Langsung ke konten utama

Draft Kisah Tragis Dibalik Pudarnya Kajayaan Pertokoan Glodok

⚠️ DISCLAIMER / ATTENTION ⚠️

Cerita ini murni fiksi dan hanya untuk tujuan hiburan semata. Semua tokoh, peristiwa, nama tempat, atau dialog di dalamnya adalah hasil rekaan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menghina, menghasut kebencian, atau menjelekkan kelompok etnis, ras, agama, atau golongan tertentu.

Segala kesamaan nama atau kejadian dengan peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten ini dan tidak membawa materi cerita ini ke ranah nyata.


By : Analconda13

Awalnya pertokoan elektronik di kawasan Pecinan ini terasa seperti surga bagi kami yang bekerja di sini. Aku seorang satpam berusia 52 tahun bernama Budi dan sudah bertugas di sini selama hampir 25 tahun. Dulu setiap hari gedung pertokoan ini ramai sekali sehingga pengunjung berdesak-desakan dari lantai satu sampai lantai tiga. Mereka membeli kulkas.. laptop.. TV bahkan aksesoris kecil. Suara tawar-menawar.. musik promo dari toko-toko dan aroma makanan dari warung pinggir jalan bercampur menjadi satu. Aku suka berdiri di pintu masuk utama lalu menyapa pelanggan dengan senyum dan sesekali membantu mengangkat barang berat. Gaji aku lumayan karena tips dari pemilik toko sering masuk kantong.

Tapi sejak perdagangan online meledak semuanya berubah. Perlahan pengunjung semakin menipis sehingga toko-toko elektronik besar tutup satu per satu. Yang tersisa hanya segelintir toko. Ada toko peralatan sound sistem milik Pak Lim di lantai satu. Ada pusat service barang elektronik milik Pak Joni. Dan yang paling aku ingat adalah toko di lantai dua milik pasangan Tionghoa itu. Toko mereka menjual barang-barang elektronik premium seperti televisi LCD layar besar.. pendingin ruangan bahkan beberapa barang elektronik impor. Pemiliknya seorang wanita bertubuh seksi bernama Linda yang berusia sekitar 33 tahun. Tubuhnya sangat menggairahkan dan sering jadi bahan hiburan kami ketika sedang merasa penat seharian. Kulit putih mulus khas wanita chinese rambut hitam panjang yang selalu tergerai. Buah dada montok yang selalu tertekan di balik baju minidress seksinya serta pinggul ramping yang bergoyang saat dia berjalan di antara rak-rak barang. Suaminya biasa dipanggil Koh Edi. Dia pria agak botak berperawakan gempal yang lebih sering sibuk di belakang kasir atau sekedar memeriksa stok barang ke gudang yang ada dilantai tiga gedung pertokoan.

Aku dan dua petugas kebersihan pribumi. Andi serta Joko sering bertemu di area belakang gedung saat istirahat. Andi dan Joko sudah lama kerja di sini sama seperti aku. Kami bertiga sering mengobrol sambil merokok lalu mengeluh tentang sepinya tempat ini. 

"Bang gue perhatiin dari tadi lu bengong mulu kayak ayam cekrek.. Celetuk Joko.

"Bukan bengong bro.. gua cuma sering kebayang waktu pertokoan glodok ini masih rame kayak dulu.. kayaknya suasananya enak banget ya buat kerja.. kataku sambil tertawa kecil. 

Iya bang. Dulu mah enak banget. Tiap hari kita suka dapat jangkrik dari pelanggan toko yang baru belanja barang dimari. Sekarang yang ada cuma bisa bengong sambil liatin angin lewat. Hehe.. Sahut Andi.

Bukan cuma jangkrik bro.. waktu toko dimari masih buka semua mah pemandangannya beda banget.. tiap hari kita bisa cuci mata sambil nontonin badan mulusnya enci enci seksi yang punya toko. Haha.. Kataku yang mulai ngelantur.

Suasana pertokoan yang semakin hari semakin sepi memang membuat kami resah. Pasalnya ini sangat mengancam pekerjaan kami. Apalagi beberapa bulan yang lalu juga sudah terjadi pemutusan hubungan kerja terhadap banyak satpam dan petugas kebersihan gedung ini.

"Bang.. gue denger katanya bulan depan mau ada pengurangan karyawan lagi di mari. Jangan jangan kali kita semua yang bakalan kena.

"Iyee.. gue juga udah denger beritanya. Ini mah bahaya banget buat kita.. tapi kalau menurut gue daripada kita keluar darisini gak dapat apa apa mending kita puas puasin dulu aja kerja disini. Hehe.. kataku.

"Puas puasin gimana bang.. lah tempat udah sepi gini emangnya kita bisa ngapain.. Tanya Andi.

"Justru karena sepi makannya kita bisa manfaatin bro.. lu semua tau kan toko dimari udah banyak yang tutup. Dilantai dua aja udah tinggal lima toko yang masih buka. Nah sebelum kita dipecat gimana kalau kita nikmati dulu aja badannya enci enci yang masih jualan dimari. Hehe..

Joko cuma nyengir dan pikirannya langsung membayangkan betapa nikmatnya tubuh mulus Linda yang merupakan salah satu enci enci favorit kami.

Sore itu seperti biasa menjelang tutup. Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 sehingga lampu-lampu toko mulai dimatikan satu per satu. Udara di gedung terasa pengap dan sepi. Hanya tersisa suara langkah kaki sesekali serta gemerisik plastik dari toko-toko yang sedang membereskan barang. Aku sedang ronda rutin di lantai dua ketika melihat Linda keluar dari tokonya.

Dia mengenakan minidress putih yang sangat seksi dan ketat. Kainnya tipis sehingga menempel sempurna di setiap lekuk tubuhnya. Dress itu pendek hanya sebatas pertengahan paha sehingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus dan putih. Bagian dada dress-nya rendah hampir menyembulkan belahan dada montoknya yang penuh. Karena keringat sore hari kain putih itu menjadi sedikit transparan sehingga puting susunya samar-samar terlihat menonjol di baliknya. Pinggulnya yang lebar terbalut rapat sehingga garis tubuhnya terlihat sangat menggoda setiap kali dia melangkah. Rambut hitam panjangnya sedikit acak-acakan. Wajahnya lelah tapi justru terlihat semakin menggairahkan dengan bibir merah alami dan mata yang sedikit sayu. Pak Wong katanya sudah pulang lebih awal karena ada urusan keluarga.

"Ehemmm.. Mau ke mana nih cii.. tanyaku sopan sambil mendekat.

