Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu aku jadi semakin ketagihan dengan hal yang harusnya terlarang tsb. Setiap hari pikiranku selalu terbayang bayang akan peristiwa itu dan membuatku semakin tak karuan. Aku tau ini salah namun aku bener bener tak sanggup untuk menahannya. Hasrat itu sering muncul secara tiba tiba setiap kali aku membayangkan kakek angkatku yang sedang bekerja di toko kopinya. Biar bagaimanapun dia sangat berjasa dalam hidupku karena telah menyelamatkan nyawaku saat terjadi kerusuhan beberapa waktu yang silam. Aku ingin membalas budinya dan aku ingin mewujudkan semua fantasi dalam dirinya.
Malam itu rumah Pecinan kembali hening dan toko kopi di depan sudah tutup sejak beberapa waktu lalu. Lampu di bagian depan rumah juga sudah dipadamkan sehingga hanya lampu kecil di dalam rumah yang masih menyala redup. Jalanan di luar terlihat lengang dan hanya sesekali terdengar langkah orang yang melintas di gang sempit di samping rumah. Suara langkah itu cepat menghilang lalu suasana kembali sunyi seperti sebelumnya.
Aku duduk bersila di kamar belakang sambil memegang buku catatan di pangkuanku. Buku itu sudah cukup tebal karena hampir setiap malam aku menuliskan berbagai hal di dalamnya. Tanganku perlahan membuka halaman baru dan aku menatap kertas kosong itu cukup lama seolah sedang memikirkan apa yang ingin kutuliskan.
Beberapa saat kemudian aku mulai menulis dengan pelan. Ujung pena bergerak perlahan di atas kertas sementara napasku terasa sedikit hangat.
"Fantasi kedua di kursi goyang ruang tengah. Lampu temaram dan aku duduk di pangkuannya lalu tubuhku bergerak pelan sampai akhirnya aku menyerahkan semuanya tulisku di halaman buku harian yang sudah lusuh dimakan waktu itu.
Tanganku sedikit bergetar ketika menuliskan kalimat terakhir. Aku berhenti sejenak lalu menatap tulisan itu dengan wajah yang mulai terasa hangat. Ada gairah asing yang perlahan muncul di dalam dadaku sehingga aku menarik napas panjang sebelum menutup buku catatan itu.
Setelah itu aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan perlahan keluar dari kamar belakang. Langkah kakiku terasa ringan namun juga ragu seolah aku sedang memikirkan sesuatu. Lorong rumah terasa tenang dan hanya suara langkah kakiku yang terdengar pelan di lantai kayu.
Aku kemudian sampai di ruang tamu. Di sudut ruangan berdiri kursi goyang tua yang sudah ada di rumah itu sejak lama. Kursi itu terbuat dari kayu rotan yang sudah mengilap karena sering dipakai. Di atas dudukannya terdapat bantal tipis yang terlihat sedikit cekung di bagian tengahnya. Kakek sering menghabiskan waktunya di kursi itu setiap malam, duduk sambil menikmati secangkir kopi dan lampu remang yang menerangi ruangan, kadang membolak-balik buku lama atau hanya menatap layar televisi dengan tenang. Suara goyangan kayu itu menjadi bagian dari ritme malamnya yang selalu tenang dan akrab di rumah itu.
Lampu ruang tamu hanya menyala redup sehingga bayangan kursi goyang itu terlihat memanjang di lantai. Aku berdiri beberapa langkah dari kursi itu lalu menatapnya cukup lama. Ruangan terasa sunyi dan tenang sehingga suara jam dinding tua di dekat pintu terdengar berdetak pelan mengisi kesunyian malam.
Aku menarik napas perlahan sambil masih memandang kursi goyang itu. Tanganku tanpa sadar menggenggam ujung daster yang kupakai sementara pikiranku kembali teringat pada tulisan yang baru saja kutulis di buku catatan tadi. Suasana malam yang tenang membuat semuanya terasa lebih jelas dan lebih nyata di dalam pikiranku.
Keesokan harinya Kakek angkatku sudah duduk di kursi rotan di sudut ruang tamu seolah ia sudah tahu aku akan datang malam ini. Aku berhenti beberapa langkah di depannya lalu menatap kursi itu sambil menarik napas perlahan. Lampu yang redup membuat bayangan tubuh kami jatuh panjang di lantai kayu dan suasana rumah terasa sangat sunyi.
