Langsung ke konten utama

Hasrat Dibalik Rumah Mewah


By : Jenggot_hijau

Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah benar benar tidur berdiri sebuah rumah mewah bergaya minimalis di kawasan elit Pondok Indah. Rumah itu milik pasangan suami istri dari keluarga konglomerat Tionghoa Indonesia bernama Henry dan Clara Wijaya.

Bangunannya menjulang bersih dengan dinding kaca lebar yang memantulkan cahaya matahari pagi sehingga tampak berkilau dari kejauhan. Garasinya luas dan mampu menampung lima mobil mewah sekaligus. Sementara itu taman belakangnya ditata rapi dengan rumput hijau yang terpangkas rata serta deretan tanaman hias yang dipilih khusus oleh penata lanskap profesional.

Dari luar rumah itu terlihat seperti istana modern yang tenang dan tertata. Namun di balik dinding kaca dan pagar tinggi itu tersimpan kehidupan pribadi yang tidak selalu seindah tampilannya. Interior rumah itu tampak sederhana namun tetap mewah. Furnitur impor dari Italia tersusun rapi tanpa terlihat berlebihan. Lantai marmer putih terasa dingin di bawah kaki dan lampu LED lembut menerangi setiap sudut sehingga suasana terasa tenang.

Kamar tidur utama menjadi puncak kemewahan rumah itu. Ruangannya luas dengan tempat tidur king size berlapis kain sutra yang tertata bersih. Di sisi lain terdapat lemari pakaian walk in sebesar ruang tamu biasa dan kamar mandi pribadi bergaya spa lengkap dengan jacuzzi serta pancuran hujan. Jendela jendela besar menghadap kolam renang infinity sehingga dari dalam rumah terlihat seolah dunia luar hanya milik mereka berdua.

Clara Wijaya berusia 28 tahun dan menjadi kebanggaan keluarga itu. Tingginya sekitar 167 cm sehingga kehadirannya mudah menarik perhatian di setiap acara sosialita. Rambut hitamnya panjang lurus hingga pinggang dan sering diikat longgar saat ia beraktivitas di rumah.

Wajahnya memiliki garis oriental yang tegas namun tetap lembut. Matanya sipit bersih dengan sorot tenang sementara hidungnya ramping dan bibirnya penuh dengan warna merah muda yang rapi. Kulitnya putih cerah dan tampak halus karena ia rutin melakukan perawatan di klinik kecantikan langganannya. Penampilannya selalu sederhana tetapi terlihat mahal. Cara berjalan dan sikapnya menunjukkan ia terbiasa hidup di lingkungan kelas atas sehingga orang yang melihatnya langsung memahami latar belakangnya tanpa perlu banyak kata.

Sebagai sosialita, Clara menghabiskan hari-harinya dengan berbelanja di mall-mall mewah, menghadiri pesta amal, atau mengikuti kelas yoga pribadi. Tapi di rumah, ia hanyalah ibu rumah tangga yang mengatur segalanya dengan anggun—dari menu makan malam hingga pemilihan bunga segar untuk vas kristal. Pakaiannya selalu elegan: gaun sutra yang membalut lekuk tubuhnya, atau blouse ketat yang menonjolkan payudaranya yang montok, ukuran 34C, dan pinggul yang melengkung sempurna. 

Clara adalah kebanggaan sekaligus pusat perhatian di setiap kesempatan. Bagi Henry ia terasa sangat berarti setidaknya begitu yang selalu ia yakinkan pada dirinya sendiri. Henry Wijaya berusia 34 tahun dan menjabat direktur di perusahaan keluarga yang bergerak di bidang properti dan ritel di berbagai kota di Indonesia. Tubuhnya agak berisi dengan perut yang mulai menonjol di balik kemeja Oxford mahalnya. Tingginya sekitar 165 cm sehingga sedikit lebih pendek dari Clara dan hal itu kadang membuatnya kurang percaya diri.

Wajahnya bulat dengan kacamata tanpa bingkai yang memberi kesan eksekutif biasa. Penampilannya rapi dan bersih namun tidak mencolok sehingga orang yang baru bertemu sering tidak menyangka besarnya kekayaan yang ia kelola.

Rambutnya hitam pendek, selalu rapi, dan ia mengenakan jam tangan Rolex yang harganya setara mobil keluarga. Henry adalah pria yang sukses di dunia bisnis, tapi di rumah, ia sering merasa seperti bayangan dari istrinya yang lebih menarik. Mereka menikah dua tahun lalu, setelah perjodohan keluarga yang sempurna. Pernikahan itu glamor, diadakan di ballroom hotel bintang lima, dengan tamu-tamu selebriti dan pejabat. Tapi di balik senyuman foto-foto pernikahan itu, Henry mulai merasakan retakan kecil.


Pagi itu seperti biasa Clara bangun lebih dulu. Ia meregangkan tubuhnya di atas kasur empuk lalu menarik napas panjang sebelum membuka mata. Gaun tidurnya yang tipis sedikit bergeser saat ia bergerak sehingga bahunya yang mulus terlihat jelas. Cahaya matahari pagi menyusup melalui tirai tipis dan menerangi kulitnya yang tampak cerah.

Ia memiringkan kepala lalu melirik ke samping. Henry masih tertidur pulas dengan dengkuran pelan yang teratur. Tubuhnya yang berisi tertutup selimut sutra hingga dada dan wajahnya tampak tenang tanpa beban. Clara memperhatikannya beberapa saat dalam diam lalu menyingkirkan selimutnya sendiri dan duduk perlahan di tepi ranjang.

Clara menghela napas pelan, lalu bangun dan berjalan ke kamar mandi. Air shower hujan mengguyur tubuhnya, membersihkan sisa-sisa malam yang biasa-biasa saja. Saat mandi, pikirannya melayang ke hari-harinya sebagai sosialita—pesta kemarin malam di klub eksklusif, di mana pria-pria tampan dari kalangan atas menatapnya dengan lapar. Bukan Henry, tentu saja. Suaminya sibuk bekerja, dan di ranjang, ia... yah, kurang memuaskan.

Setelah mandi, Clara mengenakan kimono sutra pendek, rambutnya masih basah meneteskan air ke lantai marmer. Ia turun ke dapur, di mana chef pribadi sudah menyiapkan sarapan: smoothie hijau, roti panggang dengan alpukat, dan kopi organik. Clara duduk di meja marmer, scrolling Instagram-nya, melihat foto-foto teman-temannya yang berlibur di Bali atau Paris. Ia tersenyum tipis, tapi matanya kosong. Henry akhirnya muncul, mengenakan piyama katun, rambutnya acak-acakan. "Pagi, sayang," katanya sambil mencium pipi Clara. Ciuman itu singkat, formal, seperti ritual pagi yang sudah pudar.

"Pagi," balas Clara, suaranya lembut tapi datar. Ia menyeruput kopinya, mata tidak lepas dari ponsel. Henry duduk di seberangnya, mengambil sepotong roti. Ia memperhatikan istrinya, melihat bagaimana bahunya yang terbuka di bawah kimono, bagaimana kakinya yang panjang bersilang di bawah meja. Clara begitu sempurna, begitu menggoda. Tapi belakangan ini, Henry merasakan jarak. Di ranjang, Clara semakin pasif. Malam sebelumnya, saat Henry mencoba memulai, tangan istrinya hanya meraba-raba tanpa semangat, dan akhirnya ia berpura-pura tidur. Henry bukan pria yang naif; ia tahu Clara tidak puas. Tubuhnya yang buncit, stamina yang menurun karena stres kerja, dan ukuran... yah, ia tahu ia bukan yang terbesar. Tapi itu bukan akhir dunia—atau begitulah yang ia pikirkan.

Setelah sarapan, Henry berpakaian untuk ke kantor. Ia mengenakan setelan Armani yang disesuaikan, dasi sutra, dan sepatu kulit Italia. Clara mengantarnya ke pintu, memberikan ciuman selamat tinggal yang dingin. "Hati-hati di jalan, ya," katanya, tapi pikirannya sudah melayang ke jadwal spa siang itu. Henry naik ke Mercedes S-Class yang dikemudikan sopir pribadi, dan mobil meluncur keluar gerbang rumah. Di dalam mobil, Henry menatap keluar jendela, pikirannya bergulat. Ia mencintai Clara, tapi ia tahu pernikahan mereka butuh sesuatu yang baru. Bukan perceraian—keluarganya tidak akan mengizinkan itu. Tapi sesuatu yang bisa membangkitkan gairah istrinya, dan mungkin, memuaskan fetish rahasianya sendiri.

Henry Wijaya bukan pria biasa. Di balik citra direktur yang konservatif, ia menyimpan rahasia gelap: fetish cuckold. Sejak masa kuliah, ia sering membaca cerita-cerita erotis tentang istri yang tidur dengan pria lain, sementara suami menonton atau mengatur semuanya. Itu membuatnya terangsang, adrenalin yang aneh dari rasa malu dan kontrol. Ia ingin Clara disentuh oleh pria lain, dientot dengan kasar, sementara ia tetap memegang kendali. Bukan sembarang pria—ia butuh seseorang yang bisa ia kendalikan, seseorang dari kalangan bawah yang bergantung padanya. Dan pikiran itu membawanya pada Budi.

Budi Santoso, 25 tahun, adalah penjaga keamanan di rumah Henry dan Clara. Ia anak dari Pak Suro, office boy setia di kantor Henry selama 20 tahun. Budi direkrut Henry secara pribadi dua bulan lalu, setelah ayahnya memohon pekerjaan untuk anaknya yang baru lulus SMA. Wajah Budi jelek, kulitnya sawo matang kasar karena matahari, hidungnya pesek, dan giginya agak maju—tipikal anak kampung dari Jawa Tengah. Tubuhnya kurus tapi berotot, hasil kerja kasar sejak kecil: angkat galon air, bantu bongkar muat di pasar, dan sekarang jaga malam di rumah. Tingginya 170 cm, lebih tinggi dari Henry, tapi posturnya bungkuk karena kebiasaan. Ia sopan, selalu memanggil "Pak Henry" dan "Bu Clara" dengan hormat, tapi masa mudanya nakal: di SMA, ia pernah bolos sekolah untuk merokok di warung, dan diam-diam mengintip gadis-gadis di sungai. Sekarang, sebagai satpam, ia tinggal di pos kecil di sisi rumah—sebuah ruangan sederhana dengan tempat tidur lipat, meja kayu, dan kamar mandi mini dengan shower air dingin. Pos itu termasuk dalam kompleks rumah, dekat gerbang, dengan jendela yang menghadap taman.

Budi mulai memperhatikan Clara sejak hari pertama. Saat Clara berjalan di taman dengan gaun ketat, pinggulnya bergoyang, Budi merasa darahnya panas. Ia bukan pria tampan, tapi ia punya nafsu liar yang terpendam. Di posnya, saat sendirian, ia sering membayangkan menyentuh tubuh Clara, merobek gaun itu, dan memasukinya dengan kasar. Tapi ia tahu tempatnya—ia hanyalah satpam, anak office boy. Ia menjaga sikap sopan, tapi matanya sering mencuri pandang.
Kembali ke Henry. Di kantor, ia duduk di ruang directorial yang luas, dikelilingi laporan keuangan. Tapi pikirannya tidak di situ. Ia membuka laptop pribadi, mengakses situs erotis favoritnya, membaca cerita cuckold. Gambaran Clara dengan pria lain membuat kontolnya mengeras di balik celana. Ia membayangkan Budi—pria sederhana yang bergantung padanya. Jika ia memecat Budi, keluarganya akan menderita. Itu kontrol sempurna. Henry tersenyum licik. Ia akan mulai dengan mengamati, mungkin mengatur situasi di mana Budi dan Clara berinteraksi lebih dekat.

Sore itu, Clara kembali dari spa. Tubuhnya rileks setelah pijat panjang, kulitnya wangi minyak esensial. Ia berbaring di sofa ruang tamu, membaca majalah fashion. Henry pulang lebih awal, membawa bunga mawar merah. "Untukmu, sayang," katanya, mencoba memulai. Clara tersenyum, tapi matanya tidak berbinar. Malam itu, di kamar mewah mereka, Henry mencoba lagi. Ia mencium leher Clara, tangannya meraba payudaranya melalui nightgown tipis. Clara merespons, tapi setengah hati. Saat Henry memasukinya, gerakannya lambat, dan Clara hanya mengangguk pelan, mata tertutup. Henry klimaks cepat, tapi ia tahu Clara belum. Setelahnya, Clara berbalik, punggungnya dingin.
Henry terbaring terjaga, mendengar napas istrinya yang teratur. Ia bangun pelan, berjalan ke jendela, menatap pos satpam yang gelap. Di sana, Budi mungkin sedang tidur, tidak tahu bahwa nasibnya akan berubah. Henry merasa campuran cemburu dan kegembiraan. Ini baru permulaan.

Di hari-hari berikutnya, ketegangan di rumah mulai terasa. Clara semakin sering keluar, menghadiri lunch dengan teman-teman sosialitanya di restoran mewah seperti Sarong atau Ku De Ta. Ia mengenakan dress ketat yang menempel di tubuhnya, menonjolkan lekuk pinggang ramping dan bokong bulatnya. Saat pulang, ia sering lelah, tapi bukan lelah bahagia—lebih seperti kebosanan yang menumpuk. Henry memperhatikan itu semua dari balik meja kerjanya di rumah, atau saat ia pura-pura membaca koran di teras.
Suatu pagi, saat Clara sedang berolahraga di gym pribadi rumah—sebuah ruangan dengan treadmill, yoga mat, dan cermin dinding penuh—Henry mengintip dari pintu. Tubuh Clara berkeringat di legging ketat, payudaranya naik turun saat ia jogging. Ia begitu seksi, begitu hidup. Henry merasa kontolnya berdenyut, tapi ia tahu ia tidak cukup untuknya. Malam itu, ia mencoba bicara. "Clara, kamu terlihat bahagia hari ini," katanya saat mereka makan malam di dining room, meja panjang dengan lilin dan silverware impor.
Clara mengaduk saladnya. "Ya, lunch tadi seru. Teman-teman cerita soal liburan mereka." Suaranya ringan, tapi Henry mendengar nada datar.
"Kamu... puas dengan hidup kita?" tanya Henry hati-hati, menuang wine merah ke gelas kristal.
Clara menatapnya, mata almondnya menyipit sedikit. "Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Tentu saja, kita punya segalanya. Rumah ini, mobil, pesta..."
"Tapi di ranjang?" Henry menekan, suaranya pelan.
Clara tersipu, tapi bukan malu—lebih seperti kesal. "Henry, jangan mulai. Kamu tahu aku sayang kamu. Tapi... ya, kadang aku merasa kurang... petualangan."
Kata-kata itu seperti pisau, tapi bagi Henry, itu konfirmasi. Ia tersenyum, menyembunyikan kegembiraan gelapnya. "Mungkin kita bisa coba sesuatu yang baru. Liburan, atau... roleplay?"
Clara tertawa kecil. "Roleplay? Kamu? Lucu deh."
Henry tidak menjawab, tapi pikirannya sudah melayang ke Budi. Pagi berikutnya, ia memanggil Budi ke rumah. Budi datang dengan seragam satpam yang ketat di otot lengannya, wajahnya jelek tapi mata cokelatnya waspada. "Ada apa, Pak?" tanya Budi sopan, berdiri tegak di ruang tamu.
"Budi, kamu sudah betah kerja di sini?" Henry bertanya, duduk di sofa kulit sambil menyeruput kopi.
"Iya, Pak. Terima kasih banyak. Ayah saya senang sekali." Budi mengangguk, tapi matanya melirik ke arah tangga, di mana Clara mungkin sedang berdandan.
"Bagus. Aku butuh kamu bantu lebih sering di rumah. Bukan cuma jaga gerbang, tapi bantu-bantu di taman atau apa. Gaji naik, tentu saja." Henry tersenyum, tapi matanya menyelidik.
Budi terkejut, tapi senang. "Siap, Pak! Terima kasih."


