Cerita ini murni fiksi dan hanya untuk tujuan hiburan semata. Semua tokoh, peristiwa, nama tempat, atau dialog di dalamnya adalah hasil rekaan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menghina, menghasut kebencian, atau menjelekkan kelompok etnis, ras, agama, atau golongan tertentu.
Segala kesamaan nama atau kejadian dengan peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten ini dan tidak membawa materi cerita ini ke ranah nyata.
By : Analconda13
Andika meletakkan cangkir kopinya di meja balkon. Dalam sekejap pikirannya melayang kembali ke beberapa bulan lalu. Saat itu ia sedang mencari aksesoris khusus untuk memodifikasi mobil sport kesayangannya.. sebuah Lamborghini hitam mengkilap yang selalu jadi pusat perhatian di jalanan ibu kota. Tanpa sengaja langkahnya membawa ke kawasan Pecinan lama di mana deretan toko sparepart kendaraan berjejer rapat dengan aroma oli mesin dan logam yang khas. Di salah satu toko yang sudah turun-temurun itu.. ia bertemu dengan Lilian.. gadis Chindo berusia 21 tahun putri pemilik toko yang sedang membantu menjaga counter saat orang tuanya sibuk di gudang belakang. Lilian tampak begitu berbeda dari gadis-gadis Chindo seksi yang biasa Andika lihat di Instagram atau mall-mall mewah karena kulitnya putih susu yang halus tanpa cela.. rambut hitam lurus sepunggung yang diikat sederhana.. mata sipit yang polos penuh rasa ingin tahu dan senyum malu-malu yang membuat pipinya merona merah muda. Tubuhnya ramping tapi berlekuk lembut di tempat yang tepat sehingga tersembunyi di balik baju kaos longgar dan celana pendek biasa.. jauh dari pose-pose menggoda yang sering dipamerkan gadis-gadis lain. Andika langsung merasakan getaran aneh di dada.. rasa penasaran yang semakin membara belakangan ini karena ia sudah bosan dengan wanita-wanita berani yang terlalu mudah menyerahkan diri. Gadis lugu dan innocent seperti Lilian di Pecinan ini dengan aura kesederhanaan dan kepolosan yang masih alami justru terasa seperti mangsa yang paling menggoda untuk ditaklukkan perlahan hingga ia rela melakukan apa saja demi tetap berada di pelukannya.
Andika memutuskan untuk kembali ke toko sparepart itu beberapa hari kemudian dengan alasan mencari suku cadang tambahan untuk mobilnya. Begitu memasuki toko yang agak pengap itu matanya langsung tertuju pada Lilian yang sedang menyusun barang-barang di rak belakang. Gadis itu mengenakan baju sederhana berwarna putih yang sedikit melekat di tubuhnya karena keringat sehingga memperlihatkan garis lembut pinggang ramping dan payudara kecil yang naik turun pelan saat bernapas.
Dengan senyum karismatiknya Andika mendekat ke counter. Suaranya terdengar rendah dan lembut saat bertanya tentang aksesoris yang ia butuhkan. Lilian tersipu dan tangannya sedikit gemetar saat mengetik di komputer tua dan mata sipitnya sesekali melirik pria tampan di depannya dengan campuran rasa malu dan tertarik. Namun saat percakapan mulai mengalir ke arah pribadi Andika memuji keramahan Lilian dan bertanya apakah ia sering pergi keluar selain menjaga tokonya. Tiba tiba ayah Lilian muncul dari gudang belakang. Pria paruh baya keturunan Tionghoa itu langsung bersikap dingin. Tatapannya tajam penuh curiga saat melihat Andika berdiri terlalu dekat dengan putrinya.
"Lilian.. kamu urus pelanggan yang lain saja. katanya datar suaranya menyiratkan ketidaksukaan yang jelas terhadap pria pribumi seperti Andika yang baginya mungkin terlalu playboy dan berbahaya untuk gadis lugu seperti anaknya. Suasana menjadi agak tegang sehingga Lilian hanya bisa menunduk malu tapi Andika tak menyerah. Ia dengan santai menunjukkan kunci mobil Lamborghini-nya yang terparkir di depan toko dan mulai berbincang tentang bisnis modifikasi mobil yang sedang ia kembangkan sebagai pengusaha muda sukses.
Beberapa kunjungan berikutnya sikap ayah Lilian mulai mencair. Ketika Andika datang dengan membawa oleh-oleh kecil untuk toko dan bercerita tentang proyek-proyek besarnya dari kontrak dengan perusahaan otomotif hingga kekayaan yang ia bangun dari nol mata ayah Lilian berubah. Melihat mobil mewah yang mengkilap di depan toko.. mendengar cerita bisnis Andika.. tentang rumahnya di kawasan elite dan menyadari status sosial pria itu ayah Lilian akhirnya merestui.
