
By : Analconda13
Aku tinggal di sebuah gang sempit di kawasan pecinan. Rumahku adalah bangunan tua dengan arsitektur campuran Tionghoa dan kolonial. Dindingnya sudah kusam karena catnya banyak mengelupas dan beberapa kayu jendela lapuk dimakan usia. Kusen pintu sering berdecit setiap kali dibuka sementara lantai ubin tua di ruang tengah terasa dingin kalau diinjak tanpa alas kaki. Atap gentengnya kerap bocor saat hujan deras sehingga ember dan baskom selalu siap di sudut ruangan untuk menampung tetesan air.
Gang ini memang tidak lebar sehingga hanya cukup dilalui satu motor dengan hati-hati. Rumah-rumah berdempetan rapat dan di siang hari sinar matahari hanya bisa masuk tipis menembus sela-sela atap. Pagi hari aroma bawang goreng kue tradisional dan kopi sering bercampur memenuhi udara karena hampir semua tetangga membuka usaha kecil di depan rumah mereka. Suara anak-anak berlarian ibu-ibu berbelanja ke pasar dan orang tua yang duduk di kursi bambu sambil merokok kretek menjadi pemandangan sehari-hari di sini.
Di dalam rumah, ada satu hal yang membuat suasana tetap hangat meski bangunannya sudah rapuh. Dari dapur, aroma kopi giling selalu menyebar. Setiap pagi aku menyiapkan biji kopi dari karung yang disimpan di pojok dapur, lalu menggilingnya dengan mesin sederhana. Bau pahit manis itu meresap ke dinding kayu, menempel di pakaian yang digantung, bahkan bercampur dengan udara lembap rumah tua ini.
Namaku Caroline Susanto, umurku dua puluh satu tahun. Aku seorang gadis Chindo yang sedang kuliah di jurusan akuntansi. Setiap hari aku harus bolak balik dari kampus ke rumah. Di siang hari aku sibuk dengan tumpukan buku dan tugas kuliah, sementara di malam hari aku kembali ke gang kecil ini untuk membantu kakekku. Hidup sederhana di rumah tua membuatku harus terbiasa membagi waktu antara belajar, bekerja membantu keluarga, dan menjaga rumah yang semakin menua.
Kadang aku iri melihat teman teman kampusku yang tinggal di apartemen modern dengan fasilitas lengkap, tetapi di saat yang sama aku sadar rumah tua ini punya cerita. Setiap sudutnya menyimpan kenangan keluarga, setiap aroma kopi yang tercium dari dapur membuatku merasa bahwa meski sederhana, tempat ini tetap menjadi bagian dari diriku yang tak tergantikan.
Masa kecilku tidak pernah mudah. Kedua orang tuaku tidak lagi ada sejak kerusuhan melanda kota. Rumah kami dijarah massa dan usaha kopi giling keluarga hancur berantakan. Api membakar sebagian besar bangunan, suara teriakan bercampur dengan kaca yang pecah dan bau asap memenuhi udara hingga membuat napasku sesak.
Di tengah kekacauan itu aku yang masih kecil hanya bisa menangis ketakutan. Dari balik asap tebal aku melihat sosok Burhan, pegawai setia di toko kopi giling orang tuaku. Lelaki pribumi itu nekat menerobos kerumunan, tubuhnya menabrak orang orang yang berteriak dan melempar batu. Ia meraih tanganku, menarikku keluar dari rumah yang hampir runtuh lalu membawaku lari tanpa menoleh lagi.
Namun di balik rutinitas itu aku tahu ada sesuatu yang tersembunyi di rumah ini. Rumah tua peninggalan orang tuaku punya banyak kamar kosong yang pintunya jarang sekali dibuka. Ada lemari kayu jati tua yang penuh debu di lorong belakang dan sudut gelap di dekat tangga yang hampir tidak pernah tersentuh. Setiap kali aku lewat di sana selalu ada perasaan aneh, seperti ada sesuatu yang masih tertinggal dan menunggu ditemukan.
Suatu malam listrik di rumahku sempat padam sebentar. Aku buru-buru menyalakan lilin kecil di ruang tengah lalu mencoba mencari senter cadangan di kamar belakang. Udara terasa lembap dan dingin karena angin dari celah jendela masuk tanpa penghalang.
Masa kecilku tidak pernah mudah. Kedua orang tuaku tidak lagi ada sejak kerusuhan melanda kota. Rumah kami dijarah massa dan usaha kopi giling keluarga hancur berantakan. Api membakar sebagian besar bangunan, suara teriakan bercampur dengan kaca yang pecah dan bau asap memenuhi udara hingga membuat napasku sesak.
Di tengah kekacauan itu aku yang masih kecil hanya bisa menangis ketakutan. Dari balik asap tebal aku melihat sosok Burhan, pegawai setia di toko kopi giling orang tuaku. Lelaki pribumi itu nekat menerobos kerumunan, tubuhnya menabrak orang orang yang berteriak dan melempar batu. Ia meraih tanganku, menarikku keluar dari rumah yang hampir runtuh lalu membawaku lari tanpa menoleh lagi.
Setelah kerusuhan rumah tua itu direnovasi sekedarnya supaya bisa ditinggali lagi. Atap genteng yang hangus diganti dengan genteng baru meski warnanya tidak seragam dan beberapa bagian dinding dibetulkan dengan semen kasar lalu dicat ulang dengan warna putih sederhana. Kayu-kayu jendela yang lapuk diganti sebagian sementara kusen pintu yang berdecit diperbaiki agar tidak terlalu berisik. Rumah masih terasa tua tapi setidaknya tidak lagi berbau asap dan runtuh.
Sekarang aku tinggal di sana bersama Burhan yang sudah seperti kakek bagiku. Ia tetap bangun pagi-pagi untuk menyiapkan kopi dan nasi hangat lalu membangunkanku dengan suara pelan. Kami berdua mengurus rumah tua ini bersama-sama. Pagi hari aku membantu menggiling biji kopi di dapur sementara Burhan membuka pintu depan supaya aroma kopi menyebar ke gang. Siang hari aku ke kampus dan malam hari kami duduk bersama di ruang tengah sambil minum kopi hitam dan bercerita tentang hari itu.
Rumah yang dulu hampir hancur kini menjadi tempat kami berlindung. Setiap sudutnya masih menyimpan bekas luka masa lalu tapi juga penuh kehangatan dari kebersamaan kami berdua. Aroma kopi yang selalu ada membuatku merasa aman dan Burhan yang setia membuatku tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar sendirian. Hidup sederhana di rumah renovasi seadanya ini justru membuatku belajar menghargai apa yang tersisa dan terus berusaha maju untuk masa depan.
Namun di balik rutinitas itu aku tahu ada sesuatu yang tersembunyi di rumah ini. Rumah tua peninggalan orang tuaku punya banyak kamar kosong yang pintunya jarang sekali dibuka. Ada lemari kayu jati tua yang penuh debu di lorong belakang dan sudut gelap di dekat tangga yang hampir tidak pernah tersentuh. Setiap kali aku lewat di sana selalu ada perasaan aneh, seperti ada sesuatu yang masih tertinggal dan menunggu ditemukan.
Suatu malam listrik di rumahku sempat padam sebentar. Aku buru-buru menyalakan lilin kecil di ruang tengah lalu mencoba mencari senter cadangan di kamar belakang. Udara terasa lembap dan dingin karena angin dari celah jendela masuk tanpa penghalang.
Di pojok kamar itu berdiri sebuah lemari kayu jati tua yang sudah lama tidak pernah kusentuh. Permukaannya dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Pintu lemari terasa seret saat kutarik, engselnya berderit panjang seperti menolak untuk dibuka. Aku menahan napas dan terus mendorongnya hingga celahnya cukup lebar.
Di dalamnya ada tumpukan kain lama yang sudah berbau apak, beberapa barang antik dari keramik tiongkok dan sebuah buku catatan berkulit tebal yang warnanya sudah kusam. Sampulnya penuh debu hingga tanganku kotor saat menyentuhnya.
Aku membawanya keluar lalu meniup permukaan sampulnya. Di halaman pertama tertulis dengan tangan yang sudah agak gemetar: Catatan pribadi B. L.. Aku langsung menelan ludah. Itu jelas inisial dari Burhan, kakek angkatku. Ada rasa bersalah karena membuka sesuatu yang bukan milikku tapi rasa ingin tahu jauh lebih kuat.
Di dalamnya ada tumpukan kain lama yang sudah berbau apak, beberapa barang antik dari keramik tiongkok dan sebuah buku catatan berkulit tebal yang warnanya sudah kusam. Sampulnya penuh debu hingga tanganku kotor saat menyentuhnya.
Aku membawanya keluar lalu meniup permukaan sampulnya. Di halaman pertama tertulis dengan tangan yang sudah agak gemetar: Catatan pribadi B. L.. Aku langsung menelan ludah. Itu jelas inisial dari Burhan, kakek angkatku. Ada rasa bersalah karena membuka sesuatu yang bukan milikku tapi rasa ingin tahu jauh lebih kuat.
