Langsung ke konten utama

Aplikasi Chindo Challenge

By : Analconda13

Namaku Elina. Aku gadis chindo berusia 20 tahun yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta bergengsi yang terkenal dengan biayanya yang mahal. Kulitku putih mulus dengan rambut hitam lurus panjang dan paras oriental yang sering membuat orang melirik. Tubuhku masih kencang dengan payudara montok dan paha mulus meski akhir-akhir ini makan seadanya. Adikku bernama Elisa berusia 16 tahun. Ia gadis cantik yang mirip denganku tapi lebih manja dan polos. Rambutnya juga hitam lurus dengan kulit putih bersih dan senyum yang selalu manis. Elisa sering meminta ini itu kepada Papa dan Mama. Ia suka baju baru.. sepatu sekolah yang bagus dan makanan kesukaannya. Meski keluarga kami sedang kesulitan Elisa tetap manja dan sering bertanya kenapa makan malam kami semakin sederhana akhir-akhir ini. Aku sangat sayang padanya dan tidak ingin ia tahu tentang kesulitan yang sebenarnya. Setiap kali melihat wajah Elisa yang polos dan cantik itu tekadku semakin kuat untuk mencari uang dengan cara apa pun demi ia bisa terus sekolah dengan nyaman.

Sejak dulu keluargaku selalu hidup serba berkecukupan atau bahkan berlebihan karena papaku punya bisnis pertambangan di pelosok daerah. Namun karena suatu hal yang tak bisa kujelaskan akhirnya bisnis papaku mengalami masalah besar. Hampir seluruh kekayaan keluarga kami disita oleh suatu lembaga korupsi karena dianggap bekerja sama dengan oknum pejabat daerah untuk memperoleh ijin bisnis tambang tsb.

Kehidupan keluarga kami pun langsung berubah secara drastis. Keluarga kami yang awalnya tinggal di sebuah komplek pemukiman mewah kini harus menyewa rumah demi bisa mempertahankan kehidupan yang layak dengan sisa harta yang ada. Saat musibah itu terjadi papaku sempat ditahan selama hampir dua tahun lamanya di rutan setempat guna mempertanggung jawabkan perbuatannya dan keluarga hanya bisa memanfaatkan sisa sisa harta yang masih ada guna menyambung hidup.

Perlahan lahan harta simpanan kami pun mulai tergerus habis. Satu persatu mobil mewah kami dijual dan setelah papa keluar dari tahanan. Diapun hanya bisa tinggal dirumah sambil meratapi nasib buruknya yang datang secara tiba tiba.

Malam itu aku merasa putus asa setelah seharian memikirkan biaya kuliah yang semakin menumpuk. Aku melihat wajah lelah Papa yang hanya duduk diam di ruang tamu rumah sewaan kami yang sederhana. Ponselku yang sudah lama tak terganti menyala redup di kamar kecil yang hanya diterangi lampu meja. Saat browsing di dunia maya untuk mencari informasi beasiswa aku menemukan link misterius menuju aplikasi bernama Chindo Challenge Aku ragu sejenak namun janji uang tunai yang langsung masuk ke rekening membuatku nekat mendownload aplikasi itu. 

Menurutku aplikasinya terlihat profesional dengan antarmuka hitam elegan dan verifikasi ketat. Begitu aku login setelah memverifikasi nomor ponsel halaman tantangan langsung terbuka. Tantangan pertama cukup ringan untuk pemula yaitu kirim lima foto seksi mengenakan baju tidur dengan pose natural tapi menggoda. Bayarannya 300 ribu rupiah jika disetujui moderator. Jantungku berdegup kencang saat membaca deskripsi itu. Tanganku sedikit gemetar menyentuh layar. Bayangan adikku Elisa yang masih butuh uang sekolah dan Mama yang mulai sering mengeluh karena tak tahan dengan kehidupan sulit ini membuatku mengangguk dalam hati. Aku bangkit pelan dari tempat tidur lalu berjalan ke cermin kamar untuk melihat bayanganku sendiri. Aku gadis chindo berambut hitam panjang bergelombang dengan kulit putih mulus dan tubuh yang masih kencang meski makan seadanya belakangan ini. Aku memilih piyama tipis berwarna merah muda yang dulu sering kupakai di rumah lama kami.

Dengan napas yang mulai tak teratur aku berdiri di depan cermin kamar yang retak di sudutnya. Cahaya lampu kuning redup menyapu kulitku yang halus. Baju tidur tipis berwarna merah muda itu menempel longgar di tubuhku. Tali bahunya yang kecil hampir tak mampu menahan payudaraku yang montok dan masih kencang meski usiaku baru 20 tahun. Aku menarik napas dalam dan mencoba mengingatkan diri bahwa ini hanya demi keluarga. Ini hanya foto bukan apa-apa yang lebih. Tangan kananku meraih ponsel lalu membuka kamera depan aplikasi yang sudah siap merekam. 

