Dia berdiri di depan cermin dan mulai merapikan rambut panjangnya yang hitam kecoklatan. Rambut itu berkilau lembut saat terkena cahaya pagi dan jatuh rapi di bahunya. Aku sempat tertegun beberapa detik melihatnya.
Hari ini dia memilih pakaian yang benar benar menarik perhatian. Atasan tanktop renda yang tipis dan ketat menempel pas di tubuh rampingnya dan memperjelas bentuk bahunya yang menggoda. Di bawahnya dia mengenakan rok mini hitam yang pas di pinggang dan memperlihatkan kaki jenjangnya yang halus. Gerakannya pelan dan tenang saat menarik resleting kecil di sisi roknya hingga terdengar suara gesek kain yang lembut.
Sungguh.. penampilan khas gadis chindo muda yang sering kulihat di mall besar. Seksi tapi tetap terlihat modis dan penuh percaya diri.
Aku berdiri di ambang pintu, menatapnya lekat-lekat. "Lin… sebenarnya kamu sadar gak sih. Kalau kamu tuh seksi banget. Kataku dengan suara serak tanpa sadar.
Meilin menoleh dengan senyum kecil lalu berjalan mendekat. Dia berputar sekali di hadapanku seolah memamerkan pakaiannya. "Kamu yakin nggak keberatan aku tampil begini? Di mall pasti banyak lelaki yang bakal liatin aku. katanya sambil menaikkan alis.
Aku mengangguk mantap. Tanganku refleks meraih pinggangnya, menarik tubuh sintalnya agar menempel padaku. “Justru penampilan seperti ini yang kusuka. Aku mau tunjukin kesemua orang kalau pribumi juga berhak mendapatkan amoy seksi seperti kamu.
"Dasar.. keliatannya kamu bangga banget ya bisa dapetin amoy kayak aku. Pipi Meilin sedikit merona tapi dia malah terkekeh.
Aku menunduk, mengecup bibirnya singkat. “Bangga lah. Kamu bukan cuma cantik, tapi juga keliatan seksi banget. Kayak amoy selebgram yang biasa pamer pesona dimedsos itu. Nanti waktu kamu jalan sama aku di mall pasti banyak cowok yang bakalan iri liatnya.
"Kalau gitu kamu harus rangkul aku erat erat biar mereka semua tau kalau amoy seksi juga bisa nurut sama pribumi.
"Iya lin.. tapi Seksi aja belum cukup. Aku mau kamu terlihat tunduk sepenuhnya. Pakai ini.. Kataku sambil memberikan sebuah kalung anjing berwarna hitam untuk dipasang dilehernya bertuliskan slave.
"Zal.. kamu serius mau aku pakai kalung itu.
"Iya.. itu bisa bantu nunjukin statusmu dihadapan semua orang. Seorang amoy cina yang kaya dan seksi tapi patuh sama pribumi.
Aku menghela napas panjang dan mencoba menenangkan diri sambil menatapnya dari tempatku berdiri. Dada terasa berdebar dan pikiranku mulai melayang karena sulit menahan rasa kagum. Walau kami sudah menikah beberapa bulan, setiap kali melihat Meilin berdandan seperti itu aku tetap merasa takjub.
Dia berdiri di depan cermin dengan tatapan serius sambil memperhatikan setiap detail di wajahnya. Cahaya pagi menyinari kulitnya yang putih mulus dan membuatnya tampak hangat dan bersinar. Wajahnya memiliki garis oriental yang lembut dengan mata sipit dan bibir kecil berwarna merah muda alami.
Tubuhnya sintal dan memiliki lekuk di tempat yang pas. Bahunya putih dan terlihat halus sementara pinggangnya sempit dan membentuk siluet yang anggun. Setiap gerakannya tampak tenang dan penuh
keyakinan hingga membuatku sulit berpaling.
Aku menatapnya lama tanpa berkata apa apa karena dalam hati muncul keinginan yang sulit dijelaskan. Ada dorongan untuk membuatnya benar benar menjadi milikku sepenuhnya dan bukan hanya sebagai istri tapi juga seseorang yang menuruti semua keinginanku.
Beberapa menit kemudian setelah yakin dengan penampilannya Meilin mengambil tas kecilnya yang berwarna krem dengan rantai tipis keemasan. Dia menarik resletingnya perlahan sambil melirik ke arahku dan tersenyum kecil. Aku masih saja menatapnya tanpa berkedip hingga dia melangkah mendekat dan menepuk dadaku pelan sambil tersenyum geli.
