh. Hanya aku sendiri yang tahu betapa aku menikmati menjadi bahan masturbasi dan objek nafsu mereka setiap hari. Tubuh mulus ini serta pakaian seksi yang selalu kupilih semuanya sengaja. Aku ingin mereka menginginkan aku meski mereka tak akan pernah berani menyentuh.
Siang harinya pengunjung toko semakin ramai. Udara didalam gedung pusat grosir pakaian itu terasa semakin hangat dan sesak meski pendingin ruangan didalam gedung bekerja keras. Aku seorang janda Tionghoa muda berusia 27 tahun yang belum punya anak yang masih memiliki gairah tinggi dan tak pernah pudar. Gerakanku di antara rak-rak baju dengan langkah sengaja dibuat pelan membiarkan bodycon dress hitamku naik sedikit setiap kali aku membungkuk untuk mengambil barang di rak bawah. Beberapa kali aku merasakan hembusan angin dari pintu masuk menyapu paha dalamku yang terbuka mengingatkanku bahwa aku memang tidak memakai celana dalam hari ini hanya demi sensasi bebas dan sedikit kegembiraan nakal yang aku nikmati sendiri.
Payudaraku yang kencang bergoyang ringan di balik kain tipis saat aku melayani pelanggan pria dan aku bisa melihat tatapan penuh napsu mereka tertuju ke belahan dada dalamku. Di luar kelompok preman yang biasa berpura pura sebagai kuli panggul semakin terang-terangan. Ada empat atau lima orang semuanya bertato dan berpakaian lusuh merokok sambil sesekali lewat depan toko hanya untuk melihatku.
Yang paling sering melirik adalah si botak berkumis tebal dan temannya yang tinggi kurus. Aku pura-pura tidak peduli malah sengaja membalikkan badan dan membungkuk lebih dalam saat merapikan etalase membiarkan rok dressku naik hingga hampir memperlihatkan bokongku yang bulat dan putih. Dalam hati aku tertawa kecil. Biarkan mereka ngiler. Mereka hanyalah preman rendahan tidak akan berani lebih dari sekadar memandang.
Sore menjelang pelanggan mulai berkurang. Aku berdiri di depan cermin besar di sudut toko merapikan rambut dan sengaja menarik turun sedikit belahan dressku agar payudaraku terlihat semakin menggoda. Cahaya lampu toko membuat kulit putih Amoy-ku terlihat semakin mulus dan berkilau.
Aku tahu preman-preman itu masih di luar mengawasiku dari kejauhan. Sekali lagi aku merasa kuat dan sombong tubuh ini milikku dan aku bisa memamerkannya sebanyak yang aku mau tanpa takut apa-apa. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam saat aku mulai membereskan toko. Pintu kaca masih terbuka tapi lalu lintas grosir sudah sepi. Aku mematikan sebagian lampu meninggalkan hanya lampu etalase depan yang membuat tubuhku terlihat seperti pajangan hidup di balik kaca. Saat itulah aku mendengar langkah kaki berat mendekat dari gang samping...
Sore menjelang malam udara di Pusat Grosir pakaian itu sudah sepi sekali. Hanya suara langkah kaki berat yang mendekat dari gang samping itu yang memecah kesunyian. Aku masih berdiri di depan etalase tanganku membeku di atas tumpukan baju yang sedang aku lipat. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat tapi aku cepat menguasai diri. Mungkin hanya pelanggan telat atau satpam pikirku. Aku sengaja tidak menoleh dulu malah membungkuk sedikit lebih dalam untuk merapikan rak bawah membiarkan bodycon dress hitamku naik perlahan di paha memperlihatkan lebih banyak kulit putih mulusku yang tak tertutup apa pun di bawahnya.
Tiba-tiba pintu kaca toko didorong keras dari luar hingga berderit. Aku menoleh cepat dan melihat lima orang pria masuk. Preman-preman yang selama ini selalu nongkrong di gang depan. Si botak berkumis tebal memimpin didepan lalu diikuti yang tinggi kurus.. dua orang bertato lengan dan satu lagi yang paling besar tubuhnya seperti preman gembong. Bau rokok dan keringat pria langsung memenuhi toko. Aku menegakkan tubuh menyilangkan tangan di bawah dada agar belahan dadaku terlihat semakin dalam dan berkata dengan nada merendahkan yang biasa aku pakai.
