Sudah seminggu berlalu sejak kejadian malam itu tapi bayangannya tak pernah bisa kulupakan. Setiap kali aku mencoba sibuk dengan urusan kuliah atau membantu orang tua di rumah tetap saja pikiranku kembali ke sana. Semakin hari bukannya memudar malah semakin jelas dan semakin mendetail hingga membuatku gelisah setiap malam. Karena itu aku sering terbangun lalu duduk di depan cermin dan memperhatikan wajahku yang memerah entah karena lelah atau karena sesuatu yang lebih liar terus berputar di kepalaku.
Belakangan ini aku jadi rajin merawat diri dan hampir setiap bulan aku menyempatkan pergi ke salon untuk luluran, creambath atau sekadar masker wajah. Kadang orang rumah mengira aku hanya sedang manja padahal sebenarnya ada alasan lain. Entah kenapa aku ingin selalu tampak segar dan menarik karena aku ingin kulitku wangi, rambutku lembut dan tubuhku lebih terawat seakan akan aku sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang tidak bisa kusebutkan.
Rasa kesalku saat pertama kali melihat fotoku dipajang di situs cerita dewasa perlahan memudar. Awalnya aku marah besar karena merasa dilecehkan dan dipermalukan tetapi seiring waktu perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang aneh. Aku mulai sering memperhatikan fotoku sendiri dan justru merasa ada sensasi berbeda ketika membayangkan orang lain melihatnya.
Bukannya menjauh aku malah semakin berani mengupload foto diriku di medsos pribadiku dan foto foto itu sengaja kupilih yang menonjolkan sisi oriental dalam diriku. Aku menulis keterangan singkat yang terkesan menggoda seperti "difoto ini aku keliatan oriental banget ya" atau "penasaran banget sama reaksi cowok pribumi kalau abis liat foto chindo kayak gini.
Setiap kali aku menekan tombol upload selalu ada perasaan deg degan sekaligus puas dan aku membayangkan ada orang iseng yang melihat fotoku lalu menjadikannya sebagai fantasi liar mereka. Bayangan itu justru membuatku semakin bersemangat untuk mengunggah foto berikutnya karena aku seperti menemukan cara baru untuk merasakan perhatian meski dalam bentuk yang tersembunyi dan penuh resiko.
Semakin sering aku melakukannya semakin besar rasa candu yang muncul dan aku menunggu komentar, like atau pesan pribadi yang datang seolah olah semua itu menjadi bukti kalau keberadaanku benar benar diperhatikan. Aku sadar ini bukan hal biasa tetapi di dalam hati kecilku ada rasa ingin terus memancing reaksi orang lain terutama dari mereka yang penasaran pada sosok gadis chindo innocent dengan mata sipit dan kulit putih sepertiku.
Kembali Membaca Situs Cerita Dewasa
Malam ini aku berbaring di kamar dan lampu sengaja kupadamkan agar gelap bisa menutupi wajahku yang tidak bisa diam. Aku hanya mengenakan piyama tidur tipis dan celana pendek dan kainnya menempel pada kulitku yang masih terasa hangat setelah mandi. Udara malam yang seharusnya sejuk malah terasa sesak seolah ada bara yang berputar di dalam dadaku. Aku mencoba memejamkan mata dan menarik napas panjang tetapi gairah liar itu datang lagi bahkan lebih kuat daripada malam malam sebelumnya.
Aku meraih smartphone di meja samping tempat tidur dan jemariku sempat ragu tetapi akhirnya aku membuka layar lalu masuk ke situs cerita dewasa. Cahaya ponsel langsung menerangi wajahku yang sudah memerah sementara jantungku berdetak lebih cepat dan setiap kata yang kubaca seakan menghidupkan kembali malam brutal itu di kepalaku. Aku menelan ludah lalu menggigit bibir dan semakin larut dalam rasa yang tidak bisa lagi kutolak.
Jantungku langsung berdegup kencang dan mataku melebar ketika menemukan sebuah cerita dengan judul aneh. Saat kubuka aku terkejut setengah mati.
"Ternyata foto baruku kembali terpajang di sana… bisikku pelan
Aku sontak duduk karena itu jelas fotoku yang pernah kuunggah di medsos. Tubuhku gemetar tetapi aku terus membaca isi ceritanya yang penuh fantasi gila tentang diriku. Tanganku bergeser ke kolom komentar dan ratusan orang sedang membicarakanku. Ada yang bilang badan putihku layak dijamah pria pribumi bahkan ada yang terang terangan mengajak pembaca lain untuk menculikku dan menjadikanku sebagai pelampiasan napsu bersama.
Tapi aku benar benar merinding ketika membaca satu komentar ini
Komentar1: Kalian tau gak foto amoy innocent ini sebenarnya udah masuk ke forum gelap buat dijadiin bacolan rame rame dan banyak yang nungguin kalau dia mau digarap beneran seperti yang ada dalam cerita ini.
Komentar2: Waaah.. kalau dia beneran mau digituin sama pribumi pasti gua yang bakalan gabung pertama kali.
Komentar3: Iya baru liat fotonya aja udah bikin orang penasaran. Gimana kalau liat aslinya ya ?
Aku sulit bernapas normal karena rasa penasaran bercampur takut. Aku menekan tautan forum itu hingga telapak tanganku basah oleh keringat. Layar berubah jadi tampilan hitam yang asing dengan banyak thread berjejer dan aku mengklik salah satunya yang judulnya membuatku makin panas.
"Amoy pecinan ketagihan digilir pribumi lengkap dengan koleksi foto aslinya
Begitu terbuka aku spontan menutup mulut sendiri karena puluhan fotoku ada di sana. Dari yang kuunggah sendiri di medsos pribadi hingga potongan kabur yang sepertinya diambil dari CCTV minimarket waktu itu. Aku hampir menutup aplikasi tetapi mataku terpaku pada komentar komentarnya.
KangParkirLiar: Gue gak nyangka ternyata amoy pecinan bisa seliar itu padahal kalau diperhatiin mukanya pada kalem kalem semua tuh. hehe komentar seorang anggota forum yang sepertinya paham dengan daerah pecinan
HansipPecinan: Amoy pecinan emang beda banget sama amoy lainnya. Mata sipit, kulitnya putih kayak susu sapi, tampang polos dan oriental bener bener bikin pribumi kayak kita jadi penasaran
"Sialan.. fotonya bikin gue tambah sange aja beruntung banget tuh yang kebagian nyicip badannya balas sebuah komentar yang terus memperhatikan foto rekaman kejadian di minimarket meskipun wajah gadis itu tidak terlihat jelas dan sengaja diblur tetapi kulit putihnya sudah cukup menunjukkan kalau gadis itu seorang amoy
"Bang.. emangnya lu yakin tuh amoy tinggal di pecinan ? kalau seandainya bener mah mending kita seret aja dari tokonya terus bawa ke gudang kosong biar bisa kita ewe rame rame sampe kelenger haha.. komentar anggota forum yang makin nekat
"Setuju bang amoy pecinan kayak gitu emang layak dikontolin orang sekampung. Gue pengen liat langsung pas muka cinanya yang klasik itu lagi keenakan disodok kontol pribumi.
KangParkirLiar: Yakin lah. Soalnya gue kerja jadi tukang parkir di pecinan dan sering banget liat amoy model begitu di jalanan. Badannya tuh putih putih semua rasanya pengen gue jilatin dari ujung rambut sampe ujung kakinya.
Dadaku terasa makin sesak setelah membaca komentar di forum itu karena kata kata mereka begitu rasis dan menghujam tetapi anehnya aku malah makin bersemangat untuk terus membacanya. Aku pun mencoba melanjutkan menjelajah forum gelap itu dan kutemukan sebuah thread lain dengan tanggal postingan yang lebih lama dan juga berisi foto lamaku dengan judul :
"Amoy Innocent kayak gini enaknya diapain gaess..
RantaiBesi: Gue bayangin nih amoy ditelanjangin di halte bus pas jam pulang kerja dan orang orang yang baru turun dari bus langsung grepein badan putihnya. Ditelanjangin sampe bugil ada yang remesin tetek ada yang nyodok depan belakang sampe jerit jerit ada yang ngerekam pake HP dan ada juga yang ketawa sambil nyorakin kayak tontonan murahan
ApiKerusuhan: Ada yang tau rumahnya gak biar nanti kalau ada rusuh bisa kita serbu rame rame. haha..
Tubuhku gemetar ketika membacanya dan kedua pahaku merapat sementara basahnya terasa jelas di sana.
"Apa… apa aku benar benar akan bertemu dengan mereka bisikku sambil menggigit bibir. Otakku penuh bayangan yang sulit kukendalikan
Aku menggulir layar perlahan dan jantungku berdebar makin cepat setiap kali membaca komentar. Ada komentar lain yang lebih gila lagi
AmukMassa: Gue mah lebih suka bayangin amoynya digantung di depan pintu rolling door toko pecinan, tangannya diiket ke atas, badanya udah telanjang bulat. Orang lewat bebas grepein badannya yang putih itu. Teteknya diremas remas sambil ditampar. Abis itu baru digilir rame rame tanpa henti.
Aku menelan ludah saat membaca komentar berikutnya.
PenguasaTerminal: Gue pengen liat amoynya dipajang di terminal bus yang rame. duduk bugil sambil dipaksa ngangkang di kursi tunggu. Semua sopir dan kernet bebas gilir badannya yang putih itu, penumpang yang baru turun bus juga boleh antri. Setiap amoynya minta ampun mereka makin ketawa puas.
Aku meremas selimut erat-erat saat membaca bagian ini.
AmukanMassa: Bayangin amoynya digeret ke Lapangan terbuka pas ada acara konser rakyat. Semua orang lagi padet nonton dangdut, tiba-tiba amonya dilempar ke panggung dalam keadaan bugil. Penyanyinya berhenti, terus MC teriak, “Siapa mau entot amoy gratis?” Orang-orang langsung naik panggung buat entotin badannya secara giliran sambil disorakin ribuan penonton.
Kubaca lagi, makin liar.
Mataku tak beralih dari layar.
Jari-jariku terasa gemetar saat membaca komentar ini.
Dobrak Pecinan: Gue lebih sange kalo bayangin amoynya dipaksa jalan jongkok bugil di trotoar pecinan sore hari sambil badannya yang putih kayak susu itu dicoret-coret pilok. Ditulisin “LONTE CINA” biar semua orang tau. Setiap ada orang yang lewat bebas jambak rambutnya atau sumbatin mulutnya pake kontol. Amoynya jadi pajangan sekaligus pelampiasan nafsu mereka.
Dan akhirnya aku sampai di komentar terakhir, yang paling ekstrem.
PenjarahBrutal: Amoy kayak gini lebih pantes dipajang di tengah stadion pas selesai tanding bola. Ribuan suporter abis teriak-teriak, keringetan, langsung ngerubungin badannya yang mulus itu. Mereka bebas giliran entotin dia di atas lapangan rumput. Terus amoynya ditinggal telentang penuh peju di bawah lampu stadion.
Aku menutup mulut dengan telapak tangan karena takut suaraku sendiri terdengar di kamar yang sepi. Dadaku naik turun cepat dan jantungku berdegup makin gila. Setiap kata di forum itu seperti menusuk kepalaku dan membentuk gambaran yang bahkan tidak pernah berani kubayangkan sebelumnya.
Tanganku gemetar saat memegang smartphone. Tubuhku merinding sementara gairah hangat menjalar makin kuat. Ada rasa takut yang jelas terasa ketika membaca diriku diperlakukan begitu kasar. Namun di sisi lain ada denyut aneh di antara pangkal pahaku yang tidak bisa kuabaikan.
"Ya ampun kenapa aku malah begini? Bisikku pelan.
Aku menggigit bibir dan membenci diriku sendiri karena justru membayangkan semua itu nyata. Aku membayangkan tubuhku diseret massa yang beringas dan diperlakukan sesuka hati. Aku membayangkan wajah-wajah asing yang dipenuhi hasrat dan kebencian sedang menertawakanku sambil menghujam bergantian.
Aku menutup mata sebentar tetapi bayangan itu justru semakin jelas. Nafasku makin pendek dan tubuhku bergetar hingga aku sadar kalau aku semakin tenggelam dan semakin tidak bisa menolak. Aku menggulir layar lagi. Komentar-komentar baru terus muncul dan semuanya semakin gila dan semakin liar.
Gairah Dihari Kedua.
Keesokan harinya aku mencoba lebih berani berinteraksi. Meskipun memakai akun anonim aku mencoba menulis sebuah thread baru.
LontePecinan: Seandainya amoy difoto itu bersedia dijadiin budak pribumi. Apa yang akan kalian lakukan sama dia ?
User1: Gua mau seret amoynya ketengah bunderan jalanan yang lagi rame pas malam minggu. Lampu neon nyala, jalan rame, trus gue lepas bugil di tengah air mancur. Biarin diserbu massa beringas buat dientot giliran sambil direkam.
User2: Setuju bro. Apalagi kalo amoynya sambil dipaksa ngerangkak muter-muterin bunderan jalan yang lagi rame kayak anjing betina. Mulutnya disumbetin kontol, pantatnya ditendang biar tetep jalan !! Orang yang lewat pasti bakalan ngakak. Ada yg ngerekam, ada juga yg langsung ikutan pake.
User3: Jangan lupa bawa kestadion bro. Abis nonton tanding bola bayangin ada ribuan suporter beringas keluar, langsung liat amoy telanjang di parkiran. Mereka teriak-teriak sambil gantian pake. Biarin dia ditinggal tergeletak di aspal parkiran, muka cina dan badannya yang putih kayak susu itu bakalan penuh peju bikin semua orang puas.
User4: lebih seru kalau amoynya digeret ke demo depan gedung rakyat. Depan ribuan massa, dia dijadiin “trophy” di depan pagar kawat berduri. Orator teriak, “Ini amoy provokator!” terus massa gantian entot dia di atas mobil komando. Polisi yang jaga cuma bisa nonton doang.
User5: Gue setuju, makin rame makin mantap. Amoy kayak gitu emang nggak pantes disayang, pantesnya dijadiin mainan massa. Suruh dia sendiri bacain teks hinaan sebelum dipake: “Gue ini budak sex kalian semua. Baru digas rame-rame sampe kelenger.
Mungkin aku sudah gila. Batinku berbisik. Aku seharusnya marah karena fotoku dipakai seperti ini. Aku seharusnya jijik karena semua orang menuliskan hal-hal sebrutal itu tentangku. Namun ada bagian dari diriku yang merasa terjerat. Aku tidak bisa berhenti membaca dan tidak bisa mengalihkan mata meskipun ngeri dengan detail yang mereka tulis.
User6: Wkwkwk. Gue malah pengen liat tuh amoy dipajang di halte bus. Bugil diikat ke tiang besi halte yang udah karatan, dadanya dicoret-coret pilox “Lonte Pecinan" Orang yang lagi nungguin bus bisa antri entot, ada yg cuma bisa bayar pake rokok, ada juga yg maunya gratisan.
Tanganku sempat bergerak ke selangkangan sebentar lalu cepat-cepat kutarik kembali. Gairah hangat itu sudah terlanjur menyebar. Aku benci mengakuinya tetapi tubuhku menikmati setiap kali membaca bagaimana aku digambarkan tidak berdaya dan diperlakukan semaunya.
"Apa aku benar-benar ketagihan ? Tanyaku dalam hati tapi aku tidak berani menjawabnya.
Malam berikutnya aku sudah tahu apa yang akan kulakukan. Seharusnya aku belajar dari kemarin, seharusnya aku berhenti dan membuang jauh-jauh link forum itu. Tetapi tubuhku seperti punya kehendaknya sendiri. Aku menyalakan lampu kamar yang redup lalu merebahkan diri di ranjang. Smartphone kuambil dari meja, jantungku langsung berdebar saat jariku menekan ikon browser. Hanya butuh beberapa klik dan layar kembali menampilkan wajahku. Foto-foto yang pernah kupajang di media sosial kini jadi bahan fantasi kotor ratusan orang atau mungkin lebih. Komentar baru terus bermunculan sementara deretan kalimat yang semakin liar menungguku untuk membacanya.
User A: Anjir… muka cinanya bener-bener keliatan polos. Kayak amoy manja yang jarang keluar rumah. Tapi justru tipe beginian yang paling cocok kalo dijadiin budak kerusuhan. Bayangin dia diseret paksa ke tengah jalan, bajunya disobek sobek massa beringas sambil disorakin rame rame.
User B: Hahaha iya… apalagi kulitnya putih. Enak banget kalo diseret ke aspal, terus dipaksa nungging di tengah lingkaran banyak orang. Mulusnya jadi bahan hinaan rame-rame.
User C: Gue kebayang dia dipajang di atas mobil pick-up, bugil total. Massa gantian nyoret-nyoret badannya pake cat semprot, kasih tulisan hinaan gede-gede. Mukanya pucat sipitnya jadi tontonan.
Tubuhku justru bereaksi ketika aku berusaha mengabaikannya karena napasku menjadi berat dan keringat hangat mulai muncul di pelipis meskipun udara dari pendingin ruangan terus berembus kencang sehingga aku merasa seakan seluruh ruang menjadi lebih sempit dan sunyi.
User H: Kalau gue nemu amoy kayak gini ditengah kerusuhan. Amoynya bakalan gue iket berdiri telanjang di tiang lampu jalanan. Dua tangannya disatuin dan diikat keatas tiang biar badan mulusnya jadi terekspos didepan massa. Semua yang lewat bebas motret dan coret coret badannya pake spidol, bebas entotin dia sambil dicaci maki kayak pajangan kerusuhan.
User I: yang kayak gini mah mesti ngerasain yang namanya digilir massa tengah malam diatas aspal jalanan yang sepi. Setiap kali dia ngejerit massa bakal makin keras ketawanya.
User J: Fix ini cewek kalo masuk kerusuhan udah tamat. Mukanya polos jadi lonte cina idaman perusuh. Dianggap bukan manusia lagi dan cuma dijadiin barang jarahan kerusuhan buat puasin massa yang lagi ngamuk dijalanan.
Aku membayangkan diriku di tengah kerusuhan, berlari di antara api dan teriakan massa. Aku terjatuh lalu puluhan tangan meraih tubuhku dan merobek bajuku. Aku menjerit dan menangis, tetapi tidak ada yang peduli. Aku dipaksa telentang sambil mengangkang, diperebutkan seperti barang rampasan. Tanpa sadar tangan kiriku sudah menyusup ke bawah celana dalam sejak lama meski bibirku terus menggumam.
"Aku nggak mau.. aku nggak mau..
Tetapi tubuhku menghianati pikiranku. Rasa panas itu semakin menjadi-jadi dan setiap komentar rasis yang kubaca justru membuat tubuhku semakin liar. Aku menutup mulut dengan tangan supaya tidak terdengar oleh orang rumah, tangisku bercampur dengan erangan. Ketika akhirnya aku mencapai puncak, tubuhku melengkung, lututku gemetar, lendir kawinku membasahi celana dalam hingga terasa lengket. Aku terisak panjang, lemas, dan tergeletak tak berdaya. Aku benci forum itu. Aku benci orang-orang yang menulis komentar keji tentang diriku. Tetapi yang paling kubenci adalah diriku sendiri karena aku tahu besok malam aku akan kembali membuka forum itu lagi.
Gairah Dihari Ketiga
Aku sudah menyerah melawan diriku sendiri. Seharian aku mencoba sibuk ke salon dan belanja bahkan menonton sinetron sambil pura pura tertawa. Tetapi di kepalaku hanya ada satu hal yaitu forum itu. Begitu aku masuk kamar pintu langsung kukunci. Lampu kamar kupadamkan dan hanya layar smartphone yang menyala membias di wajahku. Tanganku bergetar tetapi aku tetap mengetik alamat forum itu. Dan lagi lagi fotoku terpampang. Kali ini lebih ramai karena ada thread baru tentang kerusuhan. Judulnya saja membuat tenggorokanku tercekat.
"Pengen coli sambil bayangin amoy lugu muka innocent kayak gini kena dijarah massa.
User10: amoynya udah layak jadi bintang kerusuhan. Massa ngamuk sambil nyeret dia keluar dari tokonya. Baju seksinya disobek buat ditelanjangin didepan semua orang.
User14: Amoynya di telanjangin diatas trotoar jalanan. Lalu disuruh merangkak nyamperin tiap kontol yang nongol dari celana massa. Semua orang rekam dibikin jadi viral.
User X: Gw pengen liat amoynya digotong rame-rame ditengah kerumunan massa yang lagi beringas. Dijadiin piala kerusuhan. Badan telanjangnya yang putih diangkat keatas, sebagian orang remesin teteknya dari bawah, yang lain rebutan nyolokin memeknya pake jari. Amoynya pasti bakalan meronta ronta sambil jerit jerit tapi nggak bisa kabur.
Aku menutup mulut dengan bantal untuk menahan suara yang hampir keluar. Dadaku naik turun cepat dan tubuhku sudah panas bahkan sebelum tanganku bergerak ke selangkangan. Mataku perlahan terpejam lalu imajinasi itu langsung hidup. Aku berada di tengah kota yang rusuh dengan api menyala di mana mana dan orang orang berteriak rasis dipenuhi kebencian. Aku berlari ketakutan tetapi sekumpulan pria menarikku dan merobek bajuku. Aku meronta tetapi mereka terlalu banyak. Rambutku dijambak dan tubuhku ditelanjangi di depan kerumunan sambil disoraki seperti hewan buruan yang berhasil ditangkap.
Aku bisa merasakan malu sakit dan ngeri yang luar biasa tetapi anehnya justru itu yang membuat gairahku makin liar. Nafasku terengah air mata keluar dan jari jariku bergerak makin cepat diselangkangan hingga aku sendiri tidak mampu menghentikannya.
