Langsung ke konten utama

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

By : Analconda13

Dirumah besar ini sehari hari aku biasa dipanggil dengan sebutan bibi meski sebenarnya itu bukan nama asliku. Usiaku enam puluh tiga tahun dan tubuhku sudah tidak lagi sekuat dulu karena badanku agak gemuk dan kulitku mulai keriput terutama di tangan dan wajah. Sejak muda aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk keluarga chindo itu dan sudah hampir tiga puluh tahun aku mengabdi pada mereka.

Dulu kami tinggal di daerah lain di rumah yang tidak sebesar sekarang dan suasananya lebih ramai karena dekat jalan utama. Tiga tahun lalu keluarga itu pindah ke rumah mewah di pemukiman elit pesisir pantai lalu aku ikut bersama mereka karena sudah dianggap bagian dari orang lama yang dipercaya. Sejak saat itu aku menjalani rutinitas yang sama setiap hari sambil menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang lebih tenang dan jauh dari keramaian.

Keluarga tempatku bekerja adalah keluarga pengusaha besar yang usahanya tersebar di beberapa kota. Tuan dan Nyonya sering pergi keluar kota untuk mengurus bisnis sehingga rumah besar di pesisir itu lebih sering diisi oleh anak-anak mereka dan para pekerja rumah. Aku sudah terbiasa dengan keadaan itu karena sejak dulu memang mereka jarang tinggal lama di satu tempat.

Anak pertama bernama Ronald dan sekarang usianya dua puluh enam tahun. Ia sedang dipersiapkan menjadi penerus usaha ayahnya sehingga sering terlihat sibuk belajar dan mengikuti urusan kantor. Anak kedua bernama Vivian dan saat ini masih kuliah di sebuah universitas swasta terkenal sehingga waktunya banyak terbagi antara kampus dan kegiatan lain yang menunjang masa depannya. Anak ketiga bernama Clara berusia tujuh belas tahun dan masih duduk di bangku SMA dengan jadwal yang padat antara sekolah dan les. Yang paling kecil bernama Sherlin dan baru masuk SMP sehingga suasana rumah masih terasa hidup oleh langkah kakinya yang sering berlari di lorong.

Ronald tumbuh menjadi pria tinggi besar seperti ayahnya. Wajahnya tampan dan tubuhnya berisi karena ia rajin berolahraga sejak remaja. Sikapnya terlihat penuh wibawa namun sifatnya agak keras dan mudah marah jika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Ia lulusan luar negeri dan kini mulai dilibatkan dalam urusan bisnis keluarga. Namun di luar kesibukan itu ia sering menghabiskan malam bersama teman-temannya di klub dan sering pulang dalam keadaan mabuk.

Vivian

Anak kedua bernama Vivian dan usianya dua puluh satu tahun. Ia cantik dengan sikap yang kalem dan lembut sehingga banyak orang bilang wajah dan pembawaannya mirip dengan Nyonya. Rambutnya panjang sepunggung dan terawat sementara kulitnya putih mulus karena sejak remaja sudah rajin merawat diri. Vivian tidak punya banyak teman namun ia memiliki beberapa teman dekat yang berasal dari kampusnya.

Ia sedang menempuh kuliah di dalam negeri di sebuah universitas swasta terkenal dan sebentar lagi akan lulus. Orang tuanya memilih keputusan itu karena merasa lebih tenang jika Vivian tetap berada dekat keluarga. Mereka sangat protektif terhadapnya karena Vivian dikenal cantik dan mudah menarik perhatian. Di waktu senggang Vivian sering pergi ke mal bersama teman-teman kuliahnya dengan pakaian yang modis namun tetap terlihat sederhana dan sopan.

Clara

Anak ketiga bernama Clara dan masih sekolah di sebuah sekolah swasta internasional dengan biaya yang sangat mahal. Ia cantik seperti kakak perempuannya dengan kulit putih, mata sipit dan paras oriental khas gadis chindo. Clara lebih pandai bergaul dibandingkan cicinya namun sikapnya cenderung dingin dan tertutup terhadap orang yang tak sederajat dengannya. Ia terlihat percaya diri tetapi juga sombong dan suka menunjukkan status keluarganya. Di balik penampilannya yang seksi ia memiliki sifat judes sehingga banyak lelaki yang awalnya tertarik lalu memilih menjaga jarak. Aku sendiri sering menerima kata-kata kasar darinya jika melakukan kesalahan kecil di rumah meski aku sudah lama mengabdi pada keluarga ini.

Dibanding cicinya, Clara lebih berani dalam memilih gaya berpakaian dan lebih mengikuti tren anak muda. Ia suka mengenakan pakaian yang ketat, minim dan seksi sehingga selalu terlihat menonjol ketika pergi keluar rumah. Cara berpakaiannya sering menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi dan keinginannya untuk diperhatikan. Penampilannya yang rapi dan gaya yang selalu terbaru kadang membuat wanita seusiaku hanya bisa memperhatikan dari jauh dengan perasaan campur aduk.

Sherlin

Sebagai seorang janda selama ini hidupku baik baik saja karena bekerja disana namun setelah beberapa bulan menjalin hubungan pribadi dengan seorang satpam komplek yang bernama Pak Giman hidupku mulai berubah. Giman yang usianya beberapa tahun lebih tua dariku, belakangan ini mengaku terlilit hutang pinjol yang jumlahnya puluhan juta, sehingga sangat membutuhkan uang dan wajahnya selalu terlihat cemas setiap kali kami bertemu.

Aku sudah beberapa kali membantunya dengan tabunganku namun simpananku tak banyak sehingga tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Setiap kali menerima uang dariku ia berterima kasih lalu beberapa hari kemudian kembali bercerita bahwa penagih datang lagi dan menekan dirinya.

Karena itu ia mulai membujukku memanfaatkan keadaan rumah yang sering ditinggal pergi majikan agar bisa mendapat uang cepat. Awalnya aku menolak karena merasa tidak enak pada keluarga yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Namun hampir setiap malam kami bertemu di depan pagar rumah saat suasana sudah sepi lalu ia terus meyakinkan bahwa ia hanya ingin keluar dari masalah dan berjanji tidak akan merugikanku.

Aku mencoba melupakan perkataannya lalu kembali bekerja seperti biasa tetapi kata katanya terus terngiang di kepalaku. Tanpa sadar aku mulai memperhatikan isi rumah lebih detail dan juga mengingat jadwal keluar masuk para penghuni. Perasaan bersalah datang setiap kali aku melihat anak anak majikan namun rasa kasihan pada Giman juga membuat hatiku goyah.

Selama ini Nyonya memang memberikan kepercayaan penuh padaku. Bahkan karena sangat percaya beliau memperbolehkanku memegang kunci kamar pribadinya agar aku sewaktu waktu bisa membersihkan kamar itu jika mereka sedang pergi ke luar kota.

Di dalam kamar mewah itu ada sebuah lemari pakaian besar dan sebuah brankas yang digunakan untuk menyimpan berbagai barang berharga. Letaknya di sudut ruangan dekat meja rias dan hampir selalu terlihat jelas saat aku membersihkan lantai. Namun karena sifat majikanku yang agak ceroboh dan sering tergesa jika melakukan sesuatu mereka kerap meninggalkan kunci brankas itu masih menempel pada pintunya.

Setiap kali melihatnya hatiku berdebar karena sadar betapa besar kepercayaan yang diberikan kepadaku. Awalnya aku hanya menutup pintu lemari itu lalu menggantungkan kembali kuncinya seperti semula. Namun lama kelamaan muncul pikiran lain di kepalaku.

Suatu pagi ketika rumah sedang sepi aku sengaja mengambil kunci itu dan menyelipkannya di saku. Sore harinya aku bertemu Giman di luar pagar seperti biasa.

"Man.. Tolong kamu buatkan duplikatnya tapi jangan sampai ada yang tahu. Kataku pelan.

Giman melihat sekeliling lalu menerima kunci itu tanpa banyak bicara. Dia bilang akan membawanya ke tukang kunci di pasar dan mengembalikannya secepat mungkin. Sepanjang waktu menunggu aku merasa gelisah dan terus khawatir majikanku mencari kunci tersebut.

Menjelang malam Giman datang lagi dan menyerahkan kunci asli bersama satu kunci baru yang bentuknya sama persis. Aku segera mengembalikan kunci asli ke pintu brankas seperti semula sementara kunci duplikat kusimpan di dompet kecil yang selalu kubawa. Sejak saat itu meski majikanku tidak lagi meninggalkan kunci menempel aku tetap akan bisa membuka brankas itu kapan saja dan rasa takutku perlahan berubah menjadi keberanian.

Pernah suatu hari rasa penasaranku mengalahkan diri sendiri lalu aku mencoba membuka brankas itu. Ternyata di dalamnya tersimpan banyak perhiasan mahal dan juga sejumlah besar uang dalam bentuk mata uang asing yang jarang sekali kulihat. Tanganku sempat gemetar ketika melihatnya lalu aku segera menutup kembali karena takut ketahuan meski bayangannya terus teringat di kepalaku.

Lama kelamaan aku makin tergoda dan bayangan isi brankas itu terus muncul di pikiranku. Selain itu Giman juga makin sering mendesakku untuk mengambilnya sehingga hatiku semakin tidak tenang. Ia selalu berkata hanya sedikit saja tidak akan ketahuan dan uang itu bisa menolongnya keluar dari masalah.

Akhirnya pada suatu pagi ketika sedang membersihkan kamar majikan aku memberanikan diri membuka brankas itu lagi. Tanganku gemetar saat melihat tumpukan uang yang tersusun rapi lalu dengan napas tertahan aku mengambil beberapa lembar uang tersebut dan segera menutupnya kembali. Setelah itu aku berdiri terpaku beberapa saat karena jantungku berdegup sangat kencang dan rasa bersalah langsung menyelimuti diriku.

Keesokan harinya aku kembali bertemu dengan Giman di depan pagar rumah besar itu. Pagi masih sepi dan hanya terdengar suara kendaraan jauh di jalan raya. Aku melihat ke kanan dan ke kiri lebih dulu lalu merogoh saku celanaku dengan tangan gemetar. Beberapa lembar uang asing itu sudah kulipat kecil agar tidak mudah terlihat orang.

"Ini yang kemarin aku bilang. Kataku pelan.

Giman langsung mendekat dan berdiri menutupi pandangan dari arah jalan. Aku menyelipkan lipatan uang itu ke telapak tangannya. Dia sempat membuka sedikit lalu matanya langsung berubah tajam. Wajahnya terlihat kaget tapi dia berusaha tenang.

"Aku coba tukarkan dulu nanti siang tunggu kabarku. jawab Giman

Kami berpisah dan sepanjang hari aku bekerja dengan perasaan tidak tenang. Setiap suara gerbang terbuka membuatku menoleh karena takut ada sesuatu terjadi. Sore hari Giman datang lagi dan memberi isyarat agar aku keluar sebentar.

Dia bercerita bahwa tadi siang dia pergi ke sebuah money changer di kota. Awalnya petugas memeriksa uang itu lama sekali karena jarang melihat pecahan seperti itu. Mereka bahkan memanggil pegawai lain untuk memastikan keasliannya. Setelah dicek dengan alat dan buku panduan akhirnya uang itu dinyatakan asli.

Giman lalu menyebut jumlah hasil penukaran itu padaku dan aku langsung terpaku. Nilainya jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Beberapa lembar uang yang kuambil ternyata bernilai sangat tinggi hingga setara gaji berbulan bulan. Jantungku berdebar kencang dan saat itu juga muncul perasaan takut sekaligus tergoda.

