Di sudut kafe kecil di Kemang yang selalu bau kopi toraja dan kayu manis Celine Tanuwijaya duduk sendirian di meja dekat jendela. Gaun midi putihnya terlipat rapi di atas lutut dan jari-jarinya yang ramping memainkan stylus di atas iPad sambil menggambar garis-garis lembut sebuah sofa sectional untuk kliennya. Hujan baru reda sehingga meninggalkan genangan kecil di trotoar yang memantulkan lampu neon kuning. Dia tidak sadar ketika pintu kafe terbuka dan angin sore membawa aroma tanah basah bercampur oli motor.
Dimas masuk dengan langkah berat sepatu safety boot yang masih berdebu. Kaos oblong abu-abunya menempel di dada karena keringat sore tadi di lapangan proyek. Dia memesan kopi hitam tanpa gula lalu memandang sekeliling. Semua meja sudah penuh kecuali satu di depan gadis berparas oriental yang rambutnya jatuh lurus seperti tirai sutra hitam. Dia ragu sejenak tapi akhirnya duduk di kursi itu.
Celine mengangkat mata sesaat hanya sesaat saja. Tatapan mereka bertemu seperti dua garis yang hampir bersilang tapi tidak benar-benar menyentuh. Tidak ada senyum lebar dan tidak ada sapaan hangat. Hanya hembusan napas pelan dari keduanya serta suara mesin espresso yang mendesis di belakang counter.
Celine Tanuwijaya adalah gadis keturunan chinese yang berusia 21 tahun dan masih kuliah semester akhir di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta Barat. Kampusnya itu memang sering dibicarakan karena banyak mahasiswi Chindo yang cantik dan seksi dengan kulit putih mulus serta tubuh langsing berisi. Celine sendiri termasuk salah satu yang paling menonjol di antara mereka. Wajahnya oval dengan mata sipit tajam dan bibir penuh alami. Rambut hitam lurus panjangnya selalu tergerai rapi sampai pinggang. Tubuhnya ramping tapi payudara dan bokongnya cukup penuh sehingga sering membuat pria melirik dua kali. Dia suka memakai baju ketat atau gaun pendek yang memperlihatkan lekuk tubuhnya tapi tetap terlihat classy.
Celine merantau ke Jakarta untuk kuliah semester pertama di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta Barat. Dia berasal dari keluarga menengah ke atas di kota Medan. Ayahnya punya bisnis kecil di bidang impor barang elektronik dan ibunya mengurus rumah serta toko online. Mereka tinggal di rumah sendiri di Medan tapi Celine memilih merantau supaya bisa fokus belajar dan hidup mandiri. Kostnya itu seperti apartemen mini di kawasan elite dekat kampus dengan fasilitas lengkap termasuk gym kecil dan kolam renang. Setiap kemana-mana dia selalu naik mobil pribadi yaitu Honda HR-V putih yang diberikan ayahnya saat ulang tahun ke-20. Dia jarang naik ojek online atau transportasi umum karena keluarganya mengajarkan untuk selalu jaga penampilan dan keamanan.
Di kampus Celine dikenal sebagai mahasiswi desain interior yang pintar dan manja. Dia sering pakai tas branded kecil dan sepatu heels tipis ke kelas. Teman-temannya memanggilnya Cel atau Celine tapi keluarga di rumah memanggilnya Cèlì. Di luar dia terlihat princessy dan manis tapi sebenarnya dia punya sisi rahasia yang haus akan kontrol dan rasa sakit yang terarah. Sisi itu baru dia sadari dua tahun terakhir setelah mulai pacaran dengan Dimas.
Dimas adalah pria pribumi berusia 30 tahun. Dia tampan dengan kulit sawo matang gelap dan wajah tegas berjenggot tipis. Badannya kekar atletis karena sering main sepak bola dan angkat besi ala kampung sejak kecil. Tingginya 182 cm dengan tangan besar berurat tegas. Dia bekerja sebagai supervisor proyek gedung tinggi di perusahaan konstruksi besar. Pekerjaannya membuat dia sering keliling lapangan sehingga badannya selalu bau keringat dan debu tapi dia selalu mandi bersih sebelum bertemu Celine. Dimas juga punya bisnis sampingan membuat furniture custom dan instalasi tali rigging sehingga dia jago mengikat tali dengan rapi dan kuat. Dia bertemu Celine pertama kali di kafe kecil di Kemang dan sejak itu hubungan mereka berkembang dari manis biasa menjadi semakin gelap dan intens di ranjang.
