By : Analconda13
Namaku Asep dan umurku empat puluh lima tahun. Sehari hari aku bekerja sebagai pegawai serabutan di sebuah rumah besar di kawasan elit Jakarta Utara. Tugasku berbeda beda karena kadang aku harus mengurus taman dan menyiram bunga sampai bersih dan rapi, lalu kadang aku membantu supir saat majikan pergi, dan kalau ada barang berat aku juga ikut mengangkatnya.
Aku tinggal di kamar kecil di bagian belakang rumah agar selalu siap ketika dibutuhkan. Kamar itu sederhana karena hanya ada dipan kayu dan lemari tua tetapi aku sudah terbiasa dan tidak banyak mengeluh. Hidupku sederhana karena aku hanya butuh makan dan tempat tinggal yang layak. Setiap pagi aku bangun lebih cepat daripada orang rumah agar bisa membersihkan halaman sebelum mereka keluar. Setelah itu aku biasanya duduk sebentar di kursi bambu sambil minum kopi hitam dan menikmati udara segar sebelum mulai bekerja lagi.
Di rumah itu tinggal Veronica Hartanto yang jadi istri muda seorang pengusaha sukses. Usianya baru dua puluh delapan sedangkan suaminya hampir lima puluh. Aku masih ingat pertama kali melihatnya. Rambutnya panjang kecoklatan dan sedikit bergelombang di bagian bawah. Kulitnya putih halus dan badannya padat berisi. Cara bicaranya lembut tapi tetap tegas sehingga membuatku kikuk sebagai orang kampung yang sederhana.
Hari-hariku biasanya sepi karena hanya berkutat dengan tanaman atau perbaikan kecil di rumah. Suaminya jarang ada sebab sibuk dengan bisnis ke luar negeri. Veronica sering terlihat sendirian ketika berjalan di taman sambil membawa buku atau duduk termenung di kursi panjang dekat kolam.
Suatu sore saat aku sedang merapikan bunga mawar di dekat pagar, dia menghampiriku. Senyumnya ramah dan langkahnya pelan.
"Pak Asep. kenapa tangkai bunganya diikat begitu ? Tanyanya sambil menunduk memperhatikan pekerjaanku.
“Supaya bentuknya lebih rapi bu. Kalau tidak diikat nanti rantingnya bisa tumbuh sembarangan dan bunganya tidak kelihatan indah. Aku menjawab dengan tenang. Veronica mengangguk pelan lalu tersenyum tipis.
"Menarik juga. Kadang justru yang diikat malah terlihat lebih menantang. Ucapnya ringan seakan hanya bercanda. Aku terdiam sesaat lalu kembali fokus pada pekerjaanku sementara senyumnya masih tertinggal di benakku.
Sejak percakapan itu, hubungan kami perlahan berubah. Veronica mulai sering berbicara denganku, tidak sekadar memberi perintah, tapi juga menanyakan kabar keluargaku di kampung, atau sekadar mengobrol soal tanaman. Aku heran, seorang wanita kaya raya bisa begitu hangat kepada pegawainya.
Dan entah bagaimana, aku bisa merasakan ada sesuatu di balik tatapannya—seolah ada rahasia yang belum ia ungkapkan, dan aku mungkin orang yang dipilihnya untuk tahu.
Hari-hari di rumah besar itu berjalan tenang. Veronica selalu tampak anggun dalam setiap langkahnya. Gaun sederhana yang ia kenakan tetap terlihat mahal di tubuhnya dan rambut hitamnya terawat rapi meski ia hanya berjalan di taman. Sikapnya selalu penuh kendali dan tidak mudah ditebak. Ia jarang memperlihatkan isi hatinya secara langsung.
Sebagai pegawai tugasku hanya merawat halaman dan menjaga rumah tetap rapi. Namun keberadaan Veronica membuat setiap pekerjaan terasa berbeda. Ia sering muncul di teras sambil membawa buku atau secangkir teh lalu menikmati sore dalam keheningan yang panjang. Sesekali pandangannya jatuh ke arahku. Tatapan itu singkat namun cukup untuk meninggalkan kesan dalam.
Tidak pernah ada sikap berlebihan darinya. Ia selalu menjaga jarak dan tetap menempatkan dirinya sebagai nyonya rumah yang terhormat. Namun ada sesuatu dalam cara ia menata langkah atau cara ia duduk dengan tenang di kursi panjang. Bahkan sekadar ketika ia lewat di dekatku dengan aroma parfum lembut seolah menghadirkan aura yang sulit kuabaikan.
Aku mulai memahami bahwa Veronica adalah sosok yang terbiasa menyembunyikan dirinya di balik lapisan elegan yang rapi. Tidak ada tanda kelemahan apalagi sisi gelap. Justru kesempurnaannya membuatku semakin sulit berpaling. Bagiku ia seperti lukisan indah yang tidak bisa kusentuh dan hanya bisa kulihat dari kejauhan.
Tanpa kusadari hari-hari bersamanya meski hanya dalam diam perlahan menumbuhkan rasa yang tidak pernah kualami sebelumnya.
Suatu hari aku dipanggil untuk mengganti lampu di kamar tidurnya. Ruangannya luas dan rapi serta beraroma lembut parfum mawar. Saat aku berdiri di kursi untuk melepas fitting lampu pandanganku jatuh pada bagian atas lemari pakaian. Di sana ada sesuatu yang tidak biasa. Beberapa utas tali tersimpan rapi seakan baru digunakan lalu disimpan kembali.
Rasa penasaran muncul. Itu bukan tempat yang wajar untuk menyimpan barang semacam itu apalagi bagi seorang wanita elegan seperti Veronica. Aku mencoba menahan diri dan berpura-pura tidak melihat. Namun ketika aku menuruni kursi mataku justru bertemu dengan tatapan Veronica yang sudah berdiri di ambang pintu.
