Langsung ke konten utama

Majikanku Kena Rampok


By : Risco

Namaku Samsudin. Baru saja lulus sekolah tahun lalu. Aku memutuskan merantau ke Jakarta dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Awalnya berat sekali. Aku sudah berkeliling dari pabrik ke pabrik di kawasan industri Jawa Barat. Tapi selalu ditolak. Masih terlalu muda kata mereka. Belum ada pengalaman. Dompetku hampir kosong ketika akhirnya aku mendapat tawaran yang tak terduga.

Pak Hans seorang pengusaha keturunan tionghoa yang bekerja di kantor daerah kuningan sedang mencari tukang kebun sekaligus sopir pribadi. Gaji lumayan. Ada tempat tinggal di belakang rumah utama dan makan gratis. Aku langsung menerima tanpa pikir panjang.

Rumah mereka berada di sebuah perkampungan elite di pinggiran Jakarta. Bukan kawasan mewah seperti Pondok Indah tapi cukup besar untuk ukuran perumahan biasa. Dua lantai. Halaman depan luas dengan rumput hijau yang aku rawat setiap pagi. Garasi untuk dua mobil dan taman belakang yang jadi tanggung jawabku. Pak Hans dan istrinya Bu Natalie sudah menikah dua tahun tapi belum dikaruniai anak. Mereka pasangan Cindo yang tampak harmonis. Pak Hans biasanya pulang malam. Ia sibuk dengan meeting dan proyek kantor.

Bu Natalie biasa aku panggil Cik Natalie. Ia wanita yang ramah dan asyik diajak bicara. Tingginya hampir sama denganku sekitar 170 cm. Tubuhnya proporsional dengan payudara yang lumayan besar dan montok. Selalu terlihat menonjol setiap kali ia memakai kaos tanpa lengan di rumah. Kulitnya putih bersih. Rambutnya hitam lurus sebahu dan senyumnya selalu hangat. Di rumah Cik Natalie paling sering memakai daster pendek atau kaos longgar ditambah celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya. Kadang saat ia menyiram tanaman atau membersihkan meja aku tak sengaja melihat lekuk tubuhnya yang lembut. Tapi aku selalu menjaga jarak. Aku hanya karyawan di sini.

Tak terasa hampir satu tahun aku bekerja di rumah ini. Rutinitasku sudah biasa. Bangun pagi merawat taman. Mencuci mobil. Mengantar Pak Hans ke kantor kalau ia tidak bawa mobil sendiri. Lalu pulang dan membantu pekerjaan ringan di rumah. Cik Natalie sering mengobrol denganku sambil minum kopi di teras belakang. Ia suka bercerita tentang masakan film atau keluh kesah kecil tentang suaminya yang jarang di rumah. Aku mendengar saja sesekali tertawa dan merasa nyaman di lingkungan ini.

Hingga suatu malam itu tiba.

Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta. Aku sudah tidur lelap di kamar kecilku di belakang rumah utama. Kamar itu sederhana: kasur tipis kipas angin dan satu jendela kecil. Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berat menindih mulutku. Tangan kasar membekapku kuat-kuat. Bau keringat dan kain basah menyeruak ke hidungku.

“Jangan bergerak atau mati.” Bisik suara kasar di telingaku. Aku merasakan ujung pisau dingin menyentuh leherku. Jantungku langsung berdegup kencang. Tubuhku membeku. Dua orang bertopeng hitam berdiri di samping kasurku. Mereka memakai pakaian gelap. Wajah tertutup kain. Satu orang menarik lenganku ke belakang dan mengikatnya dengan tali nilon yang kasar. Aku tidak berani melawan. Pisau itu masih menempel di leherku.

Mereka menarikku bangun dengan kasar tapi diam-diam. Kaki telanjangku menyentuh lantai dingin. Hanya memakai kaos oblong hitam dan celana pendek boxer aku digiring keluar kamar menuju rumah utama melalui pintu belakang yang sudah mereka buka paksa. Hujan masih deras. Angin dingin menyapu kulitku. Kami masuk ke dapur melalui pintu samping. Di sana pemandangan yang membuat darahku membeku. Cik Natalie sudah ada di sana.