"Kalau kamu serius sama Lilian. Tolong jaga anak saya baik-baik. katanya suatu sore meski masih dengan nada waspada. Lilian yang sudah mulai bucin berat sejak kunjungan pertama kini tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Ia sering mengirim pesan manis ke Andika di malam hari sehingga menceritakan betapa ia menanti kedatangannya ke toko dan bagaimana hatinya berdegup kencang setiap pria itu tersenyum padanya. Andika tersenyum puas di balik layar ponselnya sehingga ia tahu perlahan tapi pasti gadis innocent ini sedang jatuh ke dalam jaringnya siap untuk ia pikat lebih dalam hingga tak ada jalan kembali.
Semakin lama hubungan Andika dan Lilian semakin dekat. Andika sering datang ke toko sparepart dengan alasan kecil lalu membawa Lilian jalan-jalan ke kafe atau restoran mewah disekitar pecinan. Lilian yang awalnya malu-malu kini rela meninggalkan toko lebih awal demi menghabiskan waktu bersama pria idamannya. Ia menjadi bucin berat. Setiap pesan Andika dibalas cepat dan setiap sentuhan tangan pria itu di pinggangnya membuat tubuh rampingnya merinding penuh damba. Andika di balik sikap romantisnya tetap sibuk mengatur hubungan spesialnya dengan beberapa wanita lain secara diam-diam seperti kencan malam dengan model lokal yang selalu haus sentuhan kasar atau sesi panas di apartemen dengan karyawati yang suka bermain liar. Ia pandai menyembunyikan semuanya tapi takdir berkata lain.
Suatu hari Lilian menerima pesan dari teman dekatnya. Foto itu jelas. Andika sedang berjalan mesra di mall elite. Tangannya melingkar di pinggang seorang wanita cantik berpakaian seksi dan tubuh mereka saling menempel dekat saat tersenyum ke arah kamera. Hati Lilian hancur tapi rasa cintanya yang sudah terlalu dalam membuatnya tak langsung marah. Keesokan harinya saat mereka berdua makan malam di sebuah cafe elegan dengan cahaya redup dan musik jazz lembut Lilian tak bisa menahan diri lagi. Duduk di depan Andika yang tampan dengan kemeja hitam ketat yang menonjolkan dada kekarnya Lilian menatapnya dengan mata sipit yang berkaca-kaca.
"Kali ini.. aku mau kamu jujur sama aku... katanya pelan suaranya bergetar tapi tegas tangannya mencengkeram gelas anggur dengan jari-jari halus yang gemetar.
"Sebenarnya kamu punya pacar yang lain kan Dika ?
Andika terkejut sehingga garpu di tangannya hampir jatuh. Wajah tampannya berubah sejenak tapi ia cepat menguasai diri sehingga tersenyum miring sambil meraih tangan Lilian di atas meja.
"Sayang itu cuma teman lama kok. Kami cuma ketemu bisnis nggak ada apa-apa. elaknya halus jempolnya mengusap punggung tangan Lilian dengan gerakan sensual yang biasa ia pakai untuk meluluhkan wanita. Tapi Lilian menggeleng sehingga air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku nggak percaya... fotonya kelihatan mesra banget. Tanganmu di pinggang dia.. kalian deket banget. Aku... aku udah rela ngelakuin apa aja buat kamu Dik. Jangan bohongin aku please... Suaranya pecah sehingga tubuhnya yang mungil tampak rapuh di balik dress sederhana yang ia pakai khusus untuk malam ini tapi di balik kesedihan itu ada api obsesi yang semakin membara keinginan untuk tetap memiliki Andika apa pun caranya.
Andika menatap Lilian lama di cafe itu sehingga akhirnya menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya. Senyum miringnya muncul lagi tapi kali ini ada kilat dominan di matanya.
"Oke.. sekarang aku akan jujur sama kamu Lilian.. katanya pelan suaranya rendah dan menggoda.
"Iya.. aku memang punya yang lain. Tapi aku akan tinggalin dia. Karena aku lebih suka sama kamu Lilian. Kamu beda.. keliatan sangat oriental.. innocent.. dan bikin aku lupa sama yang lain.. Lilian langsung tersenyum lega meski air matanya masih mengalir pelan. Hatinya yang sudah bucin berat langsung meleleh mendengar perkataan manis itu. Andika menambahkan dengan nada tegas sambil tangannya meremas tangan Lilian lebih erat.
"Aku pasti akan tinggalin perempuan itu buat kamu.. Tapi selama jadi pacar aku.. kamu harus nurut sama aku sepenuhnya. Apa pun yang aku mau.. kamu harus mau lakuin. Mengerti?
Lilian mengangguk cepat dan suaranya terdengar seperti hampir berbisik.
"Iya Dik... aku nurut. Aku rela lakuin apa saja asal kamu nggak ninggalin aku.
