Langsung ke konten utama

Draft Aksi Keji Komplotan Dul Petot

⚠️ PERINGATAN KONTEN EKSTREM ⚠️

Cerita fiksi ini mengandung konten ekstrem dan gelap yang sangat sensitif, termasuk pemerkosaan beramai-ramai, penyiksaan seksual, kekerasan fisik, penyisipan benda kasar, non-konsensual, trauma dan bahasa vulgar.

Semua isi cerita murni fiksi semata dan tidak dimaksudkan untuk mendukung atau membenarkan kekerasan di dunia nyata.

Hanya ditujukan untuk pembaca dewasa berusia 18+ yang sadar dan ingin membaca cerita bertema dark extreme. Jika Anda merasa tidak nyaman, terganggu, atau tidak suka dengan jenis konten ini, mohon segera berhenti membaca.

Lanjutkan dengan risiko Anda sendiri


⚠️ DISCLAIMER / ATTENTION ⚠️

Cerita ini murni fiksi dan hanya untuk tujuan hiburan semata. Semua tokoh, peristiwa, nama tempat, atau dialog di dalamnya adalah hasil rekaan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menghina, menghasut kebencian, atau menjelekkan kelompok etnis, ras, agama, atau golongan tertentu.

Segala kesamaan nama atau kejadian dengan peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten ini dan tidak membawa materi cerita ini ke ranah nyata.


By : XtremeX

Di bawah cahaya bulan purnama yang temaram di pinggir jalan tanah menuju pasar malam Batavia tahun 1890-an kereta kuda mewah berukir naga emas milik Tuan Tanah Tan berjalan perlahan. Derap kaki kuda dan gemerincing rantai perak mengiringi perjalanan itu.

Pada masa itu keluarga Tan dikenal sebagai salah satu keluarga Tionghoa terkaya di Batavia. Mereka memiliki banyak tanah perkebunan besar dan rumah mewah di kawasan Pecinan. Tuan Tanah Tan sering bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia menyediakan pinjaman uang untuk para pejabat dan menyuplai barang-barang mewah untuk rumah-rumah besar orang Eropa. Karena kedekatan itu banyak orang pribumi membenci keluarga Tan. Mereka menganggap keluarga ini pengkhianat yang lebih memihak penjajah daripada sesama penduduk Hindia.

Tan Sui Lan dan Tan Sui Mei tumbuh dalam kemewahan yang jauh dari kehidupan rakyat biasa. Mereka belajar bahasa Belanda dan bahasa Mandarin di rumah. Pakaian mereka selalu dari sutra terbaik dan perhiasan emas mereka berkilauan. Tuan Tanah Tan sering membanggakan putri-putrinya di pesta-pesta kolonial. Ia berharap kedua gadis itu bisa menikah dengan orang kaya atau pejabat tinggi. Namun kedekatan keluarga ini dengan penguasa kolonial membuat banyak jawara kampung dan penduduk pribumi iri sekaligus marah. Mereka sering bergosip bahwa keluarga Tan menghisap darah rakyat kecil demi memperkaya diri sendiri.

Malam itu Tan Sui Lan dan Tan Sui Mei baru pulang dari pesta keluarga kaya di Pecinan. Tubuh mereka masih harum minyak cendana dan bedak mahal. Di dalam kereta yang sempit namun mewah duduk dua putri Tuan Tan yang paling cantik. Tan Sui Lan berusia 21 tahun. Ia gadis tinggi ramping dengan kulit putih seperti porselen bibir merah alami dan dada montok yang tersembunyi di balik kain sutra tipis berwarna biru safir. Adiknya Tan Sui Mei berusia 17 tahun. Tubuhnya lebih mungil dengan wajah oriental yang imut pinggul ramping dan rambut hitam panjang terurai hingga pinggang.

Tiba-tiba dari balik semak bambu yang lebat di pinggir jalan tanah yang gelap muncul dua belas bayangan hitam. Mereka bergerak seperti hantu malam. Dul Petot sang pemimpin adalah seorang jawara kampung bertubuh kekar berotot dengan dada bidang penuh bekas luka silat lama rambut dikuncir ala jawara pada masanya dan mata tajam penuh kelicikan. 

Pria itu melangkah keluar lebih dulu diikuti sebelas anak buahnya yang sama-sama gagah berpakaian hitam lusuh dan haus akan harta serta tubuh wanita. Udara malam terasa semakin berat saat mereka mendekat perlahan. Langkah kaki mereka hampir tak bersuara di atas tanah lembab. Kereta kuda mewah itu masih melaju pelan dengan roda kayunya yang berderit. Dengan gerakan cepat namun penuh tenaga. Tiba tiba Dul Petot melompat tinggi ke udara sambil berteriak keras.

"Hei brentii lu pada !! teriak Dul Petot.

Perampok sadis itu melancarkan jurus andalannya. Tendangan Maut. Kakinya yang kuat seperti batang pohon kelapa meluncur deras dan menghantam tepat ke kepala kuda penarik. Bunyi crack yang mengerikan terdengar. Tulang kuda retak dan hewan itu meringkik kesakitan sebelum ambruk ke tanah dengan keras. Kereta pun oleng hebat ke samping. Para centeng bayaran yang berjumlah enam orang langsung panik. Dua di antaranya lompat turun sambil mencabut golok pendek mereka. Salah seorang centeng berteriak sambil mengacungkan goloknya. 

"Sialan !! Berani-beraninya lu pada nyerang kereta Tuan Tan! Mau mati lu semua ya ?!!

