Langsung ke konten utama

Aku Jadi Objek Fantasi Liar Suamiku

By : Analconda13

Malam itu aku berdiri di depan cermin besar di suite pribadi hotel bintang lima Jakarta. Namaku Elena Gabrielle Sutrisno. Seorang gadis Chindo berusia 24 tahun dengan kulit putih mulus seperti porselen. Wajahku cantik halus dengan bibir merah alami. Dada montokku terlihat sempurna di balik gaun pengantin putih mewah yang panjang hingga lantai. Pinggulku ramping dan rambut hitam panjangku tergerai indah.

Kain sutra lembut gaun itu menempel ketat di tubuh langsingku sehingga menonjolkan lekuk dada dan pinggulku dengan elegan. Calon suamiku duduk di sofa sambil tersenyum bangga. Ia membantu mengancingkan bagian belakang gaun dengan lembut. Tangannya sesekali menyentuh kulit punggungku yang halus dan hangat.

Aku berdiri anggun di depan cermin suite hotel yang luas. Cahaya lampu kristal menyinari gaun pengantin putihku yang mewah. Kain sutra halus itu menempel sempurna di tubuhku yang ramping. Dada montokku naik turun pelan karena napas gugup. Pinggang ramping dan pinggul lembut berlekukku terlihat jelas. Kulit putih mulusku yang khas Chindo semakin bersinar kontras dengan gaun itu. Rambut hitam panjangku tergerai indah setelah ditata stylist.

Calon suamiku duduk di sofa beludru mewah hanya beberapa meter dariku, di dalam ruang privat bridal ternama itu. Matanya tak lepas memandang aku dengan penuh kekaguman. Sesekali ia berdiri mendekat, membantu merapikan ekor gaun yang panjang atau mengancingkan kancing kecil di punggungku dengan jari-jari lembutnya yang penuh perhatian.

“Kamu cantik sekali hari ini, Sayang… bisiknya pelan sambil mencium pipiku sekilas. Napasnya terasa hangat dan menenangkan. 

"Gaun pengantin ini sangat cocok denganmu. Kamu jadi keliatan anggun dan mempesona.

Aku tersipu, pipiku langsung merona merah muda. Tanganku sibuk merapikan veil tipis yang menutupi rambutku sambil tersenyum malu-malu.

“Sayang… jangan dipuji terus dong. Malu tau…” kataku pelan, suaraku hampir bergetar karena gugup.

Dia tersenyum lembut, matanya masih menatapku dengan penuh kasih. “Malu kenapa, Sayang? Ini kan calon suami sendiri. Aku benar-benar takjub melihatmu. Dari tadi aku hanya bisa memandangimu… rasanya seperti mimpi melihat kamu berdiri di sini dengan gaun pengantin yang indah ini.

Jarinya dengan hati-hati merapikan sedikit lipatan di bahuku, sentuhannya ringan dan penuh kelembutan.

“Sayang… kamu kok muji muji terus daritadi.. kataku sambil menunduk, tapi sudut bibirku tersenyum bahagia.

"Bagaimana aku bisa berhenti memuji? Kamu terlihat begitu sempurna hari ini,” balasnya sambil mendekatkan wajahnya sedikit ke telingaku. “Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan kita nanti. Menjadi suamimu, menjagamu, dan menghabiskan seumur hidup bersamamu… rasanya seperti impian yang menjadi nyata.”

Aku menggigit bibir bawahku pelan, antara malu dan bahagia yang meluap. “Kamu janji akan selalu sabar dan lembut ya, Sayang? Aku… masih agak gugup memikirkan semuanya.”

“Tentu saja, Sayang. Aku akan selalu menjagamu dengan baik,” katanya sambil tersenyum hangat, matanya penuh cinta yang tulus. “Hari ini aku hanya ingin menikmati momen ini bersamamu. Melihat kamu memakai gaun pengantin ini… membuat hatiku penuh kebahagiaan. Boleh aku cium keningmu sekali lagi? Wangi rambutmu sangat menenangkan.

