Dia berdiri di depan cermin dan mulai merapikan rambut panjangnya yang hitam kecoklatan. Rambut itu berkilau lembut saat terkena cahaya pagi dan jatuh rapi di bahunya. Aku sempat tertegun beberapa detik melihatnya.
Hari ini dia memilih pakaian yang benar benar menarik perhatian. Atasan tanktop renda yang tipis dan ketat menempel pas di tubuh rampingnya dan memperjelas bentuk bahunya yang menggoda. Di bawahnya dia mengenakan rok mini hitam yang pas di pinggang dan memperlihatkan kaki jenjangnya yang halus. Gerakannya pelan dan tenang saat menarik resleting kecil di sisi roknya hingga terdengar suara gesek kain yang lembut.
Sungguh.. penampilan khas gadis chindo muda yang sering kulihat di mall besar. Seksi tapi tetap terlihat modis dan penuh percaya diri.
Aku berdiri di ambang pintu, menatapnya lekat-lekat. "Lin… sebenarnya kamu sadar gak sih. Kalau kamu tuh seksi banget. Kataku dengan suara serak tanpa sadar.
Meilin menoleh dengan senyum kecil lalu berjalan mendekat. Dia berputar sekali di hadapanku seolah memamerkan pakaiannya. "Kamu yakin nggak keberatan aku tampil begini? Di mall pasti banyak lelaki yang bakal liatin aku. katanya sambil menaikkan alis.
Aku mengangguk mantap. Tanganku refleks meraih pinggangnya, menarik tubuh sintalnya agar menempel padaku. “Justru penampilan seperti ini yang kusuka. Aku mau tunjukin kesemua orang kalau pribumi juga berhak mendapatkan amoy seksi seperti kamu.
"Dasar.. keliatannya kamu bangga banget ya bisa dapetin amoy kayak aku. Pipi Meilin sedikit merona tapi dia malah terkekeh.
Aku menunduk, mengecup bibirnya singkat. “Bangga lah. Kamu bukan cuma cantik, tapi juga keliatan seksi banget. Kayak amoy selebgram yang biasa pamer pesona dimedsos itu. Nanti waktu kamu jalan sama aku di mall pasti banyak cowok yang bakalan iri liatnya.
"Kalau gitu kamu harus rangkul aku erat erat biar mereka semua tau kalau amoy seksi juga bisa nurut sama pribumi.
"Iya lin.. tapi Seksi aja belum cukup. Aku mau kamu terlihat tunduk sepenuhnya. Pakai ini.. Kataku sambil memberikan sebuah kalung anjing berwarna hitam untuk dipasang dilehernya bertuliskan slave.
"Zal.. kamu serius mau aku pakai kalung itu.
"Iya.. itu bisa bantu nunjukin statusmu dihadapan semua orang. Seorang amoy cina yang kaya dan seksi tapi patuh sama pribumi.
Aku menghela napas panjang dan mencoba menenangkan diri sambil menatapnya dari tempatku berdiri. Dada terasa berdebar dan pikiranku mulai melayang karena sulit menahan rasa kagum. Walau kami sudah menikah beberapa bulan, setiap kali melihat Meilin berdandan seperti itu aku tetap merasa takjub.
Dia berdiri di depan cermin dengan tatapan serius sambil memperhatikan setiap detail di wajahnya. Cahaya pagi menyinari kulitnya yang putih mulus dan membuatnya tampak hangat dan bersinar. Wajahnya memiliki garis oriental yang lembut dengan mata sipit dan bibir kecil berwarna merah muda alami.
Tubuhnya sintal dan memiliki lekuk di tempat yang pas. Bahunya putih dan terlihat halus sementara pinggangnya sempit dan membentuk siluet yang anggun. Setiap gerakannya tampak tenang dan penuh
keyakinan hingga membuatku sulit berpaling.
Aku menatapnya lama tanpa berkata apa apa karena dalam hati muncul keinginan yang sulit dijelaskan. Ada dorongan untuk membuatnya benar benar menjadi milikku sepenuhnya dan bukan hanya sebagai istri tapi juga seseorang yang menuruti semua keinginanku.
Beberapa menit kemudian setelah yakin dengan penampilannya Meilin mengambil tas kecilnya yang berwarna krem dengan rantai tipis keemasan. Dia menarik resletingnya perlahan sambil melirik ke arahku dan tersenyum kecil. Aku masih saja menatapnya tanpa berkedip hingga dia melangkah mendekat dan menepuk dadaku pelan sambil tersenyum geli.
"Ayo Zal kalau cuma berdiri di sini kita nggak bakal sampai ke mall. Katanya sambil mengangkat alis manja.
Aku tertawa kecil dan berusaha mengalihkan pandangan yang sejak tadi terus tertuju padanya. Lalu aku merangkul bahunya yang terasa hangat dan lembut karena kulitnya baru saja terkena sinar matahari pagi.
"Oke.. tapi ingat nanti di mall kamu jangan kaget kalau aku makin nempel sama kamu. Aku nggak mau ada satu pun orang ragu kalau kamu sudah jadi milikku sepenuhnya. Ucapku sambil menunduk sedikit mendekat ke telinganya.
Meilin hanya mengangguk manis lalu mengambil langkah ringan menuju pintu depan. Aku mengikutinya dari belakang sambil memperhatikan cara dia berjalan yang santai tapi anggun. Setelah pintu tertutup, kami berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Udara pagi terasa sejuk dan matahari mulai naik pelan di balik pepohonan.
Begitu masuk ke dalam mobil suasananya langsung terasa tenang. AC menghembuskan udara dingin yang lembut dan layar sentuh menampilkan playlist streaming favorit dengan musik pop lembut yang terdengar merata di seluruh kabin. Jalanan di dalam komplek masih lengang dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas perlahan.
Aku memegang setir dengan satu tangan sementara tangan satunya kadang terulur ke arah Meilin yang duduk di sebelahku. Rok mininya yang pendek membuat kulit pahanya tampak jelas dan halus di bawah cahaya matahari yang masuk lewat kaca depan. Kulitnya terlihat putih bersih dan lembut hingga membuatku beberapa kali melirik tanpa sadar. Setiap kali pandanganku jatuh ke arahnya darah di tubuhku seperti berdesir dan jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Aku menyeringai pelan sambil melirik ke arahnya. Tanganku masih di setir sementara pandanganku sedikit bergeser ke arah paha Meilin yang tampak mencolok di bawah sinar matahari pagi. Suaraku keluar lebih rendah dan tenang saat aku berbicara padanya.
"Lin kamu sadar nggak sih.. paha mulus kamu ini kalau diliat orang orang apalagi temen temenku dikantor pasti bikin mereka susah nahan diri dan pengen menyentuhnya. Ucapku sambil tersenyum kecil dan menatapnya sekilas.
Meilin langsung menoleh cepat dan menatapku dengan ekspresi geli. Alisnya naik sedikit sementara sudut bibirnya membentuk senyum yang menahan tawa.
"Apaan sih Zal.. kamu ngomongnya aneh banget. Katanya sambil mencubit lenganku pelan dan memalingkan wajahnya ke jendela dengan tawa kecil yang tertahan.
"Emangnya kamu rela pahaku disentuh sama teman teman kamu itu ?
"Ya asal itu bisa bikin aku tambah puas. Aku sih rela rela aja.. Lagian paha amoy yang putih dan halus kayak gini kan emang buat disentuh dan dinikmati.. Hehe.. Aku tertawa kecil, tapi jemariku sudah mengusap pelan pahanya.
"Pantesan waktu pacaran dulu. Kamu tuh seneng banget pegang pegang paha aku.. rupanya karena hal ini ya..
Aku menoleh sekilas ke arahnya sambil tetap mengemudi pelan. Udara dingin dari AC berhembus lembut dan musik pop luar negeri dari playlist di layar sentuh terdengar samar di kabin. Tatapanku turun lagi ke pahanya yang tertutup rok mini itu lalu kembali ke wajahnya. Suaraku terdengar lebih rendah dan serius.
"Serius Lin.. dari dulu waktu aku masih kuliah dan suka nongkrong dicafe sama temen temen. Banyak yang bilang kalau amoy itu emang fantasi paling gila buat cowok pribumi kayak kita. Mereka suka ngebayangin kulit putih yang halus tubuh mulus yang nggak ada cacatnya terus pakai baju yang seksi dan pasang wajah oriental yang seakan minta dijamah. Ucapku pelan sambil meliriknya lagi.
Aku menarik napas perlahan lalu tersenyum kecil. "Dan kamu tau nggak.. sekarang semua fantasi itu udah jadi kenyataan. Amoy seksinya sudah duduk manis disampingku dan bebas aku apain aja sepuasnya. Kataku sambil memandangi wajahnya yang sedang diam menatap keluar jendela.
Pipi Meilin tampak memerah walau dia berusaha menahan senyum. Matanya melirik ke arahku dengan tatapan yang setengah malu setengah menggoda. Suaranya terdengar lembut tapi mengandung nada main main.
"Jadi aku cuma semacam wujud fantasi liar kamu gitu ya. Tanyanya sambil tertawa kecil dan menepuk lenganku pelan. Sentuhannya ringan tapi cukup membuatku menoleh.
Aku menatapnya sekilas lalu kembali fokus ke jalan. Senyumku muncul perlahan saat aku berbicara.
"Iya Lin. fantasi paling liar yang sekarang udah jadi kenyataan. Kamu tuh amoy seksi yang bisa kupake habis habisan diranjang. Kataku sambil mencondongkan sedikit badan ke arahnya.
Tanganku terulur pelan hingga jemariku menyentuh kulit pahanya yang halus. "Liat aja paha putihmu ini. ucapku dengan nada rendah sambil mencubit manja kulitnya yang licin.
"Kamu tahu gak.. Banyak cowok pribumi diluar sana yang cuma bisa mimpi bisa nyentuh paha amoy kayak gini tapi aku yang beruntung malah punya semuanya. Lanjutku dengan nada tenang sambil tetap menatap ke depan.
Meilin menggigit bibir bawahnya sambil menunduk. Pipinya memerah dan matanya melirik sekilas ke arahku, lalu buru buru mengalihkan pandangan. Suaranya terdengar pelan tapi bergetar seperti sedang menahan sesuatu di dadanya.
"Dasar kamu ngomongnya selalu aja ke arah situ. Katanya sambil tersenyum malu. Tangannya meremas ujung roknya dan bahunya sedikit naik karena menahan tawa kecil.
Tapi setelah beberapa detik dia menarik napas dan menatap tanganku yang masih ada di pahanya. Tatapannya berubah lembut dan suaranya turun lebih pelan.
"Tapi gak tau kenapa aku malah suka denger kamu ngomong kayak gitu. Ucap Meilin dengan nada ragu tapi jujur.
Di momen itu aku bisa lihat jelas kalau dia sebenarnya malu tapi juga menikmati perhatian yang kuberikan. Ada campuran antara gengsi dan rasa senang di wajahnya yang membuatku sulit menahan senyum.
Aku terkekeh puas, lalu mencondongkan badan sedikit. "Ya wajar lah. Kamu tahu kan, Lin? Gadis chindo kayak kamu tuh sering dibilang barang mahal, nggak gampang disentuh, terlihat sempurna kayak bidadari. Tapi nyatanya sekarang… kamu udah kutaklukan. Jadi pantaslah kalau aku banggain, pamerin dan godain kamu terus.
Ketika memasuki jalan raya besar arus lalu lintas tiba tiba padat dan suara klakson bersahut sahutan dari segala arah. Deretan mobil di depan bergerak pelan tanpa kepastian jadi aku hanya bisa bersandar di kursi sambil menunggu jalan kembali lancar.
Tangan kiriku sudah berada di paha Meilin sejak tadi dan tidak ia singkirkan. Kulitnya terasa hangat di bawah telapak tanganku sementara roknya yang agak tersingkap membuat sentuhannya makin jelas. Meilin duduk miring sambil menatap keluar jendela seolah tidak peduli tapi aku tahu dari cara dia menarik napas kalau dia sadar dengan setiap gerakanku.
Cahaya masuk lewat kaca depan mobil dan jatuh di kulit putihnya hingga membuatnya tampak bersinar lembut. Aku berusaha fokus pada jalan di depan tapi pandanganku terus saja tertarik ke arahnya karena suasana di luar yang riuh malah membuat keheningan di dalam mobil terasa makin berat.
"Lin.. coba kamu perhatiin tuh abang abang yang lagi jualan dipinggiran jalan. Mereka pasti seneng banget kalau dikasih kesempatan buat megang badan kamu yang putih ini.
"Kayaknya kamu pengen banget ya nyerahin aku ke mereka.
