Malam itu jalanan terlihat sepi dan hanya sesekali terdengar suara anjing menggonggong dari kejauhan. Udara malam terasa lembap dan dingin hingga membuat bulu kuduk berdiri. Grace baru saja pulang dari sebuah night club yang ada di pusat kota. Ia mengendarai mobil sendirian sambil mengenakan tanktop hitam ketat yang memperlihatkan bahunya dan celana jeans biru yang menempel pas di tubuhnya. Rambutnya yang panjang sedikit berantakan karena angin dari jendela yang tadi sempat ia buka sepanjang jalan.
Ketika mobilnya melewati sebuah daerah yang sudah lama dikenal rawan tindak kejahatan, tiba tiba terdengar suara letupan dari belakang. Setir mobil terasa goyah dan laju mobil pun melambat. Grace langsung menginjak rem lalu menepikan mobilnya ke sisi jalan yang gelap.
"Sialan, kenapa lagi nih gerutu Grace dengan wajah kesal. Ia menarik napas panjang lalu memukul ringan setir mobil karena rasa frustasi. Tidak ada pilihan lain, ia pun membuka pintu dan melangkah keluar untuk memeriksa keadaan.
Suasana di luar terasa jauh lebih sunyi. Hanya ada cahaya samar dari lampu jalan yang jaraknya cukup jauh. Grace berjalan ke arah belakang mobil dengan langkah hati hati, sepatu hak yang dipakainya beradu dengan aspal dan menimbulkan bunyi kecil yang terdengar jelas di keheningan.
Begitu ia jongkok untuk melihat kondisi ban, matanya langsung menangkap sesuatu yang mencurigakan di permukaan jalan. Ban mobilnya kempes rata hingga pelek hampir menyentuh aspal. Grace menyapu pandangannya ke sekitar lalu baru menyadari kalau di sepanjang jalan ada banyak paku yang berserakan.
"Sialaan !! Siapa sih yang nebarin paku dijalanan kayak gini. Ucap Grace sambil menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kesal.
Belum juga habis rasa kesalnya karena ban mobil yang kempes, tiba tiba dari arah belakang seseorang menyergap Grace dengan kasar. Tempat itu memang gelap dan sepi, hanya terdengar suara jangkrik dari balik semak. Grace terkejut dan langsung berusaha berontak, tangannya meronta dan kakinya menendang ke segala arah. Namun sebuah pukulan keras mendarat di tengkuknya hingga pandangannya berputar dan tubuhnya ambruk tak berdaya.
"Wuihh seksi juga nih cewek. Gimana kalau kita sekap di bedeng aja bro. lumayan buat dijadiin mainan. Ucap salah seorang pria dengan nada serak sambil tertawa kecil.
Gerombolan pria misterius itu segera mengangkat tubuh Grace yang sudah lemas. Mereka menyeretnya ke arah mobil Grace lalu membuka pintu belakang dengan tergesa. Tubuh Grace dilempar begitu saja ke dalam kursi belakang sementara salah satu dari mereka langsung duduk di sampingnya untuk berjaga.
Seorang pria lainnya dengan cepat mengambil alih posisi di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobil Grace dan langsung menancap gas meninggalkan tempat itu. Ban depan yang masih utuh berderit di aspal, melaju kencang menembus jalanan sepi menuju suatu arah di pinggiran kota.
Beberapa waktu kemudian, ketika Grace perlahan membuka matanya, kepalanya terasa berat dan pandangannya buram. Ia terkejut mendapati dirinya berada di dalam sebuah bangunan kumuh dengan dinding retak dan atap bocor. Bau pengap bercampur bau sampah menusuk hidungnya. Saat pandangannya mulai jelas, ia sadar kalau dirinya sedang dikelilingi banyak orang lusuh, sebagian besar adalah gelandangan, pengemis, dan pemulung yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Grace yang masih pusing mencoba mengangkat kepalanya. Matanya berusaha fokus meski pandangannya masih berkunang. Ia terkejut sekaligus jengah mendengar hinaan itu.
"Ehhh siapa kalian ?!! kenapa gue bisa ada di tempat ini. ?!! Seru Grace dengan suara serak bercampur rasa panik. Ia berusaha bangkit namun tubuhnya masih terlalu lemah.
Seorang dari mereka maju mendekat sambil menatap Grace dari kepala hingga ujung kaki. Tatapannya penuh nafsu dan wajahnya menyeringai lebar.
