Namaku
Ellen, aku bekerja sebagai receptionist di sebuah perusahaan di kota ini,
untuk membiayai kuliahku di sebuah akademi sekertaris. Dengan struktur
organisasi yang kecil di kantorku, dan masa kerjaku yang lebih dari setahun
membuat tugasku menjadi lebih dari sekedar receptionist saja, aku di ditugasi
oleh bossku untuk memegang sejumlah uang untuk biaya-biaya rutin kantor, tapi
kemudian aku tergoda untuk menggunakan uang kantor tersebut untuk keperluan
pribadiku, meski awalnya hanya sedikit, lama-kelamaan aku mengambil uang
tersebut dalam jumlah yang cukup besar, dan bila di hitung-hitung total
keseluruhan uang yang aku pakai cukup besar juga untuk ukuran seorang
receptionist. Uang kantor yang aku pakai bisa mencapai 40 tahun gajiku sebagai
receptionist.
Awalnya
bossku tidak mengetahui semua itu, karena aku cukup rapi dalam mengelola uang
tersebut, tapi lama kelamaan sepertinya ia curiga juga, bossku adalah seorang
wanita karier yang masih tetap melajang meski usianya sudah mendekati kepala 4.
Watak
dan sikapnya sehari-hari cukup tegas sebagai seorang wanita. Tubuhnya juga
sangat terawat, kebiasaan beliau setiap pagi waktu datang kantornya di lantai 4
adalah menggunakan tangga dengan sedikit berlari, meski ada lift di gedung ini.
Tujuannya
adalah untuk menjaga staminanya tetap fit, begitu katanya sewaktu aku tanya
tentang kebiasannya itu. Ternyata bossku yang bernama Ibu Jessica telah
mencurigai aku menggelapkan sejumlah uang untuk pengeluaran biaya kantor,
sehingga tanpa sepengetahuanku, Ibu Jessica telah memasang kamera pengintai di
atas mejaku, dan mencatat segala pengeluaran kantor yang menjadi urusanku, dan
meng-crosscheck lagi semua pengeluaran itu dengan pihak yang berkaitan dengan
uang tersebut.
Intinya ia telah memiliki bukti-bukti yang cukup akurat dan
lengkap, ditambah lagi dengan bukti rekaman video kamera cctv diatas mejaku
yang tidak aku ketahui selama beberapa bulan telah ditempatkan di atas mejaku,
dan dikamuflasekan dalam sebuah speaker yang biasa mengalunkan musik lembut
bila sudah mendekati dan selama waktu istirahat, bahkan tugaskulah untuk
menjalankan musik lembut itu dari meja operatorku.Ellen |
Tibalah hari itu
aku di pangil ke ruang kerjanya. Awalnya aku hanya ditanya tentang pekerjaanku,
kemudian berlanjut pada masa kerjaku di perusahaan tersebut yang telah mencapai
2 tahun masa kerja.
“Ellen, apakah
kamu punya keluhan?” tanya Bu Jessica padaku.
“Tidak Bu,
semuanya cukup memuaskan.” jawabku.
“Kalau memuaskan
kenapa kamu mencuri uang kantor!?” tanya Bu Jessica yang kini sedikit keras
nada bicaranya. Aku berusaha menyangkal segala tuduhan yang dia lontarkan
padaku, sehingga pada akhirnya dia memperlihatkan rekaman video cctv di atas
mejaku, dan segala berkas-berkas bukti pencatatan cash flow yang aku pegang.
Terutama bukti rekaman video itu yang sangat tidak bisa disangkal lagi.
“Sekarang kamu
masih mau menyangkal lagi?” tanya Bu Jessica.
“Tidak Bu.”
jawabku pelan sambil tertunduk.
“Lalu bagai mana
sekarang? kamu mau aku laporkan ke polisi, biar kamu di hukum dan di penjara,
atau kamu mau mengganti segala kerugian yang telah kamu lakukan?”
Tentu aku tak mau
di laporkan ke polisi, karena akan lebih buruk akibatnya, aku akan di penjara
dengan masa kurungan yang lama, keluargakupun akan malu dan ikut terkena
dampaknya, dan aku pasti akan diharuskan mengganti kerugian yang telah aku
timbulkan dan membayar biaya persidangan, tapi mengganti sejumlah uang yang
telah aku ambil juga bukan perkara gampang. kerugian yang aku timbulkan bila di
total mencapai angka 40 tahun gajiku sebagai receptionist di perusahaan ini,
itupun dengan besaran diatas rata-rata, karena di kantor ini aku di gaji cukup
besar untuk ukuran receptionist.
Mungkin karena
tugasku yang lebih dari sekedar receptionist. sedangkan uang yang aku ambil
sedikitpun tak bersisa, kebanyakan telah aku habiskan untuk membayar kostku
yang kini pindah ke kost yang lebih bagus, untuk membayar biaya kuliahku yang
tak kunjung selesai karena aku jarang kuliah, tapi kebanyakan aku habiskan
untuk foya-foya dan hura-hura dan menyaingi gaya hidup teman temanku yang
rata-rata anak orang berpunya, sedang aku hanya anak dari keluarga yang
kekurangan.
“Aku tidak mau di
penjara, Bu.” jawabku
“Lalu bagaimana?”
tanyanya.
“Aku akan megganti
semua yang telah aku ambil.”
“Mengganti
bagaimana, memangnya kamu punya uang!?”
“Tidak Bu…”
jawabku sambil menunduk.ingin rasanya saat itu aku menghilang, seperti sihir
Harry Potter.
“Lalu bagaimana
kamu bisa menganti jumlah uang yang telah kamu ambil?” tanya Bu Jessica. Aku
hanya terdiam
mendengar
perkataan itu. Kemudian dia melanjutkan “Baik, kalo kamu tidak mau saya
laporkan ke polisi. tapi sebagai gantinya kamu harus menuruti semua perintah
saya, dan harus mengganti uang yang telah kamu ambil dengan cara potong gaji,
sebesar 50% gaji mu. kamu setuju..!?”
“Iya Bu, saya
setuju.” tanpa pikir dua kali aku menyetujui semuanya, karena memang itu jalan
terbaik yang kupunya.
Lalu akupun di sodori
sebuah kertas perjanjian yang isinya mengatakan bahwa aku harus mengganti uang
perusahaan yang telah kuambil dengan cara potong gaji sebesar 50%. dan selain
itu aku harus menataati segala perintah yang diperintahkan padaku, apapun
bentuknya, dimanapun dan kapanpun, apabila aku melanggar perintah, maka aku
setuju untuk menerima hukuman yang diberikan, dan sekalligus hutangku pada
perusahaan akan bertambah 1x gajiku. Sebagai hukuman agar aku tidak lagi
melanggar perintah yang diberikan, dan melaksanakan perintah tersebut
sebaik-baiknya. begitulah kira-kira inti dari perjanjian diatas materai yang
kutanda tangani dan di tambah dengan cap sidik jari.
“Mulai sekarang
kamu harus menaati perintah dan aturan yang aku berikan, mengerti!?” Bu Jessica
bertanya dengan sedikit membentak.
“Mengerti, Bu.”
jawabku.
“Mengerti apa!?”
tanya Bu Jessica lagi akupun mengulang menjawab dengan lebih lengkap.
“Saya mengerti
bahwa saya akan menaati perintah dan peraturan yang Bu Jessica perintahkan pada
saya.”
“Gadis pintar,
mulai sekarang kamu harus menuruti perintah saya.” kata Bu Jessica
“Baik Bu.” jawabku
“Oh iya mulai
sekarang jangan panggil saya dengan sebutan Ibu, panggil saya dengan sebutan
nyonya!” lanjut Bu Jessica.
