Cerita ini murni fiksi dan hanya untuk tujuan hiburan semata. Semua tokoh, peristiwa, nama tempat, atau dialog di dalamnya adalah hasil rekaan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menghina, menghasut kebencian, atau menjelekkan kelompok etnis, ras, agama, atau golongan tertentu.
Segala kesamaan nama atau kejadian dengan peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten ini dan tidak membawa materi cerita ini ke ranah nyata.
By : Analconda13
Sore itu langit pecinan masih gelap akibat cuaca mendung yang berlangsung sejak siang tadi. Lien baru saja turun dari dalam mobil angkot tua lalu berjalan gontai menuju rumahnya. Seragam sekolah putih abu abunya nampak kusut dan menempel di kulit yang lembap oleh keringat. Lien berjalan pelan sambil memperhatikan keadaan disekitarnya yang sepi sementara tas ransel berwarna pink yang ada di punggungnya terasa makin berat setiap kali dia melangkah. Namun bagi Lien, ada beban lain yang terasa lebih berat daripada beban tas sekolah dipundaknya, yaitu beban pikiran yang ada didalam kepalanya.
Ketika melewati bangunan pasar tua dekat rumahnya, langkahnya melambat karena ia merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya ke arah sana. Di bagian depan pasar pecinan itu ada sebuah toko baju yang sudah lama tidak dipakai berjualan oleh pemiliknya. Rolling doornya rusak dan mulai berkarat namun di atasnya masih tergantung sebuah papan nama bertuliskan Xin Mei.
Sejak kecil Lien sering mendengar orang tuanya membicarakan toko pakaian Xin Mei. Dulu katanya toko itu sangat ramai dan terkenal di kawasan tua pecinan. Banyak orang memesan baju pesta dan cheongsam di sana sehingga pembeli datang bukan hanya dari sekitar pasar tetapi juga dari daerah lain. Namun belasan tahun yang lalu telah terjadi kerusuhan besar di daerah itu dan semua keadaannya langsung berubah. Setelah kejadian mengerikan itu toko langsung tutup dan tidak pernah beroperasi lagi. Orang tuanya jarang mau menjelaskan dan hanya mengingatkan Lien agar tidak bermain terlalu dekat ke sana.
Sekarang Lien berhenti berjalan di depan bangunan terbengkalai itu. Ia menatap papan nama toko yang catnya sudah mengelupas. Di bawah tulisan Xin Mei masih terlihat samar aksara Mandarin 新美 yang warnanya hampir pudar tertutup debu dan noda hujan. Ia mencoba membayangkan apa yang sebenarnya terjadi sampai tempat seramai itu bisa ditinggalkan begitu saja. Rasa penasaran yang ada sejak kecil pun langsung muncul lagi dalam pikirannya dan membuatnya tertarik untuk mengungkap lebih jauh tentang kejadian tragis itu.
Lien melangkah mendekat lalu mengamati toko tersebut dengan lebih teliti. Rolling door berkaratnya tidak tertutup rapat melainkan terangkat sedikit di bagian bawah. Dari celah itu terlihat bagian dalam toko yang gelap dan berantakan. Beberapa rak kayunya roboh, gantungan bajunya patah, kaca etalase pecah dan berserakan di lantai. Beberapa potongan kain masih tergeletak kotor seolah pernah ditarik paksa. Keadaan di dalamnya tampak porak poranda seperti bekas dijarah massa lalu dibiarkan begitu saja bertahun tahun tanpa pernah dirapikan lagi.
Lien mengamati toko Xin Mei dari dekat selama beberapa saat. Setelah merasa tidak ada lagi yang bisa dilihat di bagian depan ia hendak berbalik pergi. Saat itulah ia menyadari ada sebuah lorong sempit di dalam bangunan pasar yang menuju ke bagian belakang.
Ia melangkah perlahan menuju lorong itu lalu menoleh ke arah dalam pasar. Suasananya terasa sangat sepi. Tidak ada angin dan tidak terdengar suara orang berbicara. Beberapa lapak tertutup kain lusuh dan sebagian lainnya kosong seperti sudah lama tidak dipakai. Langkah kakinya terdengar jelas di lantai semen yang lembap.
Lorong bangunan yang panjang itu tampak gelap karena dipenuhi kios kios terbengkalai. Pintu rolling door besi berkarat berjajar di kiri kanan dan beberapa terlihat jebol seperti pernah dipaksa dibuka. Lantai dipenuhi debu, sisa barang dan sampah yang tidak pernah dibersihkan. Rasa penasaran kembali muncul lalu ia memperlambat langkahnya.
Saat itu kata kata tukang parkir yang sedang bercerita dengan temen temannya beberapa minggu lalu tiba tiba terngiang di kepalanya.
"Beneran.. yang di lorong pasar situ, anak gadis yang punya toko baju di depan pasar pecinan namanya Ching Ching kalau tidak salah, orangnya manis dan ramah, katanya waktu kerusuhan dia diseret massa ke belakang pasar. kata tukang parkir itu.
Temannya sempat menimpali pelan lalu bertanya apa yang terjadi setelah itu. Lelaki tua itu menggeleng dan menurunkan suaranya. Ia bilang sejak malam itu keluarganya langsung menutup toko dan tidak pernah kembali lagi. Ada yang bilang mereka pindah kota, ada juga yang bilang tidak pernah terlihat keluar dari pasar malam itu.
Orang orang sekitar hanya tahu sejak kejadian itu bagian belakang pasar jadi jarang dilewati. Beberapa pedagang yang pernah mencoba membuka kios di sana tidak bertahan lama karena merasa tidak nyaman berada di lorong tersebut.
Ingatan itu membuat langkah Lien makin pelan. Ia menatap lorong di depannya lalu tanpa sadar merasakan udara di dalamnya lebih dingin dibanding bagian depan pasar.
"Diseret massa ke belakang pasar ? pikir Lien. Rasa penasarannya semakin besar meskipun perasaan takut mulai muncul. Ia menatap lorong di depannya sambil mencoba memastikan arah yang dulu disebut oleh si tukang parkir tua depan toko keluarganya.
![]() |
| Lien |
Cahaya dari bagian depan pasar mulai berkurang karena hari menjelang malam. Bagian dalam bangunan terlihat semakin gelap dan beberapa sudut tidak lagi jelas terlihat. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya hingga bulu kuduknya meremang. Namun anehnya Lien justru tidak ingin pergi. Ada gairah asing yang membuatnya ingin memastikan sendiri cerita itu.
Lien berhenti melangkah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perasaannya tidak nyaman antara takut dan penasaran. Ia menatap lorong pasar yang memanjang ke dalam. Lapak lapak sudah tutup dan pintu seng digembok rapat sehingga hanya tersisa lorong gelap yang sepi.
“Apa benar di sini tempatnya ? bisiknya pelan.
Tangannya menggenggam tali ransel erat. Ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya lalu perlahan melangkah masuk lebih jauh ke lorong pasar.
Suara langkah kakinya bergema di lantai semen dan debu beterbangan setiap kali kakinya bergeser. Bau karat dari pintu rolling door tercium tajam. Lien menahan napas dan mencoba mendengarkan sekelilingnya.
Semakin ke dalam.. suasana pasar makin tidak nyaman. Lampu neon di langit langit sebagian mati dan hanya menyisakan cahaya redup yang berkedip. Tiang beton berdiri di sisi lorong penuh coretan kata kasar dan beberapa tulisan lama yang masih terlihat samar.
"GANYANG CINA !! "BAKAR! JARAH !!
Lien merinding setelah membaca kata kata kasar dan rasis itu lalu mengusap punggungnya karena merasa dingin. Lorong panjang itu tiba tiba bercabang. Ke kanan masih terlihat agak terang sedangkan ke kiri jauh lebih gelap. Ia ragu sejenak lalu memilih belok ke kiri.
Beberapa langkah kemudian ia sampai di ruang kosong di belakang pasar. Lantainya basah seperti ada air menetes dari pipa bocor di atas. Bau lembab langsung terasa menyengat di hidungnya.
Di tempat itu Lien melihat sisa sisa kejadian lama. Ada potongan kain sobek terjepit di sela pintu seng dan bercak kecokelatan yang sudah memudar di lantai. Pada tembok terlihat retakan panjang seperti bekas benturan benda keras.
Bayangan kelam tentang kerusuhan yang terjadi belasan tahun lalu menyerbu pikirannya. Ia membayangkan puluhan perusuh berwajah buas dan dipenuhi kebencian berdesakan di lorong sempit, teriakan beringas dan suara tangisan gadis-gadis tionghoa yang diseret paksa. Suasana itu terasa begitu jelas sampai ia seolah mendengar suara samar.
"Ampun… jangan… !! aku tidak salah apa apa..
Napas Lien mulai memburu. Ada denyut panas di dadanya yang tak bisa ia pahami. Tak hanya takut tapi juga rasa penasaran seperti gelap yang makin mengikat pikirannya.
Lien melangkah lebih dekat kearah dinding bangunan pasar yang sebagian sudah retak dan dipenuhi coretan. Jemarinya menyentuh bercak kecokelatan dan seketika kulitnya langsung bergidik. Tiba-tiba ada bunyi benda jatuh di sudut gelap. Lien memutar badannya dengan cepat dan jantungnya nyaris meledak.
"Siapa… siapa di sana ?!!
Lien hanya bisa diam dan berdiri terpaku, tubuhnya gemetar menahan dingin dan ketegangan. Jantungnya berdetak cepat, takut dan penasaran bercampur menjadi satu. Ada dorongan kuat untuk segera lari, tapi ada juga dorongan lain yang membuatnya tetap ingin berada di situ. Matanya menelusuri setiap sudut lorong, dari pintu seng berkarat sampai lantai basah, seolah berharap menemukan jejak nyata dari peristiwa masa lalu yang menghantui tempat itu.
Lien menelan ludah dan dadanya naik turun dengan cepat. Jemarinya yang lentik gemetar saat memegang tali ransel lalu ia menatap tajam ke sudut gelap tempat bunyi itu berasal. Lampu neon yang berkedip membuat bayangan di dinding bergerak sehingga terlihat seperti ada sesuatu di balik puing dan seng berkarat.
Tok… tok… tok…
Suara tetesan air terdengar semakin keras lalu menggema di ruang kosong. Lien melangkah perlahan hampir tanpa suara dan mendekati sudut itu. Bau lembap bercampur anyir memenuhi hidungnya sehingga perutnya terasa mual.
Tok… tok…
Saat jaraknya tinggal beberapa langkah ia melihat sesuatu di lantai yaitu potongan kain putih kusam dengan panjang sekitar setengah meter. Salah satu ujungnya sobek dan bercak cokelat kering menodai serat kainnya sehingga Lien menatapnya lama karena jantungnya terasa membentur tulang rusuk.
Lien berjongkok lalu jemarinya hampir menyentuh kain itu namun segera ditarik kembali karena ia merasa seolah kain itu bisa hidup dan membelit lengannya. Di dalam kepalanya terngiang suara suara.
"Jangan !! jangan !! Sakit… ampuun.. jangan… katanya
Lien menegakkan tubuh lalu matanya berkeliling memperhatikan setiap retakan tembok dan setiap bayangan di lantai yang tampak seperti meneteskan darah. Ia menelan ludah karena tenggorokannya terasa kering kemudian napasnya menjadi pendek pendek. Pipinya memanas karena ia malu pada rasa takutnya sendiri namun di saat yang sama muncul perasaan lain yang lebih kelam dan sulit ia jelaskan.
"Apa ini milik Ching Ching? gumam Lien dengan suara lirih hampir tak terdengar.
"Katanya waktu kerusuhan dia diseret ke belakang pasar… kata tukang parkir itu dengan suara pelan dan para pedagang hanya bisa saling berpandangan.
Lien saat itu pura pura merapikan barang di rak namun telinganya terus menangkap setiap ucapan. Ia tidak berani mendekat karena merasa topik itu bukan sesuatu yang boleh dibicarakan sembarangan. Meski begitu potongan cerita yang terdengar sudah cukup membuatnya gelisah.
Sekarang bayangan itu muncul lagi di kepalanya. Ia membayangkan lorong sempit di belakang pasar yang gelap dan jarang dilewati orang. Ia membayangkan langkah kaki yang tergesa dan tangan tangan kasar yang menarik paksa. Ia membayangkan jeritan yang tertahan oleh dinding tembok tua dan tenggelam oleh suara keributan di luar.
Napas Lien menjadi berat lalu dadanya terasa sesak. Ia menggenggam anting kecil itu lebih erat seolah benda itu bisa menjawab semua pertanyaannya. Ruangan kosong di sekelilingnya terasa makin sempit dan sunyi sementara bayangan di sudut ruangan tampak seperti saksi bisu yang menyimpan rahasia kelam bertahun tahun lamanya.
Lien menelan ludah lalu menggenggam anting itu lebih erat dan dadanya berdegup makin keras. Hawa di sekitarnya terasa dingin dan membuat tengkuknya merinding karena pasar itu seperti masih menyimpan sisa kehadiran orang orang lama. Tiba tiba dari belakang terdengar suara kaki menyeret di lantai semen dan bunyinya berat serta berjalan sangat lambat.
“Ssst… siapa di sana… Lien memutar badan cepat lalu menatap ke arah suara itu.
Namun tidak ada siapa pun di sana dan yang terlihat hanya lorong kosong dengan lampu yang berkedip semakin cepat sehingga memercik sesekali seperti akan padam. Saat ia hendak melangkah mundur terdengar suara lirih seperti bisikan yang datang dari arah gelap.
“Tolong… aku masih di sini…
Lien membeku lalu tubuhnya menggigil dan jemarinya mencengkeram anting mutiara itu sekuat tenaga sampai terasa sakit. Ia tetap berdiri di tengah pasar yang gelap dan diapit tembok penuh coretan kebencian sehingga ia tidak mampu memastikan apakah suara itu benar benar nyata atau hanya bayangan dari masa lalu yang belum selesai.
Tiba tiba di ujung lorong gelap itu Lien melihat sosok seorang pria renta. Tubuhnya bungkuk dan rambutnya sudah putih semua. Wajahnya keriput seperti kulit kering yang lama terpapar matahari. Ia mengenakan rompi lusuh dengan tulisan Petugas kebersihan pasar dan tangannya sibuk mendorong tong sampah beroda yang berderit pelan di lantai semen.
“Kek… kakek… panggil Lien dengan suaranya yang bergetar.
Kakek renta itu menoleh pelan ke arah Lien. Gerakannya lambat karena tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Sorot matanya terlihat sayu namun masih jernih sehingga ia masih bisa menatap dengan jelas.
Ia memandangi wajah Lien beberapa saat lalu mengernyit sedikit karena seperti sedang mengingat sesuatu. Tatapannya tidak lepas dari wajah gadis itu. Matanya bergerak pelan dari mata Lien lalu turun ke pipinya dan kembali lagi ke matanya.
Beberapa detik berlalu namun kakek itu masih diam. Ia seperti berusaha menggali ingatan yang tersimpan di kepalanya. Napasnya terdengar pelan dan berat lalu ia sedikit memiringkan kepalanya sambil terus memperhatikan wajah Lien seolah sedang memastikan apakah ia benar mengenali gadis yang berdiri di depannya.
"Iya neng… ada apa ? Kok kamu sendirian di belakang pasar. Bahaya lho… katanya dengan suara serak.
Kakek itu memandang Lien dengan mata yang masih tajam walau wajahnya sudah dipenuhi keriput. Ia sedikit menegakkan punggungnya lalu menoleh ke kiri dan ke kanan seperti memastikan keadaan di sekitar tempat itu.
Lien menggigit bibir bawahnya. Wajahnya terlihat ragu dan napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Tangannya meremas tali ransel yang menggantung di pundaknya seolah sedang menahan gugup.
Lien lalu menoleh pelan ke sekeliling. Matanya menyapu lorong sempit di belakang pasar yang terlihat sepi. Hanya ada beberapa keranjang kosong dan bau sisa sayuran yang tertinggal di tanah.