Dul Petot mendarat dengan gesit di depan kereta diikuti anak buahnya yang sudah siap menyerbu. Dengan suara dingin tapi penuh ancaman kemudian Dul Petot berkata keras:

"Udah deh... Gue kagak punya urusan sama lu pada.. gue peringatin yaa.. jangan jadi anteknya si tuan tanah Tan yang rakus itu !! Harta yang dia kumpulin dari darah rakyat jelata. Hari ini kami mau ambil semuanya. Kalau kalian minggat sekarang maka nyawa  kalian masih bisa selamat.

Seorang centeng lainnya yang lebih berani menjawab dengan ketus. " Jangan asal bacot lu rampok !! Kami dibayar mahal buat jaga kereta ini. Kalau kami kabur yang ada besok keluarga kami yang mati kelaparan!

Menanggapi hal ini Dul Petot langsung menyeringai lebar dan matanya penuh kebencian..

"Kalau begitu... jangan salahin gue kalau bikin kepala lu lepas dari badan !!

Dengan isyarat tangan. Dul Petot dan anak buahnya langsung menyerbu seperti binatang buas. Suara benturan golok dan teriakan pertarungan pun pecah di jalan setapak itu.

Dul Petot memang terkenal sebagai jawara sakti di kampung-kampung sekitar Batavia. Ia dianggap kebal senjata tajam karena pernah belajar ilmu hitam dan memiliki jimat pusaka. Banyak orang percaya golok atau pedang biasa tidak bisa melukai tubuhnya.

Suasana menjadi sangat tegang saat golok dan tinju beradu dengan keras. Salah satu pengawal berhasil menebas lengan Dul Petot dengan goloknya. Namun senjata itu hanya meninggalkan goresan kecil seperti digigit semut. Dul Petot malah tertawa keras dan membalas dengan pukulan telak ke dada pengawal tersebut hingga tulang rusuknya patah. Pengawal itu terbang beberapa meter lalu jatuh tak bernyawa di tanah lembab.

Dua centeng yang berbadan kekar lain berusaha melindungi pintu kereta dengan golok mereka. Si Kancil dan Si Macan anak buah Dul Petot menggunakan jurus silat mematikan yang diajarkan guru mereka. Mereka menendang kaki kedua pengawal hingga jatuh lalu langsung menggorok leher mereka dengan golok yang berkilauan di bawah bulan. Jeritan pendek dan erangan kesakitan para pengawal terdengar singkat sebelum lenyap ditelan malam yang sunyi. Hanya aroma darah segar bercampur debu jalan yang tersisa. Para pengawal yang tersisa pun mencoba melawan mati-matian. Mereka menebas dan menusuk Dul Petot berulang kali dengan golok dan pedang mereka.

"Sialan !! Nih rampok ternyata badannya kedot juga bang. Kalau begini mah bisa runyem urusannya.. teriak salah satu pengawal putus asa.

Serangan mereka seolah tidak berpengaruh sama sekali. Dul Petot terus maju sambil tertawa keras. Tubuh kekar berototnya memang kebal terhadap senjata tajam berkat ilmu hitam dan jimat pusakanya. Pengawal lain ikut berteriak panik saat goloknya hanya meninggalkan goresan kecil di lengan Dul Petot.

"Gimana ini bang ? Golok kita nggak mempan !! Apa mendingan kita kabur aje.. kata pengawal tersebut.

Dul Petot malah semakin ganas. Ia meraih leher salah satu pengawal lalu mematahkan tulangnya dengan mudah hingga terdengar bunyi retak keras. Anak buahnya yang lain juga menyerbu tanpa ampun. Si Kancil dan Si Macan menebas serta menendang dengan jurus silat mematikan. Dalam waktu singkat keenam pengawal sudah tewas bergelimpangan di tanah lembab.

"Haha.. liat tuh anjing anjingnya si tuan tanah udah pada mampus semua.. sekarang tinggal kita jarah aja semua harta bendanya..

Napas Dul Petot masih terengah penuh adrenalin saat ia melangkah mendekati pintu kereta yang kini miring. Ia membukanya dengan kasar hingga engselnya berderit keras. Senyum lebar penuh nafsu liar terukir di wajahnya yang kasar ketika matanya bertemu langsung dengan dua gadis Tionghoa cantik yang kini meringkuk ketakutan di dalam kereta sempit itu. Wajah mereka pucat pasi dan tubuh mereka gemetar hebat.

Sui Lan

Di bawah cahaya bulan purnama yang temaram Dul Petot berdiri di depan pintu kereta yang miring. Napasnya masih kasar penuh kemenangan sementara ia menatap dalam ke dalam kereta yang temaram.

Tan Sui Lan dan Tan Sui Mei meringkuk saling berpelukan di bangku belakang. Tubuh mereka gemetar hebat dan wajah cantik mereka pucat seperti mayat di bawah cahaya lentera kecil. Kebaya sutra hijau Sui Lan sedikit terbuka di bagian dada karena getaran kereta tadi sehingga memperlihatkan belahan payudara putih halus yang naik turun cepat karena ketakutan. Dul Petot menyeringai lebar memperlihatkan gigi-giginya yang agak kuning lalu berkata dengan suara kasar dan penuh ejekan logat kampung yang kental.

“Wah.. lihat nih amoy amoy cina babi! Mereka pada sombong banget duduk di kereta mewah kayak ratu. Gak lama lagi statusnya bakal jadi daging segar buat kita.. kata Dul Petot.

Anak buahnya yang sebelas orang langsung tertawa keras. Beberapa sudah naik ke kereta sambil merobek kain penutup kursi untuk mencari harta. Si Kancil yang bertubuh kecil tapi lincah menarik tangan Sui Mei kasar hingga gadis itu menjerit kecil.