Aku duduk di lantai hanya ditemani cahaya lilin yang bergetar karena hembusan angin lalu membuka halaman berikutnya. Tulisan di dalamnya bukan sekadar catatan dagang atau resep kopi melainkan semacam jurnal pribadi. Kalimat-kalimat panjang mendeskripsikan sosok perempuan muda berparas oriental dengan rambut hitam lurus dan kulit putih halus yang sering digambarkan berjalan di dalam rumah sambil memakai daster tipis. Ada pula kalimat yang mengungkapkan perasaannya ketika mengintipku saat sedang mandi atau berganti pakaian di kamar.
Aku membaca kalimat itu berulang-ulang supaya yakin bahwa mataku tidak salah. Jantungku berdegup lebih kencang sementara wajahku terasa panas. Ia menulis tentang lekuk tubuhku yang terlihat samar di balik kain tipis tentang bagaimana air mandi mengalir di kulitku dan tentang aroma sabun yang tercium dari tubuhku setelah selesai mandi. Semua detailnya begitu jelas dan intim sehingga aku merasa seperti telanjang di hadapannya meski saat ini aku sendirian di kamar gelap.
Rasa ngeri bercampur dengan getaran aneh yang merayap di perutku. Aku menutup buku itu pelan tapi tanganku masih gemetar. Lilin di sampingku sudah semakin redup sehingga bayangan tubuhku memanjang di dinding. Aku memeluk lutut erat sambil mencoba mengatur napas. Pikiranku berputar antara marah karena privasiku dilanggar dan sensasi panas yang sulit kuhindari karena tahu bahwa selama ini ada mata yang memandangku dengan birahi yang tersembunyi.
Aku terdiam dan dadaku terasa sesak. Semakin banyak halaman kubaca semakin jelas gambaran itu mengarah padaku sendiri. Semua detailnya mirip dengan keseharianku di rumah ini. Ia menulis tentang tas ransel sekolah berwarna pink yang dulu sering kupakai bersepeda ke sekolah menengah dulu dan tentang bagaimana rok seragamku tersingkap sedikit saat aku membungkuk mengambil sesuatu di lantai. Ada juga catatan tentang baju ketat yang kupakai saat pergi kuliah yang membuat lekuk payudara dan pinggangku terlihat jelas dari balik kain tipis itu.
Jantungku berdegup kencang sementara rasa ngeri bercampur dengan panas yang merambat di tubuhku. Aku tak menyangka pria tua yang selama ini kukenal sederhana yang setiap hari hanya sibuk menggiling kopi dan melayani tetangga ternyata diam-diam menyimpan catatan penuh imajinasi tentang diriku. Ia bahkan menulis tentang aroma sabun mandiku yang masih menempel di rambut setelah aku keluar dari kamar mandi dan tentang bagaimana paha mulusku terlihat saat aku duduk di tangga sambil membaca buku kuliah.
Aku menutup buku itu dengan cepat. Jantungku masih berdetak kencang dan tanganku gemetar. Tapi bayangan kata-kata yang barusan kubaca sudah terlanjur menempel di kepalaku. Api lilin di sampingku bergoyang tertiup angin dari jendela sehingga bayangannya menari liar di dinding kamar. Aku memeluk lututku erat sementara tubuhku gemetar bukan hanya karena takut tapi juga karena ada sensasi aneh yang sulit kuakui. Panas di antara pahaku mulai terasa lembap dan aku merasa malu karena tubuhku bereaksi terhadap rahasia yang seharusnya membuatku marah.
Malam itu aku sulit tidur. Setiap kali aku memejamkan mata maka tulisan itu muncul lagi dan melintas di pikiranku sehingga gairahku mulai bangkit dari persembunyiannya. Aku gelisah dan terus berguling di ranjang sempit sambil mencoba menepis rasa bersalah tapi semakin kutepis semakin kuat rasanya. Kipas angin tua di pojok kamar hanya berputar pelan sehingga meniupkan udara hangat yang membuat kulitku semakin lengket oleh keringat.
Tanganku akhirnya bergerak sendiri. Jari-jariku perlahan menyusuri pahaku dari atas daster tipis yang sudah kusut sampai ke kulit hangat di bawahnya. Aku menahan napas seakan ingin menguji sendiri perasaan aneh yang sejak tadi bergejolak di dalam tubuhku. Sentuhan itu ringan dulu tapi lama-kelamaan semakin berani. Aku menggeser daster ke atas sehingga paha mulusku terbuka lebar dan jari-jariku merayap lebih tinggi mendekati lipatan lembut di antara kedua kakiku.
Kemaluan sudah terasa basah dan panas. Lendir kawin mulai mengalir pelan sehingga membuat celana dalamku lembap. Aku menggigit bibir bawah supaya tidak melenguh terlalu keras sementara jari tengahku menyentuh klitoris yang sudah mengeras. Tubuhku langsung menggeliat kecil dan napasku tersengal. Aku membayangkan mata Burhan yang diam-diam memandangku dari balik pintu atau celah dinding seperti yang ia tulis di buku itu. Bayangan itu malah membuat birahiku semakin membara.
Aku memejamkan mata lebih rapat lalu memasukkan satu jari ke dalam liang kewanitaanku yang licin. Sensasinya hangat dan penuh sehingga aku mendesis pelan. Jari-jariku mulai bergerak maju mundur mengikuti irama yang semakin cepat sementara tangan satunya meremas buah dada sendiri melalui kain daster. Puting susu sudah mengeras dan sensitif sehingga setiap sentuhan membuatku melenguh kecil. Aku membayangkan tangan kasar Burhan yang biasa menggiling kopi kini menyentuhku dengan cara yang sama penuh hasrat tersembunyi.
Gairah semakin memuncak. Pinggulku terangkat sendiri mengikuti irama jari yang memompa lebih dalam. Aku merasa cairan semakin banyak mengalir dan membasahi seprai di bawah tubuhku. Akhirnya tubuhku menegang keras lalu meledak dalam gelombang kenikmatan yang membuatku mengerang pelan sambil menutup mulut dengan tangan satunya supaya suara tidak terdengar ke kamar Burhan di sebelah. Setelah itu aku terbaring lemas dengan napas tersengal dan tubuh masih bergetar ringan. Rasa bersalah kembali datang tapi kali ini bercampur dengan kepuasan yang sulit kuhapus dari pikiranku.
Keesokan paginya aku berusaha bersikap biasa saja. Aku menemani kakek Burhan menggiling kopi untuk pelanggan yang datang sejak subuh. Lelaki tua itu tetap seperti biasanya tenang dan telaten menakar bubuk kopi dengan timbangan kecil yang sudah aus. Tangannya bergetar sedikit tapi gerakannya masih teratur. Sesekali ia menepuk bahuku sambil berkata
"Lin.. Kamu kelihatan pucat hari ini. jangan lupa sarapan ya kalau mau pergi kuliah... Aku hanya tersenyum kaku sambil mengangguk.
Ada rasa hangat menjalar di dadaku sebuah kesadaran baru bahwa orang di hadapanku adalah penulis catatan yang semalam membuat darahku berdesir. Setiap kali tangannya menyentuh bahuku meski hanya sebentar aku merasa getaran kecil merayap di kulitku. Aku mencuri pandang ke wajahnya yang sudah berkerut tapi masih tenang sementara aroma kopi segar memenuhi dapur kecil kami. Pikiranku melayang ke kalimat-kalimat di buku itu tentang tubuhku yang ia gambarkan dengan detail begitu hidup.
Aku mengaduk kopi di cangkir pelanggan supaya tanganku sibuk dan tidak gemetar. Tapi setiap gerakan Burhan membuatku teringat bagaimana ia diam-diam mengamati aku saat mandi atau berganti baju. Rasa malu bercampur dengan birahi yang masih tersisa dari malam tadi sehingga liang kewanitaanku terasa hangat lagi meski aku hanya berdiri di depan meja dapur. Aku menarik napas dalam-dalam supaya suara tidak terdengar aneh lalu berusaha fokus pada pekerjaan sambil berharap ia tidak menyadari pipiku yang memerah.
Rasa Penasaran Yang Semakin Besar.
Hari-hari berikutnya aku tidak bisa menahan diri. Setiap malam setelah rumah sepi dan Burhan sudah tidur, aku kembali membuka catatan itu diam-diam. Aku membacanya perlahan sambil berbaring di ranjang, hanya ditemani cahaya lampu belajar kecil. Semakin jauh kubaca semakin jelas detail fantasi yang ia tulis. Ada deskripsi tentang bagaimana perempuan muda itu menunduk ketika menuang kopi, bagaimana kain tipisnya menempel di tubuh ketika tertiup angin, bagaimana senyumannya membuat lelaki tua itu merasa tergoda sekaligus bersalah.