"Ayo Zal kalau cuma berdiri di sini kita nggak bakal sampai ke mall. Katanya sambil mengangkat alis manja.
Aku tertawa kecil dan berusaha mengalihkan pandangan yang sejak tadi terus tertuju padanya. Lalu aku merangkul bahunya yang terasa hangat dan lembut karena kulitnya baru saja terkena sinar matahari pagi.
"Oke.. tapi ingat nanti di mall kamu jangan kaget kalau aku makin nempel sama kamu. Aku nggak mau ada satu pun orang ragu kalau kamu sudah jadi milikku sepenuhnya. Ucapku sambil menunduk sedikit mendekat ke telinganya.
Meilin hanya mengangguk manis lalu mengambil langkah ringan menuju pintu depan. Aku mengikutinya dari belakang sambil memperhatikan cara dia berjalan yang santai tapi anggun. Setelah pintu tertutup, kami berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Udara pagi terasa sejuk dan matahari mulai naik pelan di balik pepohonan.
Begitu masuk ke dalam mobil suasananya langsung terasa tenang. AC menghembuskan udara dingin yang lembut dan layar sentuh menampilkan playlist streaming favorit dengan musik pop lembut yang terdengar merata di seluruh kabin. Jalanan di dalam komplek masih lengang dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas perlahan.
Aku memegang setir dengan satu tangan sementara tangan satunya kadang terulur ke arah Meilin yang duduk di sebelahku. Rok mininya yang pendek membuat kulit pahanya tampak jelas dan halus di bawah cahaya matahari yang masuk lewat kaca depan. Kulitnya terlihat putih bersih dan lembut hingga membuatku beberapa kali melirik tanpa sadar. Setiap kali pandanganku jatuh ke arahnya darah di tubuhku seperti berdesir dan jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Aku menyeringai pelan sambil melirik ke arahnya. Tanganku masih di setir sementara pandanganku sedikit bergeser ke arah paha Meilin yang tampak mencolok di bawah sinar matahari pagi. Suaraku keluar lebih rendah dan tenang saat aku berbicara padanya.
"Lin kamu sadar nggak sih.. paha mulus kamu ini kalau diliat orang orang apalagi temen temenku dikantor pasti bikin mereka susah nahan diri dan pengen menyentuhnya. Ucapku sambil tersenyum kecil dan menatapnya sekilas.
Meilin langsung menoleh cepat dan menatapku dengan ekspresi geli. Alisnya naik sedikit sementara sudut bibirnya membentuk senyum yang menahan tawa.
"Apaan sih Zal.. kamu ngomongnya aneh banget. Katanya sambil mencubit lenganku pelan dan memalingkan wajahnya ke jendela dengan tawa kecil yang tertahan.
"Emangnya kamu rela pahaku disentuh sama teman teman kamu itu ?
"Ya asal itu bisa bikin aku tambah puas. Aku sih rela rela aja.. Lagian paha amoy yang putih dan halus kayak gini kan emang buat disentuh dan dinikmati.. Hehe.. Aku tertawa kecil, tapi jemariku sudah mengusap pelan pahanya.
"Pantesan waktu pacaran dulu. Kamu tuh seneng banget pegang pegang paha aku.. rupanya karena hal ini ya..
Aku menoleh sekilas ke arahnya sambil tetap mengemudi pelan. Udara dingin dari AC berhembus lembut dan musik pop luar negeri dari playlist di layar sentuh terdengar samar di kabin. Tatapanku turun lagi ke pahanya yang tertutup rok mini itu lalu kembali ke wajahnya. Suaraku terdengar lebih rendah dan serius.
"Serius Lin.. dari dulu waktu aku masih kuliah dan suka nongkrong dicafe sama temen temen. Banyak yang bilang kalau amoy itu emang fantasi paling gila buat cowok pribumi kayak kita. Mereka suka ngebayangin kulit putih yang halus tubuh mulus yang nggak ada cacatnya terus pakai baju yang seksi dan pasang wajah oriental yang seakan minta dijamah. Ucapku pelan sambil meliriknya lagi.
Aku menarik napas perlahan lalu tersenyum kecil. "Dan kamu tau nggak.. sekarang semua fantasi itu udah jadi kenyataan. Amoy seksinya sudah duduk manis disampingku dan bebas aku apain aja sepuasnya. Kataku sambil memandangi wajahnya yang sedang diam menatap keluar jendela.
