Pagi itu aku bangun tidur dengan dipenuhi rasa malas. Sementara cahaya matahari menembus tirai jendela kamar hingga membuat mataku terasa silau. Aku menarik selimut lagi beberapa detik sebelum akhirnya duduk dan menatap keadaan disekitar kamar yang masih berantakan. Kulihat diatas meja belajar ada buku catatan dan beberapa lembar tugas kuliah yang belum kuselesaikan. Aku menarik napas pelan lalu berdiri dan menuju kamar mandi.
Air dingin menyentuh kulitku dan perlahan membuat rasa malas itu hilang. Setelah selesai mandi aku langsung turun ke lantai bawah. Kulihat papa dan mama sedang bekerja di kedai bakmi yang menyatu dengan rumah tua kami yang berada di jantung kawasan pecinan lama. Dalam waktu sekejap aroma kaldu ayam dan bawang putih goreng langsung menyambutku.
Seperti biasanya beberapa pelanggan tua sudah duduk di meja kayu panjang dekat pintu depan kios bakmi, ada yang membaca koran dan ada yang sibuk mengobrol sambil menunggu pesanan. Sebagian besar dari mereka sudah berusia lanjut dan berbicara dengan bahasa Mandarin yang terdengar pelan namun tegas, disertai logat khas yang hanya dimiliki orang-orang tua di pecinan. Setiap tawa mereka terasa berat namun hangat, seperti menyimpan banyak cerita masa lalu yang tak semua orang mengerti. Aroma teh hangat dan kuah kaldu yang mengepul di mangkuk bercampur dengan suara mereka yang saling bersahutan seolah menciptakan suasana yang akrab dan penuh kenangan.
Kulihat papa sedang berdiri di depan kompor dan tangannya cekatan mengaduk bakmi di panci besar. Mama menyiapkan topping dan mencatat pesanan pelanggan dengan cepat. Suara wajan yang beradu dengan sendok logam berpadu dengan dengung kipas angin tua di sudut ruangan. Aku duduk di kursi dekat tangga sambil menyesap teh hangat dan memperhatikan mereka bekerja.
Dari luar hidupku memang terlihat sederhana dan normal. Aku hanya mahasiswi biasa yang datang ke kampus dan duduk di kelas, mencatat dengan rapi dan tersenyum sopan saat teman-temanku menyapa. Mereka menganggapku rajin dan penurut dan mungkin berpikir hidupku tanpa masalah. Tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi di dalam diriku yang terlihat innocent ini.
Setiap kali aku menatap papan tulis dan mendengar suara dosen yang sedang menjelaskan, pikiranku sering melayang ke malam itu di minimarket. Suara folding gate yang ditutup dan hawa dingin dari lemari pendingin masih terasa seolah baru saja terjadi. Bayangan tubuhku yang dikerumuni banyak pria kasar terus muncul di kepalaku hingga membuatku menggigit bibir dan menunduk. Degup jantungku tiba-tiba berpacu lebih cepat dan aku berusaha keras agar wajahku tetap tenang seperti tidak ada apa-apa.
Sepulang kuliah aku tidak langsung pulang ke rumah dan sengaja mampir ke salon langganan di deretan ruko dekat kampus. Aku duduk di kursi empuk dan membiarkan para terapis merawat tubuhku. Lulur harum melapisi kulitku sementara rambutku dimanjakan dengan hair spa dan wajahku diberi masker dingin yang menenangkan.
Setiap sentuhan itu membuat pikiranku kembali mengembara pada malam ketika kulitku dijelajahi tangan-tangan kasar dan tubuhku diremas serta dipaksa pasrah. Anehnya aku tidak merasa takut atau jijik. Justru ada sesuatu dalam diriku yang bergejolak, sesuatu yang membuat napasku terasa berat. Aku ingin tubuhku semakin halus dan wangi hingga tak ada yang bisa menolak pesonanya. Aku ingin selalu siap kapan saja Raka memanggilku lagi.
Aku ingin tetap terlihat polos di mata orang orang di kampus dan aku ingin mereka tetap menganggapku sebagai gadis chinese rumahan yang biasa saja. Namun aku juga punya sisi lain yang selama ini tidak pernah aku tunjukkan pada siapapun. Saat aku membuka lemari dan menatap semua pakaian itu aku merasa seperti ada dunia lain yang menunggu dan dunia itu membuatku merasa lebih bebas dan tidak terikat aturan. Aku hanya belum tahu kapan aku berani menunjukkannya.
Rasa takut pelan-pelan menyelinap dan pikiranku mulai berputar. Aku bertanya pada diri sendiri bagaimana kalau sampai keluargaku tahu dan bagaimana kalau aku tidak sanggup lagi menjalani semua ini. Namun di balik rasa takut itu ada sesuatu yang lain yang jauh lebih kuat. Getaran hangat menjalar dari leher hingga ke dada dan membuat napasku terasa berat. Tak lama kemudian layar ponselku kembali menyala.
"Jangan lupa nanti kamu pakai baju yang paling seksi ya. Biar berasa kayak amoy yang lagi jalan ke mall. Tulis Raka di pesan itu.
Dia menambahkan kalau aku harus memilih atasan yang ketat di badan dan rok atau celana pendek supaya terlihat berbeda dari biasanya. Membaca pesan itu jantungku berdetak lebih cepat dan tanganku terasa dingin karena aku tahu apa yang dia inginkan dariku.
Mataku terlihat basah dan pipiku memerah seolah menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Aku tersenyum tipis lalu mengangkat tanganku dan menyentuh pantulan di kaca dengan ujung jari. Sentuhannya dingin dan halus tapi ada getaran aneh yang menjalar di dalam tubuhku. Aku menatap bayangan itu dalam diam dan perlahan bibirku bergerak mengucap sesuatu yang hanya bisa kudengar sendiri.
“Kalau mereka mau lanjut Aku sudah siap. Aku akan melakukannya habis habisan sampai seluruh hasrat dalam diriku tersalurkan.
Raka menatap teman-temannya satu per satu dengan sorot mata yang tajam. Asap rokok mengepul dari bibirnya dan membuat udara di warung kopi itu semakin pekat.
"Selain itu kamera pengawas juga belum dipasang ulang jadi kita semua gak perlu kuatir acara ini diketahui oleh pengelola gedung.
"Haha.. bener bener gila ide lu kali ini. Gue rasa acara pesmoy kali ini pasti bakalan lebih brutal dari sebelumnya. Soalnya tempatnya luas banget dan cocok buat dijadiin acara berburu amoy. Sahut Bimo yang ikut menyusun rencana diwarung kopi tsb.
"Bener bro. Idenya si Raka emang cemerlang banget. Orang orang mah biasanya berburu dihutan tapi kita malah berburu kenikmatan ditengah kota.
Raka lalu menyandarkan tubuh ke kursi dan mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya sementara suara kendaraan dari jalan besar terdengar samar di kejauhan. Warung kopi itu hanya diterangi lampu redup yang bergoyang ditiup angin malam dan suasananya terasa semakin berat setelah kalimat terakhirnya terucap.
"Supaya acara pesmoynya tambah brutal. Kayaknya semua area yang ada digedung supermarket harus kita manfaatin sepenuhnya. Coba kalian bayangin !! Seandainya ada amoy pakai baju seksi yang biasa seliweran di mall kejebak dalam supermarket ini. Semua jalan keluar udah ditutup dan amoynya diburu kayak binatang. Kata Raka berfantasi.
"Wah.. baru denger idenya aja kontol gue udah ngaceng berat kayak gini. Pokoknya rencana ini harus segera diwujudkan. Kata seorang pria yang memakai topi. Ohh iya ngomong ngomong amoynya cakep gak tuh bro.. ? Secara amoy itu kan banyak jenisnya.. ada yang lugu dan kalem ada juga yang binal dan seksi. Haha..
"Soal cakep atau nggak itu kalian bisa nilai sendiri nanti. Yang jelas ini tuh amoy rumahan yang tampangnya innocent banget. Kulit putih mata sipit kayak kebanyakan amoy pecinan lainnya tapi kalau soal ngewe gak kalah sama bintang bokep ekstrim dari jepang sana. Haha.. Sahut Raka mempromosikan gadis itu.
