By : Analconda13
Namaku Angela seorang wanita Chindo berusia 33 tahun yang memiliki kulit putih mulus dan rambut hitam panjang yang selalu tergerai rapi. Tubuhku terlihat ramping seperti gadis remaja karena aku selalu rutin senam setiap hari. Sebenarnya aku sudah menikah dua tahun yang lalu dengan seorang pengusaha sukses tapi sayangnya sampai saat ini kami belum juga memiliki anak. Salah satu yang jadi penyebabnya mungkin karena suamiku terlalu sering berpergian keluar negri untuk mengerjakan urusan bisnis ekspor impornya sehingga aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk hidup sendirian di rumah mewah yang ada di kawasan elite Surabaya.
Banyak orang mengira hidupku sangat sempurna karna selain cantik. Aku juga memilik suami yang cukup tampan dan memili banyak harta. Namun kenyataannya semua itu sama sekali tak mampu mengusir rasa kesepian dan hasrat biologis yang sangat besar dalam diriku.
Terkadang saat gairahku sedang memuncak dan sedang sendirian didalam kamar tidurku yang mewah. Pikiranku sering melayang jauh kemana mana. Termasuk memikirkan berbagai macam fantasi liar yang muncul begitu saja dalam pikiranku yang sedang dilanda birahi.
Kuakui fantasi itu semakin liar dari hari ke hari. Awalnya aku hanya berani membayangkan sedang bercumbu dengan suamiku sendiri didalam kamar namun aku tidak puas dan fantasi yang lain terus bermunculan. Hingga akhirnya akupun semakin nekat berkhayal. Membayangkan tubuh putihku yang mulus ini tengah digauli oleh para pria pribumi yang berasal dari golongqn bawah seperti satpam komplek, kuli bangunan sampai ke tukang sampah yang sering mengangkut sampah didepan rumahku saat pagi hari. Entah kenapa setiap kali aku berfantasi terhadap mereka. Aku merasa diriku sangat puas sekali. Pernah suatu malam aku membayangkan ada kuli bangunan dari proyek rumah tetangga yang nekat menyelinap masuk ke rumahku ketika aku sedang sendirian.
Aku membayangkan mereka memanjat tembok samping rumah yang tinggi lalu seenaknya menyusup masuk kedalam kemudian membekap mulutku dan merobek pakaianku. Kubayangkan kubayangkan kuli bangunan yang tubuhnya kekar itu menggenjot kemaluanku dengan brutal tanpa ampun sampai aku merintih rintih keenakan dan mencapai klimaks.
Semakin lama fantasi itu semakin hidup dan membuat tubuhku blingsatan. Akhirnya aku tidak tahan lagi lalu tanganku merayap ke bawah selimut meremas payudaraku sendiri dan menyentuh kemaluanku yang sudah basah. Aku masturbasi dengan liar sambil membayangkan hantaman kasar di kemaluanku hingga akhirnya mencapai orgasme sendirian di kamar yang sunyi dengan erangan pelan yang teredam.
Kuakui ini semua salah dan tak seharusnya aku berfantasi liar seperti itu disaat aku sudah memiliki seorang suami yang baik hati dan terlihat sempurna disegala hal kecuali dalam urusan ranjang. Namun gairah yang ada dalam diriku begitu sulit untuk dikontrol sehingga akupun mulai mencari cari sarana penyaluran hasratku diberbagai tempat termasuk di dunia maya yang tanpa batas.
Belakangan ini aku mulai rajin secara diam diam membuka laptopku larut malam. Jantungku berdegup kencang saat aku bergabung dengan sebuah forum dewasa gelap di internet. Ternyata forum itu penuh cerita ekstrem dan video terlarang.
Di sana aku menggunakan username anonim yang aku pilih dengan hati-hati. Awalnya aku hanya sekedar iseng ingin menyalurkan hasrat terpendamku dengan membaca cerita erotis yang ada di sana. Lama kelamaan aku makin ketagihan sehingga aku rutin mengunjungi situs terlarang itu setiap malam. Perlahan fantasi semakin liar dan aku mulai membayangkan hal-hal yang lebih ekstrim. Aku kemudian berbagi hasratku yang paling dalam yaitu fantasi anal gang rape yang brutal namun menggairahkan. Aku ingin merasakan ketidakberdayaan total di tangan pria-pria pribumi kuat.
