By : Analconda13
Aku sudah berusaha menjelaskan berhari-hari dengan suara yang semakin parau bahwa aku benci darah benci bau rumah sakit dan hanya ingin kuliah desain atau seni saja tapi mereka tidak pernah mendengar malah mengancam memotong allowance mengurungku di kamar dan membatalkan semua kebebasanku. Aku sering mengunci diri di kamar luas yang penuh barang branded lalu berbaring di tempat tidur king-size sambil memeluk bantal sehingga merasakan dada ini sesak dan air mata hangat mengalir pelan di pipi putihku sambil membayangkan hidup bebas tanpa tekanan yang membuatku sesak napas.
Hari demi hari amarah itu semakin membesar sehingga membuatku semakin diam dan dingin di depan orangtuaku sampai akhirnya pada malam Jumat yang gerah itu jam menunjukkan pukul 01.17 dini hari aku tak sanggup lagi. Hanya mengenakan kaos oversized putih longgar yang menutupi sampai pertengahan paha celana jeans pendek serta ponsel dan powerbank di tangan aku menyelinap keluar rumah tanpa membawa apapun lagi memesan ojol dengan hati berdegup kencang siap meninggalkan segalanya demi mencari udara yang bisa kuhirup dengan bebas.
Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya saat aku menyelinap keluar gerbang rumah dengan jantung berdegup kencang. Aku hanya mengenakan kaos oversized putih longgar serta celana jeans pendek yang kukenakan ditambah ponsel dan powerbank di tangan. Aku memesan ojol tanpa tujuan jelas karena yang penting pergi sejauh mungkin dari rumah yang terasa seperti penjara.
Pengemudinya bernama Faisal pria tegap akhir dua puluhan membawaku berkeliling hampir empat puluh menit melewati pinggiran jalan tol dan arteri kota yang mulai sepi. Pikiranku kacau campur antara lega dan ketakutan yang semakin membesar. Lalu gerimis turun pelan dan semakin deras membasahi tubuhku sehingga Faisal berhenti di pinggir jalan sepi dekat rel kereta api. Aku tak mau turun dan hanya menangis tersedu di boncengan sementara kaos basah menempel ketat di payudaraku.
"Sebenarnya malam malam begini mbak mau kemana sih.. ? Soalnya kita udah lama muter muter tapi gak ada tujuan yang jelas.
"Aku juga gak tau mau kemana bang. Aku gak punya tujuan.. saat ini aku cuma pengen kabur dari rumah.
"Iya tapi gak bisa begitu juga Mbak.. liat nih bensin motor abang aja udah mau abis gini. Takutnya abis muter muter gak jelas nanti mbak malah gak sanggup bayar ongkos ojolnya lagi..
"Iya nanti aku pasti bayar semua ongkosnya bang. Tapi saat ini aku bener bener gak bawa uang. Soalnya tadi aku kabur dari rumah gara gara ribut sama papaku.
Ditengah kekalutan pikiran dan hujan yang semakin deras aku terpaksa mengikuti ajakannya ke kamar kost kecilnya di gang sempit pinggir rel.
"Ya udah soal ongkos mending kita omongin nanti aja. Yang penting sekarang kita cari tempat neduh dari hujan dulu. Lagian udah jam segini abang juga mau pulang ke kontrakan. Gimana kalau sekarang kamu ikut abang aja. Soalnya bahaya kalau perempuan cantik kayak kamu sendirian dijalan malam malam begini. Besok pagi baru abang anterin kamu pulang kerumah.
"Iya bang. Makasih. Tapi beneran aku gak mau pulang kerumah dulu. Aku lebih baik tidur dijalanan daripada hidup penuh tekanan dirumah.
"Aduh kamu ini masih lugu banget sih. Dijalanan itu banyak orang jahat. Yang ada nanti kamu bisa diapa apain sama mereka apalagi daerah sini kan terkenal rawan banget. Udah mending kamu ikut abang ke kontrakan dulu aja. Soal kamu mau pulang kerumah atau nggak nanti baru kita bicarakan lagi.
Aku ragu berat tapi tak punya pilihan karena basah kuyup tak punya uang dan tak tahu harus ke mana. Kami mendorong motor masuk gang lalu masuk ke kamar sempit berukuran 3x3 meter berdinding bata kusam dengan kasur lipat tipis di lantai. Faisal memberiku handuk kecil dan kaos lamanya. Aku mandi air dingin di kamar mandi luar sehingga tubuhku menggigil hebat saat keluar hanya memakai kaos kebesaran yang menutupi sampai pertengahan paha. Rambut basah tergerai dan kulit putihku merona merah. Aku duduk ketakutan di ujung kasur sambil menarik ujung kaos ke bawah sekuat tenaga.
