Beberapa hari setelah sesi foto dan penyebaran ke group chat pedagang kaki lima suasana di toko mulai terasa berbeda bagiku. Aku masih bekerja seperti biasa karena aku mengangkat kardus berat lalu menyusun barang di rak dan melayani pelanggan dengan sopan. Namun mataku selalu mencuri pandang ke arah Livi. Gadis itu berusaha keras bersikap normal di depan orang tuanya sehingga dia masih manja memanggil Papa dan Mama dengan suara lembut. Dia tertawa kecil saat Koh Aliong bercanda dan bersikap kekanak-kanakan seperti biasa. Tapi aku tahu yang sebenarnya karena tubuhnya sudah mulai meninggalkan jejak yang sulit disembunyikan.
Ada bekas merah samar di lehernya yang hampir tertutup kerah baju seragam sekolahnya hasil gigitan dan hisapan kuatku malam sebelumnya. Langkahnya kadang masih sedikit goyah keesokan paginya terutama saat dia turun dari lantai dua untuk membantu buka toko.
Dan sesekali saat Pak Aliong bertanya dengan nada tegas kenapa dia sering beresin toko sampai malam pipi Livi langsung memerah. Dia melamun sebentar sebelum menjawab dengan suara manja yang agak dipaksakan.
"Biasa aja kok Pa… banyak barang yang harus ditata ulang. kata Livi
Koh Aliong yang tegas dan teliti mulai memperhatikan hal-hal kecil itu. Aku melihatnya beberapa kali dari kejauhan karena alisnya berkerut saat melihat Livi berjalan agak pelan atau saat dia memandang leher anaknya dengan tatapan curiga. Pria tua itu tidak langsung bertanya tapi aku bisa merasakan dia mulai waspada. Setiap kali dia turun ke lantai satu tanpa pemberitahuan jantungku berdegup lebih kencang. Aku tahu risiko semakin tinggi tapi justru itu yang membuat darahku mendidih setiap kali aku melihat Livi.
Malam itu setelah toko tutup dan Koh Aliong naik ke lantai dua lebih awal karena capek aku menarik Livi ke belakang deretan rak toko seperti biasa. Tubuhnya sudah gemetar sebelum aku sentuh sehingga aku membalikkan badannya menghadap dinding lalu mengangkat roknya cepat dan menurunkan celana dalamnya hingga ke lutut. Kontolku yang sudah keras sejak sore langsung kumasukkan ke memeknya yang basah. Aku menggenjot pelan tapi dalam sambil bisik di telinganya.
"Non kalau bapak perhatiin.. kayaknya papa non mulai curiga kalau non tutup tokonya lama lama kayak gini terus deh..
"Aakhh... Iya pakk.. belakangan papa emang sering nanyain kayak gitu.. tapii.. aakkhh... Mau gimanaaa lagi... Uuhh.. ching ching kayaknya udah makin ketagihan diginiin sama bapak.. pokoknya ching ching.. gak mau berhenti meskipun ketahuan sama papa..
"Hehe.. bener banget tuh keputusan non.. anak manja kayak non ching ching gini emang mesti sering dilatih sama bapak biar jadi gadis dewasa.. kalau nggak mah sampai kapanpun kelakuan non bakalan seperti anak anak terus. Ssshh..
"Pak.. kalau nanti seandainya.. papa tau bapak udah giniin ching ching tiap malam ditokonya gimana ? Emang bapak gak takut kalau nanti sampe dipecat sama papa..
"Aduhh non.. soal dipecat mah urusan sepele. Kan bapak bisa cari kerjaan ditoko lain dipecinan. Nanti tinggal bapak entotin lagi anak gadis si engkohnya seperti yang bapak lakuin ke non ching ching gini.. kan enak tuh samua amoy pecinan bisa bapak buntingin semua.. haha..
"Itu mah emang maunya bapak kan.. tapi paakk.. aaakkhh.. ching ching akui punya bapak enak banget.. sampe bikin ching ching ketagihan diginiin terus sama bapak..
"Yah kalau bisa sih bukan cuma sama bapak aja non. Diluar sana kan masih banyak lelaki pribumi lain yang pengen nyicipin amoy amoy pecinan kayak non ching ching gini.. masa iya mereka harus nunggu ada kerusuhan dulu baru bisa nikmatin amoy.