Beberapa minggu berlalu seperti air mengalir di selokan Jakarta yang lambat. Mereka bertukar pesan singkat. Pertama soal rekomendasi kafe lalu soal warna cat dinding yang cocok untuk ruang tamu minimalis kemudian soal lagu-lagu yang Dimas putar di mobil pick-up-nya saat pulang dari site.
Celine mulai terbiasa dengan nada rendah suara Dimas di telepon malam hari. Suara itu seperti getaran bass yang terasa sampai ke tulang rusuknya. Dia suka ketika Dimas mengantarnya pulang. Tangan besar Dimas memegang setir dengan santai tapi sesekali jari telunjuknya mengetuk-ngetuk kemudi seolah menahan sesuatu. Di dalam mobil yang gelap Celine sering mencuri pandang ke profil wajahnya. Garis rahang tegas dan urat leher yang menonjol saat menelan ludah membuatnya diam-diam menelan ludah sendiri.
Suatu malam saat lampu merah panjang di Jalan Sudirman Dimas memandangnya lama tanpa bicara. Jarinya bergerak pelan lalu menyentuh pergelangan tangan Celine yang terletak di atas pahanya. Sentuhan itu ringan hampir tak terasa tapi cukup membuat denyut nadi Celine melonjak cepat. Dia tidak menarik tangan. Malah diam-diam membiarkan jari Dimas berlama-lama di sana sambil mengusap pelan urat biru tipis di bawah kulit putihnya. Tidak ada kata-kata. Hanya lampu merah yang berganti hijau dan mobil mulai bergerak lagi sehingga meninggalkan detik-detik hening yang terasa lebih berat daripada apa pun yang pernah mereka ucapkan.
Malam hujan deras itu datang tanpa peringatan. Celine berdiri di depan pintu rumah sewaan Dimas dengan payung yang sudah basah kuyup. Alasannya “hujan deras takut nyetir” terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri. Dimas membukakan pintu tanpa banyak bicara. Dia hanya mengangguk lalu mengambil payung dari tangan Celine.
Di dalam ruangan terasa hangat karena lampu kuning redup dan bau kayu segar dari prototipe meja yang belum selesai. Celine duduk di sofa dengan kakinya dilipat. Rok basahnya menempel di paha mulus. Dimas menghilang ke kamar sebentar lalu kembali dengan gulungan tali jute cokelat tua yang biasa dia pakai untuk mengikat kayu. Tali itu digulung rapi di tangan besarnya dan ujung-ujungnya sedikit berbulu. Dia tidak langsung mendekat. Malah berdiri di ambang pintu kamar sambil memandang Celine dengan mata yang gelap dan tenang.
“Kamu tahu ini apa ? tanya Dimas pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan di luar. Celine mengangguk kecil. Bibirnya sedikit terbuka tapi tidak ada suara keluar.
Dimas melangkah mendekat satu langkah lalu berhenti lagi. Jarak di antara mereka terasa seperti tarikan tali yang belum dikencangkan. Semakin dekat semakin terasa getarannya. Dia mengulurkan tangan tapi tidak menyentuh dulu. Hanya membiarkan tali itu menggantung di udara tepat di depan pergelangan Celine yang pucat. Napas Dimas terdengar lebih berat sekarang.
Celine menatap tali itu lama sekali lalu mengangkat mata ke wajah Dimas. Di matanya ada campuran rasa takut rasa ingin dan sesuatu yang lebih dalam lagi. Seperti pintu yang selama ini terkunci kini mulai terbuka pelan satu senti demi satu senti sampai akhirnya tak bisa ditutup lagi.
