Pagi itu sinar matahari terasa lembut dan angin dari halaman membuat suasana tetap segar menyenangkan. Aku duduk santai di kursi kayu di teras rumah sambil menyalakan sebatang rokok dan menatap kearah jalanan depan rumah yang sepi. Asapnya perlahan naik ke udara lalu terbawa angin hingga hilang di antara pepohonan yang bergoyang pelan. Beberapa menit kemudian pintu rumah terbuka dan suara engselnya terdengar jelas di tengah sepinya pagi. Meilin keluar dengan langkah pelan. Gerakannya terlihat tenang dan penuh pesona sementara rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah saat angin menyapu pelan.
Dia mengenakan lingerie tipis berwarna hitam transparan sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas dari ujung bahu hingga pinggul. Bahan kainnya lembut menempel di kulit dan setiap gerakan kecil membuat kain itu bergeser sedikit sehingga menambah kesan menggoda. Kakinya dibalut sepatu hak tinggi hitam mengilap yang membuat betisnya tampak lebih kencang. Tumitnya yang runcing menapak kokoh di lantai seakan menambah aura dominasi sekaligus sensualitas di setiap langkahnya. Sepatu itu kontras dengan kulit putih mulus di atasnya, membuat penampilannya semakin memikat dan sulit dilepaskan dari pandangan.
Rambutnya panjang dan dibiarkan terurai tanpa disisir rapi sehingga beberapa helai jatuh menutupi wajahnya dan membuatnya tampak semakin menggoda. Pipi halusnya terlihat merona karena udara siang yang hangat dan tatapannya padaku memancarkan rasa malu sekaligus antusias yang sulit disembunyikan.
"Aku… harus benar benar pakai ini di luar Jal ? Tanyanya dengan suara lirih sementara kedua tangannya berusaha menutupi bagian dadanya yang nyaris terbuka. Ia berdiri kaku di depan pintu teras dan tubuhnya sedikit gemetar karena rasa malu yang jelas terpancar dari wajahnya. Tatapannya ragu ragu dan sesekali ia menunduk untuk menghindari pandanganku namun matanya tetap berkilat menunggu jawabanku.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi kayu dan menyeringai sambil menghembuskan asap rokok yang melayang pelan tertiup angin siang. Jemariku mengetuk paha dengan ritme lambat lalu aku menepuknya sebagai isyarat agar dia mendekat. "Sini duduk. Hari ini kamu nggak perlu berpura pura jadi istri yang sopan. Kamu harus ikut maunya aku dan kamu harus nurut.
Suara beratku terdengar tenang namun penuh penekanan. Asap rokok terakhir kuhembuskan tepat ke arah langit langit teras hingga mengabur di udara hangat siang itu. Meilin terdiam beberapa detik dan napasnya terdengar lebih cepat sementara jemarinya masih menahan kain tipis yang menempel di kulitnya. Ia melangkah perlahan mendekat seakan setiap langkah menambah beban rasa malu dan rasa penasaran yang bercampur jadi satu di wajahnya.
Dengan langkah pelan Meilin mendekat lalu menurunkan tubuhnya hingga duduk di pangkuanku. Kehangatan kulitnya langsung terasa menempel dan aroma tubuhnya yang lembut terbawa angin siang masuk begitu jelas ke inderaku. Lingerie tipis yang melekat di tubuhnya membuat jarak di antara kami terasa hilang karena setiap gerakannya menyisakan sensasi yang membuatku semakin sulit berpaling.
Aku melingkarkan tangan di pinggangnya dan menariknya lebih dekat hingga dadanya menempel di dadaku. Nafasnya terasa cepat dan sesekali dadanya naik turun tidak teratur seolah sedang menahan sesuatu.
"Zal.. nanti kalau ada orang yang lewat gimana ? Bisiknya pelan dengan nada gugup. Matanya melirik singkat ke arah jalan lalu kembali menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.
Aku mencengkeram dagunya dan mengangkat wajahnya agar kembali menatapku. "Itu justru yang bikin seru. Amoy cantik dan sensual kayak kamu seharusnya nggak disembunyikan. Dunia harus tahu betapa berharganya kamu di sisiku."
Tatapannya bergetar namun tidak berpaling. Pipi halusnya memerah dan kilatan matanya menunjukkan campuran antara malu, takut, dan rasa ingin tahu yang semakin sulit ia sembunyikan. Rambut panjangnya jatuh ke bahuku dan tiap helaian yang menyentuh kulit membuat suasana semakin panas meski angin dari halaman terus berhembus pelan.
Wajahnya memerah hebat hingga rona itu merambat sampai ke leher dan telinga. Tubuhnya semakin menempel erat dan setiap detak jantungnya terasa lewat dadaku karena jarak kami nyaris tak ada. Nafasnya cepat tak beraturan dan dadanya naik turun terburu karena gugup bercampur antusias.
Lingerie tipis berwarna hitam menempel di kulitnya sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas dari bahu hingga panggul. Kainnya begitu tipis dan lembut sehingga kehangatan kulitnya langsung terasa ketika ia duduk di pangkuanku. Potongan di paha membuat kulit mulusnya terlihat lebih panjang dan saat ia menggeser sedikit tubuhnya kain itu ikut berpindah memberi bayangan bentuk yang menggoda.
Tanganku meraba pahanya dengan gerakan pelan dan lembut lalu berhenti sejenak di sana seolah ingin memastikan ia masih tenang. Sentuhan itu membuatnya bergidik dan tubuhnya merapat lebih erat seakan mencari pegangan. Jemari tanganku mengikuti garis kain sampai ke pinggulnya lalu kembali naik menekan pelan pada samping tubuhnya untuk menahan agar ia tak terguncang.
Rambut panjangnya jatuh menutupi bahu dan sesekali menyentuh pipiku sehingga aroma lembutnya masuk hingga napasku. Suasana hening hanya diisi suara angin dari halaman dan napas kami yang berpacu. Matanya tertutup lalu terbuka kembali dengan sorot yang bergetar namun tidak berpaling. Pipinya merah dan bibirnya bergetar menahan sesuatu yang sulit diucapkan.
"Kamu adalah budakku.. Dan pagi ini di teras depan rumah. Kamu harus rela memamerkan keindahan tubuhmu pada semua orang. Ucapku pelan namun tegas sambil menahan dagunya agar menatapku langsung
Ia menutup mata rapat dan tubuhnya sedikit bergetar namun bukan karena takut lebih karena pasrah yang bercampur rasa penasaran. Jemarinya mencengkeram bajuku kuat kuat seolah takut kehilangan pegangan. "Aku… siap tuan. Bisiknya lirih dan mantap.
Angin pagi berhembus pelan membawa aroma pohon mangga dari halaman depan. Suasana komplek perumahan yang biasanya tenang justru membuat jantungku berdebar lebih kencang karena Meilin duduk di pangkuanku hanya dengan lingerie tipis menempel di kulitnya. Wajahnya terlihat bingung, ada rasa malu sekaligus gelisah yang jelas terpancar. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang di bawah genggamanku di pinggangnya. Aku mendekatkan bibir ke telinganya, suaraku rendah dan sengaja kubuat seperti bisikan.
"Lihat ke jalan Lin. Bayangin kalau ada orang lewat dan melihatmu cuma pakai lingerie seksi kayak gini. Mereka pasti gak nyangka kalau dikomplek ini ada seorang amoy nakal yang rela dijadiin budak pemuas napsu pribumi.
