Langsung ke konten utama

Draft Derita Amoy Klepto

By : Analconda13

Namaku Maman seorang pria pribumi paruh baya yang mencari nafkah sebagai sopir pribadi keluarga Chindo kaya. Tak terasa sudah hampir dua puluh tahun aku bekerja di sana. Aku masih ingat betul ketika anak majikanku masih kecil dulu dan sering merengek meminta digendong olehku saat kedua orang tuanya pergi bekerja.

Di usiaku sekarang yang hampir menginjak lima puluh delapan tahun tubuhku sudah tidak sekuat dulu lagi. Beberapa otot punggungku sering terasa nyeri ketika aku harus mengemudi mobil dalam waktu lama terutama jika majikanku minta diantar keluar kota untuk berlibur bersama keluarganya.

Hari itu seperti biasa saat jam pulang sekolah aku menunggu anak bungsu keluarga majikanku yang bernama Vania di depan gerbang sekolah swasta ternama di kawasan perumahan elite yang penuh dengan anak-anak orang kaya.

Vania gadis Chindo berusia tujuh belas tahun itu adalah anak kedua Tuan dan Nyonya Bunardi Santoso yang tinggal di rumah besar dengan kolam renang serta keamanan ketat. Kakak laki-lakinya bernama Brandon sedang kuliah di Singapura sehingga Vania sekarang tinggal hanya bersama orang tuanya di rumah mewah itu. Dia keluar dengan seragam sailor putih biru yang rapi. Blus putihnya pas di tubuh dengan kerah biru tua dan pita panjang di dada. Rok pendek lipit biru tuanya memperlihatkan paha mulusnya. Dia naik ke belakang mobil dengan senyum lembut dan sopan seperti biasa. Gerakannya kalem dan anggun. Tas sekolahnya yang berwarna pink diletakkan pelan di samping lalu dia berkata pelan dengan suara halus.

"Pak Maman.. nanti sebelum pulang kerumah.. kita mampir ke minimarket dulu ya. Soalnya ada sesuatu yang mau kubeli.

"Iya non. Tapi jangan lama lama ya. Soalnya kata mamanya non.. setelah pulang sekolah bapak disuruh anterin non Vania ke tempat les balet. Kataku sambil mengangguk lalu mengemudikan mobil perlahan melewati jalan-jalan besar di perumahan super elite tsb. 

Rumah-rumah besar mewah berjejer rapi sepanjang jalan seolah ingin menunjukkan betapa makmur pemiliknya. Sesekali aku melirik ke spion yang ada didalam mobil. Vania terlihat tenang dan lembut. Dia menatap ponselnya dengan ekspresi sopan yang tak pernah terganggu. Namun ada sesuatu yang selalu membuat aku penasaran karena dia terlalu lembut dan terlalu sempurna seolah menyembunyikan sesuatu di balik sikap gadis sekolahan kaya yang kalem dan anggun itu.

Tak lama kemudian kamipun tiba di sebuah minimarket kecil dekat komplek ruko bisnis perumahan. Aku parkir mobil di depan dan Vania turun sendirian sambil bilang dia tidak lama. Biasanya kalau dia berbelanja seperti itu Aku selalu menunggu di dalam mobil tapi entah kenapa hari itu aku memutuskan untuk ikut masuk sebentar kedalam minimarketnya karena persediaan rokokku sudah hampir habis.

Aku turun dari mobil sedan mewah eropa premium keluaran terbaru dengan langkah pelan. Punggungku yang sudah tua terasa berat saat mendorong pintu kaca minimarket yang dingin ber-AC itu. Bau kopi instan dan makanan ringan langsung menyambut kedatanganku. Lampu neon putih menyinari rak-rak yang rapi. Aku pura-pura melihat-lihat rak rokok di dekat kasir tapi mataku terus mengikuti Vania.

Dia berjalan kalem menyusuri lorong kecil di bagian makanan. Gerakannya lembut seperti biasa. Tangannya yang halus menyentuh beberapa barang dengan sopan seolah sedang memilih dengan teliti. Dia mengambil sebotol air mineral lalu berhenti di depan rak coklat impor yang mahal. Aku melihat dia melirik ke kiri dan kanan dengan cepat. Wajahnya tetap tenang dan lembut, senyum kecil masih tersisa di bibirnya.

Aku diam dan berpura-pura memilih rokok. Tak lama kemudian Vania berjalan ke kasir. Dia hanya membayar air mineralnya dan sebungkus snack dengan uang kecil yang dikeluarkan dari dompet mahalnya. Suaranya halus saat berterima kasih kepada kasir. Baru saja dia hendak keluar, kasir perempuan itu tiba-tiba berseru keras.

“Eehh.. Mbak.. tunggu.. itu yang di dalam tas kenapa gak dibayar sekalian?!!

Suara kasir yang keras langsung membuat suasana tegang. Kasir di sebelahnya dan seorang pegawai minimarket bertubuh kurus mendekat dengan cepat. Wajah mereka penuh curiga. 

Anak majikanku yang cantik jelita itu langsung membeku di depan pintu kaca minimarket. Tubuh rampingnya gemetar pelan dan pipinya yang putih memerah hebat karena sesuatu yang sepertinya disembunyikan di dalam tas sekolahnya. Matanya yang sipit membulat ketakutan dan suaranya terdengar tergesa-gesa penuh kepanikan.

