Papaku mantan pegawai swasta yang sudah pensiun dan mamaku hanya ibu rumah tangga yang kadang menerima pesanan kue dari tetangga. Sejak aku kecil mereka selalu berhemat agar aku bisa sekolah tinggi dan sekarang aku ingin gantian membantu mereka. Aku ingin membayar listrik rumah tanpa harus menunggu jatuh tempo agar adikku tidak merasa bersalah minta uang jajan dan agar ibuku bisa istirahat tanpa harus berdiri berjam-jam di dapur. Tapi ternyata ijazah saja tidak cukup sehingga sudah lebih dari sebulan aku bolak-balik ikut wawancara kerja dan semua hasilnya nihil.
Beberapa perusahaan menolakku tanpa alasan yang jelas sedangkan yang lain mengatakan aku terlalu pemalu atau terlalu kaku untuk ditugaskan sebagai tenaga pemasaran. Ada satu pewawancara yang bahkan menatapku lama lalu berkata sambil tertawa kecil yaitu kamu ini terlalu cantik nona.. untuk ditempatkan digudang pelabuhan. Saat itu aku hanya tersenyum meskipun rasanya ingin menelan ludah dan pulang saja. Entahlah mungkin mereka hanya ingin menggoda atau mungkin benar karena aku memang sering dibilang seperti itu sejak masih sekolah.
Kulitku putih bersih seperti porselen rambutku lurus dan hitam mengilap biasanya kusanggul simpel atau dikuncir rendah. Sebagai gadis chinese mataku sipit dan agak sayu. Bibirku kecil dan merah alami. Tubuhku ramping dengan dada kecil tapi kencang serta kaki panjangku nyaris selalu kupakaikan rok sebatas lutut. Pernah suatu kali mamaku dirumah bilang wajahku katanya kalem seperti gadis tionghoa zaman dulu sehingga terkesan klasik oriental dan katanya terlalu halus untuk dunia kerja yang keras.
Sampai akhirnya setelah hampir putus asa aku menerima panggilan wawancara dari sebuah perusahaan kontraktor besar bernama Kusumo Holdings. Nama itu cukup asing di telingaku tapi setelah mencari tahu di internet ternyata perusahaan itu punya proyek-proyek besar di berbagai kota mulai dari apartemen mewah sampai pusat perbelanjaan modern. Aku sempat merasa gugup tapi juga punya harapan kecil sehingga mungkin ini saatnya nasibku berubah.
Awalnya aku mengira akan bertemu staf personalia seperti biasanya yaitu duduk di ruang wawancara kecil sambil menjawab pertanyaan standar tentang dunia kerja. Tapi ternyata tidak begitu. Karena setelah sampai di gedung tinggi menjulang yang berdiri megah di kawasan pusat bisnis ibukota aku langsung diarahkan oleh resepsionis ke lift khusus yang menuju lantai paling atas. Menurutnya di sana bukan staf personalia yang menungguku melainkan langsung pendiri sekaligus pemilik perusahaan itu sendiri yaitu Tuan Bram Kusumo.
"Kalau saya boleh tahu posisi apa yang tersedia untuk saya pak ? Tanyaku dengan antusias.
Pak Kusumo tak menjawab langsung. Ia malah bangkit dari kursi lalu berjalan perlahan mengitari mejanya sambil membawa map lamaran kerjaku. Saat berdiri di belakangku ia bicara tanpa menyentuhku tapi aku bisa mencium aroma parfumnya yang maskulin dan mahal.
"Asisten pribadi.. katanya.
"Tapi tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak butuh sekretaris biasa. Aku butuh seseorang yang tahu posisi. Mengerti perintah dan tahu kapan harus diam. Katanya.
Jantungku berdebar tak karuan sehingga aku bertanya-tanya apa maksudnya.
"Maaf pak.. saya kurang paham maksudnya. Tanyaku.
Ia mencondongkan tubuh sedikit sehingga suaranya semakin rendah.
"Aku sudah mengamati kamu sejak kamu masuk tadi. Dari cara kamu berjalan.. cara kamu tundukkan kepala saat menyapa resepsionis. Kamu bukan gadis yang biasa bicara keras atau menantang. Kamu penurut. Tapi kamu juga penasaran. Itu kombinasi yang sangat langka Clarissa. Katanya.
Aku terdiam. Tubuhku terasa panas bukan karena marah tapi karena sesuatu yang asing bergetar di dadaku. Di antara ketakutan dan rasa malu ada desiran kecil di selangkanganku.
"Jadi apa tepatnya pekerjaan ini. tanyaku pelan.
Pak Kusomo kembali ke mejanya untuk duduk lalu tersenyum kecil. Tapi bukan senyum hangat sehingga itu senyum orang yang tahu bahwa ia bisa memiliki apa saja yang ia inginkan.
"Besok sore. Kalau kamu masih berminat dengan pekerjaan ini. Kamu bisa langsung datang ke tempat kediamanku di kawasan Dipalama. Ada sesuatu yang harus kamu baca sebelum kamu memutuskan untuk menerima pekerjaan jni. katanya.
"Apa aku harus menandatangani kontrak kerja ? tanyaku.
“Iya. Tapi ini bukan kontrak kerja biasa. Kontrak ini mungkin bisa mengubah hidupmu atau nasib keluargamu. Katanya.
Pria itu memandangku dalam-dalam sehingga matanya tajam menembus pertahananku. Lalu ia berkata pelan namun tegas dengan nada yang membuat tubuhku merinding.
"Pikirkanlah baik baik Clarissa.. Kalau kamu datang artinya kamu sudah siap menjadi milikku. Katanya.
Aku tercekat. Bibirku bergetar tapi aku tidak membantah karena di balik ucapannya yang dingin itu ada tawaran yang menggoda sekaligus menakutkan.
"Aku mau kamu pikirkan baik baik tawaran ini. Gajinya bisa mencapai belasan juta per bulan. Ditambah bonus kepatuhan kalau kamu bersedia Clarissa. Lanjutnya santai.
Aku menunduk dan napasku memburu. Tawaran itu terlalu besar untuk ditolak tapi juga terlalu mengerikan untuk langsung diterima. Namun diamku dalam dunia seperti ini sudah cukup menjadi jawaban.
Kontrak PengabdianKONTRAK PENGABDIAN PRIBADI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Clarissa Tanuwijaya, menyatakan kesediaan saya untuk tunduk dalam relasi pengabdian kepada Tuan Bram Kusumo...
Saya akan menjalani peran submisif, mengikuti arahan fisik, mental, dan emosional, selama dalam batas yang disepakati dan diawasi langsung oleh Tuan Kusumo sebagai Dominan...
Saya bersedia menjalani latihan, hukuman, pengawasan, dan kendali dalam waktu yang ditentukan...
“Apa ini serius...?” bisikku.
"Pintunya tidak dikunci. Langkah pertamamu dimulai dari sana.
"Ganti pakaian. Lepas semuanya. Kenakan gaun hitam itu tanpa bra dan tanpa dalaman. Lalu ketuk pintu kayu di ujung lorong. Diam. Tunduk. Dan tunggu" tulisnya.
