By : Analconda13
Setiap pagi di lantai dua puluh dua gedung perkantoran mewah di kawasan Sudirman Elin Tan melangkah keluar dari lift dengan penampilan yang selalu sempurna dan elegan. Ia terlihat seperti definisi gadis kantoran Chindo yang terlatih dengan baik. Rambut panjang sepinggangnya sedikit bergelombang di bagian bawah dan berwarna kecoklatan sehingga memberinya kesan elegan dan mewah. Kacamata tipis berbingkai emas bertengger lembut di hidung mancungnya dan memberi kesan cerdas sekaligus rapuh. Blus putih sutra yang ia kenakan selalu dikancingkan hingga leher sehingga menutupi dada mungilnya yang kencang dengan rapi. Rok pensil hitam selutut membalut pinggul ramping dan paha mulusnya dengan pas tanpa pernah naik terlalu tinggi meski ia berjalan.
Senyumnya kecil dan malu-malu sementara suaranya lembut saat menyapa rekan kerja. Ia selalu mengucapkan selamat pagi Pak atau ada yang bisa saya bantu Bu. Elin duduk di meja sekretaris tepat di depan ruangan bos dengan postur tegak dan tangan halusnya sibuk mengetik laporan atau menyusun map dokumen tanpa pernah ikut bergosip di pantry. Tak seorang pun di kantor tahu bahwa di balik sikap innocent dan jadwal pulang tepat pukul enam itu Elin menyimpan rahasia yang membuat denyut nadinya berpacu setiap malam tiba. Di apartemen lantai lima belas yang menghadap gedung-gedung pencakar langit Jakarta ia diam-diam adalah exhibitionis yang tak terkendali.
Setelah mandi malam ia akan melepas semua pakaiannya perlahan lalu berdiri telanjang di balkon dengan tirai kaca besar yang sengaja dibiarkan terbuka lebar. Ia membiarkan angin malam menyapu kulitnya yang pucat halus sambil jari-jarinya mulai menelusuri tubuh sendiri dengan gerakan lambat dan penuh kenikmatan. Ia berharap ada sepasang mata asing di gedung seberang yang sedang memperhatikannya dengan nafsu membara di balik jendela gelap.
Malam itu seperti biasa Elin menutup pintu apartemennya dengan pelan setelah mengganti sepatu hak rendahnya dengan sandal rumah yang lembut. Ia berjalan menyusuri ruang tamu yang minim perabotan menuju kamar mandi dengan langkah ringan. Elin melepas blus putih sutranya satu per satu kancingnya di depan cermin besar sehingga membiarkan kain halus itu meluncur turun dari bahu rampingnya. Ia memperlihatkan bra putih sederhana yang menutupi dada mungilnya yang kencang dan puting kecil yang sudah mulai mengeras karena udara AC yang sejuk.
Rok span hitamnya dilepas perlahan sehingga tergelincir melewati pinggul dan paha mulusnya hingga jatuh ke lantai. Celana dalam tipis berwarna senada ia tarik turun dengan gerakan malu-malu meski tak ada siapa pun yang melihat. Setelah mandi air hangat yang lama Elin keluar dengan handuk putih yang hanya melilit longgar di dada dan rambut hitamnya basah menetes-netes ke punggung. Ia berhenti sejenak di depan jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit lalu menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di kejauhan. Dengan napas yang mulai berat Elin melepaskan handuk itu hingga jatuh ke lantai sehingga membiarkan tubuh telanjangnya yang pucat halus terpapar sepenuhnya.
Tirai tipis yang biasanya menutupi sedikit saja ia tarik lebar-lebar malam ini sehingga membiarkan cahaya samar dari dalam apartemen menyinari kulitnya. Elin melangkah keluar ke balkon lantai lima belas dan angin malam yang lembab menyapu dada perut rata serta celah rapat di antara pahanya yang sudah mulai terasa hangat. Ia bersandar pada pagar balkon dengan punggung sedikit melengkung dan tangan kanannya perlahan naik ke dada mungilnya sehingga meremas pelan puting yang sensitif sambil mata hijaunya yang sipit menatap ke gedung apartemen di seberang. Ia berharap seperti biasanya ada seseorang di balik salah satu jendela gelap itu yang sedang memperhatikannya dengan nafsu yang sama dalam.
Dengan napas yang mulai pendek dan berat Elin membiarkan tangan kirinya turun perlahan menyusuri perut rata yang halus. Jari-jarinya yang lentik menyentuh kulitnya sendiri seolah sedang mengeksplorasi tubuh orang asing sementara angin malam yang hangat terus menyapu paha bagian dalamnya yang mulai lembab. Ia menggeser kaki kanannya sedikit lebih lebar sehingga membiarkan celah rapat di antara pahanya terbuka pelan di bawah cahaya samar lampu kota. Ujung jari tengahnya menyentuh bibir lembut kewanitaannya yang sudah basah dan hangat lalu mengusapnya dengan gerakan melingkar yang sangat lambat dan nyaris menyiksa diri sendiri. Desahan kecil lolos dari bibirnya yang mungil saat ia menemukan titik sensitif di atas klitorisnya.
Mata sipitnya setengah terpejam tapi tetap menatap ke gedung apartemen di seberang sehingga membayangkan ada sepasang mata pria yang sedang mengunci pandang pada tubuh telanjangnya yang terpapar tanpa malu. Di apartemen seberang Reza baru saja selesai menelepon klien di ruang kerjanya yang gelap. Pria pribumi berusia tiga puluh dua tahun itu dengan tubuh atletis dan rahang tegas sedang berdiri di depan jendela sambil memegang gelas whiskey.
Pandangannya tanpa sengaja tertuju pada siluet wanita telanjang di balkon lantai yang sama. Ia membeku sejenak dan mata tajamnya menyipit untuk memastikan apa yang dilihatnya bukan ilusi. Seorang gadis Chindo berambut hitam panjang dengan kulit pucat halus sedang berdiri telanjang di balkon dengan satu tangan meremas dada kecilnya dan tangan lainnya bergerak perlahan di antara pahanya. Wajahnya yang innocent di kantor kini penuh kenikmatan yang gelap. Reza merasa darahnya langsung mengalir deras ke bawah dan tangannya tanpa sadar meraih ponsel di meja sehingga mengaktifkan kamera zoom. Ia mulai merekam video dengan tangan sedikit gemetar dan nafasnya tertahan saat ia melihat Elin semakin larut dalam sentuhannya sendiri. Pinggul rampingnya mulai bergerak pelan mengikuti irama jari-jarinya yang semakin dalam.
Reza berdiri membeku di balik jendela apartemennya yang gelap. Napasnya semakin berat saat zoom kamera ponselnya menangkap setiap detail tubuh Elin dengan jelas. Puting kecilnya yang mengeras karena angin malam terlihat jelas. Perut rata yang naik-turun mengikuti desahan pelan juga tampak. Jari-jarinya yang kini bergerak lebih dalam di antara lipatan basah kewanitaannya mengkilap samar di bawah cahaya kota.