Beberapa hari kemudian Andika mengajak Lilian ke apartemen mewahnya di lantai atas gedung elite. Malam itu Lilian datang dengan dress seksi yang sudah dibelikan Andika sebuah gaun hitam pendek ketat yang memeluk tubuh rampingnya.. belahan dada rendah memperlihatkan lekuk payudara putih mulusnya dan rok pendek yang hampir tak menutupi paha halusnya. Lilian merasa malu saat memakainya.. pipinya merah padam tapi rasa bucinnya membuatnya patuh. Begitu pintu apartemen tertutup Andika langsung duduk di sofa panjang dengan kemeja terbuka sedikit sehingga memperlihatkan dada kekarnya yang bidang sambil tersenyum puas melihat gadis Chindo-nya.
"Aku mau lihat.. apa gadis Chindo innocent seperti kamu bisa jadi lonte di depanku.. kata Andika dengan suara berat penuh nafsu matanya menyusuri tubuh Lilian dari atas ke bawah. Lilian gemetar tapi ia melangkah mendekat lalu Andika memberinya sebuah perintah.
"Buka bajumu.. pelan-pelan.. goda aku. Dengan tangan gemetar Lilian menurunkan resleting dress-nya sehingga membiarkan kain hitam itu meluncur ke lantai dan memperlihatkan bra serta celana dalam tipis berwarna merah yang kontras dengan kulit putihnya. Tubuhnya ramping tapi berlekuk lembut sehingga payudara kecilnya naik turun cepat karena napasnya yang tersengal.
Andika mengangguk dan berkata..
"Bilang kalau kamu lonte cina yang bisa dipake gratis sama pribumi.. Bilang sekarang !! Bilang yang keras !!
Lilian menunduk malu tapi suaranya keluar pelan dulu lalu semakin jelas.
"Aku... aku lonte cina pecinan... Bisa dipake gratis sama pribumi..."
Andika tersenyum lebar sehingga nafsunya semakin membara melihat gadis lugu itu berubah di depannya.
"Bagus. Sekarang mendekat kesini.. tunjukkan seberapa nurut kamu malam ini...
Andika bangkit sejenak mengambil remote dan memutar lagu dangdut koplo keras dari sound system apartemennya. Irama beat yang panas dan vulgar langsung memenuhi ruangan dan suara penyanyi yang mendesah-desah terasa menggoda telinga. Lilian berdiri di depannya hanya dengan bra dan celana dalam tipis sehingga tubuh putih mulusnya terlihat semakin rentan di bawah cahaya lampu redup.
"Goyang sekarang.. perintah Andika sambil duduk kembali di sofa dengan kakinya terbuka lebar. "Erotis. Lihat kamu sekarang gadis Chindo innocent yang biasa jaga toko sparepart di Pecinan sekarang goyang seperti jablay murahan di hadapan pribumi.
Lilian menggigit bibir bawahnya. Wajahnya merah padam karena malu yang membara. Rasa bucin dan takut kehilangan Andika membuatnya patuh. Ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan mengikuti irama koplo yang menggelegar. Tangannya naik ke rambut lalu turun ke dada dan meremas payudaranya sendiri dengan malu-malu. Pinggul rampingnya bergoyang lebih liar. Bokong kecilnya naik turun sementara kakinya melengkung mengikuti beat. Setiap goyangan membuat dadanya bergoyang lembut. Bra tipisnya hampir tak mampu menahan. Andika tersenyum puas. Matanya gelap penuh nafsu melihat gadis polos itu berubah jadi begitu mesum di depannya.
Setelah beberapa menit Andika membuka resleting celananya. Ia menurunkan boxer-nya hingga kontolnya yang sudah tegang dan besar melompat keluar. Kontol itu berdiri tegak dengan urat-urat menonjol. Ia duduk santai di sofa. Tangannya memegang pangkalnya sambil mengusap pelan.
"Sekarang merangkak ke sini Lilian. Jalan seperti lonte yang haus sentuhan. Terus isepin kontol gua.
"Dikaa.. kenapa kamu suruh aku melakukan hal seperti ini.. aku kekasihmu dikaa..
"Diluar kamu memang kekasihku. Tapi disini.. kamu jadi budak napsuku.. gadis cina innocent yang siap di entot kapan saja oleh pribumi..
Dengan lutut gemetar Lilian turun ke lantai. Ia merangkak perlahan mendekati Andika. Gaun dan harga dirinya seolah sudah terbuang jauh. Saat wajahnya sudah dekat dengan pangkal paha pria itu ia menatap kontol tebal Andika dengan campuran takut dan penasaran. Bibir tipisnya terbuka pelan lalu lidahnya menyentuh ujungnya dengan malu-malu sebelum mulutnya mulai melingkupi kepala kontol yang panas itu. Ia mengisap pelan sesuai perintah kekasihnya.