Saat Budi pergi, Henry membayangkan adegan itu: Budi menyentuh Clara, tangan kasarnya meraba kulit mulus istrinya, sementara Henry menonton dari balik pintu. Fetishnya semakin kuat, dan rencana mulai terbentuk.
Clara, di kamar atas, mendengar percakapan itu. Ia melirik dari jendela, melihat Budi berjalan kembali ke posnya. Pria itu kampungan, tapi ada sesuatu di otot lengannya yang membuatnya penasaran. Bukan cinta, tapi rasa ingin tahu. Mungkin, pikirnya, hidup ini butuh sedikit bumbu.
Hari berganti, dan interaksi mulai bertambah. Budi dipanggil untuk memperbaiki lampu di taman, di mana Clara sedang berjemur di bikini kecil. "Budi, tolong ambilkan handuk di sana," kata Clara santai, tubuhnya berkilau minyak tabir surya.
Budi mendekat, matanya mencuri pandang ke belahan dadanya. "Iya, Bu," jawabnya, suaranya sedikit serak. Saat menyerahkan handuk, jarinya tak sengaja menyentuh tangan Clara. Sentuhan itu listrik, membuat Clara tersenyum tipis.
Henry melihat dari jendela kamar, jantungnya berdegup kencang. Ini baru awal. Ia akan mendorong lebih jauh, mengendalikan setiap langkah, sampai Clara benar-benar puas—dan ia, sebagai cuckold, mendapatkan kenikmatannya.

Benih Ketertarikan yang Tumbuh

Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui tirai tipis di rumah minimalis mewah Henry dan Clara di Pondok Indah. Rumah itu, dengan desain garis-garis bersih dan furnitur kayu mahoni yang mengkilap, terasa seperti oasis ketenangan di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Clara bangun lebih dulu, rambut hitam panjangnya tergerai acak-acakan di atas bantal sutra. Tubuhnya yang tinggi 167 cm melengkung sempurna saat ia meregangkan lengan, payudara 34C-nya bergoyang lembut di balik gaun tidur tipis yang menempel ketat pada kulitnya yang halus. Ia melirik ke samping, di mana Henry masih mendengkur pelan, perut buncitnya naik-turun di bawah selimut.

Clara menghela napas panjang. Sudah dua tahun pernikahan ini, tapi kenikmatan di ranjang selalu terasa kurang. Henry, dengan tinggi 165 cm dan wajah bulat di balik kacamata tebalnya, berusaha, tapi kontolnya yang biasa-biasa saja tak pernah membuatnya mencapai puncak seperti dulu. Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi yang luas, air panas dari shower hujan membasahi tubuhnya. Saat sabun meluncur di antara pahanya, pikirannya melayang ke pria-pria di pesta sosialita kemarin—tinggi, berotot, dengan tatapan yang bisa membakar.

Tapi tiba-tiba, bayangan Budi muncul. Satpam muda itu, dengan wajah jelek dan kampungan, tapi ada sesuatu di matanya saat ia melirik kemarin pagi. Otot lengan kurus tapi kencangnya terlihat saat ia membersihkan halaman. Clara menggelengkan kepala, tertawa kecil pada dirinya sendiri. "Bodoh, Clara. Dia cuma satpam. Orang rendahan. Tak selevel sama sekali." Ia mematikan shower, mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut, dan memilih bikini hitam minim untuk hari itu. Tubuhnya yang seksi, pinggang ramping dan pinggul lebar, terpampang sempurna saat ia turun ke taman belakang.

Di dapur, Henry sudah bangun, menuang kopi hitam. Ia memandang Clara yang lewat, mata tajam ovalnya menyipit sedikit saat melihat lekuk payudaranya yang bergoyang. "Pagi, sayang," katanya, suaranya lembut tapi ada getar aneh. Clara tersenyum tipis, mencium pipinya. "Pagi. Aku mau santai di pool hari ini." Henry mengangguk, tapi pikirannya sudah melayang ke fetish tersembunyinya. Ia ingin melihat Clara disentuh pria lain—bukan sembarang pria, tapi yang bisa ia kendalikan. Budi. Anak office boy lama, setia dan mudah dimanipulasi. Kontol Henry mengeras sedikit di celana piyama saat ia membayangkan Budi yang kasar menyentuh istri glamornya.

Sepanjang pagi, Clara berjemur di pinggir kolam rumah. Air biru berkilau, dan ia merebahkan diri di kursi santai, kakinya terentang panjang. Budi, dari pos satpam dekat gerbang, tak bisa menahan diri untuk berjalan ke belakang rumah sekedar melirik. Tubuh kurus berototnya tegang saat ia menyiram tanaman, matanya mencuri pandang ke arah Clara. Payudaranya yang montok terlihat samar di balik bikini, putingnya menonjol tipis. Budi menelan ludah, ingat masa SMA-nya yang nakal—mencuri celana dalam tetangga dan membayangkan ngentot gadis kaya. "Nyonya Clara... enak banget badannya," gumamnya pelan, tangannya tanpa sadar menyentuh kontolnya yang mulai tegang di seragam satpam.

Clara notice tatapan itu, tapi hanya sebentar. Ia bangkit, berjalan ke dapur untuk minum, pinggulnya bergoyang menggoda. Budi mendekat, sopan seperti biasa. "Selamat pagi, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Clara berhenti, memandangnya dari atas ke bawah. Wajah jelek, kulit sawo matang kasar, tapi ada kekuatan di bahunya. Sekilas penasaran, tapi lalu ia menggeleng. "Nggak, terima kasih. Saya bisa sendiri." Ia berbalik, meninggalkannya begitu saja. Budi merasa ditampar, tapi api di dadanya menyala. "Suatu hari, Nyonya. Suatu hari gue bakal pegang lo." Ia kembali ke posnya, di kamar kecil yang sederhana—kasur tipis, kamar mandi sempit—dan langsung mengunci pintu. Tangan kanannya meraih kontolnya, memompa cepat sambil membayangkan Clara berlutut, mulutnya menghisap habis.

Henry, dari kantornya di pusat kota, tak bisa fokus. Rapat dengan direktur lain terasa membosankan. Ia memikirkan rencana. Paket dari kantor—dokumen palsu yang ia bungkus rapi—bisa jadi alasan sempurna. Ia menelepon Budi. "Budi, ada paket penting buat istri saya. Kamu antar langsung ke kamarnya ya. Jangan kasih ke pembantu, langsung ke Nyonya Clara." Budi di ujung telepon terkejut. "Loh, Pak? Biasanya saya taruh di ruang tamu aja." Henry tersenyum licik. "Ini rahasia, Budi. Kamu setia kan? Lakuin ini, nanti ada reward." Budi mengiyakan, meski jantungnya berdegup kencang.

Sore itu, Clara sedang bersantai di kamar tidur utama. Kamar itu mewah: tempat tidur king-size dengan seprai sutra, lemari kaca penuh gaun desainer, dan jendela besar menghadap taman. Ia baru selesai mandi, hanya memakai kimono sutra tipis yang terbuka sedikit di dada, memperlihatkan belahan payudaranya yang dalam. Rambutnya basah, meneteskan air ke lantai marmer. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengoles lotion ke paha mulusnya, jari-jarinya meluncur lambat, hampir erotis.

Tiba-tiba, ketukan di pintu. "Siapa?" tanya Clara, suaranya malas. "Ini Budi, Nyonya. Pak Henry suruh antar paket langsung." Clara mengerutkan kening. Paket apa lagi? Ia bangkit, kimono-nya bergeser, memperlihatkan pahanya yang panjang. "Masuk aja." Pintu terbuka pelan, dan Budi melangkah masuk, matanya melebar. Kamar ini seperti istana—lampu kristal, aroma parfum mahal, dan Clara... oh Tuhan. Tubuhnya setengah telanjang, payudaranya hampir terlihat penuh, puting cokelat samar di balik kain tipis. Ia terpana, paket di tangannya gemetar.

"Paketnya, Nyonya," kata Budi, suaranya serak. Ia mendekat, meletakkan di meja samping tempat tidur. Clara mengambilnya, tapi tatapannya bertemu dengan Budi. Dekat sekali sekarang—ia bisa cium bau keringat maskulin dari tubuh kurus berotot itu, kontras dengan aroma lotion vanilanya. "Terima kasih, Budi. Kamu... kenapa masuk langsung? Biasanya nggak gini." Budi tergagap. "Pak Henry yang suruh, Nyonya. Langsung ke kamar." Clara mengangguk, tapi ada getar aneh di perutnya. Budi yang biasa terlihat rendah, sekarang di kamar pribadinya, matanya lapar memandang tubuhnya. Ia buru-buru menutup kimono, tapi terlambat—Budi sudah melihat lekuk pinggulnya.

Budi mundur pelan, tapi kakinya tersandung karpet. "Maaf, Nyonya," gumamnya, tangannya menyentuh lengan Clara saat ia menstabilkan diri. Sentuhan itu singkat, tapi listrik—kulit kasar Budi kontras dengan kehalusan Clara. Ia tarik tangan cepat, wajahnya memerah. Clara merasa panas di pipi, tapi lalu ingat statusnya. "Sudah, keluar aja. Jangan bilang siapa-siapa." Budi mengiyakan, keluar dengan kontolnya setengah tegang di celana seragam. Di koridor, ia bersandar ke dinding, napasnya tersengal. "Badannya... lembut banget. Gue pengen remes payudaranya sekarang juga."

Clara duduk kembali di ranjang empuknya, jantungnya berdegup. Paket itu cuma dokumen biasa, tapi kehadiran Budi... aneh. Ia buka kimono lagi, jari-jarinya menyentuh tempat yang disentuh Budi tadi. Kulitnya merinding. Tapi ia gelengkan kepala. "Nggak mungkin. Dia cuma satpam. Orang kampungan." Ia coba lupakan, tapi sepanjang sore, bayangan otot lengan Budi muncul lagi.

Malam itu, Henry pulang dengan senyum puas. Ia tahu Budi sudah antar paket—ia tanya lewat pesan. Di meja makan, Clara cerita singkat soal kejadian itu, suaranya acuh. "Budi antar paket ke kamar. Aneh ya, biasanya nggak." Henry angguk, matanya berbinar. "Soalnya penting. Kamu oke?" Clara mengangguk, tapi Henry lihat pipinya sedikit merah. Malam di kamar, setelah makan malam, Henry tarik Clara ke ranjang mewah mereka. Ia cium lehernya, tangannya meremas payudaranya melalui gaun malam. "Kamu cantik sekali hari ini," bisiknya, kontolnya mengeras menekan paha Clara.

Clara merespons, tapi setengah hati. Ia buka kancing baju Henry, tangannya menyentuh perut buncit itu. Henry dorong Clara telentang, bibirnya turun ke payudaranya, menghisap putingnya yang mengeras. Clara menggelinjang, tapi tak cukup. Saat Henry masukkan kontolnya ke memek Clara yang basah, ia pompa pelan, tapi Clara hanya mendesah kecil. Henry berhenti di tengah, napasnya berat. "Bayangin kalau... orang lain yang sentuh kamu. Orang rendahan, yang kasar tangannya. Bagaimana rasanya?"

Clara membuka mata, terkejut. "Apa maksudmu?" Henry tersenyum gelap, terus gerakkan pinggulnya pelan. "Bayangin aja, sayang. Satpam kita, Budi. Tangannya yang kuat pegang payudaramu, jarinya kasar gesek memekmu. Dia fuck kamu keras, sementara aku cuma liat." Clara mengerang, tapi campur kaget. "Henry... gila. Kenapa bilang gitu?" Tapi tubuhnya bereaksi—memeknya berdenyut lebih kuat. Henry percepat dorongan, "Katakan, Clara. Kamu penasaran kan? Orang rendahan itu ngewe kamu, bikin kamu jerit." Clara gigit bibir, tangannya cengkeram punggung Henry. "Mungkin... iya. Tapi cuma fantasi." Henry cum di dalamnya, tubuhnya gemetar. Ia tahu benihnya sudah ditanam.

Clara terbangun malam itu, pikirannya kacau. Fantasi Henry aneh, tapi... menggoda. Bayangan Budi di kamar tadi, sentuhannya. Ia geser tangan ke memeknya yang masih basah, jari-jarinya menggosok klitoris pelan. "Nggak... dia nggak selevel." Tapi orgasmenya datang cepat, nama Budi terucap pelan di bibirnya.

Keesokan harinya, Henry eksekusi langkah selanjutnya. Ia panggil Budi ke ruang kerjanya di rumah. "Kamu kerja bagus kemarin. Malam ini, ikut makan malam sama kami. Reward." Budi terkejut, tapi senang. "Iya, Pak. Terima kasih." Henry tersenyum, "Jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia kita."

Malam itu, meja makan rumah utama disiapkan istimewa. Lilin menyala, hidangan steak dan anggur merah. Clara pakai gaun merah ketat, payudaranya terangkat tinggi, rambutnya digerai. Ia kaget saat lihat Budi duduk di sebelahnya. "Henry? Ini apa?" Henry angkat gelas, "Reward buat Budi. Dia setia." Budi, dalam baju seragam yang dibersihkan, merasa tak nyaman tapi excited. Matanya tak lepas dari Clara—gaun itu memperlihatkan paha mulusnya saat ia duduk.

Makan malam berlangsung tegang. Henry cerita soal bisnis, tapi tatapannya ke interaksi Clara dan Budi. Clara awalnya kaku, tapi anggur membuatnya santai. "Budi, kamu dari mana asalnya?" tanya Clara, suaranya penasaran lagi. Budi jawab sopan, "Dari kampung di Jawa Tengah, Bu. Ayah saya kerja sama Pak Henry dulu." Clara angguk, tapi matanya turun ke lengan Budi yang berotot. Saat ia ambil garpu, tangan mereka bersentuhan tak sengaja—jari Budi menyapu punggung tangan Clara. Listrik lagi. Clara tarik tangan cepat, tapi pipinya memerah.

Henry notice semuanya, kontolnya tegang di bawah meja. Ia tuang anggur lagi, "Budi, cerita dong masa mudamu. Pasti nakal ya?" Budi tertawa gugup, "Dulu suka bolos sekolah, Bu. Main bola sama temen." Clara tertawa, suaranya merdu. "Kamu keliatan kuat. Pasti banyak cewek ngejar." Budi pandang Clara dalam, "Nggak selevel sama Nyonya." Kata-kata itu ambigu, bikin Clara bergidik. Makan malam berlanjut, obrolan makin intim. Clara cerita pesta sosialitanya, Budi dengar dengan mata lapar, membayangkan Clara telanjang di pesta itu.

Setelah makan, Henry usul, "Budi, bantu angkat piring ke dapur ya. Clara, kamu tunjukin." Di dapur, Clara dan Budi berdua. Tubuh mereka dekat. Saat Budi angkat tumpukan piring, otot lengannya menonjol. Clara berdiri di belakang, aroma parfumnya memenuhi hidung Budi. "Hati-hati, jangan jatuh," kata Clara, tangannya menyentuh bahu Budi untuk menstabilkan. Sentuhan itu lebih lama, jari-jarinya merasakan kerasnya otot. Budi berbalik pelan, wajahnya dekat sekali dengan Clara. "Nyonya... badan Nyonya wangi banget." Clara terkejut, tapi tak mundur. Matanya turun ke bibir Budi yang tebal.

Henry mengintip dari pintu, tangannya meremas kontolnya pelan. "Ya... sentuh dia, Budi." Tapi momen itu pecah saat Clara mundur. "Udah, selesai. Terima kasih." Budi keluar, tapi di posnya malam itu, ia tak tahan. Ia telanjang di kasur sempit, tangannya memompa kontol panjangnya yang tebal—beda dengan Henry yang pendek. Ia bayangkan Clara berlutut, mulutnya menghisap, air liurnya menetes. "Gue bakal ngentot memekmu sampe merah, Nyonya."

Clara di kamar, dengan Henry, merasa gelisah. Henry coba lagi, tapi kali ini Clara tolak. "Aku capek." Tapi sendirian di spa bathroom, air panas membasahi tubuhnya, ia sentuh dirinya lagi. Jari-jarinya masuk ke memek, membayangkan tangan kasar Budi. "Kenapa... kenapa dia?" Orgasmenya kuat, tubuhnya gemetar.

Henry di ruang kerjanya, merencanakan lebih jauh. Ia rekam video pendek dari makan malam—sentuhan tangan itu. Fetishnya membara. Ia ingin Budi jadi slave-nya, mengendalikan setiap sentuhan ke Clara. Tapi Clara... ia mulai penasaran beneran.