Sore cii.. mau tutup toko ya..
Ehhh.. iya bang.. kebetulan hari ini pegawai aku gak masuk kerja katanya sih mau pulang kampung mau liat istrinya yang melahirkan.
Oohh gitu. Yaa.. pantee dari tadi kita perhatiin kayaknya enci repot banget di toko.
Iya bang.. hari ini toko juga lagi rame banget..
Kalau gitu boleh kan kita bantuin enci turuk toko.. daripada kerja sendirian kan lebih cepat kalau di bantuin sama kita. Hehe..
Iya. Cii.. kalau gak dibantuin nanti takutnya enci kemaleman tutup tokonya soalnya toko yang lain kan udah pada tutup semua tuh.
Gak usah bang.. aku bisa tutup toko sendiri kok.. baramg yang perlu dimasukin kedalam juga gak terlalu banyak.
Enci gimana sih. Mau dibantuin kok malah gak mau.. meskipun kita ini sering dianggap preman tapi kita juga suka nolongin orang loh. Apalagi enci kan selama ini udah rutin bayar iuran keamanan sama kita.. jadi wajarlah kalau sekarang kita mau bantuin enci sedikit hehe..
Sebenarnya bukan aku tak mau dibantu namun penampilan mereka yang kasar dan urakan apalagi disaat kondisi sedang sepi seperti ini membuatku jadi ketakutan. Tanpa kusuruh mereka berusaha memasukkan sejumlah kardus barang yang tadi di taruh didepan toko. Dan beberapa diantaranya berusaha menutup pintu toko dari dalam.
Ehhh bang.. kenapa pintunya ditutup. Aku kan masih didalam.. gimana sih kalian..
Justru karena enci masih di dalam makanya pintunya kami tutup. Hehe..
Iya cii.. barangnya udah beres semua.. sekarang tinggal enci aja yang belum kita beresin.
Ehh.. maksud kamu apa ngomong kayak gitu. Jangan kurang ajar ya..
Udahlah gak usah pura pura begitu.. kita semua tahu kok kalau enci sengaja pakai baju seksi tiap hari cuma buat mancing mancing kita aja kan.. sebenarnya enci kepen kan dimaenin sama kita.. haha.
Ehh kalian jangan salah paham. Maksudnya apa kalian ngomong begitu.
“Lama kami ngeliatin lo cii.. Tiap hari pake baju kayak pelacur mahal. Belahan dada ini paha situ. Hari ini aja lu sengaja gak pakai bh sama daleman kan... Lo sengaja godain kami ?” Suaranya rendah dan kasar.
Aku terkejut dengan omongan mereka dan berusaha tetap tenang meski ada getaran aneh di perutku. “Jangan macam-macam. Ini toko saya. Keluar sekarang atau saya teriak.” Mereka tidak keluar. Malah tertawa bersamaan. Yang tinggi kurus langsung berjalan ke belakangku dan mengunci pintu rolling door toko dari dalam Klik. Suara itu terdengar sangat keras di telingaku. Aku mundur selangkah hingga punggungku menyentuh rak baju. Jantungku mulai berdegup kencang sekarang. Si botak mendekat perlahan tangannya kasar menyentuh lengan atasku. Kulitnya panas dan kasar.
“Lo sombong banget ya Amoy. Selama ini lo anggap kami sampah. Sekarang kami mau ambil yang selama ini lo pamerin tiap hari.” Aku mencoba menepis tangannya tapi ia lebih kuat. Dressku ditarik turun dengan kasar dari bahu kain tipisnya robek sedikit di bagian belahan dada. Payudaraku yang putih dan kencang langsung melompat keluar putingku yang sudah mengeras karena AC terpapar udara dingin. Aku merasakan malu yang panas membakar wajahku tapi juga ada sensasi aneh yang tidak aku mengerti. “Jangan lepaskan aku” kataku suaraku mulai gemetar. Tapi mereka hanya tertawa. Dua tangan kasar sudah meremas payudaraku dari belakang jari-jarinya mencubit putingku keras hingga aku menggigit bibir menahan erangan. Aku mencoba mundur lagi tapi rak baju di belakangku membuatku tak bisa ke mana-mana.