Sebelumnya aku juga sempat berinteraksi dengan beberapa anggota forum di sana. Bahkan mereka tak segan mengirim foto mereka kepadaku demi meyakinkan diriku bahwa mereka mampu memuaskan hasrat terpendamku. Tapi kebanyakan dari mereka merupakan para pekerja kantoran yang bagiku kurang meyakinkan. Di dalam diriku aku ingin sesuatu yang sama sekali berbeda. Aku ingin diperlakukan kasar oleh pria pribumi dari kalangan menengah ke bawah. Setelah beberapa waktu akhirnya aku berkenalan dengan dua orang anggota forum bernama Rian yang merupakan sopir truk berbadan atletis berusia 35 tahun dan Abdul temannya yang lebih dominan serta berpengalaman sebagai kuli bangunan.
Tak lama kemudian keduanya mulai membalas pesanku dengan penuh minat. Percakapan kami perlahan semakin intim. Kami membangun kepercayaan satu sama lain. Aku merasakan getaran gairah yang lama terpendam mulai bangkit di tubuhku yang kesepian.
Malam demi malam percakapan di forum gelap itu semakin panas dan mendetail. Dengan jari jemari yang gemetar di atas keyboard aku menceritakan fantasinya secara terbuka. Aku ingin direnggut secara kasar di rumah mewahku sendiri entah di ruang keluarga yang luas atau di kamar tidur utama. Di sana aku akan berpura-pura melawan tapi sebenarnya menikmati setiap sentuhan paksaan. Rian dan Abdul merespons dengan antusias. Mereka menggambarkan bagaimana mereka akan menyusup masuk menutup mulutku dan memperlakukanku seperti mainan seks tanpa ampun terutama fokus pada anal yang brutal sesuai keinginanku.
Kami bertukar foto anonim. Aku mengirim foto tubuhku yang tertutup lingerie hitam elegan sementara kedua pria itu membalas dengan foto badan kekar mereka yang berotot. Akhirnya kesempatan emas datang. Suamiku mengabari bahwa ia harus terbang ke Singapura selama seminggu penuh untuk rapat penting dan pembantu rumah tangga yang setia meminta izin pulang kampung ke Jawa Tengah karena ada acara keluarga. Rumah besar itu akan kosong sepenuhnya.
Dengan jantung berdegup kencang aku mengatur jadwal pertemuan untuk malam Jumat. Aku membersihkan rumah sendiri mematikan sebagian lampu agar suasana remang-remang dan menyiapkan kamar tidur dengan seprai sutra hitam. Aku mengenakan gaun tipis berwarna merah marun yang menempel di tubuhku tanpa pakaian dalam di baliknya. Rambutku dibiarkan terurai liar. Sebelum kedua pria datang aku duduk di sofa ruang tamu dengan kaki yang gemetar karena campuran ketakutan dan gairah ekstrem. Aku membayangkan bagaimana Rian dan Abdul akan menyergapku begitu masuk mungkin menekanku ke dinding merobek gaunku dan langsung menyerang lubang belakangku yang masih perawan dalam fantasi ini.
Ketika bel pintu berbunyi pelan tepat pukul sebelas malam aku menarik napas dalam berdiri dengan kaki lemas dan berjalan menuju pintu depan. Aku tahu begitu membukanya tidak ada jalan kembali. Fantasi gelapku sebentar lagi akan menjadi kenyataan yang basah dan menyakitkan nikmat.
Aku membuka pintu depan dengan tangan sedikit gemetar. Cahaya redup dari lampu taman menyinari dua sosok pria tinggi tegap yang berdiri di sana. Rian yang lebih tinggi dengan kulit sawo matang dan otot lengan yang terlihat jelas di balik kaos hitam ketat tersenyum tipis penuh nafsu. Di sampingnya Abdul yang lebih kekar dan berwajah tegas memandangku dari atas ke bawah seolah sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan.
"Kamu Angela ya ? Ternyata aslinya lebih seksi daripada yang di foto. Gumam Rian dengan suara rendah hampir seperti geraman.
Aku mundur selangkah. Jantungku berdegup begitu kencang hingga terasa di tenggorokan tapi aku mengangguk pelan dan membiarkan mereka masuk ke rumah mewah yang sunyi itu. Begitu pintu tertutup dan dikunci suasana langsung berubah. Abdul langsung mendekat. Tangannya yang besar meraih pinggangku dengan kuat menarikku mendekat hingga payudaraku menempel di dada pria itu.