Malam semakin larut, rumah minimalis mewah itu penuh rahasia. Budi di posnya cum keras, sperma menetes di lantai. Clara tidur dengan mimpi basah. Henry tersenyum, rencana selanjutnya: buat Budi masuk lebih dalam.

Bayang-Bayang yang Semakin Dekat

Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui tirai tipis di jendela-jendela besar rumah minimalis mewah di Pondok Indah. Rumah yang dulu ramai dengan suara pelayan dan pembantu kini terasa hening, hampir sepi, hanya diisi oleh langkah kaki tiga orang saja: Clara, Henry, dan Budi. Beberapa minggu lalu, Henry telah membuat keputusan tegas. Dengan alasan privasi, ia memecat semua pelayan rumah tangga—lima orang yang selama ini mengurus segala urusan harian. Kini, hanya Budi yang tersisa, satpam muda berusia 25 tahun itu kini merangkap segala tugas: membersihkan rumah, merawat taman, memperbaiki barang-barang kecil, bahkan membantu angkat barang berat. Henry menyebutnya sebagai 'kesetiaan yang dihargai', tapi bagi Budi, itu berarti hari-hari yang lebih panjang dan melelahkan, meski dengan gaji yang dinaikkan.

Clara, wanita berusia 28 tahun dengan tubuh tinggi 167 cm yang berlekuk sempurna, berdiri di dapur luas yang dilapisi marmer putih. Rambut panjang hitamnya tergerai bebas, menyentuh punggungnya yang ramping saat ia mengaduk adonan pancake di wajan. Memasak kini menjadi tugasnya sendiri, sesuatu yang awalnya membuatnya kesal karena ia terbiasa dengan kemewahan pelayan yang siap sedia. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda. Ia mengenakan gaun sutra tipis berwarna krem yang menempel ketat pada lekuk pinggul dan payudaranya yang montok, seolah-olah sengaja memilih pakaian yang lebih menggoda. Matanya sesekali melirik ke arah pintu belakang, di mana Budi sedang menyiram tanaman di taman kecil. Tubuh Budi yang kurus tapi berotot, hasil kerja kasar sejak kecil, terlihat jelas di balik kaus sederhana yang basah keringat. Wajahnya yang jelek dan kampungan, dengan hidung pesek dan kulit sawo matang, justru menambah daya tarik aneh baginya—sebuah kontras dengan dunia glamor yang biasa ia tempati.

"Nyonya, pagi," sapa Budi sopan saat ia masuk ke dapur untuk mengambil air dari dispenser. Suaranya rendah, agak serak, tapi penuh hormat. Ia selalu memanggilnya 'Nyonya', seperti yang diperintahkan Henry, dan 'Tuan' untuk majikannya. Clara tersenyum tipis, merasakan getaran kecil di perutnya saat Budi berdiri begitu dekat, aroma keringat maskulinnya menyusup ke hidungnya.

"Pagi, Budi. Kamu sudah sarapan? Aku lagi buat pancake, mau ikut?" tanya Clara, suaranya lembut tapi ada nada penasaran yang tak bisa ia sembunyikan. Ia menuang adonan ke wajan, sengaja membungkuk sedikit agar gaunnya menegang di bagian belakang, memperlihatkan garis pantatnya yang bulat.

Budi ragu sejenak, matanya tak sengaja melirik ke arah lekuk itu sebelum cepat-cepat menunduk. "Terima kasih, Nyonya. Tapi saya sudah makan di pos saya tadi. Kalau Nyonya butuh bantuan, bilang saja ya." Ia menuang air ke gelas, tangannya yang kasar dan berurat terlihat kuat saat memegang gelas. Clara mengangguk, tapi dalam hati, ia bertanya-tanya mengapa pria ini membuatnya gelisah. Ia adalah sosialita, istri direktur perusahaan besar, sementara Budi hanyalah satpam—anak office boy di kantor Henry. Tapi malam-malam belakangan, saat Henry gagal memuaskannya di ranjang, pikirannya sering melayang ke Budi, membayangkan tangan kasar itu menyentuh kulitnya yang halus.

Henry, suami Clara yang berusia 34 tahun dengan tubuh sedikit buncit dan wajah bulat, duduk di ruang kerjanya yang luas di lantai atas. Ia mengenakan kemeja putih rapi, tapi matanya tertuju pada layar laptop di mana rekaman hidden camera dari dapur diputar ulang. Ia telah memasang kamera-kamera kecil di seluruh rumah sejak memecat pelayan, alasan resminya keamanan, tapi sebenarnya untuk memuaskan fetish cuckoldnya yang semakin kuat. Melihat Clara berinteraksi dengan Budi membuat kontolnya mengeras di balik celana. Ia ingin mengendalikan semuanya—membuat Budi, pria rendahan itu, menyentuh istrinya, sementara ia mengamati dari kejauhan.

"Budi, ke sini sebentar," panggil Henry melalui interkom rumah. Tak lama, Budi naik ke ruang kerja, napasnya agak tersengal setelah membersihkan taman.

"Ya, Tuan? Ada apa?" tanya Budi, berdiri tegak di depan meja Henry.

Henry tersenyum, matanya meneliti tubuh Budi yang berotot. "Kamu kerja bagus akhir-akhir ini. Rumah jadi lebih rapi sejak kamu yang urus semuanya. Aku kasih bonus lagi bulan ini. Tapi ada tugas baru. Clara sering capek setelah urus rumah dan masak. Kamu harus bantu dia lebih sering—antar barang ke kamarnya, bantu angkat belanja, atau apa pun yang dia butuh. Paham?"

Budi mengangguk, tapi ada keraguan di matanya. "Iya, Tuan. Saya akan lakukan yang terbaik."

"Bagus. Dan ingat, jaga jarak sopan, tapi jangan ragu bantu Nyonya. Dia istriku, tapi dia butuh perhatian lebih." Henry menekankan kata-kata itu, suaranya tenang tapi penuh maksud tersembunyi. Ia membayangkan Budi sendirian dengan Clara, tangan kasar itu menyentuh kulit istrinya. Kontolnya berdenyut lagi, dan ia harus menahan diri untuk tidak menyentuhnya di depan Budi.

Sepanjang pagi itu, interaksi meningkat seperti yang Henry rencanakan. Clara sedang memasak makan siang—sup ayam sederhana dengan sayuran segar yang ia potong sendiri—saat Budi masuk ke dapur membawa keranjang belanja dari pasar. "Nyonya, ini bahan-bahan yang Tuan pesan. Saya taruh di meja ya?" Budi meletakkan keranjang, lengannya yang berotot menegang saat mengangkatnya. Clara berbalik, pisau di tangannya berhenti sejenak saat melihat Budi begitu dekat.

"Terima kasih, Budi. Kamu bisa bantu potong bawang ini? Aku lagi sibuk masak sup." Clara menyerahkan pisau cadangan, jarinya tak sengaja menyentuh punggung tangan Budi. Sentuhan itu seperti listrik, membuat Clara menarik tangannya cepat, tapi Budi tersenyum kecil, matanya menatapnya lebih lama dari biasa.

"Tentu, Nyonya. Saya biasa bantu ibu di rumah dulu." Budi mulai memotong bawang, gerakannya kasar tapi efisien. Mereka bekerja berdampingan, bahu Budi sesekali menyenggol lengan Clara. Aroma maskulinnya, campur tanah dan keringat, membuat Clara merasa panas di wajah. Ia mencoba fokus pada sup, tapi pikirannya melayang. Mengapa ia membiarkan ini? Budi bukan siapa-siapa—hanya pembantu rumah yang merangkap satpam. Tapi ada sesuatu di matanya, lapar dan polos, yang membuatnya penasaran.

Sementara itu, Clara bergulat dengan konflik internalnya. Saat sendirian di kamar mandi spa pribadi sore itu, air hangat mengalir di tubuhnya yang telanjang. Payudaranya yang penuh naik turun dengan napasnya, putingnya mengeras saat ia menggosok sabun di kulit halusnya. Ia teringat masa lalunya, rahasia yang tak pernah ia ceritakan pada Henry. 

Saat remaja, pacar pertamanya adalah anak buruh pabrik—pria kasar dengan tangan penuh kapalan yang membuatnya merasakan kenikmatan liar untuk pertama kali. Henry, dengan sentuhan lembut dan rutinitasnya yang membosankan, tak pernah bisa menyamai itu. Malam demi malam, Henry mencoba, tapi kontolnya yang biasa-biasa saja dan stamina yang lemah membuat Clara berpura-pura orgasme. Kini, dengan Budi di rumah, fantasi itu bangkit lagi. Ia menyentuh klitorisnya sendiri di bawah pancuran air, membayangkan tangan Budi yang kasar menggantikannya, jari-jarinya yang kuat menekan masuk ke pussy-nya yang basah. "Oh... Budi..." desahnya pelan, tubuhnya bergetar saat orgasme kecil menyapunya. Tapi setelah itu, rasa bersalah datang. Ia istri Henry, sosialita yang seharusnya tak tergoda oleh pria rendahan seperti Budi.

Henry, dari ruang kerjanya, memantau semuanya melalui kamera. Ia melihat Clara di dapur dengan Budi, melihat bagaimana istrinya melirik Budi. Malam sebelumnya, saat berhubungan seks, Henry telah merayu Clara dengan fantasi tentang pria lain—khususnya Budi. "Bayangkan kalau Budi yang sentuh kamu, Clara. Tangan kasarnya di tubuhmu yang halus..." Clara awalnya menolak, tapi akhirnya ia merespons, pinggulnya bergerak lebih liar. Itu membuat Henry cum lebih cepat dari biasa, campuran cemburu dan kegembiraan membanjiri dirinya.

Sore berlalu dengan tugas-tugas rumah yang membuat Budi dan Clara semakin sering bertemu. Budi membersihkan kolam renang kecil di belakang rumah, tubuhnya basah kuyup saat Clara keluar untuk mengambil handuk yang 'lupa' ia taruh di sana. "Budi, kamu basah semua. Ambil handuk ini," kata Clara, melemparkan handuk sambil berdiri di tepi kolam, gaunnya tertiup angin sehingga menempel di pahanya. Budi menangkap handuk, matanya tak bisa lepas dari kaki panjang Clara yang terlihat mulus.

"Terima kasih, Nyonya. Nyonya juga hati-hati, jangan sampai basah." Suara Budi sedikit bergetar, dan Clara merasakan panas di antara pahanya. Ia cepat-cepat pergi, tapi hati kecilnya ingin tinggal lebih lama.

Malam tiba, dan ketegangan mencapai puncaknya. Setelah makan malam yang Clara masak—nasi goreng spesial dengan daging sapi impor—Henry memanggil Budi ke kamar tidur utama. Kamar itu luas, dengan ranjang king-size berseprai sutra putih, dan sofa kulit di sudut ruangan. Clara sudah berganti piyama sutra tipis, duduk di ranjang dengan kaki terentang, tampak lelah setelah seharian masak dan urus rumah.

"Budi, datang ke kamar saya sekarang" kata Henry dari sofa melalui telepon, suaranya tenang. Budi masuk, matanya melebar melihat Clara di ranjang mewah itu, kakinya yang panjang dan mulus terlihat menggoda di bawah cahaya lampu redup.

"Ya, Tuan?" tanya Budi, berdiri kaku.

"Clara capek hari ini. Kamu pijat kakinya sebentar. Itu bagian dari tugasmu sekarang, bantu Nyonya rileks." Henry duduk santai di sofa, tangannya di pangkuan menyembunyikan ereksinya yang mulai mengeras.

Clara terkejut, wajahnya memerah. "Henry, aku nggak perlu..." tapi Henry memotong, "Coba saja, sayang. Budi tangannya kuat, pasti enak."

Budi ragu, tapi ia mendekati ranjang, berlutut di sisi Clara. "Boleh saya mulai, Nyonya?" tanyanya sopan, tangannya yang kasar menyentuh telapak kaki Clara. Kulit Clara begitu halus, kontras dengan kapalan di telapak tangan Budi yang terbentuk dari kerja kasar. Ia mulai memijat, jempolnya menekan kuat ke lengkungan kaki Clara, naik ke betisnya yang kencang.

Clara menggigit bibir, sensasi itu membuatnya bergidik. Tangan Budi kasar, tapi tekanannya pas—bukan lembut seperti Henry, tapi penuh kekuatan yang membuat darahnya mengalir lebih cepat. "Mmm... enak, Budi," desahnya pelan, matanya setengah tertutup. Ia melirik Henry di sofa, yang menatap dengan mata lapar, tangannya diam-diam menggosok kontolnya melalui celana.

Budi memijat lebih dalam, jarinya menyusuri paha bawah Clara, hampir menyentuh bagian dalam yang sensitif. Ia bisa merasakan panas dari tubuh Clara, dan aroma parfumnya yang manis membuat kontolnya tegang di celana seragamnya. Saat memijat, Budi tak sengaja mendengar bisikan Henry sebelumnya di telinganya saat Clara tak dengar: "Buat dia rileks, Budi. Saya ingin kamu dekat dengannya." Itu membuat Budi sadar—Henry ingin ia dekat dengan Clara, mungkin lebih dari sekadar tugas. Sambil memijat, Budi teringat suara-suara aneh dari kamar tidur utama pada malam-malam sebelumnya. Ia tak sadar bahwa Henry sengaja tidak menutup rapat pintu kamar, tahu betul Budi akan mengecek kondisi rumah sebelum kembali ke pos. Desahan Clara yang terdengar tak puas, disusul keheningan tiba-tiba dari Henry, terus terngiang. Budi mulai menyimpulkan; nyonyanya mungkin haus akan nafkah batin yang tak mampu dipenuhi sang tuan. Sebuah pikiran lancang melintas: mungkinkah ia yang akan mengisi kekosongan itu?

Henry menyaksikan semuanya, jantungnya berdegup kencang. Melihat tangan Budi di kaki istrinya, mendengar desahan kecil Clara, membuatnya hampir cum di celana. Ini adalah kekuasaan—ia mengendalikan Budi seperti slave, memanfaatkan perbedaan status sosial untuk memuaskan fetishnya. Budi, pria kampungan dengan masa lalu nakal di SMA, kini berlutut di depan istrinya yang seksi dan glamor.

Pijatan berlangsung sepuluh menit yang terasa seperti jam, ketegangan seksual memenuhi kamar mewah itu. Clara basah di antara pahanya, pussy-nya berdenyut ingin disentuh lebih jauh, tapi ia menahan diri. Budi akhirnya berhenti, tangannya gemetar saat mundur. "Sudah, Nyonya?" tanyanya, suaranya serak.

"Iya... terima kasih, Budi," jawab Clara, napasnya tersengal. Budi keluar, meninggalkan Clara dan Henry sendirian.

Henry bangkit, mendekati ranjang. "Lihat? Dia bagus, kan?" Ia mencium leher Clara, tangannya menyusup ke piyama, meremas payudaranya. Malam itu, seks mereka lebih intens—Henry fuck Clara dari belakang, membayangkan Budi yang melakukannya, dan Clara, untuk pertama kali, ikut membayangkan, desahannya lebih nyata.

Tapi di pos satpamnya, Budi tak bisa tidur. Ia masturbasi, tangannya memompa kontolnya yang tebal sambil membayangkan kaki Clara, dan bagaimana ia akan sentuh lebih dari itu suatu hari nanti. Dinamika kekuasaan mulai bergeser—Budi merasa kuat, meski masih slave Henry.

Hari-hari berikutnya, interaksi terus meningkat. Clara mulai sengaja meminta bantuan Budi untuk hal-hal kecil: bantu angkat galon air ke dapur saat ia masak, atau bersihkan jendela kamarnya saat ia mandi (dengan pintu sedikit terbuka). Setiap sentuhan, setiap tatapan, membangun ketegangan. Henry terus memanipulasi, memberikan instruksi rahasia pada Budi: "Besok, bantu Nyonya di taman, pegang tangannya kalau perlu."