Pertama aku duduk di pinggir tempat tidur dengan kaki disilangkan pelan sehingga rok pendek baju tidur itu naik sedikit. Aku memperlihatkan paha putih mulusku yang jarang terkena sinar matahari. Aku memiringkan kepala dengan bibir sedikit terbuka dan ekspresi malu-malu yang sengaja dibuat menggoda. Rambut hitamku dibiarkan jatuh menutupi satu sisi wajah. Klik. Foto pertama terambil. 

Aku berdiri lagi lalu berputar pelan menghadap cermin sambil mengangkat tangan ke atas kepala. Aku merenggangkan tubuh sehingga payudaraku terdorong maju dan lekuk pinggangku terlihat jelas di balik baju tipis yang hampir tembus pandang. Puting susuku sedikit mengeras karena udara pendingin ruangan yang sejuk dan rasa gugup yang bercampur sensasi baru ini. Klik. Foto kedua. Jantungku semakin cepat tapi notifikasi di aplikasi menunjukkan foto-foto ini masih dalam tahap review sementara. 

Aku melanjutkan. Kali ini aku berlutut di atas kasur dengan posisi doggy style ringan. Punggungku melengkung dan bokongku terangkat sedikit ke belakang. Wajahku menoleh ke kamera dengan tatapan mata yang dibuat sedikit mengantuk seksi. Kain baju tidur naik tinggi dan hampir memperlihatkan garis celana dalam hitam sederhanaku. Klik. Foto ketiga.

Rasa hangat mulai merayap di pipiku saat aku menyadari betapa erotisnya posisi ini. Namun uang 300 ribu itu terasa begitu dekat. Untuk foto keempat aku berbaring miring di kasur dengan satu tangan menyusuri paha sendiri dengan lembut. Bibirku digigit pelan dan mata setengah tertutup. Cahaya lampu menciptakan bayangan di lekuk tubuhku. Klik. Dan yang terakhir aku berdiri tegak di depan cermin lagi lalu menarik tali baju tidur sedikit ke bawah di satu bahu sehingga satu sisi payudaraku hampir terpapar. Aku tersenyum kecil yang penuh godaan. Klik. Lima foto selesai. Aku langsung mengunggah semuanya ke aplikasi dengan tangan gemetar lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu verifikasi. Beberapa menit kemudian notifikasi muncul. Semua foto disetujui. Pembayaran sebesar Rp300.000 telah ditransfer ke rekeningku. Aku menghela napas lega tapi di balik itu ada rasa aneh yang mulai tumbuh. Campuran malu lega dan entah kenapa sedikit kegembiraan terlarang.

Seminggu berlalu sejak tantangan pertama itu dan setiap pagi aku selalu mengecek saldo rekening dengan degup jantung yang berbeda. Uang 300 ribu itu benar-benar masuk cukup untuk membayar sebagian tagihan listrik dan membeli kebutuhan sehari-hari tanpa harus meminta Papa yang semakin tertekan. Aku merasa senang bahkan agak bangga karena di zaman serba instan ini aku bisa mendapatkan uang dengan cara yang sangat mudah meskipun harus melalui sedikit pengorbanan rasa malu yang masih sering membuat pipiku merona merah setiap mengingat foto-foto itu. Malam-malam selanjutnya aku sering memandangi diri di cermin lebih lama dari biasanya lalu bertanya-tanya apakah tubuhku ini benar-benar bisa menjadi aset yang berharga di aplikasi gelap itu. 

Kemudian suatu sore saat aku baru pulang dari kampus dengan tas ransel yang terasa semakin berat notifikasi dari Chindo Challenge muncul lagi. Tantangan baru yaitu lima foto seksi yang diambil di tempat umum dengan bayaran 500 ribu rupiah. Syaratnya cukup ketat yaitu harus terlihat alami tapi tetap menggoda latar belakang jelas menunjukkan lokasi publik dan tentu saja tidak ada orang lain yang menyadari. Aku duduk di tepi tempat tidur lalu membaca deskripsi itu berulang kali sambil menggigit bibir bawah. Hati kecilku yang pemalu berteriak menolak karena aku ini gadis biasa yang dulu bahkan malu berfoto selfie di mall apalagi sekarang harus memamerkan tubuh di tempat ramai. Tapi bayangan Elisa yang mulai sering bertanya kenapa makan malam kami semakin sederhana dan Mama yang diam-diam menjual perhiasan terakhirnya membuatku tergiur luar biasa. Demi keluarga gumamku pelan pada diri sendiri. Jari-jariku akhirnya menekan tombol Terima Tantangan.

