Langsung ke konten utama

Nikmatnya Tubuh Tante Rena

Perkenalkan namaku Ronald. Keluarga kami keturunan Tionghoa. Ini benar-benar pengalaman yang tak akan terlupakan bagiku. Ceritanya baru terjadi enam bulan yang lalu. Aku tinggal bersama orang tuaku dan Tante. Tanteku ini adalah adik ibuku yang perempuan. Namanya Tante Rena berusia 28 tahun dan suaminya berusia 30 tahun. 

Waktu itu orang tuaku pergi ke Palembang dengan naik mobil. Yang mengemudikan kendaraan tersebut adalah suami Tante Rena. Mereka berencana pergi ke Palembang selama satu minggu karena saudara papaku mau menikahkan anaknya. Tante Rena tidak ikut pergi karena kalau pergi jauh dia sering mabuk. Jadinya aku tinggal di rumah hanya bersama Tante Rena saja. 

Tante Rena bisa dibilang sempurna. Mukanya cantik dan kulitnya putih khas wanita Tionghoa. Tingginya 165 sentimeter dengan berat badan 47 kilogram. Ukuran BHnya 38B. Aku sering melihat BH itu waktu main di jemuran karena kami tinggal satu rumah jadi aku tahu betul. Tante Rena juga bisa dibilang seorang eksibisionis karena dia gemar pakai baju seksi jika pergi keluar. Waktu itu Tante Rena sedang belanja ke supermarket di depan perumahan. Karena aku merasa bosan di kamar aku pun melihat koleksi film dewasa di smartphoneku.

Filmnya sangat menarik. Bokep Jepang yang bintangnya mirip dengan Tante Rena yang bertubuh sintal dan punya gairah tinggi. Aku tak tahan lagi karena batangku sudah berdiri maximal. Menurutku panjangnya 17 sentimeter dan diameternya 2,5 sentimeter. Aku kocok-kocok sendiri pakai tangan selama 30 menit. Aku gosok dan kocok terus hingga spermaku keluar banyak sekali. Namun senjataku ini tidak lembek sama sekali. Ia masih tetap berdiri tegang dan berdenyut-denyut penuh gairah. Aku lihat film itu dan adegannya semakin hot sehingga hasratku semakin membara. Aku bayangkan Tante Rena yang sedang berada di supermarket itu sedang berjalan dengan rok mini dan blus ketat yang menonjolkan buah dadanya. Pikiranku semakin liar karena aku tahu Tante Rena suka pamer tubuhnya lewat pakaian seksi yang ia kenakan. Hal itu membuat batangku semakin keras dan aku terus mengocoknya dengan nafsu yang tak tertahankan.

Tak lama kemudian kudengar suara pintu depan rumah terbuka. Sepertinya Tante Rena baru pulang dari supermarket dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur belakang rumah. Waktu aku lewat di depan kamarnya pintunya agak terbuka sedikit. 

Waktu itu aku sedang sangat bergairah dan batangku masih berdiri tegang di dalam celanaku. Lalu aku lihat Tante Rena hanya menggunakan rok mini dan blus warna pink di dalam kamarnya. Tante Rena sedang memainkan smartphone dan mendengarkan musik sambil berbaring menelungkup di ranjangnya. Pantatnya yang semok terlihat sangat menggairahkan dan ingin sekali rasanya kutepuk lalu kuremas-remas dengan kasar. Kulit putihnya yang mulus dan rok mini yang naik ke atas semakin membuat batangku berdenyut penuh nafsu. 

Karena saat itu aku sedang sangat bergairah maka aku tak pikirkan lagi Tante Rena itu siapa. Yang penting aku bisa menyalurkan hasratku. Aku masuk diam-diam ke dalam kamar Tante Rena. Aku kunci pintu dari dalam lalu kuncinya aku taruh di bawah meja rias. Sepertinya Tante Rena belum sadar bahwa aku sudah di dalam kamarnya. Aku berdiri sebentar di belakang pintu sambil menikmati pemandangan pantatnya yang terpampang jelas dan aku rasakan birahiku semakin membara hingga sulit dikendalikan.