Beberapa orang di meja itu langsung tertawa kecil seolah yang mereka bicarakan hanyalah rencana iseng biasa. Padahal setiap kalimat yang keluar justru makin menunjukkan betapa liarnya pikiran mereka malam itu.
"Kalau bisa semua koridor yang ada di supermarket harus dipergunakan secara maksimal buat nyalurin fantasi liar kita. Bayangin amoy sipitnya digenjot bergiliran sama semua pegawai sambil disuruh merangkak keliling supermarket. Haha.. Kata oknum teknisi hipermarket menambahkan dengan suara pelan tapi penuh semangat.
"Gue setuju bro. Disitu kan ada ruangan pendingin besar, banyak lorong belanja yang lebar, rak besi tinggi yang masih kosong dan beberapa yang udah penuh barang. Gudang penyimpanannya juga luas banget bahkan toilet karyawan yang baru direnovasi tapi belum dipakai. Semua tempat itu bisa kita manfaatin.
Suara kipas tua di warung kopi berputar pelan sementara meja mereka dipenuhi sisa gelas kopi dan abu rokok yang jatuh berserakan. Tidak ada satu pun yang menyadari betapa rencana mereka mulai terdengar seperti sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar permainan.
"Rak display barang yang ukurannya panjang itu bisa berguna banget buat nyalurin hasrat kita. Kita bisa ikat sambil rentangin kedua tangan amoynya disana biar badan putihnya yang mulus bisa bebas kita jarah. Kata salah satu dari mereka yang tiba tiba nyeletuk sambil tersenyum licik.
"Gak kebayang reaksi amoynya waktu teteknya kita remesin dan kenyotin rame rame. Dia pasti bakalan jerit jerit dan meronta tapi gak bisa lari karena tangannya diikat diujung rak. Haha..
"Kalau bisa sih jangan cuma tangannya yang diikat terentang. Tapi dua kakinya juga dipengkangin lebar terus diikat kuat diujung rak besinya. Badannya yang pakai baju seksi jadi nggantung diatas rak display. Dia bener bener udah pasrah buat digilir orang sekampung dan gak bisa apa apa lagi.
Raka hanya mengangguk puas lalu menyalakan rokoknya.
"Acara pesmoy besar kayak gini persiapannya harus matang. Kita harus pastikan semuanya berjalan lancar. Pokoknya semua orang yang ikut acara pesmoy ini harus puas.
"Maksud lo besar gimana bro ?!! Kita semua yang kumpul disini aja cuma delapan orang. Bisa sepi dong acara pesmoynya nanti. Haha..
"Soal orang mah gampang bro. Siapa sih yang nolak kalau diajak pesmoy kayak gini. Apalagi kalau disediain amoy pecinan yang badannya mulus kayak gitu. Kalau sesuai rencana kayaknya gue butuh sekitar tiga puluhan orang buat wujudin acara pesmoy brutal kayak gini. Kata Raka dengan penuh antusias.
"Bener bro. Makin rame makin brutal. Minimal disatu area supermarket tuh amoy harus dihajar sama lima sampe tujuh orang. Nanti terakhir baru kita seret ke gudang buat digilir nonstop semua pesertanya. Haha..
"Haha.. emang sinting lu pada. Yang ada bisa modyar tuh amoy kalau dihajar nonstop sama kalian. Tapi kalau dipikir pikir amoy emang udah kodratnya kali buat dijadiin santapan pribumi kayak jamannya kerusuhan dulu. Kata pria berjaket hitam.
Semua pria yang ada diwarung kopi tsb saling menatap dengan antusias karena mereka sudah membayangkan acara malam itu. Hipermarket yang terang dan sejuk memiliki lorong panjang dengan etalase baru serta ruang ruang tersembunyi yang akan jadi arena liar berikutnya sementara gadis chinese seperti diriku malah menjadi pusat dari pesta yang mereka rencanakan.
"Oke rencana udah tersusun rapi. Minggu depan setelah pintu hipermarket dikunci dari dalam langsung kita mulai aja acara pesmoynya. Kita harus buat skenario supaya amoynya terlihat seperti hewan buruan. Haha..
Bahan tipisnya terasa ringan seolah menempel namun tetap memberi ruang untuk bergerak. Saat aku merapikan poni samping dan mengencangkan ikatan ponytailku di depan cermin aku merasa seperti gadis muda yang ingin tampil cantik tanpa terlihat berlebihan. Bukan untuk pesta resepsi, hanya untuk pergi ke mall, tapi entah kenapa malam itu tetap terasa spesial seakan sesuatu yang menegangkan sedang menunggu untuk dimulai.
Saat itu rambutku memang sengaja kutata menjadi ponytail tinggi yang menggembung lembut, warnanya cokelat dengan kilau halus saat terkena cahaya kamar. Beberapa helai sengaja kubiarkan terlepas di sisi wajah agar tetap memberi kesan manis khas gadis chindo, seolah membingkai pipiku dengan lembut. Ujung rambutku yang sedikit bergelombang bergerak pelan setiap kali aku menoleh, membuat keseluruhan tampilanku terasa hidup.
Rias wajahku sengaja kubuat natural dan ringan karena aku ingin terlihat segar dan tidak berlebihan. Lipstik warna lembut membuat bibirku tampak hidup namun tetap sesuai dengan wajah polosku. Sepatu hak tinggi hitam kukenakan untuk melengkapi semuanya dan saat aku berdiri penuh aku merasa seperti versi terbaik dari diriku malam itu.
Aku turun ke ruang tamu dengan langkah perlahan menggunakan sepatu hak tinggi dan suara ketukannya terdengar jelas. Mamaku yang sedang menonton TV langsung menoleh dan memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Mau ke mana kamu Shien.. cantik banget malam ini tanya mama pelan.
Aku pura pura tersipu dan mencoba terlihat santai. "Mau jalan ke mall ma.. Kebetulan teman-teman ngajak kumpul bareng. Kataku sambil merapikan tali tipis di bahuku.
Aku berusaha terdengar biasa saja meski Mama masih memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia seperti mengecek apakah penampilanku tidak terlalu berlebihan untuk sekadar hangout malam minggu. Setelah beberapa detik ia akhirnya menghela napas pelan dan wajahnya sedikit melunak.
Mama menepuk pahaku lembut. Pandangannya singgah sebentar pada baju putih yang membalut tubuhku dengan rapi lalu pada rok pendek yang membuatku terlihat lebih dewasa dari biasanya. "Jangan pulang terlalu malam ya Shien.. jaga diri kamu baik-baik. Katanya dengan suara tenang.
Aku mengangguk sambil merapikan ponytailku yang bergelombang. Meski ia tidak berkata banyak aku tahu mama hanya ingin memastikan aku tetap aman dengan gaya yang mungkin sedikit mencolok untukku.
Mama masih menatapku lekat, seperti memastikan tidak ada yang kusembunyikan. "Terus kamu berangkat sama siapa? Kamu nggak pergi sendirian kan ? Tanyanya lembut tapi jelas penuh perhatian.
"Hmm… aku pergi bareng teman kuliah ma.. sahutku sambil merapikan rambut. “Nanti aku dijemput pakai mobilnya. Pulangnya juga dianter sampai depan rumah. Pokoknya aman deh.
Kali ini mama hanya mengangguk pelan meski sorot matanya masih menyisakan sedikit khawatir.
Kemudian aku berdiri dan berpamitan pada Mama sebelum melangkah keluar rumah. Udara malam yang dingin langsung menyentuh kulitku dan membuatku sadar betapa tipisnya baju putih ketat yang kupakai. Rok pendeknya bergerak ringan setiap kali aku melangkah dan kainnya mengikuti gerakan kakiku seperti menempel tapi tetap memberi ruang untuk berjalan dengan nyaman.
Tali tipis di bahuku terasa sedikit dingin terkena angin malam dan ponytailku yang bergelombang pelan ikut bergerak setiap kali aku menoleh ke arah jalan. Malam itu baru saja dimulai dan aku bisa merasakan jantungku berdetak lebih cepat.