Perasaan Clara semakin dalam. Saat sendirian, ia sering curi-curi lihat Budi dari jendela, membayangkan ia perkosa dia di taman, tangan kasarnya merobek gaunnya. Tapi ia denial, bilang pada diri sendiri itu hanya fantasi. Namun, saat Henry rayu di ranjang, ia mulai cerita balik: "Bayangkan Budi yang fuck aku, Henry... kontolnya yang besar..."

Budi, semakin sadar rencana Henry, mulai berani. Saat sendirian dengan Clara di dapur, ia bisik: "Nyonya cantik sekali saat masak. Tuan beruntung punya istri seperti ini." Clara bergidik, tapi tersenyum, tangannya menyentuh lengan Budi sebentar.

Perbedaan status sosial semakin terasa: Clara dengan perhiasan berlian, Budi dengan seragam sederhana. Tapi kekuasaan Henry membuat semuanya mungkin. Ia simpan rekaman pijatan itu, tonton berulang sambil masturbasi, merencanakan langkah selanjutnya—mungkin minta Budi pijat lebih dari kaki.

Malam demi malam, rumah itu dipenuhi bisikan dan sentuhan tersembunyi. Ketegangan seksual membara, menunggu ledakan. Budi tahu Clara tak puas dengan Henry—ia dengar desahan tak puas itu lagi malam itu, saat Henry cum terlalu cepat. Dan Budi, dengan fetish barunya, ingin jadi pahlawan yang memuaskannya.

Akses yang Tak Terduga

Malam tiba dengan cepat, langit Pondok Indah sudah gelap pekat di luar jendela-jendela besar rumah. Henry pulang lelah dari kantor, jas kerjanya kusut setelah rapat panjang, tubuhnya yang sedikit buncit terasa berat saat ia membuka pintu depan. Aroma masakan sederhana—nasi goreng seafood yang Clara buat sendiri—menyambutnya di ruang makan yang elegan, dengan meja kayu jati panjang dan lampu gantung kristal yang memantul cahaya lembut. Clara sudah duduk di sana, mengenakan blouse sutra longgar berwarna biru muda yang menonjolkan lekuk payudaranya yang penuh, rambutnya diikat longgar di belakang. Wajahnya tenang, tapi ada kilau gelisah di mata cokelatnya.

Henry mendekat, mencium pipi Clara dengan lembut, bibirnya menyentuh kulit halus yang masih wangi parfum bunga segar. "Hari ini gimana, sayang?" tanyanya santai, suaranya ramah seperti biasa, tapi matanya mencari tanda-tanda—apakah ada perubahan di ekspresi istrinya setelah interaksi dengan Budi yang ia atur? Ia duduk di seberang, menuang air mineral ke gelas kristal.

Clara ragu sejenak, garpunya berhenti di piring. Gambar tangan Budi di betisnya siang tadi masih membekas, membuat pahanya terasa hangat meski udara malam sejuk. Ia tak mau cerita—takut Henry curiga, atau lebih buruk, takut suaminya tak peduli. "Biasa aja," jawabnya ringan, tersenyum tipis sambil mengaduk nasi di piring. "Cuma baca buku dan jalan-jalan sebentar. Kamu yang keliatan capek banget, Hen. Rapatnya alot?"

Henry mengangguk, mata bulatnya menyipit sedikit saat melihat Clara menghindari tatapannya. Ia tahu ada sesuatu—kamera pagi tadi sudah tunjukkan Budi mengeringkan rambutnya di ruang tengah, dan siangnya pijat kaki yang terlalu intim di taman belakang. Penisnya berdenyut pelan di balik celana, campuran cemburu dan kegembiraan fetish cuckoldnya mulai bangkit. "Iya, meeting investor. Tapi besok lebih santai. Kamu istirahat aja malam ini, ya?" Ia meraih tangan Clara sebentar, jarinya menyentuh punggung tangannya, tapi Clara menarik pelan, alasan haus.

Makan malam berlalu cepat, obrolan ringan tentang rencana akhir pekan. Setelah itu, mereka naik ke kamar utama. Ruangan itu seperti surga pribadi: ranjang king-size dengan seprai sutra putih yang halus, bantal-bantal empuk bertumpuk di kepala ranjang, dan udara sejuk dari AC sentral yang bercampur aroma lilin vanila yang Clara nyalakan. Clara berganti ke camisole tipis berwarna hitam, bahan sutranya menempel ringan di kulitnya yang mulus, memperlihatkan garis pinggul dan belahan dada yang dalam. Ia merebahkan diri di ranjang, buku novel di tangan, tapi pikirannya penuh dengan sentuhan siang tadi—jari Budi yang kasar di paha bawahnya, tekanan yang membuat vaginanya berdenyut samar. Ia bergeser gelisah, tangannya tanpa sadar menyentuh paha luar, merasakan kelembapan tipis di antara kakinya di balik celana dalam sutra.

Henry berpura-pura tidur di sampingnya, napasnya dibuat pelan dan berirama. Setelah lima menit, ia bangkit pelan, berbisik, "Aku ke ruang kerja sebentar, sayang. Ada email penting." Clara mengangguk setengah sadar, matanya masih di buku. Henry turun ke sofa kulit di ruang tamu bawah, ruangan gelap hanya diterangi layar ponselnya. Ia buka app kamera tersembunyi—yang ia pasang di sudut plafon kamar utama, lensa kecil tak terlihat di balik hiasan dinding. Gambar high-def muncul: Clara gelisah di ranjang, kakinya bergesek pelan, tangannya menyusuri paha hingga hampir menyentuh selangkangan. Henry merasa darahnya mengalir ke bawah, penisnya mengeras di balik boxer, tangannya mulai meremas pelan sambil menonton.

Tak lama, pintu kamar utama terbuka pelan tanpa ketukan, engselnya hampir tak bersuara. Budi masuk dengan langkah tegas, membawa botol minyak pijat esensial yang Henry sengaja sediakan di rak kamar mandi—campuran lavender dan eucalyptus impor, aroma yang menenangkan tapi memabukkan.

Budi sudah berganti ke kaus sederhana hitam yang ketat di dada berototnya dan celana pendek olahraga, rambutnya yang pendek masih basah setelah mandi di posnya. Wajahnya yang biasa—hidung pesek, kulit sawo matang kasar—kini terlihat lebih percaya diri; bahunya tegak, matanya tak lagi menunduk seperti dulu saat pertama kali masuk rumah mewah ini. Akses yang diberi Henry kemarin malam membuatnya merasa berbeda—bukan lagi satpam kampungan yang nunggu perintah, tapi bagian dari rumah ini, dengan hak masuk ke ruang paling intim tanpa ragu. Ia ingat kata-kata Henry: "Kamar utama terbuka buatmu, Budi. Kamu sekarang pengawal pribadi Nyonya." Itu bikin dadanya membusung, nafsu tersembunyi ke Clara yang selama ini ia tekan kini mulai lepas kendali.

"Nyonya," sapa Budi dengan suara rendah yang tenang tapi tegas, matanya langsung tertuju pada tubuh Clara yang rebahan. Ia tutup pintu pelan di belakangnya, langkahnya mendekati ranjang seperti punya hak. "Saya bawa minyak pijat ini buat bahu Nyonya. Tuan bilang Nyonya sering pegal akhir-akhir ini, dari duduk lama baca buku atau apa. Biar saya pijat full body malam ini? Cuma buat bantu tidur nyenyak. Saya tahu Nyonya sendirian di ranjang besar ini, pasti butuh relaksasi."
Clara tersentak, buku jatuh dari tangannya ke seprai. Ia duduk setengah, camisole-nya bergeser sedikit memperlihatkan bahu telanjang dan garis payudara yang naik-turun dengan napas cepat. Jantungnya berdegup kencang—Budi masuk begitu saja ke kamar utama tanpa mengetuk atau izin, dan kali ini ada sesuatu di tatapannya yang berbeda, lebih berani, seperti pria yang tahu ia diterima di sini. "Budi? Sudah malam, kok kamu... masuk lagi? Henry sedang di ruang kerjanya, loh." Suaranya campur kaget dan protes, tapi tubuhnya tak bergerak menjauh; malah, ada antisipasi hangat di perutnya, vaginanya berdenyut pelan mengingat pijat siang tadi.

Budi tersenyum tipis, garis bibirnya melengkung percaya diri saat ia duduk di tepi ranjang, kasur sedikit amblas di bawah berat tubuh berototnya. Ia menuang minyak hangat ke telapak tangannya yang besar dan kasar, menggosoknya pelan hingga aroma lavender menyebar, bercampur bau keringat maskulin dari tubuhnya setelah hari panjang. "Tuan sudah kasih izin penuh, Nyonya. Pintu kamar ini sekarang seperti pintu dapur buat saya—buka kapan aja kalau buat bantu Nyonya. Saya nggak mau Nyonya pegal sendirian. Santai aja, saya pijat pelan. Mulai dari bahu dulu?" Tanpa tunggu jawaban penuh, tangannya sudah menyentuh bahu Clara yang telanjang, jari-jarinya yang hangat dan penuh kapalan mulai menekan otot-otot tegang di sana dengan gerakan ritmis, kuat tapi hati-hati.
Clara mendesah tak terkendali, tubuhnya melengkung pelan ke depan saat tekanan Budi meresap ke kulitnya. Sentuhan itu kasar kontras dengan kelembutan camisole tipis, kapalan di telapak tangannya menggesek kulit halus Clara seperti api kecil yang menyala. Aroma minyak lavender memenuhi hidungnya, bercampur bau keringat Budi yang segar dan primal—seperti tanah basah setelah hujan di kampungnya dulu, kontras tajam dengan parfum mewah Henry. "Budi... ini terlalu dekat," bisik Clara, suaranya lemah, tapi ia tak menarik bahu; malah, matanya setengah tertutup, merasakan panas tangan Budi turun pelan ke punggung atasnya, menyusuri tulang belakang melalui kain tipis.

Budi tak berhenti; kepercayaan dirinya makin terlihat saat ia geser posisi lebih dekat, lututnya menyentuh paha Clara di ranjang. "Nyonya rileks, ya? Saya tahu cara ini dari bantu ibu di kampung—mereka bilang tangan kasar seperti saya bagus buat lepasin ketegangan. Kamar mewah ini, ranjang empuk begini, pasti bikin Nyonya terbiasa dimanja. Tapi saya bisa bikin lebih enak." Suaranya parau sekarang, ada nada tease halus yang tak lagi sepenuhnya hormat, seperti ia sadar statusnya naik—dari pos kecil ke ruang pribadi sosialita cantik ini. Jari-jarinya turun lebih rendah, menyusuri tulang belakang hingga pinggang Clara, hampir menyentuh lengkung bokong yang bulat di balik camisole. Ia tekan pelan di sana, ibu jarinya menggesek tepi kain, membuat Clara menggeliat.

Clara merasa kepalanya pusing, napasnya memburu saat tangan Budi naik lagi ke sisi payudaranya, jari telunjuknya menyentuh tepi daging lembut yang membengkak di balik kain. Putingnya mengeras langsung, menusuk kain tipis, dan ia desah pelan yang berubah jadi erangan samar. Konflik internalnya bergolak hebat: ini salah besar—Budi hanyalah satpam rendahan, pria kampungan dengan wajah jelek yang tak pantas sentuh tubuhnya yang terawat di salon mewah. Tapi hasrat itu membara, seperti api liar yang Henry tak pernah nyalakan; tangan Budi yang kuat ini membuatnya merasa hidup, dikuasai oleh sesuatu yang primal dan terlarang. Vaginanya basah sekarang, cairannya meresap ke celana dalam, pahanya bergesek pelan tanpa sadar. "Budi... stop, ini... Henry bisa masuk kapan saja," desahnya, tapi tangannya malah memegang lengan Budi sebentar, merasakan otot keras yang berdenyut di bawah kulit kasar.

"Tuan lagi fokus di ruang kerjanya, Nyonya. Saya yang urus Nyonya malam ini," jawab Budi, suaranya lebih dalam, matanya gelap dengan nafsu saat ia lihat Clara menggeliat. Kepercayaan dirinya memuncak sekarang—ia geser tangan ke paha Clara, mulai pijat betis dulu, naik pelan ke paha dalam melalui celana pendek tipis yang Clara pakai. Jari-jarinya hampir menyentuh selangkangan, merasakan panas yang memancar dari sana, tapi ia berhenti tepat di batas, tease dengan tekanan ringan. "Nyonya panas nih, kakinya tegang banget. Biar saya lepasin semuanya? Saya janji bikin Nyonya tidur enak, tanpa beban apa-apa."

Dari kursi di ruang kerja, Henry menyaksikan semuanya melalui layar ponsel, jantungnya berdegup kencang. Gambar close-up tangan Budi di paha Clara membuat penisnya tegang penuh, ujungnya basah di balik boxer. Ia remas pelan, gerakannya naik-turun lambat, merasakan campuran cemburu menyengat dan kegembiraan kontrol—ia yang atur akses ini, ia yang pilih Budi sebagai alat fetishnya. "Bagus, Budi," gumam Henry sendirian, napasnya pendek saat lihat Clara menyerah pelan, membiarkan tangan Budi menjelajah lebih dalam ke punggung bawah, jari hampir selip ke bawah camisole. Fetish cuckoldnya hidup total, mendekati klimaks saat Budi bisik sesuatu yang tak terdengar jelas, tapi cukup buat Clara mendesah lebih keras. Henry tahu—ini baru awal; besok ia akan kasih instruksi lebih untuk Budi, biar interaksi makin intens.

Clara akhirnya dorong tangan Budi pelan setelah erangan ketiganya, wajahnya merah padam. "Cukup malam ini, Budi. Terima kasih... tapi besok jangan terlalu berani, ya." Suaranya gemetar, tapi ada nada antisipasi yang tak bisa disembunyikan. Budi bangun, tatapannya masih lapar saat ia lap tangan ke handuk kecil. "Seperti yang Tuan bilang, Nyonya. Saya bebas ke sini kapan aja. Pintu terbuka buat bantuan apa pun." Ia keluar pelan, meninggalkan Clara terengah di ranjang, tangannya menyentuh tempat yang Budi sentuh, vaginanya berdenyut haus.

Hari-hari berikutnya, pola itu berulang dengan intensitas yang naik tajam, seperti api yang ditiup angin. Budi, dengan kepercayaan diri barunya dari akses bebas ke kamar utama mewah, mulai bergerak seperti tuan rumah kecil di sana—masuk tanpa ragu, tatapannya langsung ke tubuh Clara, dan sentuhannya lebih tegas, seolah ruang elit itu sekarang miliknya juga untuk 'bantu'.

Pagi Hari Pertama Setelahnya: Clara bangun dengan cahaya pagi menyusup, berdiri di depan lemari built-in penuh gaun desainer, sedang berganti baju untuk sarapan. Ia telanjang dada, hanya pakai celana dalam renda hitam, payudaranya yang penuh dan tegak bergoyang pelan saat ia coba pasang bra. Pintu terbuka tiba-tiba, Budi masuk bawa nampan jus jeruk segar, matanya menyapu tubuh Clara tanpa malu. "Pagi, Nyonya. Saya bawa jus buat mulai hari. Keliatan Nyonya lagi susah kancingin bra itu—punggungnya kan susah dijangkau. Biar saya bantu? Saya biasa bantu saudara perempuan di kampung, cepet kok." Suaranya tegas, langkahnya mendekat langsung ke Clara, tangannya ambil bra dari tangan sang Nyonya itu. Kepercayaan dirinya terlihat: ia berdiri di belakang, napas panasnya di leher Clara saat jari kasarnya menyentuh kulit telanjang punggung, mengaitkan kaitan bra dengan gerakan lambat, jempolnya sengaja gesek sisi payudara. Clara merinding, putingnya mengeras saat merasakan panas tubuh Budi yang dekat. "Budi, ini... terlalu pribadi," desahnya, tapi ia biarkan, merasakan denyut di vaginanya saat Budi bisik, "Nyonya cantik banget pagi ini. Kamar ini cocok buat yang seperti Nyonya—dan sekarang saya bagiannya."