"Kita langsung mulai sesuai kesepakatan ya? Kamu bilang pengen ngerasain dientot sama pribumi. Sekarang ini waktu yang tepat. bisik Abdul di telingaku dengan napas hangat yang membuat bulu kudukku berdiri.
Aku menggigit bibir bawahku. Gairah bercampur ketegangan membuat selangkanganku sudah mulai basah. Aku berpura-pura berusaha melepaskan diri dengan mendorong dada Rian pelan sambil berkata dengan suara bergetar
"Tunggu... ini... ini terlalu cepat..."
Tapi kedua pria itu sudah tidak sabar. Rian bergerak cepat dari belakang. Tangannya menutup mulutku dengan lembut tapi tegas sementara tangan satunya merayap ke bawah gaun tipisku dan langsung meremas bokong bulatku yang mulus.
"Shhh istri pengusaha kesepian ini mau dipuasin kan.. desis Rian.
Mereka membawa aku ke ruang keluarga yang luas lalu mendorongku ke atas sofa panjang berbahan kulit mahal. Gaun merahku ditarik kasar hingga bahu sehingga memperlihatkan payudara putihku yang kencang dengan puting yang sudah mengeras karena gairah. Abdul berlutut di depanku membuka paha aku lebar-lebar sambil menjilat bibirnya sementara Rian menahan kedua tanganku di atas kepala. Perlahan jari Abdul menyusuri celah basah vaginaku tapi ia sengaja melewatkannya lalu bergerak ke belakang menuju lubang analku yang masih rapat dan belum pernah disentuh siapa pun.
"Ini yang kamu inginkan kan? Lubang anusmu yang sempit ini akan kami rusak malam ini. Hehe.. kata Abdul dengan suara serak.
Jarinya mulai menekan pelan di sana sehingga membuat aku mendesis keras di balik telapak tangan Rian. Tubuhku menggeliat karena campuran rasa malu takut dan kenikmatan aneh yang membuatku semakin basah. Mereka belum benar-benar memasuki bagian gang rape penuh. Mereka masih membangun ketegangan dengan sentuhan kasar tapi terkendali seperti meremas payudaraku mencubit putingku dan menjilat leherku sambil berbisik kata-kata kotor tentang bagaimana mereka akan bergantian menyetubuhiku dari belakang. Aku merasakan air mataku menggenang karena intensitasnya tapi aku tak ingin berhenti. Malam itu baru saja dimulai dan rumah mewah yang biasanya sepi itu akan segera dipenuhi oleh erangan dan suara benturan tubuh yang basah serta kasar.
Aku menggeliat di atas sofa kulit yang dingin. Napasku tersengal-sengal di balik telapak tangan Rian yang kuat. Jari Abdul terus menekan pelan di lubang analku yang masih kering dan rapat. Hanya ujung jarinya yang melingkar-lingkar di sana memberi tekanan yang membuat aku merasakan sensasi terbakar aneh yang justru membuat vaginaku semakin banjir cairan.
"Lihat ini... istri baik-baik sudah basah sekali hanya karena disentuh di belakang" ejek Abdul sambil tertawa rendah.
Lalu ia mengambil sebotol minyak pelumas kecil yang mereka bawa dari tas. Cairan dingin itu diteteskan langsung ke celah bokongku sehingga membuatku menggigil hebat. Rian melepaskan tangannya dari mulutku sebentar membiarkanku menarik napas panjang sebelum kembali menutupnya.
"Minta tolong kalau mau... tapi kita tahu kamu tidak mau berhenti" bisik Rian di telingaku sambil tangan satunya meremas payudara kiriku dengan kasar memilin putingku hingga sakit nikmat.
Aku merasakan Andi mulai memasukkan satu jari pelan-pelan ke dalam lubang analku. Otot-ototku mengejang menolak tapi juga menggoda. Aku mendesah panjang dan pinggulku tanpa sadar terangkat sedikit seolah tubuhku sudah mengkhianati akal sehatku.
"Ahh... pelan... sakit..." gumamku lemah.
