Langsung ke konten utama

Papaku Pelangganku

By : Analconda13

Malam sudah larut sekali ketika aku akhirnya tiba di kamar hotel bintang tiga itu. Aku baru saja menghabiskan seharian penuh menghadapi spreadsheet dan meeting yang membosankan di kantor impor barang dari luar negeri di kawasan Sudirman. Tubuhku yang ramping dengan kulit putih mulus khas gadis Chindo terasa sangat lelah. Namun adrenalin mulai mengalir lagi begitu aku melepas mantel tipisku di dalam lift. Gaun hitam pendek ketat yang kukenakan langsung menonjolkan lekuk payudaraku yang sedang tapi padat serta pinggulku yang lembut.

Malam ini Little Lotus kembali bekerja. Itu adalah nama samaranku yang aku gunakan di aplikasi eksklusif untuk klien VIP. Klien bernama Mr. Dragon ini menawarkan bayaran dua kali lipat dari biasanya untuk full service semalaman. Syaratnya lampu kamar harus tetap redup dan dia boleh memakai masker tipis. Aku tersenyum kecil di depan cermin lift sambil mengingatkan diri sendiri bahwa ini hanyalah transaksi biasa. Tak ada yang perlu aku takutkan.

Semuanya berawal enam bulan lalu. Saat itu aku yang bernama Livia dan berusia 22 tahun. Aku baru saja lulus akuntansi dari salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Awalnya aku hanya ingin hidup layak. Gaji sebagai admin keuangan di perusahaan impor barang memang cukup untuk makan sehari-hari transportasi dan kos kecil di Tebet. Namun keinginanku untuk tampil cantik semakin besar. Aku ingin membeli skincare mahal tas branded dan sesekali pergi liburan. Hal itu membuatku terjebak perlahan.

Awalnya aku hanya meminjam dari pinjaman online yang mudah cair. Pertama aku pinjam Rp10 juta. Setelah itu aku pinjam lagi Rp25 juta karena kebutuhan semakin banyak. Hanya dalam waktu empat bulan total utangku membengkak menjadi hampir Rp85 juta. Bunga harian yang sangat tinggi membuat cicilan terus membengkak setiap minggu. Situasi semakin buruk ketika debt collector mulai menghubungi nomor keluargaku. Mereka mengancam akan terus menagih dan menyebarkan masalah ini. Aku langsung panik karena tak mau orang tuaku terutama ayahku yang sangat strict dan konservatif tahu tentang utang ini.

Aku merasa terpojok dan tak tahu harus berbuat apa lagi.

Suatu malam setelah menangis lama di kamar kos aku akhirnya membuka aplikasi kencan eksklusif yang sering dibicarakan teman kantorku secara diam-diam. Aku membuat akun baru dengan nama Little Lotus. Foto-fotoku diedit dengan sangat cermat. Wajahku ditutupi masker sehingga hanya memperlihatkan bibir merah tipis leher jenjang dan lekuk tubuh dari sudut yang menggoda. Malam pertama aku mencoba live streaming dan hasilnya langsung jutaan rupiah. Dari situ aku mulai menerima tawaran private session dan full booking.

Tubuhku yang putih mulus payudara montok alami dengan puting kecil yang sensitif serta bokong yang kencang membuat banyak klien rela membayar mahal. Dalam dua bulan utang pinjaman onlinaku sudah lunas separuh. Malam ini adalah salah satu booking terbesar yaitu Mr. Dragon. Dia adalah klien misterius yang selalu membayar tepat waktu dan tidak banyak bicara.

Aku mengetuk pintu kamar suite dengan jantung berdegup sangat kencang. Pintu terbuka pelan. Ruangan hanya diterangi lampu redup kuning keemasan. Seorang pria tinggi berpakaian kemeja hitam berdiri membelakangiku sambil memegang gelas whiskey. Tubuhnya terlihat tegap untuk ukuran pria paruh baya.

"Masuk.. suaranya dalam dan berat khas pria Indonesia keturunan Tionghoa yang sudah terbiasa memerintah.

Aku melangkah masuk lalu menutup pintu di belakangku. Aku melepas mantelku perlahan sehingga memperlihatkan gaun hitam pendek yang hampir tidak menutupi paha mulusku. Masker tipis masih menutupi sebagian wajahku sementara wig pendek hitam bergoyang lembut.

