Semakin lama wilayah yang terdampak kerusuhan dikota kecil tsb semakin luas saja. Beberapa daerah dipusat kota yang terkenal sangat elite dan menjadi pusat bisnis pun tak luput dari terjangan brutal massa perusuh yang sedang mengamuk.
Sebagian besar warga kota tentu tak menyangka kalau aksi demo para buruh pabrik disejumlah tempat, yang awalnya berlangsung damai dipinggiran kota tiba tiba berubah menjadi suatu aksi massa anarkis yang merambat ke pusat kota dan tak bisa dikendalikan lagi.
Sebagai akibatnya situasi di kota kecil itu yang biasanya terlihat tenang dan damai kini menjadi kacau balau seperti sebuah kota yang sedang dilanda peperangan hebat, dimana para provokator kerusuhan yang sebagian besar berasal dari luar kota bebas mengamuk dan mengacak acak semua fasilitas umum yang ada, dan parahnya lagi mereka pun berupaya menghasut para warga miskin yang tinggal dibantaran kali dan pemukiman kumuh untuk ikut merusak dan menghancurkan semua yang ada, termasuk menjarah rumah, merampok tempat usaha secara terang terangan dan membakar kendaraan yang melintas dijalanan.
Tingginya kesenjangan ekonomi dan gagalnya proses pembauran dimasyarakat, antara kaum pendatang yang sebagian besar berkedudukan sosial tinggi dengan kaum pribumi kota tsb yang rata rata hidup dibawah garis kemiskinan membuat kecemburuan sosial dan tingkat kebencian semakin meningkat, sehingga ketika mendapatkan provokasi massa yang bersifat anarkis seperti ini, maka para warga kota yang sebagian besar berpendidikan rendah akan dengan mudah tersulut emosinya.
Berbeda dari kebanyakan orang yang terlihat cemas dan ketakutan, pak Naryo malah merasa puas sekali karena dengan adanya peristiwa kerusuhan ini, diapun dapat dengan mudah mewujudkan salah satu fantasi seksual esktrim terhadap anak majikannya yang putih dan sipit tsb.
Seperti yang diceritakan sebelumnya kalau pak Naryo memang sangat terobsesi dengan penampilan anak majikannya yang berparas oriental dan sangat innocent tsb. Baginya Lusi tak lebih dari sekedar boneka seks pemuas napsu yang sudah dikodratkan untuk dijadikan objek pelampiasan napsu para pria pribumi rendahan seperti dirinya. Berbagai skenario untuk merendahkan dan menghancurkan kehormatan majikannya sudah sering dilakukan olehnya diberbagai tempat umum namun dari semua kejadian yang telah terjadi, skenario kerusuhan inilah yang paling memuaskan dirinya.
Setelah puas mewujudkan fantasi seksual ekstrim terhadap putri majikannya yang putih dan sipit tersebut kemudian pak Naryo menyeret Lusi ke pinggiran jalan yang sepi dan jarang dilalui orang.
Sesaat buruh itu mengamati keadaan disekelilingnya yang masih kacau balau, dimana banyak sekali kendaraan yang rusak dan dibakar massa ditengah jalan seolah menunjukkan betapa beringasnya para perusuh yang ada ditempat tsb. Akan tetapi dari semua kejadian anarkis yang terjadi disana, ada suatu hal yang menarik perhatian pak Naryo.
Ketika sedang terpana menyaksikan kehancuran kota tiba tiba buruh itu dikejutkan dengan kedatangan sebuah truk besar yang mengangkut banyak orang. Tak lama kemudian turunlah sejumlah massa tak dikenal yang memakai penutup kepala berwarna hitam dari atas truk dan langsung menyerbu kedalam sebuah gedung megah yang juga menjadi kantor pusat dari salah satu bank swasta ternama dikota tsb.
Berbeda dari massa perusuh lainnya yang bertindak secara spontan dan liar, kelompok tak dikenal ini terlihat sangat militan dan terorganisir serta memiliki misi yang tak biasa. Dengan membawa sejumlah senjata tajam berupa kapak berwarna hitam dan sebagian lagi menggenggam senjata api rakitan kemudian mereka pun menyerbu masuk kedalam gedung berlantai tiga puluh tsb.
"Eh, tuh ada satu lagi !! Lu cina ya ? Muka lo pucat kayak patung lilin. Lu takut, hah ?!! Kata seorang perampok bank sambil menunjuk dengan tongkat kayu ketika melihat Erika bersembunyi dibawah meja kerjanya.
"Tolong... saya cuma pegawai biasa... saya enggak punya akses ke brankas. Kata Erika berusaha tenang tapi suaranya terdengar gemetar.
"Halah! Biasa, cina pura-pura lugu! Gaya lo kayak anak baik, padahal nyimpen rahasia bos lo yang maling duit rakyat !! Kata perampok bank sambil mengejek.
"Enggak bang.. Saya juga mulai kerja dari bawah... Malahan kuliah sambil kerja... tolong jangan apa apain saya bang... Sahut Icha ketakutan.
"Kerja dari bawah katanya. Di mana? Di kafe elite? Atau di toko bokap lo yang udah nyedotin duit warga kampung sini ?! Kata seorang perampok seraya mendekat dan menatap tajam.
"Lo pikir kami nggak muak? Tiap hari lihat cina-cina pamer tas mahal, nyetir mobil bagus, dan senyum sok suci kayak lo !!
"Itu bukan saya bang... keluarga saya bukan orang kaya dan hidup sederhana... Please jangan apa apain saya bang. Sahut Icha sambil terisak.
Keadaan di lobi kantor bank pun semakin kacau, beberapa kursi yang biasa dipakai untuk tempat duduk nasabah bank pun dilempar seenaknya oleh para penjarah bahkan layar monitor komputer yang ada diatas meja juga ikut dijatuhkan, dokumen berserakan dan asap dari kendaraan yang terbakar diluar gedung mulai menyusup dari luar.
"Tolong... saya... saya juga orang sini... saya lahir di kota ini. Kata Trisya sambil menunduk dengan suara tercekat.
"Lahir di sini ?!! Tapi otak dan kantong lo masih di Tiongkok sana ! Lo semua gak pernah anggap kami saudara sebangsa !! Katanya sambil mengejek kasar.
"Berapa kali lo senyum palsu ke orang miskin yang datang ke sini buat tarik duit 200 ribu terakhir mereka? Lo kira kami gak tau lo semua ngomongin kami di belakang?!"
Bentak perampok sambil menghantam meja dengan tongkat kayu.
"Saya gak pernah begitu... saya bantu nasabah tiap hari... saya cuma kerja... saya capek juga, saya bukan siapa-siapa.. sahut Icha yang menggeleng lemah dan air matanya mengalir.
"Terlalu gampang buat kalian minta simpati. Tapi giliran kami yang susah? Lo tutup mata! Lo bantu bos lo sembunyiin duit mereka di luar negri. Kata penjarah bank lainnya.
![]() |
| Vivi Angelica |
![]() |
| Michelle Vallerie |
Lokasi: Kantor lantai 35, suasana terlihat kacau karena kerusuhan di luar jendela. Bunyi Sirine meraung di kejauhan dan Michelle terlihat panik. Saat itu didalam ruangan kantor ada tiga orang pengawal, termasuk satu bernama Roy yang terlihat paling tenang dan masih berusia muda.
"Kayaknya keadaan diluar sana makin kacau Roy !! Malah udah ada perusuh yang bakar mobil segala. Itu kan deket banget sama lobby !! Kata Michelle yang berjalan gelisah kedekat jendela.
"Tenang aja non Michelle. Satu jam yang lalu kami sudah koordinasi dengan satpam digedung ini. Kata mereka Lift dan tangga darurat sudah aman dan ditutup semua. Mending non jangan terlalu dekat ke jendela karena apapun bisa terjadi dalam situasi kacau seperti ini. Sahut Roy yang merupakan koordinator pengawalan.
"Kalian yakin sudah aman ?!! Kenapa polisi belum naik keatas ??!! Terus papa lagi dimana ?!! Kenapa papa gak angkat teleponku ?!! Tanya Michelle dengan suara yang semakin panik.
"Saya denger sih Pak Richard masih dalam perjalanan ke luar negri karena urusan bisnisnya. Lebih baik kita fokus saja pada keselamatan Nona sekarang. Jika semuanya sudah siap kami akan bawa nona keluar dari sini dalam waktu satu jam. Sahut Roy yang sepertinya sudah merencanakan sesuatu.
"Apa !! satu jam !!? Kalian ini bisa kerja gak sih. Masa ngurus begitu aja perlu satu jam.
Itu kan terlalu lama !! Kalau massa sampai naik keatas gimana. Keamanan gedung ini kan bisa tembus juga !! Bentak Michelle
"Nona Michelle… kadang ketakutan bikin kita ngelakuin hal-hal bodoh. Tapi jangan khawatir, saya dan tim sudah tahu apa yang harus dilakukan. Percayalah pada saya. Kata Roy yang menatapnya tajam sesaat lalu tersenyum tipis.
"Please jangan tinggalin aku Roy. Aku.. aku takut banget... Kata Michelle sambil menggenggam lengan Roy.
"Non Michelle tenang aja. Saya gak akan tinggalin non sebelum semuanya selesai. Sahut Roy sambil membungkuk pelan dan berbicara lirih.
Michelle sepertinya tak menyadari nada sinis yang disembunyikan Roy di balik ucapannya. Ia berjalan kembali ke meja dan mengambil ponsel. Pak Roy melirik pengawal lain dan mengangguk pelan seolah memberikan sebuah isyarat rahasia.
"Why the back ? The lobby is much closer !!
Kenapa harus lewat belakang ? Lobby kan lebih dekat ?!! ) Kata Michelle menanggapi.
"Justru karena itu. Massa pasti udah kepung bagian depan. Ini satu-satunya jalan yang aman. Sahut Roy.
Awalnya Michelle terlihat ragu-ragu tapi akhirnya mengangguk dan menuruti perkataan pengawalnya."Baiklah… tapi kamu harus di dekatku terus. Kata Michelle.
"Dengan senang hati, Nona. Lagipula… saya sudah terlalu lama kerja di sini dan tidak akan melewatkan momen ini. Kata Roy sambil menunduk sopan.
Nona Michelle. Ayahmu telah mengecewakan kami dan berencana memutus kontrak kami begitu saja. Menurutmu, apa yang sebaiknya kami lakukan untuk membalasnya?!! Kata Jackson yang badannya hitam kekar serta tinggi besar.
Perkataan itu membuat Michelle tersentak kaget namun Roy yang menatapnya dengan bengis mulai berjalan pelan kearahnya.
Roy.. jangan !! mau apa kamu.. jangan mendekaatt !! Kata Michelle sambil menggelengkan gelengkan pelan kepalanya.
Selama ini kami sudah cukup sabar ketika non Michelle memaki dan menghina kami. Tapi sebelum ayah non memutuskan kontrak kerja ini, kami akan mengambil semuanya sampai tak bersisa !! Kata Roy yang matanya dipenuhi napsu birahi.
