Langsung ke konten utama

Draft Arisan sosialita Yang Brutal

By : Analconda13

Siang itu aku berdiri sebagai tukang parkir paruh baya yang jelek dengan perut buncit serta gigi kuning di depan sebuah bangunan ruko empat lantai yang mewah. Toko roti itu terletak di deretan komplek komersial mewah yang biasa dikunjungi para wanita kelas atas di kawasan perumahan superelite pesisir pantai Jakarta Utara. Aku memakai baju seragam parkir biru lusuh yang sudah kusam. Biasanya aku hanya melamun sambil mengawasi mobil-mobil mewah yang keluar masuk sehingga hari-hari berlalu tanpa arti.

Kali ini semuanya berubah ketika seorang wanita Chindo seksi bernama Angela datang. Ia memiliki kulit putih mulus bibir merah yang seksi dan tubuh ramping berlekuk sempurna yang selalu memakai gaun ketat. Angela mendekatiku lalu tersenyum manis.

"Bang.. udah makan siang belum ? tanyanya.

"Belum cii.. hari ini pengunjung sepi jadi belum dapat duit parkiran buat makan. jawabku.

"Emang sehari harinya abang bisa dapat berapa duit kalau kerja jadi tukang parkir begini ? tanyanya lagi.

"Gak banyak cii.. paling banter sehari cuma dapet seratus lima puluh. Itu juga kalau pengunjung toko lagi ramai dan belum dipotong duit setoran ke ormas daerah sini. Ujung ujungnya palingan saya cuma terima lima puluh seharinya. jawabku dengan wajah sedikit memelas berharap dikasih uang tambahan.

"Kasian juga ya si abang. Udah tiap hari kepanasan.. dapat duitnya juga gak seberapa lagi karena harus setor sana sini. katanya.

"Iya ciii.. beginilah kalau hidup jadi orang susah dijakarta. Boro boro mau punya mobil kayak enci.. haha.. Buat makan aja susah.. apalagi saya juga harus membiayai keluarga dikampung. sahutku.

"Emang udah punya anak berapa bang ? tanyanya.

"Banyak cii.. anak yang dikampung aja ada lima. Yang dijakarta ada tiga.. makanya saya pusing banget buat nutupin biayanya. jawabku.

"Lah.. anaknya kenapa banyak amat bang. Emang istrinya ada berapa sih. Kok anaknya bisa sebanyak itu ? tanyanya heran.

"Istri saya mah cuma tiga cii.. yang dua tinggal dikampung. Terus yang satu lagi tinggal disini bareng saya. jawabku.

"Waduh.. istrinya banyak juga ya bang.. padahal abang kan kerjanya cuma jadi tukang parkir kayak gini.. emang gak berat apa biayanya.. katanya.

"Ya. Kalau mau dibilang berat ya pasti berat lah cii.. tapi mau gimana lagi. Biarpun saya cuma jadi tukang parkir liar kayak gini tapi saya orangnya tanggung jawab cii sama keluarga. Saya selalu rutin kirim duit ke kampung karena saya gak mau anak saya sampe kelaparan. Hehe.. sahutku.

"Wah bagus dong kalau gitu.. jadi lelaki emang harus kayak gitu bang.. gak boleh nelantarin anak istri dirumah. Ya udah sekarang saya mau pergi ke salon dulu ya bang. Ini roti buat makan siang abang. Kalau bisa sih dibagi ke teman temannya juga. Dan kalau abang lagi butuh uang tambahan nanti bisa hubungi saya dinomor kontak ini. katanya sambil memberikan sebuah kartu nama dengan logo sebuah yayasan sosial terkenal dibagian atasnya.

Beberapa hari kemudian saat sedang jaga parkir bersama dua temanku di depan toko roti mewah. Aku kepikiran hutang kontrakan yang sudah tiga bulan nunggak sehingga pikiranku kacau. Ditengah kegalauan itu aku coba hubungi Angela menggunakan pesan singkat.

"Maaf ganggu ci.. enci masih inget saya nggak ? Pak Bahar yang jadi tukang parkir didepan toko roti. Waktu itu kan katanya kalau saya lagi butuh uang tambahan boleh hubungi enci.. tulisku dalam pesan singkat meskipun aku tak yakin dia akan membalasnya.

"Ohh iya saya masih ingat sama pak.. emang bapak beneran lagi butuh uang tambahan ya..

"Iya cii.. saya butuh banget.. soalnya minggu depan saya udah harus bayar uang kontrakan kamar. Kalau ngga.. saya bakal diusir sama pemiliknya. Enci bisa bantu saya kan ? Tolong deh cii... Kasih saya kerjaan apa kek.. yang penting saya bisa dapet uang tambahan buat bayar kontrakan kamar.

Tak kusangka beberapa saat kemudian Angela langsung membalas pesan dengan cepat. "Bisa pak Bahar. Kalau bapak butuh uang tambahan. saya punya kerjaan yang bagus buat bapak dan teman-teman. katanya. 

Aku penasaran lalu balas lagi. 

"Kerjaan apa ci..

"Kerjaan mudah kok pak.. bapak cuma perlu ikut acara arisan sosialita di rumah saya minggu depan. Di sana banyak teman saya yang wanita-wanita kelas atas. Tapi untuk rincian jelas pekerjaannya saya belum bisa sampaikan sekarang. 

"Tapi bagaimana caranya ci. Saya kan cuma tukang parkir rendahan sedangkan yhag yang ikut acara itu orang kelas atas semua. Saya takut nanti malah bikin susah enci..

"Itu mah gak jadi masalah pak. Kita emang gak butuh orang yang pinter tapi cuma butuh pria yang kuat aja. Tulisnya sambil menambahkan emoticon yang menggoda dan terkesan genit.

"Kalau soal tenaga mah boleh diadu cii.. waktu dikampung dulu aja saya pernah gantiin kebo bapak saya untuk bajak sawah seharian. Haha.. balasku dalam pesan.

"Berarti tenaga bapak kuat banget dong ya.. kalau kuat disawah berarti kuat ditempat lain juga dong ya.. Balasnya dalam pesan yang kembali menambah emoticon genit dan perlahan membuatku tersadar akan maksudnya.

"Kalau soal itu mah gak usah ditanya ci.. maaf ya ci.. bukannya saya mau ngomong ngak sopan sama enci. Tapi kalau lagi diranjang saya bisa sanggup lima ronde sama istri saya..