Dimas tidak langsung mengikat. Dia hanya berdiri di situ dengan tali jute masih tergantung longgar di antara jari-jarinya yang kasar sementara hujan di luar semakin deras sehingga membentur jendela kaca seperti ribuan jarum kecil. Celine merasakan detak jantungnya sendiri di telinga dan suara itu lebih keras daripada deru air yang mengguyur. Kulitnya yang biasanya dingin karena AC apartemen tiba-tiba terasa panas di bagian dalam lengan seperti ada aliran listrik pelan yang naik dari pergelangan tangan ke bahu. Dia tidak berani menggerakkan tangan meski belum ada yang menyentuhnya. Matanya terpaku pada tali itu. Serat-serat kasar berwarna cokelat tua sedikit berdebu karena sering dipakai tapi tetap rapi digulung. Bau tali samar-samar tercium yaitu campuran kayu sedikit minyak rami dan sesuatu yang lebih dalam seperti aroma tangan Dimas sendiri setelah seharian bekerja di lapangan.
Dimas akhirnya melangkah lebih dekat tapi masih lambat seperti predator yang tidak ingin mangsanya lari sebelum waktunya. Dia berlutut di depan sofa sehingga lututnya menyentuh karpet tebal dan membuat posisinya sedikit lebih rendah dari Celine yang duduk. Wajahnya sekarang sejajar dengan dada gadis itu tapi matanya tidak turun ke sana. Dia menatap lurus ke mata Celine sambil mencari sesuatu mungkin keraguan mungkin penolakan atau mungkin justru permohonan yang belum diucapkan.
“Angkat tanganmu” kata Dimas pelan. Suaranya rendah dan tenang tapi ada getar halus di ujung kata yang membuat bulu kuduk Celine berdiri.
Celine menurut tanpa berpikir dua kali. Kedua tangannya naik perlahan dengan telapak menghadap ke atas sehingga pergelangan yang ramping dan pucat terpampang seperti kanvas kosong. Dimas mengambil pergelangan kiri lebih dulu. Jari-jarinya yang besar dan hangat melingkari kulit itu tapi bukan langsung mengikat melainkan hanya memegang sambil mengukur dan merasakan denyut nadi yang cepat di bawah kulit tipis. Celine menahan napas. Sentuhan itu terasa seperti cap pertama seperti tanda bahwa setelah ini tidak ada jalan mundur yang mudah.
Baru setelah beberapa detik yang terasa seperti menit Dimas mulai melingkarkan tali. Gerakannya lambat hampir seperti ritual. Ujung tali diselipkan di bawah pergelangan lalu ditarik pelan hingga membentuk lingkaran pertama. Tidak terlalu kencang sehingga masih ada ruang untuk satu jari masuk di antara tali dan kulit tapi cukup tegas hingga Celine merasakan tekanan yang konstan seperti pelukan yang tidak mau lepas. Dia melingkarkan lagi dan lagi sehingga membentuk simpul dasar yang rapi dengan teknik yang dia pelajari dari video-video lama di laptopnya. Setiap tarikan tali membuat serat kasar menggesek kulit Celine dan meninggalkan rasa gatal ringan yang anehnya menyenangkan. Napas Celine mulai tersendat.
Dimas melihat tali itu semakin menutup pergelangan tangan Celine dan kontras warna cokelat tua tali dengan kulit putih susu pergelangan itu terlihat sangat mencolok. Dia tidak bicara sama sekali selama mengikat dan hanya sesekali mengangkat mata untuk memastikan Celine masih menatapnya dengan tenang. Saat simpul pertama sudah selesai Dimas menarik ujung tali sekali lagi secara pelan tapi tegas sampai Celine merasakan tarikan kecil yang merambat di sepanjang lengannya. Baru saat itu Dimas berbicara lagi dengan suara hampir berbisik.
"Satu tangan dulu. Kalau kamu mau berhenti bilang sekarang.
Celine menggeleng pelan dan bibirnya sedikit gemetar tapi matanya justru berkilat penuh gairah. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Celine hanya mengulurkan tangan kanannya dengan tenang dan menawarkan pergelangan yang masih bebas seolah menyerahkan bagian terakhir dari dirinya. Di luar hujan masih mengguyur deras tapi di dalam kamar itu waktu seperti berhenti berputar. Hanya ada suara napas mereka berdua yang saling bercampur gesekan tali halus dan detak jantung yang semakin cepat serta sinkron dalam keheningan yang penuh ketegangan birahi.