Tangan kasar si botak meremas payudaraku yang kiri dengan kuat jempolnya memutar putingku yang sudah mengeras tak terkendali. Rasa panas dan perih bercampur aneh di dada membuat napasku tersengal. “Lepas sialan jangan sentuh” kataku dengan suara yang lebih lemah dari yang aku inginkan. Dari belakang yang tinggi kurus menempelkan tubuhnya ke punggungku tangannya menyusup ke bawah dress yang sudah tertarik naik hingga pinggang. Jari-jarinya langsung menyentuh paha dalamku yang telanjang lalu naik lebih tinggi dan menemukan bahwa aku memang tidak memakai celana dalam. “Oh lihat ini” katanya sambil tertawa kasar napasnya panas di tengkukku. “Memang benar jalang. Pake baju seksi tiap hari tapi memeknya sudah basah gini.” Aku menggeleng keras malu yang membakar wajahku.
Aku bisa merasakan cairan hangat yang mulai keluar tanpa izin dari tubuhku sendiri meski pikiranku berteriak menolok. Dua preman lainnya mendekat dari samping. Yang bertato lengan merobek tali dress di bahu kananku hingga kain hitam itu melorot ke pingwah memperlihatkan seluruh tubuh atasku yang putih mulus. Mereka semua menatap rakus ke payudaraku yang bergoyang-goyang karena napasku yang memburu. Si gembong yang paling besar berdiri di depanku tangannya yang tebal meraih daguku kasar memaksa aku menatap matanya yang penuh nafsu. “Lo sombong banget ya Amoy. Tiap hari goyang-goyang kontol di depan kami. Sekarang lo milik kami malam ini.” Ia menurunkan tangannya meremas payudaraku yang kanan sambil mencubit putingku keras sekali hingga aku mengeluarkan erangan kecil yang tak sengaja.
Tubuhku menggigil. Aku merasakan lututku mulai lemas campuran antara ketakutan dan sensasi aneh yang membuat memekku semakin basah. Mereka mulai mendorongku mundur ke meja kasir. Punggungku menyentuh permukaan kayu yang dingin saat mereka mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di atas meja. Dressku sudah terkumpul di pinggang kedua kakiku dibuka lebar oleh tangan-tangan kasar. Aku bisa merasakan udara dingin menyapu memekku yang telanjang dan basah sementara lima pasang mata lapar menatap langsung ke sana.
“Jangan tolong ini bukan lucu” bisikku dengan suara gemetar tapi si botak hanya tersenyum lebar sambil membuka resleting celananya. Aku melihat batangnya yang sudah keras dan tebal melompat keluar ujungnya mengkilap. Tangan lain sudah meremas paha dalamku jari-jari kasar mengusap bibir memekku yang licin naik turun dengan perlahan seolah sengaja menyiksa. Aku mencoba menutup kakiku tapi tangan-tangan kasar mereka terlalu kuat memegangi paha dalamku lebar-lebar di atas meja kasir. Jantungku berdegup kencang sekali sampai terasa di tenggorokan. “Jangan tolong lepaskan aku” bisikku lagi suaraku sudah parau dan gemetar. Tapi si botak hanya tersenyum lebar matanya gelah penuh nafsu saat ia mengusap batangnya yang tebal dan berurat itu di depan memekku yang terbuka. Ujungnya yang panas dan basah menyentuh bibir memekku pelan menggosok naik turun di celah yang sudah licin tanpa masuk dulu. Sensasi itu membuat tubuhku menggigil hebat malu yang membakar wafahku bercampur dengan getaran aneh yang muncul dari bawah perut. “Basah banget memek Amoy lo” katanya kasar sambil tertawa pelan. Jari tengahnya menyusup pelan ke dalam lubangku masuk perlahan sampai ke pangkal lalu berputar-putar di dalam.