Tak lama kemudian Faisal mendekat lalu duduk di samping Trisya dengan hanya mengenakan celana pendek.
"Badan kamu dingin banget Trisya. Katanya sambil tangannya menyentuh punggungku pelan.
Aku langsung menegang lalu menepis tangan Faisal dengan keras.
"Iikkhh.. apa-apaan sih Bang.. jangan main pegang seenaknya aja dong" kataku dengan suara kesal.
"Gak usah marah moy.. Abang kan cuma mau bantu periksa keadaan kamu aja. jawab Faisal dengan nada santai namun matanya penuh nafsu. "Lagian kalau Abang perhatiin dari penampilannya kayaknya kamu tuh bukan perempuan baik-baik ya.. atau jangan-jangan kamu lonte yang suka jual diri di jalanan yaa..
"Bang.. tolong jangan ngomong sembarangan ya.. Aku bukan lonte. bantahku cepat dengan suara bergetar. "Aku nggak seperti itu.. aku cuma kabur dari rumah malam ini..
Faisal diam sebentar namun matanya semakin gelap lalu ia mendekat lagi sehingga tangannya lebih kuat menahan lenganku.
"Udah gak usah banyak alasan. Mana ada sih perempuan baik baik yang keluyuran gak jelas malam malam kayak gini. Hehe.. Mending sekarang kamu nurut aja sama abang.. Abang cuma mau seneng seneng sebentar aja kok.. Anggap aja buat gantiin ongko ojol tadi.
"Aku nggak mau.. Jangan Mas.. tolong lepaskan" katanya dengan suara bergetar sementara tubuhnya mundur ke dinding. Hatiku kalut takut dan marah pada dirinya sendiri karena sudah nekat kabur bersama ojol yang kini berusaha melecehkanku.
Aku tak bisa bergerak leluasa lagi karena tubuh Faisal yang berat dan tegap benar-benar menindihku di kasur tipis yang hanya beralaskan seprai lusuh. Kedua tanganku masih ditahan kuat di atas kepala oleh satu tangannya yang besar sementara tangan kanannya terus bergerak liar di bawah kaos kebesaran yang sudah naik sampai dada. Jari-jarinya yang kasar memilin putingku bergantian menarik dan memutarnya hingga rasa perih bercampur panas aneh menjalar ke perutku. "Mas… tolong… lepasin… aku nggak mau…" rintihku lagi dengan suara pecah dan bergetar sementara air mata terus mengalir di pipi putihku. Tapi Faisal hanya mendengus pelan dan napasnya panas serta berat di leherku. Bibirnya menggigit kulit halus di bawah telingaku meninggalkan bekas merah yang terasa panas lalu turun ke tulang selangkaku sambil menghisap kuat.
Aku masih berusaha meronta sehingga pinggulgku bergerak ke kiri dan kanan mencoba melepaskan diri tapi semakin aku melawan semakin kuat ia menekan selangkangannya yang sudah sangat keras ke paha dalamku. Celana dalam hitam tipisku sudah basah bukan hanya karena gerimis tadi. Jari tengah Faisal terus menggosok klitorisku dengan gerakan melingkar yang semakin cepat dan kasar sesekali menekan kuat hingga tubuhku mengejang tanpa bisa kucegah. "Ahh… jangan di situ… Mas… please…" desahku tak sengaja keluar campur antara tangis dan suara yang bahkan aku sendiri tak mengenalinya. Sensasi panas yang tak diinginkan mulai menyebar dari bawah perutku sehingga membuat lututku lemas meski pikiranku berteriak menolak.
Faisal melepaskan tanganku sebentar hanya untuk menarik kaosnya yang kukenakan sampai ke atas kepala dan membuangnya ke samping. Tubuhku yang polos kini terpampang di depannya dengan payudara sedang yang kencang kulit putih mulus yang masih agak dingin serta celana dalam hitam yang sudah tembus basah di tengah. Aku langsung berusaha menutupi dada dengan kedua tangan tapi ia menarik kedua pergelangan tanganku lagi dan menekannya ke kasur. "Jangan ditutup… kamu terlalu cantik untuk ditutup" bisiknya serak sementara matanya gelap penuh nafsu. Mulutnya turun langsung ke payudaraku mengisap puting kiri dengan kuat sambil lidahnya berputar di ujungnya. Aku menggigit bibir bawah sampai terasa sakit mencoba menahan desahan yang ingin keluar tapi saat ia menggigit pelan dan menghisap lebih dalam suara kecil lolos dari tenggorokanku.