"Hehe.. aduh kok ngomongnya jadi kearah sana sih pak..

"Iya cii.. maaf saya cuma becanda aja kok.. abisnya Enci mancing mancing saya pakai emoticon kayak gitu sih.. haha..

"Ya udah kalau bapak emang beneran kuat. Coba buktiin langsung aja nanti di arisan.Tapi sebelumnya kalian wajib tes kesehatan dulu di klinik yang sudah saya tunjukkan. Klinik itu dekat ruko kalian. Tes darah dan kesehatan umum supaya aman. Nanti setelah hasil keluar baru kalian boleh datang ke rumah saya untuk memeriahkan acara arisannya. lanjut Angela. 

"Waduh kok pakai tes kesehatan segala ci.. emangnya saya mau disuruh kerja apaan nih ? Lagian saya juga ragu cii.. soalnya saya gak punya keahlian apa apa yang bisa dipake buat kerja. Palingan saya cuma bisa kerja yang mengandalkan tenaga aja..

"Nah justru itu. Kerjaan ini emang butuh orang kayak bapak. Kerjaannya gak perlu keahlian khusus yang penting orangnya kuat dan tahan lama.

Aduhh Enci bikin saya tambah penasaran aja nih. Emangnya saya mau disuruh ngapain nanti ? Mau disuruh benerin genteng rumah enci yang bocor ya.. 

"Udah bapak gak usah banyak tanya. Nanti juga bakalan tahu sendiri kerjaannya kayak apa. Yang pasti orang kayak bapak dan teman teman bapak mah pasti bisa mengerjakannya.

"Baik ci. Saya dan teman-teman akan langsung tes besok pagi. 

"Bagus. Setelah tes selesai langsung kabari saya. Saya tunggu kalian di rumah saya. Jangan lupa minum obat kuat ya pak.. biar tahan lama kerjanya.. katanya sambil menambahkan emoji nakal. 

Aku tersenyum lebar sambil membayangkan bayaran yang yang akan kuterima. Dua temanku juga ikut senang ketika aku ceritakan tawaran itu sehingga kami bertiga langsung siap tes kesehatan keesokan harinya.

Awalnya Aku memang sempat terkejut mendengar tawaran pekerjaan itu karena selama ini kami hanya dianggap rendahan oleh orang-orang kaya di sana. Namun semangat hidup langsung menggebu gebu ketika ditawari pekerjaan dengan bayaran yang katanya lumayan tinggi. Setelah menyelesaikan syarat yang diberikan akhirnya Angela menyuruh kami untuk datang langsung kerumahnya tepat diacara arisan sosialita yang sedang berlangsung.

Belakangan ini aku baru menyadari kalau Angela bukan hanya seorang sosialita yang sibuk menghadiri berbagai acara mewah di kalangan elit. Ia dan suaminya juga mendirikan sebuah yayasan sosial yang rutin membantu masyarakat tak mampu di pemukiman kumuh. Sifatnya ramah dan penuh empati sehingga ia sering memberikan bantuan langsung kepada orang-orang seperti tukang parkir atau pekerja harian yang kesulitan hidup. Banyak yang memuji kebaikan hatinya karena yayasan itu memberikan makanan gratis pendidikan bagi anak jalanan serta dana darurat untuk keluarga miskin.

Di balik sikap ramah dan empati itu Angela menyimpan hasrat liar yang kuat. Suaminya sibuk mengurus bisnis di luar negeri sehingga jarang pulang ke rumah mewah mereka. Rasa kesepian itu membuat birahi Angela semakin membara. Ia sering mencari kepuasan dengan cara yang tak terduga seperti mengajak pria-pria rendahan untuk menggauli tubuhnya yang seksi. Payudara montoknya dan liang kewanitaannya yang selalu basah oleh lendir kawin membutuhkan sentuhan kasar serta kejantanan kuat untuk memuaskannya

Aku mulai menduga kalau Angela dan teman-temannya adalah simpanan pejabat tinggi serta pengusaha kaya raya, wanita-wanita cantik yang hidup dalam kemewahan tapi bosan dengan rutinitas, sehingga mereka menciptakan permainan arisan ini di mana pemenang bukan hanya membawa pulang uang miliaran dari potongan arisan, tapi juga kenikmatan terlarang yang akan membuat mereka merasakan sesuatu yang primitif dan kasar. 

Dengan jantung berdegup kencang aku melangkah masuk ke ruang tamu yang luas. Lampu kristal menyinari sofa empuk di sana. Angela dan lima temannya sudah menunggu. Semuanya cantik dan berpakaian provokatif. Mata mereka penuh nafsu saat memandang kami bertiga yang kumal dan bau keringat setelah seharian bekerja di bawah terik matahari.

Malam itu di rumah mewah Angela aku dan kedua temanku Pardi serta Asep berdiri canggung di ruang tengah yang luas. Lampu kristal menyinari segala kemewahan. Tiba-tiba Angela muncul di atas tangga marmer melingkar. Ia turun perlahan dengan langkah anggun seperti ratu pesta. Wanita Chindo itu memakai sepatu hak tinggi bertali yang membuat kakinya terlihat jenjang dan tubuhnya semakin seksi. Teman-teman sosialitanya yang sudah duduk melingkar di sofa mewah langsung menyambutnya dengan sorak meriah dan tepuk tangan penuh nafsu. Mereka memanggil namanya sambil tertawa genit.

"Angela! Pemenang malam ini!" seru mereka.

Kami bertiga tercengang tak berkata-kata. Mulut kami ternganga melihat kemolekan tubuhnya yang luar biasa. Gaun malam merah seksi ketat membalut sempurna payudaranya yang montok dan penuh. Pinggang ramping serta bokong bulat menggoda yang bergoyang pelan setiap anak tangga. Kulit putih mulus Chindo-nya bersinar di bawah cahaya. Belahan dada dalam yang hampir meledak.. slit gaun tinggi memperlihatkan paha halusnya yang jenjang dan wajah cantiknya dengan bibir merah seksu serta mata sipit yang penuh godaan. 

Begitu sampai di tengah ruangan Angela tersenyum nakal seperti wanita haus seks yang sudah lama menahan diri. Lalu ia mulai menari erotis di hadapan kami bertiga. Pinggulnya berputar pelan dan menggoda. Tangannya menyusuri tubuh sendiri dari leher turun ke dada. Ia meremas payudaranya sendiri di atas gaun satin merah itu sambil mendesah lembut. Kemudian ia berbalik memperlihatkan bokongnya yang bergoyang naik turun mengikuti irama musik pelan yang mengalun dari speaker tersembunyi.