"Gilee.. Amoy anaknya tuan tanah ini ternyata bener bener cantik ya bang.. badannya putih.. kulitnya licin kayak porcelen.. cocok banget buat nemenin kita malam ini. kata Si Kancil.

"Cici.. tolong.. mereka mau apa? aku takut.. Jerit Sui Mei sambil memeluk kakaknya yang berupaya tegar demi menenangkan adiknya.

Dul Petot mencondongkan tubuhnya ke dalam kereta. Tangan besarnya yang penuh kapalan langsung meraih dagu Sui Lan dan memaksa gadis itu mendongak.

"Yang ini pasti cicinya... Muka cinanya keliatan lebih dewasa !! ehhhh moyy.. tetek lo gede juga.. pasti sering digoyang-goyang sama bapak lo yang serakah itu ya. Sekarang giliran kita yang mainin badan lo. Kalau lo melawan gue gorok leher lo berdua kayak babi potong!” kata Dul Petot.

Sui Lan menangis tersedu. Suaranya gemetar saat ia berkata.

“Tolong jangan sakiti kami bang.. saya akan bayar berapa pun yang abang mau… kata Sui Lan.

Dul Petot malah tertawa lebih keras sambil menampar pelan pipinya.

“Bayar? Harta lo semua sudah jadi milik kami !! Sekarang yang gue mau adalah memek lo berdua yang pasti masih perawan dan peret. kata Dul Petot.

Dua anak buah lain sudah mulai merampas kotak perhiasan emas dan kalung mutiara dari pangkuan mereka sambil sengaja meraba-raba paha Sui Mei yang tertutup kain tipis. Hal itu membuat gadis itu menjerit ketakutan dan malu.

Dul Petot tertawa puas melihat air mata mengalir di wajah cantik Tan Su Lan. Dengan satu tarikan kasar ia merobek gaun biru gadis itu dari atas hingga bawah sehingga memperlihatkan payudara montok yang putih mulus dan kencang dengan puting pink kecil yang langsung mengeras karena udara malam.

"Heii.. kalian liat nih !! Tetek amoy ini ternyata lebih bagus dari perempuan kampung kita. Putih kayak susu.. montok kayak mangga mateng !! seru Dul Petot dengan suara keras sambil meremas payudara Sui Lan kuat-kuat.

Gadis itu menjerit kesakitan dan malu. Tubuhnya meronta tapi sia-sia karena tangan jawara yang besar itu mengunci pergelangan tangannya. Di sampingnya Si Macan dan Si Kancil sudah menindih Tan Sui Mei yang mungil. Mereka merobek baju tipis gadis itu hingga telanjang dada sehingga memperlihatkan payudara kecil yang kencang dan perut rata yang halus.

"Kayaknya Amoy kecil ini masih perawan bang.. memeknya pasti sempit banget.. kata Si Kancil sambil menyelipkan tangan kasar ke antara paha Sui Mei dan meraba celana dalam sutra yang sudah basah karena ketakutan. Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil memohon.

"Jangan ampun.. kalian boleh ambil semuanya tapi tolong lepasin kami. kata Sui Mei.

Dul Petot menoleh ke anak buahnya yang sedang sibuk mengumpulkan emas kalung dan cincin ke dalam karung lalu berkata kasar.

"Kalian sabar aja dulu.. biar gua duluan yang ngentotin amoy anak tuan tanah yang sombong ini.. Kalau ada yang berani melawan gorok aja lehernya sampe mampus !! kata Dul Petot.

"Cepat keluar.. kalau lu berdua masih kepengen idup.. lu berdua harus bisa muasin kita semua..

Ia menarik Sui Lan keluar dari kereta hingga gadis itu jatuh berlutut di tanah berdebu. Kemudian ia membuka ikat pinggangnya sendiri sehingga memperlihatkan batang kemaluannya yang sudah tegang besar dan berurat sambil menepuk-nepuk wajah Su Lan dengan benda itu.

"Eehh pelacur cina !! Buruan isepin nih kontol gue.. !! Kalau lu berani macem macem atau ngegigit kontol gue. Maka gue akan suruh anak buah gue buat perkosa adik lu sampai mampus !! Ancam Dul Petot.

Sui Lan menatap batang kemaluan Dul Petot yang besar berurat tebal dan sudah menegang sempurna. Matanya penuh ketakutan dan berkaca-kaca sementara bibirnya yang merah alami gemetar hebat.

"Jangan bang.. ampun... Jangan suruh aku melakukan hal menjijikan kayak gitu.. ucap Sui Lan lirih.

Dul Petot langsung mencengkeram rambut panjangnya yang hitam lurus dengan kasar lalu menarik kepala gadis itu ke depan hingga hidungnya hampir menyentuh ujung kepala kemaluannya yang panas.

“Hisap sekarang juga cina sombong! Jangan pura-pura suci !! Kalau lo pada di rumah pasti sering ngisep kontol bapak lo yang tua itu!” bentak Dul Petot sambil menampar pelan pipi Sui Lan dengan batangnya yang keras.

Dengan tangan gemetar Sui Lan akhirnya membuka mulutnya yang kecil. Lidahnya menyentuh ujung kemaluan Dul Petot yang asin dan berbau maskulin kuat. Dul Petot mendesah keras penuh kenikmatan saat mulut hangat gadis Tionghoa itu mulai mengulumnya perlahan.

“Aaahh... Ternyata enak juga disepongin sama amoy anaknya tuan tanah.. ayoo isepin kontol gue lebih kuat.. bangsat !! Isep terus biar lu makin mirip sama lonte pecinan yang biasa dipake gratis sama pribumi. Bentak Dul Petot.