Suamiku membantu melepas gaun pengantin itu perlahan setelah sesi fitting selesai di ruang privat bridal ternama. Jari-jarinya menyentuh kulit punggungku yang halus dengan lembut, tanpa berniat lebih jauh. Sentuhannya penuh perhatian dan hati-hati, seolah sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga. Lalu ia menggantung gaun itu dengan teliti di tempatnya, merapikan setiap lipatan agar tidak kusut.

Malam itu kami masih berada di area lounge bridal yang nyaman, duduk berpelukan di sofa panjang yang empuk. Kami membicarakan detail resepsi, daftar tamu undangan, dan rencana masa depan rumah tangga kami yang sempurna. Semuanya terasa hangat, normal, dan penuh kasih sayang.

“Semua tamu dari pihak keluarga besar sudah dikonfirmasi ya, Sayang?” tanyaku pelan sambil bersandar di dadanya.

“Iya sayang. Aku sudah pastikan semuanya tertata rapi. Kamu gak usah khawatir. jawabnya sambil mengusap lembut lengan atasku. 

"Aku ingin di hari pernikahan itu menjadi hari yang paling indah untukmu. Semua harus sempurna seperti kamu.

Aku tersenyum, merasa aman dalam pelukannya. “Kamu selalu memikirkan segalanya dengan baik. Aku senang sekali kita bisa merencanakan semuanya bersama seperti ini.

Dia mencium keningku pelan, suaranya rendah dan penuh kasih. “Ini baru permulaan, Sayang. Aku ingin kita membangun rumah tangga yang harmonis, penuh pengertian dan saling mendukung. Kamu adalah segalanya bagiku.

Di balik senyum tenang dan lembutnya, suamiku hanya diam-diam menikmati bayangan gelap yang belum pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. 

Aku berdiri di depan altar ballroom hotel bintang lima yang megah pada hari pernikahanku. Gaun pengantin putih mewah yang telah aku coba beberapa hari lalu kini membalut tubuhku sempurna. Kain sutra mengalir lembut menyentuh kulit putih mulusku. Dada montokku naik turun pelan karena gugup dan bahagia. Veil tipis menutupi wajah cantikku yang halus dengan bibir merah alami dan mata yang berkilau.

Ribuan bunga putih menghiasi ruangan. Tamu-tamu dari kalangan elite dan profesional menyaksikan saat aku berjalan pelan di karpet merah. Tanganku gemetar memegang buket. Sementara calon suamiku menunggu di altar dengan senyum bangga. Upacara berlangsung khidmat dan romantis. Sumpah pernikahan diucapkan dengan suara lembut. Cincin emas melingkar di jari kami. Dan ciuman pertama sebagai suami istri yang manis serta penuh kasih sayang di depan semua orang. Tak ada yang aneh. Semuanya normal seperti mimpi pengantin baru Chindo yang sempurna.

Di resepsi malam harinya aku berpindah-pindah menyapa tamu dengan anggun. Gaunku yang elegan menonjolkan lekuk pinggul ramping dan kakiku yang jenjang. Suamiku selalu di sisiku. Tangan kami saling genggam. Di balik senyumku yang tenang suami aku diam-diam merasakan getaran gelap saat melihat beberapa pelayan pria pribumi bertubuh kekar dan security hotel berkulit sawo matang yang mondar-mandir di sekitar ballroom. Fantasi lamanya muncul sebentar tapi ia segera tepis. Ia fokus pada malam pertama kami yang masih suci dan penuh cinta.

Aku kini berada di suite pengantin mewah di lantai tertinggi hotel bintang lima. Pintu kamar sudah tertutup rapat setelah resepsi yang melelahkan tapi indah. Gaun pengantin putihku sudah dilepas perlahan oleh suamiku dengan penuh kasih sayang. Kain sutra itu meluncur jatuh ke lantai. Meninggalkan aku hanya mengenakan lingerie bridal putih transparan yang tipis. Bra renda yang menyangga dada montokku yang kencang dan celana dalam kecil yang sudah sedikit basah di bagian memekku yang rapat dan masih perawan hingga malam ini. Kulit putih mulusku bersinar di bawah cahaya lampu temaram. Rambut hitam panjangku tergerai di bahu. Pipiku merona merah karena gugup dan excited.