Tanganku gemetar saat menyentuh kain tipis yang terlipat rapi di bawah kertas itu sehingga jantungku berdetak semakin keras seperti sedang bersiap menghadapi sesuatu yang tidak bisa kuundur lagi. Aku tahu ini bukan sekadar perintah biasa dan aku juga tahu tubuhku sudah lebih dulu memberi jawaban sebelum pikiranku sempat bertanya.
Dengan pelan aku melepaskan blouse dan roknya satu per satu lalu memakai gaun hitam tipis transparan berenda itu ke tubuhku. Gaun itu sangat tipis sehingga begitu kukenakan aku langsung bisa melihat bayangan tubuhku sendiri di balik kainnya terutama bagian dada yang kini semakin terasa sensitif karena udara dingin dan sorot cahaya lilin yang temaram. Putingku mengeras dan terasa tegang sementara kain renda yang menempel di kulit membuat setiap gerakan terasa ringan tapi sangat menggoda.
Aku berdiri di depan cermin lalu menghela napas panjang sebelum menatap lorong gelap yang menunggu langkahku. Lorong itu sempit dan panjang. Di ujungnya berdiri sebuah pintu kayu gelap tinggi dan berat tanpa gagang. Aku mengangkat tangan dan mengetuk tiga kali.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban. Namun pintu itu terbuka sendiri perlahan. Ruangan di dalamnya remang dan lebih hangat. Aroma kayu manis dan cengkeh menyebar memenuhi udara menenangkan sekaligus membius. Di tengah ruangan berdiri Tuan Kusumo.
Latihan Pertama
Aku masih di ruangan yang sama. Aku masih berlutut di lantai dan tubuhku sudah telanjang kecuali kalung kulit hitam yang melingkar di leherku. Lilin di sisi dinding tinggal separuh sehingga aroma kayu manis makin tajam dan membius. Tuan Kusumo berdiri dari kursinya. Tubuhnya tinggi dan berwibawa bayangannya menjulur panjang di lantai marmer. Tatapannya dingin tapi penuh penguasaan sehingga ia berjalan perlahan ke arahku langkah sepatunya berdentum pelan tapi menghantam batinku seperti genderang perang.
“Bangun budak" perintahnya singkat.
Aku berdiri. Lututku sedikit goyah. Kulitku masih lembab napasku cepat tapi tak berani bicara.
“Angkat kedua tangan di belakang kepala" katanya.
Aku melakukannya. Ia mendekat sangat dekat sehingga napasnya menyentuh leherku.
“Kamu akan menjalani pelatihan pertamamu malam ini" katanya.
“Bukan tentang kenikmatan tapi tentang kendali dan kamu akan belajar menikmati saat kamu tidak punya pilihan" katanya.
Ia memutar tubuhku. Di belakangku ia menarik rambutku perlahan ke belakang sehingga membuat leherku terekspos. Lalu dengan nada rendah dan menekan ia membisikkan satu kalimat.
“Duduklah seperti boneka kecil yang patuh !! katanya.
Aku menurunkan tubuh perlahan ke lantai lalu duduk dengan lutut terbuka lebar di depannya. Punggungku tegak tangan di belakang kepala dan bokongku menyentuh lantai dingin. Ia mengambil kursi kayu tinggi lalu duduk di depanku menjelajahi pandangannya ke seluruh tubuhku dari atas sampai bawah.
"Buka kakimu sedikit saja !! katanya.
Aku menuruti sehingga udara dingin menyentuh bagian paling pribadi di antara pahaku yang lembab dan mulai berdenyut. Aku bisa merasakan cairan hangatku sendiri menempel di bagian dalam pahaku. Tuan Kusumo mencondongkan tubuh hingga wajahnya dekat dengan wajahku.
“Kamu tidak diizinkan menyentuh tubuhmu malam ini tidak dengan tangan tidak dengan suara tidak dengan pikiran. Aku yang mengatur segalanya" katanya.
Tangannya meraih daguku lalu menegakkannya dengan tenang. Ujung telunjuknya menelusuri garis rahangku yang menegang lalu turun ke leher dan berhenti di belahan dada. Ia menekan perlahan seolah hanya untuk mengingatkanku bahwa setiap inci tubuhku sudah berada di bawah kuasanya.
“Kamu akan duduk di sini selama satu jam tanpa bergerak. Setiap kali kamu merasa ingin menggeser paha kamu harus menahannya. Setiap rasa gatal atau gelisah harus kamu nikmati karena itu bukan milikmu sekarang. Itu milikku" katanya.
Aku menelan ludah keras. Jantungku berdebar cepat dan tanganku gemetar di atas pangkuan tapi aku tetap menunduk dan patuh. Ia berbalik lalu mengambil kamera kecil di pojok ruangan. Dengan tenang ia meletakkannya di atas tripod dan mengarahkannya langsung ke tubuhku.
“Ini bukan untuk disebar. Ini untukmu agar kamu nanti melihat betapa indahnya tubuh seorang gadis amoy saat ditundukkan oleh pribumi. katanya.
Suara itu membuat bulu kudukku berdiri. Ia kembali berjalan ke belakangku sehingga aku mendengar langkahnya di atas lantai lalu napasnya terasa di tengkuk. Tanpa peringatan ia menyentuh pantatku.
“Kamu malu ? Tanyanya datar.
Aku hanya bisa terdiam.
“Jawab budak !! katanya.
“Iya Tuan.. kataku dengan suaraku pecah nyaris berbisik.
Tuan Kusumo menempelkan telapak tangannya yang kasar ke pinggulku lalu menepuknya sekali dengan tekanan mantap. Plaak. Bunyi itu menggema di ruangan remang. Rasa perih singkat menjalar di kulitku tapi bersamaan dengan itu jantungku berdebar makin liar.
“Satu tepukan untuk setiap kali kamu mencoba bergerak. Setiap goyangan dan setiap helaan napas yang terlalu keras" katanya.
Aku mengangguk kecil. Tubuhku bergetar bukan karena takut melainkan karena panas yang kian menumpuk di antara pahaku.
“Sekarang lihat ke depan. Diam. Biarkan waktu dan tubuhmu memberontak. Dan biarkan aku yang menundukkannya. katanya.
Aku duduk kaku dengan paha terbuka lebar. Bokongku sudah telanjang dan tubuhku basah oleh keringat serta gairah yang tak tertumpahkan. Kamera menatapku lurus sehingga matanya mengawasi tanpa jeda dan udara dingin menggelitik bagian-bagian paling intimku.
Saat itu aku tahu satu hal. Aku mulai kecanduan pada rasa ini. Aku kecanduan pada ketundukan yang menyakitkan pada penguasaan yang mengekang pada penantian yang menggerogoti dan pada rasa malu yang anehnya membuatku semakin ingin dihancurkan.
