⚠️ DISCLAIMER / ATTENTION ⚠️
Cerita ini murni fiksi dan hanya untuk tujuan hiburan semata. Semua tokoh, peristiwa, nama tempat, atau dialog di dalamnya adalah hasil rekaan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menghina, menghasut kebencian, atau menjelekkan kelompok etnis, ras, agama, atau golongan tertentu.
Segala kesamaan nama atau kejadian dengan peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten ini dan tidak membawa materi cerita ini ke ranah nyata.
By : Analconda13
Perkenalkan namaku Angel Patricia Limanto. Saat ini aku berusia 17 tahun dan masih berstatus sebagai seorang pelajar di sebuah sekolah menengah atas swasta di Jakarta. Aku adalah seorang gadis keturunan cina dengan kulit yang putih mulus serta paras oriental yang khas. Aku anak bungsu dari keluarga tionghoa sederhana yang merantau dari Medan ke Jakarta lima tahun lalu yang kata papaku untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Sebenarnya aku tidak sendirian karena aku memiliki kakak perempuan bernama Caroline yang kini berusia 24 tahun. Kata orang wajah kami berdua sangat mirip namun tubuhnya sedikit lebih tinggi dariku. Penampilan kakakku juga jauh lebih modis dengan rambut panjang yang dicat kecoklatan dan ujungnya sedikit bergelombang sementara aku malah terkesan lebih innocent seperti anak rumahan yang jarang keluar rumah. Ciciku yang cantik itu sudah menikah dengan rekan kerjanya dan saat ini tinggal bersama suaminya di Bekasi.
Setelah menikah dua tahun yang lalu ciciku tinggal bersama suaminya. Hal ini tentu saja membuat keadaan rumah jadi tambah sepi. Dulu kakakku selalu menjadi tempat curhat sekaligus pelindungku dari aturan ketat orang tua. Sekarang hanya tinggal aku bersama mama dan papa di rumah kontrakan dua lantai yang sederhana. Rumah kami berada di kompleks perumahan lama yang sepi dan asri di daerah Jakarta Utara. Pohon-pohon besar menaungi jalan kompleks sehingga suasana selalu teduh dan jarang terdengar suara tetangga. Cat pagar depan rumah kami hijau pudar. Halaman kecil hanya ada beberapa pot bunga yang mulai layu. Di ruang tamu lantai bawah masih berdiri tegak altar sembahyang leluhur lengkap dengan patung Dewa Mazu dan Dewa Kekayaan serta meja merah. Beberapa batang dupa harum sering menyala di sana saat pagi hari.
Saat berada di rumah kami sehari-hari selalu menggunakan bahasa Hokkien dengan logat medan yang khas. Papa dan mama terbiasa berkomunikasi seperti itu sehingga aku pun ikut terbiasa. Logatku jadi sedikit berbeda dari teman-teman sekolahku yang lain yang kebanyakan pakai bahasa indonesia sehari-hari atau Hokkien Jakarta yang lebih halus. Kadang teman-temanku suka menggodaku karena cara bicaraku yang masih kental nuansa medannya.
Orang tuaku sangat kolot dan memegang teguh tradisi tionghoa. Mereka melarang aku bergaul dengan sembarangan cowok apalagi kalau cowok itu merupakan cowok pribumi yang entah kenapa selalu dipandang rendah oleh keluargaku. Setiap harinta aku harus pulang tepat waktu dan jarang diberi kebebasan. Ayahku membuka usaha bengkel bubut sehingga pulang kerja selalu malam. Sedangkan ibuku berjualan kue tradisional Tionghoa di pasar sampai sore. Karena kesibukan mereka berdua dan kepergian kakakku aku selalu pulang sekolah naik ojol online yang berbeda setiap harinya lewat aplikasi. Aku sering merasa kesepian tapi aku tidak berani melanggar aturan orang tua karena papaku memiliki watak yang keras dari seorang perantau yang tak suka ditentang oleh siapapun.