Suamiku memelukku dari belakang. Ia mencium leherku lembut. Tangannya menelusuri pinggang rampingku dengan penuh kelembutan tanpa kata-kata kasar atau fantasi yang terucap.

"Kamu istriku sekarang Sayang… aku mencintaimu" bisiknya sambil membalik tubuhku dan mencium bibirku dalam-dalam. Lidah kami saling menari pelan.

Aku mendesah manja. Tanganku memeluk leher suamiku. Tubuhku gemetar saat bra-ku dilepas. Dada montokku yang putih dengan puting pink kecil mengeras terkena udara dingin dan sentuhan suami. Kami berpindah ke ranjang king-size yang bertabur kelopak mawar. Suamiku menindihku dengan lembut. Ia menciumi dada aku. Mengisap putingku pelan hingga aku menggeliat dan memekku semakin basah.

Ketika suamiku akhirnya memasukkan kontolnya yang sedang mengeras ke dalam memekku yang sempit dan hangat ia melakukannya perlahan penuh perhatian. Ia mendengar erangan kecil istriku yang campur antara sakit dan nikmat. Suamiku bergerak ritmis. Matanya tertutup sesekali. Diam-diam dalam pikirannya muncul bayangan gelap. Elena yang sama ini sedang digarap kasar oleh pria-pria pribumi bertubuh kekar di gang belakang hotel malam ini. Tapi ia tak mengucapkannya. Hanya semakin dalam mencumbu istrinya dengan cinta. Membiarkan aku mendesah nama suamiku berulang kali sambil kakiku melingkar di pinggang suami. Pinggulku mulai bergerak mengikuti irama malam pertama yang romantis dan penuh kelembutan.

Aku sudah menjadi istri yang sempurna selama enam bulan. Tubuhku semakin berisi dan semakin cantik setelah pernikahan. Malam itu di penthouse apartemen kami di Jakarta aku baru saja selesai mandi. Aku hanya mengenakan kimono sutra tipis berwarna krem yang longgar. Kulit putih mulusku masih lembab. Dada montokku naik turun pelan di balik kain tipis. Dan memekku yang rapat terasa hangat di bawah sana.

Suamiku duduk di tepi ranjang. Ia sudah telanjang dada. Kontolnya setengah mengeras saat melihat aku. Kami mulai bercinta seperti biasa. Lembut dan penuh kasih. Suamiku menciumi leherku. Tangannya meremas dada montokku pelan. Lalu ia memasukkan kontolnya ke dalam memekku yang sudah basah.

Tapi kali ini saat irama semakin cepat dan aku mendesah manja di bawahnya suamiku akhirnya memberanikan diri. Dengan suara serak dan napas tersengal ia berbisik di telingaku.

"Sayang… aku punya fantasi yang sudah lama banget aku pendam… Aku suka bayangin kamu… digarap pria-pria pribumi yang kasar… tubuh mereka yang kekar kulit sawo matang kontol tebal mereka menghunjam memek kamu yang putih dan sempit ini… sambil ngomong kasar ke kamu.

Aku membelalakkan mata. Tubuhku menegang sesaat. Tapi pinggulku masih bergerak pelan mengikuti suamiku. Suamiku terus bergerak lebih dalam. Suaranya semakin berani.

"Bayangin kamu di hotel pas resepsi dulu… atau di gang belakang… beberapa orang security atau tukang parkir pribumi bergantian ngegangbang kamu… memek kamu diisi penuh mani mereka… sementara aku cuma nonton.

Aku menggigit bibir. Wajahku merona hebat. Campur antara terkejut malu dan ada getaran aneh yang baru muncul di perutku. Aku tidak langsung menjawab. Hanya mendesah lebih keras saat suamiku semakin keras mendorong. Fantasi itu membuat suamiku semakin bergairah malam itu.