Ia duduk di lantai dapur. Punggungnya bersandar ke kaki meja makan besar dari kayu jati. Kedua tangannya diikat ke belakang melingkar di salah satu kaki meja yang tebal. Daster pendek sepaha yang biasa ia pakai saat tidur masih melekat di tubuhnya. Kain tipis berwarna krem muda dengan motif bunga kecil. Karena posisi tangan diikat ke atas lengan tanpa lengan daster itu terangkat memperlihatkan ketiaknya yang putih mulus. Ada sedikit rambut halus hitam di sana basah oleh keringat ketakutan. Payudaranya yang besar terlihat naik-turun cepat karena napasnya yang tersengal. Wajahnya pucat. Mata indahnya membelalak ketakutan tapi ia berusaha tetap diam ketika melihatku.

Salah satu perampok mendorongku mendekat. “Duduk di depannya.” Perintahnya pelan tapi tegas.

Aku tidak punya pilihan. Lututku ditekuk. Tubuhku dipaksa duduk menghadap Cik Natalie sangat dekat. Paha kami hampir bersentuhan. Kemudian mereka mulai mengikat kami menjadi satu.


Tali nilon yang sama kasarnya melingkar di tubuh kami. Tangan kananku ditarik ke belakang punggung Cik Natalie lalu diikat erat dengan tangan kiriku di sana juga. Punggung tanganku menempel langsung ke kulit punggungnya yang hangat dan lembut melalui kain daster yang tipis. Aku bisa merasakan tulang belakangnya lekuk pinggangnya yang ramping dan sedikit getaran tubuhnya. Kaki kami juga diikat. Kakiku yang panjang diluruskan di samping kakinya lalu diikat kuat-kuat sehingga betis dan paha kami saling menempel rapat. Posisi kami jadi seperti berpelukan erat di lantai dapur yang dingin.

Ikatan itu sangat rapat. Tubuh kami hampir tak bisa bergerak sama sekali. Dada Cik Natalie yang montok tertekan lembut ke dadaku. Aku bisa merasakan kehangatan payudaranya yang besar dan empuk melalui kain daster dan kaosku yang tipis. Putingnya yang sedikit mengeras karena dingin dan ketakutan terasa samar-samar menyentuh tulang dadaku. Pipi kananku terpaksa menempel rapat ke pipi kirinya. Kulitnya halus sedikit lembab oleh keringat dan aroma sabun mandi bunga melati yang biasa ia pakai masih tercium samar dari leher dan rambutnya. Napasnya yang hangat dan cepat menyapu telingaku setiap kali ia mengembuskan udara.

“Jangan bergerak. Diam saja.” Kata salah satu perampok sambil mengikat tali terakhir di pinggang kami. Suaranya dingin. “Kami cuma ambil barang. Kalau kalian ribut suami lu mati di atas.”

Cik Natalie mengangguk pelan. Aku merasakan gerakan kecil kepalanya itu membuat pipinya bergesekan lembut dengan pipiku. Bulu kudukku berdiri. Jantungku berdegup sangat kencang hingga aku yakin ia juga bisa merasakannya di dadanya.

Para perampok ada tiga orang kemudian meninggalkan kami di dapur. Mereka naik ke lantai dua dengan langkah pelan mencari barang berharga. Aku mendengar suara langkah mereka di tangga kayu lalu suara laci dibuka lemari digeledah. Pak Hans pasti sudah mereka ikat di kamar tidur utama. Rumah ini besar jadi mereka butuh waktu lama. Sekarang hanya ada kami berdua.

Dapur gelap hanya diterangi lampu kecil di atas kompor yang mereka biarkan menyala redup. Hujan di luar masih deras. Suara gemuruhnya memenuhi ruangan. Sesekali petir menyambar menerangi wajah Cik Natalie sekilas. Matanya yang cokelat indah menatapku dari jarak sangat dekat. Bulu matanya panjang. Bibirnya sedikit terbuka karena napas yang berat.