Pagi Penyerahan
Aku belum sempat bicara apa-apa ketika ia mendorong tubuhku perlahan ke atas ranjang. Gerakannya tenang tapi tak bisa ditolak sehingga aku seperti didorong masuk ke dalam perangkap yang tak ingin kuhindari. Ia masih berpakaian lengkap dengan kemeja abu gelap yang tergulung di lengannya celana kain rapi bahkan jam tangan pun belum ia lepas tapi sorot matanya sudah bicara banyak.
Ia naik ke tubuhku sehingga lututnya menekan perlahan di antara kakiku yang gemetar. Satu tangan menyelip di belakang kepala lalu menyangga leherku agar wajahku tetap menatapnya. Tangan yang lain turun perlahan menjelajahi bagian paling sensitif dari tubuhku menekan menahan dan memancing reaksi tanpa benar-benar masuk atau menembus apa pun.
“Indah sekali" gumamnya rendah sementara matanya menelusuri tubuhku seolah sedang mengamati karya seni. “Kulitmu putih bersih halus dan hangat. Paha ini terbentuk memang untuk dijelajahi selama berjam-jam" katanya sambil mengelusnya perlahan.
Tangannya terus bergerak naik turun menjelajahi tubuhku tanpa ragu. Ia menelusuri leherku lalu turun ke bahu dan dadaku sehingga meremas dengan tekanan yang membuatku melengkung tak sadar. Jemarinya kemudian menyusuri perutku dan berhenti di pinggang lalu kembali naik ke payudara. Sentuhan itu tidak pernah cukup keras untuk membuatku meledak tapi selalu cukup untuk menyiksaku.
Aku melenguh pelan sehingga mataku berkedip menahan rasa yang semakin menumpuk.
“Tolong" bisikku nyaris tak terdengar entah memohon agar ia teruskan atau agar ia berhenti.
Ia hanya tersenyum sinis.
“Jangan minta apa-apa dulu. Tubuhmu belum cukup panas" katanya.
Aku mengerang lagi tapi kali ini lebih dalam sehingga pinggulku bergerak tanpa sadar dan mencari sesuatu yang tidak kunjung datang. Setiap kali aku hampir mencapai batas tangannya berhenti. Ia menarik diri sedikit sehingga bibirnya hanya menyentuh kulitku sebentar lalu menjauh lagi. Tubuhku gemetar karena frustrasi dan aku hampir menangis menahan perasaan yang digantung begitu saja.
“Aku ingin kamu bergetar seperti ini" bisiknya di telingaku dengan suara serak yang jelas menahan kendali. “Tapi kamu tidak akan dapat pelepasan. Kamu akan terjebak di titik ini selama aku mau sampai kamu tidak bisa memikirkan apa pun selain tubuhmu sendiri" katanya.
Aku mencengkeram sprei erat hingga jari-jariku memutih. Napasku berat dan dadaku naik turun cepat sehingga seluruh tubuhku menegang lalu menggeliat tanpa arah. Ia menahan tubuhku dengan kedua tangannya yang kokoh lalu meremas buah dadaku dengan penuh gairah. Jemarinya menelusuri wajahku dan paha mulusku yang terbuka putih. Ia menguasai setiap inci tubuhku tanpa memberiku pelepasan sedikit pun.
Peluh mulai membasahi pelipisku sehingga aku bisa merasakan tetesannya mengalir turun ke leher. Ketika aku menoleh sekilas ia menatapku dengan mata tajam lalu tersenyum tipis. Senyum itu puas penuh kendali dan kejam dengan caranya sendiri.
“Kamu belum pernah disentuh seperti ini kan" tanyanya.
Aku menggeleng pelan hampir menangis karena rasa ingin yang tidak diberi ujung sehingga saat itu aku tahu aku sudah sepenuhnya miliknya bahkan sebelum ia benar-benar merenggut kehormatanku.
Setiap sentuhannya terasa tepat dan penuh perhitungan seperti ia tahu persis bagian mana yang harus disentuh dengan lembut dan mana yang ditekan lebih dalam agar tubuhku bereaksi tanpa bisa kulawan. Setiap gerakan tangannya terasa seperti sihir yang pelan-pelan melumpuhkan logikaku dan menggantikannya dengan sensasi yang tidak bisa dijelaskan.
Aku menggeliat tanpa sadar sehingga punggungku sedikit melengkung napasku tersendat-sendat dan kemudian keluar suara lirih dari tenggorokanku.
“Aaahh Tuan" kataku sehingga tubuhku menegang dan mataku memejam karena aku sudah berada di tepi batas yang begitu dekat begitu menyiksa.
“Hmmh... Desahku panjang nyaris seperti erangan tertahan, dan saat tubuhku mulai bergetar dan kepalaku menoleh ke samping berusaha mencari tempat berpijak untuk semua yang sedang memuncak di dalamku, tiba-tiba saja ia menghentikan semuanya
Sentuhannya berhenti begitu saja seperti sengaja memotong aliran panas yang sudah hampir meledak dan aku mengerang kecil mataku terbuka lebar menatapnya dengan ekspresi setengah marah setengah putus asa
"Tuuaann... kenapa... ? kataku pelan sambil terengah
Tapi ia hanya tersenyum tipis lalu membungkuk pelan tubuhnya menekan tubuhku dengan hangat dan pelan bibirnya menyentuh keningku yang sudah basah oleh keringat. Ia tidak berkata apa-apa hanya tarikan napasnya yang berat terdengar di telingaku lalu ia berbisik sangat pelan seperti sebuah kalimat yang ditanamkan ke dalam pikiranku
“Kamu belum boleh selesai Clarissa... belum sekarang.
Aku menggigit bibirku dan hanya bisa menahan sisa gelombang yang tak kunjung reda tubuhku masih gemetar dan ia masih menatapku dengan tenang seolah puas melihatku digantung seperti ini. Setelah beberapa saat memandangiku kemudian ia membungkuk untuk mencium dahi basahku.
Lalu ia bangkit. Merapikan kerahnya. Membiarkanku tergeletak di atas ranjang, tubuh bergetar, dada naik turun, dan cairan hangat di antara pahaku mengalir tanpa kepuasan. Aku tidak disentuh untuk dimiliki. Aku disentuh untuk diingatkan… bahwa sekarang, setiap bagian dari diriku sudah menjadi milik seseorang yang tahu caranya membentuk kepatuhan dari hasrat yang dibiarkan menggantung.
Dan aku… menyukainya.
Keesokan malamnya suasananya terasa lain. Lantai atas jauh lebih sepi dari biasanya seperti semua orang memilih diam. Aku kembali berdiri di lorong yang sama tepat di depan pintu kamarnya tapi kali ini dia tidak tersenyum tidak menyapa dan tidak berbasa-basi. Di tangannya ada sebuah kotak kecil berwarna hitam sehingga tubuhku sedikit gemetar bukan karena takut tapi karena aku tahu malam ini aku datang bukan sebagai tamu lagi.
Saat itu aku disuruh mengenakan pakaian tidur yang sangat terbuka. Gaun tidur berwarna merah tua bahannya tipis dan hampir transparan sehingga di bagian dada dan bawahnya ada renda-renda kecil dan tali tipis menggantung di bahuku. Setiap kali aku bergerak kain itu ikut bergeser dan menempel ke kulitku.