Aku tersenyum kecil sambil menatap wajahnya yang masih memerah. Suaraku keluar pelan tapi terdengar jelas di antara hembusan AC mobil.
"Hehe jangan marah Lin amoy seksi kayak kamu emang udah kodratnya buat dijadiin bacolan sama pria pribumi seperti mereka. Ucapku sambil menahan tawa kecil.
Aku melirik ke arah pahanya yang masih terbuka sebagian karena posisi duduknya. "Lagian salah sendiri kenapa kulitmu putih dan mulus begini. Lanjutku dengan nada menggoda.
Aku kemudian mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. Suaraku menurun jadi lebih berat dan penuh tekanan saat kubisikkan kata kata itu di telinganya. Napasku terasa menyentuh kulitnya yang hangat sementara aroma parfumnya mengisi udara sempit di dalam mobil.
"Lin… kamu kan udah resmi jadi budak pribumi. Kalau gitu coba sekarang kamu layanin aku.
Tanganku dengan sengaja menurunkan resleting celana, membuka ruang sempit di balik kemudi. Senyum miringnya semakin liar. “Ngapain buang waktu nunggu macet kalau aku punya kamu di sini? Layanin aku sekarang.”
Meilin terperangah, wajahnya memerah. Matanya melirik cepat ke kaca mobil yang gelap namun tetap menimbulkan rasa was-was. “Zal… ini kan di jalan, banyak orang… suaranya bergetar antara malu dan terkejut.
Aku justru semakin puas melihat reaksi itu. Aku menekan lebih keras jemariku di pahanya, membelai kulit putih itu kasar. “Justru itu Lin. Biar kamu ingat… kamu ini udah jadi milik pribumi, pelayan napsuku. Dan aku nggak peduli tempatnya di mana.
Suasana mobil makin panas, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk jalanan di luar. AC yang semula dingin terasa sia-sia karena napasku mulai memburu. Mataku terus menatap Meilin, menunggu responnya, seolah menantang: apakah dia akan menolak atau justru menurut dengan pasrah?
Meilin menarik napas dalam, jantungnya berdegup keras. Wajahnya menoleh sebentar ke luar jendela—mobil-mobil lain berderet rapat, suara klakson bersahutan, tapi tak ada yang bisa melihat jelas ke dalam kabin kami yang kaca filmnya cukup gelap. Wajahnya semakin merah, rasa malu bercampur dengan debar aneh yang makin sulit kutahan.
"Dasar gila kamu Zal… bisiknya pelan tapi tangannya perlahan bergerak ke arah resleting celanaku yang sudah terbuka. Perlahan diraihnya batang penisku yang sudah mengacung tegak.
"Liat nih.. tangan amoy chindo putih halus gini emang cocok banget buat ngocokin kontol pribumi. Sindirku sambil mengelus elus jemari tangannya yang lembut.
Meskipun agak risih karena harus melakukan hal itu ditempat umum namun kulihat ada rasa penasaran dan rasa ingin ditaklukkan sepenuhnya dalam dirinya. Awalnya Meilin agak malu malu karena takut dilihat orang dan tapi tanganku mencoba membimbing tangannya untuk mengocok batangku.
Aku menyeringai puas, tatapanku penuh kuasa. “Nah begitu. Baru bener jadi pelayan pribumi.
Aku menekan kepala Meilin sedikit ke bawah, suaraku semakin dalam dan kasar. “Tunjukin !! kalau cina putih sipit kayak kamu emang pantas ditundukin sama pribumi. Sekarang isep kontolku dan tunjukin kepatuhanmu !!
Aku melihat Meilin menurut meski tubuhnya bergetar hebat. Rasa deg-degan karena takut dilihat orang dari luar membuat tangannya sempat kaku namun tatapanku terus menekannya hingga ia tak mampu menahan diri lebih lama. Kepalanya kembali kutekan kearah selangkanganku sampah akhirnya bibirnya menyentuh kepala penisku. Oooughhh.. Aku langsung mendesah berat sementara tanganku meremas rambut istriku dengan kasar.
Di luar kemacetan tak juga terurai dan suara deru mesin bercampur teriakan klakson orang-orang yang tampak kesal jadi latar belakang. Semua itu terasa kontras dengan apa yang terjadi di dalam mobil. Aku terengah lalu tubuhku menegang dan kepalaku terangkat ke sandaran kursi.
"Sshhhhh.. Gitu Lin… yaaa gitu terus… Pelayan pribumi emang harus begini kerjanya kataku.
Mobil masih bergeming di jalur macet dan kabin sempit itu terasa makin pengap sehingga waktu seolah berhenti. Yang kudengar hanya napasku sendiri yang berat bercampur suara mesin yang terus menyala tanpa jeda.
Aku melihat Meilin masih tersipu dan tubuhnya tampak panas dingin. Tangannya gemetar saat ia menunduk dan aku merasakan diriku kehilangan kendali lalu meremas rambutnya tanpa sadar. Mobil tetap tidak bergerak karena terjebak di antara deret panjang kendaraan di depan.
Aku menunduk sedikit dan suaraku terdengar berat penuh ejekan.
“Lihat diri kamu Lin cantik putih dan modis seperti gadis Cina manja di mall tapi sekarang kamu jongkok di sini di depan suami pribumi kamu dan siap melayani, ucapku sambil menatapnya. Kalau teman temanku melihat pasti mereka iri setengah mati.
Meilin mendesah pelan dan tubuhnya makin bergetar di depanku. Aku tertawa rendah karena melihat reaksinya.
“Dari dulu aku sering dengar cowok cowok pribumi selalu berfantasi sama gadis Chindo katanya kulit kalian putih halus dan wangi seperti kamu ini, kataku pelan sambil menatap wajahnya. Dan sekarang aku buktikan kamu memang pantas jadi bagian dari fantasi itu.
Kata kataku membuat wajahnya makin merah. Aku mengusap pipinya dengan tangan kiri lalu menepuknya dua kali tanpa keras.
“Ngaku Lin kamu suka kan kamu suka jadi milik aku kamu suka diperlakukan seperti ini, ucapku dengan suara rendah.
Meilin menggigit bibir dan matanya berkaca kaca namun ada kilat aneh di sana antara malu dan ragu. Suaranya hampir tidak terdengar saat menjawab.
“Aku aku istrimu Zal kalau kamu mau aku jadi apa pun aku… ucapnya pelan.
“Bukan cuma istri, potongku cepat dengan nada menekan. Kamu itu pelayanku dan gadis cina cantik seperti kamu memang selalu terlihat tinggi di luar sana. Mereka bisa pamer barang mahal mobil dan kulit putih tapi sekarang kamu di sini bersamaku di tengah macet dan tidak bisa ke mana mana ucapku sambil menahan napas.
Aku menahan kepalanya lebih rendah lalu menghembuskan napas berat. Mobil masih tidak bergerak dan suara klakson di luar makin ramai sehingga aku tertawa pendek.
“Coba bayangkan kalau orang orang di mobil sebelah tahu apa yang sedang terjadi di dalam sini Lin, lanjutku pelan. Mereka pasti kaget karena ada amoy seksi yang nurut sama pribumi.
Aku melihat Meilin terengah di depanku dan tubuhnya tampak makin sulit dikendalikan. Tangannya mencengkeram pahaku sementara napasnya terdengar tidak teratur.
Aku bersandar lebih santai di jok dan satu tanganku mencengkeram rambut hitamnya lalu mengarahkannya pelan. Mataku setengah terpejam dan napasku berat namun aku masih terus berbicara dengan nada mengejek.
“Pelaaann.. pelan Lin.. sssshhh.. iyaaaa.. seperti itu.. ucapku rendah sambil menikmati setiap kuluman basah bibirnya.
"Pantas saja dari dulu banyak pria pribumi sering membicarakan gadis Chindo. Katanya wajah oriental dan kulit putih kalian bikin orang penasaran.
Aku mendesah keras lalu tertawa pendek sambil menekan kepala Meilin lebih dalam kearah selangkanganku.
“Lihat kamu sekarang. Biasanya kalau di mall.. Gadis Chindo kayak kamu belanja tas mahal, nongkrong di café. Sok cantik, sok eksklusif. Tapi kenyataannya? Kamu cuma dijadiin budak pemuas napsu pribumi kayak gini. Mulutmu aja udah penuh kontol begini. Kamu tuh nggak ada bedanya sama lonte cina yang cari duit dijalanan.
Mobilku masih belum bergerak karena jalanan macet panjang. Klakson kendaraan terdengar bersahutan dari depan dan belakang. Namun di dalam mobil suasananya berbeda. Yang terdengar hanya napasku yang berat dan suara gerakan pelan dari Meilin. Aku menyandarkan kepala ke kursi dan menatap langit-langit mobil. Dadaku naik turun karena menahan rasa yang semakin kuat.
"Teman-temanku bener Lin… mereka sering bilang "coba sekali aja bisa nyicip amoy yang badannya putih mulus kayak kamu.. pasti bakal puas banget. Tapi lihat sekarang.. aku nggak cuma nyicip. Aku punya kamu seutuhnya. Dan yang paling gila.. kamu malah nurut.. pasrah bahkan keliatan nikmatin waktu direndahin ditempat umum kayak gini.
Aku menepuk pipi Meilin pelan lalu menarik kepalanya sebentar agar wajahnya terlihat jelas. Wajah Meilin terlihat cantik dengan garis oriental yang lembut. Kulitnya putih bersih dan rambut hitamnya jatuh rapi di sisi wajahnya. Namun saat itu wajahnya juga tampak patuh dan memelas. Aku tersenyum puas saat melihatnya.
“Coba bilang lin. Bilang kalau kamu cuma budak napsunya pribumi. Dan kamu ada di sini untuk puasin aku. Kataku.
Meilin terlihat gemetar. Bibirnya sedikit terbuka namun ia tidak langsung menjawab. Aku tertawa pelan lalu menekan kepalanya perlahan agar ia kembali melanjutkan.
Setelah itu kepalanya mulai bergerak turun naik di pangkuanku. Gerakannya pelan namun teratur seolah ia sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Rambut hitamnya ikut bergoyang setiap kali kepalanya bergerak. Aku bersandar di kursi dan mataku setengah terpejam karena rasa nikmat yang datang perlahan.
“Gilaa.. lin. Kamu tuh amoy seksi dari keluarga terpandang dan kulitmu putih sekali. Sekarang kamu malah nyepongin kontol pribumi kayak gini. Kamu bener bener jadi budak yang patuh dan menuruti semua yang kumau. Lanjutin lin.. Aku mau keadaan seperti ini terus. Biar orang orang dimobil sebelah curiga waktu liat kamu berbuat mesum kayak gini.
Aku menahan kepala Meilin tepat di pangkuanku agar ia tidak menjauh. Tanganku menekan lembut namun jelas memberi tahu bahwa ia harus tetap di sana. Tubuhku terasa makin tegang dan napasku semakin berat. Sementara itu mataku sempat melirik keluar melalui kaca mobil. Jalanan masih macet dan mobil-mobil di depan belum bergerak.
“Ayo lin… katakan saja. Biar jelas. Kamu ini apa. Bisikku dengan suara rendah.
Meilin mengangkat wajahnya sedikit dari pangkuanku. Napasnya terdengar tersengal dan bibirnya masih terbuka. Matanya menatapku ragu. Di wajahnya terlihat campuran rasa malu namun juga seperti ada semangat aneh yang muncul.
“A… aku…,” ucapnya pelan hampir tidak terdengar.
Aku langsung mendorong kembali kepala Meilin ke pangkuanku. Tanganku menahannya agar ia tidak berhenti. Ia kembali bergerak mengikuti tekananku.
Desahanku pecah lagi. Dadaku naik turun sementara tanganku masih menekan kepalanya.
“Ayo, Lin. Jangan setengah-setengah. Katakan dengan jelas. Kamu amoy yang seksi dan sekarang cuma jadi budak napsunya pribumi. Katakan,” kataku dengan suara rendah namun menekan.
Aku mendorong kepalanya agar bergerak lebih cepat. Kepalanya naik turun di pangkuanku dan rambut hitamnya ikut bergoyang mengikuti gerakan itu. Batangku terus dikulum olehnya sampai terasa semakin basah oleh air liurnya yang menetes di pahaku.
Aku tidak hanya diam. Pinggulku ikut menghentak dari bawah mengikuti irama gerakannya. Kursi mobil berderit pelan setiap kali tubuhku bergerak. Napasku makin berat sementara kepalanya terus bergerak naik turun di pangkuanku.