Ia tidak tampak kaget dan justru ada keheningan singkat yang tebal seolah ia sedang menimbang sesuatu. Lalu dengan langkah tenang ia masuk ke kamar dan mendekat sampai berhenti tidak jauh dariku. Tatapannya dalam penuh wibawa dan menyiratkan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Hari itu untuk pertama kalinya Veronica membuka sedikit lapisan dari dirinya yang selama ini tersembunyi. Dengan suara tenang ia berkata bahwa dirinya punya sebuah fantasi. Bukan hal biasa melainkan keinginan untuk merasakan terkekang dan diperlakukan berbeda dari citra elegan yang selalu ia jaga. Ia menuturkan bahwa dunia luar mengenalnya sebagai istri pengusaha yang anggun namun di balik itu ada sisi liar yang ingin dilepaskan dalam ruang yang aman dan rahasia.
Baginya itu bukan sekadar permainan melainkan kebebasan. Sesuatu yang hanya bisa ia percayakan pada orang yang tidak akan menghakimi.
Aku hanya bisa terdiam mendengar pengakuannya. Ada rasa tidak percaya bercampur rasa terhormat karena rahasia besar itu justru diserahkan padaku seorang pegawai sederhana yang bahkan tidak berani menatapnya terlalu lama sebelumnya.
"Apa pak Asep mengerti maksud saya tadi ? katanya pelan. Aku menelan ludah lalu mengangguk.
"Saya… saya mengerti nyah.. Tapi saya masih bingung kenapa nyonyah memberitahu masalah ini pada saya. Bukannya ini rahasia pribadi nyonyah.
"Ya. Karena saya yakin kamu orang yang bisa dipercaya dan tidak akan membocorkan rahasia ini pada siapapun. Pak.. aku butuh seseorang yang bisa mewujudkan fantasi liarku ini. Veronica menatapku dalam seakan menembus isi pikiranku.
Aku berdiri terpaku di kamar itu dan kata-kata Veronica masih menggema di kepalaku. Begitu kontras dengan sosoknya yang selalu tampil anggun dan penuh wibawa. Aku seorang pegawai biasa tidak pernah membayangkan akan menjadi orang pertama yang mendengar rahasia sebesar itu darinya.
Di dalam dadaku ada perasaan campur aduk. Sebagian diriku merasa canggung bahkan takut melangkah salah. Namun ada juga rasa penasaran yang kuat semacam daya tarik yang tidak bisa kutolak. Aku tahu betul Veronica bukan sekadar wanita cantik. Ia seorang nyonya rumah yang selama ini terlihat jauh di atasku. Justru karena itulah pengakuannya terasa mengejutkan sekaligus membebani.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Di benakku hanya ada satu hal: aku harus berhati-hati. Apa pun yang ia percayakan padaku bukan untuk main-main. Ia membuka sisi yang selama ini disembunyikan, sisi yang mungkin tak pernah diketahui suaminya sekalipun.
Dalam hati aku berjanji, jika memang aku diizinkan menjadi bagian dari rahasianya, aku akan menjaganya sebaik mungkin. Bukan untuk merusak, bukan untuk merendahkan, tapi untuk memastikan ia bisa menemukan kebebasan tanpa rasa takut.
Aku menunduk sedikit, bukan karena rendah diri, melainkan karena rasa hormat. Saat itu aku sadar, hubunganku dengan Veronica tidak akan pernah sama lagi. Ada garis tak terlihat yang sudah kami lewati, dan dari sana, entah ke mana arah langkah kami selanjutnya.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah bagi diriku. Veronica tidak pernah lagi menyebut apa yang ia ungkapkan sore itu, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu di balik sikapnya. Ia tidak menuntut atau memaksa, hanya memberi tanda-tanda kecil seolah ingin melihat sejauh mana aku bisa dipercaya.
Ujiannya datang dalam bentuk sederhana. Kadang ia sengaja meninggalkan tali yang dulu kulihat, bukan lagi tersembunyi di atas lemari, melainkan terletak rapi di meja rias. Benda itu seolah dipajang hanya untuk mataku, seakan ia menunggu reaksiku. Aku berpura-pura sibuk, tapi tatapanku sering tanpa sengaja kembali ke sana.
Di lain waktu, ia memintaku membersihkan kamarnya, pekerjaan yang sebelumnya selalu dilakukan asisten rumah tangga lain. Kali ini, hanya aku yang diminta. Saat aku masuk, ia duduk di kursi panjang dengan sikap tenang, memandangiku bekerja dalam diam. Tidak ada kata yang ia ucapkan, tapi tatapan itu cukup untuk membuatku merasa sedang diuji—apakah aku bisa tetap menjaga batasan, atau tergoda melangkah lebih jauh.
Aku sadar, setiap langkah kecil itu adalah bagian dari permainannya. Ia ingin tahu apakah aku pantas memegang rahasianya. Ia ingin memastikan bahwa aku mampu berdiri tegak di hadapannya tanpa terjebak dalam godaan sesaat.
Dan aku pun menerima ujiannya. Dengan hati berdebar, aku memilih tetap bersikap tenang, menahan diri, dan menunjukkan bahwa kepercayaannya tidak salah tempat. Namun jauh di dalam diriku, rasa penasaran semakin tumbuh, dan aku tahu cepat atau lambat, Veronica akan membuka pintu itu lebih lebar.
Aku menatap tali di atas meja, lalu melirik ke arah Veronica. Tatapannya tenang, bibirnya sedikit bergetar, seakan menantikan sesuatu. Dadaku bergemuruh, aku tak mampu lagi menahan gejolak.
Awalnya aku hanya berdiri menunggu perintah, memperhatikan ia sibuk di depan meja riasnya. Gaun tidur sutra biru cerah yang dipakainya begitu tipis, membungkus tubuhnya dengan anggun, tali halusnya melintang di pundak putih yang berkilau di bawah cahaya lampu. Setiap gerakannya memancing gejolak dalam diriku, dan semakin lama kuperhatikan, semakin sulit kutahan dorongan yang bergejolak di dada.