Aku merasa jantungku hampir copot. Tanganku yang kasar gemetar saat Angela mendekat. Ia menggesekkan tubuhnya ke tubuhku sebentar. Aroma parfum mahalnya bercampur panas tubuhnya membuat nafsuku meledak.

"Kalian semua bebas menyentuhku malam ini.. Godanya dengan kedipan mata.

Pardi dan Asep ikut mengelilinginya. Tangan mereka mulai menyentuh pinggang dan paha Angela dari luar gaun yang masih utuh. Mereka merasakan kelembutan kulitnya melalui kain tipis itu. Sementara teman-temannya menonton dengan mata lapar. Tangan mereka sendiri sudah merayap ke balik rok. Mereka siap menyaksikan bagaimana kami pria rendahan akan memuaskan simpanan pejabat yang kini menari semakin liar dan haus sentuhan kasar di tengah kami.

"Ayo.. buat aku merasakan bagaimana pria rendahan seperti kalian menguasai seorang wanita chindo kelas atas seperti aku. berbisik Angela.

Teman-teman Angela duduk blingsatan di atas sofa besar yang mewah. Tangan mereka sudah menyelinap ke balik rok dan buah dada mereka sendiri. Mereka siap menyaksikan setiap detail gangbang yang akan segera dimulai. Lidahku yang kasar pertama kali menyentuh kulit lehernya yang harum. Aku merasakan getaran tubuhnya yang sudah basah dan siap untuk dinikmati secara kasar sepanjang malam.

Setelah Angela menari erotis dengan liar di tengah kami bertiga pinggulnya yang bulat bergoyang menggoda. Tangannya meremas payudaranya sendiri di balik gaun malam merah ketat itu. Bibirnya mendesah pelan penuh godaan. Aku tak tahan lagi lalu melangkah maju bersama Pardi dan Asep. Kami mulai mencumbunya sambil berdiri. Tubuh Angela yang molek masih tegak di antara kami bertiga.

Aku berdiri di depannya. Tangan kasar dan kotorku meremas pelan payudaranya yang montok dari luar kain satin merah yang licin. Aku merasakan putingnya mengeras menekan telapak tanganku. Mulutku mengecup dan mengisap leher putihnya yang harum. Lidahku menjilat kulit halusnya yang panas. Pardi di sebelah kanan Angela menggendong pinggangnya dengan lengan kekarnya. Ia mengangkat tubuh ramping wanita Chindo itu sedikit sehingga kakinya hampir terangkat. Tangan besarnya menyusuri paha mulus Angela melalui slit gaun yang tinggi lalu meremas bokongnya yang empuk dengan kasar. Asep di sebelah kiri ikut menggendong sisi tubuh Angela yang lain. Tangannya yang kasar merayap masuk ke belahan dada gaun merahnya lalu meremas payudara kanannya langsung dari kulit. Ia mencium bahu telanjang Angela dengan rakus. 

Kedua kaki Angela dibuat mengangkang lebar oleh Pardi dan Asep yang mengangkat serta menahan paha dalamnya masing-masing. Gaun merah seksi itu tersingkap tinggi hingga pinggang. Celana dalam lace hitam tipisnya sudah basah. Angela mendesah semakin keras. Tubuhnya menggeliat nikmat di antara gendongan kasar kami. Pinggulnya bergerak pelan seolah meminta lebih. Aroma parfum mahalnya bercampur bau keringat kami yang rendahan memenuhi ruangan mewah itu. Teman-teman sosialitanya duduk melingkar semakin dekat. Mata mereka lapar dan tangan mereka sibuk di balik gaun sendiri. Mereka menyaksikan bagaimana simpanan pejabat kaya ini kini tergantung di antara tiga pria paruh baya jelek sambil menikmati setiap remasan dan jilatan perlahan kami yang semakin intens.

Tubuh Angela yang molek masih tergantung di udara di antara gendongan kuat Pardi dan Asep. Mereka mengangkat pinggang dan paha dalamnya lebar-lebar sehingga kedua kakinya mengangkang sempurna. Gaun malam merah seksi itu tersingkap total hingga pinggang. Celana dalam lace hitam tipisnya sudah ditarik ke samping oleh tangan kasar Asep. Aku jongkok di lantai karpet Persia yang empuk tepat di depannya. Wajah jelekku yang paruh baya mendekat ke memeknya yang mulus putih dan sudah banjir basah. Lidahku yang kasar mulai menjilat pelan dari bawah ke atas. Aku merasakan rasa manis asin cairannya yang melimpah.

"Ahh… ya… tusuk lebih dalam.. rintih Angela.

Tubuh Angela menggelinjang liar di udara. Pinggulnya bergetar tak terkendali karena hanya ditopang oleh lengan kekar Pardi dan Asep. Payudaranya yang montok naik turun cepat di balik gaun merah yang kusut. Aku menyodokkan tiga jari tanganku yang hitam kotor dan penuh kapalan ke dalam lubang memeknya yang sempit dan panas. Aku mengocoknya perlahan tapi kuat dengan gerakan keluar masuk yang berirama. Jemariku merasakan dinding dalamnya yang berdenyut dan semakin licin. Angela merintih semakin nyaring. Kepalanya mendongak. Rambut hitam panjangnya bergoyang. Kakinya mengejang di gendongan teman-temanku.

"Aakkkhh.. iyaaa.. Lebih kasar lagi..… ahh… kalian rendahan ini… membuat aku gila.. desah Angela.

Aku terus menjilat klitorisnya yang membengkak dengan lidahku yang rakus. Sesekali aku mengisapnya kuat. Sementara tiga jariku semakin cepat mengocok memeknya yang berbunyi cipratan cairan. Seluruh tubuh simpanan pejabat itu gemetar hebat di udara. Teman-teman sosialitanya yang kini sudah setengah telanjang di sofa menyaksikan dengan tatapan lapar.

Setelah lidahku yang kasar dan tiga jariku yang hitam kotor mengocok memeknya hingga cairan beningnya menetes deras ke karpet Persia aku bangkit berdiri. Kontolku sudah mengeras sepenuhnya tegang dan berdenyut di balik celana lusuhku. Pardi dan Asep masih menggendong tubuh Angela yang menggelinjang di udara. Kedua kakinya tetap mengangkang lebar sehingga memeknya yang merah basah dan mengkilap terbuka sempurna di hadapanku. 