Aku tidak memakai apapun di dalamnya sehingga kainnya langsung menyentuh kulit terasa dingin dan halus. Udara dari lorong menyusup masuk lewat celah-celah kain yang terbuka sehingga aku menggigil sedikit tapi bukan karena kedinginan. Gaun ini tidak seperti pakaian tidur biasa sehingga rasanya lebih mirip lingerie dan aku tahu aku diminta memakainya bukan untuk tidur.
Pandangan Tuan Kusumo turun sejenak menelusuri tubuhku tanpa tergesa lalu kembali menatap mataku. Tatapannya tidak meledak-ledak tapi seperti bara yang tahu kapan harus menyala.
Tangannya terulur membuka pintu perlahan dan tanpa sepatah kata pun ia memiringkan tubuhnya memberi jalan. Aku melangkah masuk sehingga pintu tertutup di belakangku pelan tapi pasti seperti menyegel sesuatu yang tidak akan bisa kembali seperti sebelumnya.
Di dalam cahaya lampu temaram menyelimuti ruangan. Kotak hitam di tangannya masih belum dibuka tapi aku tahu malam ini bukan hanya tubuhku yang diserahkan mungkin juga perlahan kendali atas diriku.
Ia membukanya perlahan menunjukkan isinya sebuah kalung kulit hitam dengan gantungan logam kecil di tengahnya sehingga ujungnya terhubung pada rantai tipis dari besi halus. Kalung itu bukan perhiasan bukan simbol kasih sayang sehingga itu adalah perintah.
“Kenakan" katanya singkat dengan suaranya dalam dan datar.
Tanganku sempat ragu tapi akhirnya aku mengambilnya dan memasangnya di leherku sehingga suara klik pengunciannya terdengar tegas seperti pintu yang baru saja ditutup dari dalam. Ia menggenggam ujung rantai itu dengan tenang tanpa menarik tanpa mendesak sehingga hanya menggenggam cukup untuk membuatku tahu siapa yang memegang kendali.
“Sekarang masuklah" katanya.
Aku tahu ia tidak ingin aku berjalan biasa sehingga ia tidak memberi instruksi rinci tapi aku sudah paham dan aku menurut. Aku menunduk sehingga lututku menyentuh karpet tebal dan tanganku ikut turun menahan tubuhku.
Aku merangkak sehingga suara rantai bergesekan ringan di lantai seiring langkahku masuk ke dalam kamar itu. Rasa gugup malu dan hangat bercampur jadi satu meledak pelan dalam diam bukan karena aku dipaksa tapi karena aku menerima.
Saat aku melewati ambang pintu kamar itu terasa seperti ruang lain. Lampu temaram udara hangat dan aroma kayu yang samar menyelimuti semuanya. Ia menutup pintu perlahan di belakang kami lalu menjatuhkan rantai itu begitu saja ke lantai sehingga denting logamnya pelan tapi seperti mengukuhkan satu hal bahwa malam ini bukan tentang permainan. Ini tentang kepasrahan.
Aku diam masih merangkak masih menunduk sehingga tubuhku bergetar pelan bukan karena takut tapi karena aku tahu aku sedang benar-benar dilepaskan dari kendali atas diriku sendiri dan entah bagaimana perasaan itu tidak mengerikan.
Itu justru terasa jujur.
Berlutut Dihadapan Majikan.
Di dalam kamar itu suasana seperti membeku. Lampu temaram menyelimuti dinding-dinding kayu tua dan perabotan gelap yang tampak seperti warisan dari masa lalu. Di tengah ruangan berdiri ranjang besar dari kayu jati penuh ukiran rumit yang tampak dibuat dengan tangan sehingga motif-motif kuno itu seperti menyimpan cerita keras dan berwibawa sama seperti pemiliknya.
“Berlutut di sana" katanya pelan sambil mengarahkan ujung rantai ke sisi ranjang.
Aku menurut tanpa suara lalu bergerak ke tempat yang ia tunjuk. Aku berlutut di samping ranjang kayu jati itu sehingga lututku menekan karpet hangat yang membungkam setiap suara. Kedua tanganku terlipat rapi di atas pangkuan sehingga telapak tanganku saling menekan seakan mencari pegangan. Punggungku tetap tegak meski rasa berat menggantung di leher karena rantai yang masih ia genggam.
Tuan Kusumo berdiri di belakangku sehingga tangannya masih menggenggam rantai yang melingkar di leherku. Genggamannya ringan tetapi kuat seperti garis tipis antara kelembutan dan kendali. Aku bisa merasakan beban logam itu menekan kulitku setiap kali aku menghela napas sehingga mengingatkanku bahwa aku tidak sepenuhnya milik diriku sendiri.
Ia masih memegang ujung rantai di tangannya tidak menarik dan tidak mendesak sehingga hanya menggenggam dengan tenang cukup untuk membuatku sadar bahwa meski aku bisa bergerak aku tidak pernah benar-benar bebas dan yang lebih mengejutkan aku tidak ingin bebas.
Aku mendongak perlahan sehingga wajahku terasa panas hingga pipiku memerah. Aku menahan diri untuk tidak menunduk dan saat itu pandanganku bertemu dengan matanya. Mata itu gelap dan tajam serta penuh ketenangan sehingga sorotnya tidak hanya keras karena di dalamnya ada kuasa yang lahir dari keyakinan penuh tentang siapa dirinya dan siapa aku di hadapannya.
Perlahan wajahku berubah sayu bukan karena pura-pura melainkan karena sesuatu yang tumbuh dari dalam diriku. Mataku mulai berkaca dan bibirku terbuka setengah sementara napasku dalam dan teratur meski terasa berat. Saat itu aku tidak meminta apa-apa dan aku juga tidak menolak apa-apa sehingga aku hanya terbuka pasrah dan siap menerima apa yang akan datang.
Pandangan kami terkunci sejak awal hingga tidak ada yang berani melepaskannya. Dalam keheningan itu ada bahasa lain yang tidak pernah terucap. Aku tidak bertanya dan ia juga tidak memberi penjelasan karena sejak saat itu segalanya sudah dipahami tanpa kata.
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan katanya dengan suaranya lebih rendah dari sebelumnya nyaris seperti gumaman yang menyelinap langsung ke dalam kepalaku.
Aku mengangguk pelan. Tidak ada paksaan tidak ada pertanyaan sehingga yang ada hanya keheningan yang padat dan satu perintah yang tidak perlu dijelaskan lagi. Dalam suasana seperti itu aku bukan lagi Clarissa yang biasa sehingga aku adalah cerminan dari apa yang ia inginkan tunduk diam dan siap.
Masih dalam posisi berlutut aku tetap menatapnya dari bawah sehingga wajahku sayu mataku setengah terbuka seolah menanti isyarat yang sebenarnya sudah ada sejak tadi. Napasku perlahan menghangat terasa di bibirku sendiri sementara tubuhku tetap diam hanya jari-jariku yang mulai bergerak.