Tanpa diperintah para pengawal bertubuh hitam legam itu pun langsung menyergap Michelle dari belakang, menyeretnya dengan kasar ketengah ruangan dan menelikung keduanya tangannya kebelakang hingga tak berkutik.
"Let me go!! What do you want from me?!
Lepaskan aku!! Apa yang kalian inginkan dariku?!
"Don't be afraid, Miss Michelle... We just want to have a little fun with you
"Jangan takut, Nona Michelle... Kami cuma ingin sedikit bersenang-senang denganmu.
Michelle sadar kalau para pengawalnya itu sangat tertarik dengan kemolekan tubuhnya namun Michelle tentu tak akan menyerah begitu saja dan berusaha mempertahankan kehormatannya.
"Ampun Roy.. jangan sakiti saya.. saya akan lakukan apapun yang kamu mau tapi tolong jangan lakukan hal itu padaku !! Jerit Michelle yang mencoba bernegosiasi.
"Baiklah aku tak akan menyakitimu asalkan kamu berjanji tak akan menghentikan kontrak kerja kami sebagai pengawal dan menuruti semua perintah yang kami berikan. Gimana ?!! apa kamu bersedia ?
Iii..yaaa aku bersedia menurut sama kalian tapi tolong jangan apa apain saya. Rengek Michelle.
"Release her. We’ll talk this out.
Lepaskan dia. Kita akan bicarakan ini secara baik-baik. Perintah Roy yang kemudian dituruti oleh para pengawal negronya.
Michelle merasa sedikit lega setelah mendengar hal ini karena setidak tidaknya dia sudah berhasil mempertahankan kesuciannya sebagai seorang gadis perawan putri seorang konglomerat ternama.
Baiklah. Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah mentransfer sedikit uang kerekening pribadiku. Jumlah tak banyak cukup sepuluh milyar untuk permulaan. Kata Roy.
Jangan gila kamu Roy. Sepuluh milyar itu bukan jumlah yang kecil. Apa kamu ingin memerasku ?!!
"Ten billion means nothing compared to your virginity.
Sepuluh milyar tak berati apa apa dibandingkan keperawananmu nona. Celetuk Jackson yang sudah lama ingin menikmati tubuh Michelle.
Michelle benar benar tak punya pilihan lain kecuali menuruti perintah itu. Dengan menggunakan smartphonenya dan fasilitas tanpa batas dari dunia perbankan kemudian gadis muda itu pun mencoba melakukan transfer uang secara online.
Haha.. gadis pintar !! Ternyata mencari uang memang tak sesulit yang kubayangkan. Kata Roy sambil mengelus rambut Michelle dan tersenyum licik setelah mengetahui rekeningnya sudah mendapatkan sejumlah uang yang nilainya sangat fantastis.
Kamu sudah mendapatkan uangnya. Cepat bawa aku ketempat yang aman !! Perintah Michelle sambil memberanikan diri.
Aku pasti akan membawamu keluar dari tempat ini. Tapi selama menunggu helikopter yang akan menjemput bagaimana kalau kita melakukan sedikit permainan nona Michelle. Kata Roy sambil tersenyum mesum.
Permainan apalagi !!? Kamu jangan keterlaluan Roy. Aku sudah berikan semua yang kamu mau !! Cepat bawa aku keluar dari tempat ini !!
Saya kan sudah bilang itu baru permulaan nona. Permintaan saya kali ini tidak sulit. Saya cuma ingin kamu menari erotis seperti yang sering kamu lakukan di klub malam bersama teman temanmu itu. Hehe..Pinta Roy yang semakin keterlaluan.
Sebagai pengawal pribadi tentu saja Roy selalu mengikuti Michelle setiap kali gadis itu pergi keluar rumahnya sehingga diapun sangat paham dengan kelakuan Michelle selama ini yang sering menggelar party bersama teman temannya diberbagai klub malam yang ada.
Karena terus ditekan dan diancam maka Michelle pun kembali menurut. Perlahan lahan gadis muda berparas oriental itu mulai menggoyangkan tubuhnya, berjoget erotis sambil diiringi suara musik dugem dari smartphone pengawalnya yang dihubungkan pada sebuah sound sistem yang ada diruangan tsb.
Selama mengawal Michelle bekerja digedung itu, Roy sering memanfaatkan waktu senggangnya untuk mengobrol dengan petugas operator ruangan kontrol tsb sehingga sedikit banyak diapun paham dengan cara kerja berbagai peralatan disana dan mirisnya hal ini dimanfaatkan untuk mengerjai majikannya.
Awalnya Michelle bergoyang dengan malu malu namun karena diancam oleh Roy maka gadis itu mencoba bergoyang lebih seksi lagi sehingga lama kelamaan baju tanktop hitam yang dikenakannya pun mulai basah kuyup oleh keringat.
Ketika sedang berjoget erotis sambil ditonton kelima orang pengawal pribadinya sepertinya Michelle tak menyadari kalau smartphone yang dipakai Roy untuk merekam aksinya sudah dihubungkan dengan peralatan canggih yang ada disana sehingga tanpa disadari aksi goyang seronoknya juga ditampilkan pada layar videotron raksasa yang ada diseluruh penjuru kota baik yang terletak di perempatan jalan besar ataupun didinding luar gedung bertingkat.
Sontak saja para perusuh yang sedang mengamuk dijalanan kota langsung berteriak teriak kegirangan karena mendapatkan hiburan erotis seperti ini.
Sialan tuh amoy !! Lagi rusuh begini malah joget erotis kayak gitu. Ini sih udah nantangin namanya !! Kata seorang perusuh yang membawa kaleng biskuit hasil jarahan di supermarket.
Iya bang. Seksi banget lagi amoynya !! Kalau udah kena geprek sama pribumi baru teriak teriak minta ampun dia !! Kata perusuh lainnya yang sangat tergiur dengan goyangan erotis itu.
Daripada kita ngejarah cuma dapet biskuit kadaluarsa mending kita keliling aja yuk buat cari tuh amoy !! Gua yakin lokasinya gak bakalan jauh darisini. Ajak seorang tukang becak yang kecewa dengan hasil jarahannya.
Sebagai pria mesum tentu saja Roy tak puas begitu saja dengan penampilan Michelle yang meliuk liuk seksi dihadapannya. Perlahan namun pasti pria itu terus menekan dan mengancam agar Michelle mau bergoyang lebih hot lagi bahkan gadis itu juga dipaksa untuk membuka perlahan lahan seluruh pakaiannya hingga kini hanya tinggal mengenakan baju dalamnya saja.
Udah non buka aja semua bajunya !! Kalau nggak nurut nanti saya seret ke jalanan loh. Biar non Michelle dikontolin orang sekabupaten. Ancam Roy
Didalam ruangan kontrol itu Michelle benar benar tak berdaya. Dia merasa seperti seekor kelinci yang sedang dipermainkan oleh segerombolan srigala buas yang sedang mengelilingi dirinya.
Puas merendahkan Michelle dengan perintah seperti itu kemudian para pengawal pun meminta gadis itu melakukan hal lain yang lebih menakutkan.
"Cepat berlutut !! Mulai hari kamu adalah budak saya !! Kata Radit yang selalu memakai jas dan kacamata hitam baik didalam maupun diluar ruangan hingga mirip seperti seorang agen intelijen.
Setelah kelelahan karena dipaksa bergoy erotis tanpa henti kemudian Michelle dipaksa berlutut ditengah ruangan dalam kondisi bugil tanpa busana.
Kamu gak usah kuatir Michelle. Saya pasti akan jamin keselamatanmu. Tapi sambil menunggu helikopter datang menjemput saya mau kamu kocokin kontol saya dulu. Perintah Radit sambil menurunkan resleting celananya dan penisnya yang mengacung tegak langsung mencuat keluar.
"Gakk !! Gaakk mauuu !! Tadi kan kamu sudah janji tak akan memperkosa saya. Kata Michelle.
"Siapa juga yang memperkosamu Nona Michelle. Saya kan cuma minta kamu kocokin kontol saya pakai tangan dan mulut kamu !! Kalau saya masukin kedalam memek kamu itu baru namanya diperkosa. Ledek Radit.
Sebagai putri konglomerat yang sangat terhormat tentu saja Michelle sangat berat hati untuk melakukannya namun karena keselamatannya terancam dan akan diserahkan kepada massa perusuh yang ada dibawah maka gadis chindo itu terpaksa menurut.
Dalam posisi berlutut dilantai kemudian Michelle pun meraih penis Radit yang mengacung tegak dihadapannya. Penis berurat itu mengangguk angguk seperti sudah tak sabar untuk dielus oleh tangan lembut seorang putri milyarder ternama.
Ayo nona Michelle. Gak usah malu malu !! Gunakan tanganmu yang halus dan lembut itu untuk mengocok kontol saya !! Kata Radit sambil terus memandangi wajah cantik gadis chindo itu.
Mendengar hal ini Michelle pun langsung menunduk malu dan merasa dirinya sangat hina sekali. Tangannya yang halus perlahan mulai mengocok ngocok penis Radit yang semakin lama semakin keras dan bertambah besar.
Your job’s not done yet, Miss Michelle… Now take care of mine too.
Tugasmu belum selesai, Nona Michelle... Sekarang urus punyaku juga. Kata Jackson yang ingin dilayani juga oleh majikannya.
Jackson, tubuh hitam kekarnya menjulang di depan Michelle, mendekat dengan langkah berat. “Sekarang giliranku, princess. Tunjukkan rasa hormatmu,” katanya dengan suara dalam yang penuh tekanan.
Roy langsung melepaskan cengkeramannya dan menekan bahu Michelle ke bawah, memaksanya lebih tunduk lagi. “Turuti perintahnya,” desisnya di telinga Michelle.
Michelle bergetar. Kedua tangannya meremas lantai sebelum akhirnya perlahan terangkat, menyentuh paha Jackson yang keras bagai baja. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena takut—peran yang sedang ia jalani membuat darahnya berdesir kencang.
Jackson mencengkeram rambutnya dengan kasar, mengarahkan wajah Michelle tepat di depannya. “Hah… lihat dia, nona manja sekarang jadi budak. Ayo, pakai tanganmu… pakai mulutmu. Biar semua tahu kamu bukan lagi pewaris milyaran, tapi mainan kami.”
Dua pengawal lain menertawakan adegan itu, bersuara keras sambil mengejek. “Hahaha! Putri kaya kita akhirnya nurut juga. Lihat, bro… wajahnya merah banget. Dia nggak bisa sembunyiin rasa malunya!”
Michelle mengerang pelan, matanya berair. Tangannya bergerak dengan gemetar, mengikuti perintah brutal Jackson, sementara kepalanya ditekan makin dekat oleh genggaman kasar di rambutnya.
