By : Analconda13
Malam itu aku duduk sendirian di tepi tempat tidur king-size yang berbalut seprai sutra putih halus. Rambut hitam panjangku yang masih lembab menjuntai di punggung telanjangku. Kulitku yang putih mulus dan halus seperti porselen terasa dingin karena AC kamar menyala pelan. Aku baru saja selesai mandi malam jadi tubuh rampingku yang terawat terpapar udara sejuk. Payudara kencang berukuran sedang dengan puncak merah muda yang sensitif terasa dingin. Pinggangku ramping dan bokongku bulat serta lembut. Rumah mewah ini di kelapa gading terasa terlalu besar dan hampa malam ini seperti biasanya. Papa dan mamaku lagi-lagi sedang di Singapura untuk urusan bisnis.
Papaku Hendra Huang adalah pengusaha properti yang selalu sibuk bolak-balik Jakarta-Singapura-Shanghai jadi ia jarang sekali pulang lebih dari seminggu. mamaku Nyonya Huang lebih suka menghabiskan waktu di acara sosialita dan berbelanja di Hong Kong. Sebagai anak tunggal aku dimanja dengan segala hal materiil seperti mobil MINI Cooper putih tas-tas mahal dan liburan ke Eropa tapi rumah seluas hampir satu hektar ini sering terasa seperti istana kosong.
Keseharianku hampir selalu sama. Pagi hari aku sarapan sendirian di meja makan marmer yang panjang dan ditemani oleh Mbak Siti serta Mbak Lina dua pembantu perempuan yang sudah lama bekerja di rumah ini. Mbak Siti yang berusia sekitar 45 tahun bertugas mengurus dapur dan membersihkan lantai bawah. Ia wanita Jawa yang pendiam dan teliti jadi ia selalu memasak makanan kesukaanku seperti nasi goreng spesial atau sup ayam dengan sentuhan rasa Tionghoa. Mbak Lina yang lebih muda sekitar 32 tahun bertanggung jawab atas kamar-kamar atas termasuk kamarku. Ia asal Sumatra dan ramah tapi selalu menjaga jarak sopan jadi ia sering hanya tersenyum tipis saat membersihkan kamar mandiku atau mengganti seprai. Keduanya tinggal di paviliun belakang rumah sehingga malam hari rumah utama benar-benar hanya milikku dan Bruno. Siang harinya aku kuliah jurusan desain interior di universitas swasta ternama di Jakarta lalu pulang sore dan biasanya langsung ke kamar atau berenang sendirian di kolam infinity belakang rumah.
Ada juga Pak Joko tukang kebun yang merangkap sebagai satpam. Ia pria berusia 50-an dengan tubuh kekar karena pekerjaan fisik dan kulitnya gelap terbakar matahari jadi ia tinggal di rumah kecil di dekat gerbang utama. Pak Joko datang pagi-pagi sekali untuk merawat taman tropis yang rapi memangkas rumput menyiram tanaman dan membersihkan kolam. Sore hari ia bertugas menjaga keamanan memeriksa kamera CCTV dan mengunci gerbang. Ia jarang bicara banyak tapi aku tahu ia sangat setia pada ayahku. Kadang aku melihatnya dari jendela kamar saat ia berpatroli malam dengan senter dan suara langkah sepatu botnya terdengar samar di kejauhan. Kehadiran ketiga orang itu membuat rumah ini tetap berjalan dengan lancar tapi tetap saja aku merasa sendirian. Mereka profesional dan sopan tapi tidak pernah benar-benar mengisi kekosongan yang aku rasakan.
Malam hari selalu menjadi bagian yang paling berat. Keheningan rumah besar hanya dipecahkan oleh suara langkah kaki berat Bruno yang berpatroli mengelilingi rumah. Bruno adalah anjing rottweiler jantan besar milik keluarga yang sudah ada sejak aku masih SMA. Ayah membelinya sebagai penjaga rumah karena bisnis keluarga semakin besar dan sering ada ancaman. Kini Bruno berusia lima tahun. Tubuhnya sangat berotot dengan bulu hitam mengkilap dan corak cokelat khas. Kepalanya lebar dengan rahang kuat dan tinggi bahu hampir mencapai pinggangku saat ia berdiri. Bagi orang luar ia terlihat menyeramkan tapi bagiku Bruno adalah satu-satunya yang selalu ada. Ia tidur di karpet tebal tepat di depan pintu kamarku setiap malam. Ia mengikuti ke mana pun aku pergi di dalam rumah bahkan ikut naik mobil saat aku kuliah atau berbelanja.
