Pagi itu sinar matahari sudah menyusup lewat gorden tipis apartemen saat Celine terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa berat dan setiap otot berdenyut pelan seperti ingatan yang masih hidup. Garis merah di pergelangan tangan dan lehernya sudah memudar dan berangsur angsur memudar menjadi bayangan pink samar. Saat dia menggerakkan bahu rasa pegal yang manis langsung muncul lagi. Gadis chindo itu masih telanjang di balik kain selimut tebal berwarna putih. Kulitnya lembab dengan sisa keringat dan minyak arnica yang Dimas oleskan semalam sementara bau vanila dari lilin tadi malam masih tercium samar di udara.
Dimas sudah bangun. Dia duduk di pinggir ranjang sambil memegang secangkir kopi hitam. Matanya menatap wajah oriental Celine dengan campuran lembut dan gelap yang selalu membuat gadis itu merinding. Kaos oblong hitamnya longgar tapi otot lengannya terlihat jelas saat dia meletakkan cangkir.
"Bangun amoy cantik.. katanya pelan. Tangannya menyentuh pipi Celine lalu mengusap pelan.
Celine mengangguk lemah lalu merangkak pelan ke pangkuan Dimas. Dia menyandarkan kepala di dada pria itu dan mendengar detak jantung yang tenang.
"Mas semalam aku enggak bisa mikir apa-apa. Katanya dengan suara serak. "Hanya kamu.. Hanya nurut. Aku suka. Sangat suka.
Dimas tersenyum tipis. Jarinya menyusup ke rambut hitam Celine lalu mengusap tengkuknya dengan pelan.
"Aku tahu. katanya lembut. "Kamu menangis pas akhir tapi matamu bilang lain. Kamu mau coba level berikutnya ?
Celine mengangkat wajah. Mata sipitnya berkilat lagi meski badan masih lelah.
"Mau. jawabnya. "Tapi aku mau yang lebih sakit. Yang bikin aku jerit beneran. Clothespin cambuk apa pun yang kamu mau. Asal kamu yang atur. Asal aku tetap milik kamu.
Dimas diam sejenak. Matanya menyipit menilai lalu dia mengangguk pelan.
"Oke.. katanya. "Hari ini kita akan latihan. Bukan seharian penuh tapi baru setengah hari. Tapi lebih sadis. Apa kamu siap?
Pagi itu Celine sudah siap menyerahkan diri lagi. Ia menjawab otomatis dengan suara lembut.
"Iya Tuan. jawab Celine lalu cepat mengoreksi diri sendiri dengan senyum kecil. "Maaf Mas. Tapi aku suka panggil Tuan juga.
Dimas tertawa pelan. Getarannya terasa di dada Celine. Ia bangkit lalu membawa Celine ke kamar mandi. Air hangat mengalir deras. Dimas membasuh tubuh gadis itu dengan sabun lembut dan membersihkan sisa malam tadi tanpa tergesa. Setiap kali jarinya menyentuh bekas merah di paha Celine menggigit bibir karena antisipasi sudah muncul lagi.
Setelah mandi Dimas mengajak Celine ke ruang tamu. Karpet sudah digulung dan diganti dengan alas plastik tebal. Di meja kopi tersedia satu set jemuran baju kayu kecil.. cambuk rotan ramping yang Dimas buat sendiri nipple clamps dengan rantai serta tali jute baru yang lebih halus tapi lebih kuat.
"Berlutut di tengah. perintah Dimas. Suaranya sudah berubah rendah tegas dan tanpa ampun.
Celine turun ke lantai. Lututnya menyentuh alas dingin. Dimas mulai dengan memasang collar lagi kali ini lebih ketat sedikit. Tangan Celine diikat ke belakang dengan double column tie yang rapi sehingga bahunya terbuka lebar. Ia memasang nipple clamps pelan pelan. Pertama di puting susu kiri gigitan logam dingin membuat Celine menarik napas tajam lalu di kanan. Rantai dihubungkan ke collar jadi setiap gerakan kepala menarik buah dada Celine sendiri.