Jackson berdiri tegak di hadapan Michelle, tubuhnya menjulang seperti bayangan hitam yang menelan ruang sempit itu. Dengan satu gerakan kasar, tangannya meraih rambut panjang Michelle lalu menariknya ke belakang. Gadis itu meringis, lehernya terulur tegang, bibirnya sedikit terbuka karena tarikan paksa.
Tanpa banyak bicara, Jackson mendorong kepalanya maju. Tubuh Michelle terhuyung, lututnya menekan keras lantai dingin, sementara mulutnya dipaksa menelan keangkuhan pria besar itu. Napasnya tersendat, suara isakan samar bercampur dengan desah kasar yang keluar dari tenggorokannya.
Di saat yang sama, kedua tangannya tidak dibiarkan menganggur. Roy yang berdiri di sisi kanan meraih pergelangan Michelle, menjejalkan sesuatu ke dalam genggamannya. “Jangan berhenti, nona. Tanganmu harus bekerja juga,” perintahnya dingin.
Tangannya yang halus pun terpaksa bergerak, mengocok keras benda panas di sisi kanan, lalu meraih yang satunya lagi di sisi kiri. Dua batang lain berdiri tegak di genggamannya, berdenyut liar seolah menuntut perhatian penuh.
Ruangan itu dipenuhi suara berat napas pria-pria kekar, bercampur dengan erangan tertahan Michelle yang nyaris tak bisa bernapas. Air liurnya menetes, membasahi dagu dan lehernya. Rambutnya ditarik makin kencang, membuat kepalanya tak bisa bergerak selain mengikuti ritme Jackson yang menghujam brutal.
“Hahaha… lihatlah putri konglomerat yang biasanya arogan, sekarang berlutut di lantai kotor, melayani tiga pria sekaligus,” ejek Radit dari belakang sambil melipat tangan di dada. “Bukankah ini jauh lebih cocok buatmu daripada duduk di kursi direktur?”
Jackson menunduk, menatap wajah cantik yang kini basah dan berantakan. “Jangan berhenti, princess. Malam ini kamu bukan pewaris milyar rupiah, kamu mainan kami. Nikmati peranmu.”
Michelle bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, tubuhnya kaku menahan malu bercampur rangsangan. Kedua tangannya bergerak cepat, kanan dan kiri bergantian memuaskan dua pria lain, sementara mulutnya dipaksa menerima hentakan kasar Jackson yang tak memberi jeda.
Roy menepuk pipinya kasar, menambahkan hinaan terakhir. “Tunduklah sepenuhnya, nona. Dunia luar sedang rusuh, tapi di sini… kau yang jadi panggung tontonan kami.
Jackson mendorong kepalanya semakin dalam, tapi ukuran batang hitam yang begitu besar hanya bisa masuk separuhnya saja ke dalam mulut Michelle. Setiap hentakan membuat pipi gadis itu menggembung, bibirnya terentak lebar, dan air liurnya bercucuran hingga menetes ke lantai. Nafasnya tercekik, matanya berair, sementara suara gagging bercampur dengan erangan kasar Jackson memenuhi ruangan.
“Heh… cuma separuh udah bikin kau kewalahan, nona kecil,” desis Jackson sambil menahan rambutnya agar tak bisa menghindar. “Padahal masih ada sisa yang bahkan belum sempat kau rasakan.”
Tubuh Michelle bergetar, tangannya tetap mengocok dua batang lain dengan gerakan naik turun yang makin liar. Radit hanya mendesah puas, sementara Roy menatapnya tajam penuh ejekan.
Beberapa saat kemudian Jackson menarik batangnya keluar, basah berkilat oleh air liur yang menetes deras dari mulut Michelle. Gadis itu terbatuk keras, air matanya mengalir, wajah cantiknya tampak kacau tapi tetap dipaksa berlutut.
“Sekarang giliranku,” suara berat pria negro lain, Marcus, menggema. Ia melangkah maju, menepuk pipi Michelle dengan ujung batangnya yang tak kalah besar. “Buka mulutmu lagi, princess. Jangan kecewakan aku.”
Michelle menoleh sekilas, wajahnya pucat bercampur merah. Tapi sebelum sempat berkata apa pun, Marcus sudah menjejalkan batang besarnya ke dalam mulutnya yang masih terbuka karena kehabisan napas. Kali ini hentakannya lebih brutal, lebih cepat, seolah ingin membuktikan siapa yang paling kuat di antara mereka.
Rambut Michelle kembali ditarik ke belakang, batang itu menghujam keras hingga pangkal bibirnya tertekan habis. Suara slurp dan desahan berat memenuhi ruangan, sementara tangannya masih tetap dipaksa bekerja di kiri dan kanan.
“Heh… cantik sekali pemandangan ini,” ucap Roy dengan senyum tipis. “Putri miliarder, berlutut di lantai kotor, dipaksa bergantian melayani kami satu per satu. Malam ini kau akan tahu artinya benar-benar dimiliki.
Roy berdiri sedikit menjauh dari lingkaran, matanya berkilat penuh rencana. Ia meraih sebuah kamera perekam berukuran sedang dari rak peralatan di ruang kendali. Dengan tenang ia menyambungkannya ke perangkat komputer pusat—sistem kontrol yang terhubung ke seluruh jaringan papan iklan digital di kota.
Lampu indikator di layar monitor berkedip, dan sesaat kemudian wajah Michelle yang berlutut di lantai terpampang jelas. Kamera merekam setiap detail: rambutnya yang kusut ditarik kasar, pipinya basah oleh air liur dan air mata, serta tiga batang besar yang menguasai mulut dan kedua tangannya.
Roy tersenyum miring. “Sudah waktunya semua orang tahu siapa putri manja itu sebenarnya…” desisnya. Ia menekan sebuah tombol.
Sekejap saja, layar LED raksasa di luar gedung-gedung tinggi berubah tayangan. Billboard digital di perempatan jalan utama, layar iklan di sisi pusat perbelanjaan, bahkan panel besar di atas halte bus—semuanya menampilkan siaran langsung dari ruang kontrol lantai 13.
Kerumunan massa yang tadinya berteriak dan melempari mobil mendadak terdiam beberapa detik, lalu bergemuruh lebih keras. Adegan brutal yang biasanya hanya menjadi gosip tersembunyi kini terpampang di hadapan ribuan pasang mata.
“WOYYYY LIAT TUH!! PUTRI KONGLOMERAT!!” teriak seorang perusuh.
“GILA!! LIVE!! HAHAHA!!” sahut yang lain.
Suasana jalanan berubah semakin liar. Orang-orang bertepuk tangan, sebagian lagi melemparkan botol ke udara sambil bersorak sorai. Amarah mereka terhadap keluarga kaya raya yang selama ini hidup mewah seolah tersalurkan melalui tontonan itu.
Di dalam ruangan, Marcus masih menghujam brutal mulut Michelle. Setiap kali ia menarik batangnya keluar, wajah gadis itu terekam jelas di kamera—wajah seorang pewaris miliarder yang kini dipaksa berlutut, tersiksa namun tak berdaya.
Roy berdiri di samping monitor, menikmati setiap reaksi massa yang terekam oleh kamera jalanan. “Lihat, Nona Michelle…” katanya dengan nada mengejek. “Bukan cuma kami di sini yang melihatmu. Sekarang seluruh kota jadi saksi kejatuhanmu.”
Michelle tersedak, tubuhnya bergetar hebat. Air matanya jatuh deras, antara rasa malu, takut, dan hina. Tapi genggaman tangan-tangan kasar para pria itu membuatnya tak bisa berhenti, tak bisa kabur, hanya bisa terus melayani dalam siaran langsung yang tak mungkin dihentikan lagi.
Roy menarik kabel hitam tebal dari sudut ruangan, lalu dengan cepat menggenggam kedua pergelangan tangan Michelle yang masih gemetar. Kabel itu dililitkan kuat ke belakang punggungnya hingga gadis itu tak mampu lagi menggerakkan tangannya. Michelle meronta, tubuhnya bergetar, tapi ikatan itu justru membuatnya semakin tak berdaya.
Dengan brutal, Roy menjambak rambut panjangnya, menyeretnya seperti menyeret boneka rapuh ke sisi ruangan. Michelle terhuyung, kakinya terseret di lantai hingga akhirnya ia dibanting telentang di atas sebuah meja kayu kecil yang biasanya dipakai untuk menaruh peralatan kontrol. Suara kayu berderak keras ketika tubuh mungilnya menimpa permukaannya.
Kedua kakinya terjuntai ke bawah meja, paha mulusnya gemetar. Roy berdiri di dekat meja, matanya membara penuh birahi. Dengan sekali sentakan, ia menyingkap rok mini hitam Michelle ke atas pinggang. Kain tipis itu tersingkap, memperlihatkan celana dalam ketat yang kini menjadi penghalang terakhir.
Roy mendorong lutut gadis itu ke samping, membuka paksa kedua pahanya hingga terentang lebar. Nafas Michelle terengah, dada naik turun, wajahnya memerah menahan rasa malu dan takut. Ikatan di tangannya membuatnya hanya bisa menoleh ke kanan-kiri, mencari pertolongan yang mustahil datang.
“Lihat kau sekarang, Nona Michelle…” Roy mendesis sambil menunduk, jemarinya meraba pinggang gadis itu. “Putri konglomerat yang dulu suka memerintah seenaknya, kini telanjang dan terbuka, siap dipermainkan.”
Jackson dan Radit berdiri di sisi lain, mengocok batang mereka sambil tertawa puas, menikmati tontonan langsung yang kamera Roy terus siarkan ke seluruh penjuru kota. Sorak-sorai massa di luar terdengar bergemuruh semakin keras, membuktikan bahwa setiap inci tubuh Michelle kini bukan hanya milik pria-pria di ruangan itu, tapi sudah dipertontonkan bagi ribuan pasang mata lapar.
Paha Michelle bergetar hebat ketika jari Roy menekan celana dalamnya, menelusuri garis tipis di balik kain. Ia meringis, menggeliat, tapi ikatan di tangannya membuatnya tak berdaya, hanya bisa merasakan bagaimana perlahan tapi pasti seluruh kontrol hidupnya direbut habis-habisan.
Roy menunduk lebih dekat, wajahnya hanya sejengkal dari perut Michelle yang tegang. Nafas pria itu terasa panas ketika membelai kulit mulusnya. Jemarinya menyusuri garis pinggang gadis itu, lalu menekan celana dalam tipis yang menempel ketat. Michelle menggeliat, mencoba merapatkan pahanya, tapi Roy dengan kasar kembali menekan lututnya hingga terentang lebar di tepi meja.
Dengan gerakan lambat penuh sengaja, Roy menarik celana dalam Michelle ke samping. Sentuhan kain yang bergeser membuat gadis itu menegang, tubuhnya bergetar hebat. Roy terkekeh pelan, menikmati rasa takut sekaligus malu yang jelas terpancar dari wajah oriental Michelle.
