By : Sukapepaya
Aku adalah keturunan Tionghoa, saat ini aku telah mempunyai 2 orang anak bernama Nico dan velin dari suamiku. Aku menikah tergolong di usia muda saat suamiku bernama Hendri melamarku di usia 20 tahun, karena aku dari dulu di urus bibi karena orang tuaku yang sudah pisah dan tidak memperdulikan aku dan kakakku sehingga aku memutuskan untuk menerima pinangan Hendri suamiku.
Kehidupan awal-awal menikah ku cukup bahagia, dulu Hendri bekerja di sebuah distributor minuman beer di kota ku. Tidak pernah ada masalah dalam rumah tanggaku bersama Hendri, hingga saat ini Hendri sudah membuka usaha toko bangunan sendiri dan disinilah cerita ku berawal.
Pagi itu aku cukup di repotkan dengan menyiapkan pakaian dan bekal untuk anakku sekolah "ayooo Niko kamu pakai baju sendiri ya, mami mau mandiin velin" sambil tergesa masuk ke kamar mandi memandikan anak bungsuku. Pagi itu semua sudah beraktivitas Hendri sudah membuka toko nya dan aku sibuk dengan kegiatan rutinku menyiapkan perlengkapan anak sekolah "muahhh, mami pergi dulu ya pih" aku mengecup pipi suamiku, sambil berlalu sambil membawa tas anakku "hati-hati mih" ucap Hendri.
Di depan toko duduk anak buah suamiku biasanya aku memanggilnya om Flores, ya karena dia berasal dari timur. Bentuk badannya hitam tinggi dengan rambut keriting perutnya sedikit buncit. Dulunya om Flores ini adalah karyawan swasta di suatu PT di kotaku, hanya karena dia terlibat masalah dengan bosnya sehingga dia memukul bosnya dan akhir nya di pecat dan apesnya lagi karena dia tidak kunjung mendapat kerja istrinya kabur membawa anaknya. Suamiku menerimanya kerja jadi tukang di tokonya, dengan upah makan sehari-hari dan uang rokok. Om Flores tinggal di ruko kosong di sebelah ruko suami ku.
Ruko itu punya mertuaku dan karena kasihan melihatnya di berikan tumpangan tinggal disitu oleh mertuaku. "Weesss jagoan sudah mau berangkat sekolah ya hehe" ucap om Flores sambil membantu mengangkat tas yg sedang aku bawa "sini ce neli om bantuin, berat begini" ucap om Flores sambil mengangkat tas anakku dan membuka pintu belakang mobilku "makasih om, eh bilang makasih sama om Flores" sambil tersenyum menyuruh anakku "duluan ya om" ucapku sambil menutup pintu mobil dan meninggalkan toko suamiku.
Kuputar stir mobil mengikuti petunjuk pak parno, ya dia adalah satpam di sekolah anakku. "Pagi pak" ucapku turun dari mobil dan membuka pintu belakang mobilku mengambil tas "pagi Cece cantik, mau nganterin adiknya sekolah ya hehe" sapa pak parno, matanya terlihat melirik ke dadaku sekilas "loh anak ini bukan adik" cetusku "hehe abis Cece masih kayak anak gadis gak keliatan kalau udah anak 2" goda pak parno kepadaku.
pak parno emang sering menggoda ku, tapi aku anggap hanya candaan saja tidak pernah ku tanggapi serius bahkan kadang aku balas dengan balik menggodanya
Kuputar stir mobil mengikuti petunjuk pak parno, ya dia adalah satpam di sekolah anakku. "Pagi pak" ucapku turun dari mobil dan membuka pintu belakang mobilku mengambil tas "pagi Cece cantik, mau nganterin adiknya sekolah ya hehe" sapa pak parno, matanya terlihat melirik ke dadaku sekilas "loh anak ini bukan adik" cetusku "hehe abis Cece masih kayak anak gadis gak keliatan kalau udah anak 2" goda pak parno kepadaku.
pak parno emang sering menggoda ku, tapi aku anggap hanya candaan saja tidak pernah ku tanggapi serius bahkan kadang aku balas dengan balik menggodanya
"Terus kalau gadis mau apa ? kukeluarkan senyumku ke pak parno
"Mau tak jadiin bini ke 2 ce haha.. tawa pak parno
Pak parno duduk di samping ku "huuu dingin" gigil tubuh pak parno "dingin ya pak, bentar aku matiin AC ya" aku matikan mobilku karena melihat pak parno yang kedinginan. "Ngapa gak di dalam sekolah aja sih pak neduhnya" ucapku melihat pak parno menyilang kan kedua tangganya. "Tadi tu tiba-tiba aja ce hujannya turun, kalau mau lari ke sekolah malah basah, kan jauh dari pos ke sekolah" pak parno melihatku.
Sehari berlalu setelah kejadian pelecehan yang di lakukan pak parno di mobilku waktu itu. "Maaf Pi, mami kotor, mami membiarkan tubuh mami di jamah sama pak parno satpam sekolah anak kita" gumamku dalam hati. Tatapanku kosong menghadap kaca meja rias di kamarku, kulirik suamiku yang tidur lelap bersama anak-anakku.
Andai aku tidak memikirkan anakku rasanya ingin bunuh diri saja saat ini. Namun sepintas teringat kejadian di dalam mobil tempo hari betapa nikmat jari kasar pak parno keluar masuk dalam vagina ku. "Ahhh sialan ngapain sih mikirin itu, kamu itu sudah di lecehkan sama satpam itu" gumamku dalam hati. Kuletakan kedua tanganku menutup wajahku pikiranku berkecamuk ada rasa yang tidak bisa hilang dalam fikiranku saat aku di perlakukan kasar oleh pak parno. Pak parno adalah pria tua dan sudah keriput tapi kenapa hanya dengan jari… ahh aku merasakan orgasme yang belum pernah aku rasakan selama menikah bahkan sekarang memiliki anak dua. Namun dalam hatiku ini tidak boleh terulang kembali, aku harus menjaga rumah tangga ku bersama Hendri, aku tidak ingin merusak masa depan anak-anakku.