Aku bisa merasakan tubuhku sendiri ikut bereaksi. Kata-kata itu seperti bayangan yang menempel di setiap gerakanku. Aku jadi lebih sadar ketika berjalan di dalam rumah. Aku memperhatikan daster tipis yang menempel di kulitku saat aku keluar dari kamar mandi. Aku memperhatikan tatapan Burhan ketika aku tanpa sengaja menunduk terlalu rendah untuk mengambil sesuatu di meja.
Rasanya berbeda sekarang. Bukan sekadar rutinitas sederhana di rumah tua ini. Ada ketegangan samar yang menyelinap di antara kami, ada kesadaran erotis yang pelan-pelan tumbuh dan membuatku gelisah. Bahkan saat aku menyiapkan kopi untuk pelanggan aku bisa merasakan dadaku berdegup lebih kencang, seolah tulisan di buku itu membuatku benar-benar hidup di dalamnya.
Malam Penuh Gairah.
Suatu malam hujan turun deras sehingga suaranya menimpa genteng rumah tua kami hingga seluruh ruangan terasa lembap dan dingin. Listrik tiba-tiba padam membuat rumah tenggelam dalam kegelapan total. Aku duduk sendirian di meja kayu panjang tempat Burhan biasanya meracik kopi setiap pagi.
Di depanku buku catatan itu terbuka lebar. Lilin kecil bergetar karena angin masuk dari celah jendela sehingga cahayanya menyoroti huruf-huruf yang samar di halaman. Tubuhku hanya terbalut daster tipis dengan tali berenda warna pink. Kainnya begitu ringan dan licin sehingga menempel di kulit setiap kali angin dingin berhembus masuk. Bahu kiriku kadang terbuka karena talinya melorot membuatku harus menariknya lagi sambil mendesah pelan.
Di tengah sepi dan cahaya lilin yang redup bayangan tubuhku sendiri tampak bergerak di dinding. Aku merapatkan paha agar tetap hangat tapi kain tipis itu justru membuat kulitku semakin terasa terbuka dan sensitif terhadap udara malam. Puting susuku mengeras karena dingin dan gesekan kain halus sehingga terlihat samar menonjol di balik daster.
Mataku berhenti di sebuah halaman yang belum pernah kusentuh sebelumnya. Isinya berbeda dari halaman-halaman awal. Tulisan itu menggambarkan seorang perempuan muda yang akhirnya menyadari fantasi yang selama ini ditujukan padanya. Bukan lari tapi ia memilih menyambutnya. Ia digambarkan mendekati lelaki tua itu dengan langkah pelan membiarkan daster tipisnya melorot dari bahu lalu jatuh ke lantai sehingga tubuh telanjangnya terpampang di depan mata yang sudah lama memandangnya dari kejauhan.
Kalimat-kalimat itu semakin detail. Ia menulis tentang bagaimana perempuan itu membiarkan tangan kasar lelaki tua menyentuh payudaranya meremas lembut lalu lebih kuat sampai ia melenguh pelan. Tentang bagaimana ia membuka paha sendiri mengundang jemari yang gemetar untuk menyusuri lipatan lembap di antara kakiku sampai akhirnya memasukkan jari ke dalam liang kewanitaannya yang sudah basah oleh lendir kawin. Ada kalimat yang menggambarkan penis lelaki tua itu mengeras perlahan meski usianya sudah lanjut lalu menghujam masuk ke dalam tubuh perempuan itu dengan dorongan pelan tapi dalam sampai ia menjerit kecil karena campuran sakit dan nikmat.
Aku menelan ludah keras. Napasku menjadi pendek dan cepat sementara panas kembali merambat dari perut ke bawah. Kemaluan sudah terasa berdenyut dan basah meski aku belum menyentuhnya. Aku menggeser posisi duduk sehingga paha terbuka sedikit dan kain daster tersingkap lebih tinggi. Angin dingin menyentuh langsung kulit sensitif di sana membuatku mendesis pelan. Jari-jariku bergerak sendiri menyusuri paha dalam lalu menyentuh bibir kemaluan yang sudah licin. Aku membaca ulang kalimat terakhir di halaman itu sambil menggosok klitoris perlahan dan tubuhku mulai menggeliat kecil di kursi kayu.
Bayangan Burhan muncul di pikiranku. Lelaki yang setiap pagi menepuk bahuku dengan lembut kini kubayangkan berdiri di ambang pintu memandangku dengan mata penuh birahi yang selama ini ia sembunyikan. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar ada di sana atau hanya imajinasi tapi sensasinya terasa begitu nyata sehingga gairahku semakin membara. Aku memejamkan mata lalu membiarkan jari tengahku masuk ke dalam liang yang hangat dan sempit sambil membayangkan batang kejantanan Burhan yang menggantikan jari itu memompa masuk dan keluar dengan irama yang semakin kasar.
Aku menelan ludah keras. Dadaku naik turun cepat sementara jantungku berdebar keras seolah sedang dipacu kencang. Jari-jariku berkeringat sehingga sulit membalik halaman berikutnya. Aku baru saja hendak menutup buku itu ketika dari arah lorong terdengar suara langkah pelan mendekat.
Aku tersentak kecil lalu segera kututup buku itu rapat-rapat dan kudorong ke samping meja. Tapi lilin masih menyoroti sampul kulitnya yang kusam sehingga terlihat jelas di bawah cahaya kuning redup. Hujan di luar semakin deras sementara tiupan angin membuat jendela berderak keras. Suasana makin pekat dan setiap bunyi kecil terasa menegangkan di telingaku.
Dari lorong gelap perlahan muncul sosok Burhan. Rambutnya yang sudah memutih sebagian tampak basah mungkin karena ia baru saja menutup jendela bocor di dapur. Bajunya juga sedikit lembap di bagian bahu. Ia berdiri beberapa langkah dariku lalu tersenyum samar saat melihat aku masih terjaga di meja.
"Kamu belum tidur Lin ini kan sudah malam" ucapnya pelan. Suara seraknya tenggelam bercampur dengan derasnya hujan di luar.
Aku meremas ujung dasterku sendiri di bawah meja supaya menutupi kegugupanku. "I iya aku lagi nggak bisa tidur kek" jawabku cepat sambil menghindari tatapannya. Tapi dalam hati debaranku semakin kencang. Aku tahu buku itu masih tergeletak di sampingku hanya tertutup seadanya dan jika Burhan melangkah sedikit lebih dekat semuanya bisa terbongkar.
Aku merapatkan paha lebih erat karena kain daster tipis itu sudah menempel lengket di kulitku yang mulai berkeringat dingin. Puting susuku masih mengeras karena dingin dan sensasi yang belum hilang sepenuhnya dari tadi. Aku mencuri pandang ke wajah Burhan yang tenang tapi matanya terlihat lebih tajam di bawah cahaya lilin. Aku takut ia melihat buku itu tapi di saat yang sama ada bagian dalam diriku yang berharap ia mendekat lebih jauh supaya aku bisa melihat reaksi aslinya.
Burhan melangkah satu langkah lagi lalu menarik kursi di seberangku. Ia duduk pelan sambil mengusap rambut basahnya.
"Hujan deras begini biasanya bikin orang susah tidur ya.. katanya sambil menatapku lembut. Tangannya terletak di atas meja hanya beberapa senti dari buku catatan itu. Aku menahan napas dan merasakan panas kembali merambat di antara pahaku meski aku berusaha diam.
Aku bisa merasakan pandangan matanya. Mata yang dulu kukenal penuh kasih sayang seorang kakek kini terasa berbeda. Tatapannya seolah dalam dan menyimpan sesuatu yang tidak pernah kutangkap sebelumnya. Aku menunduk tapi bayangan wajahnya masih terasa jelas di pikiranku.
"Kadang.. Gumamnya sambil menatap permukaan teh panas di tangannya. "rumah ini memang penuh rahasia. Kalau kamu mencari terlalu dalam bisa saja menemukan sesuatu yang bikin kamu sulit tidur.
Darahku langsung berdesir. Ucapannya seperti menembus ke dalam pikiranku. Apakah ia tahu aku membuka catatannya? Atau ia sengaja bicara begitu untuk mengujiku? Aku menelan ludah, tubuhku kaku tapi entah kenapa ada sesuatu yang hangat merambat di dadaku.
Aku mengangkat wajah perlahan. Untuk pertama kalinya aku berani menatapnya tanpa bersembunyi di balik rasa bersalah. Sorot matanya membuat tubuhku bergetar. Ada jeda panjang, hening hanya diisi hujan deras dan suara tetesan air dari atap bocor. Bibirku bergetar, aku ingin mengucapkan sesuatu tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Suara hujan makin keras di luar. Genteng rumah tua seperti dihempas ribuan batu kecil. Udara semakin dingin tapi tubuhku justru terasa panas. Jari-jariku tanpa sadar bergerak menyusuri tepi meja kayu yang lembap. Gerakannya pelan sampai akhirnya berhenti tepat di atas sampul buku catatan itu.