"Maa.. maksudnya apa mbak.. aku.. aku kan udah bayar semuanya tadi.. Sahut Vania dengan suara halus yang bergetar. Dia menunduk dalam-dalam sambil memegang tali tas pinknya erat-erat. Gerakannya yang biasanya kalem dan anggun sekarang terlihat gugup sekali. Kakinya yang mengenakan kaus kaki putih bergeser gelisah di lantai dingin minimarket. Dia tak berani menatap langsung ke arah kasir atau orang-orang di sekitar.

Pegawai kurus langsung memegang lengan Vania dengan pelan tapi tegas. Dia menatap gadis itu dengan curiga.

"Mending mbak buka dulu tas sekolahnya sebentar.. soalnya saya lihat ada barang yang dimasukkan ke dalam tas tadi.

Vania menoleh dengan wajah pucat dan tubuhnya gemetar pelan. Pipinya memerah hebat karena ketakutan. Suaranya terdengar gugup dan tergesa-gesa saat dia berusaha membela diri.

"Eh... apa maksudnya Mas... Akuu... Aku.. tidak mengambil apa-apa kok... Cuma air mineral dan snack yang aku beli tadi... Tolong jangan nuduh sembarang..

Pegawai kurus tidak mundur begitu saja dan nada suaranya semakin tegas.

"Bukannya nuduh mbakk.. tapi saya liat sendiri tadi waktu kamu masukin coklat kedalam tas sekolah. Mending sekarang cepat kamu buka itu tasnya..

Vania semakin panik. Tangannya yang memegang tali tas pink bergetar hebat dan matanya yang sipit mulai berkaca-kaca. Dia menunduk dalam-dalam tanpa berani menatap pegawai itu lagi. Rok sailor pendeknya bergoyang pelan karena kakinya yang gelisah.

"Mungkin Abang salah liat kali.. aku gak masukin apa apa kok kedalam tas. Vania menggigit bibir bawahnya sebentar. Matanya yang sipit mulai berkaca kaca tapi ia tetap berusaha tenang. 

Pegawai minimarket itu semakin emosi karena sering kehilangan barang di tokonya. Dia menatap Vania dengan marah lalu bersuara keras.

"Mana ada sih maling yang mau ngaku. Udah cepetan buka tuh tas sekolahnya. Kalau tidak nanti saya laporin ke pihak yang berwajib loh.

Aku merasa kasihan sekaligus khawatir melihat keadaan Vania. Aku maju mendekat lalu mengeluarkan dompet tipisku. Suaraku yang serak karena usia berusaha menenangkan situasi.

"Bang kalau ngomong jangan sembarangan saja. Dia ini anak majikan saya. Dia anak orang kaya dan tidak mungkin mencuri. Sudah lah Mas. Jangan begini. Saya yang bayar saja kalau memang ada yang kurang.

Namun pegawai kurus itu tetap memaksa dan tidak mau mundur.

"Maaf Pak. Saya tetap harus periksa tasnya karena jelas saya lihat waktu dia memasukkan coklat ke dalam tas sekolahnya.

Aku menoleh kepada Vania lalu bertanya langsung dengan suara pelan.

"Non beneran ambil coklat itu?

Vania hanya diam saja sambil menunduk malu. Bahunya merosot pelan dan tangannya gemetar hebat. Akhirnya dengan gerakan lambat dia menyerahkan tas ransel pinknya yang mahal bermotif karakter lucu kepada pegawai itu.

Pegawai kurus langsung membuka ritsleting tas ransel tersebut di depan semua orang. Begitu tas terbuka lebar terlihat jelas dua buah coklat impor yang masih utuh di dalamnya. Barang itu tergeletak di antara dompet dan botol air mineral.

Suasana langsung hening sejenak. Kasir dan pegawai lainnya saling pandang dengan ekspresi sudah kuduga. Pipi Vania semakin merah padam. Air matanya jatuh pelan tanpa suara. Dia hanya menunduk dalam diam dengan sikap tetap sopan dan lembut meski sudah ketahuan. Pegawai kurus bersuara keras dengan nada menang.

"Tuh bener kan. Pantas saja barang-barang di sini sering hilang. Ini buktinya.

Pegawai yang satunya menimpali dengan emosi tinggi.

"Udah kita laporin ke polisi saja biar kapok. Pura-pura jadi orang kaya tapi nyuri di minimarket. Malu-maluin aja.

Aku cepat angkat suara untuk membela Vania. Suaraku yang serak berusaha terdengar tenang meski hatiku gelisah.

"Bang dia beneran anak orang kaya. Tidak mungkin dia mencuri. Ini pasti kesalahan. Anak majikan saya bisa saja lupa bayar.

Pegawai kurus menoleh tajam ke arahku dengan ekspresi sinis dan curiga.

"Udah kami tidak usah dibelain dia. Kamu pasti sekongkol kan sama dia buat mencuri di sini.

Aku menghela napas panjang lalu berkata lebih tenang supaya situasi tidak semakin panas.

"Yah sudah kalau memang begitu. Daripada ribut terus seperti ini mending kita selesaikan masalahnya secara kekeluargaan saja. Gimana?

Pegawai kurus dan kasir berbisik sebentar di antara mereka sebelum akhirnya mengangguk setuju.

"Ya sudah Bapak bayar saja dua puluh kali lipat dari harga barangnya kalau mau diselesaikan secara damai.

Aku mengangguk pelan dan langsung setuju.

"Baiklah. Aku akan bayar. Tapi aku buat video rekamannya biar tidak ada masalah di kemudian hari. Ini kan sudah diselesaikan secara kekeluargaan." 