"Pihh… mami berangkat dulu ya…cup" sambil mencium pipi suamiku, kebiasaanku setiap pagi ketika aku mau mengantar anak ke sekolah "hati-hati ya mih.. muah" suara Hendri membalas ciuman pada pipiku. Tiba-tiba aku berselisih jalan dengan om Flores yang sedang mengangkat semen keluar "ehhh…." Aku terkejut lengan om Flores tak sengaja mengenai payudaraku. Aku tak tau dia merasakan lengannya yang menyenggol payudaraku namun dia tetap berlalu mengangkat semen ke mobil pick up yang sudah menunggu di depan. "Ahhh… sudahlah mungkin dia gak sengaja" gumamku dalam hati. Saat di dalam mobil kulihat lagi ke arah om Flores yang baru saja menurunkan semen, om Flores melihat ke arah mobilku dan melemparkan senyum.
Ku arahkan mobilku ke parkiran sekolah nampak pak parno menghampiri dan mengarahkan mobilku "uppp pas say… eh cee hehe" tawa pak parno. Aku membuang wajahku tidak mau menatap wajah busuk nya. "Pagi Cece cantik" sapa pak parno menghampiriku, matanya seakan menelanjangi tubuhku seperti kemaren dia sudah berhasil memasukan jari kasarnya ke vaginaku. "Ayok Nico velin" aku memegang kedua tangan anakku dan meninggalkan pak parno tanpa sepatah katapun.
Ketika aku hendak menuju mobilku pak parno terlihat berdiri di belakang mobil "ngapain sih si tua mesum itu masih disitu" celotehku dalam hati kesal. Ku jalankan langkahku cepat ke arah mobil dan buru-buru memasuki mobil tiba-tiba tangannya menggegam tanganku "eh jangan kurang ajar ya pak" bentakku ke pak parno "loh kok kurang ajar sayang, kan kmren Cece yg kurang ajar udah pipisin jari bapak hehehe" tawa pak parno. Tiba-tiba tangannya meremas bongkahan pantat ku "eh jangan kurang ajar kamu, aku laporkan kamu ke kepala sekolah ya biar kamu di pecat sekalian atau mau aku laporin polisi hah!!" Bentakku keras, untung saat itu sedang sepi sehingga tidak ada yang mendengar hardikan ku ke pak parno.
Seketika pak parno terdiam dan melepas tanganku "maaf ce, bapak hanya suka sama Ce neli, bapak sayang" ucap pak parno tertunduk lesu. Aku tanpa membalas ucapannya langsung masuk ke mobil dan membanting pintu mobilku dan langsung tancap gas meninggalkan pak parno yang diam mematung di parkiran sekolah. Hanya saja aku merasa bersalah "emang sih manusia punya hati, wajar kali ya pak parno suka sama aku" pikiranku berkecamuk dengan kejadian yang aku alami "apa aku biasa aja kali ya, toh sebagai manusia di cipatakan punya hati kan" pikirku melamun sambil melihat lampu merah yang tak kunjung hijau "ah… jari pak parno mhh" seketika aku menggigit bibir bawahku mengingat cumbuan pak parno tempo hari, membuat vaginaku terasa berdenyut "tiinnnnnn….." suara klakson motor dan mobil di belakangku menandakan lampu hijau menyala "ahh ngapa sih aku mikirin itu terus" ku gelengkan kepalaku menghilangkan pikiran tentang kejadian dirinya di perkosa pak parno di dalam mobilnya sendiri tempo hari "ahh.. di perkosa tapi mhhh…. Tapi kan kamu di bikin keluar hanya oleh jarinya pak parno" vaginaku berasa berdenyut mengingat kejadian itu, aku bergegas pulang kerumah dan tidak mau berlarut memikirkan itu.
Seminggu setelah kejadian itu aku masih tidak menegur pak parno di sekolah, sikapku berubah 180 derajat terhadap pak parno dan terlihat pak parno pun tidak berani menegur ku hanya sekedar memarkirkan mobilku dan hanya melihatku tanpa berani mengapa seperti biasa.
Siang itu setelah aku menjemput anakku aku mengajak mereka ke salah satu mall, saat aku dan anakku makan terdengar ada pesan WA masuk "siang" hanya itu isi pesan WA tersebut. Karena ku anggap gak penting aku hanya mengabaikan pesan tersebut "Ting" terdengar lagi pesan WA masuk "ce ini pak parno, bapak mau minta maaf" isi pesan tersebut. "Dari mana sih dia dapat nomorku" aku mengerutkan kening "kalau boleh kita lupakan saja kejadian itu ce, bapak emang suka sama Ce neli, tapi sekarang bapak sadar bapak gak pantas suka sama Cece" isi pesan WA dari pak parno kembali "ya emang gak pantas sih pak" ucapku dalam hati.
Sejenak aku berfikir, aku maafin aja ya, toh aku kan yang memanggil pak parno masuk ke mobil. Lagian kenapa waktu itu aku malah diam saja, malah di bikin pak parno merasakan hal yang belum pernah aku rasakan, pak parno memberikan nikmat yang selama ini gak aku rasakan ketika bersama Hendri suamiku "ya aku maafin, aku juga salah kok pak" tanpa sadar aku membalas WA pak parno "duhh kenapa di balas sih" pesan itu langsung bertanda biru berarti sudah di baca oleh pak parno "boleh kita seperti biasa ce, bapak gak akan mengulang kejadian kemaren" balas pak parno
"huuu udah bini orang ini masih aja di goda" ucapku sambil memeletkan lidahku ke pak parno
"hehe kalau orangnya mau juga gapapa jadi bini kedua saya ce haha.. sambil pak parno berlalu karena ada mobil mau masuk lagi
"husss dasar, satu aja gak sanggup bapak urus, sana urusin kerjaan bapak banyak mobil masuk tuh" celetusku sambil berlalu masuk ke dalam sekolah mengantarkan anakku. Begitulah sehari hari pak parno yang selalu menggodaku hanya aku tidak pernah menanggapi serius hanya sebagai candaan.