Dengan perasaan berdebar aku pun mulai mendekat ke ranjang sambil memandang ke arah bongkahan pantatnya yang sangat semok. Aku menelan air liurku sambil membayangkan betapa nikmat tubuhnya jika sedang kusetubuhi. 

Tante Rena masih asik memainkan handphonenya. Aku memberanikan diri untuk menyentuh dan meremas pantatnya yang seksi. Tante Rena pun kaget dan mencari tahu siapa yang telah berbuat kurang ajar padanya. Ketika ia menoleh Tante Rena memandangi wajahku lalu turun dari ranjang. 

"Apa yang kamu lakukan Ron ! Jangan kurang ajar ya ! ucap Tante Rena sambil menepis tanganku. 

"Tante aku cuman pengin diajarin ML aja kok. jawabku. 

"Sadar Ron kamu tuh ponakanku tau !! ujarnya. 

"Ayo lah sebentar aja kok Tante mumpung di rumah lagi sepi nih. ujarku. 

"Jangan Ron !! Nanti kulaporkan sama ortumu ya !! ancamnya. 

"Ahh masa bodo. Salah sendiri kenapa Tante sering pakai baju seksi bikin aku jadi nafsu. jawabku. 

Aku robek dengan kasar blusnya dan terlihatlah buah dadanya yang ranum dan berisi di dalam BH berwarna hitam. Dia menjerit saat akan kuperkosa tapi malah membuatku semakin bernafsu untuk segera menggarapnya. Ia terus meronta lalu aku tarik kedua tangannya ke arah belakang dan kuikat dengan sehelai kain selimut kecil yang ada di kamarnya.

Dengan perasaan berdebar aku pun mendorong tubuhnya hingga menelungkup di atas ranjang dengan kedua tangan yang masih terikat ke belakang. Aku angkat sedikit pinggangnya hingga menungging kemudian aku singkap rok mininya ke arah atas dan mulai elus-elus selangkangannya hingga dia mendesis. 

"Shhhhh jaaaannnggaaannn diiittt shhhhhhhh… sssshhh… aaahhhh… 

dan ternyata tanpa terduga celana dalamnya lama-lama mulai basah. 

Aku lepas rok mini yang dikenakannya dan juga celana dalamnya lalu aku lucuti semua pakaian yang masih melekat di tubuh kami berdua hingga kini kami dalam keadaan polos tanpa busana lagi. Batangku semakin menegang saja ketika melihat dirinya dalam posisi menungging di hadapanku. Badannya yang mulus semakin membakar birahiku karena sudah cukup lama aku mengagumi kemolekan tubuhnya. 

"Siap ya Tante. Aku mau masukin sekarang nih !! ujarku sambil menggesek-gesekkan batangku pada kemaluannya. 

"Jangan Ron !! Jangan lakukan !! ucap Tante Rena sambil meronta lagi. 

Aku mulai mendorong batangku ke dalam kemaluannya dan rasanya pertama memang sempit tapi lama-lama vaginanya dapat menerima batangku. Slop slop sloppp slop slop aku masukkan dan keluarkan berkali-kali hingga Tante Rena merintih-rintih keenakan. 

"Aahh pelan-pelan Ron sakit… ujarnya. 

"Makanya Tante nikmati saja biar gak sakit. ujarku sambil terus menggenjotnya. 

Sodokan batangku semakin lama semakin cepat dan keras hingga membuat tubuhnya tersentak-sentak di atas ranjang tempat tidurnya. Sepertinya Tante Rena tak pernah menyangka kalau ranjang itu akan menjadi tempat persetubuhan terlarang denganku. Lama kelamaan Tante Rena semakin pasrah dan sudah tak melakukan perlawanan lagi hingga aku dapat dengan leluasa menikmati tubuhnya. 

