Langsung ke konten utama

Ai Ling Budak Napsu Pribumi


⚠️ DISCLAIMER / ATTENTION ⚠️

Cerita ini murni fiksi dan hanya untuk tujuan hiburan semata. Semua tokoh, peristiwa, nama tempat, atau dialog di dalamnya adalah hasil rekaan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menghina, menghasut kebencian, atau menjelekkan kelompok etnis, ras, agama, atau golongan tertentu.

Segala kesamaan nama atau kejadian dengan peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten ini dan tidak membawa materi cerita ini ke ranah nyata.


Saat ini Ailing berusia 26 tahun dan baru saja diangkat menjadi kepala cabang di salah satu perusahaan luar negeri yang baru membuka kantor di Indonesia. Dia adalah keturunan chinese Indonesia dari Medan sehingga sejak kecil sudah terbiasa dengan kehidupan yang nyaman karena keluarganya cukup berada. Setelah menyelesaikan studi S2 di luar negeri selama hampir tiga tahun dia memutuskan pulang ke Indonesia lalu langsung bergabung dengan perusahaan itu. Dengan usia yang masih sangat muda dia langsung mendapatkan posisi tertinggi di kantor cabang baru tersebut sehingga semua karyawan harus melapor langsung kepadanya.


Keluarga Ailing memiliki usaha menengah di bidang perdagangan dan properti sehingga dia tumbuh dengan kehidupan yang layak dan tidak pernah kekurangan. Mobil bagus rumah nyaman liburan sesekali ke luar negeri dan barang branded sesekali menjadi hal yang biasa baginya sejak remaja. Pengalaman hidup seperti itu membuatnya memiliki pola pikir yang sangat superior. Dia yakin dirinya selalu lebih unggul daripada orang lain karena latar belakang keluarga pendidikan luar negeri dan kesempatan yang pernah didapatkannya. Bagi Ailing orang yang tidak punya pengalaman serupa dengannya hanyalah bawahan yang harus mengikuti standarnya.

Sejak hari pertama menjabat Ailing langsung menunjukkan sikapnya yang angkuh. Dia jarang tersenyum saat berbicara dengan karyawan dan sering memotong pembicaraan orang lain jika merasa tidak penting. Saat rapat dia suka mengkritik pekerjaan bawahan dengan nada merendahkan meskipun hasilnya sebenarnya sudah cukup baik. Dia sering berkata bahwa standarnya jauh lebih tinggi karena pengalaman studinya di luar negeri sehingga banyak hal yang dianggapnya terlalu sederhana atau tidak profesional oleh karyawan lokal. Bahkan dia tidak segan menyebut beberapa laporan sebagai sampah dan memerintahkan dibuat ulang tanpa memberikan arahan yang jelas.

Pandangan Ailing terhadap kaum pribumi jauh lebih buruk. Baginya orang pribumi identik dengan kurang pendidikan kurang disiplin dan kurang mampu bersaing di level internasional. Dia sering menghindari kontak mata saat berbicara dengan karyawan pribumi dan lebih suka berkomunikasi melalui email atau asisten pribadinya yang juga keturunan chinese. Jika ada karyawan pribumi yang mencoba memberikan masukan dia biasanya langsung memotong dengan kalimat sinis seperti "Kamu tahu standar internasional seperti apa" atau "Ini bukan cara kerja di luar negeri". Sikap itu membuat ruang rapat sering terasa tegang dan banyak karyawan yang mulai merasa rendah diri di hadapannya.

Ailing juga sangat perfeksionis terhadap penampilan dirinya sendiri. Setiap hari dia datang ke kantor dengan pakaian branded rambut selalu rapi dan makeup sempurna sehingga kontras sekali dengan karyawan lain yang mengenakan seragam kantor biasa. Dia sering membandingkan dirinya secara tidak langsung dengan mereka dan membuat komentar yang menyindir seperti "Kalau mau naik jabatan minimal penampilan harus diperbaiki dulu". Hal itu semakin memperburuk suasana karena karyawan merasa tidak hanya kemampuan mereka yang diremehkan tapi juga identitas dan latar belakang mereka.

Akibat sikap Ailing yang semakin hari semakin terlihat sombong suasana di kantor cabang mulai memburuk. Banyak karyawan yang merasa tertekan dan tidak dihargai sehingga semangat kerja menurun drastis. Beberapa orang senior yang sudah punya pengalaman puluhan tahun mulai diam-diam mengajukan keluhan ke manajemen pusat di luar negeri. Mereka melaporkan bahwa kepemimpinan Ailing tidak hanya tidak efektif tapi juga menciptakan lingkungan kerja yang toksik karena diskriminasi halus yang terus dilakukan. Keluhan itu mulai mengalir masuk sehingga manajemen pusat mulai memperhatikan situasi di cabang Indonesia dengan lebih serius.

Ailing tidak pernah menganggap keluhan para karyawan itu serius. Baginya semua itu hanya iri hati belaka karena dia sudah berada di posisi tertinggi sebagai direktur utama perusahaan. Dia merasa mereka tidak akan pernah paham betapa beratnya tanggung jawab memimpin perusahaan sebesar ini sambil menjaga agar tetap untung setiap tahun.

Lambat laun Ailing mulai terlena dengan kekuasaan dan kemewahan yang menyertainya. Dia semakin sering memakai fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi. Mobil dinas dipakai untuk liburan akhir pekan ke villa pribadi di pegunungan. Kartu kredit perusahaan dibelanjakan untuk belanja tas branded dan perhiasan mahal. Bahkan spa mewah dan liburan ke luar negeri pun dibebankan ke biaya operasional perusahaan. Ailing merasa itu wajar karena dia yang membuat perusahaan ini sukses besar.