Tanpa memberi isyarat, aku bergerak cepat. Kudekati tubuhnya dari belakang dan langsung kusergap. Veronica terlonjak kaget, tubuhnya menegang ketika kedua lengannya kucengkeram kuat. Ia sempat membuka mulut seolah hendak berkata sesuatu, tapi aku lebih dulu menariknya mundur, memaksa tubuh anggun itu terseret hingga hampir kehilangan keseimbangan.
Dengan sekali gerakan, kuseretnya ke kursi kayu di dekat meja rias. Kursi itu berderit keras saat ku geser, menimbulkan gema di ruangan luas dan sunyi. Lewat cermin, aku bisa melihat ekspresinya—mata sipit yang melebar, bibir tipis yang bergetar, wajah oriental yang dipenuhi keterkejutan. Dan di saat itu, aku tahu tak ada jalan kembali.
Tanpa banyak kata, aku mengambil gulungan tali dari atas meja. Urat-urat tanganku menegang saat menarik utas pertama, lalu membelitkannya ke pergelangan tangan Veronica. Simpul demi simpul kutarik cepat dan kencang, menekan kulit putih mulusnya. Napasnya tertahan, matanya berkilat antara terkejut dan terjerat sensasi baru.
Tali berikutnya melingkari tubuhnya, membuatnya tak bisa bergerak bebas. Kursi kayu itu kini menjadi takhta sekaligus penjara. Hanya suara gesekan serat tali yang terdengar, berpadu dengan detak jantung yang berpacu liar.
Asep mendekatkan wajahnya, suaranya rendah dan serak, seolah keluar dari dasar dada.
“Ini waktunya… saya mewujudkan fantasi nyonya.”
Kata-kata itu jatuh seperti vonis, menegaskan peran baru yang tak lagi bisa diputar balik. Veronica menutup mata sesaat, bibirnya terbuka tipis, tubuhnya bergetar. Di ruang kamar yang tertutup, permainan berbahaya itu telah dimulai, dan kini kendali sepenuhnya berada di tangan Asep.
Aku menutup pintu kamar itu dan memutar kuncinya. Bunyi kecil klik membuat seluruh tubuhku bergetar. Aku tahu aku sudah melangkah terlalu jauh, tapi gejolak dalam diriku tak bisa lagi ku tahan.
Di hadapanku, Veronica duduk di kursi dengan tubuh terikat tali yang kuambil dari atas lemari. Gaun tidurnya dari sutra biru cerah, tipis dan licin, memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Bagian atasnya terbuka, hanya disangga sepasang tali tipis yang melintang di pundak putihnya. Kulitnya yang pucat kontras dengan warna kain, membuat mataku tak bisa berpaling.
Aku berjalan perlahan mengitari kursi, langkahku mantap dan berat, seolah setiap gerakan dituntun oleh nafsu yang menyesakkan dada. Mataku menelusuri lehernya, pundaknya, lalu turun ke belahan yang samar tertutup kain sutra. Veronica menggeliat kecil, seakan resah, lalu mengangkat wajahnya menatapku.
“Lepasin, Pak… sebenarnya bapak mau apa?” katanya dengan suara gemetar, pura-pura takut.
Aku tahu itu hanya sandiwara. Sorot matanya—mata sipitnya yang berkilat di balik cahaya lampu kamar—tak pernah bisa menipu. Ia sedang menikmati ini. Ia sedang menunggu aku melangkah lebih jauh.
Aku berhenti tepat di samping kursi, wajahku mendekat ke telinganya. Aku bisa mencium samar wangi tubuhnya yang hangat, bercampur dengan aroma sutra yang mahal. Nafasku berembus berat, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Majikan cina diikat tak berdaya di hadapan pelayannya. bisikku dengan nada rendah dan penuh kuasa."Bukankah ini yang kamu inginkan nyonya ?!! Tangannya mencoba meronta tapi justru membuat simpul tali semakin menekan kulitnya. Aku tersenyum tipis, tatapanku tak lepas dari wajah cantiknya yang bergetar di antara takut dan kenikmatan.
Aku semakin berani dan nafasku makin berat ketika tanganku terulur ke arahnya. Jemariku menyentuh lengan atasnya dan kulit putih yang halus itu membuatku terhenti sejenak seolah tak percaya seorang seperti aku bisa merasakan kelembutan seistimewa itu. Aku mengelus perlahan dari bahu sampai ke siku dan menikmati setiap inci permukaannya.
Gaun sutra biru cerah yang menempel di tubuhnya menambah godaan. Kainnya tipis dan terbuka seakan sengaja memamerkan keindahan yang tak pernah tersentuh. Veronica menundukkan wajah dan matanya sipit menatapku dengan sorot penuh ketakutan. Wajah orientalnya tampak memelas sementara bibirnya bergetar dan tubuhnya kaku di kursi dengan tali yang menahan erat.
Justru itu yang membuatku makin hilang kendali. Tatapan itu dan ekspresi rapuh yang ia suguhkan tidak melemahkanku. Sebaliknya semua itu menyalakan bara dalam diriku. Setiap gerakannya yang tampak putus asa membuat darahku mendidih. Aku lupa diri dan lupa bahwa aku hanyalah pegawai kasar di rumah megah ini. Yang kuingat hanya tubuh majikanku yang kini terikat tak berdaya di hadapanku dan aku satu-satunya yang berkuasa atasnya.
Aku merundukkan badan mendekat sampai wajahku hanya sejengkal dari wajahnya. Dari jarak itu aku bisa menatap jelas keindahan parasnya. Wajah oriental Veronica begitu halus dan bibir tipisnya basah. Sorot matanya meski dibungkus ketakutan tetap memancarkan sesuatu yang tak bisa kusebut selain daya pikat. Aku tersenyum miring dan suaraku rendah namun tajam.
“Nyonya makin seksi kalau terikat seperti ini…”
Tanganku terulur, membelai rambut hitamnya yang lembut, jemariku menyusuri helai demi helai sebelum turun mengusap pipinya. Sentuhan itu awalnya lembut, nyaris penuh rasa kagum. Tapi tiba-tiba, tanpa peringatan, tangan kananku mencengkeram keras rambutnya, menarik kepala mungil itu ke belakang. Veronica terlonjak, matanya semakin membesar oleh kaget bercampur takut.