Aku mulai merencanakan dengan hati-hati. Tantangan ini harus diselesaikan dalam tiga hari jadi besok pagi aku memutuskan untuk mulai di kampus. Tempat itu sudah sangat kukenal tapi sekarang terasa jauh lebih berisiko. Aku memilih baju yang biasa kupakai kuliah yaitu kemeja putih longgar dengan beberapa kancing atas sengaja dibiarkan terbuka sedikit. Rok selutut yang bisa diangkat pelan saat berpose dan jaket tipis yang mudah dilepas untuk sesi foto cepat. Sepanjang malam aku latihan pose di kamar. Aku berdiri di sudut perpustakaan khayalan lalu membungkuk sedikit sambil pura-pura mengambil buku sehingga lekuk payudaraku terlihat dari samping. Atau duduk di bangku taman kampus dengan kaki disilang tinggi memperlihatkan paha mulus. Rasa gugup bercampur adrenalin membuat tidurku malam itu gelisah tapi tekadku sudah bulat. Besok aku akan melangkah ke dunia yang semakin gelap ini demi mempertahankan sisa kehidupan yang masih bisa kuselamatkan.

Keesokan paginya matahari baru saja terbit ketika aku berjalan menyusuri gerbang kampus swasta yang megah itu. Tempat yang dulu terasa seperti rumah kedua kini menyimpan beban rahasia yang berat. Udara pagi masih sejuk tapi telapak tanganku sudah berkeringat dingin saat memegang ponsel di saku rok. Aku memakai kemeja putih yang sedikit ketat di bagian dada dengan dua kancing atas sengaja kubiarkan terbuka sehingga sedikit belahan dada putih mulusku terlihat jika dilihat dari sudut tertentu. Rok hitam selututku dipadukan dengan sepatu flat sederhana dan jaket denim tipis menutupi bahu untuk sementara. Jantungku berdegup kencang saat melewati mahasiswa-mahasiswa lain yang sibuk dengan obrolan pagi mereka. Aku merasa seperti sedang berjalan di atas tali yang sangat tipis. 

Pertama aku memilih lokasi di taman kecil di belakang gedung fakultas. Tempat itu relatif sepi di pagi hari tapi masih terlihat jelas sebagai area publik. Aku duduk di bangku kayu pura-pura membaca buku catatan kuliah sambil melirik sekitar. Tidak ada orang terlalu dekat. Dengan tangan gemetar aku meletakkan ponsel di posisi timer di atas tas lalu membuka jaketku perlahan. Aku memiringkan tubuh sedikit ke samping dengan satu tangan menyentuh leher sendiri dengan lembut. Kepalaku mendongak sehingga garis leher dan belahan dada terpapar cahaya matahari pagi. Klik. Foto pertama berhasil. Rasa panas merayap ke wajahku saat melihat preview. Aku terlihat benar-benar menggoda dengan payudaraku yang kencang tertekan lembut oleh kemeja dan puting samar terlihat karena angin pagi yang membuatnya mengeras.

Aku buru-buru mengenakan jaket lagi lalu berpindah ke koridor perpustakaan yang lebih ramai tapi memiliki sudut-sudut tersembunyi. Di sana aku berpura-pura mencari buku di rak tinggi. Dengan berjinjit aku mengangkat tangan ke atas sehingga rokku naik sedikit memperlihatkan paha mulus yang halus. Bokongku yang bulat tertekuk menggoda dari belakang saat aku membungkuk. Aku memotret dari sudut samping menggunakan timer yang sudah disetting. Klik. Foto kedua. Napasku mulai tersengal bukan karena capek tapi karena adrenalin yang membanjiri tubuh. Ada sensasi aneh yang menyenangkan di perutku yaitu campuran malu yang membara dan kegembiraan terlarang karena berhasil melakukannya di tempat umum tanpa ketahuan. 

Untuk foto ketiga dan keempat aku memberanikan diri di kantin kampus yang mulai ramai. Aku duduk di meja pojok dengan kaki disilang tinggi sehingga rok naik hingga pertengahan paha. Satu tangan memegang gelas kopi sambil sengaja membungkuk ke depan saat mengambil sesuatu dari tas. Payudaraku hampir menyentuh meja dan belahan dada semakin terlihat dalam. Aku mengambil beberapa angle cepat dengan jantung hampir copot setiap kali ada mahasiswa lewat di dekat meja. Untungnya semua orang sibuk dengan gadget mereka sendiri. Foto terakhir aku ambil di parkiran motor. Aku berdiri menyandar ke tiang dengan satu kaki ditekuk lalu tangan menyusuri pinggul sendiri dengan pose seksi yang dibuat natural. Angin meniup rambut hitamku yang tergerai. 

Setelah semua lima foto terunggah ke aplikasi dengan tangan yang masih bergetar aku buru-buru pulang ke rumah sewaan kami. Sepanjang perjalanan pikiranku berkecamuk. Aku merasa kotor tapi juga lega karena sudah melampaui batas pemaluanku demi keluarga. Malam harinya saat sedang makan malam bersama Papa Mama dan Elisa yang polos notifikasi masuk. Semua foto disetujui. Rp500.000 telah ditransfer. Aku tersenyum kecil di balik sendok tapi di dalam hati tahu bahwa ini baru permulaan dari tantangan yang semakin berani.