"Ikkhh bapak kok seneng banget sih ngungkit ngungkit cerita kerusuhan kayak gitu.. aku kan jadi takut dengernya pak.. emang bener ya pak.. waktu jaman rusuh dulu banyak toko toko dipecinan yang kena jarah dan dibakar massa ?!!
"Iya bener banget non.. jaman itu emang ngeri banget situasinya. Bukan cuma toko aja yang kena dijarah. Tapi amoy amoynya juga banyak yang kena digulung sama massa.. untung aja waktu itu non belum lahir.. coba kalau non ching ching udah jadi amoy kayak gini. Yang ada non juga bisa kena digilir rame rame kali sama perusuhnya..
"Akhhh.. udah aakkh.. pakk.. jangan ceritain tentang kerusuhan lagi.. aku jadi takut pak.. takut toko ini dijarah sama massa..
"Hehe.. takut apa suka non ? Soalnya memek non ching ching makin basah aja nih setelah bapak ceritain kayak gitu..
Aku trus menggauli Livi dengan perlahan lahan dan berbincang tentang berbagai hal dengannya. Mulai dari kerusuhan dan foto mesumnya yang sudah kusebar dibeberapa tempat sekitar pecinan. Kurasakan kemaluan ching ching makin peret aja dan menjepit penisku makin kuat setelah mendengar kisah tentang keinginan para lelaki pribumi kasar yang ingin memperkosanya seperti amoy amoy dijaman kerusuhan dulu.
"Non.. seandainya papa non tiba tiba turun kebawah dan liat kita berdua lagi beginian. Kira kira apa yang bakal non lakuin. Bisikku
Livi hanya mendesah tertahan sehingga pinggulnya mendorong ke belakang menyambut hantamanku.
"Jujur aja.. Aku… aku takut banget pak… kalau sampe ketahuan papa.. dia pasti bakal marah besar.. tapi… aaahh… ching ching gak mau kalau bapak berhenti.. kata Livi
Tak lama kemudian apa yang kamu kuatirkan terjadi. Suara langkah Koh Aliong di lantai atas terdengar samar sehingga ketegangan kami semakin memuncak. Aku sama sekali gak peduli dan terus menggenjot Livi dengan pelan tapi dalam di dalam toko yang sudah tutup.
"Akkkhh.. aakakhh.. terus pak.. ajarin ching ching gimana caranya jadi gadis dewasa.. uuhh...
Kontolku keluar masuk memeknya yang basah dari belakang sehingga satu tanganku meremas payudaranya dan tangan satunya membekap mulutnya agar desahannya tidak terlalu keras.
"Jangan berisik non.. kayaknya papa non lagi jalan kearah tangga.. Bisikku sambil tetap memompa kemaluanya dari belakang.
Hmpmmmp.. Livi sudah mendesah tertahan di telapak tanganku karena pinggulnya mendorong ke belakang menyambut setiap hantamanku. Tiba-tiba kami mendengar suara derit tangga kayu yang jelas sehingga Koh Aliong turun ke bawah.
"Wah gawat non.. papa non kayaknya beneran mau turun kebawah nih.. Kataku panik.
Jantungku langsung berdegup kencang karena aku cepat mencabut kontolku dari memek Livi dengan bunyi basah kecil lalu mendorong tubuhnya pelan ke arah meja. Aku sendiri langsung sembunyi di belakang tumpukan kardus dan lemari barang tinggi di sudut toko yang paling gelap. Sebagian lampu toko memang sudah dimatikan sehingga area itu nyaris gelap gulita. Napasku kutahan sekuat tenaga karena kontolku masih keras dan basah oleh cairan Livi sehingga jantungku berdegup seperti mau meledak.
Koh Aliong turun dengan langkah berat sehingga cahaya lampu temaram menyorot tubuhnya yang sudah agak bungkuk karena usia. Dia berhenti di tengah toko dan matanya menyapu sekitar dengan tatapan curiga.
"Ching Ching.. !! Panggil Koh Aliong dengan suara tegas dan rendah dari tangga.
"Iii... Iiya paaa.. ada aapaaa..Sahut Livi sambil berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal sengal.
"Tadi Papa kayak ada dengar suara lelaki dari bawah. Kayak orang mengerang keenakan gitu… apa ada orang di sini?
Livi berdiri di dekat meja kasir karena roknya sudah diturunkan buru-buru sehingga wajahnya pucat tapi dia berusaha tersenyum manja seperti biasa. Suaranya agak gemetar meski dia berusaha mengontrolnya.