Aku menatap wajahnya yang kini terangkat ke arahku, nafasnya terengah, tatapannya bergetar. Dan di saat itulah, kata-kata keluar dari mulutku, tegas dan berat.
“Mulai sekarang, kamu bukan lagi majikan…” aku menahan cengkeramanku di rambutnya, mempererat tarikannya. “…tapi budak saya.”
Wajah Veronica memucat, ekspresi takutnya semakin jelas, tapi justru itulah yang membuatku tak bisa berhenti. Pandanganku terkunci pada matanya yang sipit, bibirnya yang gemetar, dan tubuh anggunnya yang kini benar-benar tak berdaya di bawah kendaliku.
Aku masih merunduk di depannya, menatap wajahnya yang pucat dengan rambut kusut akibat jambakanku barusan. Lalu perlahan aku berdiri, menegakkan tubuhku, dan dengan kasar menggesek bangku yang didudukinya hingga berderit keras di lantai marmer. Kursi itu kuputar paksa, menghadap lurus ke arah meja rias besar yang berdiri mewah di kamar itu.
Aku melangkah ke belakang kursi, berdiri tegak di punggungnya. Dari sana, aku bisa melihat pantulan Veronica di cermin—gaun sutra biru cerah yang terbuka di bagian atas, tali tipis melintang di pundaknya, tubuhnya terikat erat, wajah orientalnya terangkat dengan sorot mata yang diliputi ketakutan.
Aku mendekatkan wajahku ke samping telinganya, lalu suaraku keluar rendah, kasar, menusuk.
“Lihat dirimu di cermin, Vero…” bisikku. “Kamu tidak pantas merasakan semua kemewahan ini. Semua ini bukan untukmu.”
Tangan kananku kembali menjambak rambutnya dengan keras, menarik kepalanya ke belakang hingga matanya terpaksa menatap pantulannya sendiri di cermin besar itu. Veronica mengerang pelan, tubuhnya bergetar di kursi.
“Kamu lebih pantas jadi budak pribumi seperti saya…” ucapku penuh desakan, hampir seperti geram. “Dihina. Direndahkan. Bukan dipuja.”
Aku menatapnya lewat pantulan kaca, wajah cantik yang kini dipaksa menatap dirinya sendiri—terikat, kusut, tak berdaya. Sorot matanya yang memelas membuatku semakin tenggelam dalam rasa kuasa yang menguasai seluruh tubuhku.
Aku bisa merasakan tubuhnya mulai berubah di bawah genggamanku. Rontaannya yang tadi liar, kini perlahan mereda, seolah terhanyut dalam arus yang ia sendiri ciptakan. Nafasnya berat, dadanya naik turun cepat, dan setiap helaan nafasnya terdengar jelas di telingaku.
Aku berdiri tepat di belakang kursinya. Tubuhku mendekat erat. Satu tanganku masih mencengkeram rambutnya. Aku memaksa wajahnya tetap menatap ke arah cermin besar di meja rias. Tangan satunya perlahan turun lalu meraih dadanya yang hanya terlindung kain sutra tipis. Tanpa ragu aku meremas kuat. Lembut dan hangat terasa dalam genggamanku.
Veronica menggeliat di kursi. Tubuhnya bergetar. Dari cermin aku melihat wajah orientalnya terangkat. Sorot matanya separuh tertutup. Bibirnya terbuka melenguh pelan. Ekspresi memelas itu bercampur dengan kenikmatan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Aku menatap pantulan itu dengan buas. Semakin keras aku menarik rambutnya agar ia terus menyaksikan dirinya sendiri. Tubuh elegan yang selama ini terlihat anggun kini terikat dan pasrah di bawah tanganku.
Lenguhan dan gerakan kecilnya di kursi membuatku semakin tenggelam. Ia menggeliat lemah. Bukan lagi untuk melawan. Melainkan karena ia larut dalam fantasi yang selama ini ia sembunyikan rapat. Dan aku satu satunya orang yang kini memegang kendali penuh atasnya.
Aku tetap berdiri di belakang bangku. Tubuhku sedikit merunduk agar lebih dekat dengannya. Dari belakang aku mengarahkan desakan tubuhku ke punggungnya. Hangat tubuh seksi Veronica hanya terlapisi sutra biru tipis. Kursi berderit pelan ketika aku menekan lebih keras. Tubuh anggun itu terdorong pasrah ke depan.
Kuciumi rambut hitamnya yang harum lalu turun ke tengkuknya. Aroma sabun mahal bercampur keringat tipis membuatku semakin mabuk. Bibirku menempel di kulit halusnya. Aku mencumbu kasar sambil meninggalkan jejak basah. Veronica meringis kecil. Suaranya keluar dalam lenguhan tertahan.
Kedua tanganku masih menguasai bagian depan tubuhnya. Cengkeramanku berpindah ke dadanya. Aku meremas lebih keras hingga gaun tipisnya berkerut di genggaman. Sentuhan itu membuatnya menggeliat lemah di kursi. Tubuhnya berguncang. Suaranya terisak setengah menahan nikmat setengah menyerah pada perlakuanku.
Dari cermin besar di depan aku melihat jelas wajahnya berubah. Mata sipitnya terpejam rapat. Bibirnya setengah terbuka. Kepalanya terangkat karena jambakanku. Ekspresi memelas itu bercampur dengan gejolak liar yang tidak bisa ia sembunyikan. Dan aku di belakangnya semakin menenggelamkan diri dalam kuasa yang membuatku lupa segalanya.
Aku makin nekat. Nafasku berat. Jantungku berdetak kencang seakan ingin meledak. Dari belakang tanganku turun perlahan menyusuri pinggangnya lalu bergerak ke bawah. Gaun sutra biru itu tipis. Hanya sekali gerakan kasar kainnya tersibak. Pahanya yang putih mulus berkilau di bawah cahaya lampu kamar.