Andika mengerang pelan sambil memegang rambut Lilian. "Bagus lebih dalam.. sayang. Tunjukkan sama tuan pribumimu.. betapa nurutnya lonte Cina pecinan ini.
Andika mengerang pelan sambil menikmati sensasi hangat mulut Lilian yang masih kaku dan pemula. Gadis itu berusaha menelan lebih dalam. Lidahnya bergerak canggung di sepanjang batang kontol yang tebal dan berurat. Air liurnya menetes ke pangkal paha Andika. Namun sebelum kenikmatan itu mencapai puncak Andika tiba-tiba menjambak rambut hitam Lilian dengan kasar. Ia menarik kepalanya ke belakang hingga mulut gadis itu terlepas dari kontolnya dengan bunyi plop.. yang memalukan. Lilian tersengal. Mata sipitnya berkaca-kaca karena tersedak dan malu.
"Dasar lonte Cina murahan.. kata Andika dengan suara rendah penuh ejekan. Tangannya masih mencengkeram rambut Lilian kuat-kuat. "Gadis innocent jaga toko sparepart sekarang cuma bisa ngisep kontol pribumi kayak gini? Lu pikir lu pantas jadi pacar gue? Ia menampar pipi Lilian pelan tapi tegas. Bunyi plak kecil terdengar di antara irama dangdut koplo yang masih menggelegar. Pipi putih Lilian langsung memerah. Air matanya jatuh tapi tubuhnya malah merinding penuh gairah asing yang tak bisa dimengerti.
Andika menarik wajah Lilian lebih dekat lagi. Kontolnya yang basah oleh air liur gadis itu menempel di pipinya.
"Lu gak pantas jadi pacar gue Lilian.. katanya kasar dengan nada rasis yang jelas dan dominan.
"Lu lebih pantes jadi budak napsu pribumi kayak gue. Gadis Chindo Pecinan yang lugu cuma berguna buat ngelayani kontol pribumi. Bilang !! Bilang lu budak gue sekarang!
Lilian gemetar hebat. Suaranya pecah saat berbisik patuh. "Aku.. aku budak nafsu pribumi.. Budaknya tuan Andika.
Andika tersenyum puas. Tangannya menampar pipi satunya lagi sebelum mendorong kepala Lilian kembali ke pangkal pahanya. "Bagus. Sekarang lanjutin isepannya tapi jangan bikin gue keluar dulu. Gue mau main lama sama tubuh lonte Cina ini malam ini.
Andika menarik Lilian berdiri kasar. Ia mematikan lagu dangdut koplo lalu menuntunnya ke kamar tidur apartemen yang luas dengan ranjang king-size. Ia mendorong gadis itu naik ke atas ranjang. Posisinya duduk mengangkang lebar di tengah kasur. Lilian menopang tubuhnya dengan kedua tangan di belakang. Dada kecilnya terdorong maju. Bra tipisnya sudah longgar hingga payudaranya hampir tumpah keluar. Paha putih mulusnya terbuka lebar. Celana dalam merahnya sudah basah di bagian tengah dan memperlihatkan garis memeknya yang rapat serta masih perawan.
Andika mengambil ponselnya. Ia menyalakan kamera video sambil tersenyum dingin.
"Rekam ini biar lu ingat terus posisi lu yang sebenarnya" katanya sambil mendekat ke ujung ranjang. Kontolnya masih tegang dan berkilau oleh air liur Lilian.
"Sekarang bilang keras-keras lihat ke kamera. Cina kayak gue emang pantes dijadiin budak pribumi. Gue bakal layani semua kontol pribumi yang mau nikmaatin memek gue.
Lilian menggigil hebat. Air matanya sudah mengalir deras di pipi yang memerah bekas tamparan. Suaranya terbata-bata hampir menangis penuh rasa malu yang membakar. Rasa bucinnya yang sudah gila-gilaan pada Andika mengalahkan segalanya. Dengan napas tersengal dan tubuh gemetar ia menatap kamera ponsel Andika sambil mengangkang lebar.
"Cina kayak gue emang pantes dijadiin budak pribumi.. suaranya pecah. "Gue.. gue bakal layani semua kontol pribumi yang mau nikmaatin memek gue.
Andika mengerang puas mendengarnya. Tangan kirinya memegang ponsel tetap merekam sementara tangan kanannya meremas payudara Lilian kasar. "Bagus sekali lonte Pecinan. Sekarang angkat pinggulmu lebih tinggi. Biar gue lihat betapa basahnya memek budak Cina ini nunggu dikontol sama pribumi.
Lilian patuh. Ia mengangkat pinggulnya sedikit sambil tetap menopang tubuh dengan tangan di belakang. Air matanya terus jatuh tapi matanya penuh penyerahan total pada pria yang sudah menguasai hatinya sepenuhnya.