Beberapa hari setelah tantangan di kampus kehidupan keluarga kami masih berjalan di ujung tanduk. Uang 500 ribu itu sudah habis untuk tambahan bayar SPP Elisa dan belanja bulanan tapi setidaknya kami bisa makan tanpa terlalu sering mengencangkan ikat pinggang. Aku mulai lebih sering membuka aplikasi Chindo Challenge di malam hari lalu browsing tantangan-tantangan lain dengan campuran rasa penasaran dan was-was. Lalu pada suatu malam ketika Papa sudah tidur lebih awal karena kelelahan dan Mama serta Elisa berada di kamar mereka masing-masing notifikasi baru muncul di layar ponselku. Tantangan berikutnya yaitu kirim foto telanjang penuh di minimal empat ruangan berbeda di dalam rumah dengan pose seksi yang bervariasi. Bayarannya langsung 1 juta rupiah.

Aku terdiam lama di tempat tidur dengan jantung berdegup kencang hingga terasa sakit. Telanjang di rumah sendiri. Pikiran tentang Papa yang bisa saja tiba-tiba bangun atau Elisa yang kadang masuk kamar tanpa ketuk pintu membuat bulu kudukku berdiri. Aku gadis pemalu yang bahkan dulu malu ganti baju di depan teman sekamar kos. Bagaimana mungkin sekarang harus memotret tubuh polosku di ruang tamu dapur kamar mandi dan kamar tidur. Tapi aplikasi itu lagi-lagi menampilkan jaminan kerahasiaan yang kuat. Semua data dienkripsi foto hanya dilihat moderator anonim dan tidak ada penyebaran tanpa persetujuan. Uang satu juta itu bisa menutup banyak lubang bahkan mungkin untuk cicilan rumah sewaan bulan depan. Aku menggigit bibir hingga terasa sakit lalu bergulat dengan diri sendiri hampir satu jam sebelum akhirnya menekan tombol Terima Tantangan dengan tangan dingin. Ini demi keluarga bisikku berulang-ulang seperti mantra.

Malam itu juga aku memulai persiapan. Rumah kami kecil dan sederhana hanya punya ruang tamu sempit dapur kecil satu kamar mandi dan dua kamar tidur. Aku menunggu hingga larut malam ketika seluruh rumah sudah sunyi hanya ditinggali suara AC rusak yang berdengung pelan. Pertama di kamar tidurku sendiri aku melepas semua pakaian perlahan di depan cermin. Aku melihat tubuh telanjangku yang putih mulus dengan payudara kencang puting kecil kecokelatan perut rata dan area intim yang masih rapi dengan sedikit bulu halus. Aku berpose di tempat tidur berbaring miring dengan satu kaki terangkat tangan menyusuri pinggul lalu mata menatap kamera dengan ekspresi menggoda meski wajahku memerah karena malu. Klik. Foto pertama. Sensasi udara dingin di kulit telanjang membuatku merinding tapi ada juga getaran aneh di perut bawah yang mulai muncul.

Selanjutnya aku menyelinap ke ruang tamu dengan hanya mengenakan handuk tipis yang siap dilepas. Lampu utama kumatikan hanya cahaya lampu meja kecil yang menyala redup. Aku berdiri di depan sofa lalu melepas handuk hingga jatuh ke lantai. Aku membungkuk ke depan dengan tangan bertumpu di sandaran sofa sehingga bokong terangkat sempurna ke arah kamera yang kuletakkan di meja. Punggung melengkung dan rambut hitam tergerai menutupi sebagian wajah. Klik. Foto kedua. Aku hampir takut bernapas terlalu keras dengan telinga selalu waspada mendengar suara langkah dari kamar Papa. 

Aku melanjutkan ke dapur dengan jantung rasanya mau copot. Di sana aku berdiri di depan meja makan kecil dengan satu kaki naik ke kursi sehingga area intimku terbuka sedikit. Tangan memegang payudara sendiri dengan lembut sambil pura-pura memasak. Cahaya lampu dapur yang terang membuat setiap detail tubuhku terlihat jelas yaitu kulit halus lekuk pinggang dan bibir bawah yang sudah mulai basah karena ketegangan yang aneh ini. Klik. Foto ketiga. Terakhir di kamar mandi aku masuk ke bilik shower yang sempit dengan air tidak kunyalakan. Aku hanya berdiri di bawah shower head kering sambil memegang payudara dengan kedua tangan kepala mendongak. Pose terakhir di kamar mandi dengan posisi jongkok sedikit menggoda. Klik. Semua empat foto selesai diunggah. 

Aku buru-buru kembali ke kamar lalu mengenakan baju tidur dengan tangan gemetar. Aku menunggu verifikasi sambil meringkuk di balik selimut. Tak lama kemudian notifikasi masuk. Semua foto dinyatakan asli dan langsung disetujui. Rp1.000.000 telah ditransfer ke rekeningku. Lega luar biasa menyapuku tapi di balik itu aku sadar bahwa setiap tantangan membuatku semakin dalam masuk ke dunia ini. Tubuhku masih panas dan untuk pertama kalinya aku menyentuh diri sendiri pelan di bawah selimut lalu bertanya-tanya sampai mana aku bisa melanjutkan semua ini demi keluarga.