Ketika aku sedang berjalan tiba tiba ponselku bergetar di dalam tas kecil yang kupakai di bahu. Aku berhenti sejenak dan mengambilnya lalu layar ponsel langsung menampilkan pesan baru.
Pesan dari Raka terbaca jelas di layar ponselku dan kalimatnya terasa seperti perintah yang singkat dan menekan. Aku berhenti sesaat lalu menelan napas dalam karena dadaku mendadak terasa penuh. Ini bener bener gila.. Seorang gadis chinese berpakaian seksi.. keluar malam sendirian hanya untuk menyerahkan dirinya. Gumamku dalam hati sambil menatap layar yang masih menyala dan perasaan tidak nyaman itu perlahan merambat.
Ada bagian dari diriku yang ingin berbalik arah dan pulang saja namun kakiku justru kembali melangkah. Apa yang sebenarnya sedang kulakukan pikirku lagi dan jantungku berdegup semakin kencang. Malam terasa lebih sunyi dari sebelumnya dan suara hak sepatuku terdengar jelas mengikuti langkah yang makin cepat seolah aku sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak sepenuhnya kupahami.
Hak sepatuku berdetak teratur di aspal jalanan kecil pecinan dan suaranya terdengar jelas di antara sunyi malam. Ponytail tinggiku bergoyang pelan setiap kali aku melangkah dan beberapa helai rambut di sisi wajah ikut bergerak tersentuh angin malam. Aku merapikannya sebentar lalu kembali melangkah menuju ujung jalan yang ada dikawasan pecinan lama.
Baju putih ketat yang kupakai terasa pas di tubuhku dan rok pendekku mengikuti gerakan kakiku dengan rapi saat berjalan. Dari kejauhan aku melihat sebuah mobil boks kecil berhenti dengan mesin masih menyala dan lampu depannya memantul lembut di permukaan aspal seolah menandai tujuanku malam itu.
Beberapa saat kemudian aku melihat Raka turun dari sisi samping pengemudi, melambai kecil sambil tersenyum nakal. Sementara dua pria lain yang tak kukenal berdiri dibelakang boks mobilnya.
Dua pria yang sudah berada di dekat pintu langsung bergerak membantuku. Satu orang menahan pintu sementara yang lain menopang lenganku agar aku bisa naik tanpa terjatuh. Setelah berhasil masuk aku menarik napas pelan dan berdiri merunduk di dalam boks yang kosong. Dinding besinya terasa dingin saat tanganku menyentuhnya dan tidak ada lampu di dalam sehingga satu satunya cahaya hanya datang dari celah kecil di pintu belakang yang belum tertutup rapat.
Di lantai ada beberapa helai kardus kotor yang sudah lusuh dan ada karung bekas di sudut yang baunya agak menyengat. Udara terasa panas dan pengap karena ruangan tertutup rapat dan aku mulai sulit bernapas dengan tenang. Lantai besinya bergetar saat mesin mobil dinyalakan dan aku mulai kehilangan keseimbangan.
Seseorang menyuruhku duduk dan aku dipaksa duduk di atas lantai boks yang keras dan dingin itu karena mereka bilang akan lebih aman selama mobil bergerak. Aku menarik napas pelan dan mencoba menenangkan diriku karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dan semuanya terasa berjalan terlalu cepat bagiku.
Mobil boks kecil itu mulai melaju pelan meninggalkan kawasan pecinan lama yang sudah sangat kukenal. Getaran mesin terasa jelas di lantai besi dan membuat tubuhku ikut bergoyang ringan saat aku memilih duduk di sisi dalam boks. Cahaya dari luar makin menjauh hingga yang tersisa hanya temaram dari celah pintu belakang.
Aku duduk kaku sambil memegang dompet kecilku dan mencoba mengatur napas. Dua pria asing itu duduk tidak jauh dariku dan keberadaan mereka terasa begitu dekat meski tidak ada yang menyentuh. Tatapan mereka sesekali mengarah padaku dan sorot matanya membuat tengkukku meremang karena ada sesuatu yang sulit kuartikan dengan tenang.
"Moy emangnya lu dibayar berapa duit sama si Raka ?!! Sampe mau ikut acara pesmoy kayak gini. Hehe..
"N..Nggak.. bang. Aku gak dibayar sama dia.. aa..ku cumaa penasaran aja sama acara giniian. Jawabku dengan gugup. Meskipun batinku sangat cemas karena tak tahu akan dibawa kemana namun aku tetap berusaha untuk tenang dan berusaha menikmati semua moment ketegangan yang ada.
"Udahlah moy.. ngaku aja sama kita.. Lu itu cuma lonte cina yang bebas dipake semua orang kan ? Lagian mana ada sih perempuan baik baik yang mau dibawa malam malam pake mobil box kayak gini.
"B..bukan bang.. aa..aaku.. bukan lonte. Aku ini perempuan baik baik bang. Aaaaku cuma penasaran pengen tau gimana rasanya.. Sahutku sambil menunduk malu.
"Ya terserah lu aja deh.. mau ngaku apa kagak. Tapi yang jelas malam ini lu bakalan kita obrak abrik sampe kelenger. Haha..
Udara di dalam boks makin terasa panas dan pengap. Setiap kali mobil melewati jalan tidak rata tubuh kami ikut bergeser sedikit. Aku menelan ludah dan menatap lantai besi sambil menyadari bahwa jarak antara diriku dan tempat asal semakin jauh sementara perasaan tidak nyaman di dadaku justru semakin jelas.
Dalam gelap remang boks itu, aku tahu perjalanan ini baru awal dari malam panjang yang sudah direncanakan Raka dan teman-temannya. Perasaanku malam itu makin tak karuan karena aku tak diberitahu sama sekali tentang lokasi tujuannya. Aku hanya bisa menerka nerka dalam hati sambil dipenuhi rasa cemas seperti hewan ternak yang sedang dibawa ke tempat eksekusinya.
Penantian Dibasement Gedung
Di area basement gedung itu sudah berdiri seorang pria berkepala botak dengan tubuh tegap dan wajah serius. Dialah Pak Roy. Tangannya disilangkan di dada saat menunggu sambil menatap lurus ke depan. Di belakangnya berjejer belasan pegawai supermarket lain dengan seragam yang sama.
Para pegawai tampak tak sabar. Seorang satpam bertubuh besar berdiri dengan kaki terbuka dan rahang mengeras. Di sampingnya ada teknisi kurus yang terus mengusap tengkuk seolah kepanasan. Seorang petugas kebersihan bertubuh pendek mondar mandir kecil sambil menatap jam di pergelangan tangan. Ada juga tukang parkir berkulit gelap dengan bahu sedikit membungkuk yang sesekali menarik napas panjang. Tidak ada yang berbicara namun gerak tubuh mereka menunjukkan penantian yang makin menekan.
"Gue bener bener gak nyangka ternyata acara pesmoynya beneran diadain disini. kata petugas kebersihan.
"Iya gue kira pak Roy cuma becanda aja sama kita. Secara mana ada sih amoy yang rela nyerahin dirinya buat diacak acak sama puluhan orang kayak gini. Hehe..
"Kalau gue mah penasaran banget sama amoynya. Soalnya foto yang beredar di group kan keliatan cakep banget tuh. Udah putih, sipit mana mulus lagi badannya. Kalau beneran tuh amoy yang datang pasti bakalan dihajar abis abisan sampe gak bisa berdiri lagi.
Tak lama kemudian Pak Roy melangkah ke depan barisan. Suaranya tegas dan menggema di basement yang luas namun masih terasa kosong karena renovasi baru selesai. Lampu lampu menyala redup dan bayangan memanjang di lantai beton. Udara pengap dan sedikit lembap karena sirkulasi belum berfungsi dengan baik. Di sudut sudut ruangan masih tampak tumpukan kardus bahan bangunan sisa cat dan papan kayu yang bersandar.