"Gak ada suara apa-apa kok Pa… Livi cuma… lagi nonton video di hp.. sambil beresin barang. Mungkin Papa salah dengar. kata Livi
Koh Aliong diam sebentar sehingga matanya masih meneliti sudut-sudut toko yang gelap. Aku menahan napas di balik tumpukan kardus karena keringat dingin mengalir di punggungku. Setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam pria tua itu akhirnya mengangguk pelan.
"Ya sudah… kalau ada apa-apa langsung teriak. Jangan lama-lama di bawah. Kalau sudah selesai hitung stok barang langsung naik keatas aja. kata Koh Aliong
Dia berbalik dan naik kembali ke lantai dua sehingga derit tangga kayu pelan menghilang di atas. Begitu langkahnya tak terdengar lagi aku langsung keluar dari persembunyian. Nafsu yang sempat tertahan meledak lagi sehingga aku menarik Livi kasar ke posisi yang sama seperti tadi dengan membungkuk menghadap dinding toko. Rok seragam sekolah abu abunya aku angkat cepat lalu kontolku yang masih keras dan licin langsung kumasukkan kembali ke memeknya yang basah kuyup dengan satu dorongan kuat.
"Uhh… pak… kata Livi mendesah tertahan sehingga tubuhnya maju ke depan karena hantaman itu.
Aku langsung menggenjotnya lagi dengan irama yang sama karena pelan tapi dalam dan kuat. Satu tanganku meremas payudaranya dari belakang dan tangan satunya membekap mulutnya lagi.
Livi menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sehingga suaranya gemetar di balik telapak tanganku.
"Pak… sudah pak… aku takut ketahuan Papa… tadi hampir… aaahh…! kata Livi
Tapi pinggulnya justru mendorong ke belakang sehingga memeknya semakin licin menyambut kontolku.
Aku tersenyum liar di belakang Livi karena kontolku masih tertanam dalam di memeknya yang basah dan panas. Adrenalin karena hampir ketahuan Koh Aliong membuat nafsuku meledak-ledak sehingga aku menarik pinggulnya lebih erat sambil berbisik serak di telinganya.
Justru itu yang bikin bapak makin napsu non kata aku.
"Bayangin kalau tiba-tiba papa non liat bapak lagi ngentotin anak gadisnya di toko sendiri. Dia pasti bakalan kaget banget… atau jangan-jangan malah ikut sange dan pengen ngentotin non Ching Ching juga.
Livi melenguh keras saat aku langsung menggenjotnya lebih keras dan dalam sehingga tanganku menampar pantatnya berkali-kali dengan suara nyaring plak plak plak yang pelan tapi jelas. Bokong putihnya semakin memerah bekas tamparan.
"Cepatan pak… aku takut ketahuan sama papa… uuhh!! rengek Livi dengan suara gemetar karena campuran takut dan kenikmatan.
Aku semakin kalap mendengar rengekannya sehingga tanpa mencabut kontolku aku menjambak rambut panjangnya dengan kasar lalu menarik kepalanya ke belakang sambil menyeret tubuhnya menuju tangga kayu yang menghubungkan lantai satu dan dua. Livi tersandung-sandung mengikuti langkahku karena memeknya masih menjepit kontolku erat.
Aku memosisikan dia berdiri di anak tangga paling bawah sehingga tubuhnya menungging ke depan dan kedua tangannya bertumpu di tangga yang lebih tinggi. Rok sekolahnya sudah tergulung tinggi di pinggang sehingga dari posisi ini siapa pun yang turun dari lantai dua akan langsung melihat Livi sedang ditiduri dari belakang.
Aku berpegangan kuat pada pundaknya yang ramping lalu menggenjotnya sekeras-kerasnya karena kontolku menghunjam memeknya dengan hantaman brutal dan cepat. Suara plak plak plak plak yang keras memenuhi ruang tangga sehingga setiap dorongan membuat tubuh Livi terdorong maju dan payudaranya bergoyang liar di balik kemeja yang sudah terbuka.
Livi mengerang keras tapi dia buru-buru menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan sehingga berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar sampai ke lantai dua.
"Mmmhhh!!! Mmmhh… pak… keras sekali… aaahh—!! erang Livi dengan suara tertahan di balik telapak tangannya.