Ellen
“Baik nyonya!”
kataku dan Bu Jessica pun tertawa mendengar jawabanku itu. aku merasa seperti
sebagai seorang kacung berhadapan dengan majikannya. Memang seperti yang aku
tahu biasanya kacung/pembantu menyebut majikanya dengan sebutan tuan dan nyonya.
“Sekarang serahkan
name tagmu” (kartu identitas di perusahaan) akupun melepaskan name tag ku yang
tergantung di bagian dada sebelah kiri baju atasku, dan memberikanya pada Bu
Jessica yang kini dan seterusnya akan ku panggil dengan sebutan nyonya.
“Ini nyonya…” kataku
halus.
“Sekarang berdiri
lalu buka semua pakaianmu dan berdiri di pojok jendela sana !”
katanya memerintah, aku hanya terdiam shock dengan perintahnya.
“Lakukan atau aku
akan panggil polisi kemari” mendengar kata polisi kembali di sebut, aku sadar bahwa
aku tak punya pilihan lagi. maka kemudian aku berdiri dan mulai melepaskan
bajuku. Dimulai dari blazer, lalu aku melepaskan kemeja putihku, pelan-pelan
kulepaskan satu per satu kancing kancingnya, kutanggalkan bajuku dan
meletakkanya di meja. Kini aku hanya tinggal mengenakan bra hitam ku sebagai
penutup tubuh bagian ataksu. aku berdiri memandang nyonya Jessica yang sambil
sedikit tersenyum dan memandangku.
“Lanjutkan, buka
BHmu” katanya lagi. akupun membuka kaitan BHku di belakang punggungku, dan melepaskan
talinya melalui tangan kanan dan kiriku. Kini aku bertelanjang dada di hadapan
nyonya Jessica, sambil meletakan BH ku di tumpukan bajuku.
“Berapa ukuran
payudaramu” tanya Bu Jessica padaku.
“Tiga dua B
nyonya” jawabku.
“Hmm lumayan
juga, pantas banyak karyawan kantor yang tertarik padamu” lanjutnya lagi.
“Sekarang jawab
dengan jujur, sudah berapa laki laki yang pernah memegang payudaramu itu?” aku
terdiam sejenak, kaget juga aku dengan pertanyaan Bu Jessica itu. Aku malu
untuku menjawabnya, karena sejujurnya aku pernah telanjang di depan teman
laki-laku dan pacarku saat ganti baju di kostku. Bahkan aku sudah tidak perawan
lagi sejak SMU kelas 2.
“Sembilan orang
nyonya” akhirnya aku menjawab
“Wah banyak juga
ya..? memangnya kamu sudah pacaran berapa kali?” lanjutnya
“Aku baru pacaran
4 kali nyonya.”
“Lho 4 kali? Lalu
siapa yang lima orang
lagi?” tanyanya lagi.
“Teman-temanku
yang lain.” jawabku tertunduk.
“Kamu masih
perawan atau sudah bolong..?”
“Saya sudah tidak
perawan lagi nyonya.”
“Wah ternyata kamu
murahan juga ya?” ejek Bu Jessica.
Aku sebenarnya
malu dan keberatan di bilang cewe murahan, tapi aku tak bisa berkata apa-apa di
depan Bu Jessica yang entah kenapa sepertinya aku di bawah kekuasannya, mungkin
karena aku takut dilaporkan ke polisi.
“Sekarang buka
semua bajumu!” katanya.
Aku pun
menurutinya, dan mulai mebuka rok mini ketatku, aku memang suka memakai rok
mini ketat ke kantor, mungkin 15cm di atas lututku, aku memang bangga dengan
pahaku yang mulus, meski betisku kurang begitu bagus menurutku. Aku sedikit
membungkuk sambil mengangkat kaki sebelah kiri dan kemudian kaki kananku untuk
melepaskan rokku, kemudian aku berdiri tegak lagi untuk meletakan rok miniku di
atas meja. tapi aku dikejutkan oleh sinar lampu yang menyilaukan dan sesaat
seperti cahaya kilat. Ternyata ketika ku memandang nyonya Jessica, ia telah
berdiri dan memegang kamera digital di tangan kanannya. Ia telah memfotoku
ketika sedang melepaskan rokku, dan hanya tinggal mengenan celana dalam yg juga
mini, meski tidak bisa di bilang sebagai G-string. Bu Jessica hanya tersenyum,
sambil berkata
“Aku butuh sesuatu
sebagai jaminan, supaya kamu tidak melarikan diri nanti” Ia pun kembali
mengambil gambarku yang masih terdiam berdiri mematung karena shock.
“Senyum….!” perintahnya
dan seperti kerbau di cocok hidung akupun tersenyum ke arah kamera, sambil
terus di foto oleh Bu Jessica.
“Sekarang jalan ke
arah jendela, menghadap ke mari dan sambil lepaskan celana dalammu itu pelan
pelan”
Entah kenapa aku
menuruti kata-katanya, dan berjalan ke arah jendela yang menghadap keluar.
kantor Bu Jessica memang berada di sebuah gedung berlantai 4.
Dari jendela itu
aku bisa melihat ke bawah, terlihat jalan dan kawasan yang merupakan pemukiman
penduduk, anehnya aku merasa seperti seorang model yang sedang difoto oleh
seorang fotografer dan berada di pinggir jendela besar ini membuat aku seolah
berada di luar ruangan, dan perasaan itu membuat jantungku berdebar dan anehnya
lagi, perasan ini membuat aku terangsang dan basah di bagian kewanitaanku.
sekarang dengan latar samping/belakang jendela besar yang menghadap ke luar,
kembali aku difoto oleh Bu Jessica. Aku seperti sedang mempertontonkan
keindahan tubuh dan payudaraku ke masyarakat umum yang ada di bawah sana .
perasaan malu, dipermalukan bercampur dengan perasaan tegang, bagaimana jika
ada yang melihatku, memang gedung kantor ini adalah yang tertinggi di sekitar
kawasan ini. Perasaan itu bercampur dengan perasaan senang, seperti perasaan ku
saat keindahan tubuhku membuat orang di sekitarku memalingkan muka memandang
dengan tatapan kagum dan terpeson bahkan tatapan iri dari wanita lain, semua
perasaan itu membuatku semakin basah.
Aku kemudian
melepaskan celana dalam miniku pelan pelan seperti yang diperintahkan oleh Bu
Jessica, dengan gerakan pelan, membuat diriku tampak seperti memang sedang
sengaja mempertontonkan tubuhku, sementara Bu Jessica yang berjalan ke sana
kemari mencari sudut yang berbeda untuk memfotoku. Ketika aku telah melepas
celana dalamku dengan perlahan, bahkan saat melepaskannya dari kaki kiri dan
kananku. Bu Jessica mengalurkan tangan kirinya kearahku, seakan meminta aku
melemparkan celana dalamku, tanpa di mintapun aku melemparkan celana dalam ku
itu pada Bu Jessica. Bu Jessica yang menerimanya, sambil terus memfotoku,
kemudian berkata
“Dasar cewek
jalang murahan, sedang difoto sebagai jaminan dan hukuman, kamu malah
terangsang dan basah sekali, seperti minta disetubuhi…”
Aku malu sekali
dengan kenyataanku itu dan juga oleh perkataan Bu Jessica, ternyata celanaku juga
jadi basah dengan keterangsanganku ini, aku jadi tambah malu, tapi hal itu
bahkan membuatku tambah terangsang, sehingga seperti sedang terkena serangan
menggigil tubuhkupun kadang bergetar, putingkupun jadi kian terasa keras dan
mencuat karena terangsang. Aku diminta untuk berpose dengan berbagai macam
gaya, aku diminta meremas payudaraku, membuat keduanya saling menempel dan
mengangkatnya keatas sehingga seolah seperti sedang menawarkan payudaraku pada
orang di depanku, kemudian aku juga di minta untuk menjilat puting payudaraku,
tapi aku tak bisa, meski sudah berusaha semaksimal mungkin untung mengangkat
payudaraku setinggi mungkin ke arah mulutku, tapi hanya nyaris bisa kujilat
mungkin ukuranya yang kurang besar sehingga tidak bisa aku jilat.