Tangan Faisal yang bebas kini menarik celana dalamku ke bawah dengan kasar hingga ke mata kaki. Aku menendang-nendang lemah tapi ia membuka kedua kakiku lebar-lebar dengan lututnya. Udara dingin langsung menyapa bagian intimku yang sudah licin dan panas. Aku merasa sangat malu dan tak berdaya. "Bang Faisal… aku masih perawan… jangan… tolong… pintaku sekali lagi dengan suara kecil yang hampir hilang. Faisal mengangkat wajahnya dari payudaraku lalu tersenyum tipis yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia melepaskan celana pendeknya sendiri sehingga batangnya melompat keluar besar berurat dan kepalanya sudah mengkilap basah. Ia menggosok-gosokkan kepala kontolnya yang panas di bibir vaginaku yang licin naik turun pelan sambil menekan klitorisku setiap kali lewat.
Aku tak bisa bergerak leluasa lagi karena tubuh Faisal yang berat dan tegap benar-benar menindihku di kasur tipis yang hanya beralaskan seprai lusuh. Kedua tanganku masih ditahan kuat di atas kepala oleh satu tangannya yang besar sementara tangan kanannya terus bergerak liar di bawah kaos kebesaran yang sudah naik sampai dada. Jari-jarinya yang kasar memilin putingku bergantian menarik dan memutarnya hingga rasa perih bercampur panas aneh menjalar ke perutku. "Mas… tolong… lepasin… aku nggak mau… rintihku lagi dengan suara pecah dan bergetar sementara air mata terus mengalir di pipi putihku. Tapi Faisal hanya mendengus pelan dan napasnya panas serta berat di leherku. Bibirnya menggigit kulit halus di bawah telingaku meninggalkan bekas merah yang terasa panas lalu turun ke tulang selangkaku sambil menghisap kuat.
Aku masih berusaha meronta sehingga pinggulgku bergerak ke kiri dan kanan mencoba melepaskan diri tapi semakin aku melawan semakin kuat ia menekan selangkangannya yang sudah sangat keras ke paha dalamku. Celana dalam hitam tipisku sudah basah bukan hanya karena gerimis tadi. Jari tengah Faisal terus menggosok klitorisku dengan gerakan melingkar yang semakin cepat dan kasar sesekali menekan kuat hingga tubuhku mengejang tanpa bisa kucegah. "Ahh… jangan di situ… bang… please…" desahku tak sengaja keluar campur antara tangis dan suara yang bahkan aku sendiri tak mengenalinya. Sensasi panas yang tak diinginkan mulai menyebar dari bawah perutku sehingga membuat lututku lemas meski pikiranku berteriak menolak.
Faisal melepaskan tanganku sebentar hanya untuk menarik kaosnya yang kukenakan sampai ke atas kepala dan membuangnya ke samping. Tubuhku yang polos kini terpampang di depannya dengan payudara sedang yang kencang kulit putih mulus yang masih agak dingin serta celana dalam hitam yang sudah tembus basah di tengah. Aku langsung berusaha menutupi dada dengan kedua tangan tapi ia menarik kedua pergelangan tanganku lagi dan menekannya ke kasur. "Jangan ditutup… kamu terlalu cantik untuk ditutup" bisiknya serak sementara matanya gelap penuh nafsu. Mulutnya turun langsung ke payudaraku mengisap puting kiri dengan kuat sambil lidahnya berputar di ujungnya. Aku menggigit bibir bawah sampai terasa sakit mencoba menahan desahan yang ingin keluar tapi saat ia menggigit pelan dan menghisap lebih dalam suara kecil lolos dari tenggorokanku.
Tangan Faisal yang bebas kini menarik celana dalamku ke bawah dengan kasar hingga ke mata kaki. Aku menendang-nendang lemah tapi ia membuka kedua kakiku lebar-lebar dengan lututnya. Udara dingin langsung menyapa bagian intimku yang sudah licin dan panas. Aku merasa sangat malu dan tak berdaya. "Bang Faisal… aku masih perawan… jangan… tolong…" pintaku sekali lagi dengan suara kecil yang hampir hilang. Faisal mengangkat wajahnya dari payudaraku lalu tersenyum tipis yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia melepaskan celana pendeknya sendiri sehingga batangnya melompat keluar besar berurat dan kepalanya sudah mengkilap basah. Ia menggosok-gosokkan kepala kontolnya yang panas di bibir vaginaku yang licin naik turun pelan sambil menekan klitorisku setiap kali lewat.