Tubuhku menegang lalu melengkung kemudian meledak dalam gelombang gairah asing yang membuatku bergetar hebat. Aku jatuh terkulai di ranjang dengan keringat bercucuran dan celana dalam yang basah kuyup. Beberapa saat kemudian mataku terbuka lagi. Layar smartphone masih menyala di samping bantal dan komentar komentar baru terus bermunculan. Semuanya makin liar makin kejam makin menghujat ras dan tubuhku. Aku hanya bisa menangis dalam diam bukan lagi karena takut tetapi karena aku tahu malam esok aku akan kembali membuka forum itu lagi.
Aku sempat berpikir setelah klimaks liar semalam aku bisa berhenti tetapi ternyata tidak. Begitu aku sendirian di kamar tubuhku langsung gelisah. Aku meraih smartphone di meja lalu menyalakannya kemudian masuk ke forum itu lagi. Thread tentang fantasi liar kerusuhan yang menampilkan fotoku masih berada di halaman teratas. Komentar baru bermunculan tanpa henti semakin kasar semakin rasis dan semakin membuat dadaku sesak. Aku membaca perlahan satu per satu sementara jari jariku gemetar menyusuri layar.
User23: Bayangin amoy ini ditelanjangin di tengah perempatan yang lagi rusuh, badannya dicoret spidol ditulisin "BUDAK KONTOL’. Semua orang yang lagi pada ngerusuh bebas ngeroyok lubang-lubangnya.
Ada yang menuliskan kalau tubuhku pasti jadi rebutan pertama kalau ada kerusuhan sungguhan dan ada pula yang menertawakan wajahku sambil menyebutku amoy murahan yang pantas diperlakukan sekejam kejamnya. Setiap kata yang kubaca menusuk tetapi anehnya membuat dadaku bergejolak. Nafasku semakin berat dan keringat mulai muncul di pelipis. Aku tahu aku seharusnya menutup layar itu dan membuang jauh jauh link forum ini tetapi mataku terpaku dan tubuhku seolah menolak untuk berhenti.
Mataku menatap lama tulisan itu. Dadaku terasa sesak tetapi juga bergetar. Entah setan apa yang merasuki untuk pertama kalinya aku menekan tombol balas.
LontePecinan: Aku amoy tapi aku suka banget baca komentar kayak gini. Tanganku gemetar waktu mengetik dengan akun anonim yang belum lama kubuat. Keringat dingin muncul di telapak tanganku sementara jantungku berdegup semakin kencang. Aku tahu aku seharusnya tidak melakukannya tetapi jariku terus bergerak di atas layar.
PemburuAmoy: Gue yakin. Muka lo pasti mirip sama amoy yang jadi bacolan kita diforum ini. Putih sipit dan selalu bikin pribumi penasaran. Atau jangan jangan lo sendiri amoy yang ada di foto ini ? Kalau iya.. siap siap aja. Kita bisa bikin semua komentar itu jadi nyata.
LontePecinan: Siap siap gimana ? Emangnya kalian tahu aku tinggal dimana. Lagian itu kan cuma khayalan kalian aja. Kalian gak akan pernah bisa mewujudkannya. Tantangku dalam postingan diforum gelap.
MantanPerusuh: Sekarang ini jamannya serba canggih non. Kalau kita semua mau kita bisa lacak lokasimu dengan mudah. Nanti lo bakalan kita gulung buat dijadiin mainan rame rame semua anggota forum disini. Lo tinggal pilih aja mau disekap digudang tua apa pemukiman kumuh yang ada dibantaran kali ?
Darahku langsung berdesir dan jantungku nyaris berhenti. Aku menatap layar tanpa berkedip sementara keringat dingin mengalir. Bagaimana kalau mereka benar benar bisa menemukan aku.
LontePecinan: Maksud kamu apa ngomong kayak gitu. Coba buktiin kalau emang bisa ? Kalau berhasil nemuin lokasiku aku rela dibawa kemana saja sama kalian. Tantangku lagi dalam postingan baru yang membuat thread makin panas.
MantanPerusuh: Haha.. lu sendiri ya yang nantangin. Liat aja nanti kalau kita udah berhasil nemuin lokasinya maka lo akan langsung kita seret. Kita semua bakalan nikmatin badan putih lu sampe lo gak bisa berdiri lagi.
TukangCilokDadakan: Kayaknya kita gak perlu susah susah nyari hu.. Amoy klasik model begini mah kebanyakan tinggal di pecinan.. tiap hari ngomong pake bahasa cina sambil bantuin jaga toko bapaknya. Haha..
TukangJarahToko: Iye kalau nanti rusuh lagi tinggal kita serbu aja tokonya. Jarah semua barang barangnya sampe ludes terus amoynya kita ikat berdiri di rak toko buat digilir rame rame.
BakarKota: Haha.. nanti kalau bapaknya ngamuk gimana tuh hu..
TukangJarahToko: Palingan ngamuk bentar doang. Begitu liat anak gadisnya yang putih dan sipit ini lagi dijarah pribumi.. Yang ada si engkohnya malah sange dan pengen ikut nyicipin.
Aku menutup mulut dengan tangan dan tubuhku bergetar antara takut dan terangsang. Tanganku kembali bergerak ke selangkangan tapi kali ini lebih cepat. Sensasinya jauh lebih intens karena aku tahu komentar komentar itu ditulis untukku. Tubuhku meledak lagi dan punggungku melengkung di atas ranjang. Nafasku tersengal dan jari jariku basah serta lengket. Aku terkulai lemas diatas ranjang tetapi mataku tetap menatap layar. Di sana tepat di bawah tulisanku muncul balasan baru yang langsung ditujukan padaku.
Gairah Dihari Kelima.
Seharian aku berusaha menjauh dari forum itu. Aku coba sibuk dengan tugas kuliah, ngobrol sama teman, bahkan nonton drama, tapi percuma. Bayangan komentar-komentar liar tetap menempel di kepalaku. Kata-kata rasis, ancaman, dan fantasi brutal terus berputar tanpa henti.
Begitu aku masuk kamar dan sendirian, aku menyerah. Smartphone langsung kubuka dan jari-jariku mengetik alamat forum gelap itu. Thread tentang kerusuhan masih aktif. Komentar baru berdatangan, semakin kasar dan semakin gila.
PenjarahKenikmatan: Gue yakin amoy difoto ini pasti lagi baca diem diem threadnya sambil ngebayangin badannya yang putih lagi digilir rame rame sama pribumi.
MantanPerusuh: Kalau bener dia lagi baca, gue pengen tau ekspresi muka sangenya pas lagi baca. kita bahas tubuhnya kayak barang jarahan kerusuhan.
PemburuAmoy: Mungkin dia malah basah sendiri bro.. hahahaha. Amoy kayak gitu kan doyan dihina.
Aku menggigit bibirku. Kata-kata itu menusuk sekaligus membakar. Tubuhku gemetar, jantungku berdegup keras. Entah kenapa, tanganku kembali mengetik balasan. Kali ini aku tidak sekadar bertanya, aku memprovokasi.
LontePecinan: Kalau seandainya aku bilang. aku ini amoy yang ada dalam foto itu apa kalian akan percaya ?
Balasan langsung berdatangan.
TukangJarah: Kalau lo beneran amoy yang ada difoto itu buruan kasih bukti. Malam ini foto diri lo sambil pegang kertas bertuliskan nama lu dan forum kita. Kalau gak bisa buktiin berarti lo cuma pembohong.
PemburuAmoy: Haha.. kalau malu pake nama asli sendiri. Mending lu pakai nama samaran aja. Kalau bisa sih pakai nama cina lu aja biar kita makin greget bayanginnya.
Aku terdiam lama. Tanganku gemetar memegang smartphone. Setengah diriku ingin menutup layar selamanya tetapi setengah lainnya penasaran. Malam itu aku tidak bisa tidur. Kata kata di forum terus berputar putar di kepalaku.
KadalBurik: Kalau cuma ngaku doang mah semua juga bisa. Kita semua akan anggap lu cuma bohong kalau gak berani menunjukkan bukti yang kita minta.
AmukanMassa: Betul bro. Kalau dia beneran amoy. Pasti udah sange berat abis baca thread disini.
PenjarahKenikmatan: Buruan moy. Kasih buktinya malam ini juga. Soalnya kita semua penasaran. Apa bener ada amoy suka baca thread mesum kayak gini.
ProvokatorJalanan: Haha.. setuju bro. Kalau dia berani upload foto aslinya sekarang maka kita akan anggap dia sebagai ratunya forum.
Aku hanya bisa menggigit bibir dan jantungku berdetak kencang. Rasa takut malu dan terangsang bercampur jadi satu. Aku sadar betul kalau ini gila. Memberi mereka bukti berarti aku menyerahkan diriku pada orang asing pada kerumunan liar yang hanya melihatku sebagai objek fantasi brutal.
Aku berdiri dan berjalan ke depan cermin sementara cahaya kamar yang redup memantul di kulitku yang putih. Pakaian tidurku berwarna merah muda dengan tali tipis di pundak bergerak lembut setiap langkahku sehingga membuat bahuku tampak lebih kecil dan halus. Wajahku terlihat pucat namun mataku tetap memancarkan sayu yang anehnya justru menambah pesona. Bibirku tampak sedikit basah dan membuat bayangan diriku di cermin terasa berbeda.
Aku menyalakan kamera depan lalu mengibaskan rambut agar tergerai dan jatuh ke bahu. Rambutku mengikuti gerakan itu dengan lembut seolah ingin menunjukkan bahwa gadis Chindo berkulit putih di dalam cermin ini memang pantas dijadikan penghibur para pria pribumi kasar yang haus seks.
Bayangan itu membuat tubuhku memanas perlahan hingga tengkukku seperti disengat hawa yang tidak seharusnya muncul di malam yang sunyi. Cahaya layar ponsel menyorot wajahku dan menambah tegang di dadaku karena aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika foto itu benar-benar kuunggah. Dalam kepalaku muncul bayangan ratusan komentar yang berdatangan tanpa henti seperti arus manusia yang saling dorong di tengah kerusuhan. Mereka akan menilai tubuhku, membolak-balik diriku dengan kata-kata yang kasar dan membuatku terasa kecil seolah tubuhku adalah barang yang dilemparkan ke tengah kerumunan.
Tenggorokanku terasa kering dan perutku mengeras ketika bayangan itu semakin jelas. Tanganku mulai bergetar saat meraih pulpen yang tergeletak di meja. Getaran itu bukan hanya dari ketakutan tetapi juga dari tekanan yang menyesakkan seperti ada dinding yang perlahan menutup dari segala arah. Aku menarik secarik kertas lalu menekannya di atas meja agar tidak goyah dan dengan susah payah mulai menuliskan nama cinaku. Setiap huruf terbentuk dengan goresan yang tidak stabil seakan aku sedang menandatangani sesuatu yang berbahaya.
Kertas itu terasa berat di ujung jariku. Berat seperti bukti yang tidak bisa ditarik kembali. Bukti bahwa aku benar membaca forum itu dan membiarkan kata-kata mereka menembus sampai ke ruang pribadiku.
"Lie Shien – [nama forum] Bisikku pelan.
Aku duduk di tepi ranjang sambil memegang kertas itu di depan dada. Kamera sudah siap tetapi tepat sebelum menekan tombol aku berhenti. Nafasku memburu dan keringat dingin membasahi pelipis.
“Gila aku benar benar mau ngasih makan mereka. batinku bergetar.
Namun ada suara lain yang berbisik “Justru itu yang bikin enak. Mereka akan tahu kamu nyata, kamu ada dan kamu menikmati ini.
Aku hampir menekan tombol tetapi buru buru menjatuhkan ponsel ke kasur. Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan tubuhku bergetar hebat. Sekujur tubuhku basah lagi tetapi kali ini lebih dari sekadar basah. Rasanya aku seperti berada di tepi jurang dan tinggal selangkah lagi aku benar benar melompat ke dalam dunia yang tidak ada jalan keluarnya.
Gairah Dihari Keenam
Aku bangun dengan mata berat karena semalaman gelisah. Tubuhku masih lemas tetapi tanganku langsung meraih ponsel di meja samping. Forum itu lagi yang pertama kali kubuka. Aku tahu seharusnya berhenti tetapi jariku seperti punya pikiran sendiri. Thread yang menampilkan fotoku makin ramai dan komentar baru sudah menunggu.
MantanPerusuh: Ternyata lu cuma amoy palsu. Mana buktinya kalau lu emang beneran amoy.
TukangJarahToko: Dia pasti udah basah kemarin tapi gak sanggup kasih bukti.
PemburuKenikmatan: Kalau lo beneran amoy coba sesuatu yang gampang dulu. Malam ini pakai baju merah terus upload bagian kecil tubuh lo. Gak usah kasih liat muka dulu biar kami tahu lo nyata.
PenjarahKota: Ayo buruan kasih tanda kalau lo serius main sama kita. Asal lu tau aja sebenernya lu itu bukan amoy pertama yang masuk ke forum ini.
PerusuhAnarkis: iya amoy yang sebelumnya malah lebih berani. Masih sekolah tinggal dipecinan tapi kalau main habis habisan. Sampe rela kita samperin ke rumahnya buat dijarah massal kayak waktu jamannya kerusuhan dulu.
Aku berkali kali menelan ludah dan wajahku terasa hangat karena dorongan itu muncul lagi dan tidak mau pergi. Mereka menantangku lagi dan meski kemarin aku gagal sekarang rasa itu malah semakin kuat seolah ada sesuatu yang mendorongku dari belakang tanpa memberi kesempatan untuk menolak. Padahal aku hanyalah gadis chindo rumahan yang tidak suka jadi pusat perhatian dan selalu berusaha menjaga diri agar tetap sederhana. Namun yang terjadi kali ini justru kebalikan dari semua kebiasaanku karena ada bagian dalam diriku yang tiba tiba ingin dilihat, disentuh atau bahkan dijarah habis habisan, bukan hanya harta bendanya saja tapi juga tubuhku seperti para gadis tionghoa dijaman kerusuhan dulu.
Aku berjalan ke lemari dan menarik kaos ketat berwarna merah yang jarang kupakai karena warnanya terlalu mencolok untuk seseorang sepertiku. Kaos itu terasa berbeda di tanganku seakan warna merahnya sudah tahu bahwa malam ini aku tidak lagi bersembunyi seperti biasanya.
Aku mengenakannya perlahan lalu berdiri di depan cermin dan melihat bagaimana kainnya menempel erat di tubuhku hingga membuat dadaku terlihat menonjol jelas. Warna merah itu tampak kontras dengan kulitku yang putih sehingga menciptakan kesan yang langsung menarik perhatian. Rasanya siapapun yang melihat pasti akan dibuat penasaran oleh perpaduan warna yang terlalu berani itu dan jantungku berdetak semakin cepat ketika membayangkan kemungkinan itu.
Aku duduk di ranjang sambil menyalakan kamera. Kali ini aku hanya memotret bagian dadaku tanpa wajah. Di tanganku ada kertas kecil bertuliskan nama forum yang kutempelkan di perut. Klik. Satu jepretan tersimpan.
Aku menatap hasilnya dengan napas tersengal. Aku tahu sekali foto ini terkirim aku tidak bisa menariknya lagi. Aku benar benar akan menyerahkan diriku pada orang orang asing itu. Aku membuka forum lagi dengan tangan gemetar di atas tombol unggah. Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Komentar liar. Fantasi brutal. Ejekan dan pujian. Semua mata mereka akan tertuju padaku.
"Lakukan Lie Shien sekali saja.. bisikku sendiri samar tapi jelas.
Namun aku masih berhenti. Layar ponsel tetap terbuka di tanganku. Komentar baru masuk seolah tahu aku sedang ragu.
PemburuKenikmatan: Kita semua tahu lo pasti lagi mikir. Buruan upload bukti fotonya sekarang atau kita semua akan menganggap lo cuma seorang penipu didunia maya.
PribumiPerkasa: Ayo moy kirim fotonya. Cuma sekali klik doang. Gak usah takut. Diluar sana juga banyak amoy lain yang penasaran kayak lo gini. Lagian elo juga gak rugi apa apa kan karena badan lo kagak disentuh sama kita.
"Astaga… aku benar benar melakukannya. bisikku dengan suara bergetar. Tidak sampai satu menit komentar langsung membanjiri layar ponselku.
“Anjir ternyata dia beneran. Meskipun mukanya gak keliatan tapi gua yakin kalau itu foto amoy asli gak pake editan.
"Kaos merah. Badannya putih mulus. Pasti amoy beneran yang minta digulung.
"Tokednya kecil tapi makin bikin sange kayak amoy sekolahan. Cina betina kayak gini emang paling pas digilir rame rame sama pribumi.
“Bayangin kalau kerusuhan dulu ada dia. Gak usah jauh jauh cukup digilir di tengah jalan. Ditelanjangin didekat tumpukan ban yang lagi dibakar. Mukanya yang innocent itu pasti nangis nangis minta dilepasin. Tapi malah bikin massa tambah napsu sama dia.
“Lo udah jadi properti forum sekarang moy. Mulai hari ini tubuh putih lo bakal jadi bacolan kita semua.
Aku menelan ludah. Telapak tanganku basah. Antara ngeri dan anehnya rasa itu membuatku makin terikat. Aku terus membaca meski dadaku sesak. Komentar lain muncul makin liar.
"Besok coba kirim lagi foto lainnya. Kalau bisa jangan cuma dada. Tunjukin paha lo biar jelas lo serius sama kita.
“Amoy muka lo pasti cina banget. Pasti kalau lari ketakutan pas kerusuhan dulu perusuh pada rebutan narik baju lo sampe robek. Gue pengen liat ekspresi takut lo pas digiring rame rame.
“Bayangin kalau amoynya dipajang di tiang listrik kayak pas kerusuhan dulu. Massa ngantri depan belakang dihajar sampe lemes. Siapa aja yang nonton boleh ikutan.
“Satu foto doang udah bikin forum meledak. Besok harus kasih bukti yang lebih hot. Lo gak boleh mundur sekarang.
Tanganku bergetar hebat. Di sela ketakutan itu ada denyut aneh yang tak bisa kuabaikan. Bagian tubuhku terasa hangat. Celana dalamku lembap tanpa kusadari. Aku menatap cermin lagi. Wajahku memerah dan mataku basah.
LontePecinan: Ya ampun… apa yang sudah aku mulai. bisikku setengah takut setengah ketagihan.
“Kemarin lo udah ngasih bukti, hari ini lo mesti kasih bukti lebih kuat buat naik level, moy.
“Kalau beneran berani, tunjukin pake cermin. Jadi kita bisa liat muka lo samar-samar. Biar makin fix kalau lo itu amoy forum yang pengen direndahkan.
“Di kerusuhan dulu banyak amoy yang kabur ke rumah. Lo kalo muncul kayak gini, udah pasti massa rebutan. Kayak dapet jackpot.
“Bayangin kalau amoy kayak gini diseret ke terminal, baju tipis sobek sendiri, langsung digilir sama tukang becak. Pasti bakalan jerit jerit tapi gak ada yang nolong.
Aku menggigit bibirku. Rasanya seperti ada dua suara di kepalaku: satu berteriak supaya aku berhenti, satu lagi mendorongku untuk terus. Aku meraba pahaku yang terbalut celana pendek. Hangat. Tubuhku terasa mendesak sendiri. Komentar lain muncul lagi.
“Lo udah keterlaluan bikin kita nagih. Malem ini minimal kasih liat paha atau tetek. Kalo nggak, jangan harap forum berhenti ngomongin lo.
“Gue pengen banget liat muka cinanya yang innocent itu pas lari ketakutan. Kalo nemu lo pas kerusuhan, sumpah langsung digilir massa sampe mampus.
“Lo sadar gak, amoy? Sekarang lo properti forum. Lo sendiri yang buka pintu, jadi jangan coba-coba tutup lagi.
Aku menutup mata dengan napas tersengal. Aku tahu seharusnya berhenti tapi tanganku justru meraih kamera ponsel dan membidik ke arah kakiku. Kutarik pelan celana pendekku hingga memperlihatkan sepotong pahaku yang mulus. Aku menaruh secarik kertas kecil di sampingnya dan menuliskan kata yang mereka minta. Klik, satu foto lagi tersimpan. Aku menggigil, rasanya seluruh tubuhku menolak tapi ada sesuatu di dalam diriku yang malah mendesak, unggah.
Malam berikutnya setelah dua malam hanya memandangi layar sambil membaca komentar liar, aku akhirnya melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan. Aku membuka kamera depan, cahaya lampu kamar menyinari wajahku. Jantungku berdegup kencang seolah ingin pecah dan tanganku gemetar menekan tombol. Satu jepretan, wajahku terpampang jelas, mata sipit, kulit putih pucat, bibir tipis yang kugigit cemas. Aku menatap hasil fotonya lama, rasa takut merayapi seluruh tubuhku.
Entah kenapa jariku justru menekan tombol upload. Detik berikutnya wajahku sudah berada di thread itu. Foto pahaku sebelumnya masih terpampang di atas, kini ditambah foto wajah. Aku menggigit bibir sampai perih, notifikasi langsung meledak di layar.
[Komentar #202] Sumpah pengen jambak rambut hitamnya, paksa dia nungging di jalanan. Mukanya ditarik biar ngeliat langsung orang-orang yang lagi ngantri di belakang.
[Komentar #203] Mukanya bener-bener innocent. Cina banget. Pasti perusuh makin brutal kalo liat beginian. Gue aja liat di foto udah kebayang amoy ini digilir rame-rame, apalagi kalo real.
[Komentar #204] Gak salah lagi, ini amoy asli milik forum sekarang. Wajah sama paha udah lengkap. Besok-besok pamerin tetek sama mekinya. Step by step sampe telanjang semua.
Aku menutup mulut dengan tangan dan tubuhku bergetar. Ada perasaan hancur dan malu tetapi bersamaan dengan itu ada sesuatu yang justru semakin mendorongku untuk terus membuka komentar. Tubuhku terasa panas sementara keringat dingin bercucuran. Aku tahu aku sudah melangkah terlalu jauh karena foto wajahku kini milik forum itu. Aku menatap layar tanpa berkedip dan setiap detik notifikasi komentar baru masuk memenuhi thread itu. Nama nama anonim berteriak seakan mereka benar benar sedang mengerubutiku.