Pipi Meilin tampak memerah walau dia berusaha menahan senyum. Matanya melirik ke arahku dengan tatapan yang setengah malu setengah menggoda. Suaranya terdengar lembut tapi mengandung nada main main.
"Jadi aku cuma semacam wujud fantasi liar kamu gitu ya. Tanyanya sambil tertawa kecil dan menepuk lenganku pelan. Sentuhannya ringan tapi cukup membuatku menoleh.
Aku menatapnya sekilas lalu kembali fokus ke jalan. Senyumku muncul perlahan saat aku berbicara.
"Iya Lin. fantasi paling liar yang sekarang udah jadi kenyataan. Kamu tuh amoy seksi yang bisa kupake habis habisan diranjang. Kataku sambil mencondongkan sedikit badan ke arahnya.
Tanganku terulur pelan hingga jemariku menyentuh kulit pahanya yang halus. "Liat aja paha putihmu ini. ucapku dengan nada rendah sambil mencubit manja kulitnya yang licin.
"Kamu tahu gak.. Banyak cowok pribumi diluar sana yang cuma bisa mimpi bisa nyentuh paha amoy kayak gini tapi aku yang beruntung malah punya semuanya. Lanjutku dengan nada tenang sambil tetap menatap ke depan.
Meilin menggigit bibir bawahnya sambil menunduk. Pipinya memerah dan matanya melirik sekilas ke arahku, lalu buru buru mengalihkan pandangan. Suaranya terdengar pelan tapi bergetar seperti sedang menahan sesuatu di dadanya.
"Dasar kamu ngomongnya selalu aja ke arah situ. Katanya sambil tersenyum malu. Tangannya meremas ujung roknya dan bahunya sedikit naik karena menahan tawa kecil.
Tapi setelah beberapa detik dia menarik napas dan menatap tanganku yang masih ada di pahanya. Tatapannya berubah lembut dan suaranya turun lebih pelan.
"Tapi gak tau kenapa aku malah suka denger kamu ngomong kayak gitu. Ucap Meilin dengan nada ragu tapi jujur.
Di momen itu aku bisa lihat jelas kalau dia sebenarnya malu tapi juga menikmati perhatian yang kuberikan. Ada campuran antara gengsi dan rasa senang di wajahnya yang membuatku sulit menahan senyum.
Aku terkekeh puas, lalu mencondongkan badan sedikit. "Ya wajar lah. Kamu tahu kan, Lin? Gadis chindo kayak kamu tuh sering dibilang barang mahal, nggak gampang disentuh, terlihat sempurna kayak bidadari. Tapi nyatanya sekarang… kamu udah kutaklukan. Jadi pantaslah kalau aku banggain, pamerin dan godain kamu terus.
Ketika memasuki jalan raya besar arus lalu lintas tiba tiba padat dan suara klakson bersahut sahutan dari segala arah. Deretan mobil di depan bergerak pelan tanpa kepastian jadi aku hanya bisa bersandar di kursi sambil menunggu jalan kembali lancar.
Tangan kiriku sudah berada di paha Meilin sejak tadi dan tidak ia singkirkan. Kulitnya terasa hangat di bawah telapak tanganku sementara roknya yang agak tersingkap membuat sentuhannya makin jelas. Meilin duduk miring sambil menatap keluar jendela seolah tidak peduli tapi aku tahu dari cara dia menarik napas kalau dia sadar dengan setiap gerakanku.
Cahaya masuk lewat kaca depan mobil dan jatuh di kulit putihnya hingga membuatnya tampak bersinar lembut. Aku berusaha fokus pada jalan di depan tapi pandanganku terus saja tertarik ke arahnya karena suasana di luar yang riuh malah membuat keheningan di dalam mobil terasa makin berat.
"Lin.. coba kamu perhatiin tuh abang abang yang lagi jualan dipinggiran jalan. Mereka pasti seneng banget kalau dikasih kesempatan buat megang badan kamu yang putih ini.
"Kayaknya kamu pengen banget ya nyerahin aku ke mereka.
Aku tersenyum kecil sambil menatap wajahnya yang masih memerah. Suaraku keluar pelan tapi terdengar jelas di antara hembusan AC mobil.
"Hehe jangan marah Lin amoy seksi kayak kamu emang udah kodratnya buat dijadiin bacolan sama pria pribumi seperti mereka. Ucapku sambil menahan tawa kecil.