Hari itu sedang hujan lebat, aku sambil mengendarai mobilku ke sekolah menjemput anakku. Sesampainya di parkiran sekolah kulihat jam tangan masih ada 30 menit sebelum anakku pulang. Ku raih handphone dari tasku. Namun dari jauh kulihat pak parno sedang berteduh di pos
jaganya sepertinya dia kebasahan karena hujan yang sangat lebat. Kubunyikan klakson mobil dan benar pak parno melihat ke arah mobilku dan seketika pak parno mengambil payung berlari ke arah mobilku. "Tok...tok..." Pak parno mengetuk kaca mobil "kubuka sedikit jendelanya "masuk pak" teriakku dari dalam "ada apa ce ?" pak parno memasukan sedikit kepalanya ke dalam mobilku "sini berteduh disana kena hujan tuh" tawarku karena kasihan lihat pak parno yang bajunya basah.
Hari itu sedang hujan lebat, aku sambil mengendarai mobilku ke sekolah menjemput anakku. Sesampainya di parkiran sekolah kulihat jam tangan masih ada 30 menit sebelum anakku pulang. Ku raih handphone dari tasku. Namun dari jauh kulihat pak parno sedang berteduh di pos
jaganya sepertinya dia kebasahan karena hujan yang sangat lebat. Kubunyikan klakson mobil dan benar pak parno melihat ke arah mobilku dan seketika pak parno mengambil payung berlari ke arah mobilku. "Tok...tok..." Pak parno mengetuk kaca mobil "kubuka sedikit jendelanya "masuk pak" teriakku dari dalam "ada apa ce ?" pak parno memasukan sedikit kepalanya ke dalam mobilku "sini berteduh disana kena hujan tuh" tawarku karena kasihan lihat pak parno yang bajunya basah.
Pak parno duduk di samping ku "huuu dingin" gigil tubuh pak parno "dingin ya pak, bentar aku matiin AC ya" aku matikan mobilku karena melihat pak parno yang kedinginan. "Ngapa gak di dalam sekolah aja sih pak neduhnya" ucapku melihat pak parno menyilang kan kedua tangganya. "Tadi tu tiba-tiba aja ce hujannya turun, kalau mau lari ke sekolah malah basah, kan jauh dari pos ke sekolah" pak parno melihatku.
Aku hari ini pakai mini dress di atas lutut sedikit dan tanpa lengan. Mata pak parno melirik ke kulit mulusku "tumben cepet datangnya ce" ucap pak parno sambil melirik ke paha ku "tadi kebetulan dari rumah temen, eh mata bapak kemana" cetusku karena matanya dari tadi lirik-lirik ke pahaku "eh maaf ce, abis Cece cantik banget, kulitnya putih hehe" tawa pak parno sambil menutup matanya namun jarinya di buka melihat wajahku "huuu jangan mesum ya pak, aku udah ada laki" ledek ku ke pak parno "hihi kalau aku punya istri kayak Cece, gak akan keluar kamar dahh" tawa mesum pak parno semakin jadi menggoda ku "huu emang mau ngapain gak keluar kamar" balasku bertanya polos sambil ikut tertawa melihat godaan pak parno
"yaaa Cece Taulah, biarpun bapak tua begini masih bisa loh bikin Cece lemes" tiba-tiba pak parno mendekatkan wajahnya. "Huuu dasar beraninya ya bapak godain istri orang" ku cubit lengan pak parno "awww awww sakit ampun" ucap pak parno menhindar dari cubitanku.
Kami pun tertawa, aku tidak berpikir kalau candaan pak parno adalah serius namun tak sengaja kulirik ke selangkangan pak parno ada sesuatu yang menggembung dan aku terkejut karena gembungnya agak panjang "ya ampun ngapain mataku ngelirik kesitu" gumamku dalam hati, seketika aku terdiam.
Tiba-tiba aku terkejut karena leher jenjangku di elus oleh telapak tangan kasar pak parno "eh ngapain pegang-pegang" seketika aku reflek membuang tangan pak parno dari leherku, "panas ya ce, sampe keringatan" ucap pak parno menatapku, namun tatapannya kini lain sedikit agak serius. Memang tak terasa udara di dalam mobil terasa agak panas karena AC mobil yg kumatikan. "Eh iya panas, aku hidupin AC ya pak" ucapku meraih kunci mobil yang kuletakkan di dasbor mobil "jangan tar bapak kedinginan loh" tiba-tiba pak parno memegang tanganku.
Pak parno menahan tangannya memegang tanganku dan perlahan mengarahkannya ke bibirnya "muahh" terdengar suara bibir pak parno tiba-tiba mencium tanganku "eh pak parno ngapain" aku menarik tanganku namun di tahan pak parno. Tanganku kini di genggam pak parno "Cece cantik, aku dari dulu suka sama Cece" ucap pak parno menatapku. "Deg jantungku berdegup kencang melihat tatapan pak parno seakan wajahku ku turunkan karena tidak berani menatap mata pak parno. Kami kembali terdiam namun tanganku masih di genggam an pak parno. Pak parno kembali mengelap leherku yang berkeringat karena tiba-tiba hawa di dalam mobil semakin panas. Namun kini elusannya tangan kasarnya di leherku berulang kali namun lembut "kenapa ini neli kenapa kamu diam saja" gumamku dalam hati.
Pak parno mendekatkan kepalanya ke arahku dan "cup" tiba-tiba dia mencium pipiku "eh pak jangan" tanganku yang satunya mendorong pelan tubuh pak parno yang mendekat ke arahku. "Bolehkah aku menyukaimu ce" ucap pak parno yang wajahnya hanya beberapa senti dengan wajahku, matanya dalam menatap wajahku. Namun aku hanya tertunduk tidak berani menatap wajahnya. Tiba-tiba pak parno mengelus kepalaku dan mendorong kepala ku ke arahnya "hmnmmhh" deru nafas pak parno berusaha mencium bibirku "janghhh... Mhhmmm" lidah pak parno berhasil masuk ke mulutku. "Emmhhhmmm.. pak... Jangannhhh" tanganku mendorong tubuh pak parno namun dengan sigap pak parno memeluk tubuhku. "Sluurp... Slurppp...mhhh" dengan cepat pak parno mengisap dan sesekali menggigit bibir bawahku, tangan kasar pak parno mengelus lenganku yang terbuka. Seketika mataku terpejam mendapat serangan dari bibir pak parno "apa yang aku lakukan" gumamku dalam hati. Sementara tangan pak parno semakin menjalar menjamah setiap senti tubuh mulusku "pakhh cukhh...cukuphh..mhh" aku berusaha menolak namun terhalang dengan cumbuan pak parno di bibirku
Kami pun tertawa, aku tidak berpikir kalau candaan pak parno adalah serius namun tak sengaja kulirik ke selangkangan pak parno ada sesuatu yang menggembung dan aku terkejut karena gembungnya agak panjang "ya ampun ngapain mataku ngelirik kesitu" gumamku dalam hati, seketika aku terdiam.