Hal itu membuatku semakin ketagihan untuk mengambilnya lagi. Setiap kali masuk ke kamar majikan untuk membersihkan aku selalu menutup pintu perlahan lalu memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Kamar itu sangat luas dengan lantai mengilap dan perabot mahal tersusun rapi. Bau parfum lembut selalu tertinggal di udara dan membuat suasana terasa sunyi.

Aku menyapu lalu mengelap meja agar terlihat seperti biasa. Setelah itu aku berhenti di dekat lemari besar tempat brankas disimpan. Tanganku mulai berkeringat dan jantungku berdetak cepat. Aku mendengarkan keadaan beberapa saat lalu berjongkok di depannya.

Kunci kecil itu selalu kusimpan di balik daster. Aku memasukkannya dengan hati hati dan memutar perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. Saat pintu brankas terbuka aku kembali melihat tumpukan uang asing yang tersusun rapi di dalamnya.

"Kalau kuambil dengan cara seperti ini maka majikanku tak akan pernah sadar kalau uangnya terus berkurang. Aku berbisik pada diri sendiri

Aku hanya mengambil beberapa lembar dari bagian tengah lalu merapikan kembali susunannya agar terlihat utuh. Setelah itu pintu brankas kututup pelan dan kunci kusimpan lagi di tempat semula. Aku kembali mengelap meja dan merapikan tempat tidur seolah tidak terjadi apa apa.

Cara itu kuulang setiap beberapa hari. Aku sengaja tidak mengambil banyak sekaligus agar tidak mencurigakan siapapun dan karena di dalam brankas masih ada banyak tumpukan uang asing majikanku tidak pernah menyadari kalau jumlahnya berkurang sedikit demi sedikit.

Karena merasa aman dan tak pernah diketahui maka aku pun semakin berani. Awalnya aku hanya mengambil beberapa lembar uang setiap beberapa hari namun lama kelamaan aku mulai datang lebih sering ke kamar itu saat rumah sedang sepi. Dengan kunci duplikat di tanganku membuka brankas terasa semakin mudah dan tidak lagi membuatku setakut dulu.

Beberapa bulan kemudian bukan hanya uang asing yang kuambil dari dalam brankas tapi juga perhiasan. Aku membungkusnya satu per satu dengan kain kecil agar tidak berbunyi lalu kuselipkan di saku bagian dalam. Setelah itu aku selalu merapikan kembali susunannya supaya terlihat tidak berubah.

Tak terasa hampir enam bulan berlalu dan majikanku sibuk dengan bisnis di luar kota sehingga jarang berada di rumah. Mereka datang hanya sesekali lalu pergi lagi dan tidak pernah menyadari kalau isi brankasnya berkurang sedikit demi sedikit.

Suatu siang rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Kukira semua orang sudah pergi dan aku masuk ke kamar majikan seperti hari hari sebelumnya. Aku menutup pintu pelan lalu membuka brankas dengan kunci duplikat yang kusimpan rapat. Tanganku bergerak cepat mengambil sebuah kotak kecil berisi perhiasan karena berpikir tidak akan ada yang tahu.

Tiba tiba pintu kamar terbuka dan membuatku terkejut.

"Loh Bik Inem lagi ngapain di kamar mama ?!! suara Vivian

Aku langsung menoleh dengan wajah panik. Kulihat Vivian sedang berdiri di depan pintu sambil membawa tas. Katanya dia kembali ke rumah karena ada barang kuliah yang tertinggal dan harus segera diambil.

"Saa.. saya cuma lagi bersih bersih dikamar aja non. jawab panik.

Vivian tak percaya begitu saja dengan omonganku lalu melangkah masuk dan matanya langsung tertuju pada pintu besi brankas penyimpanan yang sudah terbuka setengah. Ketika melihat hal ini wajahnya berubah serius lalu dia mendekat.

"Tadi Bik Inem ambil apa dari dalam sana tanya ?!! Vivian setengah curiga karena melihat reaksiku yang panik.

Aku mencoba mencari alasan dan berkata bahwa aku hanya merapikan isi lemari karena terlihat berantakan. Namun suaraku tidak tenang dan tanganku masih memegang kotak kecil itu.

"Terus itu yang dipegang sama bik inem apaan ?!! Tanyanya penasaran.

Vivian meminta aku membukanya. Aku tidak bisa lagi mengelak karena dia berdiri tepat di depanku. Dengan tangan gemetar aku membuka kotak perhiasan itu dan terdiam beberapa saat.

"Maaf Non saya khilaf. ucapku gemetar.

Vivian langsung marah dan wajahnya memerah. Dia menatapku dengan tajam lalu melangkah mundur.

"Bik Inem keterlaluan banget ya. Sudah dipercaya kok malah berbuat seperti itu. Pokoknya aku akan bilang ke Papa dan Mama sekarang juga. kata Vivian dengan raut wajah emosi.

Aku panik dan lututku terasa lemas. Jika sampai orang tuanya tahu maka pekerjaanku pasti hilang dan mungkin aku akan dibawa ke kantor polisi. Aku mencoba mendekat untuk memohon.

"Jangan Non saya mohon beri saya kesempatan kataku.

Namun sebelum Vivian sempat melangkah keluar kamar tiba tiba sebuah tangan muncul dari belakang pintu dan membekap mulutnya dengan kain. Aku terkejut dan mundur beberapa langkah. Ternyata Giman berdiri di sana dengan wajah tegang karena sejak tadi menunggu di luar dan melihat Vivian masuk ke rumah.

Vivian meronta mencoba melepaskan diri namun gerakannya perlahan melemah. Dalam beberapa saat tubuhnya terkulai dan akhirnya pingsan di pelukan Giman. Aku gemetar melihat kejadian itu dan hampir tidak percaya apa yang baru saja terjadi.

"Apa yang kamu lakukan Giman ?!! Kataku panik.

Giman tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku dengan wajah panik sementara aku berdiri terpaku menyadari keadaan sudah jauh di luar kendali kami.

"Kalau dia sampai cerita ke orang tuanya bisa habis kita. kata Giman.

Aku masih gemetar melihat Vivian yang belum sadar dan masih dalam dekapan Giman. Tubuhnya lemas dan kepalanya terkulai di bahu pria itu.

"Lalu apa yang harus kita lakukan supaya dia tutup mulut. tanyaku.

Giman menatap ke arah pintu lalu kembali menatapku.

"Tenang aku punya rencana bagus. jawab Giman dengan wajah yang dipenuhi kelicikan.

Aku tidak langsung mengerti maksudnya. Dia menyuruhku membuka selimut sementara dia tetap berdiri sambil menopang tubuh Vivian yang sedang jatuh pingsan karena terkena bius. Dengan hati hati kami membaringkannya di atas ranjang kamar agar tidak terjatuh.

Aku sadar keadaan sudah sangat berbahaya. Jika kami bertindak gegabah maka masalahnya akan semakin besar. Aku menatap Giman dengan cemas dan berharap rencananya bukan sesuatu yang akan membuat keadaan semakin buruk.

"Nem !! Sekarang cepat kamu buka semua pakaiannya. perintah Giman sambil mengeluarkan smartphonenya.

"Loh.. lohh.. emangnya non Vivian mau kamu apain man ?!! Tanyaku keheranan tak mengerti maksudnya.

"Udah kamu lakukan saja. Kita gak punya banyak waktu. Nanti kalau si non keburu sadar bisa gawat kita. Dia pasti bakal ngejerit histeris. Kata Giman.

Dalam keadaan panik akupun menuruti perintah Giman. Perlahan tanganku mulai membuka blouse putih yang pas di badan yang biasa dikenakan Vivian saat kuliah lalu kulepaskan juga cardigan tipis yang menutupinya. Setelah itu tanganku beralih ke celana panjang high waist yang rapi dan perlahan kuturunkan hingga terlepas dari tubuhnya.

Jantungku makin berdebar ketika melihat Vivian terbaring di atas ranjang hanya dengan pakaian dalamnya saja. Gadis chindo itu tidak sadar dan hanya terbaring telentang dengan rambut terurai di atas bantal. Dadanya naik turun pelan menandakan ia masih bernapas sementara matanya tetap terpejam tanpa reaksi.

Kulitnya yang putih dan terawat tampak jelas di bawah cahaya mentari yang masuk dari jendela kamar. Tangannya terkulai di samping tubuh dan kedua kakinya sedikit tertekuk sehingga posisi tubuhnya tidak berubah sejak tadi. Suasana kamar terasa sunyi dan hanya terdengar suara napas pelan dari dirinya.

Giman yang berdiri di dekat ranjang langsung mengeluarkan ponselnya. Ia mengarahkan kamera ke arah Vivian lalu memotretnya beberapa kali. Suara jepretan terdengar berulang karena ia mengambil gambar dari sisi kanan lalu berpindah ke sisi kiri dan kembali mendekat ke tepi ranjang. Wajahnya terlihat fokus saat menatap layar ponsel seolah memastikan semua terekam jelas.

"Wah.. ayune pol anak majikanmu.. Nem.. Puji Giman sambil terus mengambil foto dari berbagai posisi sementara wajahnya dipenuhi kekaguman.

Sejak awal aku memang sudah curiga dengan sikap Giman. Ia sering memandang anak gadis majikanku dengan tatapan yang berbeda dari biasanya sehingga membuatku merasa tidak nyaman. Setiap kali gadis itu lewat di depan pos atau turun dari mobilnya untuk masuk ke rumah, mata Giman selalu mengikuti tanpa berkedip.

Awalnya aku mencoba berpikir biasa saja karena mungkin itu hanya perasaanku. Namun lama kelamaan sikapnya semakin terlihat jelas dan ia tidak lagi berusaha menutupinya. Tatapannya terlalu lama dan senyumnya terasa aneh sehingga membuatku yakin ada niat yang tidak beres di dalam pikirannya.

Bahkan saat dia sedang patroli dengan motor di pagi hari, ia sengaja memperlambat laju kendaraan ketika melewati rumah majikanku. Jika melihat gadis itu berdiri di teras atau hendak berangkat kuliah, ia selalu menyapa lebih dulu dengan suara dibuat ramah. Setelah itu ia menoleh cukup lama seolah ingin memastikan wajah gadis itu tetap dalam pandangannya sebelum motor kembali dijalankan.

"Baju dalemannya sekalian dibuka aja Nem.. aku penasaran banget pengen liat teteknya majikan kamu. Hehe.. Kata Pak Giman yang makin tak terkendali.

"Kamu gimana sih man.. situasi udah kayak gini kok malah nyuruh aku nelanjangin si non.. Kalau sampe nyonya tau kejadian ini bisa habis aku nanti.. Kataku ketakutan.

"Udah kamu tenang aja sih. Setelah ini aku jamin si non gak akan berani lapor sama orangtuanya deh.. udah cepat buka semua dalemannya.. Perintah Giman sambil terus merekam kejadian itu.

Setelah semua pakaian Vivian dilucuti kemudian Giman pun mulai mengambil rekaman videonya dari berbagai sudut bagaikan seorang kameraman film profesional bahkan dia juga merekam dengan jelas wajah Vivian yang masih tertidur lelap diatas ranjangnya.

"Nem.. sekarang kamu pegangin kemeranya. Aku penasaran banget sama susu anak majikanmu.. Hehe.. Kata Giman yang makin keterlaluan.

"Jangan.. man.. kamu jangan keterlaluan gitu. Nanti kalau sampe dilaporin ke polisi yang ada hukuman kita bisa tambah berat. Kataku melarang.