Mata Burhan langsung menoleh. Tatapannya jatuh ke tanganku lalu naik ke wajahku. Aku ikut menatap balik. Untuk sesaat waktu terasa berhenti. Dalam sorot matanya ada sesuatu yang selama ini hanya kubaca di halaman-halaman catatan. kini terasa nyata, hadir di hadapanku. Dadaku bergetar hebat, bukan hanya karena gugup tapi juga karena ada rasa yang tak bisa kutolak.
Aku menarik napas panjang. Tanganku gemetar saat perlahan membuka kembali buku itu di depan kakek angkatku. Halaman yang penuh tulisan terbuka. tinta hitamnya sudah mulai pudar tapi masih jelas terbaca. Cahaya lilin jatuh tepat di atas kata-kata yang dulu ia tulis dengan tangan gemetar.
Aku mengangkat wajah. Suaraku lirih, hampir tidak terdengar di antara derasnya hujan.
"Ini… semua tentang aku kan kek ?!!
Burhan tidak langsung menjawab. Wajahnya kaku dan matanya tidak lepas dari halaman buku itu lalu kembali menatapku. Ruangan terasa semakin sempit hanya ada suara hujan, detak jantungku dan tatapan yang membuatku hampir kehilangan napas.
Lelaki tua itu terdiam. Jemarinya sedikit bergetar di atas meja. Sorot matanya menunjukkan keraguan, ada rasa bersalah tapi juga ada sesuatu yang seperti mendidih di balik tatapannya. Aku menunduk dan wajahku memanas lalu berkata pelan
"Aku sudah baca semuanya… dan aku nggak bisa berhenti mikirin itu. Kataku lirih sambil meremas ujung daster tipisku.
Ruangan hening. Suara hujan deras di luar jadi satu-satunya yang terdengar. Tetesan air dari atap bocor jatuh ke ember di sudut ruangan, ritmenya membuat suasana makin menegangkan.
Perlahan Burhan mengulurkan tangannya ke arahku. Jemarinya yang kasar menyentuh punggung tanganku di atas meja. Sentuhan itu sederhana, tidak lebih dari sentuhan ringan tapi tubuhku langsung bergetar hebat. Rasanya seperti garis tipis antara fantasi yang kutemukan di halaman buku dan kenyataan akhirnya runtuh malam itu.
Jemarinya hanya diam menempel di punggung tanganku. Sentuhannya tidak menekan, hanya berhenti di sana, tapi cukup untuk membuat kulitku merinding. Aku bisa merasakan jelas perbedaan usia puluhan tahun di antara kami. Kulit mudaku yang halus beradu dengan kulit tuanya yang penuh gurat kehidupan. Dadaku terasa sesak, tapi sekaligus hangat.
Aku mendongak perlahan, menatap matanya lagi. Tatapan itu tidak sama dengan dulu. Tatapan itu membuatku sulit bernapas, seolah aku sudah terseret masuk ke dalam isi catatannya sendiri.
Aku menggigit bibir dan ingin menarik tanganku, tetapi tubuhku terasa kaku sehingga aku tidak bisa bergerak. Tatapanku jatuh ke arah tangan kami yang saling menempel di atas meja kayu usang itu.
"Lin… suara Burhan terdengar serak dan berat seolah penuh keraguan. "Seharusnya kamu nggak baca tulisan itu..
Aku menelan ludah lalu berbisik pelan.
"Tapi aku udah baca semuanya. Dan aku… aku juga ikut merasakannya.
Suasana hening untuk beberapa saat. Hujan di luar makin keras dan terdengar seperti genderang yang terus dipukul. Lilin di meja bergoyang karena angin dari celah jendela sehingga cahaya dalam ruangan makin redup. Pelan-pelan aku membalik telapak tanganku sehingga genggaman itu kini datang dariku. Burhan menarik napas panjang dan dadanya terlihat naik turun. Wajah tuanya menegang seolah ia sedang menahan sesuatu yang sudah lama ia sembunyikan.
Tanpa banyak kata aku berdiri dari kursi. Daster tipis bertali yang kupakai ikut bergerak mengikuti tubuhku dan terasa menempel karena udara lembap dari hujan. Aku melangkah mengitari meja lalu berhenti di samping kursi tempat Burhan duduk.
Ia mendongak menatapku. Matanya terlihat campur aduk, ada rasa bersalah, ada keraguan tetapi ada juga sesuatu yang jelas ia sembunyikan dengan susah payah. Aku menunduk dengan wajah penuh gairah lalu menyentuh bahunya dengan tangan gemetar.
"Kalau memang aku yang selalu ada di pikiran Kakek… Bisikku pelan dan hampir tidak terdengar. "Malam ini… biarkan aku benar-benar jadi milik kakek..
Burhan tidak langsung menjawab. Kedua matanya menatapku tajam seolah memastikan ia tidak salah dengar. Aku menunduk lebih dekat sampai wajahku hanya sejengkal dari wajahnya. Aku bisa mencium campuran aroma kopi, hujan, dan samar wangi dari leherku sendiri yang masih tersisa setelah mandi tadi sore.
Aku menahan napas ketika tangannya terangkat. Jemarinya terasa kasar, hangat, dan perlahan menyentuh pipiku. Sentuhan itu membuat seluruh tubuhku merinding. Ia menarik wajahku ke arahnya dan bibir kami pun bertemu. Awalnya ragu, sekadar sentuhan singkat tetapi dengan cepat berubah jadi lebih dalam dan penuh gairah. Rasanya seperti semua kalimat di catatan yang sempat kubaca kini meledak jadi kenyataan di hadapanku.
Aku menghela napas panjang dan seluruh tubuhku langsung merinding. Jemariku mencengkeram kuat bahu Burhan, sementara jantungku berdegup sangat kencang seakan ingin meloncat keluar. Setiap kali bibirnya menyentuh bibirku, aku merasakan sesuatu yang asing sekaligus terlarang namun hal ini justru membuatku semakin larut di dalamnya.
Ciuman itu terputus sebentar ketika kami sama-sama menarik napas. Aku menunduk dengan pipi hangat memerah dan bibirku terasa basah berkilau diterpa cahaya lilin. Jemariku masih menekan bahunya erat seakan aku tidak ingin lepas, seakan tubuhku sendiri butuh pegangan agar tidak roboh.
Burhan menatapku lekat-lekat. Aku bisa melihat matanya bergetar dipenuhi keraguan antara menolak dan menyerah. “Lin… kita tidak seharusnya begini. Tulisan Itu hanya khayalan liar semata.. Gumamnya dengan suara serak yang nyaris pecah.
Aku menggeleng pelan dan wajahku tetap sangat dekat dengannya. “Aku yang memilih kek… aku yang membuka buku itu… dan aku juga yang menginginkan semua ini terjadi. Jawabku lirih namun penuh keyakinan.
Tanganku yang gemetar perlahan menekan bahunya lalu aku mengangkat kakiku dan duduk di pangkuannya menghadap ke arahnya. Kursi kayu itu langsung berderit pelan menahan beban kami berdua. Daster tipis bertali yang kukenakan ikut tersingkap sedikit di bagian pahaku sehingga kulitku langsung bersentuhan dengan kain celana tuanya yang kasar. Burhan terdiam dengan tubuh kaku sementara aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang menyatu dengan tubuhku. Posisi saling berhadapan itu membuatku yakin bahwa batas di antara kami sudah benar-benar hilang
Aku menunduk lagi dan bibirku langsung menyentuh bibir Burhan. Kali ini bukan lagi ragu, melainkan terasa dalam dan penuh gairah. Tanganku yang halus merayap ke belakang lehernya lalu menarik tubuhnya semakin dekat. Daster tipis yang kupakai ikut bergeser hingga bahu kiriku terbuka, menampilkan kulit putih yang terasa dingin karena udara lembap.
Jemari Burhan yang kasar karena bertahun-tahun menggiling kopi dan mengangkat karung berat bergerak hati-hati ke pinggangku. Sentuhan itu membuatku mendesah kecil di sela ciuman. Tubuhku bergetar hebat, namun bukannya menjauh, aku justru menekan tubuhku lebih rapat padanya.
Suara hujan di luar semakin deras hingga menenggelamkan semua bunyi di rumah tua ini. Lilin di atas meja bergoyang ditiup angin dari celah jendela, cahayanya jatuh ke daster tipis yang semakin terbuka sedikit demi sedikit. Kulitku yang hangat terekspos di hadapan lelaki tua itu, dan aku bisa merasakan tatapannya yang dalam.
Aku memejamkan mata, bibirku terlepas perlahan dari ciumannya, lalu aku menempelkan bibirku di dekat telinganya. Napasku gemetar, suaraku manja, namun jelas.
“Kek… tulisanmu di buku itu… biarkan jadi kenyataan malam ini.
Tubuhku masih bergetar ketika aku berbisik di telinga Burhan. Kata-kataku sendiri terasa seperti kunci yang membuka pintu fantasi terlarang, pintu yang selama ini hanya terkunci di lembaran lusuh catatan kulit itu.