Kami diam cukup lama. Mungkin lima menit. Mungkin sepuluh. Waktu terasa melambat sekali.

Aku mencoba mengatur napas. Tapi setiap kali aku menghirup udara dada Cik Natalie ikut terangkat dan menekan lebih dalam ke dadaku. Payudaranya yang besar dan lembut seperti bantal hangat yang hidup. Aku merasakan tekstur kain daster yang tipis hampir tak ada penghalang antara kulit kami. Putingnya semakin terasa jelas kecil mengeras dan hangat. Setiap hembusan napasnya membuatnya bergesekan pelan dengan kaosku.

Pipi kami masih menempel. Aku bisa merasakan denyut nadi di pipinya yang cepat. Kulitnya sangat halus lebih halus dari yang pernah kubayangkan. Ada sedikit rambut halus di ketiaknya yang terlihat karena tangannya diikat ke atas. Bau keringat ringan bercampur aroma tubuhnya yang feminin membuat kepalaku sedikit pusing.

“Cik…” bisikku sangat pelan hampir tak terdengar. “Maaf aku nggak bisa apa-apa.”

Ia menggeleng pelan. Gerakan itu membuat pipinya mengusap pipiku lebih lama. “Ssst diam dulu Mas To. Mereka masih di atas.” Balasnya dengan suara bergetar. Napasnya menyapu bibirku. Aroma mint dari pasta gigi yang ia pakai sebelum tidur masih tersisa.

Tubuh kami terikat begitu rapat sehingga setiap gerakan kecil terasa sangat intim. Saat aku mencoba menggeser pinggul sedikit untuk mencari posisi yang lebih nyaman paha kami bergesekan. Kulit pahanya yang mulus dan hangat menyentuh kulit pahaku. Celana boxer-ku tipis dan daster Cik Natalie hanya selapis kain tipis. Aku merasakan kehangatan selangkangannya yang sangat dekat dengan pangkal pahaku. Darahku mulai mengalir lebih cepat ke bawah.

Aku berusaha mengendalikan diri. Ini bukan saatnya. Kami sedang dalam bahaya. Tapi tubuhku mengkhianati. Perlahan tanpa bisa kucegah sesuatu di antara kakiku mulai mengeras. Kepala penis-ku yang sensitif terdorong pelan ke arah pangkal paha Cik Natalie karena posisi ikatan yang memaksa pinggul kami rapat.

Cik Natalie pasti merasakannya. Ia menarik napas tajam pelan. Matanya melebar sedikit tapi ia tidak bergerak. Hanya napasnya yang semakin cepat. Aku merasakan payudaranya naik-turun lebih cepat di dadaku. Putingnya semakin mengeras menekan lebih tegas ke tulang dadaku. Kami diam lagi. Lama.

Hanya suara hujan suara langkah samar di lantai atas dan detak jantung kami yang saling bertautan.

Setiap detik terasa seperti menit. Aku menghitung napasnya. Satu. Dua. Tiga. Empat hembusan napasnya dada kami saling menekan. Lima payudaranya bergesek pelan. Enam kehangatan pahanya semakin terasa. Tujuh aroma tubuhnya semakin kuat karena keringat kami mulai bercampur.

Aroma tubuh Cik Natalie benar-benar memabukkan. Harum sabun mandi bunga melati yang lembut bercampur dengan bau keringat ringan yang feminin hangat dan sedikit manis. Tapi yang paling membuat kepalaku pusing adalah aroma dari ketiaknya yang sekarang berada tepat di depan wajahku karena posisi tangannya diikat ke atas. Bau itu tidak menyengat malah sangat alami campuran antara sabun dan aroma tubuh perempuan dewasa yang sedang tegang. Setiap kali ia mengangkat napas ketiak kirinya yang putih dengan sedikit rambut halus hitam itu semakin dekat dengan hidungku. Aku tak bisa menghindar. Aroma itu masuk dalam-dalam ke paru-paruku membuat darahku berdesir lebih cepat ke bawah. Kontolku sudah setengah tegang sejak tadi tapi sekarang semakin berdenyut kuat hanya karena menghirup aroma keteknya yang intim itu.