Kedua tanganku terangkat pelan mendekat ke tubuhnya yang berdiri kokoh di hadapanku. Jemariku menyentuh bagian pinggangnya hati-hati seperti menyentuh sesuatu yang sakral. Kain celananya terasa halus di telapak tanganku tapi ketegangan di baliknya lebih kentara dari apa pun sehingga sebuah kesadaran bahwa kendali yang ia pegang kini mulai terasa bentuknya secara nyata.
Dengan gerakan perlahan dan penuh niat aku menarik turun celananya sehingga kain itu meluncur melewati pinggulnya dan jatuh ke lantai tanpa suara. Yang tersisa di hadapanku adalah sebatang penis yang sudah tegang padat dan menuntut bukan dengan kata-kata tapi dengan keberadaannya yang tak bisa diabaikan.
“Gunakan tanganmu" perintahnya pelan dengan suara rendah yang terdengar berat dan tak memberi ruang untuk menolak.
Tanpa berkata apa-apa aku langsung menggerakkan tangan kananku meraih penisnya yang sudah tegang sejak tadi dan terasa panas di telapak tanganku seperti sesuatu yang hidup dan menuntut perhatian penuh. Aku menggenggamnya perlahan lalu mulai menggerakkan tanganku naik turun dengan ritme yang hati-hati dan teratur karena aku tahu setiap gerakan kecil bisa membuatnya bicara lebih jujur dari kata-katanya.
Ia menarik napas dalam dan terdengar mendesah pelan sehingga suara berat itu keluar dari tenggorokannya tanpa bisa ditahan seperti tekanan yang perlahan dilepaskan. Aku tidak menoleh dan tidak bertanya karena aku tahu itu tanda bahwa ia menikmati apa yang aku lakukan. Tubuhnya tetap diam di depanku tapi aku bisa merasakan bagaimana napasnya mulai berubah sedikit lebih cepat dan lebih berat seiring gerakan tanganku yang mulai menemukan irama.
Tanganku terus bergerak naik turun mengelus dan mengocok penis hitam itu yang semakin lama semakin besar dan keras saja. Aku bisa merasakan kekuatan di balik diamnya seperti pria yang terbiasa menahan dan mengatur tapi sekarang membiarkan dirinya menikmati hasil dari kendali yang ia ciptakan sendiri. Aku tidak melihat wajahnya tapi aku bisa merasakan matanya terus menatapku dari atas mengawasi setiap gerakan seolah menilai seberapa dalam aku benar-benar menyerahkan diri.
Dan aku tahu malam ini bukan hanya tentang menyentuh tapi tentang menunjukkan kalau aku siap memberi lebih tanpa diminta.
“Aku mau merasakan yang lebih nikmat dari ini" ucapnya pelan tapi jelas sehingga suaranya datar tanpa emosi tapi justru karena itulah kata-katanya terdengar seperti perintah mutlak yang tak bisa dibantah.
“Sekarang gunakan mulutmu" katanya.
Aku diam dan jantungku berdebar semakin keras. Saat itu aku langsung mengerti maksudnya. Tubuhku tetap berlutut dan tanganku masih menyentuhnya namun aku tidak bergerak. Ada jeda yang terasa asing, sebuah keraguan yang tiba tiba tumbuh. Bukan karena aku tidak tahu harus bagaimana melainkan karena ada sesuatu dalam diriku yang belum siap melangkah sejauh itu. Aku menoleh sedikit ke samping karena aku tidak berani menatap langsung ke wajahnya. Tubuhku kaku, nafasku tertahan dan mulutku tetap rapat.
Ia menyadarinya lalu suasana berubah seketika. Tangan besarnya menarik rantai yang terhubung di leherku, tidak keras namun cukup membuatku tersentak dan menegakkan kepala secara tiba tiba. Kalung yang melingkar di leherku ikut menegang dan menekan hingga nafasku sempat terhambat. Aku terdiam bukan karena sakit melainkan karena kaget. Tatapannya juga berubah, tidak lagi tenang melainkan penuh teguran. Matanya menuntut penjelasan atas keraguanku seolah sikap diamku telah mengganggu tatanan yang sudah ia bangun sejak awal.
"Jangan coba membantah.. turuti semua perintah tuanmu !! katanya singkat. Suaranya lebih dingin sekarang.
Aku menggigit bibirku. Tubuhku masih bergetar, bukan karena takut, tapi karena campuran rasa bersalah, bingung, dan terjebak dalam batas yang tak kukira akan segera kutemui. Aku ingin tunduk. Tapi ada sisi dalam diriku yang belum sepenuhnya bisa. Dan ia tahu itu.
Tubuhku masih terdiam di tempat. Napasku berat dan dada terasa sesak seperti habis berlari jauh, tapi aku sama sekali tak bergerak. Hanya suara napasku yang tidak teratur dan deru napasnya yang pelan namun berat memenuhi ruangan, menciptakan ruang hening yang justru makin menegangkan. Rantai tipis yang menggantung di leherku terasa dingin dan berat, bukan karena logamnya, tapi karena makna yang perlahan mengunci pikiranku.
Ia berdiri di depanku—tegak, tenang, dan penuh keyakinan. Sorot matanya tajam dan dalam seperti sedang menguji seberapa jauh aku bisa patuh, seberapa jauh aku akan rela kehilangan kendali. Ia tidak perlu menarik rantai itu lebih keras. Kendalinya tidak terletak pada kekuatan, tapi pada tatapan dan diamnya.
“Tunggu apa lagi,” ucapnya pelan tapi tegas, tanpa meninggikan suara, “buka mulutmu.”
Aku menelan ludah lalu mataku naik perlahan menatap wajahnya. Tubuhku bergetar kecil entah karena malu, takut atau justru karena sesuatu yang lebih dalam. Lututku menempel pada lantai yang dingin dan posisiku kini jelas lebih rendah darinya dalam segala arti. Saat itu aku tahu apa yang ia inginkan namun aku juga sadar ini bukan sekadar permainan fisik. Ini ujian dan aku sedang disaksikan dari atas, diuji sekaligus dibentuk.
Tanganku yang kanan terangkat pelan dan sedikit gemetar ketika mulai mendekat ke arah pinggangnya. Aku menahan napas sementara kepalaku ikut menunduk. Mulutku terbuka perlahan tanpa suara, hanya ada denyut keras di dadaku dan gemuruh pikiran yang bercampur antara kebingungan dan hasrat.
Kusumo tidak bergerak. Ia hanya menatapku seperti sedang menunggu sesuatu dari dalam diriku sendiri, bukan sekadar tindakanku. Ia ingin aku memilih, bukan sekadar mengikuti. Dan saat jari-jariku menggenggam batang penisnya dan memasukannya kedalam mulut, aku tahu aku sudah melangkah terlalu jauh untuk bisa kembali.
Dan ia... belum berkata apa-apa lagi. Tapi ia tahu—aku sedang menyerahkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tubuhku.