"Denger baik baik !! Malam ini kita dapat kesempatan langka buat ngadain acara pesmoy didalam gedung supermarket ini. Meskipun ini acara bebas tapi kita harus ikutin skenario yang ada. Semua udah ada kelompoknya masing masing. Temanya berburu kenikmatan oriental !! Kelompok manapun yang bisa menangkap amoynya maka boleh langsung eksekusi ditempat. Kalian boleh nikmati amoynya dimana saja termasuk dilorong supermarket, diatas meja kasir atau kalau perlu diatas troly sekalian. Paham kalian !!? Kata Pak Roy.
"Paham pak.. tapi semuanya dijamin aman kan pak.. soalnya kita takut nanti timbul masalah hukum secara ini kan udah masuk kategori pemerkosaan massal. Haha... Kata Satpam supermarket yang kumisnya tebal.
"Ya nggak lah. Acara pesmoy ini kan diadain atas kemauan amoynya sendiri. Artinya dia tuh secara sukarela menyerahkan dirinya buat digilir orang sekampung. Haha.. Kata Pak Roy.
"Pak.. amoynya cakep gak tuh.. jangan jangan yang dateng malah lonte burik pinggir kali lagi. Bapak bukan lagi ngerjain kita kan.. ? Kata petugas kebersihan yang baru tahu acara ini secara dadakan dan belum pernah melihat foto gadis tsb karena gak punya ponsel.
"Udah gak usah banyak tanya. Mending kalian tunggu aja. Sebentar lagi juga datang kok barangnya. Inget ya kalian bole ewe sesukanya tapi jangan sampe badan amoynya lecet. Hehe.. Kata Pak Roy.
"Udah bro lu tenang aja deh. Gue udah pernah liat fotonya kok. Pokoknya cina banget deh mukanya.. cocok buat dijadiin santapan pribumi.
Mobil boks kecil itu akhirnya melambat lalu berbelok masuk ke area gedung supermarket besar yang berdiri mencolok di tengah kota. Kendaraan itu tidak berhenti di pintu depan melainkan langsung menuju jalur basement yang biasa digunakan untuk keluar masuk barang. Suasana di dalam boks terasa makin senyap saat mobil menuruni jalan menurun dan suara mesin bergema di ruang tertutup.
Mobil bergerak perlahan memasuki area penerimaan bongkar muat barang dari pemasok. Lampu lampu menyala redup karena gedung belum beroperasi penuh dan masih dalam tahap renovasi sehingga cahaya terlihat pucat dan tidak merata. Setelah itu mobil berhenti lalu mesin dimatikan dan suasana basement terasa lengang.
Beberapa detik kemudian pintu belakang dibuka dari luar sehingga udara hangat yang pengap dan cahaya redup dari lampu yang tergantung seadanya masuk ke dalam. Dari celah pintu hawa basement langsung menyergap ruang sempit tempat aku duduk meringkuk. Lututku masih rapat dan rok putih yang kupakai tampak sedikit kusut karena perjalanan. Atasan putih ketat di tubuhku terasa lembap terkena udara pengap. Ponytail tinggiku bergoyang pelan saat aku mengangkat kepala dan beberapa helai rambut di sisi wajah ikut bergerak. Rahangku mengeras dan napasku terasa berat karena rasa tegang ketika cahaya pertama menembus masuk.
Di luar terdengar derap langkah banyak orang yang bergerak mendekat dan suara mereka saling tumpang tindih memenuhi area basement. Puluhan pegawai yang tadi menerima briefing dari Pak Sardi sudah berdiri menunggu dengan sikap berbeda beda. Beberapa bersorak keras seolah menyambut kedatangan tokoh penting sementara yang lain bertepuk tangan dan tertawa tanpa henti. Ada yang mengangkat ponsel tinggi tinggi siap merekam momen itu dan ada yang bersandar santai di troli sambil bersiul panjang. Tatapan mereka semua tertuju ke arah pintu mobil dengan wajah penuh antusias dan rasa penasaran. Suasananya ramai dan riuh seperti kerumunan yang menyambut seorang ratu kecantikan yang akan segera muncul di hadapan mereka.
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Kata seorang petugas kebersihan sambil menyenggol temannya.
"Anjirr.. ternyata semua ini beneran. Gak nyangka ada amoy yang rela diginiin rame rame sama kita. Sahut seorang satpam dengan suara berat sambil melipat tangan di dada.
Beberapa orang langsung bersiul dan ada yang menepuk nepuk troli besi sehingga ketegangan di ruangan itu makin terasa. Aku mencoba turun dengan hak tinggi yang beradu keras dengan lantai semen, rok putihku mengikuti setiap gerakan dan atasan putih ketat membuat penampilanku terlihat jelas di tengah kerumunan seragam minimarket yang tampak kaku namun sorot matanya penuh gairah liar. Ponytail tinggiku bergoyang pelan dan beberapa helai rambut yang jatuh di sisi wajah menambah kesan hidup pada penampilanku.
“Eeh.. liat tuh kakinya putih banget bro. Bener bener layak jadi artis pecinan. Ucap teknisi yang berdiri paling depan saat pandangan mereka menangkap sosokku yang perlahan keluar dari dalam box mobil
Degupan jantungku berpacu cepat dan napasku terasa berat. Suasana basement hangat dan pengap sehingga membuat udara seperti tertekan. Pandangan puluhan pasang mata liar menempel di tubuhku dari ujung kepala sampai kaki dan membuatku semakin tegang. Tawa kasar terdengar dari arah teknisi yang berdiri dekat palet.
"Gue demen muka cina klasik kayak gini. Bener-bener berasa asli cinanya, gak kayak amoy blasteran. Mulus, putih, pas banget buat dikerjain rame-rame.
Satpam yang tadi menyandarkan diri ke troli menyahut dengan nada mengejek, “Muka cina begitu kalau ada kerusuhan udah pasti ditandain massa. Hahaha… sekarang juga cocok ditandai kita duluan, biar dia inget siapa yang pertama ngasih tanda
Mereka seperti kawanan hewan lapar yang baru saja diberi umpan segar dan terus menatap setiap gerakanku. Beberapa tersenyum sinis dan beberapa menahan tawa sementara yang lain saling berbisik sambil menunjuk ke arahku. Suasana itu membuatku merasa setiap langkahku diperhatikan dan mereka siap bereaksi terhadap apa pun yang kulakukan.
"Kamu sudah siap kan Lus ?!! Malam ini kamu bisa menyalurkan semua hasrat terpendam yang ada didalam dirimu. Amoy seksi diburu sama pribumi. Ini yang kamu mau kan.. Kata Raka berbisik pelan.
"Please Raka.. jangan kayak gini.. ini terlalu banyak.. ini terlalu brutal.. aku gak sanggup.. Ucapku sambil menggeleng pelan seolah tak percaya dengan keadaan yang ada.
"Kalau kamu gak sanggup kamu bole lari.. tapi ingat kamu itu gak lebih dari seekor hewan buruan. Mereka akan terus mengejarmu seperti amoy yang terjebak dalam kerusuhan massa. Dan satu lagi yang perlu kamu tahu bahwa tak ada jalan keluar dari gedung ini karena semuanya sudah tertutup rapat. Ancam Raka dengan tatapan kejam.
"Jangan.. Rakaaa.. akuuu gaaakk mau kayak gini.. biarkan aku pergi dari sini.. Aku bener bener panik dengan semua keadaan ini. Aku bener bener tak menyangka Raka menyiapkan rencana segila ini tapi dibalik itu semua ternyata ada bagian dalam diriku yang juga menginginkannya.
Tanpa kusadari lingkaran mereka semakin rapat dan membuat ruang di sekitarku terasa sempit. Bau rokok bercampur keringat dan debu bangunan menyeruak ke hidung tapi yang paling menyesakkan adalah atmosfer liar yang semakin tebal. Komentar demi komentar terdengar memukul telingaku dan membuat kulitku merinding, namun dalam hati aku tahu malam ini tidak ada jalan keluar.
Pak Roy mengangkat tangan untuk memberi isyarat agar mereka tenang sejenak lalu menatap satu per satu.
"Sabar.. jangan diapa apain dulu amoynya. Kita bawa dia keatas biar semua bisa liat betapa seksinya amoy ini. Kita jalanin sesuai rencana. Katanya tegas.