Tiba-tiba aku terkejut karena leher jenjangku di elus oleh telapak tangan kasar pak parno "eh ngapain pegang-pegang" seketika aku reflek membuang tangan pak parno dari leherku, "panas ya ce, sampe keringatan" ucap pak parno menatapku, namun tatapannya kini lain sedikit agak serius. Memang tak terasa udara di dalam mobil terasa agak panas karena AC mobil yg kumatikan. "Eh iya panas, aku hidupin AC ya pak" ucapku meraih kunci mobil yang kuletakkan di dasbor mobil "jangan tar bapak kedinginan loh" tiba-tiba pak parno memegang tanganku.
Pak parno menahan tangannya memegang tanganku dan perlahan mengarahkannya ke bibirnya "muahh" terdengar suara bibir pak parno tiba-tiba mencium tanganku "eh pak parno ngapain" aku menarik tanganku namun di tahan pak parno. Tanganku kini di genggam pak parno "Cece cantik, aku dari dulu suka sama Cece" ucap pak parno menatapku. "Deg jantungku berdegup kencang melihat tatapan pak parno seakan wajahku ku turunkan karena tidak berani menatap mata pak parno. Kami kembali terdiam namun tanganku masih di genggam an pak parno. Pak parno kembali mengelap leherku yang berkeringat karena tiba-tiba hawa di dalam mobil semakin panas. Namun kini elusannya tangan kasarnya di leherku berulang kali namun lembut "kenapa ini neli kenapa kamu diam saja" gumamku dalam hati.
Pak parno mendekatkan kepalanya ke arahku dan "cup" tiba-tiba dia mencium pipiku "eh pak jangan" tanganku yang satunya mendorong pelan tubuh pak parno yang mendekat ke arahku. "Bolehkah aku menyukaimu ce" ucap pak parno yang wajahnya hanya beberapa senti dengan wajahku, matanya dalam menatap wajahku. Namun aku hanya tertunduk tidak berani menatap wajahnya. Tiba-tiba pak parno mengelus kepalaku dan mendorong kepala ku ke arahnya "hmnmmhh" deru nafas pak parno berusaha mencium bibirku "janghhh... Mhhmmm" lidah pak parno berhasil masuk ke mulutku. "Emmhhhmmm.. pak... Jangannhhh" tanganku mendorong tubuh pak parno namun dengan sigap pak parno memeluk tubuhku. "Sluurp... Slurppp...mhhh" dengan cepat pak parno mengisap dan sesekali menggigit bibir bawahku, tangan kasar pak parno mengelus lenganku yang terbuka. Seketika mataku terpejam mendapat serangan dari bibir pak parno "apa yang aku lakukan" gumamku dalam hati. Sementara tangan pak parno semakin menjalar menjamah setiap senti tubuh mulusku "pakhh cukhh...cukuphh..mhh" aku berusaha menolak namun terhalang dengan cumbuan pak parno di bibirku
"bapak suka sama Cece" tatap pak parno menatap wajahku namun aku hanya menatapnya sayu entah apa yang harus aku lakukan namun aku hanya terdiam "emmhhhhh....." Tiba-tiba pak parno menyosor kan bibir nya lagi dan kali ini dengan kasar lidahnya menelusuri setiap rongga bibirku lidahku di sedotnya. Bibirku basah dan terlihat liur menetes dari daguku karena cumbuan pak parno yang kasar pada bibirku "ohhh.... Mhhhh pakkhhh" tak disangka aku sedikit mendesah ketika mendapat perlakuan pak parno kini tangannya berada di pahaku yang mulus, pak parno mengelusnya dan kadang meremasnya. Dressku pun sudah naik ke pinggangku dan tangannya menggesek-gesek vaginaku dari luar celana dalamku "ahhh..... Janganhh pakkhhh... Ouhh" aku menolak namun mendesah mendapat perlakuan pak parno.
Keringatku semakin banyak bercampur dengan air liur pak parno di bibirku hingga pipiku, ternyata pak parno tidak ingin melewatkan setiap inci pun dari bibirku. Terasa cairan hangat mengalir di vaginaku dan celana dalamku terasa basah. Pak parno masih mencumbuku dan kini tangannya meremas payudaraku dari balik dress "cukupp... Cukuppphhh ahhhh" tanganku mendorong tubuh pak parno, aku berusaha mengembalikan kesadaran ku. Usahaku berhasil membuat tubuh pak parno menjauh namun tangannya masih di paha mulusku dan kini ia menggesek-gesek jarinya di vagina ku "ahhhh.... Jangannhhh...." Aku menggigit bibir bawahku "kamu makin seksi saja ce, makin cantik" pak parno ternyata menatap wajahku saat rangsangan yang pak parno berikan.
Tanganku memegang tangan pak parno berusaha menjauhkan tangannya dari vaginaku "ouhhhh cukuphhh…." Tatapku sayu ke pak parno "cukuphhh pakhh… kita gak bolehh ahhh" pak parno ternyata pandai memainkan jarinya di vaginaku.