"Saya mau ke toilet belakang Pak Budi. Sudah nahan dari tadi soalnya tadi ada pembeli ditoko. jawabnya dengan suara lembut sambil tersenyum tipis. Matanya sedikit menghindari kontak tapi aku bisa lihat dada naik-turun karena napasnya.

Toilet belakang gedung ini memang jarang dipakai. Letaknya tersembunyi di koridor sempit di belakang bangunan dekat tempat sampah dan gudang kosong. Area itu sudah sangat sepi hampir gelap saat malam tiba. Lampu neonnya sering mati sehingga hanya ada cahaya redup dari lampu darurat. Aku tahu Andi dan Joko sedang membersihkan area situ.

Aku mengikuti dari kejauhan pura-pura berpatroli seperti biasa. Jantung aku mulai berdegup lebih kencang. Sudah lama sekali aku membayangkan tubuh wanita chinese yang selalu berpakaian seksi itu. Setiap kali dia membungkuk mengambil barang dari rak bawah roknya naik sedikit sehingga memperlihatkan paha mulusnya. Atau saat dia mengangkat tangan untuk menyusun barang di atas blusnya menempel ketat di dada.

Tak lama kemudian Linda masuk ke toilet wanita. Aku menunggu sebentar di koridor. Tak lama Andi dan Joko muncul dari belokan sambil membawa sapu dan ember. Mereka tersenyum lebar saat melihat aku.

"Pak Budi.. kayaknya si enci pengen ke toilet tuh. Gimana kalau kita kerjain aja sekalian.. gak tahan gue tiap hari liatin badannya yang putih kayak susu sapi itu. Haha.. Kata Andi.

"Iya pak.. tiap hari kita dikasih kesempatan bagus kayak gini. Tapi malah disia-siain begitu aja.. apa gak rugi tuh.. bisik Joko dengan suara rendah. Matanya berbinar penuh nafsu.

Aku mengangguk pelan. Kami bertiga mendekat ke pintu toilet. Suara air mengalir terdengar dari dalam sehingga aku dorong pintu pelan. Ternyata pintu itu tidak dikunci rapat. Linda sedang berdiri di depan wastafel membasuh tangan. Dia menoleh kaget saat melihat kami bertiga masuk lalu menutup pintu di belakang.

"Eehhh.. apa apaan ini.. kenapa kalian semua masuk ke toilet wanita ?! Suaranya gemetar sambil mundur ke dinding.

Aku mendekat perlahan dan tatapan mataku semakin liar menelusuri lekuk seksi tubuhnya yang bahenol.

"Gak ada apa kok cii.. kita cuma ingin pastiin kalau enci aman didalam toilet ini. Soalnya Minggu lalu sempat ada kejadian pengunjung perempuan yang dilecehin sama orang tak dikenal. Hehe.. kata aku.

"Iya tapi kalian jangan sembarangan masuk aja dong.. ini kan toilet wanita.. minimal kasih tau dulu sebelum masuk kedalam biar aku gak kaget.

Aduh kalau dikasih tau dulu mah kelamaan ci.. nanti penjahatnya keburu kabur atuh.. padahal kita kan niatnya mau menangkap basah pelakunya biar ada barang bukti. Kataku.

Ya udah mending sekarang kalian keluar dulu deh.. Disini kan sudah aman..

"Jangan cii.. bahaya kalau perempuan seksi kayak enci sendirian didalam toilet gini. Takutnya pelakunya masuk diam diam terus kalau enci sampe diperkosa sama dia gimana ? Emang enci gak takut apa? Hehe.. kata Joko yang matanya makin jelalatan karena tak tahan melihat tubuh sintal wanita tionghoa itu.

"Hehe.. kayaknya si enci kurang paham kalau cuma diceritain bro.. ini mah mesti dipraktikin dulu kejadiannya biar si enci makin paham.

"Ehh.. dipraktikin gimana maksudnya ? Kalian jangan ngomong sembarangan ya.. nanti aku teriak loh kalau kalian masih gak mau keluar dari sini.

"Enci kayak gak tahu aja. Pertokoan ini kan udah sepi banget apalagi jam jam segini. Gak ada pengunjung satupun dan semua toko udah pada tutup.. emang siapa yang mau denger teriakan enci.. kataku.

Linda berdiri di tengah toilet kecil itu dikelilingi oleh kami bertiga. Tubuhnya yang bahenol masih tegak meski sudah gemetar. Andi berdiri di samping kiri dan terus memeluk pinggangnya erat sementara tangan kanannya naik ke buah dada montok Linda lalu meremas pelan melalui kain blus tipis. Joko dari belakang menempelkan dada bidangnya ke punggung Linda sambil menciumi leher putihnya yang halus. Tangan Joko menyelusup ke bawah minidress pendek itu dan mengusap paha dalam yang mulus naik turun dengan gerakan lambat.

Aku berdiri tepat di depannya sehingga napas kami saling bertemu. Tangan aku yang kasar memegang dagu Linda lalu mengangkat wajahnya pelan. Matanya yang cantik penuh ketakutan bercampur rasa malu. 

"Muka cina lu makin napsuin aja cii.. kalau lagi ketakutan kayak gini.. bikin gue keinget sama jaman kerusuhan dulu.. hehe.. Kataku teringat kejadian dimasa lalu.

"Haha.. iya bro.. dulu pertokoan ini kan pernah kena jarah sama massa. Gue liat sendiri waktu itu ada enci enci seksi kayak gini yang kena digilir massa didalam tokonya sendiri yang ada dilantai tiga..  Kata Joko yang sudah lama kerja di pertokoan lawas itu.

"Wah berarti rugi luar dalam dong si encinya. Udah barang tokonya digasak massa.. ehh.. badannya ikut dijarah juga.. kata Andi.

Udahlah gak usah kelamaan.. biar gue cipokin dulu nih si encinya.. kan sayang banget kalau ada barang impor bagus kayak gini cuma dianggurin. Kataku.

Beberapa saat kemudian Aku menunduk dan langsung melumat bibir merahnya dengan penuh nafsu. Lidah aku menyusup masuk dan menari dengan lidahnya yang lembut. Linda mencoba menarik diri tapi tubuhnya sudah terjepit di antara kami sehingga gerakannya sia-sia saja.

"Gantian pak.. gue juga pengen nyipokin si enci.. penasaran banget gue pengen ngerasain cipokan sama cewek cina seksi kayak gini.. hehe.. Kata Andi yang penisnya makin keras dibalik celana.

