By : Analconda13
Masalah mulai datang ketika bisnis Andi bangkrut beberapa bulan lalu sehingga kami punya banyak hutang di bank dan juga tagihan pinjol. Tagihan rumah sakit untuk melahirkan nanti juga belum ada biayanya sama sekali dan itu membuat aku semakin cemas setiap hari. Andi bilang ini satu-satunya jalan cepat untuk melunasi semuanya sekaligus menyediakan uang untuk persalinan nanti.
Malam itu sekitar pukul sepuluh aku baru saja selesai mandi lalu memakai daster tipis tanpa dalaman karena Andi melarangku memakai apa pun di rumah. Daster itu menempel ketat di tubuhku sehingga lekuk payudara dan tonjolan perutku terlihat jelas. Aku sedang duduk di sofa sambil mengusap perut merasakan bayi kami menendang pelan ketika Andi mendekat dengan senyum lebar yang aneh.
"Sayang coba kamu lihat ini. Kata Andi sambil menyodorkan ponselnya.
Di layar aplikasi Michat terbuka foto-foto aku yang dia ambil diam-diam. Foto itu menunjukkan tubuh seksiku dari samping dengan perut hamil besar payudara penuh dan wajah malu-malu. Caption-nya berbunyi istri Chindo hamil tujuh bulan siap disewa bisa gangbang no limit hubungi.
Aku langsung merasa darahku berdesir.
"Sayang.. kamu jual aku ? tanya aku.
Andi tertawa pelan lalu tangannya mengusap paha dalamku.
"Bukan jual sayang sewa saja ada yang inbox tadi. Pria ini punya fetish khusus sama wanita hamil. Dia mau sewa kamu tujuh hari penuh. Bayarannya lumayan banget cukup buat bayar cicilan rumah dan masih sisa buat beli perlengkapan bayi sekaligus biaya melahirkan nanti" jelas Andi.
Aku langsung gemetar.
"Tapi sekarang aku sedang hamil tua.. aku taku. Kata aku.
Andi memelukku dari belakang lalu tangannya meremas payudaraku pelan hingga setetes ASI keluar dan membasahi daster.
"Kamu kan sudah biasa jadi lonte aku. Ini cuma hadiah. Memek dan duburmu bakal makin melar makin enak dipake. Bayangin saja kamu bakal jadi budak seks hamil yang bikin orang gila. Dengan begini hutang kita bisa lunas dan bayi kita lahir tanpa kekurangan apa pun. Bisik Andi.
Aku mencoba protes dan air mataku sudah menggenang.
"Mas aku takut seminggu itu lama" kata aku.
Andi hanya mencium leherku dan berbisik.
"Tenang sayang kamu cuma perlu nurut. Aku yang atur semuanya" kata Andi.
Dua hari kemudian pria pribumi itu datang ke rumah kami. Namanya Pak Budi dan usianya sekitar empat puluh lima tahun. Kulitnya sawo matang dan badannya agak gemuk tapi tetap terlihat tegap. Dia masuk ke rumah sambil membawa tas besar di tangan kanannya. Aku sedang berada di dapur menyiapkan minuman dan masih memakai daster tipis yang longgar. Perutku terasa sangat berat karena hamil sehingga langkahku menjadi pelan dan hati-hati. Andi menyambut Pak Budi dengan santai seperti bertemu teman lama. Mereka langsung duduk di ruang tamu lalu mulai ngobrol dengan suara rendah.
Aku selesai menyiapkan teh panas dan beberapa potong kue di nampan. Dengan langkah pelan aku membawa nampan itu menuju ruang tamu. Saat aku membungkuk untuk meletakkan nampan di meja Pak Budi memperhatikan perut besarku dengan mata yang penuh gairah. Pandangannya turun perlahan dari wajahku ke dada lalu berhenti lama di perutku yang menggembung di balik daster tipis. Aku merasakan tatapannya yang panas itu dan tubuhku sedikit tegang tapi aku tetap diam dan melanjutkan meletakkan gelas teh satu per satu dengan tangan yang agak gemetar.