Jari itu bergerak masuk keluar memutar di dalam dan meregangkanku sedikit demi sedikit. Rian ikut membantu. Tangannya turun ke vaginaku lalu dua jarinya masuk dengan mudah karena sudah sangat licin. Ia memompa pelan sambil ibu jarinya menekan klitorisku yang membengkak. Sensasi ganda itu membuatku hampir gila. Aku merasa seperti boneka seks mewah yang sedang diuji ketahanannya. Kedua pria itu bergantian menciumi leherku menggigit pelan bahuku dan merobek sisa gaun merahku hingga robek total sehingga meninggalkan tubuh putih mulusku sepenuhnya telanjang di bawah cahaya lampu redup.
Setelah beberapa menit meregangkan dengan jari Abdul menarikku bangun dan membalik tubuhku hingga berlutut di sofa dengan bokongku terangkat tinggi ke arah mereka. Rian berdiri di depan membuka celana jeansnya dan mengeluarkan kejantanannya yang sudah keras tegang lalu mengusapkannya ke bibirku.
"Gue pengen tau rasanya diemutin sama enci enci seksi kayak lu.. perintahnya.
Sementara itu Abdul di belakang menuangkan lebih banyak pelumas ke batangnya sendiri yang besar dan berurat lalu menekan kepala penisnya ke lubang analku yang sudah agak terbuka. Ia mendorong pelan tapi pasti inci demi inci sehingga membuatku menjerit tertahan di sekitar penis Rian. Rasa penuh terbakar dan diregangkan luar biasa memenuhi tubuhku tapi di balik itu ada gelombang kenikmatan gelap yang membuat mataku berkaca-kaca. Abdul berhenti sejenak saat sudah setengah masuk membiarkanku menyesuaikan. Tangannya mengelus punggungku yang berkeringat.
"Bagus... kamu ambil ini dengan baik. Sebentar lagi kami berdua akan menghancurkan fantasi kesepianmu malam ini" gumam Abdul serak.
Ia kemudian mulai bergerak perlahan membangun ritme yang semakin dalam dan kasar sesuai keinginanku. Malam masih panjang dan rumah mewah itu akan menjadi saksi bagaimana istri elegan ini akhirnya menyerah total pada hasrat terdalamnya.
Aku merasakan setiap milimeter batang Abdul yang tebal dan berurat merayap lebih dalam ke dalam lubang analku yang masih virgin dalam arti fantasi ini. Rasa terbakar yang intens bercampur dengan tekanan penuh membuatku menjerit tertahan di sekeliling kejantanan Rian yang memenuhi mulutku. Air liurku menetes deras dari sudut bibir sementara Abdul menggenggam pinggulku yang ramping dengan kuat mendorong pelan hingga akhirnya pangkalnya menempel rapat di bokong putihku.
"Fuck... sempit sekali istri ini" geram Abdul di belakang dengan suara parau penuh kenikmatan.
Ia berhenti sejenak membiarkan otot-otot analku berdenyut-denyut menjepitnya sebelum mulai menarik keluar sedikit dan mendorong kembali dengan ritme yang lambat tapi dalam.
Rian di depan memegang rambutku yang terurai lalu menggerakkan pinggulnya pelan memompa mulutku yang hangat dan basah.
"Hisap lebih dalam Nyonya... bayangkan suami kamu tidak tahu istrinya sedang dikerajain begini" ejeknya sambil tersenyum puas
Aku merasa direndahkan sekaligus sangat bergairah. Air mataku mengalir pelan di pipi karena sensasi penuh di dua lubang sekaligus tapi tubuhku bereaksi dengan liar sehingga vaginaku meneteskan cairan bening ke sofa kulit di bawahku. Abdul mulai mempercepat sedikit gerakannya. Setiap dorongan membuat bokongku bergoyang dan beradu pelan dengan pangkal paha pria itu. Suara basah plok-plok pelan mulai terdengar di ruang keluarga yang sunyi bercampur dengan desahanku yang teredam.