Andika mendekatkan ponselnya lebih dekat ke wajah Lilian yang basah air mata. Kamera masih merekam jelas setiap ekspresi gadis itu. Lilian masih mengangkang lebar di atas ranjang. Kedua tangannya menopang tubuh di belakang. Tubuh putih mulusnya terpapar sepenuhnya di depan pria itu.
"Gue mau tau siapa nama Cina lu" tanya Andika sambil tersenyum sadis. Kontolnya yang tegang masih berdiri tegak di depan wajah Lilian.
Lilian menelan ludah. Suaranya kecil dan gemetar. "Nama Cina gue Fei Chen.
Andika tertawa pelan. Suaranya penuh nafsu. "Gue suka nama Cina lu Fei Chen. Bagus dan bikin kontol pribumi kayak gue makin tegang." Ia mengusap kepala kontolnya pelan di pipi Lilian yang memerah dan meninggalkan jejak basah. "Bukan cuma itu Fei Chen. Muka Cina lu beda sama amoy-amoy lainnya. Gue suka muka Cina innocent yang klasik kayak lu. Tampang amoy yang bener-bener masih keliatan cinanya. Mata sipit kulit putih susu hidung kecil bibir tipis. Lu sadar gak Fei Chen? Dengan muka Cina lu yang klasik ini lu bakal jadi incaran massa kalau ada kerusuhan nanti. Muka Cina lu emang keliatan minta diperkosa rame-rame sama pribumi kayak gue.
Lilian tersedu pelan. Air matanya jatuh semakin deras. Tubuhnya gemetar hebat di posisi mengangkangnya. Tapi ia tak berani bergerak. Ia hanya menatap Andika dengan mata penuh cinta yang sakit dan penyerahan total.
Andika melanjutkan dengan suara rendah yang penuh ejekan. "Asal lu tau aja Fei Chen. Gue deketin lu bukan karena pengen pacaran sama lu. Gue pengen seluarin semua fantasi terpendam gue sama Cina innocent kayak lu. Fantasi buat ngerusak gadis lugu dari Pecinan bikin dia jadi budak kontol pribumi bikin dia ngaku sendiri betapa rendahnya dia dibandingkan gue.
Ia menampar pelan pipi Lilian lagi sambil tetap merekam. "Sekarang bilang ke kamera Fei Chen. Terima kasih udah jadi budak fantasi pribumi gue.
Lilian menggigit bibirnya kuat-kuat. Suaranya hampir hilang karena tangis tapi tetap keluar dengan patuh. "Terima kasih udah jadi budak fantasi pribumi gue.
Andika tersenyum puas. Tangannya turun meremas payudara Lilian kasar. "Bagus. Sekarang siap-siap Fei Chen. Malam ini memek Cina lu bakal gue rusak pelan-pelan.
Andika tak bisa menahan diri lagi. Dengan kasar ia mendorong dada Lilian hingga gadis itu terjatuh telentang di ranjang besar. Lilian tersentak kaget tapi sebelum sempat bereaksi Andika sudah merobek bra tipisnya dengan satu tarikan kuat hingga robek lalu celana dalam merahnya ikut disobek paksa. Tubuh Lilian yang polos dan putih mulus seperti porselen kini terpapar sepenuhnya di depannya. Hanya rambut hitam panjangnya yang acak-acakan.
"Lihat ini amoy" kata Andika sambil mendesis penuh nafsu. Matanya gelap menatap tubuh telanjang Lilian. "Badan lu yang putih mulus ini bakal gue cabik-cabik sama pribumi haus seks seperti gue. Pribumi yang selama ini dipandang rendah sama keluarga lu di Pecinan.
"Akhh Brenti Dika Jangan kasar-kasar sama aku" jerit Lilian panik. Tangannya mencoba mendorong dada kekar Andika. Tubuhnya meronta kecil di bawah pria itu. Air matanya mengalir deras tapi suaranya sudah mulai pecah menjadi lenguhan pelan.
Melihat Lilian meronta justru membuat Andika semakin bernafsu. Kontolnya yang besar dan tegang menekan paha Lilian. "Hari ini lu bakal ngerasain nikmat diperkosa sama pribumi Fei Chen" bisiknya kasar di telinga gadis itu.
Andika menindih tubuh Lilian sepenuhnya. Dada bidangnya menekan payudara kecil yang putih. Ia mencumbu sekujur tubuh gadis itu dengan buas. Mulutnya melumat bibir Lilian dengan kasar. Lidahnya menyelusup masuk memaksa lalu turun ke telinga mungilnya yang digigit dan dijilatnya rakus. Ia menjilati seluruh wajah oriental Lilian yang polos dari pipi hingga dahi seolah menandai wilayahnya. Kemudian turun ke leher jenjang yang putih. Ia menggigit kuat hingga meninggalkan bekas merah dan membuat Lilian melenguh keras campuran kesakitan dan sensasi aneh yang membuat tubuhnya menggeliat.