[Komentar #205] Mukanya terlalu mulus buat orang kampung. Kebayang pas kerusuhan ketemu muka cina kayak gini, pasti gak ada yang selamat. Digilir sampai pingsan pun masih pada rebutan.[Komentar #206] Pengen liat muka cinanya yang innocent itu pas lari-lari ketakutan. Teriak minta tolong tapi malah ditarik ke gang sempit. Dipaksa ngangkang di aspal jalanan sambil ditonton massa.
[Komentar #209] Kalau rusuh beneran terulang, amoy ini gak akan bisa kabur. Sekali ketemu muka kayak gini, langsung dipaksa telanjang di jalan. Cina-cina begini emang paling bikin napsu massa.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. Setiap kata cina yang mereka tulis menusuk telingaku tapi bersamaan dengan itu tubuhku semakin panas. Perasaan hina bercampur dengan sensasi yang sulit dijelaskan membuatku menutup kedua pahaku dengan tangan. Dadaku naik turun dan pikiranku kalut.
LontePecinan: Kenapa aku begini… kenapa membaca semua ini justru membuatku semakin ingin tahu komentar berikutnya" gumamku pelan sambil menggigit bibir hingga hampir berdarah.
Aku sudah tidak kuat lagi menahan desakan di dalam tubuhku. Setiap komentar terasa seperti cambuk yang menghantam langsung ke pikiranku dan membuatku benar benar percaya seolah aku sedang berada di tengah kerusuhan itu. Aku menatap layar dengan tubuh yang semakin bergetar.
[Komentar #211] Bayangin ratusan orang ngantri di jalan, api kebakar di belakang. Dia ditelanjangin di atas mobil yang yang udah dirusak massa, digilir terus sampai gak sadar diri. Amoy kayak gini emang cocoknya jadi mainan massa.
Aku memejamkan mata dan bayangan itu muncul begitu jelas. Tanganku dicengkeram kasar dan ditarik paksa, rambutku dijambak mengangkang terbuka ditengah lautan massa. Jeritan dan tangisan bercampur dengan suara tawa, teriakan dan api. Tanganku bergetar, aku tidak sadar sudah memasukkan jemariku sendiri ke dalam celana pendekku.
Sentuhan itu membuatku hampir menjerit. Hangat, basah dan memalukan. Aku menahan napas sambil menggigit bantal agar suaraku tidak terdengar keluar kamar tapi tubuhku bergetar semakin keras. Komentar berikutnya muncul di layar ponselku, membuat mataku kembali terbuka lebar.
"Aaakkh.. Kenapa aku begini… kenapa justru hal seperti ini yang membuatku bergairah. bisikku pelan pada diriku sendiri.
Pesan itu terkirim dan jantungku berdetak tak karuan seperti sedang menunggu sesuatu yang menakutkan sekaligus menggairahkan. Tidak butuh waktu lama karena Raka langsung membalas.
"Heh.. Lu makin binal aja Lus. Kalau mau rame mah gampang. Gue bisa ajak teman teman yang kerja di minimarket lain. Nanti kita mainnya abis toko tutup aja biar nggak ada yang ganggu.
Aku menggenggam ponsel lebih erat hingga jemariku terasa pegal dan tanganku gemetar ketika mulai mengetik balasan. Setiap huruf yang kuketik membuatku semakin gugup dan aku sempat menghapus kalimat pertama karena terlalu berbelit lalu mencoba lagi dengan kata kata yang lebih singkat. Rasanya seperti ada yang menekan dadaku dari dalam hingga membuatku sulit bernapas normal dan aku tahu setiap kata yang kutulis sekarang bisa membuka jalan ke sesuatu yang lebih jauh.
Sambil menatap layar aku menggigit bibir bawahku dan bertanya pada diriku sendiri apakah aku benar benar siap tetapi jemariku tidak mau berhenti. Aku mengetik cepat lalu berhenti sejenak kemudian mengetik lagi dengan tangan yang semakin gemetar. Ada rasa takut bercampur penasaran dan sebuah dorongan liar yang membuatku tidak ingin berhenti meski seluruh tubuhku sudah terasa panas.
Raka membalas lagi dengan singkat tapi tajam dan seakan menjanjikan sesuatu yang lebih gila daripada sebelumnya.
"Oke siap. Malem ini jam 10 abis tutup. Lu langsung dateng aja. Biar gue yang siapin semua pesertanya.
Aku menggigit bibirku keras keras hingga terasa perih dan di ruang kuliah itu aku seperti orang asing. Suara dosen tidak lagi terdengar dan suara teman teman sekelas hanya lewat begitu saja tanpa pernah benar benar masuk ke telingaku. Pandanganku kosong menatap papan tulis tetapi pikiranku berputar liar. Jantungku berdetak cepat dan tanganku yang memegang pulpen basah oleh keringat. Rasanya setiap detik begitu lambat seolah seluruh dunia hanya ingin memaksaku menunggu sesuatu yang belum terjadi. Yang tersisa di kepalaku hanyalah bayangan malam nanti di minimarket itu bersama Raka dan bersama teman temannya yang memenuhi imajinasiku dengan sesuatu yang lebih ramai dan lebih liar.
"Jangan lupa nanti malam jam sepuluh gue tunggu di minimarket seperti biasa tapi kali ini gue mau lu pakai baju seragam sekolahan biar berasa lebih hot permainannya
Aku terdiam sejenak dan mataku terpaku pada layar. Nafasku langsung tersendat dan dadaku naik turun tidak beraturan. Jantungku berdegup lebih cepat seakan mau melompat keluar. Jemariku gemetar saat menggenggam ponsel dan tenggorokanku terasa kering padahal baru saja aku menelan ludah. Di kepalaku muncul bayangan tentang seragam putih abu abu yang sudah lama kusimpan di lemari dan bagaimana rasanya jika benar benar kupakai lagi. Saat aku masih mencoba menenangkan diri sebuah notifikasi lain kembali masuk ke layar ponsel.
Aku menggigit bibir bawah tanpa sadar dan bayangan langsung memenuhi kepalaku. Aku membayangkan tubuhku terbungkus seragam putih abu abu yang ketat dan wajahku yang harus pura pura ketakutan seolah aku benar benar pencuri. Sensasi itu membuat darahku mengalir lebih cepat ke seluruh tubuh dan napasku terasa semakin berat. Kulitku merinding padahal kamar cukup hangat. Tanganku gemetar saat mulai mengetik balasan dan setiap huruf yang muncul di layar membuat jantungku berdetak lebih keras.
Aku melangkah ke lemari dan membuka pintunya perlahan lalu aroma kayu bercampur wangi sabun cuci langsung tercium. Jemariku menelusuri deretan pakaian yang tergantung rapi sampai akhirnya berhenti pada satu setelan yang sudah lama kusimpan. Kemeja seragam sekolah putih tipis itu terasa dingin di kulit saat kugenggam dan rok abu abu sebatas paha tergantung tepat di bawahnya. Di sisi kanan ada dasi kecil yang masih terlipat rapi meski warnanya sedikit pudar.
Tanganku bergetar saat menarik gantungan keluar dan aku memandanginya lama sambil membiarkan lampu kamar yang temaram jatuh di atas kain. Saat kutempelkan ke tubuhku aku sadar kemeja itu sudah lebih sempit dibanding dulu karena buah dadaku menekan kain tipisnya dan kancing bagian atas hampir terbuka sendiri. Rok abu abu itu juga sudah ketat hingga terasa sulit jika harus duduk lama. Ketika kusentuh dasinya aku bisa membayangkan wajahku yang akan tampak semakin muda dan polos.
“Ya ampun.. aku benar benar mau melakukan ini. Bisikku pelan sambil menekan pakaian itu ke dada. Tubuhku bergetar dan bulu kudukku berdiri seakan seragam sekolah itu menyimpan rahasia yang hanya akan terungkap malam nanti.
Jarum jam bergerak cepat mendekati pukul sembilan malam. Aku berdiri di depan cermin dengan tubuh hanya berbalut handuk. Nafasku berat dan jantungku berdetak kencang sampai terasa di tenggorokan. Ada rasa tegang bercampur gairah yang membuatku sulit menenangkan diri.
Seragam SMA yang tadi kusiapkan kini tergeletak rapi di atas ranjang. Tanganku bergetar ketika meraih kemeja putih tipis itu lalu segera kukenakan. Kainnya dingin menempel di kulit dan terasa semakin ketat karena tubuhku sudah jauh berbeda dari masa sekolah. Begitu semua kancing terpasang rapi hingga ke bagian atas kemudian aku menatap bayangan diriku di cermin. Kemeja itu tampak menonjolkan lekuk tubuhku yang kini lebih dewasa, sementara jahitan di bagian dada dan pinggang seperti tertarik menahan bentukku. Rasanya aneh melihat seragam yang dulu terasa longgar kini begitu sempit hingga menekan kulitku namun justru perasaan itu yang membuat nafasku semakin cepat.
Rok abu abu kuangkat perlahan lalu kupakai hingga pas di pinggang. Potongannya ketat dan lebih pendek daripada rok kuliah yang biasa kupakai sehingga setiap gerakan membuatnya terasa menekan pahaku. Aku berdiri di depan cermin dan hampir tidak percaya dengan pantulan tubuhku. Bayangan itu benar benar seperti siswi SMA nakal yang seakan siap menerima hukuman.
Aku menambahkan dasi kecil dan mengikatnya dengan asal seperti kebiasaanku dulu. Rambut panjangku kukuncir kuda sehingga wajahku terlihat lebih muda dan polos. Setelah itu aku mengambil kaos kaki putih pendek lalu kupakai hingga menutupi mata kaki sehingga keindahan betisku justru makin terlihat jelas saat kulangkahkan kaki di depan cermin. Aku sengaja tidak mengenakan sepatu lebih dulu karena ingin merasakan nyaman beberapa saat sebelum berangkat.
Aku mundur selangkah lalu berdiri tegak di depan cermin. Seragam itu melekat ketat di tubuhku yang sudah dewasa sehingga setiap lekuk terasa semakin jelas. Wajahku yang masih terlihat lugu justru membuat bayangan di cermin tampak kontras. Ada sensasi aneh yang menyergap antara malu dan takut sekaligus bergetar oleh rasa penasaran yang semakin sulit kutahan.
Tanganku meraih ponsel di meja lalu kubuka chat dengan Raka. Jemariku sempat bergetar sebelum akhirnya kuarahkan kamera ke tubuhku. Aku mengambil foto setengah badan yang menampilkan kemeja putih rapat menempel di dadaku. Begitu terkirim, napasku tersengal dan jantungku berdetak lebih cepat.
"Aku sudah siap.
Beberapa detik kemudian layar ponselku menyala kembali. Balasannya singkat tapi tegas.
"Bagus. Jam sepuluh aku tunggu di minimarket. Jangan telat.
Aku menutup layar ponsel dengan tangan yang masih bergetar lalu kembali menatap cermin. Pandanganku menyusuri setiap detail seragam yang kini melekat di tubuhku. Aku menarik napas panjang seakan berusaha menenangkan diri, namun setiap tarikan hanya membuat dadaku semakin penuh dengan rasa panas yang sulit dijelaskan. Semakin lama aku menatap pantulan itu, semakin kuat perasaan bahwa aku benar benar sedang masuk ke dalam peran yang ia siapkan. Seorang siswi SMA bandel yang akan mendapat hukuman brutal malam ini.
Aku melirik jam dinding di kamar. Jarum pendek sudah menunjuk ke angka sembilan lewat dua puluh sehingga waktunya hampir tiba. Aku segera merapikan seragamku sekali lagi lalu menambahkan bedak tipis di wajah agar terlihat segar. Setelah itu kuambil tas kecil selempang untuk menyimpan ponsel dan dompet sebelum kuletakkan di sisi ranjang.
Di ruang depan mama dan papa sedang membereskan warung bakmi. Kursi kayu sudah disusun ke atas meja, panci kuah besar ditutup kain dan aroma bawang putih masih kuat memenuhi rumah. Mama sibuk merapikan mangkok sementara Papa mengelap meja panjang yang biasa dipakai pelanggan. Aku berdiri sebentar menunggu waktu yang pas lalu dengan suara datar tapi dibuat senormal mungkin aku berkata
"Ma.. malam ini aku ada acara reuni dengan teman sekolahan. cuma sebentar kok dan acaranya juga gak jauh dari sini.
Mama menoleh cepat dengan alis terangkat
"Reuni sekolahan malam malam begini ?!!
Aku buru buru menambahkan alasan yang sudah kupikirkan sejak tadi
"Iya ma.. reuni kecil aja makan makan di kafe sama temen temen lama. Aku bareng mereka kok jadi aman dan pulangnya juga bakal dianterin sampai rumah.
Mama menatapku dari atas sampai bawah dan pandangannya berhenti sebentar di seragam SMA yang kupakai. Ada kerutan tipis di dahinya tapi mungkin ia mengira itu hanya bagian dari tema reuni
"Ya sudah tapi hati hati. Jangan pulang terlalu malam. Mama sama papa udah capek mau tutup kios. Kalau bisa kabari kalau sudah mau pulang.
"Iya ma pasti.. Sahutku sambil mengangguk cepat.
Papa hanya melirik sebentar sambil menaruh lap di meja
"Jangan macam macam di luar. Kamu itu anak perempuan jadi harus jaga nama baik keluarga katanya pendek lalu kembali sibuk membereskan kios bakmi.
Di jalan yang sedikit gelap aku menarik napas panjang. Rasanya seperti baru saja melompati garis batas, meninggalkan rumah dengan kebohongan kecil lalu menuju sesuatu yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya mengerti. Begitu melewati pagar halaman hawa malam langsung menyergap kulitku. Jalan kecil ini memang tidak ramai karena jam sepuluh malam kebanyakan rumah sudah tertutup rapat dengan hanya lampu teras yang menyala redup.
Aku berjalan pelan memakai seragam putih abu abu yang terasa mencolok di tengah suasana malam pecinan. Rok abu abuku bergoyang setiap kali langkahku bergeser. Aku sengaja jalan kaki karena jarak ke minimarket hanya sepuluh menit. Di kiri kanan jalan, bangunan ruko tua bernuansa klasik oriental sudah banyak yang tutup dengan rolling door tertutup rapat, hanya beberapa kedai kopi kecil yang masih buka dan dipenuhi suara obrolan orang tua yang main catur. Lampu jalan berderet terang namun tetap meninggalkan sudut sudut gelap di gang sempit. Bau dupa samar masih tercium dari kelenteng di ujung jalan bercampur dengan aroma minyak goreng dari penjual nasi goreng kaki lima.
Setiap kali melewati gang yang sepi jantungku berdetak semakin kencang. Suasana ramai di jalan utama justru membuatku makin waspada karena seragam putih abu abuku jelas menarik perhatian. Di benakku bayangan tentang apa yang akan terjadi nanti membuat langkahku semakin berat tapi juga sulit untuk berhenti.
Aku menggenggam tali ransel kecil warna pink bergambar stroberi yang kupakai di punggung. Tas itu memberi kesan feminim dan manja seolah benar benar anak sekolahan. Di dalam kepalaku kata kata Raka yang kukirim sore tadi terus berulang. "Pakai seragam sekolahan. Kita bikin seolah kamu nyuri barang buat dihukum. Teman teman nggak kukasih tau biar makin beringas.
Di tikungan dekat bengkel motor, aku sempat bertemu dua bapak-bapak yang baru pulang kerja. Mereka melirik ke arahku sebentar, mungkin heran ada anak berseragam sekolah jalan malam-malam. Aku menunduk cepat-cepat dan mempercepat langkah sampai mereka menghilang di belakang.
Lima menit kemudian, lampu terang dari minimarket sudah terlihat dari kejauhan. Kotak cahaya itu berdiri kontras di tengah jalanan yang sepi, seperti magnet yang menarik kakiku semakin cepat.
Aku berhenti sebentar di seberang jalan, menatap bangunan itu. Dari balik kaca bening, kulihat Raka sedang sibuk menyusun rak dekat kasir. Rasanya seperti dadaku dihantam palu—tegang, takut, tapi juga penuh rasa ingin tahu.
Aku menarik napas panjang, merapikan rok abu-abuku sekali lagi, lalu menyeberang jalan menuju pintu minimarket yang berkilau terang.
Begitu pintu kaca bergeser, bunyi sensor kring khas minimarket langsung terdengar. Udara dingin dari AC menyeruak, menusuk kulitku yang masih hangat oleh perjalanan kaki barusan.
Toko sudah hampir tutup, jadi suasananya jauh lebih sepi dibanding biasanya. Rak-rak sebagian sudah dirapikan, beberapa masih ada kardus terbuka berisi stok yang belum sempat disusun. Lantai mengilap tapi tampak basah di beberapa titik karena baru saja dipel. Bau khas campuran sabun pel dan plastik dari barang dagangan memenuhi ruangan.
Di belakang rak bagian minuman, kulihat seorang pegawai sedang sibuk mengangkat dus botol mineral untuk disusun ulang. Sementara di dekat kasir, seorang lagi tengah menghitung uang, wajahnya terlihat lelah. Raka sendiri berdiri tidak jauh dari pintu masuk, pura-pura sedang merapikan snack. Saat matanya menangkapku, sekilas kulihat senyum samar tersungging di wajahnya—senyum yang seolah mengatakan “aku sudah menunggumu.”
Lampu-lampu neon di langit-langit membuat suasana jadi terlalu terang, nyaris tak ada sudut gelap untuk bersembunyi. Kontras dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dadaku. Aku berdiri canggung di dekat pintu, mencoba menahan ekspresi agar tidak mencurigakan.
Pegawai lain hanya melirik sekilas, mungkin heran kenapa ada anak berseragam sekolah datang jam segini. Tapi tak ada yang menanyakan apa-apa.
Jarum jam dinding di atas kasir menunjuk pukul 21:57. Tiga menit lagi toko resmi tutup. Suasana benar-benar seperti menunggu sesuatu yang akan meledak—sepi, hening tapi penuh ketegangan aneh yang membuat bulu kudukku berdiri.
Jarum jam akhirnya tepat di angka sepuluh. Salah satu pegawai mengunci pintu kaca dari dalam, papan bertuliskan CLOSED dibalikkan menghadap ke luar. Lampu di area depan dimatikan sebagian, hanya menyisakan cahaya remang dari kasir dan kulkas minuman. Suasananya langsung berubah: dari minimarket biasa jadi seperti ruang tertutup dengan hawa menekan.
Aku masih berdiri di dekat rak roti ketika suara deru motor terdengar dari luar. Beberapa kali suara knalpot meraung, lalu berhenti tepat di depan minimarket. Dari balik kaca, samar kulihat bayangan beberapa pria turun dari motor, seragam mereka sama: kemeja polos minimarket tapi dari cabang berbeda.
Tak lama kemudian pintu diketuk dari luar, Raka memberi kode cepat. Pintu dibuka sedikit, lalu mereka masuk satu per satu. Jumlahnya lumayan banyak, hampir delapan orang. Tubuh mereka berbau campuran keringat dan asap motor, wajahnya lelah tapi langsung berubah antusias begitu melihat ke arahku yang masih berseragam sekolah.
Tepat dibelakangnya sudah berkumpul para pegawai minimarket dari cabang lain. Mereka saling menoleh dan beberapa diantaranya tertawa kecil. Ada yang berbisik kotor. Mereka terlihat seperti kawanan binatang yang baru saja diberi umpan.
Seketika suara-suara kasar mulai terdengar:
"Yang penting kita buka dulu aja semua bajunya. Siapa tau masih ada barang lain yang disembunyikan didalam seragam sekolahnya. Hehe..
"Mending kita geledah rame rame aja bro.. pasti banyak barang yang disembunyiin dibalik seragamnya. Kalau perlu rok seragam sekolahnya diplorotina aja sekalian. Haha.. Kata pegawai lainnya sementara si tukang parkir minimarket hanya bisa cengengesan.
Raka menekanku hingga lututku menyentuh lantai dingin minimarket. Dari posisi itu, aku benar-benar merasa direndahkan karena dikelilingi belasan pasang mata yang menatap rakus. Nafas mereka berat, beberapa tertawa rendah, ada yang sengaja membuka resleting celananya dengan suara nyaring seakan ingin menekankan apa yang sebentar lagi terjadi.
“Jangan diem aja. Kalau mau dimaafin, tunjukkan penyesalanmu !! Pakai tanganmu, pakai mulutmu,” suara Raka terdengar tegas, nyaris seperti perintah yang tak bisa ditolak.
Suasana menjadi makin berat. Aku bisa mencium aroma keringat dan parfum murahan bercampur dalam ruangan sempit itu. Derai tawa dan ejekan mereka berputar di kepalaku, membuatku makin tersudut tapi anehnya juga membuat detak jantungku semakin kencang, seolah menanti sesuatu yang tak terhindarkan.
"Jangan bang.. Aku menggoyangkan kepala pelan dan pura-pura berusaha kabur dari genggaman tangan yang menahanku.
“Lihat tuh mukanya! Amoy nakal ini udah gemetaran. Salah satu dari mereka bersorak.
“Tambah meronta, tambah bikin sange. yang lain menimpali, disusul sorakan setuju.
Aku terus memohon dan berusaha membuat wajahku sememelas mungkin. Berupaya membuat mereka menaruh rasa kasihan tapi yang terjadi malah sebaliknya.
“Udah, jangan cuma dipelototin! Biarin dia buktiin kalau mau diampuni,” Raka bersuara lantang.
Aku dipaksa berlutut dilantai minimarket yang dingin, lingkaran pria itu makin rapat mengurungku.
Salah satu dari mereka mendorong kepalaku, memaksaku menerima lebih jauh. Nafasku tersendat, mataku berair, suara cekikikan kasar di sekeliling membuatku makin tenggelam dalam peran.