Aku mengeluarkan ponsel lalu menyalakan kamera. Aku merekam seluruh kejadian mulai dari tas yang terbuka lebar hingga kesepakatan damai tersebut. Setelah itu aku menghitung uang dari dompetku yang tipis lalu membayar dua puluh kali lipat harga dua coklat impor itu kepada kasir.

Kasir menghitung uangnya dengan cepat sementara pegawai kurus mengangguk puas. Vania masih berdiri diam di sampingku. Wajahnya pucat pasi dan matanya masih basah oleh air mata. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak tasnya dibuka tadi. Salah satu kasir akhirnya bersuara dengan nada tegas.

"Ya sudah. Sekarang urusan sudah selesai. Kalian berdua boleh pergi tapi ingat kalau nanti ketahuan mencuri lagi bakal kami proses ke pihak yang berwajib.

"Iikhh.. Dasar nggak tahu malu ya.. Penampilannya sih cakep kayak artis korea.. pakai seragam sekolahan elite tapi diam diam suka ngutil barang di minimarket. Ledek kasir wanita.


Setelah masalah itu selesai, aku membawa Vania keluar dari minimarket dengan langkah cepat tapi hati-hati. Tangan kasarku memegang lengan bajunya pelan agar dia tidak tersandung. Satpam dan kasir masih memandang kami dengan tatapan curiga, tapi sudah agak reda setelah uang tebusan dibayar. 

Di dalam mobil yang sejuk ber-AC, suasana hening sejenak. Aku menstarter mesin dan melajukan mobil perlahan meninggalkan tempat itu. Vania duduk di belakang dengan tubuh rampingnya yang masih tegang. Tangannya yang halus saling genggam di pangkuan. Wajahnya yang putih dan lembut tertunduk kalem, pipinya masih sedikit merah.

Setelah mobil melaju di jalan raya perumahan yang sepi, suaranya yang halus dan sopan pecah pelan, hampir bergetar.

“Pak Maman… terima kasih banyak sudah menolong Vania tadi. Kalau bukan Mang, pasti sudah ribut besar. Vania malu sekali,” katanya.

Aku melirik spion dan melihat matanya yang besar dan basah menatap ke arahku dengan ekspresi lembut penuh syukur. Aku hanya mengangguk sambil menjawab serak,

"Gapapa non. Bapak kan sudah lama kerja sama keluarga non. Kalau non lagi ada masalah bapak pasti gak akan tinggal diam.

“Tapi Bapak jangan ceritakan masalah ini ke Papa ya… Dia pasti akan marah besar kalau tahu aku… mencuri di minimarket. pintanya lagi.

“Iya Non, tenang aja. Bapak pasti akan tutup mulut,” jawabku.

Sore itu kami tiba di rumah tanpa kata-kata lagi, tapi rekaman di handphone-ku sudah tersimpan aman. 

Keesokan harinya pagi sebelum berangkat sekolah, Vania turun dari rumah dengan seragam rapi seperti biasa. Gerakannya kalem dan anggun. Dia mendekati aku yang sedang membersihkan mobil di garasi. Dengan senyum sopan yang lembut, ia mengulurkan amplop putih tipis ke tanganku.

“Ini uangnya pak. Vania ganti semua yang bapak keluarkan kemarin plus sedikit lebihnya. Terima kasih ya pak.. karena bapak sudah bantu aku menjaga rahasia ini. katanya pelan.

Aku terkejut tapi menerimanya dengan tangan gemetar. Amplop itu terasa lebih tebal dari yang aku bayar. Dia langsung naik ke mobil tanpa banyak bicara. Sikapnya tetap tenang dan sopan, seolah kejadian kemarin hanyalah mimpi buruk kecil.

Otak Kriminalku Mulai Bekerja.

Beberapa hari berlalu dengan rutinitas yang biasa saja. Vania tetap gadis yang kalem dan lembut. Dia selalu tersenyum manis setiap kali bertemu denganku di rumah besar itu. Sikapnya yang anggun dan sopan membuat siapa pun sulit percaya ada sisi lain di baliknya.

Malam itu setelah makan malam aku duduk sendirian di kamar kecilku di belakang rumah besar. Handphone lama-ku menyala terang di tangan. Awalnya aku tak bisa percaya kalau nona majikanku yang cantik jelita dan kaya raya itu bisa melakukan perbuatan mencuri seperti yang kulihat di minimarket tempo hari. Barang yang dicurinya nilainya tak seberapa hanya permen dan lipstik kecil. Tapi aku mencoba mencari tahu di dunia maya dan ternyata ada sebuah kelainan mental yang membuat seseorang senang melakukan pencurian. Itu dikenal dengan sebutan kleptomania.

Kleptomania adalah gangguan kesehatan mental yang menyebabkan pengidapnya tidak mampu menahan dorongan kuat untuk mengambil barang tanpa izin meski mereka sebenarnya tidak membutuhkan barang tersebut. Penjelasan itu membuatku gelisah. Apakah Vania benar-benar mengidapnya atau ada hal lain yang belum aku ketahui.

Aku menggelengkan kepala dan berusaha mengusir pikiran itu. Malam semakin larut sehingga kesepian usia tua kembali menyelimuti. Aku membuka video bokep yang biasa aku cari diam-diam sehingga bisa melupakan segalanya sejenak. Nafasku agak tersengal melihat adegan-adegan panas di layar kecil itu sementara bayangan Vania yang lembut tapi penuh rahasia terus berputar di benakku.

Tiba-tiba tanpa sengaja ibu jariku membuka galeri dan menemukan rekaman video di minimarket. Suara kasir yang marah terdengar jelas. Wajah Vania yang kalem dan malu serta coklat yang tergeletak di tasnya juga terlihat jelas.