Mobil-mobil di sekitar kami masih diam di tengah kemacetan sehingga tidak ada yang menyadari apa yang terjadi. Padahal mobilku berguncang pelan mengikuti gerakan yang memalukan itu.
Aku menekan kepala Meilin agar bergerak lebih cepat. Kepalanya naik turun di pangkuanku dan air liurnya berceceran di pahaku. Mobil-mobil di sekitar kami tetap diam di tengah kemacetan dan tidak ada yang menyadari apa yang terjadi. Padahal kabin mobilku berguncang pelan mengikuti gerakan yang memalukan itu.
Akhirnya aku menarik kepalanya lagi. Meilin terengah-engah di depanku. Napasnya berat dan wajahnya terlihat sangat malu. Matanya berkaca-kaca namun ia tetap menatapku.
“Aku… aku budaknya pribumi… ucapnya pelan.
Aku menyeringai puas lalu menatapnya tajam.
"Ulangi !! Katakan lebih jelas siapa kamu !! Bentaku karena terbawa suasana.
Meilin menelan ludah lalu membuka mulutnya lagi. Tubuhnya masih gemetar saat ia bicara.
“Aku amoy… tapi cuma pantas jadi budak pribumi… jadi pemuas kamu bang… ucap Meilin dengan suara patah-patah.
Aku tertawa pendek bercampur dengusan. Tanganku menepuk pipi Meilin agak kasar lalu menarik rambutnya agar ia menatapku.
“Bagus… sekarang teruskan, Lin. Buktikan kata-kata kamu barusan, kataku.
Meilin tidak membantah. Ia langsung menunduk lagi ke pangkuanku. Kali ini gerakannya terlihat lebih pasrah. Kepalanya kembali bergerak turun naik di pangkuanku tanpa ragu. Aku merem melek menahan rasa nikmat yang datang semakin kuat. Satu tanganku menekan kaca mobil yang mulai berembun. Napasku makin berat dan dadaku naik turun tidak teratur.
“Hhh… lebih cepat lin… ahh… sedot yang kuaaat.. kooontolnya.. lenguhku tertahan.
Sesekali tawa pendek keluar dari mulutku bercampur dengan desahan yang sulit kutahan.
“Hhng… begitu… terus… sepongin kontool pribumi.. ini sampe muncrat dimulut kamu.. uukhh.. jangan berhenti…Gumamku dengan suara serak.
Kepala Meilin terus bergerak naik turun di pangkuanku. Gerakan menyepongnya makin cepat sehingga bunyi basah terdengar jelas di dalam kabin mobil. Aku merem melek sambil menyandarkan kepala ke jok. Tangan kiriku menjambak rambut hitam istriku lalu mendorong kepalanya agar bergerak lebih dalam lagi.
“Ahhh… gila… enak banget disepongin amoy seksi kayak kamu… Desisku.
Tubuhku bergetar hebat. Mataku sempat terbuka lalu menatap ke bawah. Aku melihat wajah putih bersih Meilin tepat di pangkuanku. Bibir merahnya terlihat basah oleh air liurnya sendiri. Seorang amoy seksi dari keluarga kaya menghamba di pangkuan seorang pria pribumi. Pemandangan erotis ini justru membuatku makin kehilangan kendali.
Mobilku masih terjebak macet di tengah jalan. Dari luar terdengar suara klakson bersahut-sahutan. Truk besar dan mobil pribadi berhenti rapat di depan sehingga tidak ada ruang untuk bergerak. Namun bagiku semua suara itu seperti menjauh. Perhatianku hanya tertuju pada apa yang terjadi di dalam kabin mobil ini.
Sensasi di tubuhku semakin kuat. Dadaku naik turun cepat dan napasku terdengar berat di ruang sempit itu. Aku menyandarkan punggung ke jok sambil memejamkan mata sebentar dan mencoba menahan gelombang rasa yang terus naik dari dalam tubuhku.
“Lebih cepat lin… ahhh… aku sudah tidak tahan lagi… erangku dengan suara serak.
Tubuhku mulai menegang. Tanganku tanpa sadar mencengkeram kursi di sampingku sementara napasku semakin tidak teratur. Aku membuka mata dan melihat ke bawah. Rambut hitam Meilin jatuh menutupi sebagian wajahnya ketika kepalanya terus bergerak di pangkuanku.
Suasana di dalam mobil terasa semakin panas dan kaca di sampingku mulai dipenuhi embun tipis. Aku menarik napas panjang lalu menekan kepalanya lebih dalam. Gerakannya terhenti sesaat seolah ia terkejut oleh dorongan itu. Ia sempat batuk kecil dan menarik napas sebelum kembali menunduk.
Aku menarik napas berat sementara tubuhku semakin tegang. Tanganku mencengkeram dashboard di depanku dan tangan yang lain masih menggenggam rambut Meilin erat.
Dengan satu hentakan terakhir aku mendorong kepala Meilin lebih dalam hingga ia hampir tersedak. Pada saat itu juga tubuhku mencapai puncaknya. Tubuhku langsung menegang keras dan punggungku sedikit terangkat dari jok. Kepalaku terhempas ke sandaran kursi sementara napasku pecah menjadi lenguhan panjang.
“Ahhh… Lin…!” lenguhku berat ketika air maniku yang hangat membuncah keluar di dalam mulutnya hingga beberapa kali. Crott.. crett.. sssshh..
Di luar sana kendaraan masih diam dan suara klakson masih bersahut-sahutan. Namun di dalam mobilku semuanya terasa seperti terpisah dari dunia luar. Setelah beberapa saat tubuhku perlahan mulai rileks. Aku tetap bersandar di kursi sambil memejamkan mata dan mencoba menenangkan napas yang masih berat.
Beberapa detik berlalu sebelum aku akhirnya melonggarkan genggamanku. Tanganku yang tadi mencengkeram rambut Meilin perlahan terlepas. Meilin langsung menarik napas panjang. Ia terengah-engah setelah terlalu lama berada dalam posisi itu. Namun ia tetap berada di bawah di hadapanku.
Ia menatapku dari bawah dengan wajah yang terlihat patuh. Ekspresinya tenang namun jelas menunjukkan bahwa ia menunggu apa yang akan kukatakan selanjutnya. Aku menoleh ke arahnya lalu tersenyum puas. Tanganku bergerak mengusap pipinya dengan gerakan agak kasar namun penuh gairah.
“Telan aja semuanya lin… tunjukkan kalau kamu memang budak napsunya pribumi. Kataku lirih namun penuh perintah.
Meilin menunduk sebentar di depanku. Matanya terpejam seolah berusaha menenangkan napasnya. Beberapa detik kemudian ia menarik napas panjang lalu mengangkat wajahnya kembali.
Wajahnya masih terlihat hangat namun ekspresinya tetap patuh. Ia menjilat bibirnya perlahan lalu menatapku dari bawah.
Dengan suara lirih namun jelas ia akhirnya bicara.
“Aku… sudah lakukan semua tuan. Memang itu tugasku kan ? Melayani pribumi sampai puas.. bisik Meilin pelan.
Aku menyandarkan tubuhku ke jok mobil. Napasku masih berat namun senyum puas terlihat di wajahku. Mataku menatap Meilin di bawah dengan perasaan bangga yang bercampur keras.
Tanganku menepuk pipi putihnya pelan lalu menjambak sedikit rambutnya agar wajahnya mendongak ke arahku.
“Heh… bagus lin. Akhirnya kamu sadar juga. Kataku dengan suara serak yang masih terbawa sisa ledakan tadi.
"Memang ini udah jadi tugas utamamu. Amoy seksi, putih dan mulus seperti kamu tidak pantas jadi apa-apa selain jadi budak napsunya pribumi kayak aku.
Aku mendengus puas sambil menatap Meilin di depanku. Mataku menelusuri wajahnya lalu turun ke tubuhnya yang masih berada di bawah kursiku. Senyum tipis muncul di wajahku.
“Teman-temanku selalu bilang amoy itu fantasi semua lelaki. Kulitnya putih, penampilan seksi dan kelihatan mahal. Tapi akhirnya tetap saja tunduk di bawah kami. Dan sekarang kamu buktinya. Istriku sendiri gadis amoy yang seksi malah mau nurut dan melayani aku di mobil seperti ini. Kataku sambil menatapnya tajam.
Tanganku lalu mencengkeram dagunya lebih keras agar ia menatap langsung ke mataku. Kepalanya sedikit terangkat karena tekananku.
“Kamu tahu tidak Lin. Aku justru makin bangga sama kamu karena kamu mau menerima semua ini. Kamu tidak membantah dan kamu tahu tempatmu. kataku dengan suara rendah.
Aku menepuk pipinya pelan lalu tetap menahan dagunya. "Kamu bukan istri manja yang harus dimanja terus. Kamu pelayan yang harus selalu siap kapan saja aku mau. kataku.
Aku menghembuskan napas panjang lalu melepas dagu Meilin. Jemariku turun perlahan membelai pahanya dengan gerakan kasar.
"Hari ini tugasmu belum selesai lin. Yang tadi itu baru pemanasan aja. Kita masih punya banyak waktu dan aku tidak akan melepas kamu begitu saja. Kamu bakal terus jadi budakku seharian. Kataku sambil tersenyum tipis.
Aku lalu menoleh ke luar jendela mobil. Kemacetan masih panjang dan kendaraan di depan belum juga bergerak. Di pinggir jalan aku melihat beberapa pengemis duduk berderet di trotoar. Pakaian mereka lusuh dan wajah mereka terlihat lelah. Tidak jauh dari situ ada seorang pengamen dekil yang berjalan dari mobil ke mobil sambil membawa gitar tua.
Pengamen itu semakin mendekat ke arah mobilku. Ia mengetuk kaca beberapa kendaraan di depan lalu berjalan lagi ke belakang. Aku kembali menoleh ke arah Meilin yang masih duduk disampingku. Senyum kecil muncul di wajahku.
“Lihat itu, Lin,” kataku sambil mengangguk ke arah luar jendela. “Banyak orang susah di luar sana.”
Aku menghela napas pelan lalu menatapnya lagi.
“Bagaimana kalau hari ini kita sedikit berbagi dengan mereka. Kasih sesuatu buat orang-orang miskin seperti itu,” kataku dengan nada santai sambil tetap memperhatikan pengamen yang mulai mendekati mobil kami.
Meilin menatapku dengan bingung. Alisnya sedikit berkerut saat ia melihat ke arah luar jendela lalu kembali menatapku.
“Maksud kamu apa, Zal? Rencananya hari ini kita mau jalan ke mall. Bukan acara berbagi sama orang miskin. Tanya Meilin.
Aku tersenyum kecil lalu menyandarkan punggung ke jok mobil. Di luar sana kemacetan masih panjang dan beberapa pengemis masih terlihat di pinggir jalan.
“Tidak ada salahnya kan kalau kita berbagi sedikit dengan mereka,” kataku santai.
Meilin masih terlihat bingung. Ia menatapku seolah menunggu penjelasan yang lebih jelas.
“Maksud kamu apa sih Zal. Tanya Meilin lagi.
Aku mengangguk pelan ke arah jalan.
“Begini, Lin. Mumpung kita lagi kejebak macet seperti ini. Bagaimana kalau kamu kasih mereka sedikit kesempatan buat merasakan kenikmatan dunia,” kataku sambil menatapnya.
Meilin langsung menatapku dengan kaget. Alisnya mengerut dan wajahnya terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Maksud kamu aku harus menyerahkan diri ke mereka begitu? Jangan gila kamu, Zal. Aku tidak mau kalau disuruh seperti itu,” kata Meilin dengan suara tegas.
Aku mengangkat tangan sedikit seolah ingin menenangkannya.
“Tenang, Lin. Aku juga tahu batasan kok. kataku pelan.
Aku melirik lagi ke arah luar jendela. Pengamen dekil itu sekarang sudah semakin dekat dengan mobil kami. Ia berjalan pelan sambil membawa gitar tuanya.
“Aku tidak bilang kamu harus melayani mereka. Aku cuma mau kamu kasih ijin mereka sebentar buat menyentuh badanmu yang seksi ini. Kasian kan mereka tiap hari cuma bisa liatin amoy seksi dijalanan tanpa bisa merasakannya. Hehe.. kataku sambil kembali menatap Meilin.
Pengamen urakan yang badannya bertato itu akhirnya sampai di samping mobil kami. Ia berhenti di dekat jendela Meilin sambil memegang gitar tua yang warnanya sudah pudar. Pakaiannya terlihat lusuh dan rambutnya acak-acakan. Ia lalu mulai memetik gitar itu pelan dan bernyanyi dengan suara parau. Aku memperhatikan sebentar lalu melirik ke arah Meilin yang duduk di sampingku.