“Hei, lihat ini…” bisiknya sambil menoleh pada Jackson dan Radit. “Putri manja yang selalu merasa di atas semua orang. Sekarang, bahkan tubuhnya tak bisa disembunyikan sedikit pun.”
Roy menunduk, lidahnya menjilat garis paha bagian dalam Michelle, membuat gadis itu meringis keras, berusaha memalingkan wajah. Jemarinya menekan bagian paling sensitif, menggosok berulang dengan kasar. Michelle terisak lirih, tangannya yang terikat di belakang berusaha sia-sia meraih kebebasan.
Roy semakin menekan, lalu tanpa peringatan menancapkan jarinya masuk ke dalam. Michelle menjerit, punggungnya melengkung, kedua kakinya bergetar hebat menggantung di sisi meja. Roy tertawa puas, menambah kecepatan tusukan jarinya sambil menatap gadis itu lurus-lurus, seperti predator yang menikmati setiap detik kepanikan mangsanya.
Jackson di sampingnya sudah tak sabar, batangnya berdenyut keras di genggaman tangannya sendiri. “Cepat Roy, buka dia lebar-lebar… biar kota ini lihat semua!” teriaknya penuh nafsu.
Roy hanya menyeringai, lalu semakin menjambak rambut Michelle hingga wajahnya terangkat, memaksa matanya menatap lurus ke kamera yang merekam. “Senyum, nona… seluruh kota menontonmu malam ini.”
Michelle terisak, wajahnya merah, tubuhnya dipaksa tunduk pada permainan brutal itu. Setiap gerakan Roy menekan lebih keras, lebih dalam, membuat meja kayu berderak-derak seakan ikut menanggung beban permainan bengis itu.
Blouse kerja warna pastel yang masih melekat di tubuh Michelle diremas kasar oleh Roy, lalu dengan tarikan brutal kraaakkk! kain halus itu robek lebar, kancingnya beterbangan menghantam lantai. Bra tipis di baliknya langsung tampak jelas, membuat dada Michelle yang naik turun panik terekspos.
“Blouse cantik ini cocoknya bukan buat rapat, tapi buat kita koyak di depan kamera,” bisik Roy dengan senyum kejam. Ia menjambak rambut Michelle, menyeretnya hingga telentang di atas meja kayu kecil. Kedua pergelangan tangan gadis itu diikat kabel ke belakang, tubuhnya tertekuk tak berdaya.
Rok mini pastel yang ia kenakan tersingkap kasar ke pinggang, memperlihatkan pahanya yang mulus. Roy mendorong keras kedua kakinya terbuka, membuat tubuh Michelle benar-benar terekspos di bawah cahaya lampu ruangan kontrol.
“Lihat kamera, Michelle. Senyum cantikmu sekarang milik seluruh kota,” ejek Roy, memaksa wajahnya menoleh ke arah kamera yang terhubung ke layar LED raksasa di luar gedung.
Layar-layar jalanan yang biasanya menampilkan iklan bank, minuman energi, dan mobil mewah, kini menayangkan putri konglomerat yang terikat, blouse pastel robek, dada terhempas bebas, kakinya dipaksa terbuka.
Kerumunan perusuh di jalanan yang tadinya sibuk merusak toko, kini beralih perhatian, bersorak histeris.
“Woiii! Itu amoynya!!”
“Hancurin aja, jangan kasih ampun!”
“Tuh badan mahal sekarang jadi milik rakyat, hahaha!”
Roy membuka resleting celananya, batang kerasnya mencuat. Dengan satu gerakan brutal, ia menghujam masuk ke tubuh Michelle.
“AAAKHHH!!” jerit Michelle menembus ruangan, tubuhnya melengkung hebat, blouse pastel yang tersisa robek semakin lebar hingga hampir tak menutupi apapun.
Setiap hentakan Roy membuat meja kayu berderak keras. Kamera menyorot jelas wajah Michelle—air matanya bercampur keringat, matanya terbelalak, bibirnya terbuka menahan teriakan, seluruh tubuhnya terguncang tiap kali dihajar tanpa ampun.
Jackson dan Radit di sampingnya mengelus batang mereka sambil tertawa puas, menunggu giliran.
“Terus, Roy! Biar semua kota lihat putri kaya ini jadi mainan kita!” teriak Jackson.
Roy menunduk ke telinga Michelle, mendesis penuh dendam:
“Mulai malam ini, blouse kerja pastelmu bukan lagi simbol kehormatan. Itu cuma kain murahan yang kubuat jadi bukti kalau kamu milik kami.
Roy menarik batangnya keluar dengan geraman puas, lalu menampar pelan pipi Michelle yang sudah penuh keringat. Gadis itu masih terikat, blouse pastel robeknya menggantung tak karuan, dada naik turun cepat menahan teriakan.
“Giliranmu, Jackson,” ucap Roy sambil mundur, memberi ruang.
Jackson yang dari tadi berdiri sambil mengocok batang besarnya langsung melangkah maju. Tubuh hitam kekarnya menjulang di atas Michelle yang telentang di meja kayu, kaki menjuntai lemas ke bawah. Ia menyeringai, memegang kedua pahanya, lalu menyibakkan lebih lebar.
“Lihat ini, nona kecil… batangku bahkan lebih besar dari Roy. Kau siap dibuat hancur?” suaranya berat dan mengejek.
Michelle menggeleng panik, bibirnya bergetar. “T-tidak… terlalu besar… jangan masukin…”
Tapi Jackson hanya terkekeh, lalu menekan kepala batangnya ke celah hangat itu. Begitu didorong, terdengar jeritan melengking.
“AAAHHHH!!” Michelle menegangkan tubuh, kabel ikatan di pergelangan tangannya sampai menekan kulitnya. Batang besar Jackson hanya bisa masuk separuh, tapi dorongannya brutal, menghantam tanpa ampun.
“Lihat! Baru separuh aja dia udah kejang-kejang!” teriak Radit, tertawa keras sambil menonton.
Jackson menggenggam pinggang Michelle dengan kedua tangan, lalu menghentak masuk keluar, meja kayu berderak-derak seperti hampir patah. Setiap kali ia menghujam lebih keras, blouse pastel yang robek makin tersingkap, payudara Michelle berguncang liar.
Kamera tetap merekam semuanya, menyiarkan ke layar LED raksasa di jalanan. Kerumunan perusuh bersorak liar.
“WOIII!! Tambahin keras lagi, biar amoy itu nangis darah!”
“Hahaha… putri konglomerat kalah sama batang negro!”
Jackson semakin menggila, urat di lengannya menonjol, napasnya menggeram. Sementara Michelle terus menjerit, tubuhnya terhentak berulang kali, tak mampu menolak.
Roy berdiri di sisi meja, menunduk ke wajah Michelle yang basah air mata. “Lihat dirimu sekarang… putri kaya, dipaksa menerima semuanya di depan seluruh kota. Kau rasa ayahmu bisa menyelamatkanmu?
Jackson menggeram keras, lalu meraih kedua kaki Michelle. Dengan satu hentakan kasar, ia menekuknya tinggi ke atas dan meletakkannya di atas pundaknya. Posisi itu membuat tubuh Michelle semakin terbuka lebar, blouse pastel yang sudah robek menggantung tak beraturan, rok mininya tersingkap sepenuhnya hingga pinggang.
“Sekarang kau nggak bisa lari, nona kecil,” desis Jackson sambil menunduk, batang hitam besarnya menghajar masuk lebih dalam. Suara plak! plak! memenuhi ruangan setiap kali pinggul Jackson membentur keras pangkal paha Michelle.
“AAAKHHH!!” teriak Michelle melengking, tubuhnya terangkat paksa di atas meja kayu kecil yang terus berderak, nyaris patah menahan hentakan brutal itu.
Dari samping kiri dan kanan meja, dua pria negro lain mendekat. Tangan-tangan mereka yang kasar langsung meremas payudara Michelle yang bergoyang liar tiap kali tubuhnya dipompa ke belakang.
“Hahaha… lihat, dadanya mantul-mantul kayak bola!” ejek salah satunya sambil mencubit keras putingnya hingga Michelle melengkung menahan sakit bercampur sensasi.
Michelle menjerit, kepala terlempar ke belakang, rambut panjangnya menjuntai berantakan di tepi meja. Tangannya yang terikat di belakang tubuh berusaha meronta, tapi sia-sia. Setiap dorongan Jackson semakin brutal, lebih keras, lebih dalam, membuat meja bergetar hebat seakan hendak roboh.
Jackson mendengus puas, suaranya berat penuh tenaga. “Rasakan, nona manja. Batangku bukan cuma menghajar tubuhmu, tapi juga harga dirimu. Biar semua kota tahu kamu kalah.”
Kamera yang terus merekam menyorot wajah Michelle—matanya berlinang air mata, bibirnya terbuka menahan jeritan, dada terguncang digerayangi dua tangan besar, sementara kakinya terkunci di pundak Jackson yang menghujaminya tanpa ampun.
Sorakan perusuh di jalanan makin liar, terdengar bergema dari luar gedung.
“WOIII!! Hajar terus negro!! Sampe jebol!!”
“Hahaha… putri kaya jadi mainan kita semua!
Jackson akhirnya meraung, tubuhnya menegang, lalu melepaskan ledakan klimaks yang membuat Michelle berteriak histeris. Ia menarik batangnya keluar dengan kasar, meninggalkan gadis itu terengah di atas meja, tubuhnya berkeringat, blouse pastel robek hampir sepenuhnya, dada telanjang masih memantul naik turun.
Belum sempat Michelle menarik napas panjang, pria negro lain yang tubuhnya sama besar langsung maju mengambil alih. Dengan sekali gerakan, ia membalikkan posisi Michelle, memaksanya berdiri menelungkup di atas meja kayu yang sudah berderak-derak. Kedua pergelangan tangannya masih terikat kuat di belakang tubuh, membuatnya sama sekali tak bisa menahan diri.
Tangannya mencengkeram pinggang Michelle erat-erat, lalu tanpa basa-basi batang besar itu menghujam dari belakang dengan keras. Tubuh Michelle tersentak ke depan, wajahnya menabrak meja, bibirnya terbuka melepaskan jeritan melengking.
“AAAKHHHHH!! Jangan… tolong… terlalu keras!!”
Tapi pria itu justru semakin beringas, pinggulnya menghantam pantat Michelle dengan kecepatan brutal. Meja kayu bergetar makin keras, hampir tidak sanggup menahan bobot dan hentakan dahsyat itu. Dada telanjangnya menempel pada permukaan meja dingin, berguncang liar setiap kali tubuhnya didorong ke depan.
Sepatu hak hitamnya berderap-derap menghentak lantai tiap kali tubuhnya terhempas, membuat posturnya terlihat makin menggoda. Rok mini tersingkap ke atas pinggang, blouse pastel yang tersisa robek tak karuan, memperlihatkan punggung mulus dan tubuhnya yang sepenuhnya dipaksa tunduk.