Semuanya berubah drastis menjelang pembagian THR hari raya tahun itu. Saat tim keuangan melakukan rekonsiliasi akhir, ternyata ada selisih cukup besar antara saldo kas perusahaan dengan jumlah THR yang seharusnya dibagikan kepada seluruh karyawan. Ailing tahu persis penyebabnya. Uang itu sudah dia pakai untuk membeli apartemen baru di kawasan elite pesisir selatan kota dan untuk membayar cicilan mobil sport impor yang baru saja dia beli atas nama pribadi.

Ailing tidak mau kehilangan muka. Apalagi dia menganggap para karyawan itu hanya orang-orang biasa dari kalangan bawah yang tidak pantas menuntut apa-apa darinya. Dia juga takut kalau ketahuan memakai uang perusahaan untuk keperluan pribadi maka reputasinya akan hancur dan bisa berujung pada masalah hukum. Akhirnya dengan dingin dia memutuskan untuk menunda pembayaran THR selama satu bulan penuh. Alasannya dia sampaikan lewat email resmi bahwa ada kendala teknis dalam proses audit internal sehingga pembagian THR baru bisa dilakukan bulan depan.

Keputusan itu langsung memicu kemarahan besar di kalangan karyawan. Mereka sudah menahan diri selama berbulan-bulan menghadapi sikap arogan Ailing yang sering memarahi mereka di depan umum. Sekarang ditambah lagi THR ditunda padahal hari besar tinggal beberapa hari lagi. Banyak karyawan yang sudah merencanakan mudik ke kampung halaman bersama keluarga tapi sekarang batal total karena tidak punya dana cukup. Suasana di kantor menjadi tegang. Bisik-bisik dan tatapan sinis mengiringi setiap langkah Ailing. Beberapa karyawan senior mulai berani menyuarakan protes secara terbuka di grup internal meski dengan bahasa yang masih sopan. Ailing tetap cuek. Dia merasa posisinya terlalu kuat untuk digoyahkan oleh keluhan semacam itu.

Sayangnya tanpa sepengetahuan Ailing ada seorang karyawan di bagian keuangan yang akhirnya menemukan kejanggalan besar dalam laporan keuangan perusahaan.

Agus karyawan senior di divisi finance mulai curiga sejak beberapa minggu lalu karena banyak transaksi reimburse yang terlihat aneh. Dia sering melihat nama Ailing muncul di daftar pengeluaran pribadi tapi dibebankan ke biaya perusahaan. Namun Agus baru benar-benar yakin setelah dipaksa lembur keras menjelang libur Lebaran.

Esok lusa kantor sudah tutup untuk libur panjang sehingga laporan keuangan akhir tahun harus selesai hari ini juga. Ailing bahkan sudah menelepon Agus pagi itu dengan nada tegas.

"Selesaikan laporan keuangan hari ini juga Agus kalau tidak THR semua karyawan termasuk kamu tidak akan cair bulan ini" kata Ailing melalui telepon tanpa basa-basi.

Agus terpaksa mengangguk meski dalam hati kesal. Dia sudah lembur dua malam berturut-turut bahkan sempat menginap di kantor karena harus memeriksa ratusan lembar bukti transaksi. Saat memeriksa folder reimburse pribadi direktur Agus mulai menemukan pola yang mencurigakan.

Ada tagihan perawatan spa dan facial mahal di salon premium yang dibayar penuh oleh perusahaan. Ada pula bukti pembayaran bottle service di club malam elit setiap akhir pekan. Tagihan makan malam romantis di restoran bintang lima cafe kekinian hingga penyewaan villa mewah di pinggir pantai selama liburan akhir tahun juga tercatat sebagai biaya representasi perusahaan. Bahkan ada pembayaran hotel suite bintang lima di Bali yang dipesan atas nama Ailing dan teman-temannya tapi dibayar dari rekening operasional perusahaan.

Agus duduk termenung di depan layar komputer sambil memegang print-out bukti-bukti itu. Dadanya sesak karena marah. Dia tahu perusahaan sedang untung besar tapi uang itu seharusnya untuk karyawan bukan untuk gaya hidup mewah atasan. Apalagi sekarang THR ditunda padahal banyak karyawan sudah merencanakan mudik dan kebutuhan keluarga di kampung.

Tanpa pikir panjang Agus memotret semua bukti itu menggunakan ponselnya. Malam itu setelah kantor sepi dia mengirimkan foto-foto tersebut ke grup WhatsApp karyawan yang sudah lama diam-diam membahas kelakuan Ailing. Pesannya singkat tapi jelas.

"Ini bukti Ailing pakai uang perusahaan untuk keperluan pribadinya. Spa club villa hotel semuanya dibayar kantor. Makanya THR kita ditunda karena duitnya sudah habis dipakai dia."

Pesan itu langsung meledak. Satu per satu karyawan membalas dengan emoji marah dan komentar pedas. Banyak yang mengirim voice note penuh emosi. Ada yang bilang sudah muak dengan sikap arogan Ailing. Ada pula yang langsung mengusulkan untuk mengancam balik agar Ailing bertanggung jawab dan segera mencairkan THR sebelum libur Lebaran.

Suasana di grup semakin panas. Kebencian terhadap Ailing yang sudah menumpuk sekarang bertambah parah karena bukti nyata penggelapan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi. Agus sendiri hanya diam membaca semua balasan sambil menatap layar ponsel. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya tapi dia tidak menyesal sudah membongkar rahasia itu.

H-1 libur Lebaran atau hari terakhir masuk kantor suasana di kantor sudah santai sekali. Semua karyawan sudah datang lebih awal karena besok mulai libur panjang satu minggu penuh. Ada yang duduk mengobrol ringan sambil main ponsel ada pula yang sibuk mencari-cari tiket kereta atau bus untuk mudik ke kampung halaman. Walaupun liburnya cuma seminggu mereka merasa lumayan sekali karena setidaknya bisa pulang kampung dua sampai tiga hari untuk bertemu keluarga dan melepas rindu.