Tubuhnya merinding dan matanya langsung melirik ke arah pagar rumah. Memang tidak ada siapa pun di luar tapi ketakutan itu nyata. Anehnya rasa takut itu justru membuat napasnya semakin berat dan dadanya naik turun cepat.
"Tuann… kalau ketahuan sama tetangga gimana? Aku malu… suaranya lirih nyaris seperti rintihan
Aku tersenyum miring dan menatapnya lebih dekat.
"Malu atau senang? Bukannya amoy sepertimu suka pamerin badan putihnya kalau lagi pergi ke mall. Tanyaku tajam sambil mengeratkan pelukan di pinggangnya
Dia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Diam saja tanpa sepatah kata tapi wajahnya yang memerah jelas menunjukkan apa yang ia rasakan. Pipi dan lehernya terasa makin panas, matanya berusaha menghindar namun sesekali melirik cepat lalu kembali menunduk. Nafasnya tidak teratur, pendek dan berat, seolah ia berusaha menahan sesuatu yang sulit dikendalikan. Aku bisa melihat bagaimana tubuhnya tegang, jemarinya meremas kain lingerie hitam di pahanya sendiri seakan bingung harus menolak atau menyerah. Dari ekspresinya aku tahu ia sedang terjebak, rasa takut dan rasa nikmat bercampur di kepalanya hingga membuatnya tampak bingung dan gelisah
"Dari dulu.. amoy manja sepertimu dididik buat selalu rapi, sopan dan terhormat… kataku sambil menatap lurus ke matanya.
"Tapi lihat dirimu sekarang !! Duduk di pangkuan seorang pria pribumi yang selama ini dipandang rendah oleh keluargamu. Dengan lingerie tipis yang seksi.. siap jadi tontonan semua orang. Kamu sadar nggak lin ? Kamu udah melepas semua kehormatanmu itu.
Matanya bergetar seolah kalimatku menusuk sisi terdalam dirinya. Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak dan ada sisi lain yang menyerah hingga perlahan menikmati apa yang ia rasakan. Nafasnya semakin pendek dan tangannya yang tadi menutupi dada mulai terkulai seakan membiarkanku untuk melihatnya lebih jelas.
“Aku… nggak ngerti kenapa aku bisa begini… bisiknya terdengar seperti pengakuan dosa.
Aku mendekat dan mengecup bibirnya cepat lalu menatap dalam. “Karena sekarang kamu sudah jadi milikku. Dan kamu suka diperlakukan hina seperti ini dihadapannya pribumi.
Tubuhnya tersentak kecil, seolah kata-kataku membuka kunci yang dia sembunyikan rapat. Saat itu aku tahu, Meilin sedang menyeberangi batas: dari sekadar malu menjadi benar-benar menikmati permainan ini.
Tanganku perlahan turun dari pinggangnya ke paha putih yang terbuka di balik lingerie tipis itu. Kulitnya terasa dingin terkena angin siang tapi aku bisa merasakan betapa tegang ototnya saat disentuh. Meilin menggeliat kecil, kedua tangannya menekan dadaku seolah ingin menahan, tapi tidak benar-benar mendorong.
Tubuh Meilin tersentak kecil seolah kata-kataku barusan membuka kunci yang dia sembunyikan rapat. Saat itu aku bisa melihat jelas kalau dia sedang menyeberangi batas karena rasa malunya perlahan berubah menjadi sesuatu yang dia nikmati. Tanganku turun pelan dari pinggangnya lalu menyentuh pahanya yang terbuka di balik lingerie tipis. Kulitnya dingin karena angin siang yang masuk lewat jendela tetapi ototnya menegang begitu jariku menyentuhnya.
Meilin menggeliat kecil sementara kedua tangannya menempel di dadaku. Gerakannya terlihat ragu karena dia seperti ingin menahan namun tidak benar-benar mendorong. Justru genggamannya terasa ringan hingga aku tahu dia sendiri bingung harus melawan atau membiarkan.
“Jal… jangan di sini… nanti ada yang lihat… suaranya gemetar, lirih, setengah menolak setengah memohon.
Aku menempelkan bibirku ke lehernya, menghirup aroma lembut kulitnya. “Justru itu yang bikin seru lin. Kamu keliatan takut… tapi sebenarnya kamu penasaran kan..
Aku meremas pahanya lebih kuat, membuat tubuhnya bergetar. Dari bibirnya lolos desahan pelan yang jelas-jelas bukan penolakan. Dia menunduk cepat, wajahnya merah, matanya melirik ke arah pagar seolah-olah khawatir ada tetangga yang mengintip.
Aku sengaja menahan dagunya, memaksanya menatapku. “Aku mau lihat matamu lin. Aku mau lihat bagaimana rasa takut dan nikmat bercampur jadi satu di wajahmu. Aku mau badanmu yang putih ini dijadikan tontonan oleh semua orang terutama para pria pribumi yang selama ini terobsesi dengan amoy seksi seperti kamu.
Matanya berair, tapi bukan karena sedih. Itu ketegangan—adrenalin yang bercampur dengan gairah. Saat jariku menyusup lebih jauh, tepat di balik renda lingerie tipisnya, tubuhnya menegang keras. Dia menarik napas tajam, lalu bibirnya terbuka, mengeluarkan suara kecil yang penuh kepasrahan.
“Jal… aku nggak tahan… lakukan saja apa yang kamu mau..
Aku tersenyum puas, menempelkan dahiku ke dahinya. “Itu baru permulaan lin. Kamu pikir aku bakal berhenti sampai di sini? Tak ada lelaki waras yang mau melepaskan begitu saja amoy secantik ini.
Tubuhnya mulai bergetar, bukan lagi karena takut semata, tapi karena kenikmatan yang datang terlalu cepat, terlalu intens. Itulah momen pertama—saat rasa malu kalah total, dan dia benar-benar terhanyut dalam permainan yang kubangun.
Meilin menggenggam erat lengan kursi rotan di teras, tubuhnya menegang tapi bukan karena melawan. Aku bisa melihat dari matanya—tatapan itu sudah berbeda. Bukan lagi kebingungan atau takut, melainkan kepasrahan penuh. Seolah ia sudah menyerahkan segalanya padaku.
"Jal… jangan di sini… nanti ada yang lihat… suaranya gemetar lirih setengah menolak setengah memohon
Aku menempelkan bibir di lehernya lalu menghirup aroma lembut dari kulitnya.
"Justru itu yang bikin seru lin. Kamu keliatan takut tapi sebenarnya kamu penasaran kan tanyaku pelan di telinganya
Tanganku meremas pahanya lebih kuat hingga tubuhnya bergetar. Dari bibirnya keluar desahan pelan yang jelas bukan penolakan. Meilin buru-buru menunduk sementara wajahnya merah dan matanya melirik ke arah pagar seolah khawatir ada tetangga yang mengintip.
Aku menahan dagunya supaya dia menatapku.
"Aku mau lihat matamu lin. Aku mau lihat bagaimana rasa takut dan nikmat bercampur di wajahmu. Aku mau badan putihmu jadi tontonan semua orang terutama para pria pribumi yang selama ini terobsesi sama amoy seksi sepertimu kataku tajam sambil menatap matanya lekat
Matanya mulai berair tapi bukan karena sedih. Itu murni ketegangan karena adrenalin bercampur dengan gairah. Saat jariku menyusup lebih jauh ke balik renda lingerie tipis tubuhnya menegang keras. Dia menarik napas tajam lalu bibirnya terbuka mengeluarkan suara kecil yang penuh kepasrahan.
"Jal… aku nggak tahan… lakukan saja apa yang kamu mau ucapnya dengan wajah menunduk dan pipi memerah
Aku tersenyum puas lalu menempelkan dahiku ke dahinya.