Keringat makin membanjiri badanku karena semakin panasnya hawa di dalam mobil. "Cplak…cplakk…cplak…" terdengar suara jari pak parno yang kasar mengorek kemaluanku "ouhh …. Ahh… ahhh…" kini aku hanya mendesah. Tak terasa ada dorongan dalam vagina ku yang hendak tiba-tiba keluar seperti pipis yang tidak tertahan "pakkhhh udahh .. aku mau pipishhh ahhh…." desahku, mataku aku tutup rapat-rapat karena malu di perlakukan seperti ini oleh pak parno. "Keluarin aja sayang" ucap pak parno kembali mendekatkan bibirnya ke bibir ku. Kali ini mudah saja pak parno membuka rongga bibir ku dan tanpa sengaja tanganku ku letakkan di pundak pak parno dan bibirku menggigit bibir hitam pak parno "sreettt…. Sreettt… srett" terasa keluar cairan dari dalam vagina ku "ahhh…. Ahh….. ahh…." Nafasku tersengal mataku terpejam, jiwaku terasa melayang oleh perlakuan pak parno.
Aku mengatur nafas ku dan kubuka sedikit mataku kulihat pak parno sedang membersihkan jarinya dengan tisu. Sejenak kami terdiam pak parno menyenderkan badannya di kursi, tangannya masih berada di paha mulusku. Aku hanya terdiam dan sembari mengatur nafasku kulihat pak parno menatapku. "Gimana sayang enak ?" Ucap pak parno tersenyum sambil mengelus paha mulusku. Aku berusaha menyingkirkan tangannya dan merapikan pakaianku. BH ku yang entah kapan terlepas dan menurunkan dress ku. "Apa yang bapak lakukan" sengguku tak terasa aku menangis, air mataku menetes. "Itu karena aku suka sama Cece" ucapnya menggenggam tanganku "jangan pegang2" ucapku menarik tanganku.
Keringatku semakin banyak bercampur dengan air liur pak parno di bibirku hingga pipiku, ternyata pak parno tidak ingin melewatkan setiap inci pun dari bibirku. Terasa cairan hangat mengalir di vaginaku dan celana dalamku terasa basah. Pak parno masih mencumbuku dan kini tangannya meremas payudaraku dari balik dress "cukupp... Cukuppphhh ahhhh" tanganku mendorong tubuh pak parno, aku berusaha mengembalikan kesadaran ku. Usahaku berhasil membuat tubuh pak parno menjauh namun tangannya masih di paha mulusku dan kini ia menggesek-gesek jarinya di vagina ku "ahhhh.... Jangannhhh...." Aku menggigit bibir bawahku "kamu makin seksi saja ce, makin cantik" pak parno ternyata menatap wajahku saat rangsangan yang pak parno berikan.
Tanganku memegang tangan pak parno berusaha menjauhkan tangannya dari vaginaku "ouhhhh cukuphhh…." Tatapku sayu ke pak parno "cukuphhh pakhh… kita gak bolehh ahhh" pak parno ternyata pandai memainkan jarinya di vaginaku.
Keringat makin membanjiri badanku karena semakin panasnya hawa di dalam mobil. "Cplak…cplakk…cplak…" terdengar suara jari pak parno yang kasar mengorek kemaluanku "ouhh …. Ahh… ahhh…" kini aku hanya mendesah. Tak terasa ada dorongan dalam vagina ku yang hendak tiba-tiba keluar seperti pipis yang tidak tertahan "pakkhhh udahh .. aku mau pipishhh ahhh…." desahku, mataku aku tutup rapat-rapat karena malu di perlakukan seperti ini oleh pak parno. "Keluarin aja sayang" ucap pak parno kembali mendekatkan bibirnya ke bibir ku. Kali ini mudah saja pak parno membuka rongga bibir ku dan tanpa sengaja tanganku ku letakkan di pundak pak parno dan bibirku menggigit bibir hitam pak parno "sreettt…. Sreettt… srett" terasa keluar cairan dari dalam vagina ku "ahhh…. Ahh….. ahh…." Nafasku tersengal mataku terpejam, jiwaku terasa melayang oleh perlakuan pak parno.
Aku mengatur nafas ku dan kubuka sedikit mataku kulihat pak parno sedang membersihkan jarinya dengan tisu. Sejenak kami terdiam pak parno menyenderkan badannya di kursi, tangannya masih berada di paha mulusku. Aku hanya terdiam dan sembari mengatur nafasku kulihat pak parno menatapku. "Gimana sayang enak ?" Ucap pak parno tersenyum sambil mengelus paha mulusku. Aku berusaha menyingkirkan tangannya dan merapikan pakaianku. BH ku yang entah kapan terlepas dan menurunkan dress ku. "Apa yang bapak lakukan" sengguku tak terasa aku menangis, air mataku menetes. "Itu karena aku suka sama Cece" ucapnya menggenggam tanganku "jangan pegang2" ucapku menarik tanganku.
"Maaf ce, tapi salah ya aku suka sama Cece" ucap pak parno menundukkan kepalanya. Aku tidak menjawab dan hanya diam, kulihat sekitar masih hujan deras dan kulihat jam tangan ternyata sudah lebih 15 menit harusnya anakku sudah pulang namun karena masih hujan mungkin anakku menunggu di kelas. "Silahkan turun pak" ucapku datar sambil mengambil tas dan hendak turun dari mobil. pak parno dengan sigap keluar mobil dan berjalan ke arahku mengarahkan payungnya ke atas kepalaku. "Yok saya antar" ucap pak parno berjalan di sampingku. Aku hanya diam dan tidak habis pikir kenapa aku relakan tubuhku di jamah oleh lelaki tua dan hanya seorang satpam, dimana kehormatan ku sebagai istri dan derajatku. Tapi di satu sisi aku merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ku rasakan selama menikah dengan Hendri.
Sehari berlalu setelah kejadian pelecehan yang di lakukan pak parno di mobilku waktu itu. "Maaf Pi, mami kotor, mami membiarkan tubuh mami di jamah sama pak parno satpam sekolah anak kita" gumamku dalam hati. Tatapanku kosong menghadap kaca meja rias di kamarku, kulirik suamiku yang tidur lelap bersama anak-anakku.