Masih dalam posisi berlutut, aku menegakkan tubuh pelan, napasku masih belum stabil. Tanganku kembali terangkat dengan sedikit ragu, tapi akhirnya menyentuh batang penisnya yang berurat urat. Aku menunduk sedikit, lalu menempelkan bibirku ke bagian ujung kepala penisnya. Sentuhanku ringan, nyaris seperti ciuman yang ragu, tapi cukup untuk membuat napas Tuan Kusumo berubah—dari tenang menjadi berat, panjang, terdengar jelas di ruangan yang masih sunyi.
“Hhh... ya,” gumamnya pelan sambil menatap ke bawah, matanya tak lepas dariku.
Aku kembali menjulurkan lidah, mulai menjilat dan mengulangi gerakan itu perlahan, lebih mantap dari sebelumnya. Bibirku bergerak, lidahku ikut menelusuri, membasahi bagian itu dengan gerakan yang teratur. Tak ada kata-kata dari mulutnya, tapi suara napas dan gumaman pendeknya cukup memberiku arahan. Aku tahu ia menikmati bagaimana aku melakukannya.
Lalu, dengan sedikit keberanian, aku buka mulutku lebih lebar, menerima semuanya lebih dalam, Memasukan penis itu perlahan-lahan, tanpa terburu. Kepalaku bergerak pelan maju mundur, napasku makin berat karena posisinya yang membuat tubuhku menegang. Tangan kirinya menyentuh rambutku, tidak menarik, hanya menyentuh ringan seolah mengakui bahwa kini aku miliknya sepenuhnya.
Lenguhan pelannya semakin jelas dalam dan berat sehingga setiap suara yang keluar dari bibirnya seolah jadi hadiah atas tindakanku. Aku menghisapnya pelan penuh perhatian ingin memberinya kendali sekaligus kepuasan. Di antara keheningan hanya suara basah yang samar dan tarikan napas yang tertahan memenuhi udara.
Aku tak berkata apa-apa tapi tubuhku bicara tentang kepasrahan tentang pengabdian dan tentang bagaimana ia sudah mengubah posisiku dalam satu malam.
“Uuhh kamu sangat berbakat Clarissa” desisnya di antara napas yang mulai tak beraturan. Ia menatap ke bawah sehingga ekspresinya berubah lebih panas dan lebih liar. “Aku memang selalu suka gadis seperti kamu gadis Cina yang lembut penurut dan tahu kapan harus tunduk” katanya.
Aku tidak menjawab hanya memperkuat gerakanku sehingga menyesuaikan irama tubuhku dengan napas berat yang semakin memburu dari mulutnya. Kepalaku terus bergerak maju mundur di antara pahanya dan suara lembab dari setiap gerakan makin terdengar jelas dalam ruang yang hening dan tertutup.
Tangan kirinya yang sejak tadi menyentuh rambutku kini mulai mencengkeram lebih kuat. Ia tidak kasar tapi tekanan itu cukup untuk memberi perintah tanpa kata sehingga ia mendorong pelan dan memandu gerakanku dengan cara yang penuh kendali. Aku menurut sehingga tubuhku ikut menyesuaikan ritme yang ia inginkan.
Mataku sedikit terpejam dan aku bisa merasakan betapa keras dan panasnya ketegangan di tubuhnya. Ia menggeram pelan napasnya semakin berat sehingga aku tahu ia makin dekat ke puncak dari pengendaliannya.
“Terus begitu” gumamnya hampir seperti rintihan tertahan. “Jangan berhenti Clarissa. Aku ingin kamu tahu rasa setiap bagian dari aku” katanya.
Sentuhan itu dorongan itu dan cara ia menguasai gerakanku tak hanya mengikat tubuhku tapi juga pikiranku sehingga aku tahu di saat seperti ini aku sepenuhnya miliknya.
Setelah melakukan hal itu ia perlahan mendekat. Langkah-langkahnya tak tergesa seperti seseorang yang tahu persis apa yang ia lakukan sehingga kedua tangannya yang besar dan kasar meraih lenganku tak kasar tapi mantap. Ia menuntunku berdiri lalu menggiringku ke arah ranjang yang berada di sisi ruangan. Tidak ada paksaan namun tak pula ada celah untuk menolak.
Aku menoleh sebentar menatap matanya mencari sesuatu tapi ia tak memberi ruang untuk bertanya. Ia hanya mengangkat daguku seakan berkata tanpa kata-kata ikuti saja sehingga aku menurut.
Kain tipis di tubuhku kembali disentuh oleh ujung jarinya pelan nyaris seperti godaan yang disengaja. Ia tidak terburu-buru sehingga tangannya menyentuh bagian atas tali lingerie merah yang menempel ringan di bahuku menariknya sedikit turun hanya untuk merasakan bagaimana kulitku bereaksi. Udara di dalam ruangan tidak sedingin sebelumnya tapi kulitku terasa semakin panas di bawah sentuhannya.
Gaun lingerie merah yang kupakai sangat tipis penuh renda di bagian dada dan paha sehingga menyatu sempurna dengan lekuk tubuhku. Potongannya tinggi dan terbuka di samping memperlihatkan lebih banyak daripada yang ditutupinya. Kainnya begitu halus sampai aku merasa hampir telanjang hanya dilapisi oleh keberanian samar yang menyaru sebagai kain.
Jemarinya menyusuri garis bahuku turun perlahan ke sepanjang lengan lalu berhenti di sisi pinggangku yang hanya tertutup oleh sehelai renda tipis. Aku menahan napas saat ia menatapku bukan dengan tergesa atau nafsu liar tapi dengan sorot yang tajam dan dalam seolah sedang membaca isi kepalaku lewat tubuhku.
Ia melangkah setengah lingkaran memandang dari sudut lain tidak menyentuh lagi hanya menatapku dari atas ke bawah seperti sedang menikmati sebuah karya seni yang hanya ia yang boleh memiliki.
Aku berdiri diam hanya dalam gaun tipis merah yang hampir tidak menyembunyikan apa pun sehingga bahkan itu terasa seperti terlalu banyak. Kulitku bergidik bukan karena dingin tapi karena aku tahu ia sedang menikmati rasa malu yang menggantung dalam diriku bercampur dengan sesuatu yang lebih liar dan sulit dijelaskan dorongan untuk menyerah sepenuhnya.
“Merah” gumamnya sehingga matanya menatap tajam ke arah tubuhku yang hanya tertutup renda tipis. Suaranya dalam dan perlahan seperti sedang menikmati setiap detik keheningan.
“Bukankah gadis cina memang suka warna ini” lanjutnya sehingga bibirnya melengkung setengah senyum.
“Merah itu bukan hanya simbol keberuntungan tapi juga gairah. Dan di tubuhmu Clarissa warna ini bukan cuma sekedar tradisi tapi juga sebuah undangan” katanya.
Ia melangkah mendekat menurunkan pandangannya perlahan dari wajahku ke dada lalu ke paha.
“Di mataku gaun merah di kulit seputih ini bukan lambang kesucian tapi tanda bahwa kamu siap dimiliki” katanya.
Aku tak menjawab hanya menunduk sedikit menahan detak jantung yang tak kunjung tenang sementara rasa itu antara dipamerkan dan dikuasai menjadi lebih nyata dari sebelumnya.