"Itu baru permulaan lin. Kamu pikir aku bakal berhenti sampai di sini? Tak ada lelaki waras yang mau melepaskan begitu saja amoy secantik ini bisikku sambil menatapnya dari dekat
Tubuhnya mulai bergetar bukan lagi karena takut tetapi karena kenikmatan yang datang terlalu cepat dan terlalu intens. Itulah momen pertama saat rasa malu benar-benar kalah hingga dia terhanyut dalam permainan yang kubangun.
Meilin menggenggam erat lengan kursi rotan di teras. Tubuhnya menegang tetapi bukan untuk melawan. Dari matanya aku bisa melihat tatapan yang berbeda. Bukan lagi bingung atau takut melainkan kepasrahan penuh seolah dia sudah menyerahkan segalanya padaku.
"Jujur aku malu zal. aku takut ada orang yang melihat tapi aku juga nggak bisa berhenti. bisiknya serak hampir tak terdengar Meilin
Aku mendekatkan wajah lalu menempelkan bibir di telinganya sambil menarik napas untuk menghirup aroma kulitnya.
"Justru itu yang aku mau. kamu sepenuhnya sudah jadi milikku lin. bukan cuma sebagai istri tapi sebagai perempuan Tionghoa kaya yang lahir untuk memuaskan napsu liar pria pribumi. Kataku pelan di telinganya.
Tubuhnya bergetar saat kata-kata itu keluar lalu Meilin menutup mata dan menarik napas panjang kemudian mengangguk kecil. Gerakan itu saja sudah cukup untuk menunjukkan kalau dia pasrah karena tidak ada lagi tanda perlawanan.
Tanganku menyusuri lekuk pinggangnya sampai merasakan kain lingerie tipis yang hampir tidak menutupi kulitnya. Dia tidak menepis tanganku dan tidak juga menahan hanya diam di tempat sementara bibirnya digigit kuat seolah menahan suara namun desah kecil tetap lolos hingga pipinya makin memerah.
"Kalau kamu mau aku jadi milikmu seutuhnya maka lakukan saja apapun yang kau mau tuan aku nggak akan menolak lagi. ucapnya sambil menunduk dan suaranya bergetar
Aku menatapnya lama lalu merasakan puas yang aneh karena semuanya terjadi pelan tapi pasti sampai ia benar-benar menyerah pada apa yang kubuat.
Kata-kata itu membuat darahku berdesir cepat. Aku meraih dagunya lalu menahan agar wajahnya tetap menghadapku. Matanya berkaca-kaca dengan air tipis yang hampir jatuh tetapi jelas itu bukan tanda takut. Sorot matanya justru memperlihatkan rasa lega karena ia menemukan kebebasan saat benar-benar pasrah.
Meilin masih duduk di pangkuanku di atas bangku. Tubuhnya rapat menempel tanpa jarak sehingga aku bisa merasakan hangatnya. Aku mencium bibirnya dalam-dalam sambil mendekap tubuhnya erat. Nafasnya makin terengah dan tubuhnya bergetar halus. Lingerie tipis yang ia kenakan menempel di kulitnya karena panas tubuh yang kian memuncak. Dari dekat aku tahu ia ikut larut meski bibirnya masih menyimpan sisa rasa malu.
"Bagus… gumamku pelan aku suka budak yang penurut seperti ini kamu gak perlu jadi istri yang manis cukup jadi budak pemuas napsuku saja kamu harus siap menyerahkan seluruh tubuh mulusmu kapan pun dan di mana pun aku mau
Meilin membuka mata perlahan lalu menatapku lama tanpa berkedip. Sorot matanya berbeda dari biasanya karena ada kilatan yang sulit dijelaskan. Itu bukan lagi tatapan ragu atau malu melainkan tatapan seorang budak napsu yang sudah benar-benar menyerahkan semua kendali pada tuannya.
Matanya berair tetapi tidak goyah seolah di dalam kepasrahannya ia justru menemukan kekuatan baru. Wajahnya masih memerah dan bibirnya basah karena ciuman tadi. Nafasnya pendek-pendek hingga dadanya naik turun cepat. Dari dekat aku bisa merasakan tubuhnya yang semula bergetar kini lebih tenang seakan ia sudah menerima sepenuhnya keadaan di mana dirinya berada.
Meilin masih duduk di pangkuanku dengan tubuh rapat menempel. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun cepat dan wajahnya memerah hingga ke telinga. Tangannya bertumpu di bahuku untuk menjaga keseimbangan, sementara matanya terus menatapku dengan sorot bingung antara malu dan pasrah.
Ia menggigit bibir bawah lalu menunduk sedikit sebelum bersuara lirih.
"Aku… masukin sekarang ya tuan bisiknya dengan suara bergetar
Aku hanya mengangguk singkat. Kedua tanganku menggenggam pinggangnya kuat-kuat, merasakan kulit hangat yang nyaris tidak tertutup apa pun. Meilin mengangkat pinggulnya pelan, lalu menurunkan tubuhnya dengan hati-hati.
Saat itu tubuhnya menegang keras. Dari bibirnya lolos desahan panjang ketika batangku akhirnya menembus masuk ke dalam dirinya. Napasnya tersendat, matanya menutup rapat, dan tangannya semakin kuat mencengkeram bahuku. Raut wajahnya jelas menunjukkan campuran sakit, lega, sekaligus kenikmatan yang tidak mampu ia sembunyikan.
Aku menahan pinggangnya agar tetap stabil, sementara tubuhnya perlahan mulai menyesuaikan. Nafasnya semakin berat, dadanya naik turun cepat, dan keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Meilin menunduk lalu menyembunyikan wajah di leherku seolah ingin menutupi ekspresi yang memerah.
"Uuh.. aku bisa rasain.. kontooll.. tuaaan sudah masuk semuanya.. bisiknya pelan hampir tak terdengar.
Tanganku mengusap punggungnya yang basah oleh keringat tipis, lalu menariknya lebih rapat ke dadaku. Dari dekat aku bisa merasakan betapa tubuhnya bergetar halus. Meski masih ada rasa malu yang membuatnya sesekali menggigit bibir, tatapan matanya sudah jelas menunjukkan bahwa ia tidak lagi melawan.
Momen pertama itu begitu nyata, seakan menandai perbatasan baru yang tidak bisa ia hindari. Setiap desah, setiap tarikan napas, dan setiap tetes keringat yang jatuh memperlihatkan kalau dirinya sudah benar-benar menyerahkan tubuhnya tanpa sisa.
Meilin masih duduk di pangkuanku, wajahnya memerah dengan nafas tersengal. Kedua tangannya menekan bahuku, tubuhnya sedikit bergetar. Perlahan ia mengangkat pinggulnya lalu menurunkan kembali. Saat itu batangku langsung menghujam masuk ke dalam liang vaginanya yang sudah basah.
Tubuhnya menegang seketika. Dari bibirnya lolos desahan panjang ketika batangku menembus penuh, bergesekan dengan dinding vaginanya yang licin dan sempit. Gesekan itu membuat pipinya makin merah, matanya terpejam kuat, sementara tangannya mencengkeram bahuku semakin erat.
Setiap kali ia bergerak naik lalu turun, batangku terasa disekat ketat oleh dinding basah di dalamnya. Gesekan hangat itu membuat desahannya makin sering terdengar. “Ahh… keeeras sekali tuaan… ucapnya lirih sambil menggigit bibir bawah.