Dari samping, dua pengawal lain menonton sambil tertawa. Satu di antaranya membungkuk untuk meremas payudara Michelle dari depan, membuat jeritan gadis itu makin tak terkendali.
“Lihat tubuhmu, Michelle… dibuat tunduk di depan seluruh kota,” ejek Roy dari belakang kamera, memastikan setiap sudut brutal itu tersiar ke layar LED raksasa di jalanan.
Suara sorakan perusuh di luar gedung makin menggila, bersahut-sahutan:
“WOIIII!! Lebih keras lagi!!”
“Jangan kasih kendor, negro!!”
“Hahaha… gila, itu amoy berdiri pake hak tinggi, dipompa kayak budak!!”
Meja kayu yang sejak tadi berderak-derak akhirnya tak kuat lagi menahan guncangan brutal. Dengan hentakan paling keras, kaki meja patah serentak, membuat seluruh permukaan kayu itu roboh ke lantai.
Michelle terjerembab ikut jatuh bersama meja yang ambruk. Tubuhnya terbanting tengkurap di lantai dingin, kedua tangannya masih terikat erat di belakang punggung. Dada telanjangnya menekan permukaan lantai, pipinya basah oleh keringat, rambut berantakan menutupi wajah cantiknya. Sepatu hak hitamnya beradu keras dengan lantai saat ia meronta, namun ikatan kuat di tangannya membuatnya tak berdaya sedikit pun
Pria negro besar yang tadi menghujamnya tidak berhenti, justru semakin menggila. Dengan posisi Michelle kini setengah terangkat pinggulnya, ia menarik gadis itu kasar lalu kembali menancapkan batang panjangnya dari belakang. Tubuh Michelle menegang, jeritannya memecah ruangan, gema suaranya bahkan terdengar hingga lorong luar.
“AAHHHHH!! Hentikaaann…!!” teriaknya, tapi yang datang hanyalah tawa kejam para pria yang mengelilinginya.
Dua pengawal lain segera ikut mendekat, salah satunya menjambak rambut Michelle dan mengangkat wajahnya ke kamera yang dipegang Roy. “Liat sini, Putri manja… seluruh kota lagi nonton kau sekarang,” ejeknya, sambil menempelkan batangnya ke bibir Michelle yang basah oleh tangis.
Roy tetap tenang di balik kamera, matanya dingin. Setiap detik kejadian itu tersiar di layar LED raksasa di tengah jalanan yang rusuh, membuat sorakan massa kian meledak.
"Hajar terus.. jangan kasih ampun !!
Michelle berusaha memalingkan wajah, tapi rambutnya kembali ditarik, mulutnya dipaksa terbuka. Dari belakang, hentakan brutal tidak berhenti, lantai sampai bergetar mengikuti ritme keras itu.
Negro besar itu menggenggam pinggang Michelle semakin kuat, setiap dorongan menghantam membuat pinggul gadis itu terangkat-angkat meski tangannya masih terikat erat di belakang punggung. Suara kulit beradu dengan keras menggema memenuhi ruangan, bercampur dengan pekikan Michelle yang putus-putus, suaranya serak karena tangis dan teriakan yang tak henti.
“Diam, nona… teriakmu cuma bikin kami makin semangat,” desisnya, lalu menghujam lebih dalam hingga tubuh Michelle terentak ke depan, pipinya menghantam lantai dingin.
Pria lain yang menjambak rambutnya menekan kepala Michelle ke arah batang yang menunggu di depan mulutnya. “Buka mulutmu, Michelle. Senyum untuk semua penonton di luar sana,” katanya penuh ejekan. Batang hitam besar itu menempel kasar di bibir tipisnya, didorong-dorong sampai tak ada ruang lagi untuk menolak.
Roy di balik kamera tersenyum puas, mengarahkan zoom tepat ke wajah Michelle yang terhimpit di antara remasan kasar dan hentakan brutal dari belakang. “Bagus… makin liar, makin jelas,” katanya datar. Gambar wajah cantik penuh air mata itu terpampang di layar LED raksasa di jalanan, sorak-sorai massa di luar makin menggila.
“CEPETAN JEBOL DIA!!
Michelle tersedak, kepalanya ditahan kuat, tubuhnya tak punya ruang untuk bergerak. Sepatu hak hitamnya menghentak-hentak lantai, namun setiap hentakan hanya menambah gairah para pria yang bergantian menindasnya.
Satu lagi mendekat dari sisi kiri, meremas payudara Michelle yang berguncang liar mengikuti setiap hentakan. “Lembut banget, padahal ini punya seluruh kota sekarang,” katanya sambil tertawa puas.
Suasana ruangan kontrol penuh napas kasar, suara tubuh beradu, dan tawa kejam. Sementara di luar, ribuan pasang mata menatap layar yang menyiarkan kehancuran seorang putri konglomerat—dihina, dipermainkan, dan dipaksa tunduk tanpa sisa.
Tubuh Michelle semakin lemah. Setiap hentakan dari belakang membuat perutnya menekan lantai keras, dada telanjangnya tergesek kasar hingga putingnya makin menegang. Jeritan yang tadi memecah ruangan kini berganti dengan isakan parau bercampur desah paksa.
Pria besar di belakangnya tidak mengendur sedikit pun—justru semakin beringas. Pinggul Michelle diangkat tinggi, kemudian dihantam berulang kali dengan kekuatan penuh. “Rasakan, nona manja! Tubuhmu sendiri yang menyerah sekarang!” teriaknya sambil menancapkan batangnya dalam-dalam.
Michelle menggigit bibir, kepalanya terhuyung karena rambutnya terus dijambak. Air mata dan keringat menetes ke lantai, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Otot-otot di perutnya menegang, napasnya tercekat, lalu tiba-tiba punggungnya melengkung tajam.
“AAHHHHH…!!” Suaranya pecah, setengah jeritan, setengah rintihan panjang. Pahanya bergetar hebat, sepatu hak hitamnya menghentak-hentak lantai tanpa kendali. Seluruh tubuh Michelle dilanda gelombang klimaks yang tak bisa ia tahan, meski hatinya menjerit menolak.
Roy yang mengabadikan semua itu mendekat, kamera mengarah ke wajah Michelle yang merah basah dan tubuhnya yang terguncang keras. “Lihatlah… bahkan putri konglomerat pun akhirnya tunduk pada nafsu. Kota ini sekarang jadi saksi,” ucapnya dingin.
Dua pengawal lain bersorak kegirangan, satu meremas payudaranya lebih keras hingga tubuh Michelle makin berguncang. “Dia basah banget, Roy! Tubuhnya nggak bisa bohong!”
Di luar sana, layar LED raksasa menampilkan adegan itu dengan jelas, membuat ribuan perusuh di jalanan berteriak semakin liar.
“DASAR AMOY CABUL!!”
“TERUSIN!! JANGAN KASIH AMPUN!!”
Sementara itu, tubuh Michelle masih tersentak-sentak di lantai dingin, tangannya terikat di belakang, tak berdaya menahan gelombang orgasme brutal yang dipaksakan kepadanya.
Mulut Michelle sudah penuh dihajar batang hitam besar sejak tadi, membuat wajahnya maju mundur tersedak-tersedak. Air liur bercampur air mata terus menetes ke dagunya, sementara rambutnya dijambak agar tak bisa menghindar.
Di saat bersamaan, dari belakang, tubuh Michelle juga terguncang hebat karena pria besar lain terus menghantam pinggulnya tanpa ampun. Setiap hentakan membuat bokongnya berbenturan keras, sepatu hak hitamnya berderap menghentak lantai dingin.
Roy mengarahkan kamera lebih dekat, menyorot wajah Michelle yang basah oleh air mata, bibirnya meregang lebar, serta tubuhnya yang tak berdaya terguncang dua arah. “Lihat ini… putri konglomerat angkuh, sekarang jadi tontonan kota saat dibuat budak nafsu,” katanya dingin.
Tak lama, pria di depan yang terus memompa mulut Michelle meraung, tubuhnya menegang. Dengan dorongan terakhir, batangnya bergetar lalu menyemburkan ledakan panas langsung ke dalam mulut gadis itu. Cairan putih kental meluber, keluar dari sudut bibirnya, menetes ke dagu dan dadanya.
Michelle tersedak keras, suaranya teredam, matanya mendelik, dipaksa menelan meski sebagian muncrat tak terkendali. Rambutnya ditarik agar wajahnya tetap menengadah ke kamera, memperlihatkan cairan yang berceceran di bibir mungilnya.
Belum sempat napasnya kembali, pria di belakang justru semakin menggila. Pegangannya di pinggang Michelle makin kuat, hentakannya lebih brutal, tubuhnya menubruk bokong montok itu hingga meja kayu nyaris ambruk seluruhnya.
Michelle menjerit serak, “AAAKHHHHHH!!! JANGAN…!!” tapi suaranya bercampur tangis, tak dipedulikan siapa pun.
Dengan raungan buas, pria itu akhirnya klimaks. Ledakan panas memuntahkan banjir hangat ke dalam tubuh Michelle dari belakang, membuatnya terhuyung gemetar, tubuh mungilnya melengkung, napasnya terputus-putus.
Roy menyorot lebih dekat lagi: tubuh Michelle yang terjerembab di lantai, kedua tangannya masih terikat di belakang, mulutnya belepotan cairan putih, bokongnya basah dipenuhi semburan dari belakang, sepatu hak hitamnya bergetar lemah di lantai keras.
Sorakan dari massa di jalanan yang menyaksikan lewat layar LED raksasa langsung menggila, mengguncang udara:
Michelle yang masih terengah di lantai bahkan belum sempat mengatur napas, langsung ditarik kasar oleh dua tangan kekar. Seorang pria berkulit hitam lain merebahkan tubuh besar dan telanjangnya di lantai dingin, batangnya sudah mengacung keras menunggu.
“Duduk di sini, Putri manja… biar kau benar-benar jadi kursi hidupku,” desisnya.
Dengan kedua tangan masih terikat di belakang, Michelle dipaksa merangkak, lalu tubuhnya ditekan keras hingga bokongnya tepat berada di atas batang tebal itu. Dalam sekejap, ia dijatuhkan, membuat batang hitam itu menancap penuh ke dalam liang hangatnya.
“AAAAHHHHHHHH!!” jerit Michelle melengking, punggungnya melengkung ke belakang, wajahnya meringis penuh derita.
Pria lain yang berdiri di samping langsung menjambak rambut panjangnya, memaksa kepalanya menengadah ke arah kamera Roy. “Lihat sini! Senyum untuk semua orang yang nonton! Seluruh kota lihat kau dipaksa nunggang negro!” ejeknya kasar.
Michelle mencoba memalingkan wajah, tapi jambakan di rambutnya terlalu kuat. Air mata bercampur keringat menetes deras, bibirnya bergetar dengan cairan putih masih berceceran dari klimaks sebelumnya.
Pria yang di bawah tak tinggal diam. Pinggulnya menghentak ke atas dengan brutal, membuat tubuh Michelle terdorong naik-turun tanpa henti. Setiap kali bokongnya menghantam pangkal batang, suara plak-plak keras bergema di lantai.