"Boleh juga nih cewek, badannya seksi bro kayak penyanyi dangdut haha ucap pria itu sambil menunjuk Grace dengan jemarinya yang kotor.
Sorak sorai langsung menggema di dalam bangunan kumuh itu. Orang orang yang mengelilingi Grace bersiul, tertawa, dan bertepuk tangan seakan mereka menemukan hiburan baru. Mereka sadar kalau perempuan yang kini terjebak di hadapan mereka bukan perempuan biasa, melainkan seorang gadis cantik dengan tubuh yang membuat mereka semua terpancing gairah.
Grace yang tubuhnya masih lemah mencoba memberanikan diri untuk berontak. Ia meraih kesempatan dengan mendorong salah satu pria lalu berusaha lari ke arah pintu. Namun baru beberapa langkah saja tubuhnya sudah ditarik paksa. Beberapa tangan kasar langsung menahannya dari segala arah hingga ia tak berdaya.
Seorang pria yang tampak lebih disegani maju ke depan. Wajahnya keras dengan sorot mata penuh amarah. Tanpa banyak bicara ia menampar pipi Grace dengan keras hingga kepala Grace terpelintir ke samping dan suara tamparan itu bergema di ruangan sempit itu.
"Heh.. pelacur, kalau kamu mau selamat lebih baik nurut sama kita. Apapun hasilnya kamu bakal kami ewe sampai puas, sekarang tinggal pilih cara halus atau kasar ucapnya lantang sambil menunduk dekat wajah Grace. Nafasnya yang bau alkohol terasa menusuk hidung Grace.
Grace benar benar ketakutan. Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya gemetar. Air mata mulai mengalir di pipinya sementara pikirannya dipenuhi rasa ngeri. Ia sadar dirinya tidak punya pilihan lain, hanya berdiri pasrah dengan tubuh lunglai sambil tersedu. Bayangan mengerikan tentang apa yang akan terjadi membuatnya semakin lemah.
"Ampun bang.. jangan sakiti saya, kalau mau uang abang ambil saja tapi jangan apa apain saya pinta Grace dengan suara bergetar.
"Yah awalnya sih kita emang butuh duit, tapi setelah dipikir pikir kayaknya kita juga butuh yang lain nih ucap pria yang sejak tadi berdiri paling depan dengan senyum miring di wajahnya.
Grace yang tubuhnya masih gemetar mencoba mengangkat kepala, matanya sembab karena air mata. "Maksud abang apa, tolong biarkan saya pergi dari sini bang pinta Grace dengan suara lirih penuh rasa takut.
"Kita pengen ngentotin lu, kalau lu terus melawan maka lu akan merasakan tajamnya pisau ini ancamnya sambil mengeluarkan sebilah pisau lipat berkilat dari saku celana. Ia memainkan pisau itu di depan wajah Grace, membuat gadis itu semakin ciut.
Grace terdiam membeku. Jantungnya berdegup semakin kencang hingga terasa sakit di dada. Ia sadar tidak bisa berbuat apa apa lagi. Air matanya menetes deras meratapi nasib buruk yang menimpanya malam itu.
"Nah gitu dong, sekarang kita mau elo telanjang di depan kita semua ucap pria itu dengan suara lantang.
Grace menggigil mendengar perintah tersebut. Tubuhnya kaku dan wajahnya terasa panas, memerah menahan malu. Bayangan tentang tubuhnya yang akan dipandangi mata mata liar membuatnya hampir kehilangan napas. Dengan tangan bergetar ia perlahan meraih ujung tanktopnya. Tarikannya tersendat sendat karena rasa takut bercampur rasa malu. Saat kain itu terlepas dari tubuhnya, bongkahan dadanya yang kenyal langsung terekspos di hadapan mereka..
Sorak sorai, siulan nakal, dan kata kata kotor langsung memenuhi ruangan. Suara mereka terdengar semakin bising, membuat telinga Grace panas sementara dirinya hanya bisa menunduk dalam keadaan penuh rasa malu dan putus asa.
Kini hanya g-string tipis yang menempel di tubuhnya tapi bahkan itu pun tak sanggup menutupi bagian intimnya. Sorakan dan siulan nakal langsung menggema dari kerumunan. Tatapan mereka menelanjangi Grace habis-habisan membuat wajahnya panas dan dadanya naik turun menahan malu.