Aku mendekat lalu mengeluarkan kontolku yang besar dan berurat kasar. Aku menggesekkan kepalanya pelan di celah memek Angela yang panas dan licin. Hal itu membuatnya merintih panjang.

"Masukin… aku mau sekarang.. rintih Angela.

Dengan tangan kiriku memegang pinggul rampingnya yang masih terbalut gaun merah kusut aku mendorong pinggulku maju perlahan. Aku merasakan kepala kontolku meregang dinding memeknya yang sempit dan basah. Kontolku masuk pelan senti demi senti hingga separuh. Panasnya yang luar biasa membuatku mendengus kasar. Angela menggelinjang hebat di gendongan kedua temanku. Tubuhnya melengkung. Payudaranya naik turun cepat di balik gaun. Aku menarik wajahnya ke depan dengan tangan kananku yang kasar lalu melumat bibir merah tebalnya dengan rakus. Lidahku menyusup masuk lalu menari liar dengan lidahnya yang manis. Aku menghisap dan menggigit pelan bibir bawahnya sambil mulai genjot pinggulku naik turun dengan irama sedang. Kontolku keluar masuk memeknya semakin dalam hingga pangkal. 

Bunyi cipratan cairan dan benturan daging memenuhi ruangan mewah itu. Setiap dorongan membuat Angela mengerang ke dalam mulutku. Tubuhnya tergantung tak berdaya di udara. Kakinya mengejang di lengan Pardi dan Asep. Aku terus melumat bibirnya tanpa henti. Lidah kami saling jilat dan hisap penuh nafsu. Genjotanku semakin kuat dan dalam. Aku merasakan memeknya yang berdenyut menggenggam kontolku erat seolah tak ingin melepas. Teman-teman sosialitanya menonton dengan tatapan lapar. Mereka kini sudah terbuka lebar menyaksikan setiap detail penyatuan kasar antara pria rendahan sepertiku dengan simpanan pejabat yang haus kenikmatan ini.

Nafsu ku sudah meledak tak terkendali saat kontolku yang besar dan berurat kasar tenggelam sepenuhnya di dalam memeknya yang sempit dan basah. Aku mulai genjot pinggulku dengan kasar dan brutal. Setiap dorongan kuat membuat tubuh Angela yang tergantung di udara berguncang hebat di gendongan Pardi dan Asep.

"Lonte Cinaa !!" umpatku kasar sambil menatap wajah cantiknya yang memerah. 

"Hari ini kita bakal pejuin memek lu sampe luber !! umpatku lagi.

Aku tampar pipinya yang mulus berkali-kali dengan telapak tangan kasarku. Plak! Plak! Plak! Suara tamparan memenuhi ruangan. Bekas merah muncul di kulit putihnya. Hal itu justru membuat Angela merintih semakin liar. Memeknya semakin mencengkeram kontolku erat. Cairannya menyembur keluar setiap kali kontolku menghantam dalam-dalam. Aku terus menggenjotnya dengan irama ganas. Kontolku keluar masuk cepat dan kuat hingga pangkal. Bunyi cipratan cairan dan benturan daging telanjang bergema. Tanganku yang kotor meremas payudaranya yang montok dari dalam gaun merah yang sudah robek di beberapa bagian. Aku terus mengumpat.

"Memek simpanan pengusaha ini enak juga ya lonte Chindo murahan! Kami pria rendahan bakal isi memek lu sampe penuh!" umpatku.

Angela menggelinjang tak berdaya di udara. Kakinya mengejang lemas di lengan Pardi dan Asep. Mulutnya hanya bisa mengerang dan mendesah.

"Ya… lebih kasar… umpat aku lagi… ahh !! desah Angela.

Matanya sayu penuh kenikmatan terlarang. Aku semakin cepat dan kasar. Tangan kiriku mencengkeram pinggulnya kuat. Kontolku menghantam titik paling dalamnya berulang kali. Akhirnya gelombang kenikmatan membuncah. Aku mendengus keras sambil menampar pipinya sekali lagi lalu mendorong kontolku sekuat tenaga. Aku menyemburkan sperma panasku yang kental dan banyak langsung ke dalam rahim Angela yang berdenyut. Sperma itu memenuhi memeknya hingga luber keluar di sela-sela kontolku yang masih berdenyut di dalamnya. Tubuhnya kejang hebat mencapai klimaks bersama di gendongan kedua temanku. Teman-teman sosialitanya menonton dengan nafsu yang membara.

setelah aku menyemburkan sperma panas dan kentalku hingga memenuhi memeknya hingga luber, tubuh Angela yang lemas dan gemetar diturunkan perlahan oleh Pardi dan Asep ke karpet Persia yang tebal dan empuk. Mereka membalik tubuhnya dengan kasar hingga posisi doggy, lututnya menekuk di lantai, kedua tangannya bertumpu di depan, bokong bulat putih mulusnya terangkat tinggi ke belakang. Gaun malam merah seksi yang tadinya elegan kini sudah benar-benar acak-acakan—roknya tersingkap tinggi hingga pinggang, bagian atasnya robek di bahu dan dada sehingga payudaranya yang montok bergantungan bebas, kain satin merah kusut menempel di kulit putih mulus Chindo-nya yang mengkilap karena keringat dan cairan kenikmatan, membuat penampilannya semakin seksi dan terlihat seperti pelacur kelas atas yang sudah diacak-acak. 

Asep langsung berlutut di belakang Angela, tangan kekarnya mencengkeram pinggul ramping yang putih mulus itu, lalu menyodokkan kontolnya yang besar dan kasar ke dalam memek Angela yang sudah penuh campuran spermaku dan cairannya sendiri, masuk dengan satu dorongan kuat hingga pangkal sambil mendengus, “Enak memek lu.. nyonya.. Chindo!” Ia mulai genjot dari belakang dengan irama cepat dan kasar, setiap hantaman membuat bokong putih Angela bergoyang hebat, bunyi plok-plok-plok memenuhi ruangan, cairan putih kental menetes keluar dari memeknya yang diregang lebar. 