Pandanganku membelalak menatap pemandangan itu. Paha seorang nyonya majikan Tionghoa yang selama ini hanya bisa kubayangkan diam diam kini terbuka nyata di hadapanku. Kulitnya halus dan bersih. Kontras dengan tanganku yang hitam dan kasar. Jemariku sempat gemetar lalu aku letakkan di atas pahanya. Aku meraba perlahan lalu menekan dan mengusap permukaan licin itu.
Veronica tersentak kecil. Tubuhnya menggeliat dan kursi kayu berguncang pelan. Dari cermin aku melihat wajahnya menegang. Bibirnya terbuka melepas helaan napas yang tak tertahan. Sorot matanya yang sipit semakin sayu. Ketakutan yang ia pamerkan kini bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam.
Aku meraba pahanya lebih berani. Jari jariku menyusuri garis ototnya yang lembut lalu menelusuri kulit putih itu dengan penuh gairah. Setiap inci yang kuraba terasa seperti kemenangan. Sebuah larangan yang kini telah kutaklukkan. Semakin lama tanganku berada di sana semakin aku lupa siapa dia dan siapa aku. Yang ada hanya tubuh majikanku yang pasrah di bawah kekuasaanku.
Aku baru sadar sesuatu yang membuatku semakin tak terkendali. Selama ini setiap kali melihat Veronica di rumah megah ini ia memang tidak pernah mengenakan dalaman. Kini ketika tanganku menelusup ke balik gaun sutra tipisnya aku langsung bersentuhan dengan bagian paling sensitif dari tubuhnya. Hangat licin dan nyata.
Tanganku yang kiri bergerak ke bawah. Kain biru itu kusibakkan hingga tersingkap lalu kutekan lembut bagian yang paling tersembunyi. Jemariku mengelus dan menguji. Aku menekan pelan hingga tubuhnya merespon dengan getaran halus di kursi kayu yang berderit.
Tangan kananku menelusup dari atas lalu meremas buah dada besar di balik kain tipis itu. Aku menggenggamnya dengan kasar dan merasakan kekenyalannya di telapak tanganku.
Kepalaku mendekat ke sisi lehernya. Aku menciumi kulit putih yang hangat dan harum lalu kugigit pelan. Gigitan itu meninggalkan bekas merah di permukaannya. Veronica meringis dan tubuhnya terangkat sedikit karena ikatan tali. Bibirnya mengeluarkan lenguhan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Aku bisa melihat semuanya lewat pantulan cermin besar di depan kami. Wajah oriental Veronica dengan mata sipit yang setengah terpejam dan bibir terbuka. Tubuhnya terikat dan dadanya diremas. Bagian paling rahasianya kini ada dalam genggamanku. Aku berdiri di belakangnya dan semakin tenggelam dalam kuasa yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku melangkah mengitari kursi dan kini berdiri tepat di hadapannya. Veronica masih terikat. Tubuhnya menegang dan napasnya terengah. Sorot matanya bergetar menatapku lewat cermin. Ada tantangan di sana sekaligus penantian atas apa yang akan kulakukan selanjutnya.
Aku menurunkan tubuh hingga berjongkok di depannya. Gaun tipis sutra biru kusibakkan perlahan. Kainnya melorot dari bahu mulusnya. Dalam sekejap bagian depan tubuhnya tersingkap. Buah dada majikanku yang sempurna mencuat putih dan penuh. Gerakannya naik turun mengikuti ritme napas yang semakin liar.
Kedua tanganku kembali meraih lalu meremasnya lebih keras dari sebelumnya. Veronica mendesah dengan mata terpejam. Aku mendekatkan wajah lalu bibirku menyentuh permukaan lembut itu. Rasanya hangat dan harum.
Aku mulai mengecup perlahan lalu menyedotnya dengan rakus. Seolah aku ingin menandai bahwa kini dirinya sepenuhnya milikku. Veronica menggeliat di kursi kayu. Tali yang menahan tubuhnya berderit. Bibir tipisnya tidak mampu lagi menahan lenguhan yang memenuhi kamar sunyi itu.
Putingnya semakin keras di dalam mulutku. Aku kian rakus menghisapnya. Bibirku berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Aku bergantian mengulum lalu menjilat lalu menyedot lebih dalam hingga tubuhnya menggeliat tak berdaya. Setiap kali aku menghisap kuat kursi kayu itu berderit pelan dan lenguhan Veronica kian tak tertahan.
Tanganku tidak berhenti bekerja. Satu tangan terus meremas dan menekan. Tangan lainnya turun menyusuri pinggang ramping lalu kembali menemukan paha putih mulus itu. Kulitnya hangat dan halus sedangkan telapak tanganku kasar dan keras.
Aku mendongak sebentar dan menatap wajahnya yang tercermin di cermin besar. Bibirnya terbuka. Matanya setengah terpejam. Pipinya memerah. Ia tampak seperti seorang dewi yang jatuh ke dalam pelukan liar seorang pekerja pribumi. Tatapanku dan pantulan matanya di cermin bertemu sesaat lalu aku kembali menunduk dan melahap lekuk tubuhnya tanpa ragu.
Aku menarik gaun tipis itu makin ke atas dan menyibakkannya dari pahanya yang mulus hingga terbuka lebih lebar. Kulit putihnya tampak berkilau dan lembut. Kontras dengan tangan kasarku yang menelusuri perlahan. Jemariku menyapu sisi pahanya naik turun dengan gerakan yang membuatnya menggeliat di kursi.
Napas Veronica mulai memburu. Dari cermin kulihat wajahnya semakin merah. Bibirnya basah. Matanya setengah terpejam. Ia tampak rapuh dan terikat namun tubuhnya sendiri justru memberi jawaban yang berbeda. Tubuhnya tersentak tiap kali tanganku bergerak lebih dekat ke pusat rasa yang tersembunyi di balik kain tipis itu.