"Tarik napas dalam" kata Dimas.
Saat Celine menarik napas Dimas memasang jepitan baju di kulit paha dalam satu demi satu hingga empat buah membentuk garis simetris. Rasa gigitan itu langsung menusuk tajam dan membuat Celine menggelinjang kecil. Air mata sudah menggenang di matanya.
Dimas mengambil cambuk rotan. Ia menyapu ujungnya pelan di punggung Celine dari leher sampai bokong seperti sedang menandai area.
"Aku mau kamu hitung setiap pukulan yang diterima. katanya tegas. "Kalau salah hitung tambah satu. Mulai dari sekarang..
Pukulan pertama mendarat di bokong putih gadis chindo itu. Bunyi swish terdengar dan rasa panas langsung menyebar. Celine menjerit kecil dengan mata terpejam.
"Akhh.. Satu Tuan.. katanya.
Pukulan kedua lebih keras. Garis merah muncul kontras di kulit putihnya.
"Dua.. hitung Celine lagi.
Sampai pukulan kesepuluh Celine sudah menangis pelan. Tubuhnya gemetar tapi pinggulnya justru mendorong ke belakang mencari lebih. Clothespin di paha bergetar setiap kali dia bergerak dan menambah rasa sakit yang bercampur kenikmatan aneh. Dimas meletakkan cambuk. Tangannya menyentuh cairan yang sudah mengalir deras di antara paha Celine lalu meraba liang kewanitaannya yang basah.
"Basah sekali.. budak.. Katanya. "Sakit tapi kamu suka ya?
"Iya Tuanm jawab Celine terisak. Suaranya pecah tapi penuh hasrat.
Dimas melepas jepitan baju satu per satu. Setiap lepas terasa seperti gelombang panas baru yang menyengat. Ia membuka ikatan tangan sebentar lalu membalik tubuh Celine ke posisi doggy style di atas alas. Tangan diikat lagi ke depan kepala ditekan ke lantai dan bokong terangkat tinggi.
Ia masuk dari belakang keras langsung penuh tanpa pemanasan. Batang kejantanan Dimas menghujam dalam ke liang kewanitaan Celine. Celine menjerit panjang. Suaranya teredam lantai. Dimas memegang rantai nipple clamps lalu menarik pelan setiap dorongan sehingga puting susu Celine tertarik keras. Ia memompa semakin cepat dan kasar.
"Jerit lebih keras.. budak !! Bentaknya sambil mempercepat. "Aku mau dengar kamu milik aku sepenuhnya."
Celine menjerit lagi dan lagi. Tubuhnya mengejang hebat sampai akhirnya Dimas membiarkannya keluar bersamaan dengan dirinya sendiri. Air mani panas menyembur dalam dalam memenuhi Celine. Mereka ambruk bersama di lantai dengan napas tersengal dan tubuh saling menempel. Dimas langsung melepas semua ikatan. Ia memeluk Celine erat lalu mengusap air mata dengan ibu jari.
"Kamu hebat" katanya lembut. "Sangat hebat."
Celine tersenyum lemah di dada Dimas. Suaranya kecil.
"Lagi besok Mas tolong" katanya.
Dimas mencium keningnya lama.
"Besok" katanya. "Dan lusa sampai kamu bilang cukup."
Mereka berbaring di lantai sambil pelukan. Kehidupan kota metropolitan di luar jendela terus bergerak tapi di dalam apartemen itu. Dunia mereka hanya ada dua orang yakni seorang tuan dan bonekanya yang semakin dalam saling memiliki diantara satu garis merah demi satu garis merah.
Boneka Yang Semakin Terlatih.
Beberapa hari kemudian hujan deras mengguyur kota sejak pagi. Suara air membentur kaca jendela apartemen seperti ritme yang tak pernah berhenti. Hal itu menutup dunia luar dan membuat ruangan terasa lebih intim lebih tertutup. Celine duduk di sofa sambil memeluk lutut. Ia hanya memakai kaos oversized milik Dimas yang kebesaran di tubuhnya. Bekas garis merah di paha dan pantatnya sudah memudar jadi warna pudar keunguan tapi setiap kali dia bergeser sensasi itu kembali terasa seperti sebuah bisikan kenikmatan.