Suatu hari sekitar pukul dua siang di akhir musim hujan. Langit terlihat mendung gelap sejak tadi pagi. Aku baru keluar dari gerbang sekolah dengan seragam SMA yang masih rapi. Kemeja putihku agak ketat di dada rok abu-abu lipit panjangnya pas di atas lutut kaus kaki putih pendek serta sepatu hitam mengkilap. Rambut hitamku yang lurus panjang diikat kuncir kuda sederhana. Wajahku polos dengan kulit putih mulus khas gadis chindo bibir tipis alami dan mata sipit yang selalu tertunduk malu.
Ketika pulang sekolah aku langsung memesan ojol melalui aplikasi seperti biasa tanpa memperhatikan siapa yang datang. Tak lama kemudian muncul sebuah motor Beat hitam yang agak kotor. Pria yang mengendarainya berusia sekitar 35 tahun. Tubuhnya kekar kulit sawo matang berjanggut tipis dan memakai jaket ojol yang sudah usang.
"Angel ya ? Tanyanya dengan suara berat sambil menyerahkan helm cadangan.
Aku hanya mengangguk pelan tanpa banyak bicara lalu naik ke belakang motor dengan hati-hati sambil menarik rok seragam sekolahku agar tidak naik terlalu tinggi. Aku merasa sedikit gelisah karena pria ini terlihat berbeda dari ojol yang biasa aku pesan. Motor mulai berjalan meninggalkan sekolah sementara angin yang dingin menerpa tubuhku. Aku memegang samping jok dengan tangan kanan agar tetap seimbang.
Perjalanan pulang kali ini terasa lebih lama dari biasanya. Hujan mulai turun deras ketika kami memasuki kompleks perumahan. Jalanan kecil dan licin membuat Bang Joko mengurangi kecepatan motor. Tubuhnya sesekali bergeser ke belakang sehingga punggungku hampir menempel padanya. Aku merasa tidak nyaman tapi aku hanya bisa diam sambil memegang erat grab belakang motor. Sesekali Bang Joko mengajak bicara lewat samping bahunya.
"Rumahnya yang di ujung jalan sana ya dek? Ngomong ngomong komplek sini sepi juga ya kalau siang.. katanya dengan suara berat.
Aku hanya menjawab singkat dengan suara kecil.
"Iya Bang… mungkin orang orang belum pada pulang kerja kali.. jawabku pelan.
Hujan semakin deras saat motor akhirnya berhenti di depan pagar hijau pudar. Aku buru-buru turun membayar melalui aplikasi lalu berjalan cepat menuju teras sambil memeluk tas sekolahku yang mulai basah. Aku merasa lega akhirnya sampai di rumah tapi entah kenapa hati ini masih gelisah.
Begitu aku membuka pintu rumah dengan kunci cadangan aku langsung merasakan kesunyian yang pekat di dalam. Ruangan tamu kosong hanya ada aroma dupa samar-samar dari altar yang masih menyala. Orang tuaku belum pulang karena ayah masih sibuk kerja di bengkel bubutnya sedangkan mama biasanya baru selesai berjualan ketika hari menjelang malam
Aku menghela napas lega sekaligus lelah lalu meletakkan tas di sofa dan melepas sepatu serta kaus kaki. Baru saja aku hendak naik ke kamar lantai dua untuk ganti baju tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan yang masih sedikit terbuka. Bang Joko berdiri di sana dengan jaket basah kuyup dan tangan memegang helm.
"Permisi dek.. Abang boleh numpang ke kamar mandi sebentar gak ? Soalnya udah kebelet nih.. lagian diluar juga hujannya masih deres banget.. Katanya dengan suara mendesak.
Aku berdiri di ambang pintu sambil tanganku masih memegang gagang pintu kayu yang agak dingin karena hujan. Wajahku terlihat ragu karena dalam keluarga kami yang ketat menerima orang asing masuk rumah saat tidak ada orang tua adalah hal yang sangat dilarang. Tapi Bang Joko berdiri di depanku dengan jaket ojol basah kuyup dan air hujan masih menetes dari helmnya.
"Tolong dek.. Abang cuma mau numpang kencing sebentar aja kok.. soalnya udah kebelet dari tadi nahan di jalan. katanya lagi dengan suara bergetar seolah menahan benar-benar.