"Wah beneran Chindo hamil tua ya. Kulitnya putih banget matanya sipit kayak amoy amoy yang suka keluyuran didaerah pecinan. Gumam Pak Budi.
Andi tersenyum bangga.
"Mau lihat langsung Mas sekarang aja buka bajunya" kata Andi.
Aku membeku.
"Mas belum belum siap" kata aku.
Tanpa menunggu jawaban Andi berdiri mendekatiku lalu dengan satu gerakan cepat menarik daster dari bawah ke atas. Kain tipis itu terlepas begitu saja sehingga tubuh telanjangku yang bulat sempurna terpampang di depan pria asing itu. Payudaraku yang besar bergoyang pelan dan putingku sudah mengeras karena AC dan malu. Perutku yang menggembung terlihat jelas dengan kulit mulus mengkilap serta garis hitam tipis dari pusar ke bawah. Memekku yang sudah sedikit bengkak karena hamil terbuka sedikit dan bibirnya basah. Aku menutup dada dengan tangan tapi Andi menepuk tanganku keras.
"Jangan ditutup. Tunjukin ke Mas Budi. perintah Andi.
Pak Budi berdiri lalu mendekat perlahan. Matanya menyapu tubuhku dari atas ke bawah.
"Putingnya bagus. Udah ditindik ya" tanya Pak Budi sambil menyentuh anting kecil di puting kiriku.
Andi bangga.
"Iya Mas aku pasang sendiri. Memek istriku ini memang tempat pembuangan peju. Bisa nampung berapa pun" kata Andi.
Mereka berdua tertawa sementara aku hanya bisa menunduk dengan wajah panas dan air mata mengalir pelan di pipi.
Andi mengambil ponselnya lalu mulai merekam.
"Lihat ya Mas aku video-in biar aman. Kalau ada yang lecet aku tuntut" kata Andi.
Pak Budi mengangguk.
"Tenang Mas kita main aman kok" jawab Pak Budi.
Pak Budi memerintahkan.
"Putar badan pelan-pelan Mei. Angkat tangan di atas kepala" perintah Pak Budi.
Aku menurut sehingga tubuhku berputar lambat dan perut besar itu ikut bergerak. Payudaraku bergoyang dan ASI menetes sedikit dari puting.
"Angkang kaki !! lebarin memekmu.. perintah Pak Budi.
Aku mengangkang lalu tanganku gemetar membuka bibir vaginaku yang sudah basah. Pak Budi meraba pelan dan jarinya menyusuri klitorisku yang membengkak.
"Coba nungging sayang" perintah Pak Budi lembut tapi tegas.
Aku menungging di karpet dengan kedua tangan menopang perut yang berat. Bongkahan pantatku terbuka lebar. Pak Budi meraba lubang duburku yang sudah sering dipakai Andi sejak pacaran.
"Wah lubangnya mulai longgar ya. Sering dianal" tanya Pak Budi.
Andi tertawa.
"Iya Mas hobi dia dari dulu. Lancar banget. Kalau mau rame-rame enema dulu biar bersih" jawab Andi.
Pak Budi mengangguk puas.
"Mantap. Nanti aku ajak temen-temanku. Mau double anal juga boleh" kata Pak Budi.
Aku mendengar suara gesekan celana. Pak Budi sudah melepas celananya sehingga kontolnya besar tebal dan sudah keras terlihat. Andi mengoleskan pelumas ke jari-jarinya sendiri lalu tanpa aba-aba memasukkan dua jari ke duburku. Aku mendesah keras dan tubuhku gemetar.
"Udah becek nih memeknya" celetuk Pak Budi sambil tertawa. "Siap banget buat digangbang.
Andi mengambil dildo besar berbentuk kontol anjing lengkap dengan buhul di pangkalnya dari dalam lemari.
"Ini kesukaan istriku. Kontol anjing bikin dia keenakan.. kata Andi.
Sambil terus merekam Andi memasukkan dildo itu pelan ke vaginaku. Aku menggigit bibir kuat dan merasakan vaginaku yang sudah penuh karena hamil terisi semakin penuh oleh benda itu. Pak Budi berdiri di belakangku lalu mulai menyodomi duburku dengan kontolnya yang besar dan tebal. Rasanya sangat penuh sekali sehingga aku hanya bisa mendesah panjang dan tubuh hamilku bergoyang pelan di antara dua benda yang memasuki lubangku bergantian.