Andai aku tidak memikirkan anakku rasanya ingin bunuh diri saja saat ini. Namun sepintas teringat kejadian di dalam mobil tempo hari betapa nikmat jari kasar pak parno keluar masuk dalam vagina ku. "Ahhh sialan ngapain sih mikirin itu, kamu itu sudah di lecehkan sama satpam itu" gumamku dalam hati. Kuletakan kedua tanganku menutup wajahku pikiranku berkecamuk ada rasa yang tidak bisa hilang dalam fikiranku saat aku di perlakukan kasar oleh pak parno. Pak parno adalah pria tua dan sudah keriput tapi kenapa hanya dengan jari… ahh aku merasakan orgasme yang belum pernah aku rasakan selama menikah bahkan sekarang memiliki anak dua. Namun dalam hatiku ini tidak boleh terulang kembali, aku harus menjaga rumah tangga ku bersama Hendri, aku tidak ingin merusak masa depan anak-anakku.
"Pihh… mami berangkat dulu ya…cup" sambil mencium pipi suamiku, kebiasaanku setiap pagi ketika aku mau mengantar anak ke sekolah "hati-hati ya mih.. muah" suara Hendri membalas ciuman pada pipiku. Tiba-tiba aku berselisih jalan dengan om Flores yang sedang mengangkat semen keluar "ehhh…." Aku terkejut lengan om Flores tak sengaja mengenai payudaraku. Aku tak tau dia merasakan lengannya yang menyenggol payudaraku namun dia tetap berlalu mengangkat semen ke mobil pick up yang sudah menunggu di depan. "Ahhh… sudahlah mungkin dia gak sengaja" gumamku dalam hati. Saat di dalam mobil kulihat lagi ke arah om Flores yang baru saja menurunkan semen, om Flores melihat ke arah mobilku dan melemparkan senyum.
Ku arahkan mobilku ke parkiran sekolah nampak pak parno menghampiri dan mengarahkan mobilku "uppp pas say… eh cee hehe" tawa pak parno. Aku membuang wajahku tidak mau menatap wajah busuk nya. "Pagi Cece cantik" sapa pak parno menghampiriku, matanya seakan menelanjangi tubuhku seperti kemaren dia sudah berhasil memasukan jari kasarnya ke vaginaku. "Ayok Nico velin" aku memegang kedua tangan anakku dan meninggalkan pak parno tanpa sepatah katapun.
Ketika aku hendak menuju mobilku pak parno terlihat berdiri di belakang mobil "ngapain sih si tua mesum itu masih disitu" celotehku dalam hati kesal. Ku jalankan langkahku cepat ke arah mobil dan buru-buru memasuki mobil tiba-tiba tangannya menggegam tanganku "eh jangan kurang ajar ya pak" bentakku ke pak parno "loh kok kurang ajar sayang, kan kmren Cece yg kurang ajar udah pipisin jari bapak hehehe" tawa pak parno. Tiba-tiba tangannya meremas bongkahan pantat ku "eh jangan kurang ajar kamu, aku laporkan kamu ke kepala sekolah ya biar kamu di pecat sekalian atau mau aku laporin polisi hah!!" Bentakku keras, untung saat itu sedang sepi sehingga tidak ada yang mendengar hardikan ku ke pak parno.
Seketika pak parno terdiam dan melepas tanganku "maaf ce, bapak hanya suka sama Ce neli, bapak sayang" ucap pak parno tertunduk lesu. Aku tanpa membalas ucapannya langsung masuk ke mobil dan membanting pintu mobilku dan langsung tancap gas meninggalkan pak parno yang diam mematung di parkiran sekolah. Hanya saja aku merasa bersalah "emang sih manusia punya hati, wajar kali ya pak parno suka sama aku" pikiranku berkecamuk dengan kejadian yang aku alami "apa aku biasa aja kali ya, toh sebagai manusia di cipatakan punya hati kan" pikirku melamun sambil melihat lampu merah yang tak kunjung hijau "ah… jari pak parno mhh" seketika aku menggigit bibir bawahku mengingat cumbuan pak parno tempo hari, membuat vaginaku terasa berdenyut "tiinnnnnn….." suara klakson motor dan mobil di belakangku menandakan lampu hijau menyala "ahh ngapa sih aku mikirin itu terus" ku gelengkan kepalaku menghilangkan pikiran tentang kejadian dirinya di perkosa pak parno di dalam mobilnya sendiri tempo hari "ahh.. di perkosa tapi mhhh…. Tapi kan kamu di bikin keluar hanya oleh jarinya pak parno" vaginaku berasa berdenyut mengingat kejadian itu, aku bergegas pulang kerumah dan tidak mau berlarut memikirkan itu.
Seminggu setelah kejadian itu aku masih tidak menegur pak parno di sekolah, sikapku berubah 180 derajat terhadap pak parno dan terlihat pak parno pun tidak berani menegur ku hanya sekedar memarkirkan mobilku dan hanya melihatku tanpa berani mengapa seperti biasa.
Siang itu setelah aku menjemput anakku aku mengajak mereka ke salah satu mall, saat aku dan anakku makan terdengar ada pesan WA masuk "siang" hanya itu isi pesan WA tersebut. Karena ku anggap gak penting aku hanya mengabaikan pesan tersebut "Ting" terdengar lagi pesan WA masuk "ce ini pak parno, bapak mau minta maaf" isi pesan tersebut. "Dari mana sih dia dapat nomorku" aku mengerutkan kening "kalau boleh kita lupakan saja kejadian itu ce, bapak emang suka sama Ce neli, tapi sekarang bapak sadar bapak gak pantas suka sama Cece" isi pesan WA dari pak parno kembali "ya emang gak pantas sih pak" ucapku dalam hati.