Aku juga diminta
untuk mengangkat kedua tanganku di belakang kepala, keadaan seperti itu membuat
dadaku makin membusung ke depan, sehingga seolah makin memamerkan kedua
payudaraku yang menjadi tampak makin besar, dengan posisi seperi itu aku
diminta untuk merenggangkan kedua kakiku selebar-lebarnya menjadi seperti huruf
X, sehingga vaginaku menjadi terpampang jelas.
Sementara aku
masih di posisi itu, Bu Jessica kini mengambil gambarku dengan posisi
berjongkok di depanku, dengan begitu maka bagian kelaminku akan makin tampak
jelas terihat dalam kamera, di tambah lagi, bulu kemluanku memang rajin aku
cukur, sehingga tumbuh tidak terlalu lebat menutupi lubang vaginaku. keadaan
itu membuatku makin terangsang dan basah dalam liang senggamaku.
Aku merasa
yakin bahwa vaginaku yang basah akan terlihat dalam foto yang Bu Jessica ambil
dengan posisi berjongkok di depanku dan makin mendekat ke arahku.
Setelah merasa
cukup, Bu Jessica menyodorkan pakaianku dan menyuruhku mengenakan kembali
bajuku, tapi ketika aku mencari pakaian dalamku, yakni BH dan CD ku, Bu Jessica
berkata bahwa pelacur seperti aku tak pantas memakai pakaian dalam, dan mulai
saat itu aku tidak boleh memakai pakaian dalam secuilpun katanya padaku, akupun
hanya bisa mengangguk dan tertunduk. Bu Jessica pun meletakkan pakaian dalamku
di atas meja maka akupun memakai kembali pakaian ku tanpa memakai Bra dan
celana dalamku, sungguh aneh dan risih aja, berpakaian tanpa memakai pakaian
dalam, untung aku saat itu memakai atasan blazer atau jas tipis sebagai padanan
rokmini ku, sehinga puting susuku tak akan tampak di balik kemeja putihku yang
nyaris transparan.
Bu Jessica
kemudian menelpon seseorang untuk dipangilkan Pak Iwan pesuruh kantor untuk
mengambilkan tas kerjaku, dan membawanya ke ruang Bu Jessica. Aku memang
menyimpan segalanya dalam taskus Sehingga ketika pesuruh itu datang menyerahkan
tasku, Bu Jessica memintaku untuk memeriksanya dan semua masih lengkap tak ada
yang tertinggal. Pak Iwan, meski dia seorang pesuruh, tapi dia adalah orang
kepercayaan Bu Jessica sejak belasan tahun lalu, orangnya tidak bisa bicara
alias bisu, tapi dia masih bisa mendengar, akupun mengenal pesuruh itu sebagai
orang yang teliti dalam bekerja cekatan dan cerdas, dia selalu menuliskan apa
yang diminta dalam sebuah catatan, sehingga ia bisa membeli sesuatu dengan
memperlihatkan catatan tersebut ke pada penjual barang yang dimaksud.
Orang-orang sekitar kantorpun sudah mengetahui keberadaan pak Iwan itu yang
bisu, tapi kebanyakan mereka mengira pak Iwan sebagai penyandang bisu tuli.
Pak Iwan berumur
sekitar 45 tahun, tapi masih tampak gagah dan kuat, ia terkadang sering
mendampingi Bu Jessica sebagai supir pribadi bila keluar kota dan keperluan
lain, meski perusahaan juga memiliki supir kantor, tapi tampaknya Bu Jessica
lebih percaya pada Pak Iwan ini, karena kedekatanya dengan Bu Jessica sudah
sejak Bu Jessica merintis perusaahnnya ini dari orang tuanya dulu. Jabatan Pak
Iwan di kantor pun sebagai kepala pantry yang membawahi 10 orang pesuruh dan
termasuk OB, karena perusahaan ini bergerak di bidang distributor alat tulis
kantor dan percetakan dan alat elektronik yang berkaitan dengan percetakan,
sehingga membutuhkan beberapa tenaga kasar.
Bu Jessica pun
berkata kepada Pak Iwan yang membuat aku malu dan sekaligus shock. Sambil
mengangkat pakaian pakaian dalamku yang berada di atas meja Bu Jessica, Bu
Jessica berkata
“Pak Iwan, ini
adalah pakaian dalam Ellen yang tadi ia pakai, mulai sejak saat ini Ellen
dilarang memakai pakaian dalam lagi, karena Ellen telah melakukan kesalahan
yang mengakibatkan kerugian pada perusahaan, maka mulai hari ini Ellen saya
hukum dengan tidak boleh memakai pakaian dalam lagi.
Nah tugas Pak Iwan
adalah setiap pagi jam 07.15 tidak boleh lebih, siang sebelum istirahat makan
siang jam 11.45 dan sore sebelum jam pulang tergantung situasi kerja, Pak Iwan
harus memeriksa apakah benar Ellen tidak memakai pakaian dalam atau tidak.
Terserah Pak Iwan cara apa yang Pak Iwan pakai untuk memeriksa. dan aku jamin
Ellen tidak akan menolak. Bila Ellen ternyata terlambat memeriksakan diri pada
Pak Iwan, setiap menit keterlambatan akan aku hitung sebagai satu kesalahan,
dan setiap kesalahan akan ada hukuman tertentu.”
Aku yang mendengar
semua yang Bu Jessica katakan, menjadi terperangah dan shock sekaligus malu
memikirkan, bahwa setiap pagi aku akan di periksa apakah aku memakai pakaian
dalam atau tidak, dan yang memeriksa adalah Pak Iwan, seorang pesuruh kantor!?
“Oh betapa sungguh
memalukan” pikirku
Ketika aku masih
membayangkan semua itu, Bu Jessica mengejutkan aku.
“Dan kamu Ellen,
Ingat kamu harus dalam posisi sempurna saat sedang di periksa oleh Pak Iwan,
posisi sempurna sebagai seorang yang telah merugikan perusahaan seperti kamu,
adalah kedua tangan di belakang punggung dan posisi kaki di rentangkan lebar,
sehingga proses pemeriksaan bisa dilakukan. Ingat itu istilah posisi sempurna
untuk
kamu mulai saat
ini. Bila kamu melanggar kamu akan tanggung akibatnya. kamu akan semakin
terkenal dengan sesi yang telah kamu lakukan tadi dan ingat saat di periksa
oleh Pak Iwan kamu juga harus lapor pada saya, dengan menelponku. kamu
mengerti…!!?”.
“Mengerti Bu…eh
nyonya….” kataku dengan perasaan yang campur aduk.
Aku pasti tahu
bahwa bila aku melanggar semua perintah dan aturan, maka aku akan di laporkan
pada polisi dan di penjara, dan segala konsekuensi bila dipenjara akan
kutanggung. apalagi, dengan foto-foto bugilku barusan, tentu tidaklah sulit
bagi Bu Jessica untuk menyebarluaskannya di internet dan aku akan menjadi
terkenal diseluruh dunia sebagai “Slut” atau wanita murahan.
Sungguh tidak
boleh terjadi batin ku dengan foto-foto bugilku tadi, dimana aku bergaya dengan
berbagai pose dan parahnya lagi aku tadi tersenyum sepanjang “sesi pemotretan”
tentu semua akan mengira bahwa semua itu aku lakukan dengan sukarela atau
dengan imbalan uang dan tanpa paksaan. Aku sendiri bingung, apakah semua pose
tadi aku lakukan dengan sukarela dan tanpa paksaan atau karena dipaksa, karena
semua berjalan tanpa paksaan dan kekerasan, bahkan aku sendiri terangsang
melakukan semua itu, tapi yang jelas semua foto-foto itu tidak boleh beredar
luas.