Tuan Kusumo mendekat sehingga tubuhnya hangat dan sedikit basah oleh keringat meski ia belum banyak bergerak. Saat dadanya menyentuhku aku langsung merasa panas seperti ada sesuatu yang terbakar di dalam tubuhku. Aku kaku sejenak tapi kemudian semua kekuatan di lututku seolah hilang.
Tangannya mulai menyentuh tubuhku perlahan tidak terburu-buru sehingga ia menyentuh dengan cara yang membuatku tidak bisa melawan. Ia tahu bagian mana yang harus disentuh pelan dan mana yang ditekan sedikit lebih keras sehingga setiap sentuhan membuat tubuhku merespons sendiri. Aku hanya bisa menggigil napasku berat dan kepalaku terasa kosong.
Ia menatap ke bawah ke arah gaun lingerie merah yang menempel di tubuhku. Tanpa bicara ia meraih talinya di bahu lalu menariknya turun perlahan dari kedua sisi sehingga kain tipis itu meluncur turun dengan mudah dan menyentuh lantai tanpa suara. Kini aku berdiri sepenuhnya telanjang di hadapannya sehingga tubuhku langsung merinding.
Ia menatapku dengan mata tajam lalu tangannya kembali menyentuh bagian pinggangku bergerak naik ke punggung dan lalu turun lagi ke pinggul. Tidak ada bagian dari tubuhku yang luput dari sentuhannya sehingga aku ingin menutup tubuhku tapi tidak bisa. Aku terlalu terjebak antara rasa malu dan rasa ingin.
Tuan Kusumo mendekatkan mulutnya ke telingaku sehingga suaranya pelan tapi jelas.
“Lihat tubuhmu Clarissa. Ini milikku sekarang" katanya.
Setelah itu ia memeluk tubuhku erat dalam posisi berdiri. Kami saling berhadapan begitu dekat sampai aku bisa merasakan panas dari napasnya yang kasar menempel di kulit wajahku. Matanya menatapku tajam dan penuh gairah seperti binatang buas yang menahan diri untuk tidak menerkam buruannya terlalu cepat.
Aku hanya bisa diam dan menatap balik sebentar sebelum akhirnya memejamkan mata. Bibirnya menempel di bibirku lalu mulai melumatnya pelan tapi dalam sehingga ia menciumku dengan cara yang membuatku tak bisa bernapas dengan normal. Tidak terburu-buru tapi tetap menguasai sehingga aku mengeluarkan suara pelan tanpa sadar.
“Mmhh" kataku.
Tangannya mulai bergerak dari pinggangku menelusuri bagian samping tubuhku lalu naik ke depan. Ia memegang buah dadaku dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat meremasnya perlahan sambil terus menciumku. Aku tersentak sedikit karena sentuhan itu membuat tubuhku makin panas dan sulit berdiri dengan tenang.
“Ahh” desahku sehingga suara itu keluar begitu saja saat tangannya mencengkeram lebih erat.
Ia menarik wajahnya sedikit dari bibirku lalu menatapku dari jarak sangat dekat.
“Kamu makin jujur sekarang” katanya pelan.
“Tubuhmu nggak bisa bohong Clarissa” katanya.
Aku menggigit bibir bawahku menahan desahan lain yang nyaris keluar tapi saat tangannya kembali bergerak mengelus bagian paling sensitif di bawah perutku aku tak bisa menahannya lagi.
“Hhhhh… tolong… gumamku lirih, tapi aku sendiri tidak tahu sedang memohon untuk diberi lebih atau agar semuanya berhenti.
Tapi Kusumo tidak menjawab. Ia hanya menatapku sambil terus menggerakkan tangannya di tubuhku. Diamnya justru membuatku makin bingung dan semakin tak berdaya.
Ia mendorongku perlahan ke ranjang dan aku tidak melawan sama sekali. Lembaran sprei terasa dingin menyentuh punggungku sementara kulitku sudah mulai berkeringat karena panas yang naik perlahan. Di atas ranjang itu ia tidak langsung menyerbu tapi menyelimuti tubuhku dengan tenang. Tangannya bergerak dari leherku turun ke buah dada lalu ke paha mulus dan betis kemudian naik lagi seolah ingin menghafal setiap lekuk tubuhku dengan penuh hormat namun tetap penuh kuasa.
Pernapasannya semakin berat dan helaannya langsung menyentuh leherku sehingga aku menggeliat pelan. Keringatnya menetes jatuh ke perutku dan aku semakin sadar bahwa kami berdua sudah terbawa dalam gairah yang tak mungkin dihentikan lagi.
Ketika ia akhirnya menindihku sepenuhnya tidak ada lagi ruang untuk ragu atau menolak. Tubuhnya besar dan berat menekan tubuhku. Setiap gerakannya memacu birahi tanpa memberi jeda sedikit pun. Ranjang berderit keras mengikuti ritme yang semakin cepat. Napasnya kasar dan berat langsung menghembus ke wajahku. Kulit tubuhnya yang gelap dan basah oleh keringat menempel erat di kulitku yang putih sehingga kontras itu terasa di setiap gesekan dan tekanan.
Tubuhku seperti terbakar dari dalam. Aku menggeliat tak bisa diam tanganku mencengkeram seprai kuat-kuat sementara punggungku menegang mengikuti irama hentakan penisnya yang semakin dalam menghujam. Aku menggigit bibir tapi desahan tetap lolos dari mulutku.
"Ahh… ahh… Tuaan…" desahku putus-putus sambil tubuhku bergetar hebat.
Aku hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat ketika ia mendorong tubuhnya lebih dalam dan lebih cepat. Setiap hentakan membuatku melengkung tak berdaya dan kepalaku membanting ke kanan lalu ke kiri karena aku benar-benar tak tahu lagi bagaimana menyalurkan rasa yang terus menumpuk di dalam diriku. Satu tangannya mencengkeram pinggangku begitu keras sehingga aku sama sekali tak bisa bergerak menjauh dan tubuhku terkunci rapat mengikuti setiap gerakannya.
Keringatnya menetes jatuh ke buah dadaku lalu menelusuri kulitku yang sudah panas membara. Aku tidak sempat mempedulikan rasa lengket itu karena seluruh perhatianku sudah tertelan habis oleh caranya menekan dan menahan tubuhku agar tetap berada di bawah kendalinya. Napasku terputus-putus sementara suaraku pecah tanpa bisa kutahan lagi.
"Ahh… ahh… terlalu… dalam… erangku lirih tapi putus-putus sambil tubuhku terus bergetar hebat mengikuti ritme penisnya yang tak henti menghujam liang kewanitaanku.
Tuan Kusumo tiba-tiba berhenti dan menarik napas panjang dalam-dalam. Dalam sekejap ia memutar tubuhku keras hingga aku terjatuh dalam posisi menungging menghadap ke arahnya. Gerakannya begitu kasar dan cepat sehingga aku tidak sempat berpikir atau menyiapkan diri sama sekali. Ia langsung mendorong batangnya masuk lagi ke dalam kemaluanku dengan tenaga penuh. Jlebb.