"Justru itu nem.. seandainya kita gak melakukan hal ini, nyonya majikanmu juga tetap bakal jeblosin kita ke penjara. Jadi ibarat orang udah basah maen air.. ya mending nyemplung sekalian aja. Hehe..

Tak punya pilihan lain maka akupun terpaksa menuruti perintah giman. Tanganku meraih smartphone murahan itu lalu mengarahkan ke tubuh telanjang Vivian sementara Giman yang sudah naik ke atas ranjang mulai memandangi wajah gadis itu.

"Anak majikanmu kok bisa cakep kayak bidadari gini sih Nem.. emangnya dikasih makan apa tiap hari.. Puji Pak Giman ketika tangan keriputnya mengelus pipi gadis itu.

"Yah namanya juga anak orang kaya man.. tiap hari kan pake kosmetik mahal jadi wajarlah kalau si non bisa cakep kayak gitu. Kataku beralasan.

Wajah Vivian yang manis, oriental dan terkesan kalem membuat Giman makin lupa diri. Perlahan lahan diapun mulai mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu yang masih terbaring telentang diatas ranjang mewah kamar orang tuanya.

"Kalau aku punya istri kayak gini mah pasti udah aku cipokin terus tiap hari. Hehe.. Kata Gimana yang kemudian melumat bibir Vivian dengan seenaknya sementara tubuh rentanya nampak begitu kontras dengan gadis itu.

"Udah man.. jangan dilanjutin lagi.. nanti gak bahaya tah buat kita.. Kataku ketakutan namun masih terus merekam kejadian tak pantas itu.

"Emang bodoh kamu Nem.. justru rekaman video ini yang nanti bakal nyelametin kita dari semua hukumnya. Katanya menyeringai mesum.

Puas mencium dan melumat bibir tipis Vivian hingga basah kemudian pak Giman menjulurkan lidahnya keluar lalu slurpp.. menyapu pipi gadis itu sampai ke bawah daun telinganya. Perlahan lahan dikulumnya kuping gadis chindo itu dengan mulutnya.

Giman melanjutkan aksi bejadnya dengan turun sedikit ke bawah. Kini leher Vivian yang mulus kembali menjadi sasarannya dan pria tua itu tampak semakin berani. Dengan satu tangan ia menopang tengkuk gadis itu lalu perlahan mengangkatnya sehingga kepala Vivian sedikit mendongak ke atas dan leher jenjangnya terbuka tanpa perlawanan.

"Nem.. kamu gak usah cemburu yaa.. soalnya aku melakukan ini buat nyelametin kamu juga.. Hehe.. Kata Giman beralasan.

Setelah itu Giman terlihat mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di sana. Ia mencium perlahan lalu berpindah ke sisi lainnya seolah sedang menelusuri sesuatu yang sangat ia inginkan. Hembusan napasnya terasa hangat di kulit Vivian dan ia beberapa kali mengendus leher gadis itu dengan napas berat seperti seseorang yang sedang menahan hasratnya.

Giman tidak terburu buru dan ia menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. Sementara itu tubuh Vivian tetap dalam posisi yang sama dengan kepala sedikit terangkat karena tangan pria itu masih menahannya. Lehernya menjadi pusat perhatian dan Giman terus menelusurinya dengan ciuman dan isapan ringan yang membuat suasana terasa semakin tegang.

"Busett !! badannya si non kalau mau pergi kuliah wangi banget ya Nem.. Pasti banyak tuh dosennya dikampus yang penasaran sama mahasiswi amoy kayak gini.

"Kamu tuh ya.. kalau udah ngomongin soal amoy kayaknya napsu banget sih. Sahutku kesal.

"Itu artinya aku masih lelaki normal Nem. Lagian lelaki mana sih yang gak napsu kalau liat amoy yang putih mulus kayak anak majikanmu ini. Seandainya aku kerja disini mah udah aku perkosa dari dulu kali si non Vivian ini. Apalagi adiknya yang namanya Clara. Uuughh.. kontol gue ngaceng mulu kalau abis liat dia Nem. Kata Giman mengutarakan hasrat terpendam tanpa malu malu lagi.

"Nah kalau si non Clara mah terserah kamu aja Man.. mau kamu entotin dirumah atau mau kamu bawa ke pos satpam buat dikontolin rame rame juga gapapa tuh !! Sahutku yang merasa kesal dengan gadis itu.

"Yah kalau soal itu aku udah kepengen ngelakuinnya dari dulu Nem. Tapi non Clara kan orangnya jarang banget keluar rumah jadinya aku susah buat ngewujudin semua impianku itu. Palingan aku cuma bisa pasang fotonya dipos aja terus aku coliin deh tiap malam. Hehe..

Setelah berkata demikian kemudian Giman kembali mengalihkan pandangannya ke arah dada gadis itu yang kini terlihat jelas di hadapannya. Saat itu tubuh mulus Vivian memang sudah polos tanpa pakaian sehingga bagian atas tubuhnya terbuka di depan pria tua tersebut dan tak ada lagi yang menghalangi pandangannya

Matanya yang bulat langsung membesar ketika melihat bentuk dada Vivian yang utuh dan tanpa penutup. Sepasang buah dada gadis chindo itu tampak penuh dan kencang dengan kulit yang terlihat halus disorot cahaya dari jendela kamar. Ia terdiam beberapa saat seolah tidak percaya dengan apa yang ada di depannya lalu napasnya terdengar semakin berat.

Pandangan Giman turun perlahan mengikuti belahan payudara itu dari atas hingga ke bagian bawah. Ia tidak langsung menyentuhnya karena seakan ingin menikmati pemandangan tersebut lebih lama. Sorot matanya penuh hasrat dan wajahnya semakin mendekat sementara tubuh Vivian tetap dalam posisi yang sama tanpa perlawanan.

"Susunya non Vivian keliatan seger banget nem.. gak kayak punyamu yang udah peot.. Hehe.. Ledek Giman sambil meraba dan meremas remas buah dada Vivian.

"Sembarangan aja kamu kalo ngomong !! Punyaku jadi peot begini juga karena keseringan dikenyotin sama kamu kan.. Jawabku enteng.

"Yah daripada aku mainin susu sapi ya.. mending aku mainin susunya kamu lah Nem.. tapi jujur aja susu amoy tuh emang bikin lelaki gak bisa menahan diri. Liat nih bentuknya aja bulat kayak bakpao gini. Diremas enak.. dikenyotin lebih enak lagi. Hehe.. Kata Giman sambil menyentuh payudara Vivian.

"Hehe.. bener juga kata kamu man.. sebagai wanita aja aku tertarik pengen remesin teteknya amoy kayak non Vivian gini apalagi lelaki yang mesum kayak kamu ya.. Sahutku sambil ikutan meremas tetek Vivian dengan tangan kiriku sementara tangan kananku masih merekam dengan smartphone.

Giman rupanya tak tahan lagi kemudian tangan kanannya mulai meremas buah dada gadis chindo itu yang masih terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang. Tangannya yang hitam dengan urat menonjol nampak kontras dengan putihnya buah dada gadis itu. 

"Sayang banget ya si non lagi pingsan begini. Coba kalau sadar. Dia pasti bakal merintih rintih keenakan nih waktu teteknya kuremasi kayak gini.. Katanya sambil terus meremas remas buah dada anak majikanku dan terkadang kedua jari tangannya sengaja memilin puting susu Vivian yang warnanya merah muda dan terlihat segar itu.

"Udahlah man.. gak usah kelamaan mainin badannya nanti si non keburu bangun. Daripada ngikutin rencana kamu yang gak jelas ini mending kita kuras aja semua isi brangkasnya terus kabur ke kampung.

"Aduhh kamu itu emang bodoh banget si Nem. Kalau kita kabur ke kampung pasti cepat lambat bakal ketangkep juga. Mending pakai caraku saja supaya lebih aman. Kata Giman yang tak mau berhenti melecehkan putri majikanku yang masih tak sadarkan diri.

Vivian

Giman sepertinya sudah kecanduan dengan kemolekan tubuh mulus Vivian sehingga diapun tak mau berhenti melecehkan gadis itu. Kali ini bukan hanya tangannya saja yang bekerja tapi mulutnya dia gunakan untuk menyedot nyedot puting susu Vivian yang sejak tadi memang sudah mengundang untuk dikenyot.

Srroott... Uunghh.. Tetek amoy emang cocok buat nyusuin pribumi. Apalagi kalau amoynya secantik non Vivian kayak gini.

"Sayang banget ya yang pergokin aku tadi non Vivian. Coba kalau non Clara. Pasti udah kuplintir nih teteknya. Kataku yang masih menyimpan dendam pada gadis muda itu karena kerap memaki diriku dengan perkataan yang merendahkan dan membuatku sakit hati.

"Kayaknya kamu dendam banget nem sama non Clara. Tapi kamu gak usah kuatir. Suatu hari nanti aku pasti bakalan bantuin kamu buat naklukin non Clara deh. Hehe..

"Iya mann.. aku tuh benci banget sama non Clara. Udah sombong, sok kaya, galak banget lagi orangnya. Katanya satpam komplek temanmu aja dulu pernah dimaki sama dia. Amoy songong yang sok kecakepan kayak gitu emang mesti dikasih pelajaran sih !! Sahutku den penuh amarah.

"Iya temenku juga pernah cerita masalah itu. Katanya sih cuma gara gara masalah sepele. Hehe.. Kata Giman sambil tangannya meremas remas buah dada Vivian lebih keras lagi.

"Emangnya masalah apaan si man. Masa iya cuma karena hal sepele sampe kena dimaki sama non Clara. Tanyaku penasaran.

"Yah emang sepele sih. Masalahnya kalau gak salah waktu itu celana dalamnya non Clara yang lagi dijemur dibelakang rumahnya sering hilang dicuri orang. Makanya dia marah marah sama satpam dikomplek sini karena dianggap gak becus jaga keamanan.

"Ohh masalah itu ternyata. Sebenarnya aku sih udah tau siapa yang suka ngambilin celana dalam dan bh nya non Clara dijemuran cuma aku sengaja diem aja.

"Loh kenapa kamu diem aja Nem. Kan kasihan tuh satpam dikomplek ini yang kena damprat sama non Clara karena dianggap gak becus menjaga keamanan. Emang siapa sih yang suka ngambilin baju dalemannya non Clara nem ?!! Kata Giman.

"Asal kamu tahu aja. Sebenarnya yang suka ngambil tuh tukang bangunan dirumah sebelah yang waktu itu lagi direnovasi. Kalau malam aku suka ngintip dari jendela kamar. Mereka tuh sering panjat tembok buat gantian nyuri baju dalemannya anak majikanku. Pas iseng aku tanya ke salah satunya katanya sih buat dijadiin bacolan sama mereka. 

"Terus kenapa gak kamu tegor pas mereka ngambilin baju dalemannya non Clara. Tanya Giman.

"Lah kayak gitu mah ngak perlu ditegor kali. Lagian kalau abis diambil dan dipake coli juga nanti bakalan dibalikin lagi ke jemuranya. Cuma kadang ada kuli bangunan yang kebablasan sampe dibawa pulang ke kamar kontrakannya jadi akhirnya ketahuan hilang sama non Clara. Sahutku 

"Ya sebenernya emang wajar sih kalau tuh kuli bangunan pada ngambilin baju dalemannya non Clara. Soalnya si non kan cakep banget apalagi dia juga sering pake baju seksi kalau lagi jalan ke mall bareng teman temannya. 