Aku tidak banyak bicara malam itu sehingga aku hanya berdiri di depannya sambil sedikit menundukkan kepala. Dadaku terasa berdebar dan napasku naik turun perlahan. Setelah beberapa saat aku melangkah mendekat lalu berhenti tepat di depan kursi itu.
"Kakek sudah baca semuanya. Kamu bener bener ingin mencobanya disini ? Kata Kakek sambil duduk santai diatas kursi rotan yang bergoyang pelan.
Aku kemudian duduk perlahan di pangkuannya. Daster tipis yang kupakai ikut tersingkap ketika aku bergerak sehingga pahaku menempel di kakinya yang terasa kasar dan hangat. Aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat wajahku sementara kursi rotan itu sedikit berderit ketika menerima beban tubuh kami.
Ia menatap wajahku cukup lama seolah ingin memastikan sesuatu. Tangannya sempat terangkat namun terlihat ragu untuk menyentuhku. Aku lalu menggenggam tangan itu dengan pelan dan menuntunnya menuju pinggangku sendiri.
Tanganku menahan tangannya di sana sementara aku tetap duduk di pangkuannya. Aku menunduk sedikit dan menarik napas perlahan lalu membiarkan suasana hening itu berlangsung beberapa saat di antara kami. Lampu redup di ruang tamu dan suara jam dinding tua membuat malam itu terasa semakin tenang namun juga penuh ketegangan yang sulit dijelaskan.
"Aku yang minta. Baca saja di halaman barunya bisikku dengan napas yang mulai bergetar
Setelah itu kami terdiam cukup lama dan hanya suara jam dinding tua yang berdetak pelan di ruang tamu. Suasana rumah terasa sangat sunyi sehingga setiap gerakan kecil terdengar jelas di telinga. Aku masih duduk di pangkuannya sambil menundukkan wajahku sedikit dan napasku masih terasa hangat di lehernya.
Tangannya tetap melingkari pinggangku lalu tubuhku menempel erat di dadanya. Di bawah tubuhku aku bisa merasakan batang penisnya yang masih keras dan hangat menekan dari bawah sehingga membuat tubuhku perlahan kembali terangsang. Sensasi itu membuatku menggeliat kecil di pangkuannya.
Beberapa saat kemudian aku mulai menggerakkan pinggulku dengan pelan di atas pangkuannya. Gerakan itu masih ragu pada awalnya namun perlahan menjadi lebih jelas dan lebih berani. Pinggulku terus bergerak perlahan sambil merasakan batang penisnya yang keras bergesek didalam kemaluanku.
Desah lirih keluar dari bibirku karena setiap gerakan kecil itu membuat gairahku kembali bangkit. Tanganku kembali mencengkeram bahunya lalu tubuhku bergerak semakin jelas di pangkuannya. Kursi rotan tua itu mulai berderit pelan dan bergoyang mengikuti gerakan tubuhku sementara suasana ruang tamu tetap sunyi dan hanya diisi oleh suara napas kami yang semakin berat.
Aku kemudian memeluk leher kakek angkatku dengan erat. Tubuhku condong ke depan dan bibir kami kembali bertemu dalam ciuman yang basah dan panjang. Napas kami bercampur sementara tubuhku bergerak semakin berani di atas pangkuannya.
Daster tipis yang kupakai perlahan jatuh terbuka ketika aku bergerak. Dadaku menempel di dadanya yang terasa hangat sementara tanganku masih melingkar di lehernya. Kursi rotan itu kembali berderit pelan seiring gerakan tubuhku yang terus bergoyang.
"Aaah… begini… ini yang kutulis bisikku di sela napas yang mulai berat
Aku memejamkan mata sejenak lalu kembali menggerakkan tubuhku dengan pelan. Napasku semakin tidak teratur sementara ruangan yang sunyi itu hanya diisi suara napas kami dan derit kursi rotan tua yang terus bergoyang perlahan.
Kursi rotan itu mulai bergetar semakin keras sehingga suara kayu tua bercampur dengan napas kami yang semakin berat. Aku menggeliat di atas pangkuannya dan tubuhku mulai basah oleh keringat sehingga desahanku tidak lagi bisa kutahan. Dadaku naik turun dengan cepat sementara tanganku masih memeluk lehernya dengan erat.
"Aku… aaahhh… aku nggak kuat gumamku dengan napas yang tersengal
Ia langsung mendekapku semakin erat dan tangannya menahan pinggangku agar tubuhku tidak lepas dari pangkuannya. Aku bisa merasakan kekuatannya ketika ia mulai menggerakkan tubuhku semakin cepat di atas pangkuannya. Gerakan itu membuat kursi rotan tua itu kembali berderit keras dan bergoyang mengikuti irama tubuh kami.