Su Lan terbatuk-batuk saat Dul Petot mendorong pinggulnya maju sehingga memasukkan hampir separuh batangnya ke dalam mulut gadis itu. Air liur mulai menetes dari sudut bibirnya yang meregang. Sementara itu di dalam kereta Sui Mei sudah telanjang bulat. Tubuh mungilnya yang putih mulus ditindih oleh Si Kancil dan Si Macan. Si Kancil meremas payudara kecil Sui Mei sambil menggigit putingnya keras.

"Amoy kecil ini putingnya seger juga bang.. memeknya pasti udah basah nunggu digenjot sama kontol pribumi !! Kata Si Kancil. Sui Mei menangis tersedu.

"Ampunn.. ciiiciii.. tolong akuu.. aarrghh... sakit…kata Sui Mei. Suara manjanya tertelan oleh tawa kasar anak buah Dul Petot yang sedang mengelilingi mereka. Beberapa sudah mengeluarkan kemaluan mereka sendiri sambil menunggu giliran dan tangan-tangan kasar meraba paha pantat serta seluruh tubuh kedua gadis itu tanpa ampun.

Dul Petot mengerang nikmat sambil menggenggam rambut Tan Su Lan lebih kuat. Pinggulnya bergerak maju mundur perlahan sehingga memompa mulut gadis itu dengan ritme yang semakin dalam.

“Enak sekali mulut Cina ini rapet dan hangat. Hisap lebih kuat jalang! Jilat uratnya juga jangan cuma diam kayak patung!” kata Dul Petot.

Sui Lan tercekik. Air mata mengalir deras di pipinya yang putih halus dan air liurnya bercampur ludah Dul Petot menetes ke dagunya serta ke payudaranya yang bergoyang-goyang karena gerakan paksa itu. Batang kemaluan Dul Petot yang tebal memenuhi mulutnya hingga pipinya menggembung. Ujungnya sesekali menyentuh tenggorokannya sehingga membuatnya muntah-muntah kecil tapi tetap dipaksa menelan. Di dalam kereta yang miring Sui Mei sudah tak berdaya. Si Kancil membuka paha mungilnya lebar-lebar sambil menjilat memeknya yang masih ditutupi bulu halus hitam tipis. Lidahnya berputar di klitoris gadis itu dengan rakus.

“Wah memeknya manis banget bau harum bedak mahal! Masih virgin nih rapet sekali” kata Si Kancil sambil tertawa lalu memasukkan dua jarinya kasar ke dalam lubang sempit itu.

“Aaaahh! Sakit !! keluarinn !! Jerit Sui Mei.

Tubuhnya meronta dan pinggulnya bergetar tak terkendali tapi Si Macan menindih dada gadis itu sambil menggigit putingnya bergantian.

“Diam lo pelacur !! Sebentar lagi kontol kami bakal bikin lo ngomong enak.  kata Si Macan.

Beberapa anak buah Dul Petot yang lain sudah tak sabar. Dua orang berdiri di samping Sui Lan sambil menggesekkan batang mereka yang keras ke wajah dan rambut gadis itu.

“Giliran kami nanti ya Bos. Kita mau isi semua lubangnya sampe luber.. kata salah satu dari mereka.

Dul Petot akhirnya menarik batangnya keluar dari mulut Su Lan dengan bunyi plop basah sehingga meninggalkan benang liur panjang. Ia menarik gadis itu berdiri kasar dan membalikkan tubuhnya menghadap kereta lalu menekuk pinggang ramping Su Lan hingga pantatnya yang bulat putih terangkat ke belakang.

Dul Petot berdiri di belakang Tan Sui Lan yang kini dibengkokkan paksa di pinggir kereta. Pinggang rampingnya ditekan ke bawah hingga pantat bulat putihnya terangkat tinggi dan terbuka sempurna. Tangan besar Dul Petot menepuk-nepuk pantat halus itu keras hingga meninggalkan bekas merah.

“Lihat pantat Cina ini mulus kayak sutra! Pasti belum pernah digenjot kasar sama orang kampung kayak kami” kata Dul Petot.

Ia menggesekkan batang kemaluannya yang basah oleh air liur Sui Lan di antara celah pantat gadis itu. Ujung kepalanya yang besar dan panas berulang kali menggesek lubang memek Su Lan yang masih rapet dan sedikit basah karena ketakutan. Su Lan gemetar hebat. Suaranya pecah karena menangis.

“Jangan please.. sakit !! aku masih perawan !! kata Sui Lan.

Dul Petot hanya tertawa kasar sambil mencengkeram pinggulnya kuat-kuat.

“Perawan? Bagus! Malam ini gue yang bakal robek keperawanan lo cina sombong !! kata Dul Petot.

Dengan gerakan perlahan tapi kuat ia mendorong pinggulnya maju. Ujung kepala penisnya mulai merenggangkan bibir kemaluan Sui Lan yang sempit dan masuk sedikit demi sedikit sambil menimbulkan rasa perih yang luar biasa. Sui Lan menjerit panjang.

“Aaaahhh! Sakit !! Jangan didorong lagi.. ampun.... Gaak muaattt.. Aakkhh... Jerit Sui Lan. Tubuhnya meronta dan jari-jarinya mencengkeram kayu kereta hingga memutih tapi Dul Petot terus mendorong lebih dalam. Ia merasakan dinding vagina gadis itu yang hangat dan peret sekali seperti sedang meremas batangnya.

“Enak banget memek lo berasa kayak lagi nyedotin kontol gue.. Cina jalang !! desah Dul Petot penuh kenikmatan sambil mulai bergerak maju mundur perlahan.