Dimas mengambil tangan kanan Celine dengan gerakan yang sama hati-hatinya seperti sebelumnya. Jari-jarinya yang kasar karena kapalan kerja lapangan menyentuh kulit dalam pergelangan itu dan terasa hangat serta sedikit kasar sekali kontras dengan kelembutan kulit putih susu di bawahnya. Celine merasakan getar kecil di ujung jarinya sendiri saat Dimas mulai melingkarkan tali lagi yaitu lingkaran pertama lalu kedua dan ketiga. Setiap tarikan membuat serat jute menggesek pelan seperti ribuan jarum halus yang menusuk tanpa benar-benar melukai. Rasa gatal itu naik perlahan ke lengan dan bercampur dengan panas yang menyebar ke dada serta ke seluruh tubuhnya. Napas Celine semakin pendek dada naik turun lebih cepat tapi dia tidak berani mengeluarkan suara apa pun. Hanya bibir bawahnya yang digigit pelan sampai meninggalkan bekas putih tipis di sana.
Dimas menarik ujung tali sekali lagi secara pelan tapi pasti sampai simpul terasa lebih rapat dan Celine merasakan tekanan lembut yang membuat pergelangan tangannya terikat erat. Panas di dadanya semakin kuat dan payudaranya terasa berat serta puting susunya mengeras di balik kain tipis bajunya. Dia menggeliat kecil tanpa sadar dan paha mulusnya saling bergesek pelan karena birahi yang mulai menguasai tubuhnya.
Sekarang kedua pergelangan tangan Celine sudah terikat berdekatan dan tali yang sama menghubungkan keduanya dalam simpul ganda yang rapi serta kuat. Dimas menarik ujung tali sekali lagi tidak keras tapi cukup tegas sampai tangan Celine terangkat sedikit dari pahanya yang mulus. Dia tidak langsung mengikat ke belakang atau ke atas karena belum waktunya. Malah Dimas membiarkan tangan itu menggantung di udara tepat di antara mereka berdua seolah menunjukkan bukti bahwa Celine kini tidak lagi sepenuhnya mengendalikan tubuhnya sendiri.
Dimas mundur setengah langkah lalu berdiri tegak lagi sambil memandang hasil kerjanya dari atas. Matanya menyusuri garis tali yang melingkar erat di pergelangan putih susu itu kemudian naik perlahan ke wajah Celine. Pipi gadis itu sudah memerah hebat mata hitamnya berkaca-kaca tapi air matanya tidak menetes sama sekali. Bibirnya sedikit terbuka dan napas keluar pelan seperti hembusan angin kecil yang penuh gairah.
Celine merasakan panas semakin membara di seluruh tubuhnya terutama di dada dan di antara paha mulusnya. Payudaranya terasa berat puting susunya mengeras keras menusuk kain tipis bajunya sampai terlihat jelas. Liang kewanitaannya mulai basah lendir kawin mengalir pelan membasahi celana dalamnya. Dia menggeliat kecil tanpa sadar karena birahi yang semakin kuat dan paha mulusnya saling bergesek pelan mencari gesekan yang bisa meredakan panas di kemaluannya. Napasnya semakin cepat dada naik turun cepat dan dia menatap Dimas dengan mata penuh hasrat meski tangannya sudah tidak bisa bergerak bebas lagi.
"Kamu baik-baik saja?” tanya Dimas dan suaranya tetap rendah tapi sekarang ada nada baru di dalamnya bukan lagi sekadar hati-hati melainkan seperti sedang mengukur kedalaman sebelum benar-benar melompat masuk.
Celine mengangguk pelan tapi gerakan kecil itu membuat tali bergesek lagi di pergelangan tangannya dan sensasi baru langsung merambat ke seluruh lengan sampai ke bahu. Dia menelan ludah keras suaranya keluar serak dan hampir tak terdengar.
"Iya… Mas.
Kata “Mas” itu keluar begitu saja lebih lembut dari biasanya seperti pengakuan diam-diam bahwa malam ini sudah bukan malam biasa lagi. Dimas tersenyum tipis bukan senyum manis melainkan senyum yang membuat perut Celine bergejolak hebat dan panas di antara pahanya semakin membara. Dia melangkah mendekat lagi kali ini lebih dekat sampai lututnya hampir menyentuh lutut Celine yang masih duduk di sofa dengan tangan terikat di depan.