Aku menggigit bibir bawahku dan mata sipitku melirik ke dalam rumah yang sunyi lalu ke altar sembahyang yang dupa tipisnya masih mengepul. Aku teringat ajaran orang tuaku yang harus sopan kepada orang yang lebih tua. Akhirnya dengan suara kecil dan malu-malu aku menjawab.
"I-iya Bang… masuk aja.. Kamar mandinya ada di belakang dekat dapur. Kataku pelan.
Aku merasa gelisah tapi tetap membuka pintu lebih lebar agar dia bisa masuk. Begitu Bang Joko masuk ke rumah ia langsung melangkah tanpa menunggu lama. Telapak kakinya yang kotor meninggalkan jejak basah di lantai keramik ruang tamu. Aku menutup pintu depan tapi tidak mengunci lalu berjalan agak jauh di belakangnya sambil menunjukkan arah. Bau keringat bercampur hujan dari tubuhnya tercium samar saat ia lewat. Aku merasa tidak nyaman tapi aku berusaha mengabaikannya.
"Kamar mandinya disebelah sini bang.. Kataku pelan sambil menunjuk pintu kamar mandi di ujung lorong lantai bawah.
Bang Joko mengangguk tapi sebelum masuk ia berhenti sejenak dan melihat sekeliling. Matanya singgah pada foto keluarga di dinding lalu ke altar sembahyang leluhur yang dilengkapi dengan patung dewa kepercayaan keluarga kami.
"Rumahnya sepi banget ya dek ? Emang keluarganya pada kemana ? Tanyanya santai.
Aku menunduk sambil tanganku memilin ujung kemeja seragam yang masih basah.
"Kalau jam segini mah papa masih sibuk kerja di bengkel bubutnya. Kalau mama sibuk jualan kue basah di kios yang ada dipasar.
Terus kalau adik atau kakak kamu pada kemana ? Tanya Joko lagi.
"Aku gak punya adik bang. Cici aku sudah menikah dan sekarang tinggal sama suaminya di Bekasi. Jawabku polos.
"Owh… berarti kamu sering sendirian dong dirumah. Emangnya gak takut sendirian dirumah. Apalagi daerah komplek sini kan sepi banget kalau siang hari. Katanya sambil tersenyum tipis.
"Nggak kok bang.. aku udah biasa sendirian kayak gini. Pulang sekolah palingan diem dirumah aja sambil nungguin mama pulang dari toko.
"Owhhh.. ya udah kalau gitu abang pinjem toiletnya sebentar ya.. nanti kalau udah selesai abang akan langsung pergi. Soalnya gak enak kalau sampe mama kamu tahu..
Bang Joko masuk ke kamar mandi tapi pintunya tidak ditutup rapat. Aku mendengar suara air mengalir tapi lama sekali. Aku berdiri gelisah di ruang tamu lalu melipat jas hujan tipis dan meletakkannya di kursi. Beberapa menit kemudian Bang Joko keluar dengan wajah yang sudah lebih segar. Ia melepas jaket ojol hijaunya dan menggantungnya di kursi makan. Kaos oblong hitamnya melekat di tubuh kekarnya yang penuh otot.
"Terima kasih ya dek udah dikasih pinjem toiletnya. Jarang loh ada pelanggan yang ramah seperti kamu.
"Iya bang.. gapapa kok.. aku juga mau terima kasih sama abang. Soalnya kalau hujan kan jarang ada ojol yang mau narik penumpang. Yang ada tadi aku bisa nunggu lama disekolahan. Sahutku dengan sedikit tersenyum.
"Dek.. hujannya diluar masih deres banget ya.. ngomong ngomong abang boleh kan numpang berteduh dirumah kamu dulu sampai hujannya berhenti. Soalnya tadi Abang juga sempat dapet info dari group ojol katanya jalanan komplek disini sering banjir kalau hujan deras. katanya sambil mendekat ke sofa. Menyadari hal ini aku langsung mundur selangkah.
"Aduhh gimana ya bang.. bukannya aku mau ngusir abang. soalnya aku udah dipeseni papa gak boleh sembarangan masukin orang asing kedalam rumah sih. Nanti kalau papa sampe tahu bisa gawat akunya.. jawabku.
"Masa sebentar aja gak boleh sih dek.. nanti kalau hujan udah reda juga abang bakalan langsung pergi kok.. emang kamu gak kasian apa kalau sampe motor abang mogok kena banjir dijalanan komplek.