Setelah beberapa menit mereka membalik posisiku. Rian berbaring di sofa dan menarikku naik ke atasnya dengan posisi membelakangi lalu memasukkan kembali ke lubang analku yang sudah agak longgar dan licin oleh pelumas. Aku mendesah panjang saat gravitasi membantu Rian masuk lebih dalam dari sebelumnya. Abdul berdiri di depan mengusap kejantanannya yang basah oleh air liurku sebelum mendorongnya ke dalam vaginaku yang sudah sangat basah. Kali ini double penetration terjadi perlahan dengan Abdul di depan dan Rian di belakang sehingga membuatku merasa benar-benar penuh dan tak berdaya di antara kedua pria pribumi yang kuat itu. Mereka bergerak bergantian satu mendorong saat yang lain menarik. Tangan mereka meremas payudaraku mencubit putingku dan sesekali menampar ringan bokongku yang sudah memerah.
"Apakah ini yang kamu impikan selama ini Angela? Diperkosa anal di rumah mewah suami kamu sendiri" bisik Abdul sambil menatap mataku yang sayu penuh nafsu.
Aku hanya bisa mengangguk lemah. Suaraku pecah menjadi erangan panjang saat ritme mereka perlahan semakin kuat. Tubuhku berkeringat rambut menempel di wajah dan setiap dorongan dari belakang membuatku merasakan kenikmatan gelap yang semakin mendekati puncak. Mereka masih menahan diri ingin membuat sesi ini berlangsung lama dan menikmati setiap detik di mana wanita elegan kesepian ini akhirnya melepaskan semua kendali. Malam masih jauh dari usai dan fantasi gang rape anal-ku baru memasuki babak yang lebih intens.
Rian dan Abdul bertukar pandang penuh nafsu seolah sudah tidak sabar lagi menahan diri.
"Sekarang saatnya kita kasar seperti fantasi kamu" gumam Abdul dengan suara gelap.
Ia menarikku dari posisi sebelumnya dan membalik tubuhku kasar hingga berlutut di lantai karpet ruang keluarga dengan bokongku terangkat tinggi. Rian langsung berlutut di belakang mengarahkan batangnya yang licin ke lubang analku yang sudah agak merah dan longgar. Tanpa banyak aba-aba ia mendorong masuk sekaligus dengan kuat hingga pangkalnya menempel keras sehingga membuatku menjerit keras.
"Aaaahhh... sakit... pelan-pelan!!"
Tubuhku mengejang hebat tanganku mencengkeram karpet tapi Rian tidak berhenti. Ia mulai menggenjot analku dengan ritme kasar dan cepat keluar masuk dalam-dalam. Setiap hantaman membuat bokongku bergoyang keras dan beradu plak-plak-plak nyaring di ruangan yang sunyi.
Abdul ikut bergabung berlutut di depanku dan memasukkan kejantanannya ke mulutku untuk meredam jeritanku.
"Jerit aja Nyonya... rumah ini kosong" ejeknya sambil tertawa.
Aku menjerit-jerit histeris setiap kali Rian menghantam dalam. Suaraku pecah-pecah.
"Ahh! Ampun... terlalu kasar... anusku... hancur... aaahhh!!
Air mataku mengalir deras tapi di balik rasa sakit yang membakar itu ada gelombang kenikmatan gelap yang semakin membesar. Rian semakin liar. Tangannya menampar bokongku keras hingga memerah dan pinggulnya bergerak seperti piston menggenjot lubang belakangku tanpa ampun. Setiap dorongan dalam membuatku merasa seperti sedang dirobek tapi vaginaku semakin banjir sehingga cairanku menetes ke lantai.
Tak lama kemudian Abdul menarikku ke atas sofa lagi. Mereka mengatur posisi double penetration penuh. Rian berbaring dan menarikku duduk di atasnya memasukkan kembali ke analku yang sudah sangat licin dan longgar. Aku menjerit lagi saat batang tebal itu menusuk dalam dari bawah. Abdul kemudian naik ke depan mendorong kejantanannya yang besar ke dalam vaginaku yang sudah sangat basah dan siap. Kini kedua lubangku terisi penuh secara bersamaan. Mereka mulai menggenjot secara bergantian lalu bersamaan dengan dorongan kuat dan kasar yang membuat tubuhku bergoyang-goyang liar di antara mereka.
"Aaaahhh!!! Penuh... hancur... saya... aaahhh!!!" jeritku tanpa kendali. Suaraku memenuhi ruangan mewah itu. Sensasi penuh ganda gesekan di dinding-dinding sensitifku dan hantaman kasar di analku membuat otot-ototku mengejang tak terkendali.