Parahnya jika aku
melarikan diri dari semua ini, maka foto-foto itu akan disebarkan oleh Bu
Jessica, dan aku menjadi terkurung, karena semua orang di dunia akan mengetahui
wajahku. Bukankah itu yang terjadi selama ini di negeri ini apa yang akan
terjadi pada orang tuaku, keluarga ku, teman-temanku, dan orang di sekitarku,
bila foto-fotoku tadi beredar luas di masyarakat bahkan dunia.
Aku tak berani
membayangkan lebih jauh lagi, tapi aku juga bertanya-tanya apa yang diimpikan
Pak Iwan semalam, sehingga dia bagaikan mendapatkan durian runtuh, karena
setiap hari dia akan bisa memeriksaku apakah aku telanjang di balik pakaian
kerjaku yang tampak seperti layaknya wanita karier dari luar, aku bahkan ingat
bahwa aku tak punya rok panjang untuk menutupi keadaanku yang mulai saat ini
tak akan memakai pakaian dalam lagi. tapi percuma semua itu, karena pak Iwan akan
memeriksaku sehari 3x seperti minum obat.
“Pak Iwan… bila
Ellen menolak diperiksa, atau melanggar aturan dan hukuman yang aku berikan,
Pak Iwan cepat lapor aku kapanpun itu, dan Ellen akan langsung tahu akibatnya.
Pak Iwan hanya
menjawab,“Hauh…hauh…” karena kebisuanya.
Sambil menjawab ia
menganguk-anguk dan melirik padaku, oh bukan… hanya pada tubuhku, ia bahkan
tidak menatap wajahku. Sungguh aku merasa bagai seonggok daging hidup saja,
setelah dianggap selesai Pak Iwan di minta meninggalkan ruangan, tapi aku masih
disuruh ntuk menunggu, karena masih ada beberapa hal yang akan di sampaikan
oleh Bu Jessica. Bu Jessica kemudian mengambil tasku.
“Karena selama ini
kamu telah memanipulasi keuangan perusahan untuk kepentingan pribadimu, maka
mulai saat ini kamu tidak boleh membawa barang apapun dari rumah ataupun
membawa barang apapun dari kantor ke luar kantor. Untuk menghilangkan
kecurigaan bahwa kamu menyembuyikan sesuatu dalam barang bawaan kamu, baik itu
saputangan, bahkan kertas ataupun bolpoint sekalipun. Intinya kamu tidak boleh
membawa barang sekecil apapun dan mulai saat ini semua barangmu akan aku sita,
termasuk handphonemu akan aku sita supaya kamu tidak bisa menghubungi teman dan
di hubungi temanmu, sebagai gantinya kamu akan aku beri handphone baru yang
nomornya hanya aku yang tahu, kamu tidak boleh menelon siapapun kecuali aku
ataupun orang yang aku perintahkan untuk kamu telpon. Setiap hari aku akan
memeriksa HP mu untuk memeriksa apakah kamu menghubungi atau dihubungi orang
lain kecuali atas ijin aku. sekali saja kamu melanggar, maka fotomu akan
tersebar ke seluruh dunia. kamu mengerti!?”
“Saya mengerti
nyonya…..”
“Ya sudah,
sekarang sana kembali
bekerja” perintahnya padaku. Akupun kembali ke mejaku meja receptionist di
lantai 3, sambil ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi esok hari.
##############################
Sejak kejadian di
ruangan Bu Jessica, hari-hariku tak sama lagi seperti dulu. aku tak bisa lagi
mengenakan pakaian dalam di balik baju yang aku kenakan, bukan tidak bisa,
lebih tepatnya tidak boleh. Minggu pertama sungguh terasa berat bagiku,tapi
kini aku sudah biasa. Awalnya sih risih rasanya pergi ke kantor tanpa dalaman
sama sekali, sungguh aku merasa lebih telanjang dari pada saat mandi di kamar
mandi. Aku sekarang berhati hati dalam berjalan, agar gerakan brutal payudaraku
tidak terlalu menarik perhatian orang orang yang berpapasan denganku, untuk
mengatasinya aku selalu menggunakan blazer saat ke kantor, tapi itu semua tak
banyak membantu, karena Bu Jessica mewajibkan aku untuk menggunakan sepatu
berhak tinggi bila ke kantor, bahkan belakangan ia mengganti hampir semua
sepatuku dengan sepatu yang dia belikan untukku, dan semuanya berhak tinggi,
yang jarang ada di toko-toko sepatu, karena tinggi hak sepatunya menurutku
tidak biasa.
Aku seakan
berjalan jinjit dengan tinggi hak sepatu yang minimal 10cm itu. Tapi itu
perintah yang harus aku kerjakan, bila tidak ingin hutangku pada kantor
bertambah 1x gajiku sebulan, jika aku melanggar perintahnya. Bu Jessica
mengatakan bahwa aku makin sexy jika memakai sepatu hak tinggi (high heels),
dan entah mengapa aku juga merasakan hal itu dalam hatiku, aku merasa makin
menarik jika menggunakan high heels bahkan stileto. Aku sendiri merasa, kalo
aku berjalan memakai sepatu hak tingginya, aku seakan mengundang pada laki laki
yang memandangku “ayo setubuhi aku!” bagaimana tidak, aku yang berjalan memakai
high heels yang tingginya diatas ukuran normal, sementara aku pun tidak
mengenakan apapun di balik pakaian kerjaku, cara berjalanku membuat payudaraku
bergoyang goyang seiring langkahku, bahkan bokongku pun yang terbalut rok span
ketat terlihat padat dan mulus tanpa terlihat garis-garis segitiga layaknya
orang yang memakai celana dalam sama sekali, seakan ingin di tepuk dan dibelai.
Wuiih….aku
berharap mereka para pria tidak menyadarinya.tapi sepertinya harapanku itu tak
berguna. bahkan lama kelamaan ada perasaan senang bila para laki laki itu
memandangku seakan menelanjangiku dengan tatapan mereka. Pada awalnya sungguh
aku merasa sangat malu dan dipermalukan, karena harus berangkat kerja tanpa
mengenakan apapun selain rok dan atasan ku, aku harus pintar pintar memilih
baju atasan. aku menjadi sering menggunakan tanktop sebagai dalaman, karena
tidak boleh lagi menggunakan bra. tapi tetap aja semua itu tak bisa
menghentikan goyangan payudaraku yang cukup menantang ini. yang lebih sulit
adalah mengatasi rangsangan pada puting payudaraku, serat serat pakaian dan
suhu udara selalu membuat puting payudaraku mengeras dan mencuat, menonjol di
balik baju yang aku kenakan.
Pagi ini aku
terbangun, dengan masih merasa letih, mungkin karena semalam aku baru bisa
tertidur sekitar jam 01.30. aku semalam membayangkan apa yang akan aku hadapi
hari ini di kantor nanti. Hari ini aku memutuskan untuk mengenakan kemeja putih
dan blazer hitam garis putih dengan rok span hitam diatas lutut. Aku merasa
menyesal karena dulu aku tidak pernah membeli rok kerja yang lebih panjang,
semua rata rata 15cm diatas lutut. Aku memang bangga dengan bentuk tubuhku, dan
kakiku yg mulus. tapi kini, aku merasa sungguh seakan benar benar telanjang,
lebih telanjang daripada mengenakan bikini di kolam renang.