Aku memegang pinggangnya kuat-kuat, membantu menuntun gerakannya. Semakin lama ia makin berani melonjak, tubuhnya naik turun dengan ritme teratur. Batangku terus menghujam ke dalam, dinding vaginanya meremas dan bergesekan kuat, membuat suara basahnua terdengar makin jelas.
Setiap hentakan pinggulnya membuat dadanya bergetar di depan mataku. Aku meraba pinggangnya, lalu naik meremas buah dadanya sambil menempelkan bibirku ke bibirnya. Ia melumat balik dengan penuh gairah, desahannya bercampur dengan suaraku di antara ciuman panas itu.
Semakin lama, lonjakan tubuhnya makin cepat. Gesekan batangku dengan dinding vaginanya yang peret membuat tubuhnya gemetar hebat. Ia melingkarkan tangannya di leherku, menundukkan kepala, dan erangan tertahan keluar dari tenggorokannya setiap kali batangku menghujam makin dalam.
Meilin mulai melonjak lebih cepat di pangkuanku. Pinggulnya naik turun dengan hentakan penuh gairah, batangku terus menghujam dalam dan bergesekan kuat dengan dinding vaginanya yang semakin basah. Suara cipratan kecil terdengar setiap kali pantatnya menghantam pangkuanku.
Kepalanya mendengak ke belakang, rambut panjangnya terurai bebas dan mengibas liar mengikuti irama gerakan tubuhnya. Dadanya naik turun cepat, keringat bercampur dengan aroma tubuh yang panas. Dari bibirnya keluar desahan panjang yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
Aku meraih tubuhnya, mendekapnya erat agar makin rapat menempel denganku. Bibirku menempel di lehernya, mengecup lalu menggigit pelan kulit halus itu. Tubuhnya langsung bergetar hebat, desahannya terdengar lebih keras. "Ahhh… ennaaak... seee...kali tuaann… suaranya terputus-putus di antara hentakan pinggulnya yang semakin cepat.
Tanganku meremas buah dadanya bergantian, jari-jariku menekan putingnya yang sudah mengeras. Ia menjerit kecil, tubuhnya kian liar melonjak, seakan kehilangan kendali penuh. Rambutnya terus mengibas kesana kemari, sementara matanya terpejam rapat, tenggelam dalam nikmat yang makin memuncak.
Batangku menghujam lebih dalam setiap kali ia turun keras di pangkuanku. Gesekan basah di dalam membuatku ikut mendesah berat, mendekapnya makin kuat, dan melumat bibirnya tanpa henti. Ia balas ciumanku dengan liar, lidahnya menari bersama lidahku, desahannya bercampur dengan nafasku yang panas.
Aku menahan pinggangnya dengan kedua tanganku lalu berbisik di telinganya. “Berhenti dulu lin kita ganti posisi.
Meilin terengah dengan nafas berat lalu mengangguk pelan. Ia mengangkat pinggulnya perlahan hingga batangku terlepas dari kemaluannya yang masih basah lalu memutar tubuhnya di pangkuanku. Lingerie hitam tipis yang ia kenakan tersingkap saat bergerak dan memperlihatkan jelas lekuk bokongnya yang padat.
Kini ia duduk kembali di pangkuanku tapi posisinya membelakangiku. Wajahnya menghadap ke jalan komplek yang tampak sepi. Dari sela pagar hanya terlihat pepohonan bergoyang tertiup angin malam. Suasana sunyi itu justru membuat tegang karena kapan saja ada kemungkinan orang lewat.
Aku merapatkan tubuhku ke punggungnya hingga batangku yang masih keras menekan di antara belahan bokongnya yang hangat. Tanganku melingkari pinggangnya lalu naik meremas buah dadanya dari depan. Dari mulutnya keluar desahan panjang saat jemariku menekan putingnya yang sudah mengeras.
"Budak pribumi rendahan kayak kamu harus rela pamerin tubuhnya ke semua orang,” ucapku sambil menahan pinggangnya kuat-kuat.
“Iyaa tuan… aku ngerti… aku cuma budakmu… aku bakal nurut terus,” jawab Meilin dengan suara lemah.
Tubuhnya bergetar dan kedua tangannya berpegangan erat pada lengan kursi rotan agar tidak jatuh. Rambut panjangnya terurai menutupi bahu sementara kepalanya sedikit menunduk menahan malu sekaligus tegang dalam waktu yang bersamaan.
Meilin menggeser pinggulnya pelan. Tangannya meraih batangku yang masih keras lalu membimbingnya tepat ke lubang kemaluannya yang sudah basah. Dengan satu tarikan napas panjang ia menurunkan pinggulnya hingga batangku masuk menghujam ke dalam. Suara desahnya pecah karena rasa peret ketika dinding vaginanya menelan batangku sepenuhnya.
Tubuhnya bergetar dan tangannya mencengkeram sandaran kursi rotan disamping. Ia diam sebentar untuk menahan rasa penuh lalu mulai melonjak perlahan. Pinggulnya naik turun di atas pangkuanku dan setiap gerakan membuat batangku bergesekan kuat dengan dinding vaginanya yang hangat. Suara cipratan basah semakin jelas terdengar di antara desahan nafasnya yang terputus-putus.
Aku meringis keenakan sambil menahan nikmat yang terus menghantam. Kedua tanganku mencengkeram pinggangnya agar ia tidak berhenti. Dari punggungnya yang licin oleh keringat aku mendekat lalu menempelkan bibirku ke lehernya. Setiap kali ia menghentakkan pinggulnya lebih dalam aku mendesah berat, merasakan sensasi luar biasa saat batangku terhimpit rapat di dalam kemaluannya yang semakin basah.
Tanganku tak biasa diam dan langsung menelusup ke balik lingerie hitam dari celah sampingnya. Kain tipis itu sama sekali tidak menghalangi jemariku untuk menemukan buah dadanya yang penuh dan berguncang setiap kali ia menghentak. Aku meremasnya kuat-kuat, merasakan kulitnya yang halus lalu jariku menjepit puting susunya dan memainkannya dari belakang.
Tubuh Meilin bergetar hebat saat aku melakukannya. Desahannya pecah tanpa bisa ia tahan sementara pinggulnya justru makin cepat melonjak di atas pangkuanku. Kuremas buah dada Meilin makin keras hingga jemariku menekan dalam. Dia melenguh panjang, kepalanya mendengak ke atas sementara rambut panjangnya terurai liar mengibas ke kanan dan kiri mengikuti hentakan tubuhnya.
Lonjakannya makin cepat dan pinggulnya turun naik tanpa jeda di atas pangkuanku membuat kursi terus berderit menahan beban gerakan kami. Nafasnya memburu, suara desahnya pecah dan tidak teratur.
Aku mencium pundak Meilin yang licin oleh keringat lalu kugigit pelan kulit halusnya. Tubuhnya langsung bergetar dan sebuah lenguhan panjang lolos dari bibirnya. Rambutnya yang panjang terayun liar mengikuti setiap hentakan pinggulnya yang makin cepat naik turun di pangkuanku.
Tanganku masih mencengkeram buah dadanya dari balik lingerie, meremas keras sambil memainkan putingnya hingga tubuhnya makin melenting diatas pangkuanlu. Dari posisi ini aku bisa menjangkau punggungnya yang putih mulus. Lidahku kembali menelusuri kulit halusnya, menjilat perlahan dari bawah leher hingga ke tengah punggungnya. Setiap sentuhan membuat tubuhnya tersentak kecil namun gerakannya tidak melambat, justru semakin liar melonjak di atasku.