Setelah beberapa saat aku melepaskan ciuman itu lalu Andi segera menggantikan posisiku. Andi mencium Linda dengan ganas sambil tangannya terus meremas payudara dari samping hingga puting susunya mengeras menonjol di balik bra. Linda mendesah pelan di antara ciuman itu. Tak lama kemudian Joko menarik bahu Linda ke belakang dan memutar wajahnya sedikit agar bisa melumat bibirnya bergantian. Ciuman Joko lebih kasar dan lidahnya menjelajah dalam mulut Linda sampai air liur mulai menetes di sudut bibirnya.

Tubuh Linda semakin lemas di antara gerayangan kami bertiga. Tangan Andi menyelip ke dalam blus dan langsung meremas buah dada telanjangnya yang kenyal. Jari Joko dari belakang sudah menyentuh celana dalamnya yang lembab lalu mengusap lembut di atas kain tipis itu hingga Linda menggelinjang. Aku kembali maju dan mencium bibirnya lagi dengan dalam sambil tangan aku memegang pinggulnya yang bulat.

Setelah cukup lama menggerjainya di posisi berdiri akhirnya kami perlahan menekan bahu Linda ke bawah. Lututnya lemas dan tubuhnya turun hingga berlutut di lantai toilet yang dingin. Posisinya sekarang tepat di depanku dengan wajahnya sejajar dengan kejantanan yang sudah tegang sepenuhnya. Aku mengeluarkan batang penis aku yang keras dan ujungnya mengkilap oleh lendir kawin.

Tangan aku memegang rambut hitam panjang Linda lalu mendekatkan kepalanya ke depan. "Buka mulutnya cii.. lu belum pernah nyobain punya pribumi kan.. kata aku dengan suara berat penuh birahi.

"Jangan.. pak... Linda menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca tapi tekanan tangan aku di kepalanya semakin kuat. Bibirnya yang lembut akhirnya terbuka sedikit. Aku mendorong pinggul maju perlahan sehingga ujung kepala penis aku menyentuh bibir bawahnya lalu masuk ke dalam mulut hangatnya. Rasanya sangat nikmat. Aku memegang kepalanya dengan kedua tangan dan mulai memompa pelan ke dalam mulutnya yang basah.

Linda mengerang pelan dengan suara teredam karena mulutnya penuh. Air liurnya mulai menetes di sepanjang batang kejantanan aku. Aku terus menggerakkan pinggul dengan ritme lambat tapi dalam sambil menikmati sensasi lidah dan bibirnya yang terpaksa melayani. Andi dan Joko berdiri di samping sambil terus meremas buah dada Linda dari atas dan mengusap paha mulusnya yang terbuka lebar karena posisi berlutut.

Aku mendesis pelan saat merasakan kehangatan mulutnya semakin dalam. "Bagus cii.. Isap lebih kuat.. kata aku sambil terus memompa kejantanan ke dalam mulutnya dengan gerakan yang semakin mantap.

Weii.. jangan diam aja lu pada.. buruan buka bajunya si enci.. badannya pasti mulus banget tuh kayak porselen.. perintah aku sambil tetap menikmati bibir Linda yang mulai bergerak pelan di ujung penisku.

Andi langsung menarik resleting samping minidress itu ke bawah. Kain putih tipis meluncur turun dengan mudah dari bahunya yang putih mulus. Bra hitam tipis yang menyokong dada besarnya langsung terlihat sehingga puting susunya sudah menonjol keras. Joko menarik dress itu hingga ke pinggang lalu memperlihatkan celana dalam hitam renda yang sudah basah di bagian tengah.

Aku menarik kejantanan aku keluar dari mulutnya sebentar sehingga memberi ruang. Linda menarik napas panjang dan air liur tipis menghubungkan bibirnya dengan ujung penis aku.

"Udahh.. cukup.. jangan lakuin lagi.. bisiknya lagi tapi suaranya sudah parau penuh nafsu yang tertahan.

Andi membungkuk lalu mengisap puting kirinya dengan rakus sambil meremas yang kanan. Joko menarik celana dalamnya ke bawah hingga ke lutut sehingga jari tengahnya langsung mengusap celah basah Linda yang sudah licin. Linda menggigil hebat dan lututnya hampir goyah. Suara lenguh kecil keluar dari tenggorokannya saat jari Joko masuk pelan ke dalam liang kewanitaannya.

Aku kembali mendekatkan penis aku ke mulutnya. Kali ini dia tidak menolak lagi. Bibirnya membuka lebih lebar lalu menerima hampir setengah batang aku ke dalam kehangatan mulutnya yang basah. Lidahnya bergerak kikuk tapi semakin berani mengelilingi kepala kejantanan aku sambil menghisap pelan.

Ruangan toilet yang sempit itu mulai penuh dengan suara desahan bunyi isapan dan jari Joko yang semakin cepat mengaduk di dalam Linda. Bau keringat bercampur aroma nafsu memenuhi udara.

Aku memegang kepalanya lebih erat lalu mendorong pelan lebih dalam ke tenggorokannya. "Bagus Bu enak sekali mulut Bu Linda" kata aku.

Andi dan Joko saling pandang dengan senyum puas. Kami bertiga tahu malam ini baru saja dimulai. Linda yang dulu selalu terlihat anggun di balik meja kasir kini sedang kami nikmati bersama di toilet belakang yang sepi ini. Tubuhnya yang putih dan seksi akan kami puaskan sampai dia lupa segala hal tentang toko yang sepi itu.

Aku memegang kepala Linda lebih erat sehingga rambut hitamnya yang halus melilit di jemariku. Aku mendorong pinggul aku perlahan lalu masuk lebih dalam ke dalam mulutnya yang hangat dan basah. Lidahnya bergerak kikuk tapi semakin lihai mengelilingi batang aku sambil menghisap pelan dengan ritme yang membuat lutut aku sedikit lemas.

"Enak sekali mulutmu Bu Linda" desah aku pelan dan suaraku serak.

Linda mengeluarkan suara protes kecil dari tenggorokannya tapi matanya sudah mulai sayu. Air matanya menggenang di sudut mata tapi tubuhnya mengkhianati. Pinggulnya sedikit bergerak maju mundur mengikuti jari Joko yang sedang mengaduk pelan di dalam celahnya yang licin.

Andi masih rakus mengisap puting kirinya. Mulutnya mengecup dan menggigit pelan sementara tangan kanannya meremas dada yang satu lagi dengan kuat. Minidress putihnya sudah terjatuh ke pinggang dan bra hitam tipisnya ditarik ke bawah oleh Andi hingga kedua buah dadanya bebas bergoyang-goyang setiap kali tubuhnya bergetar.

