By : Analconda13
"Natasha Sayang... Papa dengar kamu putus lagi. Katanya lembut sambil duduk di sampingku. Tanpa banyak bicara ia memelukku erat. Aku merasakan dada papaku yang bidang dan hangat menempel di pipiku. Aroma badannya yang maskulin langsung memenuhi indraku. Tangan besarnya mengusap punggungku naik turun dengan gerakan menenangkan yang sudah biasa sejak aku kecil. Tapi kali ini rasanya berbeda. Aku menyembunyikan wajah di lekukan lehernya. Aku menghirup dalam-dalam dan untuk pertama kalinya merasakan getaran aneh di dadaku yang bukan hanya kesedihan.
Malam itu papa memelukku lebih lama dari biasanya seolah enggan melepaskan. Telapak tangannya yang hangat terus menyusuri punggungku dan sesekali berhenti di pinggangku sehingga bulu romaku berdiri pelan-pelan.
"Kamu gak sendirian sayang. Papa akan selalu ada untukmu. Bisiknya dengan suara rendah yang dalam. Getarannya terasa sampai ke dadaku. Ketika ia akhirnya menarik diri sedikit untuk melihat wajahku maka mata kami bertemu dalam jarak yang terlalu dekat.
Aku melihat ada sesuatu di mata papaku. Sesuatu yang gelap dan bukan sekadar kasih sayang seorang ayah. Jantungku berdegup kencang. Aku cepat-cepat menunduk tapi tanganku tanpa sadar masih mencengkeram kausnya. Malam itu setelah papa keluar dari kamarku aku berbaring di ranjang dengan napas yang masih tersengal. Jari-jariku tanpa sadar menyentuh bibirku sendiri dan membayangkan bagaimana rasanya jika pelukan tadi tidak berhenti di situ. Aku tahu ini salah tapi benih rasa penasaran dan ketertarikan yang baru muncul itu sudah mulai tumbuh pelan namun tak terbendung.
Malam berikutnya aku masih merasakan sisa kehangatan pelukan papa di tubuhku meski sudah berhari-hari berlalu. Mama sedang sibuk dengan pekerjaannya yang mengharuskan dia lembur hampir setiap malam jadi rumah sering hanya kami berdua saja setelah makan malam. Aku sengaja duduk di sofa ruang keluarga dengan celana pendek dan kaus longgar yang sedikit melorot di satu bahu. Aku pura-pura menonton televisi sambil menunggu papa pulang dari ruang kerjanya. Ketika papa akhirnya keluar ia berhenti sejenak di ambang pintu. Matanya melirik ke arahku lebih lama dari biasanya.
"Kamu belum tidur Tash ? tanyanya dengan suara yang sedikit serak.
Aku menggeleng pelan lalu menepuk sofa di sebelahku.
“Temani aku sebentar paa.. Aku masih sedih soal kejadian kemarin. Kataku. Papa ragu sesaat tapi akhirnya duduk di sampingku. Bahu kami bersentuhan dan aku bisa mencium aroma parfumnya yang samar. Kali ini aku tidak langsung bersandar hanya duduk diam sehingga keheningan di antara kami terasa semakin tegang.
Beberapa menit kemudian papa mengulurkan tangannya dan mengusap rambutku dengan lembut. Jari-jarinya menyisir helai-helai rambut panjangku hingga ke ujung. Sentuhan itu membuat kulitku merinding. Aku memejamkan mata berpura-pura menikmati hiburan dari televisi padahal seluruh perhatianku tertuju pada telapak tangan papa yang kini turun ke bahuku.
"Sekarang kamu sudah dewasa Tash. Putus cinta itu memang sakit tapi itu bagian dari hidup. Jangan terlalu larut dalam kesedihan karena kamu punya masa depan yang panjang di depan mata. Papa selalu ada di sini untuk mendengarkan dan menolongmu melewati ini semua. Kamu harus kuat Tash. Papa percaya kamu bisa bangkit lagi dan menemukan yang lebih baik. Katanya dengan suara lembut sambil terus mengusap bahuku pelan.
Aku membuka mata dan menoleh ke arahnya. Wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Aku bisa melihat garis rahang papa yang tegas serta bibirnya yang sedikit terbuka. Matanya tampak lebih gelap dari biasanya. Jantungku berdegup keras. Tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku pelan. Papa menarik napas dalam. Tangannya berhenti di bahuku dan ibu jarinya mengusap kulit telanjang di sana dengan gerakan kecil yang hampir tak terlihat. Udara di ruangan terasa lebih panas. Untuk pertama kalinya aku merasakan tarikan yang kuat di antara kami sesuatu yang tak terucapkan tapi semakin sulit diabaikan.
Malam itu berlalu dengan keheningan yang aneh setelah papa menarik tangannya kembali dan berdehem pelan seolah menyadari bahwa sentuhannya sudah terlalu lama. Ia bangkit dari sofa sambil mengusap wajahnya lalu berkata dengan suara yang sedikit terganggu.
“Sudah malam Natasha. Lebih baik sekarang kamu tidur saja dikamar.
Aku hanya mengangguk. Saat papa berjalan menuju kamarnya aku tidak bisa langsung tidur. Aku berbaring di ranjang dengan pikiran yang berputar-putar dan mengingat bagaimana ibu jarinya mengusap bahuku tadi. Kulitku masih terasa hangat di tempat itu. Keesokan paginya mama sudah berangkat kerja lebih awal seperti biasa. Aku turun ke dapur dengan hanya memakai oversized t-shirt milik papa yang aku curi dari keranjang cucian kemarin malam.
Baju itu longgar dan panjangnya sampai pertengahan paha. Aku sengaja tidak memakai apa-apa di dalamnya. Papa sedang membuat kopi di meja dapur. Punggungnya yang lebar terlihat tegang di balik kemeja kerja. Saat aku mendekat untuk mengambil gelas tubuhku sengaja menyenggol lengannya pelan.
“Pagi paa.. kataku lembut. Suaraku masih serak karena baru bangun.
Papa menoleh dan matanya langsung turun ke baju yang kukenakan. Aku melihat pupilnya melebar sesaat sebelum ia cepat-cepat mengalihkan pandangan ke cangkir kopinya.
"Itu... baju papa ? Tanyanya dengan nada yang berusaha biasa tapi ada getaran kecil di suaranya.
Aku mengangguk sambil tersenyum malu-malu lalu bersandar di meja di sebelahnya. Aku membiarkan ujung baju naik sedikit saat aku mengulurkan tangan mengambil roti.
"Aku suka baunya paa. Enak buat dipakai tidur. Kataku lembut.