Bang Joko tidak langsung pergi. Ia duduk di sofa ruang tamu dengan santai tepat di depan meja altar sembahyang leluhur yang berwarna merah dan kakinya terbuka lebar.
"Gimana dek.. boleh kan Abang numpang berteduh sebentar dirumah kamu. Lagian kalau kamu gak cerita juga papa kamu gak bakalan tahu hal ini.
Aku semakin gelisah dan melirik jam dinding. Orang tuaku pasti belum pulang dalam waktu dekat.
"Boleh… tapi jangan lama-lama ya Bang. Saya mau ganti baju dulu di atas. Soalnya baju seragam aku basah semua kena hujan tadi. Kataku dengan suara hampir berbisik.
Saat aku berbalik hendak naik tangga tiba-tiba tangan Bang Joko yang besar dan kasar memegang pergelangan tanganku dengan kuat.
"Tunggu dulu Angel.. Abang masih pengen ngobrol sama kamu.. katanya dengan suara masih lembut tapi cengkeramannya kuat.
Aku tersentak kaget dan tubuhku bergetar.
"B-Bang… lepasin… apa apaan sih.. kataku sambil mencoba menarik tangan.
Bang Joko malah menarikku pelan hingga aku terduduk di sampingnya di sofa. Bau tubuhnya kini sangat dekat campuran keringat rokok dan hujan. Ia tersenyum dan matanya menelusuri wajahku lalu turun ke dada kemeja seragam yang agak basah dan menempel di payudaraku yang kencang.
"Kamu tuh keliatan cantik banget ya angel.. pokoknya beda sama cewek chindo lainnya.. muka kamu juga masih keliatan cina banget.. pasti banyak lelaki yang naksir sama kamu disekolah. Katanya.
Aku merasa jantungku berdegup kencang dan gelisah. Aku mencoba berdiri lagi tapi Bang Joko menarik pinggangku hingga tubuhku hampir jatuh ke pangkuannya.
"Bang Joko… tolong… lepasin aku.. jangan kurang ajar ya.. nanti aku teriak loh.. Kataku dengan suara bergetar ketakutan.
Tangan Bang Joko yang kasar langsung menyusup ke bawah rok seragamku dan menyentuh paha mulusku yang dingin karena hujan.
"Masa cuma pegang sedikit aja gak boleh sih sayang.. Abang kan udah berjasa anterin kamu pulang dari sekolah.. anggap aja kamu kasih tips tambahan untuk abang. katanya.
Napasnya mulai berat dan tangannya semakin naik perlahan di balik rok sementara tangan satunya memegang erat bahuku agar aku tidak bisa kabur. Aku mencoba menarik tubuhku ke belakang tapi cengkeramannya terlalu kuat. Tubuh mungilku yang ringan hampir tak berdaya melawan lengan kekarnya.
"Bang… tolong… jangan… kataku dengan suara bergetar dan mata sipitku mulai berkaca-kaca karena takut.
Tangan Bang Joko yang kasar dan penuh kapalan terus menyusup lebih dalam ke balik rok sekolah abu-abu lipitku. Jari-jarinya menyentuh kulit paha dalamku yang halus dan dingin.
"Akhhh.. lepasin.. jangaann kurang ajar bangg.. kataku sambil menggeliat tapi tangannya tetap tak mau berhenti menjelajah pahaku.
"Sst… diam aja Angel. Jadi amoy tuh gak boleh sombong sama pribumi.. emang kamu gak tahu jaman kerusuhan dulu. Banyak tuh amoy amoy yang dilecehin sama massa didepan umum gara gara mereka pada sombong dan jual mahal sama pribumi. Bisiknya di telingaku dengan napas panas dan berat bercampur bau rokok.
Aku menggeleng kuat dan tanganku mendorong dada Bang Joko yang keras tapi sia-sia. Ia malah menarikku lebih dekat hingga aku duduk di pangkuannya. Rokku naik hingga pinggang dan memperlihatkan celana dalam putih polosku yang sederhana. Dengan satu tangan memeluk pinggangku erat tangan satunya naik ke dada dan meremas pelan payudaraku yang kencang dan montok di balik baju seragam yang basah.