Joko di belakang tertawa pelan dan suaranya penuh nafsu. "Basah banget nih Bu. Udah lama ya nggak dilayani suami" kata dia. Jarinya keluar-masuk semakin lancar dengan dua jari sekarang sehingga membuat suara cipratan kecil yang memalukan terdengar di ruangan toilet yang sempit itu.

Linda menggeleng lemah tapi mulutnya tetap mengisap batang aku lebih dalam. Aku bisa merasakan tenggorokannya yang sempit setiap kali aku mendorong sedikit lebih jauh. Air liurnya menetes ke dagunya yang putih sehingga membuat pemandangan itu semakin erotis.

Setelah beberapa menit aku menarik batang aku keluar dari mulutnya dengan suara plop yang basah. Linda terbatuk pelan lalu menarik napas panjang. Bibirnya yang merah membengkak dan mengkilap.

"Kita ganti posisi" kata aku pelan sambil menatap Andi dan Joko.

Kami mengangkat tubuh Linda yang sudah lemas karena kenikmatan. Dress putihnya kami tarik sepenuhnya hingga jatuh ke lantai. Bra hitamnya dilepas Andi dengan cepat. Celana dalamnya yang sudah basah kuyup dicopot Joko lalu dimasukkan ke kantong seragamnya sebagai kenang-kenangan.

Kami membalik tubuh Linda menghadap wastafel. Aku berdiri di belakangnya lalu melihat pantulannya di cermin yang agak kotor. Wajahnya merah rambut acak-acakan dan dada montoknya bergoyang naik-turun mengikuti napasnya yang tersengal.

Aku merenggangkan kedua kakinya yang jenjang lalu mengusapkan kepala batang aku yang basah di celahnya dari belakang. Linda menggigil hebat.

"Pa-pak Budi jangan di sini tolong" bisiknya lagi tapi suaranya sudah penuh permohonan yang campur aduk.

Aku menekan pinggul aku maju perlahan. Kepala batang aku masuk sedikit demi sedikit ke dalam liang kewanitaannya yang panas dan sangat licin. Rasanya luar biasa sempit dan hangat. Linda mendesah panjang dan tangannya mencengkeram pinggir wastafel kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.

"Uhh besar sekali" keluhnya tanpa sadar.

Aku mulai bergerak pelan lalu masuk keluar dengan ritme yang dalam. Setiap dorongan membuat bokongnya yang bulat dan putih bergoyang indah. Andi berdiri di samping memegang dagu Linda lalu memasukkan batangnya ke mulut wanita itu. Joko di sisi lain meremas buah dada Linda sambil sesekali menjepit puting susunya kadang mencium leher dan bahunya yang berkeringat.

Suara benturan pelan daging kami bercampur dengan desahan Linda yang semakin keras. Aku mempercepat sedikit sehingga tangan kiri aku memegang pinggulnya yang lebar dan tangan kanan aku sesekali menepuk pelan bokongnya yang kenyal.

"Kalau lu masih pengen idup.. lu harus bisa puasin kita semua hari ini.. bisikku di telinganya sambil terus menghunjam lebih dalam.

Tubuh seksi Linda yang putih mulus semakin goyah sehingga lututnya gemetar. Aku bisa merasakan dinding dalamnya mulai berdenyut-denyut kuat lalu menjepit batang aku. Dia hampir mencapai puncak.

Aku terus menghunjam wanita chindo seksi itu dari belakang dengan ritme yang stabil namun semakin dalam. Setiap kali pinggul aku membentur bokongnya yang bulat dan kenyal terdengar suara plak pelan yang basah. Tubuhnya yang putih mulus sudah berkeringat sehingga minidress putihnya tergeletak di lantai seperti kain tak berguna.

"Ganti gaya cii.. sekarang giliran lu yang melayani kita.. Kata aku parau sambil menarik batang aku keluar dari dalamnya dengan suara licin yang memalukan. Linda mengeluarkan desahan kecewa yang tak disadarinya sendiri.

Kami bertiga mengangkat tubuhnya yang lemas. Andi berbaring di lantai toilet yang dingin sehingga punggungnya bersandar ke dinding. Batangnya sudah tegak keras tebal dan berurat. Kami dudukkan Linda di atas pangkuannya menghadap ke depan. Kakinya yang jenjang terbuka lebar di sisi tubuh Andi. Aku dan Joko membantu mengarahkan pinggulnya turun perlahan.

Linda menggigit bibirnya kuat-kuat saat batang Andi mulai masuk ke dalam liang kewanitaannya yang sudah sangat basah. "Ahh pelan besar" erangnya sehingga kepalanya mendongak ke belakang. Buah dadanya bergoyang indah ketika dia akhirnya duduk sepenuhnya lalu menelan seluruh batang Andi hingga pangkal.

Andi mendesah nikmat sehingga kedua tangannya langsung meremas pinggul Linda membantunya naik-turun dengan ritme pelan. Setiap gerakan membuat buah dada Linda yang besar melonjak-lonjak di depan wajah Andi. Andi langsung menangkap salah satu puting susunya dengan mulut lalu mengisap rakus sambil tangannya menepuk-nepuk pelan bokongnya.

Aku berdiri di samping mereka memegang batang aku yang masih basah oleh lendir kawin Linda. Aku mendekatkan ujungnya ke bibir Linda yang sudah terbuka karena desahan. Kali ini dia tak menolak lagi. Mulutnya langsung menyambut aku sehingga lidahnya berputar di kepala batang aku dengan lebih mahir sekarang.

Joko berdiri di belakang Linda sehingga tangannya meremas buah dada yang satu lagi sambil sesekali mencium lehernya yang berkeringat. Sesekali jarinya turun ke bawah lalu mengusap klitoris Linda yang sudah membengkak sehingga membuat tubuh wanita itu mengejang hebat di atas Andi.

Gerakan wanita chindo itu semakin cepat. Dia naik-turun di atas Andi dengan liar sehingga bokongnya yang putih bergoyang-goyang indah. Suara basah benturan daging semakin keras memenuhi ruangan kecil itu.

"Aku aku nggak tahan lagi" erang Andi tiba-tiba dan suaranya parau. Tangannya mencengkeram pinggul Linda kuat-kuat lalu menahan tubuh wanita itu agar tak bergerak. Pinggulnya mendongak ke atas sehingga menghunjam dalam-dalam.

Linda menjerit kecil di sekitar batang aku saat Andi mencapai klimaks. Aku bisa melihat tubuh Andi bergetar hebat sehingga otot-ototnya menegang. Dia menyemburkan air mani panas-panas ke dalam rahim Linda berdenyut-denyut lalu memenuhinya hingga kelebihan cairan putih mulai menetes keluar di sela-sela pertemuan mereka.

