By : GrottoGolem
Pak Yudhi mengusap peluh di dahinya. Usianya sudah 62 tahun, tapi ia masih tampak segar untuk pria seusianya. Rambutnya memang sudah banyak memutih, tapi tubuhnya tetap tegap. Ia adalah pemilik perusahaan bus antarkota yang melayani jalur antar provinsi. Sejak istrinya meninggal sepuluh tahun lalu, hidupnya berjalan datar. Sepi. Ia membesarkan tiga anak lelaki seorang diri—semuanya kini sudah dewasa, dua sudah menikah, satu lagi masih bekerja di bengkel.
Namun sejak kesendirian itu datang, Yudhi perlahan-lahan berubah. Sifat genitnya mulai muncul secara alamiah. Ia sering menggoda pegawai-pegawainya, terutama kasir muda di kantor terminal, meski ia tahu tak ada yang menganggap serius rayuannya. Baginya itu cuma pelarian, sebentuk hiburan dalam sepinya usia tua.
Sampai pada suatu hari yang tampak biasa, ia berniat mencari celana bahan baru untuk dipakai ke acara reuni angkatan sekolah nya dulu. Ia berjalan ke pasar dekat terminal tempat armadanya biasa mangkal.
Di sanalah ia pertama kali melihat Linda.
Wanita itu sedang merapikan tumpukan pakaian di toko kecilnya, mengenakan blus putih dan celana panjang hitam yang membentuk tubuhnya yang sintal. Rambutnya diikat setengah, wajahnya halus, bersih, dan putih seperti porselen. Umurnya mungkin sekitar 40, tapi sorot matanya tenang dan matang.
“Selamat siang bu. Sapa Pak Yudhi sambil melongok masuk.
Linda menoleh lalu tersenyum. “Iya, selamat siang pak. Mau cari apa ?
“Celana bahan. Yang adem, buat orang tua,” kata Yudhi sambil terkekeh kecil.
Linda tertawa renyah. “Wah, gak keliatan lho, Pak, kalau sudah sepuh. Saya kira Bapak masih kerja di lapangan.”
“Masih, saya jalan terus. Badan tua tapi hati masih muda,” katanya dengan lirikan nakal.
Linda hanya tersenyum. Tapi dari sorot matanya, ia tahu cara Pak Yudhi memandangnya bukan seperti pelanggan biasa.
Hari itu, mereka mengobrol cukup lama. Tentang celana, tentang cuaca, lalu entah bagaimana obrolan mereka mengalir ke kehidupan pribadi. Linda bercerita bahwa ia janda, ditinggal suaminya dua tahun lalu karena sakit jantung. Ia kini mengurus toko sendirian dan membiayai dua anak gadisnya—Livia yang duduk di kelas 12 SMA, dan Erin yang masih kelas 8 SMP.
“Kadang, saya cuma bisa jualan seharian dan dapat lima puluh ribu. Belakangan toko juga agak sepi. Sepertinya orang-orang lebih suka belanja online ditoko oren daripada belanja baju dipasar kayak gini. keluh Linda sambil melipat baju.
Pak Yudhi mendengarkan dengan simpati. Ia merasakan ketulusan dari wanita itu—bukan keluhan yang dibuat-buat, tapi benar-benar suara hati seorang ibu yang khawatir.
Sejak hari itu, Pak Yudhi jadi sering mampir ke toko Linda. Kadang hanya sekadar menyapa, kadang membelikan sesuatu. Pernah juga ia membawa nasi bungkus dari rumah makan langganannya untuk dimakan bersama Linda di bangku kecil dekat pintu toko.
Obrolan mereka semakin dalam. Tentang masa muda, tentang mimpi yang terpaksa dipendam karena keadaan. Linda bercerita, Livia ingin kuliah jurusan desain interior, tapi ia tak tahu harus cari uang dari mana. Erin juga mulai tumbuh menjadi gadis remaja yang sensitif dan sering bertanya kenapa hidup mereka tak seperti teman-temannya.