Beberapa hari setelah tantangan foto telanjang di rumah saldo rekeningku sudah mulai terasa lebih aman. Satu juta itu kupakai untuk membayar tunggakan listrik membeli beras dan kebutuhan pokok untuk dua minggu ke depan serta membelikan Elisa sepatu sekolah baru yang sudah lama ia idamkan. Papa mulai terlihat sedikit lebih tenang meski matanya masih penuh penyesalan. Namun setiap malam aku masih sering membuka aplikasi Chindo Challenge seolah-olah sudah menjadi kebiasaan baru yang tak bisa kutinggalkan. Lalu pada suatu malam hujan deras yang membuat rumah sewaan kami terasa semakin dingin tantangan baru muncul di layar ponsel.

"Tantangan Video: Rekam video masturbasi di atas ranjang tanpa busana sama sekali. Durasi minimal 5 menit. Harus terlihat jelas sampai mencapai klimaks. Bayaran: Rp1.500.000.

Aku terdiam lama di tempat tidur dengan jantung berdegup kencang hingga terasa sakit. Video masturbasi tanpa busana sama sekali dengan durasi minimal lima menit hingga mencapai klimaks. Bayarannya Rp1.500.000. Aku membaca deskripsi itu berulang kali sehingga napasku langsung tersengal. Video bukan foto lagi tapi gerakan nyata suara dan ekspresi wajah saat klimaks. Rasa takut langsung menyergapku karena bagaimana kalau ada yang mendengar atau rekaman ini bocor meski aplikasi berjanji aman. Aku gadis 20 tahun yang dulu bahkan belum pernah berpacaran serius. Sekarang harus merekam diri sendiri sedang menyentuh bagian paling pribadi di tubuhku. Tangan ku pegang ponsel gemetar hampir menolak tantangan itu. Tapi kemudian aku ingat tagihan kuliah semester ini yang hampir jatuh tempo kondisi Papa yang masih belum bisa kerja stabil dan senyum Elisa yang mulai pudar akhir-akhir ini. Kebutuhan ekonomi keluarga jauh lebih penting daripada rasa maluku. Dengan mata terpejam dan hati yang berat aku akhirnya menekan Terima Tantangan.

Malam itu aku menunggu hingga pukul dua dini hari ketika seluruh rumah sudah benar-benar sunyi kecuali suara hujan di atap. Aku membersihkan diri di kamar mandi dengan air hangat lalu kembali ke kamar tidurku yang kecil. Lampu utama kumatikan hanya menyisakan lampu meja kecil dengan cahaya kuning redup yang cukup untuk merekam tapi tidak terlalu terang. Ponsel kuletakkan di tripod kecil yang kubeli murah kemarin dengan sudut disesuaikan agar seluruh ranjang terlihat jelas. Aku melepas semua pakaian perlahan lalu berdiri telanjang di depan cermin sebentar. Tubuhku terlihat putih berkilau karena sedikit keringat karena gugup dengan payudaraku naik turun mengikuti napas cepat puting sudah mengeras karena udara dingin AC dan area intimku terasa hangat meski belum disentuh.

Aku naik ke ranjang lalu berbaring di tengah dengan bantal menopang kepala sedikit. Aku mulai merekam dengan menekan tombol rekam di aplikasi. Ini demi keluarga bisikku pelan sebelum memulai. Tangan kananku mulai menyusuri leher turun ke payudara lalu meremas lembut keduanya sambil mendesah pelan. Jari-jariku memilin puting yang sensitif sehingga membuat sensasi listrik kecil menjalar ke perut bawah. Perlahan tangan kiriku turun ke paha membuka kaki sedikit demi sedikit hingga posisi M terbuka lebar di depan kamera. Jari tengahku menyentuh klitoris yang sudah agak basah karena ketegangan sejak tadi lalu menggosoknya dengan gerakan melingkar pelan. Desahanku mulai keluar tanpa bisa kutahan dengan suara kecil yang terdengar asing di telingaku sendiri.

Aku semakin berani memasukkan satu jari ke dalam liang kewanitaanku yang hangat dan licin lalu keluar masuk perlahan sambil ibu jari terus menggosok klitoris. Pinggulku mulai bergerak pelan mengikuti irama dengan payudaraku bergoyang lembut setiap kali tubuhku melengkung. Sensasi kenikmatan mulai membangun sehingga mengalahkan sedikit rasa malu yang tersisa. Aku menambah satu jari lagi dengan gerakannya semakin cepat dan suara basah samar terdengar bercampur deru napasku yang memburu. Ahh.. ya semakin dalam gumamku tanpa sadar dengan mata setengah terpejam menatap kamera sesekali. Tubuhku mulai panas dengan keringat tipis muncul di dada dan perut. Aku membayangkan uang 1,5 juta itu tapi pikiran itu cepat tergantikan oleh gelombang kenikmatan yang semakin kuat.