"Bagus yang diambil cuma baju dalemannya aja. Coba kalau kulinya pada nekat terus si non Clara diseret ke proyek rumah sebelah yang lagi direnovasi. Uunggghh.. yang ada bisa dijebolin rame rame tuh memeknya si non sampe bunting. Hehe.. lu tau sendiri kan Nem tenaganya kuli bangunan kayak apa. Kata Giman berkhayal.

"Yah kalau sampe kejadian begitu malah gue sukurin man.. biar tuh amoy tau rasa dan gak songong lagi sama pribumi. Gak kebayang deh badannya yang seksi dan putih itu lagi digilir rame rame sama tukang bangunan dirumah sebelah. Tangannya dipegangi terus mulut sama memeknya disodokin pake kontol berbarengan. Apa gak nangis tuh si Clara !!

"Kamu tuh kalau ngomong asal nyablak aja ya Nem..  liat nih kontol gue tambah ngaceng aja gara gara bayangin badan putihnya non Clara yang seksi itu lagi diobok obok sama tukang bangunan. Kata Giman yang batangnya makin keras saja.

Setelah mendengar ocehanku Giman pun makin terpancing kemudian dia langsung memposisikan dirinya berlutut tepat diantara kedua paha Vivian yang sudah dibuka lebar olehnya.

"Sebelum ngentotin si Clara mending gua cicipin dulu cicinya. Pasti rasanya gak bakalan beda jauh. Hehe.. Katanya sambil merundukan badan lalu dengan kurang ajar slurpp.. menjilat kemaluan gadis itu.

Melihat kejadian ini akupun makin blingsatan. Tak pernah kusangka kalau tubuh mulus anak majikanku yang sangat terawat itu kini bisa jatuh ketangan seorang pria rendahan seperti Giman yang bahkan bau badannya saja sudah seperti air comberan.

"Gila memeknya si non wangi banget nem.. rasanya pasti lezat banget nih. Puji Giman sambil sesekali mengendus endus kemaluan gadis chindo itu.

Slurrpp.. slurpp.. tanpa pikir panjang Giman kembali mengulangi perbuatannya bejadnya terhadap anak majikanku yang kondisinya masih tak sadarkan diri diatas ranjang.

Lidahnya dengan lincah menyapu dan menari nari diatas bibir kemaluan Vivian hingga basah dan terkadang lidahnya sengaja dibuat mengerucut agar bisa dijejalkan kedalam liang kemaluan gadis tsb.

Duhh jadi sange aku liatin kamu kayak gitu man.. Kataku yang ikut meremas remas buah dada Vivian dari samping sementara tangan kananku tetap merekam dengan smartphone.

"Kalau lu kepengen mending kenyot aja sekalian Nem.. jaman sekarang mah udah banyak kejadian jeruk makan jeruk. Hehe.. Sindir Giman sambil melirik kearahku padahal dia masih asik menjilati kemaluan Vivian dibawah sana.

Entah apa yang melintas dipikiranku sehingga aku makin lupa diri dan bergairah ketika melihat tubuh mulus anak majikanku sedang dilecehkan oleh seorang pria pribumi tua yang selama ini menjaga komplek rumahnya sendiri. Ini bener bener seperti pepatah yang mengatakan pagar makan tanaman.

Ketika aku sedang mengenyot buah dada non Vivian dan Giman melumat keras kemaluannya tiba tiba gadis itu menggeliat dan terbangun dari pingsannya. Hal ini tentu saja membuat kami berdua panik setengah mati.

Aarrghhh.. lepasinnn akuu.. !! Apa yang kalian lakukan !! Aasrrghh.. lepasiiinnn !! Vivian tentu saja terkejut bukan main ketika menyadari dirinya sedang digumuli kami berdua dalam keadaan telanjang diatas ranjang. Gadis itu berusaha menjerit dan meronta sebisanya namun tenaga yang belum pulih akibat efek obat bius membuat kami dapat dengan mudah menguncinya hingga tak berkutik.

Diem non !! Bibi sama pak Giman bisa berbuat nekat kalau non masih melawan !! Ancamku sambil melotot dan memiting dirinya diatas ranjang.

Iya non. Bik Inem tuh orangnya nekat loh. Kemarin aja ada kambing tetangga dikampungnya yang kena digorok sama dia gara gara makanin tanaman kangkung yang ditanam dikebonnya. Hehe.. Celetuk pak Giman menakut nakuti.

Aarrgh.. jangan bikk.. ampun.. ii..iiya aku gak ngelawan... Aaaa..aaaku mau nurut sama bibi.. emangnya bibi mau apa.. ?? Ambil aja semua barang yang bibi mau.. aku janji gak akan lapor sama orangtuaku.. Katanya dengan suara memelas ketakutan.

"Begitu lebih baik non. Tapi bibi gak akan percaya begitu saja sama omongan non. Sekarang bibi butuh sesuatu untuk memaksa non agar mau menepati janji non tadi.

"Teee..teerus aku harus berbuat apa supaya bibi percaya sama aku ?

"Gampang kok non. Bibi cuma mau non buat video pernyataan singkat. Intinya non Vivian harus bersedia menuruti semua perintah bibi dan memberi pernyataan kalau non melakukan semua perintah itu dengan sukarela tanpa paksaan. Gimana ? Non Vivian bersedia kan bikin kesepakatan ini sama bibi ?

"Jangan bii.. aku gak mauu.. jangan paksa aku bikin pernyataan kayak gitu.. Kata Vivian menolak karena tahu dirinya sedang dijebak.

Mendengar hal ini pak Giman pun mencari cara agar bisa menekan gadis itu. Otaknya berputar cepat dan akhirnya berkata.

'Udah nem.. kalau si non gak mau mending kita jarah aja semua barang berharga yang ada dirumahnya. Kalau perlu si non cantik ini kita bawa aja sekalian. Nanti kita jual ke germo yang ada dikampung. Hehe.. Kata Giman

"Rencana kamu boleh juga man. Lonte cina kayak non Vivian gini pasti bakalan laku keras tuh di kampung kita. Biar dia ngerasain gimana enaknya ngangkang seharian sambil digilir orang sekampung. Haha..

Please.. jangaaann bawa aku ke kampung kalian.. aaakuu gak.. mauu.. jangaann.. jerit Vivian sambil menggeleng gelengkan kepalanya diatas ranjang sementara wajah orientalnya dipenuhi ketakutan.

"Makanya buruan non pilih sendiri. Mau buat video pernyataan jadi budaknya bibi atau mau dibawa pak Giman ke kampungnya. Hehe.. Ancamku sambil tetap memegangi kedua tangannya.

"Iyaaa bi.. aku mau buat pernyataan aja.. aku mau nurut sama perintah bibi.. aku gak mau dibawa sama pak Giman ke kampungnya. Sahut Vivian menyerah.

"Nah gitu kek daritadi. Kalau non nurut sama bibi kan enak. Ya udah sekarang cepat pakai semua bajunya terus buat video pernyataannya.

Setelah Vivian memakai semua bajunya lagi dan merapikan rambutnya yang sempat acak acakan kemudian akupun memaksanya untuk membuat sebuah pernyataan singkat.

"Bii.. aku harus buat pernyataan apa ? Tolong jangan suruh aku buat pernyataan yang aneh aneh. Ucap Vivian dengan raut wajah yang kuatir.

"Pertama non Vivian harus ngaku divideo ini bahwa non yang sudah mengambil semua barang barang berharga yang ada berangkas itu. Terserah non mau pakai alasan apa yang penting masuk akal. 

Kedua non harus buat video pernyataan bahwa non bersedia menuruti semua perintah bibi. Non harus bilang kalau semua ini non lakukan dengan sadar atas kemauan sendiri dan tanpa paksaan.

Ketiga non harus membuat pernyataan bahwa non bersedia bertukar peran sama bibi selama ortu dan keluarga non gak ada dirumah. 

Maksudnya bertukar peran gimana bi.. tolong jangan paksa aku membuat pernyataan yang aneh aneh.

Non Vivian gimana sih. Udah dikuliahin kok masih bodoh aja. Maksudnya selama gak ada keluarga non dirumah maka non harus berperan jadi pembantu dan bibi yang jadi tuannya. Pokoknya non harus kerjain semua kerjaan bibi dirumah. Udah paham kan non..

"Ii..iiya paham bi.. tapi ini sementara aja kan.. 

"Enak aja sementara. Ya selamanya lah.. pokoknya selama bibi masih kerja dirumah ini maka non harus mau bertukar peran sama bibi. Kalau non menolak nanti bibi suruh pak Giman bawa non ke kampungnya. Biar non dijadiin lonte cina murahan disana. Haha..

Setelah melalui proses yang menegangkan akhirnya Vivian bersedia membuat ketiga video pernyataan itu. Wajahnya masih tegang dan napasnya belum stabil lalu ia berdiri kaku di dekat dinding sambil menatap lantai. Aku merasa situasi sudah sepenuhnya berada di tanganku kemudian aku berjalan pelan menuju meja rias. Kursi kayu kutarik dan aku duduk dengan santai sambil menghadap kearahnya. Suasana kamar hening hanya terdengar bunyi jam dinding.

Aku menyilangkan kaki lalu menoleh ke arah Vivian yang masih berdiri tanpa berani bergerak. Tatapanku sengaja kutahan cukup lama sampai ia terlihat semakin gugup. Setelah itu aku mengangkat dagu sedikit dan berbicara dengan suara tegas.

"Sekarang gue mau tau seberapa patuh budak sama tuannya. Buruan berlutut dan cium kaki gue perintahku dengan nada tinggi

Vivian terdiam beberapa detik seolah mencoba memahami lalu perlahan lututnya mulai turun ke lantai. Tangannya gemetar dan ia mendekat dengan ragu. Ia tidak berani menatap wajahku dan hanya fokus pada lantai di depannya. Aku tetap duduk bersandar sambil memperhatikan setiap gerakannya tanpa berkata apa apa lagi.

Vivian sudah berada sangat dekat di depanku. Ia berhenti sejenak lalu menundukkan kepala semakin rendah. Tangannya menyentuh lantai untuk menahan tubuhnya dan napasnya terdengar pelan di ruangan yang sunyi. Aku menatap langsung ke arahnya dengan ekspresi wajah yang sinis.

Perlahan ia mendekatkan wajah ke kakiku lalu bibirnya menyentuh punggung kakiku dengan hati hati. Ia melakukannya tanpa berani mengangkat pandangan. Bahunya terlihat kaku dan gerakannya terasa terpaksa namun ia tetap melanjutkan karena tidak berani menolak.

Aku tersenyum tipis lalu menggeser kakiku sedikit. Setelah itu kakiku kuangkat dan kutaruh di atas kepalanya. Rambutnya tertekan di bawah telapak kakiku dan Vivian langsung diam tidak bergerak.

"Mulai sekarang bibi yang berkuasa disini !! Jangan coba membantah perintah atau non akan menanggung akibatnya.

Vivian tetap menunduk. Tubuhnya kaku dan kedua tangannya masih menempel di lantai. Aku menekan sedikit lalu menahannya beberapa detik sambil terus menatap langsung ke arahnya. Ruangan tetap hening dan hanya terdengar suara napas kami yang pelan.

Plaakk !! Jarang jarang ada amoy cakep gini yang mau jadi budak pribumi !! Ini sih kudu dimanfaatin dengan maksimal. Hehe.. Kata Giman sambil menampar pantat Vivian dari belakang hingga gadis itu tersentak kaget.