Beberapa menit kemudian klimaks aku datang dengan dahsyat. Tubuhku mengejang hebat anus dan vaginaku berdenyut-denyut kuat menjepit kedua batang pria itu. Aku menjerit panjang dan keras.
"Aku... keluar!!! Aaaahhhhh!!!"
Cairan orgasmenku menyembur deras dari vagina membasahi paha Abdul dan sofa di bawahku. Mataku mendongak mulut terbuka lebar dan seluruh tubuhku gemetar hebat saat gelombang kenikmatan ekstrem menerjangku berulang-ulang. Rian dan Abdul terus menggenjotku selama klimaks itu berlangsung sehingga memperpanjang orgasme aku hingga aku hampir pingsan karena intensitasnya. Napasku tersengal-sengal tubuhku lemas total tapi senyum puas samar terlihat di wajahku yang basah keringat. Fantasi gang rape anal-ku baru saja mencapai puncak yang jauh lebih liar dari yang aku bayangkan.
Setelah orgasme aku yang dahsyat mereda tubuhku masih gemetar lemas di antara kedua pria itu. Namun Rian dan Abdul belum selesai. Dengan napas memburu Abdul menarikku berdiri kasar. Kakiku masih lemas sehingga aku hampir jatuh jika tidak ditopang.
"Belum selesai cantik. Sekarang giliran aku yang benar-benar menghancurkan lubang belakangmu" kata Abdul dengan suara serak penuh dominasi.
Ia menjambak rambut hitam panjangku dengan kuat dari belakang membuat kepalaku mendongak dan punggungku melengkung. Aku merintih kesakitan tapi juga bergairah.
"Aduh... rambutku... pelan...
Abdul mendorongku menuju meja makan kayu mahoni yang panjang dan kokoh di ruang makan yang terhubung dengan ruang keluarga. Ia membungkukkan tubuhku hingga dada dan pipiku menempel dingin di permukaan meja yang mengkilap. Bokongku terangkat tinggi dan kakiku direnggangkan lebar. Posisi menelungkup ini membuat lubang analku yang sudah merah dan basah pelumas terpampang jelas masih berkedut-kedut dari orgasme sebelumnya. Abdul berdiri di belakang mengusap batangnya yang masih keras ke celah bokongku lalu tanpa aba-aba menjambak rambutku lebih kuat lagi sambil mendorong masuk sekaligus dalam-dalam ke analku.
"Aaaahhhh!!! Sakit... Abdul... terlalu dalam!!" jeritku keras. Tanganku mencengkeram pinggir meja hingga buku-buku jariku memutih. Abdul mulai menggenjotku kasar dari belakang. Setiap hantaman pinggulnya menghantam bokongku dengan suara keras plak-plak-plak yang menggema. Ia menarik rambutku seperti kendali kuda membuat leherku tertekuk dan payudaraku bergoyang-goyang liar di atas meja. Setiap dorongan membuatku menjerit-jerit tanpa henti.
"Ahh! Anusku... robek... aaahh!! Jangan tarik rambutnya... hah... hah...
Suaraku pecah-pecah campuran tangis dan desahan. Tubuhku bergoyang maju mundur mengikuti ritme brutal Abdul. Rian berdiri di samping meremas payudaraku dan sesekali menampar pipiku pelan sambil menonton. Abdul semakin liar. Pinggulnya bergerak seperti mesin batangnya keluar-masuk lubang analku dengan cepat dan kasar meregangkannya maksimal.
"Terima ini istri pengusaha... rasakan benar-benar diperkosa anal" geram Abdul.
Tak lama kemudian tubuh Abdul menegang. Ia menjambak rambutku sekuat tenaga mendorong dalam-dalam hingga pangkalnya dan meledak di dalam analku.
"Arghhh... keluar!!
Sperma panasnya menyembur deras memenuhi lubang belakangku. Beberapa tetes bahkan meluber keluar saat ia masih menggenjot pelan beberapa kali lagi untuk mengosongkan semuanya. Aku merintih panjang merasakan sensasi hangat dan penuh di dalam diriku. Tubuhku gemetar hebat lagi.
Abdul menarik napas kasar masih tertanam dalam sambil melepaskan jambakan rambutku perlahan. Rambutku acak-acakan wajahku basah air mata dan keringat tapi mataku masih penuh kepuasan gelap. Fantasi malam itu masih berlanjut. Setelah Abdul melepaskan diri dan mundur dengan napas tersengal sperma putihnya masih menetes pelan dari lubang analku yang sudah merah membengkak. Rian langsung maju dengan tatapan lapar yang lebih buas.