Tangan-tangan liar meraba baju seragam putihku, ada yang mengusap pinggang, ada yang meremas buah dadaku dari belakang. Kancing bajuku mulai terbuka satu demi satu, sengaja mereka biarkan longgar agar bra tipisku tersingkap. Rokku pun ditarik-tarik kasar sampai posisinya naik dan membuat pahaku terekspos penuh.
Yang berdiri tepat di depanku mendorong kepalaku semakin kuat, memaksa wajahku maju-mundur mengikuti hentakan pinggulnya. Rambutku terjambak kasar, membuatku tak punya pilihan selain menuruti arahannya.
“Cepet lagi, jangan malas!” hardiknya sambil menahan kepalaku. Nafasnya berat, panas tubuhnya kurasakan semakin dekat.
Sementara itu, yang lain tak tinggal diam. Tubuhku diraba, seragamku makin berantakan—rok tersingkap tinggi, kancing baju terbuka lebih banyak hingga bra tipisku hampir sepenuhnya terlihat. Tangan-tangan asing itu seolah berlomba meninggalkan jejak di kulitku.
Aku berusaha mengeluarkan suara seperti orang tercekik, wajahku kupaksakan tampak memelas. Tapi anehnya, dalam hatiku ada getaran asing yang membuatku tak bisa benar-benar berhenti. Seolah setiap perlakuan kasar itu justru menyalakan sesuatu yang sulit kupadamkan.
"Gimana moy rasanya kontol pribumi ? Enak kan ? Setelah semuanya selesai gua jamin lu bakal ketagihan deh.. Ledek salah satu yang berdiri tepat di depanku sambil terus menghentakkan pinggulnya ke wajahku. Nadanya penuh ejekan, membuat yang lain tertawa ramai-ramai.
Tanganku bergerak semakin cepat, mengocok batang mereka yang mengepungku dari kiri dan kanan. Kulit tanganku sudah terasa licin, panas tubuh mereka bercampur dengan suara desahan kasar. Setiap kali ada yang selesai, yang lain langsung maju menggantikan, seolah tak mau kehilangan giliran.
Aku berusaha tetap membuat wajahku memelas, mataku menatap mereka seperti sedang memohon ampun. Tapi tangan dan mulutku terus dipaksa bekerja, tak ada jeda. Satu kepalaku dipegang erat, dipaksa maju mundur mengikuti irama kasar, sementara tanganku terus melayani yang lain.
Tawa, ejekan, dan desahan bercampur jadi satu. Suasananya bising, panas, dan semakin liar—mereka seakan gak sadar bahwa ini cuma “hukuman pura-pura.”
Batang di mulutku makin dalam menghantam tenggorokan, membuatku tercekik sesaat, sementara tanganku masih sibuk mengocok dua batang lain yang sama-sama menegang. Cairan bening sudah mulai keluar dari ujungnya, licin menyelimuti jemariku.
“Cepetan bro !! Gue juga pengen ngerasain disepong sama amoy sekolahan !!
Aku tak diberi kesempatan bernapas. Kepala terus ditekan, maju-mundur seirama hentakan kasar pinggul yang menampar wajahku. Setiap kali aku coba menarik diri, tawa mereka meledak.
"Muka cinanya jadi makin cantik kalo lagi dicekokin gini,” ejek pria lain sambil menampar ringan pipiku.
Tanganku terus bergerak otomatis, mengocok keras-keras batang yang berderet menunggu giliran. Mereka makin bernafsu melihat aku seperti berlutut pasrah, dipaksa melayani tanpa henti.
Satu orang yang baru masuk langsung mengarahkan batangnya ke bibirku, menggantikan yang keluar. Seolah antrian tak ada habisnya.
“Hisap yang bener! Rasain nih kontol pribumi !! jangan pura-pura nolak lagi!” bentaknya, sambil menjejalkan sampai aku terbatuk.
Tangan kiriku mulai pegal, tapi mereka tak peduli. Justru makin ditekan, makin dipaksa cepat. Ruangan kecil itu penuh suara lenguhan, ejekan, dan tubuh mereka yang bergantian memaksaku melayani.
Aku masih berlutut di tengah lingkaran itu, rambutku masih ditarik ke belakang. Mulutku dipaksa melahap batang pria pertama, sementara kedua tanganku sibuk mengocok batang lain yang mengelilingiku. Suara desah mereka makin ramai, bercampur tawa kasar yang menusuk telinga.
Pria keempat menghentak pinggulnya dalam-dalam, lalu tiba-tiba menarik batangnya keluar. “Udah, gantian dulu. Gue mau liat mulutnya disodok sama yang lain,” katanya sambil terkekeh.
Segera pria kelima maju, menarik kepalaku kasar dan menjejalkan batangnya ke dalam mulutku. Aku meronta pura-pura menolak, wajahku sengaja kubuat memelas. Tapi itu justru membuatnya makin beringas. “Anjir, makin mirip cewek ketakutan beneran! Sedot, Cina!” bentaknya.
Aku terpaksa mengikuti hentakan pinggulnya, sementara tangan kananku masih mengocok batang pria pertama yang tadi mundur.
Tak lama, pria keenam pun menarik keluar batangnya, wajahnya penuh senyum puas. “Mantap! Nih, gantian lo!” serunya pada pria ketiga.
Pria ketujuh langsung menyambar, menempelkan batangnya di bibirku. Ia menampar pipiku pelan, lalu mendorong kepalaku ke batangnya. Aku megap-megap, tapi tetap menuruti dorongannya. Tangan kiriku bergerak cepat mengocok batang pria lain yang sudah menunggu giliran.
Mereka benar-benar bergantian: setiap kali satu pria menarik batangnya keluar dari mulutku, yang lain segera menggantikan tanpa jeda. Ada yang mendorong kasar hingga aku tercekik, ada yang menahan lama-lama sambil merasakan lidahku.
Di sekitarku, tawa dan ejekan terus bersahutan. “Hahaha, liat mukanya! Bener-bener kayak anak sekolah diciduk maling!”
“Gantian cepet, biar semua kebagian rasa mulutnya!
Tanganku tak berhenti bekerja di sisi kanan dan kiri, menggenggam erat penis lain yang berdenyut keras. Cairan licin melumuri jemariku, membuat gerakanku makin cepat. Erangan mereka kian keras, sesekali kepalaku dijambak agar irama serakah itu makin dalam.
Tiba-tiba, dari belakang, dua telapak besar mencengkeram buah dadaku sekaligus. Jemari kasar menekan kuat, meremas bulatannya sampai kain tipis seragamku melar. Aku meringis, tubuhku tersentak ke depan, tapi genggaman itu makin beringas. Bra putihku tak lagi jadi pelindung. kainnya hanya mempertegas bentuk di baliknya. Putingku terjepit keras, dipelintir dengan kasar sampai aku terpaksa melenguh, suaraku teredam oleh batang di mulut.
“Empuk banget, anjir,” suara serak terdengar di telingaku, disertai gigitan kecil di bahuku. Setiap kali jemarinya menekan, rasa sakit bercampur geli menyambar, membuat tubuhku bergetar. Di depanku, pria yang batangnya sedang kugenggam menunduk, wajahnya tegang, sesekali mendesah panjang.
Aku terjebak di tengah lingkaran tubuh-tubuh panas itu, setiap sudutku dipaksa sibuk melayani. Mulutku penuh, tanganku sibuk, dadaku diremas tanpa ampun, dan setiap inci tubuhku seakan hanya ada untuk memuaskan mereka. Ruangan minimarket yang pengap dipenuhi suara napas berat, erangan, dan tawa kasar yang mengitari tubuhku.
Belum selesai sampai di situ. Aku merasa tangan lain meraih kancing seragam putihku. Satu per satu, kancing itu dilepas paksa. Suara klik… klik… terdengar jelas di telingaku, bersamaan dengan tawa kasar para pria di sekeliling. “Buka aja bajunya, biar keliatan jelas dalemannya!”
Seragamku mulai terbuka, belahan dadaku terlihat, membuat para pria bersorak kecil.
“Anjir.. tetek cina putih banget.. bulet kayak bakpao. Jadi penasaran pengen ngeremes.
Kancing bajuku dibuka satu per satu. Awalnya hanya bagian atas, membuat sedikit belahan dadaku terlihat. Aku bisa merasakan hawa dingin ruangan minimarket menyentuh kulitku, bercampur dengan panasnya nafas para pria yang makin dekat. Tangan kasar itu tidak langsung menanggalkan semuanya, tapi bermain-main di sana. Membuka satu kancing… berhenti, meremas dadaku lagi. Lalu membuka satu kancing lagi, disertai tawa nakal dari temannya.
“Pelan-pelan aja, bro. Biar dia ngerasain gimana rasanya digilir kayak gini. Ujar salah satu sambil menonton dengan mata menyala.
Aku hanya bisa meringis. Mulutku penuh batang yang keluar masuk bergantian. Tanganku sibuk mengocok dua batang lain. Cairan licin menetes dari sela jemariku. Kancing seragamku terlepas satu demi satu. Bra putih tipis yang menempel ketat di dadaku kini terekspos. Setiap remasan membuat kainnya makin menekan kulitku.
“Anjir liat tuh. Masih kayak anak sekolahan. Putih banget. Putingnya keliatan tembus kain,” ujar salah satu sambil terkekeh.
Pria lain merapat di belakang. Wajahnya menelusuri rambutku yang berantakan. Napas panasnya menempel di telingaku.
“Nanti gue yang duluan buka dalemannya ya. Gue udah nggak tahan,” bisiknya.
Bajuku terbuka lebar. Bra putih tipis masih menempel di dadaku. Keringat membuat kainnya transparan. Tangan kasar meremas dari luar bra, menekan keras sampai bulatannya makin menonjol.
“Anjir keras banget. Padet. Bra segini nggak cukup nampung,” gumamnya.
Yang lain mendekat sambil menggesek batangnya di pipiku. Matanya terpaku pada dadaku yang terhimpit kain putih.
“Gila bro liat tuh. Putingnya nongol jelas. Kayak minta dijilat.”
Aku menggeliat malu dan terangsang. Mulutku terus dipaksa melayani. Jemariku tetap mengocok batang lain yang makin keras.
Tawa mereka pecah. Ada yang menarik tali bra lalu menjentikkannya ke kulitku.
“Wah nakal banget nih amoy sekolahan. Bra ketat gini bikin gue tambah gila.”
Yang lain menyelipkan jarinya ke sela bra. Ia pura-pura membuka tapi sengaja menahan.
“Sabar. Biarin dia dulu begini. Gue mau puas-puasin liat dia kejepit ketat gini. Kayak hadiah yang masih dibungkus.”
Mereka bergantian meremas dari luar. Menekan dan mencubit gemas tapi tetap membiarkan bra itu menempel erat. Mereka sengaja menunda, membuat semua makin liar menunggu saat kain tipis itu benar-benar disingkap.
“Biar gua aja yang lepasin bra-nya!” teriak salah satu sambil menarik bagian pundakku agar tali tipis bra ikut melorot.
“Ngaco, gue dari tadi yang paling deket. Harusnya gue duluan!” sahut yang lain sambil menyelipkan jarinya ke belahan dada dan menarik kain tipis itu sedikit.
Aku merintih, tubuhku makin terhimpit di tengah lingkaran.
Tiba-tiba ada yang langsung merobek kancing bajuku yang tersisa. Seragamku kini benar-benar terbuka lebar. “Udah lah lama banget kalian. Gue yang buka bra-nya!” katanya sambil meraih kait di belakang.
“Eh jangan seenaknya. Biar gue yang cabut. Gue pengen liat muka dia pas pertama kali teteknya jadi tontonan,” bentak pria lain.
Aku masih berlutut pasrah di lantai minimarket yang dingin. Tanganku dipaksa mengocok batang di kiri dan kanan. Mulutku penuh oleh dorongan kasar pria di depan. Air liur menetes ke dagu dan ke seragamku yang sudah kusut parah.
Di belakangku mereka ribut sendiri dan ada yang menurunkan sisa lengan baju seragamku hingga kainnya melorot ke bawah dan ada juga yang sibuk membuka kait bra sambil ketawa puas. Aku hanya bisa menunduk gemetar dan kepalaku tetap ditahan agar maju mundur di batang di depan. Dalam hati aku sadar sebentar lagi bra tipis ini pasti kalah entah robek atau terlepas dan dadaku bakal jadi tontonan mereka semua.
Tangan kasar meraba buah dadaku dari berbagai arah dan ada yang meraba sisi kiriku dan ada yang meremas penuh dari kanan. Aku mendesah tertahan dan suara isapan serta kecapan dari mulut yang menempel di dadaku terdengar jelas di telinga. Mereka semakin rakus dan semuanya berebut bagian paling empuk.
Lalu kraakk! terdengar suara kecil ketika kait belakang bra akhirnya terlepas karena dipaksa bareng-bareng. Kain putih tipis itu melorot dari bahuku, tapi masih nyangkut di lengan. Sorak sorai langsung pecah, tawa kasar bercampur ejekan memenuhi ruangan.
“Akhirnya lepas juga!” seru salah satu sambil menunduk rakus ke dadaku. Bibirnya langsung menyedot keras, sementara yang lain menggigit puting satunya hingga aku terpekik. Aku hampir roboh, tapi kedua tanganku masih dipaksa bekerja, mengocok batang di sisi kanan kiri tanpa henti.
Bra putihku kini hanya tergantung lusuh di lenganku. Dadaku sudah jadi rebutan penuh, mulut-mulut bergantian menghisap, gigi-gigi menarik, tawa kasar menertawakan wajahku yang basah oleh air liur dan keringat.
Yang lain tidak mau kalah dan tangan kasar langsung berebut. Ada yang mencubit putingku sampai keras dan ada yang menepuk nepek sambil tertawa puas.
“Liat nih baru dipegang sedikit putingnya langsung tegang. Cina begini emang doyan dijarah massa” teriak yang lain dan semua makin buas.
Kepalaku masih ditahan maju mundur di batang yang menghujam mulutku dan air liurku menetes ke dagu. Dadaku jadi rebutan ada yang menghisap puting kiri dan ada yang meremas kanan dengan kasar dan ada juga yang menekan dari bawah seolah ingin membuktikan kalau buah dadaku benar benar berat.
Aku menjerit kecil dan tubuhku gemetar diapit mereka semua. Seragamku yang setengah terbuka makin berantakan dan dasi sekolah masih menggantung tapi dadaku sudah bebas jadi tontonan serta permainan tangan liar itu.
“Anjir ini yang bikin perusuh makin beringas. Amoy putih kalau ditelanjangin pasti jadi rebutan massa” salah satu menyalak sambil menggigit ringan putingku.
Aku terengah hampir tidak bisa bernapas dan tubuhku terkepung dijamah dari segala arah. Begitu putingku terekspos penuh mereka makin kalap. Dua orang langsung menunduk bersamaan ke dadaku dan mulut mereka menempel rakus di kiri kanan menghisap bergantian.
“Wah gila putingnya enak banget dikenyot. Liat ini putingnya sampai keras begini” ujar yang kiri sambil menggigit pelan lalu menarik dengan bibir.
Sroott.. Yang kanan tidak mau kalah dan isapannya lebih kuat sampai aku meringis menahan rasa perih bercampur geli yang aneh.
"Sialan !! kalian semua udah kayak bayi kelaparan. Teriak yang lain sambil ngakak dan tangannya tidak berhenti mengocok batang di genggamanku.
“Anjir, kayak pesta susu gratisan! Putingnya kecil, tapi mantep banget kalau diisep rame-rame begini,” celetuk salah satu, membuat semuanya tambah bernafsu.
Aku menggeliat tapi rambutku malah dijambak agar wajahku mendongak seakan mereka ingin melihat ekspresi putus asa bercampur pasrah di wajahku. Setiap gigitan kecil membuatku menjerit pendek lalu segera teredam oleh batang yang masih memaksa mulutku. Mereka terus tertawa puas sambil bergantian memperlakukan dadaku seakan bagian tubuh itu bukan lagi milikku melainkan mainan mereka.
“Anjir makin keras aja nih puting susunya rasanya pengen gua kunyah” ujar seorang pria sambil mengenyot sampai aku meringis.
Yang lain langsung menekan kepalaku lebih dalam ke batangnya dan napasku tercekik bercampur suara isapan rakus di dadaku. Air liur berceceran dan ada yang sengaja meneteskan di atas buah dadaku lalu dijilat lagi sampai basah belepotan.
“Remes terus bang jangan kasih ampun tetek amoy perawan emang mesti dipencet keras biar dia tau rasanya diperah rame rame sama pribumi” teriak yang lain sambil menjambak rambutku kuat.
Dua orang mendorong buah dadaku dari samping menjepit wajah pria yang lagi mengisap di tengah hingga aku makin sesak. Yang lain menampar pelan dadaku supaya makin merah.
“Ayo gantian jangan lama lama masa cuma lu doang yang enak gue juga pengen ngerasain nyusu sama amoy”
Mereka dorong dorongan rebutan posisi sampai hidungku kejedot dada salah satu pria. Mereka tidak peduli hanya ada suara tawa desahan dan hisapan rakus semua haus memperlakukan tubuhku seperti barang rampasan.
Aku masih terjepit di tengah lingkaran mulutku dipaksa mengisap batang yang makin keras sementara kedua tanganku sibuk mengocok milik yang lain. Nafasku tersengal dan kancing seragamku sudah hampir habis tercabut kain putihnya robek di sana sini menempel kusut di tubuhku.
Tiba tiba ada yang menekan rokku dari bawah. Srek.. ujung rok abu abuku ditarik kasar ke atas sampai ke pinggang. Aku refleks mencoba menurunkannya tapi tanganku ditahan kuat.
Rokku tetap menempel, lipatannya berantakan, tapi sekarang posisinya sudah tersingkap penuh, hanya menyisakan celana dalam putihku yang jelas kelihatan di bawah lampu toko yang terang.
Tanganku ditarik lagi ke batang lain, sementara seseorang dari belakang meremas bokongku keras-keras lewat celana dalam. Ada juga yang menyelipkan jarinya ke sela paha, bikin aku merintih tertahan meski mulutku masih penuh.
“Lihat, nggak usah dilepas resletingnya. Roknya biarin kayak gini aja—disingkap doang. Lebih nakal malah, kayak anak sekolahan ketahuan coli di kelas.”
Aku hanya bisa meronta kecil, tapi justru itu yang bikin mereka makin beringas. Tanganku digerakkan lebih cepat di batang-batang panas itu, kepalaku ditekan maju mundur, sementara rokku tetap menempel ketat di pinggang tapi tersingkap habis, memperlihatkan hampir seluruh bawah tubuhku.
Tanganku masih sibuk mengocok batang-batang mereka, sementara mulutku bergantian dipaksa mengulum. Rok abu-abuku sudah tersingkap habis ke pinggang, lipatannya kusut menempel, resleting tetap tertutup rapat, membuatku terlihat seperti masih memakai seragam lengkap… hanya saja bagian bawahku sudah terbuka penuh jadi tontonan.
Tiba-tiba aku merasakan sentuhan kasar menyusup dari belakang. Jemari panas itu menempel di celana dalam putihku yang tipis, menggesek-gesek tepat di belahan.
“Anjir… celananya masih rapi, tapi udah basah begini,” salah satu dari mereka tertawa kotor sambil menekan jari ke arah yang paling sensitif.
Yang lain mendekat, menyingkap pinggiran celana dalamku paksa, memperlihatkan sedikit kulit di balik kain putih yang ketat. Ada yang mencium rambutku dari belakang, lalu menjambaknya pelan, membuat leherku terekspos.
Aku meringis, tubuhku kaku, tapi tanganku tetap dipaksa mengocok. Mereka berebut—ada yang menekan pahaku agar terbuka lebar, ada yang meremas dadaku yang sudah telanjang karena kancing baju seragam habis dicabut, dan ada yang tertawa sambil menunjuk celana dalamku yang mulai berjejak basah.
“Jangan dibuka dulu, biarin dia pakai CD putihnya. Malah makin nakal keliatannya, kayak anak sekolah bandel yang ketahuan colongan.”
Tangan-tangan itu makin brutal, meremas, menekan, menggesek di balik celana dalamku yang ketat. Aku tak bisa menutup paha karena sudah ditahan, dan setiap gerakan kasar mereka membuatku mengerang tertahan di sela isapan.
Aku masih terjepit di tengah lingkaran mereka. Tanganku tetap sibuk mengocok batang, sementara mulutku bergantian dipaksa menelan. Rok abu-abu masih tersingkap ke atas, resleting tetap tertutup, tapi posisiku makin tak berdaya.
Salah satu dari mereka tiba-tiba menyelipkan jarinya ke pinggiran celana dalam putihku. Tarikannya keras dan kasar, membuat kain tipis itu tergeser ke samping.
“Wihhh, akhirnya keliatan juga,” suaranya penuh nafsu, disambut tawa teman-temannya.
Aku terlonjak kecil, menahan napas. Kain tipis yang tadinya menutup rapat kini meleset, membiarkan bagian paling pribadiku terekspos penuh di bawah cahaya lampu minimarket.
Tangan lain langsung masuk, menggesek kasar ke celahku yang sudah basah, jari-jarinya menusuk tanpa ampun.
“Basah banget padahal baru disentuh bentar.”
“Pantes aja doyan maling, ternyata emang nakal dari sononya.”
Aku mencoba mengejangkan paha, tapi dua orang menahanku paksa, membuatku terkuak lebar. Ada yang tertawa sambil menempelkan batangnya ke wajahku, menampar-namparkannya ke pipi, sementara yang lain sibuk meremas buah dadaku.
Aku mengerang kecil, setengah tertahan oleh batang yang sedang kupeluk dengan mulut. Nafas tersengal, tubuhku makin terhimpit. Rasa malu bercampur dengan sensasi yang tak bisa kukendalikan.