Setelah memastikan tidak ada orang lain di dekat mereka lalu Lien melangkah mendekat. Langkahnya pelan namun pasti hingga jaraknya dengan kakek itu menjadi lebih rapat. Ia berhenti tepat di depan kakek itu lalu menundukkan sedikit kepalanya seperti sedang menimbang kata kata yang akan ia ucapkan.
"Kek… aku mau nanya. Tentang kerusuhan yang dulu. Yang tahun sembilan puluh delapan itu. Bener gak.. ada kejadian di tempat ini. Di belakang pasar ? Tanya Lien dengan rasa penasaran.
Lien berdiri kaku di depan kakek itu. Matanya menatap penuh harap karena ia benar benar ingin mendengar jawaban yang jelas. Tangannya masih memegang tali ransel dengan kuat seolah menahan rasa gugup yang muncul di dalam dadanya.
Kakek itu tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat setelah mendengar pertanyaan itu. Wajahnya tiba tiba menegang dan garis keriput di wajahnya terlihat semakin dalam.
Tatapannya perlahan bergeser lalu mengamati tempat di sekitar Lien berdiri. Di sekeliling gadis itu tampak deretan lapak kayu yang sudah lapuk dan kosong. Kayunya kusam dan beberapa bagian terlihat hampir roboh karena dimakan usia. Tempat itulah yang terus dipandangi kakek itu seolah kenangan lama muncul kembali di pikirannya.
Di sekitar mereka suasana menjadi sangat sunyi. Suara roda tong sampah yang tadi berderit perlahan kini berhenti sama sekali. Tidak ada lagi bunyi langkah orang atau suara kendaraan lewat dari kejauhan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Hanya terdengar bunyi tetesan air dari pipa yang bocor jatuh ke tanah yang kotor di sudut lorong. Kakek itu masih menatap ke arah sana seolah kenangan lama kembali muncul di dalam pikirannya. Akhirnya kakek itu menghela napas panjang. Dadanya naik turun pelan seolah menahan sesuatu yang berat di dalam pikirannya.
"Aaah... neng… kenapa kamu tanya hal kayak gitu… Suaranya pelan dan terdengar serak seolah takut ada orang lain yang mendengar.
Petugas kebersihan tua itu kembali menoleh ke arah tempat di sekitar Lien berdiri. Pandangannya terlihat tajam namun juga penuh ragu seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang berat. Matanya menyapu deretan lapak kayu yang sudah lapuk di belakang pasar. Beberapa papan terlihat miring dan sebagian lagi hampir roboh karena dimakan usia. Kakek itu terus memandangi tempat itu seolah mengingat sesuatu yang pernah terjadi di sana.
Tangannya yang kurus bertumpu pada pegangan gerobak sampah dorong di sampingnya. Jari jarinya bergerak pelan di atas besi pegangan yang sudah kusam. Gerakan kecil itu terlihat seperti cara dirinya menenangkan diri sambil terus menatap lapak lapak kayu lusuh yang ada disekitarnya. Lien tidak mundur. Ia justru melangkah sedikit lebih dekat. Wajahnya terlihat tegang dan matanya mulai berkaca kaca.
"Aku cuma mau tahu kek… apa bener ada yang diseret ke sini. Ada yang digituin sama perusuhnya… Tanya Lien dengan suara yang lebih pelan namun terdengar mendesak.
Tangannya kembali meremas tali ransel di pundaknya. Ia menatap wajah kakek itu dengan penuh harap seolah jawaban dari lelaki tua itu sangat penting baginya. Di belakang pasar suasana tetap sunyi. Bau lembap dari tumpukan sampah dan sayuran busuk masih terasa di udara. Namun bagi Lien keheningan itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak saat menunggu jawaban dari kakek tersebut. Si kakek mengangguk lemah. Sorot matanya menjadi sendu.
"Iya.. neng… bener… terjadi di sini… di tempat neng berdiri sekarang.
Lien mengatupkan bibir dan dadanya langsung terasa sesak. “Siapa kek? Siapa yang… yang mereka seret ?
Kakek menatap Lien lama sekali. Matanya berkaca suaranya bergetar.
“Namanya Ching Ching… Anak gadis pemilik toko baju di pasar ini. Orangnya cantik, neng… ramah sekali. Kakek sering ketemu dia. Kalau lewat selalu sapa kakek, kasih senyum. Kadang kasih baju baru tiap imlek. Baik sekali dia.
Kakek menunduk. Bahunya bergetar halus. Tangannya menggenggam gagang tong sampah erat-erat.
“Hari itu… keadaan pasar rusuh banget. Orang gak dikenal yang gak tau datangnya darimana pada lari-lari… teriak bakar !! jarah !! Kakek lihat Ching Ching diseret sama gerombolan laki-laki dari arah depan pasar. Rambutnya dijambak neng… bajunya ditarik-tarik sampai sobek. Dia nangis… jerit-jerit… bilang ampun. Kakek mau tolong… mau selametin dia… Suaranya tercekat dan dipenuhi ketegangan.
Lien menutup mulutnya dengan tangan. Napasnya memburu dan matanya melebar karena ketakutan. Tubuhnya berguncang kecil sementara tangannya yang lain menggenggam anting mutiara di dalam saku semakin erat. Di depannya kakek terdiam lama dengan napas berat. Pandangannya jatuh ke lantai dan jemarinya yang keriput bergetar saat meremas gagang tong sampah di sampingnya.
Lien mengusap wajahnya dengan cepat lalu menatap kakek itu dengan mata yang masih tegang. “Terus… Kek… setelah itu… apa yang terjadi sama Ching Ching…? tanya Lien dengan suara pelan.
Kakek terdiam beberapa saat. Napasnya terdengar berat dan bahunya sedikit bergetar sementara pandangannya tetap tertunduk ke lantai.
"Kakek memang jatuh waktu dipukul itu, neng… tapi kakek tidak pingsan, kata kakek itu pelan. Kepala kakek pusing dan badan kakek sakit sekali. Tapi kakek masih sadar. Kakek merangkak pelan lalu bersembunyi di balik lapak kosong. Dari situ kakek lihat semuanya.
"Mereka rame rame nyeret Ching Ching ke atas lapak kayu di belakang pasar neng. Rambutnya dijambak terus badannya didorong kasar ke atas situ. Dia nangis sambil minta dilepas tapi perusuhnya malah ketawa. Jumlahnya banyak sekali. Belasan orang. Badan mereka besar besar dan kekar. Lengan sama lehernya penuh tato. Wajahnya juga asing semua. Kakek gak pernah lihat mereka di pasar ini sebelumnya. Kata kakek dengan suara pelan.
"Mereka mengelilingi Ching Ching di atas lapak itu sambil terus memegangi tangan dan kakinya. Kakek cuma bisa melihat dari tempat sembunyi. Kakek tidak berani keluar karena mereka masih pegang pisau dan kayu. Kelihatannya seperti orang bayaran yang sengaja datang waktu kerusuhan, lanjut kakek itu dengan suara pelan.
Lien mengerutkan kening dan menatap kakek dengan cemas. Hawa di lorong itu terasa makin dingin hingga membuat punggungnya merinding.
"Terus… mereka ngapain Ching Ching…? tanya Lien dengan suara pelan yang hampir tercekat.
Kakek menunduk. Bahunya bergetar dan napasnya terdengar berat.
"Bapak lihat Ching Ching didorong sampai telentang di atas lapak kayu itu neng. Dia sempat ngelawan tapi langsung ditampar sama mereka. Badannya didorong lagi sampai benar benar telentang. Kakinya sampai menjuntai ke bawah lapak itu.
"Dia nangis sambil meronta neng. Kakinya nendang nendang karena ketakutan. Tapi orang orang itu terlalu banyak. Laki laki bertato itu langsung ngerubungin dia di atas lapak itu. Bajunya disobek terus teteknya diremes remes kayak barang jarahan. Kata kakek dengan suara bergetar.
Lien menutup mulutnya dengan tangan, matanya melebar saat mendengar cerita itu. Ada rasa takut yang menjalar di dadanya, tapi di saat yang sama bayangan kejadian itu membuat napasnya memburu dan dadanya naik turun tidak teratur. Ia menelan ludah sambil berusaha tetap berdiri tenang di depan kakek, yang menarik napas panjang dengan suara tersendat dan berat sebelum melanjutkan ceritanya.
"...Mereka… satu per satu naik ke atas lapak itu neng. Mereka mengerubungi Ching Ching lalu memperkosanya secara bergiliran. Dia terus menangis dan berteriak minta ampun.
Beberapa dari mereka memegang tangan dan kakinya supaya dia tidak bisa bergerak. Badan-badan mereka yang besar menutupi tubuhnya sampai kakek hampir tidak bisa melihat dia lagi dari tempat sembunyi.
"Ching Ching masih berusaha melawan dan terus menangis. Tapi mereka malah tertawa dan tidak peduli dengan teriakannya, kata kakek dengan suara bergetar.
Lien merasa dunia di sekelilingnya seperti berputar. Tapi tubuhnya tetap terpaku dan kakinya tidak sanggup melangkah mundur. Mata kakek menatap kosong ke lantai semen yang kusam.
"…Sebenarnya bapak sempat mau menolong ching ching lagi neng. Bapak teriak bilang sudah cukup dan minta mereka berhenti. Tapi mereka malah memukul bapak dan mendorong bapak ke tembok.
"Ada yang menodongkan pisau ke leher bapak dan mengancam akan membunuh bapak kalau bapak tidak ikut. Bapak ketakutan waktu itu neng. Mereka memaksa bapak naik ke lapak itu… memaksa bapak ikut memperlakukan Ching Ching seperti yang mereka lakukan. Kata kakek itu dengan suara gemetar.
"Ja..jaadi waktu itu bapak ikut memperkosa ching ching dilapak kayu ini ?
"Iii..iiya neng. Bapak juga nggak nyangka bisa ngelakuin hal bejad kayak gitu. Jujur aja waktu kejadian itu bapak sempat diancam akan dihabisi sama perusuhnya. Bapak udah nolak berkali kali tapi mereka malah suruh ching ching isepin punya bapak. Makanya bapak jadi sange terus khilaf dan akhirnya ikutan merkosa dia. Pokoknya bapak nyesel banget neng.
Lien menggeleng pelan. Air matanya jatuh deras di pipinya dan napasnya terasa berat.
"Terus… gimana nasib Ching Ching setelah kejadian itu… selamat gak kek ? tanya Lien dengan suara tercekat.
Kakek hanya menggeleng perlahan. Wajahnya terlihat ketakutan dan dipenuhi rasa bersalah.
"Waktu itu setelah mereka pergi Ching Ching dibiarkan tergeletak di atas lapak kayu itu neng. Tubuhnya sudah lemas dan hampir tidak bergerak. Kakek sempat mendekat dan melihat dia dari dekat. Tapi tidak lama kemudian dari arah dalam pasar ada orang-orang berteriak bakar… bakar. Suasana langsung makin kacau. Orang-orang pada lari ke sana kemari buat nyelametin dirinya masing masing.
"Kakek jadi takut dan akhirnya pergi dari tempat ini. Nah sejak hari itu kakek tidak pernah lihat Ching Ching lagi neng. Toko milik keluarganya juga habis dijarah massa dan gak pernah dibuka lagi sampe sekarang. Kata kakek itu pelan.
Hening menyelimuti lorong dan lampu neon masih berkedip seolah hendak padam. Lien menatap sekelilingnya dan setiap retakan di tembok serta bercak di lantai kini seolah hidup di matanya. Suara tawa para perusuh dan jeritan minta tolong terus terngiang di kepalanya sehingga Lien berbisik pelan hampir tak terdengar:
Lien menatap kakek lama-lama. Lorong pasar terasa hening setelah semua cerita itu terucap. Kakek menunduk dan bahunya bergetar pelan.
“Neng… jangan cerita ke siapa-siapa ya tentang kejadian itu. Soalnya ini masalah sensitif. Yang ada nanti keselamatan neng bisa terancam loh. Ucap kakek dengan suara parau. Ia menghela napas panjang, matanya menatap lantai seolah menyesali sesuatu.
"Sebenarnya bapak… juga menyesal sudah melakukan hal itu sama Ching Ching neng. Tapi sebagai lelaki normal.. bapak gak tahan banget waktu liat non ching ching digituin sama mereka. Kata kakek lirih dan suaranya nyaris seperti gumaman.
Lien hanya diam dan tubuhnya tegang sementara matanya berkaca kaca. Setelah beberapa saat kakek mulai mendorong gerobak sampah beroda dan berjalan perlahan meninggalkan lorong itu. Lien tertinggal sendiri di antara bayangan dan sunyi pasar yang terasa berat serta menakutkan.
Lien Pulang kerumahnya.
Sore sudah merambat ke malam saat Lien berjalan pulang. Langit pecinan berubah keabu-abuan dan lampu-lampu jalan mulai menyala dengan cahaya kuning pucat di sepanjang jalan. Lapak-lapak pedagang nyaris semua tutup dan tinggal beberapa kios yang menurunkan rolling door dengan suara gemeretak berat. Bau dupa samar masih tercium di ujung jalan dan tercampur dengan debu serta aroma minyak goreng sisa siang.
Lien meremas anting mutiara yang ia temukan di pasar. Jemarinya terasa dingin dan setiap kilau kecil mutiara di telapak tangannya mengingatkannya pada cerita kakek tua serta Ching Ching.
"Kasihan Ching Ching… gumamnya lirih.
Namun saat Lien melangkah, bayangan lain terus berputar di kepalanya. Wajah Ching Ching yang katanya sangat cantik terus muncul di matanya. Konon katanya kecantikan gadis itu terkenal sampai ke seluruh kawasan pecinan. Rambut hitam panjangnya bersinar, mata sipitnya berbinar, bibirnya merah muda, dan setiap gerak-geriknya selalu menarik perhatian orang-orang di pasar. Lien membayangkan Ching Ching menjerit saat diseret dan ditelentangkan di atas lapak tua sementara tangisannya tak digubris siapapun di tengah keramaian pasar.
"Kenapa aku malah… membayangkan semuanya? Kenapa aku… ingin tahu seperti apa rasanya… berada di situasi itu?
Saat tiba di rumah Lien langsung mengunci pintu kamar mandi. Ia menatap wajahnya sendiri di cermin. Mata sipitnya basah, pipinya masih memerah dan napasnya begitu cepat.
Anting mutiara ia letakkan di pinggir wastafel. Jemarinya menyentuh kilau putih benda kecil itu seolah hendak mencari jawaban. Dalam pikirannya, gambaran pasar di kala kerusuhan muncul lagi. Bayangan lapak kayu rapuh. Bayangan Ching Ching diseret sekumpulan pria dan juga bayangan teriakan pilu membuat hatinya makin berdebar.
Lien membungkuk dan tangannya meremas pinggiran wastafel. Ada dorongan yang menyesakkan di dadanya. Bukan hanya ketakutan tapi semacam rasa ingin tahu yang tak terucapkan.
"Apa aku… benar-benar mau merasakan apa yang Ching Ching rasakan? Apa aku… mau mengulang semuanya…?
Air mata Lien jatuh lagi dan ia menutup mata. Tubuhnya gemetar dan napasnya terasa berat. Dalam gelap kelopak matanya kembali muncul bayangan wajah Ching Ching. Wajah itu basah oleh air mata dan terlihat ketakutan. Ia membayangkan Ching Ching berjuang melepaskan diri dari segapan tangan tangan kasar yang menarik dan menahannya.
Bayangan itu terus berputar di kepalanya dan membuat dada Lien terasa sesak. Namun ada perasaan lain yang perlahan muncul di dalam dirinya. Setiap kali ia teringat cerita kakek tua itu, jantungnya justru berdetak lebih cepat dan napasnya menjadi hangat. Lien tidak mengerti mengapa bayangan itu membuat tubuhnya merasakan gairah asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia mencoba mengusir pikiran itu namun bayangan Ching Ching selalu kembali muncul. Lien pun tidak tahu lagi apakah ia menangisi gadis itu atau justru menangisi dirinya sendiri yang mulai tersesat dalam bayangan yang aneh itu.
"Apa aku… seharusnya lahir di masa itu…?" bisiknya lirih.