Akhirnya setelah hampir tujuh menit klimaks datang dengan hebat. Tubuhku menegang dengan pinggul terangkat tinggi dari kasur dan jari-jariku bergerak cepat di dalam serta di klitoris. Aku menggigit bantal untuk menahan jeritan kecil yang keluar. Gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhku dengan cairan hangat membasahi jari dan sedikit kasur. Aku gemetar hebat selama beberapa detik dengan payudara naik turun cepat wajah memerah dan mulut terbuka. Setelah itu aku berbaring lemas dengan tangan masih di area intim yang berdenyut dan napas tersengal-sengal. Video berhenti direkam. 

Dengan tubuh masih lemas dan pikiran kabur aku mengunggah video itu ke aplikasi. Tak sampai lima belas menit kemudian notifikasi masuk. Video dinyatakan asli dan langsung disetujui. Rp1.500.000 telah ditransfer. Aku tersenyum lemah sambil menarik selimut menutupi tubuh telanjangku yang masih sensitif. Malam itu aku tidur dengan perasaan campur aduk lega malu dan anehnya semakin haus akan tantangan berikutnya.

Malam itu seminggu setelah video masturbasi yang membuatku semakin tenggelam dalam aplikasi Chindo Challenge notifikasi baru muncul lagi di ponselku saat aku sedang belajar di kamar. Tantangan kali ini jauh lebih berat dan mengejutkan yaitu kirim video persetubuhan dengan anggota keluarga sendiri dengan durasi minimal 30 menit yang harus terlihat jelas dan penuh. Bayarannya Rp2.000.000. Aku langsung merasa mual dengan tubuh gemetar hebat dan mata berkaca-kaca. Ini bukan lagi soal telanjang atau masturbasi sendirian tapi melibatkan orang lain yang tak lain keluarga dekatku sendiri.

Aku buru-buru menekan tombol tolak tapi aplikasi tidak langsung merespons. Beberapa detik kemudian banjir notifikasi datang bertubi-tubi. Peringatan tolak tantangan berarti pelanggaran kontrak. Semua foto dan video akan disebar ke media sosial email kontak dan nomor terdaftar. Kerahasiaan hanya berlaku jika patuh. Aku ingat betul saat mendaftar dulu aku harus menghubungkan semua akun medsos email dan nomor handphone karena verifikasi identitas. Sekarang ancaman itu terasa sangat nyata. Air mata mengalir di pipiku dengan aku ketakutan setengah mati. Dengan tangan dingin dan hati hancur aku akhirnya menekan Terima Tantangan. Maafkan aku Pa.. Ma.. ini demi kita semua bisikku sambil menangis pelan di kegelapan kamar.

Beberapa hari aku bingung setengah mati mencari cara tanpa harus melibatkan Mama atau Elisa. Papa adalah satu-satunya pilihan yang mungkin tapi bagaimana caranya. Aku tak mungkin bilang langsung. Hingga suatu malam hujan deras Papa pulang larut malam dalam keadaan setengah mabuk. Bau alkohol menyengat saat ia membuka pintu rumah. Mama dan Elisa sudah tidur lelap di kamar mereka. Aku sengaja tidak tidur berdiri di depan pintu kamarku yang sedikit terbuka hanya mengenakan baju tidur tipis merah yang sangat pendek tanpa bra sehingga payudaraku hampir transparan di balik kain. Rambutku dibiarkan tergerai dengan bibir diberi lipstik tipis.

Papa terhuyung masuk dengan matanya langsung tertuju padaku. 

"Elina kenapa kamu belum tidur suaranya parau dengan tatapannya mulai kabur tapi ada kilatan lain saat melihat tubuhku yang hampir tak tertutup. Aku mendekat pelan pura-pura membantu menopang tubuhnya yang limbung. Bau alkohol dan keringat bercampur tapi aku menahan diri. 

"Papa mabuk lagi ya.. nanti kalau ketahuan mama pasti akan marah besar. Mending papa istirahat dikamarku dulu sampai mabuknya bener bener hilang. Bisikku lembut dengan tanganku sengaja menyentuh dada bidangnya. Papa terangsang dengan tangannya tanpa sadar meraih pinggangku lalu meremas pelan melalui kain tipis. Nafasnya memburu. 

"Elina kamu cantik sekali malam ini gumamnya dengan suara serak. Aku menggigit bibir dengan hati hancur tapi tetap melanjutkan. 

"Jangan di sini pak.. aku takut dilihat mama.. papa masuk ke kamarku dulu aja.

Dengan langkah gontai Papa mengikutiku masuk ke kamar kecilku. Aku menutup pintu kamar dengan pelan dan mengunci dengan jantungku berdegup seperti mau meledak. Ruangan masih diterbangi lampu kamar. Aku mendorong Papa duduk di tepi ranjang lalu berdiri di depannya. Tangan Papa langsung meraih pinggulku menarikku mendekat hingga wajahnya berada di depan payudaraku. 