Ailing baru tiba di kantor sekitar jam sebelas siang. Dia memarkir mobil sport mewahnya dengan asal-asalan di area parkir karyawan yang sebenarnya sudah penuh. Saat memundurkan mobilnya bemper belakang mobilnya menyenggol motor Kadir yang parkir di pojok hingga motor itu jatuh ke samping dengan suara keras.

Kadir yang sedang duduk di dalam kantor langsung keluar melihat kejadian itu. Dia bergegas mendekat sambil memandang motornya yang sekarang tergeletak dengan bagian samping lecet parah. Ailing keluar dari mobilnya dengan wajah kesal bukannya minta maaf malah langsung membentak Kadir.

"Aduhhh lecet kan jadi nya. Ngapain parkir di sini sih motor lu??" bentak Ailing sambil membungkuk memeriksa goresan kecil di bemper mobilnya sendiri.

"I iya maaf Ci. Saya pindahin sekarang" jawab Kadir pelan sambil buru-buru mendirikan motornya lagi meski tangannya gemetar menahan kesal.

Kadir hanya bisa menggerutu dalam hati karena tidak berani membantah atasannya. Hadeh.. Cina bangke !! Udah dia yang salah malah dia yang nyolot pula. Pikirannya berputar-putar tapi mulutnya tetap tertutup rapat.

Ailing tidak peduli lagi dengan Kadir. Dia langsung berjalan masuk ke kantor sambil mengacungkan tangan ke arah karyawan yang masih duduk di meja masing-masing.

"Semua ke ruang meeting sekarang ya. Ga pake lama" kata Ailing dengan suara keras sambil terus berjalan melewati deretan meja kerja tanpa menoleh lagi.

Karyawan saling pandang dengan tatapan bingung dan kesal. Mereka yang tadinya santai sekarang terpaksa bangun dan bergegas menuju ruang meeting di lantai atas. Suasana yang tadinya rileks langsung berubah tegang begitu Ailing muncul. Beberapa orang berbisik pelan di belakang sambil mengikuti langkah Ailing.

Setelah semua karyawan terkumpul di ruang meeting dan duduk di kursi masing-masing Ailing berdiri di depan sambil memegang remote proyektor. Ruangan itu hening menunggu apa yang akan dia katakan di hari terakhir sebelum libur panjang ini.

Ailing berdiri di depan ruang meeting sambil memandang sekeliling dengan wajah tidak sabar. Semua karyawan sudah duduk di kursi masing-masing tapi suasana masih tegang karena bisik-bisik tadi belum reda.

"Dah semua? Duduk-duduk cepetan. Gw ga bisa lama-lama. Masih banyak kerjaan" kata Ailing sambil menepuk meja pelan agar semua diam.

Dia menarik napas lalu mulai bicara dengan nada datar seolah-olah ini hal biasa.

"Jadi gini dari seminggu yang lalu gw udah suruh Agus buat selesain laporan keuangan. Dan baru diselesain Agus kemarin siang. Jadi gw belum bisa turunin THR kalian dulu karena gw masih harus cek laporan keuangannya secara detail" kata Ailing sambil melipat tangan di dada.

Beberapa karyawan langsung mengeluh pelan. Ada yang menggelengkan kepala ada pula yang saling pandang dengan tatapan kesal.

"Yahhh ga bisa gitu donk Ci? Kok alesannya kaya gitu" keluh salah satu karyawan perempuan dari bagian admin sambil memegang ponselnya erat.

"Jangan lempar salah ke si Agus donk. Dia saya liat udah lembur dari kemaren buat kejar laporan keuangan yang diminta sama Nci tiba-tiba. Hargain kita karyawan donk" timpal karyawan lain dari bagian marketing dengan suara agak keras.

Ailing hanya diam mendengarkan komplain itu tanpa ekspresi berubah. Matanya menatap lurus ke depan seolah-olah kata-kata mereka tidak masuk ke telinga. Setelah beberapa detik hening Ailing akhirnya membuka mulut lagi dengan nada dingin dan menantang.

"Oh gitu. Ya sudah. Semua terserah kalian kok. Kalian ga suka? Silahkan resign. Yang jelas kalo kalian resign tanpa persetujuan gw pesangon dan gaji terakhir plus THR kalian ga cair ya" kata Ailing sambil tersenyum tipis seolah menang sudah.

Ucapan itu seperti bensin yang dituang ke api. Tujuh orang bawahan yang duduk di ruangan itu langsung semakin geram. Wajah mereka memerah karena tidak terima dengan sikap seenaknya Ailing yang mengancam begitu saja. THR yang sudah mereka tunggu-tunggu sekarang jadi senjata untuk membungkam mereka.

Agus yang duduk di pojok ruangan selama ini diam saja tiba-tiba bangun dari kursinya. Matanya merah karena kelelahan lembur dua malam berturut-turut ditambah marah yang sudah memuncak. Dia disalahkan padahal dia yang paling keras bekerja untuk memenuhi permintaan Ailing. Tubuhnya bergetar menahan emosi. Agus berjalan mendekati Ailing dengan langkah cepat. Ailing yang melihat itu langsung mundur setengah langkah tapi masih berusaha terlihat percaya diri.

"Kenapa? Mau komplain apa lo? Akhhh" teriak Ailing tiba-tiba karena Agus langsung menjambak rambut panjangnya dari belakang hingga kepala Ailing mendongak keras ke atas.