"Uh… Bang… sakit… lepasin… kataku sambil menangis pelan dan tubuhku menggigil.
Aku mencoba memukul lengannya tapi pukulanku lemah. Bang Joko tertawa pelan dengan suara serak.
"Badan kamu putih banget angel.. jujur aja Abang tuh paling suka sama amoy yang masih innocent kayak kamu.. keliatan polos tapi bikin penasaran lelaki pribumi. katanya.
Ia membuka kancing kemejaku satu per satu dengan sabar dan memperlihatkan bra putih polos yang membungkus payudaraku yang bergetar karena napas tersengal. Bang Joko menunduk mencium leherku yang harum lalu menggigit pelan kulitku hingga meninggalkan bekas merah. Aku merintih ketakutan dan air mataku jatuh ke bahunya.
"Wangi banget badan kamu angel.. pasti semua amoy badannya wangi seperti kamu ya..
"Baaang.. udaahh bang.. tolong lepasin akuu !! Sebenarnya abang mau apa sih.. !! kalau abang mau minta tips tambahan nanti aku kasih kok..
"Iya abang emang mau tips tambahan karena udah susah payah nganterin kamu pulang sekolah sambil hujan hujanan kayak gini. Tapi abang maunya bukan dikasih uang ya. Abang pengen tips yang lain aja..
"Maksud abang apa.. lepasin aku bang.. jangan macam macam ya bang.. nanti aku laporin ke aplikasinya loh.. kalau Abang kurang ajar kayak gini..
"Yah terserah kamu mau laporin apa.. Abang sih udah gak peduli lagi.. sekarang abang cuma pengen nyicipin badan kamu yang putih ini..
Bang Joko mengangkat tubuhku sedikit membalik posisiku hingga aku terbaring telentang di sofa ruang tamu yang sudah usang. Altar sembahyang di depan kami seolah menyaksikan semuanya dalam diam sementara asap dupa masih mengepul tipis. Ia menindihku dengan berat badannya yang membuatku sulit bernapas. Ia menarik rokku hingga benar-benar terangkat ke pinggang lalu menurunkan celana dalamku hingga ke lutut dengan kasar. Jari tengahnya langsung menyentuh area intimku yang masih bersih dan belum pernah disentuh siapa pun.
"Pasti kamu masih perawan ya dek.. Kata orang.. amoy perawan tuh rasanya beda sama cewek cewek lainnya.. lebih peret gitu.. emang bener ya.. ? Gumamnya sambil mengusap pelan dan merasakan kelembapan yang mulai muncul meski aku menangis dan memohon.
Aku menggeleng kuat dan kakiku mencoba menutup tapi ia membuka paksa dengan lututnya.
"Bang Joko… saya belum pernah… tolong jangan… saya takut… kataku dengan suara pecah.
Bang Joko sudah melepas ikat pinggangnya sendiri dan menurunkan celana panjang dan juga celana dalamnya hingga memperlihatkan kejantanannya yang sudah keras dan besar. Ia menggosok-gosokkan ujungnya di bibir intimku yang masih rapat sehingga aku semakin panik.
"Toloonng.. !! Mmmphh.. Aku langsung menjerit dan meronta tapi Joko malah membekap mulutku dengan tangannya yang kekar.
"Diem lu cinaa !! Kalau lu berani teriak lagi.. nanti gue bakal panggilin semua teman teman yang ada di group ojol biar pada datang kesini semua buat ngentotin rame rame badan lu yang putih ini. Ancamnya pelan sambil menekan pinggulnya maju perlahan.
Mmpmm.. aku yang ketakutan hanya bisa menggeliat pelan sambil menggumam pasrah ketika merasakan tekanan kepala penisnya yang menyakitkan saat joko mulai memasukinya sedikit demi sedikit. Tubuhku menegang tanganku mencengkeram bantal sofa dan air mata mengalir deras di pipiku yang putih.
"Aduuuh… saaakit… baaang… keluarin… rintihku dengan suara tak jelas karena mulutku masih dibekap olehnya.