Ditambah lagi, aku
tidak membawa barang apapun selain HP yang kemarin diberikan oleh Bu Jessica,
sedang HP ku yang sebelumnya di sita olehnya, maka aku tak bisa menggunakan
apapun untuk menutupi goyangan payudaraku ketika berjalan. Aku sadar aku harus
cepat tiba di kantor, tepat sebelum jam 07.15 karena kalo tidak tentunya akan
ada hukuman dari Bu Jessica, seperti yang telah beliau katakan kemarin, karena
tak ingin terlambat sampai di kantor, maka akupun mempercepat langkahku menuju
jalan raya untuk naik angkutan umum. Di sepanjang jalan aku merasa banyak mata
yang menatap ke arahku, terutama laki laki, baik itu pejalan kaki yang
kebetulan berpapasan denganku, maupun para pedagang yang rasanya hari ini
adalah hari keberuntungan mereka, karena bisa melihat aku berjalan dengan
sedikit terburu-buru, yang mengakibatkan payudaraku bergoyang keras, tapi aku
tak memperdulikan tatapan mereka itu, aku berjalan seolah tak menyadari bahwa
mereka terus menengok kebelakang kearahku yang telah melewati mereka, seakan
tak rela pemandangan indah hari itu berlalu bgitu saja.
Banyak juga kaum
hawa atau ibu ibu yang baru pulang dari pasar terdekat yang melirik kearah ku
atau mungkin lebih tepatnya ke arah payudaraku dan kemudian memandangku dengan
pandangan aneh yang tak bisa aku definisikan, tapi lebih banyak berkesan
keharanan. Melihatku yang seolah cuek dengan goyangan payudaraku yang jelas
memperliharkan bahwa aku tidak mengenakan bra.
Aku melihat
arlojiku. waktu menunjukan jam 06.45 masih ada waktu pikirku, tapi aku yang
tidak biasa berangkat sepagi ini, tidak memperkirakan bahwa banyak orang yang
juga menunggu kendaraan umum di jalan raya, sehingga angkot seakan barang
langka yang banyak dicari orang sampai berebut, semua berebut seolah mereka
semua sepertiku yang terburu buru, tidak laki laki, perempuan, anak sekolah
semua berebut jika ada angkot yang berhenti. Akhirnya aku sampai juga di kantor
dengan perasaan yang kacau. waktu menunjukan jam 07.25 ketika aku turun dari
angkot. di depan kantorkku.
akhirnya
melangkahkan kaki menyeberang jalan menuju lantai 3. Begitu sampai aku langsung
bergerak menuju lift, kali ini aku berjalan agak santai, untuk menjaga agar
goyangan payudaraku yang tidak terbungkus oleh bra yang biasa aku kenakan,
tidak begitu terlihat oleh orang orang kantorku. Lantai dasar bagian belakang,
digunakan sebagai gudang dan tempat bongkar muat barang-barang untung hanya
tambak bebrapa pekerja kasar yang pagi itu masih tampak santai di bagian yang
agak jauh sambil merokok dan minum kopi, cara yang sangat sempurna untuk
memulai hari pikirku. Sungguh aku iri dengan cara mereka menikmati hidup.
Mereka tampak begitu bahagia dengan apa yang mereka punya tidak seperti aku
yang terjebak oleh nafsu sehingga hari ini aku harus telanjang di balik pakaian
kerja yang aku kenakan. Sunnguh aku merasa ingin kembali ke masa lalu, untuk
tidak mengulangi kesalahanku, tapi semua sudah tak berguna kini aku terikat
kontrak yang telah aku tandatangani, untuk membayar segala dana telah aku ambil
sehingga merugikan perusahan dan aku telah stuju untuk melakukan apa yang
tertulis di dalam kontrak tersebut. Sebagai imbalan atau persetuan karena aku
tak ingin dilaporkan ke polisi yang akan mengakibatkan aku dihukum penjara,
sungguh aku tak ingin hidupku berakhir di dalam sel penjara.
Akhirnya aku naik
lift, dan begitu pintu lift terbuka tampak di sana di
meja receptionist Pak Iwan yang sepertinya telah munungu kehadiranku. Waktu menunjukan
jam 07.30 saat kulihat jam di ruanganku, aku berusaha melangkah dengan tenang
meski jantungku tak bisa di bilang berdegub tenang, aku menuju mesin absensi
yang menggunakan sidik jari sebagai alat absensi. Sebenarnya jam masuk kantor
adalah jam 08.00, tapi diberikan toleransi sampai jam 08.30 bagi keterlambatan,
sehingga jam segini kantor masih sepi dan belum banyak orang yang datang. biasa
mereka menggunakan batas akhir sebagai patokan akupun dulu begitu.
Pak Iwan tampak
tersenyum aneh di balik meja receptionistku, tangannya mengisaratkan seakan
orang yang melihat jam tangan, menunjukan bahwa aku terlambat datang dan dia
mengerakan jarinya memintaku mendekat. Sebagai orang yang bisu karena punya
kelainan pada lidahnya, hingga tidak bisa berbicara, ia cukup cerdas dalam
menggunkan bahasa isyarat, sehingga orang bisa mengerti dengan cukup mudah
dengan apa yang ia maksudkan. Dug…Dug…. jantungku berdebar keras, mengetahui
apa yang selanjutnya akan terjadi. aku berdiri cukup dekat dari tempatnya
duduk. aku mengambil posisi seperti apa yang telah Bu Jessica perintahkan
kemarin. Aku merentangkan kakiku sebisaku karena aku menggunakan rok span, dan
menarik kedua tanganku di belakang punggung hal ini membuat payudaraku makin
mebusung ke depan seakan sengaja aku pamerkan dan inspeksi pun dimulai. Pak
Iwan mengakat rokku tinggi-tinggi hampir melebihi pinggangku, untuk melihat
apakah aku benar tidak memakai celana dalam atau tidak, ia tampak melebarkan
pandangan matanya ketika menyadari bahwa aku lebih telanjang dari yang ia kira.
karena aku rajin
mencukur bulu kemaluanku, sehingga liang vaginaku akan tampak jelas, layaknya
anak kecil yang belum tumbuh bulu kemaluanya. Ia kemudian mengisaratkan dengan
jarinya agar aku berputar, akupun berputar, kini aku membelakanginya. aku
merasakan tangan hangat Pak Iwan membelai pantatku, dan meremasnya dengan suara
yang tak jelas keluar dari mulutnya yang memang bisu. jari jarinya kemudian
semakin berani membelai ke bagian paling rahasia dalam diriku (kini tidak lagi)
karena Pak Iwan telah menjamah vaginaku dari belakang dengan ujung jarinya,
sehingga membuat aku sedikit terkejut dan tersentak, ia berputar putar sebentar
disitu. yang justru membuat aku tak karuan, baru kemudian ia memegang
pinggangku dengan kedua tangannya, dan kedua tanganya kemudian
mendorong-menarik agar aku berputar kembali, mengahadap kearahnya.
Tapi anehnya aku
tidak marah ia berbuat begitu tadi. tapi justru menggigil karena menahan
perasaan terangsang dalam diriku. Tampaknya tubuhku tidak mau bekerja sama
dengan otakku. karena justru aku merasakan perasan aneh dalam diriku, pada saat
yang tidak tepat. yaitu justru pada saat aku membiarkan orang lain melihat
ketelanjanganku ini, di tambah lagi Pak Iwan kemudian, melepaskan kancing
kemejaku, satu… dua…. tiga… empat…. empat buah kancing telah ia lepaskan dengan
tenang, kini ia menyibakkan kemejaku ke arah berlawanan, hingga tersembullah ke
dua payudaraku dengan sedikit berguncang. Ia kemudian menjamah dan membelai
payudaraku dengan kedua tangannya yang besar dan hitam serta terasa sedikit
kasar. tanganya kemudian menuju titik terdepan dari tubuhku itu. dan
memilin-milinnya dengan gemas.