"Ayo terusin !! buka juga dalemannya biar kita semua puas lihatnya. teriak seorang pria dari belakang dengan suara parau.
Grace menggigit bibir bawahnya. Dengan gerakan lambat ia meraih sisi g-stringnya lalu menariknya ke bawah. Kain kecil itu pun meluncur turun melewati pahanya yang mulus hingga akhirnya jatuh di lantai. Ia mencampakkannya ke samping, menyisakan tubuh polosnya hanya berbalut high heels dan tas kecil yang masih tersampir di bahu.
Kerumunan langsung bersorak lebih keras. Beberapa orang maju mendekat. Tangan-tangan kasar meraih tubuh Grace tanpa ragu. Ada yang meremas pinggangnya, ada yang menepuk bokongnya, ada pula yang langsung menyentuh buah dadanya yang montok.
"Wih gila, mulus banget badannya, kayak nggak pernah kena matahari ucap salah satu pria sambil menjambak lembut rambut Grace lalu mendekatkan wajahnya.
Grace meringis dan menghela napas cepat. Ciuman kasar mendarat di lehernya, lalu ada tangan lain yang menarik paksa dagunya untuk mencium bibir dengan ganas. Lidah mereka menekan masuk tanpa ampun. Grace berusaha menoleh ke samping tapi rahangnya dicekal erat.
Tubuhnya benar-benar jadi bulan-bulanan. Remasan, tarikan, jilatan, dan ciuman silih berganti. Hampir tidak ada sejengkal pun bagian tubuhnya yang luput dari serangan mereka. Suara tawa, siulan, dan kata-kata kotor bercampur dengan napas kasar yang memenuhi ruangan.
Seorang pria maju, menepuk bahu Grace keras-keras. Tangannya yang lain sudah membuka celana, mengeluarkan batangnya yang tegang dan berkilat karena keringat.
"Sepongin nih kontol gue!" suaranya berat dan penuh perintah.
Grace menelan ludah. Tangannya terangkat ragu-ragu, lalu menggenggam batang itu. Urat-uratnya menonjol jelas di genggamannya. Dengan gerakan maju mundur ia mulai mengocok, seperti tukang pijat mengurut lengan pasiennya. Sentakan tangannya naik turun, makin lama makin cepat. Lelaki itu mendesah kasar, kepalanya mendongak sambil memejamkan mata.
Sorakan terdengar dari kerumunan.
"Wih, lihat tuh! Jago banget ngocoknya!" teriak seseorang sambil tertawa keras.
Tak berhenti sampai di situ. Grace menundukkan kepala, bibirnya membuka, lalu batang besar itu masuk ke mulutnya. Bibir mungilnya meregang, pipinya mengembung. Ia mengulum, lalu mulai menghisap dengan irama yang sama seperti gerakan tangannya. Sesekali lidahnya menyapu ujung kepala penis, membuat lelaki itu mendesis panjang.
"Anjrit, mantap banget mulut lo!" kata pria itu sambil menjambak rambut Grace dan menekan kepalanya makin dalam.
Grace berusaha menahan, tapi tetap mengikuti dorongan itu. Batang keras itu keluar masuk mulutnya dengan suara basah yang jelas terdengar. Sesekali ia berhenti, melepas, lalu kembali mengulum sambil memainkan lidah di ujung kepala penis, membuat lelaki itu hampir tertekuk menahan nikmat.
Pria itu belum puas. Ia menyuruh Grace menggenggam kedua buah dadanya lalu menempelkan batang ke sela-selanya.
"Ayo, jepit pake susu lo!" katanya sambil menepuk dada Grace kasar.
Grace menurut. Ia menekan kedua payudaranya hingga rapat, menjepit batang besar itu di tengah. Gerakan maju mundur kembali ia lakukan, kali ini dengan dorongan dadanya yang naik turun. Penis itu bergesek di antara kulit putih mulusnya yang licin oleh keringat dan sisa liur. Suara tawa dan siulan makin riuh, menyaksikan tubuh cantik itu dipaksa melayani.
Tubuh Grace gemetar, dadanya memerah, tapi ia terus menggerakkan payudaranya ke atas dan ke bawah. Lelaki itu mendengus panjang, badannya tegang lalu.. Tubuh lelaki itu makin tegang. Urat di batangnya semakin menonjol, napasnya memburu kasar, kepalanya mendongak sambil menggeram.