Di luar kamar mandi terdengar suara klakson dari kejauhan dan suaranya samar tertiup angin malam. Namun di dalam pikiran Lien suasana pasar belakang itu justru terasa semakin jelas. Ia kembali membayangkan lapak kayu yang rapuh dan dinding yang penuh coretan kebencian. Ia juga teringat jeritan perempuan yang tadi diceritakan oleh kakek tua itu. Semua bayangan itu seperti memanggilnya dan seolah menyuruhnya kembali untuk mencari tahu rahasia masa lalu yang gelap.
Malam semakin larut lalu jalanan mulai sepi. Lampu jalan memancarkan cahaya kuning yang jatuh di atas aspal yang masih menyimpan panas sisa siang. Lien duduk di tepi ranjang di dalam kamar yang hanya diterangi lampu temaram. Tangannya menggenggam anting mutiara milik Ching Ching. Permukaannya berkilau redup di bawah cahaya lampu dan benda kecil itu terasa seperti penghubung dengan masa lalu yang belum benar benar hilang.
Pikiran Lien terus dihantui cerita kakek tua itu. Ia teringat Ching Ching. Ia juga teringat lapak kayu rapuh di belakang pasar. Lalu bayangan tentang kerumunan pria bertato yang beringas kembali muncul di kepalanya. Ia bahkan masih bisa membayangkan teriakan minta tolong yang hilang di tengah suara kaca pecah dan kobaran api serta teriakan kebencian.
"Kenapa aku… malah ingin berada di sana? Kenapa aku… membayangkan semua itu? bisiknya pelan.
Lien menatap bayangannya sendiri di cermin. Matanya basah dan wajahnya sedikit pucat tapi semburat merah di pipinya tetap terlihat jelas. Ia memejamkan mata perlahan.
Beberapa minggu lalu ia masih Lien yang polos. Ia selalu menjaga diri dengan ketat dan percaya tubuhnya harus dilindungi. Ia masih bisa tersenyum bangga setiap kali melihat pantulan dirinya yang bersih dan utuh.
Sekarang semuanya berbeda. Bagian tubuh yang dulu ia jaga mati-matian malah ingin dijadikan tempat sampah. Ia ingin bagian itu diisi berulang kali dan diotori tanpa ampun sampai ia tak mengenali dirinya lagi. Hasrat yang tiba-tiba muncul dalam dirinya membuat segalanya berubah cepat sekali.
Napas Lien tersengal pelan sementara dada naik turun tak beraturan. Setengah dirinya ingin menangis keras dan menghancurkan cermin ini agar bayangan buruk itu hilang. Trauma masih sangat segar karena rasa sakit yang menyayat dan rasa jijik yang menyelimuti tubuhnya. Suara kasar dari malam itu masih terngiang setiap kali ia mencoba tidur. Ia merasa kotor rusak dan tak bernilai lagi.
Namun bagian lain dari dirinya yang lebih gelap justru merasakan getaran panas yang aneh. Ia malah ingin lebih brutal.
Lien menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai terasa darah tipis. Ia membuka mata lagi dan menatap pantulan dirinya dengan tatapan campur antara horor dan hasrat memalukan. Pipinya semakin memerah. Tangan kanannya tanpa sadar merayap ke lehernya sendiri dan merasakan denyut nadi yang berdegup liar.
"Kenapa aku malah berpikir seperti ini" gumam Lien pelan dengan suara serak dan gemetar.
Bayangan malam itu kembali muncul di kepalanya. Bukan hanya rasa sakitnya tapi juga cara tubuhnya bereaksi paksa. Ia gemetar bukan hanya karena takut tapi juga karena sensasi kasar yang terlalu kuat dan terlalu dalam. Ia benci mengakuinya tapi bagian tersembunyi dari dirinya justru ingin dicabik lebih dalam lagi. Ia ingin direndahkan lebih parah dan dihancurkan sampai batasnya.
Ia ingin tangan kasar yang lebih berat dan lebih kejam. Ia ingin tangan itu tak peduli dengan tangisannya dan malah semakin bergairah setiap kali ia meronta dan memohon. Ia ingin diperlakukan seperti sampah sungguhan.
"Aku benar-benar gila. Bisik Lien tapi sudut bibirnya malah terangkat sedikit dengan senyum getir penuh dosa dan malu.
Lien memejamkan mata lagi lebih lama kali ini. Trauma dan hasrat bercampur jadi satu di dalam dirinya. Ia tak tahu lagi mana yang lebih kuat antara keinginan untuk lari sejauh-jauhnya atau keinginan untuk tenggelam lebih dalam ke dalam kegelapan yang lebih kasar dan lebih brutal.
Di dalam pikirannya ia membayangkan dirinya berdiri di tengah kerumunan orang yang sedang berlarian. Api membakar atap toko dan bau plastik terbakar memenuhi udara. Asap hitam naik ke langit dan menutup pandangan. Di sekelilingnya terdengar suara orang orang berteriak dan suasana terasa kacau. Suara itu terus menggelegar di telinganya.
“Bakar! Jarah! Usir Cina!”
Orang orang berwajah asing terlihat penuh amarah. Mereka mengacungkan balok kayu dan batang besi lalu ada juga yang membawa botol pecah di tangan mereka. Kaca etalase toko baju pecah dan berhamburan ke jalan. Manekin jatuh berserakan di lantai toko. Di tengah kekacauan itu Lien membayangkan gadis gadis Tionghoa berlarian sambil menjerit ketakutan. Rambut mereka terurai dan wajah mereka penuh ekspresi ketakutan.
"Aku ingin lihat sendiri… bagaimana rasanya kota berubah jadi lautan kebencian. Bagaimana rasanya jadi mereka… yang diburu seperti hewan… bisik Lien pelan.
Bayangan Ching Ching kembali muncul di pikirannya. Rambut hitam panjang gadis itu tampak acak acakan dan matanya terlihat bengkak karena menangis. Bajunya juga tampak koyak karena ditarik paksa. Namun ada sesuatu dalam bayangan itu yang membuat Lien terperangah. Di dalam bayangannya sendiri Ching Ching menatap ke arahnya. Tatapan itu bukan hanya penuh ketakutan tetapi seolah memanggil Lien agar ikut merasakan apa yang sedang terjadi.
"Apa… Ching Ching juga merasa… terhanyut di tengah semua kekacauan itu? bisik Lien pelan.
Dada Lien berdebar keras dan napasnya terasa berat. Di dalam dirinya bercampur rasa bersalah dan rasa takut. Namun ada juga perasaan lain yang membuatnya terengah engah. Perasaan itu terasa seperti daya tarik gelap yang tidak bisa ia pahami.
"Aku… mau tahu rasanya… berada di sana… bisik Lien pada dirinya sendiri.
Ia menggenggam anting mutiara itu semakin erat lalu kukunya menekan telapak tangannya hingga memerah.
"Apa salah kalau aku ingin tahu? Apa salah kalau aku ingin merasakan sendiri?
Lien berdiri perlahan lalu melangkah mendekati jendela. Ia memandang jalan Pecinan yang kini terlihat sunyi dan hanya sesekali motor melintas. Namun di dalam pikirannya jalanan itu justru dipenuhi kobaran api dan jeritan orang orang yang berlarian. Bayangan itu terasa begitu hidup di kepalanya. Di dalam hatinya terdengar suara lirih yang terasa semakin jelas.
"Aku berharap… aku dilahirkan di masa itu. Aku ingin melihat sendiri. Aku ingin merasakan apa yang Ching Ching rasakan… di tengah kekacauan… di tengah rasa takut… dan entah kenapa aku merasa itu… begitu menggairahkan… bisik Lien pelan.
Lien memejamkan mata lalu mencoba menahan gejolak aneh yang berputar di dadanya. Namun bayangan tentang kerusuhan itu terus muncul di kepalanya dan tidak mau pergi. Gadis itu kembali melihat lapak kayu tua yang sudah lapuk di belakang pasar. Tempat itu gelap dan pengap. Lampu neon di atasnya berkedip pelan dan lorong pasar terasa kosong.
Di bayangannya.. Ching Ching kembali terlihat. Gadis itu terisak ketakutan sambil meronta. Rambutnya berantakan dan tubuhnya terus ditarik oleh para perusuh yang mengerubunginya.
"Haha.. mau lari ke mana luh cina !! kata salah satu pria. Yang lain ikut bersorak dan suara mereka saling bertumpuk di lorong pasar yang sempit.
"Udah ga sabar nihh kita mau makan BABI !! Kata perusuh lain dengan nada yang mengejek.
"Lepasinn !! Aaaakkhh... Tolongg !! Jangan.. kurang ajar !! Lepasin aku.. Mau apa kalian !! Arrghhh.. Kata Ching Ching sambil menjerit panik namun jeritannya justru disambut tawa kasar para perusuh.
Bayangan itu semakin jelas di kepala Lien. Ia seperti melihat semuanya dari dekat. Langkah kaki para pria bergema di lantai pasar yang kotor sementara suara sorakan mereka bercampur dengan tangisan ketakutan. Ching Ching masih mencoba melawan tetapi gerakannya semakin lemah. Napasnya terengah dan tubuhnya gemetar. Tangannya berusaha menepis orang orang di sekitarnya namun jumlah mereka terlalu banyak.
"Tolong.. jangan !! Jangan... Sakit. Ampun.. jangan.. Jerit Ching Ching dengan suara yang makin parau.
Lambat laun jeritan marah yang tadi terdengar kini berubah menjadi permohonan ampun yang putus putus. Suara itu menggema di lorong pasar yang gelap dan membuat suasana makin mencekam.
Lien membuka matanya dengan napas berat. Dadanya berdegup keras sementara bayangan itu masih terasa hidup di kepalanya. Ia tidak tahu kenapa semua gambaran itu terasa begitu nyata dan menegangkan seolah ia sedang berdiri di sana menyaksikan semuanya terjadi di depan matanya.
Malam Panjang Yang dipenuhi Gairah
Malam itu Lien tidak bisa tidur. Ia hanya berbaring di atas ranjang sambil menatap langit langit kamar. Cerita kakek tua petugas kebersihan pasar terus berputar di dalam pikirannya. Ia kembali teringat nasib Ching Ching di belakang pasar di atas lapak kayu yang rapuh.
Dalam bayangannya ia melihat wajah sayu gadis itu. Kulit putih Ching Ching diburu oleh tangan tangan kasar yang menarik dan menahannya dengan paksa.
"Udaaah.. cukuuppp.. ampuunn.. Jeritan Ching Ching seperti menggema di telinganya. Suara itu bercampur dengan napas Lien sendiri yang mulai terasa semakin cepat.
Di tengah gejolak yang tidak bisa ia pahami, Lien akhirnya bangkit dari ranjang. Ia membuka laptop lalu menyalakan layar yang memantulkan wajahnya yang pucat. Jemarinya gemetar saat mengetik alamat forum gelap yang selama ini sering ia kunjungi. Malam itu ia ingin mencurahkan fantasi liar yang terus berputar di kepalanya. Fantasi tentang apa yang menimpa Ching Ching belasan tahun yang lalu.
"Aku gak bisa berhenti mikir soal Ching Ching… anak pemilik toko baju itu… yang digilir rame-rame di belakang pasar. Aku kebayang dia diseret massa, rambutnya dijambak, bajunya disobek sampai jatuh di lapak kayu yang bau amis. Dia nangis, suaranya serak minta ampun, tapi tangan-tangan kasar terus menjarah kulit putihnya. Aku gak ngerti kenapa… tapi bayangan itu bikin dada aku sesak… sekaligus bikin aku penasaran banget rasanya ada di posisi dia. Apa dia benci… atau di saat tertentu malah pasrah? Apa dia sempat ngerasa… nikmat, walau cuma sedetik…?
Tak butuh waktu lama setelah tulisan itu dipasang. Para anggota forum mulai membalas dengan komentar yang membuat suasana terasa tegang. Namun bagi Lien ada juga perasaan aneh yang muncul saat ia membaca balasan itu.
Lien duduk di depan laptop lalu mengetik cepat. Jemarinya masih gemetar. Ia baru saja mengunggah tulisannya di forum dan menceritakan bayangannya tentang Ching Ching. Tentang bagaimana gadis itu diseret ke belakang pasar saat kerusuhan terjadi. Ia juga menulis bayangan tentang rambut Ching Ching yang dijambak lalu bajunya disobek hingga ia jatuh di lantai kayu yang kotor. Dalam ceritanya ia menggambarkan bagaimana orang orang di sekelilingnya memperlakukan gadis itu dengan kasar.
Tidak lama kemudian balasan mulai bermunculan. Notifikasi pesan terus berbunyi di layar.
[AmukMassa98]: Wah.. seru banget denger cerita lu. Kayaknya emang pantas tuh si Ching Ching digituin. Amoy seksi kayak dia emang kudu dijadiin barang jarahan kerusuhan. Udah kayak barang mewah yang harus dicicip rame-rame biar semua orang bisa ngerasain nikmatnya.
Lien membaca pesan itu dengan dada sesak. Tangannya berkeringat di atas keyboard.
[BakarToko_SampaiPuas]: Katanya sih temen gue dulu pernah belanja baju di tokonya si Ching Ching sebelum rusuh.. Menurut teman gue sih katanya si ching ching tuh emang seksi banget. Mukanya keliatan cina banget, badannya putih mulus kayak porcelen.. dan yang bikin gak tahan itu katanya dia tuh selalu pakai baju seksi kalau lagi jaga tokonya.
[JarahToko]: Beneran dia seksi banget. Muka cinanya tuh bening, putih mulus. Bajunya selalu wangi. Sange juga mikir waktu kerusuhan dia diseret rame-rame. Layak sih, dari dulu mukanya emang napsuin.
[SerbuAmoy_97]: Iya, Ching Ching itu tipe amoy yang langsung bikin cowok jadi sange. Rambut panjang, kulit putih kayak susu, badan langsing. Pantes banget dijadiin bacolan pribumi. Gue aja dulu kalau liat dia di toko, langsung mikir aneh-aneh.
[RedJack98]: Gue setuju. Cina-cina cakep kayak dia tuh emang harus ngerasain rasanya diburu. Biar tau rasanya jadi jarahan. Layak banget. Gak cukup satu orang doang yang nikmatin dia. Harus rame-rame.
Lien menatap layar laptopnya. Setiap kata yang dilontarkan oleh para anggota forum gelap terasa seperti pukulan. Ada bagian dalam dirinya yang mual. Tapi ada juga getaran lain yang merambat ke ujung-ujung sarafnya. Ia memejamkan mata. Wajah Ching Ching kembali muncul di benaknya. Kali ini seolah sedang menatapnya sambil menangis. Namun tatapan itu… juga seolah memanggilnya. Lien menelan ludah. Jemarinya mulai mengetik balasan, suaranya terpantul di benaknya sendiri:
Notifikasi di layar Lien terus berdenting. Satu demi satu komentar baru muncul dan terasa lebih kejam dari sebelumnya.
[AmoyHunter98]: Amoy kayak Ching Ching tuh emang layak dijadiin piala bergilir. Badan putih mulusnya wajib dinikmatin semua pedagang kaki lima di pasar. Biar mereka ngerasain barang mewah yang biasanya cuma bisa diliat doang !!
[JarahSampaiHabis]: Bener banget. Gua aja kadang sengaja jalan-jalan ke pecinan cuma buat nyari bahan bacolan. Banyak banget amoy di sana yang cantik-cantik, putih, licin kayak porcelen. Paha mulus, muka bening. Gak salah kalo waktu kerusuhan mereka jadi target. Emang napsuin sih !!
[PemburuAmoy]: Dulu tiap lewat toko Ching Ching, gua ngeliatin dia lama-lama. Udah kebayang di kepala gua gimana rasanya dia ditarik ke gang, bajunya disobek rame-rame. Cina-cina kayak dia pantas ngerasain digilir biar gak songong lagi.
[RedJack98]: Setuju. Cina-cina bening itu kayak barang mewah. Waktu rusuh tuh moment paling pas. Mereka gak bisa ngelawan, cuma bisa nangis sama jerit-jerit. Biar tau rasanya jadi jarahan. Gak cukup sekali, harus rame-rame. Biar puas!”