Suara desahnya semakin jelas, bercampur dengan derit kursi dan hentakan tubuh kami. Pinggulnya bergerak cepat, menghantam ke bawah tanpa kendali, sementara aku terus menikmati setiap lekuk punggungnya yang licin oleh keringat, menjilat dan menggigit kecil di beberapa bagian hingga ia melengkungkan tubuhnya makin dalam di pangkuanku.
Kuhentakkan batangku lebih keras dari bawah, menghujam dalam ke dalam kemaluannya hingga tubuh Meilin terlonjak ke depan. Aku mendekapnya erat dari belakang, dadaku menempel rapat di punggungnya yang sudah basah oleh keringat. Lenguhan panjang keluar dari mulutnya, kepalanya terlempar ke belakang hingga rambutnya mengenai wajahku.
Gerakan kami semakin liar. Setiap kali aku menghujam dari bawah, tubuhnya terangkat sedikit lalu jatuh kembali menghantam pangkuanku. Suara basah dari dalam tubuhnya bercampur dengan derit kursi yang terus berguncang menahan beban kami.
Di tengah hentakan itu tiba-tiba terdengar suara motor melintas di depan halaman. Suaranya jelas karena pagar besi hanya berupa jeruji yang langsung menghadap jalan. Meilin sempat menegang sepersekian detik, matanya melebar saat melihat ke depan, tapi aku justru menahan pinggangnya lebih keras dan terus menghujam batangku dalam-dalam.
Tubuhnya akhirnya kembali pasrah. Lonjakannya makin cepat meski suara motor masih terdengar menjauh, seolah keberadaan orang lain di luar pagar justru membuat kami semakin kalap melanjutkan semuanya.
Lonjakan tubuh Meilin makin tak beraturan, napasnya tersengal keras, lalu tiba-tiba seluruh tubuhnya menegang. Lenguhan panjang keluar dari mulutnya ketika klimaks menghantam dirinya. Pinggulnya bergetar hebat, lalu ia hampir ambruk ke depan, tangannya bertumpu lemah di pahaku.
Aku masih mendekapnya kuat dari belakang, tidak membiarkannya jatuh. Dadaku menempel rapat di punggungnya yang licin, sementara batangku masih menghujam dalam di kemaluannya. Hangatnya terasa jelas ketika lendir kawinnya turun deras, membasahi batangku hingga cairan itu menetes ke pangkal paha.
Tubuhnya gemetar hebat di pelukanku, bahunya naik turun dengan napas yang kacau, tapi aku tetap menahan pinggangnya erat, memastikan setiap getar klimaksnya bertahan lama sebelum benar-benar mereda.
Perlahan aku bangkit dari bangku sambil tetap memegang pinggang Meilin yang masih gemetar. Batangku tetap menancap kuat di dalam kemaluannya hingga ia mengeluarkan desahan panjang saat tubuhku ikut terangkat. Kakinya sempat goyah karena tubuhnya sudah lemas tetapi aku mendekap erat dari belakang sehingga ia tidak jatuh.
Dengan langkah pelan aku mulai menggiringnya ke arah pagar besi di depan halaman rumah. Suara langkah kaki kami terdengar jelas di lantai teras yang sunyi dan setiap hentakan membuat batangku bergesekan di dalam tubuhnya. Meilin merintih pelan lalu meremas pergelangan tanganku yang melingkar di perutnya.
Udara pagi yang dingin berhembus masuk dari sela pagar besi dan membuat kulitnya yang basah oleh keringat jadi segar kembali. Rambut panjangnya terurai berantakan menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk karena lelah dan malu. Aku tetap menempelkan tubuhku dari belakang sambil menjaga agar ia tetap bergerak maju.
"Tu… tuan… mau diapain aku di sini…Ucap Meilin dengan suara terbata, matanya melirik ke arah jalan di balik pagar.
“Diam. Nurut saja. Aku mau semua orang tahu kamu budakku. Jawabku datar sambil menariknya lebih dekat.
Meilin menunduk, wajahnya memerah hebat. "Iya… aku ngerti… aku akan turuti semua yang tuan mau.. Katanya pelan sambil membiarkan tubuhnya kudorong menempel ke jeruji pagar besi hitam.
Sesampainya di depan pagar aku memposisikan tubuh Meilin berdiri agak membungkuk. Kedua tangannya kupaksa berpegangan erat pada jeruji pagar besi hitam yang menghadap langsung ke jalan. Rambut panjangnya tergerai ke depan hingga menutupi sebagian wajahnya yang basah oleh keringat. Nafasnya tersengal dan dadanya naik turun cepat seolah tubuhnya tidak lagi sanggup menahan.
Aku berdiri tepat di belakangnya dengan kejantananku yang masih keras dan licin oleh lendir kawinnya.
Ouugh.. Nikmaaati iniii.. budaakk !! Dengan satu hentakan kuat aku menghujam penis besarku yang berurat dari belakang hingga tubuh putih Meilin terdorong menempel rapat pada jeruji besi. Suara desahannya pecah keras dan bahunya bergetar hebat. Jemarinya mencengkeram besi pagar semakin kuat agar tidak terjatuh.
Setiap kali aku menghantam kedepan, jeruji pagar ikut bergetar dan menimbulkan bunyi beradu logam yang jelas terdengar di halaman sunyi. Suasana jalan di depan rumah benar-benar sepi hanya ada suara kicau burung pagi hari dan hembusan angin segar yang melewati sela pagar.
Kedua tanganku mencengkeram pundak Meilin erat hingga tubuhnya makin membungkuk menempel pada jeruji. Lingerie tipis yang melekat di tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat sehingga menempel rapat pada kulit licinnya. Dari belakang aku terus menghantam dengan keras hingga tubuhnya berguncang ke depan dan jeruji berderit menahan benturan.
Setiap kali batang pribumiku menghujam lebih dalam maka suara lenguhan amoy cina itu langsung pecah. Jemarinya semakin kuat mencengkeram besi pagar hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya bergetar hebat karena hentakan yang tidak memberi jeda.
Aku makin beringas lalu kuangkat kaki kanannya setinggi pinggang. Paha putihnya kutahan erat agar tetap terbuka dalam posisinya membuat tubuhnya semakin tidak berdaya di depan pagar besi yang dingin.
“Aaahh… tuan… jangan terlalu kasar… aku… aku nggak kuat. Erangnya terengah sementara kedua tangannya mencengkeram jeruji pagar makin kencang.
“Kuat atau nggak. kamu harus tahan. Ingat lonte !! Kamu cuma budak pribumi.. bebas untuk diapain aja sama tuannya.. termasuk dipermalukan.. dideeepan.. umum seperti ini.. Ucapku sambil menghantam lebih dalam.
Meilin menoleh sedikit, wajahnya basah oleh keringat. “Iyaa… iyaa tuan… aku ngerti… aku cuma budakmu… aaahhh… jangan berhenti… jangan berhenti… dorong lebih keras lagi.. aku mau puasin tuaann.. Suaranya pecah disertai napas berat yang tersengal-sengal.
Dengan posisi miring itu batangku kembali menghujam cepat dari belakang. Setiap hentakan membuat tubuhnya terdorong ke depan hingga dadanya menekan jeruji, sementara lenguhannya berubah jadi erangan panjang dan jeritan nikmat yang pecah berulang kali.
"Aaaakhhh... Terussss.... hantaaam lebiihh kerasss lagiiii tuaaann..
Sodokan batangku terasa menembus sangat dalam di liang kemaluannya. Suara basah bercampur dengan desahan panasnya menggema di halaman rumah yang sepi. Jemari Meilin mencengkeram kuat jeruji pagar, tubuhnya bergetar hebat menahan setiap tusukan keras yang terus menghantam tanpa henti.