Aaaakkhh.. Bang Joko mendesis nikmat dan terus mendorong pelan hingga akhirnya masuk sepenuhnya sehingga selaput daraku robek. Ia berhenti sejenak menikmati kehangatan dan kekencangan itu sambil mencium bibirku yang gemetar meski aku mencoba memalingkan wajah. Bang Joko mendesah panjang dan dalam dengan mata setengah terpejam.
"Peret banget memek lu moy.. seumur hidup belum pernah gue ngerasain ngewe senikmat ini.. gumamnya serak di telingaku sambil menggigit pelan cuping telingaku.
Ia tidak langsung bergerak kasar melainkan menahan pinggulnya dalam-dalam membiarkanku merasakan sepenuhnya bagaimana kejantanannya memenuhi dan meregangkan bagian intimku. Air mataku terus mengalir dan bibirku gemetar mengucapkan mohon-mohon yang hampir tak terdengar.
"Sakit… Bang… keluarin… saya nggak tahan… kataku.
Perlahan Bang Joko mulai bergerak mundur sedikit lalu mendorong kembali dengan ritme pelan tapi dalam. Setiap dorongan membuat tubuhku bergoyang pelan di sofa dan payudaraku naik turun mengikuti irama. Rasa sakit yang menyengat perlahan bercampur dengan sensasi aneh yang membuat perutku panas. Aku menggigit bibirku sendiri hingga hampir berdarah berusaha menahan erangan yang ingin keluar. Tangan Bang Joko yang kasar meremas payudaraku lebih kuat dan jempolnya memainkan puting yang mengeras.
"Kamu gak bisa bohong lagi angel sayang.. badan kamu udah berkata jujur sama abang. Bisiknya sambil tersenyum licik karena dinding intimku mulai semakin basah dan licin meskipun aku masih menangis.
Di luar hujan semakin deras mengguyur atap rumah dan daun-daun pohon besar sehingga suara gemuruh menutupi rintihanku. Asap dupa dari altar masih mengepul tipis. Bang Joko semakin berani ia menarik bra ku ke atas memperlihatkan payudara putih mulusku dengan puting kecil berwarna pink muda. Mulutnya langsung menyedot putingku dengan rakus lidahnya berputar-putar sementara pinggulnya terus bergerak lebih cepat. Suara basah percikan tubuh kami mulai terdengar pelan di antara deru hujan.
Bang Joko terus menghunjam dengan ritme yang semakin stabil. Tubuh kekarnya menindihku di sofa. Aku hanya bisa merintih dan menangis pelan dengan kakiku terbuka lebar karena paksaannya. Setelah beberapa menit ia menarik diri keluar perlahan membuatku mengeluh kesakitan. Ia membalik tubuhku dengan mudah lalu mendudukkanku di pangkuannya menghadap dirinya.
"Gerakin pinggulmu angel.. amoy seperti kamu harus bisa belajar muasin laki laki pribumi.. perintahnya sambil memegang pinggang rampingku kuat.
Aku menggeleng lemah dengan air mata masih mengalir tapi ia menarikku turun paksa hingga kejantanannya kembali masuk sepenuhnya. Posisi ini membuatnya semakin dalam. Kedua tanganku bertumpu di dada Bang Joko yang bidang. Dengan tangan kasar di pinggulku ia menggerakkan tubuhku naik turun secara perlahan. Setiap turun payudaraku bergoyang di depan wajahnya. Ia menyedot putingku bergantian dengan rakus sementara aku hanya bisa merintih.
"Aduh… Bang… daleemm bangeet masuknyaaa.. ssshh.. sakiittt.. uuuhn... Ampunn.. Peaalan pelan ajaa...baaang.. erangku sambil menggeliat.
Tubuhku yang polos mulai berkeringat dan rambut panjangku yang basah menempel di punggung mulusku. Setelah puas dengan posisi itu Bang Joko mengangkatku lagi dan membalikku ke posisi doggy di sofa. Aku berlutut dengan kedua tangan bertumpu di sandaran sofa dan rok seragamku sudah terangkat tinggi ke pinggang. Ia berdiri di belakang memegang pinggulku yang lebar dan mulus lalu menghunjam kembali dengan satu dorongan kuat. Ia menggenjotku dengan ritme sedang tapi kuat satu tangannya meremas payudaraku dari belakang sementara tangan satunya memegang leherku ringan. Aku menjerit kecil setiap kali ia masuk dalam dan tubuhku bergoyang maju mundur.