Aku terdiam sejenak di bawah tubuh suamiku. Mataku membelalak lebar penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan saat mendengar bisikan fantasi liar itu. Pipiku yang putih mulus langsung memerah hebat hampir seperti terbakar. Napasku tersengal karena campuran malu bingung dan sedikit takut.

"Sayang… apa? Kamu serius? Itu… itu gila sekali" gumamku dengan suara gemetar. Tanganku mendorong dada suamiku pelan seolah ingin menjauh. Tapi pinggulku masih terhubung erat dengan kontol suaminya yang semakin keras di dalam memekku yang basah.

Aku tak percaya suamiku yang selama ini lembut dan romantis menyimpan pikiran seperti itu. Membayangkan istriku yang suci digangbang pria-pria pribumi kasar. Namun melihat mata suamiku yang penuh gairah dan napasnya yang semakin berat aku menggigit bibir bawahku. Hatiku berdebar. Demi memuaskan suamiku yang aku cintai aku akhirnya berbisik pelan dengan suara malu-malu.

"Kalau itu bikin kamu senang dan semakin bergairah… boleh… kamu boleh bayangin itu saat kita sedang seperti ini. Tapi hanya bayangan ya Sayang… jangan benar-benar…

Suamiku langsung mendesah lega dan semakin dalam menghunjam memekku. Gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Aku mendesah panjang. Mataku setengah terpejam. Tubuhku mengikuti irama sambil berusaha menerima fantasi suamiku meski pikiranku masih kacau antara kaget dan keinginan untuk membuat suamiku puas.

Aku masih terbaring telentang di ranjang king-size penthouse kami. Tubuh putih mulusku berkilau oleh keringat tipis. Dada montokku naik turun cepat karena napas yang tersengal. Memekku yang rapat dan pink terasa semakin basah dan panas membungkus kontol suamiku yang berdenyut-denyut di dalamnya. Wajahku masih memerah hebat. Mata indahku yang biasanya lembut kini penuh campuran keterkejutan dan kebingungan.

"Sayang… aku benar-benar tak percaya kamu punya pikiran seperti itu" bisikku lagi dengan suara kecil hampir gemetar sambil tanganku mencengkeram punggung suamiku. Tapi melihat suamiku yang semakin keras dan bergairah aku menarik napas dalam-dalam. Lalu dengan suara malu-malu dan ragu aku melanjutkan.

"Tapi… kalau itu yang kamu mau… kalau itu bikin kamu lebih nikmat… boleh. Kamu boleh bayangkan aku… digarap pria-pria pribumi itu… saat kita sedang begini. Hanya bayangan ya… jangan lebih.

Suamiku langsung mendesah panjang penuh syukur dan nafsu. Gerakannya yang tadinya pelan menjadi lebih dalam dan kuat. Pinggulnya mendorong kontolnya hingga pangkal ke dalam memekku yang sempit.

"Ahh… terima kasih Sayang" erangnya serak di telingaku. "Bayangin aja… kamu yang cantik dan anggun ini… lagi berdiri di gang sempit belakang apartemen… dikelilingi tiga pria pribumi bertubuh kekar kulit sawo matang mereka berkeringat… baju mereka kotor karena kerja seharian… mereka narik kimono kamu sampai terbuka… meremas dada montok kamu yang putih ini kasar… lalu satu per satu memasukkan kontol tebal dan hitam mereka ke memek kamu yang rapat…

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Pipiku semakin panas. Aku merasa aneh. Campuran malu yang dalam dan getaran ganjil di perutku. Tubuhku tetap merespons suamiku. Pinggulku pelan mulai mengikuti irama yang semakin cepat. Tapi pikiranku masih berusaha mencerna kata-kata itu. Desahanku keluar lebih keras saat suamiku menghunjam lebih dalam.