Linda menggigil hebat sehingga matanya terpejam rapat dan tubuhnya kejang karena orgasme yang memaksanya ikut meledak. Mulutnya mengencangkan isapan di batang aku sehingga lidahnya bergetar liar.

Andi mendesah panjang dan tubuhnya lunglai setelah melepaskan seluruh benihnya di dalam Linda. Cairan putih kental mengalir keluar dari liang kewanitaannya yang masih terbuka lebar ketika Linda sedikit terangkat.

Napas kami semua tersengal. Linda terlihat semakin kacau dengan rambut acak-acakan wajah merah dada naik-turun cepat dan cairan Andi yang masih menetes di pahanya yang mulus.

Aku menarik batang aku dari mulutnya sehingga masih sangat keras dan berdenyut. Joko tersenyum lebar dan matanya penuh nafsu yang belum terpuaskan.

"Giliran siapa sekarang" tanya aku sambil menatap Linda yang masih duduk lemas di atas Andi. Tubuhnya gemetar sisa kenikmatan.

Aku menarik Linda pelan dari pangkuan Andi. Tubuhnya yang lemas dan berkeringat hampir ambruk tapi kami bertiga menyangganya. Cairan putih kental Andi masih menetes pelan dari celahnya yang merah dan bengkak lalu mengalir di sepanjang paha dalamnya yang mulus.

"Kita lanjut di lantai" kata aku dengan suara serak.

Kami membaringkan Linda di lantai toilet yang dingin dan agak kotor. Minidress putihnya sudah jadi alas kecil di bawah tubuhnya. Aku membalik tubuhnya hingga posisi merangkak doggy style. Lututnya terbuka lebar sehingga bokongnya yang bulat putih dan kenyal terangkat tinggi ke arah aku. Punggungnya melengkung indah dan rambut hitam panjangnya jatuh ke depan menutupi wajahnya yang merah.

Aku berlutut di belakangnya sehingga tangan kasar aku meremas bokongnya yang empuk lalu membuka celahnya lebih lebar. Kemaluan Linda terpampang jelas basah mengkilap campuran cairannya sendiri dan sisa air mani Andi yang masih keluar perlahan. Aku mengusapkan kepala batang aku yang tegang dan berdenyut di sepanjang celahnya lalu menggoda klitorisnya yang membengkak.

"Uuuhhh.. Pak Budi" erang Linda pelan dan suaranya gemetar. Pinggulnya tanpa sadar bergoyang kecil seolah meminta.

Aku tidak menunggu lama. Dengan satu dorongan pelan tapi kuat batang aku masuk separuh ke dalam lubangnya yang panas dan licin. Linda menjerit kecil sehingga tubuhnya maju ke depan. Aku memegang pinggulnya yang lebar kuat-kuat lalu menariknya kembali ke arah aku sambil mendorong lebih dalam hingga seluruh batang aku tenggelam sepenuhnya.

"Ahh.. daleemm bangett paakk.. keluhnya panjang dan jari-jarinya mencengkeram lantai.

Aku mulai bergerak pelan dulu lalu keluar masuk dengan ritme yang dalam dan terkontrol. Setiap kali pinggul aku membentur bokongnya terdengar suara plak plak yang basah dan mesra. Bokongnya bergoyang indah setiap hantaman sehingga meninggalkan jejak merah samar di kulit putihnya. Aku bisa merasakan dinding dalamnya yang panas menjepit batang aku kuat-kuat seolah tak mau melepaskan.

Di depan Joko berlutut di hadapan Linda. Dia memegang rambutnya yang acak-acakan lalu mengarahkan batangnya yang tebal ke mulut wanita itu. Linda membuka bibirnya tanpa banyak perlawanan lagi. Joko mendorong masuk perlahan sehingga memenuhi mulutnya hingga pipinya sedikit menggembung.

"Isepin cii.. anggap aja ini kontol suami lu.. haha.. Desah Joko sambil mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.

Kini Linda benar-benar diisi dari dua sisi. Aku terus menggenjot kemaluannya dari belakang dengan irama yang semakin cepat dan kuat. Tangan kanan aku sesekali menepuk bokongnya pelan sehingga membuat suara tepukan kecil yang membuatnya mengejang. Tangan kiri aku meraih ke depan lalu meremas buah dada montoknya yang bergoyang-goyang liar di bawah tubuhnya.

Setiap hantaman dari belakang mendorong mulut Linda lebih dalam ke batang Joko. Suara isapan basah desahan tertahan dan erangan Joko memenuhi ruangan sempit itu. Air liur Linda menetes dari sudut mulutnya lalu membasahi dagu dan lantai.

"Sialann !! Makin peret aja nih memeknya si enci !! Erangku sambil mempercepat gerakan. Aku menarik rambutnya pelan ke belakang agar punggungnya melengkung lebih dalam sehingga membuat sudut penetrasi semakin pas. Setiap kali aku menghunjam hingga pangkal kepala batang aku menyentuh titik paling dalamnya lalu membuat Linda menjerit tertahan di sekitar batang Joko.

Joko memegang kepala Linda dengan kedua tangan lalu mulai memompa mulutnya lebih cepat. "Mmm lidahnya panas enak banget" kata dia.

Tubuh Linda gemetar hebat sehingga kakinya yang jenjang hampir tak kuat menopang. Cairan beningnya terus mengalir lalu membasahi batang aku dan paha kami. Aku merasakan dinding dalamnya mulai berdenyut-denyut kuat pertanda dia akan mencapai puncak lagi.

Aku terus menggenjot Linda dari belakang dengan irama kuat dan dalam. Setiap hantaman pinggul aku membentur bokongnya yang putih dan kenyal menghasilkan suara basah plak plak plak yang semakin cepat. Batang aku keluar-masuk sepenuhnya dari kemaluannya yang sudah penuh campuran cairan.

Di depan Joko masih berlutut sambil memompa mulut Linda dengan ritme yang semakin liar. Batangnya yang tebal masuk keluar di antara bibirnya yang membengkak sehingga air liur Linda menetes deras ke lantai.

Tangan Linda yang bertumpu di lantai mulai gemetar hebat. Lututnya melemah sehingga tubuh bagian atasnya perlahan ambruk ke depan hingga kepalanya bertumpu di lantai yang dingin. Pipinya menempel ke ubin dan bokongnya terangkat lebih tinggi secara otomatis.

"Uhh mmphh" erangnya tertahan di sekitar batang Joko.