Giman sepertinya masih belum puas dan ingin melanjutkan permainannya. Dalam posisi berdiri diapun membuka resleting celananya lalu menunjukkan penisnya yang sudah mengacung tegak.

"Ayo.. sini non berlutut !! Kenalan dulu sama kontol bapak !! 

"Please jangaaaan.. pak.. aku mau diapain sama bapak.. Vivian terlihat ketakutan karena baru kali ini dia melihat penis seorang pria secara langsung seperti itu.

"Tenang aja non. Gak usah panik begitu. Bapak tau.. amoy seperti non ini kan paling suka bikin foto selfie buat diposting di medsos. Makanya sekarang bapak pengen ajak non selfie bareng burungnya bapak. Itung itung sebagai tanda perkenalan gitu non. Hehe..

"Udah non nurut aja.. daripada nanti pak Giman makin khilaf !! Yang ada non Vivian bisa diperkosa loh sama dia. Ucapku menakut nakuti.

Meskipun awalnya Vivian menolak keinginan Pak Giman namun karena mendapat tekanan dariku akhirnya gadis itu menurut. Ia berlutut di lantai tepat di samping Pak Giman yang berdiri lalu ia diminta memegang smartphone dan memotret dirinya sendiri. Suara kamera pun terdengar. Cekrek !!

Karena melakukan dengan terpaksa dan dibawah tekanan maka ekspresi gadis itu pun kurang memenuhi harapan sehingga pak Giman pun meminta gadis itu mengulanginya lagi.

"Non gimana sih. Masa bikin foto selfie mukanya kayak lagi ketakutan gitu. Harusnya ekspresi ceria dong seperti foto non yang ada dimedsos itu. Hehe..

"Iya non.. hasilnya fotonya kurang bagus tuh. Ekspresi mukanya kayak terpaksa gitu. Pokoknya bibi gak mau tau !! Non harus buat foto selfie yang paling bagus. Kalau perlu sambil senyum dan yang paling penting kontolnya harus terlihat jelas ya.. Perintahku.

Vivian pun tak punya pilihan lain lalu kembali mengulangi proses pemotretan dirinya. Ia berlutut dan mencondongkan diri lebih dekat ke arah pak Giman yang berdiri di sampingnya sehingga jarak mereka semakin rapat. Tangan kanannya memegang smartphone menghadap ke depan dan tangan kirinya membentuk pose dua jari di dekat wajahnya. Melihat hal ini pak Giman pun tak mau ketinggalan lalu menempelkan batang penisnya yang sudah mengacung tegak ke wajah Vivian tepat di dekat pipinya. Ia menahan kepala gadis itu agar tidak bergerak sehingga posisi keduanya terlihat jelas di layar ponsel. Meski begitu Vivian tetap tersenyum manis ke arah kamera seolah tidak terjadi apa pun.

"Cekrek !! suara kamera kembali terdengar saat Vivian mengambil gambar itu.

"Nah ini baru bagus. Bapak suka banget liat ekspresi non di foto ini. Liat tuh muka cina non keliatan gemesin banget. Pasti non seneng banget ya bisa Selfi bareng kontol bapak kayak gini. 

"Udah pak.. cukup.. jangan paksa aku bikin foto kaya gitu lagi. Aku malu pak.. Vivian yang masih dalam posisi berlutut dilantai kamar terlihat merengek dan hampir menangis tapi pak Giman tak mau berhenti sampai disitu.

"Yang namanya bikin foto selfi mana cukup sekali non. sekarang coba non selfie kayak tadi tapi sambil jilatin pala kontol bapak. Seperti non lagi jilat es krim gitu.

"Gaaakk !! Aku gak mau disuruh foto kayak gitu lagi.. pergi kalian semua dari sini !! Bentak Vivian yang sepertinya tak tahan karena terus direndahkan dan dipermalukan.

Plaakk !! Baru jadi budak berapa menit aja udah pinter membantah !! Kalau kamu masih gak mau nurut juga !! nanti bibi bakal suruh pak Giman buat perkosa kamu ya.. bentakku dengan mata melotot sambil menampar pipinya.

"Ampunn bii... Jangaaan.. jangan suruh pak gimana perkosa aku.. iii..iiya mulai sekarang aku nurut sama bibi..

"Ya udah kalau gitu. Cepat lakuin apa yang disuruh sama pak giman. Timbang disuruh foto selfi aja susah banget sih lu !! Bentakku lagi sementara Vivian hanya bisa tertunduk sambil berlutut dilantai.

Tak punya pilihan lain maka Vivian pun kembali memotret dirinya dengan posisi seronok tsb. Lidahnya perlahan dijulurkan keluar lalu ditempelkan pada kepala penis pak Giman sementara tangan kanannya yang memegang smartphone mulai memotret. Cekrek !!

Setelah Vivian memotret dirinya beberapa kali dengan smartphone itu kemudian akupun mencoba memeriksa hasilnya dan ternyata hasilnya memang sesuai harapan.

"Wahh.. hasil fotonya bagus banget non. Bener bener memuaskan. Kayaknya non Vivian emang ada bakat buat jadi lonte ya.. 

"Iya Nem.. ekspresi mukanya juga dapet banget nih. Si non bener bener kliatan kayak amoy yang lagi sange berat. Mukanya sih keliatan kalem tapi jiwanya jiwa lonte !! Haha.. Kata Pak Giman yang ikut melihat hasil jepretan fotonya.

Tak berhenti sampai disitu kemudian pak Giman kembali mengajukan permintaan yang lebih biadap lagi. Kali ini Vivian disuruh membuat foto selfi sambil mengulum batang penisnya.

"Sekarang coba non masukin kontol bapak kedalam mulut !! Terus emut pelan pelan sambil liat kearah kameranya. Perintah pak Giman yang makin keterlaluan.

Vivian pun kembali memegang batang penis pak Giman dengan tangan kirinya lalu perlahan dia masukan kejantanan pria tua itu kedalam mulutnya yang mungil sementara tangan kanannya mencoba mengarahkan smartphone itu agar bisa mengambil gambar dengan tepat seperti layaknya seorang gadis remaja yang sedang mengambil foto selfie. Cekrekk !!

"Bagus... Baguss.. bapak suka lonte cina yang nurut kayak non gini. Sekarang kita pindah keatas ranjang aja non biar fotonya keliatan lebih hot lagi. Ajak pak Giman sementara anak majikanku yang putih dan sipit itu hanya bisa menurut pasrah.

Prosesi pemotretan itu pun terus berlanjut dan berikutnya Vivian disuruh duduk diatas ranjang. Bagaikan seorang sutradara profesional Giman pun mengatur berbagai macam posisi seronok guna melakukan perekaman berbagai video singkat erotis terhadap anak majikanku.

"Sekarang bapak mau non Vivian buka bajunya pelan pelan sambil menatap ke kamera. Pokoknya non harus bisa berakting seperti amoy yang lagi sange berat dan pengen dikontolin sama pribumi. Heheh.. Ledek Pak Giman.

Semakin lama perintah pak Giman memang makin keterlaluan tapi tekanan dan ancaman yang kami berikan pada Vivian juga semakin tegas sehingga gadis itu pun hanya bisa menurut pasrah.

Diatas ranjang besar dan mewah itu Vivian perlahan mulai membuka bajunya. Meskipun terpaksa namun ekspresi wajah Vivian justru menunjukkan yang sebaliknya. Gadis itu berakting seolah menjadi seorang amoy nakal yang mengundang untuk disetubuhi.

Uuungh.. ada yang pengen nyobain susu amoy gak nih.. kalau mau datang aja kesini. Kata Vivian dengan raut wajah menggoda birahi sementara kedua tangan kanannya meremasi buah dadanya sendiri dan tangan kirinya menelusuri bagian dada dan lehernya persis seperti amoy yang haus seks.

Aduhh non.. video rekamannya bagus banget nih. Bapak aja yang ngerekam sampe ngaceng berat kayak gini. Itu tetek emang kudu dibagi bagi kesemua orang non.. biar semua lelaki bisa ngerasain nikmatnya susu amoy. Hehe.. Kata Pak Giman.

Iya man. Jangankan lelaki. Gue aja sebagai perempuan napsu kalau liat susu amoy perawan kayak gini. Uuungh.. rasanya pengen gue kenyotin aja tuh tetek..

Ya udah kalau kepengen mah langsung kenyot aja Nem.. Lagian si non kan udah resmi jadi budak kamu. Jadi terserah kamu mau ngapain aja sama dia.

Mendengar hal ini akupun jadi tambah semangat lalu merangsek naik keatas ranjang besar dan mewah itu. Dengan cepat kuremas tetek Vivian dengan tanganku kemudian kulanjutkan dengan menyedot nyedot buah dadanya.

"Aduuuhh.. jangaaann.. biii.. lepaasinn !! bibi apa aapaan sih... 

"Non kan udah jadi budaknya bibi. Jadi terserah bibi dong mau ngelakuin apa aja sama non.. Kataku sambil mengenyot kuat kuat puting susunya sementara tanganku ikut meremas buah dada yang satunya lagi.

"Makanya non kalau punya badan jangan kelewat mulus. Tuh si inem aja sampe napsu kayak gitu. Kata Pak Giman sambil terus merekam.

Setelah aku turun dari atas ranjang kemudian pak Giman memerintahkan Vivian untuk duduk dengan posisi mengangkang diatas ranjangnya. 

"Daridulu bapak penasaran banget pengen liat amoy kalau lagi masturbasi. Sekarang coba non tunjukin ke bapak gimana caranya muasin diri non sendiri kalau lagi sange. Hehe.. Kata Pak Giman sambil terus merekam.

Please udah pak. Cukup.. jangan suruh aku berbuat yang aneh aneh lagi. Lepasin aku pak.. Rengek Vivian.

"Kamu itu emang susah diatur ya !! Masih mending cuma bapak suruh bikin video mesum kayak gini. Kalau bukan karena si Inem harusnya kamu tuh udah bapak perkosa daritadi !! Kata Pak Giman sambil melotot.

"Ampun pak.. jangan perkosa aku. Aku masih perawan pak.. Aku bakal turutin semua kemauan bapak tapi tolong jangan perkosa aku. Kata Vivian dengan wajah memelas.

"Ya udah kalau nggak mau diperkosa buruan lakuin semua yang bapak perintahin ke kamu !! Bentak Pak Giman.

"Ii..iiya pak aku lakuin sekarang. Tapi bapak janji gak akan perkosa aku kan. Sahut Vivian.

"Iya bapak janji deh. Tapi kalau kamu bikin video masturbasinya asal asalan nanti kamu bakalan bapak perkosa beneran loh !! Ancam Pak Giman.

'Kalau bisa perkosanya jangan sendirian man. Mending kamu ajak tuh satpam lainnya biar si non bisa ngerasain nikmatnya digilir sama pribumi. Hehe.. Kata Inem menambahkan.

"Ampun.. bii.. jangaann.. aku mau lakuin apa aja asal jangan diperkosa. Ucap Vivian yang makin ketakutan karena dirinya akan diumpankan kepara satpam komplek.

"Udah non buruan. Bapak gak sabar pengen liat non masturbasi disini. Nanti pas lagi bilik rekamannya jangan lupa ya.. non harus ngucapin kata kata kotor yang bikin lelaki tambah napsu waktu nonton videonya. Non juga harus bilang kalau non pengen ngerasain dipake rame rame sama pribumi. Haha.. Kata Giman mengarahkan.