"Bayaran sudah masuk. kata Livia dengan suara lembut yang sudah dilatihnya "Kita bisa mulai kapan saja om.

Pria itu berbalik perlahan. Cahaya redup menyapu wajahnya. Aku langsung membeku sesaat. Bau parfum woody yang sangat familiar garis rahang tegas dan sepasang mata tajam yang sering melihatku dengan tatapan strict sejak kecil semuanya terlalu familiar.

Dia adalah Hendra Tan. Ayahku sendiri.

Hatiku seperti dihantam palu. Kakiku mendadak lemas sekali. Mr. Dragon ternyata adalah ayahku sendiri yang berusia 48 tahun. Dia adalah pemilik toko elektronik dikawasan pecinan yang selama ini selalu tampak dingin dan sangat disiplin di rumah. Aku mundur selangkah hingga punggungku menyentuh pintu.

"Papa...? suara aku hampir hilang.

Hendra menatapku tanpa ekspresi terkejut yang berlebihan. Seolah dia sudah menduga sebelumnya. Matanya turun perlahan dan menelusuri tubuhku yang hanya dibalut gaun tipis itu. Dia melihat payudaraku yang naik turun karena napas tersengal paha putihku yang terbuka lebar serta lekuk pinggulku yang selama ini dia coba abaikan.

"Kamu pikir papa nggak tahu ? suara papa rendah hampir berbisik "Dari bulan lalu Ayah sudah curiga. Akun Little Lotus foto tubuh itu tahi lalat kecil di bawah dada kiri kamu. Hanya papa dan mama kamu yang tahu itu.

Aku merasa dunia berputar. Air mata aku menggenang di balik masker. "Aku terpaksa pah. Utang pinjaman online aku nggak mau Mama sama papa tahu.

Papa melangkah mendekat. Tangannya yang besar menyentuh lengan aku dengan lembut tapi ada getaran yang berbeda. Bukan sentuhan ayah biasa. Jari-jarinya perlahan naik lalu menyelipkan masker tipis itu ke bawah dagu aku sehingga memperlihatkan wajah cantikku yang memerah karena malu dan ketakutan.

"Kamu sudah jual tubuh ke banyak orang. bisik papa di telinga aku napasnya panas "Malam ini kamu jual ke papa.

Aku menggigil. Aku bisa mencium aroma whiskey bercampur parfum ayahku. Tubuhku bereaksi aneh. Puting susuku mengeras di balik gaun tipis dan ada kehangatan yang mulai mengalir di antara pahaku meski pikiranku berteriak bahwa ini salah.

Papa menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Tangan kanannya merayap ke punggungku lalu menurunkan resleting gaun hitam itu perlahan. Gaun itu meluncur jatuh ke lantai dan memperlihatkan bra hitam tipis serta celana dalam senada yang hampir transparan.

"Papaa... kita nggak boleh... suara aku bergetar tapi tanganku tak mendorong ayahku menjauh.

"Sudah terlambat Liv.. gumam papa sambil mencium leherku yang jenjang. Bibirnya mengecup kulit putih mulus itu dengan lapar. "Ayah sudah bayar mahal malam ini. Dan Ayah ingin full service seperti yang kamu tawarkan di aplikasi."

Tangan papa meremas payudaraku dari luar bra. Ibu jarinya mengusap puting susuku yang sudah keras. Aku mengeluarkan erangan kecil tanpa sadar. Tubuhku yang sudah terbiasa melayani klien ternyata bereaksi lebih kuat saat disentuh oleh ayahku sendiri.

Papa mendorongku pelan ke ranjang king size. Dia melepas kemejanya sendiri sehingga memperlihatkan dada bidang yang masih terawat meski sudah berusia 48 tahun. Lalu dia naik ke atas tubuhku dan mencium bibirku dengan dalam serta posesif. Lidahnya menyelusup masuk dan menari dengan lidahku yang manis.

Sambil berciuman tangan papa menurunkan bra aku lalu melepaskan kedua payudaraku yang montok dan putih. Dia menunduk dan menyedot puting kiri aku dengan lembut tapi rakus. Lidahnya berputar di sekitar areola kecil itu. Aku menggigit bibirku sendiri dan pinggulku tanpa sadar terangkat sedikit.

"Paa... ahh... desah aku pelan.

Papa tersenyum tipis di antara buah dadaku. "Kamu basah ya Liv? Ayah bisa merasakan dari celana dalam kamu."