Aku melirik ke arah pahanya yang masih terbuka sebagian karena posisi duduknya. "Lagian salah sendiri kenapa kulitmu putih dan mulus begini. Lanjutku dengan nada menggoda.
Aku kemudian mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. Suaraku menurun jadi lebih berat dan penuh tekanan saat kubisikkan kata kata itu di telinganya. Napasku terasa menyentuh kulitnya yang hangat sementara aroma parfumnya mengisi udara sempit di dalam mobil.
"Lin… kamu kan udah resmi jadi budak pribumi. Kalau gitu coba sekarang kamu layanin aku.
Tanganku dengan sengaja menurunkan resleting celana, membuka ruang sempit di balik kemudi. Senyum miringnya semakin liar. “Ngapain buang waktu nunggu macet kalau aku punya kamu di sini? Layanin aku sekarang.”
Meilin terperangah, wajahnya memerah. Matanya melirik cepat ke kaca mobil yang gelap namun tetap menimbulkan rasa was-was. “Zal… ini kan di jalan, banyak orang… suaranya bergetar antara malu dan terkejut.
Aku justru semakin puas melihat reaksi itu. Aku menekan lebih keras jemariku di pahanya, membelai kulit putih itu kasar. “Justru itu Lin. Biar kamu ingat… kamu ini udah jadi milik pribumi, pelayan napsuku. Dan aku nggak peduli tempatnya di mana.
Suasana mobil makin panas, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk jalanan di luar. AC yang semula dingin terasa sia-sia karena napasku mulai memburu. Mataku terus menatap Meilin, menunggu responnya, seolah menantang: apakah dia akan menolak atau justru menurut dengan pasrah?
Meilin menarik napas dalam, jantungnya berdegup keras. Wajahnya menoleh sebentar ke luar jendela—mobil-mobil lain berderet rapat, suara klakson bersahutan, tapi tak ada yang bisa melihat jelas ke dalam kabin kami yang kaca filmnya cukup gelap. Wajahnya semakin merah, rasa malu bercampur dengan debar aneh yang makin sulit kutahan.
"Dasar gila kamu Zal… bisiknya pelan tapi tangannya perlahan bergerak ke arah resleting celanaku yang sudah terbuka. Perlahan diraihnya batang penisku yang sudah mengacung tegak.
"Liat nih.. tangan amoy chindo putih halus gini emang cocok banget buat ngocokin kontol pribumi. Sindirku sambil mengelus elus jemari tangannya yang lembut.
Meskipun agak risih karena harus melakukan hal itu ditempat umum namun kulihat ada rasa penasaran dan rasa ingin ditaklukkan sepenuhnya dalam dirinya. Awalnya Meilin agak malu malu karena takut dilihat orang dan tapi tanganku mencoba membimbing tangannya untuk mengocok batangku.
Aku menyeringai puas, tatapanku penuh kuasa. “Nah begitu. Baru bener jadi pelayan pribumi.
Aku menekan kepala Meilin sedikit ke bawah, suaraku semakin dalam dan kasar. “Tunjukin !! kalau cina putih sipit kayak kamu emang pantas ditundukin sama pribumi. Sekarang isep kontolku dan tunjukin kepatuhanmu !!
Aku melihat Meilin menurut meski tubuhnya bergetar hebat. Rasa deg-degan karena takut dilihat orang dari luar membuat tangannya sempat kaku namun tatapanku terus menekannya hingga ia tak mampu menahan diri lebih lama. Kepalanya kembali kutekan kearah selangkanganku sampah akhirnya bibirnya menyentuh kepala penisku. Oooughhh.. Aku langsung mendesah berat sementara tanganku meremas rambut istriku dengan kasar.
Di luar kemacetan tak juga terurai dan suara deru mesin bercampur teriakan klakson orang-orang yang tampak kesal jadi latar belakang. Semua itu terasa kontras dengan apa yang terjadi di dalam mobil. Aku terengah lalu tubuhku menegang dan kepalaku terangkat ke sandaran kursi.
"Sshhhhh.. Gitu Lin… yaaa gitu terus… Pelayan pribumi emang harus begini kerjanya kataku.
Mobil masih bergeming di jalur macet dan kabin sempit itu terasa makin pengap sehingga waktu seolah berhenti. Yang kudengar hanya napasku sendiri yang berat bercampur suara mesin yang terus menyala tanpa jeda.