Setelah mendengar perkataan itu Vivian pun menuruti perintah Giman. Bagaikan seorang gadis yang sedang sange berat kemudian diapun mulai meraba raba tubuhnya sendiri, meremasi buah dadanya dan mengelus elus kemaluannya.

"Sshhhh.. kenapa ya daridulu aku tuh penasaran banget sama yang namanya kontol pribumi. Kayaknya kalau dimasukin ke punyaku rasanya bakalan nikmat banget deh.. sssshhh... Kalau bisa sih bukan cuma satu kontol tapi empat atau lima kontol sekaligus biar aku lebih puas lagi. Uuunghh.. Ucap Vivian sambil terus meraba raba tubuh dan kemaluannya sendiri persis seperti seorang gadis yang sedang dilanda birahi.

Meskipun awalnya merasa terpaksa tapi kejadian ini justru memantik birahi tersembunyi dalam diri Vivian. Perlahan lahan gairahnya mulai naik ketika membayangkan dirinya sendiri yang seorang gadis chindo dari keluarga kaya tapi harus melakukan masturbasi dihadapan seorang satpam pribumi tua sehingga diapun mulai menikmati perannya sebagai seorang lonte cina yang suka direndahkan.

Ooughh.. oooohhhh.. iyaaa terussss.. sodoook.. lebih kenceng... Uunghh.. konttoll pribuumi enaaakk.. Vivian mendesah desah dengan posisi duduk mengangkang. Kepalanya mendengak.. tangan kanannya sesekali meraba lehernya sendiri, tangan kirinya meraba dan mengelus elus kemaluannya seraya membayangkan betapa nikmatnya disodok bergiliran oleh kontol pribumi yang bahkan selama ini tak pernah berani dibayangkan olehnya.

"Busett makin keenakan aja tuh si non. Kayaknya anak majikan lu emang udah kepengen dikontolin sama pribumi Nem.. Kata Pak Giman.

Karena posisi kedua kaki Vivian yang mengangkang lebar maka Pak Giman pun dapat dengan jelas merekam perbuatan tak senonoh itu dengan smartphonenya.

Pak Giman sepertinya sudah tak tahan lagi dengan kemolekan tubuh mulus Vivian kemudian diapun memasang smartphone itu pada sebuah tripod milik anak majikanku yang biasa dipakai untuk acara live streaming dimedsosnya.

"Bantu gue pengangin tangannya Nem !! Biar gue perawanin sekarang aja anak majikan lu yang sipit ini. Hehe.. Kata pak Giman sambil melepas semua pakaiannya lalu merangsek naik keatas ranjang.

Mendengar hal ini Vivian yang masih duduk diatas ranjang dengan posisi kedua kaki mengangkang lebar pun langsung panik. Dia mencoba menghindar ketika pak Giman mendekat kearahnya dengan wajah yang sangat buas tapi salah satu pergelangan kakinya berhasil dicengkeram oleh pria itu.

"Aarrghh.. lepasin aku paakk.. tadi kan bapak udah janji gak akan perkosa aku kalau aku udah bikin video kayak gini.. lepasiinn !!

"Udahlah gak usah pura pura lagi non. Bapak tau sebenernya non Vivian emang udah kepengen banget kan ngerasain kontol pribumi. Daripada non maen sendiri kayak gitu mending maen sama bapak aja.. Kata Pak Giman sambil menarik paksa kaki Vivian sehingga gadis itu kembali terseret ketengan ranjang.

Slurrpp bukannya berhenti tapi pak Giman malah makin beringas. Dengan cepat diapun langsung mencium dan menjilati kaki Vivian yang masih dicengkeram kuat olehnya.

"Bapak paling gak tahan kalau liat kaki amoy yang putih mulus kayak gini. Kata Pak Giman sambil mencengkram kuat dan menjilati kaki Vivian mulai dari ujung jari hingga ke bagian betisnya. Slurpp.. Slurpp..

Menyadari dirinya dalam bahaya tentu saja Vivian tak diam saja lalu gadis itu pun mencoba melawan dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan kehormatannya yang sebentar lagi akan direnggut paksa oleh seorang pria tua.

"Lepasiin paaakk.. !! Aarrghhh.. jangaan kuraaang ajaaar yaaa.. lepasin kakiku..

Bukannya berhenti namun Pak Giman justru semakin beringas. Ia masih berlutut di ranjang sambil memegang kedua kaki Vivian lalu mengangkatnya sedikit agar lebih leluasa. Setelah itu ia kembali menempelkan wajahnya pada telapak dan punggung kaki gadis itu kemudian perlahan bergerak naik. Slurrpp.. Bibirnya menyusuri betis hingga ke paha bagian dalam dan tangannya ikut meraba dengan kasar seolah tidak ingin melewatkan satu bagian pun.

"Lepasinnn.. paakk !! Jangaaan sentuh akuu !!

Vivian yang telentang di atas ranjang hanya bisa menggeliat. Tubuhnya menegang karena geli dan tidak nyaman namun ia tetap tertahan di tempat. Ketika wajah pria itu semakin naik dan berhenti di antara kedua pahanya napas Vivian terdengar memburu. Pak Giman terus menciumi bagian itu dengan penuh nafsu sementara kedua tangannya menekan paha gadis tersebut agar tidak bergerak. Ranjang pun berderit pelan karena gerakan mereka yang semakin tak terkendali.

"Nem jangan diem aja lu !! buruan bantu gue pegangin tangannya !! teriak Pak Giman dengan nada kesal

Mendengar itu aku tidak membuang waktu lagi dan langsung merangsek naik ke atas ranjang. Tubuh Vivian yang masih telentang segera kupiting dari samping agar ia tidak bisa bergerak bebas. Aku menekan bahuku ke dadanya supaya tenaganya berkurang lalu kedua tanganku mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Tangannya berusaha meronta namun cengkeramanku semakin erat sehingga gerakannya perlahan melemah.

Plakk !! Diem non.. tadi kan non sendiri yang udah buat video pernyataan minta dikontolin sama pribumi. Jadi seandainya non ngaku diperkosa sama pak Giman pun gak akan ada orang yang akan percaya !! Bentakku sambil tetap memiting tubuhnya diatas ranjang.

"Iya non.. bapak kan cuma ngelakuin apa yang non inginkan di video tadi. Jadi semua ini gak ada unsur paksaan dan kita melakukannya berdasarkan suka sama suka. Hehe.. Kata Pak Giman yang pernah membaca buku tentang hukum ketika dulu berjualan buku bekas dipasar semasa mudanya.

Pak Giman semakin tak terkendali ketika melihat anak majikanku sudah tak berdaya lalu ia bergerak cepat dan berlutut di atas ranjang tepat di antara kedua paha Vivian yang terbuka. Saat itu Vivian masih dalam posisi telentang sehingga punggungnya menempel pada kasur dan rambutnya terurai di atas ranjang. Gadis itu terlihat tegang dan napasnya tidak teratur karena situasi yang menekan.

Kedua tangan Pak Giman menahan paha Vivian agar tetap terbuka sehingga anak majikanku tidak bisa menggerakkan kakinya dengan bebas. Tubuhnya condong ke depan dan wajahnya semakin dekat. Vivian hanya bisa memohon dengan raut wajah memelas sambil menggeleng gelengkan kepalanya seraya menolak.

"Jangaaann paaak !! Hentikaaaann.. jangaann perkosaaa akuuu.. Jeritnya ketakutan.

Aku masih duduk di atas ranjang tepat di samping tubuhnya lalu memegangi kedua tangannya dengan kuat agar tidak bergerak. Aku memastikan peganganku tidak terlepas sehingga ia tetap dalam posisi semula. Dengan begitu semua yang terjadi terlihat jelas dan suasana kamar terasa semakin tegang tanpa ada kesempatan untuk menghindar.

"Non pasti udah gak sabar ya pengen nyobain ini !! Kata Pak Giman sambil mengocok ngocok sebentar penisnya agar tambah keras.

"Udah man.. cepetan.. tuh liat sebentar lagi udah mau jam satu siang. Nanti kalau non Clara keburu pulang sekolah bisa berantakan semua rencana kita. Kataku yang mulai kuatir.

Giman sudah tidak bisa menahan diri lagi dan nafsunya benar benar menguasainya. Dari posisiku di atas ranjang aku bisa melihat jelas bagaimana tatapannya berubah liar. Di depannya anak gadis majikanku terbaring telentang sementara aku menahan tubuhnya dengan kuat agar ia tidak lepas.

Aku berusaha menindih sebagian tubuhnya lalu kedua tanganku mencengkeram pergelangan tangannya dan menekannya ke atas kasur. Saat ia mencoba berteriak aku segera membekap mulutnya dengan telapak tanganku agar suaranya tidak terdengar keluar kamar. Hmpmm... Matanya terbuka lebar dan menatapku dengan rasa takut yang jelas terlihat. Tubuhnya menegang dan berusaha meronta namun aku menahan dengan seluruh tenagaku sehingga ia tetap terbaring tak berdaya di bawah kendaliku.

"Gak usah panik gitu non.. nanti juga non bakal keenakan kok kalau udah ngerasain kontolnya pak Giman. Hehe.. Ledekku disamping telinganya sementara tanganku yang satunya menekan bahu gadis itu ke kasur.

Giman yang masih mengenakan seragam satpam namun sudah tak memakai celana langsung memposisikan dirinya berlutut diatas ranjang.

"Pengkangin non kakinya !! Dengan satu gerakan kasar Giman mendorong dan membuka kedua paha gadis itu agar posisinya semakin lebar. Dari atas ranjang aku bisa merasakan tubuhnya semakin tegang di bawah kendaliku. Ia menggeliat dan berusaha menutup kembali kakinya namun aku segera menekan lengannya lebih kuat agar ia tidak bisa melawan.

"Hnpmmmm lepasin akuu bii.. Jerit Vivian dengan suara yang tak jelas. Badannya yang putih mulus menggeliat diatas ranjang, kepalanya dibanting kekanan dan kiri sebagai bentuk penolakan membuat kain spreinya makin berantakan.

Tanganku tetap membekap mulutnya sehingga setiap suara yang berusaha keluar hanya berubah menjadi rintihan teredam yang lemah. Tampan disadari napas Vivian semakin memburu dan dadanya naik turun dengan cepat karena panik mulai menguasainya. Matanya yang sipit khas gadis chindo terbelalak penuh ketakutan sementara tubuhnya terus meronta mencoba melepaskan diri dari tekananku.

"Diam non !! Kalau nggak nanti bibi bakal panggilin satpam yang lain. Buat ngentotin non Vivian rame rame disini loh !! Kataku dengan suara rendah dan menekan.

Vivian menggelengkan kepala dengan keras dan berusaha menarik wajahnya menjauh dariku namun cengkeramanku tidak kulepaskan sehingga ia tetap tertahan di atas kasur. Tenaganya perlahan melemah karena kalah kuat dan ia mulai kehabisan napas sementara aku masih menahannya tanpa memberi ruang sedikit pun. Suasana kamar terasa semakin mencekam karena hanya terdengar ancamanku dan napasnya yang tersengal di balik telapak tanganku.

"Bapak masukin sekarang aja ya non. Soalnya bapak paling gak tahan kalau liat amoy telanjang. Liat nih badannya non aja putih kayak gini. Gimana bapak gak napsu coba.. Seru Pak Giman sambil menggesek gesekan kepala penisnya dibibir kemaluan Vivian.

Pak Giman yang posisinya berlutut diatas ranjang kembali membuka paksa kedua paha Vivian hingga terbuka lebar. Tangannya yang kekar menggenggam lutut gadis itu dengan kuat lalu menekuknya tinggi hingga hampir menempel kedadanya. Posisi tsb membuat Vivian bener benar terpapar penuh dihadapannya seakan tak ada ruang untuk menutup diri.