"Giliran aku sekarang. Aku akan genjot anusmu lebih kasar dari yang kamu bayangkan" katanya dengan suara rendah penuh ancaman nikmat.
Ia menjambak rambutku kasar dari belakang lebih kuat daripada Abdul hingga kepalaku tertarik ke belakang dan punggungku melengkung ekstrem di atas meja makan. Tanpa memberi waktu istirahat Rian mengarahkan batangnya yang tebal dan berurat ke lubang analku yang sudah licin oleh campuran pelumas dan sperma Abdul. Dengan satu hantaman brutal ia menembus masuk hingga pangkal sekaligus meregangkan dinding anus yang sudah sensitif itu dengan kasar.
"AAAAAHHH!!! Rian... terlalu kasar!! Anusku... hancur!!!" jeritku nyaring. Suaraku bergema di seluruh rumah mewah yang kosong. Rian tidak peduli. Ia langsung menggenjot dengan ritme ganas dan tanpa ampun keluar hampir sepenuhnya lalu menghantam masuk sekuat tenaga. Pinggulnya membentur bokong putihku hingga memerah dan bergetar hebat setiap kali. Plak! Plak! Plak! Suara hantaman keras dan basah memenuhi ruangan. Rian menarik rambutku seperti tali kekang sambil tangan satunya menampar bokongku keras berulang kali meninggalkan bekas merah telapak tangan. Setiap dorongan dalam-dalam membuatku menjerit-jerit tak terkendali.
"Aduhh... sakit... pelan... aaahhh!!! Rian... aku tidak tahan... anusku robek!!
Tubuhku bergoyang liar di atas meja payudaraku bergesekan kasar dengan permukaan kayu dingin dan air mataku mengalir deras di pipi. Tapi di balik jeritan kesakitan itu vaginaku semakin banjir cairannya menetes ke lantai karena kenikmatan gelap yang semakin intens. Rian semakin liar. Ia membungkuk sedikit menggigit bahuku sambil mempercepat genjotan analku. Batangnya keluar-masuk seperti piston mesin menghantam titik-titik sensitif di dalam lubang belakangku tanpa henti.
"Ini yang kamu mau kan jalang kesepian? Anusmu digenjot kasar sampai rusak" desisnya di telingaku sambil menarik rambutku lebih keras.
Aku hanya bisa menjerit dan merintih. Tubuhku gemetar hebat otot analku menjepit kuat batang Rian setiap kali pria itu menghantam paling dalam. Rian terus menggila genjotannya semakin cepat semakin kasar dan semakin dalam seolah ingin benar-benar menghancurkan fantasi aku malam itu.
Rian menarikku kasar dari atas meja tangannya masih menjambak rambutku kuat. Dengan satu gerakan kuat ia mendorong tubuhku hingga terhempas ke lantai karpet ruang keluarga. Aku tersungkur napasku tersengal-sengal tapi Rian tidak memberi kesempatan. Ia menendang pelan kakiku agar terbuka lebar lalu menekan kepalaku hingga pipi dan dahiku menempel dingin ke lantai. Posisi nungging sempurna terbentuk bokongku terangkat tinggi punggung melengkung dalam kepalaku bertumpu di lantai seperti anjing betina yang sedang disetubuhi kasar. Rian berdiri setengah membungkuk di belakangku kakinya mengapit pinggulku. Ia memegang pinggang rampingku dengan kedua tangan kuat jari-jarinya menekan daging putih hingga meninggalkan bekas. Batangnya yang masih keras dan berlumur sperma Abdul diarahkan kembali ke lubang anal yang sudah sangat longgar dan merah. Dengan satu hantaman ganas Rian menembus masuk hingga pangkal.
"AAAAHHHH!!! Rian... terlalu dalam... aku... mati!!!" jeritku nyaring. Suaraku pecah karena posisi yang membuatku sulit bernapas. Rian langsung menggenjot dengan posisi setengah berdiri pinggulnya bergerak turun-naik seperti palu godam. Setiap dorongan kasar membuat tubuhku maju mundur kepalaku bergesekan di lantai karpet rambutku acak-acakan. Plak! Plak! Plak! Plak! Suara benturan pinggul Rian ke bokongku menggema keras dan cepat. Ia memegang pinggangku kuat-kuat menarikku ke belakang setiap kali mendorong maju membuat penetrasi semakin dalam dan brutal. Lubang analku diregang maksimal keluar masuk dengan suara basah kotor yang memalukan.