Aku sering bercanda dalam hati bahwa Bruno adalah pacar setia satu-satunya. Hubunganku dengan cowok seusia selalu gagal. Aku sudah beberapa kali berganti kekasih sejak SMA sampai sekarang kuliah. Setiap hubungan berakhir karena aku terlalu pemilih dan merasa tak ada yang benar-benar memahami kesepianku yang dalam. Aku juga sudah terbiasa melakukan seks bebas bersama mantan-mantanku. Biasanya setelah kencan malam kami langsung ke hotel atau ke mobil mereka. Aku sering membiarkan mereka menyetubuhi aku dengan kasar di kursi belakang mobil atau di kamar hotel mewah. Kadang aku bahkan memulai duluan dengan memompa penis mereka menggunakan tangan atau mulutku sampai mereka mengerang dan menyemburkan air mani di tubuhku. Tapi setelah itu semua selalu terasa kosong. Tidak ada yang benar-benar membuatku merasa diinginkan atau dipahami. Hanya kenikmatan sesaat yang cepat hilang begitu saja.
Itu sebabnya malam ini seperti biasa aku telanjang di kamar ber-AC dingin. Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memandang Bruno yang berbaring tenang di karpet. Mata cokelatnya yang tajam sesekali melirik ke arahku dengan tatapan yang selalu terasa penuh perhatian. Napasnya yang berat dan dalam terdengar pelan di keheningan rumah besar ini. Aku tanpa sadar menyusuri paha dalamku yang halus dengan jari-jariku sambil merasakan dinginnya udara di kulitku yang baru mandi. Bruno sudah menjadi bagian dari rutinitasku sejak lama. Setiap malam aku akan mengelus kepalanya saat melewatinya sambil merasakan bulu pendek yang kasar tapi hangat dan aroma maskulin alami hewan itu yang entah kenapa mulai terasa menenangkan sekaligus anehnya intim. Aku bangkit pelan dari tempat tidur. Kimono sutra tipis yang biasanya kukenakan malam hari kali ini kubiarkan tergantung di kursi. Kakiku yang telanjang melangkah pelan melintasi lantai marmer dingin menuju Bruno. Aku berlutut di depannya dan tanganku terulur mengelus kepala lebarnya yang besar. Bulu hitamnya terasa hangat di telapak tanganku.
"Kamu selalu ada ya Bruno..." gumamku pelan dalam bahasa Indonesia campur Mandarin yang biasa aku gunakan saat bicara sendiri.
Bruno mengangkat kepalanya sedikit. Lidahnya menjulur keluar sebentar dan napas hangatnya menyapu kulit pahaku yang terbuka. Aku tersenyum kecil sambil merasakan sedikit kehangatan yang jarang aku dapatkan dari siapa pun di rumah ini baik dari Mbak Siti Mbak Lina Pak Joko maupun orang tuaku yang jauh. Kesepian malam ini terasa lebih berat dari biasanya dan tanpa sadar jariku terus menyentuh tubuhku sendiri sambil duduk di depan anjing penjaga keluargaku yang setia itu. Aku masih berlutut di depan Bruno. Tangan kananku terus mengelus kepala lebarnya yang besar dan kokoh sambil merasakan otot-otot kuat di bawah bulu pendek yang kasar tapi hangat. Napasnya yang berat dan dalam menyapu kulit pahaku yang telanjang hangat dan sedikit lembab sehingga bulu romaku meremang pelan. Aku duduk lebih rendah dan bokongku yang bulat dan lembut menyentuh lantai marmer dingin sehingga menyebabkan sedikit getaran dingin naik ke tulang punggungku.
Bruno tidak bergerak banyak. Hanya mata cokelatnya yang tajam menatapku dengan ketenangan yang selalu membuatku merasa aman seolah ia mengerti setiap detik kesepian yang aku rasakan di rumah ini. Mbak Siti dan Mbak Lina pasti sudah tidur di paviliun belakang sejak jam sembilan sementara Pak Joko mungkin sedang berpatroli di sekitar gerbang dengan senter kecilnya. Suara langkahnya yang samar terdengar jauh sekali dari sini. Tidak ada yang akan mengganggu malam ini. Hanya aku dan Bruno di kamar besar yang sunyi ini.