Aku menjerit kecil lalu menekan wajahku ke lehernya karena sensasi yang kurasakan semakin kuat dan semakin dalam. Napasku terasa panas di kulit lehernya dan tubuhku terus bergerak tanpa bisa kuhentikan. Tanganku mencengkeram bahunya dengan kuat lalu kakiku menegang di kedua sisi tubuhnya sementara dari bawah batangnya menghujam keras dan membuat tubuhku tersentak setiap kali dorongannya naik.
Puncak itu datang semakin mendesak sehingga tubuhku tiba tiba menegang dan napasku menjadi terputus putus. Desahanku keluar semakin keras karena setiap dorongan dari bawah terasa semakin dalam dan membuat tubuhku menggeliat di pangkuannya. Aku hampir terisak karena kenikmatan yang datang bertubi tubi lalu membuat tubuhku gemetar.
Aku terus mengejang di atas pangkuannya sementara ia masih memelukku erat dan tetap menghujam dari bawah. Kursi rotan tua itu berderit dan bergoyang pelan lalu mengikuti sisa gerakan tubuh kami di ruang tamu yang sunyi itu.
Malam berikutnya udara terasa dingin dan jalanan Pecinan sudah benar benar sunyi. Hanya suara anjing yang sesekali menggonggong dari gang lain sehingga suasana terasa semakin sepi. Aku menggandeng tangan kakek angkatku lalu berjalan perlahan menuju halaman kecil di depan rumah. Lampu bohlam kuning yang tergantung di atas menerangi halaman itu dengan cahaya redup.
Aku mengenakan daster tipis yang sengaja kubiarkan agak terbuka di bagian depan sehingga kainnya terasa longgar di tubuhku. Angin malam berhembus pelan lalu membuat ujung dasterku sedikit bergerak.
Di halaman itu ada bangku panjang dari kayu yang sudah terlihat tua. Catnya banyak terkelupas dan permukaannya tampak kusam dimakan waktu. Aku duduk perlahan di bangku itu lalu merapikan dasterku sebentar.
Setelah itu aku menoleh ke arahnya. Ia masih berdiri di depanku dengan wajah yang terlihat ragu. Aku tersenyum kecil lalu menatapnya dengan pandangan menggoda di bawah cahaya lampu yang redup.
“Halaman berikutnya… waktunya kita coba Kek ucapku pelan
Kakek angkatku terdiam beberapa saat lalu menoleh ke arah jalan yang gelap seolah memastikan tidak ada orang yang lewat. Setelah itu ia kembali menatapku dengan wajah yang masih terlihat gugup.
“Lin… yakin kamu mau disini.. nanti kalau ada yang lihat gimana ? bisiknya dengan suara pelan dan terdengar cemas sambil tetap berdiri kaku di depan bangku kayu itu
Aku justru mendekat lalu duduk di pangkuannya sambil merapatkan tubuhku. Daster tipis yang kupakai perlahan melorot sehingga buah dadaku terlihat setengah terbuka di bawah cahaya lampu yang redup. Napasku terasa hangat di telinganya ketika wajahku mendekat.
“Justru itu yang kumau.. rasa takut ketahuan yang bikin makin penasaran ucapku pelan
Aku mulai menggerakkan pinggulku dengan perlahan di atas pangkuannya dan tubuhku menekan semakin erat. Bangku kayu tua itu berderit pelan setiap kali tubuh kami bergerak. Suara kayu yang bergesek bercampur dengan bisikan angin malam yang lewat di halaman rumah.
Aku menutup mulutku dengan satu tangan lalu menahan desah agar tidak terdengar keluar pagar. Dadaku naik turun karena napasku mulai terasa berat sementara pinggulku terus bergerak perlahan.
Kakek angkatku akhirnya menyerah lalu memeluk tubuhku dengan erat. Tangannya menahan pinggangku dengan kuat lalu mulai menggerakkan pinggulnya perlahan naik turun di bangku kayu panjang yang sempit itu. Perlahan lahan bangku tua itu kembali berderit mengikuti gerakan tubuh kami.
Tubuhku menggeliat di pelukannya dan mataku terpejam rapat. Setiap gerakan membuatku semakin sulit menahan suara. Aku menunduk lalu menciumi leher kasarnya sambil berbisik di sela napasku yang tersengal.
“Aaah… cepat kek… sebelum ada yang lewat bisikku pelan sambil terus merapatkan tubuhku di pangkuannya.
Komentar
Posting Komentar