Agus tidak bicara apa-apa. Tangannya yang kuat mendorong tubuh Ailing ke depan hingga punggung Ailing membentur tepi meja rapat. Dengan satu dorongan lagi Ailing terduduk di atas meja itu. Kakinya menggantung ke bawah sementara tangannya mencoba menahan tubuh agar tidak jatuh ke belakang. Rok pensilnya tersingkap sedikit karena posisi duduk yang mendadak itu.

Karyawan yang lain hanya terdiam di tempat masing-masing. Tidak ada yang bergerak maju untuk menghentikan Agus. Mereka memaklumi kemarahan Agus yang sudah terpendam lama. Tatapan mereka bercampur antara kaget dan diam-diam setuju bahwa Ailing memang pantas mendapat balasan atas sikapnya yang selama ini seenaknya. Ruangan meeting yang tadinya hening sekarang dipenuhi napas berat dan ketegangan yang bisa dirasakan di udara.

Agus berdiri tepat di depan Ailing dengan napas memburu dan wajah memerah karena amarah yang sudah tidak tertahankan lagi. Tangannya masih menjambak rambut Ailing tadi tapi sekarang dia melepaskannya kasar sambil menunjuk-nunjuk wajah Ailing yang mendongak karena posisi duduk di atas meja.

"Eh Cina bangsat !! Lama-lama makin ga tau diri lo ya. Seenak jidat lo nyalahin gw. Selama empat tahun gw kerja di tempat lain ga pernah bermasalah dengan laporan keuangan. Gw selalu kerja tepat waktu. Lo seenaknya aja H-7 baru nyuruh gw ngerjain semua laporan" bentak Agus dengan suara menggelegar sambil jarinya hampir menyentuh hidung Ailing.

Pandangan Agus sempat terganggu sesaat karena posisi Ailing yang terduduk di tepi meja rapat membuat rok pensil ketatnya tersingkap cukup tinggi. Paha mulus Ailing yang putih terlihat jelas hingga beberapa senti di bawah selangkangannya. Kulitnya yang halus dan terawat itu membuat Agus sedikit gagal fokus meski amarahnya masih membara. Dia menggelengkan kepala cepat untuk mengusir pikiran itu lalu kembali menatap tajam ke mata Ailing.

Plakkkk. Suara tamparan keras dari telapak tangan Agus mendarat tepat di pipi kiri Ailing. Getarannya terasa hingga ke ruangan yang hening itu. Pipi Ailing langsung memerah dan meninggalkan bekas jari lima. Ailing yang seumur hidupnya tidak pernah disentuh kasar bahkan oleh orang tuanya sendiri langsung melemah. Matanya berkaca-kaca lalu air mata mulai mengalir pelan di pipinya. Bibirnya bergetar menahan isak tapi dia tidak berani bergerak dari posisinya.

"Lo pikir lo bisa seenaknya sama gw hah? Lo pikir gw ga tau lo sering pake uang kantor buat keperluan pribadi lo? Lo mau seenaknya? Gw juga bakal seenaknya" kata Agus dengan suara lebih rendah tapi penuh ancaman sambil melangkah ke arah telepon kantor yang ada di sudut meja rapat.

Dia mengangkat gagang telepon lalu menekan nomor kantor pusat yang sudah dia hafal karena sering berkoordinasi. Sambil menatap Ailing yang masih duduk terdiam dengan air mata mengalir Agus melanjutkan ancamannya.

"Sekarang gw bakal ngelapor ke kantor pusat soal kebiasaan lo make uang kantor. Dan juga komplain karena THR kita semua ga turun. Gw tau dana THR udah turun dari pusat kok. Kan gw yang ngerjain laporan keuangannya. Lo mau pecat gw? Silahkan. Gw bikin lo dipecat juga" kata Agus dengan nada dingin sambil menunggu sambungan telepon masuk.

Ailing tetap shock. Tubuhnya gemetar pelan. Air matanya terus jatuh membasahi pipi yang masih merah bekas tamparan. Dia tidak bisa bicara apa-apa hanya menatap Agus dengan mata penuh ketakutan sementara karyawan lain di ruangan itu masih diam memandang kejadian itu tanpa ada yang berani ikut campur. Ruang meeting terasa semakin pengap karena ketegangan yang menyelimuti semua orang di sana.

"AH!!! EHH J Jjangan2 gus... saya mohon jangan laporin ke pusat!!" mohon Ailing .. Ailing langsung turun dari meja dan berjalan ke Agus.

Agus menahan telpon dan menaruh gagang telpon d meja. Agus mendekati Ailing yang berdiri terdiam.. tiba2 agus memeluk Ailing lalu menungging kan Ailing k meja Rapat. Agus menyingkap rok Ailing dari belakang hingga pantat mulus Ailing kini terekspos..Agus menggunakan badan nya untuk menimpa punggung Ailing dari blakang agar Ailing tidak bisa menegakkan tubuh nya dan tidak bisa kabur kemana-mana

"Eh?! apa-apaan nih?! lepasinn!! eh lo pada yang lain ngapain diem aja! bantu gw donk!! lepasin gw fankui sialan!!" sambil berusaha berdiri dan menutup pantat nya dengan
tangannya.. Agus sudah menggunting celana dalam Ailing hingga putus dan jatuh ke lantai. Hendro dan Kadir yang berdiri di dekat mereka pelan-pelan mendekat.. lalu menarik kdua tangan Ailing k samping lalu menekan tangan ailing ke meja agar tidak bisa bergerak

"eh?! anjing!! lepasin gw!! fankui siallan!! TOLONGGG!! TOLOOMmpphhh!!" teriak Ailing terbungkam oleh celana dalamnya sendiri yang disumpal oleh Agus.