Tatapan itu membuat Lien merasa gelisah. Seolah ada sesuatu yang memanggilnya dan menarik pikirannya lebih dalam. Lien memeluk tubuhnya sendiri. Jemarinya bergetar saat ia kembali menatap layar. Perlahan ia mulai mengetik balasan di forum itu sementara suara di kepalanya terasa seperti bisikan.
"Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan ini ? kata Lien pelan sambil menatap tulisan yang baru saja ia kirim.
Mereka menulis bahwa Ching Ching pantas dijadikan “piala bergilir”. Kata kata itu membuat Lien merasa muak dan kesal. Namun pada saat yang sama ada sesuatu yang berdesir di dalam dadanya dan membuat pikirannya terus kembali pada tulisan tulisan itu.
Ia mencoba berhenti membaca tetapi rasa penasaran justru semakin kuat. Perasaan aneh itu membuat dadanya terasa tegang dan pikirannya dipenuhi bayangan tentang gadis yang sedang mereka bicarakan. Daya tarik gelap itu akhirnya membuatnya tak tahan lagi lalu tangannya meluncur ke keyboard. Jemarinya bergerak cepat saat ia mulai mengetik di kolom komentar.
[GadisPecinan_98]: Aku makin penasaran. Ada yang punya foto Ching Ching atau video waktu dia diseret ke belakang pasar? Aku pengen lihat seberapa cantiknya dia. Aku belum pernah ketemu langsung sama orangnya. Tolong kalau ada kasih liat ke aku.
Beberapa detik forum itu terasa hening dan tidak ada balasan yang muncul di layar. Lien menatap monitor dengan napas yang masih cepat sambil menunggu seseorang menjawab tulisannya. Namun tidak lama kemudian balasan mulai muncul satu per satu. Tulisan baru bermunculan dengan cepat seolah orang orang di forum itu berebut untuk ikut bicara. Nada tulisan mereka terasa kasar dan brutal hingga membuat Lien semakin tegang saat membacanya.
[PemburuAmoy_98]: Gua ada fotonya. Dulu teman gua pernah iseng motret waktu lewat didepan toko bajunya. Mukanya cina banget kayak artis mandarin. Badannya putih mulus, matanya sipit bikin penasaran. Bentar gua upload.
[RedJack98]: Gua juga punya video rekaman hape. Nggak terlalu jelas sih, tapi kelihatan dia ditarik rame-rame sama perusuhnya di belakang pasar. Rambutnya dijambak. Bajunya robek. Mukanya nangis… tapi cakep banget sumpah!”
Tiba tiba muncul satu unggahan gambar di layar forum. Sebuah foto terpampang di antara deretan komentar yang terus bertambah. Lien langsung menatap layar dengan saksama.
![]() |
[AmoyHunter98]: Tuh liat !! Seksi banget kan si ching ching ? Panteslah dia jadi target pas rusuh. Badannya mulus. Muka kayak gitu bikin napsu
| siapa aja. Emang kudu dijadiin barang jarahan rame-rame biar semuanya puas! |
Ching Ching yang saat kejadian itu berusia dua puluh enam tahun memang selalu berpenampilan modis saat menjaga toko baju orangtuanya sehingga tak heran kalau banyak pria yang terpesona dengan kemolekan tubuhnya. Wajah orientalnya yang cantik ditambah penampilannya yang selalu mengikuti tren berpakaian membuatnya tampil segar dan menggoda setiap hari. Atasan ketat yang menonjolkan payudara montoknya rok pendek yang memperlihatkan paha mulus putihnya serta kulit halus yang mengkilap di bawah lampu toko selalu menjadi daya tarik utama sehingga tak heran kalau Ching Ching menjadi salah satu incaran para penjarah yang menyerbu bangunan pasar Pecinan tersebut nanti.
Beberapa hari sebelum kerusuhan terjadi Ching Ching sudah menjadi bahan pembicaraan para kuli pasar di sana. Mereka berkumpul di pojok-pojok pasar sambil merokok dan mengobrol kasar dengan suara pelan tapi penuh nafsu. Salah seorang kuli panggul yang biasa mengangkat barang berat di pasar itu berkata sambil menyeringai
"Kira-kira beneran rusuh kagak ya.. kalau sampe kejadian mah gua rasa bukan cuma tokonya doang yang bakalan disikat sama perusuh tapi si ching chingnya juga bakalan kena dijarah tuh.
Teman-temannya langsung tertawa keras sambil menepuk bahu satu sama lain karena bayangan tubuh seksi gadis itu sudah membuat mereka bergairah sejak lama. Yang lain ikut menimpali "Iya nih kalau sampe rusuh mending langsung kita amanin aja tuh si ching ching ke belakang pasar. Badannya putih mulus gitu pasti enak buat dipegang-pegang.
Sementara itu suasana di kawasan Pecinan mulai tegang karena warga sudah mendengar kabar burung tentang kemungkinan kerusuhan besar. Para orang tua dan ibu-ibu di pasar saling berbisik dengan wajah cemas ketika menutup toko sore hari. Beberapa pedagang mulai memindahkan barang berharga ke gudang belakang atau bahkan membawa pulang ke rumah karena takut dirampok kalau benar-benar terjadi huru-hara.
Seorang bapak tua pemilik warung makan di ujung gang berkata pada tetangganya "Ini kabarnya makin panas. Katanya kemarin udah ada massa dari luar kota yang mau masuk. Kayaknya kita harus siap-siap tutup lebih awal.
Ibu-ibu di sekitar toko Ching Ching juga saling mengingatkan sambil memandang ke arah toko baju itu dengan khawatir karena tahu gadis cantik itu sering sendirian menjaga toko sampai malam. Mereka berharap dalam hati supaya kerusuhan tidak benar-benar terjadi tapi rasa takut semakin kuat karena udara di pasar terasa semakin panas dan gelisah setiap harinya. Ching Ching sendiri masih berusaha tenang sambil tetap tersenyum pada pelanggan tapi diam-diam dia juga merasakan getaran cemas di dada karena mendengar bisik-bisik para pembeli tentang situasi kota yang makin tidak aman.
[JarahSampaiHabis]: Gua ngeliat fotonya aja langsung kebayang dia nangis-nangis diseret. Amoy kayak gini emang layak dijadiin buruan massa. Gak salah kalau dulu jadi sasaran.
Lien terus menatap layar tanpa berkedip. Tangannya masih berada di dekat mouse dan napasnya terasa berat. Tidak lama kemudian sebuah balasan baru muncul. Tulisan itu cukup panjang dan berasal dari salah satu anggota forum yang paling sering ia lihat mengunggah konten gelap.
Jantung Lien berdegup makin kencang dan tangannya mulai berkeringat di atas keyboard.
[PenjarahToko] Lu pengen banget tau gimana rasanya Ching Ching digilir kan. Daripada cuma nanya terus kenapa gak lu yang roleplay jadi dia kayak dulu. Kita semua bakal bantu lu dan kita ulang lagi kejadian itu. Lu pura pura jadi Ching Ching yang diseret ke belakang pasar lalu digilir rame rame di atas lapak pedagang. Jadi lu bisa ngerasain sendiri rasanya diburu, dijarah dan dijamah sama kuli kuli pasar.
Beberapa anggota lain segera menimpali.
[PerusuhKota]: Bener tuh. Daripada lu cuma ngebayangin mending lu bener bener ngerasain gimana rasanya jadi amoy yang diburu massa didalam pasar pecinan. Biar lu puas dan baru lu ngerti apa yang dirasain sama si ching ching.
[TukangJarah]: Lu kan suka ngebayangin soal Ching Ching. Sekarang lu jadi Ching Ching beneran di roleplay dan kita semua jadi perusuhnya. Mau gak ?!! Kalau mau video bakalan kita kasih.
Lien membaca kata kata itu lalu pandangannya mulai berkunang kunang dan napasnya terasa tersendat. Ada rasa takut yang perlahan naik ke tenggorokannya tetapi pada saat yang sama ada rasa hangat yang merayap ke selangkangannya. Gadis itu menelan ludah lalu jemarinya berhenti di atas keyboard. Matanya kembali membaca kalimat terakhir.
[JarahSampaiHabis]: Kalau mau video bakalan kita kasih.
Bayangan Ching Ching kembali muncul di kepalanya. Ia teringat wajah yang menangis dengan rambut acak acakan dan tubuh lunglai di antara tangan tangan kasar. Lien menggigit bibir bawahnya.
"Apa aku harus melakukannya lagi. Apa kejadian dirumahku waktu itu belum cukup ?kata Lien pelan pada dirinya sendiri.
Lien menatap layar forum dan jari jarinya masih menggantung di atas keyboard. Jantungnya berdetak sangat keras sampai terasa menyakitkan. Semua anggota forum kini menunggu jawabannya dan pesan pesan mereka terus bermunculan. Mereka mendesaknya untuk ikut dalam roleplay itu.
Napas Lien semakin cepat dan dadanya naik turun. Ia mencoba menenangkan diri tetapi tangannya tetap bergetar. Hingga akhirnya ia mulai mengetik balasan singkat.
"Iyaa.. Aku mau. Aku setuju.. kata Lien.
[PerusuhJalanan]: Bagus Lien.. gua suka amoy masokhis yang suka penasaran kayak lu.. disaat amoy lainnya ketakutan waktu denger kisah kerusuhan tapi lu malah pengen ngerasain.
[PenikmatAmoy]: Gua makin gak sabar nunggu lu buktiin omongan lu tadi. Setelah lu liat video rekaman si ching ching maka lu akan tau kalau kejadian dirumah lu waktu dijarah massa belum ada apa apanya dibanding kejadian dipasar itu.
Seolah hanya menunggu kalimat itu seorang anggota forum langsung mengunggah sebuah file video. Beberapa detik kemudian sebuah notifikasi baru muncul di layar.
Upload complete..
Tangan Lien gemetar saat mengklik video itu lalu layar laptopnya menjadi gelap beberapa detik sebelum gambar mulai bergerak.
Cuplikan Video Kerusuhan Pasar
Di dalam video terlihat Ching Ching yang masih mengenakan kaos ketat berwarna pastel karena bahan kainnya tipis dan menempel sempurna di tubuhnya yang seksi. Kaos itu membungkus payudara montoknya dengan erat sehingga bentuk buah dadanya terlihat jelas membusung dan puting susunya samar-samar menonjol di balik kain tipis. Rambut panjangnya terurai dan sebagian menutupi wajahnya yang panik sehingga helai-helai hitam itu menempel di pipi basah air matanya. Ia berteriak keras sambil meronta ketika beberapa pria bertato menarik paksa lengannya keluar dari toko.
Wajah Ching Ching terlihat jelas karena matanya merah dan pipinya basah oleh air mata yang mengalir deras. Suaranya terdengar parau karena terus berteriak meminta tolong tapi orang-orang di sekitar toko hanya menonton dari kejauhan dan tidak ada yang berani mendekat.
"Lepasin aku.. tolong.. kata Ching Ching sambil berteriak di dalam video.
Para pria itu tetap menyeretnya lalu membawa gadis itu menyusuri lorong pasar yang semakin gelap. Tumpukan sampah terlihat di sisi lorong dan asap dari kios kecil mengepul di udara sehingga suasana lorong itu terasa kotor dan pengap walaupun Lien hanya menonton dari layar laptopnya.
Sesampai di belakang pasar Ching Ching didorong hingga terjatuh di atas lapak kayu pedagang yang kosong. Ia meronta dan mencoba menepis tangan-tangan kasar yang menarik kaos ketatnya sehingga kain tipis itu robek di bagian depan dan payudara montoknya langsung terbuka lebar bergoyang-goyang karena tarikan kasar. Rok mini yang ia pakai tersingkap tinggi hingga paha mulus putihnya terpampang jelas dan celana dalam tipisnya hampir terlihat. Wajahnya penuh ketakutan lalu tangisnya pecah dan suaranya menggema di lorong pasar yang sepi.
Namun semakin keras ia melawan semakin banyak tangan yang menahannya hingga akhirnya gerakannya mulai melemah. Napasnya terengah-engah dan tubuhnya hanya bisa bergetar. Kedua tangannya direntangkan ke samping lalu dipegangi erat oleh dua pria sehingga ia tidak bisa lagi melawan. Belasan pria lain mengerumuni tubuhnya di atas lapak kayu itu dan mereka langsung menghujam penis mereka ke dalam kemaluannya satu per satu sampai puas.
Ching Ching menjerit keras setiap kali batang tebal itu merojok masuk ke liang kewanitaannya yang masih kencang. Tubuhnya menggeliat hebat di atas lapak kayu karena setiap hentakan membuat pinggulnya tersentak-sentak dan payudaranya bergoyang-goyang liar. Buah dadanya yang montok diremas kasar oleh pria-pria di sekitarnya sehingga puting susunya dicubit dan dipilin hingga memerah serta meninggalkan bekas jari. Pahanya yang mulus diraba dengan tangan kasar lalu dijilat dari lutut sampai ke pangkal paha sehingga kulit putih halusnya basah oleh air liur mereka dan meninggalkan jejak merah karena cengkeraman.
Satu per satu pria itu menggenjot kemaluannya dengan brutal karena batang mereka menghujam dalam-dalam sampai pangkal lalu memompa cepat hingga mengerang keras dan melepaskan air mani panas di dalam tubuhnya. Ching Ching terus menjerit dan meronta tapi suaranya semakin lemah karena tenaganya habis. Lendir kawin bercampur sperma mengalir deras dari sela-sela kemaluannya dan menetes ke lapak kayu yang sudah basah serta membasahi rok mini yang tersingkap. Terdengar tawa beberapa pria di dalam video dan suara mereka kasar penuh hinaan.
"Emang pantes nih cina seksi jadi buruan massa. Kata salah satu pria.
"Muka lu terlalu sayang dilepasin dan harusnya dari dulu jadi barang kita" kata pria lain.
"Rasain lu jadi jarahan pribumi" kata pria yang lain lagi.
Ching Ching masih mencoba mendorong tubuh-tubuh di sekitarnya tapi tenaganya sudah habis. Pada akhirnya ia hanya bisa meneteskan air mata lalu tubuhnya terdiam dengan tatapan kosong sementara para pria itu terus bergantian menghujam dan melepaskan peju mereka di dalam kemaluannya hingga puas.
Lien menutup mulutnya dengan tangan dan matanya membelalak. Dadanya terasa sesak karena ada rasa muak dan juga ngeri melihat apa yang terjadi di layar. Namun entah kenapa tubuhnya juga terasa panas seolah ada sesuatu yang mengalir liar di dalam nadinya.
"Apa ini yang selama ini aku mau lihat. kata Lien pelan pada dirinya sendiri.
Video itu berhenti dan layar kembali diam. Lien hanya duduk terpaku di depan laptopnya. Suara tawa para pria dari video tadi seolah masih menggema di telinganya. Tangannya gemetar di atas mouse dan pikirannya terasa kosong.
Namun sebelum ia sempat memproses apa pun komentar komentar baru langsung membanjiri forum.
"Nah gimana Lien. Lu mau gak digituin juga. Lu kan penasaran banget rasanya jadi Ching Ching. Jangan cuma nonton doang dan rasain sekalian kata PemburuAmoy_97.
"Gua yakin lu nonton video itu sambil deg degan. Ngaku aja Lien lu pasti udah basah. Dari dulu lu doyan banget bahas kerusuhan 98 jadi pasti lu juga pengen dijadiin jarahan kayak Ching Ching kan kata RedJack98.
"Lu tuh kayak kena kutukan neng. Obsesi lu sama kerusuhan udah kelewat gila. Gua yakin lu bukan cuma mau tau ceritanya tapi juga pengen ngerasain sendiri rasanya dijarah. Bener gak kata JarahSampaiHabis.
[Pemburu kenikmatan] : Eh lu bilang aja terus terang. Pasti lu nonton video itu sambil ngebayangin lu sendiri yang diseret rame rame. Muka lu digamparin dan baju lu disobek. Lu tuh penasaran banget kan rasanya takut tapi juga pengen. Jangan pura pura polos Lien karena semua orang di sini udah tau lu terobsesi.