Aku tidak mengurangi kecepatan sama sekali sehingga tangan kiriku menjambak rambutnya dan tangan kananku memegang pundaknya sebagai pegangan karena pinggulku bergerak seperti binatang. Setiap hantaman membuat anak tangga kayu berderit pelan sehingga risiko ketahuan Koh Aliong yang hanya beberapa meter di atas sana justru membuatku semakin kalap.
"Kita ganti gaya non.. bapak mau ajarin cara ngentot yang enak ditangga.
Belum puas dengan genjotan dari belakang aku mencabut kontolku yang licin dan berdenyut dari memek Livi sehingga dengan kasar aku membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. Wajahnya sudah merah padam karena mata besarnya berkaca-kaca penuh ketakutan bercampur nafsu. Aku mendorongnya duduk di anak tangga kayu yang agak lebar sehingga punggungnya bersandar pada anak tangga di atasnya dan kepalanya menengadah ke arah lantai dua.
"Paak.. jangann disini.. nanti kalau dilihat sama papa gimana..
"Biarin aja non.. biar papa non tau kalau pribumi juga bisa bikin seneng anak gadisnya.. soalnya selama ini kan keluarga besar non selalu memandang rendah lelaki pribumi kayak bapak.
Aku mengangkat kedua pahanya yang mulus tinggi-tinggi sehingga membukanya lebar sekali hingga lututnya hampir menyentuh dadanya. Rok seragamnya tergulung sempurna di pinggang sehingga dari posisi ini kemaluannya yang merah dan basah kuyup terbuka sempurna di depanku. Aku berdiri di anak tangga yang lebih rendah karena memegang kontolku yang keras sekali lalu mendorongnya masuk kembali ke dalam lubang Livi dengan satu hantaman kuat.
"Uhh… pak… dalam bangeet… aaahh!! mendesah Livi tertahan karena kepalanya mendongak ke atas dan leher putihnya teregang indah.
"Justru ini kelebihan kontol pribumi non.. gede.. panjaang.. bisa nyodok sampe keujung.. makanya amoy yang di video minimarket aja sampe ketagihan pengen dikontolin terus sama abang abang pegawainya.
Aku langsung menggenjotnya sambil berdiri sehingga pinggulku bergerak maju-mundur dengan ritme kasar dan cepat. Setiap hantaman membuat tubuh Livi terguncang di anak tangga karena payudaranya yang masih tertutup kemeja bergoyang-goyang liar. Aku membungkuk ke depan lalu melumat bibirnya dengan rakus sehingga lidahku menyusup masuk dan menari liar dengan lidahnya yang manja sambil tanganku meremas payudaranya dari luar kemeja.
Kemudian aku turunkan ciumanku ke lehernya yang putih dan harum sehingga menjilat dan menghisap kulitnya dengan kuat lalu meninggalkan bekas merah lagi di sana. Livi semakin liar karena tubuhnya mengejang di bawahku dan memeknya berdenyut-denyut kuat menggigit kontolku. Kepalanya mendongak ke atas sehingga mulutnya terbuka lebar ingin berteriak tapi aku cepat membekap mulutnya kuat-kuat dengan telapak tanganku.
"Mmmhhh!!! Mmmhh—!! erang Livi
Livi klimaks hebat di posisi itu sehingga tubuhnya kejang-kejang liar dan kedua pahanya yang aku angkat bergetar hebat. Memeknya menyembur cairan hangat yang membasahi kontolku dan anak tangga di bawahnya karena matanya terpejam rapat dan air mata kenikmatan mengalir di sudut matanya sementara aku terus menggenjotnya tanpa henti lalu membekap mulutnya semakin kuat agar jeritannya tidak lolos ke lantai dua.
Suara karaoke Koh Aliong masih samar terdengar dari atas tapi langkah kakinya sesekali terdengar bergerak di lantai kayu sehingga semakin dekat dengan tangga.
Aku semakin kalap sehingga dengan satu tangan kuat membekap mulut Livi rapat-rapat agar erangannya tidak lolos dan tangan satunya lagi aku pakai untuk menahan paha kirinya agar tetap terbuka lebar. Posisinya sangat rentan karena tubuhnya setengah duduk di anak tangga kepalanya mendongak ke atas dan memeknya terbuka maksimal di depanku.