Beberapa saat kemudian Dimas masuk dari dapur sambil membawa dua gelas teh jahe panas. Ia duduk di sebelah Celine lalu menyerahkan satu gelas.
"Minum dulu biar badanmu hangat. Katanya. "Boneka ini keliatan capek sekali..
Celine menyeruput pelan. Uap jahe hangat langsung menyengat hidungnya.
"Aku nggak capek Mas. jawabnya. "Cuma mikirin kemarin dan besok dan lusa. Matanya menatap Dimas hitam pekat penuh kerinduan. "Aku takut kalau-kalau aku minta terlalu banyak tapi aku nggak bisa berhenti pengen.
Dimas perlahan meletakkan gelasnya diatas meja. Tangan kekarnya menyentuh dagu Celine lalu mengangkat wajahnya.
"Kamu nggak pernah minta terlalu banyak amoy cantik. Katanya lembut. "Yang aku takutkan justru aku yang nggak bisa nahan diri. Tapi kita punya aturan hijau kuning merah dan aftercare nggak boleh dilewatin.
Celine mengangguk lalu tersenyum kecil. Hasrat didalam tubuhnya makin meledak.
"Hari ini hujan seharian. katanya. "Kita nggak akan bisa pergi kemana-mana. Aku mau main lagi yang lebih berat yang bikin aku nggak bisa kabur dari rasa sakitnya. Sahut Celine dengan tatapan yang memelas namun penuh hasrat.
Dimas diam sejenak sambil menilai lalu dia bangkit dan menarik tangan Celine.
"Sekarang ikut aku keruang tengah. Katanya. "Kita coba predicament. Kamu pernah dengar soal itu?
Celine menggeleng tapi matanya langsung berbinar.
"Aku akan turuti apapun yang kamu mau tuan. jawabnya.
Diruangan itu Dimas sudah menyiapkan semuanya sejak pagi seperti biasa dia selalu satu langkah di depan. Tali jute baru digantung di langit-langit dengan hook yang dia pasang sendiri minggu lalu dari bisnis riggingnya. Alas lantai masih yang tebal tapi kali ini ada tambahan sebuah stool kecil kayu nipple clamps dengan bobot rantai panjang dan sebuah vibrator kecil yang bisa dikontrol remot.
"Boneka sepertimu akan terlihat seksi saat telanjang. Kata Dimas.
Celine segera melepas kaosnya dengan gerakan pelan. Tubuh rampingnya terpampang sepenuhnya di bawah cahaya redup lampu kamar. Kulit putihnya terlihat halus dan kontras sekali dengan bekas pudar merah di beberapa bagian tubuhnya. Hal itu membuat Dimas menelan pelan ludahnya karena nafsu yang mulai bangkit lagi.
Dimas mendekat lalu mulai memasang chest harness dasar dengan tali jute. Ia melingkarkan tali di dada Celine dan di bahu secara hati-hati. Tali itu membentuk pola berlian yang rapi di punggung Celine. Setiap tarikan tali membuat kulit Celine sedikit tegang dan napasnya menjadi lebih cepat. Lalu Dimas mengikat tangan Celine ke belakang dalam box tie yang ketat. Siku hampir menyentuh sehingga bahu Celine terbuka lebar dan dadanya terdorong ke depan.
Celine masih berlutut dilantai dengan posisi yang stabil. Lututnya menekan karpet tebal sehingga ia bisa menjaga keseimbangan meski tangan sudah diikat ke belakang. Tubuhnya tegak dengan punggung lurus sementara Dimas mengerjakan futomomo di kedua kaki. Paha Celine ditekuk ke arah betis dan diikat kuat dengan tali jute sehingga kakinya terlipat rapi. Lutut tetap ditekuk tapi tidak terlalu rapat sehingga masih ada sedikit ruang gerak kecil. Hal itu membuat Celine bisa merasakan tekanan tali yang menekan kulit mulus paha dan betisnya pelan pelan tanpa langsung membuat kakinya mati rasa.