Ailing berusaha melaawan semampunya. tapi semua sia2.. Ailing baru menyadari kalau semua bawahannya di ruangan ini adalah lelaki semua.. kini kedua tangan nya di pegang oleh Hendro dan Kadir. Tanpa aba-aba2 , tiba2 Ailing merasakan ada benda tumpul yang menusuk vaginanya yang masih perawan..

"HMMPGGHHH!!!" teriak ailing terpendam oleh celana dalam di mulutnya ketika menyadari Agus kini memerkosanya.

Melihat hendro kadir dan Agus sekarang menaklukan Ailing yang kini tak berdaya, 4
karyawan lain, Lukman, Parjo, Usman dan Bondan mulai mendekati Ailing di meja rapat..

Hendro dan Kadir menyuruh Lukman dan Parjo untuk mengambil Lakban, cutter, guntig, Spidol, dan beberapa kotak Paper Clip.. sedangkan Agus masih memompa vagina Ailing dengan darah perawan Ailing yang mulai mengalir sekujur paha Ailing. Lukman dan Parjo kembali ke ruang meeting dan membawa Lakban, cutter, guntig, Spidol, dan beberapa kotak Paper Clip seperti yang diminta. Hendro dan Kadir pun mulai merobek2 baju Ailing dengan Cutter.. Hingga tubuh Ailing kini telanjang tanpa tertutup sehelai benang pun..

“ Mampus lo lonte cina … lu ga mau turunin THR kita?? Silahkan … tapi sekarang lo kita jadiin THR kita..” maki Agus sambil mengambil satu spidol lalu menuliskan AILING LONTE CINA di pungung mulus Ailing.

2 jam telah berlalu …

Kini Ailing terlentang lemas di meja rapat.. Mulut nya sedang dipaksa menghisap penis Lukman.. Kadir sedang memompa vagina Ailing yang dengan pasrah mengangkangkan paha nya lebar.. Kedua puting nya dijepit dengan paper clip oleh Hendro dan Parjo.

Di dadanya tertulis LONTE

Di perut nya tertulis CINA TOLOL

Di payudara kanan tertulis PEREK Di payudara kanan tertulis GRATIS

Tubuhnya pun kini sudah bermandikan keringatdan juga terhiasi beberapa muncratan sperma yang di semprotkan oleh Agus, Hendro dan Parjo bergantian..

Ailing hanya bisa menangis terdiam , pasrah.. berharap untuk semua ini berakhir..

Yang Ailing tidak tahu... ini semua hanya permulaan.. dari kehidupan barunya sebagai budak seks pribumi..

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

1. Nama : Agus Surahmat Jabatan : Head Accounting

Dalam hal ini bertindak atas nama direksi PT. Blontex Distributor

yang berkedudukan di Diamond Bussiness District XXX Block A5 / 17 dan selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA.


2. Nama : Alicia Christy / Ailing Chen

Tempat dan tanggal lahir : Medan 18 Juni 2000 Pendidikan terakhir : S2 Bussiness Management Jenis kelamin : Perempuan

No. KTP/ SIM : XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama diri pribadi dan selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.

Pada hari ini Rabu, tangalXX Bulan XX Tahun XXXX, PIHAK KEDUA menyatakan dan mengaku bersalah dalam melakukan tindakan korupsi dengan menggunakan uang

perusahaan untuk keperluan pribadi. Dengan surat pernyataan ini, PIHAK KEDUA telah bersepakat untuk mengikat diri dalam perjanjian kerja dengan PIHAK PERTAMA dengan syarat dan ketentuan yang diatur seperti berikut:

---PASAL SATU | STATUS

PIHAK PERTAMA menyatakan menerima PIHAK KEDUA sebagai budak di perusahaan dan PIHAK KEDUA dengan ini menyatakan kesediaannya.

---PASAL DUA | JABATAN

PIHAK KEDUA akan ditempatkan sebagai budak kantor dan seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan PT Wong Hang Distributor, apabila dipandang perlu dan juga

dikehendaki, PIHAK PERTAMA dapat menempatkan PIHAK KEDUA dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan lain di mana pun dan kapan pun. Baik di dalam atau pun di luar

lingkungan perusahaan.

---PASAL TIGA | JANGKA WAKTU

Masa perbudakan ditetapkan selama 1 tahun (12 bulan) yang dihitung sejak tanggal masuk PIHAK KEDUA ditempatkan diposisi ini. Masa perbudakan bisa diperpanjang sesuai

penilaian dan kehendak PIHAK PERTAMA apabila PIHAKKEDUA tidak dapat memenuhi kualifikasi atau tidak melakukan pekerjaan dari PIHAK PERTAMA.

---PASAL EMPAT | UPAH

PIHAK PERTAMA harus memberikan gaji pokok kepada PIHAK KEDUA

sebesar [(Rp.) 500.000,00 (Lima ratus ribu rupiah)] setiap bulan yang harus dibayarkan PIHAK PERTAMA pada tanggal terakhir setiap bulan. Upah tersebut tidak dibayarkan kepada PIHAK KEDUA melainkan ke pihak PT Blontex Distributor, sebagi bentuk pelunasan hutang PIHAKKEDUA kepada PT Wong Hang Distributor sebesar

[Rp 35.500.000,00 (Tiga Puluh Lima Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)]

---PASAL LIMA | JAM KERJA

Sesuai dengan kesepakatan yang diajukan dan diminta oleh PIHAK KEDUA, jumlahjam kerja efektif adalah 60 (enam puluh lima)]jam setiap minggu denganjumlah hari kerja 5 (lima) hari setiap minggu. dimulai hari senin dan berakhir pada harijumat, dengan

perincian sebagai berikut:

Hari Senin sampai dengan hari Jumat, jam masuk adalahjam 7 pagi (tujuh) danjam pulang adalahjam 7 (tujuh) malam dengan waktu istirahat selama 15 menit di jam 12 (dua belas) sampaijam 12. 15 (dua belas lewat lima belas)