Siang Hari: Setelah mandi sore di kamar mandi marmer mewah—air hangat mengalir dari shower rain besar—Clara keluar dengan handuk tipis melilit tubuh basahnya, tetesan air mengalir di lekuk payudara dan pinggul. Ia sedang usap rambut saat pintu terbuka lagi. Budi masuk bawa handuk bersih tebal, senyumnya percaya diri saat lihat tubuh Clara yang setengah telanjang. "Nyonya, saya liat Nyonya baru mandi. Biar saya keringin punggungnya? Handuk ini lebih bagus dari yang Nyonya pakai—saya bawa dari linen ruang tamu. Saya tahu cara keringin biar nggak dingin." Ia dekati dari belakang, tangannya ambil handuk lama Clara dan ganti dengan yang baru, mulai gosok punggung basah itu dengan gerakan lebar, turun ke pinggang, jari-jarinya merasakan lengkung bokong yang bulat dan lembap. Kulit Clara merinding, aroma sabun mewahnya bercampur keringat Budi, membuat napasnya tersendat. Ia pegang cermin untuk stabil, merasakan tangan Budi hampir selip ke bawah handuk, menyentuh tepi bokong. "Kamu makin berani masuk begini, Budi," katanya lemah, tapi tak nolak saat ia tekan pelan di sana. "Karena Tuan kasih izin, Nyonya. Saya ngerasa rumah ini rumah saya juga sekarang—terutama buat bantu Nyonya seperti ini," jawab Budi, suaranya penuh keyakinan, matanya lapar di cermin.

Malam Hari: Pijatan full body jadi rutinitas, tapi semakin intens. Budi masuk saat Clara sudah di ranjang dengan nightie sutra pendek, bawa minyak lagi. "Nyonya, malam ini saya pijat paha dan bahu full. Nyonya keliatan tegang seharian." Ia duduk lebih dekat, tangannya menuang minyak ke paha Clara yang telanjang, mulai tekan otot-otot dalam dengan kekuatan berototnya, jari naik ke paha dalam, hampir sentuh klitoris yang sudah basah di balik kain tipis. Clara erang pelan, tubuhnya melengkung, vaginanya berdenyut saat jari Budi gesek tepi selangkangan. "Budi... jangan terlalu dalam," desahnya, tapi pinggulnya geser ke depan tanpa sadar. Budi tersenyum, kepercayaan dirinya penuh: "Nyonya suka, kan? Saya tahu—kamar mewah ini butuh tangan seperti saya buat bikin panas. Biar saya lanjut?" Dari ruang kerja Henry, Henry masturbasi sembari melihat interaksi Budi dan Clara lewat kamera di kamarnya, menunggu Clara runtuh total. Melihat satpam kampungan masuk ke kamar mewahnya sesuka hati dan menyentuh istrinya semakin membuat perasaan Henry untuk segera melakukan hal yang lebih jauh.

Clara terjebak dalam jaring hasrat: penolakan sosialnya retak lebar, bayangan Budi yang kasar dan percaya diri membara di pikirannya, sementara Henry dari bayang mengendalikan semuanya, menunggu momen Clara benar-benar menyerah ke pelukan pria rendahannya.

Godaan Malam yang Terlarang

Jam sepuluh malam sudah lewat, tapi malam di Pondok Indah terasa lebih panjang bagi Budi. Pos keamanan kecilnya, yang terletak di sisi taman depan rumah, terasa sempit dan pengap meski angin malam menyusup melalui jendela kayu yang retak. Ia berbaring di kasur tipis yang disediakan Henry, selimut katun murah terlipat di pinggangnya, tapi matanya terbuka lebar, menatap langit-langit plester yang retak-retak. Tubuhnya yang berotot, hasil dari latihan angkat beban ala kadarnya di kampung dulu, terasa gelisah. Otot-otot di lengannya menegang saat ia balik badan, mencoba mencari posisi nyaman, tapi pikirannya tak mau diam.

Clara. Nama itu berputar-putar di kepalanya seperti lagu lama yang tak bisa dilupakan. Sejak Henry memberi akses penuh ke kamar utama, segalanya berubah. Dulu, Budi hanyalah satpam biasa—pria kampungan berusia 25 tahun dengan wajah pesek dan kulit sawo matang yang kasar, yang tugasnya cuma jaga pagar dan patroli malam. Tapi sekarang? Ia merasa seperti bagian dari rumah mewah itu, seperti tangan kanan Tuan yang tak tergantikan. Pagi tadi, saat ia bantu kancingkan bra Clara, jari-jarinya menyentuh kulit halus punggungnya yang seperti sutra, dan Clara tak menolak—malah, napasnya tersendat, payudaranya naik-turun cepat di depan cermin. Siangnya, saat keringkan punggung basah setelah mandi, lengkung bokongnya terasa begitu empuk di bawah handuk, dan tatapan Clara di cermin penuh campuran malu dan hasrat. Malam demi malam, pijatan di ranjang king-size mewah itu membuatnya merasakan panas tubuh Clara, paha dalamnya yang lembut, dan erangan pelannya yang seperti undangan.

Budi bangun pelan, kakinya menyentuh lantai semen dingin. Ia pakai kaus hitam ketat yang menempel di dada bidangnya dan celana pendek olahraga yang longgar, tapi kontolnya sudah setengah tegang di balik kain, mengingat aroma lavender dari minyak pijat yang bercampur bau tubuh Clara. "Sudah malam, tapi kenapa rasanya seperti pagi?" gumamnya pada diri sendiri, suaranya parau dalam kegelapan. Ia tahu jam sudah lewat sepuluh—waktu di mana rumah biasanya sunyi, hanya suara AC sentral yang berdengung pelan dari dinding. Tapi kepercayaan dirinya membesar, seperti balon yang terus ditiup. Henry bilang, "Kamar utama terbuka buatmu kapan saja, Budi. Kamu sekarang pengawal pribadi Nyonya." Kata-kata itu seperti kunci emas, membuatnya merasa tak lagi rendah—ia bisa masuk, bisa sentuh, bisa dekat dengan wanita cantik yang selama ini hanya ia intip dari jauh.

Ia berjalan pelan keluar pos, melewati taman yang diterangi lampu sorot halus, rumput hijau terasa lembap di bawah telapak kakinya yang telanjang. Rumah berdiri megah di depannya, dinding kaca besar mencerminkan bulan sabit, dan pintu samping yang selalu terbuka untuknya terasa seperti panggilan. Budi besar kepala sekarang; ia bayangkan Clara sendirian di ranjang mewah itu, mungkin gelisah seperti malam-malam sebelumnya, tangannya menyentuh paha sambil memikirkan sentuhannya. "Nyonya pasti butuh bantuan lagi," pikirnya, senyum tipis melengkung di bibirnya yang tebal. Walaupun tahu sudah larut, ia tak peduli—akses ini miliknya, dan malam ini, ia ingin lebih dari sekadar pijat.

Langkahnya ringan saat naik tangga belakang, menghindari lantai kayu yang berderit. Koridor atas gelap, hanya cahaya samar dari lampu dinding kristal yang menyinari lukisan abstrak di dinding. Pintu kamar utama ada di ujung, kayu mahoni tebal dengan gagang perak mengkilap. Budi berhenti sejenak, telinganya mendengarkan. Ada suara pelan dari dalam—napas berat, gerakan kasur yang bergoyang samar. Jantungnya berdegup kencang, kontolnya mengeras penuh sekarang, menekan kain celana pendek. Ia tahu ini berisiko; Henry mungkin di dalam, tapi rasa penasaran dan nafsu membutakannya. Dengan tangan gemetar sedikit, ia putar gagang pelan, membuka pintu hanya seiris—cukup untuk mengintip, tanpa suara.

Kamar utama mewah itu terbentang di depannya seperti mimpi basah. Ranjang king-size mendominasi ruangan, seprai sutra putih kusut di bawah tubuh Clara dan Henry. Lampu samping ranjang menyala redup, cahaya kuning lembut memantul di dinding berpanel sutra dan karpet Persia tebal yang menyerap suara. Udara terasa hangat, bercampur aroma parfum Clara yang manis dan sesuatu yang lebih primal—bau seks yang mulai menyebar. Clara telanjang bulat di ranjang, tubuhnya yang seksi terpampang: payudara penuh dengan puting cokelat yang mengeras, pinggang ramping melengkung ke pinggul lebar, dan paha mulus terbuka lebar. Rambut hitam panjangnya tersebar di bantal, wajahnya memerah dengan mata setengah tertutup, bibir merahnya terbuka mengeluarkan desahan pelan.

Henry di atasnya, tubuhnya yang sedikit buncit berkeringat, tangannya memegang pinggul Clara saat ia dorong kontolnya yang pendek dan tebal ke dalam memek Clara. Gerakannya cepat tapi tak berirama, seperti orang yang buru-buru ingin selesai. Kontol Henry masuk-keluar dengan suara basah, memek Clara yang basah mengkilap di bawah cahaya, bibir memeknya membengkak merah karena gesekan. "Clara... sayang... kamu enak banget malam ini," desah Henry, suaranya terengah, tapi Budi bisa lihat dari celah pintu—wajah Henry penuh konsentrasi, bukan gairah liar. Ia dorong lebih dalam, bokongnya mengencang, tapi ritmenya kacau, seperti tak tahan lama.
Clara merespons, tangannya mencengkeram seprai, payudaranya bergoyang setiap dorongan. "Henry... lebih cepat... ahh," erangnya pelan, tapi suaranya terdengar dipaksakan, seperti akting untuk suaminya. Tubuhnya melengkung, memeknya menjepit kontol Henry, cairan bening mengalir ke seprai. Budi menahan napas, kontolnya berdenyut sakit di celana, matanya terpaku pada pemandangan itu. Ia lihat detailnya: bagaimana kontol Henry licin karena jus Clara, bagaimana puting Clara bergesek dada Henry yang berbulu tipis, bagaimana Clara gigit bibir bawahnya saat Henry dorong terakhir. Tapi tiba-tiba, Henry menegang, bokongnya bergetar, dan ia tarik keluar cepat—kontolnya muncrat sperma putih ke perut Clara, hanya tiga semburan lemah sebelum ia ambruk di samping, napasnya tersengal.

"Sudah... capek hari ini," gumam Henry, tangannya menyeka keringat di dahi, tak sadar pintu terbuka sedikit. Clara terbaring di sana, memeknya masih terbuka dan basah, klitorisnya membengkak tapi tak tersentuh benar, napasnya masih berat. Ia sentuh perutnya sendiri, merasakan sperma dingin Henry, tapi matanya menatap langit-langit dengan ekspresi kosong—tak puas, seperti malam-malam sebelumnya. Budi tutup pintu pelan, jantungnya berdegup seperti drum, mundur pelan ke koridor. Ia kembali ke posnya dengan langkah cepat, kontolnya sakit karena tak tersentuh, pikirannya berpacu.

Di pos, Budi duduk di kasur, tangannya langsung masuk ke celana, meremas kontolnya yang panjang dan tebal, urat-uratnya menonjol. Ia bayangkan dirinya di posisi Henry—dorong kontolnya ke memek Clara yang basah itu, gerakannya kuat dan lama, buat Clara jerit kenikmatan. "Tuan cepet banget... pasti Nyonya nggak puas," pikirnya, tangannya naik-turun cepat, ingat erangan Clara yang setengah hati. Kepercayaan dirinya meledak sekarang; ia yakin Henry sengaja biarkan akses ini karena tahu dirinya lebih baik—lebih kuat, lebih tahan lama. "Besok, Tuan pasti minta gue puasin Nyonya. Gue yang bikin dia jerit beneran." Ia muncrat ke tangannya, sperma panas mengalir deras, napasnya tersengal saat orgasme menyapu tubuhnya.

Sementara itu, di kamar utama, Henry berbaring di samping Clara, tangannya menyentuh bahu istrinya pelan. Ia pura-pura puas, tapi pikirannya sudah ke app kamera—ia rencanakan besok Budi masuk lebih awal, mungkin saat sarapan, untuk sentuh Clara lagi. Clara menoleh, bibirnya menyentuh pipi Henry sekilas, tapi hatinya gelisah. Malam ini lagi-lagi tak cukup; kontol Henry terlalu cepat, tak sentuh titik yang bikin dia meledak. Pikirannya melayang ke Budi—tangan kasarnya, tatapan beraninya. "Apa jadinya kalau..." bisiknya dalam hati, sebelum tidur menjemputnya.

Pagi menyingsing dengan cahaya matahari yang menyusup melalui tirai sutra tipis. Budi bangun lebih awal, mandi cepat di kamar mandi pos yang sederhana, air dingin membasuh tubuhnya tapi tak redakan api di dadanya. Ia pakai seragam satpam yang rapi, tapi di baliknya, ia siap—siap untuk masuk kamar utama lagi, siap untuk menggoda Clara lebih jauh. Saat ia patroli, matanya melirik jendela kamar Clara, membayangkan tubuh telanjangnya di balik kain.

Clara terbangun sendirian; Henry sudah berangkat ke kantor pagi-pagi, meninggalkan catatan di meja samping: "Sarapan enak ya, sayang. Budi bisa bantu kalau butuh." Ia tersenyum tipis, tapi perutnya bergejolak. Malam tadi, seks dengan Henry terasa hampa, seperti rutinitas. Ia bangun, pakai robe sutra pendek yang menempel di kulitnya, payudaranya bergoyang bebas di balik kain tipis. Di dapur bawah, ia buat kopi, tapi pikirannya ke Budi—apakah ia akan masuk lagi hari ini?

Tak lama, pintu dapur terbuka. Budi masuk dengan nampan roti panggang, senyumnya lebar dan percaya diri. "Pagi, Nyonya. Saya bawa sarapan. Tuan pesan biar saya bantu Nyonya mulai hari. Keliatan Nyonya capek malam tadi—mungkin butuh pijat bahu sebentar?" Matanya menyapu robe Clara, memperhatikan puting yang samar terlihat, kontolnya berdenyut pelan.

Clara tersentak, wajahnya memerah. Bagaimana Budi tahu ia capek? Tapi ada getar di suaranya yang bikin vaginanya basah samar. "Budi... terima kasih. Tapi nggak usah pijat sekarang." Tapi ia tak gerak menjauh saat Budi dekati, tangannya menyentuh bahu melalui robe, tekanan kasar yang familiar.
Hari itu berlanjut dengan pola yang sama, tapi Budi lebih berani. Siangnya, saat Clara berrenang di pool belakang, bikini hitamnya basah menempel di tubuh, Budi tawarkan handuk. Tangannya menggosok punggung, turun ke bokong, jarinya hampir selip ke celana bikini. "Nyonya panas banget hari ini. Biar saya bantu keringin semuanya?" bisiknya, napas panas di telinga Clara.
Clara menggigil, memeknya berdenyut. "Budi... kamu makin..." Tapi ia biarkan, konfliknya retak lebih dalam.

Malam semakin larut di rumah minimalis mewah Pondok Indah itu, di mana cahaya bulan menyusup melalui tirai tipis kamar utama, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding berwarna krem. Udara terasa berat, dipenuhi aroma samar parfum Clara yang manis bercampur keringat ringan dari hari yang panjang. Budi, yang biasanya meringkuk di pos satpamnya dengan pikiran sederhana tentang tugas malam, kini tak bisa memejamkan mata. Tubuhnya yang kurus tapi berotot tegang di atas kasur tipis, pikirannya berputar-putar seperti roda yang tak terkendali. Akses penuh yang diberikan Henry—kunci cadangan ke kamar utama, izin untuk masuk kapan saja tanpa mengetuk—membuatnya merasa seperti raja kecil di istana orang lain. 'Tuan Henry pasti punya rencana,' gumamnya dalam hati, senyum licik melengkung di bibirnya yang kasar. Ia membayangkan Clara, Nyonya cantik dengan rambut hitam panjang yang selalu mengalir seperti sutra, tubuhnya yang ramping dan seksi yang selama ini hanya bisa ia intip dari kejauhan. Kini, ia merasa berhak. Berhak untuk menyentuh, untuk memuaskan, untuk mengambil apa yang Tuan tak bisa berikan.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika Budi akhirnya bangkit. Kakinya yang telanjang menginjak lantai dingin koridor, setiap langkahnya hati-hati tapi penuh keyakinan. Pintu kamar utama, yang kini tak lagi terkunci rapat baginya, terbuka pelan dengan derit samar yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mendorongnya sedikit, cukup untuk mengintip melalui celah gelap. Di dalam, cahaya lampu samping tempat tidur menyinari pemandangan yang membuat napas Budi tersendat. Henry, dengan tubuhnya yang agak gemuk dan pendek, bergerak di atas Clara dengan ritme yang cepat dan kikuk. Clara terbaring di sprei sutra putih, robe sutranya terbuka separuh, memperlihatkan lekuk payudaranya yang montok naik-turun mengikuti dorongan suaminya. Wajahnya—cantik, dengan bibir penuh dan mata almond yang kini setengah terpejam—terlihat tegang, bukan penuh kenikmatan, tapi seperti menahan kekecewaan yang tersembunyi. Henry menggeram pelan, tangannya mencengkeram pinggul Clara, tapi gerakannya terlalu tergesa, terlalu dangkal, seolah ia tahu ini tak akan bertahan lama.