Aku menggenjotnya lebih keras sehingga pinggulku bergerak sekuat tenaga karena kontolku menghunjam memeknya dengan hantaman brutal dan cepat. Suara plak plak plak plak yang nyaring memenuhi ruang tangga sehingga setiap dorongan membuat tubuh Livi terdorong ke belakang dan punggungnya bergesekan kasar dengan anak tangga kayu. Payudaranya bergoyang liar di balik kemeja karena rambut panjangnya acak-acakan.
"Mmmhhh!!! Mmmhh—!! Livi meronta di bawah bekapanku sehingga matanya terpejam rapat dan air mata kenikmatan mengalir deras. Memeknya berdenyut-denyut kuat sehingga semakin licin dan panas menggigit kontolku.
Aku menghujam sekuatnya karena tidak peduli lagi dengan risiko. Pinggulku bergerak seperti piston sehingga kontolku masuk hingga pangkal setiap kali dan bola-bolaku menepuk memeknya dengan keras. Suara karaoke Koh Aliong dari lantai dua masih terdengar samar tapi langkah kakinya semakin dekat dengan tangga.
"Aarrghh… Ching Ching… bapak mau keluar…!! kataku
Dengan hantaman terakhir yang sangat kuat aku klimaks hebat di dalam memeknya sehingga kontolku berdenyut-denyut ganas dan menyemburkan sperma panas serta kental langsung ke dalam rahim Livi. Jet demi jet keluar dengan deras karena memenuhi dirinya hingga meluber keluar dari celah memeknya yang masih kugencet kuat. Aku terus menghunjam pelan sambil menyemburkan sisa-sisa sperma sehingga tanganku masih membekap mulutnya kuat-kuat dan menahan pahanya agar tetap terbuka lebar.
Livi kejang-kejang di bawahku karena tubuhnya gemetar hebat menahan orgasme yang datang bersamaan dengan klimaksku. Air matanya mengalir deras dan napasnya tersengal-sengal di balik telapak tanganku.
Aku masih tertanam dalam di dalamnya sehingga napasku kasar sambil mendengar langkah Koh Aliong yang semakin jelas mendekati tangga.
Aku masih tertanam dalam beberapa detik lagi karena menikmati denyutan terakhir memek Livi yang masih bergetar di sekitar kontolku. Spermaku yang banyak sudah meluber keluar sehingga menetes ke anak tangga kayu. Begitu napasku agak tenang aku pelan mencabut kontolku yang masih setengah keras dan diikuti aliran sperma putih kental yang mengalir deras dari memeknya yang merah serta menganga.
Aku segera merapikan pakaianku dengan cepat sehingga menarik celana dalam dan celana kerja ke atas lalu merapikan baju dan menyeka keringat di dahi dengan lengan baju. Livi masih duduk lemas di anak tangga karena napasnya tersengal wajahnya basah air mata dan keringat roknya kusut serta rambut panjangnya acak-acakan. Aku membantunya berdiri pelan lalu merapikan rok abu-abunya dan menarik kemejanya agar rapi kembali.
Sebelum pergi aku mendekatkan wajahku dan mencium keningnya dengan lembut serta lama sehingga bau rambutnya yang harum masih tercium meski bercampur aroma keringat dan seks.
"Non Livi udah jadi gadis dewasa sekarang bisikku pelan di telinganya karena suaraku masih serak. Pinter banget muasin laki-laki. Bapak bangga sama kamu Ching Ching.
Livi hanya mengangguk lemah sehingga matanya masih berkaca-kaca dan pipinya merah padam. Dia tidak menjawab karena hanya memegang lenganku sebentar seolah takut aku pergi terlalu cepat.
Aku tersenyum tipis lalu berbalik meninggalkan toko melalui pintu belakang sehingga udara malam yang sejuk langsung menyambutku saat aku melangkah keluar ke gang sempit pecinan Lama. Jantungku masih berdegup kencang karena adrenalin tadi tapi ada rasa puas yang dalam di dada. Setiap langkah menuju kamar kontrakanku yang sederhana terasa ringan karena aku merasakan kepuasan yang luar biasa bukan hanya dari seksnya tapi juga dari melihat Livi yang dulu polos dan manja kini semakin dalam tenggelam dalam permainan yang aku bangun.
Sesampainya di kamar kontrakan yang sempit aku langsung mandi air dingin sehingga membersihkan sisa-sisa cairan Livi di tubuhku. Sambil berbaring di kasur tipis aku tersenyum sendiri di kegelapan karena malam ini benar-benar sempurna.

Komentar
Posting Komentar