Tubuhku semakin tegang, hentakan dari belakang makin cepat dan dalam hingga akhirnya aku tidak mampu menahan lagi. Lenguhan panjang lolos dari mulutku saat klimaks menghantam, batangku berdenyut hebat dan menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluannya. Meilin menjerit kecil, tubuhnya bergetar hebat merespons aliran itu.
Begitu pelepasan itu reda, aku melepaskan pegangan pada pahanya. Kaki kanannya jatuh ke tanah, dan tubuhnya langsung kehilangan tenaga. Meilin hampir roboh, tapi kedua tangannya masih bertahan mencengkeram jeruji pagar besi dengan sisa kekuatannya.
Aku menarik keluar batangku yang masih keras dan berlumur cairan. Seketika lendir kawinnya bercampur dengan milikku mengalir turun di antara pahanya. Tubuhnya kemudian merosot perlahan, ambruk ke bawah hingga akhirnya ia jongkok di pinggir pagar, masih terengah dan gemetar dengan rambut berantakan menutupi wajahnya.
Bentakanku pecah keras. “Isepin sampai bersih!!” tanganku langsung menjambak rambut panjangnya dan menekannya ke arah batangku.
Dalam posisi jongkok di lantai halaman Meilin menunduk patuh tanpa banyak kata. Kedua lututnya menempel di lantai yang dingin sementara tangannya bertumpu di pahaku agar tetap seimbang. Wajahnya mendongak sedikit lalu bibirnya terbuka dan langsung mengulum batangku yang masih keras dan licin oleh sisa cairan kawin.
Suara isapan terdengar jelas memecah kesunyian pagi. Setiap tarikan dan dorongan mulutnya membuat batangku berkilau basah karena lidahnya terus menjilat dari pangkal hingga ke ujung. Sesekali ia menekan lidahnya lebih kuat di sekitar kepala batang hingga aku meringis menahan rasa nikmat yang intens.
Meilin tidak hanya mengulum tapi juga menjilat setiap sisi batangku. Lidahnya bergerak pelan menyusuri urat-urat yang menonjol lalu berhenti di bagian pangkal untuk membersihkan sisa cairan yang menetes. Setelah itu ia kembali menghisap ujungnya dalam-dalam hingga pipinya ikut mengempis karena sedotan kuat.
Nafasnya terengah di antara gerakan mulut yang terus bekerja. Cairan kental yang masih menempel di batangku ia jilati bersih tanpa tersisa. Bahkan ketika menetes ke sudut bibirnya ia segera menjilatnya dengan lidah lalu menelan tanpa ragu.
Setiap kali ia menarik kepalanya sedikit ke belakang kilauan basah di batangku semakin jelas terkena cahaya pagi. Kemudian ia kembali mengulum dan menghisap lebih dalam seakan tidak ingin melepaskannya sampai benar-benar bersih. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajahnya yang memerah sementara matanya sesekali melirik ke arahku dengan tatapan pasrah bercampur gairah.
"Liat dirimu sekarang !! Seorang amoy seksi dari keluarga kaya hanya bisa berlutut lemah dihadapan pribumi..
Setelah beberapa saat aku beristirahat nafasku mulai kembali teratur. Tanganku masih menempel di rambut Meilin yang terurai berantakan lalu kutarik kasar hingga tubuhnya yang lemas terseret untuk berdiri. Ia sempat terhuyung tetapi tetap menuruti tanpa perlawanan. Langkahnya goyah namun tetap mengikuti tarikan tanganku.
Aku membawanya ke arah mobil sedan hitam yang terparkir di halaman depan rumah. Dengan satu hentakan kuat tubuhnya kutelungkupkan di atas kap mobil yang dingin. Kedua tangannya terhampar di permukaan besi sementara dadanya tertekan hingga lingerie tipis yang melekat di tubuhnya menempel rapat pada kulit basahnya yang licin oleh keringat.
Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk di atas kap mobil. Nafasnya masih terengah dan tubuhnya bergetar halus karena kelelahan namun ia tidak berusaha melawan. Punggungnya melengkung mengikuti tekanan tubuhku dari belakang sementara dadanya yang terjepit di atas kap terlihat naik turun cepat menahan tegang.
"Keluargamu memang kaya raya tapi kamu bukan apa-apa di hadapan pribumi sepertiku. Ucapku kasar tepat di telinganya.
“Iyaa tuan aku ngerti aku bukan siapa-siapa… aku cuma budaknya tuan.. Jawab Meilin lirih dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang berat.
Tubuh mulusnya masih menungging di atas kap mobil sedan. Lingerie tipis hitam yang melekat di tubuhnya semakin tersingkap karena posisinya. Kedua kakinya tetap menapak di lantai halaman dan sepasang sepatu hak tinggi warna hitam yang ia kenakan membuat bokongnya tampak makin menonjol.
Aku berdiri tepat di belakangnya. Pandanganku terpaku pada pantatnya yang bulat menggoda lalu tanpa ragu Plaak !! telapak tanganku menghantam keras permukaan pantatnya. "Aduhhh.. ampunn tuaan.. Suara tamparan bercampur dengan jeritannya yang melengking membuat tubuhnya seketika bergetar.
Meilin menoleh ke belakang dengan wajah merah bercampur keringat. Rambut panjangnya jatuh berantakan menutupi sebagian pipinya sementara matanya menatapku dengan campuran terkejut dan pasrah.
Plakk !! Lonte cina seksi sepertimu memang udah selayaknya jadi santapan pribumi !! Kataku sambil menampar pantatnya lagi dan membuat tubuhnya tersentak.
"Iyaa.. tuan.. aku rela melakukan apapun asal tuan puas. Sahutnya dengan suara lemah seolah memposisikan dirinya seperti seorang budak tak berdaya.
Aku berdiri tepat di belakang Meilin lalu meraih pinggang rampingnya. Dengan satu gerakan kasar aku menyingkap bagian bawah lingerie hitam tipisnya hingga naik ke atas pinggang. Bokongnya yang bulat kini terbuka penuh dan berkilau basah di bawah cahaya pagi.
Tanpa memberi aba-aba aku menghujam batangku keras-keras dari belakang. Suara hentakan bercampur dengan desahan kasar Meilin saat ujung batangku menembus masuk menekan rapat dinding vaginanya yang sudah licin. Tubuhnya langsung tersentak keras ke depan hingga dadanya bergetar menekan permukaan kap mobil yang dingin.
Lenguhan panjang pecah dari mulutnya. Kedua tangannya mencengkeram kap mobil semakin kuat seolah berusaha menahan guncangan. Bahunya bergetar hebat sementara kepalanya menunduk dengan rambut panjang terurai berantakan menutupi wajahnya.
Aku mencengkeram pinggangnya makin erat dan kembali menghujam lebih dalam. Kontol pribumi yang perkasa ini menusuk kasar memek cinanya hingga terdengar cipratan basah yang memantul di kap mobil. Punggungnya yang putih mulus melengkung terpaksa mengikuti setiap sodokan. Nafasnya semakin berat dan tubuhnya berguncang tak terkendali karena tusukan itu menghantam tanpa ampun.
Aku terus menghantam tubuh Meilin dari belakang tanpa memberi jeda. Setiap sodokan batangku membuat kap mobil bergetar dan bunyinya berpadu dengan desahan panjang istriku. Lingerie tipis yang masih melekat di tubuhnya sudah basah dan menempel ketat di kulitnya yang licin oleh keringat. Kedua tangannya terpaksa berpegangan erat pada kap mobil supaya tidak jatuh sementara pinggulnya terus terdorong maju setiap kali aku menghujam keras hingga tubuhnya berguncang hebat.