Dengan gerakan ragu namun penuh hasrat, jemari kasarnya bergerak menyusuri sisi pinggangku lalu naik ke punggungku yang halus. Daster tipis yang kupakai sebenarnya longgar dan hanya bertahan oleh sepasang tali kecil di bahu. Saat tangannya menarik sedikit, kain itu langsung melorot dan memperlihatkan bahuku yang putih dalam cahaya remang lilin.
Aku memejamkan mata dan tubuhku menegang sesaat sebelum akhirnya melemas. Napasku ikut bergetar, pipiku memanas karena malu, tetapi sensasi panas justru menjalar ke seluruh tubuhku. Jemarinya terus menjelajah, dan aku malah merapatkan tubuhku sendiri, duduk lebih dalam di pangkuannya hingga bisa merasakan hangat tubuh tuanya menempel erat di kulitku.
Suara hujan di luar semakin deras hingga benar-benar menelan dunia, seakan menyisakan hanya aku dan dia di dalam rumah tua ini. Aku menggigit bibir, lalu kedua tanganku pelan-pelan terangkat sendiri. Aku menarik talinya dan membiarkan dasterku jatuh lebih jauh sehingga bagian dadaku terbuka di bawah cahaya lilin yang bergetar.
Burhan menahan napas ketika melihat dasterku turun kebawah. Matanya bergetar seolah tidak percaya karena isi catatannya kini benar-benar menjelma nyata di depan mata. Jemarinya ikut bergetar saat menyentuh kulit mudaku yang halus, lalu aku langsung mendesah kecil. Tubuhku melengkung menanggapi sentuhan itu dan aku tidak bisa lagi menyembunyikan gejolak yang bergemuruh di dalam dadaku.
“Lin…” bisiknya lirih, suaranya serak dan hampir tidak terdengar.
Aku membuka mataku setengah, lalu menatapnya dengan sorot mata yang campur aduk antara malu dan berani. “Tulisan Kakek… sekarang aku yang akan jalani. Perlakukan aku seperti yang kakek inginkan dalam buku catatan itu.
Kalimat itu membuatnya kehilangan seluruh benteng terakhir. Ia langsung menarik tubuhku lebih dekat hingga aku bisa merasakan dadanya yang keras dan hangat menempel pada tubuhku. Bibirnya menempel di leherku, lalu ia menciumi kulitku yang masih beraroma sabun bercampur keringat tipis. Aku mendesah lebih keras, jemariku mencengkeram bahunya erat-erat, sementara nafasku naik turun dengan cepat karena tubuhku sudah tidak bisa lagi tenang.
Daster tipisku yang tadinya masih menutup tubuh kini benar-benar tersingkap. Kainnya tersingkap hingga kulitku terekspos sepenuhnya di dalam dekapan lelaki tua itu. Aku bisa merasakan setiap sentuhan kasar jemarinya di kulit halusku dan aku sadar fantasi yang dulu hanya berupa tinta di buku catatan kini sudah hidup nyata di sini. Ia hadir dalam daging, dalam napas, dan dalam panas tubuh yang menyatu erat denganku.
Malam itu, di rumah Pecinan yang penuh rahasia, tulisan-tulisan lama di buku catatan akhirnya benar-benar terwujud. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya hingga menjelma menjadi fantasi yang selama ini hanya bisa dibayangkan oleh kakek angkatku.
Tubuhku kini sudah hampir telanjang di pangkuannya. Daster tipis yang tadinya melekat kini jatuh berantakan ke lantai. Kulitku yang muda dan putih kontras dengan jemarinya yang kasar. Sentuhan tangannya terasa gemetar saat menyusuri kulitku, seakan ia sendiri tidak percaya bahwa semua ini nyata. Aku memejamkan mata dan kepalaku terlempar ke belakang ketika bibir tuanya menelusuri leherku lalu turun ke dadaku. Desahan lirih keluar dari bibirku tanpa bisa kutahan.
“Kek… biarkan aku membalas budi baikmu. Kakek sudah menyelamatkan hidupku waktu itu.. Suaraku parau bercampur malu dan permohonan yang tidak bisa lagi kusembunyikan.
Tangannya meraba pinggangku dengan gerakan naik turun. Jemarinya terus mengikuti lekuk tubuhku yang selama ini hanya ia tulis di dalam catatan. Aku menggeliat di pangkuannya karena tubuhku semakin panas. Kedua pahaku merapat lalu terbuka bergantian, seakan tubuhku sendiri mengundang untuk disentuh lebih jauh.
Dengan gerakan penuh gairah, aku sendiri yang menuntun tangan kakek angkatku untuk turun lebih jauh ke bagian paling sensitif dari tubuhku. Sentuhan pertamanya di sana membuat tubuhku langsung melenting dan desahanku pecah lebih keras. Dadaku naik turun cepat seakan aku kehabisan napas. “Aaahh… K-akek… panggilku dengan suara parau dan bergetar.
Burhan tidak lagi bisa menahan diri. Ia mengangkat tubuhku dengan tenaga yang masih tersisa pada usianya lalu meletakkanku di atas meja kayu tua berbentuk persegi, meja yang biasanya dipakai untuk meracik kopi. Permukaannya dingin menempel di kulitku, tetapi panas tubuhku membuat kontras itu terasa menggairahkan. Aku berbaring dengan rambut hitam yang terurai berantakan di permukaan meja, dadaku terbuka sepenuhnya dan pahaku melebar menyambutnya tanpa ragu.
Kami saling menatap dalam hening. Sesaat waktu terasa berhenti karena hanya ada suara hujan di luar dan detak jantung kami yang berpacu keras. Nafas Burhan makin berat, tubuhnya condong ke arahku dari posisi berdiri di depan meja.
Tubuhku yang telentang di atas meja bergetar ketika pinggulnya mendorong kuat ke arahku. Aku terpekik kecil, tanganku mencengkeram pinggiran meja agar tidak bergeser. Bahuku tertahan oleh genggaman tangannya yang kasar sehingga aku tak bisa banyak bergerak. Rasa kaget itu cepat berubah menjadi gelombang hangat yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Meja tua berderit setiap kali tubuhnya menghantamku. Nafasku tersengal, dadaku naik turun keras, kepalaku terhempas pelan ke permukaan kayu. Tangannya mencengkeram pinggangku semakin kuat, menarikku mendekat, sementara kulit kami yang bergesekan menimbulkan panas yang makin menyulutku.
Kedua kakiku yang sejak tadi menjuntai di tepi meja bergerak tanpa sadar, satu menekuk di sisi meja dan satu lagi melingkar di tubuhnya. Aku hanya bisa merintih, tubuhku bergetar mengikuti iramanya yang semakin cepat dan berat.
Keringat di dahinya jatuh ke wajahku, bercampur dengan air mataku yang keluar tanpa bisa kutahan. Semua rasa itu. sakit, malu dan nikmat bercampur jadi satu hingga membuatku benar benar kehilangan kendali.
Gerakannya makin dalam dan kuat. Aku spontan melingkarkan kedua kakiku di pinggangnya, menahan agar dia tetap melekat. Suaraku pecah dalam desahan panjang setiap kali tubuhnya menghantamku, sementara meja kayu tua terus berderit di bawah kami.
Tubuh Burhan semakin berat menindihku. Dorongannya makin cepat dan dalam, membuat meja tua itu bergetar keras. Nafasku terputus putus, desahanku pecah jadi jeritan kecil yang tak bisa kutahan. Tanganku beralih meraih bahunya, kukuku menancap di kulitnya karena tubuhku sudah tak sanggup menahan gelombang kenikmatan yang datang bertubi tubi. Kedua kakiku melingkar erat di pinggangnya seakan menahan agar dia tidak melepaskanku.
Panas di dalam tubuhku kian menumpuk hingga rasanya mau meledak. Aku menggeliat hebat, punggungku melengkung dari permukaan meja, bibirku terbuka melepas suara panjang yang pecah bersama derasnya rasa yang menyalakan seluruh tubuhku.
“Aahhh… Kaaakeeek… aku… aku—!” suaraku pecah, tubuhku mengejang hebat, lalu gelombang hangat itu meledak dari bawah perutku. Aku menjerit panjang sambil mencengkeram punggung Kakek, kukuku menancap ke kulit tuanya.
Seluruh tubuhku gemetar keras, punggungku melengkung, dan aku jatuh dalam kenikmatan yang membuatku hampir kehilangan kesadaran. Beberapa hentakan terakhir dari Kakek menyusul. Tubuhnya rentanya menegang, napasnya tersengal lalu dia pun melepaskan semua puncak kenikmatannya di dalam tubuhku. Crott.. Aku bisa merasakan lendir hangat itu memenuhi tubuhku, deras dan banyak seolah semua fantasi liar yang pernah ia tulis di buku catatan akhirnya tumpah di dalam diriku malam ini.
Aku terkulai lemas, napasku masih tersengal, dan Kakek tetap menindihku dengan tubuhnya yang berat. Di luar, hujan tidak berhenti, tapi bagi kami berdua dunia seakan hilang. Yang ada saat ini hanyalah ledakan gairah dalam tubuh, sisa-sisa getaran, dan kenyataan bahwa semua batas sudah runtuh.