Budi menelan ludah, matanya terpaku pada pemandangan itu. Kontol Henry, yang ia lihat sekilas saat bergeser, tak sebanding dengan apa yang ia bayangkan tentang dirinya sendiri. Ia merasa dada membusung—ia, Budi si satpam kampungan, dengan otot lengan yang terbentuk dari kerja keras, pasti bisa memberikan lebih. Clara menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas sprei, tapi erangannya terdengar dipaksakan, seperti hembusan angin yang tak berdaya. Ketegangan di udara terasa nyata, godaan terlarang yang mengalir seperti arus listrik. Budi bisa mencium aroma seks yang mulai memenuhi ruangan, campuran antara keringat Henry yang masam dan kelembapan alami Clara yang manis, membuat darahnya mendidih. Ia membayangkan dirinya di posisi itu: tangan kasarnya merayap di kulit halus Clara, jarinya menekan paha dalamnya yang lembut, bibirnya mengisap putingnya yang mengeras hingga Nyonya itu memohon lebih.

Tiba-tiba, Henry menoleh. Matanya yang tajam menangkap bayangan di pintu, dan dalam sekejap, ia menarik diri dengan kasar. Kontolnya yang setengah tegang tergantung lemas, dan ia bangkit dari tempat tidur, menutupi tubuhnya dengan cepat menggunakan selimut. 'Siapa di sana?' suaranya tegas tapi tak marah, malah ada nada aneh—seperti undangan tersembunyi. Clara duduk setengah, menarik robe-nya menutupi dada, wajahnya memerah karena malu dan kebingungan. 'Henry? Ada apa?' tanyanya pelan, suaranya bergetar.

Budi mundur selangkah, tapi tak menutup pintu sepenuhnya. Jantungnya berdegup seperti genderang perang, tapi bukan takut—ini kegembiraan. Henry berjalan ke pintu, membukanya lebar, dan melihat Budi berdiri di sana dengan senyum malu-malu yang dipaksakan. 'Budi? Malam-malam begini, ada apa?' tanya Henry, suaranya tenang, tapi matanya berkilat dengan sesuatu yang Budi kenali sebagai konfirmasi. Budi menunduk hormat, tapi dalam hati ia tertawa. 'Maaf, Tuan. Saya cuma... mau cek apakah Nyonya butuh apa-apa. Pintu terbuka sedikit, jadi saya pikir...'

Henry mengangguk, tak ada kemarahan di wajahnya. Malah, ia menepuk bahu Budi pelan, gerakan yang terasa seperti pemberian wewenang. 'Bagus, Budi. Itu tugasmu sekarang. Kalau Nyonya butuh bantuan, langsung masuk aja. Jangan sungkan.' Ia melirik ke belakang, ke Clara yang kini duduk di tepi tempat tidur, kakinya yang panjang terlipat, robe-nya tergeser memperlihatkan paha mulusnya. Clara menatap Budi sekilas, matanya melebar karena terkejut, tapi ada kilatan lain di sana—rasa penasaran yang ia coba tekan. Henry menutup pintu pelan, tapi tak terkunci, meninggalkan celah kecil yang sengaja.

Budi mundur ke koridor, menutup pintu dari luar dengan tangan yang gemetar karena adrenalin. Ia bersandar di dinding, napasnya tersengal. 'Lihat itu? Tuan keluar cepat banget. Pasti karena dia tahu saya di sini. Dia mau saya gantikan.' Pikirannya melayang ke fantasi: Clara yang merintih di bawahnya, memeknya yang basah menyambut kontolnya yang keras dan panjang, tangan Henry yang memegang bahu Budi sebagai tanda persetujuan. Ia merasa empowered, posisinya di rumah ini tak lagi sebagai satpam rendahan, tapi sebagai pahlawan rahasia, pria yang akan memenuhi hasrat Nyonya. Ketegangan malam itu membara di dadanya, godaan terlarang yang semakin dekat, siap meledak di langkah berikutnya. Ia kembali ke posnya dengan langkah mantap, tidur kini tak lagi mustahil—malah, mimpi indah menantinya.

Sentuhan yang Tak Terelakkan

Malam itu tiba lagi, seperti hembusan angin lembab yang menyusup melalui celah jendela-jendela tinggi di rumah mewah Henry dan Clara. Udara di luar terasa berat, bau tanah basah dari taman belakang yang baru disiram hujan sore tadi masih menempel di udara. Di pos satpam yang terletak di sisi kanan rumah, Budi berguling-guling di tempat tidurnya yang sempit. Jam dinding kecil menunjukkan pukul sebelas malam, tapi matanya terbuka lebar, tak bisa terpejam. Pikirannya dipenuhi bayangan malam sebelumnya—pintu kamar utama yang terbuka sedikit, suara erangan Clara yang samar, dan tatapan Henry yang seperti undangan diam-diam. Tubuhnya panas, kontolnya setengah tegang di balik celana pendek lusuhnya, mengingat lekuk tubuh Clara yang terlihat samar di balik selimut tipis.

Budi bangkit, kakinya menyentuh lantai semen dingin. Ia tak lagi ragu seperti malam sebelumnya. Akses yang diberikan Henry—hak untuk masuk ke kamar utama mewah itu kapan saja untuk 'membantu'—membuatnya merasa berbeda. Ia bukan lagi sekadar satpam kampungan, anak tukang bersih-bersih kantor Tuan Henry. Ia merasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang terlarang dan menggoda. Dengan langkah mantap, ia keluar dari posnya, koridor rumah yang gelap menyambutnya. Lampu-lampu dinding redup menyinari lantai marmer mengkilap, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding putih bersih.

Saat mendekati kamar utama, jantung Budi berdegup lebih kencang. Pintu kayu mahoni itu kali ini terbuka lebih lebar, seolah Henry sudah menunggu. Cahaya kuning lembut dari lampu samping tempat tidur menyembur keluar, menerangi sebagian koridor. Aroma lavender samar tercium, bercampur dengan bau parfum mahal yang selalu melekat pada Clara. Budi menelan ludah, tangannya yang kasar menyentuh gagang pintu, mendorongnya pelan. Ia masuk tanpa mengetuk, suaranya rendah dan percaya diri. "Tuan, Nyonya... saya cuma mau cek kalau ada yang dibutuhkan malam ini."

Di dalam kamar, suasana terasa berbeda. Tempat tidur mewah king-size dengan seprai sutra putih mendominasi ruangan, dikelilingi furnitur minimalis berwarna netral—lemari built-in, meja rias dengan cermin besar, dan sofa kulit di sudut. Henry berdiri di dekat pintu, mengenakan boxer longgar hitam yang menempel longgar di tubuhnya yang agak gemuk. Wajahnya tenang, senyum tipis menghiasi bibirnya, mata cokelatnya menatap Budi dengan tatapan yang penuh arti. "Masuk aja, Budi," katanya pelan, suaranya datar tapi penuh otoritas. Ia menepuk bahu Budi lagi, gerakan yang kini terasa seperti inisiasi ritual. "Malam ini, Nyonya lagi pegal badan setelah hari yang panjang. Kamu kan ahlinya pijat. Bantu dia, ya? Jangan sungkan."

Clara duduk di tepi tempat tidur, nightgown sutra hitam tipis menempel di tubuhnya yang ramping. Rambut hitam panjangnya terurai acak-acakan, membingkai wajah cantiknya yang memerah. Matanya yang almond melebar karena terkejut, tapi ia tak protes. Tubuhnya, setinggi 167 cm dengan lekuk sempurna—payudara penuh, pinggang ramping, dan pinggul lebar—terasa tegang di bawah kain tipis itu. Ia meremas ujung nightgown dengan tangan gemetar, konflik internalnya terlihat jelas: bibir merahnya tergigit, antara rasa malu sebagai socialite dan hasrat yang mulai menyala. "Henry... ini..." gumamnya pelan, tapi suaminya hanya menggeleng pelan, duduk di sofa sambil mengambil tabletnya, berpura-pura membaca.

Budi menutup pintu di belakangnya, ruangan terasa lebih hangat sekarang. Aroma minyak pijat lavender yang sudah disiapkan Henry di meja samping mulai menyebar, bercampur dengan bau samar kelembapan tubuh Clara setelah mandi malam. Ia mendekati tempat tidur, duduk di tepi dekat Clara, jarak mereka hanya beberapa senti. Tubuh Budi yang kurus tapi berotot—tinggi 170 cm, kulit sawo matang kasar dari kerja lapangan—kontras dengan kehalusan Clara. "Nyonya, rileks aja," katanya dengan suara kasar tapi penuh keyakinan. Tangan kasarnya menyentuh telapak kaki Clara yang halus, jempolnya menekan pelan ke telur kaki, memijat dengan tekanan yang pas.

Clara menghela napas pelan, tubuhnya sedikit menggeliat. Sentuhan Budi berbeda dari Henry—lebih kuat, lebih kasar, seperti tangan pria yang terbiasa bekerja keras. Ia melirik suaminya di sofa, Henry yang hanya mengangguk kecil, mata setengah terpejam tapi jelas mengawasi. "Cukup, Budi... ini tidak pantas," gumam Clara, suaranya lemah, tapi tangannya tak mendorong. Napasnya mulai cepat, paha dalamnya sedikit terbuka tanpa sadar, merasakan panas yang mulai menyebar di perut bawahnya.

Budi tak berhenti. Ia tuang sedikit minyak ke tangannya, aroma lavender pekat memenuhi udara. Dari kaki, pijatannya naik ke betis Clara—kulit mulusnya terasa seperti sutra di bawah jari-jarinya yang kasar. Ia rasakan getaran halus di otot-ototnya, Clara yang mencoba menahan reaksi. "Nyonya pegalnya di mana? Biar saya urus," bisik Budi, matanya tak lepas dari lekuk paha Clara yang terlihat samar di bawah nightgown. Henry dari sofa campur tangan pelan: "Biarkan saja, Sayang. Budi bisa bantu lebih baik daripada aku malam ini." Kata-kata itu seperti pemicu, Clara melirik Henry dengan tatapan campur aduk—marah karena merasa dikhianati, tapi lega karena hasratnya tak lagi sendirian.

Escalation berlanjut lambat, seperti api yang dinyalakan pelan-pelan. Tangan Budi naik ke paha Clara, jarinya menyusuri kulit lembut itu, merasakan panas yang naik dari tubuhnya. Gesekan kain sutra nightgown menghasilkan suara halus, bercampur dengan napas tersengal Clara. Ia meremas paha dalamnya pelan, jempolnya hampir menyentuh pinggiran celana dalam hitam renda yang menempel basah. Clara mengerang kecil, tak bisa ditahan lagi. "Budi... stop..." katanya, tapi suaranya seperti permohonan sebaliknya. Budi tersenyum tipis, keyakinannya meledak. Ia rasakan kontolnya mengeras di balik celana, tapi ia fokus pada Clara—wanita cantik yang selama ini hanya ia pandang dari jauh.
Dari perspektif Clara, dunia terasa berputar. Ia bergulat dengan pikirannya: Bagaimana bisa aku, istri direktur perusahaan besar, membiarkan satpam seperti Budi menyentuhku begini? Dia seenaknya masuk ke kamar pribadiku. Henry, apa yang kau lakukan? Tapi kenikmatan itu nyata—sentuhan Budi yang percaya diri, tangan kasarnya yang menekan titik-titik sensitif, membuat memeknya basah, cairan hangat merembes ke celana dalamnya. Aroma keringat Budi yang maskulin bercampur parfumnya sendiri, menciptakan campuran yang memabukkan. Ia pejamkan mata, membiarkan tangan Budi naik lebih tinggi, ke pinggulnya, menekan pelan di bawah nightgown.

Henry, dari sofa, merasakan kontolnya tegang di balik boxer. Ia nikmati ini—voyeurism yang ia kendalikan sepenuhnya. Kamera tersembunyi di pojok plafon merekam semuanya, tapi ia tak perlu rekaman; ingatannya cukup. Ia beri isyarat halus ke Budi dengan anggukan kecil, mendorongnya untuk lanjut. Budi tangkap isyarat itu, berbisik ke Clara: "Nyonya cantik sekali... Tuan pasti senang kalau saya bantu puasin Nyonya malam ini." Kata-kata kasar itu menambah ketegangan class difference—Budi yang dari kalangan bawah merasa naik kelas, Clara yang elit mulai menyerah pada fantasi terlarangnya.

Clara bangkit sebentar, berpura-pura untuk minum air dari gelas di meja samping. Tapi Budi ikut berdiri, tangannya menyentuh punggungnya 'secara tak sengaja', jarinya menyusuri tulang belakangnya. Puting Clara mengeras, terlihat jelas melalui kain tipis nightgown. Ia tersentak, tapi tak mundur. Henry tersenyum dari sofa: "Lihat, Sayang? Budi lebih perhatian daripada aku." Ini memperdalam dinamika cuckold—Henry rela 'kalah' untuk fetishnya, menikmati rasa sakit manis saat melihat istrinya tergoda.

Pijatan berlanjut dengan Clara telungkup di tempat tidur. Nightgown tergeser, memperlihatkan pantat bulatnya yang mulus, kulit putih kontras dengan tangan sawo matang Budi. Ia tuang lebih banyak minyak, tangannya merayap ke sisi payudaranya saat memijat bahu, jarinya menyentuh puting samping secara 'tak disengaja'. Clara mengerang sungguhan, tubuhnya menggeliat, memeknya berdenyut saat jari Budi menyusuri tulang pinggangnya. Suara derit tempat tidur halus, napas berat Budi bercampur erangan Clara, aroma minyak dan keringat memenuhi ruangan.

Henry mendekat, duduk di sisi lain tempat tidur, tangannya memegang tangan Clara sebagai 'dukungan'. "Rileks, Sayang," bisiknya, tapi matanya pada Budi, penuh persetujuan. Budi berani lebih: ia balikkan tubuh Clara, memijat perutnya yang rata, tangannya turun ke selangkangan—menekan pelan di atas kain celana dalam, merasakan kebasahan yang merembes. Clara pejamkan mata, erangannya lebih keras: "Henry... ini salah... oh..." Tapi Henry balas: "Tidak, Sayang. Ini yang kita butuh. Biarkan Budi mengurusmu."

Ketegangan mencapai puncak. Kontol Budi kini tegang penuh, tonjolan jelas di celananya. Clara, hasratnya membara, menyentuhnya secara impulsif—tangan gemetar meraih melalui celana budi, meremas pelan. Budi mendesis, pinggulnya maju sedikit. Ia buka resleting celananya, kontolnya yang panjang dan tebal—berbeda dari Henry yang lebih pendek—muncul, urat-uratnya menonjol. Clara pegang itu, tangannya naik-turun pelan, handjob yang ragu tapi penuh gairah. Kulit kontol Budi kasar di telapak halus Clara, precum mulai menetes, membuat gerakannya licin.

Budi mengerang rendah, tangannya kini menyusup ke nightgown Clara, jarinya menyentuh memeknya melalui celana dalam basah. Ia gosok klitorisnya pelan, membuat Clara melengkung, erangannya memenuhi kamar. Henry amati, kontolnya tegang tapi ia tahan, menikmati kontrolnya. Tapi tiba-tiba, ia bangkit. "Cukup, Budi," katanya tegas, suaranya memotong udara. "Keluar sekarang. Aku mau ngentot Clara malam ini."