Aku menunduk sedikit dan membiarkan napasku membelai perutnya yang halus sementara tanganku terus menjelajah. Aku mengelus lalu menekan dan merasakan setiap respon kecil yang memancar dari tubuh mungilnya. Kursi kayu itu kembali berderit seolah ikut menahan gejolak yang semakin tidak terbendung di antara kami.
Aku masih berjongkok tepat di depannya dan membelakangi cermin besar yang berdiri kokoh di meja rias. Dari posisi itu aku bisa merasakan betapa dekatnya tubuh kami sementara pantulan wajah Veronica tetap terlihat jelas di hadapanku. Matanya setengah terpejam. Napasnya terengah. Bibirnya terbuka samar seakan ingin bicara namun tidak sanggup mengeluarkan kata.
Gaun biru sutra itu sudah tersibak tinggi dan hanya menyisakan sedikit kain yang tidak lagi mampu menutupi. Dengan kedua tanganku kupegang pahanya yang halus yang terasa bergetar di bawah genggaman. Jemariku menekan perlahan lalu menelusuri garis lembut kulitnya hingga ke bagian terdalam. Kontrasnya terasa jelas. Kulit putih dan licin bertemu dengan kasar dan gelapnya tanganku.
Aku tetap jongkok di depannya dan membelakangi cermin besar yang ada di meja rias. Kedua tanganku menggenggam pahanya yang halus lalu perlahan kusandarkan di atas bahuku. Posisi itu membuatnya semakin terbuka dan tidak ada lagi ruang untuk menutup diri.
Bangku kayu berderit pelan saat tubuhnya bergeser dan ikatan tali di pergelangannya menegang. Veronica tersandar lemah di kursi. Dadanya naik turun cepat. Napasnya berat terdengar jelas. Dari sudut pandang bawah kutatap wajahnya. Ia menunduk sedikit. Mata sipitnya memerah. Pipinya terbakar. Wajah oriental yang biasanya anggun kini tampak rapuh. Namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang lain. Ada sinar halus yang menunjukkan ia larut dalam permainannya sendiri.
Desahan samar keluar dari bibirnya. Patah patah mengikuti setiap gerakan tanganku yang masih menjelajah paha putihnya. Kursi kembali bergetar halus seolah ikut menanggung ketegangan yang makin memuncak. Di kamar yang mewah itu hanya ada satu kenyataan. Seorang nyonya kaya raya yang elegan kini sepenuhnya berada dalam genggaman seorang pekerja pribumi yang tidak lagi menahan diri.
Tanganku bergerak lebih berani. Jemariku yang kasar menyapu bagian dalam pahanya. Naik turun lalu bergeser pada kemaluannya yang sudah jelas terasa. Begitu menyentuhnya tubuh Veronica langsung menegang. Ia menarik napas panjang. Dadanya naik turun cepat. Bibirnya terbuka mengeluarkan suara lirih yang tidak bisa ia tahan.
Aku menekan bibir kemaluannya perlahan dengan ujung jariku. Mengelus lalu berganti gerakan lebih cepat membuat kursi berderit mengikuti setiap lenguhan yang keluar darinya. Kulit putihnya tampak kontras dengan tanganku yang hitam dan keras. Pemandangan itu membuatku semakin haus.
Tanpa menunggu lama aku menundukkan kepala. Napasku panas menyapu kulit halus di bawah sana sebelum lidahku menyentuhnya. Sekali sapuan membuat tubuhnya bergetar keras dan ikatan talinya ikut menegang. Aku menjilat kemaluannya lagi lebih dalam dan lebih lama hingga lenguhan Veronica berubah jadi erangan pendek yang patah patah.
Kedua tanganku menahan pahanya kuat kuat agar tidak bisa bergerak sementara mulutku bekerja rakus. Sesekali aku berhenti untuk menekan dengan jari lalu kembali menjilat cepat membuat cairan hangatnya semakin terasa. Tubuh sintalnya menggeliat tanpa kendali. Pinggulnya terangkat berulang kali seolah mencari lebih banyak.
Aku mendengar jelas suaranya sekarang. Napas berat. Erangan tertahan. Rintihan kecil keluar setiap kali lidahku menjangkau titik paling peka. Semakin keras ia mencoba menahan semakin jelas tubuhnya menunjukkan bahwa ia sudah larut seluruhnya dalam permainan yang kuberikan.
Aku perlahan bangkit dari jongkok. Tubuhku maju ke depan bangku. Dengan posisi setengah membungkuk kedua tanganku langsung meraih paha Veronica. Kupaksa kakinya terangkat dan terbuka lebar lalu kutopangkan di lenganku agar tidak bisa menutup diri. Kursi kayu berderit keras menahan posisinya yang kini semakin terbuka.
Dari sudut ini pandanganku tepat lurus ke arah kemaluannya yang basah dan berdenyut. Cairan tipisnya sudah mengalir membasahi garis halus di antara lipatan dagingnya. Kontras dengan kulit pahanya yang putih mulus membuatku semakin terhanyut.
Batangku yang sudah keras kian berdenyut. Ujungnya menempel panas di kulit dalam pahanya. Dengan satu tangan menahan kakinya tanganku yang lain bergerak naik meremas buah dadanya kasar hingga tubuhnya melengkung spontan. Veronica mengerang. Bibirnya bergetar. Matanya menutup rapat menahan gelombang rangsangan.
Aku merunduk sedikit membiarkan batangku bergesekan di bibir kemaluannya. Panas dan lengket keluar dari sana. Veronica tersentak dan tubuhnya bergetar sementara aku semakin menekan bersiap menghujam masuk ke dalam dirinya.
Batangku mulai menghujam perlahan. Kepala kerasnya menekan masuk ke dalam daging basah Veronica. Seketika wajahnya menegang. Bibirnya terbuka lebar tanpa suara hanya desahan berat yang terputus putus. Tubuhnya bergidik. Kedua tangannya yang terikat menegang keras di samping kursi sementara kakinya yang kupaksa terbuka bergetar hebat di lenganku.