---PASAL ENAM | LEMBUR

Apabila tersedia pekerjaan yang harus segera diselesaikan atau bersifat mendesak (urgent) dan PIHAK KEDUA diharuskan masuk kerja lembur, maka PIHAK PERTAMA tidak perlu

membayar PIHAKKEDUA karena memang sudah sepantasnya

---PASAL TUJUH | PENAMPILAN

1. PIHAK KEDUA tidak diijinkan berpakaian selama berada di area perkantoran.

2. PIHAK KEDUA wajib menggunakan collar yang diberikan oleh PIHAK PERTAMA dan tidak boleh melepasnya selamajam kerja.

3. PIHAK KEDUA harus selalu tampil tanpa sehelai rambut dari leher ke bawah. Dimana area selangkangan dan ketiak harus selalu tidak berbulu.

5. PIHAK KEDUA wajibdan akan selalu menjaga berat badan yang ideal dengan tubuh yang sehat.

6. PIHAK KEDUA wajib melakukan perawatan kulit (skin care) untuk menjaga tubuh PIHAK KEDUA.

---PASAL DELAPAN | BIAYA PENGOBATAN

PIHAK PERTAMA akan menanggung biaya pengobatan serta perawatan jika PIHAK KEDUA

sakit atau memerlukan perawatan kesehatannya sesuai dengan syarat, peraturan, dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

---PASAL SEMBILAN | KETERSEDIAAN DALAM MENAATI PERATURAN

1. PIHAK KEDUA menyatakan kesediaannya untuk mematuhi serta mentaati seluruh

peraturan tata tertib perusahaan dan Ruang Linkup Pekerjaan yang telah ditetapkan PIHAK PERTAMA untuk PIHAK KEDUA secara khusus yang ada dalam lampiran.

2. Pelanggaran terhadap peraturan-peraturan tersebut di atas dapat mengakibatkan PIHAK KEDUA dijatuhi hukuman.

---PASAL SEPULUH | SAMPINGAN

PIHAK KEDUA selama masa berlakunya ikatan perjanjian kerja ini tidak

dibenarkan untuk melakukan kerja rangkap di perusahaan lain manapun juga dan dengan alasan apapun juga, kecuali apabila PIHAKKEDUA telah

mendapat persetujuan secara tertulis dari PIHAK PERTAMA.

---PASAL SEBELAS | KEMATIAN

Perjanjian kerja ini akan berakhir dengan sendirinyajika PIHAKKEDUA meninggal dunia atau hal-hal lain yang menurut PIHAK PERTAMA layak diterima.

---PASAL DUA BELAS | FORCE MAJOR

Perjanjian kerja ini batal dengan sendirinya jika karena keadaan atau situasi yang memaksa, seperti: bencana alam, pemberontakan, perang, huru-hara, kerusuhan, atau apapun yang

mengakibatkan perjanjian kerja ini tidak mungkin lagi untuk diwujudkan.

---PASAL TIGA BELAS

Demikianlah perjanjian ini dibuat, disetujui dan ditandatangani dalam rangkap dua, asli dan tembusan bermaterei cukup dan berkekuatan hukum yang sama.

Satu dipegang oleh PIHAK PERTAMA dan lainnya untuk PIHAK KEDUA. PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA

Agus Surahmat Alicia Christy a.k.a Ai ling Chen

LAMPIRAN # 1

RUANG LINGKUP PEKERJAAN DAN TATA TERTIB

1. PIHAK KEDUA akan tinggal di mess kantor selama masa pekerjaan dan properti milik PIHAK KEDUA akan menjadi milik bersama seluruh staff PT. Blontex Distributor.

2. PIHAK KEDUAjuga beguna untuk menjadi penghibur bagi Klien jika dibutuhkan layanannya dalam bentuk apapun.

3. PIHAK KEDUAjuga wajib menjadipembantu umum bagi semua karyawan dan staff PT. Wong Hang Distubutor dan memberikan pelayanan baik fisik, batin, dan seksual.

4. PIHAK KEDUA bersedia menjadi entertain (menemani dan tidur) dengan PIHAK KETIGA sesuai petunjuk PIHAK PERTAMA

Segala bentuk siksaan dan hukuman yang akan diterima oleh PIHAK KEDUA tidak akan melibatkan mutilasi ataupun cacat permanen bagi PIHAKKEDUA.

Ailing duduk di pangkuan Kadir sambil tubuhnya telanjang bulat dan air mata terus mengalir deras membasahi pipinya yang memerah. Ia membaca ulang surat perjanjian kerja mengerikan itu dengan tangan gemetar dan setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk hatinya. Mulai sekarang hidupnya akan menjadi perbudakan total yang menyiksa lahir maupun batin dan tidak ada jalan keluar lagi baginya.

Kadir duduk santai di kursi ruang meeting sambil memainkan Mobile Legends di ponselnya dan kontolnya yang keras sudah menghujam dalam-dalam ke liang kewanitaan Ailing. Setiap kali Kadir menggerakkan pinggulnya sedikit saja maka memek Ailing langsung menjepit erat batang kejantanannya karena refleks tubuh yang sudah lelah tapi masih merespons. Ailing hanya bisa menangis pelan sambil naik turun mengikuti irama genjotan Kadir yang kasar namun santai seolah sedang menikmati mainan baru.