Sementara itu, pria di samping menekan bahu Michelle agar badannya benar-benar melonjak naik-turun sesuai irama. “Naik turun terus, Putri… lebih cepat! Biar kau tahu tempatmu sekarang!”
Setiap hentakan membuat dada telanjangnya memantul liar, blouse pastel yang sudah robek habis tersingkap tak berdaya. Sepatu hak hitam di kakinya menghentak-hentak lantai saat tubuhnya melompat dipaksa oleh tarikan kasar.
Roy mendekat dengan kamera, menyorot wajah cantik Michelle yang basah oleh air mata, mulut setengah terbuka dengan erangan tercekik, rambutnya dijambak tinggi agar ekspresi putus asanya benar-benar terlihat jelas di layar LED raksasa di jalanan.
Pria di bawah menggeram, mempercepat hentakannya dari bawah. Setiap dorongan membuat batangnya menghunjam lebih dalam, memaksa Michelle bergetar, tubuh mungilnya terguncang hebat, jeritannya pecah, tak mampu lagi menyembunyikan rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan paksa.
Tubuh Michelle terus melonjak naik-turun di atas batang besar pria negro yang berbaring di lantai. Setiap kali bokongnya terhempas ke bawah, suara hentakan daging bergema keras, bercampur dengan jeritan parau dan tangisannya. Tapi di balik semua itu, ada getaran samar yang tak bisa ia kendalikan—setiap dorongan dalam-dalam justru menyeret tubuhnya ke tepi gairah terlarang.
Air matanya terus mengalir, tapi pipinya memerah. Dalam benaknya, ia membayangkan betapa hina sekaligus panasnya dirinya—seorang putri konglomerat dengan kulit putih halus, kini dipaksa menunggang brutal batang pria negro, tubuhnya memantul-pantul bagai mainan. Imajinasi itu memelintir perasaannya, membuat tubuhnya bergetar aneh di tengah keterpaksaan.
Pria di bawah semakin menggila. Pinggulnya menanjak ke atas dengan tenaga binatang, seakan ingin merobek tubuh Michelle dari dalam. “Naik turun terus, Putri… aku mau kau jadi tunggangan paling patuh!” geramnya, napas memburu.
Roy akhirnya menurunkan kameranya, lalu maju berlutut di sisi kanan Michelle. Tangannya yang besar langsung menyambar salah satu payudara montok yang bergoyang liar, meremasnya rakus. Di sisi kiri, seorang pengawal lain ikut menyusul, menekuk badannya dan melahap payudara satunya dengan ganas.
“AAAHHH!! JANGAN…!!” jerit Michelle, tubuhnya menegang, tapi tangannya terikat kuat di belakang punggung membuatnya tak bisa menolak sama sekali. Dada telanjangnya kini jadi rebutan dua pria dewasa, diremas, dijilat, dan disedot dengan brutal.
Roy sengaja menjambak rambutnya dari samping, memaksa wajah Michelle menoleh ke kamera yang masih menyala di lantai. “Lihat wajahmu, Putri… tubuhmu sendiri mengkhianatimu. Kau basah, kau terangsang, dan seluruh kota sedang menonton bagaimana kau menikmatinya.”
Pria lain yang menghisap dada Michelle terkekeh. “Dengar erangannya… tubuh putihnya suka ini. Liat putingnya, keras banget, Roy.”
Michelle menjerit, tapi suaranya pecah-pecah, bercampur isakan dan desahan tak terkendali. Sepatu hak hitamnya menghentak-hentak lantai makin cepat, bokongnya terangkat lalu menghantam pangkal batang pria di bawah berulang kali.
Sorakan massa di luar semakin gila, bergema dari layar LED raksasa:
“WOOIII!! Liat tuh putri kaya nunggang negro!”
“Hahahaha, jangan berhenti! Bikin dia tambah liar!!”
“Putih mulusnya udah tunduk, anjir!!”
Dua pria di samping tak berhenti menyiksa payudaranya, sementara pria di bawah terus menghentak ke atas, membuat tubuh Michelle terpental-pental tanpa kendali. Napasnya tersengal, jeritannya semakin panjang, dan tanpa bisa ia cegah, getaran klimaks menjalar dari pinggang ke seluruh tubuhnya.
Tubuh Michelle terus melonjak liar di atas batang besar pria negro yang menghantamnya dari bawah. Setiap kali bokong putihnya jatuh menghantam pangkal, suara daging beradu bercampur dengan erangan parau yang tak bisa ia bendung lagi. Sepatu hak hitamnya menghentak lantai berulang kali, iramanya makin kacau, tanda tubuhnya tak sanggup menahan gelombang itu lebih lama.
Roy masih menjambak rambutnya keras, memaksa wajah Michelle menoleh tepat ke arah kamera. “Ayo, tunjukkan pada seluruh kota… tunjukkan bagaimana putri manja kaya raya ini akhirnya meledak di atas batang negro.”
Michelle meraung, suaranya serak dan panjang. “AAAAHHHHHHH!!!” Tubuhnya menegang mendadak, punggungnya melengkung ke belakang, lalu bergetar hebat. Getaran itu menjalar dari pangkal paha, merambat ke seluruh tubuh mungilnya. Air matanya bercampur keringat, tapi di balik jeritan histerisnya, dada telanjangnya naik-turun liar, putingnya menegang keras di mulut para pria yang masih rakus menghisap.
Pria di bawah tak berhenti, justru semakin menggila. Pinggulnya menanjak brutal ke atas, menghantam kemaluan Michelle tanpa ampun. Tubuh besar pria negro itu semakin menegang, urat di lehernya muncul jelas. Hentakan terakhir menghujam sampai pangkal, membuat tubuh Michelle terangkat sedikit dari lantai.
"Fuck… so tight!" raung pria itu dengan suara serak. Ia menahan pinggulnya menekan kuat lalu ledakan klimaksnya tumpah deras ke dalam rahim Michelle yang bergetar tak berdaya.
Michelle menjerit lebih keras lagi, tubuhnya kejang-kejang. Cairan panas yang menyembur deras ke dalam justru mendorong orgasme panjangnya semakin meledak, membuat kakinya gemetar tak terkendali. Ia menggeliat liar, tapi ikatan di tangan membuatnya hanya bisa melengkung ke belakang, dada terangkat, tubuhnya bergetar hebat di atas pria yang sedang memuntahkan klimaksnya.
“Aaahhhhhh!!!” teriaknya, suara panjang, serak, bercampur isakan dan desahan, tubuhnya terhempas ke depan lalu kembali menegang.
Roy menekan rambutnya makin keras ke kamera. “LIHAT, KOTA!! Inilah pemandangan seorang putri kaya raya… tubuhnya hancur, tapi malah orgasme panjang di depan kalian semua!!”
Sorakan massa di luar semakin menggila, jalanan yang sudah rusuh mendidih lebih keras.
"Liat tuh amoynya malah keenakan dijebolin sama negro !!
Michelle akhirnya terkulai, tubuhnya masih bergetar kecil, napasnya tersengal berat. Sepatu hak hitam di kakinya menjejak lantai dengan lemah, bokongnya masih menempel di pangkal batang pria yang baru saja meluapkan hasratnya. Tatapan liar para pria yang mengelilingi jelas menandakan giliran mereka baru saja dimulai.
Tubuh Michelle yang kelelahan terhempas telentang miring di lantai beton yang kotor. Napasnya memburu, dada telanjangnya naik turun cepat, rambut panjangnya kusut berantakan, sebagian menempel di pipi yang basah oleh keringat dan air mata.
Pria negro yang baru saja menyemburinya tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk beristirahat. Ia segera berlutut di samping Michelle, meraih salah satu kakinya yang masih terbalut sepatu hak hitam. Dengan kasar, kakinya diangkat tinggi hingga paha putih Michelle terbuka lebar. Tangan besar itu mencengkeram erat, memastikan posisinya terkunci dan tidak bisa ditutup kembali.
“Heh… posisi ini pas banget buatmu tuan putri manja. Desisnya dengan nada buas.
Tanpa aba-aba, batang panjang dan keras itu kembali menghujam masuk ke dalam tubuh Michelle. “AAAKHHHH!!!” jeritnya melengking, tubuhnya terangkat seketika karena hentakan pertama yang begitu dalam.
Dalam posisi berbaring miring. Satu kakinya yang jenjang dan masih mengenakan sepatu hak terangkat tinggi, bokong Michelle bergetar hebat setiap kali pria itu menghantam pinggulnya maju-mundur dengan hentakan brutal. Dada Michelle ikut berguncang keras, payudaranya memantul liar tanpa kendali. Tangan terikat di belakang punggung membuatnya tak bisa menahan diri, hanya bisa menjerit-jerit, tubuhnya terguncang tiap kali batang hitam itu menancap sampai pangkal.
Roy, yang masih memegang kamera, mendekat dengan tatapan dingin. Lensa diarahkan tepat pada wajah Michelle yang terpelintir menahan sakit dan kenikmatan, lalu turun menyorot kaki putihnya yang terangkat tinggi, terbuka lebar dipaksa menyambut setiap sodokan.
“Bagus… posisi miring begini bikin semua penduduk kota bisa melihat dengan jelas. Ujar Roy dingin.
Suara sorakan massa di luar makin menggila saat layar LED raksasa menayangkan tubuh seorang putri miliarder yang dipaksa terlentang miring di lantai kotor, satu kaki diangkat tinggi ke udara, diguncang habis-habisan tanpa ampun.
“TERUSKAN!!”
“JANGAN KASIH ISTIRAHAT!!”
“LIAT, DIA NIKMATIN TUH!!”
Michelle meraung, tubuhnya terhentak ke depan-belakang mengikuti ritme liar pria besar itu. Posisinya begitu terbuka, begitu tak berdaya, membuat setiap hentakan terasa lebih dalam, lebih menghancurkan.
Michelle dipaksa berpindah posisi, tubuh lelahnya digiring kasar ke atas tubuh salah satu pria negro yang sudah lebih dulu berbaring telentang di lantai dingin. Dengan tenaga besar, pria itu menarik pinggang Michelle hingga posisi tubuh gadis itu menelungkup di atasnya. Batangnya yang besar dan panas langsung menancap masuk ke liang kewanitaannya dari bawah, menghantam keras hingga tubuh Michelle terguncang ke depan.
Belum sempat ia menjerit, pria lain mendekat dari belakang, menekan punggung Michelle agar dadanya menempel penuh ke dada pria yang berbaring. “Diam di sini, putri manja… tubuhmu sekarang milik kami semua,” desisnya, lalu tanpa ragu batang kerasnya diarahkan ke celah belakang Michelle yang sempit.