Udara di dapur terasa berat. Papa tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam dan tangannya mencengkeram gagang cangkir lebih kuat. Aku bisa merasakan tatapannya yang sesekali melirik ke kaki telanjangku yang menyentuh lantai dingin. Ketika ia akhirnya bergerak untuk menuang kopi lagi maka lengannya menyenggol pinggangku. Sentuhan itu singkat tapi cukup untuk membuat napasku tertahan sejenak. Papa tidak minta maaf dan aku pun tidak mundur. Kami berdiri berdampingan dalam keheningan yang penuh muatan dan hanya suara tetesan kopi yang memecah ketegangan pagi itu. Aku merasa ada sesuatu yang mulai bergeser di antara kami pelan tapi semakin tak terelakkan.
Pagi itu berlalu dengan canggung yang manis. Papa akhirnya beranjak ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor tapi sebelum pergi ia sempat berhenti di ambang pintu dapur dan menatapku sekali lagi.
"Ganti bajunya Tash.. bukannya hari ini kamu ada kuliah pagi.. katanya pelan tapi suaranya tidak terdengar tegas seperti biasanya.
Aku hanya tersenyum kecil tanpa menjawab dan membiarkan baju oversized-nya tetap melekat di tubuhku sepanjang pagi. Sepanjang hari di kampus pikiranku tidak bisa lepas dari papa. Setiap kali aku mengingat tatapannya di dapur tadi maka ada rasa hangat yang menjalar di perutku. Malam harinya mama menelepon bahwa ia harus menginap di hotel karena meeting besok pagi di luar kota. Rumah kembali hanya milik kami berdua. Aku mandi lama memakai lotion wangi yang biasanya jarang aku pakai lalu memilih gaun rumah tipis berwarna krem yang menempel longgar di tubuhku. Gaun itu pendek tali bahunya tipis dan aku sengaja tidak memakai bra di dalamnya.
Saat papa pulang sekitar jam sembilan malam aku sudah duduk di sofa ruang keluarga dengan kaki terlipat dan pura-pura membaca buku kuliah. Lampu ruangan sengaja aku redupkan. Papa masuk sambil membawa tas kerjanya lalu berhenti ketika melihatku. Matanya langsung tertuju pada tali gaun yang melorot sedikit di bahu kiriku.
"Tadi mama bilang.. dia nggak pulang malam ini soalnya mau lanjut meeting kantor di luar kota. kataku pelan tanpa mengangkat wajah dari buku. Papa meletakkan tasnya di lantai lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi single di seberangku. Jarak kami terasa terlalu jauh.
“Kamu baik-baik aja kan hari ini? Tanyanya dengan suara rendah.
Aku mengangguk lalu akhirnya menutup buku dan menatapnya langsung.
"Paa.. Gak tau kenapa. Aku merasa nyaman kalau ditemani sama papa di sini. Kataku.
Papa tidak langsung menjawab. Ia hanya mengusap wajahnya dengan telapak tangan seolah berusaha mengendalikan sesuatu. Udara di ruangan terasa semakin berat. Aku bangkit pelan dari sofa lalu berjalan mendekat ke kursinya dan berhenti tepat di depannya. Gaun tidurku bergoyang lembut mengikuti gerakanku. Papa mendongak dan matanya naik dari kakiku yang telanjang ke wajahku. Aku bisa melihat dada papaku naik turun lebih cepat.
“Natasha... Bisiknya. Nama itu keluar seperti peringatan sekaligus doa.
Aku berdiri di depan papa cukup dekat sehingga gaunku hampir menyentuh lututnya. Jantungku berdegup begitu keras sampai aku khawatir ia bisa mendengarnya. Papa tetap duduk di kursi dan tangannya mencengkeram lengan kursi dengan kuat seolah itu satu-satunya cara untuk menahan diri. Matanya naik turun pelan di tubuhku dari kaki telanjangku ke pinggul lalu ke dada yang naik turun di balik kain tipis gaun.
“Natasha... kamu tahu ini nggak boleh.. katanya dengan suara yang hampir hilang serak dan rendah. Tapi ia tidak bangkit dan tidak mundur. Aku menggigit bibir bawahku pelan lalu mengulurkan tangan dan menyentuh bahunya dengan ujung jari. Sentuhan itu ringan tapi cukup membuat papa menarik napas tajam.
"Aku cuma mau dimanja sama papa.. Bisikku dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.
"Cuma papa yang bisa bikin aku ngerasa nyaman.. kataku lagi.
Papa menutup mata sejenak dan rahangnya menegang. Tangannya yang besar perlahan terangkat lalu menyentuh pinggangku dari luar gaun. Ibu jarinya mengusap kain tipis itu dengan gerakan kecil yang ragu. Kehangatan telapaknya menembus kain dan membuat lututku sedikit lemas. Aku maju selangkah lagi dan berdiri di antara kedua kakinya yang terbuka. Gaunku kini menyentuh pahanya. Papa membuka mata dan tatapannya gelap serta penuh konflik.
"Ini salah Nat. Nanti mama... Katanya tapi kalimatnya terputus ketika aku perlahan duduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan. Gerakanku pelan dan hati-hati seolah memberinya waktu untuk menolak. Tubuhku yang ringan menempel di dadanya yang bidang. Aku bisa merasakan kehangatan pahanya di bawahku dan sesuatu yang mulai mengeras di antara kami. Papa mengembuskan napas panjang. Tangannya kini memegang pinggangku lebih erat tidak lagi ragu tapi masih gemetar. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Hidungku menyentuh lehernya dan menghirup aroma maskulin yang sudah familiar itu.
"Paa.. bole kan ? Aku cuma pengen dipeluk sebentar sama papaa.. bisikku di telinganya meski aku tahu ini sudah lebih dari sekadar pelukan. Papa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memelukku lebih erat. Tangan besarnya menyusuri punggungku naik turun di atas gaun tipis dan sentuhannya semakin berani pelan-pelan sementara napas kami berdua mulai tidak teratur di dalam ruangan yang sunyi itu.
Aku merasakan dada papa naik turun lebih cepat di bawah pipiku. Detak jantungnya yang kuat seolah berdentum di telingaku. Tangan besarnya masih menyusuri punggungku dengan gerakan lambat naik sampai ke tengkuk lalu turun lagi ke pinggang. Kali ini ibu jarinya menyentuh sedikit kulit telanjang di bagian belakang gaunku yang rendah. Setiap kali jarinya melewati tulang belakangku aku merinding kecil dan tanpa sadar pinggulku bergeser pelan di pangkuannya.
Aku bisa merasakan sesuatu yang keras dan hangat menekan di bawah gaunku tepat di antara kedua pahaku. Itu membuat perutku berdesir aneh campuran antara malu dan rasa ingin yang semakin kuat. Papa mengembuskan napas panjang dan berat di rambutku.