“Lihat, Lin. Dia sudah sampai di sini,” kataku pelan.
Tanpa banyak berpikir aku menekan tombol dan menurunkan kaca jendela di sisi Meilin. Udara hangat dari luar langsung masuk ke dalam mobil bersama suara gitar yang kini terdengar lebih jelas. Pengamen itu sedikit terkejut ketika melihat kaca mobil terbuka. Ia mendekat sedikit sambil tetap bernyanyi. Matanya sesekali melirik ke dalam mobil. Aku bersandar santai di jok sambil memperhatikan kejadian itu. Senyum tipis muncul di wajahku.
“Nyanyi saja dulu bang. Kataku pada pengamen itu.
Meilin tampak sedikit canggung karena orang asing itu sekarang berdiri tepat di dekat jendelanya. Ia melirikku sebentar seolah ingin memastikan apa yang sebenarnya sedang kurencanakan.
Di luar sana kemacetan masih belum bergerak. Suara klakson tetap terdengar di kejauhan sementara pengamen itu terus memetik gitar tuanya di samping mobil kami. Pengamen itu terus memetik gitar tuanya sambil bernyanyi dengan suara parau. Lagu yang ia bawakan terdengar sederhana namun cukup merdu di tengah kebisingan jalan. Kendaraan di sekitar kami masih berhenti dan suasana macet belum juga berubah.
Sambil bernyanyi, matanya sesekali melirik ke arah dalam mobil. Pandangannya tertuju pada Meilin yang duduk di kursi penumpang. Pakaian Meilin saat itu terlihat seksi dan cukup mencolok dibandingkan keadaan di luar jalan yang penuh debu.
Meilin terlihat sedikit tidak nyaman dengan tatapan itu. Ia menoleh sebentar ke arahku lalu kembali melihat ke depan. Tangannya merapikan rambutnya seolah ingin mengalihkan perhatian. Pengamen itu tetap bernyanyi sambil menggesek senar gitar tuanya. Sesekali ia mengangguk mengikuti irama lagu.
Aku memperhatikan semuanya dengan tenang dari kursi pengemudi. Tanganku masih berada di dekat jendela yang terbuka.
“Terus saja bang. Lagunya lumayan juga. Nanti aku kasih tambahan kalau nyanyinya bagus. kataku santai.
Pengamen itu mengangguk kecil sambil melanjutkan nyanyiannya. Suara gitarnya bercampur dengan suara klakson dari kendaraan lain yang mulai tidak sabar menunggu kemacetan bergerak.
Pengamen itu akhirnya menghentikan petikan gitarnya. Suara senar yang tadi mengalun pelan kini terdiam. Ia menatap ke dalam mobil sambil mengusap keringat di dahinya. Jalanan masih macet dan kendaraan di depan kami belum juga bergerak.
Aku mencondongkan sedikit tubuhku ke arah jendela.
“Mau dibayar pakai apa bang?” tanyaku santai.
Pengamen itu tersenyum kecil lalu mengangkat bahunya.
“Ya pakai duit lah bos,” jawabnya.
Aku menggeleng pelan lalu tersenyum tipis.
“Kalau bayarnya pakai yang lain, mau nggak?” kataku.
Pengamen itu terlihat bingung. Ia mengerutkan kening lalu melirik sebentar ke arah Meilin yang duduk di kursi penumpang.
“Emang mau bayar pakai apaan bos?” tanyanya.
Aku tidak langsung menjawab. Aku hanya mengangguk kecil ke arah Meilin.
“Itu yang kamu lihat dari tadi,” kataku pelan.
Pengamen itu kembali menoleh ke arah Meilin. Tatapannya berhenti beberapa saat. Meilin terlihat semakin canggung. Ia menarik napas pelan lalu merapikan rambutnya sambil mengalihkan pandangan ke depan.
Udara dari luar masih masuk melalui jendela yang terbuka. Suara klakson kendaraan lain terdengar bersahut-sahutan. Sementara itu pengamen bertato itu masih berdiri di samping mobil kami sambil memegang gitar tuanya. Ia tampak berpikir sejenak tentang maksud ucapanku.
Pengamen itu tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya.
“Bos bisa aja nih. Emangnya bisa dibayar pakai yang itu. Saya sih nggak keberatan bos kalau memang dikasih izin. Hehe,” sahut pengamen itu setengah bercanda.
Aku ikut tersenyum santai sambil bersandar di jok.
“Ya boleh kok. Tapi jangan lama-lama pegangannya. Nanti lecet soalnya itu barang mahal,” sahutku.
Meilin yang sejak tadi mendengar percakapan kami langsung menoleh cepat ke arahku. Wajahnya terlihat kesal dan juga kaget dengan ucapanku.
“Zal kamu apa-apanya sih. Emangnya aku ini apaan?” protes Meilin dengan nada tidak senang.
Aku menoleh ke arahnya lalu mengangkat bahu seolah tidak merasa bersalah.
“Sudah santai saja Lin. Cuma sebentar aja kok.. Dia juga kan pribumi jadi berhak buat ngerasaiiln mulusnya badan amoy seperti kamu. Kataku mencoba menenangkan.
Namun Meilin masih menatapku dengan wajah tidak percaya. Tangannya menyilang di depan dada lalu ia kembali menatap ke arah depan jalan. Sementara itu pengamen bertato itu hanya berdiri canggung di samping jendela sambil memegang gitar tuanya. Ia terlihat tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar protes dari Meilin.
Karena terus kudesak akhirnya Meilin menghela napas panjang lalu menoleh ke arahku. Wajahnya masih terlihat tidak senang namun ia tampak menyerah dengan sikapku yang terus memaksanya.
“Zal kamu ini benar-benar keterlaluan.. katanya pelan.
Aku hanya tersenyum tipis lalu kembali melihat ke arah pengamen yang masih berdiri di samping jendela mobil.
“Sudah bang. Tunggu apa lagi. Mumpung jalan masih macet,” kataku memberi semangat.
Pengamen itu terlihat ragu sejenak. Ia melirik Meilin lalu menatapku lagi seolah memastikan bahwa aku memang serius dengan ucapanku. Meilin memalingkan wajahnya ke depan. Ia tampak enggan melihat apa yang akan terjadi. Tangannya mengepal kecil di pangkuannya. Melihat tidak ada penolakan lagi, pengamen itu akhirnya perlahan menjulurkan tangan kirinya ke dalam mobil. Gerakannya hati-hati karena ruang di jendela tidak terlalu lebar. Tangannya lalu menyentuh bagian dada Meilin melalui pakaian yang ia kenakan.
Meilin langsung menegang ketika merasakan sentuhan itu. Ia memejamkan mata sebentar lalu menarik napas pelan. Sementara itu pengamen bertato itu tampak gugup namun juga penasaran. Ia melirikku lagi seolah memastikan bahwa ia tidak melakukan sesuatu yang salah. Aku hanya bersandar santai di kursi pengemudi sambil memperhatikan kejadian itu. Di luar mobil suara klakson kendaraan masih terdengar dan kemacetan di jalan belum juga bergerak.
Nikmati aja lin.. bukannya dulu kamu pernah bilang pengen buat aku bahagia selama jadi suami kamu. Ujarku sambil menahan birahi karena tak tahan melihat tubuh istriku yang putih mulus dan berpakaian seksi dijamah begitu saja oleh seorang pengamen jalanan yang pakaiannya terlihat dekil. Meilin hanya bisa diam membiarkan semua itu terjadi. Tubuhnya terlihat tegang di kursi penumpang. Ia menatap lurus ke depan sambil menahan rasa tidak nyaman. Pengamen itu mulai semakin berani. Tangannya yang berada di dalam jendela bergerak lebih bebas. Ia meremas bagian dada Meilin dari luar bajunya dengan gerakan yang tidak lagi ragu.
“Bos memang pinter nyari bini. Udah amoy.. putih.. seksi lagi. Biasanya yang kayak begini mah bisa dua juta sekali maen.. Katanya sambil terkekeh pelan.
Meilin menahan napas dan menutup matanya sebentar. Ia jelas tidak menyukai perlakuan itu namun situasinya membuatnya hanya bisa diam. Aku tetap duduk santai di kursi pengemudi sambil memperhatikan kejadian di sampingku. Senyum tipis muncul di wajahku.
“Bang itu pahanya sekalian saja. Masa paha amoy mulus begitu dianggurin. Kataku.
Pengamen itu tertawa kecil mendengar ucapanku. Matanya kembali melirik ke arah Meilin yang masih duduk kaku di kursinya sementara kemacetan di jalan belum juga bergerak. Meilin hanya bisa diam membiarkan semua itu terjadi. Tubuhnya terlihat tegang di kursi penumpang dan ia tetap menatap lurus ke depan.
Hari itu penampilannya memang sangat seksi. Ia memakai tanktop renda yang tipis dan ketat. Kainnya menempel pas di tubuh sintalnya sehingga bahunya terlihat jelas. Di bawahnya ia mengenakan rok mini hitam yang pas di pinggang dan memperlihatkan kaki jenjangnya yang halus.
Pengamen itu terlihat semakin berani. Tangannya yang tadi berada di bagian atas tubuh Meilin perlahan berpindah turun lalu menyentuh paha Meilin. Sentuhannya kasar karena kulit tangannya yang hitam dan sering terbakar matahari. Tangannya bergerak turun naik, mengusap paha halus Meilin dengan cara yang membuatnya menegang.
Meilin langsung menegang ketika merasakan sentuhan itu. Ia menarik napas pelan dan tetap memalingkan wajahnya ke depan. Melihat tidak ada penolakan, pengamen itu semakin berani. Tangan kirinya tetap menempel di paha Meilin sementara tangan kanannya perlahan naik, menyisir perutnya dan kemudian meremas buah dada Meilin dari luar pakaian yang ia kenakan. Tekanan tangannya terasa kasar dan tidak terkontrol, membuat Meilin semakin terkejut dan cemas. Ia menahan diri agar tidak menoleh atau menolak, tapi tubuhnya tetap kaku menanggapi sentuhan kasar itu.
Awalnya Meilin terlihat kesal dan tidak suka diperlakukan seperti itu. Namun beberapa saat kemudian tubuhnya mulai sedikit mengendur. Kepalanya perlahan mendongak dan matanya terpejam seolah mencoba menahan perasaan yang muncul dari sentuhan itu. Napas Meilin terdengar semakin berat. Sebuah desahan pelan tanpa sengaja keluar dari bibirnya sementara suasana di dalam mobil terasa semakin tegang.
Pengamen itu tampak menikmati kesempatan itu. Tangannya meraba paha Meilin dengan pelan seolah penasaran dengan kulit halus yang terlihat dari rok mininya. Aku memperhatikan semuanya dari kursi pengemudi. Melihat pemandangan erotis di sampingku membuat gairahku semakin naik. Namun aku tetap bersandar santai di balik kemudi sementara di luar sana kemacetan jalan belum juga bergerak.
Beberapa saat kemudian kemacetan di depan mulai bergerak. Mobil-mobil yang sejak tadi berhenti perlahan mulai melaju satu per satu. Aku segera menutup kembali kaca jendela di sisi Meilin lalu menginjak pedal gas pelan. Mobil kami ikut bergerak meninggalkan tempat itu. Pengamen bertato itu masih berdiri di pinggir jalan sambil memegang gitar tuanya. Wajahnya terlihat bingung dan sedikit terbengong dengan apa yang baru saja terjadi.
Aku melirik sebentar ke kaca spion. Sosok pengamen itu semakin jauh tertinggal di belakang ketika mobil kami terus melaju mengikuti arus kendaraan. Di dalam mobil suasana menjadi hening. Meilin masih duduk diam di kursi penumpang sambil menatap ke arah depan. Jalanan yang tadi macet kini mulai lancar dan mobil kami perlahan menjauh dari keramaian persimpangan itu.
"Aku suka banget sama istri yang nurut kayak kamu Lin.. kamu tuh bener bener bisa nyenengin suami. Ujarku.
Mobil akhirnya merapat di parkiran basement mall. Tempat itu luas dan dipenuhi deretan mobil mewah yang terparkir rapi. Mall itu terkenal besar dan mewah. Banyak toko fashion premium dan merek terkenal berada di dalamnya sehingga tempat itu sering menjadi tujuan para gadis chindo untuk berbelanja. Aku turun lebih dulu dari mobil lalu merentangkan tubuh sebentar setelah lama duduk di jalan yang macet. Setelah itu aku berjalan memutari mobil dan membuka pintu untuk Meilin.