Aku menggigit bibir keras berusaha menahan erangan yang hampir keluar. Tubuhku mengkhianati aku dinding memekku berdenyut dan semakin basah di sekitar jarinya. Dua preman lain meremas payudaraku bergantian mencubit putingku keras-keras sampai terasa perih dan panas. Yang tinggi kurus dari belakang menarik rambutku pelan memaksa kepalaku mendongak lalu mencium leherku dengan kasar sambil menggigit pelan kulitku. Si botak akhirnya menekan pinggulnya maju. Kepala batangnya yang besar mendorong masuk perlahan ke dalam memekku yang sempit meregangkan dindingku dengan paksa. Aku merasakan setiap inci-nya yang tebal dan panas menyusup masuk mengisi aku penuh sampai aku mengeluarkan erangan kecil yang tak bisa kutahan “Ahh sakit keluar” Ia berhenti sejenak saat sudah separuh masuk memberiku waktu merasakan denyutan batangnya di dalam tubuhku lalu mendorong lagi sampai pangkalnya menempel rapat di bibir memekku.
Napasku tersengal-sengal. Rasa penuh perih dan anehnya kenikmatan paksaan itu bercampur aduk di kepalaku. Ia mulai bergerak pelan keluar masuk dengan ritme yang sengaja dibuat lambat seolah ingin aku merasakan semuanya. Setiap dorongan membuat payudaraku bergoyang dan meja kasir berderit pelan. Teman-temannya menonton dengan rakus tangan mereka terus meraba tubuhku meremas bokong mengusap paha bahkan satu jari sudah mulai menyentuh lubang belakangku yang masih perawan. Aku merasa benar-benar terperangkap tubuhku yang selama ini aku banggakan dan pamerkan sekarang sedang diperkosa perlahan di toko sendiri di bawah cahaya lampu etalase yang masih menyala redup.
Aku hampir tak bisa bernapas saat si botak mulai mempercepat gerakannya. Dorongannya yang tadinya pelan berubah kasar dan kuat. Setiap kali ia membenturkan pinggulnya ke depan batangnya yang tebal menghantam dasar memekku dengan bunyi basah yang memalukan Plak Plak Plak Payudaraku bergoyang liar di depan wajah mereka. Aku menggigit bibir sampai terasa darah tapi erangan kecil tetap lolos dari mulutku setiap kali ia menabrak titik sensitif di dalamku. Ng*ntot sialan keluar aku mencoba memaki tapi suaraku pecah menjadi erangan. Ia malah tertawa kasar tangannya mencengkeram pinggulku kuat sekali sampai terasa memar lalu menarikku maju setiap kali ia mendorong. Diem lo jalang sombong Memek lo ng*remet mulu ng*engap batang gue. Ia mempercepat mengguncang tubuhku dengan brutal di atas meja kasir sampai barang-barang jatuh berantakan.
Beberapa detik kemudian ia mendengus keras tubuhnya mengejang dan menyemburkan cairan panasnya yang kental jauh ke dalam memekku. Aku merasakan denyutan-denyutannya yang kuat sambil ia menekan dalam-dalam seolah ingin memompa semuanya sampai habis. Begitu ia keluar cairan putih kental langsung menetes dari memekku yang sudah merah dan bengak. Tapi aku tak diberi waktu istirahat. Si tinggi kurus langsung maju matanya liar. Ia membalik tubuhku dengan kasar hingga perutku menempel di meja kasir bokongku terangkat ke belakang. Tanpa aba-aba ia menghantamkan batangnya yang panjang dan agak bengkok masuk sekaligus sampai pangkal.