"Nat.. kita harus berhenti.. bisiknya tapi tangannya justru memegang pinggangku lebih erat seolah takut aku pergi. Aku tidak menjawab. Aku hanya menggeser wajahku lebih dalam ke lekukan lehernya dan bibirku tanpa sengaja menyentuh kulitnya yang hangat. Sentuhan itu membuat papa menegang sejenak lalu menghela napas gemetar.
Kami diam seperti itu cukup lama dan hanya suara napas kami yang saling bercampur di ruangan redup. Aku merasa berani jadi aku mengangkat kepala pelan dan menatap wajahnya dari jarak sangat dekat. Mata papa sudah gelap sekali pupilnya melebar dan ada keringat tipis di dahinya. Aku mengulurkan tangan kananku lalu menyentuh pipinya dengan ujung jari dan mengusap garis rahangnya yang kasar karena baru dicukur pagi tadi.
“Papaa.. juga merasakannya kan ? tanyaku sangat pelan hampir tak terdengar. Papa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap bibirku lama sekali. Tangannya naik dari pinggangku ke lengan atasku dan ibu jarinya mengusap kulit telanjang di sana dengan gerakan melingkar yang lembut. Kemudian sangat perlahan ia mendekatkan wajahnya. Hidung kami hampir bersentuhan. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat di bibirku.
Detik itu terasa seperti berjam-jam. Papa berhenti tepat sebelum bibir kami menyentuh seolah masih berjuang melawan dirinya sendiri. Aku tidak bergerak hanya menunggu dengan jantung yang berdegup kencang. Tubuhku gemetar ringan di pangkuannya dan menunggu apakah ia akan menutup jarak itu atau menarik diri.
Papa akhirnya menutup jarak itu. Bibirnya menyentuh bibirku dengan sangat lembut hampir ragu seperti takut aku akan mundur. Ciuman pertama itu ringan sekali hanya sentuhan hangat yang singkat tapi cukup membuat seluruh tubuhku bergetar. Aku merasakan bibir papa yang agak kasar karena cambang tipisnya dan napasnya yang hangat bercampur dengan aroma kopi yang samar.
Aku tidak mundur malah aku membalas pelan. Bibirku bergerak mengikuti iramanya yang hati-hati. Tangan papa di pinggangku menegang lalu menarikku lebih dekat hingga dada kami menempel erat. Gaun tipisku terangkat sedikit karena posisiku di pangkuannya dan aku bisa merasakan kulit pahaku yang telanjang menyentuh kain celana kerjanya. Ciuman itu berlangsung lama dan semakin dalam pelan-pelan. Lidah papa menyentuh bibirku dengan ragu sebelum aku membuka mulut sedikit dan membiarkannya masuk. Rasa manis dan panas itu membuat kepalaku pusing. Aku mengalungkan tangan di lehernya dan jari-jariku menyisir rambut pendek di belakang kepalanya.
Ketika kami akhirnya berpisah untuk mengambil napas maka dahi kami saling menempel. Papa mengembuskan napas kasar dan matanya tertutup rapat seolah menyesali apa yang baru saja terjadi.
“Maafin papaa.. Natasha. Gak seharusnya papaa.. melakukan hal ini sama kamu.. bisiknya dengan suara pecah. Tapi tangannya tidak melepasku malah satu tangannya naik ke punggungku dan menyusuri tulang belakangku dari luar gaun dengan gerakan yang lebih berani sekarang sementara tangan satunya tetap memegang pinggangku erat. Aku bisa merasakan denyut keras di antara kedua pahaku bukti bahwa papa juga sangat terangsang meski kata-katanya bilang sebaliknya. Aku menggeleng pelan dan hidungku mengusap hidungnya.
“Gak usah minta maaf paa. Aku yang mau semua ini. Malam ini aku pengen dimanja sama papaaa.. seperti papaaa.. manjain mamaa.. di kamar. jawabku hampir tanpa suara. Aku menggeser tubuhku pelan di pangkuannya dan merasakan gesekan itu membuatku menggigit bibir untuk menahan desahan kecil. Papa menegang hebat dan tangannya mencengkeram gaunku. Ia menatapku lagi dengan tatapan penuh konflik dan hasrat yang sudah sulit disembunyikan. Ruangan terasa semakin panas dan aku tahu malam ini belum akan berakhir hanya dengan satu ciuman.
Papa tidak menjawab dengan kata-kata lagi. Ia hanya menarikku lebih dekat dengan tangan yang gemetar lalu menciumku sekali lagi. Kali ini ciumannya lebih dalam dan lebih lapar seolah semua penahan diri yang ia bangun selama ini mulai runtuh pelan-pelan. Lidahnya menyapu lidahku dengan gerakan yang masih hati-hati tapi sudah penuh gairah dan membuat aku mendesah kecil ke dalam mulutnya.
Aku merasakan tangannya yang besar turun ke pinggulku, meremas lembut kain gaun tipis itu sambil menarik tubuhku lebih rapat ke pangkuannya. Gesekan antara tubuh kami membuat sesuatu yang keras dan panas di bawah celananya semakin terasa menekan tepat di titik sensitifku. Aku tanpa sadar menggoyang pinggulku pelan, mencari gesekan itu lagi, dan papa langsung menegang hebat, mengeluarkan erangan rendah dari tenggorokannya yang teredam ciuman kami.
Kami berpisah lagi untuk bernapas. Napas kami saling bercampur dengan cepat dan tidak teratur. Papa menatapku dengan mata yang gelap dan berkabut. Dahinya berkerut karena perasaan bersalah yang masih kuat.
“Kamu anak papa Natasha.. kita gak boleh begini.. bisiknya serak tapi tangannya justru naik ke dadaku dari luar gaun. Ibu jarinya menyentuh puncak payudaraku yang sudah mengeras di balik kain tipis. Sentuhan itu ringan hampir tak sengaja tapi cukup membuatku menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan desahan. Aku mengangguk pelan dan suaraku bergetar saat menjawab.
“Aku tahu paa.. Tapi pacarku sudah gak sayang lagi sama aku.. cuma papaa yang sayang sama aku.. kataku. Aku menunduk lalu mencium lehernya. Bibirku menyentuh kulit hangat di sana dan mengecup pelan sambil menghirup aromanya. Papa menghela napas panjang dan kepalanya sedikit mendongak sehingga memberi aku akses lebih leluasa. Tangan kanannya kini menyusuri paha telanjangku dari bawah gaun. Gerakannya sangat lambat dan jari-jarinya naik pelan-pelan ke arah dalam seolah masih memberi dirinya sendiri kesempatan untuk berhenti. Ruangan terasa hening kecuali suara napas kami yang berat dan aku tahu batas itu semakin tipis malam ini.