"Terus... iya... jepit lebih kenceng... ahhh... bentar lagi gue mau keluar !!
Grace menggoyang-goyangkan dadanya makin cepat. Batang panas itu bergesek-gesek kuat di sela kulit putihnya yang lembut. Cairan liurnya bercampur keringat, membuat gerakan jadi semakin licin dan liar.
Desahan keras terdengar, lalu lelaki itu menghentakkan pinggulnya sekali, menahan batangnya di sela dada Grace.
"Arrgghhh... gue mau ngecrot di tetek lu..
Sekejap kemudian semburan deras memuncrat keluar, hangat dan kental, mengenai buah dada Grace. Cairan putih itu menetes dari belahan buah dadanya, sebagian meluncur ke perut mulusnya, bahkan ada yang mengenai dagu dan bibirnya.
Sorak-sorai pecah dari para gelandangan yang menonton.
"Wuihh... Peju lu banyak bener bro !!
"Iya sampai muncrat ke muka amoynya !!
Grace menunduk, terengah, dadanya basah berkilat oleh cairan kental yang masih menetes. Wajahnya merah padam, napasnya pendek-pendek, tubuhnya terasa lelah tapi tetap dipaksa tegak. Lelaki itu menarik napas panjang lalu terduduk di lantai.
Sementara itu, mata-mata liar lainnya masih menatap tubuh polos Grace yang kini lengket dan berkilau, jelas belum puas hanya melihat satu orang saja yang menikmati tubuhnya.
Grace menggeliat keras, mencoba melepaskan diri, namun genggaman kasar itu semakin menekan. Jemari kotor dan keras mengunci pergelangan tangannya, membuat rasa sakit menjalar ke sendi-sendinya. Napasnya memburu, matanya berair, tubuhnya sepenuhnya dalam cengkeraman mereka.
"Aaa... jangan baanng !! Lepasin aku!!" jeritnya sambil meronta, tapi hanya terdengar tawa kasar yang menggema di ruangan sempit itu.
Mata Grace terbelalak, dadanya naik turun cepat, ia tahu tubuhnya kini berada di bawah kendali orang-orang bejat itu, terkunci rapat tanpa celah sedikit pun untuk melarikan diri.
Grace hanya bisa menjerit ketika batang besar sang pemimpin menghujam masuk ke dalam vaginanya yang masih kering. Rasa perih membuat tubuhnya menegang, kaki yang ditekuk ke arah dada bergetar hebat.
"Aaakhhh... sakit...!!!" teriak Grace dengan suara melengking.
Namun lelaki itu sama sekali tidak peduli. Tubuhnya menindih kuat, pinggulnya menghantam brutal, napasnya memburu dengan wajah penuh kepuasan. Ia merasa bangga bisa menaklukkan gadis secantik Grace yang kini berada di bawah kendalinya.
"Rasakan... ini baru awal... gue puas banget bisa entot cewek kayak lu!" katanya sambil mendorong lebih dalam.
Genggaman tangan gelandangan lain di pergelangan Grace semakin menguat, membuatnya tak bisa berkutik. Tubuhnya terkunci rapat, hanya bisa menerima setiap hentakan kasar itu. Air matanya menetes, wajahnya merah padam, sementara raungannya memenuhi ruangan sempit dan kotor itu.
Batang besar itu menghujam keras ke dalam, membuat tubuh Grace terguncang hebat. Kedua kakinya masih tertekuk ke arah dada, posisinya terkunci rapat tanpa ruang gerak sedikit pun. Tangan kasar sang pria menekan pahanya kuat-kuat, menahan agar posisi itu tetap terbuka lebar. Setiap hentakan pinggul membuat lantai kotor itu berderit pelan, tubuh Grace ikut berguncang ke belakang.
"Aaakhhh... Udaahhh... !! Sakitt ...!!!" jerit Grace dengan wajah memerah dan mata berair.
Pria itu hanya meringis puas, menunduk sambil terus menghantam tanpa belas kasihan. "jerit yang keras... Makin lu ngejerit makin napsu gue buat ngancurin badan lu yang seksi ini.
Nafas Grace memburu, dadanya naik turun cepat, tangannya tetap dijepit kuat oleh gelandangan lain. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain merasakan setiap hentakan brutal itu menyalak ke dalam tubuhnya. Tak lama kemudian sang pemimpin orgasme, ia tidak perduli permohonan Grace untuk tidak membuang spermanya di dalam, bahkan dengan sengaja pemimpin itu menekan penisnya sampai dalam dan membuang spermanya di rahim Grace.