"Andika ahh" desah Lilian. Tangannya mencengkeram sprei.
Andika terus turun. Mulutnya mengulum puting susu Lilian yang pink kecil dan sensitif. Ia menghisap kuat. Lidahnya berputar-putar di sekitar puting itu sambil tangannya meremas payudara satunya dengan kasar. Tubuh Lilian melengkung. Pinggulnya tanpa sadar bergesekan dengan kontol Andika yang panas dan keras di antara pahanya.
Ia mengangkat kepala sebentar. Ia tersenyum puas melihat wajah Lilian yang merah dan basah air mata. "Memek lu sudah basah banget Fei Chen. Siap buat dikontolin pribumi?
Andika turun semakin ke bawah. Ia mencium perut rata Lilian lalu terus ke bawah hingga wajahnya tepat di antara paha gadis itu yang terbuka lebar. Tanpa ampun ia menjilat kemaluan Lilian yang masih rapat dan pink itu dengan lidahnya yang panas dan basah. Mulutnya melingkupi seluruh bagian memek gadis itu. Ia menjilat dari bawah ke atas berulang kali lalu mengisap klitoris kecilnya dengan rakus.
Lilian menggeliat hebat di atas ranjang. Tubuh putih mulusnya melengkung dan bergetar. Kedua tangannya mencengkeram kain sprei hingga berantakan. Kakinya mencoba menutup tapi Andika memegang paha dalamnya kuat-kuat. "Ahh Dika itu kotor ahhh" jeritnya tersengal tapi suaranya berubah menjadi lenguhan panjang saat kenikmatan paksa mulai menyerang tubuhnya.
Andika semakin bernafsu. Ia menyedot lebih kuat. Lidahnya menyelusup masuk ke lubang sempit Lilian dan menyeruput lendir kawin yang mulai membasahi kemaluan gadis itu dengan rakus seperti orang kehausan. Suara kecapan basah dan erangan Lilian memenuhi kamar. Memek Lilian semakin basah kuyup. Cairannya mengalir ke paha dalam dan sprei.
Tak tahan lagi Andika bangkit. Ia membuka paksa kedua paha Lilian selebar-lebarnya hingga sendi-sendi gadis itu terasa tegang. Ia mengarahkan kepala kontolnya yang sangat besar dan panjang ke lubang memek Lilian yang sudah licin. Dengan satu dorongan kuat ia mencoba masuk.
"Ahhhh Sakit Dika terlalu besar" Lilian menjerit kesakitan. Tubuhnya mengejang hebat. Keperawanannya sulit ditembus. Dinding memeknya yang sempit dan masih utuh menolak batang tebal Andika. Tapi Andika tak peduli. Ia mendorong lebih kasar. Pinggulnya maju dengan kekuatan penuh. Perlahan kepala kontolnya berhasil merobek selaput dara Lilian lalu seluruh batang panjangnya masuk hingga pangkal dengan satu hentakan kasar.
"Perawan lu milik pribumi sekarang Fei Chen" desis Andika di telinga Lilian sambil menindih tubuhnya sepenuhnya. Kontolnya terbenam dalam-dalam di dalam memek gadis itu. "Gue akan jebolin sampe memek lu rusak dan lu akan ngemis-ngemis minta dikontolin terus sama gue.
Lilian menangis tersedu. Tubuhnya gemetar hebat karena sakit dan penuh sesak tapi kedua kakinya tanpa sadar melingkar di pinggang Andika. Andika mulai bergerak pelan tapi dalam. Ia menikmati setiap inci dinding memek panas dan sempit yang masih baru itu.
Andika mulai menggenjot Lilian dengan gerakan pelan tapi dalam. Kontolnya yang besar keluar-masuk memek sempit gadis itu dengan ritme yang menyiksa. Setiap dorongan membuat Lilian tersentak dan mendesah kesakitan bercampur nikmat. Kedua tangan kekar Andika meremas buah dada Lilian dengan kasar. Jari-jarinya meninggalkan bekas merah di kulit putih mulus itu. Ia menunduk dan kenyot payudara Lilian dengan rakus. Ia menghisap puting pinknya bergantian sambil lidahnya berputar liar.
"Lu beneran masih mau jadi pacar gue" tanya Andika di sela-sela hisapannya. Pinggulnya terus bergerak pelan.
Lilian mengangguk cepat. Air matanya masih mengalir tapi suaranya penuh penyerahan. "Iya aku masih mau aku milik kamu Dika.
Andika tersenyum puas. Ia berhenti sejenak dan menarik tubuh Lilian lebih dekat. "Kalau gitu tunjukin ke gue kalau tubuh putih lu ini milik pribumi dan lu pengen diperkosa sama pribumi.
Lilian menggigit bibirnya. Suaranya terbata-bata. "Iya aku mau diperkosa pribumi Aku lakukan apapun yang kamu mau Andika.