Joko mendesah kasar sehingga pinggulnya mendorong lebih dalam. "Anjirr.. bener bener gak tahan.. gueee.. mauuu keluarr uuughh.. Kata dia.

Dia menekan kepala Linda kuat-kuat ke batangnya hingga pangkal sehingga tubuhnya menegang hebat. Dengan erangan panjang dan parau Joko mencapai klimaks di dalam mulut Linda. Cairan panasnya menyembur deras berdenyut-denyut ke tenggorokan wanita itu. Linda tersedak sehingga matanya melebar tapi Joko terus menyemburkan air mani hingga kelebihan cairan putih kental menetes keluar dari sudut bibirnya yang meregang.

Baru setelah selesai menyemburkan semua pejunya Joko menarik batangnya yang masih setengah keras keluar dari mulut Linda dengan suara basah. Dia bangkit berdiri lalu meletakkan satu kaki di sisi kepala Linda dan menginjak pelan rambut hitamnya yang acak-acakan sehingga menekan wajahnya lebih kuat ke lantai yang dingin.

"Enci enci seksi kayak lu emang mesti diginiin.. biar makin nurut sama pribumi.. haha.. Desah Joko sambil tersenyum puas. Napasnya masih tersengal.

Pemandangan itu membuat nafsu aku meledak. Linda kini benar-benar pasrah dengan wajahnya terinjak oleh sepatu Joko bokongnya terangkat tinggi kemaluannya terbuka lebar dan berkedut-kedut karena sisa orgasme kecil dari mulutnya yang dipenuhi.

Aku memegang pinggulnya yang lebar dengan kedua tangan kuat-kuat lalu mulai menggenjotnya secara kasar dari belakang. Tidak ada lagi ritme pelan. Aku menghunjam dalam-dalam dan cepat setiap dorongan membentur titik paling dalamnya dengan brutal. Bokongnya bergoyang liar setiap hantaman dan kulit putihnya memerah bekas telapak tangan aku yang sesekali menepuk keras.

"Ahh.. aaahh.. Pak Budi.. ampuun.. pakk... Jerit Linda tertahan dan suaranya pecah serta parau karena mulutnya masih penuh sisa cairan Joko.

Aku tidak peduli. Aku terus menggenjotnya tanpa ampun. batangku yang keras seperti kayu keluar-masuk dengan cepat membawa keluar lendir putih yang bercampur. Tangan kiriku meraih ke depan. Meremas dada montoknya yang bergesekan kasar dengan lantai dan menjepit putingnya kuat-kuat.

Tubuh Linda gemetar hebat. Dinding dalam kemaluannya berdenyut-denyut liar, menjepit batangku semakin kuat. Beberapa detik kemudian, dia mencapai klimaks yang sangat hebat. Seluruh tubuhnya mengejang tak terkendali, cairan beningnya menyembur keluar membasahi batangku, pahaku, dan lantai. Dia menjerit panjang di bawah telapak kaki Joko, suaranya pecah dan penuh kenikmatan yang tak bisa ditahan lagi.

Aku terus menghunjam beberapa kali lagi, menikmati setiap denyutan orgasmenya yang kuat dan panjang, sebelum akhirnya memperlambat gerakan, membiarkan tubuh Linda ambruk total ke lantai dalam keadaan lemas tak berdaya, napasnya tersengal-sengal.

Setelah klimaks Linda yang hebat, tubuhnya ambruk sepenuhnya ke lantai. Dia kini telungkup penuh, wajahnya masih tertekan ke ubin dingin di bawah telapak kaki Joko yang masih menginjak rambutnya. Bokongnya yang putih memerah bekas hantamanku terangkat sedikit, kemaluannya yang merah dan basah kuyup masih berkedut-kedut, meneteskan campuran cairan kami.

Aku tidak memberi dia waktu untuk bernapas lega. Aku naik ke atasnya, duduk bertumpu di pahanya yang jenjang dan mulus dari belakang. Berat badanku menekannya lebih kuat ke lantai, membuat Linda semakin tak berdaya. Batangku yang masih sangat keras dan berdenyut kini menekan di antara bokongnya. Aku menggesekkan kepalanya di celah basah itu beberapa kali sebelum mengarahkan ujungnya dan mendorong masuk dengan satu hantaman kasar hingga pangkal.

“Uhhggghh…!!” Linda menjerit tertahan, tubuhnya mengejang di bawah tekananku.

Posisi ini membuatnya terasa jauh lebih sempit. Aku mulai menggenjotnya dengan kasar sehingga pinggulkku naik turun kuat di atas pahanya. Setiap dorongan dalam membuat bokongnya terguncang hebat. Suara plak plak plak basah dan keras bergema di toilet sempit itu. Aku meraih kedua lengan atasnya lalu menariknya ke belakang seperti tali kekang. Dada montok Linda terangkat dari lantai sehingga putingnya yang keras bergesekan dengan udara dingin setiap kali aku menghunjam.

“Enak ya Bu… dipenetin gini” desahku sambil mempercepat gerakan. Aku menarik lengannya lebih kuat sehingga punggungnya melengkung indah. Tubuhnya kini seperti busur yang siap patah di bawah hantamanku. Setiap kali batangku menghunjam hingga paling dalam Linda hanya bisa mengeluarkan erangan parau yang pecah.

Saat itu Andi yang sudah pulih mendekat dari depan. Batangnya sudah kembali tegang penuh dan mengkilap oleh sisa cairan. Dia berlutut di depan wajah Linda lalu mulai menamparkan kepala penisnya yang kapalan dan berwarna gelap ke pipi.. dahi serta bibir wanita itu berulang kali. Plak plak plak.

"Buka mulut lu cii !! Perintah Andi kasar.

Linda hanya bisa menggeleng lemah tapi Andi memegang rahangnya kuat kuat sehingga memaksa mulutnya terbuka. Dia langsung mendorong batangnya masuk secara kasar hingga ke tenggorokan. Linda tersedak hebat matanya melebar dan air mata mengalir deras di pipinya yang sudah kotor oleh debu lantai serta air liur.

Andi mulai memompa mulutnya dengan brutal. Kedua tangannya memegang kepala Linda lalu mendorong pinggulnya maju mundur tanpa ampun. Batangnya keluar masuk dalam sehingga leher Linda terlihat membesar setiap kali masuk penuh. Air liur dan sisa cairan Joko menetes deras dari sudut mulutnya.

Aku semakin liar dari belakang. Aku menarik lengannya lebih tinggi hampir seperti mengangkat dadanya sepenuhnya dari lantai sementara pinggulkku terus menghantam bokongnya tanpa henti. Posisi double penetration ini membuat Linda benar benar terjepit di antara kami sehingga tubuhnya bergoyang seperti boneka kain di setiap hantaman simultan.