Pikiran gelap mulai merayap di kepala aku yang sudah lelah ini. Aku terdesak hutang pinjol yang semakin mencekik. Tagihan bunga terus membengkak setiap hari dan ancaman debt collector sudah mulai datang ke nomorku. Gaji sebagai sopir keluarga ini tidak cukup lagi.

Hasrat untuk memanfaatkan kelemahan Noni yang selama ini terlihat sempurna itu muncul pelan. Awalnya hanya soal uang tapi lama-lama pikiran itu berkembang lebih jauh. Dengan rekaman ini aku bisa menguasainya. Aku bisa memperbudaknya secara diam-diam sehingga gadis kaya yang sopan dan lembut ini patuh padaku. Dia akan melayani segala keinginanku agar rahasianya tidak terbongkar ke orang tuanya.

Aku menatap layar handphone dengan napas berat. Senyum tipis muncul di bibirku yang kering. Kesempatan ini terlalu menggoda untuk dilewatkan.


Beberapa hari kemudian saat mengantar Vania pulang sekolah mobil sedang sepi di jalan. Aku berhenti di pinggir sebentar lalu mengeluarkan handphone dengan tangan agak gemetar. 

"Loh kenapa mobilnya berhenti di sini pak ? Tanya Vania.

"Maaf non. Ada sesuatu yang ingin bapak sampaikan sama non." Jawabku dengan suara pelan dan serak.

"Emangnya gak bisa ngomong sambil jalan aja pak. Soalnya aku mesti les sebentar lagi. Kata Vania.

"Ini masalah penting non. Gak bisa dibahas sembarangan. Jadi mending non dengerin dulu sebentar." Kataku.

"Emang ada masalah apaan sih pak. Sampai bapak bertingkah aneh kayak gini." Tanya Vania.

"Gini non. Non pasti masih inget kan sama kejadian di minimarket beberapa hari yang lalu. Waktu non ketahuan nyuri coklat itu loh." Kataku.

Mendengar perkataan ini Vania langsung terhentak kaget karena dia menganggap masalah itu sudah selesai dan tak perlu diungkit lagi. Hal itu membawa aib bagi dirinya.

"Ii..iiya pak aku masih ingat kok. Emangnya kenapa pak. Bukannya masalah itu udah selesai. Dan uang bapak juga udah aku ganti." Kata Vania.

"Iya bagi non emang udah selesai tapi bapak kayaknya belum selesai deh." Jawabku.

"Loh belum selesai gimana. Bapak kan janji akan simpan rahasia ini." Kata Vania.

"Iya non. Tapi menurut bapak masalah ini agak berat non. Dan selalu mengganggu pikiran bapak. Makanya bapak pengen minta kompensasi lebih buat uang tutup mulut supaya masalah ini tidak sampai ke tuan dan nyonya atau ke teman sekolah non." Kataku.

"Maksud bapak apa ngomong kayak gitu. Jadi bapak pengen memeras aku ya. Kok bapak tega banget sih berbuat kayak gitu." Kata Vania.

"Ya tega nggak tega non. Soalnya belakangan ini bapak lagi dikejar-kejar sama tukang tagihan pinjol non. Kalau bapak nggak bayar nanti bapak diancam akan dipukuli sama mereka. Bapak kan jadi takut non dan terpaksa berbuat kayak gini. Karena cuma non yang bisa bantu selesaikan masalah bapak kali ini. Pokoknya kalau non kasih uangnya nanti bapak janji akan simpan rahasia ini baik-baik." Kataku.

Vania membeku di kursi belakang. Matanya yang lembut melebar pelan penuh keterkejutan. Tangannya yang halus mengepal di rok seragamnya tapi dia tetap diam sopan. Dia menunggu kata-kata aku selanjutnya dengan wajah kalem yang mulai pucat.

Aku sudah berhasil meminta uang tutup mulut dari Vania beberapa kali. Otak aku yang tadinya hanya mencari tambahan penghasilan mulai liar tak terkendali. Setiap kali aku kirim pesan singkat atau bisikkan di mobil dia selalu mengangguk pelan dengan wajah lembutnya yang pucat. Lalu dia mengirimkan uang melalui transfer atau amplop tanpa banyak protes. Sikapnya tetap tenang dan halus seolah tak ingin memperburuk keadaan. Uang itu sudah beberapa kali masuk ke dompet aku. Cukup untuk membeli rokok lebih enak dan sedikit hiburan malam.

Pagi itu saat mengantar Vania ke sekolah atau tempat kegiatannya aku melirik ke spion. Aku melihat dia duduk di belakang dengan seragam santai yang rapi. Rambut hitam lurusnya tergerai lembut. Kulit putihnya bersih. Bibir tipisnya yang selalu sopan dan tubuh rampingnya yang anggun terlihat cantik sekali di bawah sinar matahari pagi PIK. Hasrat yang sudah lama terpendam di dada tua aku ini meledak pelan. Aku berhenti di pinggir jalan sepi sebentar dan berkata dengan suara serak pelan.

"Non Vania hari ini duduk di depan saja sama bapak biar bapak bisa ngobrol lebih enak kataku.