Elin tanpa sadar ada yang sedang merekamnya semakin larut dalam kenikmatannya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya yang mungil untuk menahan erangan yang ingin keluar. Pinggul rampingnya mulai berayun pelan ke depan dan belakang mengikuti irama jari tengahnya yang kini menyusup masuk dan keluar dengan gerakan lambat tapi semakin dalam. Ibu jarinya terus mengusap klitorisnya dengan tekanan ringan yang membuat lututnya sedikit gemetar. Cairan bening mulai menetes pelan di sepanjang paha bagian dalamnya yang mulus. Angin malam membawa aroma samar hasratnya sendiri yang membuatnya semakin berani. Elin mengangkat satu kaki dan meletakkannya di pagar balkon rendah sehingga membuka dirinya lebih lebar. Siapa pun yang melihat dari gedung seberang bisa menyaksikan setiap gerakan intimnya dengan jelas.
Reza merasa tenggorokannya kering dan jantungnya berdegup kencang saat ia memperbesar zoom hingga bisa melihat wajah Elin yang biasanya polos di kantor kini memerah. Mata sipitnya setengah terpejam penuh nafsu dan bibirnya yang sedikit terbuka mengeluarkan desahan kecil yang hampir tak terdengar. Tangan kirinya tanpa sadar turun ke celana trainingnya sehingga meremas kejantanan yang sudah mengeras sepenuhnya.
Ponsel di tangan kanannya terus merekam tanpa henti. Ia merekam bagaimana Elin mulai mempercepat gerakan jarinya. Pinggulnya bergetar dan dada mungilnya naik-turun semakin cepat saat ia mendekati puncak pertama malam itu. Tubuh telanjangnya yang pucat halus berkilau samar oleh keringat tipis dan angin malam Jakarta yang lembab.
Elin merasakan gelombang panas yang semakin kuat menjalar dari pusat tubuhnya. Jari-jarinya yang sudah licin oleh cairan kewanitaannya bergerak semakin cepat dan dalam. Ia menyusup masuk-keluar dengan irama yang tak lagi bisa dikendalikan. Ibu jarinya menekan klitorisnya dengan tekanan yang tepat dan konstan. Lututnya mulai gemetar hebat sehingga ia mencondongkan tubuh ke depan. Dada mungilnya menempel pada pagar balkon yang dingin dan putingnya yang keras bergesekan dengan besi sehingga menambah sensasi tajam yang membuatnya mendesah lebih keras.
Suara lembutnya terbawa angin malam. Napasnya tersengal-sengal. Mata sipitnya hampir terpejam sepenuhnya dan bibir mungilnya terbuka lebar saat gelombang pertama orgasme mulai menghantamnya. Otot-otot di dalam vaginanya berkontraksi kuat menggenggam jari-jarinya sendiri. Cairan hangat memuncrat pelan membasahi paha mulusnya yang sudah licin. Seluruh tubuh rampingnya mengejang hebat sambil ia menahan teriakan kenikmatan menjadi erangan panjang yang parau.
"Ahh… ya…
Elin mengucapkan itu dengan suara yang hampir tak terdengar. Tubuhnya bergetar hebat selama beberapa detik yang terasa lama. Pinggulnya berayun tak beraturan dan cairan bening terus menetes-netes dari celahnya yang berkedut-kedut. Akhirnya ia ambruk sedikit ke depan dan bersandar lemas pada pagar balkon dengan napas tersengal. Rambut hitam basah menempel di pipinya yang memerah. Senyum kecil penuh kepuasan muncul di bibirnya yang masih terbuka. Dari apartemen seberang Reza menurunkan ponselnya perlahan. Video yang baru saja direkamnya berakhir tepat saat Elin mencapai klimaks yang intens. Jantungnya masih berdegup kencang dan kejantanan di balik celana trainingnya sudah sangat tegang dan nyeri karena menahan hasrat. Ia tidak langsung menghubungi Elin malam itu karena mereka memang belum saling kenal sama sekali.
Reza cukup cerdas untuk tidak merusak kesempatan dengan gerakan gegabah. Alih-alih ia hanya menyimpan video itu dengan nama file Balkon Malam – Amoy. Ia mematikan lampu ruang kerjanya dan duduk di kursi sambil menatap apartemen Elin yang kini mulai gelap. Pikirannya sudah merencanakan langkah selanjutnya dengan dingin dan penuh nafsu. Besok pagi di kantor saat ia datang sebagai rekan bisnis baru bos Elin ia akan mulai bermain dengan cara yang jauh lebih terkontrol.
Keesokan paginya suasana lantai dua puluh dua gedung perkantoran Sudirman terasa seperti biasa bagi Elin. Ia melangkah keluar dari lift dengan blus putih sutra yang rapi dikancingkan hingga leher. Rok pensil hitam selutut membalut pinggul rampingnya dengan sempurna. Rambut hitam panjangnya tergerai lurus dan senyum malu-malunya sama seperti setiap hari. Elin duduk di meja sekretarisnya lalu menyiapkan map-map dokumen untuk meeting penting pagi ini dengan rekan bisnis baru bosnya tanpa menyadari bahwa malam tadi tubuh telanjangnya telah terekam jelas oleh seseorang di gedung seberang.
Saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan tepat pintu ruang meeting utama terbuka dan bos Elin keluar sambil tersenyum lebar menyambut tamu pentingnya. Seorang pria pribumi tinggi atletis berusia tiga puluh dua tahun berpakaian kemeja hitam slim-fit yang menonjolkan dada bidang dan lengan berotot masuk ke ruangan. Rahangnya tegas dengan cambang tipis rapi dan tatapan mata tajamnya langsung menyapu seluruh ruangan. Reza melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Tangan kanannya menjabat bos Elin sambil tersenyum profesional. Saat pandangannya jatuh pada sekretaris yang sedang berdiri di samping meja dengan map di tangan tubuhnya langsung membeku sejenak. Wajah Elin dengan hidung mancung mata sipit yang lembut di balik kacamata tipis bibir mungil dan rambut hitam lurus yang sama persis langsung menyambar ingatannya seperti kilat. Ia langsung mengenali gadis Chindo yang semalam berdiri telanjang di balkon dengan jari-jarinya basah dan tubuhnya mengejang hebat saat mencapai klimaks di depan angin malam.
Jantung Reza berdegup keras dan darahnya langsung mengalir deras ke bawah saat ingatan video itu muncul kembali di benaknya. Payudara kecil yang mengeras paha mulus yang basah dan desahan parau yang lolos dari bibir yang kini tersenyum polos di depannya terbayang jelas. Ia berusaha menjaga ekspresi wajah tetap tenang dan profesional tapi matanya tak bisa lepas dari Elin lebih dari satu detik. Ada sedikit keterkejutan yang ia sembunyikan di balik senyum sopan dicampur curiga yang mulai muncul karena kebetulan yang terlalu sempurna ini.