Dua orang langsung maju lalu masing-masing menggenggam lenganku. Hak tinggiku beradu nyaring dengan lantai semen saat aku dituntun melewati kerumunan yang makin rapat. Beberapa tangan menyentuh pinggang dan pahaku dengan sengaja dan membuat tawa di sekeliling terdengar semakin gaduh.
Basement bergema oleh langkah-langkah kaki kami saat berjalan menuju lift barang besar di sudut ruangan. Ketika pintu logam terbuka, semua sorot mata tetap menancap di tubuhku dan membuat napasku terasa berat. Suasana hangat dan pengap basement terasa makin pekat dan kontras dengan panas liar yang memancar dari puluhan tubuh di sekitarku.
"Aduhh.. lepasin !! kalian mau bawa aku kemana.. Ucapku sambil meronta tapi cengkraman mereka pada kedua pergelangan tanganku malah semakin kuat.
"Dasar lonte cina.. udah kagak usah pura pura lagi. Lu itu udah dibayar sama pak Roy buat muasin kita semua kan ?!!
Suara pintu logam lift berderit berat ketika ditarik dan tubuhku setengah didorong masuk ke dalam. Lampu neon di langit-langit lift menyinari ruang sempit itu dengan cahaya putih dingin sehingga setiap lekuk tubuh dan gerakanku terlihat jelas. Aku berdiri di tengah, rok putih dan atasan ketat yang kupakai terasa menempel lebih rapat karena keringat mulai menitik dan tatapan mata di sekeliling membuat tubuhku semakin tegang. Ponytail tinggiku bergoyang pelan mengikuti setiap gerakan dan beberapa helai rambut jatuh menutupi wajahku sementara aku mencoba tetap berdiri tegak di tengah ruang yang sempit itu.
Dua orang masih menggenggam lenganku dengan erat seakan aku bisa kabur kapan saja. Nafasku terasa berat karena rasa takut bercampur dengan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuh. Jantungku berdetak kencang dan suaranya terasa jelas di telingaku hingga menutupi bunyi mesin lift yang mulai bergerak naik.
Di sisi lain aku bisa merasakan hawa tubuh mereka yang berdesakan sangat dekat. Bau keringat bercampur parfum murahan dan asap rokok masih menempel di baju mereka lalu berpadu dengan udara dingin dari AC lift yang menusuk kulitku. Semua itu berputar di kepalaku dan membuat napasku semakin sulit diatur.
"Bang.. tolong jangan kayak gini... Lepasin tanganku..
Salah satu pria di sampingku menunduk mendekat dan bisikannya terdengar kasar di telingaku.
"Semua sudah terlambat. Kamu sudah memutus untuk masuk dalam permainan ini. Sekali masuk maka tak ada lagi jalan keluar untukmu.. sebentar lagi kamu bakalan dihancurin sama mereka sampai nangis minta ampun. Ucapnya pelan. Napas panasnya menyapu pipiku dan membuat bulu kudukku langsung berdiri.
Aku menggigit bibir dan menahan suara yang hampir keluar. Di dalam diriku dua perasaan saling bertarung karena panik mencengkeram kuat sementara gairah liar dalam diriku semakin bergejolak. Aku tahu aku sedang digiring seperti hewan menuju tempat yang sudah mereka siapkan dan kesadaran itu justru membuat tubuhku semakin bergetar.
Lift berguncang sedikit ketika melewati lantai demi lantai, dan setiap kali itu terjadi, genggaman di lenganku semakin erat, seolah mereka sengaja menegaskan bahwa aku sepenuhnya dalam kendali mereka. Mataku menatap angka-angka digital di atas pintu yang terus bertambah, dan setiap detiknya terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak terelakkan.
Ketika lift akhirnya berhenti dengan dentuman berat lututku langsung terasa melemas. Pintu besi terbuka dan menyingkap area hipermarket yang luas serta terang oleh cahaya lampu LED baru. Rak rak barang masih terlihat sebagian kosong karena renovasi belum selesai. Beberapa peralatan kerja tergeletak di lantai dan bau cat masih samar tercium di udara.
Namun yang paling menyesakkan adalah kerumunan pria yang sudah menunggu di sana. Sorot mata mereka langsung tertuju padaku begitu pintu terbuka dan membuat langkahku terasa semakin berat. Suasana tempat itu terasa seperti arena tertutup dan aku adalah satu satunya buruan yang didorong masuk ke tengahnya.
Begitu kakiku melangkah keluar dari lift barang suara gaduh langsung meledak menyambutku. Puluhan pasang mata menatap tanpa berkedip seakan kawanan serigala mencium bau darah segar. Lampu LED di langit langit hipermarket membuat semuanya terlihat jelas mulai dari tatapan liar mereka, senyum miring penuh maksud, hingga gerakan tangan yang tidak sabar.
Baju putihku yang ketat dan pendek terasa semakin menempel di kulit. Aku bisa merasakan mata mereka menelanjangi setiap lekuk tubuhku, mulai dari betis putihku yang ditopang hak tinggi hingga garis dadaku yang sedikit terbuka. Degub jantungku semakin kencang, napas tersengal sementara telapak tanganku berkeringat.
"Anjir.. Amoynya cakep banget. Bikin gua keiinget sama amoy amoy seksi yang suka keluyuran di mall buat pemerin badannya yang putih mulus itu. Suara seorang pria dari kerumunan memecah suasana. Tatapannya menelusuri wajahku dari atas sampai bawah.
"Iya mana bajunya seksi banget lagi. Bikin orang penasaran aja. Kayak sengaja minta ditelanjangin didepan umum gitu. Kata pegawai supermarket lainnya.
Pemandangan ditempat ini kembali membuatku terkejut. Bagaimana tidak saat dibasement gedung saja sudah ada belasan orang yang berkumpul dan ditambah kerumunan para pria kasar lainnya di ruangan besar ini bener benar membuatku ketakutan dan ingin segera berlari.
"Gue demen banget muka cina klasik kayak gini. Bener-bener masih asli gak ada campurannye. Yang kayak gini emang enak banget buat dihancurin rame-rame.
Ada lagi yang berseru, lebih keras, suaranya bergema di ruangan luas itu.
"Gue pernah liat fotonya di group tapi gak nyangka kalau aslinya malah lebih cakep dan seksi kayak gini.
Komentar kotor dan rasis lainnya berhamburan seakan menohok telingaku tanpa henti.
“Malam ini kalian bukan lagi jadi pegawai. Malam ini kita punya pesta. Tema kita jelas: amoy buruan. Semua sudut hipermarket bebas dipakai. Rak baru, gudang barang, meja kasir bahkan lemari pendingin kaca semua boleh digunakan. Nggak ada aturan. Yang ada cuma satu: bikin dia nggak bisa jalan pulang. Kata Pak Roy memberi semangat anak buahnya.
Pak Roy mulai menghitung:
"Satu…. Suara sorakan menggema.
“Dua… Beberapa pegawai sudah mencondongkan tubuh bersiap seperti anjing lepas kandang. Aku memejamkan mata sejenak merasakan seluruh tubuhku memanas.
Lorong lorong panjang dipenuhi rak besi baru dan sebagian masih kosong sedangkan sebagian lain sudah terisi tumpukan makanan di atas display produk yang tersusun rapi. Aroma khas supermarket masih terasa jelas dan membuat dadaku terasa sesak. Aku melangkah cepat ke lorong rak deterjen sambil mencoba menahan suara nafasku. Dari arah belakang terdengar teriakan dan tawa kasar yang menggema lalu disusul langkah kaki berat yang semakin mendekat.
“Ketahuan! Amoynya di lorong kiri!”
Aku terkesiap dan tubuhku gemetar tapi gairah itu malah semakin liar. Aku terus berlari. hak sepatuku memantul nyaring di lantai keramik supermarket seakan ingin meninggalkan jejak suara yang jelas bagi para pemburu diriku.
Di ujung lorong, aku melihat kaca besar pendingin minuman. Permukaannya dipenuhi embun dingin. Aku berhenti sebentar, menatap wajahku sendiri yang pucat, mata membelalak, keringat mengalir. Gadis innocent yang menjadi buruan massa beringas malam ini.