"Enak ya Angel? Memekmu semakin basah aja nih… bisiknya serak sambil mempercepat sedikit.
Akhirnya Bang Joko menarikku berdiri sepenuhnya. Kakiku masih lemas tapi ia memelukku dari belakang dan mendorongku berjalan menuju altar sembahyang keluarga. Aku ketakutan melihat patung Dewa dan meja altar sembahyang berwarna merah di depanku.
"Bang… please jangan di sini… ini altar untuk sembahyang keluargaku. rintihku putus asa.
Bang Joko tidak peduli. Ia membungkukkan tubuhku hingga kedua tanganku bertumpu di meja merah altar leluhur dan pinggulku didorong ke belakang. Dengan satu tangan kasar ia menjambak rambut panjangku yang hitam lurus sampai sepinggang menarik kepalaku ke belakang hingga leherku melengkung indah. Tangan satunya memegang pinggulku erat. Ia menghujam keras dari belakang dalam posisi berdiri ini. Setiap dorongan membuat tubuhku maju payudaraku bergoyang liar dan rambutku tertarik kuat.
"Leluhur kamu pasti bangga keturunannya bisa membaur dengan pribumi.. desahnya sambil menggenjot semakin cepat dan kuat.
Suara tabrakan pinggul kami memenuhi ruang tamu yang sepi bercampur dengan eranganku yang sudah bercampur antara tangis dan desahan tak terkendali. Akhirnya dengan erangan panjang dan kasar Bang Joko mencapai klimaks. Ia menekan pinggulku kuat-kuat ke arahnya dan menyemburkan cairannya panas dan banyak di dalam tubuhku. Tubuhku mengejang hebat kakiku gemetar hampir ambruk jika tidak ditahan olehnya yang masih menjambak rambutku.
Bang Joko tetap menempel rapat di belakangku untuk beberapa saat yang terasa lama. Kejantanannya masih berdenyut pelan di dalam tubuhku menyemburkan sisa-sisa cairannya yang panas dan kental. Tubuhku gemetar hebat lututku lemas hanya ditahan oleh tangannya yang kuat. Napasku tersengal-sengal dan air mata mengalir tanpa henti di pipiku yang putih mulus.
Perlahan Bang Joko menarik diri keluar. Sperma putih kental campur sedikit merah langsung menetes pelan dari intimku yang merah dan bengkak mengalir di sepanjang paha dalamku yang mulus sebelum menetes ke lantai. Aku merintih pelan karena sensasi kosong yang aneh dan perih yang menyengat. Ia melepaskan jambakan rambutku tapi langsung memeluk tubuhku dari belakang tangan kasarnya meremas payudaraku pelan sambil berbisik di telingaku.
"Baru pertama kali aja udah basah kayak gini… amoy kayak kamu tuh emang diciptain buat dipake pribumi.. katanya.
Ia membalik tubuhku menghadapnya dan melihat wajahku yang sudah acak-acakan. Ia tersenyum puas sambil mengusap air mataku dengan ibu jarinya yang kasar.
"Dengar ya amoy cantik.. Sekarang kamu udah sepenuhnya jadi milik Bang Joko. Kalau kamu berani cerita ke siapa pun, orang tua, Cici kamu atau polisi. aku pasti bakal datang lagi kerumahmu. Bukan sendirian tapi sama teman teman ojol yang lain. katanya.
Bang Joko menarikku duduk di kursi dekat meja altar. Tubuhku masih telanjang dari pinggang ke atas dan rok seragam sekolahku masih terlihat kusut di pinggang. Oknum ojol itu berdiri di depanku sambil memasang kembali celananya dengan santai. Ia mengancamku dengan kata-kata yang membuatku menggigil ketakutan. Aku hanya bisa menangis pelan dan berjanji tidak akan bilang siapa-siapa. Ia memotret tubuhku dengan ponselnya lalu mengecup keningku sebelum pergi. Aku duduk sendirian di rumah sepi dengan tubuh yang sakit hati yang hancur dan ketakutan yang baru saja dimulai



Komentar
Posting Komentar