Meja receptionist
yang cukup tinggi membuatku sedikit merasa aman dan terutupi, jika sewaktu
waktu ada orang yang datang, tapi sejauh ini belum ada satupun karyawan yang
datang. Perasaan itu sedikit banyak membuat aku lebih tenang. Tapi berdiri
dengan dua kaki terbuka lebar, dangan kedua tangan di belakang punggung,
sementara di depanku, sosok Pak Iwan yang sedang asik memeriksa dan bermain
dengan kedua gunung kembarku membuat aku merasa malu dan merasa seperti boneka
hidup yang hanya bisa pasrah terhadap perlakuan si empunya atau majikanya.
Waktu seakan
berjalan lambat saat itu, seakan berjam-jam aku berada dalam keadaan tidak
berdaya seperti itu, meski perlu di pertanyakan juga keadaan tidak berdaya itu,
karena memang aku yang tidak melawan, bahkan merasakan perasaan aneh dalam
diriku, dibegitukan oleh orang lain yang nota bene adalah orang yang tidak
begitu aku kenal baik dan ia adalah bawahanku atau kalau memakai istilah yg
lebih kasar lagi, ia adalah pesuruh di kantorku (meski sebenarnya aku tak
pernah membeda bedakan seseorang dari status sosialnya). Sungguh perasaan yang
campur aduk, tapi tubuhku justru sebaliknya dengan apa yang aku pikirkan dan
segala egoisme ke-aku-an di otaku. tubuhku seakan menikmati semua perlakuan ini.
Aku merasa menjadi
serendah rendahnya wanita. Justru karena aku merasa sebagai wanita yang
berpendidikan. Saat aku berkecamuk dengan pikiranku sendiri, tiba tiba Hp ku
berbunyi… kulihat sederet angka di sana, angka angka yang sudah sangat aku
kenal, karena keunikan angka angka tersebut yang mudah di ingat, deretan angka
angka tersebut adalah nomor HP Bu Jessica… Begitu otakku yang secara otomatis
mengingat nomor tersebut jantungku langsung berdegub kencang…. karena tiba tiba
aku ingat ada perintah Bu Jessica yang tidak aku lakukan saat ini karena
tubuhku terlalu asik dengan perlakuan Pak Iwan, dan pikiranku terlalu
berkecamuk dengan pikiran-pikiran yang tak bisa dijelaskan. Kuangkat Hp
tersebut dan berbicara dengan suara yang terdengar di sana
“Halo…” kataku
pada lawan bicaraku di HP.
“Ellen!!” suara di sana terdengan
keras dan tegas dan terkesan sedikit marah.“kenapa kamu tidak menelpon saat
sedang
di-inspeksi!?” tanya Bu Jessica di ujung telpon.
“Maaf Bu, saya
lupa” spontan aku membela diri
“Oh… kamu keenakan
ya diperiksa oleh Pak Iwan, dasar cewek murahan..!” tukas Bu Jessica yang
membuatku terdiam, serendah itukah diriku, tanyaku dalam hati, tapi kenyataan
yang aku lakukan ini memang terlihat bahwa benar seperti itu adanya diriku.
“Karena kamu
melakukan kesalahan yang fatal, yaitu tidak melakukan apa yang telah di
perintahkan, maka sesuai perjanjian, maka hutang mu dengan kesalahan ini
bertambah 1x gajimu. kamu mengerti..!?” suara Bu Jessica terdengar halus tapi
sangat tegas.
“Mengerti Bu”
jawabku, sungguh aku menyesali diri, bahwa hanya masalah sepele yang lupa aku
lakukan, hutangku bertambah 1x gajiku. Ini adalah kesalahan pertama yang aku
lakukan.aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi melakukan kesalahan
yang mengakibatkan hutangkku bertambah.
Kemudian Bu
Jessica memintaku untuk menyerahkan Hp itu pada Pak Iwan. yang kemudian aku
hanya melihatnya mengangguk-angguk atau mengeluarkan suara uoggh…uhh… dan
kemudian aku mengerti, bahwa sepertinya Bu Jessica memerintahkan seuatu pada
Pak Iwan. karena kemudian aku merasa bahwa sambil menerima telpon dengan tangan
kanan, tangan kirinya kemudian dengan beraninya memasuki liang kewanitaanku.
Aku terlonjak kaget, tapi tak berlangsung lama, karena sejenak kemudian sungguh
aku merasa melayang dan sangat terangsang, setelah beberapa saat Pak Iwan
memainkan jarinya di vaginaku, aku merasa hampir mencapai titik puncak, karena
aku seperti merasa ingin pipis. Justru di saat itulah tiba-tiba Pak Iwan
menghentikan aksinya.
Aku merasa seolah
seperti di pinggir jurang kenikmatan…kosong…terombang-ambing antara kenyataan
dan harapan untuk orgasme. Aku merasa murahan sekali dengan apa yang telah aku
rasakan, bahwa di tangan orang seperti Pak Iwan dan di tempat yang sungguh tak
layak bagi wanita terpelajar dan berpendidikan seperti aku, bahkan sebaliknya
aku justru ingin terus di obok-obok pada liang kewanitaanku oleh Pak Iwan,
seorang karyawan rendahan di kantorku, penampilanya saja tidak menarik, bahkan
ia seorang yg bisu, tapi pikiranku berkata tak ada yang salah dengan semua itu,
Pak Iwan juga manusia dan laki laki terkadang memang begitu…. Secara tak sadar
aku menanamkan pada diri sendiri, bahwa tak ada yang salah dengan semua itu,
yang salah adalah aku sendiri, sehingga semua ini bisa terjadi.
Seandainya aku tak
mengambil dan memakai uang perusahaan, maka semua ini tak akan terjadi. Pak
Iwan kemudian meninggalkan diriku begitu saja, dengan keadaan masih setengah
sadar dan setengah lagi masih berada di awang-awang, menunggu terpuaskan, tapi
cepat aku sadar dengan keadaanku yang masih berdiri di balik meja marmer
receptionis yang besar dengan keadaan yang nyaris bisa dibilang tidak
berpakaian. karena rok miniku, kini tersangkut di pinggang ku, sementara bajuku
ada di belakang punggungku.
Walaupun dilanda
rasa horni yang sangat itu, aku berusaha untuk sadar dan membenarkan pakaianku,
apa kata orang nanti apabila mereka melihat seorang resepsionis yang telanjang?
Pagi itu, aku tak bisa konsentrasi sepanjang hari, karena aku sungguh ingin
menuntaskan rasa horni ku yang tak terpuaskan, bahkan tanpa aku sadari,
tanganku kini sering bergerak tanpa aku sadar ke daerah di antara kedua pangkal
paha ku itu. Saat tersadar apa yang kulakukan, aku merasa malu sekali, bahwa
aku kini seakan benar-benar cewek murahan.
Tak sampai
seminggu, cara berpakaianku yang seksi sudah menjadi perbincangan di antara
karyawan kantor, bahkan para buruh kasar yang setiap pagi melihatku datang ke
kantor terkadang hanya dengan blazer, span dan sepatu hak tinggi, membuat
semuanya makin terdengar risih di telingaku, tapi aku berlagak cuek dan
berpura-pura tak mendengar selentingan yang secara tak sengaja aku dengar.
Pernah suatu kali aku sedang di toilet, sementara orang yang baru masuk
membicarakan, betapa seksinya aku. Justru semua itu membuatku bangga dan
senang, bahwa ternyata banyak yang menyukai penampilanku, terutama laki-laki,
sementara yang wanita ada yang suka dan ada yang iri dengan penampilanku yang
menjadi makin seksi. Sementara aku menjadi semakin terangsang dengan perlakuan
Pak Iwan setiap memeriksaku pagi siang dan sore, bahkan bisa di bilang
ketagihan oleh perlakuannya yang seharusnya membuat aku malu.