Suara langkah makin keras. Dari dua arah sekaligus, bayangan tubuh besar-besar sudah tampak. Aku seperti terjebak di lorong itu.
Tawa mereka meledak, tidak marah, justru makin semangat. “Cerdik juga amoynya! Tapi gue makin napsu kalau main kejar-kejaran gini.”
Aku tergelak kecil di sela nafasku yang berat, bodoh… kenapa aku malah menikmatinya? Rasa takut tetap menggantung tapi lebih besar lagi adalah desakan liar yang makin menyala di tubuhku. Aku tahu kalau aku terus melarikan diri, mereka akan semakin bernafsu saat akhirnya berhasil menangkapku.
Aku berbelok tajam ke arah lorong minuman, rak-rak tinggi berisi botol soda masih separuh kosong, sebagian kardus belum dibongkar. Aku meraih satu botol plastik besar dari rak, melemparkan ke belakang tanpa menoleh. Suaranya gedebuk! menghantam lantai, air soda muncrat ke segala arah, membuat lantai licin dan lengket.
"Sialan.. kayaknya nih amoy emang pengen diburu massa beneran. Gue makin napsu kalau ngejar ngejar amoy seksi kayak ginii.. Haha.. Kata seorang pegawai bertubuh gempal sambil tertawa kegirangan.
"Iya.. gue rasa dia cuma pura pura takut doang. Liat aja nanti pas ketangkep pasti dia langsung ngangkang dilantai buat nyerahin memek cinanya sama kita.. Haha..
Jantungku berdetak kencang, keringat dingin bercampur dengan dingin AC hipermarket yang menusuk kulit. Tapi di balik semua itu, gairahku semakin meledek, memuncak, seperti api yang dikipasi. Setiap teriakan, setiap langkah kaki di belakangku, justru membuat tubuhku semakin panas.
Di lantai atas aku keluar ke lorong elektronik yang penuh kardus TV dan kulkas baru. Aku berhenti sejenak lalu berdiri di tengah lorong yang terang benderang, napasku terengah-engah dan dadaku naik turun cepat. Sementara itu dari arah belakang terdengar lagi suara
Aku berhasil memiringkan tubuh dari sela tumpukan kardus dan atasan putih ketat yang kupakai sempat tertarik sebelum akhirnya terlepas dari pegangan pria itu. Dengan sisa tenaga aku bangkit lalu setengah berlari ke lorong sebelah. Langkahku tidak stabil karena rok pendek yang kupakai membatasi gerak dan membuat tubuhku oleng. Rambut ponytailku berantakan dan beberapa helai jatuh menutupi wajah saat aku terus bergerak menjauh.
Aku berlari melewati area penjualan barang elektronik di dalam supermarket besar itu. Rak rak tinggi berisi televisi dan mesin cuci berjajar rapat di kiri kanan lorong dan lampu putih menggantung di langit langit yang tinggi. Beberapa layar TV menyala menampilkan iklan tanpa suara dan cahaya dari sana ikut memantul di lantai mengilap. Aku melewati tumpukan speaker dan rice cooker sambil mendengar derap langkah belasan orang yang terus mengejarku dari belakang. Nafasku makin berat lalu telapak tanganku sempat menyentuh sisi rak pendingin udara yang dingin agar tubuhku tetap seimbang. Rasa takut menekan pikiranku namun adrenalin justru membuat tubuhku bergetar dan situasi ini terasa semakin nyata serta semakin liar saat aku terus berlari di antara lorong elektronik itu.
"Lari terus moy !! Makin jauh lu kabur, makin ganas kita nanti pas dapet lu lagi !!
Dalam posisi berdiri tersudut di rak elektronik, aku meronta dan menendang liar ke arah mereka tapi cepat sekali ada yang menangkap pahaku dan mengangkatnya tinggi ke samping. Mereka mencengkram kedua tanganku dengan kuat sehingga posisiku makin tersudut dan aku berteriak kecil campuran panik dan gairah yang membakar dari dalam. Suara-suara mereka makin riuh dan menggema di lorong elektronik. Rambutku semakin acak-acakan dan bajuku hampir tersingkap habis. Tali bustier di pundakku tergeser dan bagian atas baju mulai melorot menyingkap bahu serta sebagian punggungku.
"Jangaaann baaangg !! aaaakkhh.. lepasin aaaku... !! Jeritku sambil terus meronta sekuat tenaga.
Tubuhku dikepung dan ditahan oleh beberapa pria sekaligus sehingga aku tidak bisa bergerak bebas. Aku masih berusaha menggeliat meski dadaku yang dipenuhi gairah liar mulai naik turun dengan cepat sementara wajahku juga terasa makin hangat.
Tangan-tangan kasar mereka terus menjarah tubuhku. Beberapa meremas buah dadaku dan yang lain meraba paha dengan seenaknya seolah aku ini tak lebih dari sebuah barang jarahan ditengah kerusuhan.
"Hehe.. Gue suka amoy pecinan kayak gini. Tampangnya keliatan cina banget.. innocent, klasik tapi bikin napsu pribumi..
Seorang pria bertubuh gempal dengan kulit agak gelap langsung melumat bibirku dengan buas. Dari ekspresi wajahnya terlihat jelas kalau napsunya sedang memuncak dan tak tertahankan. Aku gelagapan dan mencoba memalingkan wajah tapi tangannya cepat meraih rahangku sehingga aku tak bisa bergerak dan hanya bisa pasrah dalam ketidak berdayaan.
"Pantesan kalau tiap ada kerusuhan kawasan pecinan selalu dijadiin sasaran sama perusuh. Selain perusuhnya bisa ngejarah barang yang ada ditoko mereka juga bisa nyicipin daging import kayak gini. Haha..
"Hehe.. iye gua pernah liat tuh videonya… amoy digilir rame-rame di atas aspal jalanan depan tokonya. Asli bikin gua kepengen ikutan aja. Timpal pria lain yang wajahnya tak kalah buas seperti hendak memangsa diriku.
Saat itu kondisi kedua tanganku sudah tak berdaya karena ditahan kuat-kuat di atas kepala. Tapi anehnya ketidakberdayaan ini malah membuat napasku makin memburu. Punggungku makin tertekan menempel ke rak display elektronik yang keras, suara besi berderak setiap kali aku berusaha menggeliat. Lampu neon putih di langit-langit memantulkan wajahku yang memerah, basah oleh keringat dan air mata yang bercampur jadi satu.
Baju putih seksi yang kupakai kini tampak kusut karena tarikan dan remasan dari berbagai arah. Kainnya melekat tidak rapi di tubuhku sementara tali tipis di bahu bergeser dari tempatnya sehingga kesan elegannya langsung memudar. Atasan berbentuk bustier itu masih memeluk buah dadaku namun tidak lagi serapi tadi. Rok pendek yang jatuh di pinggul ikut berkerut dan bergerak tidak beraturan setiap kali aku bergeser. Aku meringis lalu mencoba menunduk untuk melindungi diri dari tatapan beringas mereka.
Namun sebuah tangan menahan daguku dan memaksaku menatap ke depan. Kepalaku terangkat dan napasku tertahan karena posisi itu membuatku semakin tak berdaya. Rak-rak elektronik yang menjulang di sekeliling seolah menutup jalan keluar dan menjadikan tekanan itu terasa semakin nyata.
"Liat nih mukanya. Cina klasik banget. Bikin tambah napsu !! Kata pria berkaus hitam sambil mencengkram pipiku.
Sorakan tawa terdengar. Tangan lain merayap ke pundakku, aku menggeliat dan berusaha maju kedepan tapi tapi tangan itu malah kembali mendorongku hingga
"Udah langsung telanjangin aja.. gue penasaran pengen liat dalemannya amoy.. pasti putih banget tuh kayak susu sapi.. Katanya sambil menarik turun dalemanku.
Celana dalamku kini melorot dan hanya tergantung di salah satu pergelangan kakiku. Seseorang sengaja menekannya dengan kaki, membuatku tidak bisa mengangkat atau menariknya kembali. Kain tipis itu terseret di lantai dan terasa dingin saat menyentuh kulitku sementara aku hanya bisa menatapnya dengan cemas.