Faisal terus menggesekkan kejantanan yang tebal dan panas itu di sepanjang celah kewanitaanku sehingga lendir kawinku semakin banyak keluar dan membuat kepala kontolnya semakin licin. Setiap kali kepalanya melewati klitorisku rasa panas itu semakin kuat dan membuat pinggulgku bergetar kecil tanpa bisa kuhentikan. "Mas… cukup… aku takut…" kataku dengan suara gemetar sambil mencoba memejamkan mata rapat-rapat. Tapi Faisal malah mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Kamu sudah basah banget Trisya… badanmu jujur meski mulutmu bilang tidak" bisiknya serak penuh nafsu.
Ia menahan pinggulgku dengan satu tangan yang kuat lalu mulai mendorong pelan. Kepala kontolnya yang besar dan tebal mulai meregangkan bibir vaginaku yang masih sangat sempit. Rasa perih langsung menyengat kuat dan membuatku menjerit kecil. "Ahhh… sakit… keluarin Mas…!" jeritku pelan sementara kuku jariku mencengkeram lengannya kuat-kuat. Faisal berhenti sebentar tapi hanya untuk mengusap klitorisku lagi dengan jempolnya yang kasar sambil mendorong perlahan masuk lebih dalam inci demi inci. Tubuhku yang ramping menegang hebat dan vaginaku mencengkeram batangnya yang besar dengan sangat ketat. Rasa penuh dan sakit bercampur menjadi satu sehingga air mataku mengalir semakin deras di pipi putihku.
Faisal mulai bergerak pelan keluar masuk dengan ritme yang hati-hati tapi semakin dalam setiap dorongannya. Setiap kali ia memompa masuk lebih jauh payudaraku bergoyang pelan dan desahan kecil keluar dari mulutku meski aku berusaha menahannya sekuat tenaga. Suara kereta api lewat di luar menggetarkan dinding kamar kecil itu dan menutupi napas kami yang semakin berat. Tubuhku yang tadinya meronta kini mulai lemas hanya sesekali menggeliat lemah saat ia menyentuh titik sensitif di dalam liang kewanitaanku yang membuat gelombang panas tak terkendali naik ke kepalaku.
Faisal terus menggesekkan kejantanan yang tebal dan panas itu di sepanjang celah kewanitaanku sehingga lendir kawinku semakin banyak keluar dan membuat kepala kontolnya semakin licin. Setiap kali kepalanya melewati klitorisku rasa panas itu semakin kuat dan membuat pinggulgku bergetar kecil tanpa bisa kuhentikan. "Mas… cukup… aku takut…" kataku dengan suara gemetar sambil mencoba memejamkan mata rapat-rapat. Tapi Faisal malah mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Kamu sudah basah banget Trisya… badanmu jujur meski mulutmu bilang tidak" bisiknya serak penuh nafsu.
Ia menahan pinggulgku dengan satu tangan yang kuat lalu mulai mendorong pelan. Kepala kontolnya yang besar dan tebal mulai meregangkan bibir vaginaku yang masih sangat sempit sehingga rasa perih langsung menyengat kuat dan membuatku menjerit kecil. "Ahhh… sakit… keluarin Mas…!" jeritku pelan sementara kuku jariku mencengkeram lengannya kuat-kuat. Faisal berhenti sebentar tapi hanya untuk mengusap klitorisku lagi dengan jempolnya yang kasar sambil mendorong perlahan masuk lebih dalam inci demi inci. Tubuhku yang ramping menegang hebat dan vaginaku mencengkeram batangnya yang besar dengan sangat ketat. Rasa penuh dan sakit bercampur menjadi satu sehingga air mataku mengalir semakin deras di pipi putihku.
Faisal mulai bergerak pelan keluar masuk dengan ritme yang hati-hati tapi semakin dalam setiap dorongannya. Setiap kali ia memompa masuk lebih jauh payudaraku bergoyang pelan dan desahan kecil keluar dari mulutku meski aku berusaha menahannya sekuat tenaga. Suara kereta api lewat di luar menggetarkan dinding kamar kecil itu dan menutupi napas kami yang semakin berat. Tubuhku yang tadinya meronta kini mulai lemas hanya sesekali menggeliat lemah saat ia menyentuh titik sensitif di dalam liang kewanitaanku yang membuat gelombang panas tak terkendali naik ke kepalaku.