Malam itu aku menggeser tubuhku sedikit lebih dekat. Lututku menyentuh karpet tebal di depan pintu. Tangan kiriku ikut terulur dan mengusap leher tebal Bruno dengan gerakan lambat sambil merasakan denyut nadi yang kuat dan stabil di bawah kulitnya. Aromanya campuran antara bulu hangat tanah dari taman yang ia jaga bersama Pak Joko dan sesuatu yang lebih primal maskulin serta alami mulai memenuhi hidungku. Aku menghirupnya dalam-dalam tanpa sadar. Dada telanjangku naik turun pelan. Puting payudaraku yang merah muda mengeras sedikit karena dingin AC dan sensasi aneh yang mulai merayap di perutku.
"Kamu tidak pernah pergi ya tidak seperti ayah dan ibu" bisikku pelan. Suaraku hampir hilang dalam keheningan.
Bruno merespons dengan menggeser kepalanya sedikit. Hidungnya yang basah dan dingin menyentuh kulit perutku yang rata dan halus. Sentuhan itu membuatku tersentak kecil tapi bukan karena takut justru ada kehangatan aneh yang menyebar pelan dari titik itu.
Aku tetap di posisiku berlutut telanjang di depannya. Jari-jariku sekarang menyusuri bahu lebar Bruno yang berotot. Bulunya terasa kasar di telapak tanganku yang lembut dan kontras sekali dengan kulitku yang halus seperti sutra. Aku ingat bagaimana dulu saat masih kecil aku sering bermain dengan Bruno di taman belakang saat Pak Joko sedang memangkas rumput. Aku tertawa saat ia menjilati tanganku dengan lidahnya yang besar dan kasar. Sekarang di usia dua puluh tahun ini sentuhan yang sama terasa berbeda lebih berat lebih intens dan entah kenapa membuat napasku mulai sedikit tidak teratur. Pinggulku bergeser pelan di lantai. Paha dalamku yang halus saling bergesekan sambil merasakan sedikit kelembapan yang mulai muncul tanpa aku sadari sepenuhnya. Bruno tetap tenang tapi ekornya yang pendek bergerak pelan sekali menandakan ia nyaman dengan kehadiranku begitu dekat. Aku mencondongkan tubuhku lebih maju. Rambut hitam panjangku jatuh menutupi sebagian payudaraku dan ujung-ujungnya menyentuh bulu di dada Bruno. Hangat tubuhnya terasa menyenangkan dibandingkan dinginnya AC dan lantai marmer.
Aku menarik napas dalam. Dada telanjangku naik turun lebih jelas sekarang. Tangan kananku turun lebih rendah dan mengusap dada lebar Bruno dengan gerakan melingkar yang lambat sambil merasakan kekuatan otot-ototnya yang tegang di bawah sentuhanku. Lidahnya menjulur keluar lagi lebih panjang kali ini dan menyapu lengan bawahku dengan kelembapan hangat yang membuat kulitku basah sedikit. Sensasi kasar lidah itu seperti amplas lembut tapi basah membuatku menggigit bibir bawah pelan. Aku tidak berhenti malah mendekatkan wajahku hingga napas hangatku bercampur dengan napasnya.
"Apa kamu tahu aku kesepian Bruno.. gumamku lagi. Suaraku lebih rendah hampir seperti desahan kecil yang tak sengaja.
Mataku menatap matanya yang cokelat tajam sambil mencari sesuatu yang tak aku mengerti sendiri. Tubuhku terasa lebih panas sekarang meski AC masih menyala pelan dan tanpa sadar pinggangku melengkung sedikit. Bokong bulatku terangkat pelan dari lantai saat aku bergeser semakin dekat ke tubuh besarnya.
Bruno menggerakkan tubuhnya sedikit dan bangkit dari posisi berbaring menjadi duduk di depanku. Kepalanya sekarang sejajar dengan dadaku. Hidungnya yang basah menyentuh tepat di antara payudaraku yang kencang. Aku tersentak pelan. Napasku tertahan sejenak tapi tanganku tetap di tempat sambil mengelus punggungnya yang lebar dan berotot. Sensasi dingin hidungnya di kulit sensitif itu membuat puncak payudaraku semakin mengeras. Ada getaran kecil yang menjalar ke bawah perutku. Aku tidak mundur malah aku membiarkan tangan kiriku turun ke sisi tubuhnya sambil merasakan kekuatan paha belakangnya yang tebal dan kuat. Rumah ini sunyi sekali tidak ada suara Mbak Siti menyapu tidak ada Mbak Lina mengganti handuk dan tidak ada Pak Joko memanggil dari kebun. Hanya napas berat Bruno dan detak jantungku sendiri yang semakin cepat pelan-pelan. Aku merasa aman terlindungi dan entah kenapa diinginkan meski hanya oleh anjing penjaga keluarga yang setia ini.