Tanganku meraih rambut hitam panjangnya lalu kujambak kuat sampai kepalanya mendongak tinggi. Lehernya teregang dan wajahnya menengadah dengan mata terpejam rapat. Mulutnya terbuka lebar dengan lidah menjulur keluar tanpa bisa dikendalikan. Suaranya pecah jadi campuran jeritan nikmat dan keluhan pasrah.
Aku menghantam makin keras dari belakang. Nafasku terengah kasar tapi aku tidak menghentikan gerakanku. "Ayo cepat bilang. Kamu cuma lonte cina murahan. Kamu bebas aku apain sesukaku. Kamu nggak punya harga diri di hadapanku !! bentakku di telinganya sambil terus menjambak kasar.
Dia merintih panjang dengan lidah menjulur keluar tanpa sadar. Suaranya pecah menahan kenikmatan yang menyalip rasa malunya. Tubuhnya bergetar hebat setiap kali aku menghujam lebih dalam. "Iyaaa tuan aku lonte cina murahan aku milikmu bebas kau apakan saja !! katanya dengan suara bergetar setengah terisak setengah erangan nikmat.
Aku meremas pinggangnya lebih keras untuk menahannya agar tidak roboh. Hentakanku makin cepat dan makin beringas sampai tubuhnya benar benar pasrah di bawah kendaliku.
Beberapa saat kemudian aku membalik tubuh Meilin dengan kasar hingga ia terbaring telentang di atas kap mobil. Lingerie tipis yang menempel di tubuhnya sudah kusut dan basah, menempel erat di kulitnya yang licin oleh keringat. Wajahnya memerah dengan nafas terengah, rambut panjangnya terurai berantakan menutupi sebagian pipinya.
Aku menarik paksa lingerie itu hingga terlepas dari tubuhnya. Kini ia dalam keadaan bugil sepenuhnya di depanku, terbaring tak berdaya di atas permukaan besi yang dingin. Buah dadanya langsung terbuka jelas, penuh dan berguncang seiring nafasnya yang tak teratur.
Aku berdiri di antara kedua kakinya yang terentang lalu meraih dadanya dengan kasar. Telapak tanganku meremas keras, jari-jariku memelintir putingnya yang sudah mengeras. Meilin memejamkan mata sambil mendesah panjang karena kenikmatan. Tubuhnya bergetar halus di bawah genggamanku.
Tanpa ragu aku menunduk lalu menghisap salah satu buah dadanya dengan kuat. Mulutku melumat dan mengenyot kasar hingga terdengar suara isapan keras. Meilin merem makin rapat sambil menggigit bibir bawahnya, desahannya pecah tak terkendali.
Kedua tanganku masih bekerja bergantian di payudaranya, sementara mulutku berpindah dari satu puting ke puting lainnya, menjilat lalu menghisap kuat hingga bekas merah muncul di kulitnya yang putih.
Sementara itu kedua pahanya kuangkat tinggi-tinggi dan kutahan erat dengan lenganku agar terbuka lebar di depanku. Posisi telentang membuat tubuhnya sepenuhnya terbuka tanpa perlindungan. Bokongnya menempel di permukaan kap mobil yang dingin sementara kaki indahnya dengan sepatu hak tinggi hitam menekuk ke udara, membuat seluruh tubuhnya tampak semakin tak berdaya di bawah kendaliku.
Batangku kembali menghujam masuk keras dan dalam. Tubuhnya langsung melengkung dan kepalanya sedikit terangkat dengan mulut terbuka mengeluarkan erangan panjang. Aku menekan lebih kuat memastikan setiap sodokan menghantam sampai kepangkal rahimnya.
"Uuuuuhh... Aku yang pegang kendali di sini. Kamu nggak punya hak apa pun kecuali tunduk sama aku !! Geramku sambil menghentak lagi.
Tanganku mencengkeram pahanya makin erat hingga jariku hampir menancap di kulitnya. Setiap kali aku menghujam tubuh telentang Meilin berguncang hebat di atas kap mobil. Rambutnya terurai berantakan dan wajahnya memerah. Suaranya pecah tidak terkendali.
Aku meraih kedua kaki Meilin lalu kutaruh di atas pundakku. Sepasang sepatu hak tinggi hitam yang masih melekat di kakinya membuat pahanya tampak makin jenjang dan terbuka lebar di depanku. Posisi itu membuat tubuhnya benar-benar tak berdaya karena seluruh berat badannya bertumpu pada kap mobil yang dingin.
Tanpa menunggu lama aku mulai menghantam lebih cepat dan lebih keras. Setiap kali batangku menancap dalam, tubuh Meilin terguncang hebat hingga buah dadanya bergoyang liar di dadanya yang telanjang. Suara cipratan basah bercampur dengan desahan kerasnya memecah keheningan di halaman yang sepi.
Nafasku memburu berat seiring hentakan yang semakin kasar. Tanganku meremas buah dadanya bergantian dengan keras hingga jari-jariku meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. Putingnya kupilin lalu kupelintir sampai tubuhnya melengkung menahan sensasi nikmat yang memuncak.
Dengan tangan satunya aku menampar pipinya keras. Plak !! Gimana rasanya jadi budak napsu pribumi !! Suara tamparan memantul di udara dan wajahnya langsung memerah.
"Akuu sukaaa jadi budak napsu tuaan.. akuu sukaaa dihina dan direndahkan sama pribumi.. Rambut panjangnya terurai berantakan menempel di keringat yang membasahi pipinya. Meilin membuka mata setengah dengan pandangan berair lalu mendesah panjang, tubuhnya terus bergetar mengikuti hentakan yang tiada henti.
Aku meledek dengan suara kasar. "Rasanya gimana hah !! diperkosa habis habisan kayak gini sama pribumi !! sampai kamu nggak bisa ngapa ngapain. Katakan kamu cuma lonte cina murahan yang bebas aku apain sesukaku !!
Meilin menggeleng lemah, tapi erangan nikmat keluar makin keras. “Aaahh… iya tuan… aku lonte cina murahan… aku nggak bisa apa-apa… tubuhku cuma buat tuan… aku pasrah !! Uuh...Kalau tuan mau.. tuan boleh sodok memekku lebih keras lagi. Aaargh..
Aku menghantam lebih brutal, membuat kap mobil bergetar keras. “Ulangi lagi!” bentakku sambil menampar pipinya sekali lagi. “Bilang lebih keras biar aku puas dengernya !!
Meilin menjerit, lidahnya menjulur keluar tanpa sadar, suaranya pecah. “Iya tuan… aku lonteee.. cinaa.. murahan! Aku milikmu! Aku cuma budakmu !! bebas kau apain saja! Aaahhh…
Aku meremas buah dadanya makin keras, jemariku menjepit putingnya sampai tubuhnya melengkung liar. “Bagus! Terus ucapkan! Katakan lagi siapa dirimu budak hina !!
“Iyaaa tuan… aku bukan siapa-siapa… aku cuma budakmu… aku cuma tempatmu buang nafsu… aku pasrah sepenuhnya. suaranya pecah dengan air mata dan erangan bercampur jadi satu.
Aku menghujam Meilin makin brutal di atas kap mobil dan tubuhnya terguncang hebat setiap kali batangku menghantam dalam. Keringat bercampur air mata tipis di wajahnya tetapi erangan puasnya tidak bisa ia sembunyikan.