Grace diposisikan merangkak di lantai yang kotor dan dingin. Kedua tangannya bertumpu di lantai, menahan beban tubuhnya yang terguncang hebat setiap kali ada hentakan dari belakang. Bokongnya ditarik kasar hingga terangkat tinggi, membuat vaginanya terbuka lebar untuk dihujam batang besar pria gelandangan yang menindihnya dari belakang.
Setiap kali pinggul pria itu menghantam, lengan Grace bergetar keras, hampir tak kuat menahan berat badannya sendiri.
Di depannya, seorang lagi berdiri dengan batang tegak mengarah ke wajahnya. Kedua tangannya menekan kepala Grace agar tetap mendongak, lalu sekali hentakan kasar, penis itu sudah menancap dalam ke mulutnya.
"Uhhkkhh... aakkhh... Suara Grace tercekik, air liur mengalir dari sudut bibirnya, tubuhnya makin berguncang karena dorongan brutal dari dua arah.
Grace masih berada di posisi doggy di atas lantai kotor. Kedua lututnya menekan permukaan dingin dan kedua tangannya bertumpu di depan untuk menahan tubuhnya. Rambut panjangnya terurai berantakan, sebagian menempel di wajah yang sudah basah oleh keringat dan air liur. Dadanya bergoyang liar setiap kali hentakan dari belakang menghantam keras bokongnya hingga lengannya bergetar menahan beban.
Pria di belakang menggenggam pinggang Grace kuat-kuat lalu menariknya ke arah batangnya sebelum menghantam kembali dengan kasar. Suara beradu tubuh menggema di ruangan sempit bercampur dengan desahan berat dari mulut lelaki itu.
Pria lain berdiri di depan sambil memegang kepala Grace. "Tetap tengadah lu," desisnya keras. Batang panasnya langsung menyodok kasar ke mulut Grace hingga bibirnya meregang lebar. Setiap dorongan membuat tenggorokannya tercekik, air liurnya muncrat dari sudut mulut dan menetes ke lantai.
Grace megap-megap dan kedua tangannya bergetar hebat menahan tubuh yang terus terhentak maju mundur. Sesekali lengannya hampir lemas hingga sikunya menekuk dan pipinya nyaris menyentuh lantai sebelum ia kembali menegakkan posisi dengan sisa tenaga. Tubuhnya benar-benar terkunci di antara dua arah tanpa ada celah untuk menghindar.
"Aahh.. nikmatin nih kooontol gelandangan !! Geram pria di belakang sambil menampar keras pantat Grace.
Batang di depan terus menyodok dalam memaksa Grace menelan tiap dorongan tanpa henti. Nafasnya terputus-putus dan suaranya tercekik oleh hentakan brutal itu. Pinggul pria di belakang semakin cepat menghantam hingga genggamannya di pinggang Grace makin erat dan kuku-kuku kotor itu menancap di kulitnya. Tubuh Grace berguncang maju mundur tanpa kendali sementara kedua tangannya yang gemetar masih menopang berat badannya.
"Aaaahhh... gua udah gak tahan lagi... keluarin sekarang!!" teriak pria itu sambil menghentak sekuat tenaga. Batangnya menghujam sedalam-dalamnya ke dalam vagina Grace, lalu seketika semburan panas dan kental memuncrat deras di dalamnya. Cairan itu memenuhi rongga sempitnya, sebagian mengalir keluar dan menetes di paha mulus Grace.
Di saat yang sama, pria di depan menggenggam rambut Grace kuat-kuat. "Telan nih semua. Awaasss kalau dimuntahin.. bentaknya sambil menekan kepalanya rapat ke batangnya. Sekali dorongan keras, cairan pekat menyembur deras ke tenggorokan Grace.
Mulutnya penuh dan sebagian ia telan paksa sementara sisanya meluber keluar dari bibirnya lalu menetes ke lantai. Air liur bercampur sperma mengalir membasahi dagunya lalu menetes ke dadanya yang berguncang. Pria di belakang mengerang panjang lalu terduduk lemas sementara yang di depan menarik batangnya dengan cepat hingga meninggalkan jejak cairan putih di wajah Grace.
