By : Analconda13
Hari ini adalah hari pernikahannya sebuah peristiwa besar yang telah direncanakan selama hampir satu setengah tahun. Sebenarnya pihak keluarga sempat ingin menunda pernikahan karena situasi politik yang semakin panas di Jakarta namun ayah Sherlin yang arogan dan kenal banyak pejabat keamanan kota menolak mentah-mentah hal ini. Ayahnya yang merupakan seorang pengusaha besar yakin semuanya akan baik-baik saja sehingga acara tetap dilanjutkan sesuai rencana.
Sherlin menghela napas pelan lalu mencoba mengusir kegelisahan itu. Di luar jendela kaca tebal suite yang berada di lantai 28 kota Jakarta terlihat gelisah. Ia bisa melihat jauh di ufuk timur asap tipis mengepul dari arah pusat kota sebagai sisa demonstrasi kemarin yang belum benar-benar reda. Berita di televisi yang ia nyalakan pelan-pelan pagi itu masih penuh dengan liputan ketegangan politik sehingga mahasiswa dan massa buruh kembali turun ke jalan menuntut perubahan ekonomi sambil sesekali terdengar slogan-slogan yang menyiratkan kemarahan terhadap kelompok minoritas kaya termasuk etnis Tionghoa.
“Kamu gak usah kuatir Sherlin.. Papa kenal banyak pejabat keamanan dikota ini. Mereka bilang situasi kota masih aman dan terkendali.
Sherlin duduk diam di tepi ranjang sambil memandang bayangannya di cermin besar kamar. Ia tahu hari ini akan berjalan seperti apa yang direncanakan meski ketegangan di luar semakin terasa.
Ia melangkah ke kamar mandi marmer yang luas lalu mandi air hangat dengan sabun beraroma bunga melati mahal. Air mengalir lembut menyusuri lekuk tubuh rampingnya yang indah sehingga dada yang kencang dan montok pinggang yang kecil serta pinggul yang sedikit lebar terasa semakin feminin. Setelah mandi Sherlin duduk di depan meja rias besar yang sudah disiapkan. Tim make-up artist dan hair stylist yang datang khusus mulai bekerja dengan sangat teliti dan perlahan. Mereka menyapukan skincare berlapis-lapis agar kulit wajahnya semakin bercahaya dan mulus kemudian merias mata sipitnya dengan eyeshadow netral yang elegan lalu menambahkan bulu mata palsu tipis agar matanya terlihat lebih besar dan lembut. Rambut hitamnya yang lurus dan panjang disisir dengan hati-hati kemudian ditata naik sebagian dengan beberapa helai dibiarkan jatuh anggun di bahu sebelum akhirnya dipasang tiara berlian kecil yang berkilau lembut di bawah lampu suite.
Baru setelah itu datang gaun pengantinnya. Desainer ternama telah membuat gaun berwarna putih murni dengan model mermaid yang sangat ketat dari bahan sutra dan lace terbaik. Ketika dua asisten dengan hati-hati memakaikannya dari bawah Sherlin merasakan kain dingin dan halus itu merayap naik menyusuri betis paha pinggul lalu semakin ketat di bagian pinggang dan dada. Gaun itu menekan payudaranya sehingga terlihat lebih penuh dan menonjol sementara potongan belakang yang rendah memperlihatkan hampir seluruh punggung mulusnya yang putih. Sherlin berdiri di depan cermin besar lalu memutar tubuh pelan sehingga ia melihat bayangannya sendiri yang terlihat begitu sempurna begitu mahal dan begitu rapuh di tengah kota yang semakin gelisah di luar sana.
![]() |
| Sherlin |
Setelah gaun pengantin sudah terpasang sempurna di tubuhnya Sherlin berjalan perlahan keluar dari ruang bridal suite menuju ruang tamu pribadi di lantai yang sama. Langkahnya pelan dan hati-hati agar gaun ketat itu tidak robek atau kusut sebelum waktunya. Di sana mamanya yang elegan sudah menunggu dengan mata sedikit berkaca-kaca sambil memegang buket bunga mawar putih dan baby’s breath yang harum.
“Kamu cantik sekali Lin. Bisik mamanya sambil menyentuh pipi Sherlin dengan lembut. Suaranya penuh kebanggaan namun ada nada kekhawatiran yang tersembunyi. Sherlin hanya tersenyum kecil lalu merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Di luar jendela suite yang lebar langit sore Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga keemasan tapi di kejauhan terlihat asap hitam yang semakin tebal mengepul dari arah selatan kota. Televisi di sudut ruangan masih menyala pelan sehingga menampilkan berita langsung tentang demonstrasi yang semakin besar di sekitar kawasan bisnis. Ribuan massa berkumpul membawa spanduk dan teriak-teriak menuntut keadilan ekonomi sementara sesekali terdengar kata-kata kasar yang ditujukan kepada kaum pejabat korup dan orang-orang kaya keturunan asing. Sherlin berusaha tidak terlalu memikirkannya karena security hotel sudah sangat ketat. Hampir seluruh lantai ballroom disewa keluarganya dan ada puluhan bodyguard berpakaian hitam yang bersiaga di setiap pintu masuk.
Tak lama kemudian ayahnya masuk ke ruangan dengan setelan jas mahal. Wajahnya tegas tapi tersenyum bangga melihat putrinya yang sudah siap.
"Acara resepsinya akan dimulai satu jam lagi. Katanya dengan suara tenang.
Sherlin mengangguk pelan sehingga tangannya sedikit dingin saat memegang buket bunga. Di koridor hotel yang mewah dengan karpet tebal dan lampu kristal ia bisa mendengar samar-samar suara tamu undangan mulai berdatangan. Tawa ringan para wanita denting gelas champagne yang disajikan di foyer dan musik harpa yang dimainkan pelan di dalam Grand Ballroom terdengar jelas. Para tamu Chindo yang hadir tampak anggun dan mewah. Vivian sepupunya yang 23 tahun dengan tubuh ramping dan rambut panjang bergelombang mengenakan gaun cocktail warna peach yang lembut. Sandra Huang saudara iparnya yang 28 tahun dengan tubuh lebih berisi dan pantat montok terlihat elegan dalam kebaya modern berwarna krem. Tiffany teman dekat Sherlin yang berwajah sangat imut dengan kulit putih porselen tersenyum malu-malu dalam gaun satin biru muda.
Mereka semua saling berpelukan ringan dan memberikan ucapan selamat sehingga suasana masih terasa hangat dan penuh harapan. Suasana tadi siang memang relatif aman dan terkendali karena tidak ada tanda demonstrasi berubah menjadi anarkis sehingga semua tamu tidak terlalu khawatir berlebihan meski sesekali ada bisik-bisik cemas tentang kerumunan di luar yang semakin dekat ke kawasan hotel.


Komentar
Posting Komentar