Aku terus menggenjotnya dari arah belakang sambil sesekali meremasi buah dadanya yang indah. Tak lama kemudian aku tarik kedua tangannya yang terikat tadi hingga tubuhnya tertarik ke belakang seperti sedang menduduki kedua pahaku sedangkan batangku masih tertanam di kemaluannya. 

Tubuhku kini seperti sedang memangkunya dari belakang lalu aku hentakkan pinggulku dengan kuat dari arah bawah hingga tubuhnya terlonjak-lonjak. Kedua tanganku memegangi pundaknya sambil aku hentak-hentakan tubuhnya di atas pangkuanku. Rambut Tante Rena yang panjang mengibas ke sana kemari ketika sedang kusetubuhi dengan penuh nafsu dan sesekali aku ciumi aroma harum rambutnya yang segar. 

Aku merasa seperti sedang bermimpi karena bisa merasakan lezatnya tubuh Tanteku yang cantik itu. Aku makin bernafsu lalu aku singkap rambutnya dan cumbui bagian samping lehernya dari arah belakang. 

"Ahhhh sshhh…. Akuu udah gak tahannn Ditt.. ohhh…. ujarnya sambil menceracau. 

Beberapa saat kemudian aku rasakan otot tubuhnya mulai agak menegang dan akhirnya ia pun mencapai puncak orgasmenya hingga tubuhnya melejang-lejang di atas pangkuanku. Aku hentikan sementara pompaanku sambil mendekap erat tubuhnya dari arah belakang dan aku rasakan tubuhnya terus bergetar dan cairan cintanya mengalir keluar membasahi batang kemaluanku. 

"Ouhhh shhhh… aku keluarrr Ditt… sshhh…. ujarnya sambil melejang-lejang. 

Sepertinya Tante Rena mulai menyukai persetubuhan terlarang ini hingga aku tambah semangat untuk melanjutkan usahaku menggarap tubuhnya. Cukup lama aku bertahan sambil terus menggenjotnya lalu aku putuskan untuk membuka ikatan pada kedua tangannya dan membaringkannya di atas ranjang dengan posisi telentang. 

Aku merasa sudah yakin kalau Tante Rena sudah jatuh dalam kepuasan hingga ia terlihat pasrah ketika aku kembali menggarap tubuhnya dengan sangat buas. Aku kembali menyusu pada buah dadanya sebelum akhirnya aku lanjutkan menggenjot tubuhnya di atas ranjang. 

Kedua pahanya yang terbuka lebar semakin memudahkan diriku untuk terus memompanya hingga badanku kini sudah basah kuyup oleh keringat persetubuhan liar tersebut. Beberapa saat kemudian aku rasakan kepala penisku seperti berkedut dan akan mengeluarkan sesuatu. Aku percepat pompaanku hingga akhirnya aku hentakkan pinggulku kuat-kuat dan tumpahlah cairan spermaku di dalam liang kewanitaannya. 

Crot crot crot berkali-kali spermaku menyembur keluar dan memberiku sebuah kenikmatan yang luar biasa. Tubuhku terasa lemas dan aku pun menelungkup di atas tubuhnya lalu kami pun berciuman dengan mesra seperti sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta. Aku masih lemas dan terus menciumi bibir Tante Rena yang merah merona. Aku cumbu dia dengan permainan lidah dan dia bereaksi membalas ciumanku dengan ganas karena aku masih agak punya tenaga. Aku tunggingkan Tante Rena dan aku lancarkan serangan dengan gaya doggy style. Permainannya cuman bertahan 30 menit. 