Pak Yudhi merasa iba… dan entah sejak kapan, ia juga merasa nyaman.
Satu sore saat gerimis mengguyur pasar, dan hanya mereka berdua duduk di bangku toko dengan segelas teh hangat, Pak Yudhi bertanya pelan, “Linda… apa kamu pernah kepikiran nikah lagi?”
Linda terdiam lama. Matanya menerawang ke luar toko. Hujan jatuh seperti tirai.
“Pernah, Pak. Tapi gak tahu siapa yang mau sama janda dua anak, susah pula,” ucapnya jujur.
Yudhi tersenyum tipis. “Kalau saya mau, kamu mau?”
Linda tidak langsung menjawab. Ia bukan gadis muda lagi. Ia tahu itu bukan sekadar rayuan. Tapi ia juga tahu, menikah bukan hanya soal cinta. Ada Livia dan Erin. Ada masa depan mereka. Dan Linda tahu, ia tak bisa membesarkan dua anak gadisnya sendirian terus-menerus, apalagi saat biaya hidup terus naik.
Tiga minggu kemudian, Linda menerima ajakan makan malam Pak Yudhi di sebuah rumah makan sederhana tapi bersih. Di sana, di bawah lampu temaram dan suara musik lawas yang mendayu, Pak Yudhi kembali mengutarakan niatnya.
“Saya memang sudah tua, Lin. Tapi saya serius. Saya sudah gak punya istri, anak-anak saya juga gak keberatan. Rumah saya besar, ada kamar kosong. Kalau kamu mau… saya ingin kamu dan anak-anakmu tinggal bersama saya.”
Linda menunduk. Suara hatinya berbisik pelan, tapi pasti: Demi anak-anakmu, Linda. Ini kesempatan.
Dan malam itu, sambil menatap mata Pak Yudhi yang lembut, Linda mengangguk.
Pernikahan Pak Yudhi dan Linda berlangsung sederhana namun hangat. Anak-anak Pak Yudhi datang, menyambut Linda dengan sopan, meskipun salah satu dari mereka sempat bertanya lirih, “Yakin ini yang terbaik, Yah?”
Pak Yudhi hanya menjawab dengan senyum tipis, “Bapak sudah lama sendiri. Ibu Linda baik orangnya, kalian juga akan cocok.
Malam itu setelah menikah Linda dan kedua putrinya pindah ke rumah besar milik Pak Yudhi yang terletak di pinggiran kota. Rumah itu punya lima kamar tidur, halaman luas, dan teras depan tempat burung-burung dalam sangkar berkicau tiap pagi.
Malam Pertama di Rumah Senja
Hujan turun pelan malam itu. Angin bertiup sejuk melalui kisi-kisi jendela kamar. Lampu gantung kamar redup, memantulkan cahaya kuning keemasan ke dinding-dinding tua rumah Pak Yudhi. Di tengah kamar, sebuah ranjang besar dengan sprei bersih warna krem tampak sudah rapi tertata. Aroma lembut dari aromatherapy di pojok ruangan melayang tenang di udara.
Linda berdiri di depan meja rias, mengenakan daster satin lembut berwarna merah muda pucat. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, sedikit lembap oleh uap dari mandi air hangat sebelumnya. Wajahnya yang oriental terlihat gugup tapi pasrah.
Ini adalah malam pertamanya sebagai istri kembali. Setelah bertahun-tahun menjadi janda, malam ini di usia 40 tahun—ia kembali akan tidur dengan seorang pria tambatan jiwanya. Meskipun awalnya Linda kurang berkenan karena usia yang terpaut cukup jauh namun demi kebahagiaan dan masa depan putrinya maka diapun harus rela berkorban.
![]() |
| Linda |
Pak Yudhi masuk perlahan menyingkap kain kelambu berwarna biru didepan pintu kamar tidurnya, dengan mengenakan kaos oblong berwarna coklat yang sudah usang.