Wajah Lien memanas dan pipinya memerah entah karena malu atau marah atau karena perasaan lain yang tidak mau ia akui. Dadanya naik turun dengan cepat. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ada bagian dari dirinya yang merasa terusik oleh apa yang baru saja ia lihat.
Lien hanya bisa menatap layar dan matanya mulai berair. Jari jarinya akhirnya bergerak di atas keyboard lalu ia mulai mengetik balasan dengan suara lirih yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
"Aku gak tau. Aku.. kata Lien pelan.
Lien masih duduk di depan layar dan video itu kini berhenti di satu gambar. Wajah Ching Ching terlihat menangis dengan rambut hitam panjang yang berantakan dan pipinya basah oleh air mata.
Gambaran demi gambaran masih berputar di kepala Lien meskipun ia berusaha mengusirnya. Ia teringat saat Ching Ching dipaksa jatuh di atas lapak kayu di belakang pasar. Suara teriakan dan tawa kasar para pria masih terasa bergema di telinganya. Ia juga teringat bagaimana gadis itu dipaksa tunduk sementara banyak pria berdiri mengelilinginya. Lien menutup mulutnya dengan tangan dan dadanya berdegup semakin kencang.
Ia ingin merasa jijik dan ingin memalingkan wajahnya dari layar. Namun pikirannya tetap tertarik pada bayangan yang terus muncul di kepalanya dan napasnya menjadi semakin cepat. Ada rasa bersalah bercampur rasa bingung yang membuat tubuhnya gemetar.
"Kenapa aku malah terus kepikiran melihat penderitaan dia. Apa aku sejahat itu kata Lien pelan pada dirinya sendiri.
Belum sempat Lien menenangkan dirinya tiba tiba cuplikan video lain dikirim kedalam forum orang seseorang tak dikenal.
"Kalau lu penasaran dengan nasib Ching Ching mungkin video ini bisa menjawabnya. Tapi kalau lu nggak kuat mending kagak usah ditonton. Ketik anggota forum tsb. Lien pun langsung mengeklik tautan yang ada dan menontonnya.
Di dalam video berikutnya terlihat Ching Ching yang sudah tak mengenakan kaos ketatnya sehingga tubuh bagian atasnya telanjang bulat. Payudara montoknya yang bulat dan kencang terpampang jelas bergoyang-goyang liar setiap kali tubuhnya tersentak karena digenjot keras. Rok mini hitamnya masih melekat di pinggul tapi sudah tersingkap tinggi hingga pinggul dan paha mulus putihnya terbuka lebar sementara celana dalam tipisnya sudah robek dan tergantung di salah satu paha.
Para pria itu terus menghujam kemaluannya di atas lapak kayu yang berada tepat di samping tumpukan sampah kotor sehingga tempat itu penuh bau busuk dan limbah pasar yang menyengat. Ching Ching terbaring telentang di atas kayu kasar dengan kedua tangan direntangkan dan dipegangi erat oleh dua perusuh sehingga ia tidak bisa melawan sama sekali. Seorang perusuh bertubuh kekar berdiri didepan lapak kayu lalu mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi sebelum menghujam penis tebalnya ke dalam liang kewanitaannya dengan hentakan brutal.
Setiap dorongan membuat tubuh Ching Ching tersentak maju sehingga payudara montoknya bergoyang-goyang hebat ke atas dan ke bawah seperti bergelombang. Puting susunya yang sudah memerah karena remasan sebelumnya ikut bergetar dan bergoyang liar mengikuti ritme genjotan pria itu. Kulit putih halus di dada dan perutnya berkilau karena keringat bercampur air mata serta sisa peju yang menetes dari wajahnya. Pahanya yang mulus terangkat lebar sehingga otot-otot di paha bagian dalamnya menegang setiap kali penis pria itu menghantam pangkal dan membuat bokongnya terangkat sedikit dari lapak kayu.
Ching Ching menjerit parau karena setiap hentakan terasa dalam-dalam dan kasar sementara payudaranya terus bergoyang tanpa henti mengundang tangan-tangan kasar lain untuk meremas dan mencubit putingnya lagi. Bau busuk dari sampah di samping lapak semakin kuat bercampur aroma keringat dan lendir kawin yang mengalir deras dari kemaluannya. Perusuh yang menggenjot dari depan mengerang keras lalu mempercepat gerakan pinggulnya sehingga payudara Ching Ching bergoyang lebih liar lagi dan suara benturan kulit bercampur jeritan gadis itu menggema di lorong pasar yang gelap.
Para pria lain di sekitar tertawa sambil menunggu giliran mereka karena tahu tubuh telanjang Ching Ching dengan payudara montok yang bergoyang-goyang itu masih akan menjadi mainan mereka lebih lama lagi.
Note : Adegan ini mungkin mengandung unsur kekerasan dan menjijikan bagi sebagian pembaca. Skipp jika anda tak ingin membacanya.
Salah seorang pria yang badannya paling besar menyeringai lebar sambil memandang Ching Ching yang masih terengah-engah di atas meja lapak. Matanya berbinar penuh nafsu jahat lalu tangannya langsung meraih segenggam sampah kotor dari tumpukan di samping. Ada plastik bekas makanan yang lengket sisa sayur busuk bercampur puntung rokok basah dan potongan tulang ayam yang sudah berjamur.
Dia mendekatkan sampah itu ke selangkangan Ching Ching yang masih terbuka lebar karena baru saja diisi peju banyak. Liang kewanitaannya merah membengkak dan masih meneteskan campuran air mani serta lendir kawin yang kental.
"Lo liat nih memeknya masih basah banget bro !! katanya sambil tertawa kasar ke teman-temannya.
"Biar gue kasih hadiah spesial biar tambah wangi.
Tanpa menunggu lama dia langsung menjejalkan genggaman sampah itu ke dalam kemaluan Ching Ching. Plastik lengket dan puntung rokok langsung masuk paksa sehingga bibir kemaluannya terbuka lebar sekali. Sampah kotor itu terdorong masuk dalam-dalam bercampur dengan peju yang masih hangat dan lengket di dinding liangnya. Ching Ching menjerit keras sekali.
"Aaaarghhh! Sakit! Jangan! Keluarin! Jijik banget!"
Tubuhnya menggeliat hebat mencoba menutup paha tapi kedua kakinya sudah dipegang kuat oleh dua pria lain. Rasa perih menusuk tajam di perut bawahnya bercampur jijik yang membuat mual naik ke tenggorokan. Dia bisa merasakan puntung rokok dan sisa sayur busuk bergesekan di dalam dinding memeknya yang sensitif sementara peju hangat tadi malah membuat sampah itu semakin lengket dan sulit dikeluarkan. Pria yang memasukkan sampah itu malah tertawa puas lalu menekan lebih dalam lagi dengan telapak tangannya.
"Kayaknya masih longgar nih memeknya. Nih gue tambahin lagi biar penuh.
Dia meraih sampah lain dari tumpukan lalu menjejalkannya lagi. Kali ini ada kulit pisang membusuk dan sisa mie instan yang sudah berlendir. Semuanya didorong masuk paksa sampai liang kewanitaannya benar-benar membentang lebar. Ching Ching menjerit lagi lebih kencang badannya bergetar hebat.
"Tolong! Cabut! Aku nggak tahan! Panas! Perih banget di dalem!"
Air matanya mengalir deras sementara para pria lain malah semakin tertawa keras. Satu per satu mereka ikut menambah sampah ke dalam memeknya yang sudah penuh sesak. Ada yang melempar puntung rokok basah ada yang menjejalkan plastik kresek kotor sampai akhirnya liang kewanitaannya tak lagi bisa menampung. Campuran peju lendir kawin dan sampah kotor mulai meluber keluar bercampur lendir kuning kecokelatan yang berbau busuk menusuk hidung.
"Lo jadi tempat sampah beneran sekarang ya moy !! kata salah satu pria sambil menyeka tangannya ke paha mulus gadis itu.
"Kalau lu mau kita bisa tambahin lagi biar lebih penuh.
Ching Ching hanya bisa melenguh lemah sambil menangis tersedu-sedu. Perut bawahnya terasa penuh sesak dan perih luar biasa sementara aroma busuk dari sampah yang bercampur sperma terus menyebar di udara.
"Please udaaahh cukup.. lepasinn aku..
Setelah puas mempermainkan kemaluannya seperti tempat sampah seorang pria bertubuh besar menarik rambut Ching Ching hingga gadis itu dipaksa berlutut di depan mereka dengan tubuh gemetar dan memeknya masih menganga penuh sampah kotor.
"Oke.. Lu bakal gue lepasin sekarang tapi syaratnya lu harus sujud minta maaf sama pribumi dulu dan bilang terima kasih karena sudah kami perkosa bergilir. kata pria itu dengan suara serak.
Ching Ching menangis tersedu lalu sujud di lantai kotor sambil tubuhnya bergetar.
"Maafkan aku... terima kasih karena sudah perkosa aku bergilir..." kata Ching Ching dengan suara parau karena dia berharap akan dilepaskan setelah itu.
Tapi para pria langsung tertawa keras dan menarik tubuhnya kembali ke lapak kayu sehingga perkosaan malah berlanjut lebih brutal lagi. Mereka meraih paku kecil dari toko material dekat situ lalu menusuk puting susu Ching Ching satu per satu dengan paku itu sehingga payudaranya yang montok berdarah dan putingnya tertindik kasar. Ching Ching menjerit melolong karena rasa sakit yang luar biasa tapi mereka tetap menggenjot memeknya yang penuh sampah itu dengan sebuah terong besar lebih dalam lagi.
Tidak cukup sampai di situ seorang pria lain mengambil lilin berwarna merah dari kios kelontong sekitar lalu menyalakan sumbunya dan meneteskan lilin panas langsung ke payudara Ching Ching serta perut dan paha mulusnya. Lilin panas itu mengeras di kulit putihnya sambil meninggalkan luka merah sehingga tubuhnya menggeliat hebat di atas lapak karena setiap tetesan membuatnya menjerit dan meronta lagi.
Para pria bergantian menghujam kemaluannya dengan berbagai benda tumpul sambil terus menindik putingnya dengan paku tambahan dan meneteskan lilin lebih banyak lagi hingga Ching Ching hanya bisa terbaring lemas dengan kemaluan penuh sampah campur peju. Payudara tertindik dan tubuhnya penuh lilin panas yang mengeras. Dia menatap kosong ke langit lorong sambil air mata terus mengalir karena tahu malam itu masih belum berakhir bagi tubuhnya yang sudah hancur.
Tapi ternyata bukan hanya Ching Ching saja yang ada dalam rekaman video brutal itu. Saat Lien memperhatikan lebih lanjut ada beberapa kejadian tak terduga lainnya yang ikut terekam saat kerusuhan sedang berlangsung dipasar pecinan itu. Ini juga merupakan bukti bahwa Ching Ching bukan korban satu-satunya. Kejadiannya memang massal dan kamera amatir itu kebetulan menangkap beberapa cewek Amoy lain yang nasibnya sama tragis.
Di salah satu rekaman awal ketika Ching Ching sedang diseret keluar dari dalam tokonya. Di latar belakang kejadian itu nampak jelas sekali terlihat seorang cewek Amoy lain yang sudah pingsan total dan kondisinya hampir telanjang bulat. Hanya menyisakan rok abu-abu seragam sekolah yang tergulung acak-acakan di pinggangnya. Kemaluan amoy itu belepotan peju putih kental yang masih menetes perlahan ke paha dalamnya. Tubuh lemasnya digotong oleh tiga pria bertubuh kekar ke arah sebuah angkot hitam yang parkir di pinggir jalan. Mereka melemparnya masuk begitu saja seperti barang rampasan lalu angkot langsung melaju meninggalkan asap hitam, entah membawa amoy malang itu ke mana.
Rekaman lain yang lebih pendek tapi lebih mengerikan juga sempat terekam kamera perusuhnya. Waktu Ching Ching akan diseret ke lorong pasar tiba-tiba terdengar jeritan keras dan panjang dari arah jalan utama yang membuat pria pembawa kamera menoleh cepat. Lensa bergerak liar, lalu fokus pada seorang cewek Amoy yang sedang difisting dengan brutal di pinggir jalan. Tangan kasar seorang pria masuk keluar dari kemaluannya dengan gerakan kasar dan dalam, membuat tubuh cewek itu tersentak-sentak hebat. Jeritannya nyaring, tapi cepat tertelan oleh suara teriakan massa dan pecahan kaca di sekitar. Beberapa pria lain berdiri mengelilingi sambil tertawa dan memegang ponsel mereka sendiri seolah sedang merekam hiburan sadis itu.
Tontonan Yang Mengerikan Namun Membangkitkan Gairah Ekstrim.
Lien masih terdiam di depan laptopnya. Matanya merah dan napasnya cepat. Tangannya sedikit gemetar saat menutup video yang baru saja ia tonton. Di dalam benaknya wajah Ching Ching terus muncul. Wajah itu terlihat menangis dan terperangkap tanpa daya. Di dalam dada Lien ada gairah ekstrim yang terus menggedor. Dorongan itu terasa semakin kuat dan mengalahkan rasa takut serta rasa bersalah yang tadi sempat ia rasakan.
[AmukanMass]: Gimana Lien ?!! Lu masih berani nonton videonya ?
"Aku takut.. tapi kenapa aku mau merasakannya. Apa aku ini termasuk masokhis. Kata Lien pelan pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar Lien mulai mengetik di forum. Jemarinya bergerak perlahan di atas keyboard.
[GadisPecinan_98]: Aku gak tahan lagi. Aku gak mau cuma nonton atau baca. Aku pengen tahu rasanya sendiri. Aku mau ngerasain gimana rasanya jadi Ching Ching waktu itu. Aku mau kerusuhan itu diulang dengan tempat yang sama dan suasana yang sama tapi tetap pakai batasan.
"Oke kita sepakat bakal ulang kejadian itu. Lu bakalan kita perlakuin dengan kejam seperti ching ching tapi pakai batasan yang gak akan merusak tubuh lu.
Malam itu setelah kesepakatan di forum, semuanya sudah diatur sangat rapi agar semirip mungkin dengan kejadian asli Ching Ching.
[JarahSampaiHabis]: Kita bakal ikutin cerita kakek persis semuanya. Kalau bisa kakek tua juga ikutan buat makin nyata sepe kejadi aslinya. Gue yakin dia mau ngulang kejadian itu lagi. Dia bakal pura-pura coba tolong seperti dulu. Lu harus jerit sekuatnya dan minta ampun seperti Ching Ching.
Minggu sore pukul 16:45.
Lien berdiri tepat di depan toko baju Xin Mei yang sudah lama terbengkalai. Rolling door berkaratnya terangkat sedikit di bagian bawah, memperlihatkan kegelapan dan kekacauan di dalam. Papan nama “Xin Mei” dengan aksara Mandarin 新美 yang pudar tergantung miring di atas kepalanya. Langit mendung membuat suasana semakin suram, lampu neon pasar yang berkedip redup menerangi wajah Lien.
Atasan putih ketat tipisnya menempel sempurna di tubuhnya yang ramping, bahan kainnya yang lembut mengikuti lekuk payudaranya yang montok dan penuh, sehingga bentuknya terlihat jelas membusung. Rok mini krem yang pendek hanya menutupi separuh paha mulus putihnya, memperlihatkan kulit halus yang berkilau samar di bawah cahaya redup. Rambut hitam panjangnya terurai lepas, beberapa helai menempel di pipi karena udara lembap sore itu. Ia mengulurkan jemari gemetar menyentuh rolling door yang dingin dan berkarat.
“Di sini… dia diseret massa… bisiknya pelan, suaranya bergetar.
Tiba-tiba, langkah kaki berat dari sekelompok orang terdengar mendekat cepat dari arah pasar. Lien berbalik dengan cepat, mata sipitnya melebar ketakutan. Lima belas orang pria sudah berdiri mengelilinginya di depan toko. Mereka pria-pria bertato kekar, dua satpam pasar berbadan besar dan kuat. Tak ada kakek di antara mereka. Pria kekar paling depan menyeringai lebar, suaranya serak dan kasar.