Setiap dorongan semakin dalam hingga separuh batangnya masuk. Di dalam kereta Sui Mei sudah menangis tanpa suara lagi. Si Kancil kini menindihnya dan memasukkan batangnya yang tidak terlalu besar tapi keras ke dalam memek gadis amoy mungil itu dengan satu dorongan kuat. Sui Mei menjerit histeris.

"Ciciii.. tolong akuu.. akkkh.. sakitt... Brenti... Jerit Sui Mei.

Sementara Si Macan memaksa mulut Sui Mei mengulum kemaluannya. Anak buah yang lain berdiri mengelilingi mereka sambil tertawa dan mengeluarkan komentar kasar.

Sui Mei

“Genjot terus bang! Kita kotorin memeknya pakai peju pribumi malam ini.. kata salah satu anak buah.

Dul Petot menggeram seperti binatang liar. Ia mencengkeram pinggul ramping Tan Sui Lan dengan kedua tangan besarnya yang penuh kapalan hingga meninggalkan bekas merah. Tanpa ampun ia mendorong pinggulnya maju dengan kuat sehingga memasukkan seluruh batang kemaluannya yang tebal dan panjang hingga pangkal ke dalam memek Su Lan yang rapet.

“Aaaarghh!!” jerit Sui Lan panjang dan menyayat.

Tubuhnya mengejang hebat dan kakinya gemetar tak kuasa menahan rasa robek dan penuh yang menyiksa. Dul Petot tak memberi waktu istirahat. Ia langsung menggenjotnya kasar dan cepat. Setiap dorongan keras seperti palu dan bunyi plak plak plak daging beradu memenuhi malam sepi.

“Enak banget memek Cina ini! Rapet nyedot kontol gue.. dasar lonte !! Sekarang lo gak bisa bergaya kayak ratu lagi. raung Dul Petot sambil menampar pantat putih Sui Lan berulang kali hingga memerah.

Pinggulnya bergerak brutal maju mundur. Batangnya keluar-masuk hampir sepenuhnya setiap kali dan ujungnya menghantam dasar rahim gadis itu dengan kasar. Sui Lan menangis tersedu-sedu. Air liurnya menetes dan payudaranya bergoyang-goyang liar mengikuti hantaman ganas itu.

“Sakittt.. !! pelan pelan bang.. ampunn.. kata sui Lan.

Dul Petot malah semakin bersemangat. Tangannya meraih rambut panjang Sui Lan dan menariknya ke belakang seperti tali kekang sehingga membuat punggung gadis itu melengkung dalam posisi anjing sambil terus digenjot kasar tanpa ampun. Di dalam kereta Si Kancil juga menggenjot Tan Sui Mei dengan ganas. Tubuh mungil gadis itu digoyang-goyang seperti boneka cina setiap kali dorongan kuatnya masuk.

“Memek perawan lo enak juga moy !! Masih sempit gini tapi turunan lonte.. makanya gampang basah !! kata Si Kancil.

Sui Mei hanya bisa menjerit tertahan karena mulutnya penuh batang Si Macan. Air matanya mengalir deras sementara tubuhnya yang halus dipukul-pukul pinggul Si Kancil dengan ritme brutal. Anak buah Dul Petot yang lain tertawa keras dan memberikan komentar kasar.

“Genjot lebih kencang bang! Kita bikin rusak memek mereka berdua malam ini !” kata mereka.

Dul Petot menggenjot Sui Lan dengan brutal selama beberapa menit. Akhirnya ia mengerang keras dan menyemburkan mani panasnya yang kental jauh ke dalam rahim gadis itu. Tubuh Su Lan mengejang hebat sambil menangis tanpa suara dan cairan putih mulai menetes dari memeknya yang sudah memerah dan bengkak. 

Dul Petot menarik batangnya keluar dengan bunyi basah lalu menepuk pantat Su Lan keras sambil tertawa.

“Bagus cina. Memek lo sekarang sudah ngerasain enaknya kontol pribumi !! kata Dul Petot.

Ia mundur dan memberi isyarat ke anak buahnya.

“Giliran kalian! Jangan tanggung-tanggung rusak mereka berdua!” kata Dul Petot.

Si Macan langsung maju dengan gaya kasar dan cepat. Ia menarik Sui Lan ke tanah membaringkannya telentang di rumput kotor lalu mengangkat kedua kakinya tinggi ke bahu sambil memasukkan batangnya yang panjang dan tipis dengan satu hantaman kuat. Ia menggenjotnya dalam posisi deep missionary yang dalam. Setiap dorongan menghantam dasar rahim Sui Lan hingga gadis itu menjerit-jerit dan payudaranya bergoyang liar.

“Rasain ini Cina sombong! Kontol gue lebih gede dari kontol bos!” ejek Si Macan sambil mencubit putingnya keras.

Di sisi lain Tan Su Mei yang sudah lemas ditarik oleh Si Kancil dan dua jawara lainnya keluar kereta. Mereka mengangkat tubuh mungil gadis itu seperti boneka Cina murahan lalu memposisikannya dalam gaya standing sandwich. Si Kancil memasukinya dari depan sambil berdiri sementara Si Buto yang bertubuh besar memaksa masuk dari belakang ke lubang pantatnya yang sempit. Hal itu membuat Sui Mei menjerit histeris karena double penetration pertamanya.

“Aaaahhh!! Sakittt bang !! Ampuun !! Aarrghhh.... Keluarrinn..” teriak Sui Mei.