Di depan Pardi berdiri sambil memegang kepala Angela dengan kedua tangan kasarnya. Ia menyodokkan kontolnya yang tegang ke mulut merah tebal wanita itu hingga menembus bibirnya sampai ke tenggorokan. Hal itu membuat Angela mengerang tertahan.

"Mmmphh… ahh!" erang Angela.

Matanya berkaca-kaca tapi penuh kenikmatan. Pardi menggenjot mulutnya dengan dalam. Pinggulnya maju mundur kasar. Air liur Angela menetes deras ke karpet setiap kali kontolnya keluar masuk. Tubuh putih mulus Angela yang indah kini terguncang hebat di antara dua pria rendahan itu. Payudaranya bergoyang liar ke depan belakang. Rambut hitam panjangnya acak-acakan menutupi wajah cantiknya yang memerah. Sementara itu aku duduk di samping sambil mengocok kontolku yang mulai bangkit lagi. Aku menikmati pemandangan simpanan pejabat kaya ini yang kini seperti budak seks di atas karpet mewah rumahnya sendiri. Ia dikelilingi tatapan haus teman-teman sosialitanya yang semakin terangsang melihat gaun merah acak-acakan membingkai tubuh Chindo-nya yang sempurna dan menggairahkan.

Asep semakin bringas dan liar di belakang tubuh Angela yang doggy di atas karpet Persia. Dengan dengusan kasar seperti binatang ia menggenjot memeknya dengan hantaman-hantaman brutal yang semakin cepat dan kuat. Bokong putih mulus Angela bergoyang hebat setiap kali kontolnya menghantam pangkal. Bunyi plok-plok-plok basah memenuhi ruangan. Sesekali tangan kekarnya yang kasar menampar pantat bulat Angela dengan keras. Plak! Plak! Plak! Bekas merah menyala muncul di kulit Chindo yang mulus dan halus itu. Hal itu membuat bokongnya bergoyang lebih liar dan memeknya semakin mencengkeram kontol Asep. Angela hanya bisa menggumam tertahan.

"Mmmphhh… aaahh… !! gumam Angela.

Mulutnya penuh sehingga suaranya tertahan. Hal itu justru membuat Pardi di depan semakin bernafsu. Ia mencengkeram rambut panjang Angela yang dicat kecoklatan dengan kedua tangan lalu menyodok kontolnya makin dalam ke tenggorokan wanita itu hingga bibir merahnya menempel di pangkal kontol Pardi.

Tangan Asep kemudian meraih kepala Angela dari belakang. Ia menekannya kuat-kuat ke depan sambil terus menggenjot memeknya tanpa henti. Hal itu memaksa Angela melakukan deep throat selama beberapa menit yang panjang. Kontol Pardi tenggelam total ke dalam mulut dan kerongkongannya sehingga leher putih mulus Angela terlihat membulat. Air liurnya menetes deras ke karpet. Matanya berkaca-kaca penuh air mata tapi tubuhnya menggelinjang kenikmatan. Angela tersedak dan menggumam hebat. Tubuhnya kejang di antara dua pria rendahan itu. Gaun malam merahnya yang sudah acak-acakan semakin kusut dan robek di pinggang. Payudaranya yang montok bergantungan liar bergoyang ke depan belakang.

Setelah beberapa menit yang menyiksa sekaligus nikmat Asep melepaskan tekanan di kepala Angela. Ia membiarkan Angela menarik napas tersengal-sengal dengan air liur menetes dari bibirnya. Lalu Asep langsung menggenjot memeknya lagi dengan kasar dan ganas dari belakang. Tangannya kembali menampar pantat putih itu berkali-kali sambil tertawa rendah.

"Enak ya lonte? Memek Chindo lu ini emang dibikin buat digenjot pria kasar" katanya.

Tubuh Angela yang putih mulus semakin berkilau oleh keringat. Tubuhnya terguncang hebat di posisi doggy. Sementara itu aku duduk di samping menyaksikan semuanya dengan kontol yang kembali tegang. Aku dikelilingi teman-teman sosialitanya yang kini terbuka lebar menonton dengan nafsu membara.

Setelah beberapa menit deep throat yang membuat leher putih mulusnya terlihat membulat dan air liurnya berceceran Pardi akhirnya menarik keluar kontolnya yang basah mengkilap dari mulut Angela dengan suara plop yang mesum. Angela langsung tersengal-sengal. Mulutnya terbuka lebar. Bibir merah tebalnya bengkak dan penuh air liur yang menetes ke dagu serta gaun merah yang sudah acak-acakan.

Asep, masih dengan nafsu yang membara, langsung membalik tubuh Angela dengan kasar ke posisi telentang di atas karpet Persia yang lembut. Ia mengangkat kedua kaki jenjang wanita itu tinggi-tinggi, menekuk paha mulusnya ke atas hingga lututnya hampir menyentuh dada montok Angela sendiri, memaksa memeknya yang sudah merah dan bengkak terbuka lebar mengangkang sempurna di hadapannya. Gaun malam merah seksi yang tadinya elegan kini benar-benar hancur—roknya terlipat acak-acakan di pinggang, bagian atasnya robek hingga payudaranya yang putih montok tergantung bebas dan bergoyang-goyang, kain satin merah kusut menempel di kulit Chindo-nya yang berkilau keringat, membuat Angela terlihat semakin seksi dan tak berdaya. 

Aku dan Pardi memegangi kedua kaki Angela yang ditekuk itu, menjaga posisinya tetap terbuka maksimal. Asep berlutut di depan, mengarahkan kontolnya yang besar dan berurat ke memek Angela yang sudah penuh campuran cairan, lalu mendorong masuk dengan satu hantaman kuat hingga pangkal. “Ahhh…!” Angela menjerit keras, tubuhnya melengkung, tangannya mencengkeram karpet. Asep langsung menggenjotnya dengan kasar dan brutal, irama hantaman cepat dan dalam, setiap dorongan membuat bokong putih Angela terangkat sedikit dari karpet dan payudaranya bergoyang liar. Posisi ini membuat kontol Asep semakin dalam menembus rahimnya, bunyi plok-plok-plok basah dan cipratan cairan semakin kencang memenuhi ruangan mewah. 