Celine merasakan aroma tubuh Dimas yang maskulin dan hangat semakin kuat mendekat dan itu membuat napasnya tersengal lebih cepat. Payudaranya naik turun cepat puting susunya mengeras keras menusuk kain baju tipisnya sampai terlihat jelas bentuknya. Liang kewanitaannya sudah basah sekali. Lendir kawin mengalir deras membasahi celana dalam tipisnya dan dia menggeliat kecil tanpa sadar karena birahi yang tak tertahankan. Paha mulusnya saling bergesek pelan mencari gesekan tambahan tapi tangan yang terikat membuatnya hanya bisa mengandalkan tatapan penuh hasrat ke arah Dimas. Matanya berkaca-kaca bukan karena sakit melainkan karena gairah yang sudah memuncak dan dia menunggu langkah berikutnya dengan tubuh yang gemetar penuh antisipasi.
Tanpa bicara lagi Dimas mengulurkan tangan ke belakang kepala Celine. Jari-jarinya menyusup ke rambut hitam panjang itu dan merasakan kelembutan helai-helai rambut yang biasanya dia sisir dengan sabun mahal. Dia menggenggam segenggam rambut di tengkuk tidak menarik keras tapi cukup kuat untuk membuat kepala Celine sedikit mendongak. Wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa senti saja. Napas Dimas terasa hangat di pipi Celine membawa bau kopi hitam dan sedikit asap rokok yang masih menempel di bajunya.
“Kalau sakit bilang” katanya pelan hampir seperti ancaman yang dibungkus kelembutan. “Tapi kalau kamu diam aku anggap kamu minta lebih.”
Celine tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya saja yang menatap Dimas dengan pupil melebar napas tersengal pelan dan bibir sedikit terbuka seperti menunggu perintah selanjutnya. Di luar jendela hujan masih mengguyur tanpa henti tapi di dalam ruangan itu suara yang paling keras adalah detak jantung mereka berdua serta gesekan tali yang pelan setiap kali Celine bergerak sedikit mengingatkan bahwa ikatan itu nyata dan malam ini baru saja dimulai.
Dimas menatap mata Celine lama sekali mencari tanda-tanda terakhir keraguan tapi tidak ada apa pun. Hanya pupil yang melebar napas yang tersengal pelan dan bibir yang sedikit terbuka penuh hasrat. Dia mengangguk kecil pada dirinya sendiri lalu bergerak.
Dengan tangan yang masih memegang ujung tali Dimas menarik kedua pergelangan Celine ke atas kepalanya secara perlahan. Gerakan itu membuat dada gadis itu terangkat tinggi gaun basahnya menempel lebih ketat di kulit putih susunya dan memperlihatkan garis puting susu yang sudah mengeras keras karena dingin serta antisipasi birahi. Tali diikat ke rangka kepala ranjang di belakang sofa tidak terlalu tinggi cukup agar lengan Celine terentang lurus ke atas bahu sedikit terangkat dan punggung melengkung ringan. Posisi itu membuat tubuhnya terasa terbuka serta rentan tapi masih nyaman untuk bernapas meski payudaranya terdorong maju dan puting susunya menonjol jelas di balik kain tipis yang basah.
Celine merasakan panas membara di seluruh tubuhnya terutama di antara paha mulusnya. Liang kewanitaannya sudah basah sekali lendir kawin mengalir deras membasahi celana dalamnya sampai terasa lengket dan hangat. Dia menggeliat kecil tanpa sadar karena gairah yang tak tertahankan dan paha mulusnya saling bergesek pelan mencari gesekan tambahan. Napasnya semakin cepat dada naik turun deras dan dia menatap Dimas dengan mata penuh hasrat serta tubuh yang gemetar menanti langkah berikutnya.
Dimas mundur selangkah lalu memandang tubuh Celine dari ujung kaki sampai kepala dengan tatapan penuh hasrat.
“Kamu cantik sekali begini” katanya pelan dan suaranya serak sekali bukan pujian manis biasa melainkan pengakuan atas apa yang sudah dia ciptakan sendiri.
Celine merasakan wajahnya panas membara dan dia mencoba menutup paha secara refleks tapi Dimas sudah mendekat lagi. Tangan besarnya menyusup ke bawah rok gaun kemudian mendorong kain itu naik perlahan sampai pinggul putih mulusnya terbuka lebar. Jari telunjuk Dimas menyentuh pinggir celana dalam tipis yang sudah basah sekali hanya menyapu ringan tapi cukup untuk membuat Celine menggelinjang hebat dan tali di pergelangan tangannya bergesek lagi mengingatkan bahwa dia tidak bisa lari atau menutup diri.