Apakah gadis innocent di depannya ini benar-benar exhibitionis liar yang sama atau hanya kemiripan wajah yang luar biasa. Elin sendiri merasakan tatapan Reza yang berbeda dari pria biasa sehingga lebih dalam dan lebih lama seolah pria itu sedang membaca sesuatu di balik penampilan rapi dan senyum malu-malunya. Ia merasa sedikit gelisah dan pipinya samar memerah tanpa alasan yang jelas. Tangan halusnya sedikit gemetar saat menyodorkan map dokumen sambil berkata dengan suara lembut.
"Selamat pagi Pak. Saya Elin sekretaris Pak Hendra. Ini dokumen yang diminta.
Meeting pagi itu berlangsung di ruang rapat ber-AC dingin dengan meja panjang mengkilap. Cahaya matahari pagi menyusup lemah melalui tirai vertikal. Elin duduk di kursi samping bosnya dengan kaki rampingnya tersilang rapi di bawah rok pensil. Tangan halusnya mencatat setiap poin penting dengan pulpen yang bergerak pelan. Reza duduk tepat di seberangnya dengan postur tubuh atletisnya santai tapi tatapan mata tajamnya sesekali melirik ke arah Elin lebih lama dari yang seharusnya. Saat bos Elin sedang menjelaskan slide presentasi dengan suara monoton Reza mengeluarkan ponselnya di bawah meja seolah sedang memeriksa data. Sebenarnya ia membuka galeri dan memperbesar satu frame video malam tadi. Gambar Elin dengan mata setengah terpejam bibir terbuka dan jari basah yang menyusup di antara pahanya yang terbuka lebar terlihat jelas. Jantung Reza berdegup lebih cepat sehingga ia yakin seratus persen itu adalah gadis yang sama karena bentuk hidung mancung garis rahang lembut dan rambut hitam lurus yang menempel di pipi basah keringat itu tak mungkin salah. Dengan gerakan sangat pelan dan hati-hati agar tak terlihat orang lain Reza mengetik pesan WhatsApp ke nomor Elin yang ia dapatkan dari daftar kontak perusahaan lalu mengirimnya tanpa suara. Pesan itu berupa sebuah foto diam yang di-crop rapat dari video hanya siluet tubuh telanjang Elin di balkon dengan dada mungil terangkat dan tangan di antara paha tanpa wajah yang terlihat jelas. Tulisan singkat menyertai foto itu.
"Malam tadi balkonmu sangat terbuka. Kamu tampak… berbeda dari yang terlihat di kantor ini.
Pesan itu masuk ke ponsel Elin yang berada di atas meja dengan getarannya pelan sekali. Elin melirik layar lalu membaca pesan dari nomor tak dikenal sehingga tubuhnya langsung membeku. Wajahnya yang biasanya pucat halus tiba-tiba memerah samar di pipi. Napasnya tersentak pelan hingga bahunya naik-turun. Ia merasakan gelombang panas aneh menjalar dari perut bawahnya ke celah rapat di antara pahanya yang kini terasa hangat dan sedikit lembab di balik celana dalam tipis. Elin cepat-cepat mematikan layar ponsel dengan tangan gemetar halus dan berusaha menjaga ekspresi wajah tetap tenang dan polos seperti biasa. Mata sipitnya di balik kacamata tipis tak bisa menahan untuk melirik Reza sekilas. Pria di seberang itu sedang menatapnya dengan senyum kecil yang penuh arti dan tatapan tajamnya seolah sedang mengatakan aku tahu siapa kamu sebenarnya. Hal itu membuat Elin merasa telanjang meski tubuhnya tertutup rapi oleh blus dan rok. Denyut nadinya berpacu cepat dan hasrat exhibitionisnya yang selama ini tersembunyi mulai bangkit lagi dengan cara yang berbahaya.
Elin merasa dunia di sekitarnya seolah melambat saat ia membaca ulang pesan itu di benaknya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia khawatir orang-orang di ruangan bisa mendengarnya. Pipinya yang biasanya pucat kini terasa panas dan memerah samar. Sebuah rasa malu yang tajam menusuk dada mungilnya dan bercampur dengan gelombang panas yang aneh serta tak terkendali menjalar turun ke perut bawahnya. Hal itu membuat celah rapat di antara pahanya yang tertutup rok pensil tiba-tiba terasa lembab dan berdenyut pelan. Ia menundukkan kepala lebih rendah ke map catatannya sehingga berpura-pura sedang menulis sesuatu dengan pulpen yang kini bergetar halus di jari-jarinya yang lentik.
Pikirannya berputar kencang tentang siapa pria ini dan bagaimana ia bisa tahu. Apakah ia melihat semuanya malam tadi. Bayangan dirinya sendiri berdiri telanjang di balkon dengan jari basah menyusup masuk-keluar dan tubuhnya mengejang hebat saat klimaks kini terasa begitu nyata dan vulgar di tengah ruang meeting yang steril ini. Rasa takut akan skandal kehilangan pekerjaan dan kemarahan keluarga Chindo-nya yang sangat konservatif seharusnya membuatnya panik. Tapi justru hasrat exhibitionisnya yang selama ini tersembunyi dalam-dalam mulai bangkit lagi seperti api yang disiram bensin. Puting kecilnya di balik bra tipis dan blus sutra perlahan mengeras sehingga bergesekan lembut dengan kain halus setiap kali ia bernapas. Kelembaban hangat di celana dalamnya semakin terasa sehingga ia tanpa sadar menggeser paha sedikit lebih rapat untuk menekan sensasi itu. Elin melirik Reza sekali lagi dari balik kacamata tipisnya.
Pria pribumi itu masih menatapnya dengan senyum kecil yang tenang tapi penuh kuasa. Mata tajamnya seolah sedang menelanjangi dirinya di depan semua orang tanpa suara. Ia cepat-cepat memalingkan muka lalu menelan ludah dengan susah payah dan berusaha menjaga suara tetap lembut serta profesional saat bosnya bertanya sesuatu. Dalam hati ia sudah merasakan denyut nafsu yang berbahaya mulai mengalahkan rasa malunya sehingga membuatnya bertanya-tanya dalam diam apakah ia sebenarnya ingin rahasianya tetap tersembunyi atau justru ingin pria ini melihat lebih banyak lagi.
Setelah meeting usai dan bos Elin pamit sebentar untuk menelepon klien lain ruang rapat yang tadinya ramai itu mendadak menjadi sepi. Hanya tersisa Elin yang sedang membereskan map-map dokumen di meja dengan gerakan cepat dan gugup serta Reza yang masih duduk santai di kursinya. Reza bangkit perlahan dan langkah kakinya yang mantap mendekati meja Elin dari samping. Tubuh atletisnya yang tinggi menjulang di dekatnya hingga Elin bisa mencium samar aroma parfum pria yang maskulin dan mahal.
"Namamu Elin kan ?