Aaaahh aku menjerit keras karena rasa perih yang menyengat. Ia langsung menggoyang pinggulnya dengan kasar dan cepat tangannya menampar bokongku keras beberapa kali hingga kulit putihku memerah. Lo suka kan Amoy Tiap hari pamer memek di depan kami Ia menarik rambutku ke belakang sambil terus menggenjotku dari belakang dengan brutal. Setiap hantaman membuat pahaku bergetar dan meja kasir bergoyang. Dua preman lain berdiri di samping memaksa tanganku memegang batang mereka yang sudah keras menggerakkannya naik turun.
Si botak yang sudah selesai tadi berdiri di depanku memegang daguku dan memaksa batangnya yang masih basah cairan masuk ke mulutku. Hisap pelacur. Bersihin batang gue. Bau dan rasa asin campur sperma memenuhi mulutku saat ia mendorong masuk sampai ke tenggorokan. Aku terbatuk-batuk air mata mengalir tapi ia terus menggoyang pinggulnya kasar di mulutku sementara temannya terus menggenjot memekku dari belakang tanpa ampun. Mereka bergantian seperti itu bergiliran mengisi tubuhku dengan kasar. Yang bertato lengan menggantikan posisi di belakang memegangi pinggangku kuat dan menggenjotku dengan ritme ganas sambil menampar bokongku berulang kali. Aku merasa seperti boneka seks yang tak berdaya tubuhku yang dulu aku banggakan dan pamerkan sekarang sedang diperlakukan dengan kasar oleh kelima preman itu satu demi satu tanpa henti.
Aku masih terengah-engah di atas meja kasir ketika si gembong yang paling besar tubuhnya duduk di kursi bangku kayu panjang di sudut toko dekat etalase. Celananya sudah diturunkan batangnya berdiri tegak tebal dan berurat kuat. Ia menarik tanganku dengan kasar lalu merenggut pinggangku dan mendudukkan aku di pangkuannya secara paksa menghadap langsung ke wajahnya. Paha dalamku terbuka lebar di atas pahanya memekku yang sudah basah dan penuh sperma dari preman sebelumnya langsung menempel di batangnya yang panas.
"Naik jalang sombong geramnya sambil mencengkeram pinggulku kuat sekali. Ia mengangkat pinggulnya dan mendorong batangnya masuk lagi ke memekku dengan satu hantaman kasar hingga aku terpekik. Rasa penuh yang menyakitkan membuat tubuhku mengejang. Sekarang kami berhadapan sangat dekat. Wajahnya yang kasar hanya beberapa senti dari wafahku. Ia langsung meraih tengkukku dengan satu tangan menarikku maju dan mencium bibirku dengan brutal. Lidahnya yang kasar menyodok masuk memaksa membuka mulutku sambil ia mengisap bibir bawahku keras.
Aku mencoba memalingkan muka tapi cengkeramannya terlalu kuat. Sementara itu kedua tangannya meremas payudaraku dengan sangat kasar. Jari-jarinya mencengkeram daging putihku kuat-kuat sampai terasa memar menarik-narik putingku hingga memanjang lalu mencubitnya berulang kali. Setiap remasan membuat aku menggelinjang di pangkuannya. Ia mulai menggoyang pinggulnya dari bawah menggenjotku dengan ritme yang dalam dan kuat sambil terus menciumku rakus lidahnya menjilat lidahku paksa.
Napasnya yang panas dan bau rokok memenuhi mulutku. Tiba-tiba aku merasakan kehadiran orang lain di belakangku. Si tinggi kurus yang tadi sudah selesai kini berdiri di belakang tubuhku yang sedang dipangku. Ia menekuk lututnya memposisikan diri lebih rendah agar batangnya yang sudah licin oleh cairan bisa sejajar dengan lubang anusku. Kedua tangannya mencengkeram pundakku kuat dari belakang menekanku ke bawah agar tubuhku lebih condong ke depan. Jangan jangan di situ Tolong aku belum pernah jeritku terputus saat ia mendorong ujung batangnya yang tebal ke lubang anusku yang masih rapat.