Kami terkulai di atas meja kayu yang dingin. Nafas masih terengah-engah, keringat menempel di kulit, dan pelukan Kakek masih menahan tubuhku agar tidak jatuh. Hujan di luar belum reda, tapi bagiku semua suara seperti menghilang, kecuali detak jantung kami yang saling bertubrukan. Aku menutup mata, wajahku masih panas, lalu berbisik dengan suara pelan yang nyaris tercekat namun juga penuh lega.
“Sekarang… khayalan itu sudah jadi nyata kek..
Aku bisa merasakan tubuh Kakek bergetar kecil. Entah karena kelelahan atau karena kata-kataku. Yang jelas. Malam itu di rumah tua kawasan Pecinan, catatan lusuh yang dulu hanya penuh coretan terlarang akhirnya benar-benar hidup di dalam tubuhku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya dan ia menerimanya tanpa lagi ada batas.
Semuanya sudah berubah
Pagi menjelang, hujan berhenti perlahan, menyisakan aroma tanah basah yang merembes masuk dari celah jendela. Sinar pucat matahari menembus kisi-kisi, jatuh di permukaan meja kayu panjang. Aku membuka mata pelan, tubuhku masih terasa berat, daster tipis yang semalam jatuh kini kusut menempel di kulit.
Kakek sudah duduk di kursi, pandangannya jatuh ke arahku. Wajahnya lelah, matanya sayu, namun ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.kehangatan yang justru membuatku tenang. Aku bangkit dengan gerakan hati-hati, duduk di tepi meja, lalu menunduk menatapnya. Pipi dan dadaku masih terasa panas ketika aku sadar betul apa yang telah kami lakukan.
Namun rasa hangat di dadaku menyingkirkan penyesalan. Aku justru merasa utuh, seakan bagian diriku yang selama ini kosong akhirnya terisi. Suaraku keluar pelan, sedikit serak, tapi mantap.
“Kek… panggilku. Mataku mencari sorot matanya.
Lelaki tua itu akhirnya menghela napas panjang. Bahunya naik turun berat lalu matanya menatapku dengan ragu.
“Lin… apa yang kita lakukan semalam… mungkin tak pernah seharusnya terjadi. ucapnya pelan. Suaranya serak, dan tatapannya bergetar seolah sedang bertarung dengan dirinya sendiri.
Aku justru tersenyum samar. Jemariku bergerak meraih tangannya yang kasar, lalu kugenggam erat, merasakan gurat kehidupan di sana. “Tapi aku yang memilih. kataku pelan sambil menunduk. “Aku tahu semua dari catatan itu… dan aku tetap datang padamu.
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Bahu itu keras, penuh gurat usia, tapi terasa hangat bagiku. Napasku teratur perlahan, lalu kuucapkan dengan lirih, “Aku nggak menyesal.”
Ruangan itu hening. Hanya ada suara kicau burung dari luar, tanda pagi benar-benar datang menggantikan hujan malam tadi. Lelaki tua itu tidak langsung menjawab, tapi tangannya akhirnya membalas genggamanku, meski masih bergetar. “Kalau begitu… rahasia ini hanya milik kita berdua. Jangan ada yang tahu, ya?”
Aku mengangguk pelan, pipiku menyentuh bahunya. “Rahasia kita,” bisikku dengan bibir yang melengkung kecil penuh arti.
Kembali Pada Rutinitas
Tangannya meraba pinggangku dengan gerakan naik turun. Jemarinya terus mengikuti lekuk tubuhku yang selama ini hanya ia tulis di dalam catatan. Aku menggeliat di pangkuannya karena tubuhku semakin panas. Kedua pahaku merapat lalu terbuka bergantian, seakan tubuhku sendiri mengundang untuk disentuh lebih jauh.
Dengan gerakan penuh gairah, aku sendiri yang menuntun tangan kakek angkatku untuk turun lebih jauh ke bagian paling sensitif dari tubuhku. Sentuhan pertamanya di sana membuat tubuhku langsung melenting dan desahanku pecah lebih keras. Dadaku naik turun cepat seakan aku kehabisan napas. “Aaahh… K-akek… panggilku dengan suara parau dan bergetar.
Burhan tidak lagi bisa menahan diri. Ia mengangkat tubuhku dengan tenaga yang masih tersisa pada usianya lalu meletakkanku di atas meja kayu tua berbentuk persegi, meja yang biasanya dipakai untuk meracik kopi. Permukaannya dingin menempel di kulitku, tetapi panas tubuhku membuat kontras itu terasa menggairahkan. Aku berbaring dengan rambut hitam yang terurai berantakan di permukaan meja, dadaku terbuka sepenuhnya dan pahaku melebar menyambutnya tanpa ragu.
Kami saling menatap dalam hening. Sesaat waktu terasa berhenti karena hanya ada suara hujan di luar dan detak jantung kami yang berpacu keras. Nafas Burhan makin berat, tubuhnya condong ke arahku dari posisi berdiri di depan meja.
Tubuhku yang telentang di atas meja bergetar ketika pinggulnya mendorong kuat ke arahku. Aku terpekik kecil, tanganku mencengkeram pinggiran meja agar tidak bergeser. Bahuku tertahan oleh genggaman tangannya yang kasar sehingga aku tak bisa banyak bergerak. Rasa kaget itu cepat berubah menjadi gelombang hangat yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Meja tua berderit setiap kali tubuhnya menghantamku. Nafasku tersengal, dadaku naik turun keras, kepalaku terhempas pelan ke permukaan kayu. Tangannya mencengkeram pinggangku semakin kuat, menarikku mendekat, sementara kulit kami yang bergesekan menimbulkan panas yang makin menyulutku.
Kedua kakiku yang sejak tadi menjuntai di tepi meja bergerak tanpa sadar, satu menekuk di sisi meja dan satu lagi melingkar di tubuhnya. Aku hanya bisa merintih, tubuhku bergetar mengikuti iramanya yang semakin cepat dan berat.
Keringat di dahinya jatuh ke wajahku, bercampur dengan air mataku yang keluar tanpa bisa kutahan. Semua rasa itu. sakit, malu dan nikmat bercampur jadi satu hingga membuatku benar benar kehilangan kendali.
Gerakannya makin dalam dan kuat. Aku spontan melingkarkan kedua kakiku di pinggangnya, menahan agar dia tetap melekat. Suaraku pecah dalam desahan panjang setiap kali tubuhnya menghantamku, sementara meja kayu tua terus berderit di bawah kami.
Tubuh Burhan semakin berat menindihku. Dorongannya makin cepat dan dalam, membuat meja tua itu bergetar keras. Nafasku terputus putus, desahanku pecah jadi jeritan kecil yang tak bisa kutahan. Tanganku beralih meraih bahunya, kukuku menancap di kulitnya karena tubuhku sudah tak sanggup menahan gelombang kenikmatan yang datang bertubi tubi. Kedua kakiku melingkar erat di pinggangnya seakan menahan agar dia tidak melepaskanku.
Panas di dalam tubuhku kian menumpuk hingga rasanya mau meledak. Aku menggeliat hebat, punggungku melengkung dari permukaan meja, bibirku terbuka melepas suara panjang yang pecah bersama derasnya rasa yang menyalakan seluruh tubuhku.
“Aahhh… Kaaakeeek… aku… aku—!” suaraku pecah, tubuhku mengejang hebat, lalu gelombang hangat itu meledak dari bawah perutku. Aku menjerit panjang sambil mencengkeram punggung Kakek, kukuku menancap ke kulit tuanya.
Seluruh tubuhku gemetar keras, punggungku melengkung, dan aku jatuh dalam kenikmatan yang membuatku hampir kehilangan kesadaran. Beberapa hentakan terakhir dari Kakek menyusul. Tubuhnya rentanya menegang, napasnya tersengal lalu dia pun melepaskan semua puncak kenikmatannya di dalam tubuhku. Crott.. Aku bisa merasakan lendir hangat itu memenuhi tubuhku, deras dan banyak seolah semua fantasi liar yang pernah ia tulis di buku catatan akhirnya tumpah di dalam diriku malam ini.
Aku terkulai lemas, napasku masih tersengal, dan Kakek tetap menindihku dengan tubuhnya yang berat. Di luar, hujan tidak berhenti, tapi bagi kami berdua dunia seakan hilang. Yang ada saat ini hanyalah ledakan gairah dalam tubuh, sisa-sisa getaran, dan kenyataan bahwa semua batas sudah runtuh.
Kami terkulai di atas meja kayu yang dingin. Nafas masih terengah-engah, keringat menempel di kulit, dan pelukan Kakek masih menahan tubuhku agar tidak jatuh. Hujan di luar belum reda, tapi bagiku semua suara seperti menghilang, kecuali detak jantung kami yang saling bertubrukan. Aku menutup mata, wajahku masih panas, lalu berbisik dengan suara pelan yang nyaris tercekat namun juga penuh lega.