Grace masih berada di posisi doggy dengan kedua tangannya yang bertumpu lemah di lantai. Lututnya gemetar dan tubuhnya lengket oleh cairan dari dua arah. Nafasnya tersengal dan dadanya naik turun cepat sementara suara tawa serta sorakan puas dari sekeliling masih terus menggema.
Rambut Grace dijambak kuat dari belakang oleh seorang gelandangan hingga kepalanya tertarik ke atas dan tubuhnya terhuyung ke depan. Nafasnya makin tersengal dan kedua tangannya berusaha keras menahan beban di lantai namun si penjambak tidak berhenti menyeretnya maju. Di hadapannya seorang gelandangan lain sudah berbaring di lantai dengan batangnya menegang dan wajahnya menyeringai menunggu.
"Ayo, dudukin batang gue sekarang!" hardiknya kasar.
Grace ditarik ke arah lelaki yang berbaring itu. Kedua lututnya merayap di lantai kotor, lalu tubuhnya ditekan dari belakang hingga pinggulnya tepat di atas batang yang berdiri tegak. Dengan sekali hentakan, bokongnya diturunkan keras, membuat batang itu menembus penuh ke dalam vaginanya.
"Aaakhhh...!!" jeritnya pecah, tubuhnya berguncang hebat.
Lelaki yang berbaring langsung mencengkeram pinggangnya, sementara si penjambak terus menarik rambutnya agar tubuhnya menunduk. Posisi itu membuat buah dadanya terguncang liar, sementara pinggulnya dipaksa naik turun.
"Lonjakin badan lu !! Puasin gue lonte !! Teriak lelaki di bawahnya sambil menepuk-nepuk pantatnya.
Grace terpaksa mengikuti dorongan brutal itu, tubuhnya melonjak naik turun di atas batang penis yang menghujam dalam, sementara sorakan dan tawa puas masih menggema di sekeliling.
Pinggul Grace terus dipaksa melonjak naik turun di atas batang lelaki yang berbaring. Setiap hentakan membuat tubuhnya bergetar, payudaranya berguncang liar, dan erangan tertahan keluar dari mulutnya. Rambutnya masih dijambak kuat dari belakang, membuat kepalanya menunduk rendah, keringat menetes di wajahnya.
Awalnya ia berusaha menahan, tapi dorongan kasar itu menghantam titik sensitifnya tanpa ampun. Gerakan cepat, hentakan keras, dan gesekan yang terus-menerus menghajar bagian terdalamnya. Tubuhnya mulai kehilangan kendali.
"Nggghhh… ahhh…." suaranya pecah, tangannya gemetar menekan lantai. Pinggulnya justru bergerak lebih liar, menuruti ritme paksa itu. Sensasi panas menjalar dari perut bawahnya hingga ke seluruh tubuh.
Puncaknya datang begitu kuat, membuat Grace menjerit panjang. Seluruh tubuhnya menegang, lututnya bergetar hebat, dan dinding vaginanya berkontraksi mencengkeram batang yang menancap dalam. Lendir kawin hangat menyembur keluar, membasahi batang lelaki itu dan membuat lantai kotor di bawahnya bertambah lengket.
'Apa-apaan ini bangsat... lepasin tu cewek'
Grace merasa penderitaannya akhirnya berakhir karena ada yang datang menolongnya, namun betapa terkejutnya ia ketika melihat sekitar 15 orang preman bertubuh besar dan penuh tatto, separuhnya bertubuh hitam dan berambut keriting berkumpul menghampiri dia.
'Sekarang lonte ini punya kami, lu pada ngacir dulu, kalo kami udah bosen baru lu boleh pake dia lagi'
Segera para pengemis, gelandangan dan pemulung itu berhamburan keluar. meninggalkan Grace yang berusaha menutupi ketelanjangannya dengan membuat tubuhnya menyerupai bola, dikelilingi para preman itu.
Mata Grace membeliak melihat penis preman itu yang telah dimodifikasi sehingga panjangnya berkisar 14' diameter kepalan tangan orang dewasa, dan diberi berbagai aksesoris mulai dari biji tasbih, batang sikat gigi, sampai rambut kuda.
Grace tau bahwa tujuan mereka hanya satu... menyiksa perempuan yang mereka dapatkan. Kepala preman itu maju dan memukuli Grace sambil berkata...