Aku masih berlutut di depan Bruno tapi sekarang kakiku mulai terbuka lebih lebar. Lututku bergeser pelan di karpet tebal hingga aku benar-benar duduk mengangkang di lantai marmer yang dingin. Paha dalamku yang halus dan putih terbuka lebar dan memperlihatkan kemaluanku yang sudah mulai basah dan hangat karena sensasi aneh yang terus merayap sejak tadi. Bokong bulatku menyentuh lantai langsung. Dinginnya marmer kontras tajam dengan panas yang mulai berkumpul di antara kakiku. Bruno duduk tepat di depanku. Kepala lebarnya sejajar dengan pinggulku. Aku menggigit bibir bawah. Napasku sudah agak tersengal. Tangan kananku masih mengelus punggungnya yang berotot sementara tangan kiriku memegang paha sendiri untuk menjaga keseimbangan. Aku merasa malu sekaligus penasaran. Kulit wajahku memanas meski AC kamar tetap meniup udara dingin.
Bruno mengendus pelan. Hidung basah dan dinginnya menyentuh kulit perutku dulu lalu turun lebih rendah. Aku menahan napas saat moncongnya mendekati kemaluanku yang terbuka. Bau alami tubuhku sepertinya menarik perhatiannya karena lidah besar dan kasarnya keluar perlahan dan menyapu bagian dalam paha kananku dengan satu jilatan panjang yang basah. Sensasi kasar lidah itu membuatku tersentak kecil. Pinggulku refleks terangkat sedikit dari lantai.
"Ssshhh.. Bruno pelan-pelan.. bisikku lemah. Suaraku bergetar campuran antara perintah dan permohonan.
Tapi ia tidak berhenti. Lidahnya kembali bergerak kali ini langsung menyentuh bibir kemaluanku yang sudah lembab. Jilatan pertama itu panjang dari bawah ke atas. Lidah kasar dan hangatnya menekan klitorisku dengan tekanan yang tidak aku duga. Aku mengeluarkan desahan kecil yang tak bisa kutahan. Tubuhku melengkung dan payudara kencangku naik turun cepat.
Aku tetap duduk mengangkang lebar di lantai. Kedua tanganku sekarang bertumpu di belakang tubuhku untuk menahan diri. Jari-jariku mencengkeram karpet. Bruno semakin antusias. Kepalanya bergerak ritmis antara kakiku. Lidahnya yang lebar dan kasar menjilat kemaluanku berulang kali kadang panjang dan lambat menutupi seluruh celahku dari bawah hingga klitoris kadang pendek dan cepat menekan titik sensitifku dengan ujung lidahnya yang kasar. Setiap jilatan membuat suara basah kecil terdengar di kamar yang sunyi. Cairanku yang semakin banyak bercampur dengan air liurnya yang hangat. Aku merasa klitorisku membengkak. Setiap sentuhan lidah Bruno seperti listrik kecil yang menjalar ke seluruh tubuhku. Pinggulku mulai bergerak sendiri dan menggesek pelan ke arah moncongnya sambil mencari lebih banyak gesekan.
"Ah Bruno ya di situ" gumamku pelan. Suaraku sudah pecah campur antara Indonesia dan bisikan Mandarin yang tak jelas.
Sensasi semakin kuat. Lidah kasar itu terus menjilat tanpa lelah kadang menyusup sedikit ke dalam lubangku yang berkedut mengecap cairan yang keluar semakin deras lalu naik lagi untuk menggosok klitorisku dengan tekanan yang sempurna. Aku duduk mengangkang semakin lebar. Lututku gemetar. Bokongku bergeser di lantai marmer yang sekarang terasa basah karena campuran air liur dan cairanku. Payudaraku naik turun cepat. Puncaknya keras dan sensitif. Tangan yang satu terulur ke depan memegang kepala Bruno bukan untuk menjauhkan tapi justru menekannya lebih dekat ke kemaluanku. Otot-otot pahaku menegang. Perutku berkedut-kedut. Gelombang panas mulai naik dari bawah perutku ke dada. Aku tahu aku sudah dekat. Napasku menjadi pendek-pendek. Desahan kecil berubah menjadi erangan yang lebih dalam.
