Cerita ini murni fiksi dan hanya untuk tujuan hiburan semata. Semua tokoh, peristiwa, nama tempat, atau dialog di dalamnya adalah hasil rekaan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menghina, menghasut kebencian, atau menjelekkan kelompok etnis, ras, agama, atau golongan tertentu.
Segala kesamaan nama atau kejadian dengan peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten ini dan tidak membawa materi cerita ini ke ranah nyata.
By : Analconda13
Sore itu langit pecinan masih gelap akibat cuaca mendung yang berlangsung sejak siang tadi. Lien baru saja turun dari dalam mobil angkot tua lalu berjalan gontai menuju rumahnya. Seragam sekolah putih abu abunya nampak kusut dan menempel di kulit yang lembap oleh keringat. Lien berjalan pelan sambil memperhatikan keadaan disekitarnya yang sepi sementara tas ransel berwarna pink yang ada di punggungnya terasa makin berat setiap kali dia melangkah. Namun bagi Lien, ada beban lain yang terasa lebih berat daripada beban tas sekolah dipundaknya, yaitu beban pikiran yang ada didalam kepalanya.
Ketika melewati bangunan pasar tua dekat rumahnya, langkahnya melambat karena ia merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya ke arah sana. Di bagian depan pasar pecinan itu ada sebuah toko baju yang sudah lama tidak dipakai berjualan oleh pemiliknya. Rolling doornya rusak dan mulai berkarat namun di atasnya masih tergantung sebuah papan nama bertuliskan Xin Mei.
Sejak kecil Lien sering mendengar orang tuanya membicarakan toko pakaian Xin Mei. Dulu katanya toko itu sangat ramai dan terkenal di kawasan tua pecinan. Banyak orang memesan baju pesta dan cheongsam di sana sehingga pembeli datang bukan hanya dari sekitar pasar tetapi juga dari daerah lain. Namun belasan tahun yang lalu telah terjadi kerusuhan besar di daerah itu dan semua keadaannya langsung berubah. Setelah kejadian mengerikan itu toko langsung tutup dan tidak pernah beroperasi lagi. Orang tuanya jarang mau menjelaskan dan hanya mengingatkan Lien agar tidak bermain terlalu dekat ke sana.
Sekarang Lien berhenti berjalan di depan bangunan terbengkalai itu. Ia menatap papan nama toko yang catnya sudah mengelupas. Di bawah tulisan Xin Mei masih terlihat samar aksara Mandarin 新美 yang warnanya hampir pudar tertutup debu dan noda hujan. Ia mencoba membayangkan apa yang sebenarnya terjadi sampai tempat seramai itu bisa ditinggalkan begitu saja. Rasa penasaran yang ada sejak kecil pun langsung muncul lagi dalam pikirannya dan membuatnya tertarik untuk mengungkap lebih jauh tentang kejadian tragis itu.
Lien melangkah mendekat lalu mengamati toko tersebut dengan lebih teliti. Rolling door berkaratnya tidak tertutup rapat melainkan terangkat sedikit di bagian bawah. Dari celah itu terlihat bagian dalam toko yang gelap dan berantakan. Beberapa rak kayunya roboh, gantungan bajunya patah, kaca etalase pecah dan berserakan di lantai. Beberapa potongan kain masih tergeletak kotor seolah pernah ditarik paksa. Keadaan di dalamnya tampak porak poranda seperti bekas dijarah massa lalu dibiarkan begitu saja bertahun tahun tanpa pernah dirapikan lagi.
Lien mengamati toko Xin Mei dari dekat selama beberapa saat. Setelah merasa tidak ada lagi yang bisa dilihat di bagian depan ia hendak berbalik pergi. Saat itulah ia menyadari ada sebuah lorong sempit di dalam bangunan pasar yang menuju ke bagian belakang.
Ia melangkah perlahan menuju lorong itu lalu menoleh ke arah dalam pasar. Suasananya terasa sangat sepi. Tidak ada angin dan tidak terdengar suara orang berbicara. Beberapa lapak tertutup kain lusuh dan sebagian lainnya kosong seperti sudah lama tidak dipakai. Langkah kakinya terdengar jelas di lantai semen yang lembap.
Lorong bangunan yang panjang itu tampak gelap karena dipenuhi kios kios terbengkalai. Pintu rolling door besi berkarat berjajar di kiri kanan dan beberapa terlihat jebol seperti pernah dipaksa dibuka. Lantai dipenuhi debu, sisa barang dan sampah yang tidak pernah dibersihkan. Rasa penasaran kembali muncul lalu ia memperlambat langkahnya.
Saat itu kata kata tukang parkir yang sedang bercerita dengan temen temannya beberapa minggu lalu tiba tiba terngiang di kepalanya.
"Beneran.. yang di lorong pasar situ, anak gadis yang punya toko baju di depan pasar pecinan namanya Ching Ching kalau tidak salah, orangnya manis dan ramah, katanya waktu kerusuhan dia diseret massa ke belakang pasar. kata tukang parkir itu.