Di samping kami Abdul berdiri sambil memegang ponselnya merekam setiap detail adegan itu dengan senyum puas. Kamera ponselnya menangkap jelas wajahku yang basah air mata mulutku terbuka lebar menjerit-jerit bokongku yang bergoyang liar dan batang Rian yang menghantam analku tanpa ampun.
"Bagus... rekam semuanya biar dia bisa nonton ulang fantasinya" kata Abdul sambil zoom ke wajahku yang penuh ekspresi kesakitan kenikmatan.
Rian semakin menggila genjotannya semakin cepat dan kasar. Ia menekan pinggangku lebih rendah membuat posisi nungging semakin ekstrem.
"Terima ini Angela... anusmu milik kami malam ini" raungnya.
Tak lama kemudian tubuh Rian menegang. Ia mendorong dalam-dalam sekali lagi pinggulnya menempel rapat di bokongku dan meledak hebat di dalam lubang analku.
"Arghhh... keluar!
Sperma panasnya menyembur kuat-kuat memenuhi ususku hingga meluber keluar di sekitar batangnya setiap kali ia masih menggenjot pelan untuk mengosongkan sisa-sisanya. Aku hanya bisa merintih panjang lemah tubuhku gemetar hebat di lantai lubang belakangku penuh dan berdenyut-denyut.
Rian menarik napas kasar sambil masih tertanam dalam tangannya masih mencengkeram pinggangku erat. Abdul terus merekam menangkap momen klimaks itu dengan jelas. Aku tergeletak nungging di lantai napasku tersengal tubuhku basah keringat dan lubang analku yang sudah rusak masih meneteskan campuran sperma kedua pria itu. Malam fantasi gelapku masih menyisakan banyak waktu. Setelah keduanya puas Rian menarik batangnya perlahan dari lubang analku yang sudah sangat longgar dan berantakan. Cairan sperma putih kental langsung menetes deras ke lantai karpet dari anusku yang merah membengkak. Aku tergeletak lemas dalam posisi nungging tubuhku masih gemetar hebat napas tersengal-sengal dan air mata masih mengalir pelan di pipiku. Aku merasakan campuran sakit panas dan kepuasan ekstrem yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Rian dan Abdul berdiri lalu mulai merapikan pakaian mereka dengan tenang. Celana jeans mereka dikancing kembali kaos ditarik rapi seolah tidak ada yang terjadi. Abdul menyimpan ponselnya yang masih merekam tadi ke dalam saku lalu berjongkok sebentar di sampingku. Ia mengusap rambutku pelan dan berkata dengan suara rendah tapi tegas.
“Kalau kamu ingin mengulanginya lagi kapan saja... kamu bisa hubungi kami lewat forum yang sama. Kami siap datang kapan pun rumah ini kosong.
Rian tersenyum lebar sambil berdiri di belakang memandang bokongku yang masih terangkat dan basah. Ia menepuk pelan bokongku sekali lagi sebelum berkata.
“Lubang pantatmu terlalu nikmat Nyonya Chindo. Sempit panas dan enak banget digenjot kasar. Pantas suamimu jarang di rumah... pasti tidak tahu istrinya punya bakat jadi pelacur anal yang hebat.”
Mereka berdua tertawa pelan lalu berjalan menuju pintu depan tanpa menoleh lagi. Suara langkah kaki mereka menghilang diikuti bunyi pintu yang tertutup pelan. Rumah mewah itu kembali sunyi. Aku masih tergeletak lemas di lantai karpet tubuh telanjangku penuh bekas tangan tamparan dan sperma yang menetes pelan dari anusku. Aku merasa sakit di seluruh tubuh terutama lubang belakangku yang terasa panas dan berdenyut tapi di balik semua itu ada senyum tipis penuh kepuasan yang dalam di wajahku. Fantasi ekstrimku telah terwujud dengan sempurna. Malam ini kesepianku telah terbayar lunas.


Komentar
Posting Komentar