Dia ragu sejenak. Mata sipitnya yang lembut menatap aku dengan ekspresi kalem tapi khawatir tapi akhirnya dia pindah ke kursi depan dengan gerakan halus. Roknya yang panjang rapi menyapu jok mobil. Aku melanjutkan perjalanan. Tangan aku yang kasar sesekali menyentuh persneling dekat pahanya. Sepanjang jalan aku diam-diam menikmati wangi parfumnya yang mahal. Setelah mengantar dan pulang kembali ke rumah besar itu aku parkir mobil di garasi yang sejuk dan agak gelap. Pintu garasi sudah tertutup otomatis. Vania hendak turun tapi aku pegang lengan bajunya pelan dengan tangan gemetar karena usia dan gairah. Suara aku rendah dan serak.

Non tunggu dulu. Bapak sudah capek diam saja. sekarang yang bapak inginkan bukan cuma uang. Bapak mau non Vania kasih yang lain..

"Kasih yang lain gimana pak ?

"Bapak mau kali ini non kasih cipokan satu kali saja sebagai tambahan jaminan rahasia itu tetap aman. 

"Non Vania kan cantik sekali. Boleh kan Bapak ngerasain bibir Non yang lembut itu sebentar kataku.

Vania membeku di kursi. Wajah kalemnya memerah samar. Tangannya yang halus mengepal di pangkuan. Napasnya pelan tapi terdengar bergetar. Matanya menunduk sopan tanpa langsung menolak seolah otaknya yang lembut sedang berjuang antara malu dan takut rekaman itu tersebar. Aku mendekatkan wajah tua aku yang berkerut ke arahnya. Aku menunggu dengan jantung berdegup kencang di dalam garasi yang sunyi itu.

Aku melihat Vania duduk tegang di kursi depan mobil dalam garasi yang remang-remang. Cahaya lampu neon kuning samar menyinari wajahnya yang putih halus dan kalem itu. Bibirnya yang tipis dan lembut sedikit terbuka karena napasnya yang mulai cepat. Mata sipitnya yang sopan menunduk menghindari tatapan aku tapi dia tidak langsung menolak atau berteriak. Sikapnya yang selalu anggun dan lembut membuatnya hanya diam. Tangannya yang halus mengepal pelan di atas rok panjang yang rapi.

Pak.. tolong jangan seperti ini. ini sudah keterlaluan namanya. Waktu itu kan aku udah gantiin semua uang bapak. bisiknya pelan dengan suara halus yang bergetar tapi nada itu lebih seperti permohonan daripada penolakan keras.

Aku tersenyum dalam hati. Tangan tua aku yang kasar dan berkeriput naik perlahan menyentuh dagunya yang halus. Aku mengangkat wajahnya pelan agar mata kami bertemu. Kulitnya terasa dingin dan lembut seperti sutra mahal. Aroma parfumnya yang manis dan mahal memenuhi hidung aku. 

"Cuma cipokan Non satu saja Non kan sudah kasih uang berkali-kali ini tambahan kecil biar bapak tenang gumam aku serak. Wajah aku mendekat sampai napas hangat aku menyapu bibirnya.

Vania menggigit bibir bawahnya pelan. Pipinya memerah semakin dalam tapi akhirnya dia memejamkan mata dengan pasrah yang kalem. Tubuh rampingnya sedikit gemetar saat bibir aku menyentuh bibirnya yang lembut dan hangat. Ciuman pertama itu pelan. Aku merasakan kelembutan bibirnya yang penuh seperti buah segar yang belum tersentuh banyak. Lidah aku menyelinap pelan membuka celah bibirnya. Aku mengecap manisnya mulut gadis Chindo itu sambil tangan aku turun menyentuh leher rampingnya yang putih mulus. Vania mengeluarkan desahan kecil yang tertahan.

Mmm.. katanya sopan tapi penuh malu. Tangannya yang lembut mendorong dada aku pelan tapi tidak kuat. Napasnya semakin cepat saat ciuman aku semakin dalam. Lidah kami saling sentuh pelan di dalam mulutnya yang hangat dan basah. Aku merasakan dadanya yang kencang naik turun di balik blus tipisnya. Hasrat tua aku bangkit liar. Tangan aku yang kasar turun perlahan ke bahunya. Aku meremas pelan sambil terus menciumnya lebih dalam. Aku menikmati bagaimana gadis kalem dan sopan ini mulai menyerah di garasi sunyi rumah mewahnya sendiri.

Ciuman itu berlangsung lama dan lambat. Aku menikmati setiap sentuhan lidah dan hembusan napas. Akhirnya aku melepaskan bibirnya dengan benang air liur tipis yang menghubungkan kami. Aku melihat wajah Vania yang memerah. Matanya basah dan bibirnya yang sudah agak bengkak lembut itu. 

"Bagus Non... besok kita lanjut lagi ya. Kalau bisa non kasih cipokan yang lebih hot daripada yang tadi non kasih ke bapak. bisik aku serak. 

"Loh kok gitu pak.. tadi kan bapak bilang cuma minta sekali aja. Bapak jangan keterlaluan dong.

"Maaf non. Awalnya bapak emang cuma pengen ngerasain sekali aja cipokan sama non. Tapi pas bapak rasain tadi kok kayakn enak banget.. makanya bapak jadi ketagihan non. Jadi pengen cipokan sama non terus. Boleh kan non kalau besok bapak minta lagi. Hehe..

"Bapak kok makin kurang ajar aja sih sama aku. Dikasih sekali malah minta lagi. Emangnya aku cewek apaan disuruh nurut sama bapak terus.

"Yah terserah non sih. Kalau non gak mau ngasih lagi juga gapapa. Tapi jangan salahin bapak kalau video rekaman waktu non nyuri di minimarket bapak sebarin ke teman teman non disekolah. Pasti non bakalan malu banget tuh.. hehe..