"Pa.. kalau emang papa mau.. lakukan aja.. tapi pelan pelan ya.. bisikku sambil air mata diam-diam mengalir. 

"Kamu bener bener anak yang pengertian Elina.. kamu tahu ngak ? papa tuh sudah lama banget gak dilayani sama mamamu..

Papa yang mabuk seolah lupa segalanya dengan tangannya naik ke payudaraku lalu meremas kasar melalui kain tipis membuatku mendesah kecil karena campuran sakit dan sensasi aneh. Aku melepas tali baju tidurku sendiri membiarkan kain itu jatuh ke lantai lalu berdiri telanjang di depan Papa. Matanya melebar melihat tubuh putih mulus putrinya sendiri.

Selanjutnya segalanya berjalan seperti mimpi buruk yang lambat. Papa menarikku ke ranjang dengan gerakan yang kurang stabil karena mabuk. Bibirnya menciumi leherku lalu turun perlahan ke payudaraku. Ia mengisap putingku dengan rakus sehingga membuatku berusaha menahan jeritan. Tanganku memegang kepalanya pura-pura membalas sentuhannya. Tangan Papa kemudian turun ke selangkanganku dengan jari kasarnya menyentuh klitoris lalu mencoba memasukkan ke dalam liang kewanitaanku yang masih kering karena ketakutan. Perlahan ia menggunakan ludahnya untuk membasahi agar lebih licin. Sebelumnya aku sudah mengambil ponsel diam-diam menyalakan rekam video dari sudut yang sudah disiapkan. Aku memastikan wajah Papa tidak terlalu jelas tapi tetap terlihat sebagai keluarga.

Papa mencoba memasuki tubuhku dengan dorongan pelan tapi kuat. Batang kejantanannya yang sudah keras sulit menembus liang kewanitaanku yang masih perawan dan sempit. Ia mendorong lagi namun karena kondisi mabuk gerakannya tidak terkoordinasi dengan baik. Batangnya hanya menggesek di luar pintu masuk beberapa kali tanpa berhasil masuk sepenuhnya. Papa mendesis kesal sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cara yang tidak tepat. Rasa sakit menusuk di area intimku karena tekanan yang berulang tanpa hasil. Aku menggigit bibir hingga berdarah sambil menahan desahan. Ahh.. Pa desahku dengan suaraku bergetar.

Papa terus mencoba lagi dengan napasnya yang memburu dan bau alkohol yang menyengat. Ia mengangkat pinggulku sedikit lebih tinggi lalu mendorong lebih keras. Kali ini kepala batangnya berhasil masuk sedikit ke dalam liang kewanitaanku yang sempit. Rasa perih dan penuh langsung menyengatku. Papa mendorong lagi dengan susah payah karena mabuk membuatnya kesulitan mengontrol kekuatan dan arah dorongan. Batangnya akhirnya menghujam lebih dalam setelah beberapa usaha yang lambat dan kasar. Setiap dorongan membuat tubuhku menegang karena campuran sakit dan sensasi aneh. Aku berusaha membalas gerakannya agar video terlihat wajar meski air mata mengalir pelan di sudut mataku.

Papa makin cepat memompa penisnya di dalam liang kewanitaanku. Gerakannya semakin kuat meski masih agak tidak stabil karena pengaruh alkohol. Setiap kali batangnya menghujam dalam tubuhku rasa penuh dan sakit bercampur menjadi satu. Tangannya meremasi buah dadaku dengan kasar sehingga payudaraku bergoyang-goyang mengikuti irama pompaannya. Sesekali ia merunduk lalu melumat bibirku dengan bibirnya yang basah oleh alkohol. Ia juga mencumbui leherku dengan gigitan kecil yang meninggalkan bekas merah. 

Aku berusaha menahan suara dengan menggigit bibirku sendiri tapi desahan kecil tetap keluar dari mulutku. Pinggulku naik turun pelan mengikuti gerakan Papa agar video terlihat alami. Papa mendesis dan mengerang pelan di telingaku karena kenikmatan. Tubuhnya yang berat menindihku semakin dalam setiap kali ia mendorong. Batang kejantanannya memompa tanpa henti dengan suara basah lendir kawin yang semakin terdengar jelas di kamar kecil itu. 

Papa terus menggenjotku dengan ritme yang semakin cepat. Tangannya mencengkeram pinggulku kuat-kuat untuk menahan tubuhku agar tetap di tempat. Ia sesekali meremas buah dadaku lagi lalu memilin puting susuku yang sudah mengeras. Nafasnya panas dan memburu di leherku. Aku merasakan kejantanan Papa semakin membesar di dalam liang kewanitaanku. Sensasi aneh mulai tumbuh di perut bawahku meski hati masih menangis. Papa melumat bibirku lagi dengan lebih rakus sambil terus memompa tanpa berhenti. 