Langkah kakinya tak tergesa namun terasa mantap. Ada sesuatu dalam tatapannya malam itu, bukan sekadar nafsu… tapi kerinduan panjang akan kedekatan, akan kasih, akan kehangatan yang telah lama hilang dari hidupnya.
“Kamu capek Lin ? Tanyanya pelan sambil duduk di tepi ranjang.
Linda menoleh sesaat sambil mengangguk kecil membuat jantung pak Yudhi semakin berdegup kencang. Pria tua itu tak menyangka kalau impiannya telah menjadi kenyataan karena selama ini dia begitu terobsesi dan ingin bercinta dengan seorang wanita tionghoa bertubuh mulus seperti Linda.
“Sedikit. Banyak pikiran… tapi aku juga lega. Anak-anakmu baik. Rumahmu juga sangat nyaman.
“Rumah ini rumah kita sekarang. ucap Pak Yudhi lembut. Pelan pelan Ia menggenggam tangan Linda dan genggamannya terasa begitu lama.
“Kamu capek Lin ? Tanyanya pelan sambil duduk di tepi ranjang.
Linda menoleh sesaat sambil mengangguk kecil membuat jantung pak Yudhi semakin berdegup kencang. Pria tua itu tak menyangka kalau impiannya telah menjadi kenyataan karena selama ini dia begitu terobsesi dan ingin bercinta dengan seorang wanita tionghoa bertubuh mulus seperti Linda.
“Sedikit. Banyak pikiran… tapi aku juga lega. Anak-anakmu baik. Rumahmu juga sangat nyaman.
“Rumah ini rumah kita sekarang. ucap Pak Yudhi lembut. Pelan pelan Ia menggenggam tangan Linda dan genggamannya terasa begitu lama.
Hening mengalun di antara mereka. Jantung Linda berdetak pelan tapi berat. Ia tak terbiasa disentuh lagi, tak terbiasa diperhatikan dari jarak sedekat ini oleh seorang pria. Tapi sentuhan Pak Yudhi terasa tidak memaksa. Hangat. Seperti tangan seorang pria yang telah lama menunggu malam seperti ini.
Saat lelaki tua itu mendekatkan wajahnya, Linda tak menolak dan berupaya menyambutnya dengan kehangatan.
Ciuman pertama mereka tidak tergesa. Tidak liar. Hanya bibir yang saling menyentuh perlahan—ragu-ragu namun saling mencari. Ciuman yang terasa lebih sebagai pengakuan bahwa mereka kini bukan dua orang asing lagi, tapi sepasang suami istri yang bebas melakukan apa saja didalam kamar tsb.
Pak Yudhi membelai rambut Linda yang panjang terurai dengan aromanya yang harum, kemudian cumbuan itu turun ke pipinya, lalu ke lehernya yang jenjang.
“Nanti kalau kamu tidak nyaman, bilang ya,” bisiknya pelan ditelinga Linda seolah mengantarkan wanita itu ke tahap yang lebih mendalam.
Linda hanya menjawab dengan menutup matanya, menyerahkan dirinya pada malam, pada sunyi, pada sepasang tangan kasar dan keriput yang kini merengkuh tubuhnya dengan sangat hati-hati.
Mereka naik ke ranjang pelan. Tak ada kata-kata keras. Tak ada gerakan kasar. Hanya desir napas yang menyatu, dan bisikan kecil nama satu sama lain. Sambil mencumbui tubuh putih Linda yang begitu mulus, tangan pak Yudhi mulai melucuti pakaian istrinya.
Puas berciuman kemudian pak Yudhi membaringkan Linda diatas ranjangnya. Dengan napas memburu lalu pria itu membuka semua baju dan celananya sendiri seakan ingin menunjukkan kalau dirinya masih begitu perkasa dan hal ini terlihat dari penisnya yang keras seperti kayu.