“Sekarang… khayalan itu sudah jadi nyata kek..
Aku bisa merasakan tubuh Kakek bergetar kecil. Entah karena kelelahan atau karena kata-kataku. Yang jelas. Malam itu di rumah tua kawasan Pecinan, catatan lusuh yang dulu hanya penuh coretan terlarang akhirnya benar-benar hidup di dalam tubuhku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya dan ia menerimanya tanpa lagi ada batas.
Semuanya sudah berubah
Pagi menjelang, hujan berhenti perlahan, menyisakan aroma tanah basah yang merembes masuk dari celah jendela. Sinar pucat matahari menembus kisi-kisi, jatuh di permukaan meja kayu panjang. Aku membuka mata pelan, tubuhku masih terasa berat, daster tipis yang semalam jatuh kini kusut menempel di kulit.
Kakek sudah duduk di kursi, pandangannya jatuh ke arahku. Wajahnya lelah, matanya sayu, namun ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.kehangatan yang justru membuatku tenang. Aku bangkit dengan gerakan hati-hati, duduk di tepi meja, lalu menunduk menatapnya. Pipi dan dadaku masih terasa panas ketika aku sadar betul apa yang telah kami lakukan.
Namun rasa hangat di dadaku menyingkirkan penyesalan. Aku justru merasa utuh, seakan bagian diriku yang selama ini kosong akhirnya terisi. Suaraku keluar pelan, sedikit serak, tapi mantap.
“Kek… panggilku. Mataku mencari sorot matanya.
Lelaki tua itu akhirnya menghela napas panjang. Bahunya naik turun berat lalu matanya menatapku dengan ragu.
“Lin… apa yang kita lakukan semalam… mungkin tak pernah seharusnya terjadi. ucapnya pelan. Suaranya serak, dan tatapannya bergetar seolah sedang bertarung dengan dirinya sendiri.
Aku justru tersenyum samar. Jemariku bergerak meraih tangannya yang kasar, lalu kugenggam erat, merasakan gurat kehidupan di sana. “Tapi aku yang memilih. kataku pelan sambil menunduk. “Aku tahu semua dari catatan itu… dan aku tetap datang padamu.
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Bahu itu keras, penuh gurat usia, tapi terasa hangat bagiku. Napasku teratur perlahan, lalu kuucapkan dengan lirih, “Aku nggak menyesal.”
Ruangan itu hening. Hanya ada suara kicau burung dari luar, tanda pagi benar-benar datang menggantikan hujan malam tadi. Lelaki tua itu tidak langsung menjawab, tapi tangannya akhirnya membalas genggamanku, meski masih bergetar. “Kalau begitu… rahasia ini hanya milik kita berdua. Jangan ada yang tahu, ya?”
Aku mengangguk pelan, pipiku menyentuh bahunya. “Rahasia kita,” bisikku dengan bibir yang melengkung kecil penuh arti.
Kembali Pada Rutinitas
Hari itu kami kembali pada rutinitas seperti biasa. Sejak pagi buta, suara mesin giling tua sudah terdengar dari dapur belakang. Kakek angkatku sibuk menakar biji kopi yang sudah disangrai semalam, lalu menuangkannya ke dalam mesin giling. Jemarinya yang kasar memutar tuas dengan sabar hingga menghasilkan bubuk kopi pekat beraroma kuat. Karung-karung kecil sudah disiapkan di meja panjang, masing-masing akan diisi bubuk hitam itu untuk dijual kiloan kepada pelanggan tetap.
Aku membantu dengan menimbang hasil gilingan, memastikan setiap plastik berisi sesuai permintaan. Ada yang membeli setengah kilo, ada yang satu kilo, bahkan ada yang memesan dalam jumlah besar untuk kedai kopi di pasar. Setelah menimbang, aku menutup kemasan rapat-rapat dengan sealer panas, lalu menyusunnya rapi di rak kayu.
Suasana rumah tua itu ramai dengan aroma kopi yang memenuhi udara, bercampur dengan suara hujan sisa semalam yang masih menetes di luar genteng. Sesekali pintu depan diketuk pelanggan. Aku menyambut mereka dengan senyum tipis, menawarkan kopi kiloan yang baru digiling, sementara Kakek tetap duduk di dekat mesin, menambahkan biji lagi dan lagi ke corong besi.
Bagi orang luar, semua tampak biasa. Seorang lelaki tua yang ulet dengan pekerjaannya, ditemani gadis muda yang rajin membantu. Namun setiap kali mata kami beradu di sela aktivitas itu. Saat aku menyerahkan plastik kopi yang sudah ditimbang, atau ketika ia menoleh memastikan timbanganku tepat. Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Pandangan itu hanya sesaat, secepat kedipan, tapi cukup membuat dadaku berdebar.
Ada rahasia di balik rutinitas sederhana ini. Rahasia yang tidak akan pernah dipahami para pelanggan yang hanya datang untuk membeli kopi bubuk. Ikatan itu terlarang, tapi justru semakin mengikat kami berdua, seolah setiap butir kopi yang tergiling menyimpan cerita malam sebelumnya.
Di tengah aroma pekat yang memenuhi ruangan, aku sadar, hidupku di rumah Pecinan ini tidak lagi sekadar membantu. Aku sudah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih dalam. Sebuah ikatan yang hanya bisa kami simpan berdua, diam-diam, di balik wajah tenang dan senyum ramah yang kami tunjukkan pada dunia luar.
Buku catatan tua itu kini tersimpan kembali di dalam lemari kayu, tersembunyi dari pandangan. Tetapi aku tahu, halaman-halaman berikutnya tidak lagi sekadar tulisan fantasi. Malam itu telah menjadikan aku bagian dari kenyataan yang tak mungkin bisa dihapus.
Dan di dalam rumah tua Pecinan yang penuh rahasia, aku kini hidup dengan dua wajah. Di mata orang luar aku tetap cucu angkat yang manis, rajin membantu, dan selalu tersenyum sopan. Tetapi di balik dinding rumah ini, aku sudah jadi perwujudan fantasi terdalam lelaki tua yang membesarkanku.
Beberapa malam berlalu sejak hujan deras itu. Kehidupan rumah tua tampak sama saja bagi tetangga. Kakek angkatku masih sibuk meracik kopi, menakar bubuk dengan telaten, menyapa pelanggan dengan ramah. Aku masih kuliah, masih ikut membantunya, dan masih memberi salam sopan pada tetangga yang lewat di depan rumah. Namun di balik semua itu, kami menyimpan rahasia yang tak seorang pun bisa tebak.
Aku sering memikirkan malam itu. Setiap kali aku berjalan di rumah dengan daster tipis, aku sadar matanya sempat menoleh ke arahku, meski cepat sekali ia palingkan wajah. Setiap kali aku menuang air panas ke gelas kopi, ada debar di dadaku karena aku ingat bagaimana tangan kasarnya pernah menyentuh kulitku. Rutinitas sehari-hari terasa biasa, tapi aku tahu ada sesuatu yang berubah.
Hasrat Dimalam Berikutnya.
Malam ketiga setelah hujan, rumah kembali sepi. Aku berjalan ke kamar belakang, membuka lemari kayu jati yang berdebu, lalu menarik keluar buku catatan tua itu. Sampul kulitnya kusam, namun saat kusentuh aku merasa seolah sedang memegang kunci rahasia hidupku sendiri.
Aku meletakkannya di atas meja, lalu menyalakan lampu meja kecil di sudut ruangan. Cahaya kekuningan menyebar lembut, cukup untuk menerangi halaman-halaman lusuh itu. Bayangannya jatuh di dinding, menciptakan suasana tenang sekaligus membuat dadaku berdebar tak karuan.
Aku membuka halaman yang dulu membuatku tidak bisa tidur. Kata-kata itu masih sama, penuh fantasi tentang diriku, tapi kini terasa lebih dekat karena aku sudah menjalaninya. Aku menarik napas panjang, lalu mengambil sebuah pena. Tanganku bergetar sebentar sebelum ujungnya menyentuh kertas. Untuk pertama kalinya, aku menulis balasan di bawah paragraf terakhir. Ada sebuah jejak nyata dari diriku yang kini masuk ke dalam catatan itu.
"Malam itu aku bukan hanya tokoh di dalam catatan. Aku sendiri yang memilih. Aku ingin lebih. Aku ingin setiap sentuhan, setiap desahan, bukan lagi milik tulisanmu, Kek, tapi nyata di tubuhku sendiri. Dan mulai malam ini, aku akan menuliskan fantasi milikku…
Tanganku terus bergerak. Ujung pena menari di atas kertas, menuliskan imajinasi yang selama ini hanya berputar di kepalaku. Aku menulis tentang bagaimana aku ingin dicumbu di dapur saat aroma kopi memenuhi ruangan. Aku menulis tentang diriku yang ingin dibaringkan di kursi rotan ruang tamu, ditemani cahaya lampu minyak. Aku bahkan menulis tentang diriku yang sengaja berjalan tanpa bra di balik daster, menunggu tatapan penuh rahasia dari kakek angkatku.