Rasa perih yang menyengat luar biasa membuat aku menjerit ke dalam mulut si gembong yang masih menciumku. Ia terus mendorong perlahan tapi tanpa ampun inci demi inci memasuki lubang belakangku yang sempit. Tubuhku gemetar hebat di antara mereka berdua. Memekku penuh dengan batang si gembong yang terus bergerak naik turun dari depan sementara anusku diregangkan paksa oleh batang yang masuk dari belakang. Kini aku terjepit sempurna di antara dua pria satu mencium bibirku rakus sambil meremas payudaraku kasar yang lain menyodomi anusku dari belakang dengan tangan mencengkeram pundakku kuat perlahan mulai bergerak keluar masuk.
Aku terjepit sempurna di antara kedua pria itu tubuhku yang putih mulus dan berkeringat sekarang menjadi sandwich panas di pangkuan si gembong. Batangnya yang tebal dan panjang masih terbenam dalam-dalam di memekku berdenyut kuat setiap kali ia mengangkat pinggulnya dari bawah dengan hantaman kasar. Sementara dari belakang si tinggi kurus terus mendorong batangnya lebih dalam ke lubang anusku yang sempit meregangkannya tanpa ampun hingga aku merasa seperti akan robek.
Rasa perih yang menyengat bercampur dengan sensasi penuh yang tak tertahankan di kedua lubangku. Si gembong mencium bibirku semakin rakus dan brutal lidahnya menyodok masuk dalam-dalam seperti ingin menelan mulutku mengisap lidahku paksa sambil menggigit bibir bawahku hingga terasa perih. Kedua tangannya meremas payudaraku dengan sangat kasar jari-jarinya mencengkeram daging putihku kuat sekali sampai meninggalkan bekas merah menarik-narik putingku keras memilinnya dan menampar payudaraku sesekali hingga bergoyang liar. Mmmhh ahh eranganku tertelan di dalam ciumannya. Gerakan mereka mulai semakin kasar dan tidak sinkron.
Si gembong menggoyang pinggulnya dari bawah dengan hantaman kuat dan cepat membenturkan batangnya ke dasar memekku berkali-kali hingga bunyi plak plak plak basah terdengar nyaring. Dari belakang si tinggi kurus mencengkeram pundakku lebih erat menekanku ke bawah sambil menggenjot anusku dengan dorongan ganas batangnya keluar masuk semakin cepat dan dalam. Tubuhku gemetar hebat keringat mengalir di antara belahan payudaraku. Aku merasa benar-benar tak berdaya terjepit di antara dua batang yang besar dan kasar yang menghunjamku dari depan dan belakang secara bersamaan. Setiap gerakan membuatku naik turun di pangkuan mereka payudaraku bergoyang liar di tangan si gembong. Sensasi itu semakin kuat semakin panas. Malu yang tadinya membakar kini mulai tenggelam oleh gelombang kenikmatan paksaan yang tak bisa kutahan. Tidak ahh aku aku mau kataku terputus-putus di sela ciuman kasar. Tiba-tiba gelombang itu datang dengan hebat. Tubuhku mengejang keras di antara mereka berdua memekku berdenyut hebat menggenggam batang si gembong sementara anusku mengkerut kuat di sekeliling batang yang ada di belakang. Aku klimaks dengan sangat kuat cairan beningku menyembur keluar membasahi paha si gembong dan meja di bawah kami.
Tubuhku kejang-kejang tak terkendali erangan panjang lolos dari mulutku yang masih dicium paksa mataku memutar ke belakang kaki dan tanganku gemetar hebat. Mereka tidak berhenti malah semakin kasar menghunjamku dari depan dan belakang sambil tertawa puas melihat aku klimaks paksa di antara tubuh mereka. Aku masih kejang-kejang hebat di antara kedua pria itu orgasme paksa yang baru saja melanda tubuhku membuat memekku berdenyut-denyut liar menggenggam batang si gembong sementara anusku mengkerut kuat di sekeliling batang si tinggi kurus.
Cairan beningku terus menyembur pelan membasahi paha si gembong yang duduk di bawahku. Napasku tersengal-sengal bibirku masih dikunci ciuman kasar si gembong yang tak mau lepas lidahnya terus memainkan mulutku dengan rakus. Tiba-tiba si tinggi kurus di belakang mendengus keras di telingaku. Cengkeramannya di pundakku semakin kuat hingga terasa sakit kukunya menekan kulitku. Ia mendorong batangnya sedalam mungkin ke dalam anusku menekannya kuat-kuat sampai pangkalnya menempel rapat di bokongku.