"Genjot pelan dulu Mas. Perutnya jangan dipukul. Tapi pantat dan memek silahkan hajar" kata Andi.
Pak Budi langsung menggenjot duburku tanpa ampun sementara Andi mengocok dildo itu keluar masuk di vaginaku dengan gerakan stabil. Aku menangis campur kenikmatan karena payudaraku bergoyang hebat dan ASI terus menetes ke lantai. Setelah lima belas menit yang terasa sangat lama Pak Budi mengerang keras lalu menyemburkan spermanya yang panas dan banyak ke dalam duburku.
"Uuuhh.. berasa masih perett... bo'ol cinanya... Padahal udah sering dipake ya.. kata Pak Budi sambil tertawa. Andi hanya tertawa mendengarnya.
"Iya mas.. maen lewat lubang yang satu ini emang bikin lelaki ketagihan.. jawab Andi.
Tak lama kemudian Andi sendiri yang menyodomi duburku. Kontolnya lebih kecil tapi sudah sangat familiar bagiku. Dia crot di dalam sambil berbisik pelan di telingaku.
"Kamu jadi lonte yang nurut banget ya sayang" bisik Andi.
Pak Budi kemudian mengeluarkan dildo anjing itu lagi dari vaginaku. Kali ini dia menelentangkan aku di sofa dengan perut besar menghadap ke atas. Dia memasukkan dildo itu dengan buhulnya ke vaginaku pelan sekali hingga masuk seluruhnya sampai pangkal. Aku menjerit kecil dan merasa sangat penuh di dalam sana. Lalu Pak Budi menjilat memekku yang basah kuyup sehingga lidahnya masuk dalam-dalam dan membersihkan campuran cairanku sendiri.
"Kalau kencing harus dicebokin gini" kata Pak Budi sambil terus menjilat tanpa berhenti.
Aku tak tahan lagi sehingga otot di bawah perutku menegang pelan. Kencingku mulai menyembur keluar dengan aliran yang hangat dan pelan sekali ke mulut Pak Budi yang terbuka lebar. Cairan itu keluar terus tanpa bisa aku hentikan dan menyembur langsung ke lidahnya. Pak Budi menelan semuanya dengan suara kecil yang terdengar jelas sambil matanya tetap menatap wajahku. Dia tersenyum lebar setelah menelan habis cairan kencingku dan lidahnya masih menjilat pelan di sekitar bibir memekku untuk membersihkan sisa tetesan terakhir.
Akhirnya setelah semua aktivitas itu selesai Pak Budi bangkit pelan dari posisinya. Dia duduk di tepi sofa lalu berbicara dengan suara tenang tapi penuh kuasa yang terdengar jelas di ruangan itu.
Pak Budi duduk lebih nyaman di tepi sofa sambil menarik rantai anjing di leherku dengan pelan. Dia menatapku dengan mata yang masih penuh gairah lalu berkata dengan suara rendah.
"Sekarang berlutut di depanku Mei.
Aku merangkak mendekat lalu berlutut di lantai di antara kedua kakinya yang terbuka. Perut besarku menyentuh paha depannya dan payudaraku yang penuh ASI bergantung berat di depan tubuhku. Pak Budi membuka resleting celananya dengan satu tangan kemudian mengeluarkan penisnya yang sudah setengah tegang. Batangnya tebal dengan urat-urat menonjol dan kepala kontolnya besar serta berwarna gelap.
"Hisap pelan dulu. Buat aku keras sepenuhnya" kata Pak Budi.
Aku membuka mulutku lalu mengulum penis Pak Budi pelan sekali. Bibirku melingkar di kepala kontolnya yang hangat dan aku mulai menggerakkan kepala maju mundur dengan gerakan lambat. Lidahku menjilat di bawah batangnya sambil merasakan penis itu semakin mengeras dan membesar di dalam mulutku. Pak Budi mendesah pelan dan tangannya memegang rambutku dengan lembut untuk mengatur irama. Air liurnya bercampur dengan air liurku sehingga batang penisnya menjadi basah dan licin. Aku terus mengulum dan mengisap lebih dalam hingga kepala kontolnya menyentuh tenggorokanku tapi aku menahannya agar tidak tersedak karena perut besarku membuat posisiku agak sulit.