"Ahh… Sayang… pelan… kamu terlalu excited…" Namun aku tidak menghentikan suamiku. Dengan suara kecil dan malu-malu aku berbisik. "Kalau itu bikin kamu puas… bayangin aja… aku… aku nggak apa-apa…

Suamiku semakin liar gerakannya. Matanya setengah terpejam. Sepenuhnya tenggelam dalam fantasinya sambil terus menyetubuhiku dengan penuh gairah.

Aku masih terbaring telentang di ranjang king-size penthouse kami. Tubuh putih mulusku yang berkilau keringat semakin panas dan lengket di bawah suamiku. Memekku yang rapat dan pink itu sudah benar-benar basah. Lendir kentalnya menetes pelan ke sprei saat kontol suamiku menghunjam semakin dalam dan cepat. Dada montokku yang putih seperti porselen naik turun cepat. Puting pink kecilku mengeras dan basah oleh air liur suamiku yang tadi terus mengisapnya dengan rakus. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Mataku setengah terpejam. Napasku tersengal-sengal campur antara malu yang membakar dan getaran aneh yang mulai merayap di perutku.

Suamiku menindihku lebih berat sekarang. Kedua tangannya mencengkeram pinggul rampingku dengan kuat. Jari-jarinya meninggalkan bekas merah samar di kulit putihku. Gerakannya sudah tidak lembut lagi. Ia mendorong pinggulnya dengan kuat. Kontolnya yang berdenyut-denyut menghunjam memekku hingga pangkal setiap kali. Kepala kontolnya menabrak dinding dalam yang sensitif hingga aku menggeliat dan mendesah panjang.

"Ahh… Sayang… pelan dulu…" bisikku dengan suara gemetar tapi pinggulku justru terangkat sedikit mengikuti irama suamiku tanpa sadar. Aku masih belum bisa sepenuhnya mencerna kata-kata suamiku tadi tapi melihat mata suamiku yang gelap penuh nafsu aku tak berani menghentikannya.

Suamiku menunduk. Bibirnya menempel di telingaku yang merah panas. Napasnya panas dan kasar.

"Bayangin sekarang Sayang… kamu bukan lagi istriku yang suci di sini… kamu lagi di gang belakang apartemen ini… malam gelap… dikelilingi tiga pria pribumi bertubuh kekar itu…" Suaranya serak hampir seperti erangan. Ia menghunjam lebih dalam. Kontolnya berdenyut keras di dalam memekku. "Mereka narik kimono sutra kamu kasar… kainnya robek sedikit di bahu… dada montok kamu yang putih mulus ini langsung keluar… mereka remas-remas kasar jari-jari kasar mereka yang hitam dan penuh kapalan ngejepit puting pink kamu sambil ketawa rendah…

Aku menggeliat. Tubuhku menegang sesaat.

"Sayang… ahh…" desahku tapi suamiku tak berhenti. Gerakannya semakin brutal. Pinggulnya membentur pinggulku dengan suara pelan yang basah setiap kali.

"Yang paling gede di antara mereka… yang kulitnya paling sawo matang badannya penuh otot dari kerja bangunan… dia yang pertama maju" lanjut suamiku. Suaranya semakin cepat dan penuh nafsu. "Dia angkat satu kaki kamu yang jenjang itu ke pinggangnya… memek putih rapat kamu yang masih suci ini langsung terbuka lebar… dia ngeludahin kontol tebalnya yang hitam dan berurat… lalu dorong masuk kasar… tanpa pelan-pelan… langsung ngehujam sampe pangkal!

Suamiku mendorong kontolnya dengan kuat sekali seolah sedang menirukan gerakan pria pribumi itu. Aku menjerit kecil. Mataku membelalak tapi memekku justru semakin berdenyut dan mengencang di sekitar kontol suamiku.