Reza mengucapkan itu dengan suara rendah tenang tapi ada nada intim yang membuat bulu kuduk Elin merinding. Ia berhenti di samping kursi Elin cukup dekat sehingga lengan kemeja hitamnya hampir menyentuh bahu ramping gadis itu.
"Dokumennya rapi sekali. Kamu selalu teliti seperti ini setiap hari ?
Elin mengangguk kecil tanpa berani menatap langsung dan suaranya lembut serta sedikit bergetar.
"I-iya Pak Reza. Saya selalu mengusahakan yang terbaik untuk pekerjaan saya.
Reza tersenyum kecil lalu mencondongkan tubuhnya sedikit lebih rendah sehingga berpura-pura melihat map di tangan Elin. Bibirnya mendekat ke telinga gadis itu hingga napas hangatnya menyapu daun telinga Elin yang sensitif.
"Malam tadi… balkon apartemenmu di lantai 15 gedung sebelah bukan ? Kebetulan aku tinggal tepat di seberang gedungnya.
Reza berbisik pelan sekali dan suaranya hampir seperti desahan.
"Kamu sangat seksi Elin.. ketika sedang berada dibalkon apartemenmu.. Aku tak menyangka gadis kantoran yang selalu tampil rapi dan elegan sepertimu bisa melakukan hal seliar itu..
Elin merasa seluruh tubuhnya membeku seketika. Wajahnya memerah hebat hingga telinganya panas dan napasnya tersentak pendek-pendek. Rasa malu yang membara bercampur dengan denyut panas yang langsung muncul di antara pahanya sehingga celana dalam tipisnya kini benar-benar basah. Kelembaban hangat merembes pelan ke kain rok pensilnya. Ia ingin lari tapi kakinya seperti terpaku. Hasrat exhibitionisnya yang selama ini tersembunyi malah membuat puting kecilnya mengeras lagi di balik blus sehingga bergesekan nyeri dengan bra sutra setiap kali ia bernapas cepat. Reza menarik diri sedikit tapi tangannya menyentuh punggung tangan Elin di atas map dengan lembut. Jempolnya mengusap kulit halus di punggung tangan gadis itu sekali dan perlahan.
"Jangan khawatir Elin.. Rahasiamu aman… setidaknya untuk sekarang. Tapi malam ini aku mau kamu buka tirai lebih lebar lagi. Aku ingin melihat lebih jelas. Kalau tidak…
Reza meninggalkan kalimatnya menggantung dengan senyumnya tetap tenang tapi matanya penuh nafsu yang gelap.
"Mungkin aku harus tunjukkan videonya ke orang yang lebih tepat.
Elin hanya bisa diam dengan bibir mungilnya terbuka sedikit. Mata sipitnya di balik kacamata berkaca-kaca antara ketakutan malu dan hasrat yang mulai tak terkendali. Reza berbalik pergi dengan langkah santai seolah tak ada yang terjadi sehingga meninggalkan Elin sendirian di ruang rapat dengan paha yang saling menekan kuat untuk menahan denyut basah di antara liang kemaluannya.
Malam itu Elin pulang lebih cepat dari biasanya. Langkahnya cepat dan gugup saat melintasi lobi apartemen mewah di kawasan Sudirman. Tas kerjanya digenggam erat di dada mungilnya seolah bisa melindungi rahasianya yang kini terancam terbuka. Sepanjang perjalanan di dalam taksi pikirannya tak henti berputar. Bisikan Reza di telinganya tadi pagi kata-kata kotor yang diucapkan dengan suara rendah ancaman halus tentang video dan tatapan mata tajam pria pribumi itu yang seolah sudah menelanjangi seluruh tubuhnya di ruang meeting yang dingin. Begitu pintu apartemen lantai 15 tertutup di belakangnya Elin bersandar sejenak di dinding. Napasnya tersengal pendek-pendek dan pipinya masih terasa panas. Ia melepas sepatu hak rendahnya perlahan lalu berjalan ke kamar mandi dengan langkah ringan tapi gelisah.
Elin melepas blus putih sutranya satu per satu kancingnya di depan cermin besar sehingga kain halus itu meluncur turun dari bahu rampingnya dan memperlihatkan bra putih tipis yang menutupi dada mungilnya yang kini putingnya sudah setengah mengeras karena campuran malu dan antisipasi. Rok pensil hitamnya dilepas dengan gerakan lambat sehingga tergelincir melewati pinggul ramping dan paha mulusnya hingga jatuh ke lantai. Celana dalam yang sudah lembab sejak meeting pagi tadi ia ikuti lepas. Ia melihat noda basah kecil di kainnya dan merasa wajahnya semakin memerah.
Setelah mandi air hangat yang lebih lama dari biasanya Elin keluar hanya dengan handuk putih yang melilit longgar di dada. Rambut hitam panjangnya basah menetes-netes ke punggung halusnya. Ia berhenti lama di depan jendela kaca besar yang membentang dari lantai ke langit-langit lalu menatap gedung apartemen di seberang yang kini lampunya sudah menyala di beberapa unit. Tangan halusnya gemetar saat ia menarik tirai tipis itu lebar-lebar lebih lebar dari malam-malam sebelumnya sehingga membiarkan cahaya lembut dari dalam apartemen menyinari seluruh tubuhnya yang telanjang.
Handuknya dilepas perlahan hingga jatuh ke lantai sehingga memperlihatkan kulit pucat halusnya yang masih agak lembab setelah mandi. Dada mungil dengan puting kecil yang sudah mengeras sempurna karena angin AC dan ketegangan perut rata serta celah rapat di antara pahanya yang mulai terasa hangat dan basah lagi terpapar jelas. Elin melangkah keluar ke balkon dengan langkah pelan dan angin malam Jakarta yang lembab langsung menyapu kulitnya sehingga membuat bulu halus di lengannya berdiri. Ia bersandar pada pagar balkon dengan punggung rampingnya sedikit melengkung.
Satu tangan naik meremas dada kirinya dengan lembut sementara tangan kanannya turun menyusuri perut lalu berhenti di antara paha. Jari-jarinya hanya menyentuh bibir lembut kewanitaannya dengan gerakan sangat pelan sehingga mengusap naik-turun tanpa langsung masuk. Mata sipitnya menatap lurus ke arah apartemen Reza di seberang dengan campuran ketakutan malu dan hasrat exhibitionis yang kini semakin liar. Ia tahu pria itu sedang menonton dan kali ini ia tidak lagi hanya berpura-pura sendirian.
Elin berdiri telanjang di balkon dengan napas yang sudah mulai berat dan tidak teratur. Angin malam yang lembab terus menyapu kulit pucat halusnya sehingga membuat puting kecilnya yang mengeras terasa nyeri karena dingin dan antisipasi. Ia tahu Reza sedang menonton dari apartemen di seberang entah dari ruang kerjanya yang gelap atau balkonnya sendiri. Pengetahuan itu justru membuat denyut di antara pahanya semakin kuat dan basah. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat menggoda Elin menggeser kaki kanannya lebih lebar sehingga membuka celah rapat kewanitaannya di bawah cahaya samar lampu kota. Ujung jari tengahnya menyentuh bibir lembut yang sudah licin itu dengan sangat pelan lalu mengusap naik-turun sepanjang celahnya tanpa langsung masuk sehingga membiarkan cairan beningnya melumasi jari hingga mengkilap.
