Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Jebakan Minimarket 3

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian malam itu tapi bayangannya tak pernah bisa kulupakan. Setiap kali aku mencoba sibuk dengan urusan kuliah atau membantu orang tua di rumah tetap saja pikiranku kembali ke sana. Semakin hari bukannya memudar malah semakin jelas dan semakin mendetail hingga membuatku gelisah setiap malam. Karena itu aku sering terbangun lalu duduk di depan cermin dan memperhatikan wajahku yang memerah entah karena lelah atau karena sesuatu yang lebih liar terus berputar di kepalaku.

Aku Pasrah Dikerjai Majikan Ibuku

Namaku Anggi usiaku sembilan belas tahun dan aku baru saja lulus sekolah. Aku anak kedua dari tiga bersaudara dan keluargaku sudah lama retak sejak orangtuaku memutuskan bercerai ketika aku masih duduk di bangku smp. Sejak saat itu hidupku berubah sepenuhnya.

Pengantin Brutal 3

Pagi itu sinar matahari terasa lembut dan angin dari halaman membuat suasana tetap segar menyenangkan. Aku duduk santai di kursi kayu di teras rumah sambil menyalakan sebatang rokok dan menatap kearah jalanan depan rumah yang sepi. Asapnya perlahan naik ke udara lalu terbawa angin hingga hilang di antara pepohonan yang bergoyang pelan. Beberapa menit kemudian pintu rumah terbuka dan suara engselnya terdengar jelas di tengah sepinya pagi. Meilin keluar dengan langkah pelan. Gerakannya terlihat tenang dan penuh pesona sementara rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah saat angin menyapu pelan.

Nyonya Majikanku Senang Diikat

By : Analconda13 Namaku Asep  dan umurku empat puluh lima tahun. Sehari hari aku bekerja sebagai pegawai serabutan di sebuah rumah besar di kawasan elit Jakarta Utara. Tugasku berbeda beda karena kadang aku harus mengurus taman dan menyiram bunga sampai bersih dan rapi, lalu kadang aku membantu supir saat majikan pergi, dan kalau ada barang berat aku juga ikut mengangkatnya.  Aku tinggal di kamar kecil di bagian belakang rumah agar selalu siap ketika dibutuhkan. Kamar itu sederhana karena hanya ada dipan kayu dan lemari tua tetapi aku sudah terbiasa dan tidak banyak mengeluh. Hidupku sederhana karena aku hanya butuh makan dan tempat tinggal yang layak. Setiap pagi aku bangun lebih cepat daripada orang rumah agar bisa membersihkan halaman sebelum mereka keluar. Setelah itu aku biasanya duduk sebentar di kursi bambu sambil minum kopi hitam dan menikmati udara segar sebelum mulai bekerja lagi.

Guru Sekolahku Yang Brutal

By : Analconda13 Namaku Lena Sulistio . Aku siswi kelas dua SMA dan kehidupanku jauh dari kata tenang. Papa jarang pulang bahkan kadang menghilang berhari-hari tanpa kabar sedangkan Mama selalu sibuk bekerja dari pagi sampai malam untuk menutup kebutuhan rumah tangga. Kalau kebetulan mereka bertemu di rumah yang terdengar bukan canda hangat melainkan pertengkaran yang memekakkan telinga. Aku terbiasa menutup telinga dengan bantal supaya tidak mendengar namun rasa sesak tetap menghimpit dada. Karena itu aku sering mencari pelarian dengan membiarkan pikiranku melayang ke dunia lain yang terasa lebih damai dan jauh dari teriakan maupun amarah. Dunia itu hanya ada di dalam kepalaku namun di sanalah aku bisa bernapas lega.

Pengantin Brutal 2

Matahari pagi masuk menembus tirai tipis kamar dan membuat cahaya hangat jatuh di atas tubuh Meilin yang masih terlelap di sampingku. Rambut hitamnya terurai berantakan menutupi sebagian wajahnya sementara kulit putihnya terlihat jelas kontras dengan sprei yang kusut setelah malam panjang semalam.

Anak bosku Keenakan Diewe

Malam itu aku sedang nongkrong bersama beberapa temanku di sebuah cafe langgananku. Beberapa hari ini pekerjaan di kantor memang sangat melelahkan sehingga banyak menguras tenaga dan pikiranku. Aku merasa kepala pusing dan tubuh pegal karena harus lembur hampir setiap hari. Setelah beberapa jam bermain dan bercanda dengan teman-teman, aku pun memutuskan untuk segera pulang karena rasa ngantuk yang mulai menguasai tubuhku.

Istri Anak Buahku

Hari itu salah seorang direktur perusahaan Pak Freddy sedang mengadakan resepsi pernikahan anaknya di sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan. Tentu saja akupun diundang, dan malam itu akupun meluncur menuju tempat resepsi diadakan. Aku pergi bersama dengan Jason, temanku waktu kuliah di Amerika dahulu. Sesampainya di hotel tampak para undangan sebagian besar membawa pasangannya masing-masing. Iri juga melihat mereka ditemani oleh istri dan anak mereka, sedangkan aku, karena masih bujangan, ditemani oleh si bule ini.

Buku Harian Kakek Angkatku

By : Analconda13 Di gang sempit pecinan aku tinggal di sebuah rumah tua dengan arsitektur campuran tiongkok dan kolonial. Dindingnya kusam, catnya banyak yang mengelupas dan beberapa kayu jendela sudah lapuk dimakan usia. Bagian kusen pintu juga sering berdecit setiap kali dibuka, sementara lantai ubin tua di ruang tengah terasa dingin kalau diinjak tanpa alas kaki. Atap gentengnya kerap bocor saat hujan deras, karena itu ember dan baskom selalu siap di sudut ruangan untuk menampung tetesan air. Gang tempatku tinggal tidak lebar, hanya cukup dilalui satu motor dengan hati hati. Dinding rumah rumah berdempetan dan di siang hari sinar matahari hanya bisa masuk tipis menembus sela sela atap. Di pagi hari aroma bawang goreng, kue tradisional, dan kopi sering bercampur memenuhi udara karena hampir semua tetangga membuka usaha kecil di depan rumah mereka. Suara anak anak berlarian, ibu ibu berbelanja ke pasar, dan orang tua yang duduk di kursi bambu sambil merokok kretek, semua itu menjadi p...

Napsu Terpendam Penjaga Kost

By : Analconda13 Namaku Regina Apriliani Halim, usiaku 20 tahun. Aku seorang mahasiswi keturunan chinese yang lahir dan besar di Lasem. Sejak kecil aku terbiasa hidup di lingkungan keluarga chinese yang cukup disiplin tapi juga hangat. Papa bekerja di toko kelontong milik keluarga, sementara mama lebih banyak mengurus rumah. Aku anak pertama dari dua bersaudara dan terbiasa menjadi teladan bagi adikku. Namun setelah lulus SMA aku memilih melanjutkan kuliah ke Surabaya. Itu berarti aku harus meninggalkan rumah dan mencoba hidup mandiri di kota yang jauh lebih besar.

Tragedi Pasar Pecinan

By : Analconda13 Namaku Vivian, usiaku dua puluh dua tahun. Aku tinggal di rumah tua dua lantai di kawasan Pecinan, tidak jauh dari pasar tradisional. Lantai bawah rumahku dijadikan toko kecil yang menjual buah manisan khas Tionghoa, sementara lantai atas untuk tempat tinggal. Papa dan Mama sudah puluhan tahun merawat toko itu, dan setiap sore aku sering membantu melayani pembeli karena memang saat itulah toko paling ramai.