Jangan pak.. tolong jangan sebarin rekamannya.. aku mau nurut sama bapak tapi jangan sebarin video itu ke teman temanku.

Melihat reaksi ini aku pun semakin berani dan mulai merencanakan berbagai hal lain untuk menaklukkannya. Tanpa disadari tekanan ini membuat Vania tersentak dan air mata mengalir di pipinya.

"Udah non. Gak usah nangis. Nanti cantiknya hilang loh.. selagi non nurut sama bapak. Bapak janji bakalan simpan baik baik rekaman itu deh. Kataku sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.

Keesokan harinya pagi yang cerah aku mengantar Vania seperti biasa dengan mobil mewah itu tapi kali ini hasrat di dada tua aku sudah tak bisa dibendung lagi setelah cipokan kemarin di garasi. Vania duduk di depan sesuai perintah aku. Tubuh rampingnya yang anggun terbalut blus tipis dan rok panjang yang sopan. Rambut hitam lurusnya harum dan wajah kalemnya masih memerah samar mengingat kejadian kemarin. Sesampainya di halaman parkir sekolah elit yang masih sepi karena agak pagi aku parkir di sudut agak tersembunyi di balik pohon-pohon rindang. Aku mematikan mesin mobil sehingga suasana menjadi hening hanya ditemani suara burung dan hembusan AC yang pelan.

Non Vania hari ini keliatan tambah cakep aja. Udah kayak artis dracin yang sering bapak tonton di toktok.

Udah bapak gak usah muji muji kayak gitu. Mending langsung ngomong aja. Bapak mau apa ?

"Bapak mau minta jatah lagi sebelum Non turun bisik aku serak dengan suara rendah penuh nafsu. Tangan kasar aku langsung meraih lengannya yang halus dan menariknya pelan mendekat. Vania menatap aku dengan mata besarnya yang lembut dan sopan. Pipinya langsung memerah dalam. Bibir tipisnya bergetar pelan.

Pak.. tolong jangan disini. Nanti kalau ketahuan sama guru sekolahku gimana ? katanya tapi suaranya halus tak berdaya. Sikap kalemnya membuat dia hanya pasrah saat aku mendekatkan wajah keriput aku dan mencium bibirnya lagi lebih dalam dari kemarin. Bibirnya yang lembut dan manis terbuka pelan. Lidah aku menyusup masuk menjelajahi mulut hangatnya yang basah sehingga aku mengecap setiap inci sambil tangan aku yang gemetar naik ke dada kencangnya yang tertutup blus. Aku meremas pelan payudaranya yang kenyal dan penuh melalui kain tipis itu. Aku merasakan putingnya yang mulai mengeras di bawah telapak tangan kasar aku. Jari aku memilin lembut sambil ciuman semakin liar. Lidah kami saling berputar dan menghisap dengan suara kecil basah yang memenuhi mobil. Vania mengeluarkan desahan tertahan.

Ahh Mang katanya halus dan malu-malu. Tubuhnya yang ramping gemetar. Tangan lembutnya mencengkeram lengan aku tapi tak mendorong kuat. Napasnya cepat dan hangat menyapu wajah aku. Tangan aku turun lebih berani sehingga menyusup ke balik blusnya. Aku menyentuh kulit perut halusnya yang dingin mulus lalu naik lagi meremas kedua payudaranya langsung tanpa penghalang kain. Aku merasakan kelembutan dan kehangatan kulit Chindo yang sempurna itu. Jempol aku mengelus putingnya yang mengeras semakin keras sambil mulut aku turun ke leher rampingnya. 

Aku menciumi dan menghisap pelan meninggalkan bekas merah samar. Dia tetap kalem meski tubuhnya bergetar hebat. Mata sopannya terpejam. Bibirnya menggigit bawah untuk menahan erangan kecil yang lolos. Aroma tubuhnya yang manis bercampur keringat tipis membuat aku semakin liar di dalam mobil yang panas di parkir sekolah itu. Aku terus mencumbunya perlahan. Tangan aku menjelajahi pinggang pinggul dan paha mulusnya melalui rok sehingga aku meremas pelan sambil berbisik serak.

Non enak sekali besok Mang mau lebih lagi ya kataku sebelum akhirnya melepaskannya dengan napas tersengal. Aku melihat wajah Vania yang kusut merah bibir bengkak dan blusnya agak acak-acakan. Dia hanya diam menunduk sopan sambil merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar sebelum turun ke sekolah.

Beberapa hari kemudian hasrat aku sudah semakin liar tak terbendung sehingga uang dan cipokan saja tidak cukup lagi untuk memuaskan pikiran tua yang gelap ini. Pagi itu aku sengaja mengajak Vania berangkat lebih pagi dari biasanya. Matahari masih samar menyinari jalan-jalan perumahan yang sepi. Kabut tipis masih menyelimuti vila-vila mewah. Vania naik ke mobil dengan sikap kalem dan sopan seperti biasa. Blus seragam sekolahnya rapi. 

Rok lipit abu-abu yang pendek menutupi pahanya yang mulus. Wajah putihnya yang lembut sedikit tegang karena sudah tahu apa yang akan terjadi. Sepanjang jalan aku diam saja tapi tangan aku sesekali meraba pahanya pelan di atas rok sehingga membuatnya gemetar halus tanpa banyak bicara. Sesampainya di halaman parkir sekolah elit yang masih sangat sepi hanya ada beberapa mobil guru dan satpam jauh di sana aku parkir di sudut paling tersembunyi di balik pohon besar. Aku mematikan mesin dan mengunci pintu.