'Sekarang lu adalah lonte, cuma lonte, lu harus panggil kita-kita tuan, dan nurut apa kata kita, atau gua entot lu sampai mampus'
Grace hanya bisa pasrah, ia benar-benar tidak berdaya untuk melawan. dan penderitaaan barunya dimulai. Penis-penis besar itu memang dirancang untuk menyiksa vagina wanita. Grace menjerit-jerit sejadi-jadinya menahan perkosaan brutal mereka, mulut anus, vaginanya benar-benar jadi pelampiasan nafsu mereka.
'Wah, nih lonte sudah mati rasa kali' ujar seorang preman sambil menginjak vagina Grace yang sudah berantakan bentuknya,
'Gimana kalo kita buat dia ngejerit lagi'
Grace cuma pasrah ketika mereka menunggingkannya, namun betapa terkejutnya Grace ketika merasakan dua kepala penis terbesar dari preman itu menghujam anusnya, ia berusaha berontak, namun apa daya karena tubuhnya dipegang erat oleh preman lainnya.
“Liat tuh pantatnya nganga lebar banget... pantes aja dibilang perek bo'ol lower. Ejek salah seorang pria sambil tertawa puas.
Grace merintih panjang dan wajahnya menunduk hingga rambutnya terurai menutupi pipi yang basah oleh keringat dan air liur. Sensasi perih bercampur kenikmatan liar membuat tubuhnya bergetar tanpa kendali. Setiap dorongan yang menghujam membuat dinding anusnya meregang dan mengeluarkan suara basah yang memalukan.
Pria di belakang menampar bokongnya keras. “Gerakin lagi... ayo goyangin pantatmu biar makin dalem !!” bentaknya kasar.
Dengan tubuh yang lemah Grace berusaha menggoyangkan bokongnya mengikuti irama. Tangannya tetap bertumpu di lantai dan gemetar karena hentakan yang begitu brutal. Sorakan gelandangan lain menggema di sekitar dan menambah rasa malu sekaligus memaksa Grace terus bermain sesuai perintah mereka.
Grace sudah tidak bisa merasai vagina dan anusnya, yang ia rasakan hanya hembusan angin dingin ketika lubangnya kosong dan penuh ketika sedang diperkosa.
Dan memang benar, setelah kumpulan preman itu pergi, gerombolan gelandangan, pengemis dan pemulung datang kembali, bahkan dalam jumlah yang lebih besar.
Tujuan mereka hanya satu. Ngentotin wanita tsb.
Grace tidak tau lagi berapa lama ia disekap di rumah kumuh itu, yang ia tau jumlah pemerkosanya terus bertambah dan makin brutal. Grace tidak menyadari efek perkosaan yang dialaminya, keringat yang mengalir deras, kontraksi otot... menyebabkan tubuh Grace makin berbentuk, ototnya makin terbentuk jelas. Lehernya makin jenjang, dadanya membusung dan membulat, pinggulnya bulat penuh, kakinya makin jenjang, dan secara keseluruhan makin membuat Grace mempesona, dan membangkitkan birahi.
Bukan hanya perkosaan, perbuatan yang merendahkan martabat pun terpaksa dialami Grace, ketika perempuan-perempuan gelandangan, bukannnya membantunya malah ikut melecehkannya dengan memaksanya memuaskan mereka, dan mereka juga melakukan fisting terhadap vagina dan anus Grace, sampai ke siku, atau menyuruh anak-anak mereka mengencingi tubuh Grace dan menjadikan mulutnya toilet, atau memaksa Grace 'menceboki' anak-anak mereka dengan lidahnya yang sexy.
Grace juga menjadi sarana 'percobaan'dan 'pelatihan' untuk anak-anak gelandangan, pengemis atau pemulung yang ingin merasakan 'nikmatnya ngentot'.
Akhirnya Grace tak mampu bertahan lagi, tubuhnya sudah tidak sanggup menerima siksaan dan hinaan itu. Terakhir matanya berkunang-kunang ketika melihat mereka menggiring lima orang gila untuk mengentotnya, pandangannya mengabur ketika merasakan tangan-tangan orang gila itu menggerayangi tubuhnya, dan akhirnya Grace pingsan ketika merasakan penis-penis orang gila itu merejok ke dalam mulut, vagina dan anusnya dengan brutal.
Grace Dibuang Begitu Saja.