Asep semakin ganas, tangannya mencengkeram paha Angela yang putih mulus sambil terus menggenjot tanpa ampun, keringatnya menetes ke tubuh wanita itu. Angela hanya bisa merintih dan mengerang tak beraturan, “Terlalu dalam… ahh… aku mau lagi…!” matanya terpejam, wajah cantiknya memerah hebat. Setelah beberapa menit genjotan kasar yang tak henti-hentinya, Asep mendengus seperti binatang, pinggulnya mendorong sekuat tenaga, kontolnya berdenyut-denyut di dalam memek Angela, lalu ia klimaks dengan kuat—menyemburkan sperma panas dan kentalnya langsung ke dalam rahim wanita Chindo itu hingga penuh, cairan putih kental meluber keluar dari sela memeknya yang masih terguncang setiap kali Asep mendorong pelan sisa-sisa klimaksnya. Tubuh Angela kejang hebat mencapai orgasme lagi, kakinya mengejang di genggaman kami, sementara gaun merah acak-acakannya semakin basah oleh campuran cairan mereka.

setelah Asep menyemburkan sperma panasnya hingga memenuhi memek Angela yang sudah luber, Pardi dengan nafsu yang masih membara langsung menjambak rambut hitam panjang wanita itu dengan kasar, menarik kepalanya ke belakang hingga Angela mengerang kesakitan bercampur kenikmatan. Ia menyeret tubuh Angela yang lemas tapi masih bergairah ke arah grand piano mewah berwarna putih mengkilap yang terletak di sudut ruangan, lalu memposisikannya berdiri mungging di atasnya—kedua kaki jenjang Angela yang putih mulus ditegakkan di tuts piano, pinggang rampingnya dibengkokkan dalam-dalam sehingga bokong bulatnya terangkat tinggi dan terbuka lebar, gaun malam merah yang sudah robek-robek dan acak-acakan tersingkap total hingga pinggang, memperlihatkan memeknya yang bengkak merah dan meneteskan campuran sperma. 

Dari belakang, Pardi langsung menyodokkan kontolnya yang tegang dan berlendir ke dalam memek Angela dengan satu hantaman kasar hingga pangkal, membuat wanita Chindo itu menjerit nyaring, tubuhnya melengkung di atas piano. Ia mulai menggenjotnya dengan ganas dan brutal, setiap dorongan kuat membuat payudara montok Angela bergoyang liar ke depan-belakang, kain satin merah kusut menempel di kulit putih mulusnya yang berkilau keringat. Sesekali Pardi menekan kepala Angela dengan tangan kasarnya ke deretan tombol piano putih itu, wajah cantiknya yang memerah dan bibir bengkaknya tertekan keras hingga menimbulkan nada-nada tak karuan—ting! tang! tong!—yang campur aduk memenuhi ruangan mewah, suara piano yang kacau bercampur dengan erangan Angela yang semakin liar, “Ahh… Pardi… kasar sekali…!” Bokong putihnya yang sudah memerah bekas tamparan bergoyang hebat setiap hantaman, memeknya mencengkeram kontol Pardi erat, cairan bening bercampur sperma menetes ke permukaan piano yang mengkilap. Aku dan Asep berdiri di samping, mengocok kontol kami sambil menonton, sementara teman-teman sosialita Angela duduk semakin dekat dengan mata lapar, menyaksikan simpanan pejabat itu diperlakukan seperti pelacur rendahan di atas piano mahalnya sendiri.

Pardi masih belum puas setelah menggenjotnya di atas piano. Dengan nafsu yang membara, ia menarik Angela turun dari piano dengan kasar, menjambak rambutnya lagi dan memposisikannya menungging di lantai karpet Persia yang tebal. Angela bertumpu pada kedua kaki jenjangnya yang masih terbalut sepatu hak tinggi hitam mengkilap—tumitnya menancap kuat di karpet—sementara kedua telapak tangannya bertumpu di depan, punggungnya melengkung dalam, bokong bulat putih mulusnya terangkat tinggi dan terbuka lebar ke belakang. Gaun malam merahnya yang sudah hancur acak-acakan tersingkap total hingga pinggang, kain satin robek menjuntai di sisi tubuhnya yang putih mulus berkilau keringat, payudaranya bergantungan bebas dan bergoyang, memeknya yang bengkak merah dan luber sperma terpampang jelas di hadapan kami.

Pardi berdiri tegap di belakangnya, tangan kasarnya mencengkeram pinggang ramping Angela yang halus, lalu menyodokkan kontolnya yang masih tegang keras ke dalam memeknya yang basah dengan satu hantaman kuat hingga pangkal. “Ahhh…!” Angela menjerit, tubuhnya maju sedikit tapi tetap dalam posisi menungging. Pardi mulai menggenjotnya dengan posisi berdiri yang kasar dan dalam, pinggulnya menghantam bokong putih Angela dengan irama ganas, bunyi plok-plok-plok basah bergema keras setiap kali kontolnya masuk keluar. Sambil terus menggenjot tanpa ampun, Pardi memaksa Angela berjalan perlahan sambil tetap menungging—tangan kirinya mencengkeram pinggangnya kuat, tangan kanannya menjambak rambutnya, mendorong tubuh wanita itu maju selangkah demi selangkah menuju tangga mewah marmer yang melingkar di ujung ruangan. Setiap langkah yang dipaksakan membuat hak sepatu Angela goyah, bokongnya bergoyang liar, memeknya semakin mencengkeram kontol Pardi, cairan campuran menetes ke karpet di belakang jejak langkahnya. Angela hanya bisa merintih dan mendesah tak berdaya, “Pardi… pelan… aku… ahh…!” tapi pinggulnya justru mendesak ke belakang meminta lebih, tubuh Chindo putih mulusnya yang sempurna terguncang hebat, payudaranya bergoyang-goyang liar, sementara aku dan Asep mengikuti di samping dengan kontol tegang, menikmati pemandangan simpanan sosialita ini yang dipaksa berjalan menungging seperti anjing jalang menuju tangga, dikelilingi tatapan haus teman-temannya.

setelah Pardi memaksa wanita itu berjalan menungging dari karpet hingga ke anak tangga pertama, ia akhirnya berhenti di anak tangga keempat yang lebar. Pardi duduk di sana dengan kakinya terbuka lebar, kontolnya yang masih keras dan basah menegang tegak, lalu dengan tangan kasar ia menarik Angela ke atas pangkuannya sehingga mereka saling berhadapan. Tubuh Angela yang putih mulus Chindo diturunkan perlahan ke kontol Pardi hingga masuk sepenuhnya ke memeknya yang sudah luber, membuat Angela mendesah panjang “Ahhh… terlalu dalam…!” dengan wajah cantiknya yang memerah dan bibir bengkak. Gaun malam merahnya yang acak-acakan tersingkap total, kain satin robek menjuntai di pinggang dan bahu, payudaranya yang montok bergoyang bebas di depan dada Pardi yang berkulit coklat gelap kasar, kontras yang sangat erotis antara kulit putih halus Angela dengan pria pribumi rendahan paruh baya jelek itu.