Jari papa berhenti tepat di batas paha dalamku. Ia tidak melanjutkan lebih jauh tapi juga tidak mundur. Aku bisa merasakan getaran kecil di tangannya seolah ia sedang berperang dengan dirinya sendiri. Napasnya terasa panas di telingaku saat ia berbisik.
“Kita nggak boleh begini Tash. Mama bisa pulang kapan saja. Katanya. Suaranya penuh penyesalan tapi tubuhnya berkata lain karena pinggulnya sedikit terangkat pelan dan menekan lebih kuat ke tubuhku sehingga gesekan itu semakin terasa. Aku mendesah lembut di lehernya dan bibirku masih mengecup kulitnya yang lembab karena keringat tipis.
"Sekarang mama lagi di luar kota paa.. Malam ini cuma ada kita berdua dirumah.. jawabku pelan dengan suaraku hampir seperti rengekan. Aku menggeser pinggulku lagi dengan gerakan kecil dan sengaja menggosokkan diri ke tonjolan keras di balik celananya. Papa menggeram rendah dan tangannya akhirnya bergerak naik sedikit lebih tinggi sehingga ujung jarinya menyentuh tepi celana dalamku yang sudah lembab.
Ia menarik tangannya tiba-tiba seolah tersadar lalu memegang kedua bahuku dan menjauhkan tubuhku sedikit dari dadanya agar kami bisa saling tatap. Wajahnya memerah dan mata gelap penuh hasrat tapi juga ketakutan.
“Papa sayang kamu sebagai anak tapi ini...” katanya terputus-putus. Aku melihat ada air mata tipis di sudut matanya sehingga membuat hatiku sakit sekaligus semakin panas. Aku menggeleng pelan dan tanganku turun ke dada papaku lalu merasakan ototnya yang tegang di balik kemeja.
“Aku juga sayang Papa... lebih dari seharusnya,” bisikku. Lalu aku menunduk dan menciumnya lagi, kali ini dengan lebih berani, lidahku yang memasuki mulutnya lebih dulu. Papa membalas dengan keras, tangannya kembali ke pinggangku dan meremas kuat. Ciuman kami semakin panas, basah, dan penuh nafsu yang sudah lama terpendam. Aku merasakan tangannya menyusup ke bawah gaunku dari belakang, telapaknya yang hangat langsung menyentuh kulit bokongku yang telanjang, meremas lembut dengan gerakan melingkar. Tubuhku bergetar hebat di pangkuannya. Aku tahu kami sudah melewati batas yang tak bisa kembali, tapi malam itu aku tidak peduli.
Papa tiba-tiba mengangkat tubuhku dari pangkuannya dengan kedua tangan yang kuat, lalu membawaku ke sofa panjang di ruang keluarga. Ia meletakkanku pelan di sana, tubuhnya menindihku tanpa menekan terlalu berat. Gaunku sudah naik sampai pinggang, memperlihatkan celana dalam tipis yang sudah basah. Papa menatapku dari atas dengan napas tersengal, kemejanya kusut karena cengkeramanku tadi. “Kamu yakin, Natasha?” tanyanya sekali lagi, suaranya serak penuh penyesalan tapi mata itu sudah tidak bisa bohong. Aku mengangguk cepat, tanganku menarik kerah kemejanya agar wajahnya lebih dekat. “Ya, Pa... Aku mau Papa,” jawabku tanpa ragu lagi.
Ia menciumku lagi dengan lapar, lidah kami saling menari panas dan basah. Tangan papa menyusup ke bawah gaunku, menarik celana dalamku turun pelan sampai ke lutut. Jari-jarinya langsung menyentuh bagian intimku yang sudah licin dan panas. Aku mendesah keras ke dalam mulutnya saat jarinya mengusap pelan di sana, menemukan titik sensitifku dan mengelilinginya dengan gerakan melingkar yang ahli.
Tubuhku melengkung ke atas, payudaraku menekan dada papaku. Papa melepaskan ciuman kami, lalu menurunkan tali gaunku satu per satu, memperlihatkan dada telanjangku. Bibirnya langsung turun, mengecup dan menghisap puncak payudaraku bergantian, lidahnya berputar di sana membuatku menggigit bibir kuat-kuat agar tidak berteriak. Sementara itu, jarinya terus bergerak di bawah, masuk sedikit demi sedikit ke dalamku, membuatku basah semakin deras.
Papa bangkit sebentar untuk membuka kancing kemeja dan celananya. Aku melihat miliknya yang sudah keras tegak, besar dan berdenyut. Ia kembali menindihku, ujungnya menyentuh pintu masukku yang licin. “Pelan ya, Sayang...” bisiknya di telingaku. Lalu ia mendorong masuk perlahan, senti demi senti, meregangkanku dengan penuh kehati-hatian. Aku merasakan nyeri kecil bercampur kenikmatan yang luar biasa saat papa memenuhiku sepenuhnya.
Kami diam sejenak sambil saling memandang dengan napas yang sama-sama berat. Kemudian papa mulai bergerak keluar masuk dengan irama pelan tapi dalam. Setiap dorongan membuatku mendesah nama “Pa” berulang-ulang. Tangan kami saling genggam erat di samping kepalaku dan tubuh kami bergerak semakin cepat seiring gairah yang semakin membara. Malam itu di sofa ruang keluarga yang biasa kami gunakan untuk menonton bersama maka papa dan aku akhirnya menyatukan tubuh kami dalam dosa yang manis dan terlarang.
Kami bergerak semakin cepat. Irama papa yang dalam dan kuat membuat sofa di bawah kami berderit pelan. Setiap dorongan membuatku melengkungkan punggung sehingga payudaraku bergoyang mengikuti gerakannya dan desahanku semakin sulit kutahan. Papa menunduk lalu mencium leherku dan menghisap kulit di sana hingga meninggalkan tanda merah kecil yang samar.
“Natasha kamu begitu sempit. Begitu hangat” erangnya di telingaku dengan suara yang pecah karena kenikmatan. Aku mencengkeram punggungnya dan kuku jariku menekan kulitnya melalui kemeja yang masih setengah terbuka.
Rasanya luar biasa penuh dalam dan terlarang. Tubuhku mulai mengejang dan otot-otot di dalamku berdenyut di sekitar milik papa.
“Pa aku mau” kataku terengah-engah. Papa mempercepat gerakannya dan tangannya meremas payudaraku sambil terus mendorong lebih keras. Klimaks datang bersamaan. Aku menjerit pelan nama papaku saat gelombang kenikmatan menyapu seluruh tubuhku dan papa menyemburkan panasnya jauh di dalamku dengan erangan rendah yang panjang. Tubuhnya menegang hebat di atas tubuhku.