Kini Pak Iwan
semakin berani dalam menjalankan tugasnya memeriksa tubuhku, karena telah tahu
aku sudah tak perawan lagi, maka ia sekarang berani untuk menggunakan “adik
kesayanganya” untuk memeriksaku. Kebiasannya yang membuat aku menjadi gila dan
ketagihan adalah, pada saat memeriksaku di pagi hari, ia menggunakan jari
tanganya untuk membuatku terangsang. Permainan tanganya di liang vaginaku
membuatku sangat terangsang dan nyaris orgasme, tapi tepat di saat seperti
itulah ia berhenti, hingga membuatku merasa horni sepanjang hari, dan pada saat
memeriksa ku di siang hari seperti perintah Bu Jessica, ia kini selalu
melakukanya di toilet. Ia memintaku untuk masuk ke toilet kantor lebih dulu,
toilet di kantorku memang toilet bersama, karena hanya satu toilet di lantai
tersebut, sehingga tidak timbul kecurigaan pada yang lain bila aku masuk
terlebih dulu, dan baru beberapa saat kemudian Pak Iwan masuk.
aku selalu menjaga
bahwa toilet itu sedang kosong, aku tahu karena toilet tersebut letaknya di
depan meja resepsionis dimana aku bekerja. Saat pemeriksaan siang itulah Pak
Iwan melakukan penetrasi ke vaginaku yang sudah basah sejak pagi, karena aku
merasa horni dan sering menggosokkan tanganku ke pangkal pahaku selama aku
bekerja dari pagi hingga saat pemeriksaan itu, bahkan aku seperti sudah tak
sabar untuk segera di periksa oleh Pak Iwan, lebih tepatnya oleh “adik
kesayangannya” yang berukuran cukup besar buatku, sebesar lenganku dengan
kepalanya yang lebih besar lagi, tidak begitu panjang mungkin sekitar 12cm tapi
besar dan kokoh.
Pak Iwan sering
duduk di atas closet duduk, sementara aku “di pangku” naik turun, atau
terkadang ia menusukku dari belakang, sementara aku membungkuk membelakanginya.
ia selalu menggunakan rambutku sebagai tali kekang untuk mengatur irama
permaiannya. permainannya agak kasar tapi aku sangat suka. Aku ingat pertama
kali saat aku di minta duduk di atas closet, dan diminta mengoralnya dengan
mulutku, sungguh pengalaman pertamakku mengoral penis laki-laki, ia tak
memperbolehkan aku menggunakan tanganku sama sekali, bahkan tanganku di ikat di
belakang tubuhku dengan lakban kertas yang ia bawa dari kantor, meski lakban
kertas aku takkan sanggup memutuskan lakban tersebut yang mengelilingi di kedua
pergelangan tanganku.
Pak Iwan menahan
kepalaku agar penisnya tetap berada di mulutku bila aku ingin melepaskanya dari
mulutku, bahkan saat ia meledakkan spermanya di mulutku, ia dengan sengaja
menjaga agar ujung penisnya berada di ujung tenggorokkanku, sehingga terpaksa
aku menelan semua spermanya, aku tak berdaya menolaknya, karena tanganku
terikat kuat di belakang punggungku. ehingga kini aku terbiasa menelan semua
spermanya tanpa tersisa. Aku berusaha untuk tidak mengeluarkan bunyi selama
permainan berlangsung. jika ada yang masuk ke dalam toilet, aku segera
mengalirkan air yang tinggal ditarik tuasnya, dan menimbulkan bunyi yang cukup
keras, sehingga cukup menyembunyikan kecurigaan bila kami berdua berada di
dalam. Pernah suatu hari ia memintaku untuk tidak sarapan selama seminggu, dan
selama itu pula aku hanya sarapan pagi dengan meminum spermanya, dan segelas
air putih untuk berkumur. Aku berfikir bahwa sperma itu penuh dengan protein sepertihalnya
telur ayam pikirku. Bahkan dihari terakhir minggu itu, siang harinya ia
mambawakanku segelas es sperma yang telah diberinya sirup, entah dari mana ia
dapatkan sperma sebanyak itu.
Aku tak berani
bertanya, hanya mengabiskannya dan mengucapkan terimakasih. Bila saat siang di
toilet ia memberiku kepuasan atau orgasme hanya sekali atau bahkan hanya dia
yang menyemprotkan spermanya ke tenggorokanku, tapi bila saat pemeriksaan sore
ia membuatku terpuaskan berkali-kali, sampai membuatku kelelahan, karena saat
sore ia melakukan pemeriksaan tubuhku di rungannya, meski kecil dan banyak
peralatan yang memenuhi ruanganya, tapi cukup tertata baik, dan memungkinkan
baginya untuk melakukan apapun sekehendaknya padaku karena semua orang telah
pulang. Begitulah keadaan yang harus dan telah aku jalani selama ini, aku
merasa semuanya aku jalankan dengan cukup rapi tanpa menimbulkan kecurigaan
orang banyak di kantorku.
Dua bulan berlalu
sejak pemeriksaan itu berlalu walau semuanya tidak berjalan cukup lancar karena
aku membuat beberapa kesalahan yang membuat hutangku bertambah, aku sudah
berkomitmen pada diri sendiri untuk tidak melakukan kesalahan lagi tapi pada
kenyataannya aku masih melakukan beberapa kesalahan walaupun jarang. Suatu pagi
aku dipanggil ke kantor oleh Bu Jessica, herannya aku juga menemukan Pak Iwan
ada di situ.
“Bagaimana Ellen?
Apakah kamu menikmati semuanya?” tanyanya
“Kurang lebih
nyonya.” jawabku
“Begitu yah, kalau
begitu sekarang lepaskan semua bajumu.”
Aku segera
melepaskan bajuku satu persatu sampai telanjang. Bu Jessica tersenyum puas saat
melihatku telanjang.
“Bagus.. bagus..
kamu menjalankan perintah untuk tidak memakai pakaian dalam dengan baik, yah
walaupun kadang2 kamu masih membuat kesalahan.”
“Iya nyonya,
maafkan saya.”
“Yah.. yah.. ok,
karena kamu menjalankan perintah cukup baik saya punya hadiah untuk kamu.”
Selesai berbicara
ia langsung melambaikan tangannya, dan Pak Iwanpun berjalan ke arahku. Aku
berpikir hadiah macam apa yang akan dia berikan? Tidak mungkin Bu Jessica mau memberikan
hadiah cuma-cuma. Pak Iwan menutup mataku dengan kain hitam, kini aku tidak
bisa melihat sekelilingku, sesaat setelahnya aku merasakan ada jari yang masuk
ke dalam vaginaku dan mengobok-oboknya, tanpa sadarpun aku melenguh keenakan
sambil berusaha menjaga keseimbangan berdiri di atas high heels, sesamar aku
mendengar suara Bu Jessica tertawa kecil. Kemungkinan besar ia tertawa karena
aku seperti wanita murahan yang menikmati hal seperti ini.
Tak lama kemudian
aku hampir orgasme dan di saat itu jari yang memainkan vaginaku berhenti, aku
merasa ini seperti pemeriksaan di pagi hari oleh Pak Iwan, aku tidak dapat
melawan kecuali menerima keadaanku yang melayang dilanda keinginan untuk
orgasme. Aku mendengar suara langkah yang menjauh tapi tak lama langkah itu
kembali mendekat, aku berpikir apa yang terjadi. Hal yang kurasakan berikutnya
adalah vaginaku seperti tertembus sesuatu, tetapi herannya benda ini keras, dan
dari yang kurasakan lewat vaginaku, sepertinya benda ini berbentuk silinder,
kemudian aku merasakan pinggangku terbalut oleh suatu bahan dari kulit dan
membentuk seperti celana dalam saat dipakaikan, sesaat setelahnya aku mendengar
bunyi “klik”
Aku bertanya-tanya
apa yang terjadi karena aku tidak bisa melihat sama sekali, lalu terdengar suara
Bu Jessica
“Pak Iwan tolong
bantu Ellen memakai pakaiannya.”