Pardi mencengkeram pinggang ramping Angela dengan kedua tangan kekarnya yang hitam, lalu mulai menggenjot kasar dari bawah sambil menyuruh wanita itu melonjak-lonjak tubuhnya sendiri di atas pangkuannya. “Loncat lebih cepat, lonte Chindo! Pakai memek lu yang mahal itu buat ngasih kenikmatan ke gue!” bentaknya sambil menampar pantatnya keras. Angela patuh meski tubuhnya gemetar, ia melonjak naik-turun dengan ritme yang semakin liar, bokong bulat putihnya naik-turun menghantam paha Pardi yang gelap, kontolnya keluar-masuk memeknya dengan bunyi cipratan basah yang mesum setiap kali ia turun sepenuhnya. Payudaranya yang montok bergoyang liar di depan wajah Pardi, putingnya yang mengeras sesekali tersentuh dada kasar pria itu. Pemandangan itu begitu erotis dan terlarang—tubuh mulus sempurna Angela yang biasa dimanjakan pejabat kaya, kini sedang digenjot kasar oleh pria rendahan berkulit coklat gelap, keringat mereka bercampur, gaun merah robek yang masih menempel di kulitnya membuatnya terlihat semakin seksi dan tak berdaya—sampai kontolku yang sudah lemas tadi langsung tegang kembali dengan kuat, berdenyut-denyut di tanganku sambil aku berdiri di anak tangga bawah menyaksikan setiap lonjakan dan hantaman itu, nafsuku meledak melihat betapa rendahnya simpanan sosialita ini kini menikmati kontol kasar pria tukang parkir di tangga rumah mewahnya sendiri.

Aku tak tahan lagi melihat pemandangan tubuh mulus wanita chindo yang putih sempurna itu naik turun liar di pangkuan Pardi. Aku merangsek maju dari belakang. Kontolku sudah tegang keras berdenyut. Lalu aku berbisik kasar di telinganya.

"Hari ini kita kasih bonus lebih buat enci.. bisikku.

Dengan tangan kasar aku mendorong punggung halus Angela hingga dadanya tertekan kuat ke depan menempel dada coklat gelap Pardi yang sedang memangkunya. Hal itu membuat bokong bulatnya terangkat lebih tinggi dan terbuka lebar di hadapanku. Aku menyingsingkan sisa gaun malam merah yang acak-acakan itu ke pinggangnya sehingga dua lubang yang sudah basah dan penuh cairan terlihat jelas. Lalu aku meludahi liang anusnya yang kecil dan merah muda dengan ludah kentalku yang banyak. Aku mengoleskannya pelan dengan kepala kontolku. Angela awalnya menegang dan merintih menolak.

"Jangan disitu… aku belum pernah… aaahhh !! rintih Angela.

"Justru karena enci belum pernah makanya harus dicoba.. Bisik Pardi.

Tubuhnya mencoba menggeliat tapi Pardi langsung menjambak rambutnya lalu melumat bibir merah tebalnya dengan rakus. Lidahnya menyusup dalam sambil menggenjot memeknya dari bawah tanpa henti. 

"Kalau mau cari kenikmatan gak usah tanggung tanggung cii.. Maen lewat lubang yang ini jauh lebih nikmat.. Ledekku memancing birahinya.

Aku memasukkan dua jari kasar dan hitamku ke dalam anusnya yang sempit. Aku mengocoknya lebih kasar dan dalam lalu memutar-mutar sambil menambah ludah. Angela mulai menggelinjang hebat di pangkuan Pardi. Erangannya tertelan dalam ciuman ganas itu. Pinggulnya bergetar antara kenikmatan dan rasa penuh yang baru. Tak mau menunggu lebih lama aku menekan kepala kontolku yang besar ke lubang anusnya yang sudah licin. Lalu aku mendorong paksa dengan pinggulku. Sentimeter demi sentimeter meregang dinding duburnya yang ketat hingga pangkal. Hal itu membuat Angela menjerit keras ke dalam mulut Pardi. Tubuh putih mulusnya mengejang hebat di antara kami berdua. 

Aku mulai menggenjot duburnya perlahan lalu semakin kuat. Aku merasakan gesekan kontolku dengan kontol Pardi yang hanya dipisahkan dinding tipis di dalam tubuh Angela. Dua lubangnya kini dipenuhi kontol pria rendahan sekaligus. Gaun merah robeknya semakin kusut. Payudaranya terjepit di dada Pardi. Sementara wanita Chindo sosialita itu hanya bisa gemetar dan mendesah tak berdaya. Kenikmatan terlarang membuatnya semakin basah dan liar di tangga mewah rumahnya sendiri.

Napsuku meledak tak terkendali. Kontolku sudah sepenuhnya tenggelam di dalam duburnya yang hangat dan sempit. Aku makin bringas lalu menggenjotnya dengan kasar serta brutal dari belakang. Setiap hantaman pinggulku menghantam bokong putih mulusnya hingga bergoyang hebat. Bunyi plok-plok-plok.. basah yang kencang terdengar bercampur hantaman Pardi dari bawah.

Tangan kasarku menjambak rambut hitam panjang Angela dengan kuat. Aku mengguncang-guncangkan kepalanya dengan hebat ke kiri dan ke kanan. Sesekali aku jambak kasar ke belakang sehingga wajah cantiknya mendongak ke atas dengan paksa. Leher putih mulusnya teregang sempurna.

"Liat nih muka cina lu sampe keenakan gini dikontolin sama pribumi !! ledekku sambil terus memompa duburnya dengan ganas. Kontolku keluar masuk kasar hingga pangkal. 