“Udah kayak mainan beneran. CD-nya biarin aja nyangkut di samping gitu. Malah keliatan nakal banget.”
Tangan-tangan itu terus berebut, makin brutal, bergiliran menyentuh bagian yang kini benar-benar terbuka.
Aku dipaksa berdiri, napasku masih terengah. Salah satu dari mereka menjambak rambutku, menarik kasar sambil menuntunku ke arah meja kasir.
“Naik sini, Amoy… biar gampang dihukum,” ejeknya.
Tubuhku ditelentangkan paksa di atas meja dingin itu. Rok abu-abuku langsung disingkap tinggi, hingga paha dan celana dalam yang sudah tersingkap tadi benar-benar terekspos. Dua orang langsung menahan kakiku, memaksa terbuka mengangkang lebar. Aku berusaha merapatkan paha, tapi genggaman mereka kuat, tak ada celah untukku menolak.
“Liat tuh, udah kebuka kayak mangkok,” tawa salah satu dari mereka.
Seorang pria berdiri tepat di ujung meja, di antara pahaku yang mengangkang. Jemarinya langsung menyelusup, menusuk kasar ke dalam, membuatku melenguh kecil.
“Anjir, dalem banget. Dikit lagi bisa masuk semua jariku,” katanya sambil terus mendorong keluar masuk.
Aku meronta pelan, wajahku meringis. Rasa malu bercampur perih, tapi genggaman di pahaku terlalu kuat.
Pria itu menoleh ke teman-temannya, lalu berseru:
“Gantian, biar ngerasain semua!”
Segera setelah jarinya keluar, orang lain menggantikan posisi. Jemari berbeda menusuk masuk, lebih cepat, lebih keras, membuat tubuhku terguncang di atas meja.
“Ketat banget, sumpah. Padahal udah basah.”
“Kayak gini aja udah seru, apalagi kalau beneran dimasukin batang.”
Sementara itu, orang-orang lain masih mengerumuni. Ada yang menindih bahuku, menahan tubuhku supaya tak bisa bangkit. Ada juga yang menunduk, menjilat leherku, bahkan meremas kasar dadaku yang masih tertutup bra di balik kemeja seragam.
Aku hanya bisa meringis, menggigit bibirku sendiri, saat jariku terus diganti-gantikan oleh jemari mereka yang menusuk tanpa henti.
Jari-jariku kembali ditusuk dengan keras. Setelah satu orang menarik keluar, yang lain langsung menggantikan, menusuk lebih dalam, lebih cepat, lebih brutal. Tubuhku terangkat sedikit dari meja setiap kali hentakan itu masuk.
“Anjir, ketat banget, nahan jariku sampe susah nariknya!”
“Gue coba dua jari deh, liat mukanya, pasti makin kacau!”
Dua orang mendekat bersamaan, saling berebut. Yang satu meremas pinggulku kuat-kuat, lalu mendorong jari-jarinya masuk cepat. Yang lain tak mau kalah, menyusupkan jemari dari sisi lain, bergerak kasar dengan irama berbeda.
“Ayo barengan, kocok rame-rame biar dia meledak!”
Aku terpekik keras saat jemari mereka bergerak bersamaan, menghajar titik terdalamku tanpa jeda. Pinggulku bergetar tak terkendali, lututku gemetar hebat meski masih dipegang erat oleh dua orang di samping.
“Uhhnnnghh… ahhh!! Hentii… nggak… ahhh!!” aku menjerit, tapi suaraku tenggelam oleh tawa mereka.
“Liat tuh, mukanya udah mabok keenakan.”
“Bentaran lagi meledak, tahanin kakinya biar nggak kabur.”
Gerakan mereka makin liar, jemari menghajar keluar masuk dengan kecepatan gila. Tubuhku melengkung, punggungku terangkat dari meja, dan tiba-tiba ledakan tak tertahan lagi.
“AAHHHHH!!!” aku menjerit panjang, cairan hangat muncrat deras dari dalamku, membasahi paha, rok yang tersingkap, bahkan meja kasir di bawah tubuhku.
“WOI! Dia muncrat! Hahaha… amoynya sampe nyembur cuy!”
“Gila, banyak banget! Baru dijari doang udah basah kuyup.”
Aku terengah, tubuhku bergetar hebat, air mata menetes di sudut mata, sementara jemari mereka masih berusaha memeras sisa-sisa dari dalamku.
Belum sempat nafasku kembali normal, aku masih terengah di atas meja kasir dengan rok tersingkap, pahaku tetap ditahan terbuka. Cairan yang tadi menyembur masih menetes membasahi meja.
“Anjir, baru dijari aja udah kayak gini. Gimana kalo pake kontol beneran?”
“Udah, sekarang gantian pake batang kita. Biar tau rasanya amoy muncrat bukan cuma karena jari.”
Salah satu langsung maju, membuka resletingnya dengan kasar. Batangnya yang tegang mengacung, lalu tanpa aba-aba menempel ke celahku yang masih berdenyut basah. Aku terpekik ketika dia mendorong keras, menembus masuk sekaligus.
“AAHHH!!” jeritku melengking, tubuhku menegang hebat.
“Wuih! Gila ketat banget, sampe kayak nyedot cuy!” katanya sambil menghentak pinggulnya maju mundur.
Yang lain hanya menonton sambil bersorak, ada yang menjambak rambutku, ada yang menekan bahuku biar aku nggak bisa bergerak.
“Buruan, jangan lama-lama, gantian!”
“Ya, ya, abis ini lo masuk, sabar!”
Gerakan pria pertama makin kasar, menghantam dalam dengan hentakan keras, membuat meja berderak-derak menahan tubuhku. Begitu dia menarik keluar batangnya yang licin bercampur cairan, langsung digantikan oleh pria lain yang sudah tak sabar.
“Sekarang giliran gue. Rasain nih, amoy!”
Dia menghantam masuk tanpa ampun, membuatku terjengit lagi, tubuhku melengkung. Yang lain menahan kedua pahaku makin lebar, seakan tak mau kehilangan satu inci pun dari pemandangan itu.
Aku hanya bisa mengerang dan menjerit, tubuhku bergetar setiap kali batang baru menembus masuk. Satu persatu mereka bergantian, tanpa memberi jeda, tubuhku jadi semacam “antrian hidup” untuk memuaskan nafsu mereka.
“Woy, jangan kasih istirahat. Biar terus dihajar sampe lemes!”
“Anjrit, makin lama makin becek. Ketatnya tetep ngeri!”
Aku hanya bisa megap-megap, air liur menetes di sudut bibirku, tubuhku dipaksa menerima hentakan demi hentakan tanpa henti.
Kedua tanganku ditarik kasar ke belakang kepala, dicekal erat oleh salah satu dari mereka. Aku jadi tak bisa melindungi diri, tubuhku benar-benar terbuka, terperangkap di meja kasir dengan rok tersingkap tinggi. Kedua pahaku ditahan paksa tetap mengangkang, membuat semua yang berdiri di sekelilingku bisa melihat jelas setiap hentakan yang masuk.
Seorang pria maju, batangnya sudah kaku berkilat, lalu langsung menekan keras.
“Anjing, dalem banget… ketat abis!” desisnya sambil menghentakkan pinggul brutal.
Aku terpekik, kepalaku terdorong ke belakang karena tarikan tangan, tubuhku melengkung kaku.
“AAHHH…!” jeritku pecah, bercampur dengan desahan napas panasnya.
Yang lain bersorak.
“Cepetan, gantian! Jangan dihabisin sendirian!”
“Waduh, mukanya sampe nangis tuh, tapi dalemnya nyedot abis. Giliran gue abis lo!”
Begitu yang pertama selesai menghantam beberapa kali, dia menarik keluar, meninggalkan basah yang menetes ke meja. Langsung disusul pria berikutnya yang menempelkan batangnya tanpa jeda, lalu menghujam dalam.
“Aaahhh!!” tubuhku kembali tersentak.
“Ketatnya nggak hilang-hilang, gila… kayak masuk ke ruang vakum.”
Pahaku masih ditahan kuat, aku tak bisa merapatkan kaki, hanya bisa menerima hentakan keras satu demi satu. Mereka bergantian, tak ada yang sabar, tiap orang cuma peduli melampiaskan diri, lalu memberi ruang untuk yang lain.
Kepalaku terjambak ke samping, wajahku dipaksa menatap mereka yang menunggu giliran dengan batang mengacung.
“Liat tuh, amoy sekolahannya udah pasrah. Mukanya mewek, tapi dalemnya masih nyelekit. Bikin nagih!”
Satu demi satu mereka masuk, tak ada jeda, tubuhku jadi jalur antrean nafsu mereka, setiap kali yang baru menghentak, meja bergoyang, bunyi “duk-duk” beradu dengan lenguhan kasar di sekitarku.
Tanganku masih ditarik ke belakang, tak bisa bergerak sedikit pun. Pahaku dibuka lebar dan dipegangi begitu kuat, sampai aku benar-benar tak berdaya. Setiap kali batang baru masuk, tubuhku otomatis tersentak, suara eranganku pecah tanpa bisa kucegah.
Kenapa… kenapa rasanya begini? pikirku sambil menggigit bibir. Hentakan itu kasar, menyakitkan, tapi entah kenapa tubuhku justru bergetar hebat menahannya. Rasa penuh yang bergantian menghantam, membuatku kewalahan menahan gelombang yang terus datang.
Aku ingin berteriak minta berhenti, mulutku sudah mau mengucapkan, tapi yang keluar malah suara jeritan bercampur desahan. Ya Tuhan… aku bahkan tak bisa bedakan mana jeritan sakit, mana jeritan nikmat.
Saat wajahku ditarik menatap ke arah batang-batang lain yang sudah menunggu giliran, dadaku semakin sesak.
Mereka semua… mereka semua hanya menunggu untuk masuk bergantian… aku dijadikan tontonan…
Ada rasa malu yang menusuk, ratusan kali lipat lebih tajam daripada rasa sakit. Tapi tubuhku mengkhianati pikiranku. Basahku makin deras, sampai aku bisa rasakan meja di bawahku licin.
Apa aku… gila? Kenapa tubuhku terus bergetar begini? Kenapa malah semakin ingin disentuh, semakin ingin dihajar, padahal aku takut setengah mati?
Aku memejamkan mata, air mataku keluar, tapi tubuhku melengkung menerima setiap hentakan. Suara sorakan mereka, tawa kasar, ejekan rasis—semua berputar di kepalaku, membuatku makin tenggelam dalam pusaran antara hina, takut, dan nikmat yang menyesakkan.
Tubuhku sudah tak punya tenaga lagi untuk melawan. Tanganku masih ditarik ke belakang kepalaku, pahaku tetap dipegang kuat-kuat. Hentakan demi hentakan membuatku semakin limbung, suaraku pecah jadi jeritan, tangisan, dan desahan yang bercampur jadi satu.
Aku nggak sanggup lagi… pikirku. Setiap kali satu orang selesai, yang lain langsung menggantikan, tanpa jeda. Aku hanya bisa pasrah, tubuhku sudah bukan milikku lagi.
Rasa penuh yang bergantian masuk membuat tubuhku kejang-kejang, punggungku melengkung otomatis. Aku bahkan sudah tak bisa membedakan mana rasa sakit, mana nikmat. Air mataku mengalir deras, tapi dari bibirku tetap keluar erangan yang memalukan.
Kenapa aku begini? Kenapa tubuhku menyerah?
Aku ingin marah pada diriku sendiri, tapi sudah terlambat. Basahku mengalir deras, membasahi meja kasir tempat aku dibaringkan. Aku bisa mendengar mereka tertawa, saling bersorak, memanggil nama Cina seolah aku hanya mainan mereka.
Saat wajahku ditarik lagi, mataku dipaksa melihat batang-batang lain yang masih menunggu, dadaku semakin sesak. Masih banyak… masih ada lagi… aku nggak bisa kabur.
Di dalam hatiku, perlawanan terakhir itu hancur. Yang tersisa hanya tubuh yang terbuka lebar, menerima apa pun yang mereka lakukan.
Kalau begini… berarti aku sudah kalah. Aku hanya boneka mereka. Dan tubuhku… sialnya… malah menikmati.
Aku menjerit panjang, pahaku bergetar keras, tubuhku melenting sekali lagi, lalu jatuh lemas tak berdaya. Tapi giliran belum berhenti. Mereka masih bergantian, dan aku hanya bisa pasrah.
Begitu mereka sadar aku sudah benar-benar tak berdaya, semuanya jadi lebih beringas. Tawa dan sorakan mereka semakin keras, tangan-tangan kasar tak lagi sekadar menahan, tapi mulai mencengkeram tubuhku dengan kasar. Rambutku dijambak, kepalaku dipaksa menoleh, sementara batang lain ditodongkan ke wajahku.
“Ayo buka mulut, dasar cina nakal!” salah satu dari mereka menekan pipiku sampai mulutku ternganga. Batang panas langsung dihajar masuk, tanpa peduli aku tersedak dan batuk.
Pahaku yang mengangkang ditarik semakin lebar, sampai aku hampir merasa sendiku mau copot. Yang menusuk dari bawah makin liar, menghantam dengan hentakan penuh tenaga, tak memberi kesempatan untuk bernapas. Meja kasir berderit keras, bergetar tiap kali pinggul mereka menghantam tubuhku.
Beberapa orang lain tak sabar, mereka naik ke atas meja ikut-ikutan menjajah tubuhku. Ada yang meremas buah dadaku dengan brutal, ada yang menggigit leherku sampai perih, ada pula yang mencakar pahaku sambil bersorak.
Suara mereka bersahut-sahutan:
“Rasain, amoy! Ini baru hukuman yang pas!”
“Liat tuh mukanya! Ketakutan tapi sange!”
“Pegangan yang kuat, biar nggak kabur! Biar puas kita semua!”
Tubuhku diguncang ke sana-sini. Setiap kali aku menjerit, mereka malah makin keras menghajarku. Air liur bercampur dengan air mata menetes ke leher dan dadaku, tapi tak ada yang peduli.
Aku nggak bisa apa-apa lagi… mereka benar-benar mempermainkanku sesuka hati.
Rasanya seperti tubuhku sudah bukan milikku. Aku hanya boneka yang diperebutkan, dijadikan ajang unjuk kekuatan. Dan semakin aku lemah, semakin brutal cara mereka memperlakukanku.
Hentakan mereka makin brutal. Aku masih terbaring telentang di atas meja kasir, pahaku dipegang erat dua orang, tak bisa bergerak. Yang menindihku dari bawah menancap habis-habisan, sampai perutku serasa ditusuk dari dalam. Sementara batang lain yang dipaksa masuk ke mulutku menghajar maju mundur tanpa ampun, membuat tenggorokanku terasa mau robek.
Tawa dan teriakan mereka makin menggila. Aku hanya bisa mengerang, tersedak, tubuhku kejang-kejang menahan terjangan. Lalu dalam hentakan paling keras, pria di bawahku meraung keras, tubuhnya menegang, dan semburan panasnya muncrat deras ke dalam rahimku. Begitu deras sampai aku bisa merasakannya meluber keluar, membasahi pahaku.
Nyaris bersamaan, yang di mulutku juga meraung. Ia mendorong kepalaku hingga seluruh batangnya tenggelam, lalu semburan hangat meledak di tenggorokanku. Aku tersedak hebat, cairan itu memuntah keluar lewat bibirku, menetes ke pipi dan seragamku.
Sorakan langsung pecah di sekelilingku.
“Woy, dua-duanya udah keluar! Liat tuh, amoynya basah kuyup semua!”
“Dasar cina sial, mulut sama pkn-nya udah jadi tempat buangan kita!”
Tubuhku lemas, terengah-engah, tapi mereka tak melepas pegangan. Cairan yang menetes dari dua arah membuat tubuhku belepotan, dan aku hanya bisa menutup mata, menerima perlakuan mereka.
Tapi aku tahu, ini belum berakhir. Masih ada antrian panjang, dan mereka semua ingin gilirannya sendiri.
Tubuhku ditarik turun dari meja, belum sempat menahan diri, mereka sudah memaksaku berdiri menelungkup di atas meja kasir. Kedua kakiku yang masih bersepatu sekolah menapak lantai dingin, sementara pinggangku ditahan kuat agar tak bisa kabur. Rok seragamku disingkap kasar ke atas, sampai menumpuk di pinggang, memperlihatkan bokongku yang hanya dilapisi celana dalam tipis.
Tanpa banyak basa-basi, celana dalam itu langsung digeser paksa, dan batang pertama langsung menghujam masuk dari belakang. Aku menjerit, tubuhku menegang, tapi segera ditahan dengan jambakan di rambutku. Kepalaku dipaksa mendongak ke atas, sementara hentakan dari belakang makin keras, menghantamku tanpa ampun.
Tamparan keras mendarat di pantatku, membuatku terpekik. Tamparan itu diulang lagi dan lagi, seiring hentakan yang mengguncang tubuhku di atas meja. Tanganku meraih pinggiran meja, berusaha bertahan, tapi mereka malah menekannya ke bawah agar aku tetap menelungkup.
“Liat nih, amoy sekolahannya udah nurut banget!” seru salah satu dari mereka, disambut tawa.
“Roknya naik ke pinggang gitu, pantatnya enak banget ditampar, woy!”
Begitu pria pertama mencapai puncaknya, ia menarik keluar batangnya yang berlumuran, lalu segera digantikan pria lain tanpa memberi jeda. Hentakan baru kembali menghajar dari belakang, lebih cepat, lebih kasar. Jambakan rambutku makin keras, membuatku meringis kesakitan, sementara tubuhku dipaksa menerima hentakan itu berulang kali.
Aku hanya bisa mengerang, bercampur antara sakit dan pasrah, tubuhku diperlakukan seenaknya di atas meja kasir, rok sekolahku masih terangkat, pantatku jadi sasaran tamparan dan desahan bergantian.
Pintu minimarket sudah ditutup rapat dari dalam, lampu luar dimatikan sehingga tak seorang pun bisa melihat atau mendengar apa yang terjadi di dalam. Suasana jadi seperti dunia kecil yang hanya berisi aku dan mereka.
Tubuhku menelungkup di atas meja kasir, rok seragam tersingkap sampai pinggang, celana dalam sudah melorot ke bawah paha. Dari belakang, batang keempat menghujam kasar, begitu cepat sampai aku tersentak keras, mulutku berteriak panjang. Suara jeritan itu hanya memantul di dalam ruangan kosong, tak ada yang bisa menolongku di luar sana.
Belum selesai yang keempat, ia ditarik keluar, langsung digantikan oleh yang kelima. Hentakan baru kembali menghantam, lebih liar, lebih brutal, membuatku kembali menjerit sambil mencengkeram meja erat-erat. Rambutku dijambak, kepalaku dipaksa mendongak, sementara tubuhku bergetar keras setiap kali batang itu menghajar dari belakang.
Yang keenam tak kalah buas. Ia langsung menekan pinggangku ke bawah, membuat perutku menempel ke meja, lalu menghantam lebih cepat dan dalam. Aku menjerit-jerit, tubuhku terpental mengikuti ritmenya, sepatu sekolahku menghentak lantai berkali-kali.
Suara tamparan kulit bertemu kulit dan desahan kasar mereka bercampur jadi satu, memenuhi ruangan minimarket yang kini berubah jadi tempat eksekusi gairah liar. Mereka bergiliran menghujamku tanpa memberi waktu bernapas, tubuhku hanya bisa pasrah menerima permainan mereka.
Aku diseret kasar ke dekat rak makanan. Dua orang menarik tanganku ke arah berlawanan, lalu mengikatnya di ujung besi rak. Aku berdiri dengan tubuh menempel di rak, seragamku sudah koyak di beberapa bagian, bra sudah terlepas, dadaku terbuka, rok tersingkap tinggi sampai ke pinggang. Nafasku terengah, tubuhku basah oleh keringat, sementara suara napas mereka mengelilingiku.
Raka maju mendekat, matanya penuh gairah liar. Tangannya meraih pahaku, lalu mengangkat sebelah kakiku tinggi-tinggi, membuat posisiku semakin tak berdaya. Dalam sekejap batangnya menghujam masuk dengan keras, membuat tubuhku tersentak dan aku menjerit panjang sambil menyandar kuat ke rak.
Rak makanan bergetar keras setiap kali hentakan pinggul Raka menghantamku. Kaleng-kaleng dan bungkus mie instan berjatuhan menimbulkan suara berisik, bercampur dengan desahan kasar Raka dan jeritanku yang tertahan.
Tubuhku bergetar hebat, terikat tak bisa bergerak, hanya bisa pasrah saat hentakannya semakin cepat, semakin brutal. Posisiku membuatku terhimpit antara tubuh Raka yang menghujam dan rak makanan yang dingin menempel di punggungku.
Raka menarik batangnya keluar sebelum sempat mencapai puncaknya. Nafasnya masih memburu, wajahnya penuh keringat. “Gantian, gua tahan dulu,” katanya sambil mundur.
Andi langsung maju mengambil posisi. Tangannya meraih kedua pahaku, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi hingga aku hampir terangkat dari lantai. Dengan posisi berdiri itu, tubuhku seperti terjepit antara tubuhnya dan rak. Tanpa memberi waktu aku bernapas, Andi langsung menghujam masuk sekeras mungkin.
“AHHH!” jeritku pecah, kepalaku terhentak ke kanan dan kiri, terbanting-banting mencari pegangan yang tak ada. Ikatan di tanganku membuatku sama sekali tak bisa melawan. Tubuhku hanya bisa bergetar menerima hentakan kasar yang menghantam berkali-kali.
Andi menggeram keras, hentakannya brutal, seolah sengaja ingin merobek tubuhku. Rak makanan kembali bergetar, barang-barang jatuh berserakan di lantai. Suara plastik dan kaleng bergemuruh, bercampur dengan jeritanku yang melengking.
Begitu Andi mundur, Bimo langsung menyusul. Ia meraih pahaku, mengangkatnya ke atas sama seperti tadi, lalu menghantam masuk dengan keras. “Hhh… ketat banget, sumpah!” umpatnya sambil mendorong pinggulnya cepat-cepat.