Non Vania sekarang duduk di belakang Mang mau yang lebih dari kemarin perintah aku serak dengan suara rendah penuh nafsu. Vania menatap aku sebentar dengan mata besarnya yang basah dan malu. Bibir tipisnya bergetar tapi dia patuh pindah ke bangku belakang dengan gerakan anggun yang kalem. Roknya sedikit naik saat dia duduk. Aku ikut pindah ke belakang sehingga duduk di sampingnya lalu dengan tangan kasar aku angkat roknya pelan sampai pinggang sehingga membuka paha mulusnya yang putih dan halus. Angkang kakinya Non biar Mang bisa nikmatin semuanya bisik aku sambil membantu posisinya hingga Vania mengangkang lebar di jok mobil yang luas. 

Celana dalam tipis berwarna putih polosnya sudah terlihat basah samar di tengah. Aku menunduk perlahan sehingga wajah keriput aku mendekat ke kemaluannya yang rapat dan halus. Aku mencium dulu aroma manisnya yang lembut melalui kain tipis itu sebelum menarik celana dalamnya ke samping dengan jari gemetar. Lidah aku yang kasar langsung menyentuh bibir kemaluannya yang mungil dan pink muda. Aku menjilat pelan dari bawah ke atas sehingga merasakan kelembutan dan kehangatan cairan manis yang mulai keluar karena getaran tubuhnya. Vania menggigit bibir bawahnya kuat sehingga mengeluarkan desahan halus.

Ahh Mang jangan di sini katanya sopan tapi penuh erangan tertahan. Tangan lembutnya mencengkeram rambut aku yang putih sambil pinggulnya bergerak pelan tak sadar. Aku semakin rakus sehingga lidah aku menjelajahi setiap lipatan kemaluannya yang basah dan licin. Aku menghisap klitoris kecilnya yang mengeras dengan lembut lalu kuat. Aku menjilat masuk ke lubangnya yang sempit dan hangat sehingga mencumbui habis-habisan dengan suara basah yang kecil dan mesra memenuhi mobil. Tangan aku meremas paha dalamnya yang gemetar. Jari aku ikut menyusup pelan ke dalam sambil lidah terus berputar dan menghisap sehingga membuat Vania mendesah lebih keras meski tetap berusaha menahan dengan sikap kalemnya. Tubuh rampingnya melengkung. Payudaranya naik turun cepat di balik blus. Keringat tipis membasahi kulit putihnya. Aku terus menjilat dan mencumbunya lama sehingga menikmati setiap getaran setiap cairan manis yang keluar sampai tubuhnya kejang pelan mencapai puncak. Erangan sopannya pecah menjadi.

Pak.. ahh katanya lembut dan panjang. Setelah puas aku angkat wajah sehingga melihat kemaluannya yang merah basah dan berkilau. Roknya kusut parah. Blusnya agak terbuka dengan kancing longgar. Rambutnya acak-acakan dan wajah kalemnya yang memerah penuh malu serta kepuasan paksa. Vania hanya diam menunduk. Napasnya tersengal tapi dengan tangan gemetar dia merapikan pakaiannya sebisa mungkin. Rok dan blusnya tetap kusut di beberapa bagian. Dia turun dari mobil dengan langkah pelan yang masih anggun lalu masuk ke sekolah seperti biasa seolah tak ada apa-apa meski setiap langkah pasti terasa basah dan bekas cumbuan aku masih melekat di tubuhnya yang lembut itu. Aku tersenyum dalam mobil karena sudah merencanakan apa yang akan aku minta besok.

Tak terasa sudah hampir sebulan berlalu sejak kejadian pencurian coklat di minimarket itu sehingga aku Maman sopir tua berusia enam puluh tahun ini semakin sering mengerjai Non Vania dengan ancaman rekaman video yang tersimpan aman di handphone aku. Gadis Chindo yang kalem lembut dan sopan itu kini hampir setiap hari harus memenuhi keinginan aku di dalam mobil mewah keluarganya sendiri. Wajah putihnya yang anggun selalu memerah malu tapi dia tetap patuh dengan sikap halusnya yang tak banyak protes. Pagi itu langit komplek perumahan masih gelap kebiruan saat aku mengemudi pelan meninggalkan rumah besar. Vania duduk di depan sesuai perintah aku. Seragam sekolahnya rapi tapi roknya sudah aku suruh naik sedikit.

Non hari ini bapak mau yang spesial sepanjang jalan ke sekolah bisik aku serak sambil memegang kemudi dengan satu tangan. Tangan yang lain meraba pahanya yang mulus. Vania menatap aku sebentar dengan mata besarnya yang basah dan lembut. Bibir tipisnya bergetar pelan.

Pak.. pagi-pagi begini katanya tapi suaranya halus menyerah. Lalu dengan gerakan kalem yang gemetar dia membungkuk ke pangkuan aku setelah aku buka resleting celana. Tangan halusnya yang dingin menyentuh kemaluan aku yang sudah mengeras karena usia tapi masih kuat karena nafsu. Dia mengeluarkannya pelan dari celana lalu bibir lembutnya yang hangat menyentuh ujungnya. Aku mendesah serak saat mulutnya yang basah dan sempit mulai menghisap pelan. Lidahnya yang lembut menjilat sepanjang batang aku dengan gerakan sopan dan hati-hati sehingga naik turun perlahan seiring mobil melaju di jalan sepi perumahan.