Posisi berlutut itu membuat bokong Celine terangkat sedikit ke belakang dan liang kewanitaannya terbuka alami. Berat badannya bertumpu pada lutut dan ujung jari kaki yang menyentuh seprai. Setiap kali Dimas menarik simpul tali tubuh Celine bergoyang pelan. Otot pahanya tegang dan gemetar karena posisi terlipat yang membuat darah mengalir dengan sensasi berbeda. Celine merasakan tali itu semakin dalam menekan kulitnya dan memberikan tekanan konstan yang membuat birahi semakin naik.
Dimas kemudian menggantung tali dari hook langit-langit lalu menghubungkannya ke harness di punggung Celine. Ia menarik pelan pelan sehingga tubuh Celine terangkat sedikit. Celine harus berdiri di ujung jari kaki dan punggungnya melengkung karena posisi itu. Rasa tegang di otot dan tali yang menahan tubuhnya membuat Celine mendesis pelan. Sensasi itu mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Masih bisa tahan ? tanya Dimas sambil cek sirkulasi.
"Hijau Tuan" jawab Celine. Suaranya sudah bergetar karena antisipasi.
Dimas memasang nipple clamps lagi kali ini dengan bobot rantai yang lebih berat. Rantai ditarik ke bawah dan dihubungkan ke sebuah karabin kecil di lantai. Setiap kali Celine menurunkan tumit untuk istirahat puting susunya akan tertarik keras ke bawah. Predicament pertama adalah berdiri di ujung jari atau sakit di buah dada.
Lalu vibrator kecil dimasukkan pelan ke liang kewanitaan Celine. Remote ada di tangan Dimas.
"Ini on level rendah" katanya. "Tapi kalau kamu gerak terlalu banyak aku naikin. Kalau kamu jatuh dari posisi aku matiin. Kamu harus tahan posisi ini selama dua puluh menit. Hitung mundur sendiri.
Dimas mundur selangkah lalu duduk di kursi sambil memandang. Celine mulai gemetar karena kaki lelah puting tertarik setiap kali dia bergoyang dan vibrator menggoda tapi tidak cukup untuk klimaks. Air mata mengalir pelan di pipinya.
"Sepuluh menit lagi budak.. kata Dimas tenang. "Jerit kalau perlu. Aku suka dengar.
Celine menjerit kecil setiap kali mencoba turun karena puting susunya tertarik tajam.
"Tuan.. sakit.. tapi enak.. tolong.. katanya terisak.
Dimas mendekat. Tangannya menyapu punggung Celine yang berkeringat lalu dia ambil cambuk rotan lagi. Bukan pukulan keras tapi sapuan cepat di paha dalam.. bokong dan punggung. Setiap pukulan membuat tubuh Celine bergoyang menarik nipple clamps lebih keras dan vibrator bergetar lebih kuat karena gerakan.
"Hitung. perintahnya.
"Satu dua tiga" hitung Celine terisak. Pinggulnya mendorong ke belakang mencari lebih meski posisi membuatnya hampir jatuh.
Saat hitungan mencapai dua puluh menit Dimas mematikan vibrator lalu melepas bobot dari nipple clamps pelan pelan. Celine ambruk ke pelukannya saat tali dilepas. Tubuhnya menggigil hebat.
Dimas membawanya ke ranjang lalu membaringkannya telentang. Ia oles arnica di puting susu yang merah membengkak dan di garis baru cambuk yang mulai muncul. Lalu dia peluk erat dan gosok punggung pelan.
"Kamu luar biasa tadi" bisik Dimas. "Aku bangga banget.
Celine menangis pelan di dadanya bukan karena sedih tapi karena pelepasan.
"Aku takut tapi aku percaya Mas nggak akan biarin aku rusak" katanya. "Aku mau lebih lagi. Mau sampai aku nggak bisa mikir apa-apa selain Mas.
Dimas mencium keningnya lama.
"Kita pelan pelan" katanya. "Besok mungkin suspension parsial cuma kaki terangkat tangan bebas. Aku mau kamu rasain melayang tapi tetap aman.