Aku melihat jelas ekspresi di wajah oriental Veronica. Matanya terbelalak. Rasa terkejut bercampur sakit dan kenikmatan datang bersamaan. Ia tahu batangku jauh lebih besar dan panjang dari yang pernah ia rasakan sebelumnya. Rona merah menjalar di pipinya. Keringat tipis muncul di pelipisnya. Setiap kali aku dorong lebih dalam tubuhnya terangkat dan kursi kayu berderit menahan beban.
“Aahh…” rintihannya pecah. Suara parau keluar bersama napas berat. Aku menahan diri agar tidak menghujam sekaligus. Aku hanya memberi tekanan pelan membiarkan liang sempitnya perlahan menyesuaikan dengan ukuran penisku. Dinding hangatnya melilit ketat batangku membuatku menggeram rendah sulit menahan hasrat untuk segera menghantam lebih keras.
Veronica mendongak. Wajahnya mendesis menahan sakit bercampur nikmat. Matanya berair. Tubuhnya justru semakin menerima setiap dorongan yang kuperdalam sedikit demi sedikit.
Aku menggertakkan gigi lalu mulai menghujam lebih keras cepat dan dalam. Suara basah bercampur derit kursi kayu memenuhi kamar. Liang sempit Veronica mencengkeram batangku kuat membuat setiap dorongan seperti menghantam dinding yang ketat namun basah.
Kedua tanganku mencengkeram pahanya erat menahannya agar tetap terangkat di bahuku. Posisinya benar benar terbuka dan tak bisa lari dari seranganku. Setiap kali aku menghentak tubuhnya terangkat sedikit dari bangku. Rambut hitamnya terurai kusut. Buah dadanya berguncang bebas mengikuti irama.
Lenguhan keras pecah dari bibirnya. Suara itu tak bisa lagi ia sembunyikan. Wajahnya menegang dan mata sipitnya terpejam rapat. Bibirnya tergigit hingga hampir berdarah. Namun dari basahnya kemaluannya dan dari caranya pinggulnya bergerak liar mengikuti ritmeku aku tahu ia sudah menyerah sepenuhnya pada irama ganas yang kupaksakan.
Aku menghujam lebih keras tanpa memberi kesempatan tubuhnya beristirahat. Setiap hentakan membuat bangku kayu bergeser sedikit demi sedikit di lantai seakan kamar mewah ini hanya menjadi panggung bagi tubuh mungil Veronica yang tak kuasa menolak dihajar habis habisan.
Aku menahan pinggul Veronica sejenak lalu menarik batangku keluar perlahan. Tubuhnya yang semula terdorong ke belakang akhirnya terhenti hanya menyisakan napas berat dan tubuh bergetar karena sisa hentakan tadi.
Kedua tanganku meraih sisi bangku dan dengan satu dorongan kuat kuputar arahnya hingga sandarannya menempel rapat pada pinggiran meja rias. Suara kayu berderit nyaring membuat Veronica menoleh cepat lewat pantulan cermin. Wajahnya memerah dan napasnya masih terputus putus.
Setelah bangku berada di posisi yang kuinginkan aku mendekat lagi. Tanganku mencengkeram lengannya dan memaksa tubuhnya bergeser dari duduk menjadi berlutut di atas dudukan. Lututnya menekan bantalan kursi dan tubuhnya condong ke depan sementara kedua tangannya tetap terikat di belakang punggung.
Aku berdiri tepat di belakang Veronica yang kini berlutut di atas bangku meja rias. Tubuhnya condong ke depan menghadap cermin besar. Rambut hitamnya tergerai kusut. Buah dadanya menggantung bebas berguncang setiap kali ia menarik napas berat. Gaun tidurnya masih melekat di tubuh namun bagian atas sudah melorot sampai ke perut hingga dada montoknya terpapar penuh di depan cermin. Kedua tangannya tetap terikat di belakang punggung membuat bahunya sedikit tertarik dan punggung putih mulusnya melengkung sempurna. Pinggulnya terangkat tinggi menghadirkan pemandangan yang menggoda tanpa bisa ia sembunyikan.
Dari arah belakang kedua tanganku mencengkeram pundaknya erat sebagai pegangan. Batangku yang hitam berurat kembali menegang penuh dan berdenyut menuntut. Aku mendekat menempelkan tubuhku ke belakangnya lalu dengan satu dorongan keras kutanamkan ke dalam kemaluannya yang sempit namun licin oleh rangsangan sebelumnya. Veronica terlonjak. Tubuhnya bergetar hebat. Mulutnya terbuka melepaskan teriakan kecil yang langsung pecah jadi erangan panjang. Rasa sakit dan nikmat bercampur tak sanggup ia kendalikan.
Pinggulku mulai bergerak menghantam pantatnya. Setiap kali batangku masuk tubuh montoknya terdorong maju menempel ke meja rias lalu kembali tertarik saat aku menarik keluar. Irama itu membuat buah dadanya terus berayun keras dan memantul tak beraturan.
Aku semakin mempercepat gerakan. Aku memompa sambil berdiri tegak dan menyalurkan seluruh tenagaku ke setiap dorongan. Veronica hanya bisa menerima. Tubuhnya terguncang tanpa kendali dan rambutnya terurai berantakan menutupi sebagian wajah oriental yang kini merah padam. Suara erangannya memenuhi kamar berpadu dengan suara hentakan tubuh kami yang keras berulang ulang.
Semakin lama semakin liar hingga aku merasakan setiap tarikan dan hentakan seakan merobek batas tubuhnya. Aku tenggelam lebih dalam dalam kenikmatan yang tak tertahankan.
Aku berdiri tepat di belakang Veronica yang berlutut di atas dudukan bangku. Tubuhnya menghadap meja rias besar di depannya. Kedua tangannya masih terikat rapi di belakang badan sehingga bahunya sedikit tertarik ke belakang. Dada anggunnya terdorong maju dan terlihat jelas lewat pantulan cermin.