Tangan kirinya meremas dada mungilnya lebih kuat dan ibu jarinya menggosok puting yang sensitif dengan gerakan melingkar. Sesekali ia menariknya pelan hingga ia menggigit bibir bawah untuk menahan desahan kecil yang ingin lolos. Matanya yang sipit menatap lurus ke gedung seberang sehingga mencari siluet Reza di balik jendela gelap. Saat ia merasa ada gerakan samar di sana hasratnya meledak.
Jari tengahnya akhirnya menyusup masuk perlahan ke dalam vaginanya yang panas dan sempit lalu keluar-masuk dengan irama lambat tapi dalam. Ibu jarinya terus menekan klitorisnya dengan tekanan yang semakin bertambah. Pinggul rampingnya mulai berayun pelan mengikuti gerakan tangannya. Paha mulusnya gemetar ringan dan cairan hangat mulai menetes pelan di sepanjang paha bagian dalamnya yang halus. Elin tidak lagi berusaha menahan suara sehingga desahan lembutnya kini lebih jelas terbawa angin malam.
"Ahh… mmh…
Ia mengucapkan itu pelan tapi penuh nafsu. Tubuhnya semakin melengkung ke depan dan dada mungilnya terangkat naik-turun cepat. Dari apartemen seberang Reza berdiri di balik jendela gelapnya dengan ponsel di tangan sehingga merekam lagi dengan zoom maksimal. Kejantanan tegangnya sudah dikeluarkan dari celana dan dipegang erat dengan tangan kirinya. Gerakan naik-turun yang lambat mengikuti irama Elin di balkon dan mata tajamnya tak lepas sedetik pun dari gadis Chindo yang kini sengaja memamerkan diri hanya untuknya.
Elin semakin larut dalam kenikmatannya sendiri di balkon. Jari tengahnya kini bergerak lebih cepat dan dalam menyusup masuk-keluar dari vaginanya yang licin dan berkedut. Ibu jarinya menekan klitorisnya dengan irama konstan yang membuat seluruh tubuh rampingnya gemetar hebat. Desahan lembutnya semakin sering lolos dari bibir mungil yang terbuka. Dari apartemen seberang Reza berdiri dengan napas berat.
Tangan kirinya terus menggerakkan kejantanan tegangnya yang sudah licin oleh precum sementara tangan kanannya memegang ponsel dan merekam video Elin dengan zoom maksimal. Ia tidak tahan lagi hanya menonton diam-diam. Dengan jari yang sedikit gemetar karena nafsu Reza membuka WhatsApp lalu memilih nomor Elin dan mengetik pesan baru dengan cepat tapi hati-hati. Pesan itu berupa sebuah foto diam yang di-crop dari video malam ini. Close-up tubuh telanjang Elin di balkon dengan dada mungil dan puting mengeras pinggul yang berayun serta jari basah yang sedang menyusup dalam di antara pahanya yang terbuka lebar. Tulisan singkat menyertai foto itu.
"Kamu semakin berani malam ini Elin. Aku suka cara kamu membuka kaki lebih lebar untukku. Teruskan… jangan berhenti sampai kamu klimaks lagi. Aku sedang menonton dan merekam semuanya.
Pesan itu dikirim dengan suara notifikasi pelan yang hampir tak terdengar di apartemen Elin. Elin sedang dalam puncak kenikmatan ketika ponselnya yang diletakkan di meja dalam ruangan bergetar sekali. Ia melirik ke arah dalam apartemen dengan mata setengah terpejam dan napas tersengal tapi hasratnya terlalu kuat untuk berhenti. Dengan tangan kiri yang masih meremas dada ia tetap melanjutkan gerakan jari kanannya yang semakin liar. Pinggulnya bergetar hebat dan cairan bening terus menetes dari celahnya yang berkontraksi. Beberapa detik kemudian getaran kedua muncul. Elin tahu itu pesan baru. Rasa penasaran bercampur malu membuatnya semakin basah. Ia membayangkan Reza sedang membaca tubuhnya seperti buku terbuka dan pikiran itu membuat vaginanya menggenggam jari-jarinya lebih kuat. Desahannya kini lebih parau.
"Ahh… ya…
Ia mengucapkan itu pelan sekali. Tubuhnya semakin melengkung ke depan dan hampir mencapai titik klimaks kedua malam itu sementara ponsel di dalam terus bergetar pelan yang menunggu Elin membacanya setelah ia meledak.
Gelombang orgasme kedua malam itu akhirnya menghantam Elin dengan keras dan tiba-tiba. Tubuh rampingnya mengejang hebat di balkon sehingga pinggulnya bergetar tak terkendali. Jari tengahnya terbenam dalam-dalam di vaginanya yang berkontraksi kuat. Otot-otot dalamnya menggenggam jari itu berulang-ulang dengan denyut panas yang intens. Cairan hangat memuncrat pelan membasahi paha mulusnya yang sudah licin lalu menetes-netes ke lantai balkon. Desahan parau lolos dari bibir mungilnya yang terbuka lebar.
"Ahhh…!
Ia mengucapkan itu dengan suara yang lebih keras dari biasanya sehingga terbawa angin malam meski ia berusaha menahannya. Dada mungilnya naik-turun cepat dan puting kecilnya mengeras maksimal. Seluruh kulit pucat halusnya berkilau oleh keringat tipis dan embun malam. Lututnya lemas sehingga ia bersandar lebih berat pada pagar balkon dengan napas tersengal-sengal. Mata sipitnya setengah terpejam penuh kepuasan yang gelap. Baru setelah getaran tubuhnya mulai mereda Elin ingat pada getaran ponsel di dalam apartemen. Dengan langkah goyah dan paha yang masih basah serta berkedut pelan ia berjalan masuk perlahan.
Tubuh telanjangnya yang panas kontras dengan udara AC yang sejuk. Ia mengambil ponsel dari meja dengan tangan yang masih gemetar lalu membuka WhatsApp dan membaca pesan dari Reza. Matanya melebar sedikit di balik kacamata tipis yang masih dipakainya. Pipinya yang sudah memerah semakin panas saat melihat foto close-up dirinya sendiri. Dada mungil dengan puting mengeras pinggul yang berayun dan jari basah yang terbenam di celahnya yang terbuka terlihat jelas. Kata-kata Reza membuat perut bawahnya kembali berdenyut meski ia baru saja mencapai puncak.