Celine mengangguk lalu tersenyum lemah.
"Janji aftercare panjang ya Mas" katanya. "Aku suka dipeluk berjam jam.
Dimas tertawa pelan.
"Selalu" katanya. "Dan aku juga butuh itu. Kamu nggak tahu seberapa aku butuh peluk kamu setelah liat kamu begitu rentan tapi kuat.
Mereka berbaring begitu sampai hujan reda. Di luar Jakarta kembali berisik dengan klakson dan motor tapi di dalam hanya napas mereka yang saling sinkron. Tali merah imajiner semakin mengikat hati mereka bukan cuma tubuh.
Malam itu sebelum tidur Celine memakai gelang tali jute tipis di pergelangan kiri sebagai simbol kecil yang dia rajut sendiri. Dimas menciumnya lalu bisik.
"Ini bukan akhir amoy cantik. katanya. "Ini baru permulaan yang lebih dalam.
Celine dengan mata setengah terpejam menjawab.
"Aku milik kamu. selamanya.
Setelah dua puluh menit penuh gemetar dan isak kecil Dimas akhirnya mematikan vibrator dengan satu klik remot. Tubuh Celine langsung melemas dan hampir jatuh kalau saja Dimas tidak sigap menangkapnya. Tali dari hook langit-langit dilepas perlahan harness dada dibuka satu per satu futomomo di kaki dilepaskan dengan hati hati agar sirkulasi kembali normal. Nipple clamps terakhir dilepas. Saat gigitan logam terlepas Celine menjerit pendek karena tubuhnya mengejang akibat gelombang darah yang kembali mengalir deras ke puting susu yang sudah bengkak dan sensitif luar biasa.
Dimas membopong Celine ke ranjang lalu membaringkannya telentang di atas seprai yang sudah diganti bersih. Tubuh Celine masih berkeringat dingin dan napasnya tersengal tapi matanya hitam itu penuh dengan campuran kepuasan dan kerinduan yang belum padam.
"Mas belum selesai" bisik Celine serak. Tangannya gemetar meraih lengan Dimas. "Aku masih pengen rasain Mas di dalam sambil posisi tadi tolong.
Dimas menatapnya lama sambil menimbang lalu dia mengangguk pelan.
"Oke" katanya. "Tapi posisi yang aman. Kita modifikasi sedikit supaya kamu nggak kelelahan.
Ia mengambil tali jute yang masih tersisa lalu mengikat pergelangan tangan Celine ke kepala ranjang dengan double column tie sederhana tapi kuat sehingga tangan terentang lebar di atas kepala. Kaki Celine dia angkat lagi kali ini tanpa futomomo penuh hanya paha diikat longgar ke tiang ranjang samping lutut ditekuk dan kaki terbuka lebar serta terangkat tinggi. Posisi itu membuat pinggulnya terangkat sedikit dari kasur bokong terbuka sempurna dan seluruh bagian bawah tubuhnya rentan sepenuhnya.
Dimas berdiri di ujung ranjang sejenak sambil memandang. Kulit putih Celine yang berkilau keringat garis merah baru dari cambuk rotan di paha dalam dan bokong puting susu merah membengkak serta di antara paha cairan bening yang sudah mengalir deras sejak tadi. Ia melepas celana pendeknya sendiri sehingga tubuh atletisnya terlihat tegas di bawah cahaya lampu tidur.
"Tarik napas dalam Putih" katanya sambil mendekat.
Ia memposisikan diri di antara kaki Celine yang terbuka lebar. Ujung kejantanan menyentuh lalu masuk pelan dulu hanya kepala cukup untuk membuat Celine menggelinjang dan menarik tali di pergelangan tangannya. Lalu tanpa peringatan lebih Dimas mendorong masuk penuh dalam satu gerakan kuat. Batangnya menghujam dalam ke liang kewanitaan Celine. Celine menjerit panjang punggungnya melengkung ke atas dan mata terpejam rapat.
"Mas ahh dalam banget" katanya. Suaranya pecah campuran sakit dan nikmat.