Jari papa menyusup ke bawah lalu mengusap kain tipis yang sudah lembab di antara selangkangan aku. Dia menarik celana dalam itu ke samping. Jari tengahnya langsung menemukan klitoris aku yang bengkak dan membelainya dengan gerakan melingkar lambat.

Aku menggeliat hebat. Kedua tanganku mencengkeram seprai dengan kuat. Rasa malu bercampur dengan kenikmatan yang tak pernah aku rasakan dengan klien mana pun. Ini ayahku sendiri. Pria yang membesarkanku sejak kecil. Dan sekarang dia sedang menyentuhku dengan cara yang paling terlarang.

Papa melepas celana panjangnya. Batangnya sudah keras sepenuhnya. Batang itu tebal berurat dan ujungnya mengkilap oleh precum. Aku menatapnya dengan mata setengah terpejam sementara napasku tersengal.

"Masukin paahh.. bisik aku tanpa sadar suara aku pecah karena nafsu yang sudah mengalahkan akal sehatku.

Papa menempatkan kepala batangnya di pintu masuk liang kewanitaanku yang sudah sangat basah. Dia mendorong perlahan dan merasakan dinding vagina aku yang sempit serta hangat membungkus kejantannya rapat. Inch demi inch masuk semakin dalam hingga ke pangkal.

"Ahh... fuck... ketat sekali kamu Liiv..." erang papa di telinga aku.

Dia mulai bergerak lambat dan menikmati setiap desahan serta getaran tubuhku. Aku memeluk punggung ayahku dengan erat. Kuku-kukuku meninggalkan jejak merah di kulitnya. Setiap dorongan semakin dalam dan semakin cepat hingga suara tabrakan kulit memenuhi kamar hotel yang mewah itu.

Malam itu aku bukan lagi hanya anak perempuan papa. Aku juga menjadi Little Lotus pelacur online kesayangan ayahku sendiri.

Keesokan paginya sinar matahari pagi menyusup lembut melalui tirai kamar suite hotel. Aku terbangun dengan tubuh telanjang yang masih lengket oleh keringat dan sisa cairan percintaan semalam. Di sampingku Hendra Tan masih tidur pulas. Dada bidangnya naik turun pelan. Batangnya yang semalam telah menyetubuhiku berkali-kali kini tergeletak setengah tegang di antara paha kokohnya. Aku menatap wajah ayahku dengan campuran perasaan yang rumit. Ada malu takut bersalah dan anehnya ada sedikit kepuasan yang tak bisa aku pungkiri.

Aku bangun pelan lalu mengenakan gaun hitamku kembali tanpa bra dan celana dalam. Setelah itu aku meninggalkan hotel lebih dulu sesuai kesepakatan kami. Sepanjang perjalanan pulang menggunakan taksi pikiranku kacau sekali. Aku bertanya-tanya bagaimana caranya aku bisa bertemu ayahku di rumah nanti dengan wajah biasa. Bagaimana aku bisa pura-pura bahwa semalam ayahku tidak memompa tubuhku hingga aku orgasme berkali-kali sambil memanggil nama Ayah dengan suara mesum.

Rumah sederhana dua lantai di kawasan Pluit terlihat tenang saat aku tiba sekitar pukul sepuluh pagi. Ibuku sedang ke salon seperti biasa setiap Sabtu. Hanya ada pembantu yang sedang membersihkan dapur. Aku langsung naik ke kamarku di lantai dua lalu mandi lama sekali seolah ingin membersihkan dosa semalam dari pori-poriku. Tapi setiap kali air hangat menyentuh puting susuku yang masih sensitif atau saat aku membersihkan area intimku yang masih agak bengkak bayangan batang tebal ayahku yang masuk keluar dari vaginaku kembali muncul. Aku menggigit bibirku sendiri. Tanganku tanpa sadar menyentuh klitorisku sebentar sebelum akhirnya berhenti dengan rasa bersalah yang besar.

Sore harinya papa pulang lebih awal dari toko. Suasana makan malam keluarga terasa normal di permukaan. Ibu aku yang bernama Anita sibuk bercerita tentang teman-temannya di grup arisan. Papa duduk di kepala meja seperti biasa dan makan dengan tenang sambil sesekali melirik aku yang duduk di seberangnya. Aku berusaha fokus pada nasi goreng dan capcay di piringku. Tapi setiap kali papa berbicara dengan suara dalam yang sama seperti semalam saat dia berbisik "Lebih dalam Liv.. tubuhku langsung bereaksi. Puting susuku mengeras di balik bra tipis dan celana dalamku mulai terasa lembab lagi.