Rasa malu yang membara menusuk dadanya dan bercampur dengan hasrat exhibitionis yang semakin liar. Ia merasa benar-benar telanjang bukan hanya secara fisik tapi juga rahasianya yang paling gelap kini berada di tangan pria pribumi yang hampir tak dikenalnya. Tangan halusnya mengepal ponsel lebih erat dan napasnya yang masih berat kembali tersentak. Tanpa sadar ia merasakan cairan baru mulai merembes lagi di antara pahanya yang rapat. Elin berdiri di depan jendela kaca besar dengan tubuh telanjangnya masih terpapar jelas ke luar. Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali dengan bibir mungilnya tergigit pelan antara ingin menghapus semuanya dan ingin menjawab sesuatu yang berbahaya.
Seminggu telah berlalu sejak malam pertama Reza mengirim pesan itu. Rutinitas malam Elin di balkon apartemennya semakin berani setiap harinya. Tirai selalu terbuka lebar dan lampu dalam apartemen dibiarkan menyala redup. Ia sengaja memainkan diri dengan gerakan lebih vulgar dan kadang memakai vibrator kecil yang menyala terang agar Reza bisa melihat jelas dari seberang. Setiap malam Reza mengirim pesan singkat yang semakin dominan sehingga memuji setiap detail tubuh dan gerakannya. Hal itu membuat Elin semakin ketagihan meski rasa malunya tak pernah hilang. Pagi itu di kantor suasana lantai dua puluh dua kembali normal bagi kebanyakan orang tapi bagi Elin terasa sangat berbeda. Ia duduk di meja sekretarisnya dengan penampilan yang sama polos seperti biasa. Blus putih sutra dikancingkan rapat hingga leher dan rok pensil hitam selutut yang pas di pinggul rampingnya. Rambut hitam panjang tergerai lurus serta kacamata tipis yang memberi kesan innocent. Saat meeting kecil selesai dan rekan kerja mulai keluar ruangan Reza yang datang lagi sebagai rekan bisnis bos Elin mendekati meja Elin dengan langkah santai tapi penuh maksud. Ia berdiri cukup dekat sehingga tubuh atletisnya menjulang di samping Elin lalu berbisik pelan dengan suara rendah yang hanya bisa didengar gadis itu saja.
"Seminggu ini aku menontonmu setiap malam Elin. Kamu semakin liar di balkon. Aku suka gadis Chindo sepertimu… nampak sangat elegan di luar.. senyum malu-malu.. blus rapi rok selutut tapi di dalam apartemen kamu liar sekali. Dada mungilmu yang mengeras.. cara kamu membuka kaki lebar-lebar di pagar balkon.. jari-jari halusmu yang basah masuk dalam-dalam sambil mendesah pelan… benar-benar menggoda.
Kata-kata Reza membuat Elin langsung merasa panas di pipi. Napasnya tersentak pelan dan tanpa sadar ia menekan paha rapat di bawah meja karena celah kewanitaannya tiba-tiba kembali lembab. Ia menunduk sehingga tangan halusnya gemetar sedikit di atas keyboard dan suaranya hampir tak terdengar saat menjawab.
"Pak… tolong jangan di sini…
Reza tersenyum kecil dan tatapan tajamnya menelusuri leher Elin yang tertutup blus lalu berbisik lagi lebih dekat ke telinga gadis itu.
"Aku punya video lengkap seminggu ini. Kalau kamu tidak mau aku bagikan ke bosmu atau keluargamu yang konservatif itu ikut aku sekarang. Toilet pria di ujung koridor lantai ini sangat sepi pagi ini tidak ada yang pakai.
Elin membeku dan jantungnya berdegup kencang. Rasa takut bercampur hasrat exhibitionis yang sudah terlalu lama terbangun. Ia tahu ancaman itu nyata karena Reza bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap. Dengan tangan dingin dan lutut yang sedikit gemetar Elin bangkit perlahan dari kursinya lalu mengikuti Reza yang berjalan lebih dulu menuju toilet pria di ujung koridor yang memang jarang digunakan. Begitu pintu toilet tertutup di belakang mereka dan Reza mengunci dari dalam ruangan kecil itu terasa sangat sempit dan sepi. Hanya suara AC yang pelan terdengar. Reza berbalik menghadap Elin sehingga tubuhnya menekan gadis itu pelan ke dinding ubin dingin. Tangan kanannya menyentuh pinggang ramping Elin di atas rok pensil sementara matanya menatap dalam-dalam.
"Bagus. Kamu patuh. Sekarang… buka bajumu perlahan untukku Elin. Aku ingin melihat langsung apa yang selama ini aku rekam dari jauh.
Reza berdiri menjulang di depan Elin di dalam toilet pria yang sepi dan terkunci. Tatapan tajamnya penuh nafsu saat ia berbisik rendah.
"Buka bajumu perlahan seperti yang aku bilang.
Dengan tangan gemetar halus Elin menurunkan pandangan ke lantai ubin. Pipinya memerah hebat tapi jari-jarinya tetap patuh membuka satu per satu kancing blus putih sutranya hingga kain itu terbuka lebar sehingga memperlihatkan bra putih tipis yang menutupi dada mungilnya yang sudah mengeras. Reza tersenyum puas lalu melanjutkan perintahnya dengan suara yang semakin dominan.
"Sekarang duduk di dudukan kloset angkat rokmu dan masturbasi untukku. Aku ingin melihat langsung bagaimana amoy kantor ini memuaskan dirinya sendiri.
Elin menelan ludah susah payah dan rasa malu membakar dadanya tapi ancaman video dan hasrat gelapnya yang sudah terlalu kuat membuatnya bergerak. Ia mundur selangkah lalu duduk perlahan di dudukan kloset yang dingin. Rok pensil hitamnya diangkat tinggi hingga pinggang rampingnya sehingga memperlihatkan celana dalam putih tipis yang sudah basah di tengah. Dengan napas tersengal pelan Elin menarik celana dalamnya ke samping sehingga membuka celah rapat kewanitaannya yang mengkilap oleh cairan bening. Jari tengahnya mulai menyentuh bibir lembut itu dengan gerakan melingkar yang lambat. Reza mengeluarkan ponselnya lalu mengaktifkan kamera dan mulai merekam dengan jelas sambil berdiri di depan Elin. Matanya tak lepas sedetik pun dari pemandangan di hadapannya.
"Bagus… buka kakimu lebih lebar Elin. Masukkan jarimu pelan-pelan seperti yang kamu lakukan diatas balkon pada malam itu..
Elin menggigit bibir bawahnya sehingga mata sipitnya di balik kacamata berkaca-kaca antara malu dan nafsu. Kakinya terbuka lebih lebar di atas dudukan kloset dan jari tengahnya menyusup masuk perlahan ke dalam vaginanya yang panas dan licin lalu keluar-masuk dengan irama lambat sambil ibu jarinya mengusap klitorisnya yang membengkak. Desahan kecil lolos dari bibir mungilnya.