Pak Yudhi kembali mencumbui tubuh mulus Linda yang sudah berbaring pasrah diatas ranjang. Lidahnya menelusuri setiap lekuk tubuh wanita tionghoa itu dengan sangat lincah, menari nari mencari kenikmatan ragawi yang menggiurkan.
Beberapa saat kemudian pak Yudhi melipat kedua kaki Linda dan menaikan keatas bahunya. Perlahan dia mulai menusukan batang kejantanannya yang sudah tegak itu.
Uuuh.. rasanya peret sekali bahkan hampir tak bisa jalan. Pak Yudhi tak menyerah dan menekan penisnya lebih keras sampai Linda menjerit kesakitan karena ukuran penis pak Yudhi memang sangat besar dan panjang.
"Aduhhh.. sakit.. pelan pelan aja sayangg.. tapi pak Yudhi tak menghiraukannya dan terus menekan batang kemaluannya sampai rasanya kepala batang penis itu menabrak sesuatu. Lalu pria tua itu mulai memaju-mundurkan badannya ke depan dan ke belakang seperti sedang memompa sesuatu. Jlebbb.. Jlebb..
Lama kelamaan suara erangan Linda sudah tak terdengar, sepertinya dia sudah merasa enak dan ketagihan dengan sodokan batang penis pribumi yang selama ini tak punya kesempatan untuk melakukan hal itu.
"Gimana sayang ? Udah enak kan sekarang ? Goda pak Yudhi
"Iyaaa mass enak sekalii.. sodokan kontol mas Yudhi berasa mentok sampe keujung. Sahut Linda sambil tersenyum.
"Bisa sodok lebih kencang lagi gak mas.. pinta Linda dengan wajah penasaran.
Ditantang seperti itu pak Yudhi pun jadi makin menggebu gebu kemudian diapun mempercepat genjotan penisnya sampai Linda yang terbaring pasrah diatas ranjang sampai mendesah desah keenakan. Aaakkh.. aakkhh... Aaakkh.. enaaak sekaaali massss..
Tak lama kemudian tubuh Linda mengeja g hebat sambil menjerit.
Oooughh... Akuuu mauu keluarrrr mass..
Untuk waktu yang cukup lama, mereka saling menyentuh dan menyelami—dalam diam dan cahaya lampu yang temaram. Ranjang tua itu berderit pelan, mengikuti irama usia senja mereka yang tak terburu-buru. Dan ketika semua berakhir, Linda bersandar di dada suaminya, mendengar detak jantungnya yang perlahan kembali tenang.
“Terima kasih sayang. Sudah lama aku tak merasakan kepuasan seperti ini diatas ranjang. bisik Pak Yudhi.
“Terima kasih sayang. Sudah lama aku tak merasakan kepuasan seperti ini diatas ranjang. bisik Pak Yudhi.
Linda hanya mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa… tidak sendiri.
Awalnya semua berjalan normal.
Linda mengurus rumah, memasak, menyulam kembali harapan yang dulu sempat putus. Erin mulai sekolah di SMP baru yang lebih bagus, sedangkan Livia fokus pada ujian kelulusannya.
Namun setelah enam bulan berlalu, Livia mulai merasa ada yang berubah dalam suasana rumah.
Pak Yudhi, yang dulunya tampak hangat dan penuh candaan dengan ibunya, kini sering diam memandangi Livia dalam-dalam. Bukan tatapan seorang ayah tiri yang bangga. Bukan pula rasa sayang yang wajar. Tapi pandangan yang dalam dan menggantung... seolah menyimpan sesuatu yang belum terucap, namun bisa dirasakan.
Suatu sore, Livia sedang membaca buku di ruang tamu. Kaus tipis rumah dan celana pendek santai membalut tubuhnya. Ia tak sadar bahwa Pak Yudhi berdiri di belakang pilar ruang tengah, diam memperhatikannya dari kejauhan.
Tatapannya tak biasa.