"Jarah semuanya !! Jangan ada yang tersisa.. seret amonya kebelakang pasar. Seru seorang perusuh.
Lien mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh rolling door yang dingin. Napasnya langsung memburu, dada montoknya naik-turun cepat di balik atasan putih tipis.
"Akkhhh.. !! jangaann.. !! kaliaann mauu.. apaaa... suaranya bergetar. Salah satu Perusuh bertubuh besar tertawa pelan sambil melangkah mendekat.
"Gak usah banyak bacot lu cina !! Hari ini rakyat mau nuntut keadilan.. kita semua bukan cuma mau ngerampas barang di toko tapi juga badan lu yang putih ini. Haha..
Dua pria langsung menyergap Lien dari samping. Tangan kasar menjambak rambut panjangnya, menarik kepalanya ke belakang hingga leher jenjangnya terentang. Lien menjerit kecil, tubuhnya meronta hebat.
“Lepasin!! Tolong!! Aku tidak salah apa-apa!!” jeritnya parau.
Salahnya lu kaya dan lu cina !! Sekarang udah paham kesalahan lu sama kita !! Hah !! Bentak perusuh sambil melotot dan menjambak rambutnya.
Mereka menyeret Lien kasar menyusuri lorong sempit di samping toko Xin Mei menuju bagian belakang pasar. Kakinya terseret di lantai semen, rok mini kremnya tersingkap tinggi karena pergerakan, memperlihatkan paha mulus putihnya yang gemetar.
“Lepasin aku!! Ampun!! Jangan tarik!!” jerit Lien sambil meronta, tangannya mencoba melepaskan cengkeraman di rambutnya.
"Jerit aja moy.. ini hari kebebasan. Gak ada hukum yang berlaku sama sekali. Semakin lu teriak makin banyak penjarah yang bakal nikmati badan seksi lu ini. Haha..
Di tengah lorong yang gelap, kakek tua petugas kebersihan yang sedang mendorong gerobak sampah melihat kejadian itu dari kejauhan. Matanya melebar. Ia langsung meninggalkan gerobaknya dan berlari tergesa menghampiri.
“Sudah cukup!! Lepasin dia!! Teriak kakek dengan suara serak keras, tangannya yang keriput terulur mencoba menghalangi.
Pria kekar langsung mendorong dada kakek dengan keras hingga tubuh renta itu terhuyung ke belakang dan jatuh duduk di lantai semen yang lembap.
"Udah lu jangan ikut campur kakek tua !! Kalau lu berani bantu dia maka lu bakalan kita habisi juga !!” bentak salah satu perusuh sambil menghunuskan pisau lipat ke arah kakek.
Dua orang pria lain mendekat dan memukul kepala kakek dengan kayu kecil. Kakek meringis kesakitan, tangannya memegang kepala yang terluka ringan di pelipis.
“Jangan… tolong… lepasin dia… ampun… gumam kakek lemah sambil mencoba merangkak bangun.
“Tahan dia di situ!! Jangan biarin dia ganggu!!” perintah pria kekar.
Dua orang langsung menahan kakek di lantai, kakinya menendang-nendang lemah tak berdaya.
Sementara itu, Lien sudah didorong kasar hingga terjatuh telungkup di lantai semen kasar di ruang kosong belakang pasar. Payudaranya yang montok menekan lantai dingin, atasan putih tipisnya kusut parah.
“Jangan!! Ampun!! Lepasin aku!!” jerit Lien, air mata mulai mengalir deras di pipi halusnya.
Para pria itu tertawa kasar. Tangan satpam besar meraih kerah atasan putih Lien dari belakang dan menariknya dengan kasar sekali.
**Krek!
Kain tipis robek dari punggung hingga dada, memperlihatkan bra putih tipis dan kulit putih halus Lien yang berkilau. Payudaranya yang montok hampir melompat keluar dari bra.
Lien menjerit keras, tubuhnya menggeliat hebat.
“Tidak!! Bajuku!! Jangan disobek!! Tolong!! Aku minta ampun!!
Mereka membalik tubuh Lien dengan kasar lalu mengangkatnya ke atas lapak kayu tua yang lapuk. Gadis itu dibaringkan telentang di permukaan kayu yang kasar dan dingin. Rok mini kremnya tersingkap total hingga pinggang, memperlihatkan celana dalam putih tipis yang sudah basah oleh keringat dan ketakutan. Dua orang pria memegangi kedua tangannya lebar-lebar di atas kepala, dua orang lagi memegangi kedua kakinya yang masih menendang-nendang panik, membuka pahanya lebar.
Pria kekar berdiri di antara kaki Lien, tangannya meremas payudara kanan Lien kasar di atas bra tipis.
“Badannya putih mulus sekali… pantes jadi sasaran,” katanya sambil menyeringai puas.
Kakek tua yang masih ditahan di lantai beberapa meter dari sana menatap dengan mata berkaca-kaca, suaranya parau.
“Sudah… cukup… lepaskan dia… aku mohon… jangan lakukan ini…
Salah satu perusuh menendang perut kakek pelan.
“Diam lu!! Nanti giliran lu juga!!
Satu per satu mereka naik ke atas lapak kayu. Atasan putih Lien disobek total hingga robek-robek, bra tipisnya ditarik kasar hingga puting susunya yang pink terpapar udara dingin. Payudaranya yang montok diremas-remas kuat, dicubit, dan ditarik hingga memerah. Rok mini kremnya disobek di sisi, celana dalam tipisnya disobet lalu dicabut paksa. Paha mulusnya dijilat dan digigit pelan oleh tangan-tangan kasar. Lien terus menjerit dan meronta hebat di atas lapak, suaranya semakin parau.
“Ampun… jangan… sakit!! Tolong!! Aku tidak salah apa-apa!! Lepasin!!
Tapi mereka hanya tertawa semakin keras. Pria kekar naik pertama. Ia membuka celananya, batangnya yang tebal dan keras langsung menghujam masuk ke dalam Lien dengan satu dorongan kasar. Tubuh Lien tersentak kuat, payudaranya bergoyang liar ke atas dan bawah.
“Aaaahhh!! Sakit!! Keluarin!! Ampun!!” jerit Lien, air matanya mengalir deras.
Pria itu menggenjotnya dengan hentakan brutal dan cepat, tangannya mencengkeram pinggul Lien sambil mengerang puas. Setelah beberapa menit ia melepaskan peju panas di dalamnya, lalu turun dan digantikan pria berikutnya.
Satu demi satu para perusuh naik ke atas lapak kayu. Mereka bergantian memperkosa Lien dengan kasar. Tubuh gadis itu terus tersentak-sentak mengikuti setiap hentakan, payudaranya yang montok bergoyang tanpa henti, putingnya dicubit dan diremas kasar. Jeritannya yang keras perlahan berubah menjadi isakan putus-putus yang lemah.
“Kalian… sudah… cukup… ampun… tolong…” tangis Lien setelah pria kelima selesai, tubuhnya sudah basah keringat bercampur peju yang menetes dari selangkangannya ke permukaan lapak kayu.
Kakek tua masih ditahan di lantai, napasnya berat, matanya tak lepas dari tubuh Lien yang sudah lemas dan penuh noda di atas lapak.
Akhirnya pria kekar menarik rambut Lien hingga gadis itu dipaksa berlutut di depan kakek tua yang masih duduk di lantai.
“Lu lihat kakek ini? Dia tadi mau tolong lu. Sekarang lu sujud minta maaf sama dia… dan isepin punya kakek ini biar dia ikut puas!!
Lien menggeleng lemah, air mata mengalir deras.
“Jangan… Kek… tolong… aku mohon…
Tapi tangan satpam besar menekan kepala Lien ke pangkuan kakek. Mulutnya yang basah air mata dipaksa terbuka, batang kakek yang sudah setengah tegang karena menyaksikan semuanya langsung masuk ke dalam mulut hangatnya.
Kakek mengerang pelan, tangannya yang keriput tanpa sadar memegang rambut Lien.
“Enak… neng… mulutnya… hangat sekali…” desah kakek, suaranya mulai berubah penuh nafsu.
Setelah beberapa menit dipaksa mengulum dengan dalam, kakek sudah benar-benar tegang dan keras. Matanya yang tadi penuh penyesalan kini berkilat nafsu.
Pria kekar tertawa kasar.
“Lihat tuh… kakek sudah sange berat. Angkat dia ke atas lapak lagi!!
Mereka mengangkat tubuh Lien yang lemas dan meletakkannya telentang di atas lapak kayu tua yang lapuk untuk yang kedua kalinya. Kakek tua naik ke atas lapak dengan susah payah, tubuh rentanya gemetar karena nafsu yang sudah tak tertahankan.
Ia membuka celana lusuhnya, batangnya yang tua tapi keras menempel di paha Lien yang basah oleh peju orang lain.
“Maafkan kakek… neng… kakek… kakek tidak tahan lagi…” bisik kakek serak sambil mendorong pinggulnya maju perlahan.
Lien menjerit lemah saat batang kakek masuk ke dalamnya yang sudah penuh dan licin.
“Kakek… jangan… ampun… sakit…
Tapi kakek sudah khilaf total. Ia mulai menggenjot Lien di atas lapak kayu dengan gerakan pelan tapi semakin dalam dan cepat, napasnya tersengal-sengal, tangannya meremas payudara montok Lien yang bergoyang-goyang.
“Enak… neng… kakek khilaf… maaf… tapi enak sekali…” erang kakek sambil mempercepat gerakannya, wajah keriputnya memerah karena nafsu.
Para pria lain berdiri mengelilingi lapak, tertawa sambil merokok dan menonton kakek tua yang tadinya berusaha menolong kini justru ikut menggilir Lien dengan penuh semangat.
Lien hanya bisa terbaring lemas di atas lapak kayu, air mata mengalir deras, tubuhnya tersentak-sentak mengikuti setiap hentakan kakek di atasnya.
Lien terbaring lemas di atas lapak kayu tua yang lapuk, tubuhnya basah oleh keringat dan cairan kental yang menetes dari selangkangannya. Payudaranya yang montok naik-turun pelan mengikuti napas yang tersengal, putingnya memerah karena remasan kasar para pria tadi. Rok mini kremnya sudah robek-robek, hanya tersisa kain kusut yang tergantung di pinggulnya. Matanya yang sipit setengah terpejam, air mata masih mengalir pelan di pipi halusnya.
Kakek tua naik ke atas lapak dengan gerakan lambat dan susah payah. Tubuh rentanya yang bungkuk gemetar, napasnya berat dan serak. Batangnya yang sudah tua tapi keras karena nafsu menempel di paha dalam Lien yang licin dan panas. Ia menatap wajah gadis itu sebentar, matanya berkaca-kaca antara penyesalan dan hasrat yang sudah tak bisa ditahan.
“Maafkan kakek… neng…” bisiknya lagi dengan suara parau, hampir seperti gumaman. “Kakek… kakek tidak kuat lagi lihat lu digituin…
Lien menggeleng lemah, suaranya hanya keluar sebagai isakan kecil.
“Kakek… jangan… tolong… aku sudah capek… ampun…
Tapi kakek tidak menjawab lagi. Ia memegang batangnya dengan tangan keriput, menggesekkannya pelan di bibir kemaluan Lien yang sudah bengkak dan basah oleh peju orang lain. Kemudian, dengan dorongan perlahan tapi pasti, ia mendorong masuk.
Lien menjerit kecil, tubuhnya tersentak. “Aduh… sakit… pelan… Kek…
Batang kakek masuk perlahan, merasakan dinding dalam Lien yang hangat, licin, dan masih berdenyut karena digilir berkali-kali sebelumnya. Kakek mengerang panjang, matanya terpejam sejenak.
“Enak… neng… dalam sekali… hangat…” desahnya serak. Pinggulnya mulai bergerak pelan, maju mundur dengan ritme yang lambat tapi dalam.
Setiap dorongan membuat tubuh Lien bergoyang pelan di atas kayu kasar. Payudaranya yang montok bergoyang lembut mengikuti gerakan, putingnya yang sensitif bergesekan dengan udara dingin lorong. Lien menggigit bibir bawahnya, tangannya yang masih dipegangi longgar oleh salah satu pria mencoba mencengkeram pinggiran lapak.
Para pria yang berdiri mengelilingi lapak tertawa pelan sambil merokok. Salah satu dari mereka berkomentar kasar.
“Lihat tuh… kakek yang tadi mau jadi pahlawan sekarang malah enak-enakan ngentot. Lambat tapi dalam ya, Kek?”
Kakek tidak menjawab. Napasnya semakin berat, gerakannya mulai sedikit lebih cepat. Tangan kirinya yang keriput meraih payudara kiri Lien, meremasnya pelan tapi semakin kuat, jempolnya mengusap puting yang sudah keras.
“Maaf… neng… kakek khilaf… tapi… enak banget memek lu…” gumam kakek di antara erangan. Wajah keriputnya memerah, keringat menetes dari dahinya.
Lien hanya bisa menangis tersedu. Suaranya sudah parau, hampir tak jelas.
“Keluarin… Kek… aku mohon… sudah cukup… sakit di dalam…
Tapi kakek seolah tak mendengar. Gerakannya semakin stabil, pinggulnya menghantam pelan tapi ritmis, batangnya keluar-masuk dengan suara basah yang samar karena cairan yang sudah memenuhi Lien. Setiap kali ia mendorong sampai pangkal, Lien merasakan tekanan dalam perut bawahnya, campuran perih dan sensasi aneh yang membuat tubuhnya bergetar tak terkendali.
Salah satu pria kekar menyeringai sambil mendekat, tangannya meremas payudara Lien yang satunya lagi.
“Terus aja, Kek. Jangan buru-buru. Biar neng ini ngerasain lama-lama. Dulu Ching Ching juga digituin sampai lemes gini.
Kakek hanya mengangguk pelan, matanya setengah terpejam karena kenikmatan. Gerakannya mulai semakin cepat, napasnya tersengal-sengal seperti orang tua yang kelelahan tapi tak mau berhenti.
Lien menoleh ke samping, air matanya mengalir ke kayu lapuk. Tubuhnya yang lemas hanya bisa ikut tersentak setiap kali kakek menghujam. Payudaranya bergoyang lebih cepat sekarang, kulit putihnya berkilau oleh keringat.
Kakek mulai mengerang lebih keras.
“Neng… kakek… kakek mau keluar… enak sekali… maafkan kakek…”
Pinggulnya bergerak lebih cepat lagi, hentakan pendek-pendek tapi kuat. Lien hanya bisa menggeliat lemah, suaranya keluar sebagai isakan putus-putus.
“Jangan… di dalam… Kek… ampun…
Dengan erangan panjang yang serak, kakek menekan pinggulnya dalam-dalam dan melepaskan peju panasnya di dalam Lien. Tubuhnya bergetar hebat di atas gadis itu selama beberapa detik, tangannya mencengkeram payudara Lien kuat-kuat. Setelah itu ia ambruk pelan, napasnya tersengal-sengal, tubuh renta itu masih menindih Lien sebentar sebelum akhirnya ditarik turun oleh salah satu pria.
Lien terbaring diam di atas lapak, cairan kental menetes lagi dari selangkangannya yang sudah sangat basah dan bengkak. Matanya kosong menatap langit-langit lorong yang gelap, air mata masih mengalir pelan.
Para pria saling pandang, lalu pria kekar menyeringai lagi.
“Masih ada yang mau giliran lagi? Atau kita istirahat dulu biar neng ini napas bentar?”
Lien hanya bisa menangis pelan, tubuhnya gemetar di atas lapak kayu yang sudah basah oleh keringat dan cairan mereka.
Lien terbaring lemas di atas lapak kayu, napasnya tersengal-sengal. Cairan kental masih menetes pelan dari selangkangannya yang sudah merah dan bengkak. Tubuhnya gemetar hebat, payudaranya naik-turun cepat. Matanya setengah terpejam, air mata terus mengalir tanpa suara.
Pria kekar menyeringai lebar sambil melihat keadaan Lien.