Sudah dua minggu sejak Grace dinyatakan hilang. Pencarian besar-besaran dilakukan oleh aparat, keluarga, hingga relawan, namun hasilnya nihil. Sampai pada suatu pagi yang mendung, sebuah rombongan pencari mendapati sesuatu yang mencurigakan di area pembuangan akhir sampah yang luas dan penuh bau busuk menusuk hidung.
Di antara tumpukan karung plastik, bangkai hewan, dan limbah rumah tangga yang membusuk, mereka menemukan tubuh seorang wanita. Ketika mereka mendekat, seluruh rombongan terdiam kaku. Tubuh itu masih hidup, meski sangat mengenaskan. Itulah Grace.
Ia telanjang bulat, hanya menyisakan sepasang high heel lusuh yang masih menempel di kakinya. Kulit mulusnya yang dulu memesona kini belepotan campuran cairan menjijikkan. Sperma kering, bercak kotoran, bahkan genangan air kencing yang meresap ke pori-porinya. Tubuhnya berlumuran debu dan lumpur hitam yang menempel seperti kerak.
“Ya ampun.. ini... ini Grace?” Bisik salah satu pencari dengan wajah ngeri.
Kondisi Grace benar-benar di luar dugaan. Vaginanya dan anusnya disumpal dengan botol kaca saus sambal berukuran besar, botol yang kotor, berkarat di bagian tutupnya, dan jelas berasal dari timbunan sampah. Botol itu tampak memaksa otot-otot tubuhnya meregang hingga batas tak wajar.
Rambutnya kusut, gimbal, penuh remah plastik, kertas, dan tanah. Wajahnya bengkak, pipinya lebam, bibirnya pecah-pecah. Mulutnya terbuka kaku, rahangnya terkunci seakan membeku setelah dipaksa menelan dan melakukan ratusan kali blowjob dan deepthroat. Cairan putih kental masih menempel di sudut bibir dan mengering di lehernya.
“Cepat panggil bantuan!!” Teriak seseorang dengan panik, namun langkah mereka tetap tertahan karena rasa ngeri membuat kaki sulit digerakkan.
Dadanya masih naik turun pelan tanda ia masih bernapas. Nafasnya sengal dan berat terdengar seperti desisan dari tenggorokan yang tersumbat. Matanya sayu dan kosong menatap langit tanpa fokus seakan seluruh kesadaran sudah habis terkuras.
“Kasihan sekali... siapa pun yang melakukan ini mereka benar-benar biadab” ujar salah seorang anggota rombongan dengan nada marah bercampur jijik.
Seorang pencari mencoba menyelimuti tubuh Grace dengan jaket seadanya tapi kain itu tidak sanggup menutupi semua luka dan noda. Paha bagian dalamnya penuh bekas cakaran dan lebam keunguan sementara kakinya gemetar hebat seolah tubuhnya sudah kehilangan tenaga untuk menopang dirinya.
Beberapa orang menutup hidung karena bau amis bercampur busuk sangat menyengat dan rasa iba membuat mereka tetap berada di tempat.
“Dia pasti butuh waktu lama untuk pulih” gumam seorang relawan wanita dengan mata berkaca kaca.
Suasana hening hanya tersisa desahan lemah Grace yang sesekali berubah menjadi isakan nyaris tidak terdengar. Bagi keluarganya perjalanan untuk mengembalikan Grace seperti sedia kala jelas akan sangat panjang dan mungkin tidak akan pernah benar-benar berhasil. Yang terlihat di depan mata hanyalah sisa kehormatan seorang gadis yang hancur dipermainkan lalu dibuang seperti sampah di tempat yang paling menjijikkan.



Akhirnya ada juga cerita yang brutal, mantap suhu!
BalasHapusSaran hu, ceritanya dibikin lebih panjang lagi dengan ditambahkan unsur interasial amoy-pribumi, ikatan bondage, gag, kalung dan rantai anjing, merangkak dan makan seperti anjing, siksaan cambuk, diludahi mukanya, diinjak kepalanya, dikencingin, ditulisin spidol atau ditato, ditindik hidung, puting dan klitorisnya dengan cincin yg bisa ditarik rantai, dijadiin peliharaan atau perek murahan, bestiality, lalu difoto, divideo dan disebarkan, biar brutalnya makin maksimal hu
HapusSelain itu Grace juga sudah disuruh memanggil para pemerkosanya dengan sebutan tuan, tapi disepanjang cerita gak pernah ada dialog menyebut tuan sama sekali?
Damn.... my old story reemerges
BalasHapus