Livia mengangkat wajahnya saat sadar ada yang mengawasi.
“Oh… Om…,” ujarnya kikuk, masih terbiasa memanggilnya seperti sebelum pernikahan.
Pak Yudhi tersenyum. “Kamu sekarang tinggal di sini, panggil ‘Papa’ saja, Liv.”
Livia tersenyum tipis lalu menunduk dan berkata pelan. “Iya, Pa…
“Baca apa itu?” tanya Pak Yudhi sambil mendekat. Ia duduk di sofa seberang, menyilangkan kaki.
“Buku latihan soal ujian masuk kuliah,” jawab Livia. “Aku masih bingung mau ambil jurusan apa.”
“Desain interior, katanya, ya? Waktu itu cerita ke Mama.”
Livia mengangguk.
Pak Yudhi mengamati gerak-gerik gadis itu. Kulitnya putih bersih, tubuhnya muda, dan wajahnya mewarisi kecantikan ibunya. Usia Livia baru delapan belas, tapi tubuhnya sudah berkembang seperti wanita dewasa. Pak Yudhi tahu pikirannya mulai melenceng, tapi seperti candu, ia sulit mengendalikan nalurinya.
“Kamu cantik, Liv,” ucapnya tiba-tiba, membuat Livia menoleh.
Livia tertawa kecil, kaku. “Ah, Papa bercanda…”
“Tidak. Serius. Papa kadang lupa kamu bukan anak kandung papa…
Livia terdiam. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres. Tapi ia tak tahu bagaimana merespons. Ia hanya tersenyum tipis dan segera bangkit.
“Mau bantu Mama di dapur dulu ya, Pa.”
“Hmm… Iya,” jawab Pak Yudhi sambil memperhatikan punggung gadis itu melangkah menjauh.
Hari-hari berikutnya, perhatian Pak Yudhi makin terasa ganjil. Ia mulai sering menanyakan ke mana Livia pergi, jam berapa pulang, bahkan sempat marah saat Livia pergi ke rumah teman pria satu sekolahnya tanpa izin.
“Papa cuma khawatir,” katanya saat Linda menegurnya karena terlalu mengatur.
Tapi Linda tidak curiga apa-apa. Ia mengira suaminya hanya mencoba berperan sebagai ayah tiri yang bertanggung jawab.
Namun di balik sikap lembutnya pada Linda, Pak Yudhi menyimpan gejolak. Ia sadar pikirannya mulai menyeleweng, tapi tiap kali melihat Livia keluar kamar dengan daster tipis atau duduk di sofa membaca dengan kaki terangkat, batinnya berontak.
Ia mencoba menahan diri. Tapi godaan itu makin hari makin kuat.
Suatu malam, Livia keluar kamar untuk mengambil air minum. Rumah sudah sunyi, lampu ruang tengah hanya temaram. Saat ia melewati lorong, ia tak sadar bahwa mata Pak Yudhi mengintainya dari ruang kerja yang pintunya setengah terbuka.
Gadis itu mengenakan daster tipis warna biru muda. Rambutnya dikuncir asal, langkahnya pelan. Dan untuk sesaat… Pak Yudhi merasa seperti melihat Linda dua puluh tahun lalu.
Tangannya mengepal dan nafasnya terasa berat. Ia tahu ini salah. Tapi rasa bersalah itu tertutupi oleh sesuatu yang lebih gelap yaitu nafsu.
Namun setelah enam bulan berlalu, Livia mulai merasa ada yang berubah dalam suasana rumah.
Pak Yudhi, yang dulunya tampak hangat dan penuh candaan dengan ibunya, kini sering diam memandangi Livia dalam-dalam. Bukan tatapan seorang ayah tiri yang bangga. Bukan pula rasa sayang yang wajar. Tapi pandangan yang dalam dan menggantung... seolah menyimpan sesuatu yang belum terucap, namun bisa dirasakan.