Setelah makan malam selesai ibu pamit ke kamar utama karena merasa pusing dan ingin istirahat lebih awal. Pembantu sudah pulang. Rumah kini hanya ditinggal aku dan ayahku.

Aku sedang mencuci piring di dapur ketika Hendra mendekat dari belakang. Tubuhnya yang tinggi menempel pelan ke punggungku. Tangan besarnya merangkul pinggangku dari belakang dan napasnya hangat menyapu telingaku.

"Kenapa kamu kabur tadi pagi ? bisik papa pelan suaranya rendah dan penuh nafsu "papa belum puas main sama kamu..

Aku menggigil. Piring di tanganku hampir jatuh. "Paah... Mama ada di atas... kita nggak boleh di sini.

Papa tak menjawab dengan kata-kata. Tangan kanannya langsung menyusup ke bawah rok kantorku yang masih aku pakai sejak pulang kerja tadi. Jari-jarinya dengan lihai menarik celana dalamku ke samping lalu langsung menemukan celah yang sudah basah.

"Masih basah" gumam papa di telinga aku sambil mengusap klitorisku dengan gerakan melingkar lambat "Setelah semalam dipakai Ayah berkali-kali kamu masih langsung basah begini hanya karena Ayah sentuh sedikit.

Aku menahan erangan dengan menggigit bibir bawahku keras. Kedua tanganku mencengkeram pinggir wastafel. "Ayah... please... nanti ketahuan..."

Papa malah semakin berani. Dia menurunkan resleting rok aku hingga rok itu melorot ke lantai dapur. Kini hanya ada kemeja putih kantor aku yang masih menutupi tubuh bagian atasku. Hendra membuka kancing kemeja itu satu per satu dari belakang sambil terus menggosok vagina aku yang semakin banjir.

Ketika kemeja sudah terbuka lebar papa menarik bra aku ke bawah hingga kedua payudara putih mulusku terbebas. Tangan kirinya meremas payudara kananku dengan kuat dan memilin puting susuku yang sudah keras seperti batu.

"Papa mau kamu di sini" kata papa tegas suaranya hampir seperti perintah kantor "Bungkuk.

Aku ragu sesaat tapi nafsu yang sudah terbangun sejak pagi membuatku menurut. Aku membungkuk di atas wastafel dapur sehingga bokongku yang bulat dan putih terangkat ke belakang. Posisi ini memperlihatkan vagina aku yang sudah mengkilap oleh cairan hasratku sendiri.

Hendra melepas celana panjangnya dengan cepat. Batangnya sudah berdiri tegak tebal dan berurat sementara ujungnya mengkilap. Dia mengusapkan kepala batangnya di celah aku beberapa kali sehingga membuatku menggeliat gelisah.

"Pelan Yah..." desah aku pelan.

Tapi papa tak mendengar. Dengan satu dorongan kuat dia memasukkan seluruh batangnya hingga pangkal ke dalam vagina aku yang sempit. Aku hampir berteriak tapi segera menutup mulutku dengan tangan. Rasa penuh dan tekanan di dalam perutku membuat mataku berkunang-kunang.

Papa mulai bergerak dengan ritme stabil tapi kuat. Setiap dorongan membuat bokongku bergoyang dan suara plok plok plok pelan terdengar di dapur yang sepi. Tangan kanannya meraih rambutku dari belakang lalu menariknya sedikit ke belakang sehingga punggungku melengkung. 

"Kamu milik papa sekarang" bisik papa sambil terus memompa semakin cepat "Little Lotus adalah pelacur Ayah. Ngerti?"

Aku hanya bisa mengangguk sambil mendesah tertahan. "Iya... ahh... iya Ayah...

Papa mempercepat gerakannya. Satu tangannya meremas payudaraku dan tangan satunya lagi menggosok klitorisku dengan cepat. Sensasi ganda itu membuatku mencapai orgasme lebih cepat dari yang aku duga. Tubuhku mengejang hebat dan vagina aku berdenyut kuat menggenggam batang ayahku.

Papa tak berhenti. Dia terus menyetubuhiku dari belakang dengan liar hingga akhirnya dengan erangan rendah yang tertahan dia menyemburkan air maninya yang panas dan banyak ke dalam rahim aku.