Aku berusaha menggerakkan tanganku pelan-pelan mencoba mencari celah di tali yang mengikat pergelangan tanganku di belakang punggungnya. Tapi ikatannya sangat kuat. Tali nilon itu menggigit kulitku setiap kali aku mencoba menarik. Jari-jariku hanya bisa menyentuh punggung tangan Cik Natalie yang lembab oleh keringat.

“Mas sam.. coba gerak ke bawah sedikit. Bisik Cik Natalie sangat pelan di telingaku. Suaranya bergetar hampir tak terdengar di antara gemuruh hujan. “Mungkin ikatan di kaki kita bisa agak longgar kalau kita geser posisi.

Aku mengangguk kecil. Gerakan itu membuat pipi kami bergesekan lagi. “Baik Cik. Jawabku pelan.

Dengan sangat hati-hati aku mulai menurunkan tubuhku ke bawah. Lututku bergeser pelan di lantai dapur yang dingin. Karena tubuh kami terikat rapat gerakan itu memaksa pinggangku melengkung ke bawah. Hidungku yang turun perlahan menyenggol bagian depan daster Cik Natalie yang tipis. Kain daster itu tersangkut di hidungku lalu tertarik ke bawah secara perlahan.

Tiba-tiba payudara kiri Cik Natalie yang besar dan berat meluncur keluar dari leher daster yang longgar. Kulitnya yang putih susu langsung terpapar udara dingin dapur. Payudara itu montok berbentuk bulat sempurna dengan sedikit berat karena ukurannya. Putingnya yang berwarna merah muda muda kecil tapi sudah mengeras sempurna berdiri tegak di ujungnya. Areolanya yang tipis dan berwarna lebih muda terlihat jelas di bawah cahaya lampu redup.

Cik Natalie tersentak kaget. Matanya membelalak lebar. “Ah…” desahnya pelan sekali hampir seperti menahan jerit. Tubuhnya menegang seketika tapi ia berusaha keras tidak bersuara. Napasnya langsung menjadi pendek-pendek. Payudaranya yang telanjang sekarang menekan langsung ke dadaku melalui kaos oblong-ku yang tipis. Kulitnya yang hangat dan lembut terasa sangat nyata tanpa penghalang kain lagi di bagian itu.

“Aduh maaf Cik maaf banget.” Bisikku cepat suaraku penuh penyesalan tapi juga gemetar karena pemandangan yang baru saja kulihat. Puting merah muda itu masih terbayang jelas di benakku kecil mengeras dan sangat menggoda.

Cik Natalie menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya memerah hebat. “Udah udah Mas ke atas lagi sini.” Katanya dengan suara tercekat. “Pelan-pelan ya…

Aku menurut. Dengan gerakan yang sangat lambat dan hati-hati aku menggeser tubuhku kembali ke atas. Saat aku naik payudara kirinya yang telanjang bergesekan pelan di sepanjang kaosku dari perut naik ke dada. Putingnya menyapu kain kaos dengan lembut membuatnya semakin mengeras. Sensasinya membuat kontolku berdenyut lebih kuat lagi. Sekarang sudah benar-benar penuh dan tegang. Batangnya yang panjang dan tebal menekan kuat ke kain daster di area selangkangan Cik Natalie. Ia pasti merasakan bentuknya dengan jelas panjang berurat dan berdenyut pelan mengikuti detak jantungku yang kencang.

Setiap kali Cik Natalie bernapas pangkal pahanya bergesek pelan dengan batang kontolku. Sensasinya luar biasa hangat lembab sedikit karena keringat kami yang bercampur dan sangat lembut. Kain daster yang tipis hampir tak memberikan penghalang.

Cik Natalie menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya menatap mataku dari jarak beberapa senti saja. “Mas To jangan gerak terlalu banyak.” Katanya pelan. Tapi nadanya bukan marah. Ada nada yang lain malu tapi juga penasaran.