Temannya sempat menimpali pelan lalu bertanya apa yang terjadi setelah itu. Lelaki tua itu menggeleng dan menurunkan suaranya. Ia bilang sejak malam itu keluarganya langsung menutup toko dan tidak pernah kembali lagi. Ada yang bilang mereka pindah kota, ada juga yang bilang tidak pernah terlihat keluar dari pasar malam itu.
Orang orang sekitar hanya tahu sejak kejadian itu bagian belakang pasar jadi jarang dilewati. Beberapa pedagang yang pernah mencoba membuka kios di sana tidak bertahan lama karena merasa tidak nyaman berada di lorong tersebut.
Ingatan itu membuat langkah Lien makin pelan. Ia menatap lorong di depannya lalu tanpa sadar merasakan udara di dalamnya lebih dingin dibanding bagian depan pasar.
"Diseret massa ke belakang pasar ? pikir Lien. Rasa penasarannya semakin besar meskipun perasaan takut mulai muncul. Ia menatap lorong di depannya sambil mencoba memastikan arah yang dulu disebut oleh si tukang parkir tua depan toko keluarganya.
![]() |
| Lien |
Cahaya dari bagian depan pasar mulai berkurang karena hari menjelang malam. Bagian dalam bangunan terlihat semakin gelap dan beberapa sudut tidak lagi jelas terlihat. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya hingga bulu kuduknya meremang. Namun anehnya Lien justru tidak ingin pergi. Ada gairah asing yang membuatnya ingin memastikan sendiri cerita itu.
Lien berhenti melangkah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perasaannya tidak nyaman antara takut dan penasaran. Ia menatap lorong pasar yang memanjang ke dalam. Lapak lapak sudah tutup dan pintu seng digembok rapat sehingga hanya tersisa lorong gelap yang sepi.
“Apa benar di sini tempatnya ? bisiknya pelan.
Tangannya menggenggam tali ransel erat. Ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya lalu perlahan melangkah masuk lebih jauh ke lorong pasar.
Suara langkah kakinya bergema di lantai semen dan debu beterbangan setiap kali kakinya bergeser. Bau karat dari pintu rolling door tercium tajam. Lien menahan napas dan mencoba mendengarkan sekelilingnya.
Semakin ke dalam.. suasana pasar makin tidak nyaman. Lampu neon di langit langit sebagian mati dan hanya menyisakan cahaya redup yang berkedip. Tiang beton berdiri di sisi lorong penuh coretan kata kasar dan beberapa tulisan lama yang masih terlihat samar.
"GANYANG CINA !! "BAKAR! JARAH !!
Lien merinding setelah membaca kata kata kasar dan rasis itu lalu mengusap punggungnya karena merasa dingin. Lorong panjang itu tiba tiba bercabang. Ke kanan masih terlihat agak terang sedangkan ke kiri jauh lebih gelap. Ia ragu sejenak lalu memilih belok ke kiri.
Beberapa langkah kemudian ia sampai di ruang kosong di belakang pasar. Lantainya basah seperti ada air menetes dari pipa bocor di atas. Bau lembab langsung terasa menyengat di hidungnya.
Di tempat itu Lien melihat sisa sisa kejadian lama. Ada potongan kain sobek terjepit di sela pintu seng dan bercak kecokelatan yang sudah memudar di lantai. Pada tembok terlihat retakan panjang seperti bekas benturan benda keras.
Bayangan kelam tentang kerusuhan yang terjadi belasan tahun lalu menyerbu pikirannya. Ia membayangkan puluhan perusuh berwajah buas dan dipenuhi kebencian berdesakan di lorong sempit, teriakan beringas dan suara tangisan gadis-gadis tionghoa yang diseret paksa. Suasana itu terasa begitu jelas sampai ia seolah mendengar suara samar.
"Ampun… jangan… !! aku tidak salah apa apa..
Napas Lien mulai memburu. Ada denyut panas di dadanya yang tak bisa ia pahami. Tak hanya takut tapi juga rasa penasaran seperti gelap yang makin mengikat pikirannya.
Lien melangkah lebih dekat kearah dinding bangunan pasar yang sebagian sudah retak dan dipenuhi coretan. Jemarinya menyentuh bercak kecokelatan dan seketika kulitnya langsung bergidik. Tiba-tiba ada bunyi benda jatuh di sudut gelap. Lien memutar badannya dengan cepat dan jantungnya nyaris meledak.
"Siapa… siapa di sana ?!!
Lien hanya bisa diam dan berdiri terpaku, tubuhnya gemetar menahan dingin dan ketegangan. Jantungnya berdetak cepat, takut dan penasaran bercampur menjadi satu. Ada dorongan kuat untuk segera lari, tapi ada juga dorongan lain yang membuatnya tetap ingin berada di situ. Matanya menelusuri setiap sudut lorong, dari pintu seng berkarat sampai lantai basah, seolah berharap menemukan jejak nyata dari peristiwa masa lalu yang menghantui tempat itu.