Aku meraung panjang, kepalaku menghantam-hantam udara kosong, terhempas ke kanan dan kiri seolah berusaha kabur dari rasa brutal itu. Namun tubuhku tetap terikat erat, hanya bisa terguncang hebat setiap kali Bimo menghujam semakin dalam, semakin cepat, tanpa ampun.
Aku sudah tak bisa lagi membedakan mana jeritan sakit, mana erangan nikmat. Tubuhku seakan bukan milikku sendiri. Setiap kali batang mereka menghujam, pikiranku justru melayang ke hal-hal yang seharusnya membuatku takut.
“Aku ini… apa? Cuma gadis cina murahan ya?” bisikku dalam hati, air liur menetes dari sudut bibirku karena terlalu lama mulutku dipaksa terbuka. “Mereka bebas gilir aku kayak budak… kayak mainan.”
Ada rasa panas menjalar di dadaku, bukan hanya dari remasan mereka, tapi dari kenyataan pahit yang kucerna sendiri. Aku membayangkan diriku dipandang rendah, hanya karena wajahku terlalu cina, karena tubuhku bisa mereka rebut seenaknya. Dan anehnya… bayangan itu justru bikin tubuhku makin bergetar.
Setiap kali mereka menampar, menjambak, atau menarikku seperti boneka, aku merasa makin jatuh ke dalam peran itu. Gadis cina murahan… yang pantas digilir pribumi satu demi satu tanpa nilai apa pun selain tubuhnya.
Dan meski air mataku menetes, di balik itu ada sesuatu yang membakar — perasaan nikmat terlarang, rasa hina yang berubah jadi candu.
Begitu ikatanku dilepas, tubuhku hampir ambruk. Tapi mereka tidak memberi waktu bernapas. Tanganku langsung ditekan ke rak, tubuhku dipaksa berdiri menungging, wajahku hampir menempel ke deretan mi instan yang tersusun rapat.
“Begini lebih enak, lihat pantat cina ini,” suara tukang parkir terdengar kasar di telingaku sebelum rambutku dijambak kuat ke belakang.
Tubuhku bergetar saat batang panas kembali menghantam dari belakang, keras dan cepat. Aku menjerit, tubuhku terdorong maju setiap kali pinggulnya menghantamku. Dari samping kanan dan kiri, tangan-tangan lain langsung menyergap buah dadaku, diremas kasar bergantian, seolah ingin merobek dada ini dari tubuhku.
Plak! — tamparan keras mendarat di pantatku, membuatku melenguh panjang. “Jerit lagi, biar makin panas suasananya,” salah satu dari mereka berseru sambil tertawa.
Aku hanya bisa terengah, tubuhku terguncang hebat. Begitu satu orang menarik batangnya keluar, yang lain langsung menggantikan, tanpa ampun, tanpa jeda. Hentakan brutal itu membuatku menjerit tak beraturan, kepalaku terbentur rak, rambutku terus dijambak, sementara kedua payudaraku menjadi rebutan tangan-tangan yang tak henti meremas.
Suasana di ruang minimarket yang tertutup rapat itu berubah jadi kegilaan.
Setiap hentakan yang menghujam dari belakang membuatku menjerit, tubuhku terguncang tanpa kendali. Awalnya aku berusaha melawan, meronta, menolak kerasnya mereka. Tapi semakin lama, semakin jelas aku kalah. Kalah tenaga, kalah kuasa, kalah harga diri.
Di tengah teriakan dan tawa kasar mereka, kepalaku tertunduk. Mungkin memang ini nasibku… cuma amoy murahan yang pantas digilir pribumi sepuasnya. Pikiran itu berputar dalam kepalaku, membuat tubuhku melemas. Aku tidak lagi berusaha kabur, tidak lagi menahan teriakan.
Rambutku dijambak ke belakang, mulutku terbuka dengan erangan panjang, dan aku mulai merasakan sesuatu yang aneh—bukan sekadar sakit, tapi semacam pasrah yang membuatku benar-benar larut.
Ya… aku budak mereka. Aku cuma gadis cina yang tubuhnya jadi mainan. Sejak awal aku memang ditakdirkan untuk diperlakukan begini.
Tangan-tangan yang meremas payudaraku, tamparan keras di pantatku, batang-batang yang bergantian menghajar rahimku—semuanya kini kurasakan tanpa lagi ingin melawan. Yang ada hanya perasaan hina tapi juga anehnya terasa nyata, membuatku seolah benar-benar jadi milik mereka.
Setiap tawa dan ejekan mereka menancap di telingaku, menguatkan keyakinanku: aku tidak lebih dari barang mainan.
Kedua tanganku ditarik paksa ke kanan dan kiri lalu diikat kuat di ujung rak makanan. Tubuhku menunduk menghadap rak, pipiku menempel pada dinginnya besi, sementara pinggulku dipaksa menungging ke belakang. Rok seragamku sudah tersingkap tinggi sampai pinggang, celana dalam entah ke mana, membuat pantatku terbuka lebar.
Satu pria maju dari belakang, langsung menghujam keras tanpa basa-basi. Aku terjerit, tubuhku berguncang hebat setiap kali batangnya menghantam dalam. Ikatan di tanganku membuatku tak bisa lari, hanya bisa menerima hentakan itu sambil menempel pasrah pada rak.
Begitu ia mundur, yang lain segera menggantikannya. Bergantian, tanpa ampun, mereka menghajar rahimku dari belakang. Setiap tusukan membuat pinggulku tersentak maju menabrak rak, dadaku tergencet, sementara rambutku dijambak kasar agar kepalaku menengadah.
Aku merintih, meronta sia-sia, tapi di balik itu ada getaran nikmat yang sulit kusembunyikan. Suara tamparan di pantat, cengkeraman di dadaku dari samping, dan hentakan brutal dari belakang bercampur jadi satu.
Astaga… kenapa aku justru menikmatinya?
Aku tahu jelas, di posisi ini aku bukan lagi Lusi si mahasiswi manis. Aku hanyalah budak pribumi, amoy murahan yang dipajang dan digilir. Ikatan di tanganku membuat tubuhku benar-benar jadi milik mereka, bebas diperlakukan sepuas hati.
Setiap kali batang itu menusuk lebih dalam, semakin aku merasa direndahkan… sekaligus semakin terjerat dalam kenikmatan hina yang kualami.
Ikatan di tanganku masih kuat menahan ke rak, tubuhku menunduk pasrah. Raka tiba-tiba mendekat dari belakang, meraih pinggangku lalu mengangkat kedua pahaku ke atas. Tubuhku terangkat melayang, hanya ditopang oleh lengannya dan ikatan di tangan.
“Aarrghh…!” aku menjerit ketika batangnya menghujam brutal, seluruh tubuhku berguncang di udara, tak ada pijakan sama sekali. Setiap hentakan membuatku melambung maju-mundur, seolah aku boneka yang dipaksa mengikuti irama liar Raka.
Suara desahannya makin berat, nafasnya panas memburu di leherku. Satu hentakan terakhir membuat tubuhnya menegang, lalu aku merasakan semburan deras yang menyusup masuk. Cairannya meluber, mengalir deras di antara pahaku yang masih terbuka lebar.
Tanpa memberi jeda, Raka menjatuhkan tubuhku kembali menempel ke rak, dan langsung digantikan oleh Andi. Ia menarik pinggulku kasar, menghujam tanpa menunggu persiapan.
Aku terpekik keras, tubuhku terguncang lagi, ikatan di tanganku makin menyakiti pergelangan, tapi tak ada yang peduli. Andi menghajar lebih cepat, lebih kasar, seakan ingin membuktikan kalau gilirannya lebih brutal dari Raka.
Sementara yang lain bersorak, menampar pantatku, menjambak rambutku, bahkan ada yang menekan kepalaku agar menempel pada rak besi.
Aku hanya bisa pasrah… diperlakukan seolah-olah tubuhku tak lebih dari mainan yang mereka rebutan.
Tanganku masih terikat kuat di rak besi, pergelangan terasa perih tapi tak bisa lepas. Kedua pahaku diangkat ke udara, tubuhku tergantung setengah melayang tanpa bisa menolak. Rok seragamku sudah tersingkap ke pinggang, baju putih kusut terbuka, bra terlepas, tubuhku benar-benar telanjang dari pinggang ke atas.
“Aaahhh…!!” jeritku pecah ketika satu demi satu batang mereka menghujam bergantian, keras dan tanpa ampun. Tubuhku terhentak maju-mundur mengikuti hentakan pinggul mereka, seolah aku hanyalah boneka yang dipaksa meladeni setiap giliran.
Sementara itu, tangan-tangan liar ikut meremas buah dadaku dari samping, keras dan bergantian. Jari-jari kasar mereka menjepit putingku, memelintirnya hingga aku menjerit lebih keras. Rambutku dijambak kuat, kepalaku ditarik ke belakang hingga wajahku mendongak.
“Muka cina lu bikin gua tambah napsu, anjing!” desis salah satu pria sambil menampar pipiku.
“Bener bro, muka amoy Pecinan emang gak ada obat! Liat nih, pribumi makin jadi sange kalo diginiin,” sahut yang lain sambil menghujam lebih keras.
Suara tawa mereka bercampur dengan desah kasar, memantul di dalam minimarket yang sudah terkunci rapat. Aku hanya bisa menjerit, tubuhku tersentak-sentak setiap kali batang mereka masuk lebih dalam, setiap kali jemari liar meremas dadaku makin kencang.
Di balik rasa sakit dan kepasrahan, ada bagian dalam diriku yang makin larut… aku benar-benar dijadikan budak Pribumi, dipermainkan, dihina, tapi tubuhku tak bisa berhenti bergetar menerima semua itu.
Andi akhirnya melepasku dengan kasar, masih sambil menjambak rambutku sebelum mundur. Nafasnya memburu, wajahnya berkeringat, tapi belum sempat turun, pria lain sudah maju menggantikannya.
Tanpa banyak bicara, ia langsung meraih pahaku yang masih terangkat, lalu menghujam masuk dengan hentakan pertama yang begitu keras sampai aku menjerit panjang.
“AAAHHHH!!!”
Tubuhku terhentak ke depan, pergelangan tanganku makin sakit menahan ikatan di rak. Tapi ia tak peduli. Setiap dorongannya cepat, keras, seolah ingin merobekku dari belakang.
“Aduh gila… ketat banget, kayak nyekep batang gue semua!” dengusnya sambil mengguncang pinggul lebih brutal.
Di sampingku, ada yang kembali meremas buah dadaku dengan kasar, mencubit putingku sambil tertawa. Ada pula yang menepuk-nepuk pipiku sambil bilang, “Tahan ya, amoy… ini baru awal. Nanti masih banyak giliran.”
Aku hanya bisa mendengus dan menjerit di sela hentakan, tubuhku terguncang tanpa henti. Dalam kepalaku, aku sadar—aku tak punya kuasa lagi, hanya boneka mereka, menunggu siapa pun yang mau menghujam bergantian. Pria itu menghajar tanpa ampun, setiap hentakan membuat tubuhku melenting, pahaku yang diangkat terasa makin pegal. Nafasnya memburu, wajahnya penuh nafsu.
“Anjirr… amoy kayak gini emang harus diginiin… ketat banget, bikin gue gila!” katanya sambil menghentak lebih dalam dan cepat.
Aku hanya bisa menjerit dan meringis, tubuhku berguncang keras. Di saat bersamaan, tangan lain dari samping terus meremas payudaraku, mencubit putingku sampai perih, rambutku dijambak, wajahku dicengkeram supaya mereka bisa melihat ekspresi pasrahku. Tubuhku berkali-kali terguncang, hingga akhirnya pria itu tiba-tiba menarik keluar batangnya dengan kasar. Aku terengah, pikirku ia akan diganti, tapi ternyata ia menunduk ke arah wajahku dan terkekeh,
“Gue pengen nyobain bo’ol cina. Pasti lebih gila rasanya…”
Mataku membelalak. “Ja–jangan… aahhh!” jeritku ketika tanpa banyak aba-aba ia memaksa batangnya menekan lubang belakangku. Rasa sakit menusuk seketika, tubuhku menegang keras.
“Diam! Rasain aja, anjirr… ketat banget, sumpah! Nggak nyesel gue nyobain!” desisnya sambil mulai menghujam masuk lebih dalam, meski aku meronta kesakitan.
Tanganku yang terikat ke rak makin sakit karena aku reflek menariknya, kepalaku terhentak ke belakang karena rambutku kembali dijambak. “Jerit lagi, amoy! Biar makin enak gue dengernya!”
Setiap hentakan membuatku melolong, campuran perih dan teror, sementara di sekelilingku terdengar suara tawa dan sorakan pria-pria lain yang menonton penuh nafsu.
Pria itu menancap batangnya ke dalam anusku dengan hentakan penuh tenaga. Aku menjerit keras, tubuhku bergetar hebat, kedua tanganku yang terikat di rak berusaha menarik diri tapi sia-sia.
“Anjirr… ketat parah, gila banget! Rasain nih, Cina murahan!” desisnya sambil menghantam lebih kasar.
Setiap dorongan membuat rak berderak, kaleng-kaleng makanan di atasnya berjatuhan berantakan. Tubuhku melayang, kedua pahaku tetap dipegang erat, pinggangku ditarik maju mundur dengan paksa.
“AAHH! BERHENTI! AHHH!” teriakku tak berdaya, tapi justru membuat dia makin beringas. Rambutku dijambak sampai kepalaku mendongak ke atas, dadaku diremas keras dari samping, putingku dipelintir, semuanya menambah siksaan itu.
Pria itu tak berhenti, hentakannya makin brutal, tubuhku menghantam rak berulang kali hingga besi rak bergetar hebat.
“Gua pengen hancurin bo’ol lu, Amoy! Rasain tenaga pribumi!!”
Hentakannya kian dalam dan cepat, napasnya memburu, peluhnya bercucuran. Rak bergoyang makin keras, beberapa bungkus mie instan dan botol jatuh ke lantai.
“AAAHH! AHHHH!!” jeritku makin melengking. Tubuhku dipaksa menunduk ke depan, perut menempel di rak, sementara dari belakang batangnya menghujam tanpa henti.
“Gua nggak tahan lagi, anjirr!! Rasain nih di dalem bo’ol lu, Cina!!!” teriaknya akhirnya. Dengan dorongan terakhir yang brutal, ia menancap dalam-dalam lalu tubuhnya menegang. Cairan hangat muncrat deras ke dalam anusku, membuatku menggeliat kesakitan.
Rak tempatku terikat tak kuat lagi menahan hentakan gila itu — bergeser keras, kaki rak terangkat, hampir roboh bersama tubuhku. Kaleng dan botol beterbangan ke lantai, suara berisik bercampur dengan teriakanku yang pecah.
Pria itu masih mendorong-dorong sampai semburan terakhir keluar, lalu akhirnya terhuyung mundur dengan napas tersengal.
Aku terkulai di rak yang hampir miring, tanganku masih terikat, tubuhku lemas, seragamku kusut parah, dan cairan mengalir dari belakangku.
Sorakan riuh meledak dari teman-temannya yang menonton.
“Gila, lu bikin rak hampir roboh!”
“Bo’ol cina emang bikin kecanduan, bro!”
Tubuhku masih tergantung lemas di rak yang miring, kedua tanganku terbentang lebar terikat di ujung besi. Nafasku terengah, seragam sekolahku kusut, roknya sudah naik ke pinggang, celana dalam entah kemana. Di bawah, lantai minimarket sudah penuh kaleng berserakan, bungkus mie instan, botol minuman yang pecah, semua berantakan.
Raka menepuk bokongku keras. “Belum selesai, Amoy. Kita masih pengen ngerasain dalem lu.”
Dari belakang, salah satu dari mereka langsung menggantikan posisi. Tanpa basa-basi, batangnya menghujam kasar ke dalam vaginaku. Aku menjerit tinggi, tubuhku tersentak keras ke depan, rak makin berderak menahan hentakan brutal itu.
“AAHH! Sakit! AHHHH!!” jeritku, tapi genggamannya di pinggang makin kuat. Dorongan demi dorongan menusuk dalam, suara cipratan basah bercampur dengan dentuman rak yang hampir roboh.
“Anjirr… amoy kaya gini ketat banget… sumpah, gua gila jadinya!” desisnya sambil menghantam lebih cepat.
Tubuhku hanya bisa pasrah diguncang ke depan-belakang. Rambutku dijambak, dadaku diremas keras dari samping. Aku meraung, mataku mendelik, tapi sensasi panas menjalar tak tertahankan.
Pria itu akhirnya menegang, mendorong sedalam mungkin lalu menyemburkan klimaksnya di dalam. Aku terperanjat, tubuhku bergetar hebat ketika cairannya membanjiri rahimku.
Belum sempat menarik napas, pria berikutnya langsung maju menggantikan. Kedua tanganku tetap terikat, tubuhku masih terjepit rak, paha terbuka lebar, dan batang berikutnya masuk dengan hentakan brutal.
“AAHHH!! GILAAA! JANGAN—!!” jeritku, tubuhku menghantam rak, kaleng jatuh bertubi-tubi ke lantai. Dia menghujam lebih cepat, lebih kasar, napasnya memburu.
“Lu cocoknya digilir kayak gini, Amoy! Pantes jadi budak Pribumi!!”
Hentakannya terus berulang sampai akhirnya ia meraung, tubuhnya menegang, dan semburan panas kedua memenuhi dalam tubuhku. Aku merintih keras, tubuhku bergetar, rasa penuh membuatku hampir pingsan.
Yang ketiga langsung maju, tak memberi jeda. Batangnya menusuk dalam dengan keras, aku menjerit melengking, tubuhku tersentak liar.
“Gua bikin lu nggak bisa jalan, Cina!” bentaknya sambil menghantam makin brutal.
Aku meraung, tanganku yang terikat menegang, kepalaku menghantam rak berulang kali. Dan akhirnya, tak tertahan lagi, tubuhku sendiri meledak dalam klimaks. Aku menjerit panjang, cairan memancar keluar bercampur dengan semburan ketiga pria itu yang menyusul memenuhi vaginaku.
Rak bergoyang keras, hampir roboh, makanan berserakan makin kacau, suara dentuman bercampur dengan erangan klimaks mereka.
Aku terkulai, tubuhku gemetar hebat, napas megap-megap. Kedua tanganku masih terikat di rak, kakiku nyaris tak sanggup berdiri lagi. Seragamku robek kusut, tubuhku basah bercampur peluh dan cairan mereka.
Sorakan mereka terdengar puas.
“Anjirr, pecinan ini emang bablas, bro…”
“Gila, digilir bertiga langsung, sampe rak hampir ancur…”
Rak yang sejak tadi berderak akhirnya benar-benar tidak kuat lagi. Begitu tubuh Lusi diguncang brutal oleh tusukan tukang parkir, besi penyangga bergoyang keras, lalu BRAAAKK! seluruh rak ambruk ke depan, menimpa lantai dan membuat tumpukan makanan berserakan lebih parah.
Tubuh Lusi ikut terseret menelungkup di atas rak yang roboh. Kedua tangannya masih terikat di sisi besi, kini menekan lantai dingin penuh serpihan bungkus makanan. Ia menjerit panjang, tubuhnya terguncang tanpa henti, rambut kusut menutupi wajahnya.
Tukang parkir tidak berhenti sedikit pun. Dari belakang, hentakannya makin brutal, penuh tenaga. Pinggulnya membentur pantat Lusi berulang-ulang, suaranya keras bercampur dengan dentuman besi rak yang sudah hancur.
“AAHHH!! SAKIT!! AHHHH!!” jerit Lusi, kepalanya menghantam lantai, napasnya tersengal. Tangannya mengepal kuat, berusaha bertahan, tapi ikatan membuatnya tak berdaya.
“Diam lu, Amoy! Lu emang pantas diginiin!!” tukang parkir meraung, sambil menarik rambut Lusi ke belakang. Tubuhnya makin beringas, dorongan masuk begitu dalam hingga tubuh Lusi terangkat sedikit tiap kali dihantam.
Lusi meraung, tubuhnya bergetar hebat, campuran rasa sakit dan panas membuatnya semakin pasrah. Cairan bercampur menetes ke lantai, seragamnya kusut robek, roknya naik di pinggang.
Tusukan itu terus menghajar tanpa jeda sampai akhirnya tubuh tukang parkir menegang. Dengan raungan kasar, ia mendorong sekuat tenaga lalu melepaskan semburan klimaks yang deras ke dalam.
Lusi tersentak, tubuhnya ikut bergetar kuat. Ikatannya tetap menahan, membuatnya hanya bisa menjerit panjang sambil kelelahan menelungkup di atas rak yang hancur.
Rak yang sudah terguling kini jadi arena baru. Tubuh Lusi terhimpit di atas besi rak yang miring, seragamnya sudah kusut dan robek, roknya tetap tersingkap di pinggang. Kedua tangannya masih terikat, membuatnya tak bisa melawan.
Tiga pria maju bergantian, tapi kali ini mereka serentak menguasai tubuhnya. Dari belakang, satu pria menghujam keras tanpa ampun, pinggulnya menghantam pantat Lusi berulang-ulang hingga tubuh Lusi terguncang liar di atas rak yang nyaris hancur.
Di depan, Bimo berdiri sambil menjambak rambut Lusi. “Buka mulut lu, Amoy!” bentaknya, lalu dipaksa memasukkan batangnya ke dalam mulut Lusi. Kepala Lusi ditarik maju-mundur seirama dengan dorongan pinggulnya, membuat suara muntahan dan erangan bercampur.
“Cepet, hisep yang bener!” desis Bimo sambil makin menekan kepalanya.
Dua pria lain tak mau kalah, ada yang meremas buah dada Lusi dari samping sambil mendorong tubuhnya menempel ke rak, ada juga yang menampar pantatnya keras-keras setiap kali dorongan belakang masuk makin dalam.