"Brunooo aaa..ku aaahh.. maaau..
Akhirnya klimaks datang dengan kuat dan tiba-tiba. Tubuhku menegang hebat. Pinggulku terangkat dari lantai. Kakiku yang mengangkang bergetar tak terkendali. Gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhku. Kemalanku berkedut-kedut di atas lidah Bruno yang masih terus menjilat tanpa berhenti. Aku mengeluarkan erangan panjang yang tertahan.
"Aaaahh Brunoo.. suaraku pecah. Mata terpejam rapat. Kepala terlempar ke belakang hingga rambut hitam panjangku menyapu lantai. Cairanku keluar lebih banyak dan membasahi moncong Bruno serta karpet di bawahku. Gelombang itu berlangsung lama. Tubuhku kejang-kejang pelan. Payudara naik turun dengan napas tersengal. Bruno tetap di tempatnya. Lidahnya masih menyapu pelan sekarang sambil membersihkan sisa-sisa cairanku dengan jilatan lembut yang membuatku gemetar lagi setiap kali menyentuh klitorisku yang sensitif pasca-klimaks.
Aku ambruk pelan ke belakang. Punggungku menyentuh lantai marmer dingin. Kakiku masih terbuka lebar mengangkang. Dada telanjangku naik turun cepat mencoba mengatur napas. Tubuhku berkilau tipis karena keringat. Kemalanku masih berdenyut pelan basah dan merah karena jilatan Bruno. Anjing itu duduk tenang di depanku. Moncongnya basah oleh cairanku. Mata cokelatnya menatapku dengan tatapan yang sama setia seperti biasanya. Aku mengulurkan tangan gemetar dan mengelus kepalanya pelan.
"Kamu hebaat sekali brunooo.. bisikku lemah. Suaraku masih bergetar. Rumah tetap sunyi. Mbak Siti Mbak Lina dan Pak Joko jauh di paviliun mereka. Hanya aku dan Bruno di lantai kamar yang sekarang terasa jauh lebih hangat.
Aku tertidur lelap di atas ranjang setelah kejadian malam itu. Bruno juga tidur di kamarku. Ia berbaring di karpet tebal di samping tempat tidur seperti biasanya. Tubuhku masih terasa lemas dan hangat. Aku tertidur telanjang tanpa selimut yang tertutup sempurna.
Keesokan paginya aku merasakan selimut tebalku ditarik ke bawah. Bruno sudah menindihku sambil menjilati wajah dan buah dadaku. Aku menggeliat pelan dan mendongakkan kepalaku. Bruno menjilati leherku. Ia menggigit pelan dengan lembut sehingga membuat aku melenguh di atas ranjang.
Selimut tebal kembali ditarik olehnya. Bruno langsung menyerbu dan menjilati paha serta selangkanganku. Aku merintih pelan dan membuka lebar kedua pahaku. Bruno makin bringas menjilati kemaluanku dengan rakus. Lidah kasarnya menyapu bibir kemaluanku berulang kali dan menyusup ke dalam lubangku yang sudah mulai basah lagi.
Bruno kembali menindihku. Kemaluannya menghujam ke dalam vaginaku. Aku dalam posisi telentang pasrah di ranjang. Ia mulai menghujam pelan sambil menjilati buah dadaku yang bergoyang. Batangnya yang besar dan panas memasuki liang kewanitaanku dengan tekanan yang kuat. Setiap hujaman membuat tubuhku bergoyang di atas kasur. Aku merasakan buah zakarnya menempel di selangkanganku setiap kali ia mendorong lebih dalam. Lidahnya yang kasar terus menyapu puting susuku bergantian sehingga membuat payudaraku semakin kencang dan sensitif.
Aku melenguh pelan. Kedua tanganku memegang bulu di leher Bruno sambil merasakan gerakan pinggulnya yang kuat. Ia menghujam lebih dalam lagi. Kejantannya memompa liang kewanitaanku dengan ritme yang semakin stabil. Cairan lendir kawin mulai keluar banyak dan membasahi batangnya setiap kali ia keluar masuk. Aroma tubuh Bruno yang maskulin semakin kuat di sekitarku. Napasnya yang berat menyapu kulit leherku. Aaakkkhhh.. Aku merintih lebih keras saat ia mempercepat gerakannya. Tubuh besarnya menindihku sepenuhnya sehingga aku benar-benar pasrah di bawahnya.