"Liat tuh Nem.. memeknya si non udah kembang kempis pengen ditusuk kontol !! Ledek Pak Giman dengan suara yang kasar.

Tanpa memberi kesempatan lagi kemudian pak Giman yang napsunya sudah diubun ubun langsung menancapkan batang penisnya dikemaluan Vivian.

Sleebb.. mungkin karena terburu-buru maka hujaman penis itu pun jadi meleset keluar. Meskipun sudah mencoba berulang kali namun hasilnya tetap sama hingga pria tua itu menjadi sedikit jengkel.

"Sialan !! Ngelawan banget nih memek !! Kayak nantang minta diperawanin. Hehe.. 

Pak Giman diam sejenak sambil memikirkan sesuatu dan beberapa saat kemudian diapun kembali menghujamkan batang penisnya lagi. Jleebb.. !! Dorongan keras pertama membuat tubuh Vivian sedikit terangkat diatas ranjang, punggung gadis itu melengkung dan kepalanya seperti terhentak kebelakang disertai suara pekikan tertahan karena mulutnya masih kubekap.

Hnpmmmm.. !! Gumam gadis itu sambil membelalakan kedua matanya yang sipit seperti orang yang sedang menahan sakit.

Uuughh.. Akhirnya jebol juga nih memek !! Kata Pak Giman sambil memaju mundurkan pinggulnya pelan berusaha menikmati setiap gesekan kenikmatan yang ada di sekujur kepala dan batang penisnya.

Masih dalam posisi berlutut dan kedua tangan menahan paha Vivian kemudian pak Giman memompa penisnya lebih cepat lagi. Rasa nikmat yang ada membuat pria tua itu tak mau berhenti menggenjot, batangnya terus menghantam dengan keras dan setiap kali pinggulnya menabrak pangkal paha Vivian maka suara hentakan bercampur erangan pun ikut keluar dari mulut gadis itu. Eengghh.. 

Saat itu aku sudah mengambil posisi dibelakang kepala Vivian yang telentang diatas ranjang dan tanganku menahan kedua tangannya diatas kepala.

"Genjot yang kenceng man.. kalau perlu sekalian dihamilin aja. Biar tau rasa.. Pancingku agar Giman makin beringas.

"Waduhh.. kalau si non sampe bunting mah nanti yang ada akunya malah disuruh tanggung jawab sama bapaknya si non lagi. Sahut Pak Giman sambil terus memompa penisnya.

Pak Giman masih bertahan diposisi yang semula. Berlutut diantara kedua paha Vivian yang terbuka lebar sementara penisnya menghujam terus tanpa ampun.

"Aaakkhhh.. aaaakkhhh.. tambah nikmaaaat aja nih meeemek.. makin digenjottt makin nikmat nemm aaanak majikanmu.. ssshhhh..

"Kamu tuh ya.. kalau maen sama si non gini kayaknya napsu banget. Kalau maen sama aku kayaknya kamu males malesan ngewenya.. Sahutku membandingkan.

"Sssshhh... Atuuuuh bedaaa lah Nem.. si non ini kan cakep banget mana badannya mulus lagi. Cina kayak si non gini emang selalu bikin napsu lelaki. Uunnnghh..

Kulihat pak Giman makin kesetanan, wajahnya dipenuhi napsu dan suara napasnya makin berat saat penisnya memompa kemaluan Vivian dengan kecepatan penuh. Jleebb.. Jlebb... Tubuh rentanya yang masih mengenakan seragam satpam nampak begitu perkasa menunggangi gadis chindo itu seakan dia ingin menunjukkan kalau usia hanyalah sebuah angka.

Hmmmpmm.. Vivian terus menggeliat diatas ranjang meskipun kedua tangannya masih kupegangi diatas kepalanya. Mulutnya juga kubekap makin kuat hingga suara gumamnya makin teredam sementara pak Giman masih terus menyetubuhinya dengan kasar.

"Sssshhh... Anjirrr..  maaaakin.. dihajar makin peret ajaaa.. nih meeemek anak majikanmu nemm..

Hantaman keras penis pak Giman yang kasar dan bertubi tubi membuat tubuh telanjang Vivian tersentak sentak diatas ranjang. Sepasang payudaranya yang indah dan montok berguncang kesana kemari mengikuti irama hentakan pria itu dan pemandangan indah tsb tentu saja semakin membakar gairah pak Giman.

"Man.. itu teteknya si non sekalian kamu remesin aja !! Kayak waktu kamu ngentotin aku dikamar belakang. Ucapku memancing dirinya agar makin kalap.

Mendengar hal itu Giman pun langsung bereaksi dengan cepat. Tangan kanannya langsung meremas kasar buah dada Vivian yang sedang berguncang hebat sementara tangan kirinya dia gunakan untuk menekan rahang gadis chindo itu, berupaya memaksa wajah Vivian agar menolah kearahnya.

"Liat sini non. Bapak pengen tau ekspresi amoy yang lagi keenakan dikontolin sama pribumi. Serunya sambil tetap memaju mundurkan pinggulnya.

Setelah memompa dengan cara yang brutal seperti itu kemudian pak Giman mengangkat tinggi kedua kaki Vivian yang membuat gadis itu merasa seperti bener bener sedang ditaklukkan. Dengan posisi baru ini batang penis pak Giman bergerak makin cepat, keluar masuk tanpa henti dan menimbulkan sensasi kenikmatan yang perlahan lahan muncul dalam diri gadis itu.

"Mulai berasa enak ya non.. liat aja tuh mata non aja sampe merem melek kayak gitu. Ledek Pak Giman yang melihat perubahan ekspresi wajah anak majikanku.

Ranjang besar dengan sprei putih itu berderit pelan karena gerakan keras di atasnya. Vivian terbaring dengan napas berat. Dadanya naik turun cepat dan wajahnya terlihat merah karena kelelahan.

Pria tua di atasnya terus bergerak dengan tenaga kuat. Setiap dorongan batang penisnya membuat tubuh Vivian ikut terguncang di atas kasur. Tubuhnya kadang melengkung dan rambut panjangnya menyebar di atas sprei. Tangan Vivian menggenggam sprei dengan kuat sampai kainnya kusut. Napasnya semakin tidak teratur dan dari bibirnya sesekali keluar erangan pelan. Oooughhh..

Semakin lama gerakan pria tua itu makin dalam dan makin cepat sehingga ranjang terus berderit tanpa henti. Tiba tiba tubuh Vivian menegang hebat. Matanya terpejam rapat dan kepalanya sedikit terangkat dari kasur.

Eenghhh.. Akhirnya sebuah erangan panjang keluar dari mulut gadis chindo itu. Tubuhnya yang putih mulus dan dalam keadaan tanpa busana langsung bergetar hebat tak terkendali lalu perlahan melemas kembali di atas ranjang sementara napasnya masih terengah-engah.

Vivian langsung terbaring lemas di atas ranjang besar itu setelah dihantam badai orgasme yang dahsyat. Matanya terpejam menahan ledakan kenikmatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Setelah terdiam beberapa saat menyaksikan pemandangan erotis itu kemudian pak Giman dengan napas yang memburu kembali memompa batang kejantanannya. Jlebbb.. Jlebbb.. ssshhh.. diperkosa malah keenakan lu moy.. uuughh... Kata Pak Giman sambil memompa lebih kencang sementara kedua kaki Vivian masih terangkat dan ditahan oleh pria itu diatas bahunya.

Vivian yang sudah lemas hanya bisa pasrah ketika pak giman terus menyetubuhinya dengan sangat kasar. Gaya persetubuhan dengan kedua kaki Vivian terangkat keatas bahu pak Giman itu membuat punggungnya jadi sedikit melengkung setiap kali pria tua itu menghentakan tubuhnya kedepan dan alhasil sprei putih dibawahnya pun semakin berantakan.

"Udah nemm.. kagak usah lu bekep lagi mulutnya.. biarin aja si non ngejerit jerit keenakan digenjot sama kontol guaa.. perintah pak gimana yang ingin suasana persetubuhan brutal itu makin terasa.

Pak Giman terus menggerakkan pinggulnya dengan dorongan yang kuat dan teratur. Setiap dorongan membuat punggung Vivian terdorong sedikit ke atas lalu kembali jatuh ke kasur. Ranjang kayu itu berderit pelan setiap kali gerakan itu terjadi.

Semakin lama deru napas Pak Giman semakin berat saja. Dadanya terlihat naik turun dengan cepat karena dipenuhi napsu binatang. Pria tua itu menghentak hentakan tubuh rentanya dengan cepat sambil mencondongkan badannya lebih dekat lagi ke tubuh Vivian.

Sleebb.... sleeebbb... Uuunggghh... Bapaaak jebollinn... Nihhh... Memeeekkknya non Vivian... Aaarrghhh... Rasaaaaainn nih genjotan kontool pribumii.. ssshhhh...

Pak Giman makin brutal dan wajahnya dipenuhi gairah. Vivian masih telentang di atas ranjang dengan tubuh yang sudah tak berdaya. Kedua tangannya yang dalam posisi ditarik keatas kepalanya dan kupegangi dengan kuat membuatnya tak bisa bergerak bebas. Dengan posisi seperti ini maka bahunya jadi ikut tertekan ke kasur dan napasnya terdengar berat karena terus berusaha melawan.

Aaakkkhhh.. udaaaaahh.. paaakk cukuupp.. aduuuh ampunn paaakkk... Jerit gadis itu karena mulutnya sudah tidak kubungkam.

Beberapa saat kemudian pak Giman tiba tiba menghentikan pompaan penisnya. Vivian yang tubuhnya masih telentang diatas ranjang lalu ditarik pinggulnya dan dipaksa untuk berbalik menelungkup.

"Nungging non.. bapak mau ajarin non ngewe pake gaya anjing !! Seru pak Giman dengan napas memburu.

Karena sudah dilanda birahi.. akibat kenikmatan yang diberikan oleh pak Giman tadi maka Vivian perlahan mengubah posisinya. Ia mengatur posisinya hingga akhirnya menungging di atas ranjang dengan kedua tangan menekan sprei di depannya. Rambut panjangnya jatuh ke depan dan sebagian menempel di pipinya yang berkeringat. Punggungnya melengkung dan napasnya masih berat.

Pak Giman lalu berlutut di belakangnya. Kedua tangannya memegang kuat pinggul Vivian agar tidak bergerak. Paha gadis itu terbuka dan tubuhnya tidak punya ruang untuk menjauh.

Dorongan kontol Pak Giman kembali menghentak dari belakang. Setiap gerakan membuat tubuh Vivian terdorong ke depan di atas kasur. Tangannya menggenggam sprei dengan kuat sampai kainnya kusut. Tubuh Vivian terus berguncang mengikuti dorongan yang datang bertubi tubi. Napasnya semakin tidak teratur dan dari bibirnya sesekali keluar erangan pelan yang sulit ia tahan.

Ranjang besar itu berderit pelan di kamar yang sunyi. Pak Giman terus menggenjot kasar dari belakang. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan brutal sehingga tubuh Vivian yang menungging ikut terguncang keras di atas ranjang. Hantaman bertubi tubi itu membuat punggung Vivian menegang. Kepalanya sedikit terangkat dan napasnya mulai tidak teratur.

Oooughh…

Tiba tiba tubuh Vivian menegang hebat ketika gelombang klimaks datang. Punggungnya melengkung tinggi dan kedua tangannya menekan sprei dengan kuat. Tubuhnya bergetar sementara napasnya terputus putus.