“AAAKHHHH!!” jeritan Michelle meledak saat liang anusnya dipaksa menerima hantaman pertama. Tubuhnya terangkat, punggungnya melengkung, tapi cengkeraman tangan hitam yang menekan punggungnya membuatnya tak bisa bergerak. Kedua lubang kewanitaannya kini dihajar sekaligus, dari bawah dan dari belakang, hentakan brutal bergantian membuat tubuh putih Michelle terguncang hebat.
Seolah belum cukup, seorang lagi maju ke depan, berlutut sambil meraih rambut Michelle yang kusut. Ia menjambaknya kasar, memaksa wajah cantik itu mendongak ke atas. Batang kerasnya ditekan ke bibir Michelle, membuka paksa mulut mungilnya. “Hisap ini juga, biar semua lubangmu penuh, nona kaya,” ejeknya dengan nada puas.
Dengan satu gerakan kejam, kepala Michelle didorong maju hingga batang besar itu memenuhi rongga mulutnya. Kini tubuh gadis muda itu terkunci dalam posisi tak berdaya:
-
Di bawahnya, pria pertama menghantam vaginanya tanpa henti.
-
Dari belakang, batang kedua menancap dalam ke anusnya, setiap sodokan membuatnya meraung.
-
Dari depan, mulut Michelle dijejali batang ketiga yang digerakkan maju-mundur dengan paksa.
Tubuh Michelle bergetar hebat di antara tiga pria besar itu. Suara erangan, hentakan daging, dan isakan tertahan bercampur jadi satu. Payudara telanjangnya terhimpit di dada pria yang berbaring, bergesekan liar setiap kali hentakan mengguncang tubuhnya.
Roy mengarahkan kamera lebih dekat, merekam detail tubuh putih Michelle yang terjepit di antara tiga pria hitam besar. “Sempurna… semua orang di luar bisa lihat kau dijadikan boneka hidup,” katanya dingin.
Di jalanan, massa perusuh bersorak histeris melihat posisi tiga arah yang brutal itu terpampang di layar LED raksasa.
"Woii kalian liat tuh.. amoynya dikeroyok sampe kelojotan !!
"Haha.. semua lobang dibadanya dijebolin !!
Michelle hanya bisa meraung tertahan, tubuhnya diguncang keras, rambutnya terjambak, suaranya tenggelam di antara desahan brutal pria-pria yang memanfaatkan tubuhnya sepuasnya.
Hentakan makin gila. Pria yang berbaring di lantai menghantam dari bawah dengan tenaga penuh, setiap kali pinggulnya naik batangnya menancap habis ke liang Michelle. Dari belakang, pria kedua yang menghajar anusnya juga semakin liar, pinggul hitamnya menampar bokong Michelle tanpa henti, membuat tubuh putih gadis itu terhentak maju mundur.
Di depan, pria ketiga yang menjambak rambutnya mulai menggeram. Ia menarik kepala Michelle lebih dalam hingga batangnya hampir memenuhi seluruh rongga mulut mungil itu. “AARGHHH—!!” raungnya, lalu meledakkan klimaksnya. Semprotan hangat muncrat deras, membanjiri mulut Michelle sampai meluber keluar dari sudut bibirnya. Cairan kental itu menetes di dagu, menodai blouse tipis warna pastel yang sudah robek.
Belum sempat ia menelan, pria yang di belakang meraung keras. Tubuhnya menegang, lalu ledakan klimaksnya menghantam liang belakang Michelle, membuat gadis itu menjerit parau. “NGGHHHHH!!!” Tubuhnya bergetar hebat, anusnya dipaksa menerima semburan panas yang tak terkendali.
Pria di bawah yang sedari tadi menahan diri akhirnya tak kuat lagi. Dengan dorongan terakhir yang mengguncang seluruh tubuh Michelle, ia menancap habis lalu meledak di dalam liang kewanitaannya. Ledakan panjang, deras, dan hangat membanjiri rahim gadis muda itu, membuatnya terpekik panjang sambil tubuhnya menegang kaku.
Tiga semburan klimaks dari arah berbeda memenuhi tubuh Michelle bersamaan—mulutnya basah berlumuran, vaginanya penuh limpahan panas, anusnya terasa perih sekaligus dipenuhi cairan kental. Tubuh putihnya yang terhimpit di antara tiga pria besar bergetar tak terkendali, napasnya terputus-putus, mata setengah terpejam, wajahnya berlumuran air mata, keringat, dan cairan yang menodai seluruh tubuhnya.
Roy tertawa pelan sambil mendekatkan kamera, merekam wajah Michelle yang kacau tapi tetap terlihat cantik dan menggoda. “Bagus sekali… sekarang seluruh kota sudah melihat bagaimana putri kaya berubah jadi mainan di tangan kami.”
Di luar gedung, massa perusuh bersorak histeris melihat klimaks bertubi-tubi itu terpampang jelas di layar LED raksasa. “WOOOOOYYYY!!! HAHAHA!! HANCUR DIAAAA!!”
Tubuh Michelle akhirnya ambruk di atas pria yang berbaring, lunglai tanpa tenaga, terengah-engah, tapi masih terjepit oleh batang-batang besar yang baru saja memuntahkan klimaks mereka.
Tubuh Michelle yang sudah lemas dipapah kasar keluar dari ruang kendali. Kedua tangannya masih terikat di belakang, langkahnya terseok-seok, sepatu hak hitamnya beradu dengan lantai koridor. Rambutnya berantakan menutupi wajah cantiknya, blouse pastel yang robek tersisa hanya seperti kain compang-camping menempel di kulit putihnya.
Roy memimpin jalan dengan kamera masih menyala, merekam setiap detik perjalanan itu. “Bawa dia ke atap. Biar semua orang lihat puncaknya,” katanya dingin.
Mereka menyeret Michelle ke tangga darurat menuju lantai paling atas. Pintu besi berdecit keras saat didorong terbuka, menyingkap atap gedung yang luas dan terbuka. Angin malam bertiup kencang, membawa suara sirene bercampur teriakan massa yang mengamuk di bawah. Dari ketinggian itu, kerusuhan kota terlihat seperti lautan api dan manusia.
Michelle setengah jatuh di lantai atap, tubuhnya bergetar hebat karena dingin dan kelelahan. Namun tatapan Roy dan para pengawalnya jelas: permainan belum berakhir.
Di jalanan, massa perusuh yang sejak tadi menonton tayangan dari videotron semakin liar. Begitu menyadari bahwa aksi itu berpindah ke atap gedung, mereka berbondong-bondong menyerbu masuk. Pintu lobi yang tadinya terkunci kini jebol, ratusan orang mulai mendaki tangga, teriakannya menggema hingga lantai-lantai atas.
“WOYYY!! AMOYNYA DI ATAP!!”
“KEJAR!! JANGAN SAMPE LEPAS!!”
Suara langkah kaki dan raungan massa semakin mendekat. Roy tersenyum tipis, lalu menatap Michelle yang tergeletak tak berdaya di lantai atap. “Kau dengar itu, nona? Penontonmu sedang naik kemari. Dan sebentar lagi… kau akan benar-benar jadi milik mereka.”
Angin kencang mengibarkan rambut Michelle yang kusut, wajahnya pucat pasi. Kedua mata indahnya melebar penuh ketakutan saat menyadari ratusan orang itu sebentar lagi akan tiba di atas, mengerumuninya.
Pintu atap akhirnya jebol. Suara besi berderit bercampur dengan dentuman keras saat engselnya terpatahkan. Derap langkah kaki puluhan pria langsung menggema, teriakan mereka bercampur tawa liar memenuhi udara malam. Massa yang sejak tadi hanya menonton dari layar LED raksasa kini tumpah ruah, menyerbu ruang terbuka di atas gedung tinggi itu.
Angin malam berembus kencang di ketinggian, menusuk dingin ke kulit. Rambut Michelle yang kusut beterbangan menutupi sebagian wajahnya. Tubuh putihnya terbujur di lantai beton, tampak kontras di bawah cahaya kota yang rusuh. Dari ketinggian itu, lampu jalan berkelip, nyala api dari kerusuhan di bawah memantul samar di kulitnya.
Tangan Michelle masih terikat ke belakang, pergelangannya memerah oleh gesekan tali. Tubuhnya sudah lemas, dadanya naik turun pelan, tapi matanya masih terbuka setengah. Tatapan sayu itu menyiratkan kepasrahan sekaligus gairah samar yang tak bisa ia sembunyikan.
Dia tahu skenario malam ini. Tubuhnya sengaja dipersembahkan untuk massa, dan kini saatnya semua orang mendapatkan bagian.
Sorakan meledak, membuat atap gedung bergetar.
“AKHIRNYA!!”
“DIA DI SINI!!”
“PUTRI KAYA JADI MAINAN KITA!!”
Gerombolan itu langsung mengerubungi, tangan-tangan liar meraih, menjambak rambutnya, meremas pinggul dan dadanya, menyeretnya ke tengah lingkaran. Michelle ditelentangkan di lantai beton yang dingin, kaki jenjangnya dengan sepatu hak tinggi ditarik paksa ke samping. Tubuhnya jadi pusat kerumunan, tiap pria berebut posisi.
Beberapa menahan bahunya, yang lain merengkuh pahanya, sementara seorang pria menjambak rambutnya, menekan wajahnya agar menghadap ke langit terbuka. “Lihat, seluruh kota menyaksikanmu, dan kau menikmatinya,” desisnya ke telinga Michelle.
Puluhan pasang mata lapar menatap tubuh putih Michelle yang tergeletak di lantai beton atap. Angin malam menusuk kulitnya yang sudah penuh keringat dan bekas sentuhan. Tali di pergelangan tangannya dilepas—bukan untuk memberi kebebasan, tapi supaya tangannya bisa dipakai melayani lebih banyak pria.
Gelombang pertama langsung menerkam. Seorang pria besar menarik Michelle duduk di pangkuannya, menancapkan dirinya dari bawah, sementara dua pria lain meraih tangannya dan memaksanya mengocok batang mereka secara bersamaan. Rambutnya ditarik ke belakang, wajahnya dipaksa menengadah, mulutnya dijejali kontol lain. Dari segala sisi, tubuh Michelle sudah dikepung.
“HAHAHA… liat tuh anak konglomerat bisa dipakai empat orang sekaligus!”
“Terus goyang moy !!
Sorakan massa menggema. Tubuh Michelle terguncang keras, suara desahannya tercekik oleh batang di mulutnya. Dadanya yang putih berguncang, diremas tanpa ampun.
Gelombang kedua menyusul. Begitu pria pertama mendesah klimaks, Michelle langsung ditarik kasar ke posisi tengkurap. Pantatnya terangkat, pinggulnya ditahan erat, dan pria berikutnya menghantam masuk dari belakang. Yang lain tak sabar, menyelonjorkan batang ke samping wajahnya, dipaksa masuk bergantian. Rambutnya berkibar, wajahnya penuh noda, tapi matanya setengah terpejam, menyerah pada peran liarnya malam itu.