Dimas menarik celana dalam itu turun pelan meninggalkannya melingkar di pergelangan kaki Celine. Lalu dia membuka kancing celananya sendiri tanpa terburu-buru. Suara resleting terdengar jelas di ruangan yang hanya ditemani deru hujan deras di luar. Saat dia akhirnya menurunkan celana dan boxer Celine menatapnya dengan mata setengah terpejam. Batang kejantanannya sudah keras tegang urat-urat menonjol di sepanjang panjangnya dan ujungnya basah mengkilap karena lendir pra-ejakulasi.
Dimas memegang paha dalam Celine kemudian membukanya lebar-lebar sampai kemaluannya terbuka sepenuhnya. Dia menggeser tubuhnya mendekat sampai lututnya menyentuh sofa dan posisinya tepat di antara paha mulus yang terbuka itu.
Dia tidak langsung masuk. Ujung batangnya hanya menyentuh bibir luar liang kewanitaan Celine menggesek pelan naik turun membiarkan lendir kawin yang melimpah dari tubuh gadis itu melumasi semuanya. Setiap gesekan membuat Celine mengerang kecil pinggulnya bergerak sendiri mencari lebih banyak kontak tapi tali yang mengikat tangan ke atas kepala menahan gerakan itu sehingga dia hanya bisa menggeliat-geliat penuh birahi. Dimas tersenyum tipis melihat reaksi itu.
“Minta dulu” bisiknya dan suaranya rendah hampir seperti perintah tegas.
Celine menelan ludah keras suaranya pecah karena gairah yang sudah memuncak.
“Mas… tolong… masukin…”
Dia melenguh pelan setelah kata-kata itu keluar dan matanya berkaca-kaca penuh hasrat. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut mendambakan pengisian, payudaranya naik turun cepat, puting susunya mengeras keras menusuk kain gaun basah dan lendir kawin terus mengalir deras membasahi paha mulusnya sampai terasa lengket hangat. Tubuhnya gemetar menanti saat Dimas menggesekkan ujung batangnya sekali lagi lebih lambat lebih menggoda membuat Celine mendesis pelan dan pinggulnya terangkat kecil tanpa bisa ditahan lagi.
Dimas berhenti di situ membiarkan Celine merasakan penuhnya batang kejantanannya di dalam liang kewanitaannya denyut keras yang terasa sampai ke perut bawah dan membuatnya melenguh pelan tanpa bisa ditahan. Lalu Dimas mulai bergerak lambat dulu tarikan keluar masuk yang dalam dan terkontrol setiap dorongan membuat tali di pergelangan tangan bergoyang serta menarik lengan Celine lebih ke atas sehingga dadanya terdorong maju lebih tinggi lagi.
Semakin lama gerakannya semakin cepat. Tangan Dimas memegang pinggul Celine jari-jarinya mencengkeram cukup kuat hingga meninggalkan bekas merah tipis di kulit putih mulus itu. Suara kulit bertemu kulit bercampur dengan erangan Celine yang semakin tidak tertahan tinggi pecah dan penuh permohonan birahi.
“Mas… lebih keras…” katanya tanpa sadar dan suaranya serak penuh hasrat.
Dimas mendengus pelan lalu menurut. Dorongannya jadi lebih dalam lebih kasar membuat sofa bergoyang kecil setiap kali batangnya menghujam penuh sampai ke dasar. Setiap masuk penuh Celine merasakan tekanan kuat di titik paling dalam liang kewanitaannya membuat matanya berkaca-kaca dan air mata pertama jatuh ke pipi bukan karena sakit melainkan karena sensasi yang terlalu banyak terlalu penuh terlalu sempurna membanjiri seluruh tubuhnya.
Celine menggeliat-geliat hebat tali mengikat tangannya menahan gerakan tapi pinggulnya justru terangkat sendiri menyambut setiap hentakan brutal. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut mencengkeram batang Dimas erat lendir kawin mengalir deras membasahi buah zakarnya dan paha mulusnya sampai terdengar suara licin setiap kali Dimas memompa lebih cepat. Payudaranya bergoyang-goyang puting susunya mengeras keras dan dia mengerang semakin keras mendesis melenguh tanpa henti karena gairah yang sudah tak bisa dikendalikan lagi.