Suatu sore, Livia sedang membaca buku di ruang tamu. Kaus tipis rumah dan celana pendek santai membalut tubuhnya. Ia tak sadar bahwa Pak Yudhi berdiri di belakang pilar ruang tengah, diam memperhatikannya dari kejauhan.
Tatapannya tak biasa.
Livia mengangkat wajahnya saat sadar ada yang mengawasi.
“Oh… Om…,” ujarnya kikuk, masih terbiasa memanggilnya seperti sebelum pernikahan.
Pak Yudhi tersenyum. “Kamu sekarang tinggal di sini, panggil ‘Papa’ saja, Liv.”
Livia tersenyum tipis lalu menunduk dan berkata pelan. “Iya, Pa…
“Baca apa itu?” tanya Pak Yudhi sambil mendekat. Ia duduk di sofa seberang, menyilangkan kaki.
“Buku latihan soal ujian masuk kuliah,” jawab Livia. “Aku masih bingung mau ambil jurusan apa.”
“Desain interior, katanya, ya? Waktu itu cerita ke Mama.”
Livia mengangguk.
Pak Yudhi mengamati gerak-gerik gadis itu. Kulitnya putih bersih, tubuhnya muda, dan wajahnya mewarisi kecantikan ibunya. Usia Livia baru delapan belas, tapi tubuhnya sudah berkembang seperti wanita dewasa. Pak Yudhi tahu pikirannya mulai melenceng, tapi seperti candu, ia sulit mengendalikan nalurinya.
“Kamu cantik, Liv,” ucapnya tiba-tiba, membuat Livia menoleh.
Livia tertawa kecil, kaku. “Ah, Papa bercanda…”
“Tidak. Serius. Papa kadang lupa kamu bukan anak kandung papa…
Livia terdiam. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres. Tapi ia tak tahu bagaimana merespons. Ia hanya tersenyum tipis dan segera bangkit.
“Mau bantu Mama di dapur dulu ya, Pa.”
“Hmm… Iya,” jawab Pak Yudhi sambil memperhatikan punggung gadis itu melangkah menjauh.
Hari-hari berikutnya, perhatian Pak Yudhi makin terasa ganjil. Ia mulai sering menanyakan ke mana Livia pergi, jam berapa pulang, bahkan sempat marah saat Livia pergi ke rumah teman pria satu sekolahnya tanpa izin.
“Papa cuma khawatir,” katanya saat Linda menegurnya karena terlalu mengatur.
Tapi Linda tidak curiga apa-apa. Ia mengira suaminya hanya mencoba berperan sebagai ayah tiri yang bertanggung jawab.
Namun di balik sikap lembutnya pada Linda, Pak Yudhi menyimpan gejolak. Ia sadar pikirannya mulai menyeleweng, tapi tiap kali melihat Livia keluar kamar dengan daster tipis atau duduk di sofa membaca dengan kaki terangkat, batinnya berontak.
Ia mencoba menahan diri. Tapi godaan itu makin hari makin kuat.
Suatu malam, Livia keluar kamar untuk mengambil air minum. Rumah sudah sunyi, lampu ruang tengah hanya temaram. Saat ia melewati lorong, ia tak sadar bahwa mata Pak Yudhi mengintainya dari ruang kerja yang pintunya setengah terbuka.
Gadis itu mengenakan daster tipis warna biru muda. Rambutnya dikuncir asal, langkahnya pelan. Dan untuk sesaat… Pak Yudhi merasa seperti melihat Linda dua puluh tahun lalu.
Tangannya mengepal dan nafasnya terasa berat. Ia tahu ini salah. Tapi rasa bersalah itu tertutupi oleh sesuatu yang lebih gelap yaitu nafsu.
.png)
.png)
Yuhdi mula mengganas..
BalasHapusPak Yudhi emang gak ada puasnya. 😁
BalasHapusBakal dapat bonus gratisan nih pak Yudhi. Beli 1 dapat 3 wkkwk
BalasHapus