Dimas tidak bergerak cepat dulu. Ia diam di dalam membiarkan Celine merasakan penuhnya dia panasnya dan denyutnya. Tangannya menyentuh paha Celine yang terikat lalu mengusap garis merah di sana pelan seperti mengingatkan bahwa setiap bekas itu miliknya.
Lalu dia mulai bergerak pelan tapi dalam. Setiap tarikan keluar hampir sepenuhnya lalu dorong masuk lagi sampai pangkal. Setiap dorongan membuat pinggul Celine terangkat lebih tinggi tali di tangan menarik pergelangan sampai kulitnya memerah lagi dan puting susunya yang sensitif bergesek seprai setiap kali tubuhnya bergoyang sehingga menambah lapisan sensasi yang membuatnya menangis pelan.
"Jerit lagi" bisik Dimas. Suaranya rendah dan berat. "Aku mau dengar betapa kamu milik aku.
Celine menurut. Setiap dorongan keras membuatnya menjerit suara yang pecah tinggi penuh keputusasaan dan kenikmatan. Dimas mempercepat ritme tangannya meraih pinggul Celine lalu menarik tubuhnya lebih dekat setiap kali dia mendorong masuk. Posisi ini membuatnya masuk lebih dalam dari biasanya dan menyentuh titik yang selalu membuat Celine kehilangan kendali.
"Mas tolong aku mau keluar boleh" Celine memohon. Air mata mengalir ke pelipis dan badannya menggigil hebat.
"Belum" jawab Dimas tegas. Ia mencondongkan tubuh satu tangan memegang leher Celine pelan hanya tekanan di sisi cukup untuk membuat darah berdesir lebih kencang di kepala sehingga sensasi semakin intens. Bibirnya menyentuh telinga Celine. "Tahan sampai aku bilang. Kamu bisa Putih. Kamu bonekaku yang kuat.
Celine menangis tersedu tubuhnya mengejang menahan dan otot otot di dalamnya mengencang kuat di sekitar Dimas. Dimas terus bergerak kasar dalam tanpa ampun sampai akhirnya dia sendiri mendekati puncak.
"Sekarang" bisiknya. "Keluar bareng aku.
Celine menjerit panjang tubuhnya mengejang hebat dan gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhnya seperti listrik. Dimas mendorong terakhir kali dalam dalam lalu melepaskan air mani panas di dalamnya sambil mengerang rendah. Mereka ambruk bersama Celine masih terikat dan Dimas menutupi tubuhnya dengan napas mereka saling campur.
Beberapa menit kemudian Dimas melepas ikatan dengan hati hati. Ia menggosok pergelangan tangan Celine yang memerah lalu mencium bekas tali itu pelan. Lalu dia ambil handuk hangat dari kamar mandi dan membersihkan tubuh Celine dengan lembut dari antara paha dari puting susu dan dari garis cambuk. Setelah itu arnica gel dioleskan lagi dingin dan menenangkan.
Mereka berpelukan di ranjang. Celine meringkuk di dada Dimas dan kakinya melingkar di pinggang pria itu seperti tak mau lepas.
"Mas terima kasih" bisik Celine. Suaranya kecil tapi penuh syukur. "Aku nggak pernah ngerasa seaman ini semilik ini.
Dimas mencium rambutnya yang basah keringat.
"Kamu selalu aman sama aku. katanya. "Dan kamu selalu milik aku. Besok kita istirahat dulu karena tubuhmu butuh pemulihan tapi lusa kita coba yang lebih tinggi lagi suspension full mungkin kalau kamu siap.
Celine tersenyum lemah mata setengah terpejam.
"Aku siap kapan aja. katanya. "Asal kamu yang pegang talinya.
Hujan di luar masih deras tapi di dalam kamar hanya ada kehangatan tubuh mereka yang saling menempel detak jantung yang sinkron dan janji tak terucap bahwa ini baru permulaan. Garis merah demi garis merah ikatan demi ikatan sampai tak ada lagi batas di antara mereka.

.jpg)
Komentar
Posting Komentar