Dimas menahan napas sejenak lalu mendorong pelan. Kepala batangnya masuk dulu meregangkan dinding liang kewanitaan Celine yang sudah licin penuh lendir kawin tapi masih terasa ketat membungkus erat. Celine menjerit kecil bukan karena sakit melainkan campuran kaget dan kenikmatan yang tiba-tiba membanjiri seluruh tubuhnya. Dia menarik napas dalam-dalam dada naik turun cepat sekali puting susunya bergesek kain gaun basah setiap kali bernapas sehingga sensasi itu semakin menambah birahi.
Dimas menunduk lalu mulutnya langsung menangkap puting susu Celine melalui kain gaun basah itu menggigit ringan sambil terus menggenjot batangnya dalam-dalam tanpa henti. Celine menjerit lagi tubuhnya menegang keras otot dalam liang kewanitaannya mengerut kuat mencengkeram penis Dimas erat sekali seperti tidak mau melepaskan.
“Aku… mau keluar… Mas boleh…?” tanyanya dengan suara pecah penuh permohonan dan napas tersengal-sengal.
Dimas mengangkat kepala matanya gelap penuh birahi lalu menatap wajah Celine yang sudah memerah hebat.
“Belum. Tahan dulu” jawabnya tegas tapi suaranya serak karena menahan gairah sendiri.
Dia mempercepat lagi dorongannya lebih brutal tangan kanannya naik ke leher Celine bukan mencekik melainkan hanya memegang sisi leher dengan jempol dan telunjuk menekan pelan di titik denyut nadi membuat aliran darah terasa lebih lambat dan dunia di sekitar Celine sedikit berputar ringan. Sensasi itu malah memperkuat segalanya membuat tubuhnya menggelinjang hebat tali menggigit pergelangan tangannya tapi rasa sakit kecil itu justru menambah kenikmatan yang membakar. Akhirnya Dimas membungkuk ke telinga Celine suaranya parau dan mendesis penuh hasrat.
“Sekarang. Keluar bareng aku.
Celine menjerit panjang tubuhnya mengejang keras sekali dinding dalam liang kewanitaannya berdenyut kuat mencengkeram batang Dimas erat-erat seperti memerasnya habis-habisan. Dia merasakan penis Dimas membesar di dalam lalu dorongan terakhir yang dalam sekali batangnya menghujam sampai ke dasar dan panas air mani menyembur deras mengisi liang kewanitaannya sampai penuh serta meluber keluar membasahi paha mulusnya. Mereka berdua diam sejenak hanya napas tersengal-sengal dan getaran kecil tubuh yang masih tersisa karena orgasme yang begitu kuat.
Celine menggeliat pelan tubuhnya lemas tapi puas payudaranya naik turun lambat puting susunya masih mengeras menusuk kain gaun yang basah keringat dan lendir kawin. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut pelan merasakan sisa peju Dimas yang hangat di dalam dan dia mendesah panjang penuh kepuasan sambil menatap Dimas dengan mata setengah terpejam penuh rasa syukur serta hasrat yang belum sepenuhnya padam.
Dimas tidak langsung menarik diri dari dalam tubuh Celine. Dia tetap berada di sana memeluk tubuh gadis itu yang masih terikat erat mencium keningnya pelan sekali.
“Kamu hebat sekali amoy.. bisiknya lembut dan kali ini suaranya penuh kehangatan serta kasih sayang yang dalam.
Celine tersenyum lemah air mata masih mengalir pelan di pipinya tapi matanya penuh kepuasan serta rasa aman yang begitu nyata. Hujan di luar mulai reda meninggalkan keheningan yang nyaman dan damai. Malam itu baru saja membuka pintu yang lebih dalam dan mereka berdua tahu bahwa mereka akan melangkah lebih jauh lagi bersama-sama.
Dimas tetap berada di dalam liang kewanitaan Celine untuk beberapa saat yang terasa panjang napas mereka berdua saling bercampur dalam keheningan yang hanya dipatahkan oleh tetesan hujan terakhir di luar jendela. Tubuhnya masih menekan tubuh gadis itu ke sofa beratnya terasa menenangkan daripada menindih. Celine merasakan denyut pelan penis Dimas di dalam dirinya sisa-sisa panas air mani yang perlahan mereda tapi masih membuat dinding dalamnya bergetar ringan setiap kali dia menarik napas dalam. Tali di pergelangan tangannya sudah mulai terasa menggigit lebih dalam setelah ketegangan tadi tapi rasa itu sekarang seperti pengingat manis bukti bahwa dia benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya.