"Mmh… ahh…
Pinggul rampingnya mulai bergerak pelan mengikuti jari-jarinya sendiri dan cairan bening semakin banyak membasahi jari serta dudukan kloset. Tak lama kemudian Reza mendekat lebih dekat dengan ponselnya masih merekam. Kejantanan tegangnya sudah terlihat menonjol di balik celana formal. Ia membuka resleting perlahan lalu mengeluarkan batangnya yang tebal panjang dan sudah mengeras sepenuhnya di depan wajah Elin.
"Sekarang berlutut di lantai toilet. Isepin kontolku sambil terus memainkan dirimu dengan tanganmu.
Elin menatap kejantanan Reza yang besar dan berdenyut di depannya dengan mata melebar dan napasnya tersengal tapi ia turun perlahan dari dudukan kloset lalu berlutut di lantai ubin yang dingin. Roknya masih terangkat tinggi dan satu tangan tetap di antara pahanya yang basah sehingga jari-jarinya terus bergerak pelan di dalam vaginanya. Dengan bibir mungil yang gemetar Elin membuka mulutnya. Lidahnya menyentuh ujung batang Reza yang hangat dan licin oleh precum lalu perlahan mengulum kepalanya ke dalam mulut hangatnya. Ia mulai mengisap dengan gerakan lembut dan ragu sambil mata sipitnya menatap ke atas ke wajah Reza. Tubuhnya masih gemetar karena jari-jarinya sendiri yang terus memainkan klitorisnya di lantai toilet pria yang sepi itu.
Elin berlutut di lantai ubin toilet pria yang dingin dan sepi. Rok pensil hitamnya masih terangkat tinggi hingga pinggang dan celana dalam putih tipisnya tertarik ke samping sehingga memperlihatkan celah kewanitaannya yang basah dan mengkilap. Satu tangan halusnya tetap berada di antara pahanya yang terbuka. Jari tengahnya bergerak lambat keluar-masuk dari vaginanya yang panas dan licin sementara ibu jarinya mengusap klitorisnya dengan tekanan ringan yang menyiksa. Di depan wajahnya batang Reza yang tebal dan panjang berdiri tegak dan ujungnya sudah licin oleh precum yang bening. Dengan mata sipit yang berkaca-kaca di balik kacamata tipis Elin membuka bibir mungilnya lebih lebar. Lidahnya menyentuh pelan kepala batang Reza yang hangat sehingga merasakan rasa asin manis yang membuat perut bawahnya berdenyut lebih kuat.
Elin mengulum kepala itu perlahan ke dalam mulutnya yang hangat dan lembab. Bibirnya menutup rapat di sekeliling batang lalu mulai mengisap dengan gerakan lembut dan ragu. Lidahnya berputar pelan di bawah kepala sambil ia mendesah kecil di tenggorokan. Reza mendesah pelan dan tangan kirinya memegang ponsel tetap merekam dari sudut atas sementara tangan kanannya turun menyentuh rambut hitam panjang Elin. Ia tidak menekan hanya mengusap lembut seolah memberi persetujuan.
"Bagus… gak usah terburu buru Elin.. nikmati saja kontol pribumi yang sedang ada didalam mulutmu ini..
Reza berbisik rendah dan suaranya sedikit parau. Elin merasa malu yang membara di pipinya tapi hasratnya justru semakin liar. Jari-jarinya di bawah semakin cepat sehingga menyusup lebih dalam ke dalam vaginanya yang berkedut. Cairan beningnya menetes pelan ke lantai ubin di antara lututnya yang terbuka.
Ia mulai menggerakkan kepalanya maju-mundur dengan irama lambat sehingga mengulum lebih dalam hingga hampir setengah batang Reza masuk ke mulutnya. Pipinya agak cekung karena mengisap lebih kuat dan lidahnya terus menjilat di bawah batang yang berdenyut. Reza menggeram pelan dan pinggulnya bergerak sedikit ke depan sehingga mendorong batangnya lebih masuk ke mulut hangat Elin tanpa kasar. Matanya tak lepas dari pemandangan gadis Chindo yang biasanya polos di kantor kini berlutut di lantai toilet dengan mulutnya penuh dengan batangnya dan tangannya sendiri sibuk memainkan celah basahnya.
"Lihat kamu sekarang… amoy kantoran yang selalu tampil rapi dan elegan.. sekarang hanya bisa berlutut mengulum kontolku sambil masturbasi. Kamu menyukainya Elin. Aku bisa dengar suara jari kamu yang basah dan licin. Reza mengatakan itu dengan nada puas yang gelap. Elin hanya bisa mendesah panjang di tenggorokan dengan suara yang teredam oleh penis Reza.
"Mmmph…
Mata Elin menatap ke atas ke wajah pria itu dengan campuran malu takut dan nafsu yang tak bisa disembunyikan lagi. Gerakan kepalanya semakin ritmis sehingga mengulum lebih dalam dan lebih basah. Air liurnya mulai menetes dari sudut bibirnya ke sepanjang batang Reza sementara jari-jarinya di bawah terus bergerak cepat. Pinggul rampingnya bergetar pelan di lantai toilet dan mendekati klimaks yang kedua pagi itu di tempat yang rentan diketahui rekan kerjanya.
Reza mulai kehilangan kesabaran yang tersisa. Tangan kanannya yang tadinya hanya mengusap rambut hitam Elin kini mencengkeram belakang kepalanya dengan lebih kuat. Jari-jarinya menyelip di antara helai rambut bergelombang yang lembut itu.
"Lebih dalam.
Reza memerintah dengan suara rendah yang kasar dan pinggulnya mendorong maju secara tiba-tiba hingga batangnya yang tebal menyentuh tenggorokan Elin. Gadis itu tersedak pelan sehingga mata sipitnya melebar di balik kacamata dan air mata tipis menggenang di sudut mata karena refleks tapi ia tidak menarik diri. Mulutnya yang mungil kini dipenuhi sepenuhnya dan bibirnya meregang rapat di sekeliling batang Reza. Air liurnya menetes deras dari sudut bibir ke dagu dan ke lantai ubin. Reza mulai menggerakkan pinggulnya dengan irama kasar tapi terkontrol sehingga menarik kepala Elin maju-mundur sambil batangnya keluar-masuk mulut hangat dan basah itu dengan suara basah yang pelan dan mesum.
"Begitu… isap lebih kuat Elin. Gunakan lidahmu. Kamu milikku sekarang di sini.
Reza menggeram itu dengan napasnya sudah berat. Elin hanya bisa mendesah teredam.
"Mmmph… mmmh!
Suaranya bergetar setiap kali kepala batang Reza menyentuh tenggorokannya. Satu tangannya tetap berada di antara pahanya yang terbuka lebar sehingga jari tengahnya kini bergerak liar dan cepat menyusup masuk-keluar dari vaginanya yang sudah sangat licin dan berkedut. Ibu jarinya menekan klitorisnya dengan tekanan kuat dan cepat. Lututnya gemetar hebat di lantai toilet yang dingin dan pinggul rampingnya berayun tak beraturan mengikuti gerakan tangannya sendiri. Rasa malu yang membara ancaman video dan sensasi kasar di mulutnya justru membuat hasratnya meledak-ledak. Reza semakin kasar sehingga tangannya mencengkeram rambut Elin lebih erat. Pinggulnya mendorong lebih dalam dan lebih cepat dan batangnya yang berdenyut keras keluar-masuk mulut gadis itu dengan suara yang basah dan vulgar.