Aku melihat Meilin masih tersipu dan tubuhnya tampak panas dingin. Tangannya gemetar saat ia menunduk dan aku merasakan diriku kehilangan kendali lalu meremas rambutnya tanpa sadar. Mobil tetap tidak bergerak karena terjebak di antara deret panjang kendaraan di depan.
Aku menunduk sedikit dan suaraku terdengar berat penuh ejekan.
“Lihat diri kamu Lin cantik putih dan modis seperti gadis Cina manja di mall tapi sekarang kamu jongkok di sini di depan suami pribumi kamu dan siap melayani, ucapku sambil menatapnya. Kalau teman temanku melihat pasti mereka iri setengah mati.
Meilin mendesah pelan dan tubuhnya makin bergetar di depanku. Aku tertawa rendah karena melihat reaksinya.
“Dari dulu aku sering dengar cowok cowok pribumi selalu berfantasi sama gadis Chindo katanya kulit kalian putih halus dan wangi seperti kamu ini, kataku pelan sambil menatap wajahnya. Dan sekarang aku buktikan kamu memang pantas jadi bagian dari fantasi itu.
Kata kataku membuat wajahnya makin merah. Aku mengusap pipinya dengan tangan kiri lalu menepuknya dua kali tanpa keras.
“Ngaku Lin kamu suka kan kamu suka jadi milik aku kamu suka diperlakukan seperti ini, ucapku dengan suara rendah.
Meilin menggigit bibir dan matanya berkaca kaca namun ada kilat aneh di sana antara malu dan ragu. Suaranya hampir tidak terdengar saat menjawab.
“Aku aku istrimu Zal kalau kamu mau aku jadi apa pun aku… ucapnya pelan.
“Bukan cuma istri, potongku cepat dengan nada menekan. Kamu itu pelayanku dan gadis cina cantik seperti kamu memang selalu terlihat tinggi di luar sana. Mereka bisa pamer barang mahal mobil dan kulit putih tapi sekarang kamu di sini bersamaku di tengah macet dan tidak bisa ke mana mana ucapku sambil menahan napas.
Aku menahan kepalanya lebih rendah lalu menghembuskan napas berat. Mobil masih tidak bergerak dan suara klakson di luar makin ramai sehingga aku tertawa pendek.
“Coba bayangkan kalau orang orang di mobil sebelah tahu apa yang sedang terjadi di dalam sini Lin, lanjutku pelan. Mereka pasti kaget karena ada amoy seksi yang nurut sama pribumi.
Aku melihat Meilin terengah di depanku dan tubuhnya tampak makin sulit dikendalikan. Tangannya mencengkeram pahaku sementara napasnya terdengar tidak teratur.
Aku bersandar lebih santai di jok dan satu tanganku mencengkeram rambut hitamnya lalu mengarahkannya pelan. Mataku setengah terpejam dan napasku berat namun aku masih terus berbicara dengan nada mengejek.
“Pelaaann.. pelan Lin.. sssshhh.. iyaaaa.. seperti itu.. ucapku rendah sambil menikmati setiap kuluman basah bibirnya.
"Pantas saja dari dulu banyak pria pribumi sering membicarakan gadis Chindo. Katanya wajah oriental dan kulit putih kalian bikin orang penasaran.
Aku mendesah keras lalu tertawa pendek sambil menekan kepala Meilin lebih dalam kearah selangkanganku.
“Lihat kamu sekarang. Biasanya kalau di mall, gadis Chindo kayak kamu belanja tas mahal, nongkrong di café. Sok cantik, sok eksklusif. Tapi kenyataannya? Kamu cuma dijadiin budak pemuas napsu pribumi kayak gini. Mulutmu aja udah penuh kontol begini. Kamu tuh nggak ada bedanya sama lonte cina yang cari duit dijalanan.


njirrrrrr ....di pubic.....wow....
BalasHapusughh manteb lah ini
BalasHapusemang kalo punya anjing betina putih demen banget diajak jalan jalan hahahaha
pasti banyak yang nanya beli dimana hihiihihi
bisa dilatih apa aja
bikin iri pengen ngebibitin
ada yang nawar harga mahal pastinya
wkwkwkkw
kalo bibit unggul mah ntar bibitannya banyak yg pesen pulak hahahhaa
Moga cowok-cowok lain iri hati..
BalasHapusMoga diupdate suhuuu
BalasHapusmakin hot wife
BalasHapusPlease update dominasi wife suhu
BalasHapus