Angela hanya bisa mengerang tak berdaya di antara kami. Tubuhnya terguncang hebat di pangkuan Pardi. Memek dan duburnya penuh kontol kasar sekaligus. Tiba-tiba tubuh Chindo-nya mengejang hebat. Ia klimaks dengan liar di posisi itu. Kepalanya mendongak kuat. Mata sipitnya membeliak ke atas hingga hampir hanya terlihat putihnya. Lidahnya menjulur keluar dari mulut merah bengkaknya yang terbuka lebar. Air liur menetes deras ke dada Pardi. Seluruh tubuh putih mulusnya melejang-lejang tak karuan. Pinggulnya bergetar hebat. Dinding anus dan memeknya mencengkeram kontol kami berdua dengan kuat berdenyut-denyut. Cairan beningnya menyembur keluar membasahi paha Pardi dan tangga marmer di bawahnya. Gaun merah acak-acakan yang masih menempel di kulitnya basah kuyup oleh keringat dan cairan kenikmatan.

"Perek cina kayak enci gak akan puas kalau belum ngerasain punya pribumi.. ledekku lagi.

Setelah klimaks hebat yang membuat tubuh putih mulusnya melejang-lejang tak karuan dengan mata sipit membeliak dan lidah menjulur aku dan Pardi tak memberi ampun sedikit pun. Aku makin bringas. Tangan kasarku tetap menjambak rambut hitamnya kuat sambil mengguncang kepalanya ke belakang. Kontolku menggenjot duburnya dengan hantaman brutal dan cepat. Setiap dorongan dalam-dalam membuat bokong bulatnya berguncang hebat. Dinding anusnya mencengkeramku semakin erat.

Pardi di bawah juga menggenjot memeknya dari bawah dengan ganas. Pinggulnya naik menghantam dari bawah sambil mencengkeram pinggang Angela. Kedua kontol kami bergerak bergantian dan bersamaan di dalam dua lubangnya yang sudah penuh dan licin. Hanya dipisahkan dinding tipis yang membuat gesekan terasa semakin nikmat.

"Lonte Cina gratisan … memek dan dubur lu milik kami malam ini!!" umpatku kasar di telinganya sambil menampar pinggulnya keras. Gaun merah acak-acakan yang basah kuyup semakin robek di bahunya.

Angela hanya bisa merintih dan menjerit putus-putus. Tubuh Chindo-nya yang sempurna terguncang hebat di antara kami berdua. Payudaranya yang montok bergesekan liar dengan dada coklat gelap Pardi. Keringat bercampur cairan menetes ke tangga marmer.

Aku merasakan gelombang panas naik di pangkal kontolku. Aku semakin cepat dan kasar menggenjot duburnya hingga akhirnya aku mendengus keras. Aku mendorong kontolku sekuat tenaga hingga pangkal lalu menyemburkan sperma panas kentalku dalam-dalam ke dalam dubur Angela. Sperma itu menyembur berdenyut-denyut memenuhi ususnya. Hampir bersamaan Pardi meraung di bawah. Ia mencengkeram pinggang Angela kuat-kuat sambil mendorong pinggulnya ke atas. Kontolnya berdenyut hebat di dalam memeknya lalu menyemburkan sperma panasnya yang banyak langsung ke rahim wanita itu.

Angela menjerit klimaks lagi untuk ketiga kalinya. Tubuhnya kejang hebat di antara kami. Anus dan memeknya berdenyut-denyut menggenggam kontol kami berdua. Cairan putih kental meluber keluar dari kedua lubangnya lalu menetes deras ke tangga. Tubuh putih mulusnya gemetar tak terkendali dengan lidah masih terjulur dan mata sayu penuh kenikmatan terlarang. Kami bertiga terengah-engah lama di posisi itu. Kontol kami masih tertanam dalam di tubuh Angela yang kini lemas tak berdaya. Sperma kami bercampur mengalir keluar perlahan. Sementara teman-teman sosialitanya menonton dengan nafsu yang membara di bawah tangga.

Malam itu pesta seks liar di rumah mewah Angela akhirnya usai. Kami bertiga menghabiskan tenaga hingga wanita Chindo itu tergeletak lemas di tangga marmer. Tubuh putih mulusnya penuh bekas remasan tamparan ludah dan sperma yang meluber dari memek serta duburnya. Gaun malam merahnya sudah benar-benar hancur acak-acakan menempel di kulitnya yang berkilau keringat. Teman-teman sosialitanya yang masih setengah telanjang di sofa mendekat sambil tersenyum puas dan nakal. Mereka memuji kami bertiga sebagai pria rendahan yang benar-benar memuaskan. Angela dengan napas tersengal dan wajah memerah bangkit pelan lalu mengambil tiga amplop tebal berwarna coklat dari laci meja marmer. Masing-masing berisi jutaan uang tunai sebagai bonus arisan malam ini selain uang miliaran yang sudah mereka bagi di awal.

"Ini buat kalian… malam ini kalian bikin aku lupa segalanya" bisik Angela sambil menyelipkan amplop ke tangan kami dengan jari gemetar. Matanya masih sayu penuh kenikmatan.

Kami bertiga yaitu aku Pardi dan Asep akhirnya keluar dari rumah megah itu dengan badan pegal tapi puas. Baju lusuh kami bau keringat dan cairan seks. Amplop tebal terselip di saku celana. Di depan rumah kami naik satu motor bebek tua milik Asep. Kami berboncengan tiga dengan aku di tengah Pardi di depan nyetir dan Asep di belakang. Motor itu meluncur pelan keluar dari komplek perumahan elite PIK yang sepi di tengah malam. Kami melewati rumah-rumah mewah berpagar tinggi mobil-mobil mewah yang terparkir rapi dan lampu taman yang elegan. 

Angin malam menerpa wajah jelekku yang paruh baya sambil aku merasakan amplop tebal di saku. Pikiranku masih penuh bayangan tubuh Angela yang putih mulus terguncang di antara kami. Memek dan duburnya yang kami isi berulang kali. Kami bertiga tertawa pelan sambil mengumpat kasar penuh kepuasan. Motor tua itu semakin menjauh dari kawasan orang kaya menuju jalan raya biasa. Kami meninggalkan malam yang tak akan kami lupakan sebagai tukang parkir rendahan yang sempat menikmati simpanan sosialita kelas atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Budak Napsu Ojol Jalanan 2

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 7

Draft Preman Tanah Abang

Draft Budak Napsu Tetanggaku.

Draft Kuentot majikan cinaku yang sedang hamil

Draft Aksi Keji Komplotan Dul Petot

Draft Aku Rela Dijadikan Budak Seks Saat Hamil

Draft Kisah Tragis Amoy Siantar

Draft Velin Mahasiswi Teladan