"Cepat katakan lagi !! Bentakku sambil mendorong lebih keras dan mengangkat kedua pahanya tinggi di pundakku. "Siapa kamu di hadapanku hah !!
Meilin menjerit dengan suara parau dan pecah. "Aaaahh iya tuan aku cuma lonte cina murahan aku budakmu aku milik pribumi seutuhnya..
Tanganku menampar pipinya hingga wajahnya terhuyung ke samping. Matanya berair saat kembali menatapku. Sodokanku makin dalam sampai kap mobil berderit keras. "Bagus terus ulangi !! Rendahkan dirimu sendiri !! Kataku sambil menahan pahanya lebih kuat.
"Iyaa tuan aku lonte cina murahan.. aku cuma untukmu.. aaahhh aku nggak kuat lagi aku mau keluaaarr.. teriaknya dengan tubuh melengkung hampir patah oleh hentakanku.
Aku menggertakkan gigi dan tubuhku makin menegang sementara nafasku berat menghantam udara ketika batangku terus menghujam dalam ke perut Meilin. “Nikmati semuanya budak… aku isi memek cinamu sampai penuh peju hari ini. Ucapku kasar di telinganya.
Meilin megap megap dengan lidah menjulur sedikit dan matanya nyaris terbalik. Wajahnya basah oleh keringat dan setiap tarikan napasnya terputus putus. Klimaks panjang membuat seluruh tubuhnya kejang nikmat di bawahku. Pahanya bergetar kencang di sisi tubuhku dan lengannya meremas kap mobil seakan mencari pegangan.
"Bagus… nikmati semuanya lonte murahan. Kamu memang cuma untuk pribumi sepertiku !! Kataku sambil terkekeh kasar. Suaraku terdengar berat dan serak karena menahan luapan gairah yang semakin memuncak.
Kepala penisku masih berdenyut keras di dalam dirinya dan setiap sodokan membuat cairan panasnya membanjiri batangku hingga licinannya semakin memudahkan hentakan menembus makin dalam. Tubuh Meilin masih bergetar dan dadanya naik turun cepat. Matanya berkaca kaca namun desahan nikmatnya terus pecah tanpa henti. Rambut panjangnya terurai berantakan dan menempel pada pipinya yang merah hingga membuat wajahnya terlihat semakin liar di bawah tekananku.
"Aaahhh tuannn… cukup… aku udah keluar… aku nggak kuat lagi. Suaranya parau tetapi pinggulnya tetap bergerak mengikuti irama hentakanku.
"Aku menempelkan wajahku ke telinganya lalu menggertakkan gigi. "Beluuum… aku belum selesai…!! Aku tidak akan berhenti… sebelum aku puas !!
Tanganku menahan kedua paha Meilin agar tetap terbuka lebar di atas pundakku. Sepatu hak tinggi hitam yang masih melekat di kakinya membuat posisinya semakin tampak menantang. Aku menghantam makin cepat dan makin dalam, setiap hentakan membuat tubuhnya terguncang keras di atas kap mobil. Dadanya naik turun cepat dan buah dadanya yang basah oleh keringat ikut bergetar liar setiap kali tubuhnya terdorong ke belakang.
Otot di dalam kemaluannya masih kejang sisa klimaks tadi dan mencengkeram batangku erat. Setiap kali aku menghujam, dinding vaginanya yang licin menekan batangku seakan tidak mau melepaskannya. Sensasi itu membuatku meringis nikmat sambil menggertakkan gigi. Pinggulku terus menghantam tanpa henti dan setiap dorongan menghasilkan suara basah bercampur desahannya yang makin keras.
Tanganku mencengkeram pahanya semakin kuat agar kakinya tidak bergeser dari pundakku. Kulit putihnya yang hangat dan licin oleh keringat terasa menempel erat di telapak tanganku. Tubuh Meilin terus bergetar, matanya terpejam rapat dan bibirnya terbuka dengan suara lenguh yang keluar berulang kali setiap kali aku menghujam makin dalam.
"Aaahh… uuuhhh… a-aku… aku mau keluar… uuuhhh… te-terima semuanya… aaahhh… da-dasar… lonte… cina… muraahhh… aaann… suaraku terputus-putus dengan napas terengah dan tubuh yang menegang keras.
Dengan satu sodokan terakhir yang dalam aku melepaskan semua hasrat liarku di dalam dirinya. Tubuhku bergetar keras dan desahanku pecah panjang sementara batangku berdenyut memuntahkan benihku bercampur dengan lendir kawinnya yang sudah membasahi kap mobil.
Meilin meringis nikmat dengan wajah merah dan rambut berantakan. Sorot matanya tetap pasrah penuh kepatuhan. Tubuhnya akhirnya terkulai di atas kap mobil dengan napas terengah dan dada naik turun cepat. Lingerie tipisnya basah menempel di kulit dan bergeser hingga hampir tidak menutupi apa apa. Keringat bercampur cairan di pahanya menetes ke permukaan mobil yang belepotan.
Aku masih menahan kedua kakinya di pundakku. Penisku yang baru saja memuntahkan benih hangat masih tertanam lemas di dalam dirinya. Pelan pelan kulepaskan pegangan dan membiarkan kakinya jatuh terkulai di sisi kap mobil.
Meilin memejamkan mata dengan wajah kusut dan rambut menempel di pipi. Tangannya meraih pinggiran kap mobil agar tidak jatuh sementara tubuhnya gemetar karena lelah bercampur sisa nikmat.
Aku berdiri tegak dengan napas masih berat dan dadaku naik turun cepat. Keringat menetes dari pelipis lalu kuusap dengan telapak tangan. Pandanganku tertuju pada Meilin yang tergeletak pasrah di atas kap mobil.
"Lihat dirimu sekarang !! Ucapku dengan suara serak yang masih tersisa dari erangan tadi. "Budak kecilku yang cantik penuh keringat dan jadi tempat pembuangan peju pribumi.
Meilin membuka matanya pelan dan menatapku dengan pandangan sayu. Bola matanya berkaca dan bibirnya terbuka sedikit namun hanya desahan pendek yang keluar. Tubuhnya tetap tergeletak lemas dan kakinya terkulai di kanan dan kiri hingga membuat posisinya terbuka begitu saja.
Dadanya naik turun cepat dan napasnya terengah. Rambut panjangnya kusut dan menempel di pipinya yang memerah. Dari celah pahanya menetes cairan hangat yang jatuh ke permukaan kap mobil hingga bercampur dengan keringat yang sudah membasahi besi dingin itu.
Aku berdiri tepat di depannya dan batangku yang mulai melemah masih berkilat basah oleh sisa cairannya. Aku tidak segera menjauh dan hanya menikmati tubuh istriku yang terhampar pasrah di hadapanku. Meilin memejamkan mata lagi dan tangannya jatuh lemah di sisi tubuh. Sesekali tangannya bergerak mencengkeram tipis permukaan mobil seolah masih mencari pegangan.
Suasana jalanan tetap sepi dan tidak ada suara lain kecuali nafasku yang memburu. Pagar besi hitam berdiri kokoh di depan rumah dan siapa saja yang lewat bisa melihat semuanya dengan jelas. Tapi aku tidak peduli karena yang ada di hadapanku hanya tubuhnya yang basah dan lemah dan sepenuhnya milikku.

Dominasi total..Meilin nyerah kalah..pasrah...ehhe..blacked
BalasHapusChindo ngak ada matinya suhu
BalasHapuspart 4 please
BalasHapusngobral memek cina cik melin depan pager hahahaha
BalasHapus