Meilin kemudian melangkah keluar dari mobil. Hak tingginya beradu dengan lantai semen basement dan menimbulkan bunyi langkah yang jelas di ruang parkir yang luas itu. Tubuhnya terlihat seksi dan menggairahkan dengan tanktop renda tipis yang menempel pas di tubuhnya. Bahunya terlihat jelas dan garis tubuhnya tampak tegas di bawah cahaya lampu parkiran. Rok mini hitam yang ia kenakan pas di pinggang dan memperlihatkan kaki jenjangnya yang halus ketika ia melangkah. Kulitnya yang putih dan mulus tampak kontras di bawah cahaya lampu basement. Aku merangkul pinggangnya dengan santai lalu kami berjalan berdampingan menuju pintu masuk mall. Aku menatap Meilin sebentar lalu tersenyum tipis. Senyum itu terlihat licik seolah menyimpan sesuatu yang hanya kami berdua yang tahu.
“Liat kamu lin… keliatan kayak gadis chindo kaya, seksi dan wangi. Tapi nggak bakalan ada yang nyangka kalau dirumah kamu tuh cuma bisa berlutut dibawahku. Udah kayak budak melayani tuannya. Suaraku pelan dan hanya cukup didengar olehnya. Namun nada ucapanku terasa menyindir dan penuh ejekan ketika kami terus berjalan menuju pintu masuk mall.
Kami berjalan menuju lift yang berada di ujung lorong parkiran. Beberapa pasangan Tionghoa lain ikut masuk bersama kami. Ada yang melirik sekilas ke arah kami dan ada juga yang saling berbisik pelan setelah melihat penampilan Meilin. Aku bisa merasakan tatapan itu. Pasangan seperti kami memang terlihat kontras di antara para pengunjung mall. Kulit Meilin putih dan halus sementara kulitku jauh lebih gelap. Wajah Meilin terlihat sangat oriental sedangkan wajahku jelas khas pribumi. Perbedaan itu membuat kami mudah menarik perhatian orang di sekitar ketika berdiri bersama di depan lift.
Tanganku merangkul pinggang Meilin dengan lebih erat ketika kami berdiri menunggu pintu lift terbuka. Sesaat kemudian aku menepuk pelan pantatnya dengan santai seolah tidak peduli dengan orang-orang di sekitar kami. Aku mendekatkan wajahku ke telinga Meilin lalu berbisik pelan. Senyumku semakin lebar ketika melihat orang-orang di sekitar sesekali melirik ke arah kami.
"Hari ini aku mau tunjukin ke semua orang.. bisikku pelan.
Aku berhenti sebentar lalu kembali melanjutkan ucapanku dengan nada rendah.
"Biar semua tahu kalau amoy seksi seperti kamu juga bisa takluk ditangan pribumi. kataku.
Meilin sedikit menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah antara rasa malu karena tatapan orang di sekitar dan karena bisikan yang baru saja ia dengar dariku. Aku menatapnya lekat lalu terkekeh pelan.
"Lin aku mau kamu tunduk sepenuhnya. Aku mau tunjukin kesemua orang di mall ini kalau pribumi juga berhak menjamah badan amoy seksi seperti kamu. kataku pelan.
Lift berbunyi pelan lalu pintunya terbuka. Aku segera menuntun Meilin keluar sambil menggenggam tangannya dengan erat.
Suara musik dari dalam mall langsung terdengar ketika kami melangkah keluar dari lift. Suasana ramai dengan orang yang lalu lalang di sepanjang koridor. Deretan toko fashion dan beberapa kafe terlihat berjajar di kanan dan kiri. Beberapa kelompok muda mudi Tionghoa juga tampak sedang berkumpul dan mengobrol santai di dekat area duduk.
Aku sengaja berjalan lebih pelan di samping Meilin. Tanganku masih menggenggam tangannya dengan erat seolah tidak ingin melepasnya. Kami melangkah melewati keramaian mall sementara beberapa orang kembali melirik ke arah kami ketika melihat penampilan Meilin yang seksi dan menggairahkan.
Meilin dan aku akhirnya sampai di sebuah restoran mewah di lantai atas mall itu. Tempatnya cukup eksklusif dengan pencahayaan redup dari lampu kristal yang lembut dan musik jazz instrumental mengalun pelan dari speaker tersembunyi. Ruangan utama memang ramai tapi kami memilih meja di pojok paling belakang yang semi-private. Meja itu dibatasi tanaman hias tinggi dan dinding kaca buram sehingga suasana terasa lebih intim dan sepi dari pengunjung lain. Kami duduk berhadapan. Meilin masih mengenakan tanktop renda tipis itu. Rok mini hitamnya naik sedikit saat ia duduk sehingga memperlihatkan lebih banyak paha putih mulusnya. Aku memesan menu premium yaitu steak wagyu untukku salmon grill dengan salad untuknya ditambah segelas wine putih dingin. Sepanjang makan aku terus menggodanya pelan di bawah meja. Tanganku sesekali menyusup ke bawah roknya dan mengusap paha dalamnya yang hangat sehingga membuat pipinya sesekali merona meski ia berusaha tetap tenang dan tersenyum manis seperti istri yang baik.
Makan malam berjalan santai. Meilin makan dengan anggun. Garpu dan pisau bergerak pelan. Sesekali ia melirikku dengan tatapan campur antara malu dan pasrah setelah kejadian di mobil tadi. Aku menikmati setiap detiknya dan merasa puas melihat amoy seksi milikku duduk manis di depanku setelah tadi melayaniku di tengah kemacetan.
Setelah piring-piring kosong diangkat dan hanya tersisa gelas wine aku memanggil pelayan dengan isyarat tangan. Pelayan itu seorang pria pribumi berusia sekitar 28 tahun. Ia tinggi sedang dengan kulit sawo matang dan rambut rapi. Ia mengenakan seragam hitam rapi dengan name tag Riko. Ia datang dengan senyum profesional sambil membawa buku catatan kecil.
"Permisi Pak. Ada yang bisa saya bantu tanyanya sopan.
Aku tersenyum lebar lalu bersandar santai di kursi sambil meletakkan tangan di paha Meilin di bawah meja.
"Iya Mas. Makanannya enak banget dan pelayanannya juga top. Saya mau kasih tips yang spesial buat Mas Riko.
Riko mengangguk sopan tapi matanya sesekali melirik ke arah Meilin yang duduk diam dengan wajah sedikit tertunduk.
"Terima kasih Pak. Senang mendengarnya katanya.
Aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan dan menurunkan suaraku agar hanya ia yang mendengar.
"Tipsnya bukan uang biasa Mas. Saya lihat dari tadi Mas sering melirik istri saya. Benar kan. Cantik ya amoy chindo kayak gini.
Riko langsung tersentak kecil dan wajahnya memerah. Ia melirik Meilin lagi sekilas lalu cepat-cepat menggeleng.
"Eh maaf Pak saya tidak bermaksud katanya.
"Tenang aja mas. potongku sambil tertawa pelan. Saya serius. Tipsnya begini. Kamu boleh jamah tubuh istri saya di bagian mana saja yang kamu inginkan. Sekarang juga di sini. Asal pelan-pelan dan nggak bikin ribut.
Riko membeku. Matanya melebar dan jelas tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia melirik Meilin yang sekarang juga menatapku dengan ekspresi kaget dan malu sehingga pipinya langsung memerah hebat.
"Pa-Pak serius. Ini ini nggak mungkin. Saya bisa kena masalah katanya.
Aku menggeleng pelan dan tanganku masih mengusap paha Meilin di bawah meja.
"Saya serius banget Mas. Istri saya ini sudah biasa nurut. Dia amoy seksi yang sekarang jadi milik pribumi kayak saya. Kamu juga pribumi kan. Anggap aja ini bonus spesial dari pelanggan tetap. Ayo jangan buang kesempatan. Kulitnya putih mulus dada sama pahanya lembut banget. Coba aja.
Meilin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dan tangannya mengepal di pangkuan. Ia melirikku dengan tatapan memohon tapi aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil memberi isyarat turut saja.
Riko masih ragu berat. Ia menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada pelayan lain atau pengunjung yang memperhatikan pojok sepi ini. Suaranya bergetar pelan.
Pak beneran. Saya saya nggak berani. Kalau ketahuan katanya.
“Kalau kamu nggak mau, ya sudah. Tapi kesempatan kayak gini jarang lho, Mas. Amoy kaya dan seksi gini biasanya cuma bisa dilihat dari jauh. Sekarang kamu boleh sentuh langsung,” kataku sambil terus mendesak dengan nada santai tapi tegas.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan canggung. Akhirnya Riko menarik napas panjang, wajahnya campur antara gugup, takut, dan nafsu yang mulai muncul. Ia melangkah lebih dekat ke meja kami, berdiri tepat di samping kursi Meilin. Tangannya gemetar saat ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Meilin.
Pertama-tama, tangannya menyentuh bahu telanjang Meilin yang putih halus melalui tali tanktop renda. Jarinya bergerak pelan, meraba kulitnya seolah tak percaya. Meilin menegang, napasnya tertahan, tapi ia tidak menolak—hanya memejamkan mata dan menunduk.
“Bagus kan mas? Lanjut aja,” bisikku.
Riko semakin berani. Tangannya turun ke dada Meilin, meremas buah dada kirinya dari luar tanktop tipis itu. Remasannya pelan dulu, lalu semakin kuat, merasakan kelembutan dan bentuknya yang padat. Meilin menggigit bibir, desahan kecil tertahan keluar dari tenggorokannya. Tanktop rendanya yang tipis membuat putingnya mulai mengeras terlihat samar.
“Wah… lembut banget, Pak… gumam Riko dengan suara serak, matanya tak lepas dari dada Meilin.
“Lanjut ke bawah, Mas. Paha amoy ini yang paling enak,” kataku sambil tersenyum puas.
Riko menurut. Tangannya yang satu lagi turun ke paha Meilin yang terbuka karena rok mini. Ia mengusap kulit putih halus itu naik turun, jarinya sesekali menyusup ke bagian dalam paha, hampir menyentuh celana dalamnya. Meilin menggeliat pelan di kursi, napasnya mulai tidak teratur. Setelah beberapa menit meremas dan meraba dengan bebas, Riko tampak sudah tidak tahan. Wajahnya memerah, celananya terlihat menonjol di bagian depan. Ia melirikku lagi untuk memastikan.
“Boleh… boleh saya…?” tanyanya ragu.
Aku mengangguk. "Silakan mas.. coli aja di depannya. Biar dia lihat gimana pribumi biasa kayak kamu puas sama tubuh amoy-nya.
Riko menarik napas dalam, lalu membuka resleting celananya dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan batangnya yang sudah keras dan tegang, lalu mulai mengocoknya dengan tangan kanan sambil tangan kirinya masih meremas dada Meilin dan sesekali mengusap pahanya. Gerakannya pelan tapi semakin cepat, matanya menatap wajah Meilin yang malu-malu, bibirnya yang sedikit terbuka, dan tubuh seksi yang sedang ia jamah.
Meilin duduk diam, wajahnya sangat merah, matanya setengah terpejam. Ia sesekali melirik batang Riko yang sedang dikocok tepat di depannya, napasnya berat. Aku hanya duduk santai, menyesap wine sambil menikmati pemandangan.
“Gimana, Lin? Enak nggak dilihatin dan dijamah pelayan resto gini?” bisikku pelan ke arahnya.
Riko semakin mendesah pelan, tangannya bergerak lebih cepat. “Pak… istri Bapak… bener-bener seksi… ahh…” gumamnya tertahan.
Suasana pojok resto semakin panas meski musik jazz masih mengalun pelan di latar belakang. Riko terus meremas dada Meilin dengan tangan satunya sambil onani semakin liar, tubuhnya sedikit condong ke depan menghadap Meilin yang duduk pasrah di kursinya.
Meilin duduk kaku di kursinya, napasnya sudah tidak teratur. Matanya setengah terpejam, pipinya merah membara. Awalnya aku bisa melihat jelas rasa malu dan tidak nyaman di wajahnya—tubuhnya tegang, tangannya mencengkeram ujung rok mini hitamnya kuat-kuat. Tapi semakin lama tangan Riko meremas buah dadanya dari luar tanktop renda tipis itu, semakin sering jari-jarinya mengusap naik-turun paha dalamnya yang putih mulus, ada perubahan kecil yang mulai terlihat.
Desahan pelan tanpa sengaja lolos dari bibir Meilin. Suaranya sangat kecil, hampir tertelan oleh musik jazz yang mengalun pelan, tapi aku mendengarnya jelas. Matanya yang sipit perlahan terbuka sedikit lebih lebar, tatapannya tidak lagi lurus ke depan, melainkan sesekali melirik ke bawah—ke arah batang Riko yang sedang dikocok semakin cepat tepat di depan wajahnya.