Setiap gerakan yang kulakukan terasa terbatas karena benda itu menahan sebagian langkahku, membuatku semakin sadar akan posisiku yang tak berdaya. Aku mencoba menyesuaikan tubuh tapi tekanan dari sekelilingku membuat segala usaha untuk membenarkan posisi celana dalam itu sia-sia. Rasanya seperti benda itu menjadi pengingat setiap sentuhan dan tekanan yang kuterima dari sekeliling, membuat situasi semakin menegangkan dan sulit dihindari.
"Buruan buka semua bajunya !! Kapan lagi kita bisa liat amoy seksi bugil di supermarket !! Haha.. Seru seorang pegawai yang berdiri agak jauh, matanya berbinar penuh nafsu.
"Hehe.. gak usah buru buru bro.. mending kita mainin pelan pelan.. Biar amoy premium kayak gini kerasa istimewa sebelum kita bantai rame-rame. jawab pria yang sedang menahan tanganku.
Aku mencoba menggeliat tapi setiap gerakan kecilku justru membuat lebih banyak tangan menyentuhku. Ada yang menelusuri pinggangku dan membuat tubuhku menegang. Ada yang meremas bokongku sehingga aku terpaku dan menahan diri agar tidak menjerit. Ada pula yang mengusap leherku dengan kasar membuat kulitku bergidik.
Aku memalingkan wajah ke samping dan menarik lengan tapi genggaman mereka terlalu kuat sehingga usahaku sia-sia. Tubuhku menempel pada permukaan rak dingin di belakang dan setiap detik membuatku semakin sadar akan tekanan yang menyelimutiku. Aku ingin lepas tetapi setiap gerakan hanya memperkuat cengkeraman mereka. Tangan-tangan itu terus mengepungku dari segala arah dan membatasi ruang gerakku hingga hampir tak tersisa.
Degup jantungku berpacu begitu cepat sehingga napasku tersengal-sengal dan seluruh tubuhku bergetar. Aku merasa takut tapi ada sensasi tegang yang membuat kulitku panas meski udara di ruangan itu dingin. Tubuhku menegang setiap kali mata mereka menyapu dari kepala hingga kaki.
Tatapan mereka tajam dan penuh perhatian seolah aku menjadi pusat dari semua hal yang terjadi di ruangan itu. Rasanya seperti binatang buruan yang terpojok dan tak punya jalan keluar. Aku ingin bergerak tapi setiap langkah tertahan karena genggaman dan dorongan dari sekelilingku. Aku menunduk dan menoleh mencoba mencari celah untuk melepaskan diri tapi setiap gerakan hanya membuat mereka semakin dekat dan tekanan semakin terasa. Rasa takut bercampur tegang membuat pikiranku sulit fokus sementara tubuhku tetap terjepit di tengah perhatian mereka yang tak teralihkan.
Pria paruh baya yang biasa dipanggil pak Roy oleh anak buahnya langsung merangsek maju dan mengambil posisi tepat di depanku. Tangan kanannya segera meraih salah satu pahaku dan menahanku sehingga tubuhku tak bisa bergerak. Aku mencoba meraih rak di samping untuk menahan diri tapi genggaman kasar di pinggangku membuat usahaku sia-sia. Pahaku diangkat tinggi sampai sejajar pinggangnya sehingga posisiku terbuka dan tak bisa kututup.
Liat nih, gua yang pertama ngerasain amoy premium ini. Katanya sambil menekan tubuhku lebih dalam ke rak besi.
Dia menatapku dengan tatapan buas lalu melumat bibirku. Aku tercekik napas ketika dorongan benda keras itu tiba-tiba menghujam masuk tanpa aba-aba. Tubuhku langsung terguncang hebat dan punggungku membentur rak elektronik hingga beberapa kotak barang jatuh berdebam ke lantai. Rasa perih dan panas bercampur jadi satu sehingga aku memekik tertahan, tubuhku menegang dan napasku tercekat.
"Sialann.. !! Uuuhh.. Peeeeret.. banget nih meeeemek cinaaaa.. beeener... bener berasa daging importnya. Serunya dengan tawa puas dan bersamaan dengan itu hentakannya juga terasa makin dalam dan brutal seraya mengobrak abrik dinding kemaluanku yang sedang berdenyut.
Aku berdiri bersandar pada rak besar elektronik sementara tubuhku yang masih mengenakan pakaian seksi ditekan keras ke permukaannya. Tangan kirinya menahan pinggangku dengan kuat sehingga aku hampir tidak bisa bergerak dan setiap usaha untuk mundur atau menyeimbangkan tubuh sia-sia.
Tangan kanannya menekan pahaku agar tetap terbuka sehingga aku tak bisa menutup posisiku. Setiap dorongan yang ia berikan membuat kakiku bergetar hebat dan napasku tersengal. Aku hanya bisa bertumpu pada sebelah kakiku sementara yang lain terangkat, membuat keseimbangan tubuhku goyah dan seluruh tubuhku menegang. Aku merasakan setiap tekanan dari tubuhnya yang tegap dan gerakan tangannya yang mantap sehingga aku tak bisa bergerak leluasa. Napasku tersendat-sendat karena tegang dan setiap gerakan kecilku terasa sulit diatur.
Suara gesekan kulit dan benturan tubuh dengan rak bercampur dengan detak jantungku yang kencang. Tubuhku terasa terkunci di antara genggaman tangannya dan permukaan dingin rak, sehingga setiap gerakan yang kuusahakan untuk melepaskan diri terasa semakin sulit dan menegangkan. Aku mencoba menahan napas dan mencari celah untuk bergerak, tapi tidak ada ruang yang tersisa, membuatku semakin sadar akan cengkeraman yang mengekang seluruh tubuhku. Sorak-sorai langsung pecah di sekelilingku.
"Buruan pak.. kita semua udah gak sabar nih pengen nyicipin amoynya.. Kata mereka keras.
"Aaakhh.... ampunnn.. paaak.. eenghhg.. pelan pelaaaan... Ssssttt... Aku menggeliat dan mencoba melawan tapi setiap gerakanku justru membuat hujamannya makin beringas. Rak di belakangku bergetar keras setiap kali pinggulnya menghantam tubuhku. Suara logam berderak dan napas mereka yang kasar bercampur dengan ringisku yang tertahan memenuhi udara dingin di ruangan elektronik itu.
"Haha.. mana enak main pelan pelan.. amoy kayak lu tuh lebih nikmat digenjot kasar sambil ditontonin massa kayak gini !! Uukhh.. Kata pak Roy sambil terus menghujam penisnya keras keras membuat punggungku menghantam rak besi yang ada dibelakang berulang kali. Brukk.. Brukk.. Brukk.. uuuhh.. nikmatin nih kontoooll.. pribumiiii.. sssst.... daaaasar looonte.. cina murahan !!
"Aaaakkkhh.. udaaaah paaakk... Stooop.. aaakkhh.. jangaaann.. aku menggeliat sambil membanting banting kepalaku kekanan dan kiri sementara kedua tanganku mencoba memukul dan mendorong badan kekarnya.
Di sekelilingku belasan pasang mata menatap penuh gairah dan seolah menunggu giliran seperti kawanan binatang lapar yang mengelilingi mangsa.
"Gedor terus paaak.. sini biar gua bantu pegangin tangannya !!
Tanganku yang semula mencoba menahan dada pak Roy langsung diraih oleh pria lain yang berdiri di samping kiriku dan dengan satu gerakan kasar pergelangan tanganku disatukan lalu ditekan ke atas kepala sehingga aku tak bisa lagi berontak. Nafasku tersengal dan tubuhku kini sepenuhnya tergantung pada kekuatan mereka.
"Daripada dipengangin begitu mending diikat aja sekalian tangannya !! Kata pria lain yang membawa seutas tali plastik lalu dengan cepat mengikat kedua pergelangan tanganku yang sudah diposisikan dibelakang kepala lalu talinya disambung ke sandaran besi rak displaynya.