"Aaahh… ahh… gumam Vivian lirih karena tidak kuat menahan ledakan birahi di dalam dirinya. Tubuhnya mengejang beberapa kali dan pinggulnya sempat terdorong ke belakang. Jemarinya mencengkeram sprei sampai kainnya kusut. Napas Vivian menjadi cepat dan berat. Rambut panjangnya jatuh ke depan menutupi sebagian wajahnya yang basah oleh keringat. Setelah beberapa saat tubuhnya perlahan melemas. Ia masih terengah di atas ranjang dengan kedua tangan bertumpu di sprei yang kusut.

Pak Giman yang berada di belakangnya masih memegang kuat pinggul gadis itu. Ia merasakan tubuh Vivian yang tadi menegang lalu perlahan melemah. Namun gerakan pria tua itu belum berhenti. Dorongannya kembali datang beberapa kali dengan tenaga yang semakin berat. Napasnya memburu dan dadanya naik turun cepat.

Tiba tiba tubuh Pak Giman ikut menegang. Gerakannya berhenti sesaat di belakang Vivian.

"Aahh… keluar… gumam Pak Giman lirih

Beberapa detik kemudian napasnya terlepas panjang. Tubuh pria tua itu perlahan melemas namun ia masih berlutut di belakang Vivian sambil terengah. Kedua tangannya masih memegang pinggul gadis itu ketika ia mencoba menenangkan napasnya setelah semua tenaga yang baru saja ia keluarkan.

Di kamar yang kembali sunyi itu hanya terdengar napas mereka berdua yang masih berat. Ranjang besar itu akhirnya berhenti berderit sementara Vivian menungging dengan tubuh lemas di bawah Pak Giman.

Pak Giman menunduk, bibir kasarnya langsung menyentuh pundak Vivian yang masih basah oleh peluh. Ia mengisap kulit lembut itu sejenak lalu mendesah puas. Meski sudah selesai tapi tubuhnya masih menindih Vivian dengan berat, dan batang kemaluannya yang berdenyut-denyut tetap tertekan di dalam rahim gadis itu seakan enggan berpisah.

"Enak kan non kontol bapak !!? Gumamnya kasar sementara tangan kanannya meraba lagi payudara Vivian yang sudah memerah. Gadis itu hanya bisa memejamkan mata mencoba menahan rasa lelah dan sakit yang menyebar di sekujur tubuhnya. Ruangan kamar yang pengap semakin menekan dan hanya diisi oleh sura napas berat keduanya.

Beberapa detik kemudian, Pak Giman akhirnya mengangkat tubuhnya dari atas Vivian. Gadis itu langsung menarik napas panjang seolah baru mendapat udara. Dadanya masih naik turun ketika dia mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa lemah.

Namun sebelum Vivian sempat bergeser menjauh, tangan besar Pak Giman sudah lebih dulu menariknya kembali. Tubuh gadis itu terseret masuk ke dalam pelukan pria tua itu. Vivian hanya bisa terdiam, kepalanya tertunduk dengan rambut yang masih berantakan menutupi sebagian wajahnya.

Kamar itu kembali sunyi. Hanya suara napas mereka yang masih berat terdengar di dalam ruangan. Ranjang besar itu akhirnya berhenti berderit.

Vivian masih menungging di atas ranjang dengan tubuh lemas. Kedua tangannya bertumpu di sprei yang sudah kusut. Punggungnya turun perlahan karena tenaganya hampir habis. Pak Giman masih berada di belakangnya. Tubuh pria tua itu sedikit menunduk lalu bibir kasarnya menyentuh pundak Vivian yang basah oleh keringat. Ia mengisap kulit lembut itu sejenak dan menghela napas puas.

Walau sudah selesai tubuhnya masih menempel di belakang gadis itu. Batang kemaluannya yang masih berdenyut terasa tetap tertekan di dalam tubuh Vivian seolah enggan berpisah.

Tangan kanannya kembali meraba payudara Vivian yang sudah memerah. Gadis itu hanya memejamkan mata sambil mencoba menahan rasa lelah yang menyebar di tubuhnya. Napasnya masih berat dan tidak teratur.

Beberapa detik kemudian Pak Giman akhirnya menarik tubuhnya ke belakang. Vivian langsung menarik napas panjang seolah baru mendapat udara. Dadanya naik turun ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa lemah. Namun sebelum Vivian sempat menjauh tangan besar Pak Giman sudah lebih dulu menariknya kembali. Tubuh gadis itu terseret masuk ke dalam pelukan pria tua itu. Vivian hanya terdiam. Kepalanya tertunduk dan rambut panjangnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya.

"Pokoknya mulai hari ini non harus menuruti semua keinginan bapak," bisiknya pelan di dekat telinga Vivian. Suaranya rendah dan penuh tekanan.

Vivian tidak menjawab. Dia hanya menarik napas pelan lalu mengangguk kecil. Tenaganya sudah habis dan kata-kata seperti tertahan di tenggorokannya. Kamar itu kembali sunyi. Hanya terdengar napas mereka yang masih berat sementara Vivian tetap berada di dalam genggaman pria itu tanpa berani bergerak.

Komentar

  1. Kisah baru...monitor....

    BalasHapus
  2. Semangat master membuat karya cerita nya. Bikin pesta Gangbang Clara, Vivian, Sherlin dengan para pekerja bapaknya yang tua tua. Ketauan si Ronald yang juga punya fetish Gangbang lalu mengajak teman teman nya buat adu kuat pesta gangbang sama para pekerja bapaknya. Karna Ronald dan teman-temannya punya uang banyak.. Di sponsori pake obat kuat seks buat pesta gangbang nya

    BalasHapus
  3. Giman utang gede juga ke rentenir sadis yg suka merkosa dan maksa kreditor cewek yg gak bisa bayar jadi pelacur. Salah satu cara tuk ngelunasin utangnya, Giman ngumpanin anak majikannya satu persatu sampe Clara, Vivian dan Sherlin terpaksa harus ngelayanin siapa pun dan apa pun yg kliennya mau. Ronald dibikin mabok miras-narkoba plus obat perangsang sampe dia gak sadar merkosa Sherlin, Ronald terpaksa ikut agenda Giman karna gak mau perkosaannya dilapor ke polisi ato ortunya. Ronald yg awalnya terpaksa lama kelamaan jadi partisipan aktif perkosaan adik2nya sampe ke maksa adik2nya tuk jadi pelacur murah untuk menuhin kebutuhan narkobanya. Kadang adik2nya tiba2 positif hamil, ini malah jadi kesempatan untuk Giman dan Ronald untuk bikin adik2nya menuruti perintah yg lebih gila lagi dengan menyandera bantuan proses aborsi mereka

    BalasHapus
  4. pake surat pernyataan bermateree
    kudu di cap memek sekalian biar sah hahahhaha

    BalasHapus
  5. Vivian akhirnya diperkosa oleh Giman, meski diperkosa Vivian diperintah untuk berakting seperti lonte murahan setiap kalo dia diperkosa oleh Giman. Satu hari Giman mergokin Ronald coli pake foto seksi Vivian, Giman lalu buka-bukaan sama Ronald kalo dia tau kalo Vivian udah gak perawan lagi setelah curi denger percakapan tilp Vivian, Giman juga ngaku ke Ronald kalo dia sama-sama sering coli ngebayangin Vivian. Giman cerita sering ngebayangin nyekokin obat tidur ke Vivian supaya dia bisa ngentotin Vivian tapi gak berani, Giman ngeyakinin Ronald kalo Vivian yg udah gak perawan gak ngaruh kalo kena sodok 1-2 kontol baru dan kalo Ronald emang nafsu sama adiknya dan setuju, Giman bakal ngelakuin rencana obat tidurnya. Ronald setuju dan diluar perkiraan dia terangsang banget waktu ngeliat tubuh Vivian dijarah habis-habisan oleh orang tua yang jelas-jelas beda kasta. Setelah berhasil menjerat Ronald jadi bagian dari rencana Giman, Giman dengan sengaja mengatur supaya Ronald memergoki Giman dan Vivian yg lagi ngentot dengan Vivian yg bertingkah seperti lonte murah dengan kata-kata kotor yg terucap langsung dari mulutnya. Kaget sekaligus terangsang berat Ronald langsung masuk dan melucuti pakaiannya sendiri, Vivian yg juga kaget sadar kalo Ronald pasti udah ngeliat kalo dia terlihat bukan seperti cewek yg diperkosa, tanpa ada pilihan Vivian terpaksa terus menjalani perannya sebagai lonte murahan yg doyan kontol. Giman dengan sengaja memancing Vivian untuk lebih sering menggunakan kata-kata kotor dengan komentar dan pertanyaan yg harus Vivian jawab di depan kakanya sendiri. Ronald sendiri jadi ikut berkomentar dengan kata-kata yg melecehkan, makin melihat adiknya bertingkah layaknya lonte yg tanpa harga diri Ronald makin terangsang dan makin kasar memperkosa adiknya sendiri. Ronald janji tidak akan melapor kelakuan Vivian dan Giman asal dia dapet jatah juga, Vivian terjebak diantara Ronald dan Giman tidak punya pilihan untuk terus berperan sebagai lonte yg doyan kontol. Ronald kemudian membuat akun social media baru untuk dengan sengaja menyebar gambar-gambar telanjang Vivian dan gambar-gambar dimana Vivian sedang ngentot dengan Giman tanpa mengungkap identitas Vivian. Ronald menyebar akun social media-nya terutama ke teman-teman clubbing-nya, Ronald dan Giman sangat menikmati komentar-komentar kotor dari teman-teman Ronald di tiap foto yg Ronald upload, Giman bahkan sengaja ikut berkomentar dan ngejelasin kalo cewek di foto tu lonte milik Giman yg bebas dia perlakuin seperti apa pun yg Giman mau. Tidak butuh waktu lama sampe Ronald ngaku ke teman-teman clubbing-nya kalo sebenarnya dia kenal sama Giman dan sering menikmati cewek yg ada di foto secara gratis, kontan semua teman-teman clubbing-nya yg berjumlah sekitar 20an orang meminta jatah. Ronald dan Giman mengatur acara gangbang Vivian, di tempat yg sudah ditentukan Giman masuk dengan menggiring Vivian yg sudah telanjang bulat merangkak dengan collar dan leash yg disambut oleh semua orang di sana termasuk Ronald dengan kata-kata melecehkan. Vivian yg sudah terperangkap dengan terpaksa di depan semua orang mengaku kalo dia cuma lonte yg gak ada harganya, Vivian juga harus bilang kalo memeknya tu WC umum untuk kontol dan rahimnya septic tank peju dan semua cowok di situ boleh ngentot semua lobangnya tanpa kondom, terakhir Vivian harus bilang kalo dia sampe hamil dia gak akan nuntut tanggung jawab dari siapa pun. Vivian makin lama makin terjerumus ke dunia gelap tak hanya karna Giman tapi juga karna Ronald kakaknya

    BalasHapus
  6. Cerita kayak gini aja min yang dibanyakin

    BalasHapus
  7. mantap rewritenya suhu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Barang Jarahan 3

Jebakan Minimarket 4

Draft Pengantin Brutal 4

Nasib Fenny Yang Malang

Aplikasi XBang Oriental

Ai Ling Budak Napsu Pribumi

Hasrat Dibalik Rumah Mewah

Basement Rahasia Putri Konglomerat

Draft Amarah Para Buruh 23