Riko sudah tidak bisa menahan diri. Napasnya berat, tangan kanannya bergerak naik-turun dengan irama yang semakin liar di batangnya yang keras dan berurat. Tangan kirinya terus meremas dada Meilin, kadang mencubit putingnya yang sudah mengeras samar di balik kain tipis. “Bu… buah dadanya… lembut banget… ahh…” gumamnya tertahan, suaranya parau karena nafsu.
Meilin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tapi pinggulnya mulai bergerak pelan di kursi, seolah mencari gesekan. Paha mulusnya sedikit merenggang tanpa sadar, memberi lebih banyak akses bagi tangan Riko. Aku bisa melihat dari cara bahunya naik-turun dan cara ia menarik napas dalam-dalam bahwa rasa malu itu mulai bercampur dengan sesuatu yang lain—kenikmatan yang mulai merayap.
“Lin…” bisikku pelan dari seberang meja, suaraku rendah dan penuh ejekan. “Kamu mulai basah ya? Lihat tuh, pelayan biasa aja bisa bikin amoy seksi kayak kamu menggeliat gini.
Meilin tidak menjawab, hanya menggeleng pelan dengan lemah, tapi sudut bibirnya bergetar. Matanya sekarang terpaku pada gerakan tangan Riko yang semakin cepat. Napasnya semakin pendek-pendek. Saat jari Riko menyusup lebih dalam ke bawah rok mininya dan menyentuh bagian paling sensitif di balik celana dalam tipisnya, Meilin tiba-tiba menggigit bibir lebih keras dan sebuah desahan kecil yang lebih jelas keluar: “Hhnn…
Riko tersenyum gugup tapi puas. Ia mendekatkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke meja, batangnya sekarang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Meilin. Gerakan kocokannya semakin cepat, bunyi basah samar terdengar di pojok sepi itu.
“Pak… saya… saya nggak tahan lagi…” desah Riko dengan suara bergetar.
Aku hanya tersenyum lebar dan tanganku masih di paha Meilin di bawah meja sambil mengusapnya pelan sebagai dukungan diam-diam.
"Kocok terus mas.. kalau perlu sampai muncrat dimukanya.. kataku.
Beberapa detik kemudian Riko menegang hebat. Tubuhnya bergetar dan pinggulnya maju sedikit. Dengan erangan tertahan yang rendah ia mencapai klimaks. Air maninya yang hangat dan kental muncrat keluar dalam beberapa kali semburan kuat dan langsung mengenai wajah Meilin.
Semburan yang pertama mengenai pipi kanannya yang kedua menyentuh bibir bawahnya dan yang ketiga serta keempat menyiprat ke dahi dan hidungnya yang kecil dan mancung. Cairan putih kental itu menetes perlahan di kulit putih mulusnya sehingga terlihat kontras sekali dengan wajah orientalnya yang cantik dan riasannya yang masih rapi. Meilin langsung menjerit kaget dengan suara pendek tajam dan cukup keras di tengah keheningan pojok resto.
“Aaaahh !! jerit Meilin.
Aku langsung bereaksi cepat. Tanganku terulur dari seberang meja dan menutup mulut Meilin dengan telapak tangan kuat sehingga meredam jeritannya menjadi suara tertahan yang samar.
“Ssshh… diam Lin!” bisikku tegas di telinganya sambil menekan mulutnya lebih erat. Mataku melirik cepat ke arah ruangan utama resto sehingga untungnya musik masih mengalun dan karena kami di pojok yang agak terisolasi sepertinya tidak ada yang mendengar jelas atau memperhatikan.
Meilin menggeliat di kursinya dan matanya melebar karena kaget serta malu yang luar biasa. Wajahnya sekarang penuh cairan putih yang masih menetes pelan dari dagunya. Beberapa tetes bahkan jatuh ke tanktop rendanya sehingga meninggalkan noda basah samar di kain tipis itu. Napasnya tersengal-sengal di balik telapak tanganku.
Riko terengah-engah dan wajahnya memerah hebat. Ia buru-buru memasukkan kembali batangnya yang masih berdenyut ke dalam celana lalu merapikan seragamnya dengan tangan gemetar.
“Ma-maaf Pak… Bu… saya… terima kasih…” gumam Riko cepat dengan suaranya masih bergetar karena sisa kenikmatan.
Aku melepas tangan dari mulut Meilin perlahan tapi tetap menatapnya tajam.
“Tenang Lin. Cuma itu. Bagus kamu tahan jeritnya” kataku.
Meilin duduk diam beberapa detik, napasnya masih berat. Wajahnya basah dan lengket, rasa malu begitu kentara di matanya yang berkaca-kaca. Tapi di balik itu, aku melihat ada kilatan aneh—campuran antara shock, rendah diri, dan sesuatu yang lebih gelap yang ia sendiri mungkin belum mau akui sepenuhnya.
Akhirnya ia berbisik dengan suara sangat pelan, hampir pecah: “Zal… boleh aku… ke toilet dulu? Membersihkan… ini…
Aku tersenyum tipis, mengangguk pelan sambil mengusap pipinya yang bersih dengan jempolku, sengaja mengoleskan sedikit cairan yang tersisa. “Boleh. Tapi cepat ya, Sayang. Jangan lama-lama. Dan ingat, jangan hapus semuanya terlalu bersih… biar ada sedikit kenangan di wajahmu saat kita lanjut jalan-jalan di mall nanti.
Meilin menunduk dalam-dalam, pipinya semakin merah. Ia bangkit pelan dari kursi, rok mininya sedikit naik sehingga paha mulusnya terlihat lagi. Dengan langkah cepat tapi hati-hati, ia berjalan menuju toilet wanita yang berada tidak jauh dari area resto kami, tangannya sesekali menyentuh wajahnya untuk menutupi noda-noda yang masih menempel.
Aku bersandar santai di kursi, menyesap sisa wine-ku sambil tersenyum puas. Riko masih berdiri canggung di samping meja, wajahnya campur antara bersalah dan sangat puas.
“Tipsnya bagus kan, Mas?” kataku pelan. “Kalau mau, nanti kalau kami datang lagi, bisa diulang. Tapi kali ini cukup dulu.
Riko hanya mengangguk cepat, lalu buru-buru pamit dan kembali ke tugasnya dengan langkah tergesa.
Sekarang, tinggal menunggu Meilin kembali dari toilet. Aku penasaran seberapa “bersih” wajahnya nanti, dan apa yang akan kuperintahkan selanjutnya saat kami melanjutkan jalan-jalan di mall yang ramai itu…
Meilin kembali dari toilet setelah hampir sepuluh menit. Saat ia melangkah mendekat ke meja, aku langsung tersenyum puas. Wajahnya sudah bersih sempurna—tidak ada lagi noda putih yang tersisa, tidak ada bekas mengkilap, tidak ada yang mengganggu riasan tipisnya. Kulit putih mulusnya kembali bersinar lembut di bawah lampu resto, bibir kecilnya merah muda alami, mata sipitnya kembali teduh meski masih ada sisa-sisa malu yang samar di pipinya yang sedikit merona. Rambut hitam panjangnya sudah dirapikan, jatuh rapi di bahu. Ia kembali terlihat seperti gadis chindo seksi dan modis yang biasa kulihat di mall—cantik, anggun, dan mahal.
Hanya aku yang tahu apa yang baru saja terjadi di wajah itu tadi.
Ia duduk kembali di depanku dengan gerakan pelan, mata menunduk sebentar sebelum akhirnya menatapku. Suaranya sangat lembut, hampir tak terdengar.
“Sudah bersih, Zal…
Aku mengangguk, tanganku terulur mengusap pipinya yang halus. “Bagus. Sekarang kamu kelihatan cantik lagi seperti biasa. Tapi ingat ya… di dalam sini tetap ada bekasnya.
Kami tidak lama di resto. Setelah membayar tagihan (plus tips ekstra untuk Riko yang masih sesekali melirik Meilin dengan wajah campur antara bersyukur dan gugup), kami keluar dan naik lift menuju lantai paling atas mall, tempat bioskop berada.
Bioskop sore itu cukup sepi. Film action Hollywood yang kami pilih sudah tayang beberapa minggu, jadi penontonnya tidak terlalu ramai. Kami masuk ke studio besar yang hanya terisi sekitar seperempatnya. Aku sengaja memilih kursi paling pojok di baris paling belakang—deretan bangku di kiri dan kanan kami kosong sampai beberapa meter, begitu juga beberapa baris di depan. Begitu lampu padam total dan film mulai, kegelapan langsung menyelimuti ruangan, hanya cahaya layar besar yang berkedip-kedip.
Begitu duduk, aku langsung merangkul pinggang Meilin dan menariknya lebih dekat. Rok mini hitamnya naik sedikit, memperlihatkan paha jenjang yang putih mulus. Aku mendekatkan mulut ke telinganya, suaraku rendah dan penuh perintah di tengah gemuruh suara film.
“Lin… berlutut di depanku sekarang.
Meilin menoleh cepat, matanya melebar dalam kegelapan. Wajah cantiknya yang baru saja bersih terlihat kaget. “Zal… di bioskop? Orang-orang
“Sepi. Pojok banget. Nggak ada siapa-siapa di samping kita,” potongku tegas. Tanganku sudah memegang bahunya, mendorong pelan ke bawah. “Cepat. Lutut di lantai, di antara kakiku.
Meilin menarik napas panjang, tubuh rampingnya bergetar kecil. Tapi setelah semua yang terjadi hari ini—di mobil, di resto—ia akhirnya menurut. Dengan gerakan hati-hati agar tidak berisik, ia turun dari kursi dan berlutut di karpet lantai di depanku. Tubuh sintalnya yang seksi sekarang berada tepat di antara kakiku yang terbuka. Tanktop renda tipisnya masih menempel ketat di dada, rok mini hitamnya tersingkap tinggi karena posisi berlutut.
Aku membuka resleting celanaku pelan, mengeluarkan batangku yang sudah keras karena seharian menggodanya. Dengan satu tangan aku memegang kepala Meilin, membimbing wajah cantiknya yang bersih dan oriental itu mendekat.
“Mulai, Lin. Sepong pelan-pelan. Nikmati dulu.
Meilin melirik sekilas ke kiri dan kanan, memastikan benar-benar aman, lalu membuka bibir kecilnya. Ia menelan batangku perlahan ke dalam mulut hangat dan basahnya. Lidahnya bergerak lembut, mengelus kepala dan batang dengan gerakan yang sudah mulai terbiasa. Suara isapan basah samar tercampur dengan ledakan-ledakan film, tapi karena kami di pojok paling belakang dan studio sepi, suara itu nyaris tak terdengar.
Aku mendesah pelan, tanganku meremas rambut hitamnya yang lembut. “Bagus… pelan aja. Jangan buru-buru. Biar aku nikmati lama-lama.
Meilin terus bekerja dengan kepala naik-turun perlahan. Bibirnya mengatup rapat, lidahnya menari di bawah batangku, sesekali ia menarik napas melalui hidung saat ujungnya menyentuh tenggorokannya. Wajah cantiknya yang bersih dan rapi sekarang terlihat sangat memalukan di posisi itu—lutut di lantai bioskop gelap, mulut penuh kontol suaminya yang pribumi.
Aku sengaja menahan diri, tidak ingin langsung klimaks. Setelah menikmati oralnya yang basah dan ahli selama beberapa menit, aku menarik kepalanya pelan hingga batangku keluar dari mulutnya dengan benang air liur panjang yang menghubungkan bibirnya dengan kepala kontolku.
“Sekarang naik ke pangkuanku, Lin. Hadap depan.
Meilin bangkit dengan lutut agak gemetar. Ia membalikkan tubuh, lalu duduk di pangkuanku dengan punggung menghadapku. Aku segera menyingsingkan rok mini hitamnya sampai ke pinggang, menggeser celana dalam tipisnya ke samping. Batangku yang sudah licin oleh air liurnya langsung menyentuh bibir vaginanya yang hangat dan basah.
Aku memegang pinggang rampingnya dengan kedua tangan, lalu menariknya turun perlahan. Batangku masuk pelan tapi pasti ke dalamnya, membelah dinding sempit dan panas itu. Meilin menggigit bibir kuat-kuat, kedua tangannya langsung mencengkeram sandaran kursi penonton di depannya agar tubuhnya tidak goyah.
“Zal… pelan…” bisiknya tertahan, suaranya bergetar.