“Belum cukup. Masih ada yang mau nyicip lagi. Kali ini lebih kasar ya, biar dia ngerasain beneran.
Dua pria langsung menarik Lien kasar hingga telentang lagi di tengah lapak kayu. Mereka membuka paksa kedua kakinya lebar-lebar, hampir menyentuh pinggiran lapak. Dua orang lain memegangi pergelangan kakinya kuat-kuat, menahan agar pahanya tetap terbuka maksimal. Lien hanya bisa menggeliat lemah.
“Jangan… kaki aku… sakit… lepasin…” isaknya parau.
Pria kekar naik pertama. Tanpa banyak bicara ia langsung menghujam batangnya yang tebal dengan satu dorongan keras sampai pangkal. Lien menjerit keras, tubuhnya melengkung.
“Aaaahhh!! Terlalu dalam!! Ampun!!
Pria itu menggenjotnya dengan hentakan brutal dan cepat. Tangan satpam besar menjambak rambut Lien dari samping, menarik kepalanya ke belakang sambil menampar pipi kirinya keras. Plak!
“Jerit lebih kencang, Cina lonte ! Lu emang lahir buat dijarah massa !! bentaknya.
Lien menangis tersedu, pipinya memerah bekas tamparan. Pria kekar terus menghantam tanpa ampun selama beberapa menit sebelum melepaskan pejunya di dalam dengan erangan kasar. Begitu ia turun, pria kedua langsung menggantikan posisi, menghujam lebih kasar lagi sambil mencubit puting Lien kuat-kuat. Pria ketiga menyusul setelah itu, gerakannya paling brutal, pinggulnya menghantam keras sampai lapak kayu berderit.
Setelah tiga pria itu selesai, Lien sudah nyaris tak berdaya. Mereka menarik tubuhnya kasar lalu memaksa gadis itu berdiri menelungkup di pinggir lapak kayu. Perutnya menekan pinggiran kayu yang kasar, bokongnya terangkat ke belakang. Dua orang memegangi pinggulnya kuat-kuat.
Salah satu pria berdiri di belakang dan langsung menusuk dari belakang dengan satu hentakan kasar. Lien menjerit lagi.
“Arrghh!! Sakit!! Pelan… tolong!!”
Pria itu menggenjotnya dengan cepat sambil menampar pantat Lien keras berkali-kali.
Plak! Plak! Plak!
Kulit putih mulus pantatnya langsung memerah bekas tamparan. Setiap tamparan membuat Lien tersentak, bokongnya bergoyang hebat. Pria itu bergantian dengan dua temannya, bergiliran dari belakang sambil terus menampar pantatnya sampai memerah terang.
“Haha.. Enak banget pantatnya… putih mulus gini cocok buat ditamparin. Ejek salah satu sambil tertawa.
Setelah puas dari belakang, mereka melempar Lien ke lantai semen yang dingin dan kotor. Gadis itu terjatuh telentang, tubuhnya sudah penuh noda. Dua pria langsung meraih payudaranya, memelintir putingnya kuat-kuat sambil menariknya ke atas.
“Aduh!! Puting aku!! Sakit banget!! Lepasin!!” jerit Lien, tubuhnya menggeliat kesakitan.
Sementara itu, satu pria berlutut di depan wajahnya, memegang kepala Lien lalu memompa batangnya masuk-keluar mulut gadis itu dengan kasar. Lien tersedak, air liur bercampur air mata mengalir dari sudut mulutnya. Di saat yang sama, pria lain membuka kakinya lebar lalu menghujam kemaluannya dari depan. Lien kini disodok berbarengan dari mulut dan bawahnya, tubuhnya terguncang-guncang di lantai semen yang kasar.
Tak lama kemudian mereka mengubah posisi lagi. Lien dipaksa doggy style di lantai. Satu pria menghujam dari belakang dengan kasar, tangannya menjambak rambut Lien kuat-kuat hingga kepalanya terangkat ke belakang. Di depan, pria lain berdiri sambil memasukkan batangnya ke mulut Lien yang sudah basah air liur.
"Cina kayak gini emang enak buat di dogg.. !memeknya juga masih berasa peret walau udah digilir massa.. Ejek pria di belakang sambil menarik rambut Lien lebih keras.
Lien hanya bisa mengeluarkan suara tersedak dan isakan tertahan karena mulutnya penuh.
Akhirnya, pria kekar memberi isyarat untuk posisi terakhir yang paling berat. Dua pria mengangkat tubuh Lien terbalik. Kepalanya menghadap ke bawah, kakinya diangkat tinggi ke atas. Mereka memegangi kedua paha Lien kuat-kuat, membuka lebar sehingga kemaluannya terpampang jelas di depan pria yang berdiri di pinggir lapak kayu.
Pria itu langsung menghujam kemaluan Lien dari atas dengan posisi berdiri, batangnya masuk sangat dalam karena gravitasi. Lien menjerit keras sekali, suaranya parau dan putus-putus.
“Aaaarrrghhh!! Terlalu dalam!! Keluarin!! Aku mau mati!! Tolong!!
Tubuhnya tergantung terbalik, payudaranya bergoyang liar ke arah wajahnya sendiri. Sementara itu, pria lain berdiri di depan wajah Lien yang terbalik, memegang kepalanya lalu menyodok mulutnya dalam-dalam. Lien tersedak hebat, air liur menetes ke lantai semen bercampur air matanya yang mengalir ke atas karena posisi terbalik.
Pria yang menghujam dari atas menggenjot dengan hentakan kuat dan cepat, tangannya mencengkeram paha Lien hingga meninggalkan bekas merah. Setiap dorongan membuat seluruh tubuh Lien bergoyang hebat seperti boneka kain.
“Rasain ini, neng… ini yang namanya digilir beneran,” ejek pria itu sambil tertawa kasar.
Lien hanya bisa mengeluarkan suara tersedak dan jeritan tertahan. Tubuhnya yang tergantung terbalik semakin lemas, penglihatannya mulai berkunang-kunang, air mata mengalir deras ke rambutnya sendiri. Payudaranya bergoyang liar, putingnya masih memerah bekas pelintiran tadi.
Para pria di sekitar hanya berdiri menonton sambil merokok, sesekali tertawa dan memberi komentar kasar.
Lien sudah nyaris tak berdaya ketika para pria mengangkat tubuhnya yang lemas kembali ke atas lapak kayu tua. Mereka membaringkannya telentang di permukaan kayu yang kasar dan basah oleh keringat serta cairan mereka. Dua orang pria kuat memegangi kedua tangannya lebar-lebar di atas kepala, sementara dua orang lain memegangi kedua kakinya dan memaksa membukanya lebar sekali hingga otot paha dalamnya terasa tertarik sakit.
Lien hanya bisa menggeliat lemah, suaranya sudah hampir hilang, hanya keluar sebagai isakan parau.
“Sudah… cukup… aku… mohon… lepasin…
Pria kekar menyeringai lebar sambil meraih segenggam sampah dari tumpukan di samping lapak. Ada plastik kresek kotor bekas makanan, potongan sayur busuk yang lembek, puntung rokok basah, dan kulit pisang yang sudah menghitam. Bau busuk langsung menyengat udara.
“Lihat nih… memeknya masih nganga lebar. Kita kasih hadiah spesial biar tambah penuh.
Ia menjejalkan sampah itu paksa ke dalam kemaluan Lien yang sudah merah dan bengkak. Plastik lengket dan sayur busuk masuk dengan suara basah yang menjijikkan. Lien menjerit keras, tubuhnya melengkung hebat meski tangan dan kakinya ditahan kuat.
“Aaaarrrghhh!! Jangan!! Keluarin!! Jijik… sakit!! Ampun!!”
Sampah itu terdorong masuk lebih dalam oleh jari pria kekar yang menekan kasar. Lien merasakan benda-benda asing bergesekan di dinding dalamnya yang sensitif, bercampur dengan peju yang masih hangat. Perut bawahnya terasa penuh sesak dan perih luar biasa.
Saat itu, seorang pria naik ke atas lapak dan berlutut di depan wajah Lien. Ia memegang kepala gadis itu lalu memasukkan batangnya yang tebal ke dalam mulut Lien yang masih terbuka karena jeritan. Ia mulai memompa kasar, masuk sampai tenggorokan, membuat Lien tersedak hebat. Air liur bercampur air mata mengalir deras dari sudut mulutnya.
Dua pria yang memegangi tangan Lien ikut meremas payudaranya dengan kasar. Telapak tangan mereka yang besar mencengkeram buah dada montok itu kuat-kuat, meremas dan menariknya ke segala arah. Jari mereka mencubit puting Lien bergantian hingga memerah gelap.
Kedua kakinya tetap dipaksa terbuka lebar sekali, paha mulusnya gemetar karena ototnya tertarik maksimal.
Salah satu satpam besar mengambil sebatang lilin merah tebal dari dalam toko Xin Mei yang rusak. Ia menyalakan sumbunya dengan korek api, lalu mulai meneteskan lilin panas langsung ke tubuh Lien.
Tetes pertama jatuh di perut halusnya.
Cessst!
Lien menjerit tertahan di balik batang yang menyumbat mulutnya, tubuhnya menggeliat hebat. Lilin panas mengeras cepat di kulit putihnya, meninggalkan bekas merah yang panas. Tetes berikutnya jatuh ke payudara kanannya, tepat di samping puting yang sedang diremas. Kemudian ke paha dalam kirinya, sangat dekat dengan kemaluan yang sudah penuh sampah.
Setiap tetesan lilin membuat Lien tersentak keras. Tubuhnya berkeringat dingin bercampur panas lilin.
Sementara itu, pria kekar mengambil potongan terong besar yang sudah disiapkan. Ia menekannya kasar ke kemaluan Lien yang sudah penuh sampah, menyodok masuk dan keluar dengan gerakan brutal. Sampah sayuran bergesekan di dalam, terong itu menghantam dinding sensitif Lien berkali-kali.
Lien merasakan sensasi yang tak tertahankan — perih, penuh, jijik, dan gesekan yang terus-menerus di titik paling sensitifnya. Tubuhnya mulai bergetar tak terkendali. Napasnya tersengal di balik sodokan di mulut. Payudaranya diremas semakin kasar, putingnya dipilin. Lilin panas terus menetes ke dada, perut, dan paha.
Tiba-tiba tubuh Lien menegang hebat. Matanya melebar, pinggulnya tersentak-sentak meski ditahan kuat. Suara tersedak panjang keluar dari mulutnya yang penuh.
Ia klimaks dengan hebat — cairan bening menyembur keluar bercampur sampah dan peju yang sudah ada di dalamnya. Tubuhnya kejang-kejang di atas lapak kayu, kakinya yang dipegangi bergetar hebat, air mata mengalir deras. Jeritannya tertahan di tenggorokan karena batang yang terus memompa mulutnya.
Para pria tertawa kasar melihatnya.
“Lihat tuh… amoy ini klimaks juga walau diginiin. Memek murahan emang gampang sange.
Pria yang memompa mulut Lien semakin cepat, lalu melepaskan pejunya langsung ke tenggorokan gadis itu. Lien tersedak dan batuk, sebagian cairan peju keluar dari sudut mulutnya.
Lilin masih menetes pelan ke tubuhnya yang sudah penuh bekas merah. Payudaranya masih diremas kuat. Kemaluannya masih disodok kasar dengan terong, sampah sayuran semakin berantakan di dalamnya.
Lien hanya bisa terbaring lemas, tubuhnya masih bergetar sisa klimaks, napasnya pendek-pendek, matanya kosong menatap langit-langit lorong yang gelap. Air mata terus mengalir tanpa henti.
Lien terbaring lemas di atas lapak kayu tua yang sudah basah dan lengket. Tubuhnya masih bergetar hebat sisa klimaks yang baru saja ia alami. Napasnya pendek-pendek, tersengal-sengal seperti orang yang baru lari jauh. Matanya yang sipit setengah terpejam, pupilnya melebar karena campuran syok, sakit, dan sensasi aneh yang masih berdenyut di perut bawahnya.
Cairan bening bercampur sampah sayuran dan peju orang lain masih menetes pelan dari kemaluannya yang sudah sangat bengkak dan merah. Setiap kali otot dalamnya berkedut sisa klimaks, ia merasakan gesekan sampah yang lembek dan kasar di dalam dinding sensitifnya — sensasi yang membuat perutnya mual sekaligus menimbulkan getaran kecil yang tak mau berhenti.
Payudaranya terasa panas dan perih. Bekas remasan dan cubitan meninggalkan jejak merah di kulit putihnya yang halus. Putingnya yang dipelintir tadi masih berdiri keras, berdenyut-denyut mengikuti detak jantungnya yang kencang. Lilin yang mengeras di dada, perut, dan paha dalamnya terasa seperti kulit yang tertarik, setiap gerakan kecil membuatnya perih.
Lien menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya sakit dan lengket karena peju yang dipompa tadi. Rasa asin dan pahit masih terasa di lidahnya. Ia mencoba menggerakkan kepala, tapi lehernya terasa lemah.
Di dalam kepalanya, pikiran Lien berputar kacau.
‘Kenapa… aku… bisa klimaks…?
Rasa malu yang dalam langsung menyergap dadanya. Pipinya yang sudah basah air mata semakin panas. Ia merasa kotor, jijik pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin tubuhnya bereaksi seperti itu di tengah rasa sakit, penghinaan, dan sampah yang dijejalkan ke dalam dirinya? Air matanya mengalir lagi, kali ini lebih deras, mengalir ke rambutnya yang acak-acakan.
“Aku… bukan… seperti ini…” bisiknya sangat pelan, suaranya hampir tak terdengar, hanya gerakan bibir yang gemetar.
Tapi tubuhnya berkhianat. Setiap kali otot kemaluannya berkedut karena sisa klimaks, ada gelombang kecil kenikmatan yang masih merambat naik ke perutnya, membuatnya semakin malu. Ia merasa seperti orang asing di dalam tubuhnya sendiri.
Kedua tangannya yang masih dipegangi kuat terasa kebas. Kakinya yang dipaksa terbuka lebar gemetar tak terkendali. Ia mencoba menutup paha, tapi tenaganya sudah habis. Hanya gerakan kecil yang sia-sia.
Lien menoleh pelan ke samping. Matanya bertemu dengan mata kakek tua yang masih berdiri di dekat lapak, napasnya berat. Wajah keriput kakek itu terlihat campur aduk — ada penyesalan, tapi juga sisa nafsu yang belum padam sepenuhnya.
Lien menatapnya dengan pandangan yang rapuh, suaranya pecah saat berbisik lirih:
“Kek… aku… sudah… hancur… tolong… bilang… cukup…
Tapi suaranya terlalu lemah. Para pria di sekitar hanya tertawa pelan mendengarnya.
Salah satu pria kekar mengusap keringat di dahinya sambil menyeringai.
“Lihat tuh… matanya masih basah, tapi memeknya tadi muncrat juga. Amoy ini ternyata suka yang kasar.
Lien menutup mata rapat-rapat. Dadanya sesak. Rasa bersalah, malu, jijik, dan sensasi aneh yang tak bisa ia jelaskan bercampur menjadi satu. Tubuhnya masih berdenyut pelan di tempat-tempat yang disentuh kasar tadi. Setiap detik terasa seperti siksaan yang lambat.
Ia hanya bisa berbaring di sana, telentang di lapak kayu yang dingin, tubuhnya terbuka lebar, penuh noda, lilin, dan sampah. Air matanya terus mengalir tanpa suara, sementara napasnya perlahan mulai stabil — meski pikirannya masih kacau dan tubuhnya masih merasakan denyut-denyut sisa kenikmatan yang tak diinginkan.
Para pria masih berdiri mengelilingi lapak, napas mereka kasar, seolah belum puas sepenuhnya.
Lien terbaring telentang di atas lapak kayu tua yang sudah sangat basah dan lengket. Tubuhnya tidak lagi bergerak banyak — hanya sesekali gemetar kecil yang tak terkendali. Napasnya pelan dan pendek, dada montoknya naik-turun dengan lemah. Matanya yang sipit setengah terpejam, tatapannya kosong menatap langit-langit lorong yang gelap dan berkedip lampu neonnya.