Aku bisa merasakan denyutan-denyutan kuat batangnya di dalam lubang belakangku yang sudah meregang. Ngghh sialan enak banget anus lo Amoy geramnya kasar. Lalu dengan beberapa hantaman pendek dan brutal ia klimaks. Semprotan cairan panas dan kental menyembur deras ke dalam ususku memenuhi lubang belakangku yang sempit. Aku merintih panjang di dalam mulut si gembong merasakan setiap jet sperma yang menyembur dan membasahi dinding dalamku. Ia bertahan beberapa detik di dalam menikmati denyutan terakhirnya sebelum akhirnya menarik batangnya keluar dengan bunyi basah yang memalukan.
Cairan putih kental langsung menetes keluar dari anusku yang sudah merah dan menganga sedikit mengalir turun ke paha dalamku yang sudah basah oleh cairanku sendiri. Tak sampai sepuluh detik si botak berkumis tebal yang tadi sudah pernah memakai memekku maju dari belakang. Ia mencengkeram pinggangku kasar menekuk lututnya dan langsung menempelkan ujung batangnya yang tebal dan masih lengket ke lubang anusku yang baru saja ditinggalkan. Tanpa banyak bicara ia mendorong masuk dengan satu gerakan kuat.
Aaaahhh aku menjerit keras karena lubang belakangku yang sudah sensitif dan penuh sperma diregangkan lagi oleh batangnya yang sedikit lebih tebal. Si botak langsung mulai menggenjotku dengan kasar dari belakang tangannya mencengkeram pundakku kuat seperti sebelumnya menekanku lebih dalam ke pangkuan si gembong. Setiap hantaman membuat tubuhku naik turun memekku terus digoyang oleh batang si gembong yang masih berada di dalam dari depan. Rasa penuh yang menyiksa kembali datang dua batang besar menghunjam kedua lubangku secara bersamaan dengan ritme yang semakin ganas. Si gembong di depan kembali meremas payudaraku kasar mencubit putingku sambil menggoyang pinggulnya dari bawah dengan hantaman kuat. Aku terjebak sepenuhnya di antara kedua pria itu tubuhku yang sudah berkeringat dan lemas bergoyang-goyang tak berdaya di pangkuan si gembong. Si botak di belakang mulai semakin kasar. Ia mencengkeram pundakku lebih kuat kukunya menekan kulitku hingga terasa perih lalu mulai menghantam anusku dengan dorongan brutal dan cepat. Setiap hantaman terasa seperti ingin merobekku batangnya yang tebal keluar masuk dengan paksa hingga bunyi plak plak plak basah dan kasar memenuhi toko.
Aaahh sakit pelan jeritku pecah tapi ia malah tertawa kasar dan mempercepat gerakannya. Pinggulnya membentur bokongku dengan ganas mendorong tubuhku naik turun lebih keras di atas batang si gembong. Lubang belakangku terasa panas dan perih luar biasa tapi ia tak peduli. Gerakannya semakin liar semakin dalam seolah ingin menghancurkan aku dari belakang. Di depan si gembong yang memangku tubuhku tersenyum puas melihat wafahku yang sudah basah air mata. Ia meraih kedua putingku dengan jari-jari kasarnya lalu memelintirnya kuat sekali ke arah berlawanan. Rasa sakit yang tajam menjalar dari dada hingga ke perutku. Ahh Jangan dipelintir sakit erangku. Ia malah memelintir lebih keras sambil menarik putingku ke depan membuat payudaraku terjulur. Kemudian ia menggoyang pinggulnya dari bawah dengan jauh lebih kasar. Batangnya yang besar menghantam memekku dari bawah dengan hantaman-hantaman kuat dan cepat seolah ingin menembus perutku. Setiap dorongan membuat klitorisku bergesekan kasar dengan pangkal batangnya. Sensasi sakit dan kenikmatan bercampur aduk lagi di tubuhku.