Aku mulai menggenjot dari bawah dengan irama stabil sehingga naik turun pelan tapi dalam. Setiap hantaman membuat tubuh Meilin yang sintal bergoyang di pangkuanku. Badannya condong ke depan dan punggungnya melengkung indah sementara kedua tangannya berpegangan erat pada sandaran bangku depan. Rok mininya tersingkap total sehingga pantat putih mulusnya naik turun mengikuti gerakanku.
Meilin langsung membekap mulutnya sendiri dengan satu tangan untuk menahan desahan yang ingin keluar. “Mmph… hnnn…!” suara tertahan lolos dari balik telapak tangannya setiap kali aku menghunjam dalam-dalam. Tubuhnya semakin basah sehingga cairan panasnya menetes ke pangkuanku dan ke kursi.
Bioskop tetap sepi. Deretan bangku di samping kami kosong sehingga tidak ada orang yang bisa mendengar atau melihat apa yang terjadi di pojok belakang ini. Hanya suara film yang keras dan ledakan-ledakan yang menutupi bunyi samar derit kursi gesekan basah dan napas kami yang semakin berat.
Aku meremas pinggangnya lebih erat dan sesekali tanganku naik ke depan sehingga meremas buah dadanya dari belakang melalui tanktop renda tipis. Suaraku berbisik kasar dan penuh ejekan di telinganya sambil terus menggenjot dengan irama yang semakin dalam.
“Gitu Lin… amoy seksi kamu lagi ditidurin di bioskop… badan putih mulus ini lagi digenjot pribumi di tempat umum… Hah… ketat banget… kamu suka kan diperlakukan kayak gini…
Meilin hanya bisa mengangguk lemah dan tangannya masih membekap mulutnya kuat-kuat. Tubuhnya bergoyang mengikuti setiap hantaman dariku sehingga pinggulnya sesekali ikut bergerak turun seolah ingin lebih dalam. Napasnya tersengal di balik telapak tangan dan matanya setengah terpejam menatap layar film yang tidak lagi ia pedulikan.
Kami terus seperti itu dalam kegelapan bioskop yang sepi sehingga aku duduk santai di kursi dan Meilin di pangkuanku dengan posisi condong ke depan. Tangan Meilin berpegangan erat di sandaran bangku depan dan mulutnya dibekap sendiri agar suaranya tidak terdengar siapa pun.
Meilin masih berada di pangkuanku, tubuhnya condong ke depan dengan kedua tangan mencengkeram sandaran kursi penonton di depannya. Rok mini hitamnya tersingkap tinggi hingga pinggang, memperlihatkan pantat putih mulusnya yang naik-turun pelan mengikuti irama genjotanku dari bawah. Batangku tenggelam dalam-dalam di dalam vaginanya yang basah dan panas, setiap hantaman pelan tapi kuat membuat cairannya menetes ke pangkuanku. Meilin terus membekap mulutnya sendiri dengan satu tangan, desahan tertahan “mmph… hnnn…” lolos pelan di balik telapaknya setiap kali aku menghunjam.
Ruangan bioskop tetap gelap gulita, hanya cahaya layar yang berkedip-kedip menerangi siluet tubuh kami. Deretan bangku di sekitar masih kosong. Aku sudah mulai meningkatkan ritme, tanganku meremas pinggang rampingnya lebih erat, siap membawa kami berdua semakin dekat ke puncak.
Tiba-tiba, dari arah lorong samping studio, terdengar langkah sepatu berat yang pelan. Sebuah cahaya putih terang menyapu lantai karpet, lalu naik perlahan. Senter. Cahaya itu langsung menyambar kami berdua.
Meilin menegang hebat di pangkuanku. Batangku masih tertanam dalam dirinya ketika sorotan senter itu menyoroti wajahnya yang cantik dan oriental, turun ke tanktop renda tipis yang sudah agak melorot, lalu ke rok mini yang tersingkap total, dan akhirnya ke titik persatuan tubuh kami yang basah dan bergerak.
“Aduh… apa-apaan ini?!” suara kasar seorang pria paruh baya terdengar dari belakang kursi kami.
Satpam bioskop. Tubuhnya gemuk, mengenakan seragam abu-abu kusam dengan badge security, perut buncit menonjol, dan kumis tebal. Ia mendekat dengan langkah cepat, senternya tetap menyala terang, menyoroti kami tanpa ampun. Wajahnya memerah karena marah.
“Turun! Turun sekarang! Ini bioskop, bukan tempat mesum! Saya lapor polisi ya! Malu-maluin!
Meilin langsung panik. Tubuhnya gemetar hebat, ia mencoba bangkit dari pangkuanku tapi aku masih memegang pinggangnya erat, batangku belum keluar. Wajahnya yang tadi cantik bersih sekarang pucat ketakutan, matanya melebar menatap cahaya senter yang menyilaukan.
Aku buru-buru angkat tangan satu, suaraku tenang tapi cepat. “Udah pak… udah pak… kita selesaikan secara kekeluargaan aja. Jangan ribut, nanti malah rame.
Satpam itu masih marah, senternya tetap menyala di tubuh Meilin. “Kekeluargaan gimana? Ini pelanggaran berat! Istri Bapak lagi ditidurin di kursi bioskop! Saya harus lapor!
Aku tersenyum kecil, meski jantungku berdegup kencang. Tanganku masih memegang pinggang Meilin yang tegang. “Tenang dulu, Pak. Lihat istri saya ini… cantik kan? Amoy chindo, kulit putih, badan seksi. Kalau Bapak mau, lonte ini juga mau kok sepongin punya Bapak. Kita damai aja, ya?
Meilin menoleh cepat ke belakang, wajahnya penuh kaget dan malu. “Zal…!” bisiknya panik, suaranya bergetar.
Satpam itu terdiam sejenak. Cahaya senternya masih menyala, tapi ekspresinya berubah. Marahnya perlahan luntur, diganti tatapan lapar yang mulai muncul saat ia menatap Meilin dari atas ke bawah—dari wajah oriental cantiknya, bahu putih yang terbuka, sampai rok mini yang masih tersingkap dan paha mulusnya yang basah.
“Kalian serius?” tanyanya dengan suara lebih rendah, nafsu mulai terdengar.
Aku mengangguk cepat, masih duduk santai dengan Meilin di pangkuanku. “Serius, Pak. Tapi cuman disepongin aja ya… gak sampe ngewe. Itu batasannya. Bapak boleh puasin diri di mulutnya, tapi cukup itu doang. Deal?
Kami seperti bernegosiasi di tengah kegelapan bioskop yang sepi. Satpam itu menggaruk kepalanya, mata masih tak lepas dari tubuh Meilin. Ia melirik ke kiri-kanan, memastikan tidak ada orang lain yang mendekat, lalu mendengus pelan.
“Ya sudah… tapi cepat. Saya cuma patroli sebentar,” katanya sambil mendekat lebih lagi ke kursi kami.
Satpam itu berdiri tepat di samping kursi kami di lorong sempit antara baris bangku. Dengan satu tangan ia masih memegang senter tapi sekarang diarahkan ke lantai agar tidak terlalu terang. Ia membuka resleting celananya dengan tangan satunya sehingga penisnya keluar. Penis itu cukup besar agak pendek tapi tebal dan sudah setengah ereksi dengan ujung berkepala lebar serta berwarna gelap. Ia menyodorkan penisnya ke depan wajah Meilin yang masih duduk di pangkuanku sementara batangku sendiri masih tertanam dalam vaginanya.
"Sepong Neng… katanya dengan suara serak karena nafsu sudah menguasai.
Meilin menatap penis satpam itu dengan mata melebar dan wajah cantiknya kembali merona hebat. Tubuhnya masih bergetar karena batangku yang masih ada di dalamnya. Ia melirikku dengan tatapan memohon tapi aku hanya mengangguk pelan dan meremas pinggangnya sebagai perintah diam-diam.
"Turuti aja Lin. Dia cuma minta disepongin doang kok.. biar urusan ini cepat selesai. Bisikku di telinganya.
Meilin menarik napas panjang lalu perlahan membungkuk ke depan. Kedua tangannya masih berpegangan pada sandaran kursi depan untuk menjaga keseimbangan. Bibir kecilnya yang merah muda terbuka lalu ia menelan kepala penis satpam itu ke dalam mulutnya. Ia mulai dengan pelan dan lidahnya bergerak hati-hati mengelus ujungnya yang tebal. Satpam itu langsung mendesah berat dan tangan kirinya memegang kepala Meilin.
"Ahh… enaaak… ternyata amoy amoy seksi kayak lu pada pinter nyepong yee..
Aku tersenyum puas di belakang Meilin. Pinggulku mulai bergerak lagi pelan-pelan sehingga menggenjotnya dari bawah sambil ia sibuk mengulum penis satpam di depannya. Tubuh Meilin bergoyang pelan di antara kami berdua dengan mulutnya penuh di depan dan vaginanya penuh di belakang.
Satpam itu berdiri tegap dan pinggulnya maju sedikit sehingga ia menikmati setiap isapan basah dari mulut Meilin yang cantik. Senternya sudah dimatikan dan diselipkan di sabuk sehingga kedua tangannya sekarang memegang kepala Meilin dan membimbing gerakannya agar lebih dalam.
“Bagus, Neng… isep yang kuat… ahh… bini lo emang enak ya bos… gumamnya sambil mendesah.
Meilin hanya bisa mendesah tertahan di balik mulut yang penuh, matanya setengah terpejam, air liurnya mulai menetes dari sudut bibirnya. Tubuhnya semakin basah di bawah, mencengkeram batangku lebih erat setiap kali satpam mendorong pinggulnya maju.
Satpam itu berdiri tegap di samping kursi kami, pinggulnya maju pelan sambil menikmati mulut Meilin. Kedua tangannya memegang kepala istriku dengan lembut tapi tegas, membimbing gerakan naik-turun bibir kecilnya yang merah muda. Penisnya yang tebal dan gelap masuk keluar dari mulut Meilin dengan suara isapan basah yang samar, tertutup oleh gemuruh suara film action di layar besar.
Di belakang, aku terus menggenjot Meilin dengan irama stabil. Batangku menghunjam dalam-dalam ke dalam vaginanya yang semakin basah dan panas setiap kali aku naik dari bawah. Tubuh ramping Meilin bergoyang pelan di antara kami berdua — mulutnya penuh di depan, vaginanya penuh di belakang. Rok mini hitamnya masih tersingkap total ke pinggang, pantat putih mulusnya terangkat dan turun mengikuti setiap hantamanku.
Meilin sudah tidak bisa lagi mengendalikan diri sepenuhnya. Satu tangannya masih berpegangan erat pada sandaran kursi depan, tangan satunya membekap mulutnya sendiri sebisa mungkin meski bibirnya sudah penuh oleh penis satpam. Desahan tertahan “mmph… hnnngh…” terus lolos dari tenggorokannya. Air liurnya menetes deras dari sudut bibirnya, membasahi dagu dan jatuh ke tanktop renda tipisnya.
Satpam mendesah berat, suaranya parau dan rendah. “Ahh… enak banget, Neng… mulutnya halus… isep lebih dalam… ya gitu…
Ia mulai mendorong pinggulnya lebih kuat, membuat kepala penisnya menyentuh tenggorokan Meilin. Meilin sempat tersedak kecil, matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menarik diri. Lidahnya terus bergerak, mengelus batang tebal itu dengan gerakan pasrah.
Aku meremas pinggang Meilin lebih erat, iramaku semakin cepat dan dalam. Setiap hantaman membuat dinding vaginanya mengejang di sekeliling batangku. Aku berbisik kasar di telinganya dari belakang, suaraku hampir tenggelam dalam suara film.
“Lin… kamu lagi disepongin satpam sambil digenjot suami… amoy seksi kamu bener-bener jadi pelayan pribumi sekarang… ketat banget… mau keluar ya?
Meilin hanya bisa mengangguk lemah, tubuhnya gemetar hebat. Pinggulnya mulai ikut bergerak turun sendiri, seolah ingin lebih dalam lagi dari kedua arah. Napasnya tersengal-sengal melalui hidung, dada naik-turun cepat di balik tanktop tipis.
Satpam mulai mendesah lebih keras, pinggulnya bergerak tidak teratur. Tangannya menekan kepala Meilin lebih dalam. “Saya… saya udah deket… ahh… Neng… jangan berhenti…
Aku juga sudah di ambang. Sensasi panas yang kuat naik dari pangkal batangku, otot-ototku menegang. Aku menghunjam lebih cepat, tanganku mencengkeram pinggang Meilin kuat-kuat agar ia tidak bergeser.
Beberapa detik kemudian, hampir bersamaan:
Satpam menegang hebat. Tubuh gemuknya bergetar, pinggulnya maju dalam-dalam. Dengan erangan tertahan yang kasar, ia klimaks di dalam mulut Meilin. “Ughhh… keluar…!