Budi tersentak, tangannya berhenti. Wajahnya memerah kesal, matanya menyipit ke Henry. Kenapa sekarang? Aku yang bikin dia basah begini, pikirnya, benih pembangkangan muncul—ia merasa lebih pantas menyentuh Clara, lebih kuat, lebih memuaskan. Tapi ia patuh, tarik kontolnya dari genggaman Clara, resleting celananya dengan tangan gemetar. "Ya, Tuan," gumamnya, suaranya datar. Ia bangkit, keluar kamar dengan langkah berat, pintu tertutup di belakangnya.

Di koridor gelap, Budi berhenti, tinjunya mengepal. Kesalnya membara, tapi ia kembali ke posnya, pikiran penuh rencana. Di kamar, Clara mengerang saat Henry naik ke atasnya, tapi bayangannya masih pada Budi. Malam itu, ketegangan baru lahir—bukan hanya erotis, tapi juga pemberontakan yang diam-diam.

Benih Pemberontakan yang Tumbuh

Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui tirai tipis di pos satpam Budi, membangunkannya dari mimpi yang penuh bayangan Clara. Tubuhnya terasa berat, kontolnya masih setengah tegang mengingat malam sebelumnya—pintu kamar utama yang terbuka lebar, Clara di tepi tempat tidur dengan nightgown transparan yang menempel di kulitnya yang lembab, dan Henry yang gagal memuaskannya. Budi bangun, mengusap wajahnya yang kasar, merasa amarah dan hasrat bercampur jadi satu. Kenapa Tuan selalu interupsi? Aku yang bikin Nyonya bergairah, pikirnya sambil berdiri, otot-otot lengannya menegang saat ia meregangkan badan. Ia ingat sensasi tangan Clara yang hangat membelai kontolnya kemarin dan bagaimana Henry memerintahkannya pergi begitu saja. Itu membuatnya kesal, tapi juga semakin yakin: Ia lebih pantas untuk Clara.

Budi membersihkan posnya dengan gerakan cepat, menyapu lantai kayu yang mengkilap dan menyusun seragamnya. Bau kopi segar dari dapur utama mansion menyusup masuk melalui jendela terbuka, membuat perutnya keroncongan. Ia bisa membayangkan Clara di sana, rambut panjang hitamnya diikat asal, gaun rumah mewah simple yang menempel di lekuk tubuhnya yang sempurna—payudara penuh, pinggul lebar, dan kaki panjang yang selalu membuatnya ingin meraba. Kontolnya mengeras lagi saat ia ingat bagaimana Clara mengerang pelan saat tangannya memijat kakinya, jari-jarinya menyusup ke sela-sela pahanya. Hari ini, aku nggak akan tunggu perintah Tuan, gumamnya dalam hati, merasa benih pemberontakan mulai tumbuh di dadanya.

Di dapur, Clara berdiri di depan kompor, mengaduk telur orak-arik dengan tangan yang sedikit gemetar. Malam sebelumnya masih menghantuinya: Henry yang masuk ke dalam memeknya dengan dorongan lemah, keluar terlalu cepat, dan Budi yang mengintip dari pintu. Tapi yang paling membuatnya gelisah adalah ingatan tangan Budi yang kasar tapi kuat, bagaimana kontolnya terasa begitu besar di genggamannya, berdenyut panas dan siap meledak. Aku istri Henry, kenapa aku basah memikirkan Budi? Ia menggelengkan kepala, mencoba fokus pada aroma mentega yang meleleh, tapi memeknya sudah mulai lembab, celana dalamnya menempel tidak nyaman. Henry sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, meninggalkannya sendirian di rumah yang mewah ini—hanya dengan Budi, satpam yang semakin berani itu.

Clara melirik jam dinding; sudah pukul sembilan. Ia ingat pesan Henry semalam: Biarkan Budi bantu kamu hari ini. Aku ingin lihat. Tapi Clara tak tahu tentang kamera tersembunyi yang Henry pasang di sudut dapur, lensa kecil yang menangkap setiap gerakannya melalui app di ponsel suaminya. Ia hanya merasa kesepian, dan bagian dirinya yang gelap ingin sentuhan lagi.

Budi keluar dari posnya, langkahnya mantap menuju dapur. Ia melihat Clara dari balik pintu, punggungnya yang ramping membungkuk sedikit saat mengangkat panci berat. Peluang sempurna. "Nyonya, butuh bantuan?" tanyanya dengan suara rendah, mendekat tanpa menunggu jawaban. Clara tersentak, hampir menjatuhkan panci, tapi senyumnya muncul cepat untuk menutupi kegelisahannya.

"Oh, Budi. Iya, tolong angkat ini ke meja," katanya, suaranya lembut tapi ada getar di ujungnya. Budi mendekat, tubuhnya yang berotot menyenggol pinggul Clara saat ia mengambil panci. Sentuhan itu sengaja, dan Clara merasakannya—panas dari kulit Budi melalui kain tipis gaunnya. Pinggulnya terasa panas, dan ia tak mundur, malah membiarkan Budi berdiri dekat, aroma keringat maskulin paginya bercampur dengan sabun murah yang ia pakai, membuat napas Clara tersengal.

Budi meletakkan panci di meja, tapi tangannya tak langsung lepas. Jari-jarinya menyentuh punggung Clara pelan, mengelus kain gaun yang tipis itu. "Nyonya kelihatan capek. Malam tadi... saya nggak bisa lupain tangan Nyonya di kontol saya," bisiknya, suaranya kasar dan penuh hasrat. Clara memerah, matanya melebar, tapi ia tak menepis tangan itu. Malah, ia merasakan memeknya berdenyut, cairan hangat mulai mengalir.

"Budi, jangan bilang gitu. Ini salah," gumamnya, tapi suaranya lemah, matanya melirik tonjolan di celana Budi yang sudah mengeras. Budi tersenyum tipis, tangannya naik ke bahu Clara, memijat pelan. "Nyonya pegal kan? Biar saya pijat sebentar." Clara mengangguk ragu, membiarkan Budi memutar tubuhnya menghadap meja. Tangan kasar Budi menekan bahunya, jempolnya menggosok otot-otot yang tegang, turun pelan ke punggungnya. Clara mengerang pelan, "Ah... enak, Budi. Terusin."
Di kantor, Henry duduk di balik meja besarnya, ponsel di tangan menampilkan feed live dari kamera dapur. Ia melihat semuanya: Bagaimana Budi mendekati Clara, sentuhan pertama itu, dan erangan istrinya. Kontol Henry mengeras di balik celananya, ia membuka resleting pelan dan mulai mengocoknya dengan tangan gemetar. "Bagus, Budi... buat dia minta lebih," bisiknya pada dirinya sendiri, mata tak lepas dari layar. Rasa cemburu manis itu membuatnya bergairah, tapi ia tahu harus mengontrol. Ia ketik pesan cepat ke Budi: Jangan terlalu jauh hari ini. Nanti malam lanjut.

Budi merasakan getar ponsel di sakunya, tapi ia abaikan. Kenapa Tuan selalu atur? pikirnya kesal, tangannya turun lebih rendah, meremas payudara Clara melalui gaun tipis itu. Putingnya mengeras di bawah telapak tangannya, dan Clara menggeliat, "Budi... oh, jangan..." Tapi tubuhnya tak menolak; malah, ia condong ke belakang, punggungnya menempel di dada Budi yang keras. Budi berani lebih, tangan satunya menyusup ke depan gaun Clara, jari-jarinya menelusuri perut halusnya turun ke pinggul, lalu ke celana dalam yang sudah basah.

"Nyonya basah banget," gumam Budi, jarinya menyentuh bibir memek Clara melalui kain tipis, menggosok klitoris yang bengkak. Clara mengerang lebih keras, tangannya mencengkeram meja, kakinya melebar sedikit. "Budi... ah... stop, Henry bisa tahu..." Tapi kata-katanya kosong; memeknya berdenyut saat jari Budi menyusup masuk, merasakan kehangatan dan kelembaban di dalam. Ia gosok pelan, gerakannya kasar tapi tepat, membuat Clara menggigil. Orgasme kecil datang tiba-tiba—tubuhnya menegang, cairan hangat membasahi jari Budi, erangannya tertahan di tenggorokan.

Budi tarik jarinya, menjilatnya pelan, rasa asin-manis memek Clara membuat kontolnya berdenyut sakit di celananya. "Nyonya enak rasanya," katanya, suaranya penuh kemenangan. Clara berbalik, wajahnya merah dan napas tersengal, tapi ada kilau hasrat di matanya. "Kamu terlalu berani, Budi. Pergi sekarang, sebelum Henry pulang."

Budi tersenyum, tapi di dalam hatinya, amarahnya terhadap Henry semakin membara. Ia tinggalkan dapur, kembali ke posnya, tapi pikirannya penuh rencana. Saat istirahat siang, ia lihat Clara keluar ke taman belakang, duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang. Peluang lagi. Budi mendekat, "Nyonya, kakinya pegal? Biar saya pijat di sini, sepi kok."

Clara ragu, tapi mengangguk. Ia angkat kakinya ke pangkuan Budi, telanjang kaki setelah sepatu rumahnya dilepas. Tangan Budi mulai memijat telapak kakinya, jari-jarinya kuat menekan titik-titik tegang. "Enak, Budi... lebih dalam," desah Clara, matanya setengah tertutup. Budi naikkan pijatannya ke betis, lalu paha, hembusan napas panasnya menyentuh kulit sensitif Clara. Ia condong dekat, mulutnya hampir menyentuh jari kaki Clara, lalu ia hisap pelan satu jari, lidahnya melingkar di sekitar itu.

Clara menggeliat, "Budi... oh Tuhan, itu..." Sensasi basah dan hangat dari mulut Budi membuat memeknya berdenyut lagi, cairan baru mengalir. Ia pegang rambut Budi, tarik pelan tapi tak benar-benar menolak. "Kamu cuma satpam, Budi. Ini nggak boleh..." gumamnya, tapi suaranya penuh keinginan. Budi mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu. "Nyonya butuh pria beneran, bukan yang cuma nonton," katanya tegas, suaranya rendah dan menantang. Clara tersentak, tapi tak menjawab; malah, ia biarkan Budi lanjut, mulutnya pindah ke jari kaki yang lain, hisapannya lebih dalam.

Malam tiba lebih cepat dari yang diharapkan. Henry pulang dengan senyum lebar, pura-pura tak tahu apa yang terjadi siang tadi. Ia tarik Clara ke kamar utama, "Sayang, pijatan rutin yuk. Panggil Budi." Clara patuh, meski hatinya berdebar. Budi masuk tanpa ragu, pintu ditutupnya pelan. Kamar mewah itu terasa lebih panas malam ini—lampu redup, aroma lilin vanila, dan tempat tidur king-size yang mengundang.

Henry duduk di sofa sudut, seperti biasa, sementara Budi dekati Clara yang sudah duduk di tepi tempat tidur, nightgown tipisnya hampir transparan. "Nyonya, lepasin bajunya," perintah Budi, suaranya lebih dominan dari biasanya, Henry sedikit kaget dengan hal itu. Clara patuh, tarik nightgown ke atas, payudaranya yang penuh terpapar, puting coklatnya mengeras di udara dingin. Budi menelan ludah, tangannya meraih payudara itu, meremas keras sambil jempolnya gosok puting. Clara mengerang, "Ah... Budi..."

Ia dorong Clara telentang, lidahnya turun ke lehernya, menjilat pelan turun ke dada. Mulutnya hisap puting kiri, gigit pelan, sementara tangan kanannya turun ke memek Clara, jari-jarinya menyusup masuk, keluar-masuk dengan ritme cepat. Memek Clara basah kuyup, suara cipratan cairannya memenuhi kamar mewah itu. "Nyonya ketat banget... enak," desah Budi, jarinya tambah satu lagi, gosok dinding dalam yang sensitif. Clara jerit kenikmatan, pinggulnya naik menyambut, lupa bahwa Henry ada di sana.

Budi bangun, buka celananya, kontolnya yang besar dan berurat melompat keluar, kepalanya mengkilap karena precum. Ia pegang rambut Clara, dorong pelan ke arahnya. "Hisap, Nyonya." Clara buka mulut, bibir lembutnya membungkus kepala kontol Budi, lidahnya melingkar di sekitar itu. Budi dorong lebih dalam, rasakan tenggorokan Clara yang hangat, air liur menetes dari sudut mulutnya. Ia pompa pelan, tangannya pegang kepala Clara, "Bagus, Nyonya... hisap lebih dalam."

Henry amati dari sofa, tangannya di kontolnya sendiri, mengocok cepat karena horny dan cemburu. Ini yang dia inginkan, melihat Clara, istrinya yang cantik dan seksi di sentuh oleh pria kalangan rendah di kamarnya sendiri. Tapi saat Budi mulai mendekati klimaks—kontolnya berdenyut di mulut Clara—Henry bangun. "Cukup, Budi. Sekarang giliran aku." Suaranya tegas, meski ada getar cemburu. Budi tarik keluar dengan kesal, air liur Clara menetes panjang dari kontolnya yang basah. Ia pandang Henry dengan mata menyipit, tapi patuh keluar kamar, pintu ditutupnya dengan keras dan untuk beberapa saat Henry sedikit ketakutan.

Di posnya, Budi duduk dalam gelap, tangannya pegang kontolnya yang masih tegang, mengocok kasar sambil bayangkan Clara. Besok, aku ambil sendiri. Tanpa perintah Tuan. Sementara di kamar, Henry masuk ke memek Clara yang masih basah karena Budi, dorongannya lemah seperti biasa. Clara mengerang, tapi dalam hati, ia berbisik nama Budi, hasratnya tak terpuaskan.

Tapi Budi tak tahu, saat ia rencanakan pemberontakannya, ia temukan app aneh di ponsel lama Henry yang dia terima sebagai reward—aplikasi kamera CCTV yang lupa Henry uninstall sebelum diberi ke Budi. Senyum licik muncul di wajahnya. Besok, giliran ia yang mengontrol.

Perintah Nyonya

Pagi itu, sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis kamar utama yang mewah, membangunkan Clara dari tidurnya yang gelisah. Ranjang king-size dengan seprai sutra putih yang lembut masih berantakan dari malam sebelumnya, bau keringat dan aroma seks samar-samar menempel di udara. Clara membuka mata perlahan, rambut hitam panjangnya yang bergelombang tersebar di bantal empuk. Tubuhnya yang ramping, setinggi 167 cm, terasa lelah tapi lapar akan sesuatu yang lebih. Payudaranya yang montok naik-turun dengan napasnya yang dalam, putingnya mengeras karena angin sepoi-sepoi dari AC yang berdengung pelan.

Dia melirik ke samping, di mana Henry masih mendengkur pelan. Suaminya yang berusia 34 tahun itu, dengan tubuhnya yang agak gemuk dan tinggi 165 cm, terlihat lelah setelah upaya sia-sianya semalam. Kontol Henry yang kecil dan lemas kini tersembunyi di balik celana boxer kusutnya. Clara menghela napas panjang, tangannya tanpa sadar merayap ke bawah perutnya yang rata, menyentuh memeknya yang masih sedikit bengkak dari sesi masturbasi sendirian tadi malam. Ingatan tentang Budi—satpam mereka yang kasar, berotot meski kurus, dengan kontol tebal yang pernah menyentuhnya—membuat cairan hangat mulai mengalir lagi dari lubangnya yang ketat.

"Kenapa harus begini terus?" gumam Clara dalam hati. Dua tahun pernikahan dengan Henry, pria kaya yang mengelola perusahaan besar, seharusnya membawa kemewahan dan kepuasan. Rumah minimalis mewah mereka, dengan dinding kaca yang menghadap taman luas, furniture impor dari Italia, dan kamar utama yang seperti suite hotel bintang lima, semuanya sempurna. 

Tapi di ranjang ini, Henry selalu gagal. Kontolnya yang pendek tak pernah cukup mengisi kekosongan di dalam dirinya. Clara, socialite berusia 28 tahun yang biasa menghadiri pesta mewah, kini merasa seperti tahanan dalam sangkar emas—dan kunci pembebasannya adalah Budi, anak office boy Henry yang kini jadi satpam pribadi mereka atau lebih tepatnya orang asing yang seenaknya keluar masuk ke kamar pribadinya yang mewah?