Tubuh Ailing penuh dengan tulisan-tulisan hitam permanen marker yang melecehkan dan menghina. Di payudara kirinya tertulis "Sapi Perah Kantor" sementara di payudara kanannya ada tulisan "Memek Untuk Disetubuhi Gratis". Di perut rata dan mulusnya terpampang "Budak Kontol" dan di paha bagian dalam yang putih mulus ada coretan "Pelacur Kantor - Bayar Dengan Memek". Seluruh kulitnya juga dipenuhi memar-merah keunguan bekas cupangan kasar remasan brutal dan cubitan menyakitkan dari Agus Kadir Hendro serta beberapa karyawan lain yang sempat ikut menjamahnya tadi pagi.

Agus berdiri di seberang meja sambil memandang Ailing dengan senyum puas. Ia mengulurkan pena dan selembar kertas pernyataan tambahan ke arah Ailing lalu tangan kirinya langsung menjambak rambut panjang gadis itu dengan kasar sehingga kepala Ailing terangkat paksa. Agus meludahi wajah cantik Ailing tepat di pipi dan ludahnya mengalir perlahan bercampur dengan air mata yang tak henti-hentinya.

"Tandatangani sekarang juga jalang" kata Agus dengan suara dingin sambil menekan pena ke tangan Ailing yang gemetar.

Ailing masih menangis tersedu-sedu tapi tangannya dipaksa menandatangani kertas itu di atas meja sambil tubuhnya terus digenjot pelan oleh Kadir yang bahkan tidak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Kontol Kadir terus memompa masuk keluar dengan ritme stabil dan setiap hujaman membuat lendir kawin Ailing bercampur air mata yang jatuh ke paha pria itu. Ailing merasa seperti pelacur bayaran yang sedang bekerja keras untuk memuaskan majikannya dan tidak ada lagi harga diri yang tersisa di dalam dirinya.

“Cuihh.. Cepet tanda tangan sebelum gw sebar foto2 telanjang lo barusan ke semua temen n kluarga lo.. Dan juga ke bos2 biar lo dpecat.. Udh korupsi.. Lonte pula.. Siapa yang mau nerima lo kerja wkwk” ancam Agus..

Ailing hanya bisa pasrah muka cantik nya hasil perawatan diludahi oleh seorang pribumi rendahan seperti Agus dan dengan pasrah menandatangani surat pernyataan tersebut. Kemudian Agus mengambil surat kontrak itu dari tangan Ailing lalu meludahi lagi wajah Ailing. Kemudian Agus meninggalkan ruang meeting . Kadir yang masih memainkan hp nya menjambak rambut Ailing hingga tubuh Ailing yang menduduki penisnya pun langsung melengkung kebelakang akibat jambakan Kadir..

“Arrghhh a ampunn dir.. S sakit..” mohon Ailing..

“ Dir dir ..” kadir mncubit , memutar dan menarik puting Ailing sekeras mungkin. “ARRRRGHHH A AMPUNN AMPUNN” teriak Ailing kesakitan

“ Panggil kita semua Pak mulai sekarang. Lo di kantor ini bahkan lebih rendah derajatdan jabatan nya dibanding si Hendro (Staff security)” bentak Kadir sambil terus menarik puting Ailing hingga puting ailing memerah..

“AKHHH I I iyaa iyaa Pak Kadir … a ampunn pakk” teriak Ailing sambil memegang tangan Kadir agar tidak semakin kencang menarik putingnya..

Kadir melepas cubitannya dari puting Ailing lalu menggeplak kepala Ailing dari belakang

agar Ailing melanjutkan pekerjaannya.. Ailing pun mulai menaik turunkan pantatnya untuk kembali mengurut kontol Kadir yang sedang menyumpal vaginanya. Ailing menyadari

dengan sudah menandatangani surat pernyataan yang di bawa Agus tadi, kini ia bukan lagi dirinya yang dulu. Kini ia hanya seorang pemuas nafsu dan tampungan peju untuk fankui2 yang dulu bawahannya kini menjadi atasanya.. Ailing hanya bisa menangis dan meratapi apa yang akan terjadi pada dirinya.

Sekitar tiga menit kemudian pintu ruang meeting terbuka dan Parjo serta Bondan masuk dengan langkah cepat sambil tersenyum lebar melihat pemandangan di depan mereka. Bondan langsung maju mendekati Ailing yang masih berada di pangkuan Kadir lalu tangannya menjambak rambut gadis itu dengan kasar dan menarik kepala Ailing ke arah selangkangannya tanpa basa-basi.

Ailing terpaksa berlutut di depan Bondan sambil tubuhnya masih terhubung dengan kontol Kadir yang tetap menghujam dalam liang kewanitaannya. Dengan tangan gemetar ia membuka resleting celana Bondan kemudian menarik turun celana dan celana dalam pria itu hingga kontol Bondan yang sudah tegang keras langsung berdiri tegak tepat di depan wajahnya. Ailing juga melakukan hal yang sama pada Parjo yang berdiri di sampingnya sehingga kini dua kontol baru bergabung dengan kontol Kadir yang masih memompa pelan di memeknya.

Ailing mulai melayani mereka bertiga sekaligus meski air matanya terus mengalir deras dan isak tangisnya terdengar pelan. Ia bergantian mengulum kontol Bondan dan Parjo sementara pinggulnya terus naik turun mengikuti genjotan Kadir yang santai tapi dalam. Mulut Ailing penuh dengan air liur yang bercampur lendir kawin dari memeknya sendiri karena tubuhnya dipaksa bekerja tanpa henti. Kontol Bondan dan Parjo bergantian masuk ke mulutnya dan setiap kali salah satu menghujam dalam-dalam maka Ailing langsung mengerang tersedak tapi tetap dipaksa melanjutkan.

Bondan yang lebih dulu tidak tahan lalu memegang kepala Ailing dengan kedua tangan dan mendorong kontolnya hingga masuk sangat dalam ke tenggorokan gadis itu. Ailing menjerit pelan tapi suaranya tertahan oleh batang kejantanan yang memenuhi mulutnya. Bondan mendesis keras kemudian melepaskan sperma hangatnya langsung ke dalam kerongkongan Ailing. Peju kental itu mengalir deras dan Ailing terpaksa menelannya sambil tersedak karena Bondan tidak melepaskan kepalanya sampai tetes terakhir habis.