Gelombang ketiga lebih buas. Michelle dipaksa merangkak di atas lantai beton yang dingin, tubuh putihnya sudah berlumuran keringat dan bercak cairan para pria sebelumnya. Sepatu hak hitamnya masih terpasang, berderap menghentak lantai setiap kali pinggulnya terdorong keras ke depan. Nafasnya tersengal, rambut berantakan menutupi wajah cantiknya, dada telanjangnya menggantung dan bergoyang liar di bawah tubuhnya.
Dua pria negro besar mengambil posisi di belakang. Salah satunya langsung menancapkan batang tebalnya ke liang belakang Michelle yang sudah merah dan bengkak, membuat gadis itu menjerit melengking. “AAHHHHH… TIDAKKK…!!” Suaranya pecah, bergema di udara malam, tapi justru dibalas sorakan perusuh yang menonton di sekeliling atap.
Pria pertama menghentak brutal, tubuh Michelle terdorong maju tiap kali bokongnya ditabrak keras. Belum sempat ia menyesuaikan, pria kedua sudah ikut mendekat, menempelkan batangnya yang sama besar, menunggu giliran. Mereka bergantian menghujam anus sempit itu, saling dorong seakan berlomba menghancurkan tubuh mulus sang putri konglomerat.
Setiap kali salah satu menarik batangnya keluar, yang lain langsung menancap masuk, membuat Michelle terguncang hebat, punggungnya melengkung, wajahnya menabrak lantai kasar. Sepatu hak hitamnya menghentak-hentak lantai, tak mampu menahan rasa perih bercampur kenikmatan terlarang yang merambat ke seluruh tubuhnya.
Sorakan massa di sekitar makin menggila.
“JEBOLIN SAMPAI HABIS, NEGRO!! Seru salah seorang perusuhnya.
Roy tetap berjongkok di samping, kamera menyorot tajam ke arah tubuh Michelle yang dipompa dari belakang dengan kecepatan brutal. “Ayo, Michelle… seluruh kota menonton bagaimana tubuh putihmu tak lebih dari mainan. Tunjukkan ekspresi pasrah itu ke kamera,” bisiknya dingin.
Tubuh Michelle mulai kehilangan tenaga, lengannya lemas menahan lantai, dada telanjangnya menekan permukaan beton kasar. Tapi kedua pria itu tidak memberi ampun. Mereka terus bergantian, bahkan kadang serempak menekan, membuat gadis itu menjerit semakin parau.
“AAAKKHHHHH…! NGGAAAKKK…!!” teriaknya, tapi suaranya tenggelam oleh teriakan massa.
Hantaman demi hantaman makin beringas. Bokong Michelle memerah, tubuhnya terguncang tanpa henti. Keringat bercampur air mata menetes ke lantai, tapi tubuhnya tetap dipaksa melengkung, ditindih dari belakang.
Dan akhirnya, dengan raungan panjang, kedua pria itu mencapai klimaks hampir bersamaan. Semburan hangat muncrat bergantian di dalam tubuh Michelle, sebagian keluar berceceran di paha putihnya, membuat gadis itu kembali berteriak histeris. Tubuhnya jatuh terjerembab, dada menempel lantai, sepatu hak hitamnya masih berderap gemetar, seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan ledakan brutal yang ditumpahkan padanya.
Roy, yang masih merekam, tersenyum dingin. Kamera fokus pada tubuh Michelle yang kini jadi pusat pesta massal. Setiap hentakan, setiap jeritan, setiap sorakan massa di jalanan di bawah sana, semua jadi satu orkestra brutal yang tak bisa dihentikan.
Michelle sendiri sudah tenggelam dalam pusaran itu. Tubuhnya digilir tanpa jeda oleh para perusuh, tiap kali satu pria meledak, yang lain langsung menggantikan, memastikan ia tidak punya kesempatan bernapas. Tangannya, mulutnya, liang vagina dan anusnya semua jadi rebutan.
Dari luar gedung, kerumunan perusuh berteriak semakin gila:
"Antri bro... Jangan rebutan. Nanti semuanya juga kebagian..
"Putri konglomerat disita oleh rakyat !!
Atap gedung yang terbuka jadi panggung akhir, tempat Michelle benar-benar dilahap massa bergelombang, tubuhnya diperas habis-habisan di bawah sorotan kamera, disaksikan ribuan orang yang liar.
Langit malam terbuka luas di atas atap gedung, tapi semua mata hanya tertuju pada Michelle. Tubuh putihnya terbujur telentang di lantai beton dingin, napasnya tersengal, dada telanjangnya naik turun cepat. Tangannya sudah terlepas dari ikatan namun tergeletak lemas di samping tubuh, nyaris tak mampu bergerak. Rambutnya kusut menempel pada wajah yang basah oleh keringat dan air mata.
Para pria berdiri mengelilinginya. Batang mereka sudah menegang, urat-uratnya mencuat, wajah mereka penuh nafsu dan haus pelampiasan terakhir.
"Sekarang giliran terakhir, kita bikin muka amoy ini jadi tempat buangan kita semua" seru salah satu pria dengan tawa keras menggema di atap.
Satu per satu mereka mendekat. Michelle hanya bisa mengerjap, bibirnya sedikit terbuka, pipinya sudah kotor oleh sisa keringat dan noda air mata. Tiba-tiba semburan pertama meledak, mendarat panas di keningnya lalu menetes ke pelipis.
"Aaaahhh!!" raung pria itu sambil menunduk, batangnya masih berdenyut di tangannya.
Gelombang berikutnya datang bertubi-tubi. Dagu Michelle bergetar ketika pipinya dihantam cairan kental yang hangat, bibirnya tersentak terbuka menerima semprotan asin yang menetes masuk ke mulut. Hidungnya hampir tenggelam oleh cipratan putih kental. Ia berusaha menutup mata rapat-rapat tapi bulu matanya langsung basah, lengket menempel cairan yang terus menetes.
"Haha banjirin aja mukanya pake peju, biar semua orang liat. Teriak seorang pria dari belakang.
"Iya biar kota ini tahu putri konglomerat kaya sekarang jadi pelampiasan kita. sambung yang lain dengan suara keras.
Roy menundukkan kamera lebih dekat hingga lensa hampir menyentuh kulit pucat Michelle. Ia merekam setiap detail tanpa melewatkan sedikit pun, mulai dari semburan yang meluncur deras ke dahinya lalu menyebar di sekitar alis, hingga percikan yang menempel di bibir merahnya dan membuatnya tampak berkilau basah. Cairan itu tidak berhenti di sana karena sebagian langsung menetes deras ke dagunya dan sebagian lain turun lambat ke leher putihnya, meninggalkan jejak kental yang memanjang sampai ke tulang selangka.
Dalam hitungan detik wajah Michelle benar-benar tertutup oleh lapisan putih pekat. Dahi, pipi, hidung, dan bibirnya seakan dilapisi topeng cairan yang tebal, menutupi seluruh kecantikan yang biasa ia pamerkan di depan publik. Kamera merekam bagaimana cairan kental itu menggenang di sekitar kelopak matanya yang terpejam rapat, lalu mengalir lagi mengikuti lekukan wajahnya. Setiap tetes menambahkan noda baru, membuatnya tampak semakin jauh dari citra seorang putri konglomerat yang selama ini dikenal anggun dan terhormat.
Roy terus mengarahkan fokus agar semua sudut wajahnya terekam jelas. Ia memastikan tidak ada satu pun bagian yang terlewat, dari rambut yang lengket di pelipis sampai dada telanjangnya yang ikut terciprat. Di layar kamera, Michelle tak lagi terlihat sebagai seorang pewaris kaya raya, melainkan sebagai tubuh yang dikubur cairan kental, simbol dari kejatuhan yang ia tanggung di depan ribuan mata.
"Lihat tuh muka amoynya udah full cream. celetuk salah satu pria sambil tertawa terbahak-bahak.
Sorak massa di luar gedung meledak semakin liar sehingga suara ribuan perusuh di jalanan bersahutan satu sama lain. Tepuk tangan bercampur teriakan histeris terus menggema hingga mencapai atap. Sementara itu layar LED raksasa di persimpangan kota masih menyiarkan wajah Michelle yang terkubur cairan dan pada saat yang sama dada telanjangnya berguncang lemah setiap kali ia menarik napas.
Di balik kamera Roy tetap berdiri tenang dan ia menunggu dengan sabar sampai akhirnya tetes terakhir jatuh dari dagu Michelle ke lantai beton. Baru setelah itu ia mengucapkan kalimat dingin tanpa ekspresi.
"Lihatlah, inilah akhir seorang putri konglomerat sombong. Hancur dipermalukan dan jadi tontonan seluruh kota.
Roy mematikan perangkat dan layar-layar LED raksasa perlahan meredup hingga hanya tersisa bayangan pucat tubuh Michelle yang masih telanjang di atas beton atap. Dari bawah kota massa yang menyaksikan mengaum puas, ada yang berteriak dan ada pula yang tertawa keras.
Beton atap sudah basah oleh keringat sperma dan sisa cairan yang menetes dari wajah Michelle. Tubuh putih itu tampak kontras dengan noda kental yang menutupi pipi bibir dan lehernya. Kedua matanya terpejam rapat dan bibirnya terbuka sedikit sementara dada telanjangnya masih naik turun menandakan ia masih hidup.
Sorak di atap berangsur mereda hingga hanya menyisakan napas berat para pria yang baru saja menguras gairah mereka. Angin malam berhembus dingin membawa aroma tajam yang bercampur keringat dan sperma.
Michelle tetap terbaring diam terkubur dalam cairan putih yang menodai seluruh wajahnya. Tubuhnya lemas dan tak berdaya hingga menjadi simbol akhir brutal dari pesta yang disaksikan ribuan mata.
.jpg)





.jpeg)

.png)

Akhirnya ada tema kerusuhan digedung perkantoran, lanjutkan suhu!
BalasHapusUsul suhu - > Ada enci❷ sama pegawai bank yang memakai beha dengan pengait di depan n celana dalam berbentuk korset sehingga perampok atau Pak Naryo yang kampungan kebingungan karena mencari kaitannya di belakang gak ketemu (Setelah tanya sama pemiliknya、ada dialog nih kutang bukanya aneh ya、bukaannya di depan biar gampang buat nyedotin tetek ya) n keheranan dengan bentuk celana dalam panlok lain yang juga aneh (Disertai dialog nih kancut bentuknya kayak celana pendek ya、mending gak usah pake rok aja kali kalo jalan❷、biar kalo kita❷ lagi pengen bisa langsung dilorotin) wkwkwkwk
BalasHapusahhahahaha buat amoy ktp khusus ada ukuran toked sama poto toked meki nya sekalian
BalasHapuscocok buat peraturan baru anti kerusuhan
Ini dia update yg ditunggu2!
BalasHapusSerius pak Naryo mati?
BalasHapusnice update suhu...fantastis
BalasHapusMichelle...apa updatenya..
BalasHapusAkhirnya Michelle jadi aktris blacked series
BalasHapus