Si Buto mengerang kasar sambil memegang pinggul mungil Su Mei dengan kedua tangan besarnya yang kasar. Batang kemaluannya yang sangat tebal dan panjang sulit sekali masuk karena lubang pantat gadis itu masih rapet dan belum pernah disentuh. Ia mendorong pelan tapi kuat. Ujung kepala batangnya yang besar hanya berhasil merenggangkan sedikit bibir lubang pantat Su Mei yang kecil sehingga gadis itu meronta hebat kesakitan.

“Gila sempit banget nih lubang pantat Cina kecil. Kayak mau nyedot jari aja susah” kata Si Buto sambil tertawa kasar.

Ia meludah ke telapak tangannya lalu mengoleskan air liur ke batangnya yang sudah basah. Dengan paksa ia mendorong pinggulnya maju lebih keras. Lubang pantat Su Mei meregang luar biasa sampai terasa hampir robek. Gadis itu menjerit semakin keras. Air matanya mengalir deras sementara tubuhnya gemetar tak terkendali.

“Aaaahhh!! Sakit sekali!! Jangan!! Robek!!” teriak Su Mei.

Si Buto tidak peduli. Ia terus mendorong tanpa ampun hingga separuh batang kontolnya yang keras berhasil jebol masuk ke dalam lubang pantat amoy yang sempit itu. Dinding dalam Sui Mei terasa sangat ketat menggigit batang Si Buto. Si Kancil yang berada di depan juga mulai menggenjot memek gadis itu dengan irama cepat. Kedua batang itu bergerak bergantian di dalam tubuh mungil Sui Mei sehingga membuatnya merasakan tekanan penuh dan sakit yang luar biasa di kedua lubangnya.

Si Buto akhirnya mendorong hingga pangkal. Ia mendesah puas merasakan kehangatan dan kepadatan lubang pantat Sui Mei yang dipaksa meregang maksimal.

“Masuk juga akhirnya. Enak banget lubang pantat perawan ini. Rapet kayak mau remuk kontol gue” kata Si Buto.

Kedua jawara itu lalu menggenjot Sui Mei bersamaan dengan irama berbeda. Tubuh mungil gadis itu tergoyang-goyang seperti boneka di antara mereka. Sui Mei hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil merintih kesakitan. Napasnya tersengal-sengal dan keringat bercampur air mata membasahi wajah orientalnya yang imut.

Kedua jawara itu justru tertawa dan menggenjotnya bergantian dengan irama berbeda. Si Kancil cepat dan pendek sementara Si Buto lambat tapi sangat dalam dan kuat. Dua jawara lain berdiri di depan wajah Sui Mei memaksa mulut dan tangannya melayani kemaluan mereka sementara sisanya mengelilingi meremas tubuh kedua gadis itu dan menunggu giliran berikutnya dengan sabar penuh nafsu.

Setelah hampir satu jam penuh bergantian menggilir kedua gadis itu dengan berbagai posisi liar akhirnya semua dua belas jawara merasa puas. Tan Sui Lan dan Tan Sui Mei kini tergeletak lemas di tanah berdebu di pinggir jalan. Tubuh mereka yang putih mulus penuh memar merah dan cairan mani kental yang putih kotor menetes dari memek anus serta mulut mereka yang sudah bengkak. Napas keduanya tinggal tersengal-sengal lemah dan mata mereka kosong karena trauma berat.

Gimana bos.. mau dilanjut gak nih.. liat tuh amoynya udah kelenger kayak gitu gara gara dientot nonstop sama kita. Haha..

Gue udah puas sama cicinya.. tapi belum paus sama adiknya.. 

"Bener bos.. adiknya keliatan males malesan waktu melayani kita tadi.. malah mukanya si Poncol sempat diludahin sama dia tadi.. bener bener nglunjak tuh cina.. padahal kan udah kita kasih kontol gratis.. hehe..

"Iyee.. cina kurang ajar kayak gini emang perlu dikasih pelajaran.. sekarang buruan lu cari kayu yang panjang.. buat rokok memek tuh cina... Seru Dul Petot dengan wajah kejam.

"Jangan.. bang.. ampun.. tolong lepasin kami.. jangan siksa adik saya...

Udah diem.. adik lu emang perlu dididik supaya tunduk sama pribumi.. hari ini gue akan kasih hukuman nikmat yang gak bakalan bisa dilupain seumur hidupnya haha..

Tak lama kemudian anak buah Dul Petot pun datang sambil membawa sebatang kayu dan menyerahkannya pada pria itu. Dengan wajah garang dan dipenuhi kebencian kemudian Dul Petot pun melangkah pelan mendekati tubuh Sui Mei yang sudah terbaring lemah diatas tanah dengan noda sperma diwajah dan sebagian tubuh putihnya.

Dul Petot melangkah mendekati tubuh Sui Mei yang tergeletak lemah di tanah hutan. Ia memegang batang kayu panjang yang kasar dengan tangan kanannya sambil menyeringai lebar penuh nafsu jahat. Dengan satu kaki ia menginjak paha mulus Sui Mei lalu membuka lebar kedua kakinya yang sudah lemas. Ujung kayu yang tebal dan kasar itu ia arahkan tepat ke kemaluan gadis tersebut yang masih basah oleh sisa air mani banyak pria.

Tepat saat Dul Petot hendak mendorong kayu itu dengan kasar ke dalam liang kewanitaan Sui Mei tiba-tiba Sui Lan yang terbaring di sebelahnya berteriak dengan suara lemah namun putus asa.

“Bang tolong jangan sakiti adik saya.. biar saya yang gantiin dia..

Dul Petot berhenti sejenak dan menoleh ke arah Sui Lan dengan alis terangkat. Ia tertawa kecil sambil melihat wajah Sui Lan yang pucat dan penuh air mata. Tubuh Sui Lan juga sudah penuh memar dan cairan kental menetes dari berbagai bagian tubuhnya.