Kami berdua terengah-engah. Papa masih menempel di belakangku dan batangnya yang masih setengah keras berada di dalam tubuhku. Cairan putih kental mulai menetes pelan dari celah vagina aku ke lantai dapur. Papa mencium tengkukku lembut lalu berbisik.

"Besok malam Ayah booking lagi Little Lotus. Kali ini di kamar kamu. Jangan pakai baju apa-apa saat papa masuk.

Aku hanya bisa mengangguk lemas karena tubuhku masih gemetar karena sisa orgasme dan rasa terlarang yang semakin dalam.

Malam berikutnya suasana rumah di Pluit terasa lebih tegang bagiku. Sepanjang hari di kantor pikiranku tak bisa lepas dari bisikan ayahku semalam di dapur. Ibuku Anita malam ini pergi ke acara arisan tahunan teman-temannya di luar kota dan baru akan pulang besok siang. Rumah besar itu praktis hanya dihuni aku dan papa. Setelah makan malam yang canggung aku naik ke kamarku lebih awal. Jantungku berdegup kencang saat aku melepas semua pakaianku satu per satu di depan cermin. Kulit putih mulusku yang khas gadis Chindo kini sepenuhnya telanjang. Payudaraku yang montok sedang naik turun karena napasku yang gelisah. Puting kecilku sudah mengeras meski belum disentuh. Aku duduk di tepi ranjang king sizeku dengan tangan di pangkuan dan menunggu dengan perasaan campur aduk yaitu malu takut dan nafsu yang semakin sulit dikendalikan.

Pukul setengah sebelas malam pintu kamarku terbuka pelan tanpa ketukan. Papa masuk dengan langkah tenang tapi penuh kuasa. Dia masih memakai kemeja putih kantor yang lengan digulung celana formal hitam dan sabuk kulit tebal di pinggangnya. Matanya langsung mengunci tubuh telanjangku yang duduk manis di ranjang. Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Bagus" katanya rendah "Little Lotus sudah siap melayani papa..

Papa menutup pintu dan menguncinya. Dia meletakkan sebuah tas hitam kecil di meja belajarku. Dari dalam tas itu dia mengeluarkan beberapa benda yaitu tali sutra hitam borgol bulu penutup mata dan sebuah vibrator kecil berbentuk telur dengan remote control. Aku menelan ludah melihatnya. Semalam masih biasa tapi malam ini ayahku jelas datang dengan persiapan.

Papa mendekat dan berdiri di depanku. Tangan besarnya mengangkat daguku agar aku menatap matanya langsung.

"Malam ini aku bukan ayahmu" katanya tegas suaranya dingin dan dominan "Ayah adalah Mr. Dragon klien yang sudah bayar mahal untuk memakai tubuh lonte cina ini sesuka hati. Kamu mengerti ?!!

Aku mengangguk pelan dan suaraku bergetar. "Iya tuaann..

Papa tersenyum puas. Dia mengambil penutup mata hitam lalu memasangkannya di mataku sehingga dunia aku menjadi gelap total. Kemudian dia menyuruhku berdiri memutar tubuhku dan menyatukan kedua tanganku ke belakang. Tali sutra hitam melilit pergelangan tanganku dengan kuat sehingga payudaraku terdorong maju dan bokongku terangkat sedikit.

"Berlutut di ranjang" perintah papa.

Aku menurut dengan susah payah karena tanganku terikat. Aku berlutut di atas kasur dengan posisi doggy style yaitu dada menempel ke ranjang bokong terangkat tinggi dan wajahku tertelungkup di bantal. Posisi ini membuat vagina dan lubang anusku sepenuhnya terbuka serta rentan.

Papa melepas sabuk kulitnya dengan suara clack yang keras. Dia melipat sabuk itu dua kali lalu mengusapkannya pelan di permukaan bokong putih mulusku.

"Malam ini papa mau dengar kamu minta maaf karena sudah jadi pelacur di belakang Ayah" katanya sambil mengayunkan sabuk ringan dulu sebagai pemanasan "Dan kamu harus hitung setiap cambukan.

Plak!

Sabuk kulit mendarat di bokong kananku dengan suara nyaring. Rasa panas dan perih langsung menyebar.

"Satu...!" erang aku tubuhku tersentak.

Plak! Plak!