Vania mencoba menjaga ritme yang kalem meski tubuh rampingnya gemetar. Kepalanya naik turun di pangkuan aku. Suara kecil basah lolos dari mulutnya yang penuh sehingga air liurnya membasahi kemaluan aku yang berdenyut. Aku pegang rambut hitam lurusnya pelan sehingga mendorong kepalanya lebih dalam saat mobil berhenti di lampu merah. Aku merasakan tenggorokannya yang sempit menggenggam ujung aku. Lidahnya terus berputar di kepala kemaluan aku sambil tangan halusnya memijat pelan buah zakar aku yang kendur. 

Sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir dua puluh menit aku suruh dia terus mengisap tanpa henti. Sesekali aku remas payudaranya yang kencang melalui blus seragam sambil mengemudi sehingga membuat desahannya tertahan semakin cepat. Saat hampir sampai di sekolah yang masih sepi kenikmatan itu memuncak. Aku pegang kepalanya kuat dan menyemburkan sperma panas aku langsung ke dalam mulutnya yang lembut.

Telan semua Non ini sarapan pagi buat kamu kataku. Vania menggigil pelan. Matanya basah air mata malu tapi dengan sikap sopan dan kalem dia menelan semuanya tanpa meneteskan satu pun. Tenggorokannya bergerak naik turun menelan cairan kental aku yang banyak lalu membersihkan sisa dengan lidahnya yang halus sebelum merapikan celana aku. Wajahnya memerah hebat. Bibirnya agak bengkak dan berkilau tapi dia duduk kembali tegak dengan tenang. Dia merapikan seragamnya yang sedikit kusut siap turun ke sekolah seperti gadis baik-baik biasa sementara rasa sperma aku masih tersisa di mulutnya yang manis itu.

Aku Maman hasrat di dada tua aku sudah membara tak terkendali setelah melihat Vania yang kalem dan sopan itu semakin tunduk sepenuhnya di bawah ancaman rekaman video pencurian itu. Pagi itu setelah dia selesai membersihkan mulutnya dari sisa sarapan pagi aku aku tetap parkir di sudut halaman sekolah yang masih sangat sepi. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan dan hanya ada suara burung jauh.

Non belum selesai. Kita pindah ke belakang aja. perintah aku serak sambil membuka pintu dan pindah ke kursi belakang mobil mewah yang luas itu. Vania menatap aku dengan mata besarnya yang lembut dan pasrah. Pipinya merah padam penuh malu tapi dia patuh pindah ke belakang dengan gerakan anggun yang gemetar. Rok lipit abu-abunya naik pelan saat dia duduk. Aku langsung menarik tubuh rampingnya ke pangkuan aku. Aku membuka kancing blus seragamnya satu per satu dengan tangan kasar yang bergetar karena nafsu sehingga memperlihatkan bra putih tipis yang menutupi payudaranya yang kencang dan putih mulus. 

Aku remas keduanya kuat sambil mencium lehernya yang harum. Lidah aku menjilat kulit halusnya meninggalkan jejak basah lalu aku angkat roknya sampai pinggang dan menarik celana dalamnya ke samping. Kemaluan aku yang sudah keras kembali menyentuh bibir kemaluannya yang masih basah dari cumbuan sebelumnya lalu aku dorong masuk pelan tapi dalam ke dalam lubangnya yang sempit hangat dan licin. Vania menggigit bibir bawahnya kuat sehingga mengeluarkan desahan halus.

"Ahh.. Mang pelan katanya sopan dan tertahan. Tubuhnya gemetar hebat saat aku gauli dia di kursi belakang. Pinggul aku naik turun dengan ritme lambat tapi kuat sehingga setiap hantaman membuat payudaranya bergoyang di depan wajah aku. Aku hisap putingnya yang mengeras melalui bra. Tangan aku meremas pinggul rampingnya yang halus sambil terus menusuk lebih dalam sehingga merasakan dinding dalamnya yang berkedut menggenggam kemaluan aku erat. 

Mobil mewah itu sedikit bergoyang pelan mengikuti gerakan kami. Suara basah percintaan memenuhi ruang kabin yang tertutup. Napas Vania semakin cepat dan erangannya semakin sering lolos meski dia berusaha menahan dengan sikap kalemnya. Aku gauli dia habis-habisan. Aku mengubah posisi sedikit agar lebih dalam. Tangan aku menjepit klitorisnya sambil terus memompa sampai akhirnya aku menyemburkan sperma panas kedua kalinya jauh di dalam rahimnya yang lembut. Vania kejang pelan mencapai klimaksnya sendiri sehingga tubuhnya melengkung anggun. 

Cairan kami bercampur membasahi jok belakang. Setelah selesai aku lepaskan dia dengan napas tersengal. Aku melihat baju seragam sekolahnya kusut parah dengan kancing hampir lepas. Roknya acak-acakan dan basah di bagian bawah. Rambut hitam lurusnya acak-acakan menempel di keringat wajah putihnya yang memerah dan penuh malu. Vania hanya diam menunduk sopan. Tangan halusnya gemetar merapikan pakaian sebisa mungkin lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke gedung sekolah swasta yang sangat elite tsb dengan langkah pelan namun masih anggun meski jelas terlihat bekas percintaan kami melekat di tubuhnya yang lelah dan basah itu sepanjang hari.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Budak Napsu Sopir Bus Antarkota

Draft Kisah Tragis Dibalik Pudarnya Kajayaan Pertokoan Glodok

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Pemburu Amoy Pecinan

Draft Pemburu Amoy Pecinan 2

Draft Rahasia Dibalik Seragam Sekolah

Amarah Para Buruh 4

Draft Arisan sosialita Yang Brutal

Draft Barang Jarahan