Kami tertidur selama tiga jam. Ketika aku bangun Tante Rena sedang make-up di depan meja rias dan dia tanya di mana kuncinya karena mau pergi ke arisan dulu. Aku berikan kuncinya ke Tante Rena dan akhirnya ia pergi. Aku mandi dan kembali ke kamarku. Lalu aku lihat ada obat perangsang sehingga tiba-tiba keluar ide jahilku. Jam tujuh malam Tante Rena kembali ke rumah. Aku buatkan dia teh hangat dengan campuran obat perangsang. Aku kembali ke kamar bersiap-siap karena pasti Tante Rena akan ke kamarku. Memang benar Tante Rena datang ke kamarku lima menit kemudian. Aku sudah telanjang dan dia membuka seluruh pakaiannya. Aku tarik dia ke ranjang dan cumbu dia dengan ganas. 

Kami tertidur selama tiga jam. Ketika aku bangun Tante Rena sedang make-up di depan meja rias dan dia tanya di mana kuncinya karena mau pergi ke arisan dulu. Aku berikan kuncinya ke Tante Rena dan akhirnya ia pergi. Aku mandi dan kembali ke kamarku. Lalu aku lihat ada obat perangsang sehingga tiba-tiba keluar ide jahilku. Jam tujuh malam Tante Rena kembali ke rumah. Aku buatkan dia teh hangat dengan campuran obat perangsang. Aku kembali ke kamar bersiap-siap karena pasti Tante Rena akan ke kamarku. Memang benar Tante Rena datang ke kamarku lima menit kemudian. Aku sudah telanjang dan dia membuka seluruh pakaiannya. Aku tarik dia ke ranjang dan cumbu dia dengan ganas. 

Kali ini Tante Rena terlihat lebih agresif karena obat perangsang mulai bekerja. Dia buka pakaiannya sendiri dengan cepat lalu naik ke atas tubuhku. Tante Rena duduk di pangkuanku dan langsung memegang batangku yang sudah keras dengan tangannya. Ia gesek-gesekkan batangku pada kemaluannya yang sudah basah lalu pelan-pelan ia turunkan tubuhnya hingga batangku masuk sepenuhnya ke dalam liang kewanitaannya yang hangat. 

Tante Rena mulai melonjak-lonjak tubuhnya di atas tubuhku yang telentang di ranjang. Gerakannya semakin cepat dan kuat. Buah dadanya yang ranum bergoyang-goyang liar setiap kali ia naik turun dengan penuh nafsu. Aku pegang pinggulnya yang lebar sambil menikmati sensasi liang kewanitaannya yang memijat batangku dengan kuat. 

"Ahhh enak sekali Ron… kontolmu besar sekali… ucap Tante Rena sambil mendesis dan terus menggenjot dirinya sendiri di atas tubuhku. 

Tante Rena semakin brutal. Ia menekan kedua tangannya di dada ku lalu mempercepat lonjakan tubuhnya. Paha mulusnya mengepit pinggangku erat. Suara benturan daging kami terdengar keras di dalam kamar. Aku meremas buah dadanya yang bergoyang-goyang sambil sesekali mencubit puting susunya yang mengeras. 

Tante Rena melenguh dan mengerang semakin keras. Ia semakin agresif dengan memutar pinggulnya dan menggoyang tubuhnya ke depan belakang sehingga batangku terasa semakin dalam menyodok liang kewanitaannya. Keringat kami berdua bercampur dan aroma tubuhnya semakin memabukkan. Aku tak bisa diam saja sehingga aku angkat pinggulku dari bawah untuk menyodok balik ke arah atas setiap kali ia turun. 

"Ohh… iya… seperti itu… genjot Tante lebih dalam… ujarnya sambil menjerit keenakan dan terus menunggangi batangku dengan liar. 

Kami terus bercinta dengan posisi ini cukup lama hingga Tante Rena mencapai orgasme pertamanya. Tubuhnya mengejang hebat dan cairan cintanya menyembur membasahi batangku. Tante Rena ambruk menindih tubuhku yang telentang. Aku dekap kuat badannya yang basah oleh keringat lalu aku hentakan penisku berulang kali dari bawah sambil melumat bibirnya dengan ganas. Lidah kami saling berputar dan saling hisap dengan penuh birahi.