Sejenak aku berfikir, aku maafin aja ya, toh aku kan yang memanggil pak parno masuk ke mobil. Lagian kenapa waktu itu aku malah diam saja, malah di bikin pak parno merasakan hal yang belum pernah aku rasakan, pak parno memberikan nikmat yang selama ini gak aku rasakan ketika bersama Hendri suamiku "ya aku maafin, aku juga salah kok pak" tanpa sadar aku membalas WA pak parno "duhh kenapa di balas sih" pesan itu langsung bertanda biru berarti sudah di baca oleh pak parno "boleh kita seperti biasa ce, bapak gak akan mengulang kejadian kemaren" balas pak parno
"ya pak lupain aja" balasku, aku menarik nafas dalam-dalam "fiuhhh udahlah pak parno juga gak salah sepenuhnya" aku menghembuskan nafasku dan kembali melihat layar hpku "bapak tadi minta WA Cece sama guru nya Nico, bapak bilang ada dompet ce neli yang jatuh pas mau naik mobil, jadi bapak mau kasih tau" pak parno memberi penjelasan dari mana dia mendapatkan WAku "ohhh… iya pak gapapa, yaudah ya pak aku udah maafin bapak jangan ulangi lagi ya" balasku dengan memberi emoticon senyum "siap Cece cantik hehe" balas pak parno menggunakan emot cium "ihhh tu kan, genit lagi baru juga di maafin" tanpa sadar aku tersenyum membalas WA pak parno "hihi iya-iya, mana tau kan…" balas pak parno terputus tanpa menjelaskan inti pesannya "mana tau apa ?? Jangan mesum loh ya haha" dasar tua-tua mesum, sama bini orang lagi "iyaaaa tadi kan dah janji gak gitu lagi" balas pak parno sepertinya pak parno takut kalau aku marah lagi. "yaudahh ya pak aku mau makan dulu bareng anak-anak, bye" balasku memutus percakapan WA kamu.
"Mmhhmh…mhhh…slurppp" suara mulut Hendri yang kini tengah menyedot dan menghisap payudara neli yang bulat dan putingnya yang kecil dan merah "ouhhh pelanhh pih.." desah neli tangannya meremas rambut Hendri seakan tidak boleh melepaskan hisapan bibir suaminya di payudaranya. "Ahh mi.. papih udah gak tahan" dengan tergesa Hendri membuka celananya dan membuka menarik celana dalam neli .malam itu neli hanya menggunakan tangtop hitam yang sudah di naikan di atas payudaranya oleh suaminya Hendri "ahhh……. Sayanghh" lenguh neli seketika penis Hendri menerobos vagina neli perlahan "ssttt… diam sayang, nnti anak-anak bangun" bisik Hendri di telingaku "ahh iyahh pih enakhh..ouhhh.." desah neli memeluk tubuh suaminya "ouhhh… ahhh… ahhh…." Desah Hendri dan crot… crott.. tak lama Hendri mengeluarkan spermanya ke dalam rahim istri nya dan menjatuhkan badannya di atas tubuh neli sambil mencium-cium leher dan pipi neli.
Neli hanya menatap langit-langit kamarnya yang terbayang di otaknya cumbuan pak parno saat itu, betapa tidak dia merasakan orgasme pertamanya hanya dengan cumbuan kasar dan jari pak parno "ahh…mhhh.." tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya. "Cepat banget sih keluarnya pih" kesal neli melirik ke wajah Hendri yang sedang memeluknya. Sekitar beberapa menit sepertinya Hendri ketiduran sambil memeluku, aku hanya menatap langit-langit mengingat betapa bergairah nya cumbuan pak parno saat itu, ya dia memaksakan bibirnya yang keriput memasuki bibir ku mencari celah setiap rongga bibirku dan sesekali menggigit bibir bawahku apalagi saat bibirnya menyedot lidahku "ahhhhh…." Tanpa sadar jariku mengarah ke vaginaku "ihhh… banyak banget spermamu Pi" ucapku sambil melihat jariku yang basah akibat sperma suamiku.
"Mmhhmh…mhhh…slurppp" suara mulut Hendri yang kini tengah menyedot dan menghisap payudara neli yang bulat dan putingnya yang kecil dan merah "ouhhh pelanhh pih.." desah neli tangannya meremas rambut Hendri seakan tidak boleh melepaskan hisapan bibir suaminya di payudaranya. "Ahh mi.. papih udah gak tahan" dengan tergesa Hendri membuka celananya dan membuka menarik celana dalam neli .malam itu neli hanya menggunakan tangtop hitam yang sudah di naikan di atas payudaranya oleh suaminya Hendri "ahhh……. Sayanghh" lenguh neli seketika penis Hendri menerobos vagina neli perlahan "ssttt… diam sayang, nnti anak-anak bangun" bisik Hendri di telingaku "ahh iyahh pih enakhh..ouhhh.." desah neli memeluk tubuh suaminya "ouhhh… ahhh… ahhh…." Desah Hendri dan crot… crott.. tak lama Hendri mengeluarkan spermanya ke dalam rahim istri nya dan menjatuhkan badannya di atas tubuh neli sambil mencium-cium leher dan pipi neli.
Neli hanya menatap langit-langit kamarnya yang terbayang di otaknya cumbuan pak parno saat itu, betapa tidak dia merasakan orgasme pertamanya hanya dengan cumbuan kasar dan jari pak parno "ahh…mhhh.." tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya. "Cepat banget sih keluarnya pih" kesal neli melirik ke wajah Hendri yang sedang memeluknya. Sekitar beberapa menit sepertinya Hendri ketiduran sambil memeluku, aku hanya menatap langit-langit mengingat betapa bergairah nya cumbuan pak parno saat itu, ya dia memaksakan bibirnya yang keriput memasuki bibir ku mencari celah setiap rongga bibirku dan sesekali menggigit bibir bawahku apalagi saat bibirnya menyedot lidahku "ahhhhh…." Tanpa sadar jariku mengarah ke vaginaku "ihhh… banyak banget spermamu Pi" ucapku sambil melihat jariku yang basah akibat sperma suamiku.