Tiba-tiba si botak di belakang mendengus ganas. Ia mendorong batangnya sedalam mungkin ke dalam anusku menekannya kuat-kuat lalu tubuhnya mengejang. Ngghhh terima ini jalang Ia menggigit pundakku keras sekali dari belakang giginya menekan kulit putihku hingga terasa seperti mau robek. Pada saat yang sama aku merasakan semprotan sperma panasnya yang kental menyembur deras ke dalam ususku jet demi jet yang tebal dan banyak. Gigitan dan klimaksnya membuat tubuhku mengejang hebat. Hampir bersamaan si gembong di depan memelintir putingku lebih sadis lagi sambil menghantam memekku dengan gerakan brutal dari bawah. Lo mau klimaks lagi kan Mampus lo Ia menggoyang pinggulnya liar batangnya keluar masuk memekku dengan cepat dan kasar. Aku tak tahan lagi. Tubuhku mengejang keras untuk kedua kalinya memekku menggenggam batangnya kuat sambil menyembur cairan bening.
Beberapa detik kemudian si gembong mendengus panjang dan menyemburkan sperma panasnya yang banyak ke dalam memekku memenuhi rahimku hingga penuh. Kedua pria itu masih menempel di tubuhku batang mereka berdenyut di dalam kedua lubangku yang sudah penuh sperma sementara gigitan di pundakku masih terasa perih. Aku terkulai lemas di pangkuan si gembong tubuhku yang sudah basah keringat dan penuh cairan masih gemetar hebat. Kedua lubangku terasa perih panas dan penuh. Sperma kental menetes pelan dari memek dan anusku yang sudah merah bengak mengalir turun ke paha dan kursi. Napasku tersengal-sengal air mata masih mengalir di pipiku. Si gembong mendorong tubuhku kasar hingga aku terjatuh ke lantai toko lututku lemas tak mampu menopang. Mereka semua berdiri mengelilingiku sambil menarik celananya masing-masing wafah mereka puas dan sombong. Si botak berjalan ke meja kasir membuka laci dengan kasar dan mengambil semua uang di dalamnya puluhan ribu hingga ratusan ribu yang sudah aku kumpulkan hari ini. Ia menghitungnya sekilas lalu tertawa.
Ini upah kita karena udah muasin lu seharian ini Amoy jalang. Lumayan juga lo bayar pake duit sendiri katanya sambil tertawa keras diikuti yang lain. Aku hanya bisa diam lemas di lantai tak sanggup menjawab. Si gembong mendekat meraih daguku kasar agar aku menatapnya. Dengar baik-baik Vivian. Lo jangan coba-coba lapor ke polisi atau siapa pun. Kalau lo berani video lo lagi dik*ntot beramai-ramai tadi bakal kami sebar ke semua orang di Mangga Dua. Bahkan ke keluarga lo. Ia mengangkat ponselnya dan memutar rekaman singkat suara eranganku sendiri tubuhku yang telanjang di antara mereka semuanya terekam jelas tanpa aku sadari sedikit pun. Hatiku langsung hancur. Mereka merekam semuanya.
Salah satu dari mereka mengambil tas tanganku yang tergantung di kursi membuka dompetku dan mengambil KTP serta kartu identitasku. Ini kami bawa dulu sebagai jaminan. Biar lo ingat terus siapa yang sekarang punya lo. Mereka semua tertawa puas melihat wafahku yang pucat ketakutan. Si gembong menendang pelan pahaku sebelum berbalik. Kami akan balik lagi. Tiap kali kami mau lo harus siap. Kalau lo pake baju seksi lagi besok artinya lo sudah ngajak kami main lagi. Mengerti Mereka semua berjalan keluar toko tanpa menutup pintu meninggalkan aku telanjang penuh sperma dan hancur di lantai yang dingin. Suara tawa mereka masih terdengar menjauh di koridor pertokoan pusat grosir pakaian yang sepi.
.webp)

Komentar
Posting Komentar