Andika tertawa pelan lalu membalik posisi mereka. Ia berbaring telentang di ranjang. Kontolnya yang basah oleh cairan Lilian berdiri tegak dan berkilau. "Sekarang buktiin omongan lu Fei Chen. Naik dan duduki kontol pribumi lu.
Dengan kaki gemetar Lilian merangkak naik. Ia mengangkang di atas pinggul Andika. Ia memegang kontol tebal itu dengan tangan kecilnya. Ia mengarahkan ke memeknya yang sudah robek dan basah lalu perlahan menurunkan tubuhnya. Kepala kontol masuk lagi dan membuatnya mendesah keras.
"Buktiin omongan lu tadi Fei Chen" kata Andika sambil memegang pinggul Lilian. "Lu mau diperkosa pribumi kan?
Lilian mulai melonjak-lonjak pelan di atas tubuh Andika. Tubuh putih mulusnya naik-turun. Payudaranya bergoyang mengikuti gerakan. Setiap kali ia turun kontol Andika menghunjam dalam-dalam hingga pangkal dan membuat Lilian melenguh panjang. Gerakannya semakin cepat meski masih canggung. Sprei semakin berantakan di bawah mereka.
"Iya aku mau diperkosa pribumi" desah Lilian sambil terus melonjak. Wajah orientalnya memerah campuran sakit malu dan kenikmatan yang semakin kuat.
Andika mengerang puas. Tangannya memukul pelan bokong Lilian. "Bagus lonte Cina. Cepat lagi. Tunjukkan betapa hausnya memek lu sama kontol pribumi.
Andika tak puas hanya diam di bawah. Kedua tangannya yang kekar mencengkeram pinggang ramping Lilian kuat-kuat hingga meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. Dengan tiba-tiba ia menggenjot dari bawah dengan kuat dan cepat. Pinggulnya naik menghantam memek Lilian dengan kasar.
Plak! Plak! Plak!
Setiap hantaman membuat kontolnya yang besar dan panjang masuk lebih dalam. Ia menghantam dasar memek Lilian hingga gadis itu merasakan sakit nikmat yang luar biasa. Lilian melenguh keras. Kepalanya mendongak ke belakang. Rambut hitam panjangnya mengibas ke sana kemari mengikuti setiap hentakan kuat Andika.
"Aaakkhh Dika terlalu dalam ahh Ahhh" jerit Lilian. Suaranya pecah-pecah penuh kenikmatan paksa.
Andika mengerang ganas sambil memandangi wajah Lilian yang memelas. Mata sipitnya basah air mata. Pipi merah. Bibir terbuka mendesah. "Aakkhh emang lonte lu Fei Chen" umpat Andika kasar. "Tampang Cina lu yang klasik dan innocent itu bikin gue tambah napsu Anjiing!"
Ia semakin menggila. Pinggang Lilian dipegang semakin kuat. Jari-jarinya menekan daging lembut hingga memutih lalu memerah. Tubuh Lilian hampir terlempar setiap kali Andika menghantam dari bawah dengan kekuatan penuh. Payudaranya bergoyang liar. Memeknya mengeluarkan cairan bening yang makin banyak dan membasahi kontol Andika serta pangkal pahanya.
Lilian tak kuasa lagi menahan suaranya. Ia menjerit dan melenguh tanpa kendali. Tubuhnya gemetar hebat di atas Andika. Dinding memeknya semakin menjepit kontol pria itu kuat-kuat.
"Andika aku aku jadiin aku budakmu ahhh" desahnya putus-putus.
Andika tersenyum ganas. Gerakannya semakin cepat dan brutal. "Bagus lonte Cina. Terus goyang pinggul lu. Biar memek lu makin rusak sama kontol pribumi ini!
Andika terus menggenjot Lilian dengan brutal dari bawah. Kontolnya menghantam dalam-dalam tanpa ampun. Hinaan rasisnya semakin deras. "Dasar lonte Cina murahan muka innocent lu ini emang cuma buat jadi pemuas nafsu pribumi lu cuma barang rampasan buat gue!
Lilian tak kuat lagi menahan. Tubuhnya mengejang hebat. Memeknya menjepit kontol Andika kuat-kuat. Cairannya menyembur keluar membasahi pangkal paha pria itu. Ia klimaks dengan jeritan panjang yang pecah.
"Aaahhhhh Dika Aku aku keluar ahhh
Tubuhnya gemetar hebat. Mata sipitnya melotot. Lidahnya sedikit terjulur. Rambutnya acak-acakan. Andika tersenyum puas melihat gadis Chindo-nya klimaks sambil dihujat kasar.
Ia menarik kontolnya keluar dari memek Lilian yang sudah merah dan berdenyut lalu berkata dengan suara rendah penuh nafsu gelap.