Kami terbaring saling tindih di sofa dengan napas yang masih tersengal-sengal. Papa masih berada di dalamku dan denyutannya yang pelan terasa jelas. Ia mengangkat wajahnya lalu menatapku dengan mata yang penuh campuran kepuasan cinta dan rasa bersalah yang sangat dalam.
“Apa yang baru saja kita lakukan” bisiknya dengan suara yang bergetar. Ia mencium keningku lama sekali lalu pelan-pelan menarik diri dari tubuhku. Cairan hangat langsung mengalir keluar dari antara pahaku.
Papa bangkit lalu mengambil tisu dari meja dan membersihkan kami berdua dengan lembut. Tangannya gemetar. Aku duduk pelan dengan gaunku yang kusut dan basah serta tubuhku masih bergetar sisa kenikmatan. Papa menarikku ke dalam pelukannya di sofa lalu membelai rambutku dengan sayang.
“Ini salah Nat.. Papa seharusnya melindungimu bukan... katanya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya hanya memelukku lebih erat. Aku menyembunyikan wajah di dada telanjangnya dan mendengar detak jantungnya yang masih cepat.
“Aku sama sekali gak menyesal paa. Tapi aku takut. Takut kalau mama sampe tahu tentang hal ini.. bisikku pelan.
Malam itu kami tidur berpelukan di kamar papaku, tubuh telanjang kami saling menempel di bawah selimut. Papa menciumiku berkali-kali dengan lembut sebelum kami tertidur, seolah mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya sekali saja.
Tapi saat pagi menjelang, aku terbangun karena merasakan tangan papa lagi menyentuh pinggangku dari belakang, miliknya yang sudah mengeras kembali menekan bokongku. Papa berbisik di telingaku dengan suara serak karena baru bangun, “Papa nggak bisa berhenti memikirkanmu, Tash...” Dan tanpa banyak kata lagi, ia memasukkanku dari belakang dengan gerakan pelan dan dalam, ronde kedua dimulai di ranjang yang sama dengan mama. Kali ini lebih lambat, lebih intim, seolah kami ingin menikmati setiap detik rahasia ini sebelum mama pulang besok.
Pagi harinya, sinar matahari menyusup lewat celah gorden kamar papa. Aku terbangun dengan tubuh telanjang yang masih menempel erat di dada papa, lengannya melingkar posesif di pinggangku. Miliknya yang sudah setengah tegang kembali menekan paha dalamku. Papa sudah bangun lebih dulu, matanya menatapku dengan campuran kasih sayang dan kegelisahan yang dalam.
“semalam kamu tidur nyenyak?” tanyanya pelan sambil mencium keningku. Aku mengangguk, lalu menggeser tubuhku lebih dekat, sengaja menggosokkan dada telanjangku ke dadanya. Papa mendesah, tangannya turun ke bokongku dan meremas lembut. “Kita harus mandi dan merapikan semuanya sebelum mama pulang siang nanti,” katanya, tapi suaranya tidak meyakinkan. Aku tersenyum kecil, lalu menariknya ke kamar mandi.
Di bawah guyuran air hangat shower, papa menyabuni tubuhku dengan tangan yang lembut tapi penuh nafsu. Jari-jarinya menyentuh setiap inci kulitku, berlama-lama di payudara dan antara pahaku. Aku membalas dengan menyabuni miliknya yang kembali mengeras sepenuhnya. Kami berciuman panas di bawah air, lidah kami saling menari sementara tangan papa mengangkat satu kakiku dan memasukkannya lagi ke dalamku dengan satu dorongan kuat.
Kali ini seksnya cepat dan basah, suara benturan kulit kami bercampur dengan suara air shower. Papa menekanku ke dinding keramik, mendorong dalam-dalam sambil bisik, “Papa sayang kamu, Natasha... terlalu sayang.” Aku mencapai klimaks lebih dulu, tubuhku mengejang hebat di pelukannya, dan papa menyusul tak lama kemudian, menyemburkan lagi di dalamku dengan erangan tertahan.
Setelah mandi, kami membersihkan jejak semalam di sofa dan kamar dengan cepat. Papa memelukku lama di dapur sambil membuat sarapan, seolah tak ingin melepasku. “Ini harus berhenti, Sayang. Kita nggak boleh lagi,” katanya dengan suara berat. Tapi saat aku berjinjit dan menciumnya dalam, papa langsung membalas dengan lapar, tangannya meremas pinggangku. Mama menelepon tengah hari, bilang ia sudah dalam perjalanan pulang. Sepanjang sore, ketegangan terasa di udara.
Setiap kali papa lewat di dekatku, tangannya menyentuh pinggangku atau punggungku sebentar, tatapannya penuh janji rahasia. Malam itu, saat mama sudah tidur lelap di kamar utama setelah perjalanan panjang, papa menyelinap ke kamarku. Ia menutup pintu pelan, lalu naik ke ranjangku. “Cuma sebentar,” bisiknya sebelum menindihku lagi, tangannya menutup mulutku lembut saat ia memasukiku pelan-pelan agar tidak ada suara yang bocor ke kamar sebelah. Hubungan kami semakin berani, semakin sering, dan semakin sulit untuk dihentikan.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas rahasia yang penuh ketegangan manis. Mama kembali sibuk dengan pekerjaannya, sering pulang larut atau bahkan menginap di luar kota lagi. Setiap kali mama tidak di rumah, papa dan aku memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin. Kadang di pagi hari sebelum papa berangkat kerja, ia akan menyelinap ke kamarku, menarik selimutku pelan, lalu memasukkanku dari samping dengan gerakan pelan dan dalam sambil menutup mulutku dengan tangannya agar desahanku tidak terdengar.
Kadang di malam hari, setelah mama tidur, papa akan datang ke kamarku atau aku yang menyelinap ke kamarnya. Seks kami semakin intens — kadang lembut dan penuh ciuman, kadang cepat dan penuh nafsu liar di sofa, di meja dapur, bahkan sekali di garasi saat mobil mama sedang dicuci di luar.
Tapi semakin sering kami melakukannya, semakin sulit menyembunyikan perubahan itu. Aku mulai lebih manja di depan papa saat mama ada di rumah. Sentuhan kecil yang “tidak sengaja” — tanganku yang lama di lengannya, pelukan yang lebih erat dari biasanya, atau tatapan yang terlalu lama. Papa juga berubah; ia lebih sering pulang cepat, lebih sering memandangku dengan mata yang gelap saat mama tidak melihat. Suatu malam, saat kami bertiga makan malam bersama, mama tiba-tiba berkata,
“Kalian berdua akhir-akhir ini kelihatan lebih dekat ya. Senang liatnya.” Aku hampir tersedak, tapi papa langsung menjawab dengan tenang, “Ya, Natasha lagi banyak cerita soal kuliah.” Tapi di bawah meja, kaki papa menyentuh kakiku dan mengusap pelan, membuatku basah hanya dengan sentuhan itu.