Dua cambukan berturut-turut mendarat di bokong kiriku. Kulit putihku mulai memerah dengan bekas sabuk yang jelas.

"Dua... tiga... ahh!

Papa terus mencambuk bokong dan paha belakangku dengan ritme yang terkontrol tapi semakin kuat. Setiap kali sabuk menyentuh kulit aku menjerit kecil dan menghitung dengan suara gemetar. Air mataku membasahi penutup mata. Tapi di balik rasa sakit cairan bening mulai menetes pelan dari celah vaginaku yang sudah membengkak.

Setelah sepuluh cambukan papa melempar sabuk ke samping. Dia meremas bokongku yang panas dan merah dengan kasar. Jari-jarinya meninggalkan bekas putih di kulit yang memerah.

"Kamu basah sekali pelacur papa. ejeknya sambil memasukkan dua jari sekaligus ke dalam vagina aku yang licin "kamu suka dipukul kayak gini ya ?

Aku hanya bisa mendesah dan mengangguk lemah. "Iya tuan... aku suka...

Papa mengeluarkan vibrator telur itu lalu memasukkannya pelan ke dalam vagina aku hingga masuk sepenuhnya. Dia menyalakan remote dengan level rendah. Getaran kuat langsung membuatku menggeliat dan mendesah panjang.

"Aaahh...!

Tanpa memberi waktu istirahat papa membuka celananya. Batangnya sudah sangat keras dan urat-uratnya menonjol. Dia menempatkan kepala batangnya di lubang anus aku yang kecil dan masih perawan.

"Malam ini papa mau pakai lubang belakangmu juga" katanya dingin.

Aku langsung tegang. "Yah... Sir... itu... belum pernah...

"Tenang" potong papa sambil menuang minyak pelumas yang dia bawa ke celah anusku "Kamu pelacur profesional sekarang. Harus bisa layani semua lubang.

Dia mendorong perlahan. Kepala batangnya yang besar memaksa masuk ke lubang sempit itu. Aku menjerit tertahan dan tubuhku bergetar hebat karena rasa penuh dan perih yang bercampur getaran vibrator di vaginaku. Inch demi inch batang tebal papa masuk semakin dalam ke dalam duburku hingga pangkal.

Begitu sudah tertanam sepenuhnya papa mulai bergerak keluar-masuk dengan ritme kasar. Satu tangannya menarik tali yang mengikat pergelangan tanganku seperti kendali kuda dan tangan satunya lagi memegang pinggulku lalu menariknya ke belakang setiap kali dia mendorong maju. Suara tabrakan kulit keras memenuhi kamarku.

Plok! Plok! Plok!

"Terima Little Lotus!" geram papa sambil mempercepat pompaannya di lubang belakang "Ini hukuman sekaligus bayaran utangmu.

Aku sudah tak bisa berpikir lagi. Air liurku menetes ke bantal dan desahanku berubah menjadi jeritan kecil setiap kali Hendra menghantam dalam-dalam. Getaran vibrator di vaginaku dan batang tebal yang memompa anusku menciptakan sensasi ganda yang membuatku orgasme berkali-kali. Tubuhku kejang hebat dan cairan squirt-ku menyembur keluar dari vagina lalu membasahi seprai.

Papa tak berhenti. Dia terus menyetubuhiku dengan kasar hingga akhirnya dengan raungan rendah dia menyemburkan sperma panasnya yang banyak dan kental jauh ke dalam lubang dubur aku.

Setelah selesai papa mencabut batangnya perlahan. Sperma putih kental yang hangat langsung menetes keluar dari anusku yang sudah terbuka lebar. Dia melepas penutup mata dan tali pengikat tanganku lalu memeluk tubuhku yang lemas dari belakang.

"Besok malam papa mau lagi" bisiknya di telinga aku yang masih terengah-engah "Kali ini papa ajak kamu ke apartemen pribadi milik teman papa. Di sana tidak ada batas. Aku hanya bisa mengangguk lemah karena tubuhku penuh bekas cambuk sperma dan getaran orgasme yang belum reda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Pengantin Brutal 5

Sheryl Budak Napsu Gurunya

Nasib Fenny Yang Malang

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Draft Amarah Para Buruh 23

Aplikasi XBang Oriental 2

Ai Ling Budak Napsu Pribumi

Rahasia Seorang Istri

Majikanku Kena Rampok

Aku Jadi Objek Fantasi Liar Suamiku