Pelan-pelan Dimas menarik diri keluar. Sensasi kosong yang tiba-tiba membuat Celine mengerang kecil pinggulnya bergerak refleks mencari kehangatan yang hilang. Cairan mereka berdua mengalir pelan ke paha dalamnya hangat dan lengket meninggalkan jejak mengkilap di kulit putih mulus yang sudah memerah di beberapa tempat karena cengkeraman jari Dimas. Dia tidak langsung melepaskan ikatan. Malah tangannya naik lagi ke leher Celine jempolnya mengusap pelan garis rahang lalu turun ke dada yang masih naik turun cepat.
“Lihat aku” katanya lembut tapi tetap ada nada perintah di dalamnya.
Celine membuka mata yang masih berkaca-kaca. Wajah Dimas dekat sekali keringat tipis di dahi rambut agak acak-acakan mata yang tadi gelap sekarang lebih hangat hampir penuh kekaguman. Dia mencium bibir Celine pelan bukan lagi ciuman ganas seperti tadi melainkan ciuman yang dalam dan lambat seperti sedang mengecap sisa rasa dari mulutnya. Lidahnya menyusup masuk menari pelan sementara tangan kirinya mulai membuka simpul di pergelangan tangan kanan Celine. Tali dilepas perlahan serat jute meninggalkan garis merah tipis melingkar di kulit bekas yang akan memudar besok pagi tapi malam ini terasa seperti tanda kepemilikan yang manis.
Saat kedua tangan akhirnya bebas Celine langsung memeluk leher Dimas menariknya lebih dekat. Jari-jarinya yang gemetar menyusup ke rambut pria itu menariknya ke dalam pelukan hangat. Dimas membalas mengangkat tubuh Celine dengan mudah seperti gadis itu tidak berbobot lalu membawanya ke kamar tidur. Dia merebahkan Celine di atas kasur yang masih rapi selimut tebal berwarna abu-abu gelap. Lampu samping ranjang menyala redup cahaya kuning hangat menyinari bekas-bekas merah di paha mulus dan bokong Celine kontras indah dengan kulit putih pucatnya.
Dimas berbaring di sampingnya menarik selimut menutupi mereka berdua. Tangannya mengelus punggung Celine dengan gerakan melingkar lambat dari tengkuk sampai ke pinggul lalu naik lagi.
“Sakit di mana?” tanyanya pelan dan suaranya kembali seperti Dimas yang biasa yang suka mengantar pulang yang suka mendengarkan cerita desain Celine sampai larut.
Celine menggeleng pelan wajahnya bersembunyi di lekuk leher Dimas.
“Enggak sakit… cuma… capek. Tapi enak capeknya. Jawabnya kecil hampir seperti bisik. Dia merasakan detak jantung Dimas yang mulai tenang di bawah telinganya.
"Mas… besok aku boleh minta lagi?
Dimas tertawa pelan getarannya terasa di dada Celine.
“Besok? Malam ini aja kamu sudah gemetar begini” katanya tapi tangannya tidak berhenti mengelus. “Tapi ya… boleh. Selama kamu bilang ‘kuning’ atau ‘merah’ kalau perlu. Janji?”
“Janji.. Jawab Celine dan matanya mulai terpejam karena kelelahan yang menyenangkan. Dia mencium leher Dimas sekali lagi pelan.
“Terima kasih Mas.
Dimas mencium keningnya lama sekali.
“Terima kasih amoy.. Kamu percaya aku sepenuhnya malam ini. Katanya lembut.
Mereka diam dalam pelukan itu hujan sudah benar-benar berhenti meninggalkan Jakarta yang basah dan tenang. Di luar sana kota masih bergerak tapi di kamar kecil itu waktu terasa berhenti lagi hanya ada napas yang pelan kehangatan tubuh yang saling menempel dan janji diam bahwa besok atau lusa atau kapan pun mereka akan membuka pintu yang sama lagi lebih dalam lebih gelap tapi selalu bersama.

Komentar
Posting Komentar