Setelah selesai Bondan menarik kontolnya keluar lalu memaksa Ailing menjilati batang dan buah zakarnya sampai benar-benar bersih. Lidah Ailing bergerak lemah mengikuti perintah sambil air mata masih membasahi pipinya. Begitu Bondan mundur Parjo langsung menggantikannya dan melakukan hal yang sama. Kontol Parjo menghujam dalam mulut Ailing dengan brutal hingga gadis itu melenguh kesakitan tapi tetap dipaksa menelan semua pejunya yang menyembur deras. Parjo juga memaksa Ailing membersihkan kontolnya dengan lidah sampai mengkilap lagi.

Kadir yang masih duduk di kursi akhirnya ikut bergantian. Ia menarik pinggul Ailing lebih keras beberapa kali hingga memek gadis itu menjepit erat lalu melepaskan air maninya di dalam liang kewanitaan Ailing. Sperma hangat mengalir keluar bercampur lendir kawin Ailing dan menetes ke lantai. Setelah puas Kadir menjambak rambut Ailing dengan kasar lalu menarik tubuh telanjang gadis itu berdiri dari pangkuannya. Kontolnya keluar dari memek Ailing dengan bunyi licin dan benang lendir putih masih menghubungkan mereka sesaat.

Kadir tidak bicara apa-apa hanya menarik Ailing keluar dari ruang meeting menuju tangga menuju lantai empat ruko sambil terus menjambak rambutnya agar gadis itu mengikuti langkahnya dengan tertatih-tatih. Tubuh Ailing masih penuh memar dan tulisan hinaan serta bau sperma dan keringat yang melekat kuat di kulit putihnya yang seksi.

Kadir menarik Ailing dengan kasar menaiki tangga menuju lantai empat ruko sambil terus menjambak rambut panjang gadis itu agar langkahnya tidak melambat. Lantai empat ini memang hanya berfungsi sebagai mess sederhana untuk Hendro sang security kantor dan juga tempat menginap karyawan lain yang kepepet lembur hingga larut malam. Ruangannya sempit dan pengap hanya terdiri dari beberapa kamar kecil plus gudang penuh barang-barang lama kantor yang berdebu.

Kadir membuka pintu salah satu kamar kecil berukuran tiga kali empat meter lalu mendorong tubuh telanjang Ailing masuk ke dalam dengan keras hingga gadis itu tersandung dan hampir jatuh. Di dalam kamar itu hanya ada lemari kayu kecil yang sudah reyot sebuah ranjang tipis tanpa kasur spring bed yang langsung diletakkan di lantai serta selimut lusuh yang terlipat asal-asalan. Tidak ada jendela besar hanya ventilasi kecil di atas dan lampu neon kuning redup yang menyala terus menerus.

Kadir tidak bicara apa-apa hanya menutup pintu dengan keras lalu memutar kunci dari luar sehingga Ailing terkunci sendirian di dalam ruangan sempit itu. Bunyi kunci berderit terdengar jelas dan Ailing langsung merasakan hati yang semakin hancur. Ia terduduk lemas di lantai dingin dengan punggung bersandar ke dinding beton yang kasar. Tubuhnya masih telanjang bulat tanpa sehelai benang pun dan kulit putih mulusnya kini dipenuhi bekas-bekas kekerasan. Memar merah keunguan tersebar di payudara paha lengan dan pinggul bekas remasan cubitan serta cupangan brutal dari banyak tangan. Tulisan-tulisan hitam permanen marker masih terpampang jelas di sekujur tubuhnya. Di dada kirinya tertulis “BABI CINA” besar-besar sementara di dada kanan ada “LONTE CINA”. Di perut rata tertera “AILING CHEN LOBANG EWE PRIBUMI” dan di paha bagian dalam yang seksi ada coretan “MEMEK UNTUK DIROJOK GRATIS” serta “BUDak KONTOL KANTOR”. Tulisan-tulisan hinaan itu seolah menempel permanen di kulitnya dan bau sperma kering serta keringat masam masih melekat kuat di seluruh tubuhnya.

Ailing sudah terlalu lelah untuk menangis lagi. Air matanya memang masih mengalir pelan tapi isaknya sudah berubah menjadi hembusan napas lemah yang tersendat. Ia merangkak pelan menuju ranjang tipis itu lalu merebahkan tubuhnya di atas kain kasar yang bau apek. Tubuhnya terbaring telentang dengan tangan terkulai lemas di samping dan kaki sedikit terbuka karena tidak lagi punya tenaga untuk menutupinya. Ia tidak lagi peduli dengan tulisan-tulisan melecehkan yang menghiasi payudara perut dan pahanya. Semua itu sudah terasa seperti bagian dari dirinya sekarang.

Ailing hanya menutup matanya rapat-rapat sambil berharap dalam hati bahwa semua yang terjadi ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir saat ia membuka mata nanti. Namun rasa sakit di sekujur tubuh lendir kawin yang masih menetes pelan dari liang kewanitaannya serta bau peju yang menempel di kulit membuatnya tahu bahwa ini nyata dan tidak ada jalan keluar dari neraka kecil yang baru saja menjadi “kamar baru” baginya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Barang Jarahan 3

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Jebakan Minimarket 4

Draft Pengantin Brutal 4

Nasib Fenny Yang Malang

Aplikasi XBang Oriental

Hasrat Dibalik Rumah Mewah

Basement Rahasia Putri Konglomerat

Draft Amarah Para Buruh 23