Air maninya yang kental dan hangat muncrat kuat-kuat ke tenggorokan Meilin. Beberapa semburan pertama langsung ditelan karena penisnya masih tertanam dalam, sisanya meluap keluar dari sudut bibir Meilin yang sudah penuh, menetes panjang ke dagunya yang putih dan jatuh ke tanktop rendanya.
Pada saat yang sama, aku juga tidak bisa menahan lagi. Aku mendorong pinggulku ke atas dengan kuat, menghunjam paling dalam ke dalam vaginanya. Tubuhku menegang keras, punggungku terangkat sedikit dari kursi.
“Ahh… Lin… aku juga…!” desisku serak.
Batangku berdenyut hebat di dalamnya, menyemburkan air mani hangatku dalam semburan-semburan kuat langsung ke rahim Meilin. Aku terus menghunjam pelan sambil melepaskan semuanya, membiarkan vaginanya penuh dan meluap keluar sedikit di sekitar batangku.
Meilin gemetar hebat di antara kami. Tubuhnya mengejang kuat, vaginanya mencengkeram batangku ritmis saat ia ikut mencapai orgasme. Desahannya tertahan keras di balik mulut yang masih penuh penis satpam. Matanya terpejam rapat, air mata tipis keluar dari sudut matanya karena sensasi yang terlalu kuat. Pinggulnya bergetar tak terkendali selama beberapa detik sebelum akhirnya melemas.
Sesaat kemudian, satpam menarik penisnya keluar dari mulut Meilin dengan suara basah. Cairan putih kental masih menetes dari bibir dan dagunya. Ia terengah-engah, wajahnya puas tapi masih agak was-was. “Wah… mantap… terima kasih, Bos… Neng… maaf ya…
Aku masih duduk santai di kursi, batangku perlahan melunak di dalam Meilin yang masih bergetar lemah. Tanganku mengusap pinggangnya pelan, menenangkan. Meilin terkulai di pangkuanku, napasnya berat, mulutnya masih terbuka sedikit dengan sisa air mani satpam yang menetes pelan dari bibirnya ke dagu.
Satpam buru-buru merapikan celananya, memasang kembali senternya di sabuk. Ia melirik ke sekitar, memastikan masih sepi, lalu berbisik cepat.
“Saya lanjut patroli dulu… jangan ulangi lagi ya di sini. Lain kali… kalau mau… bilang aja.” Ia tersenyum kikuk sebelum akhirnya berbalik dan pergi menyusuri lorong gelap dengan langkah cepat.
Ruangan kembali gelap dan sepi, hanya suara film yang terus menggelegar.
Meilin masih duduk lemas di pangkuanku, tubuhnya basah keringat, rok mini masih tersingkap, vaginanya masih berdenyut pelan di sekitar batangku yang mulai melunak. Sisa air mani dari satpam masih menetes pelan dari dagunya ke dada. Wajah cantiknya yang tadi bersih sekarang kembali kotor — bibir bengkak, dagu basah, dan mata berkaca-kaca.
Aku memeluk pinggangnya dari belakang, mencium bahunya yang lembab, lalu berbisik pelan di telinganya dengan nada puas:
“Bagus sekali, Lin… kamu tadi klimaks bareng kami berdua ya? Amoy seksi kamu bener-bener hebat hari ini… Sekarang bersihkan dulu mulut dan dagumu pelan-pelan… biar kita lanjut nikmati filmnya sambil kamu duduk manis di pangkuanku.
Meilin hanya mengangguk lemah, napasnya masih tersengal. Dengan tangan gemetar ia menyeka dagunya yang basah menggunakan punggung tangan, tapi noda-noda putih masih tersisa samar di bibir dan dagunya.
Meilin masih duduk lemas di pangkuanku, tubuhnya basah keringat dan bergetar pelan. Rok mini hitamnya masih tersingkap hingga pinggang, vaginanya berdenyut lemah di sekitar batangku yang perlahan melunak di dalamnya. Sisa air mani satpam masih menetes pelan dari dagunya yang putih, beberapa tetes jatuh ke tanktop renda tipisnya dan meninggalkan noda basah samar. Bibir kecilnya bengkak dan mengkilap, matanya setengah terpejam dengan air mata tipis di sudutnya. Aku memeluk pinggang rampingnya dari belakang, mencium bahu telanjangnya yang lembab, lalu berbisik pelan di telinganya.
“Cukup ya Lin… filmnya udah hampir selesai. Kita pulang sekarang.
Meilin hanya mengangguk lemah tanpa kata. Ia bangkit perlahan dari pangkuanku dengan kaki gemetar. Saat batangku keluar dari dalamnya, cairan campuran air maniku dan cairannya menetes pelan ke lantai karpet bioskop. Ia cepat-cepat menurunkan rok mini hitamnya, merapikan tanktop renda yang agak melorot, lalu menyeka dagu dan bibirnya dengan tisu yang aku berikan dari dompet.
Wajahnya sudah tidak semulus tadi. Meski ia sudah berusaha membersihkan, masih ada bekas mengkilap tipis di dagu dan sudut bibirnya, serta sedikit noda di tanktopnya. Rambut hitamnya agak acak-acakan, pipinya merah membara karena malu dan sisa kenikmatan.
Kami keluar dari studio bioskop tanpa banyak bicara. Lorong mall masih cukup ramai meski sudah sore menjelang malam. Beberapa orang melirik kami — terutama ke arah Meilin yang berjalan dengan langkah pelan dan sedikit goyah, rok mini pendeknya, tanktop tipis yang menempel di tubuh basah keringat, dan wajah cantiknya yang terlihat “baru saja lelah”. Aku merangkul pinggangnya erat, tanganku sesekali turun meremas pantatnya pelan dari luar rok, seolah sengaja ingin orang-orang melihat.
Di parkiran basement udara dingin dari AC mobil langsung menyambut kami begitu pintu tertutup. Meilin duduk di kursi penumpang dengan tubuh lemas dan kepalanya bersandar ke jok sementara matanya setengah tertutup. Aku menyalakan mesin lalu AC dingin berhembus dan musik pop lembut kembali mengalun pelan.
Sepanjang perjalanan pulang jalanan sudah tidak macet lagi. Aku sesekali melirik ke samping. Meilin diam saja dan tangannya merapikan roknya yang naik lagi karena duduk tapi paha mulusnya tetap terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalan yang sesekali masuk lewat kaca.
Aku tersenyum kecil sambil memegang setir dengan satu tangan. Tangan satunya terulur dan mengusap paha dalamnya pelan.
Hari ini capek ya Lin. Dari pagi sampai sekarang kamu sudah melayani aku di mobil di resto di bioskop bahkan satpam juga ikut nimbrung. Kamu hebat banget. Amoy seksi yang nurut banget sama pribumi suaminya. Meilin menoleh pelan. Pipinya masih merah. Suaranya lemah tapi jujur.
"Zal kamu keterlaluan hari ini. Aku malu banget tapi entah kenapa badanku makin bergairah.
Aku terkekeh pelan. Jemariku naik lebih tinggi dan mengusap celana dalamnya yang masih basah.
"Wajar. Kamu tadi klimaks bareng kami berdua kan. Di bioskop gelap mulut penuh kontol satpam memek penuh kontol suami. Pasti enak banget rasanya jadi budak pribumi yang sebenarnya.
Meilin menggigit bibir bawahnya dan tidak menjawab tapi pahanya sedikit merenggang sehingga memberi akses lebih leluasa bagi tanganku. Ia menatap keluar jendela sementara cahaya lampu jalan menyinari wajah orientalnya yang cantik dan lelah.
Setelah hampir empat puluh menit perjalanan kami akhirnya sampai di rumah. Rumah kami yang berada di kompleks perumahan elite pesisir pantai terlihat sepi. Lampu teras sudah menyala otomatis. Aku memarkir mobil di halaman lalu mematikan mesin dan turun untuk membukakan pintu bagi Meilin.
Ia melangkah keluar dengan kaki yang masih agak lemas. Hak tingginya beradu pelan dengan lantai. Aku langsung merangkul bahunya dari samping dan tanganku turun meremas pinggulnya saat kami berjalan masuk ke rumah.
Begitu pintu depan tertutup dan terkunci suasana rumah langsung terasa hangat dan privat. Cahaya lampu ruang tamu yang redup menyinari interior yang rapi. Aku menarik Meilin ke pelukanku lalu mencium bibirnya dalam-dalam sambil merasakan sisa rasa asin yang masih samar di bibirnya.
"Mandilah dulu kalau mau Lin. Tapi jangan lama-lama kataku sambil mengusap pipinya. Malam ini kamu tidur sama aku di kamar utama. Besok pagi aku mau bangun dengan amoy seksi yang masih penuh bekas hari ini.
Meilin menatapku dengan mata yang lelah tapi patuh. Ia mengangguk pelan dan suaranya lembut.
"Iya Zal aku mandi dulu ya.
Ia berjalan menuju kamar mandi utama dengan langkah pelan. Sebelum masuk ia menoleh sebentar ke belakang dan melihat aku yang sedang melepas kemeja sambil tersenyum puas menatapnya.
Di kamar mandi air shower mengalun pelan. Aku duduk di sofa ruang tamu sebentar sambil menikmati keheningan rumah dan mengingat semua kejadian hari ini dari pagi di kamar di mobil macet di resto di bioskop sampai satpam yang ikut nimbrung.
Beberapa menit kemudian Meilin keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk putih yang melilit tubuhnya. Rambut hitam panjangnya basah dan menetes air. Kulit putih mulusnya bersih dan harum sabun. Handuk itu pendek sehingga hanya menutupi sampai pertengahan paha dan memperlihatkan lekuk bahu serta kakinya yang jenjang.
Ia mendekat ke arahku dengan langkah pelan. Aku berdiri lalu menarik handuknya perlahan hingga jatuh ke lantai sehingga memperlihatkan tubuh sintalnya yang telanjang sempurna di depanku. Aku mengangkat dagunya pelan dan menatap matanya yang sipit.
"Hari ini kamu sudah jadi budak yang sangat baik Lin. Besok kita lanjut lagi ya. Atau mau istirahat dulu.
Meilin menunduk sedikit. Pipinya merona lagi meski tubuhnya sudah lelah. Suaranya pelan tapi ada nada pasrah yang manis.
"Apa pun yang kamu mau Zal. Aku istri kamu dan budak kamu.
Aku tersenyum lebar lalu menggendong tubuh telanjangnya ke kamar tidur utama. Lampu kamar dimatikan sehingga hanya cahaya bulan tipis yang masuk lewat tirai. Aku merebahkannya di ranjang besar lalu naik ke atasnya sehingga tubuhku menindih tubuh sintal dan hangatnya.
Malam itu kami menghabiskan waktu dengan pelan dan intim tanpa paksaan hanya kenikmatan yang dalam setelah seharian penuh petualangan memalukan. Batangku menghujam pelan ke dalam liang kewanitaannya yang masih hangat dan basah. Aku memompa dengan irama lambat sambil meremas buah dadanya yang lembut. Meilin melenguh pelan di bawahku. Paha mulusnya melingkar di pinggangku sementara pinggulnya menggeliat mengikuti setiap hantaman.
Pagi berikutnya sinar matahari kembali menyusup lewat tirai tipis. Meilin masih tidur pulas di sampingku. Tubuh telanjangnya terbungkus selimut tipis. Wajah cantiknya tenang dengan rambut hitam acak-acakan di bantal.
Note : Jumlah view dan komentar pada masing masing cerita dewasa akan mempengaruhi kelanjutan ceritanya sehingga semakin banyak dukungan kalian maka semakin cepat lanjutannya ditulis. 🙂



njirrrrrr ....di pubic.....wow....
BalasHapusughh manteb lah ini
BalasHapusemang kalo punya anjing betina putih demen banget diajak jalan jalan hahahaha
pasti banyak yang nanya beli dimana hihiihihi
bisa dilatih apa aja
bikin iri pengen ngebibitin
ada yang nawar harga mahal pastinya
wkwkwkkw
kalo bibit unggul mah ntar bibitannya banyak yg pesen pulak hahahhaa
Moga cowok-cowok lain iri hati..
BalasHapusMoga diupdate suhuuu
BalasHapusmakin hot wife
BalasHapusPlease update dominasi wife suhu
BalasHapustempelin memek cina nya sambil nungging ke jendela mobil hahahaha
BalasHapusKapan diupdate suhu
BalasHapusdikongsi sama public..mantap suhu..master dominance
BalasHapus