Setelah itu aku
merasakan Pak Iwan memakaikan pakaian kembali ke tubuhku, kemudian melepas kain
yang menutup mataku.
“OK sekarang kamu
boleh mulai bekerja, ingat jangan membuat kesalahan!” kata Bu Jessica.
“Iya nyonya, saya
mengerti.”
Akupun berjalan
keluar ruangan Bu Jessica menuju meja resepsionisku, karena vaginaku diisi
sesuatu aku merasakan suatu sensasi yang aneh saat berjalan, hampir beberapa
saat sekali aku menahan nafas karena dinding vaginaku bergesekan dengan benda
tersebut saat berjalan, rasanya seperti ada arus listrik yang menjalar di
tubuhku. Sesampainya di mejaku, aku melihat Pak Iwan yang baru keluar dari
ruangan Bu Jessica, ia sengaja berjalan ke arah mejaku dan memperlihatkan
sesuatu yang dia ambil dari kantongnya.
Benda itu berwarna
pink dan berbentuk kotak kecil, sambil tersenyum aneh kemudian menekan suatu
tombol dari remote itu, tiba-tiba aku merasakan adanya getaran di vaginaku.
“Argh!!” kakiku langsung lemas, beberapa saat aku menyadari bahwa yang
dimasukkan ke dalam vaginaku adalah sebuah vibrator. Aku langsung berpikir, ya
ampun aku harus bekerja sambil menahan nafsuku sendiri? Bagaimana ini? Pak Iwan
kemudian mematikan vibrator itu dan pergi. Aku bergegas ke toilet karena
khawatir dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi padaku di ruangan Bu
Jessica tadi, aku mengunci diriku di satu kabin toilet dan membuka rokku,
betapa kagetnya aku karena aku telah dipakaikan celana dalam yang bisa dikunci
(chastity belt), aku mencoba untuk melepasnya tetapi chastity belt itu sangat
pas di pinggangku dan tidak mungkin melepaskan benda ini tanpa membuka
gemboknya terlebih dahulu. ‘Celaka! Berarti aku tidak bisa mengeluarkan
vibrator itu dari vaginaku. Bagaimana kalau vibrator itu aktif? dan aku tidak
tahu kapan vibrator ini akan aktif.’ Kataku dalam hati. Aku langsung menjadi
lemas membayangkan bagaimana aku akan menghadapi orang-orang di hari ini,
dengan langkah lunglai aku kembali ke meja resepsionis.
Di hari itu aku
bekerja sambil terangsang sewaktu vibrator itu dinyalakan, aku harus menjaga
penampilan saat berbicara karena tidak mudah memasang ekspresi dan berbicara
dimana aku sedang terangsang, akupun harus berusaha untuk berdiri tegak walau
kakiku terasa lemas karena permainan vibrator itu. Tetapi anehnya kenapa aku
merasa menikmati permainan ini, rasanya menjadi sebuah tantangan yang
menyenangkan untuk menyembunyikan ekspresi horniku. Cairan cintaku mengalir
melalui paha dalam, dan tiap kali tidak ada orang aku selalu mengelap cairan
cinta yang keluar tersebut.
Yang lebih parah
lagi, vibrator itu selalu berhenti di saat aku akan mencapai orgasme, di satu
sisi aku senang karena aku sebenarnya tidak ingin orgasme di depan umum, tapi
di satu sisi semakin lama aku semakin frustrasi karena tidak bisa mendapatkan
orgasme. Ya Tuhan serendah itukah aku sampai sangat ingin sekali mendapatkan
orgasme. Di siang hari karena tidak tahan aku kembali ke toilet untuk mencoba
mendapatkan orgasme sendiri, aku mencoba menyentuh klitorisku tetapi tidak
berguna, aku tidak merasakan apa-apa karena bagian genitalku tertutup dengan
baik oleh chastity belt itu. Merasa sia-sia aku mencoba untuk merangsang
payudaraku sendiri, tetapi aku tidak bisa mendapatkan rangsangan yang cukup
untuk mencapai orgasme, aku pun menjadi putus asa dan menangis di dalam toilet
tersebut..
‘Seandainya….seandainya
aku tidak melakukan hal egois mencuri uang perusahaan’ kataku dalam hati sambil
menyesal.
Sore harinya di
saat pulang kantor Pak Iwan kembali memanggilku ke ruangannya, setelah mengunci
ruangannya Pak Iwan memberikan isyarat padaku untuk membuka pakaian, aku
membuka semua pakaianku perlahan kecuali sepatu high heels dan chastity belt
itu, kemudian ia mengisyaratkan untuk duduk di atas mejanya. Aku duduk di atas
mejanya, ia melihatku sambil tersenyum dan mendekatkan mukanya ke chastity
beltku, kemudian ia memperlihatkan kunci kecil kepadaku lalu membuka chastity
belt tersebut. Setelah melepasnya ia menarik keluar vibrator yang ada di dalam
vaginaku, aku melenguh saat ia menariknya, aku pun merasa sedikit lega karena
tidak ada lagi yang mengganjal di vaginaku. Kini aku dapat melihat benda yang
mengisi vaginaku sejak pagi, benda itu berbentuk silinder, berwarna pink dan
terbungkus oleh cairan cintaku, Pak Iwan mendekatkan vibrator itu ke wajahku
dan mengisyaratkanku untuk menjilatnya, aku pun menjilatnya secara perlahan,
aneh rasanya merasakan cairan cintaku sendiri.
Seperti biasa Pak
Iwan kembali memeriksaku dengan ‘adik kesayangannya’, ia memasukkannya ke dalam
vaginaku secara perlahan dan mulai menggenjotku secara perlahan, aku yang sudah
terangsang berat sejak pagi langsung mengikuti gerakannya, Pak Iwan juga
memainkan payudaraku yang berguncang saat digenjot, dan sesekali dia mencium
bibirku.
Aku sangat
menikmati hal ini, walaupun sebenarnya aku merasa ini salah tetapi keinginan
untuk orgasme mengalahkan pikiranku sendiri. Tak lama kemudian aku mendapatkan
orgasmeku yang sedari pagi tidak aku dapatkan, siksaan nafsu sehari itu
benar-benar membuatku stress, sekarang aku merasa sangat lega. Sayangnya
kelegaan itu tidak berlangsung lama karena Pak Iwan belum mendapatkan
orgasmenya, aku sendiri bingung bagaimana orang yang sudah cukup berumur seperti
dia masih bisa sekuat ini, akibatnya sore itu ia menyetubuhiku kembali dengan
berbagai posisi sampai aku orgasme berkali-kali.
Aku sangat lelah,
rasanya sampai mau pingsan, aku terbaring lunglai di meja kerja Pak Iwan, walau
pandanganku agak kabur tapi aku bisa melihat Pak Iwan sedang menuliskan sesuatu
di kertas, yang kemudian ia tunjukkan kepadaku, di kertas itu tertulis.
“Kata Bu Jessica
setiap pagi kamu harus memakai ini.”
Ingin menangis aku
rasanya, berarti setiap hari aku akan disiksa secara nafsu. Aku berpikir ingin
kabur tetapi aku tidak bisa, aku takut fotoku nanti akan tersebar, akhirnya aku
memutuskan untuk menikmati permainan ini, paling tidak aku sudah diperbolehkan
untuk tidak mengenakan vibrator dan chastity belt itu sampai di rumah sekalipun.
Aku berpikir hal apalagi yang akan terjadi padaku, semakin lama Bu Jessica
semakin menggunakan cara yang aneh untuk menyiksaku, dan herannya sebagian dari
diriku menikmatinya, oh betapa rendahnya diriku sekarang.
Komentar
Posting Komentar