Cairan kental bercampur sampah sayuran masih menetes pelan dari kemaluannya yang sudah sangat bengkak, merah, dan terbuka. Lilin yang mengeras di payudara, perut, dan paha dalamnya terasa tegang setiap kali ia bernapas. Bekas tamparan di pipi dan pantatnya memerah gelap. Rambut hitam panjangnya acak-acakan, lengket oleh keringat dan air mata.
Para pria mulai mundur satu per satu. Napas mereka masih kasar, tapi gerakan mereka sudah lebih lambat, tanda bahwa sesi sudah mendekati akhir.
Pria kekar menyeka tangannya ke celana sambil melihat Lien dengan senyum puas yang lelah.
“Cukup untuk hari ini. Amoy ini udah hancur total.”
Ia menoleh ke kakek tua yang masih berdiri di samping lapak, wajah keriputnya pucat dan berkeringat.
“Lu puas, Kek? Tadi lu ikut enak juga kan?
Kakek hanya menunduk, tangannya yang keriput gemetar. Ia tidak menjawab. Matanya sesekali melirik Lien dengan sorot yang sulit dibaca — campuran penyesalan, rasa bersalah, dan sisa nafsu yang sudah mulai pudar.
Salah satu satpam besar menendang pelan kaki Lien yang masih terbuka lebar.
“Bisa berdiri nggak, neng? Atau kita tinggal di sini aja sampe besok pagi?”
Lien tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan sekali, air mata masih mengalir pelan dari sudut matanya ke rambutnya. Suaranya sudah hilang hampir sepenuhnya, hanya keluar desahan lemah saat ia mencoba menggerakkan tangan.
Para pria tertawa pelan untuk terakhir kali. Mereka mulai berjalan meninggalkan lorong satu per satu. Beberapa masih merokok, yang lain mengancingkan celana sambil bergumam kasar.
“Besok kalau mau lagi, datang aja ke sini. Kita tunggu.”
“Jangan lupa cuci dulu sebelum pulang, neng. Bau sampah.
Suara langkah mereka semakin menjauh. Lampu neon yang berkedip semakin redup. Akhirnya lorong belakang pasar itu menjadi sunyi lagi, hanya tersisa suara tetesan air dari pipa bocor yang “tok… tok… tok…” pelan.
Kakek tua masih berdiri di sana beberapa saat. Ia menatap Lien yang tergeletak di atas lapak kayu. Tubuh gadis itu penuh noda — lilin mengeras, bekas remasan, memar ringan, dan sampah yang masih tersisa di antara pahanya. Rambutnya acak-acakan, wajahnya basah air mata, bibirnya bengkak.
Kakek menghela napas panjang yang berat. Tangannya bergerak seolah ingin mendekat, tapi kemudian ia berhenti. Ia menunduk, mendorong gerobak sampahnya pelan-pelan, dan mulai berjalan meninggalkan lorong tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sekarang Lien benar-benar sendirian.
Udara dingin lorong menyentuh kulitnya yang telanjang dan lengket. Setiap hembusan angin kecil membuat lilin yang mengeras di tubuhnya terasa lebih ketat. Kemaluannya masih berdenyut pelan, campuran rasa perih, penuh, dan sisa sensasi klimaks yang membuatnya malu sendiri.
Lien mencoba menggerakkan tangannya. Jari-jarinya gemetar hebat saat ia menyentuh pinggiran lapak kayu, berusaha bangkit. Tubuhnya terasa sangat berat. Lututnya lemas ketika ia mencoba duduk. Cairan kental langsung menetes lebih banyak ke kayu lapuk saat ia mengubah posisi.
Ia duduk di pinggir lapak dengan susah payah, kedua kakinya masih terbuka lemah. Tangan kanannya gemetar saat menyentuh perutnya yang penuh bekas lilin. Air matanya jatuh lagi, kali ini tanpa suara.
“Kenapa… aku datang ke sini…” bisiknya sangat pelan, suaranya pecah dan serak.
Rasa malu yang dalam menyelimuti dadanya. Ia merasa kotor, rusak, dan anehnya… masih ada denyut kecil di dalam tubuhnya yang tak mau hilang sepenuhnya. Pikirannya kembali ke bayangan Ching Ching, ke cerita kakek, dan ke apa yang baru saja ia alami.
Lien menunduk lama. Jemarinya menyentuh anting mutiara kecil yang masih tersimpan di saku rok mini yang robek. Benda itu terasa dingin di tengah kekacauan tubuhnya.
Setelah beberapa menit Lien turun dari lapak kayu dengan gerakan sangat lambat dan penuh rasa sakit. Kakinya goyah dan hampir jatuh. Ia bersandar sebentar ke tembok dingin lalu menarik napas dalam-dalam yang terasa perih di dada.
Lorong pasar yang sepi dan gelap menyaksikan Lien berjalan gontai menuju arah keluar. Serpihan atasan putih dan rok kremnya hanya menutupi sedikit tubuhnya. Setiap langkah terasa sakit di antara pahanya. Cairan masih menetes pelan di sepanjang kakinya. Ia tidak menoleh lagi ke belakang.
Malam semakin larut. Langit Pecinan masih mendung. Lien berjalan pelan menuju rumahnya dengan tubuh penuh bekas dan pikiran kacau. Hatinya dipenuhi campuran rasa malu kelelahan dan sesuatu yang gelap yang belum bisa ia pahami.
Hanya suara tetesan air tok tok tok yang mengiringi langkahnya yang gontai meninggalkan lorong belakang pasar tua itu.
Lien berjalan gontai meninggalkan lorong belakang pasar dengan langkah yang sangat lambat dan goyah. Setiap gerakan terasa menyiksa. Pahanya yang mulus lengket oleh campuran peju sampah sayuran yang meleleh dan cairannya sendiri. Lilin yang mengeras di dada perut dan paha dalamnya menarik kulit setiap kali ia melangkah dan meninggalkan rasa perih yang menusuk. Atasan putihnya sudah robek hampir tak bersisa hanya kain kusut yang ia pegang dengan tangan gemetar untuk menutupi payudaranya yang memar. Rok mini kremnya robek di sisi dan hampir tak bisa menutupi apa pun.
Udara malam yang dingin menusuk kulit telanjangnya. Ia menunduk sementara rambut acak-acakannya menutupi sebagian wajah yang basah air mata. Setiap langkah membuat cairan kental menetes pelan dari selangkangannya ke lantai semen dan meninggalkan jejak samar di belakangnya. Anting mutiara kecil masih tergenggam erat di telapak tangan kirinya seolah benda itu adalah satu-satunya yang menghubungkannya dengan realitas.
Ia berhasil keluar dari pasar tua tanpa bertemu siapa pun. Jalanan Pecinan sudah sepi hanya lampu kuning pucat yang menyala redup. Lien berjalan sambil bersandar sesekali ke tembok atau tiang listrik. Napasnya pendek dan berat. Rumahnya tak jauh tapi terasa seperti perjalanan paling panjang dalam hidupnya.
Sesampainya di rumah Lien langsung masuk tanpa suara. Orang tuanya sudah tidur. Ia mengunci pintu kamar mandi dengan tangan gemetar lalu menyalakan lampu. Cahaya terang langsung menyilaukan matanya yang bengkak.
Lien berdiri di depan cermin. Penampilan dirinya membuat dadanya sesak.
Wajahnya pucat pipi kiri memerah bekas tamparan bibir bawahnya bengkak dan pecah-pecah. Rambutnya lengket dan acak-acakan. Tubuhnya penuh bekas memar merah di payudara bekas cubitan di puting susu yang masih berdiri keras jejak lilin mengeras yang meninggalkan noda merah di dada dan perut serta bekas tamparan di pantat yang terlihat jelas saat ia membalik badan.
Yang paling parah adalah bagian bawahnya. Kemaluan Lien bengkak parah bibirnya terbuka dan merah gelap masih menetes campuran cairan kental dan potongan sayur busuk yang tersisa. Bau sampah samar masih menempel di kulitnya. Lien menatap bayangannya lama sekali. Air matanya jatuh lagi tanpa suara.
“Aku benar-benar melakukannya Lien bisik dengan suara serak yang hampir hilang.
Ia membuka keran air panas hingga uap memenuhi kamar mandi. Tanpa melepas sisa kain yang robek ia langsung masuk ke bawah pancuran. Air hangat menyiram tubuhnya. Pertama air itu terasa perih di bekas luka dan lilin tapi perlahan mulai meredakan rasa dingin yang menusuk.
Lien mengambil sabun dan spons kasar. Ia mulai membersihkan diri dengan gerakan lambat dan hati-hati. Pertama ia gosok payudaranya pelan dan meringis saat spons menyentuh bekas remasan dan cubitan. Lilin mengeras sulit dibersihkan jadi ia harus menggosok berkali-kali hingga kulitnya memerah. Air sabun bercampur lilin yang meleleh mengalir ke lantai.
Kemudian ia turun ke bagian bawah. Dengan tangan gemetar ia membuka lebar pahanya di bawah pancuran. Air hangat menyiram kemaluannya yang bengkak. Ia menggigit bibir menahan perih saat jari-jarinya membersihkan sisa sampah sayuran yang masih tersisa di dalam. Potongan plastik dan kulit pisang yang lembek keluar pelan-pelan bercampur dengan cairan kental yang masih banyak. Bau busuk samar naik ke hidungnya dan membuat perutnya mual.
Lien menangis lagi di bawah pancuran. Air mata bercampur air hangat mengalir di wajahnya.
“Kenapa aku sampai segininya Lien gumam tersedu. “Aku klimaks di depan mereka dengan sampah di dalam.
Rasa malu yang dalam kembali menyergap. Tapi di balik itu ada denyut kecil yang masih tersisa di perut bawahnya setiap kali jarinya menyentuh bagian sensitif yang baru saja disiksa. Ia cepat-cepat mengusir pikiran itu dan menggosok lebih kuat seolah ingin membersihkan bukan hanya tubuh tapi juga ingatan.
Ia mencuci rambutnya dua kali dan menggosok seluruh tubuhnya sampai kulitnya terasa panas dan memerah. Air panas terus mengalir lama sekali. Akhirnya setelah hampir empat puluh menit ia mematikan keran.
Lien berdiri di depan cermin lagi. Tubuhnya sekarang bersih tapi bekas-bekas masih jelas terlihat memar kemerahan dan bengkak di kemaluan yang belum sepenuhnya reda. Ia mengenakan handuk longgar lalu keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan.
Di kamarnya ia langsung berbaring di ranjang tanpa mengenakan baju. Tubuhnya terasa sangat lelah. Ia menarik selimut hingga menutupi dada tapi tidak bisa langsung tidur.
Pikiran Lien masih berputar. Bayangan lapak kayu tangan-tangan kasar suara tawa mereka sensasi terong yang menyodok dan klimaks yang tak diinginkan itu terus muncul. Rasa malu jijik dan kebingungan bercampur menjadi satu.
Tapi di balik semua itu ada sesuatu yang gelap dan aneh sebuah dorongan kecil yang membuatnya takut pada dirinya sendiri. Ia memejamkan mata tangan kanannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih sedikit perih. Malam itu Lien tidur dengan tubuh yang bersih di luar tapi pikirannya masih kotor dan penuh bekas yang tak mudah hilang.



fuck ini mah cocok
BalasHapusmakin ke sini makin penasaran hasrat si lien untuk menjalankan kodrat pembuangan pejuh huana makin menggebu2
dark past story
BalasHapusughh darrn
BalasHapuscerita si kakek menusuk banget
kalo kata gw tambahin aja detailnya teriakan si ching2
buat rasa penasaran lien makin memuncak
umpatan2 kasar
digampar malah diketawain
ha ha ha mau lari kemana nih cina?
udah ga sabar nihh
kita mau makan BABI
suara teriakan kemarahan umpatan
berubah jadi mohon ampunan
hingga hanya berubah menjadi desahan dan hujaman batang tumpul ke kerongkonan dan hanya lenguhan napas lemah
beh asoyy
BalasHapustambahin mulustrasinye dong sikat
hihihihihiy
bikin ching2 jadi artis terkenal
komentar seru2
duh ga bayangin yang biasanya duduk2 di mall dingin2
malah kudu ngangkang dudukin kontol2 kita kepanasan diatas lapak pasar becek ato di tengah jalan hahahhahaa
duh memeknya pasti kedut2 sipit kaya mata cina hihihihi
apalagi teteknya bro mantul2 udah kaya bapao abis keluar dari kukusan pengen gw kokop
Udah dimention kalo Ching Ching dientot ditempat yang banyak sampahnya, kenapa nggak ada adegan di mana memeknya jadi tempat sampah dijejelin sampah kotor. Udah gitu dengan memek penuh sampah campur peju, Ching Ching dikasi tau boleh pulang kalo dia sujud minta maaf plus terima kasih untuk perkosaan bergilirnya tapi setelah Ching Ching minta maaf dan terima kasih, perkosaannya malah berlanjut lebih brutal lagi dengan puting Ching Ching ditindik pake paku kecil dari toko material dekat situ. Bisa juga diceritain kalo Ching Ching disiksa dengan tubuhnya ditetesin lilin panas yang didapet dari kios kelontong sekitar situ. Ato semua itu bisa dijadiin adegan untuk Lien
BalasHapusAkhirnya ada juga cerita yg berani lebih brutal di blog ini!
HapusLanjutkan hu siksa terus jgn nanggung2, yg penting jangan sampe mati
Sekalian mukanya ditampar dan diludahi hu
"Tidak cukup sampai di situ seorang pria lain mengambil lilin dari kios kelontong sekitar lalu menyalakan sumbunya dan meneteskan lilin panas langsung ke payudara Ching Ching serta perut dan paha mulusnya"
HapusDiceritakan warna lilinnya hu, misalnya warna merah agar kontras dgn kulit putihnya
Kehamilan bisa mulai didetek dari hari kesepuluh, ASI bisa mulai keluar dari minggu keenam belas, pil aborsi bisa dipake sampe minggu kesepuluh dan aborsi klinik sampe maksimal minggu kedua puluh empat. Lien sengaja gak langsung pake pil karna pengen ngerasa hamil karna perkosaan pertamanya gak tau sape bapaknya kayak korban kerusuhan, gak cuma itu Lien juga karna pengen tau reaksi forum dengan sengaja tiba2 ngepost foto hasil test pack-nya yg positif. Tentunya forum langsung meledak dengan macam2 komentar kotor dan ejekan, ada juga komentar2 yg ngasi tau kalo korban2 kerusuhan sebelumnya banyak yg hamil juga gak pandang umur, dari anak SMP/SMA sampe mahasiswi dan ibu rumah tangga setelah kerusuhan pada hamil serentak. Ada banyak yg diaborsi tapi ada juga cewek2 yg diancam gak boleh diaborsi sampe akhirnya beneran punya anak hasil perkosaan
BalasHapusDi video Ching Ching mungkin lebih mantep kalo diceritain ada beberapa cewek laen yg ketangkep kamera biar brutalnya keadaan waktu kerusuhan lebih kerasa, gak usah terlalu detil, cuma untuk ngegambarin kalo waktu itu kejadiannya massal dengan banyak korban yg nasibnya sama
BalasHapusMisal waktu Ching Ching diseret terlihat ada cewek pingsan telanjang bulat dengan hanya rok abu tergulung di pinggangnya dan memeknya belepotan peju, digotong sama beberapa orang ke angkot yg kemudian pergi entah ke mana
Ato ada saat di mana terdengar jeritan keras yg bikin yg bawa kamera menoleh sebentar, ternyata asalnya dari cewek yg memeknya lagi difisting di pinggir jalan
Ini Lien dari dijebol perawannya sampe memeknya jadi tempat sampah beda berapa hari/minggu sih? Sisipin infonya hu, mungkin pas Lien lagi ngaca dan dia mikir gak percaya kalo beberapa hari/minggu yang lalu dia masih ting-ting dan hari itu bagian tubuh yang seharusnya dia jaga malah dijadiin tempat sampah. Terus lanjutin hu karna Lien setengah trauma tapi setengahnya lagi malah pengen lebih brutal
BalasHapus