Semakin lama gerakannya semakin cepat dan kuat sehingga setiap tabrakan pangkal kontolnya ke bibir vaginaku menghasilkan suara basah yang memalukan. Payudaraku bergoyang liar dan putingku yang keras terasa panas setiap kali dada bidangnya menindihnya. "Mas… pelan… terlalu besar… ahh…" rintihku putus asa dengan suara yang sudah bercampur desahan. Faisal malah mempercepat laju pinggulnya dan memompa lebih brutal sehingga batangnya menghujam dalam-dalam berulang kali dan membuat dinding vaginaku yang sensitif tergesek kasar. Sensasi panas itu semakin membesar di perutku dan lututku mengejang tak terkendali.
Faisal tiba-tiba menarik kontolnya keluar dengan bunyi basah yang memalukan lalu membalik tubuhku dengan mudah seperti boneka sehingga kini aku berada dalam posisi doggy dengan lutut di kasur dan bokongku terangkat tinggi. Wajahku tertelungkup di bantal tipis dan rambut hitam panjangku acak-acakan. "Mas… jangan dari belakang…" mohonku lemah tapi Faisal sudah memegang pinggulgku yang ramping dengan kedua tangan kuat lalu mendorong masuk lagi dalam satu gerakan mulus hingga pangkal. Aku menjerit kecil merasakan penetrasi yang jauh lebih dalam dari posisi ini. Ia mulai menggenjot pinggulnya dengan keras sehingga suara plok-plok basah memenuhi kamar kecil itu bercampur suara kereta api yang lewat di luar.
Tangan Faisal meraih rambutku menariknya pelan hingga punggungku melengkung. Satu tangannya meremas payudaraku dari bawah sambil terus menghantam dari belakang dengan ritme cepat dan kuat. Setiap tabrakan membuat bokong putihku bergoyang dan terasa panas. Klitorisku bergesekan tidak langsung dengan setiap gerakan sehingga gelombang kenikmatan yang tak diinginkan semakin tinggi. "Ahh… ahh… Mas Faisal… terlalu dalam…" desahku tanpa henti sementara air liurku hampir menetes karena mulutku terus terbuka. Tubuhku mulai berkhianat sehingga pinggulgku malah bergerak mundur menyambut dorongannya yang brutal.
Faisal menarikku lagi kali ini membalik tubuhku dan mendudukkanku di pangkuannya dalam posisi cowgirl. Kontolnya masih tertanam dalam saat aku duduk di atasnya. "Gerakkan pinggulmu Trisya" perintahnya serak sambil meremas kedua bokongku. Aku menggeleng lemah tapi tangannya memaksa pinggulgku naik turun. Awalnya pelan dan canggung tapi semakin lama semakin cepat karena sensasi penuh di dalam vaginaku yang terus bergesekan dengan batangnya yang tebal. Payudaraku bergoyang liar di depan wajahnya. Faisal mengisap dan menggigit putingku bergantian sambil tangannya menepuk bokongku pelan sehingga mendorongku semakin liar.
Napas kami berdua sudah tersengal-sengal. Aku merasakan kontolnya semakin membesar dan berdenyut di dalamku. "Aku mau keluar…" geram Faisal di telingaku. Ia memeluk pinggangku erat lalu menggoyang pinggulnya dari bawah dengan kuat dan cepat. Aku hanya bisa memeluk lehernya menjerit kecil setiap kali ia menghantam paling dalam. Tubuhku mengejang hebat sehingga vaginaku mencengkeramnya kuat-kuat saat gelombang orgasme pertama yang tak terduga menyapu diriku. "Ahhhhh…!" jeritku panjang sementara cairanku menyembur membasahi pangkal kontolnya.
Faisal mendengus keras. Dengan beberapa dorongan terakhir yang sangat dalam dan brutal ia menekan pinggulgku ke bawah sekuat tenaga. Panas sperma kentalnya menyembur deras jauh di dalam rahimku denyut demi denyut memenuhiku hingga meluap keluar di sela-sela pertemuan kami. Ia mengerang panjang di leherku tubuhnya kejang beberapa kali sambil terus menyemburkan sisa-sisanya. Aku merasakan panas itu membanjiri dalamku sehingga membuat perutku terasa penuh dan hangat.