“Mmmphh!! Mmmhh!!” suara tersedak dan erangan tertahan Linda semakin kencang sehingga tubuhnya mengejang lagi di bawah kami bertiga. Dinding dalamnya kembali berdenyut kuat dan memerah batangku dengan hebat.

Joko hanya berdiri di samping sambil tersenyum. Kakinya masih menekan kepala Linda sesekali sehingga dia menikmati pemandangan wanita Tionghoa yang dulu anggun itu kini sedang dihajar kasar di lantai toilet kotor.

Aku merasakan klimaksku sudah di ambang mata. Dorongan doronganku semakin kasar dan cepat sehingga pinggulkku menghantam bokong Linda tanpa ampun. Tanganku masih menarik kedua lengannya ke belakang kuat kuat sehingga dada montoknya terangkat tinggi dari lantai sementara tubuhnya terjepit di bawah berat badanku.

“Bu Linda… aku mau keluar…!” erangku parau.

Dengan beberapa hantaman terakhir yang brutal, aku menekan pinggulkku dalam-dalam hingga pangkal. Batangku berdenyut hebat di dalam kemaluannya yang panas dan berdenyut. Aku menyemburkan cairan panasku dengan kuat, menyemprotkan benihku berdenyut-denyut ke dalam rahimnya yang sudah penuh. Linda menjerit tertahan di sekitar batang Andi, tubuhnya mengejang lagi hebat saat merasakan semprotan panasku memenuhinya. Cairan kami bercampur, kelebihannya langsung menetes deras ke lantai dari celahnya yang meregang.

Aku mendesah panjang, tubuhku bergetar menikmati setiap denyutan pelepasan. Beberapa detik kemudian, aku menarik batangku keluar perlahan. Cairan putih kental mengalir deras dari kemaluan Linda yang sudah merah dan bengkak.

Baru saja aku bergeser, Joko langsung bergerak dengan rakus. Dia menjambak rambut hitam panjang Linda dengan kasar, menarik kepalanya ke atas hingga wanita itu meringis kesakitan.

“Bangun, Bu… masih ada giliran aku,” kata Joko dengan suara kasar.

Dia menyeret Linda ke depan kloset yang terbuka. Linda diposisikan berlutut di depan kloset, tubuhnya menungging tinggi. Kedua lututnya terbuka lebar di lantai, bokongnya yang penuh bekas merah terangkat menggoda. Joko mendorong kepalanya kasar ke dalam mangkuk kloset yang dingin dan agak kotor, membenamkan wajahnya hingga hampir setengah masuk. Rambutnya yang acak-acakan basah oleh air dan cairan menempel di wajahnya.

Joko berlutut di belakangnya, memegang pinggul lebar Linda dengan satu tangan sementara tangan satunya masih menekan kepala wanita itu lebih dalam ke dalam kloset. Tanpa aba-aba, dia mendorong batangnya yang tebal dan keras masuk sepenuhnya ke dalam kemaluan Linda yang sudah penuh cairan kami.

“Ughhh…!!” jerit Linda tertahan dari dalam kloset, suaranya bergema aneh di dalam mangkuk porcelain.

Joko langsung menggenjotnya dengan liar. Setiap hantaman membuat tubuh Linda maju ke depan, wajahnya terdorong lebih dalam ke dalam kloset. Air di dalamnya bergoyang dan cipratan kecil keluar setiap kali Joko menghunjam kuat. Bokongnya yang putih bergoyang hebat, suara “plak-plak-plak” keras dan basah memenuhi ruangan.

“Enak banget… memek Bu Linda sudah penuh sperma kami,” desah Joko sambil terus memompa tanpa ampun. Tangannya yang bebas sesekali menepuk bokong Linda keras, meninggalkan bekas telapak tangan merah yang semakin jelas. Kepala Linda terus terbenam di dalam kloset, hanya suara erangan tersedak dan isakan yang terdengar samar.

Aku dan Andi berdiri di samping, menonton sambil mengusap batang kami yang mulai mengeras lagi. Pemandangan Linda yang dulu selalu terlihat elegan dan seksi di tokonya kini benar-benar hancur — telanjang, kotor, dan sedang dihajar kasar di depan kloset toilet belakang yang sepi.

Joko semakin cepat, pinggulnya menghantam bokong Linda tanpa henti, membuat seluruh tubuh wanita itu bergoyang seperti boneka.

Joko terus menggenjot Linda dengan ritme brutal. Setiap hantaman pinggulnya yang kuat membuat bokong putih Linda bergoyang hebat, suara “plak-plak-plak” basah dan keras bergema di dinding toilet. Kepala Linda tetap terbenam dalam kloset yang terbuka, rambut hitamnya basah dan acak-acakan, hanya suara isakan dan erangan tersedak yang samar terdengar dari dalam mangkuk porcelain.

“Ugh… memekmu semakin enak setelah penuh sperma kami, Bu,” desah Joko sambil menekan kepala Linda lebih dalam dengan satu tangan. Tangan satunya mencengkeram pinggul lebar Linda kuat-kuat, menarik tubuhnya ke belakang setiap kali dia mendorong maju. Batangnya yang tebal keluar-masuk tanpa ampun, membawa keluar cairan putih kental yang sudah memenuhi dalam Linda.

Linda hanya bisa menggeliat lemah di bawahnya, tubuhnya gemetar hebat. Lututnya yang sudah lelah hampir tak mampu menopang lagi. Joko mempercepat gerakannya, napasnya semakin kasar dan berat.

"Akkkkhh.. aaakkhh.. sialaaann.. gaaaak.. tahan gue dijepit samaaa... meeemek cinaaa... Erang Joko tiba-tiba.

"Arrghh... Pengeenn... Muncraaatt nihhh guee... Uuunghh...

"Haha.. udah kagak usah ditahan tahan lagi bro.. memek si encinya pasti udah gak sabar tuh pengen ditumpahin peju pribumi sampe luber.. Ledekku sambil merekam kejadian itu.

Dengan beberapa dorongan terakhir yang sangat dalam dan kuat Joko menekan pinggulnya rapat ke bokong Linda. Tubuhnya menegang hebat lalu batangnya berdenyut-denyut di dalam kemaluan wanita chindo seksi itu. Dia menyemburkan cairan panasnya lagi dan menyemprotkan benihnya dalam-dalam ke rahim Linda yang sudah penuh sesak. Semprotan demi semprotan kuat keluar hingga kelebihan cairan putih mengalir deras keluar dari celahnya yang meregang lalu menetes ke lantai toilet.