Lusi hanya bisa meraung tercekik, napasnya tertahan karena mulutnya penuh, sementara dari belakang tusukan makin brutal. Tubuhnya terhimpit, terikat, diperlakukan layaknya budak.
Suasana makin panas, hentakan demi hentakan menghajar tubuh Lusi tanpa henti. Sampai akhirnya satu per satu mereka mencapai klimaks — yang di belakang menumpahkan isinya dengan raungan keras, Bimo melepaskan semburan di dalam mulut Lusi sambil terus menekan kepalanya, lalu pria lain juga mengikuti, membuat tubuh Lusi lemas terguncang hebat.
Rak yang terguling bergetar keras karena hentakan terakhir mereka, makanan berjatuhan menutupi lantai. Lusi hanya bisa terbaring setengah pingsan, mulutnya basah bercampur, tubuhnya bergetar, sementara mereka saling tertawa puas melihatnya benar-benar dijadikan pelampiasan.
Rak sudah terguling rata di lantai, makanan berserakan, plastik-plastik camilan robek terinjak. Tubuh Lusi telentang setengah menelungkup di atas rak yang hancur, napasnya megap-megap, wajahnya belepotan cairan. Seragamnya kini hanya tinggal sisa: kancing baju sudah copot, bra entah di mana, rok masih tersangkut di pinggang.
Raka menepuk-nepuk pipi Lusi. “Hei, Amoy… jangan pura-pura pingsan. Belum kelar,” ucapnya sambil menyeringai.
Lusi membuka mata setengah sadar, tubuhnya lemas, tapi justru tatapan itu yang bikin mereka tambah bernafsu. Andi terkekeh, “Gila, kayak gini malah makin mantep… budak Pecinan lemes pas digilir.”
Bimo, yang tadi puas menyumpalkan batangnya ke mulut Lusi, mendekat lagi. Rambut Lusi dijambaknya, lalu kepalanya dipaksa mendongak. “Ayo, masih bisa kan? Mulut lu gue kangenin lagi.”
Dari belakang, tukang parkir sudah siap lagi. “Gue belum puas. Lu pikir cukup sekali doang, Amoy?” desisnya sambil meraih pinggang Lusi dan menariknya ke atas. Tubuh Lusi yang remuk itu kembali dipaksa menungging di atas rak hancur.
Mereka kembali bergantian — lebih brutal dari ronde sebelumnya. Rambut ditarik keras, pipi ditempeleng, pantat ditampar sampai merah, dan setiap tusukan membuat rak berderit makin parah. Lusi menjerit-jerit, tapi jeritan itu tenggelam di ruangan minimarket yang sudah digembok rapat dari dalam.
Di sela jeritannya, tubuh Lusi justru bergetar hebat, klimaksnya datang lagi meski pikirannya sudah kacau. “Aaahhh… jangan… jangan lagi…,” isak Lusi, tapi panggulnya terus berguncang mengikuti setiap hentakan.
Suasana makin panas, empat pria itu menggilas tubuh kecil Lusi berkali-kali, seolah tak pernah kenyang.
Hentakan demi hentakan makin buas. Rak yang sudah roboh kini jadi alas tubuhku yang terguncang tak berdaya. Empat pria itu menggilirku tanpa ampun, tak ada jeda, tak ada belas kasihan.
Raka menancap paling dalam lalu merintih keras. “Sial, gua udah nggak tahan!” Tubuhnya menegang, lalu menyembur deras di dalamku.
Belum sempat aku bernapas, Andi langsung menggantikan dari belakang. Dorongannya cepat, kasar, napasnya memburu. “Anjing… ini rasanya gokil banget!” teriaknya sebelum akhirnya klimaks, menumpahkan isi perutnya di dalam tubuhku yang sudah penuh.
Bimo di depan masih menjambak rambutku, memaksa mulutku terus mengulum. Dengan sekali hentakan, ia menahan kepalaku kuat-kuat, lalu menjerit puas, melesakkan semburan hangatnya sampai luber keluar dari sudut bibirku.
Tukang parkir jadi yang terakhir, paling brutal. Ia menghajar pantatku dengan tamparan keras sambil menghujam sampai rak berderak lagi. Aku menjerit, tubuhku bergetar hebat, orgasme terakhir menyapu seluruh tubuhku. Tukang parkir mengguncang sekuat tenaga sebelum akhirnya menekan batangnya dalam-dalam dan menyemburkan klimaks panjang, memenuhi rahimku yang sudah berkali-kali diisi.
Aku jatuh lunglai di atas rak yang hancur, tubuhku basah, belepotan, dan lemas tak berdaya. Nafasku terengah, mataku sayu setengah tertutup.
Keempat pria itu terengah-engah, berkeringat, tapi puas dengan “hukuman” mereka. Minimarket hancur berantakan, rak roboh, makanan berserakan, dan tubuhku jadi bukti pesta brutal yang baru saja berakhir.
Minimarket sepi, hanya suara kipas angin tua yang berdecit di pojok ruangan. Rak makanan yang hancur jadi saksi bisu pesta itu.
Aku terbaring lemas di lantai, seragamku kusut, kancing baju hampir semua copot, rok tersingkap tinggi di pinggang. Tubuhku penuh jejak tangan, gigitan, dan sisa-sisa cairan yang menetes bercampur di kulitku. Nafasku masih tersengal, dadaku naik turun cepat.
Para pria berdiri mengelilingiku. Raka menyulut rokok sambil terkekeh. “Lihat tuh, amoy nakal udah jadi budak beneran.”
Andi menendang bungkus mie instan yang berserakan lalu nyeletuk, “Gila… rasanya nggak bakal gue lupain seumur hidup.”
Bimo masih membetulkan celananya sambil melirik tubuhku. “Muka cina murahan gini emang pantes digilir rame-rame.”
Tukang parkir jongkok di sampingku, lalu menepuk pipiku keras-keras sampai kepalaku menoleh. “Inget baik-baik… mulai sekarang lo bukan siapa-siapa. Lo cuma mainan buat kami.”
Aku menutup mata, tubuhku tak lagi melawan. Malu, sakit, dan nikmat bercampur jadi satu. Di antara sisa-sisa jeritan tadi, aku sadar: aku sudah pasrah. Aku menerima peran baruku—gadis chindo nakal yang jadi budak pribumi, bebas dipakai kapan saja mereka mau.
Di luar, malam tetap sunyi. Tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi di minimarket itu, kecuali kami yang ada di dalam.
Aku menarik napas berat. Tubuhku masih bergetar, tapi aku memaksa merapikan seragamku. Rok yang tadi tersingkap sudah kuturunkan, meski kusut parah. Kancing baju yang lepas tidak bisa tertutup sempurna, tapi setidaknya aku mencoba menutupi tubuhku. Rambutku pun kusisir dengan jari, meski masih acak-acakan.
Baru saja aku berdiri dengan susah payah, suara deru motor berhenti tepat di depan minimarket. “Tedeeriiiit…” remnya terdengar jelas, membuat semua pria yang ada di dalam saling melirik.
Raka berjalan ke arah pintu folding gate sambil menghembuskan asap rokok. Ia mendorong pintu besi itu setengah terbuka, dan tampak dua pria dengan jaket seragam minimarket lain turun dari motor.
“Woi, maaf telat. Baru kelar periksa stok di cabang sana,” kata salah satunya sambil melepas helm.
“Lah, kalian udah kelar?” tanya yang lain, matanya langsung tertuju ke dalam, melihat isi minimarket yang berantakan—rak oleng, bungkus makanan berserakan di lantai.
Andi terkekeh, menendang bungkus mie instan yang kosong. “Heh, lo telat banget bro. Tapi barangnya masih ada kok.”
Bimo menambahkan sambil menunjuk ke arahku yang berdiri kaku dengan wajah pucat dan seragam kusut. “Tuh, lihat… amoy-nya udah rapih-rapih lagi, tapi masih bisa dipakai ulang, kan?”
Dua orang yang baru datang itu saling pandang, lalu senyum puas merekah di wajah mereka.
“Anjir… cakep bener. Kita kebagian juga, dong?”
Raka menyeringai, menepuk bahu salah satunya. “Santai aja, bro. Malam ini panjang. Amoy kita nggak kemana-mana.”
Aku terdiam, mataku menunduk. Aku sudah berusaha merapikan diriku, tapi kenyataan di depan membuat semua usahaku sia-sia. Dalam hatiku aku sadar—malam ini belum selesai.
“Main di sini aja biar cepet kelar,” ujar Raka santai sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara malam. Ia meraih seutas tali dari balik rak, lalu memberi isyarat pada dua pria yang baru datang.
Mereka mendekat dan tanpa banyak bicara menarik kedua pergelangan tanganku. Tubuhku yang masih lemas tertahan dan akhirnya berdiri terpaku di tengah pintu folding gate yang terbuka ke kanan dan kiri. Tangan kiriku diikatkan ke pegangan besi sisi kiri dan tangan kananku ke sisi sebaliknya. Begitu pintu ditarik perlahan ke arah berlawanan, kedua lenganku pun terbentang lebar sehingga tubuhku terlihat jelas di tengah dan aku harus menahan keseimbangan dengan kaki sedikit terbuka.
Aku menggigil dan rok kusutku kembali tersingkap dan seragam atas yang kancingnya sudah copot tak bisa lagi menutupi dada dan tubuhku terasa dingin menyebar hingga ke punggung. Nafasku tersengal sementara mataku hanya bisa melirik samar ke arah jalan yang sepi dan bayangan pepohonan bergerak perlahan karena angin malam.
Bimo menyahut. “Mantap bro… kayak etalase jalanan aja.”
Suasana depan minimarket gelap. Sebagian lampu sengaja dipadamkan, menyisakan cahaya samar dari dalam ruangan. Di luar, jalan sudah lengang, hampir tak ada orang lewat. Hanya terdengar suara serangga malam dan motor jauh di ujung jalan.
Raka mendekat padaku, menampar pelan pipiku agar wajahku mendongak. “Liat, Amoy… sekarang lo jadi pajangan pribumi. Tangan lo udah dikunci, badan lo tinggal dipakein rame-rame.”
Dua pria yang baru datang ikut menahan kakiku agar tetap terbuka. Sementara itu, tukang parkir yang tadi paling brutal menyeringai sambil membuka resleting. “Gue duluan ya, bro. Nggak tahan liat posisi beginian.”
Tubuhku hanya bisa meronta kecil, tapi ikatan pada besi folding gate membuatku tak berdaya. Malam sepi, jalan gelap, dan suara cekikikan para pria makin menegaskan: malam ini aku sepenuhnya milik mereka.
Begitu dua pria baru itu melihatku terikat berdiri di pintu folding gate, mereka langsung saling lirik dan tertawa.
"Amoynya udah siap nih bro.. kalau udah posisi begini mah bisa dihajar dari depan belakang.
Pegawai minimarket yang berdiri dibelakang mendorong kepalaku hingga punggungku tertekuk ke depan, membuat tubuhku otomatis berdiri menungging. Ikatan di kedua tanganku tetap membentang di besi pintu, membuatku tak bisa melawan.
Rok seragamku sudah tersingkap ke atas pinggang, menampakkan bokong yang jadi incaran. Salah satu pria berdiri di belakang, meremas keras pantatku sebelum menghujam masuk dengan brutal. Tubuhku langsung tersentak, teriakanku tertahan karena wajahku tertekan dekat lipatan besi.
Temannya berdiri di samping, menahan pinggangku agar tetap menungging, sambil menampar bokongku keras-keras. “Mantap banget moy! Badan lo udah pas banget buat digilir kayak gini. Katanya sambil terkekeh.
Hentakan demi hentakan makin keras, hingga folding gate ikut bergetar. Punggungku makin tertekuk, dadaku hampir menempel pada dingin besi, sementara pahaku dipaksa tetap terbuka.
“Cepet gantian bro. Gue udah nggak tahan liat pantatnya. Seru salah satu pria yang menunggu giliran. Begitu temannya menarik penisnya keluar, ia langsung menggantikan posisi, menghujam masuk dari belakang dengan tenaga penuh. Jlebb..
Akkh.. pelan pelaan.. baaang.. Aku menjerit lebih keras, tubuhku bergetar menahan hentakan dari belakang tanpa bisa kabur. Rambutku terurai berantakan, mulutku terbuka lebar di antara erangan dan tangisan.
Andi dan Raka hanya menonton sambil terkekeh, sesekali menepuk bahu temannya.
"Hajar lebih brutal lagi bro.. makin kasar makin suka tuh amoynya. Haha..
Dengan posisiku masih berdiri Menungging dan kedua pergelangan tangan terikat di pintu folding gate, seorang pria maju ke depan. Ia membuka resleting celananya, lalu mendorong batangnya ke arah wajahku. Rambutku dijambak kasar, kepalaku dipaksa mendongak.
“Ayo, Amoy… kulum yang bener!” desisnya sambil menghantamkan batang itu ke bibirku, lalu menjejalkannya paksa masuk ke mulut.
Di saat yang sama, pria lain berdiri di belakang, meraih pinggangku dengan kedua tangan lalu menghujam masuk keras-keras. Tubuhku tersentak ke depan, membuat batang di mulutku makin dalam. Suara yang keluar hanya erangan tertahan bercampur dengan isakan.
Pak! Pak! tamparan keras mendarat di bokongku, membuat pantatku bergetar tiap kali dihujam. Punggungku yang tertekuk menempel pada dingin besi folding gate, sementara tanganku tetap terikat kencang di kanan dan kiri.
“Liat tuh, Amoy Pecinan lagi jadi mainan beneran, bro,” seru Andi sambil tertawa keras.
Raka menghembuskan asap rokoknya ke udara sambil mengejek, “Mukanya aja udah cukup bikin sange. Apalagi sekarang ditelanjangin begini. Amoy murah!”
Bimo menambahkan, “Gue bilang juga apa, muka Cina kayak gini emang pantes dilayanin buat kita rame-rame.
Di depan, batang yang terus dipaksa masuk membuatku tersedak. Air liur bercampur dengan cairan lain menetes ke dagu. Dari belakang, hentakan semakin cepat, membuat tubuhku terguncang hebat.
Suasana jalanan tetap sepi, hanya suara dentuman folding gate bergetar dan jeritanku yang tertahan memenuhi udara.
Tukang parkir nyengir sambil menghisap rokok, lalu nyeletuk,
“Anjir, liat gaya begini… kayak adegan chaos jaman dulu di film-film. Amoy dijadiin tontonan rame-rame, digilir di depan pintu rumahnya.
Andi langsung ngakak, “Hahaha, iya… gua juga pernah nonton reenact gitu. Enci-enci kantoran yang dandan rapih ditarik keluar mobil terus dipaksa nungging di jalan.
Bimo menimpali, “Atau cewek tajir dari Pecinan yang sok angkuh… ujung-ujungnya juga dijadikan budak kalau udah jatuh ke tangan kita.
Semua obrolan itu dilemparkan sambil mata mereka menatapku yang dipaksa berlutut di depan pintu folding gate minimarket. Kedua tanganku masih terikat pada besi, pintu sengaja ditarik ke arah berlawanan supaya tubuhku terbentang tegang.
Satu pria mencengkeram rambutku, mendorong batangnya paksa ke mulut. Dari belakang, temannya menghujam liar tanpa ampun, kedua tangannya mencengkeram pinggangku erat-erat. Setiap dorongan bikin tubuhku tersentak maju, makin menelan dalam batang yang menusuk dari depan.
Di tengah hiruk-pikuk ejekan, aku hanya bisa merintih. Air liur bercampur erangan, tubuhku diperlakukan seolah benar-benar tak lebih dari budak mainan.
Tukang parkir menyeringai sambil buang asap rokok.
“Gue akui, bro… amoy Pecinan emang nggak ada lawan. Apalagi tuh, anak gadis yang punya toko buku depan sana… badan tinggi, putih mulus, muka cinanya bikin sange abis.”
Andi ngakak, “Hahaha, iya… gua juga sering liat tuh. Kalau dapet yang kayak gitu, anjir… bisa kita kerjain rame-rame kayak sekarang.”
Bimo nimpalin, “Udah pasti lebih mantap, bro. Amoy macam gitu kalo jatuh ke tangan kita ya tamat. Dijadiin budak sampe nggak bisa jalan.”
Tawa kasar mereka menggema, menambah tekanan mental buatku yang masih terikat dan digilir tepat di depan folding gate minimarket yang setengah gelap.
Kedua pria itu akhirnya meraung pendek, tubuh mereka menegang bersamaan. Satu menghujam sampai dalam lalu melepas semburan panasnya, sementara yang di mulutku menekan kepalaku makin dalam sebelum akhirnya menarik keluar dengan erangan puas.
Tubuhku terhuyung, napas tersengal, tapi ikatan di tanganku membuatku tetap tergantung pasrah di pintu folding gate. Rok seragamku sudah kusut dan terangkat habis, dadaku terekspos penuh.
Tukang parkir yang sejak tadi menonton sambil merokok langsung maju, menepuk pipiku kasar.
“Sekarang giliran gua lagi, Amoy,” katanya sambil menekan batangnya ke bibirku. Dengan sekali jambakan, mulutku kembali dipaksa menelan batangnya yang keras.
Di saat yang sama, Raka mengambil alih dari belakang. Tangannya mencengkeram pinggangku kuat-kuat, lalu menghantamkan tubuhku dengan hentakan kasar. Rak minimarket di dekat pintu ikut bergetar setiap kali tubuhku terdorong.
Andi dan Bimo tak tinggal diam. Keduanya meremas dadaku dari samping kanan dan kiri, mencubit keras putingku, membuat tubuhku tersentak meski mulutku masih penuh.
Tak lama, Raka mengganti posisi. Ia menarikku lebih rapat ke arahnya, sementara tukang parkir melepaskan batangnya dari mulutku yang penuh liur. Cairan mengalir dari sudut bibir, nafasku terengah, tapi teriak dan desahanku hanya memancing tawa brutal pria-pria itu.
Raka maju dan berdiri tepat di depanku. Ia meraih kedua pahaku, lalu dengan tenaga penuh mengangkat tubuhku ke atas. Ikatan di pergelangan tanganku masih kencang di pintu folding gate, membuat tubuhku melayang setengah, seperti digantung paksa.
“Pas banget tingginya… gue bisa gendong sambil hajar nih muka cina,” desis Raka dengan tawa kasar.
Batangnya langsung menghunjam masuk keras-keras. Setiap hentakan membuat tubuhku berguncang liar, roknya terangkat habis, seragamku makin kusut. Rambutku terjuntai ke belakang, wajah orientalku yang pucat dipaksa mendongak menatap Raka.
Raka menatap lurus ke wajahku, senyum bengis muncul.
“Liat muka lo sekarang… kayak amoy murahan minta ampunan. Haha… makin bikin gua napsu aja!”
Aku menjerit, wajahku setengah memelas, tapi justru ekspresi itu yang sengaja ditahan Raka. Jambakan di rambut membuat kepalaku tak bisa menoleh. Kedua tanganku yang terentang kencang menambah kesan tak berdaya, sementara tubuhku dipompa tanpa henti di udara.
Andi dan Bimo di samping hanya tertawa-tawa, menyoraki setiap hentakan.
“Woy, tuh muka amoy bener-bener kayak mainan, bro!”
“Oriental begini kalau udah dipake pribumi, udah nggak ada harganya!”
Raka semakin brutal, hentakannya keras, napasnya memburu, sementara tatapannya tak lepas dari wajahku yang penuh liur dan air mata.
Salah satu pegawai minimarket maju menggantikan posisi Raka. Dengan mudah ia kembali mengangkat kedua pahaku, tubuh mungilku tetap tergantung di udara karena tanganku masih terikat kuat di folding gate. Seragam sekolahku sudah kusut parah, roknya tersingkap ke pinggang, kemeja putihku terbuka setengah, menyingkap dadaku yang masih basah oleh remasan dan keringat.
“Uhh—!” jerit kecil lolos dari bibirku, terputus-putus karena napasku tersengal. Aku merasa penuh, tertekan, nyeri dan nikmat bercampur jadi satu, membuat otot-otot di dalamku berkontraksi tanpa kendali.
Batang itu menekan semakin dalam, seakan tidak menyisakan ruang sedikit pun. Pinggulku terasa panas, pahaku bergetar, dan air mataku mengalir deras tanpa bisa kutahan. Aku menunduk sebentar, melihat tubuhku sendiri dipaksa menerima hentakan itu, lalu mendongak lagi dengan wajah merah basah oleh keringat.
Setiap kali ia menahan di dalam, aku seperti kehilangan diriku sendiri. Tubuhku melengkung kencang, bibirku terbuka mencari udara, dan tanganku bergetar liar mencari pegangan. Rasanya seperti dijebol, dipaksa terbuka, hingga hanya ada satu hal yang kurasakan—sensasi menghujam yang membuatku semakin lemah, semakin tenggelam, dan semakin sulit bernapas.
Aku menutup mata, tapi semakin kucoba melawan, semakin jelas rasa itu merayap, membuatku terhuyung di antara kesakitan dan kenikmatan yang menyalak tanpa henti.
Aku menjerit panjang, suara pecah tak terkendali bersamaan dengan kontraksi klimaks yang menghantamku begitu kuat. Tubuhku gemetar hebat, pasrah sepenuhnya di gendongan. Nafasku terputus-putus, dada naik turun cepat, dan aku merasakan cairan hangat mengalir turun di sepanjang pahaku.
Aku masih terkulai lemah ketika pegawai pertama menarik batangnya keluar perlahan. Pegangannya di pinggangku begitu kuat hingga aku tak bisa bergerak. “Masih ngeremas banget dalemnya… gila, nggak mau lepas,” bisiknya sambil terkekeh. Kata-katanya menusuk kepalaku, membuat wajahku semakin panas.