Aku terbaring lemas di kasur tipis tubuhku masih bergetar hebat akibat orgasme paksa yang baru saja menyapu diriku. Sperma Faisal yang panas dan kental masih terasa membanjiri dalam rahimku meluap pelan keluar dari vaginaku yang terasa perih dan penuh. Napasku tersengal-sengal payudaraku naik turun cepat dan kulit putihku basah oleh keringat serta air mata. Tapi bukannya puas rasa malu dan jijik justru membuncah. Air mataku yang tadinya hanya mengalir pelan kini pecah menjadi tangisan sesenggukan yang tak terbendung. "Hiks… hiks… kenapa… kenapa Mas lakuin ini…" isakku keras sementara tubuhku gemetar hebat sambil mencoba menutupi dada dan selangkanganku dengan kedua tangan yang lemah.
Faisal bangkit sedikit bertumpu pada satu siku. Wajahnya masih memerah napasnya berat tapi matanya menyipit dingin saat melihat aku menangis. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan lalu meraih daguku kasar memaksa aku menatapnya. "Udah nangis aja sekarang? Tadi badanmu goyang-goyang sendiri Trisya" katanya dengan suara rendah yang mengancam. Aku menggeleng kuat-kuat dan air mata semakin deras. "Aku… aku nggak mau… tolong… aku mau pulang…" rintihku di sela isakan.
Ia tertawa pelan suara tawa yang membuat bulu kudukku berdiri. Tangan besarnya masih memegang pinggangku posesif dan jarinya menekan bekas remasan di kulit putihku. "Pulang ke mana? Kamu sendiri yang kabur dari rumah nggak bawa apa-apa. Sekarang kamu di kamar aku sudah basah-basah gini dan kamu pikir aku bakal lepas begitu saja?" katanya dengan suara semakin pelan tapi tajam. "Dengar ya Trisya. Malam ini kamu nurut sama aku. Kalau kamu melawan lagi nangis teriak-teriak atau coba kabur… aku bisa berbuat lebih kejam dari ini.
Aku membeku mendengar ancamannya. Faisal mendekatkan wajahnya sampai napasnya terasa di pipiku. "Aku bisa paksa kamu lagi berkali-kali sampe kamu nggak bisa jalan. Terus aku buang kamu di pinggir sungai dekat rel kereta itu. Tubuh putih cantikmu yang telanjang basah kuyup siapa yang bakal cari? Orangtua yang kamu kaburi itu? Atau polisi? Kamu cuma cewek kaburan Trisya. Nggak ada yang peduli" katanya tegas.
Ketakutan menyergapku seperti es dingin yang dituang ke kepala. Tubuhku yang tadinya masih hangat setelah percintaan paksa itu kini menggigil hebat. Aku tidak berani bicara lagi. Hanya isakan kecil yang keluar dari mulutku. Saat Faisal melepaskan pegangannya aku langsung meringkuk ketakutan di sudut kamar kecil itu. Punggungku menempel ke dinding bata yang kasar dan dingin lututku ditekuk ke dada dan kedua tangan memeluk kaki erat-erat berusaha menutupi tubuh polosku yang masih basah dan berantakan. Rambut hitam panjangku menutupi sebagian wajah tapi aku tetap bisa melihat Faisal yang duduk di kasur sambil memandangku dengan tatapan puas dan mengancam.
"Bagus… begitu dong" katanya pelan sambil merokok. Asap rokoknya mengepul di kamar sempit. "Sekarang diam di situ dulu. Besok pagi kita lihat kelakuanmu. Kalau kamu manis dan nurut aku bisa kasih makan dan pikirkan apa yang bakal aku lakuin sama kamu selanjutnya. Tapi kalau kamu nekat melawan… kamu sudah tahu ancamanku tadi. Aku akan genjot kamu lagi sekeras mungkin sampai kamu jerit-jerit minta ampun lalu aku seret tubuhmu yang penuh sperma ke sungai dan buang di sana."
Aku hanya bisa meringkuk semakin kecil di sudut kamar bahuku terguncang hebat karena tangis yang tak berhenti. Vaginaku masih terasa perih dan lengket oleh campuran cairan kami payudaraku penuh bekas gigitan dan remasan merah. Di luar suara kereta api lewat lagi menggetarkan dinding dan membuatku semakin merasa sendirian dan tak berdaya. Malam ini rasanya tak akan pernah berakhir dan aku tak tahu apa yang akan terjadi saat matahari terbit nanti.


Komentar
Posting Komentar