"Kamu suka ini elin ?!! Lonte cina kantoran.. yang pura pura elegan tapi diam diam suka pamerin badan diatas balkon apartemennya.. sekarang kamu cuma bisa berlutut di toilet kantor sambil ngisepin kontol pribumi..
Reza mengatakan itu dengan suara parau dan matanya menatap ke bawah dengan nafsu gelap. Elin merasa gelombang panas yang dahsyat mulai naik dari perut bawahnya. Otot-otot vaginanya berkontraksi kuat menggenggam jari-jarinya sendiri dan cairan beningnya memuncrat pelan membasahi tangannya serta lantai. Tubuhnya mengejang hebat sehingga pinggulnya terangkat sedikit dari lantai dan dada mungilnya naik-turun cepat di balik blus yang terbuka. Hampir bersamaan Reza menggeram dalam dan pinggulnya mendorong dalam-dalam hingga batangnya terbenam sepenuhnya di mulut Elin. Tangannya menekan kepala gadis itu kuat-kuat.
"Uuunghh... Aaaaku.. mauu keluar Elin..… telan semuanya.
Reza mendesis itu dengan suara kasar. Tubuh Reza mengejang dan cairan panas serta kental memuncrat deras ke tenggorokan Elin tepat saat gelombang orgasme Elin sendiri meledak dengan hebat. Vaginanya berkontraksi kuat-kuat sehingga cairan hangat memuncrat lagi dari celahnya membasahi lantai toilet. Seluruh tubuh rampingnya gemetar tak terkendali dan desahan parau teredam oleh batang Reza yang masih terbenam di mulutnya. Air mata Elin akhirnya jatuh bercampur air liur dan sperma yang meluber dari sudut bibirnya. Tubuhnya ambruk lemas di lantai sementara Reza masih menahan kepalanya. Napas keduanya tersengal-sengal di ruangan kecil yang pengap itu.
Elin masih berlutut lemas di lantai ubin toilet yang dingin. Tubuh rampingnya gemetar hebat akibat sisa-sisa orgasme yang baru saja menghantamnya. Mulutnya masih terbuka sedikit dan bibir mungilnya memerah serta bengkak. Campuran air liur precum dan sperma Reza yang kental meluber pelan dari sudut bibirnya ke dagu halusnya. Rasa asin pahit masih memenuhi tenggorokannya sehingga membuatnya menelan refleks berkali-kali dengan susah payah. Air mata tipis masih menggenang di mata sipitnya di balik kacamata yang sedikit berkabut bukan hanya karena tersedak tadi tapi juga karena campuran emosi yang membuncah di dada mungilnya.
Rasa malu yang membakar seperti api ketakutan bahwa seseorang bisa saja masuk dan melihatnya dalam keadaan seperti ini dan hasrat gelap yang anehnya masih berdenyut pelan di antara pahanya yang basah kuyup. Ia merasa kotor dan murahan tapi pada saat yang sama tubuhnya merasa hidup seperti belum pernah sebelumnya. Reza menarik napas panjang lalu melepaskan cengkeraman di rambut hitam Elin perlahan dan mundur selangkah sambil menyimpan ponselnya yang masih menyala rekaman.
"Bagus sekali Elin.
Reza mengatakan itu dengan suara rendah yang puas sambil merapikan celananya.
"Kamu sangat patuh. Rahasiamu masih aman… untuk sekarang.
Elin hanya diam dengan kepalanya tertunduk dan tangan halusnya gemetar saat ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. Reza tidak memberi waktu lama sehingga ia membasuh tangannya di wastafel sebentar lalu keluar dari toilet tanpa kata lagi dan meninggalkan Elin sendirian di ruangan kecil itu.
Elin duduk diam beberapa detik dengan napasnya masih tersengal. Dengan gerakan pelan dan hati-hati ia bangkit berdiri sehingga lututnya terasa lemas dan sedikit nyeri karena tekanan di lantai ubin. Rok pensil hitamnya diturunkan kembali ke posisi semula meski kainnya kini sedikit kusut dan bagian dalamnya sudah basah oleh cairannya sendiri. Ia berdiri di depan cermin wastafel lalu menatap bayangannya sendiri. Rambut hitam yang biasanya rapi kini agak acak-acakan pipinya memerah hebat bibirnya bengkak dan mata sipitnya masih berkaca-kaca.
Dengan tangan gemetar Elin mengambil tisu dari dispenser membasahinya dengan air lalu membersihkan dagunya sudut bibirnya dan lehernya dengan teliti agar tak ada bekas yang tersisa. Ia juga membersihkan area antara pahanya sebisa mungkin sehingga mengusap cairan yang masih menetes pelan dari celah kewanitaannya dengan tisu basah dan wajahnya semakin memerah saat merasakan betapa basah dan sensitif dirinya masih.
Blus putih sutranya dikancingkan kembali satu per satu hingga leher rambutnya dirapikan dengan jari-jari halus dan ia membasuh wajahnya dengan air dingin beberapa kali agar pipinya tidak terlalu merah. Setelah memastikan penampilannya kembali normal yang polos rapi dan innocent seperti biasa Elin menarik napas dalam-dalam menatap dirinya di cermin sekali lagi lalu keluar dari toilet pria dengan langkah pelan dan hati-hati berharap tak ada yang melihatnya masuk tadi.
Sepanjang sisa hari itu Elin bekerja seperti biasanya di meja sekretarisnya. Ia menyapa rekan kerja dengan senyum malu-malu yang sama suaranya lembut saat menjawab telepon tangan halusnya mengetik laporan dengan cepat dan teliti dan ia bahkan mengantar dokumen ke ruangan bos dengan postur tegak seperti biasa. Tapi di balik semua itu tubuhnya masih merasakan bekas-bekas kejadian tadi.
Bibir Elin yang basah terasa hangat setiap kali ia menjilatnya celana dalamnya yang lembab membuatnya sesekali menggeser paha pelan di kursi dan setiap kali ia melihat Reza lewat di koridor atau duduk di ruang meeting selangkangannya langsung berdenyut lagi. Rasa malu dan ketakutan terus menggerogoti pikirannya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dan apakah Reza akan mengirim video itu ke orang lain tapi anehnya hasrat exhibitionisnya yang selama ini tersembunyi justru semakin kuat sehingga membuatnya bertanya-tanya dalam diam apakah ia sebenarnya ingin semua ini berhenti atau justru ingin semakin jauh.





ayo teruskan lagi erinnnnnnnnnnnnnnnnnnn
BalasHapuskentang nih