Aku mengangguk kecil. Gerakan itu membuat hidung kami hampir bersentuhan. Aku bisa mencium napasnya yang hangat dan sedikit manis.

Payudara Cik Natalie terasa semakin berat dan hangat di dadaku. Putingnya sudah sangat mengeras seperti dua titik kecil yang menekan kain. Setiap kali ia menggeser tubuh sedikit karena pegal payudaranya bergoyang pelan dan mengusap dadaku. Aku merasakan tekstur kulitnya melalui kain halus kenyal dan penuh.

Paha kami saling menempel begitu erat sehingga aku bisa merasakan otot-otot pahanya yang lembut berkontraksi pelan. Di antara kami kontolku sudah sangat tegang. Kepalanya yang sensitif tertekan ke lipatan kain daster tepat di area kewanitaannya. Aku bisa merasakan kelembaban samar yang bukan hanya dari keringat mungkin dari tubuhnya sendiri yang mulai bereaksi terhadap situasi intim yang tak terduga ini.
Cik Natalie mulai bernapas lebih berat. Dada kami naik-turun secara bersamaan. Pipi kami masih menempel kini sedikit basah oleh keringat. Aku merasakan bulu matanya menyapu pipiku saat ia berkedip.

“Mas Sam… bisiknya lagi suaranya hampir hilang dalam gemuruh hujan. “Aku merasa aneh.

“Aku juga Cik.” Jawabku jujur. “Maaf aku nggak bisa kontrol ini.

Ia tidak menjawab dengan kata. Tapi aku merasakan pinggulnya bergerak sangat pelan hampir tak terlihat. Gerakan itu membuat pangkal pahanya mengusap batang kontolku dari bawah ke atas dengan sangat lambat. Sensasinya seperti listrik. Aku menahan napas.

Kami saling menatap. Mata kami terkunci. Ketakutan masih ada tapi ada sesuatu yang lebih kuat sekarang keintiman paksa yang membangunkan sesuatu di antara kami.

Di lantai atas suara perampok masih terdengar samar. Mereka belum selesai.

Kami terus bergerak dalam diam yang penuh ketegangan. Setiap gesekan pinggul yang pelan membuat kontolku yang telanjang semakin dalam menyentuh lipatan kewanitaannya melalui kain daster yang sudah basah kuyup. Aku bisa merasakan dengan jelas bahwa celana dalam Cik Natalie sudah sangat basah. Kainnya yang tipis dan lembut kini terasa lengket dan hangat cairan kewanitaannya merembes keluar begitu banyak sehingga setiap kali kepala kontolku mengusap celahnya ada suara kecil yang basah dan licin yang hampir tak terdengar di antara gemuruh hujan.

Gerakan kami semakin intim dan tak terkendali. Saat aku mencoba menggeser tubuh ke bawah sekali lagi untuk melonggarkan tali di kaki pinggul Cik Natalie ikut turun bersamaan. Kontolku yang keras dan licin karena cairan pra-ejakulasinya menyelinap pelan ke samping celana dalamnya yang sudah longgar karena gerakan terus-menerus. Kepala kontolku yang bulat dan sensitif mendorong kain celana dalam itu ke samping dengan sangat lambat lalu masuk sedikit demi sedikit ke dalam memek Cik Natalie yang hangat basah dan sangat sempit.

Cik Natalie mendesah panjang dan pelan sekali di telingaku. “Ahhhhh…” suaranya bergetar hampir seperti erangan yang tertahan. Tubuhnya menegang sejenak otot-otot dalamnya meremas kepala kontolku dengan lembut tapi kuat. Memeknya terasa sangat panas licin dan penuh cairan. Dinding-dindingnya yang lembut dan berkerut menyambut masuknya batangku dengan pelan dan dalam.

Aku langsung membeku. “Cik maaf ini nggak sengaja aku…” bisikku cepat dengan suara serak penuh penyesalan tapi tubuhku tak bisa berbohong. Kontolku berdenyut kuat sekali di dalamnya.