Aku terperanjat hebat ketika hentakan pertama menyambar dalam. Tubuhku terdorong ke depan tapi langsung tertahan oleh kedua tangannya yang kuat mencengkeram pinggangku erat. Jemarinya menekan kencang seakan ingin menandai kulitku lalu hentakan demi hentakan kembali datang dari belakang tanpa ampun. Ranjang kayu berderit keras mengikuti setiap dorongan sementara tubuhku berguncang hebat dan aku tidak bisa melakukan apa pun selain menahan posisi itu serta membiarkan diriku dikuasai sepenuhnya.
Ranjang kayu di bawah kami berderit makin keras setiap kali tubuhnya menghantam dari belakang. Suaranya menyatu dengan napasnya yang memburu dan berat sementara peluh menetes jatuh dari tubuhnya ke punggungku yang terbuka dan sudah basah oleh keringat. Setiap hentakan penisnya merojok liang kewanitaanku makin dalam membuatku melenguh tak terkendali.
"Ahh… ahh… Tuan… terlalu… kasar… erangku pecah-putus sambil tanganku mencengkeram seprai kuat-kuat dan pinggulku terangkat mengikuti irama brutal yang tak memberi jeda.
Aku tidak bisa berkata apa-apa hanya napasnya yang kasar dan berat terdengar semakin dekat di telingaku diselingi geraman pendek dari tenggorokannya seperti binatang buas yang menahan diri supaya tidak meledak terlalu cepat dan itu membuat pikiranku semakin kabur serta tubuhku bergerak mengikuti iramanya secara otomatis seolah aku sudah kehilangan kendali penuh atas apa yang kulakukan.
"Uuhh… aahh…" desahku keluar tanpa bisa kutahan karena tubuhku sudah tidak sanggup melawan setiap dorongan dan hentakan yang ia lakukan dari belakang.
Tangannya mencengkeram pinggangku lebih kuat seolah tidak ingin aku bergeser sedikit pun dari genggamannya dan dengan tarikan napas yang semakin memburu ia mulai bicara di antara geramannya.
"Lu budak gue sekarang Clarissa !! Nggak ada harga diri dan nggak ada pilihan. Dengerin baik-baik!" kata Tuan Kusumo.
Aku hanya bisa mengerang "Ahhh… T-Tuan…" sementara leherku menegang dan tubuhku ikut terdorong ke depan setiap kali ia menekan penisnya lebih dalam dan lebih kuat.
"Badan putih lu cuma buat gue. Gue pake gue bantai gue nikmatin seenak kontol gue!" lanjutnya dengan suara parau.
Aku menungging di atas ranjang kayu jati yang berderit setiap kali pinggulku terdorong maju. Sprei yang kusut menempel pada dadaku yang tertekan basah oleh keringat dan panas tubuh yang terus meningkat. Kedua tanganku menekan kuat sprei itu sementara jari-jariku mencengkeram kainnya sampai hampir robek. Aku berusaha menahan diri tapi setiap dorongan dari belakang membuat lenganku bergetar dan tubuhku terhuyung ke depan.
Batangnya menghujam tanpa ampun. Setiap kali menancap aku merasakan dinding kemaluanku menegang lalu menjepit dan terbuka lagi dengan paksa. Pinggangku dicengkeram erat sampai jari-jarinya menekan dalam dan rasanya akan meninggalkan bekas di kulit putihku. Pinggulku ditarik mundur dengan kasar lalu dihantam kembali ke depan seolah aku hanya tubuh untuk menyalurkan hasrat liarnya.
Punggungku melengkung sementara dadaku tertekan ke bawah dan payudaraku berayun mengikuti setiap hentakan. Napasku putus-putus berganti antara erangan dan helaan panjang yang tidak bisa kutahan. Kepalaku ditarik ke atas dengan jambakan rambut sehingga leherku tertekuk paksa. Rambutku menempel di wajah yang basah oleh keringat dan aku merasakan nafasku tercekat di tenggorokan.
Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku dengan napas panas dan kasar lalu kembali menghujam dengan lebih cepat. Suara tubuh kami bertabrakan keras bercampur dentuman ranjang yang hampir patah. Aku menggeliat tapi genggamannya di pinggang membuatku tak bisa bergerak. Satu tangannya yang lain meraba punggungku menekan lalu turun ke bokongku menepuknya keras sebelum meremas kasar.
Aku berusaha mengatur napas tapi tubuhku sudah tidak lagi tunduk pada pikiranku. Pinggulku mulai bergerak mengikuti iramanya seakan tubuhku sendiri mencari hentakan itu. Setiap kali batangnya masuk lebih dalam aku mendesah keras dan gemetar merasakan diriku ditaklukkan sepenuhnya.
Aku tahu malam itu aku tidak lagi punya kendali. Tubuhku menungging terbuka dan sepenuhnya menjadi miliknya.
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pantatku. Suaranya nyaring memecah kamar yang pengap. Kulitku langsung panas dan perih tapi tubuhku bergetar hebat bukan hanya karena sakit melainkan karena sensasi aneh yang menjalar bersamaan.
Tuan Kusumo menamparku lagi lebih keras hingga nafasku tercekat. Tubuhku terdorong ke depan payudara menekan ranjang dan aku merasakan pipi pantatku berdenyut hangat memerah. Setiap kali tangannya menghantam aku terperangkap antara ingin menjerit menolak atau justru larut dalam gelombang yang tak terkendali.
Ia tidak berhenti. Tamparan demi tamparan terus menghujani pantatku dan di antara rasa sakit yang menusuk ada getaran aneh yang membuatku semakin lemah. Aku menggigit bibir dan mataku terpejam sementara napasku putus-putus.
Dorongan tubuhnya semakin liar. Pinggulnya menekan tanpa ampun seakan ingin menghancurkan semua sisa perlawanan dalam diriku. Tangannya yang mencengkeram pinggangku begitu kuat sampai kulitku terasa hampir memar dan aku hanya bisa bertahan di posisi menungging itu tanpa kuasa bergerak ke mana pun.
Aku bisa merasakan tubuhnya tegang. Nafasnya semakin berat dan panas tubuhnya membakar punggungku. Ia menahan pinggangku erat lalu mendorong lebih dalam lebih cepat lebih brutal. Suara derit ranjang berpadu dengan dentuman tubuhnya dan semuanya berpuncak pada satu hentakan keras yang membuatku hampir terjatuh ke depan.
Tubuh besar itu menegang. Tuan Kusumo menggeram rendah dengan suara dalam penuh tenaga lalu seluruh beban dalam dirinya meledak. Aku merasakan luapan panas air mani memenuhi liang kewanitaanku deras tak tertahan dan membuatku semakin limbung.
Aku terengah dengan wajah menunduk dan rambut berantakan menutupi sebagian mata. Di balik rasa sakit dan perih yang masih berdenyut di pantatku yang memerah aku tahu malam itu telah mengikatku sepenuhnya dalam kuasanya.
.png)

Kasumo master yang maniac
BalasHapus