Lien menelan ludah dan dadanya naik turun dengan cepat. Jemarinya yang lentik gemetar saat memegang tali ransel lalu ia menatap tajam ke sudut gelap tempat bunyi itu berasal. Lampu neon yang berkedip membuat bayangan di dinding bergerak sehingga terlihat seperti ada sesuatu di balik puing dan seng berkarat.
Tok… tok… tok…
Suara tetesan air terdengar semakin keras lalu menggema di ruang kosong. Lien melangkah perlahan hampir tanpa suara dan mendekati sudut itu. Bau lembap bercampur anyir memenuhi hidungnya sehingga perutnya terasa mual.
Tok… tok…
Saat jaraknya tinggal beberapa langkah ia melihat sesuatu di lantai yaitu potongan kain putih kusam dengan panjang sekitar setengah meter. Salah satu ujungnya sobek dan bercak cokelat kering menodai serat kainnya sehingga Lien menatapnya lama karena jantungnya terasa membentur tulang rusuk.
Lien berjongkok lalu jemarinya hampir menyentuh kain itu namun segera ditarik kembali karena ia merasa seolah kain itu bisa hidup dan membelit lengannya. Di dalam kepalanya terngiang suara suara.
"Jangan !! jangan !! Sakit… ampun, jangan… katanya
Lien menegakkan tubuh lalu matanya berkeliling memperhatikan setiap retakan tembok dan setiap bayangan di lantai yang tampak seperti meneteskan darah. Ia menelan ludah karena tenggorokannya terasa kering kemudian napasnya menjadi pendek pendek. Pipinya memanas karena ia malu pada rasa takutnya sendiri namun di saat yang sama muncul perasaan lain yang lebih kelam dan sulit ia jelaskan.
"Apa ini milik Ching Ching? gumam Lien dengan suara lirih hampir tak terdengar.
"Katanya waktu kerusuhan dia diseret ke belakang pasar… kata tukang parkir itu dengan suara pelan dan para pedagang hanya bisa saling berpandangan.
Lien saat itu pura pura merapikan barang di rak namun telinganya terus menangkap setiap ucapan. Ia tidak berani mendekat karena merasa topik itu bukan sesuatu yang boleh dibicarakan sembarangan. Meski begitu potongan cerita yang terdengar sudah cukup membuatnya gelisah.
Sekarang bayangan itu muncul lagi di kepalanya. Ia membayangkan lorong sempit di belakang pasar yang gelap dan jarang dilewati orang. Ia membayangkan langkah kaki yang tergesa dan tangan tangan kasar yang menarik paksa. Ia membayangkan jeritan yang tertahan oleh dinding tembok tua dan tenggelam oleh suara keributan di luar.
Napas Lien menjadi berat lalu dadanya terasa sesak. Ia menggenggam anting kecil itu lebih erat seolah benda itu bisa menjawab semua pertanyaannya. Ruangan kosong di sekelilingnya terasa makin sempit dan sunyi sementara bayangan di sudut ruangan tampak seperti saksi bisu yang menyimpan rahasia kelam bertahun tahun lamanya.
Lien menelan ludah lalu menggenggam anting itu lebih erat dan dadanya berdegup makin keras. Hawa di sekitarnya terasa dingin dan membuat tengkuknya merinding karena pasar itu seperti masih menyimpan sisa kehadiran orang orang lama. Tiba tiba dari belakang terdengar suara kaki menyeret di lantai semen dan bunyinya berat serta berjalan sangat lambat.
“Ssst… siapa di sana… Lien memutar badan cepat lalu menatap ke arah suara itu.
Namun tidak ada siapa pun di sana dan yang terlihat hanya lorong kosong dengan lampu yang berkedip semakin cepat sehingga memercik sesekali seperti akan padam. Saat ia hendak melangkah mundur terdengar suara lirih seperti bisikan yang datang dari arah gelap.
“Tolong… aku masih di sini…
Lien membeku lalu tubuhnya menggigil dan jemarinya mencengkeram anting mutiara itu sekuat tenaga sampai terasa sakit. Ia tetap berdiri di tengah pasar yang gelap dan diapit tembok penuh coretan kebencian sehingga ia tidak mampu memastikan apakah suara itu benar benar nyata atau hanya bayangan dari masa lalu yang belum selesai.
Tiba tiba di ujung lorong gelap itu Lien melihat sosok seorang pria renta. Tubuhnya bungkuk dan rambutnya sudah putih semua. Wajahnya keriput seperti kulit kering yang lama terpapar matahari. Ia mengenakan rompi lusuh dengan tulisan Petugas kebersihan pasar dan tangannya sibuk mendorong tong sampah beroda yang berderit pelan di lantai semen.
“Kek… kakek… panggil Lien dengan suaranya yang bergetar.


fuck ini mah cocok
BalasHapusmakin ke sini makin penasaran hasrat si lien untuk menjalankan kodrat pembuangan pejuh huana makin menggebu2