Neli mendorong tubuh Hendri kesamping dan berdiri, merapikan tangtopnya yang diangkat ke atas oleh Hendri dan mencari hpnya. Ternyata ada dua pesan masuk dari pak parno "malam…" pesan pak parno yang masuk "ganggu ya ce" pesan kedua yang masuk sekitar 30 menit antara dua pesan itu. "Gak pak, kenapa pak ?" Aku membalas WA pak parno. Aku berjalan menuju ke kamar mandi baru saja mau membuka pintu kamar mandi "Ting" pesan masuk dari pak parno "hehe kenapa belum tidur ce ?" Balas pak parno "emmm belum ngantuk aja pak, bapak kenapa belum tidur ?" Aku balik bertanya pada pak parno "bapak sih tidurnya jam 2an ce, abis nidurin bayi bapak haha" balas pak parno, aku mengerutkan keningku, emang pak parno punya anak bayi perasaan anaknya satu setahuku itupun sudah menikah
"bapak punya bayi ?" Jawabku
"hehe punya, bayinya rewel susah tidur di muntahin dulu baru mau tidur" balas pak parno, aku bingung apa sih maksut pak parno "bayi ? Di muntahin, gimana sih pak maksutnya ?" Balasku "haha gak-gak, susah jelasinnya ce, mana suami Ce neli ?" Tanya pak parno "ada tuh tidur" jawabku "sama dengan istri bapak, lemas dia langsung ketiduran hihi" balas pak parno yang kutahu dia mengarah ke obrolan porno lagi namun kali ini aku ingin menanggapi obrolan mesum pak parno "hayooo berapa kali, sampe lemes gitu istrinya haha" balasku sambil tertawa geli "sekali doang sih, tapi mau 1 jam hahaha" pesan WA pak parno langsung mesum "pantes lemes haha" jawabku mengirim emot tertawa
"Cece mau pak parno bikin lemes juga hihi" balas pak parno. "Ini orang tua berani banget godain istri orang" gumamku dalam hati, "gapapa deh aku tanggepin malam ini" senyum ku membalas WA pak parno "emang bisa ?" Balasku seakan meragukan pak parno "weleh weleh gak percaya dengan kekuatan tongkat sakti pak parno ya ?? Apalagi masuk ke sarangnya Cece, rasanya gak mau bapak lepas hahaha" aku menebak besar penis pak parno, karena waktu di mobil lihat tonjolan di celana pak parno "gak deh tar tau suamiku pak" jawabku "ooo… jangan sampai tau dong, rahasia kita aja Cece cantik, eh ngmng2 emang boleh tongkat bapak masuk ? Haha" balas pak parno "deg" jantungku berdegup karena tiba-tiba aku membayangkan ada penis Milik pak parno masuk ke vaginaku, walaupun belum pernah melihatnya tapi aku yakin ukurannya berbeda dan aku bertanya-tanya apa ya rasanya penis itu menembus ke dalam rahimku, selama ini hanya penis suamiku lah yang aku izinkan karena ya dia emang suamiku, sudah menjadi kewajibanku.
"Hmmmm……mhhh" tanpa sadar aku menggesek jariku ke vaginaku, "ouhhh pakhh parnohh" desahku, dalam otakku mengingat jari pak parno yang sudah mengobok vaginaku seminggu yang lalu. Sambil membalas "maunya bapak boleh apa gak ?" Nafasku mulai tidak teratur membayangkan cumbuan pak parno "bapak siap kalau boleh hihi, sekarang pun siap ahaha" balas pak parno "ahhh…..ahhh…. Mmhhmh…" kumasukan jariku ke dalam vaginaku perlahan dan lama-lama ku percepat "aaahhkkk pakkhhh…ouhhhh" mataku terpejam kubayangkan kini jari pak parno mengobok vaginaku "sekarang, dimana pak ?" Ku balas pesan pak parno, kini otakku sudah di kuasai oleh nafsu birahi, kenapa dalam fikiranku sekarang pak parno sedang mencumbuku seperti Minggu lalu di dalam mobil "di rumah Cece, bapak kesana ya ?" Balas pak parno, dalam hatiku kesini pak, bantu aku orgasme seperti kemaren pak, masukin penis bapak ke vagina ku "ahhh
…ahhhh….. ahhh…" tanpa sadar aku mendesah cukup kuat dan jariku keluar masuk dengan cepat, aku masih ingat tangan kasar pak parno waktu itu "nanti suamiku tau pak, gak bisa disini" balasku, aku gak tau lagi apa yang aku bicarakan karena rasa gatal dalam vaginaku yang ingin segera di tuntaskan "ini rahasia kita sayang, jangan sampai tau suami ce neli" pak parno seperti menerima lampu hijau dariku kalau aku mengizinkan untuk di setubuhi olehnya "ahhh…ahh…mmhhh…" bibir bawahku ku gigit dan kocokan jariku semakin cepat di vaginaku "ssreettt…..sreeettt….srett…" keluar lah cairan dari vaginaku mengalir melalui pahaku jatuh ke lantai, dengkulku rasanya lemas dan gemetar.
…ahhhh….. ahhh…" tanpa sadar aku mendesah cukup kuat dan jariku keluar masuk dengan cepat, aku masih ingat tangan kasar pak parno waktu itu "nanti suamiku tau pak, gak bisa disini" balasku, aku gak tau lagi apa yang aku bicarakan karena rasa gatal dalam vaginaku yang ingin segera di tuntaskan "ini rahasia kita sayang, jangan sampai tau suami ce neli" pak parno seperti menerima lampu hijau dariku kalau aku mengizinkan untuk di setubuhi olehnya "ahhh…ahh…mmhhh…" bibir bawahku ku gigit dan kocokan jariku semakin cepat di vaginaku "ssreettt…..sreeettt….srett…" keluar lah cairan dari vaginaku mengalir melalui pahaku jatuh ke lantai, dengkulku rasanya lemas dan gemetar.
"Ouhhhh……" lenguhku ketika orgasme ku membayangkan pak parno lah yang sedang mengobok vaginaku tadi "ce neli cantik sudah tidur, jadi beneran boleh ?" Wa pak parno masuk, yang sekitar 10 menit belum ku balas karena aku merasakan orgasme hebat tadi.
Aku hanya mengirimkan foto selfie ku ke pak parno, tanpa membalas wanya
"Ohh apa yang kau lakukan neli" seketika akal sehatku sadar setelah aku sampai kamar dan melihat suamiku dan anak-anakku yang tertidur "maafin mami Pi" gumamku melihat suamiku yang tertidur pulas. kemudian aku berbaring di sebelah nya dan memeluk suamiku.
Aku hanya mengirimkan foto selfie ku ke pak parno, tanpa membalas wanya
"Ohh apa yang kau lakukan neli" seketika akal sehatku sadar setelah aku sampai kamar dan melihat suamiku dan anak-anakku yang tertidur "maafin mami Pi" gumamku melihat suamiku yang tertidur pulas. kemudian aku berbaring di sebelah nya dan memeluk suamiku.



Komentar
Posting Komentar