Pak Budi menarik rantai sedikit lebih kuat sehingga leherku tertarik ke depan dan penisnya masuk lebih dalam ke mulutku.
"Bagus. Lanjutkan seperti itu. Hisap lebih kuat di kepalanya" kata Pak Budi sambil tersenyum puas.
Aku menurut dan terus mengulum penisnya dengan lebih fokus. Payudaraku bergoyang pelan setiap kali kepalaku bergerak dan beberapa tetes ASI menetes ke lantai di bawahku. Penis Pak Budi sekarang sudah benar-benar keras dan tegang di dalam mulutku sehingga aku bisa merasakan denyutannya yang kuat di lidahku.
Andi yang dari tadi duduk di kursi sebelah hanya tersenyum sambil memperhatikan. Dia lalu berdiri dan mendekat ke belakangku. Tangan Andi langsung memegang kepalaku dengan kuat dari belakang lalu menekan kepalaku ke depan sehingga penis Pak Budi masuk lebih dalam ke mulutku.
"Hisap lebih dalam lagi sayang. Buat Pak Budi puas" kata Andi sambil terus menekan kepalaku pelan tapi tegas.
Aku merasa tenggorokanku penuh oleh batang penis Pak Budi yang tebal. Air liurku mengalir deras keluar dari sudut mulutku dan menetes ke payudara serta perut besarku. Pak Budi mendesis pelan karena kenikmatan dan pinggulnya mulai bergerak maju mundur pelan. Andi terus menekan kepalaku sehingga setiap gerakan membuat penis itu menyodok lebih dalam ke tenggorokanku. Aku hanya bisa melenguh lemah di sekitar batang kontol itu dan napasku menjadi pendek karena susah bernapas.
Pak Budi memegang rambutku dengan satu tangan sementara tangan satunya memegang rantai di leherku. Dia mulai menggenjot mulutku dengan gerakan yang semakin cepat. Kepala kontolnya menghantam belakang tenggorokanku berulang kali sehingga suara basah terdengar jelas di ruangan itu. Andi masih menekan kepalaku dari belakang agar aku tidak bisa mundur sama sekali. Air liurku terus meleleh deras dan membasahi buah zakar Pak Budi yang ikut bergoyang setiap kali dia mendorong.
"Bagus sekali. Mulutnya enak dan hangat" kata Pak Budi sambil mengerang pelan.
Tubuhku bergoyang pelan di antara tekanan kedua pria itu. Payudaraku bergoyang berat dan ASI menetes semakin banyak ke lantai. Perut besarku terasa tegang karena posisi berlutut yang lama. Pak Budi semakin kasar menggenjot mulutku dan napasnya mulai tersengal. Andi menekan kepalaku lebih kuat lagi sehingga penis Pak Budi hampir masuk seluruhnya ke tenggorokanku.
Tak lama kemudian Pak Budi mengerang keras. Tubuhnya menegang dan penisnya berdenyut kuat di dalam mulutku. Air mani panas menyembur keluar dengan deras dan langsung memenuhi mulutku. Sperma itu banyak sekali sehingga sebagian langsung mengalir ke tenggorokanku dan aku terpaksa menelan beberapa kali. Sisa peju yang tidak tertelan meleleh keluar dari sudut mulutku dan menetes ke daguku lalu ke payudara yang sudah basah oleh ASI. Pak Budi terus menyemburkan spermanya hingga akhirnya pelan-pelan berhenti. Dia menarik penisnya keluar dari mulutku dengan suara basah lalu mengusap kepala kontolnya yang masih menetes di bibirku.
Andi melepaskan tangannya dari kepalaku dan tersenyum puas.
"Bagus sayang. Kamu nurut sekali" kata Andi.
Aku hanya bisa terengah-engah dengan mulut yang masih penuh rasa sperma asin dan kental. Sperma Pak Budi menetes pelan dari daguku ke lantai sementara payudaraku terus mengeluarkan ASI yang bercampur dengan air liur dan sisa peju.