Cik Natalie tidak menjawab dengan kata-kata langsung. Napasnya tersengal-sengal di pipiku. Matanya setengah terpejam bulu matanya basah oleh keringat. Kemudian dengan sangat perlahan ia mulai melakukan gerakan naik-turun sendiri. Pinggulnya naik pelan sekali hampir melepaskan kontolku lalu turun lagi dengan sangat lambat membiarkan batangku masuk lebih dalam hingga pangkalnya. Setiap turun-naik terasa seperti gelombang panas yang panjang.

“Mas To jangan minta maaf.” Bisiknya dengan suara sensual yang serak dan rendah bibirnya hampir menyentuh telingaku. “Ini enak lama sekali aku nggak begini Pak Hans terlalu sibuk hampir dua bulan nggak pernah sentuh aku aku sudah kangen sekali…”

Gerakannya semakin ritmis meski masih sangat pelan. Setiap kali pinggulnya turun memeknya meremas kontolku dengan lembut cairannya yang hangat membasahi seluruh batangku. Setiap kali naik dinding-dindingnya seperti menarikku kembali ke dalam. Payudara kirinya yang telanjang bergoyang pelan di dadaku puting merah mudanya yang mengeras menyapu kaosku berkali-kali.

Cik Natalie semakin berani. Ia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik dengan suara yang penuh nafsu “Mas To puaskan aku please aku mau kamu puaskan aku malam ini gerakkan pinggulmu pelan ya seperti itu…”

Aku hanya bisa menurut. Sebagai pembantunya sebagai orang yang selama ini hanya bisa melihat dan mendengar dari kejauhan sekarang aku tak punya pilihan selain mematuhi. Aku mulai menggerakkan pinggulku naik-turun dengan sangat lambat menyinkronkan dengan gerakannya. Kontolku keluar-masuk memeknya dengan ritme yang panjang dan dalam. Suara basah kecil terdengar setiap kali kami bertemu.

Cik Natalie mengembuskan napas panjang. “Iya seperti itu lebih dalam ahh…”

Kemudian ia menyuruh dengan suara yang hampir mendesah “Mas To jilati ketekku sekarang aku suka kalau disentuh di sana…”

Aku menurut tanpa ragu. Karena posisi tangannya masih diikat ke atas ketiak kirinya terbuka lebar di depan wajahku. Aku memiringkan kepala sedikit lidahku menyentuh kulit ketiaknya yang putih dan halus. Aroma harum tubuhnya yang feminin dan sedikit asin karena keringat langsung memenuhi mulutku. Aku menjilatnya pelan dari bawah ke atas lalu melingkar di sekitar rambut halus yang sedikit basah. Cik Natalie menggeliat pelan memeknya meremas kontolku lebih kuat sebagai respons.

“Uhhh iya jilat lagi enak sekali…” bisiknya sensual.

Aku pindah ke putingnya yang telanjang. Karena tubuh kami rapat aku harus menunduk sedikit. Lidahku menyentuh puting merah muda yang sudah sangat mengeras itu. Aku menjilatnya pelan mengelilinginya lalu mengisapnya lembut ke dalam mulutku. Cik Natalie langsung mendesah lebih keras pinggulnya bergoyang lebih cepat. Payudaranya yang besar bergoyang di depan wajahku setiap kali ia naik-turun.

Gerakannya semakin cepat seiring waktu. Awalnya masih pelan dan dalam tapi semakin lama semakin cepat. Pinggulnya naik-turun dengan ritme yang semakin kuat memeknya menghisap kontolku dengan rakus. Suara basah “plok plok” kecil mulai terdengar pelan di antara napas kami yang tersengal.

Aku terus menjilati keteknya bergantian dengan mengisap putingnya. Lidahku tak berhenti bergerak menikmati rasa dan aroma tubuhnya yang intim. Cik Natalie semakin liar dalam diam. Tubuhnya semakin panas keringat mengalir di antara payudaranya yang bergoyang.