Saat kata-kata itu selesai, aku menutup pena. Wajahku terasa panas, pipiku memerah, dan dadaku naik turun cepat. Aku sendiri terkejut dengan apa yang baru saja kutulis, seolah semua yang kupendam mendadak keluar tanpa bisa kuhentikan. Namun sebelum sempat menutup buku, aku mendengar suara langkah pelan dari lorong gelap.
Aku menoleh, dan sosok kakek angkatku muncul. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sempat terbelalak sebelum akhirnya terpaku pada diriku. Ia melihatku duduk dengan buku catatan terbuka dan pena masih di tanganku.
“Lin… suaranya pelan, serak, seperti menahan sesuatu. “Apa yang kamu lakukan?
Aku tersenyum tipis meskipun wajahku masih memerah hebat. Dengan hati-hati aku mendorong buku catatan itu ke arah Kakek dan berkata pelan.
"Sekarang bukan cuma catatan Kakek yang penuh fantasi. Aku juga sudah menulis punyaku sendiri. Dan aku ingin kita mewujudkannya bersama."
Kakek melangkah mendekat. Jemarinya meraih buku itu lalu matanya menyusuri beberapa baris yang baru kutulis tadi. Aku melihat jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh kertas. Tubuhnya menegang dan perlahan tatapannya naik hingga bertemu dengan mataku.
Aku berdiri dari kursi. Daster tipis yang kupakai sengaja kubiarkan terbuka lebar di bagian bahu sehingga cahaya lampu meja menyapu kulitku yang putih dan membuatnya tampak hangat serta menggoda. Kakek menatapku lama seolah masih ragu apakah ini benar-benar terjadi atau hanya kelanjutan dari mimpi buruk dan indah di catatan lamanya.
Aku melangkah pelan mendekatinya. Tangannya masih memegang buku yang terbuka lebar dan matanya terpaku pada tulisanku. Aku meraih tangan kasarnya yang penuh urat itu lalu menempelkannya tepat di atas payudaraku yang berdebar kencang. Suaraku keluar lirih hampir seperti bisikan tapi penuh keberanian baru yang baru saja kutemukan.
"Rasakan ini Kakek. Ini bukan lagi cuma kata-kata di kertas. Aku mau Kakek menyentuhku seperti yang pernah Kakek tulis dulu. Aku mau Kakek menggauliku sampai aku melenguh memanggil nama Kakek berulang-ulang.
Kakek menelan ludah keras. Napasnya terdengar berat dan tangannya yang tadinya diam mulai bergerak pelan meremas buah dadaku. Jempolnya menyentuh puting susuku yang sudah mengeras karena birahi. Aku mendesis pelan saat ia meremas lebih kuat dan tubuhku menggeliat mendekat ke arahnya.
Matanya gelap penuh gairah sekarang. Buku catatan itu jatuh ke lantai dengan suara pelan tapi tak ada yang peduli lagi. Tangan satunya merayap ke pinggangku lalu menarikku hingga tubuh kami menempel rapat. Aku bisa merasakan kejantanan Kakek yang sudah mengeras menekan perutku melalui kain celana tipisnya.
Aku mengangkat wajah dan mencium bibirnya dengan lembut dulu lalu semakin dalam. Lidah kami saling bertemu dan air liur bercampur. Tanganku turun meraba batang kejantanannya yang tegang lalu mengelusnya pelan dari luar kain. Kakek mengerang dalam ciuman kami dan pinggulnya maju mencari sentuhanku.
Aku mundur sedikit lalu menarik dasterku hingga jatuh ke lantai. Sekarang aku berdiri telanjang di depannya. Paha mulusku terbuka lebar dan liang kewanitaanku sudah basah mengkilap karena lendir kawin yang tak bisa kutahan lagi.
Aku meraih tangan Kakek lagi dan membawanya ke antara pahaku. Jari kasarnya menyentuh bibir kemaluanku lalu masuk perlahan ke dalam. Aku melenguh keras dan pinggulku bergoyang mengikuti irama jarinya yang mulai memompa masuk keluar.
"Keek… aku udah tak tahan.. masukin ajaa punya kakek sekarang..
Kakek mendesis dan langsung menurunkan celananya. Penisnya yang besar dan berurat melompat keluar tegak sempurna. Buah zakarnya terlihat penuh dan berat. Aku menatapnya dengan mata penuh nafsu lalu berlutut di depannya. Mulutku langsung menyambut kepala batangnya dan aku mulai mengulum dalam-dalam sambil tanganku mengocok batangnya yang licin karena air liurku.
Kakek mengerang keras dan tangannya menekan kepalaku agar aku mengambil lebih dalam. Aku menurut dan terus mengulum sampai batangnya menyentuh tenggorokanku. Rasa asin dari cairan pra-ejakulasinya terasa di lidahku dan itu membuat liang kewanitaanku semakin berdenyut ingin diisi.
Tak lama Kakek menarikku berdiri lalu membalikkan tubuhku hingga aku membungkuk di atas meja. Tangannya meremas bokongku keras dan aku mendengar suara napasnya yang semakin kasar. Ujung batangnya menyentuh bibir liangku lalu ia mendorong pelan tapi pasti hingga seluruh panjangnya menghujam masuk ke dalam.
Aku menjerit kecil karena kenikmatan yang tiba-tiba membanjiri tubuhku. Kakek mulai menggenjot dengan irama yang semakin cepat dan brutal. Setiap hentakan membuat payudaraku bergoyang-goyang dan aku hanya bisa melenguh serta memanggil namanya berulang-ulang.
"Kakek… lebih keras lagi… setubuhi aku sampai aku melejang-lejang di bawah Kakek…
Kakek angkatku menggeram dan gerakannya semakin liar. Tangannya meraih rambutku dan menarik kepalaku ke belakang sementara pinggulnya terus memompa tanpa henti. Aku merasakan gelombang kenikmatan mendekat dan akhirnya aku orgasme hebat. Liang kewanitaanku berdenyut kuat mencengkeram batangnya dan itu membuat Kakek tak bisa menahan lagi.
Dengan satu hentakan terakhir yang dalam ia melepaskan air maninya di dalam rahimku. Sperma hangat menyemprot berkali-kali hingga aku merasa penuh. Tubuh kami bergetar bersama dan akhirnya kami ambruk di atas meja dengan napas tersengal-sengal.
Aku tersenyum lemah sambil masih merasakan batang Kakek yang perlahan melemas di dalam liangku. Buku catatan itu tergeletak di lantai terbuka pada halaman yang baru kutulis tadi malam. Dan malam ini kami baru saja mewujudkan satu lagi fantasi yang tertulis di sana.
Kakek mengerang keras dan tangannya menekan kepalaku agar aku mengambil lebih dalam. Aku menurut dan terus mengulum sampai batangnya menyentuh tenggorokanku. Rasa asin dari cairan pra-ejakulasinya terasa di lidahku dan itu membuat liang kewanitaanku semakin berdenyut ingin diisi.
Tak lama Kakek menarikku berdiri lalu membalikkan tubuhku hingga aku membungkuk di atas meja. Tangannya meremas bokongku keras dan aku mendengar suara napasnya yang semakin kasar. Ujung batangnya menyentuh bibir liangku lalu ia mendorong pelan tapi pasti hingga seluruh panjangnya menghujam masuk ke dalam.
Aku menjerit kecil karena kenikmatan yang tiba-tiba membanjiri tubuhku. Kakek mulai menggenjot dengan irama yang semakin cepat dan brutal. Setiap hentakan membuat payudaraku bergoyang-goyang dan aku hanya bisa melenguh serta memanggil namanya berulang-ulang.
"Kakek… lebih keras lagi… setubuhi aku sampai aku melejang-lejang di bawah Kakek…
Kakek angkatku menggeram dan gerakannya semakin liar. Tangannya meraih rambutku dan menarik kepalaku ke belakang sementara pinggulnya terus memompa tanpa henti. Aku merasakan gelombang kenikmatan mendekat dan akhirnya aku orgasme hebat. Liang kewanitaanku berdenyut kuat mencengkeram batangnya dan itu membuat Kakek tak bisa menahan lagi.
Dengan satu hentakan terakhir yang dalam ia melepaskan air maninya di dalam rahimku. Sperma hangat menyemprot berkali-kali hingga aku merasa penuh. Tubuh kami bergetar bersama dan akhirnya kami ambruk di atas meja dengan napas tersengal-sengal.
Aku tersenyum lemah sambil masih merasakan batang Kakek yang perlahan melemas di dalam liangku. Buku catatan itu tergeletak di lantai terbuka pada halaman yang baru kutulis tadi malam. Dan malam ini kami baru saja mewujudkan satu lagi fantasi yang tertulis di sana.



caroline membalas budi kakek angkatnya...kini jadi teman si kakek
BalasHapuswuidihh dapet jarahan mahal si burhan nihh
BalasHapus