Seminggu kemudian, ketegangan semakin meningkat. Mama pergi ke salon pagi-pagi, meninggalkan kami berdua di rumah selama beberapa jam. Begitu pintu depan tertutup, papa langsung menarikku ke dinding ruang tamu. Ia menciumku dengan ganas, tangannya menarik rokku ke atas dan menurunkan celana dalamku dalam satu gerakan cepat. Tanpa banyak foreplay, ia mengangkat satu kakiku dan memasukkanku berdiri, dorongannya kuat dan cepat.
“Aku kangen kamu, Tash... setiap hari aku cuma mikirin ini,” erangnya di telingaku sambil terus mendorong. Aku mencengkeram bahunya, mendesah keras karena kenikmatan yang langsung membara. Klimaks datang cepat bagi kami berdua. Setelah selesai, papa memelukku erat di dinding itu, napasnya masih tersengal.
"Natt.. sepertinya kita harus lebih hati-hati. bisiknya. Tapi aku tahu, kami berdua sudah terlalu ketagihan untuk benar-benar berhenti.
Beberapa hari setelah itu ketegangan di rumah terasa semakin nyata meski belum ada yang terucap. Mama memang sering sibuk tapi ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia pedulikan. Pagi itu aku turun ke dapur dengan kaus longgar dan celana pendek. Rambutku masih acak-acakan karena malam sebelumnya papa datang ke kamarku lagi. Papa sudah duduk di meja makan dan membaca koran sambil minum kopi. Saat aku lewat di belakangnya untuk mengambil susu di kulkas maka tanganku tanpa sengaja menyentuh bahunya lebih lama dari biasanya. Papa menoleh dan matanya melunak sejenak sebelum ia cepat-cepat kembali ke korannya. Mama yang sedang memotong buah di meja sebelah hanya melirik kami sebentar tapi aku merasa tatapannya agak berbeda.
"Natasha.. mama perhatiin kayaknya akhir akhir ini kamu kok makin sering bangun siang. Tanya mama tiba-tiba dengan nada biasa tapi ada nada penasaran di dalamnya.
Aku tersenyum sambil menuang susu ke gelas.
“Capek kuliah maa. Banyak tugas.. jawabku. Papa diam saja tapi di bawah meja lututnya menyentuh lututku pelan seperti kode rahasia bahwa ia mengerti. Sentuhan itu membuatku merinding kecil.
Mama mengangguk tapi matanya sesekali melirik ke arah papa seolah mencoba mencari sesuatu yang tidak beres. Setelah sarapan mama pergi ke kamar untuk bersiap kerja. Begitu pintu kamar utama tertutup maka papa bangkit pelan dari kursinya dan mendekatiku di depan wastafel. Ia berdiri tepat di belakangku dan tangan besarnya memegang pinggangku dari belakang dengan lembut.
"Kamu harus hati-hati sayang.. kayaknya mamamu sudah mulai curiga.. bisiknya di telingaku dengan napasnya yang hangat menyentuh kulit leherku. Aku menyandarkan punggungku ke dadanya sebentar dan merasakan kehangatan tubuhnya.
"Iyaa.. papa juga.. jawabku pelan. Kami hanya berdiri seperti itu beberapa detik sambil saling menikmati kedekatan tanpa kata sebelum papa menarik diri dan kembali ke kursinya saat mendengar langkah mama turun dari tangga.
Siang harinya saat aku sedang belajar di kamar tiba tiba papa mengirim pesan singkat dari ruang kerjanya dikantor.
"Papa kangen sama kamu Nat.. kangen sama pelukanmu.. juga kangen sama desahanmu..
Hanya itu tapi cukup membuat jantungku berdegup lebih cepat. Aku balas dengan emoji hati kecil dan foto diriku yang sedang berbaring di ranjang dengan kaus longgar yang sengaja diturunkan di satu bahu. Papa tidak balas lagi tapi sore harinya ketika mama masih di kantor ia masuk ke kamarku pelan-pelan. Pintu dikunci dari dalam. Papa duduk di tepi ranjangku dan tangannya mengusap rambutku dengan lembut.
“Nat.. kita nggak boleh sering-sering seperti ini.. katanya dengan suara rendah, tapi matanya sudah gelap lagi. Aku duduk dan mendekat, menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Aku cuma pengen dipeluk dan dimanjain sama papaa.. please.. boleh kan paa..
Papa menghela napas panjang, lalu memelukku erat. Tangan besarnya menyusuri punggungku naik-turun di atas kaus tipis, gerakannya masih hati-hati, seolah masih berusaha menahan diri. Kami diam lama dalam pelukan itu, napas kami mulai tidak teratur, dan aku tahu batas itu lagi-lagi mulai menipis perlahan.
Papa memelukku lebih erat, dagunya bersandar lembut di puncak kepalaku. Aku bisa merasakan dadanya naik-turun dengan napas yang mulai lebih dalam, seolah ia sedang berusaha mengendalikan diri. Tangan kanannya yang hangat terus menyusuri punggungku dari atas kaus tipis, gerakannya lambat dan berulang, sesekali berhenti di pinggangku dan menekan pelan seolah ingin menarikku lebih dekat lagi.
"Papa tahu ini nggak benar. bisiknya pelan sekali dan suaranya hampir hilang di rambutku.
"Tapi setiap kali lihat kamu manja kayak gini... Papa langsung susah buat nahan diri.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya menggeser tubuhku sedikit di pangkuannya, membiarkan dada ku menempel lebih rapat ke dadanya. Kulitku terasa panas di bawah kaus, dan aku yakin papa bisa merasakan detak jantungku yang cepat.
Kami diam cukup lama dalam posisi itu. Hanya suara jam dinding di luar kamar dan napas kami yang saling bercampur. Papa akhirnya menggerakkan tangannya naik ke tengkukku, jari-jarinya menyisir rambutku dengan lembut, lalu turun lagi ke bahu. Ia menarik tali kausku pelan-pelan ke bawah, memperlihatkan bahu telanjangku. Bibirnya menyentuh kulit di sana — bukan ciuman penuh, hanya sentuhan ringan bibir yang hangat, hampir seperti hembusan napas.
Aku merinding hebat, tanganku tanpa sadar mencengkeram kausnya di dada. “Pa...” desahku pelan, suaraku bergetar. Papa berhenti sejenak, dahi kami bersentuhan. Matanya tertutup, rahangnya menegang.