Clara bangun pelan, kakinya yang panjang dan mulus menyentuh lantai marmer dingin. Dia berjalan ke cermin besar di depan lemari pakaian, memandang tubuhnya yang seksi: pinggul lebar yang menggoda, pantat bulat yang kencang, dan memek berbulu tipis yang kini basah hanya dengan memikirkan tangan kasar Budi. "Aku butuh dia. Bukan lagi pijat atau oral—aku mau dia entot aku habis-habisan." Pikiran itu membuat jantungnya berdegup kencang. Selama ini, dia pasif, membiarkan Henry mengatur permainan cuckold-nya. Tapi sekarang, hasratnya meledak. Clara tak lagi peduli dengan perbedaan status sosial; Budi, dengan kulitnya yang gelap dan otot lengan yang menonjol dari pekerjaan kasar, terasa lebih nyata, lebih kuat.

Di dapur bawah, aroma kopi segar sudah mengepul dari mesin espresso otomatis. Henry sudah bangun lebih dulu, duduk di meja marmer hitam dengan koran pagi di tangan. Dia tersenyum saat melihat Clara masuk, mengenakan robe sutra tipis yang hampir transparan, memperlihatkan lekuk tubuhnya. "Pagi, sayang. Tidur nyenyak?" tanyanya, suaranya lembut tapi ada nada gugup yang tersembunyi.

Clara duduk di seberangnya, menuang kopi hitam panas ke cangkirnya. Uapnya naik, membasahi bibirnya yang merah alami. Dia menatap Henry tajam, tak lagi malu-malu. "Tidak, Henry. Aku gak puas. Semalam lagi-lagi kamu keluar terlalu cepat. Aku butuh lebih." Kata-katanya tegas, membuat Henry menelan ludah. Kontolnya di balik celana piyama mulai berdenyut, campuran antara cemburu dan kegembiraan.

"Lebih? Maksudmu... Budi lagi?" Henry bertanya, suaranya bergetar. Dia yang memulai ini semua—memecat semua pembantu, memilih Budi sebagai satu-satunya pria di rumah untuk memuaskan fetish cuckold-nya. Kamera tersembunyi di kamar utama, app di ponselnya untuk memantau, semuanya dirancang agar dia bisa mengontrol. Tapi Clara yang memerintah? Itu baru.

Clara mengangguk, tangannya meraih tangan Henry di atas meja. "Ya. Malam ini, aku mau dia entot aku di ranjang kita. Bukan di sofa atau kamar mandi, di kamar pribadi kita. Kamu jemput dia, bawa ke kamar kita, dan kamu nonton aja dari sofa. Jangan ikut campur." Perintahnya dingin, tapi matanya berbinar hasrat. Henry merasa kontolnya mengeras penuh, tapi ada tusukan di dada—humiliation yang dia idamkan, tapi lebih dalam kali ini.

"Baik, Clara. Aku... aku akan lakukan," jawab Henry patuh, suaranya serak. Dia membayangkan adegan itu: istrinya yang cantik, telanjang di ranjang empuk, dibentur oleh Budi yang kasar. "Tapi... pastikan dia nggak terlalu..." Clara memotongnya dengan tatapan tajam. "Terlalu apa? Terlalu kasar? Itu yang aku mau, Henry. Kamu tak pernah bisa begitu. Sekarang, pergi kerja. Biar aku urus yang lain."

Hari itu berlalu dengan lambat bagi Clara, tapi penuh ketegangan erotis yang membara. Setelah Henry pergi ke kantor dengan mobil Bentley-nya, Clara berpakaian sederhana tapi menggoda: tank top putih ketat yang memperlihatkan belahan payudaranya yang dalam, dan celana pendek denim yang memamerkan paha mulusnya. Dia keluar ke taman belakang, di mana Budi sedang menyiram tanaman. Satpam berusia 25 tahun itu, dengan tubuh kurus tapi berotot dari masa mudanya yang nakal di jalanan, mengenakan seragam hitam sederhana yang basah keringat di dada. Rambutnya pendek acak-acakan, wajahnya jelek—bukan tampan seperti model, tapi ada kekuatan liar di matanya.

"Budi, tolong bantu angkat pot bunga ini ke teras," kata Clara, suaranya manis tapi ada nada perintah. Budi mendongak, matanya langsung tertarik ke payudara Clara yang bergoyang saat dia bergerak. "Ya, Nyonya," jawabnya sopan, tapi senyum tipis di bibirnya menunjukkan kepercayaan diri yang tumbuh sejak aksesnya ke kamar utama. Dia mendekat, tangan kasarnya menyentuh pinggang Clara saat mengambil pot besar itu—sentuhan yang disengaja, membuat Clara merinding.

Pot itu berat, tapi Budi mengangkatnya dengan mudah, otot lengannya menonjol. Clara berjalan di depannya, sengaja menggoyangkan pantatnya. Saat mereka sampai di teras, Clara berpura-pura tersandung, jatuh ke pelukan Budi. Tubuhnya menempel erat—payudaranya menekan dada Budi yang keras, memeknya merasakan tonjolan kontol Budi yang mulai mengeras di celananya. "Maaf, Budi... tanganmu kuat sekali," bisik Clara, napasnya hangat di leher Budi.

Budi menahan napas, tangannya meremas pinggul Clara sebentar sebelum melepaskan. "Nyonya hati-hati. Kalau butuh bantu lagi, bilang aja." Matanya menelusuri tubuh Clara, ingat betapa enaknya memijat kakinya, menyentuh kulit halusnya. Sejak kejadian sebelumnya, benih pemberontakan tumbuh di hatinya—dia merasa berhak atas lebih dari sekadar pijat.


Siang harinya Clara kembali memanggil Budi untuk mencuci mobil di garasi. Mobil Mercedes miliknya terparkir rapi dengan bodi yang sudah mengilap sejak pagi. Budi berdiri di samping mobil lalu menyemprotkan air bertekanan tinggi ke bagian luar hingga air mengalir ke lantai garasi. Clara duduk di kursi penumpang depan dengan pintu terbuka. Kakinya terulur santai dan celana pendek yang ia kenakan sedikit naik karena posisinya. Ia memperhatikan Budi bekerja tanpa banyak bicara.

“Budi, tolong lap bagian dalamnya juga,” ucap Clara dengan nada ringan.

Budi mengangguk lalu masuk ke dalam mobil sambil membawa kain lap. Ia mulai membersihkan dashboard dan bagian pintu dengan hati hati. Saat ia membungkuk untuk menjangkau bagian bawah, Clara sedikit condong ke arahnya sehingga jarak mereka terasa dekat dan payudaranya yang sintal menyenggol lengan Budi.

“Malam ini kamu bakal dapat lebih dari kemarin. Bisik Clara pelan tanpa menatap langsung. Tangannya sempat menyentuh paha Budi sejenak lalu ia kembali bersandar seolah tidak terjadi apa apa. Seketika suasana di dalam garasi pun menjadi hening dan hanya terdengar suara kain yang bergesek pada permukaan mobil.

Budi tersentak, kontolnya langsung tegang penuh di celana ketatnya. "Nyonya... maksudnya?" tanyanya, suaranya parau. Clara tersenyum misterius. "Nanti malam, di kamar utama. Henry bakal jemput kamu." Kata-kata itu membuat Budi bergidik—dia tahu Henry mengontrol semuanya via kamera, tapi sekarang Clara yang inisiatif? Itu bikin dia merasa kuat, seperti raja di istana orang kaya ini.

Sementara itu, di kantor, Henry duduk di ruangannya yang luas, ponsel di tangan. App kamera menunjukkan Clara dan Budi di garasi—dia melihat sentuhan itu, mendengar bisikan. Kontolnya berdenyut di balik meja, tapi ada cemburu yang menggerogoti. "Clara... kamu benar-benar menginginkannya," gumamnya, tangannya meremas mouse. Dia kirim pesan ke Budi: "Malam ini jam 9, siap bantu Nyonya di kamar utama." Budi balas singkat: "Ya, Tuan."

Sore menjelang, Budi tak tahan. Di pos jaga kecilnya, dia buka app kamera yang dia temukan di ponsel bekas Henry—rahasia yang dia simpan semenjak Henry memberinya reward ponsel bekasnya. Layar menunjukkan kamar mandi utama: Clara sedang mandi, air mengalir di tubuh telanjangnya. Payudaranya basah mengkilap, puting coklatnya mengeras. Tangan Clara merayap ke memeknya, jarinya menggosok klitoris sambil mata tertutup, mulutnya menggumam, "Budi... entot aku..." Budi mengocok kontolnya yang tebal, urat-uratnya menonjol, sambil menonton. Cairan pra-ejakulasinya menetes, bayangan memek Clara yang basah membuatnya hampir muncrat. "Nyonya milikku nanti," pikirnya, pemberontakan semakin kuat.

Malam tiba dengan cepat. Langit gelap di luar jendela kaca besar kamar utama, lampu kristal di langit-langit memancarkan cahaya lembut ke ranjang mewah yang menjadi pusat segalanya. Seprai sutra putih baru diganti Clara, bantal-bantal empuk ditata rapi, dan aroma lavender dari diffuser memenuhi udara. Clara sudah telanjang, berbaring di ranjang dengan kakinya terbuka lebar. Memeknya yang cantik, bibirnya merah muda dan basah, berkilau di bawah cahaya. Payudaranya naik-turun dengan napas cepat, putingnya tegak seperti undangan.

Henry masuk kamar pukul sembilan tepat, wajahnya pucat tapi mata berbinar. "Clara, aku... aku sudah jemput Budi." Pintu terbuka, dan Budi masuk, mengenakan kaos hitam ketat dan celana pendek yang memperlihatkan otot pahanya. Matanya langsung tertuju ke Clara yang telanjang, kontolnya langsung mengeras melihat tubuh seksi Nyonya-nya.

"Tuan, Nyonya," sapa Budi sopan, tapi sikapnya lebih dominan—dia tak lagi menunduk seperti dulu. Clara bangun, berjalan ke arahnya dengan pinggul bergoyang. "Budi, entot aku sekarang. Keras, seperti yang aku butuhin. Jangan pelan-pelan." Perintahnya tegas, tangannya meraih kontol Budi melalui celana, meremasnya kuat.

Henry mundur ke sofa kulit di sudut kamar, duduk dengan tangan gemetar. "Nonton aja, Henry," kata Clara tanpa menoleh. "Ini ranjang kita, tapi malam ini untuk dia." Budi tidak menunggu lagi. Dia dorong Clara kasar ke ranjang, seprai sutra bergoyang saat tubuh Clara jatuh terlentang. Tangan kasarnya merobek sisa pakaiannya sendiri, kontol tebalnya—panjang 18 cm—melompat keluar, kepalanya merah dan basah.

Budi naik ke ranjang mewah itu, lututnya menekan kasur empuk, kontras dengan kasurnya di pos satpam atau bahkan di kampungnya dulu. Dia pegang paha Clara lebar-lebar, jarinya kasar menggaruk kulit halusnya. "Nyonya mau yang kasar? Baik," geramnya, suaranya rendah seperti binatang. Mulutnya langsung menyerbu payudara Clara, menggigit puting kiri keras sampai Clara jerit kesakitan campur nikmat. "Ahh! Budi... ya!" erang Clara, tangannya meremas rambut Budi.

Budi tak berhenti. Tangannya turun, jari telunjuk dan tengah tusuk masuk ke memek Clara yang basah, mengaduk kasar. Cairan Clara muncrat keluar, membasahi sprei sutra mahal. "Memek Nyonya basah banget, haus kontol satpam ya?" kata Budi, nada pemberontakannya keluar. Dia tarik jarinya, oleskan di bibir Clara, lalu dorong Clara ke posisi doggy—pantat bulatnya terangkat tinggi, memek dan anusnya terbuka lebar untuk Budi, sedangkan Henry hanya nonton dari sofa di dekat ranjang mewah mereka.

Henry mengocok kontol kecilnya pelan, mata tak berkedip. "Clara... kamu cantik sekali," gumamnya, tapi Clara abaikan. "Lihat, Henry? Ini yang aku mau—pria yang bisa bikin aku menjerit." Budi pegang pinggul Clara kuat, kontolnya tusuk masuk sekaligus ke memeknya yang ketat. "Arghh! Besar... Budi, pompa!" jerit Clara, dinding memeknya meregang penuh oleh tebalnya kontol Budi.

Budi mulai pompa kasar, pinggulnya membentur pantat Clara dengan suara 'plak-plak' keras yang bergema di kamar mewah. Setiap tusukan dalam, kepala kontolnya tabrak serviks Clara, membuatnya menggeliat liar. Keringat Budi menetes ke punggung Clara, bau maskulinnya memenuhi udara lavender. "Ngentot Nyonya enak, Tuan! Memeknya cengkram kontolku kuat," ejek Budi ke Henry, matanya menantang dari cermin dinding.

Clara mengerang tak henti, tangannya cengkeram seprai sutra yang mulai kusut. "Lebih keras, Budi! Remas payudaraku!" Budi patuh, tangan kanannya meraih payudara Clara dari belakang, remas kasar sampai memerah, jempolnya cubit puting. Pompaannya semakin cepat, kontolnya keluar-masuk memek Clara dengan ritme brutal, cairan mereka berceceran ke paha. Ranjang mewah bergoyang, kaki ranjang berderit pelan di lantai marmer.

Mereka ganti posisi—Clara naik ke atas Budi, tapi Budi yang kontrol. Dia dudukkan Clara di pangkuannya, kontolnya tusuk ke atas sambil tangan pegang leher Clara, seperti ancaman dominasi. Clara naik-turun sendiri, memeknya menelan kontol Budi utuh, klitorisnya tergesek batang tebal itu. "Cum di dalam, Budi! Isi memekku!" pintanya, mata liar.

Henry di sofa, tangannya gerak cepat di kontolnya, napas tersengal. Dia lihat jelas: memek istrinya yang cantik diregangkan oleh kontol satpam kasar, keringat mereka bercampur, noda basah menyebar di seprai putih. "Ya... entot dia, Budi," bisik Henry, fetish-nya meledak.

Budi balik Clara lagi, kali ini misionaris kasar. Kakinya diangkat tinggi ke bahu, kontolnya tusuk dalam-dalam, tabrak g-spot Clara berulang. "Nyonya milikku sekarang," geram Budi, gigit bahu Clara meninggalkan bekas. Clara orgasme pertama, memeknya berdenyut kuat, lendir kawinnya muncrat keluar membasahi kontol Budi. "Aku keluaarr !! Buuudi.. uuunghhh.. jaaaangan berhenti!"

Budi memompa kontolnya lebih ganas, tusukan sangat kasar dan penuh tenaga sampai akhirnya dia tak kuat lagi. "Uuunnghh... Saaaaya udaaahh mau keluaarr.. Nyonya!" Dengan raungan panjang kontol hitamnya berdenyut kencang, semprotan sperma panas langsung mengisi memek Clara sampai penuh—creampie taboo yang pertama, cairan putih menetes keluar saat dia tarik pelan. Clara orgasme lagi, tubuhnya kejang di ranjang mewah yang kini penuh noda keringat dan lendir kawin mereka.

Setelah itu, Budi bangun, kontolnya masih setengah keras, basah oleh cairan Clara. Dia pandang Henry menantang. "Tuan, Nyonya puas sekarang." Tanpa tunggu jawaban, dia keluar kamar, meninggalkan pintu terbuka sebentar agar Henry lihat kekacauan.

Clara terbaring lemas, nafasnya berat, kemaluannya terlihat merah dan bengkak, sperma Budi mengalir pelan ke sprei. Henry bangun pelan, kontolnya cum di tangannya sendiri, tapi dia tak peduli. Dia naik ke ranjang, peluk Clara dari belakang. "Kamu luar biasa, sayang," bisiknya, hidungnya hirup bau keringat satpam di sprei sutra yang basah. Mereka tidur begitu, di ranjang mewah penuh noda keringat Budi, benih konflik semakin dalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Jebakan Minimarket 4

Draft Pengantin Brutal 4

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Draft Amarah Para Buruh 23

Amarah Para Buruh 14

Ditunggangi Tukang Becak

Amarah Para Buruh 20

Birahi Seorang Satpam

Amarah Para Buruh 17

Jebakan Minimarket 3