Gerakan itu berlangsung lama hingga keringat bercampur di antara tubuh kami. Papa semakin brutal dalam mabuknya dengan setiap dorongan batangnya menghantam dalam-dalam. Aku mendesah dan melenguh pelan sambil memegang punggungnya. 

Papa kemudian menarik tubuhku dan membalikkan posisiku ke doggy style di atas ranjang. Aku berlutut dengan kedua tangan bertumpu di kasur. Wajahku mengarah langsung ke kamera yang masih merekam di sudut kamar. Punggungku melengkung dan bokongku terangkat tinggi ke belakang. Papa berlutut di belakangku lalu memegang pinggulku dengan kedua tangan. Ia mendorong batang kejantanannya yang masih keras kembali ke dalam liang kewanitaanku dari belakang. Dorongan itu masuk lebih dalam daripada sebelumnya karena posisi ini. 

Papa mulai memompa lagi dengan ritme cepat. Setiap kali batangnya menghujam masuk sepenuhnya pantatku bergoyang dan beradu dengan perutnya. Aku menggigit bantal di depanku untuk menahan suara yang keluar dari mulutku. Wajahku terlihat jelas di kamera dengan mata setengah terpejam pipi memerah dan bibir yang sedikit terbuka. Papa meraih rambut hitamku lalu menariknya pelan sehingga kepalaku mendongak. Gerakannya semakin kasar dan brutal. Tangan kanannya sesekali meraih buah dadaku dari samping lalu meremasnya kuat-kuat sambil terus menggenjot liang kewanitaanku tanpa henti. 

Suara kecipak lendir kawin dan tabrakan kulit terdengar jelas di kamar kecil itu. Aku mendesah dan melenguh lebih keras meski berusaha menahannya. Sensasi aneh di selangkanganku semakin kuat setiap kali kepala penis papa menghantam titik sensitif di dalam tubuhku. Akkkkh.. tubuhmu nikmaatt sekalii elinaa.. Papa mengerang serak di belakangku dengan napasnya yang semakin memburu. Ia memompa lebih cepat dan dalam di posisi doggy ini. Pantatku yang montok bergoyang hebat mengikuti setiap dorongan kasarnya. Wajahku tetap mengarah ke kamera dengan ekspresi campur aduk antara sakit kenikmatan dan air mata yang mengalir pelan. 

Papa terus menggenjotku lama di posisi itu. Tubuhnya menempel rapat di punggungku sambil tangannya mencengkeram pinggulku kuat-kuat. Akhirnya ia mendesis keras lalu melepaskan air mani panas yang menyembur dalam-dalam ke liang kewanitaanku. Tubuhku gemetar hebat saat merasakan lendir hangat itu memenuhi diriku. Papa ambruk di punggungku dengan napas tersengal. Aku berlutut lemas di atas ranjang dengan wajah masih menghadap kamera dan tubuh yang basah keringat.

Setelah beristirahat sejenak Papa yang masih mabuk kemudian merapikan pakaiannya sendiri lalu keluar dari kamar tidurku dengan langkah gontai. Aku membersihkan diri pelan di kamar mandi setelah ia pergi. Air hangat mengalir di tubuhku yang masih terasa sakit di area intim. Aku membersihkan sisa air mani Papa yang masih menetes dari liang kewanitaanku dengan tangan gemetar. 

Setelah itu aku duduk di depan ponsel yang masih merekam dan mulai mengedit video secukupnya. Aku memotong bagian awal dan akhir agar durasi tetap di atas tiga puluh menit tapi tetap terlihat lengkap. Tangan mati rasa saat aku memastikan wajah Papa terlihat sebagai ayahku tanpa terlalu jelas. Setelah selesai aku mengunggah video itu ke aplikasi Chindo Challenge dengan perasaan hampa.

Tak lama kemudian notifikasi masuk ke ponselku. Uang dua juta rupiah sudah ditransfer ke rekening. Aku melihat angka itu di layar tapi tidak ada rasa senang sama sekali. Malam itu aku meringkuk di sudut kamarku dengan selimut menutupi tubuh. Air mata mengalir tanpa suara di pipiku. Tubuhku terasa sakit terutama di liang kewanitaanku yang masih perih dan bengkak setelah digenjot Papa dengan kasar. Jiwa hancur karena apa yang baru saja terjadi dengan ayahku sendiri di kamarku ini. Aku tahu setelah ini tidak ada jalan kembali lagi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Budak Napsu Sopir Bus Antarkota

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Kisah Tragis Dibalik Pudarnya Kajayaan Pertokoan Glodok

Draft Pemburu Amoy Pecinan

Draft Aku Rela Dijadikan Budak Seks Saat Hamil

Draft Rahasia Dibalik Seragam Sekolah

Amarah Para Buruh

Draft Preman Tanah Abang

Amarah Para Buruh 4

Draft Arisan sosialita Yang Brutal