Pak Budi duduk bersandar di sofa dengan napas yang masih agak tersengal. Wajahnya terlihat sangat puas setelah menyemburkan spermanya ke dalam mulutku. Penisnya yang masih setengah tegang meneteskan sisa air mani di ujungnya. Dia mengusap pelan kepala kontolnya dengan jari lalu tersenyum lebar sambil menatapku yang masih berlutut di lantai dengan mulut basah oleh campuran sperma dan air liur.
Dia mengambil ponsel dari saku celananya lalu membuka aplikasi transfer uang. Jarinya bergerak cepat di layar ponsel. Tak lama kemudian suara notifikasi terdengar pelan dari ponsel Andi.
"Ini jaminan dulu. Sisanya nanti setelah tujuh hari selesai" kata Pak Budi sambil menunjukkan layar ponselnya ke Andi.
Andi mengambil ponselnya sendiri lalu memeriksa notifikasi transfer itu. Dia tersenyum puas dan mengangguk pelan.
"Terima kasih Mas. Jumlahnya pas sesuai kesepakatan" kata Andi.
Pak Budi memasukkan ponselnya kembali ke saku lalu menarik rantai di leherku pelan sehingga aku mendongak menatapnya. Matanya masih penuh gairah ketika melihat wajahku yang kotor oleh sisa sperma yang menetes dari dagu ke payudara.
"Mei mulai besok pagi kamu jadi milikku selama tujuh hari. Tidak boleh pakai sehelai benang pun. Kamu akan pakai rantai anjing di leher setiap saat. Kamu akan tidur di kandang. Berak dan kencing di tempat khusus bukan toilet seperti tempat kucing. Kamu harus melayani aku dan semua teman-temanku kapan saja mereka mau. Gangbang double anal apapun. Kamu tidak boleh tolak siapa pun" kata Pak Budi sambil tersenyum puas.
"Dan kadang-kadang aku akan bawa kamu jalan-jalan tetap bugil di mobil atau bahkan ke tempat-tempat sepi. Kamu hanya tugasnya satu puasin kami semua" tambah Pak Budi.
Andi mengangguk puas mendengarnya.
"Nurutin ya sayang ini hadiah buat kamu. kata Andi.
Aku hanya bisa mengangguk lemah. Tubuh telanjangku masih basah oleh keringat sperma dan ASI yang menempel di kulit.
Pak Budi mengambil rantai anjing lalu memasangnya dengan pelan di leherku. Rantai itu terasa dingin dan berat di kulit leherku. Dia menarik rantai itu pelan sehingga aku merangkak mengikuti langkahnya menuju pintu.
Malam itu aku keluar rumah dalam keadaan telanjang bulat. Udara malam yang sejuk langsung menyentuh seluruh kulitku yang masih basah. Perut hamil besarku menggembung sangat besar dan menonjol ke depan sehingga membuat langkahku agak terseok. Payudara penuh ASI bergoyang berat setiap kali aku bergerak dan ujung puting susuku yang gelap sudah basah oleh tetesan ASI yang terus keluar. Memekku dan duburku masih terasa lengket serta meneteskan sisa sperma yang putih dan kental sehingga cairan itu mengalir pelan menuruni paha mulusku.
Aku merangkak pelan mengikuti tarikan rantai anjing di leherku. Rantai itu berat dan dingin sehingga setiap tarikan membuat leherku tertarik ke depan. Pak Budi berjalan di depanku sambil memegang ujung rantai dengan tangan kanannya. Dia membuka pintu mobil lalu memberi isyarat agar aku naik ke kursi belakang. Aku masuk ke mobil Pak Budi seperti hewan peliharaan dengan cara merangkak naik lalu duduk di lantai mobil karena tidak diizinkan duduk di kursi. Perut besarku menyentuh lantai yang dingin dan payudaraku bergantung berat di bawah tubuhku.
Tujuh hari sebagai budak seks hamil Chindo baru saja dimulai dan aku tahu ini baru permulaan.


Komentar
Posting Komentar