"Aaakkhh... Jangaaann.. baaang... Jangaann diiikaatt.. Jeritku panik tapi pria itu sama sekali tak peduli dan malah cengengesan.
"Anjirr... Tambah napsu gue liat amoy seksi diikat kayak gini.. Celetuk Pak Roy sambil mengurut urut penisnya yang semakin keras.
Pak Roy kemudian meraih paha kiriku yang sudah licin karena keringat dan mengangkat setinggi pinggangnya. Sekarang tubuhku sudah terangkat sepenuhnya dari lantai tapi punggungku masih menempel pada rak display elektronik di belakang, membuatku sedikit terhuyung tapi tetap ada tumpuan.
"Tahan raknya !! Perintah Pak Roy sambil bersiap untuk kembali menghujam.
Kedua tanganku masih terikat di belakang kepala sehingga aku tak bisa menahan atau menyeimbangkan tubuhku sendiri. Aku hanya bisa bertumpu pada genggaman Pak Roy di pahaku dan pergelangan tanganku yang terjepit kuat.
"Hahaha… liat nih! Amoynya udah digantung kayak hewan buruan !! Tinggal gua genjot sekenceng-kencengnya !! teriaknya penuh nafsu.
Posisi terangkat dengan kedua paha mengangkang lebar itu membuatku benar-benar terbuka dan tak memiliki perlindungan sedikitpun sehingga setiap gerakan atau hentakan penisnya langsung terasa di seluruh tubuhku. Napasku tersengal dan otot-ototku menegang menahan rasa tak nyaman dan terkejut. Aku bisa merasakan setiap tekanan dari genggaman Pak Roy dan setiap gerakan kecilnya membuatku semakin sadar akan posisiku yang rentan dan tak berdaya.
Begitu batangnya kembali menghunjam, hentakannya jauh lebih keras, lebih dalam dari sebelumnya. Seluruh tubuhku terguncang di udara, terdorong ke depan lalu terhempas ke belakang mengikuti irama pinggulnya. Aku mengerang dan kepalaku terlempar ke belakang hingga rambutku berantakan, mulutku terbuka tanpa suara yang jelas. Rak elektronik di belakang berderak tiap kali tubuhku tersentak, beberapa barang berukuran kecil kembali jatuh berserakan. Suara sorakan di sekeliling makin riuh:
"Anjirr.. jadi berasa kayak lagi nonton bokep live nih.. Kata seorang pria yang menonton sambil merekam dengan smartphonenya.
"Aaakkhh... Aaakkhh.. jangaaan pakk.. jangaann direkaammm.. aaakkhhh akuuu maluuu paaakk... Jeritku sambil memohon.
"Tenang aja non.. ini cuma buat koleksi pribadi aja kok.. gak akan disebarluaskan.. Heheh.. Jawabnya santai sambil terus merekam dan kali ini dia sengaja menyorotkan ke wajahku.
Tubuhku semakin menggeliat, rasa sakit dan nikmat bercampur jadi satu, membuatku tak tahu lagi mana yang lebih mendominasi. Pria yang berdiri didamping kiri ikut menahan kedua tanganku tetap di atas kepala, bahkan sesekali menarik rambutku agar wajahku mendongak. Aku tak bisa menghindar dari tatapan puluhan mata yang lapar, semuanya menunggu saat giliran mereka tiba.
"Liat nih.. ekspresi mukanya si non amoy divideo keliatan napsuin banget yaa.. Puji perekam video lainnya yang keliatan sudah cukup berumur.
"Hehe.. iya pak.. muka cinanya keliatan memelas banget.. kayak minta dikontolin orang sekampung.. Sahut pegawai lainnya.
Dengan posisi kedua kaki tergantung sambil menyandar seperti itu. Kurasakan setiap hentakan penis pak Roy terasa menghujam hingga ke dasar kemaluanku, menyalakan gairah panas yang semakin liar di dalam diriku. Aku berusaha merapatkan kedua kaki tapi cengkeramannya dipahaku terlalu kuat. Justru semakin aku berusaha merapatkan, semakin keras dorongannya masuk, membuatku terpekik panjang.
Aku hanya bisa menggeliat di udara, jadi mainan sepenuhnya, tubuhku diposisikan sesuka mereka. Belum sempat tubuhku menyesuaikan diri dengan hentakan brutal pak Roy tiba-tiba dia menarik mundur penisnya dari dalam liang kewanitaanku.
"Woii.. giliran siapa lagi nih sekarang ?!! Kata Pak Roy dengan penuh antusias.
Pria berikutnya berdiri tepat di depanku dengan kaki terbuka sedikit agar tubuhnya tetap seimbang lalu ia mengangkat kedua pahaku sehingga aku tidak lagi menapak lantai. Kedua tanganku masih dalam posisi di belakang kepala dan terikat yang ujung talinya disambungkan ke besi rak sehingga lenganku tidak bisa bergerak. Tubuhku terangkat sepenuhnya dan punggungku membungkuk mendekati rak di belakangku karena seluruh berat badanku ditahan olehnya. Posisi itu membuatku sulit bergerak dan aku hanya bisa bertahan dalam keadaan tergantung.
"Wah, gila… amoynya dilipat kayak boneka!”
Pria kedua tanpa basa-basi langsung menghunjam masuk dengan hentakan keras. Tubuhku yang masih tergantung berguncang hebat, suaraku keluar tak terkendali. Dia menghantam lebih cepat, seolah ingin membuktikan bahwa dia bisa lebih beringas dari yang sebelumnya.
Sorakan makin ramai:
Setiap kali batang pria itu menghunjam dalam, aku merasa tubuhku makin kehilangan kendali. Punggungku terbentur rak di belakang, sementara kedua kakiku yang terangkat hanya bisa terentang tanpa daya.
Berbagai sensasi kenikmatan terus menghujam tubuhku saat aku dipaksa bertahan dalam posisi persetubuhan yang tidak wajar itu.
Dua pria yang berdiri di sisi kanan dan kiriku menarik bajuku ke bawah hingga bustier putih yang menempel rapi di dadaku melorot ke bawah sehingga bentuk lekuk tubuhku lebih jelas terlihat. Tali tipis di bahuku ikut tergeser dan membuat tampilan bajuku tampak tidak rapi lagi. Rok pendek yang menempel di pinggulku bergerak pelan mengikuti setiap gerakan tubuhku dan bahan tipis bajuku yang menempel di kulitku menimbulkan sensasi rapuh sehingga aku merasa semakin tak berdaya.
Tangan tangan kasar mereka bergerak meremasi buah dadaku dan mencengkeram tanpa memberiku ruang untuk menolak. Tak cukup dengan hal itu keduanya juga berusaha merundukan badannya lalu mengulum, menghisap dan mengenyot tanpa ampun sampai aku merintih rintih keenakan.
"Amoy mana yang tahan kalau teteknya udah dikenyotin sama pribumi.. Haha.. Ledek salah satunya sambil terus mengulum puting susuku yang berwarna coklat muda.
"Aaaaakkhh.. jangaann baanng... Udaaahahh.. brenttiii... Jeritku lebih keras.
Keadaan itu membuat gairahku semakin meledak dan napasku tidak teratur karena tekanan datang dari segala arah dan aku sepenuhnya terkurung oleh situasi yang menjerat tubuhku.
Pria kedua memegang pinggangku dengan erat lalu menarik tubuhku maju dan mundur secara kasar hingga aku terasa seperti boneka hidup di dalam genggamannya. Dari kerumunan terlihat beberapa orang lain mulai maju karena tak sabar, wajah mereka dipenuhi nafsu sambil menunggu giliran untuk merebut posisi itu. Belum sempat pria itu mencapai klimaksnya tiba tiba badannya ditarik mundur dengan kasar.
"Sekarang giliran gue.. !! Kata pria berbadan besar itu penuh amarah bercampur nafsu.

.jpg)

Akhirnya di update..makasih suhu
BalasHapusRaka & gang bakal beraksi lagi haha
Finally...
BalasHapusLusi.... Enjoy....
Lusi...
BalasHapusAsyiknya, rame-rame, hahahaha