Kedua tanganku mencengkeram kuat bahunya agar tubuh mungil itu tetap stabil. Batangku menghujam dari belakang keras dan dalam membuat tubuhnya terdorong ke depan setiap kali aku membenamkan diri. Bangku kayu berderit pelan menahan beban gerakan kami sementara napas Veronica pecah jadi erangan pendek yang tak bisa ia kendalikan.
Gaun tidur biru yang masih melekat di tubuhnya tersingkap acak acakan. Paha putih mulusnya terbuka lebar dan menempel di permukaan dingin bangku. Pantulan di cermin memperlihatkan jelas wajah orientalnya yang memerah. Mata sipitnya setengah terpejam dan bibir tipisnya terbuka menahan sakit bercampur nikmat dari setiap hentakan keras yang kutanamkan.
Dengan setiap dorongan tubuh Veronica terayun maju mundur. Rambut hitamnya tergerai kusut menutupi sebagian wajahnya. Aku menunduk sedikit menatapnya dari belakang sambil semakin menekan pundaknya memastikan ia tetap dalam posisi itu. Ia tidak bisa lari dan hanya bisa menerima semuanya dari pekerjanya sendiri.
Hooohh.. non.. ! Ssstt.. enak non..! aku jadi ngomong tak karuan. Ayo non... Goyangkan juga pan..tatmu! Ooohhh !!
Veronica menuruti perkataanku. Dengan cepat dia mencoba untuk mengikuti irama dan gerakan-gerakan nikmat yang kulakukan dari arah belakang. Aku mencengkeram lebih keras kedua bahu Veronica lalu mulai menghujam dengan tempo cepat sedangkan pinggulnya terlihat berputar putar seperti seorang penyanyi dangdut murahan. Setiap hentakan membuat bangku kayu berderit keras dan tubuhnya terayun maju hingga dadanya hampir menabrak meja rias. Napasnya pecah jadi erangan panjang dan wajahnya yang memerah terlihat jelas di pantulan cermin. Mata sipitnya terpejam rapat menahan sensasi yang semakin memuncak.
Aku semakin hilang kendali. Dorongan demi dorongan kutanamkan dalam dan cepat tanpa memberi jeda hingga tubuh mungilnya terdorong ke depan lalu terhempas menelungkup di atas meja rias. Ikatan di tangannya menahan sehingga tubuhnya tak berdaya selain pasrah pada irama keras yang kutentukan.
"Aduhh... sshhh... iya... terusshh... mmhh... aduhh... enak... pakk...
Erangannya makin tinggi bercampur dengan desahan nafasku yang berat. Pundaknya tetap kupegang kuat agar tidak terlepas dari doronganku yang semakin brutal. Hingga akhirnya dengan satu hentakan paling dalam seluruh tubuhku menegang. Tubuh Veronica ikut bergetar hebat dan wajahnya menekan permukaan meja sementara aku mencapai puncak klimaks yang menggelegar dan memenuhi tubuhku dengan rasa puas yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Bangku kayu masih berderit pelan saat aku berhenti. Tubuhnya tetap terkulai menelungkup di meja rias dengan gaun biru yang kusut dan rambut yang berantakan sementara napasnya terengah berat.
Tubuhku masih bergetar halus saat kutarik batangku keluar perlahan. Veronica mengeluarkan desah panjang dengan bibir menempel lemah di meja rias. Cairan hangat menetes di antara pahanya dan membasahi permukaan bangku kayu yang tadi bergoyang hebat.
Aku berdiri tegak sambil menatap pemandangan di depanku. Veronica masih terikat berlutut lemas dengan gaun biru melorot sampai ke pinggang. Dadanya yang montok tertekan meja rias dan berguncang kecil mengikuti napas yang belum stabil. Rambut hitam panjangnya menutupi sebagian wajah namun dari pantulan cermin aku melihat matanya sayu dan bibirnya terbuka separuh seolah tak sanggup lagi menyuarakan apapun selain sisa erangan.
Tanganku perlahan melepaskan cengkeraman di pundaknya lalu menelusuri punggungnya yang masih panas sambil menyapu keringat tipis di kulit putihnya. Sesaat hanya suara napas kami yang memenuhi ruangan berpadu dengan derit kayu bangku yang masih bergoyang pelan akibat sisa gerakan tadi.
Aku menatap pantulan di cermin. Pemandangan itu membuat dadaku kembali bergemuruh meski tubuhnya baru saja mencapai puncak. Veronica terlihat begitu rapuh namun di balik lelahnya masih ada jejak liar dari permainan yang barusan kami lewati.
Dengan napas masih berat aku menunduk ke belakang tubuhnya. Tali yang sejak tadi mengikat pergelangan tangannya kuat kuurai perlahan. Ikatan itu meninggalkan bekas merah di kulit putihnya yang lembut dan membuatnya terlihat semakin rapuh.
Begitu tangannya bebas ia langsung jatuh lemas ke atas meja rias. Pipinya menempel di permukaan kaca yang dingin sementara jemarinya bergerak gemetar seolah baru bisa merasakan kembali kebebasannya. Ia menarik napas panjang dan dadanya yang montok ikut terangkat lalu jatuh lagi. Gaun tidur biru yang ia kenakan sudah kusut dan melorot hingga hanya tersisa di pinggang.
Aku berdiri di belakangnya sambil menatap pantulan di cermin besar. Veronica terlihat kacau dengan rambut coklatnya yang berantakan dan wajah yang basah oleh keringat. Bibirnya merah merekah karena sering tergigit saat menahan erangan tadi. Justru keadaan seperti itulah yang membuat pemandangan ini semakin menggoda.
Tanganku terulur untuk menyibak rambutnya ke samping lalu mengusap lembut pundaknya yang masih hangat. Veronica hanya mengerang pelan. Tubuhnya benar benar kehabisan tenaga namun matanya di cermin menatap ke arahku. Tatapannya sayu dan pasrah namun ada percikan yang membuat dadaku kembali berdegup kencang.





ekse lagi si majikan.......ayooooo
BalasHapusUpdate lagi majikan hot ini suhu
BalasHapus