Bruno terus menggenjot kemaluanku tanpa henti. Batangnya menghujam kuat dan dalam. Setiap dorongan membuat buah dadaku bergoyang hebat. Lidahnya sesekali menjilati puting susuku lagi dan lagi. Aku merasakan gelombang birahi yang sama seperti malam sebelumnya mulai naik lagi di dadaku. Liang kewanitaanku berkedut-kedut di sekitar kejantannya. Aku mendesis pelan sambil memeluk lehernya lebih erat. Bruno melenguh rendah di telingaku. Gerakannya semakin kasar dan brutal. Ia menyetubuhi aku dengan penuh gairah di pagi yang sepi ini. Hanya suara desahan dan eranganku yang memecah keheningan kamar.
Aku merasakan gelombang birahi semakin kuat di dalam tubuhku. Bruno terus menghujam kemaluanku dengan ritme yang stabil. Batangnya yang tebal dan hangat memompa liang kewanitaanku tanpa henti. Setiap dorongan membuat buah dadaku bergoyang hebat di atas ranjang. Lidah kasarnya sesekali menjilati puting susuku lagi sehingga sensasi panas terus menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendesis pelan sambil memeluk leher tebalnya lebih erat. Pinggulku mulai terangkat pelan mengikuti setiap hujamannya. Liang kewanitaanku berkedut-kedut semakin kuat di sekitar kejantannya. Cairan lendir kawin keluar semakin banyak dan membasahi batangnya setiap kali ia keluar masuk.
Bruno menggeram rendah di telingaku. Suaranya berat dan primal. Ia menggigit leherku pelan dengan rahang kuatnya. Gigitan itu tidak menyakitkan tapi cukup kuat untuk membuatku melenguh keras. Tubuhku menegang di bawahnya. Aku merintih panjang saat pompaan penisnya makin ganas. Ia mulai menggenjot kemaluanku dengan lebih brutal. Batangnya menghujam dalam dan cepat. Buah zakarnya menampar bokongku setiap kali ia mendorong hingga pangkal. Aku merasakan ujung kejantannya menyentuh titik paling dalam di liang kewanitaanku berulang kali. Payudaraku bergoyang liar. Puting susuku semakin keras dan basah oleh air liurnya.
Gelombang hangat di dadaku semakin naik dengan cepat. Aku tidak bisa menahan lagi. Tubuhku menegang hebat. Pinggulku terangkat tinggi dari ranjang. Aku mengeluarkan erangan panjang yang pecah.
"Aaaahh... Bruuuno... akuuu... klimaaaks...
Kemalanku berkedut-kedut kuat di sekitar batangnya. Cairanku menyembur keluar banyak dan membasahi kejantannya serta selimut di bawah tubuhku. Gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhku. Aku kejang-kejang di bawahnya. Payudaraku naik turun cepat. Napasku tersengal-sengal. Bruno tidak berhenti. Ia terus memompa liang kewanitaanku dengan ganas selama aku klimaks.
Bruno menggeram lebih keras. Suaranya bergema di kamar yang sepi. Ia menggigit leherku lebih kuat lagi. Gigitan itu membuatku melenguh lagi meski tubuhku masih bergetar pasca klimaks. Pompaan penisnya makin ganas dan brutal. Ia menggenjot kemaluanku dengan kecepatan penuh. Batangnya menghujam masuk keluar tanpa ampun. Setiap dorongan terasa sangat dalam dan kasar. Aku hanya bisa pasrah telentang di ranjang sambil merintih lemah. Tangan-tanganku mencengkeram bulu di punggungnya. Bruno melolong rendah. Tubuh besarnya menegang di atas tubuhku. Akhirnya ia klimaks dengan kuat. Air mani panasnya menyembur deras ke dalam liang kewanitaanku. Sperma tebalnya memenuhi vaginaku hingga meluber keluar di sekitar batangnya. Ia terus memompa pelan beberapa kali lagi sambil mengeluarkan sisa pejunya. Napasnya yang berat menyapu leherku yang digigitnya tadi. Tubuhnya masih menindihku sepenuhnya. Kejantannya masih berdenyut di dalam kemaluanku yang penuh sperma.
Aku terbaring lemas di ranjang. Napasku masih tersengal. Tubuhku basah oleh keringat dan lendir kawin kami berdua. Bruno tetap di atas tubuhku. Ia menjilati leherku pelan sekarang dengan lidah hangatnya. Ruangan pagi itu terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Hanya suara napas kami yang terdengar di kamar yang sunyi.



mantab brunoo cocol terus itu mekchin
BalasHapus