Sebelum aku sempat menarik napas lega, tubuhku sudah ditarik kasar dari gendongan. Aku terhuyung, lenganku yang masih terikat di folding gate membuatku seperti boneka yang tergantung. Pegawai kedua langsung mengangkatku, mendekat, dan tanpa basa-basi menancapkan dirinya dari belakang.
Tubuhku terhentak keras ke depan. Aku menjerit lagi, suara serak karena terlalu banyak berteriak sebelumnya. “Ahhh—!!” jeritanku pecah memenuhi ruang sempit itu.
Setiap hentakannya cepat dan brutal, membuat tubuhku berulang kali terbentur perutnya. Buah dadaku diremas keras dari bawah seragam kusut yang menempel lengket di tubuh. Aku semakin tercekik di antara sakit, nikmat, dan rasa malu yang menusuk, tapi tubuhku tetap bergetar mengikuti setiap tusukan yang menghujam tanpa henti.
“Lihat mukanya bro, udah kayak nggak sanggup lagi tapi dalemnya malah makin ngeremas,” ejek pegawai ketiga sambil menonton.
Pegawai kedua akhirnya menegang, tubuhnya bergetar liar lalu meledak di dalamku dengan hentakan terakhir yang begitu dalam. “Anjiiing… gua tumpahin semua, abis nih amoy,” desisnya puas sambil menahan napas berat.
Tanpa menunggu lama, tubuhku yang sudah lemas langsung ditarik paksa. Pegawai ketiga mendekat, kedua tangannya meraih pahaku lalu mengangkatku tinggi-tinggi. “Amoy, siap lagi kan? Gue nggak peduli lo udah mau pingsan atau nggak, gua harus nyoba dalemnya,” katanya dingin.
Batangnya langsung menembusku tanpa ampun. Aku menjerit parau, kepalaku menengadah tinggi, mataku terpejam rapat. Kontraksi sisa klimaksku belum reda, tapi tubuhku sudah dipaksa menerima serangan baru yang lebih keras.
Tawa kasar terdengar di sekelilingku. Raka menyalakan rokok sambil menonton. “Anjir, nggak ada obat nih amoy. Baru kelar dipompa udah dimasukin lagi. Gila banget dalemnya pasti…” katanya sambil menghembuskan asap.
Pegawai ketiga makin beringas. Tubuhku yang sudah lemas tetap diangkat, pahaku dijepit kuat di pinggangnya. Setiap hentakan membuat seragam sekolahku yang kusut tersingkap lebih tinggi, memperlihatkan pahaku yang bergetar hebat setiap kali dihantam.
“Anjir… dalem banget bro, gua nggak mau keluarin cepet-cepet!” desisnya sambil terus menghujam brutal.
Aku menjerit serak, kepalaku terdongak, rambutku berantakan, tanganku masih terikat kencang di besi pintu folding gate. “Ahhh… nggak… nggak sanggup lagi…!” suaraku pecah, tapi tubuhku justru bergetar keras, tanda aku kembali mencapai puncak meski sudah tak sanggup menahan.
“WOII… dia malah orgasme lagi tuh! Amoy bener-bener budak kontol asli!” teriak salah satu pegawai sambil tertawa keras.
Pegawai ketiga makin kalap. Tubuhnya menegang, hentakannya makin cepat dan dalam seolah ingin merobek habis. Dengan satu dorongan terakhir yang brutal, ia menancap sedalam mungkin dan menahan erat. “Aaahhh… gua keluarin semuanya di dalem moy! Rasain nih!” teriaknya puas.
Tubuhku terhentak keras dan jeritanku pecah panjang. Lendir hangat tumpah deras memenuhi rahimku bercampur dengan sisa pria sebelumnya. Seluruh tubuhku bergetar hebat, punggungku melengkung lalu aku jatuh lemas dalam gendongannya.
Pria itu terengah sambil menahan batangnya di dalamku sebelum akhirnya menarik keluar pelan. Cairan kental langsung mengalir deras ke pahaku dan membasahi rok seragamku. “Anjir puas banget gua. Jepitan memek amoy emang gak ada lawan. Kontol gua berasa diperas abis.”
Raka menghembuskan asap rokok lalu menepuk bahu pria itu. “Nih amoy kelakuannya udah ngelebihin lonte. Udah digilir rame rame masih belum puas juga.”
Setelah puas bergiliran salah satu dari mereka membuka ikatan di pergelangan tanganku. Tubuhku langsung terkulai lemas hampir jatuh ke lantai kalau tidak ditahan Raka. “Belum selesai moy. Sekarang kita coba gaya lain yang lebih hot.” Desisnya sambil menyeret tubuhku ke arah pintu folding gate yang terbuka lebar.
Mereka memaksaku membungkuk dengan wajah menghadap lurus ke jalan depan minimarket. Kedua daun pintu folding gate ditarik hingga menjepit tubuhku di tengah membuatku tak bisa bergerak. Seragamku kusut parah, rok tersingkap ke pinggang dan celana dalam entah ke mana.
Bimo langsung berlutut di belakangku. “Gila liat pantatnya. Udah basah banget bro.” Ia menghunjam batangnya ke dalam tubuhku dengan satu dorongan kasar.
“AHHHH!!” jeritku pecah, tubuhku terguncang keras ke depan dan wajahku menempel di besi dingin pintu. Dari sudut mataku aku bisa melihat jelas jalanan depan minimarket yang sepi dan gelap. Sesekali ada motor melintas jauh tapi tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di balik bayangan pintu yang tertutup setengah ini.
Bimo menghantam makin cepat, kedua tangannya mencengkeram pinggangku erat. Tubuhku tersentak maju mundur, dadaku terhimpit pintu, nafasku terengah.
“Rasain tuh amoy lo dipake sambil ngadep jalan. Kayak tontonan gratis kalau ada orang lewat.” ejek Bimo sambil menghujam makin dalam.
Aku hanya bisa memejamkan mata dan jeritanku pecah setiap kali batangnya menghantam hingga ke dasar. Rasa sakit nikmat dan malu bercampur jadi satu, bayangan jalan gelap di depan membuatku makin terjebak tak berdaya.
Di belakang para pegawai lain menonton sambil tertawa dan memberi semangat kasar. “Gas terus Bim.. bikin tuh cina kelojotan lagi. Teriak salah satu dari mereka.
Bimo masih menghajar dari belakang, tubuhku terguncang keras menempel di pintu folding gate yang menjepit badanku. Sesekali aku mendongak, menatap jalanan gelap di depan dengan wajah memelas.
Tiba-tiba dari arah ujung jalan terdengar langkah kaki pelan. Seorang hansip dengan seragam kusam melintas, membawa senter yang sesekali diarahkan ke kanan kiri. Cahaya itu mendadak menyorot ke depan minimarket. Gerakan tubuhku yang menungging di pintu folding gate langsung tertangkap jelas. Hansip itu berhenti, wajahnya terbelalak tak percaya. Ia menundukkan kepala, memperhatikan lebih saksama, lalu berjalan cepat mendekat.
“Heh!? Lagi pada ngapain lu dimari !! Serunya kaget.
Sontak suasana di depan minimarket jadi tegang. Raka yang paling cepat bereaksi langsung maju, menghentikan gerakan Bimo dengan satu hentakan tangan. “Udah, udah stop dulu,” bisiknya cepat.
Bimo terpaksa menarik batangnya keluar, tubuhku langsung terkulai lemas dengan rok seragam abu abu masih dalam kondisi tersingkap.
Hansip sudah semakin dekat, senternya menyorot tepat ke wajahku yang kusut dan tubuh para pria di sekelilingku. “Gila.. kalian lagi pada ngapain ini?! Ini perbuatan… suaranya meninggi.
Sebelum sempat meneruskan, Raka cepat-cepat mendekat sambil mengangkat tangannya, pura-pura menenangkan. “Ssst… jangan salah paham Pak. Ini bukan apa-apa. Tadi sore cewek ini ketangkep nyolong di toko. Sekarang kita lagi ngasih pelajaran sama dia biar kapok.
Hansip menatap tajam ke arahku, tubuhku masih terjepit di pintu folding gate, wajahku merah basah keringat.
Aakkhh yang bener kalian. Masa iya amoy secantik ini nyolong diminimarket ? Tanyanya curiga dan senternya belum diturunkan.
Andi menambahkan dengan nada meyakinkan, “Iya Pak. tadi dia ketangkep ngambil barang. Udah sering juga. Makanya kita ikat di sini biar dia malu dikit, biar nggak ngulang lagi.
Suasana hening sesaat. Hansip itu terlihat ragu, antara percaya atau tidak dengan alasan Raka. Ia melangkah makin dekat, senternya menyorot ke tubuhku yang terjepit di antara pintu folding gate, seragam sekolahku kusut, wajahku menatap kosong ke jalanan di depan.
Raka nyengir sambil menghembuskan asap rokok ke udara. “Tenang Pak, nih anak ketahuan nyolong. Kita lagi kasih pelajaran biar kapok.”
Hansip mengangguk pelan, tapi matanya jelas tidak bisa lepas dari tubuhku. Bibirnya melengkung miring, lalu tanpa malu ia menurunkan resleting celananya. “Kalau gitu kasih gue bagian juga. Gue bantu ngasih pelajaran.”
Tawa kasar langsung pecah dari para pria di sana. “Wah pak hansip ikut nimbrung nih, cocok banget!” ejek tukang parkir sambil menampar pantatku keras-keras.
Hansip melangkah lebih dekat lalu mencengkeram daguku kasar supaya wajahku mendongak.
"Sialan.. Cakep juga nih amoy. Tapi kalau diperhatiin mukanya mirip banget sama anak gadisnya koh Aliong yang jualan bakmi di pasar pecinan Hehe..
Akhh.. bukaaan.. pak.. pastii bapak salah liatt.. Aku menggeleng berusaha membantah sementara napasku masih tersengal. Rasa malu, takut, dan pasrah bercampur jadi satu. Semua suara ejekan, tawa, dan langkah kaki di sekitarku seakan berputar di kepala, menegaskan satu hal: aku benar-benar sudah dianggap milik siapa aja yang mau.
Hansip makin penasaran dan wajah rentanya dipenuhi nafsu. Tapi sebelum ia bergerak lebih jauh aku mendongak, menatap dengan mata setengah terbuka, napasku masih ngos-ngosan. “Aku… aku rela kok Pak,” bisikku lirih, seolah benar-benar menyerahkan diri. “Pakai aku aja kayak yang lain tadi tapi tolong jangan ceritain kejadian ini kepada siapapun.
Hansip sempat terdiam sejenak, lalu tertawa kasar. “Hahaha… jadi lu beneran suka diginiin ya. Tadinya gue kira lu lagi dikerjain sama mereka. Amoy nakal ternyata fantasinya lebih liar dari tampangnya.
Raka menyeringai lalu menepuk pundak hansip. “Udah pak langsung hajar aja. Nih amoy emang suka banget dipaksa dan dikasarin.
Aku menunduk, wajahku memerah, tapi bibirku sedikit bergetar menahan senyum samar. Fantasi gilaku benar-benar jadi nyata, bahkan sekarang aku yang meminta sendiri. Hansip tua membuka celananya lebih lebar lalu menyorongkan batangnya tepat ke bibirku.
"Ya udah buruan isepin nih kontol gue !! Gue pengen tau amoy tuh bisa sebinal apa !!
Aku membuka mulut pelan, menyambutnya tanpa dipaksa. Lidahku langsung melingkari ujungnya. Tanganku masih dalam posisi terbuka dan terikat dipegangan pintu, tubuhku terjepit di pintu folding gate, tapi sorot mataku jelas, aku menikmatinya.
Tukang parkir dan pegawai minimarket lain tertawa keras. "Anjir gak nyangka gue. Anaknya si engkoh tukang bakmi ternyata udah kecanduan kontol pribumi. Kalian liat aja tuh sekarang. Dia malah minta sendiri !!
Hansip tua berdiri tegak dihadapanku seperti seorang tuan yang minta dilayani oleh budaknya. Penisnya didorong makin dalam masuk ke mulutku sementara keduan tangannya menekan bagian belakang kepalaku agar terus bergerak maju mundur seirama dengan hentakan pinggulnya. Semakin lama Nafasku makin berat, mataku yang sipit juga ikut terpejam dan suara tersedak bercampur dengan desahan membuat mereka makin beringas.
Di belakangku Bimo sudah tidak sabar. Ia segera mengambil posisi berlutut dilantai keramik. Tangannya yang kekar menarik rok seragamku lebih tinggi hingga keatas pinggang lalu langsung menghujam masuk dengan keras. Tubuhku terdorong ke depan, membuat mulutku semakin dalam menelan penis hansip.
“Uhhh mantap banget!” geram Bimo sambil menghentak liar.
Dua pegawai minimarket lain ikut mendekat, masing-masing meremas buah dadaku dari samping. Baju seragam yang sudah kusut makin tersingkap, kancingnya hampir copot, payudaraku berguncang hebat setiap kali tubuhku dihentak.
Hansip terkekeh puas. “Amoy nakal, liat nih. Mulut sama badannya dipake bareng, masih bisa nerima semuanya.
Gue bilang juga apa pak. Nih amoy sebenarnya udah pasrah mau diapain aja. Mungkin dia takut berita pencurian ini nyebar ke seluruh Pecinan. Haha.. Raka mengisap rokok sambil tertawa.
Tubuhku gemetar hebat, terhimpit di antara pintu folding gate. Tanganku masih terikat, buah dadaku diremas, belakangku dihujam brutal, mulutku dipaksa melayani. Dalam kepasrahanku, fantasi liarku makin menjadi.
Hansip tidak tahan lama. Beberapa hentakan terakhir membuat tubuhnya menegang lalu semburan deras pun memenuhi mulutku. Aku hanya bisa mendesah tertahan, kepalaku digenggam erat hingga semua cairan ditelan paksa. Hansip terengah-engah, wajahnya memerah.
“Arrhh… gila enak banget. Gumamnya sambil menarik batangnya keluar.
Bukannya mundur, hansip yang masih penuh nafsu malah meraih pentungan kayu di pinggangnya. Dengan senyum puas ia menekan pentungan itu ke bibirku.
“Sekarang kulum ini Amoy, biar mulut lo nggak berhenti kerja.”
Aku terengah, mataku setengah mendelik, tapi tetap menurut. Air liurku menetes saat dipaksa mengisap benda keras itu, membiarkannya maju mundur seolah menggantikan batang pria tadi.
Di belakangku Bimo sama sekali tidak berhenti. Hentakannya makin liar, tubuhku bergetar hebat karena dorongan keras yang menghantam dalam. “Uhh sialan.. tambah peret aja nih memek.. geramnya sambil menarik pinggangku lebih rapat ke tubuhnya.
Dua pegawai yang meremas buah dadaku ikut terkekeh. “Gila liat tuh, mulutnya dipaksa isep pentungan, belakangnya dihajar sampe guncang-guncang. Amoy murahan beneran nih.”
Bimo menghantam makin cepat dari belakang, peluh membasahi tubuhnya. Setiap hentakan membuat pinggulku menghantam keras ke lipatan besi pintu folding gate. Nafasku tersengal, suaraku terputus-putus di antara isapan pentungan hansip.
Tiba-tiba Raka berdiri tepat di depan, tangannya meraih gagang pintu besi. Dengan sengaja ia mendorong pintu folding gate perlahan ke arah tubuhku.
Krekkk… suara engsel berderit, tubuhku makin terjepit di celah sempit.
“Aarrhh… sakit!!” jeritku, kepalaku mendongak, suaraku teredam oleh pentungan yang menancap di mulut.
Raka terkekeh, menekan lebih kuat. “Heh, makin lo jerit makin gue dorong nih pintu. Rasain!”
Besi dingin menekan keras di dada dan perutku, membuat tubuhku kian terhimpit. Sekujur tubuhku bergetar menahan tekanan ganda—dari depan besi pintu, dari belakang hentakan Bimo yang makin beringas.
Hansip menahan kepalaku agar tetap mengulum pentungan. “Isep terus amoy !! jangan berhenti. Gue mau lu tunduk sepenuhnya sama pribumi. Bentaknya.
Jeritanku makin kencang bercampur tangis kecil tapi tubuhku berkhianat. Setiap hentakan Bimo yang makin brutal membuat rasa sakit bercampur dengan gelombang nikmat yang tidak tertahan.
Raka menekan pintu makin dalam hampir menutup rapat. “Woy Bim hajar terus dari belakang biar amoy ini ketelan pentungan sama batang lo bareng bareng”
Wajahku sudah setengah mendongak karena tubuhku terjepit pintu folding gate. Mataku menyipit menahan perih dan nikmat bercampur jadi satu. Bimo di belakang masih menghujam brutal. Tiap hantaman batangnya membuat suara tubuhku beradu keras dengan lipatan besi.
Di depanku para pegawai yang sejak tadi menonton sudah tidak tahan lagi. Mereka berdiri melingkari wajahku masing masing mengocok batang terburu buru.
“Liat !! Muka cina murahan kayak gini emang pantes dijadiin tempat buang peju kita !! Ejek salah satu pegawai sambil meringis menahan nafsu.
Aku hanya bisa meringis setengah pasrah setengah keenakan. Mulutku ternganga dan lidahku basah oleh sisa pentungan hansip tadi. Satu pria meraung lebih dulu lalu cesshh.. semburan hangat dan kental menyapu pipiku. Disusul yang lain satu per satu memuntahkan cairan spermanya ke wajahku. Hidung, kening, bibir hingga daguku basah kuyup. Lelehan lendir kenikmatan berwarna putih menetes ke seragam sekolahku yang sudah kusut.
Jerit tertahan keluar dari tenggorokanku saat Bimo yang dalam posisi berlutut dibelakang menancapkan penisnya dalam dalam dan tubuhnya menegang kaku. "Arrghhh.. raungnya sambil memuntahkan semburan hangat deras ke dalam rahimku berulang kali hingga tubuhku ikut bergetar hebat.
Crott.. Crettt.. Crert.. Wajahku penuh semburan. Mataku terpejam rapat. Mulutku separuh terbuka dengan cairan menetes turun. Tubuhku yang masih terjepit pintu folding gate gemetar keras ketika gelombang klimaks terakhir menghantam membuatku ikut terlepas dalam kenikmatan yang tidak bisa kubendung.
"Haha.. liat tuh amoynya keenakan. Sampe merem melek begitu.. Ledek salah satu pegawai yang menonton dari samping.
"Iya bener bener gak nyangka gue. Ternyata amoy pecinan kelakuannya lebih binal daripada lonte jalanan. Lonte aja belum tentu mau digilir sebanyak ini.. Haha.. kalian liat aja nih mukanya sampe belepotan peju gini.
"Bukan cuma mukanya aja kali bro. Tuh memeknya juga sampe luber begitu. Amoy model begini kalau ada kerusuhan pasti bakalan nyerahin dirinya buat digilir massa.
Pesta brutal itu akhirnya selesai. Hansip yang tadi ikut bergabung lebih dulu merapikan celananya. Dengan wajah puas tapi letih ia mengangguk ke arah Raka.
“Udah ya bro gua balik ronda lagi jangan bikin ribut biar warga ga curiga” katanya sambil menyulut rokok sebelum melangkah pergi meninggalkan bau asap tembakau murahan.
Beberapa pegawai minimarket yang ikut menonton dan sempat melampiaskan nafsu mereka juga beranjak pulang satu per satu. Ada yang terkekeh ada yang saling lempar lelucon cabul sambil menepuk bahu Raka.
“Besok besok kabarin lagi kalau ada barang bagus kayak gini. Celetuk salah satunya.
Setelah semuanya bubar suasana jadi lebih tenang. Tinggal Raka Andi dan Bimo yang masih berada di dalam bersama diriku yang sudah lemas tubuhku terkulai di lantai dekat rak. Aku berbaring lunglai seragam sekolahku berantakan. Tapi alih alih marah atau kabur aku justru merapikan rok lusuhku dengan tangan gemetar. Ponselku berbunyi pesan dari Mama. “Kamu pulang jam berapa Lus”
Dengan cepat sambil berbaring di kasir aku membalas. “Ma malam ini kayaknya aku nginap di rumah temen besok pagi baru pulang”
“Bagus tuh biar bisa lanjut besok pagi juga” Andi nyengir saat melihatku selesai mengetik.
Raka menutup folding gate perlahan supaya tidak menimbulkan suara berisik di malam buta. Setelah itu ia memasang gembok besar dari dalam. Klik suara kunci terdengar jelas menandakan tidak ada seorang pun bisa masuk tanpa sepengetahuan mereka.
“Udah aman gak ada yang bakal ganggu lagi” kata Raka sambil menepuk bahu Andi.
Aku masih mengenakan seragam sekolah yang sudah kusut berantakan dan berusaha merapikan rok meski kancing bajuku sudah tidak lengkap. Aku duduk di lantai napasku masih tersengal. Dalam hati aku tahu diriku tidak mungkin pulang malam ini.
Andi melemparkan tikar tipis ke ruang belakang. “Malam ini kamu tidur sini aja Lus besok pagi baru pulang ke rumah. Ujarnya santai.
Raka tersenyum puas lalu menyalakan sebatang rokok. Sambil menghembuskan asap ia memandangi tubuhku yang kini tak berdaya. “Malam ini kamu udah resmi jadi milik kita semua. Kamu harus siap ngangkang kapanpun kami mau. Hehe..
Minimarket gelap lampu depan sengaja dimatikan. Dari luar bangunan itu tampak sepi dan terkunci tapi di dalamnya rahasia besar sudah tercipta hanya diketahui oleh empat orang yang kini terbaring di ruang belakang.



Damn....
BalasHapusMantap, bro...
Hajar terus Lusinya
lusi udah kecanduan kontol
BalasHapusnice update
obraaall teross itu pepeekkk moyy
BalasHapusMin ada ceritanya Hanna Azzara ga?
BalasHapusKapan di update suhu
BalasHapusBoleh tuh yang Hanna Azzara kalau ada min
BalasHapusUdah lama blog ini belum diupdate suhu
BalasHapus