“Kita cuma pelukan aja hari ini, ya?” katanya, tapi nada itu terdengar lebih seperti pertanyaan pada dirinya sendiri daripada perintah. Aku mengangguk kecil, meski dalam hati aku tahu kami berdua sudah terlalu jauh untuk berpura-pura hanya pelukan biasa. Tangan papa tetap di bahuku, ibu jarinya mengusap kulit telanjang itu dengan gerakan melingkar yang sangat lambat, sementara udara di kamar terasa semakin berat dan hangat.
Papa terus mengusap bahu telanjangku dengan ibu jarinya. Gerakannya lambat dan berulang seolah setiap sentuhan adalah pertarungan antara akal sehat dan hasrat yang sudah terlalu kuat. Aku merasakan napasnya semakin berat di dekat telingaku. Dada bidangnya naik turun di bawah telapak tanganku yang masih mencengkeram kausnya.
“Kita nggak boleh berbuat kayak gini lagi Nat.. bisiknya sekali lagi tapi suaranya sudah serak hampir pecah. Aku tidak menjawab. Aku hanya mendongak pelan sehingga hidungku menyentuh hidungnya dan bibir kami hanya berjarak beberapa senti. Mata papa gelap penuh konflik yang dalam. Ia menatap bibirku lama sekali lalu mengembuskan napas gemetar sebelum akhirnya menutup jarak itu dengan ciuman yang lembut ragu tapi penuh kerinduan.
Ciuman itu awalnya pelan hanya bibir kami yang saling menyentuh dengan lembut. Tapi lama-kelamaan papa mulai membalas lebih dalam. Lidahnya menyentuh bibirku dan meminta izin lalu aku membuka mulut sedikit sehingga membiarkannya masuk. Ciuman kami perlahan menjadi lebih panas dan lebih basah. Tangan papa turun ke pinggangku lalu meremas pelan di atas kaus dan naik lagi ke dadaku dari luar kain tipis.
Ibu jarinya menemukan puncak payudaraku yang sudah mengeras lalu mengusapnya dengan gerakan melingkar yang sangat lambat. Aku mendesah kecil ke dalam mulutnya dan tubuhku melengkung mencari sentuhannya. Papa menarikku lebih rapat ke pangkuannya sehingga aku bisa merasakan miliknya yang sudah keras menekan di bawahku melalui celana rumahnya.
Tanpa melepaskan ciuman papa perlahan membaringkanku di ranjang. Ia menindihku dengan hati-hati dan tubuh besarnya menutupi tubuhku sepenuhnya. Gaun rumahku sudah naik sampai pinggang. Tangan papa menyusup ke bawah kain lalu menyentuh paha dalamku dengan ujung jari yang gemetar. Ia mengusap celana dalamku yang sudah lembab pelan-pelan sehingga membuatku menggigit bibirnya karena sensasi itu.
“Kamu sudah basah sekali Sayang” bisiknya di bibirku dengan suara yang penuh kekaguman dan penyesalan. Aku hanya bisa mengangguk lemah dan pingguku tanpa sadar bergerak mengikuti gerakan jarinya. Papa menarik celana dalamku turun perlahan lalu membuka celananya sendiri. Miliknya yang tegang dan panas langsung menyentuh bagian intimku yang licin. Ia menggosokkan ujungnya di sana beberapa kali dengan gerakan pelan sehingga membuatku mendesah frustrasi. Akhirnya dengan napas yang tertahan papa mendorong masuk perlahan senti demi senti. Ia meregangkanku dengan penuh kehati-hatian hingga memenuhiku sepenuhnya.
Kami diam sejenak dengan dahi kami saling menempel dan napas kami bercampur. Papa menatapku dalam-dalam dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Papa mencintaimu Natasha” bisiknya sebelum mulai bergerak. Gerakannya sangat lambat dan dalam. Setiap dorongan penuh perasaan seolah ia ingin menikmati setiap detik persatuan terlarang ini. Aku melingkarkan kaki di pinggangnya dan tanganku memeluk lehernya erat. Desahan kami saling bercampur pelan di kamar yang sunyi. Tubuh kami bergerak dalam irama yang intim dan penuh emosi. Kali ini bukan sekadar nafsu karena ada rasa sayang rasa bersalah dan ketagihan yang sudah terlalu dalam untuk dihentikan.
Papa bergerak sangat pelan di dalamku. Setiap dorongan dalam dan penuh perasaan seolah ia ingin merasakan setiap inci persatuan kami. Aku melingkarkan kakiku lebih erat di pinggangnya dan merasakan bagaimana miliknya yang tebal serta panas memenuhiku sepenuhnya sehingga meregangkan dindingku dengan lembut tapi pasti.
Setiap kali ia mundur perlahan hingga hampir keluar lalu mendorong kembali masuk hingga pangkal maka aku merasakan gesekan yang membuat seluruh tubuhku bergetar. Desahanku keluar pelan dan panjang bercampur dengan erangan rendah papa di telingaku.
"Tubuhmu begitu hangat Nat.. Begitu pas untuk Papaa bisiknya serak dengan napasnya yang hangat menyapu leherku. Kami bergerak seperti itu cukup lama dengan irama lambat yang penuh emosi dan tangan kami saling genggam erat di samping kepalaku.
Setelah beberapa menit papa menarik diri dengan lembut sehingga membuatku mendesah kehilangan. Ia bangkit lalu menarikku berdiri di depannya.
"Mamaamu paling suka main disini.. Katanya pelan sambil membawaku ke meja rias di sudut kamar. Ia memposisikan aku berdiri di depan meja dengan tubuhku menghadap cermin besar. Papa berdiri di belakangku dan tangan besarnya memegang pinggangku erat. Melalui cermin aku bisa melihat wajah kami berdua yaitu pipiku yang memerah dan matanya yang gelap penuh hasrat. Ia menarik kausku ke atas hingga dada telanjangku terpapar lalu meremas payudaraku pelan dari belakang sambil mencium leherku. Miliknya yang masih basah oleh cairanku menggesek di antara bokongku.
Papa menggeser kakiku sedikit lebih lebar lalu perlahan memasuki aku dari belakang sambil kami sama-sama menatap pantulan di cermin. Gerakannya mulai lambat lagi yaitu keluar masuk dengan irama yang terkontrol dan matanya tak lepas dari mataku di kaca.
“Lihaaat dicermin Nat.. Lihat bagaimana anak gadis dientot sama papaaanya sendiri.. bisiknya di telingaku dengan suara yang dalam dan serak. Aku melihat sendiri bagaimana payudaraku bergoyang setiap kali ia mendorong dan wajah papa yang tegang menahan kenikmatan.
"Kita pindah aja Nat.. mamaamu paling suka maen disini..