"Sekarang gue mau perkosa lu seperti amoy-amoy yang rumahnya kena jarah jaman kerusuhan dulu.
Andika mendorong tubuh Lilian dengan kasar hingga telentang di atas ranjang. Ia memposisikannya persis seperti gaya bercinta ekstrim yang ia inginkan yakni posisi setengah kayang diatas ranjang.. Pria itu berlutut di atas ranjang. Ia memegang kedua paha Lilian kuat-kuat dan mengangkat pinggul gadis itu tinggi-tinggi. Tubuh Lilian dibuat melengkung ke belakang seperti busur. Kedua tangannya menopang dikasur. Bokongnya terangkat tinggi. Memeknya terbuka lebar dan rentan di depan Andika.
![]() |
Posisi wheelbarrow terbalik ini membuat Lilian benar-benar tak berdaya. Tubuh putih mulusnya tergantung seperti terbalik. Payudaranya bergantung mencuat keatas. Rambutnya panjangnya menyapu sprei. Andika memegang pinggulnya erat lalu mendorong kontolnya yang masih keras dan basah kembali ke dalam memek Lilian yang sudah basah karena klimaks tadi.
Plak! Satu hantaman kuat langsung masuk hingga pangkal. Aakkhh.. Lilian menjerit keras. Tubuhnya bergoyang hebat di posisi yang memalukan itu.
"Rasain.. ini Fei Chen... ouhhh... ini yang dirasain amoy-amoy seperti lu waktu jaman kerusuhan dulu... ssshhh... memek cina lu dijarah orang sekampung... uuunghh... Cina sipit kayak lu.. bakal digilir sampe mampus... cheen... Desis Andika dengan suara terengah engah penuh nafsu. Dia mulai menggenjot dengan ritme ganas. Setiap hantaman keras membuat tubuh Lilian yang posisinya seperti kayang terayun ayun seperti boneka seks. Napasnya tersengal dan desahannya semakin kasar serta liar.
Andika semakin kasar dan liar. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Lilian begitu kuat hingga jari-jarinya meninggalkan memar. Pinggulnya menghantam bokong putih mulus gadis itu tanpa henti. Suara plak-plak-plak yang keras dan basah memenuhi kamar apartemen.
"Anjing... ouhhh... memek cina lu enak banget feii... cheen... Ssshhh...guuue mau nembak di dalam... uuunghh... Raung Andika dengan suara terengah engah. Napasnya tersengal dan tubuhnya menegang hebat saat dia hampir mencapai klimaks. Kejantanan besarnya berdenyut denyut kuat di dalam liang kewanitaan Vania.
Dengan beberapa hantaman akhir yang sangat dalam dan brutal Andika mencapai klimaks. Tubuhnya mengejang. Kontolnya berdenyut-denyut di dalam memek Lilian. Ia menyemburkan mani hangat dan kental langsung ke rahim gadis itu berkali-kali. Lilian hanya bisa menjerit lemah. Tubuhnya gemetar hebat di posisi terbalik yang memalukan itu.
Setelah puas melampiaskan nafsunya Andika menarik kontolnya keluar. Cairan campuran mani dan lendir Lilian menetes dari memeknya yang sudah merah bengkak dan menganga. Ia melempar Lilian ke ranjang seperti boneka rusak lalu tersenyum puas.
"Bagus Fei Chen. Sekarang pakai baju ini dan pulang" kata Andika sambil melemparkan pakaian yang sudah disiapkannya. Tanktop putih super tipis yang ketat dan pendek serta celana pendek jeans robek yang hampir tak menutupi bokong Lilian.
Lilian yang sudah lemas dan bucin berat hanya bisa menurut. Tubuhnya masih gemetar saat memakai pakaian itu. Tanktop tipisnya jelas memperlihatkan putingnya yang masih keras sementara celana pendeknya naik tinggi hingga garis pantatnya terlihat. Ia tampak persis seperti lonte murahan yang baru habis dientot.
"Ini udah tengah malam" kata Andika sambil merokok di tepi ranjang. "Lu pulang sendiri pakai taksi online. Jangan cerita apapun ke orangtua lu. Kalau hubungan kita masih mau lanjut lu harus patuh.
Lilian mengangguk lemah. Air matanya masih menggenang. "Iya aku patuh.
Sebelum Lilian keluar pintu Andika menambahkan dengan senyum mesum.
"Kalau sopir taksinya napsu sama lu.. lu harus layani dia. Rekam semuanya dan kirim ke gue. Gue sange liat Cina innocent kayak lu dientot pribumi lain Haha.
Lilian keluar apartemen dengan langkah goyah. Ia memakai pakaian seksi yang memalukan itu. Tubuhnya masih penuh bekas gigitan dan memar. Memeknya masih merembes mani Andika. Rasa malu bercampur cinta yang sudah gila membuatnya tetap menurut.

.png)
.png)

Komentar
Posting Komentar