"Dia bilang kasar ke kamu ‘Memek Chindo putih lo enak juga ya Neng… sempit banget kayak belum pernah diisi kontol pribumi gede.. Suamiku mulai menghujat. Suaranya penuh dendam nafsu yang gelap. "Lo yang cantik halus ini… lo yang biasa dipuji orang sebagai gadis Chindo paling suci… sekarang lagi jadi pelacur pribumi di gang belakang… memek lo yang pink dan rapat ini lagi dirobek-robek kontol hitam mereka… satu per satu bergantian ngegangbang lo sampe lo nangis minta ampun…

Aku gemetar hebat di bawahnya. Pipiku merah membara. Air mata malu menggenang di sudut mataku tapi pinggulku bergerak liar mengikuti setiap hantaman suamiku.

"Sayang… jangan bilang gitu… ahh… terlalu kasar…" bisikku lemah tapi suaraku sudah bercampur desahan nikmat yang tak bisa ditahan.

Suamiku semakin gila. Ia angkat kedua kakiku ke bahunya sehingga membuat kemaluanku terbuka lebar-lebar lalu menghunjam dengan ritme cepat dan dalam.

"Lo denger nggak Elena? Lo yang kulitnya putih mulus kayak porselen ini… lagi dijejelin mani pribumi… kontol mereka yang gede dan bau keringat kerja seharian ngepompa memek Chindo lo tanpa henti… mereka panggil lo lonte cina murahan’… pelacur cina yang suka kontol pribumi’… sambil lo cuma bisa mendesah minta lebih… "Lagi bang… lagi… isi memek gue sampe penuh

Kata-kata rasis itu keluar semakin lancar dari mulut suamiku seolah fantasi itu sudah lama sekali ia pendam. Setiap kali ia menghujat gerakannya semakin kuat. Kontolnya membengkak di dalam memekku hingga terasa sangat penuh.

Aku tak bisa lagi bicara. Aku hanya mendesah panjang-panjang. Tubuhku melengkung. Tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat. Getaran aneh di perutku semakin kuat meski pikiranku masih kacau antara malu dan sesuatu yang lebih gelap.

Suamiku tiba-tiba menegang. Matanya terpejam rapat. Wajahnya memerah. Urat-urat di lehernya menonjol.

"Ahh… fuck… sekarang mereka semua lagi cum bareng-bareng di dalam memek lo Elena… memek lonte cina.. lo yang suci ini lagi diisi penuh mani pribumi yang kental dan panas… lo lagi digenangi sperma mereka yang bau amis… sementara gue cuma bisa nonton dari jauh… lo milik mereka sekarang… memek putih lo ini milik kontol pribumi kasar…!

Dengan erangan panjang yang kasar dan penuh pelepasan suamiku klimaks hebat. Kontolnya berdenyut-denyut kuat di dalam memekku. Menyemburkan mani panasnya berkali-kali banjir ke dinding dalam yang sensitif hingga memekku meluap dan tetesan putih kental menetes keluar di antara pertemuan tubuh kami. Ia terus menghunjam pelan-pelan sambil klimaks seolah ingin memastikan setiap tetes mani masuk dalam-dalam sambil masih bergumam serak di telingaku.

"Lo… lonte cina… lo suka ya… digarap pribumi… memek lo… penuh… penuh sama pejuu.. mereka…

Tubuh suamiku ambruk pelan di atas aku. Napasnya tersengal-sengal. Keringatnya bercampur dengan keringatku. Aku terbaring diam. Dada montokku masih naik turun cepat. Memekku berdenyut-denyut penuh mani suamiku yang masih hangat di dalamnya. Wajahku merah membara. Mataku berkaca-kaca tapi aku tak mendorong suamiku menjauh. Hanya tanganku yang gemetar pelan mengusap punggung suamiku. Napasku masih tersengal. Pikiranku penuh kekacauan yang baru saja dimulai.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Barang Jarahan 3

Nasib Fenny Yang Malang

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Aplikasi XBang Oriental

Ai Ling Budak Napsu Pribumi

Draft Pengantin Brutal 4

Jebakan Minimarket 4

Basement Rahasia Putri Konglomerat

Draft Amarah Para Buruh 23

Boneka Oriental