Kami berguling di ranjang beberapa kali hingga akhirnya tubuh Tante Rena berada di bawah dan aku berada di atasnya. Aku genjot sekuat tenaga dengan sodokan batangku yang kasar dan brutal. Setiap hentakan membuat buah dadanya bergoyang-goyang liar. Tante Rena menjerit dan melenguh tanpa henti. Ia memeluk punggungku erat dan mencakar kulitku karena kenikmatan yang melanda. 

Aku terus memompa liang kewanitaannya dengan cepat dan dalam. Suara benturan tubuh kami memenuhi kamar. Tak lama kemudian Tante Rena klimaks lagi. Tubuhnya mengejang hebat untuk kedua kalinya. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut kuat dan menyemprotkan cairan cintanya sekali lagi membasahi seluruh batangku. Ia mendesis dan mengerang panjang sambil matanya terpejam menikmati gelombang orgasme yang datang bertubi-tubi. 

Aku masih belum puas sehingga aku angkat kedua kakinya ke atas bahuku lalu aku genjot semakin brutal di posisi itu. Batangku menghujam dalam-dalam ke liang kewanitaannya yang sudah penuh cairan. 

"Aaakkhh.. iyaaa... terusss ronn.. masukin lebih dalaamm... Uuunghh..

Tante Rena hanya bisa melenguh dan merintih keenakan tanpa daya karena tubuhnya sudah lemas oleh kenikmatan berulang. 

Akhirnya aku merasa sudah tidak tahan lagi. Batangku berdenyut-denyut kuat dan kepala penisku terasa panas. Aku tarik batangku keluar dari liang kewanitaannya dengan cepat lalu aku naik ke atas wajahnya. Aku kocok batangku beberapa kali dengan tangan dan tak lama kemudian aku klimaks. Spermaku menyembur keluar berkali-kali dan mengenai wajah Tante Rena yang cantik. Peju panas itu mengenai pipinya bibirnya dan bahkan sedikit masuk ke mulutnya yang terbuka karena sedang mengerang. Tante Rena menutup mata sambil menerima semuanya dengan napas yang tersengal-sengal. Aku gosok-gosok ujung batangku di wajahnya untuk mengeluarkan sisa-sisa sperma hingga akhirnya tubuhku terasa sangat lemas. Kami berdua terbaring di ranjang sambil berusaha mengatur napas yang masih memburu.

Setelah itu aku turun dari atas tubuhnya lalu Aku ambil tisu di meja samping ranjang lalu aku bersihkan wajahnya yang penuh spermaku dengan hati-hati. Tante Rena tersenyum kecil dan membuka mata perlahan. Ia memeluk pinggangku erat dan menyandarkan kepalanya di dada ku.

"Kamu nakal sekali Ron… tapi enak… ucap Tante Rena dengan suara lemah sambil mencium dada ku. Aku balas pelukannya lebih erat dan usap punggungnya pelan-pelan. Kami berbaring bersama dalam diam sambil saling memeluk. Tak lama kemudian aku ambil selimut lalu tutup tubuh kami berdua. Tante Rena meringkuk di pelukanku seperti anak kecil yang mencari kehangatan. Aku usap paha mulusnya dan buah dadanya dengan gerakan pelan agar ia merasa nyaman.

Kami tertidur dalam pelukan yang hangat selama beberapa waktu. Sesekali aku cium rambutnya dan bisikkan kata-kata manis di telinganya. Tante Rena hanya tersenyum dan semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Malam itu kami menghabiskan waktu dengan saling memeluk dan berbicara pelan tentang betapa nikmatnya pengalaman terlarang yang baru saja kami lakukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Budak Napsu Sopir Bus Antarkota

Draft Kisah Tragis Dibalik Pudarnya Kajayaan Pertokoan Glodok

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Pemburu Amoy Pecinan

Draft Pemburu Amoy Pecinan 2

Draft Rahasia Dibalik Seragam Sekolah

Amarah Para Buruh 4

Draft Arisan sosialita Yang Brutal

Draft Barang Jarahan