“Ho.. ho.. lihat nih. Kakaknya rela mengorbankan diri buat adiknya. Lucu banget” kata Dul Petot dengan nada mengejek.

Para jawara lain ikut tertawa kasar di sekitar mereka. Si Buto yang masih berdiri di dekat situ mengusap batang kejantanannya yang setengah tegang sambil menyeringai. Sui Lan berusaha bangkit sedikit meski tubuhnya sangat lemas. Ia merangkak pelan mendekati Dul Petot dengan napas tersengal.

“Saya yang gantiin dia bang. Apapun yang mau abang lakukan ke adik saya.. lakukan saja ke saya. Tolong jangan siksa dia lagi.. kata Sui Lan lagi dengan suara gemetar.

Dul Petot menatap Sui Lan dari atas ke bawah lalu melempar batang kayu itu ke tanah. Ia menarik tangan Sui Lan dengan kasar hingga gadis itu jatuh berlutut di depannya. Dengan tangan besarnya ia memegang rahang Sui Lan kuat-kuat dan memaksa gadis itu menatap matanya.

"Jadi lu serius mau gantiin adik lu ?!! Emang lu siap kalau memek lu gue rojok pakai batang kayu ini ?!! Tanya Dul Petot dengan wajah kejam.

Sui Lan menelan ludah susah payah. Air matanya mengalir lagi tapi ia mengangguk pelan.

“Iya bang.. aku siap.. tapi tolong jangan siksa adikku lagi.. jawab Sui Lan.

Dul Petot melangkah mendekati tubuh Sui Lan yang tergeletak lemah di tanah hutan. Dua anak buahnya langsung bergerak cepat. Mereka memegangi dan membuka lebar kedua paha mulus Sui Lan dengan kuat hingga kemaluan gadis itu terbuka sempurna. Sui Lan mencoba meronta tapi tenaganya sudah habis.

Dul Petot mengambil batang kayu panjang yang kasar itu lalu mengoleskan air liur ke ujungnya. Ia menyeringai kejam sambil menekan ujung kayu tepat ke liang kewanitaan Sui Lan. Dengan satu dorongan keras ia merojok kayu itu masuk ke dalam kemaluan gadis tersebut.

Sui Lan menjerit kesakitan hebat saat kayu kasar itu merenggangkan dinding dalamnya dengan paksa. Rasa perih dan tergores membuat tubuhnya melengkung di tanah.

“Aaaahhh!! Sakit!! Keluarkan!! Tolong jangan!!” teriak Sui Lan.

Dul Petot tidak peduli. Ia terus mendorong kayu semakin dalam dan mulai memompa maju mundur dengan gerakan brutal. Kayu itu bergerak kasar di dalam liang kewanitaan Sui Lan sehingga lendir kawin bercampur darah tipis keluar dan membasahi tanah hutan. Dua anak buahnya tetap memegangi paha Sui Lan lebar-lebar agar Dul Petot bisa merojok semakin dalam dan leluasa.

Di sebelahnya Sui Mei hanya bisa menangis pelan melihat kakaknya disiksa demi melindunginya. Tubuh Sui Lan terguncang hebat setiap kali kayu itu menghujam masuk. Napasnya tersengal-sengal dan air matanya mengalir deras.

“Bagus. Kakaknya memang lebih tahan daripada adiknya. kata Dul Petot sambil tertawa kasar.

Ia semakin cepat memompa batang kayu itu ke dalam kemaluan Sui Lan. Para jawara lain berdiri mengelilingi sambil meremas buah dada Sui Mei dan menunggu giliran mereka sendiri. Malam di hutan masih panjang dan siksaan bagi kedua gadis itu terus berlanjut dengan penuh birahi.

Dul Petot terus memompa batang kayu kasar itu dengan irama brutal ke dalam liang kewanitaan Sui Lan. Gadis itu menggeliat hebat kesakitan di tanah hutan sementara tubuhnya bergetar tak terkendali. Kedua tangannya dipegangi kuat oleh dua anak buah Dul Petot dan kedua kakinya juga dibuka lebar serta diikat pegangan oleh yang lain sehingga ia sama sekali tidak bisa menutup diri.

Sui Lan mengerang kesakitan setiap kali kayu itu menghujam lebih dalam. Rasa perih yang luar biasa membuat dinding kemaluannya terasa tergores dan teregang paksa.

“Aaaahhh!! Sakit sekali!! Tolong hentikan!!” teriak Sui Lan dengan suara parau.

Beberapa anak buah Dul Petot berdiri di sekitar wajah Sui Lan lalu mengocok penis mereka dengan cepat. Satu per satu mereka mendesah kasar dan menumpahkan sperma kental ke wajah gadis itu. Cairan putih panas itu mengenai pipi mata dan mulut Sui Lan yang sudah bengkak sehingga wajah orientalnya semakin kotor dan lengket.

Sui Lan terus menggeliat dan mengerang di bawah pegangan kuat mereka. Meski sakit luar biasa gerakan kayu yang kasar di dalam liang kewanitaannya tanpa henti akhirnya memicu sensasi aneh di tubuhnya. Tubuhnya menegang hebat lalu ia klimaks dengan paksa. Liang kewanitaannya berdenyut kuat dan mengeluarkan lendir kawin yang bercampur darah tipis. Dul Petot tertawa keras melihat itu.

“Lihat nih. Amoy yang satu ini akhirnya muncrat juga gara gara keen dirojok pake kayu.. Dasar lonte.. kata Dul Petot dengan nada mengejek.