Joko mendesah panjang dan puas. Pinggulnya masih bergetar kecil sambil menyelesaikan pelepasannya. Baru setelah itu dia menarik batangnya keluar dengan suara licin yang memalukan. Cairan kental kami bertiga langsung mengalir deras dari kemaluan Linda yang merah dan bengkak.

Joko mundur sambil tersenyum lebar. Aku dan Andi mendekat. Linda masih berlutut lemas di depan kloset dengan tubuhnya telanjang bulat. Tubuhnya kotor oleh debu keringat dan cairan kami. Wajahnya basah bibirnya bengkak dan matanya merah serta berkaca-kaca.

Aku berjongkok di sampingnya lalu mengangkat dagunya pelan dengan jari kasarku. “Dengar baik-baik Bu Linda” kataku dengan suara rendah dan mengancam. “Apa yang terjadi malam ini tetap di sini. Kalau Bu cerita ke siapa pun termasuk suami enci foto-foto dan video yang kami ambil akan langsung beredar. Kami tahu alamat rumah enci nomor HP suami bahkan toko enci. Ngerti?

Linda hanya mengangguk lemah. Air matanya jatuh. Suaranya hampir hilang. “Iya… Pak… tolong jangan…

Andi tertawa pelan sambil mengeluarkan ponselnya. Dia mulai memotret tubuh telanjang Linda dari berbagai sudut. Flash ponsel menyala beberapa kali. Foto dari belakang menunjukkan bokong merah penuh bekas tamparan dan kemaluan yang menganga serta meneteskan cairan putih kental. Foto dari samping memperlihatkan dada montoknya yang penuh jejak gigitan dan remasan dengan putingnya yang masih mengeras. Foto close-up wajahnya yang kotor bibir bengkak dan mata yang sayu. Bahkan Andi memotret saat Linda masih berlutut di depan kloset dengan cairan menetes di pahanya.

“Bagus… koleksi bagus malam ini” gumam Andi sambil tersenyum puas sambil memeriksa hasil jepretannya.

Aku menepuk pipi Linda pelan. “Pulanglah bersihkan diri. Besok datang kerja seperti biasa. Kalau Bu patuh kami juga bisa menghibur Bu lagi kalau toko sepi.

Linda hanya diam dengan tubuhnya gemetar. Dia perlahan meraih minidress putihnya yang kusut di lantai lalu mencoba menutupi tubuhnya yang penuh bekas. Kami bertiga berdiri mengelilinginya masih setengah telanjang dan memberi tatapan yang jelas. Malam ini dia milik kami dan rahasia ini harus dikubur dalam-dalam.

Ruangan toilet kembali hening. Hanya tersisa napas tersengal dan bau nafsu yang masih menggantung di udara. Malam di pertokoan elektronik yang sepi ini telah mengubah segalanya.

Linda masih berlutut di lantai toilet beberapa saat dengan tubuhnya gemetar hebat. Cairan putih kental kami bertiga terus menetes pelan dari celah kemaluannya yang merah dan bengkak lalu membasahi pahanya yang mulus. Wajahnya kotor rambut hitam panjangnya acak-acakan dan basah serta bibirnya bengkak merah. Matanya kosong penuh campuran malu lelah dan ketakutan.

Dengan gerakan lemah dia meraih minidress putihnya yang kusut dan kotor di lantai. Kain tipis itu sudah agak robek di bagian samping dan penuh noda. Dia berdiri perlahan dengan kakinya goyah. Kami bertiga hanya berdiri mengelilinginya dan menyaksikan tanpa bicara.

Linda mengenakan bra hitamnya dulu, tangannya gemetar saat mengaitkannya di belakang. Dada montoknya yang penuh bekas remasan dan gigitan masih terlihat jelas. Kemudian dia menarik minidress putih itu ke atas tubuhnya. Kain ketat itu menempel lagi di kulitnya yang basah keringat dan cairan, membuat garis tubuhnya tetap terlihat seksi meski sudah kacau. Dia merapikan rambutnya seadanya dengan jari, menyeka wajahnya dengan tisu yang ada di tas kecilnya, dan membersihkan noda-noda mencolok di paha dan dada sebisa mungkin.

Aku membukakan pintu toilet untuknya. "Ingat pesan kami tadi cii.. kita semua bisa awasin enci tiap hari.. kataku pelan tapi tegas.

Linda hanya mengangguk tanpa menatap kami. Dia berjalan tertatih meninggalkan toilet belakang, langkahnya pelan dan hati-hati karena setiap gerakan membuat cairan kami keluar lagi dan pahanya terasa lengket. Aku, Andi, dan Joko mengikuti dari kejauhan, memastikan dia kembali ke tokonya di lantai dua.

Sesampainya di toko, Linda menyalakan lampu redup. Dengan gerakan mekanis, dia membereskan sedikit barang-barang yang berserakan, mematikan komputer kasir, dan menurunkan rolling door toko setengahnya. Tubuhnya masih terlihat lemas. Sesekali dia meringis saat membungkuk, bekas hentakan kami masih terasa di dalam tubuhnya.

Akhirnya, setelah mengunci pintu toko, Linda berjalan menuju mobilnya yang diparkir di belakang gedung pertokoan. Mobil sedan hitam miliknya. Dia masuk ke kursi pengemudi, duduk dengan hati-hati karena bokong dan kemaluannya masih sensitif dan basah. Dari kejauhan aku melihat dia menunduk sebentar di balik kemudi, bahunya naik-turun seperti menangis pelan. Mesin mobil menyala. Lampu belakang menyala merah di kegelapan malam. Mobil itu perlahan keluar dari area parkir dan menghilang di jalanan kawasan Pecinan yang sudah sepi. Aku berdiri di balkon lantai dua, merokok sambil tersenyum tipis. Andi dan Joko di sampingku tertawa pelan sambil melihat hasil foto di ponsel Andi.

“Besok malam kita hajar lagi tuh enci sampe kelenger.. haha.. kata Joko.

Aku hanya mengangguk. “Kalau dia datang… pasti.

Malam itu, pertokoan elektronik yang sepi kembali hening. Tapi bagi kami bertiga, suasana malam ini justru baru saja memberi kami kenangan yang tak terlupakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Budak Napsu Ojol Jalanan 2

Draft Kisah Tragis Amoy Siantar

Draft Velin Mahasiswi Teladan

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 7

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 6

Draft Budak Napsu Tetanggaku.

Draft Tawanan Ojol

Draft Preman Tanah Abang

Draft Kuentot majikan cinaku yang sedang hamil