Akhirnya tubuhnya mulai mengejang. Kakinya yang diikat dengan kakiku menegang kuat sekali. Otot-otot pahanya berkontraksi hebat. Memeknya meremas kontolku dengan ritme yang tak terkontrol seperti gelombang-gelombang panas yang datang bertubi-tubi.

“Mas To aku mau keluar ahhh…!” desahnya pelan di telingaku suaranya bergetar hebat.

Tubuhnya mengejang lama sekali. Aku merasakan cairan hangat menyembur dari dalam memeknya membasahi seluruh kontolku. Pada saat yang sama aku juga tak bisa menahan lagi. Kontolku berdenyut kuat lalu menyemburkan sperma panas dan tebal ke dalam memek Cik Natalie dengan denyutan yang panjang dan dalam. Setiap semburan terasa seperti pelepasan yang sangat lega setelah ketegangan yang lama.

Kami berdua tersengal-sengal. Napas kami berat dan cepat dada kami naik-turun bersama. Keringat kami bercampur di kulit yang saling menempel. Payudara kirinya yang telanjang masih menekan dadaku putingnya masih mengeras dan basah oleh air liurku. Kontolku masih berada di dalam memeknya berdenyut pelan sambil mengeluarkan sisa-sisa cairan.

Tak berapa lama kemudian suara langkah di lantai atas terdengar semakin jelas. Para perampok akhirnya turun. Mereka berjalan pelan melewati dapur tanpa melihat ke arah kami terlalu lama. Mereka hanya memastikan kami masih terikat lalu keluar dari rumah melalui pintu belakang dengan membawa beberapa tas berisi barang berharga. Suara mesin mobil terdengar samar di kejauhan lalu hilang.

Karena gerakan intens yang kami lakukan tadi ikatan di tangan kami sedikit kendor. Tali nilon yang tadinya sangat erat sekarang agak longgar di pergelangan tanganku. Dengan susah payah aku berhasil memutar tangan dan melepaskan simpulnya pelan-pelan. Begitu tanganku bebas aku langsung melepaskan ikatan di tangan Cik Natalie.

Ia menghela napas lega ketika tangannya turun. Payudaranya yang telanjang masih terlihat dasternya acak-acakan. Kami saling pandang sebentar dalam diam. Wajahnya masih memerah matanya berkaca-kaca karena campuran lega dan sesuatu yang lebih dalam.

Aku cepat-cepat melepaskan ikatan di kaki kami juga. Setelah bebas aku berdiri pelan membantu Cik Natalie bangun. Kontolku yang masih setengah tegang basah oleh campuran cairan kami.

“Aku ke atas dulu Cik tolong Pak Hans.” Kataku pelan.

Cik Natalie hanya mengangguk tersenyum tipis dengan wajah yang masih memerah. “Hati-hati Mas Sam…

Aku naik ke lantai dua. Pak Hans memang sudah diikat di kamar tidur utama mulutnya disumpal kain. Ia terlihat ketakutan tapi selamat. Aku melepaskan ikatannya dengan cepat. Begitu bebas Pak Hans langsung memelukku erat.

“Terima kasih banyak Samsudin kamu selamatkan kami malam ini.” Katanya dengan suara bergetar penuh rasa syukur. “Kamu benar-benar setia.

Aku hanya tersenyum merasa hangat di dada. Saat kami turun ke bawah Cik Natalie sudah merapikan dasternya meski masih acak-acakan. Ia berdiri di dekat meja makan tersenyum lembut padaku. Matanya bertemu dengan mataku sebentar. Ada kilau rahasia di sana yang hanya kami berdua yang mengerti. Aku membalas senyumnya dengan malu-malu tapi hati kecilku tahu bahwa malam ini telah mengubah segalanya di antara kami.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Barang Jarahan 3

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Nasib Fenny Yang Malang

Draft Pengantin Brutal 4

Jebakan Minimarket 4

Aplikasi XBang Oriental

Ai Ling Budak Napsu Pribumi

Basement Rahasia Putri Konglomerat

Boneka Oriental

Draft Amarah Para Buruh 23