Papa kemudian duduk di bangku depan meja rias lalu menarikku ke pangkuannya hingga menghadapnya. Aku straddling di atasnya dengan lututku berada di kedua sisi pinggulnya. Ia memegang pinggangku dan membantuku turun perlahan sehingga memasukkannya kembali ke dalamku dengan posisi duduk ini. Di posisi ini aku bisa merasakan miliknya lebih dalam dan menekan titik sensitif di dalamku setiap kali aku naik turun pelan.
Papa memeluk pinggangku erat. Bibirnya menghisap puncak payudaraku bergantian sambil aku bergerak dengan irama yang lambat dan bergoyang. Tangan kami saling memegang dan mata kami bertemu dekat sekali.
"Kamu bener bener keliatan sudah dewasa Nat kalau begini.. Gumamnya di antara desahan. Gerakan kami tetap pelan penuh sentuhan dan ciuman seolah waktu berhenti hanya untuk kami berdua.
Akhirnya papa mengangkatku lagi lalu membawaku ke ranjang. Ia memposisikan aku menelungkup di pinggir ranjang dengan perutku menempel di kasur dan bokongku terangkat sedikit di tepi. Papa berdiri di belakangku. Tangannya meremas bokongku lembut sebelum ia memasuki aku lagi dari belakang dengan satu dorongan panjang dan dalam. Posisi ini membuatnya terasa lebih dalam lagi dan setiap dorongan menyentuh titik yang membuat kakiku lemas.
Papa bergerak dengan irama yang masih terkontrol. Tangan kirinya memegang pinggangku sementara tangan kanannya menyusuri punggungku naik ke rambutku dan menariknya pelan. Melalui cermin di depan ranjang aku masih bisa melihat pantulan samar kami yaitu tubuh papa yang kuat di belakangku dan wajahku yang basah oleh keringat serta kenikmatan. Gerakannya semakin dalam tapi tetap perlahan seolah ia ingin memperpanjang momen ini selamanya. Desahan kami semakin keras dan tubuh kami berkilau oleh keringat sementara klimaks mulai mendekat dengan gelombang yang lambat tapi tak terelakkan.
Papa terus bergerak di belakangku dengan irama yang sangat lambat dan dalam. Setiap kali ia mendorong hingga pangkal aku merasakan kontolnya yang tebal menyentuh titik paling sensitif di dalamku sehingga gelombang kenikmatan yang hangat menyebar ke seluruh tubuh. Pantatku terangkat sedikit lebih tinggi di pinggir ranjang dan posisi menelungkup ini membuat setiap dorongan terasa lebih intens.
Tangan papa memegang pinggangku dengan mantap. Jari-jarinya sesekali meremas lembut kulitku sementara tangan satunya menyusuri punggungku naik turun dengan sentuhan yang penuh kasih sayang.
“Pelan saja Sayang. Papa mau nikmati kamu lama-lama” bisiknya serak di belakangku. Suaranya penuh getaran. Aku hanya bisa mendesah panjang dengan wajahku tertelungkup di kasur dan tanganku mencengkeram seprai erat-erat.
Gerakannya tetap terkendali. Ia keluar hampir sepenuhnya lalu masuk kembali dengan dorongan yang panjang dan mantap. Setiap gesekan membuat dindingku berdenyut di sekitar miliknya dan cairanku semakin melimpah sehingga setiap gerakan terdengar basah dan intim. Papa mencondongkan tubuhnya lebih ke depan sehingga dada bidangnya menempel di punggungku. Bibirnya mengecup bahu dan tengkukku dengan ciuman-ciuman kecil yang lembab.
“Kamu milik Papa sekarang. Hanya Papa” gumamnya di telingaku dengan suara yang semakin rendah. Aku mengangguk lemah dan pingguku tanpa sadar bergerak mundur menyambut setiap dorongannya. Kenikmatan mulai menumpuk pelan-pelan di perutku seperti ombak yang semakin tinggi tapi belum pecah.
Papa merasakan perubahan di tubuhku. Ia mempertahankan irama yang sama yaitu lambat dalam dan mantap tapi tangannya turun ke depan sehingga jari-jarinya menemukan titik sensitifku di atas dan mulai mengusapnya dengan gerakan melingkar yang sangat pelan. Sensasi ganda itu membuat kakiku gemetar hebat.
“Paa.. aku aku maauu.. desahku terputus-putus dengan suaraku tertahan di kasur. Papa mencium leherku lagi dan gerakannya di dalamku tetap stabil.
“Belum Sayang. Tahan dulu. Papa mau kamu nikmati sampai benar-benar puas.. bisiknya lembut tapi tegas. Jari dan dorongannya bekerja bersamaan sehingga membangun kenikmatan itu semakin tinggi semakin dekat tapi papa sengaja menjaganya di ambang tanpa membiarkanku jatuh.
Akhirnya setelah berapa lama yang terasa seperti selamanya maka gelombang itu tak bisa ditahan lagi. Tubuhku menegang hebat dan otot-otot di kemaluanku berdenyut kuat di sekitar milik papa. Klimaks datang perlahan tapi dahsyat yaitu mulai dari perut bawahku yang bergetar lalu menyebar ke seluruh tubuh seperti listrik yang hangat. Aku menjerit pelan sambil menyebut paaa.. berulang-ulang ke dalam kasur. Tubuhku gemetar tak terkendali dan lendir kawinku melimpah di sekitar miliknya.
Papa terus bergerak pelan selama klimaks-ku sehingga memperpanjang gelombang itu hingga aku benar-benar lemas dan tersengal-sengal. Baru setelah tubuhku mulai rileks maka papaa.. mempercepat sedikit dorongannya dan erangannya semakin dalam. Dengan beberapa dorongan panjang terakhir ia mencapai puncaknya sendiri yaitu menyemburkan panasnya jauh di dalamku dengan erangan rendah yang panjang. Tubuhnya menegang kuat di belakangku sambil memeluk pinggangku erat-erat.
Kami tetap dalam posisi itu beberapa saat dengan papa masih di dalamku dan napas kami sama-sama berat serta tidak teratur. Ia mencium punggungku lembut lalu perlahan menarik diri. Cairan hangat kami yang bercampur langsung mengalir pelan dari antara pahaku.
Papa membalik tubuhku dengan lembut lalu naik ke ranjang dan memelukku erat di dada bidangnya.
"Papaa.. sayang kamu Natasha. Terlalu sayang.. bisiknya dengan suara pecah sambil tangannya membelai rambutku yang basah oleh keringat. Aku menyembunyikan wajah di lekukan lehernya. Tubuhku masih bergetar sisa kenikmatan dan hati penuh dengan campuran bahagia serta rasa bersalah yang semakin dalam.




Komentar
Posting Komentar