Para jawara lain ikut tertawa kasar sambil terus menumpahkan sperma ke wajah dan buah dada Sui Lan.

“Enak ya disiksa gini sampai muncrat. Lu tuh gak cocok jadi anaknya tuan tanah.. tapi lebih cocok jadi lonte cina murahan yang jadi tempat pembuangan peju pribumi !! ejek salah seorang anak buah.

Sui Lan hanya bisa terengah-engah lemah dengan mata setengah terpejam. Air mata bercampur sperma mengalir di wajahnya sementara tubuhnya masih gemetar akibat klimaks paksa tadi. Dul Petot masih memompa kayu itu beberapa kali lagi sebelum akhirnya mencabutnya dengan kasar. Sui Mei yang menyaksikan semuanya dari sebelah hanya bisa menangis pelan tanpa daya. 

Dul Petot rupanya ingkar janji. Ia tersenyum licik sambil melihat Sui Mei yang masih tergeletak lemas di rumput liar hutan. Dengan suara dingin ia memerintahkan anak buahnya untuk membalik tubuh gadis itu.

Anak buahnya langsung bergerak. Mereka membalik tubuh Sui Mei hingga gadis itu telungkup di tanah. Pinggangnya ditarik ke atas sehingga pantatnya terangkat dan menungging tinggi. Posisi itu membuat lubang pantat Sui Mei yang kecil dan rapet terbuka jelas di depan mereka.

Dul Petot mengambil batang kayu yang masih basah oleh lendir Sui Lan tadi. Ia mengoleskan air liur lagi ke ujung kayu lalu menekannya ke anus Sui Mei tanpa ampun. Dengan dorongan keras ia merojok kayu itu masuk ke dalam lubang pantat gadis tersebut.

Sui Mei menjerit kesakitan luar biasa saat batang kayu kasar itu merenggangkan anusnya yang belum pernah disentuh. Tubuhnya menggeliat hebat mencoba meloloskan diri tapi sia-sia karena beberapa orang memegangi pinggang dan punggungnya kuat-kuat.

“Aaaahhh!! Jangan!! Sakit sekali!! Keluarkan!!” teriak Sui Mei.

Dul Petot terus mendorong kayu semakin dalam dengan gerakan brutal. Ia memompa maju mundur tanpa belas kasihan sehingga anus Sui Mei teregang paksa dan terasa hampir robek. Gadis itu menjerit jerit tanpa henti. Suaranya memecah keheningan hutan malam.

Sui Mei meronta hebat kesakitan. Air matanya mengalir deras dan tubuhnya gemetar tak terkendali. Rasa perih yang menyiksa membuat napasnya tersengal-sengal. Tak lama kemudian tubuhnya menegang kaku lalu ia pingsan karena tidak tahan lagi dengan siksaan itu. Dul Petot tertawa puas sambil masih memompa kayu beberapa kali di dalam anus Sui Mei yang sudah lemas tak berdaya.

“Lihat nih. Adiknya langsung pingsan. Lubang pantatnya terlalu sempit buat dijadiin mainan sama kita. Haha kata Dul Petot.

Para jawara lain ikut tertawa kasar. Sui Lan yang menyaksikan semuanya dari sebelah hanya bisa menangis tersedu-sedu karena janji Dul Petot ternyata bohong. Tubuh Sui Mei kini tergeletak tak sadarkan diri dengan kayu masih tertancap di pantatnya sementara malam di hutan semakin dingin.

Dul Petot berdiri sambil mengikat kembali celananya dan menyeringai puas.

“Cukup sudah. Sekarang saatnya membersihkan jejak. Kita tidak mau ada saksi hidup dari kejadian ini. kata Dul Petot.

Atas perintahnya anak buahnya mengambil tali tambang kasar yang tebal. Mereka menarik kedua gadis itu hingga berlutut dengan kasar memaksa tangan mereka dilipat ke belakang punggung dan diikat sangat kuat hingga tali masuk ke kulit halus mereka sehingga meninggalkan luka merah. Sui Lan dan Sui Mei hanya bisa merintih lemah memohon.

“Ampun bang.. tolong lepasin.. jangan bunuh kami.. kata Sui Lan.

"Kita semua udah puas nikmatin memek dan bo'ol lu pada.. lu berdua udah gak ada gunanya lagi buat kita.. haha..

"Iya bang mending kita mampusin aja nih amoy biar gak ada masalah. Soalnya kalau bapaknya sampe tau kelompok kita yang ngelakuin ini dia pasti bakal minta bantuan sama tentara kompeni buat nangkep kita.

Kain hitam kotor diikat erat menutupi mata mereka sehingga membuat dunia menjadi gelap total. Kemudian kedua gadis yang telanjang bulat itu dimasukkan paksa ke dalam dua karung goni besar yang kasar dan bau tanah. Tubuh mereka yang lemas digulung di dalam karung dan tali diikat ketat di bagian atas hingga karung tertutup rapat. Dul Petot dan Si Buto mengangkat karung-karung itu ke bahu mereka membawa keduanya menuju sungai kecil yang mengalir tak jauh dari jalan. Dengan ayunan kuat kedua karung dilemparkan ke tengah sungai yang airnya hitam dan deras. Bunyi plung dua kali terdengar diikuti gelembung air yang naik ke permukaan sebelum hilang ditelan arus malam yang dingin. Kedua gadis Tionghoa itu tenggelam perlahan. Tubuh mereka yang sudah lemas tak mampu melawan ikatan tali dan karung yang berat sehingga akhirnya mati lemas di dasar sungai yang gelap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Tawanan Ojol

Draft Budak Napsu Ojol Jalanan 2

Budak Napsu Ojol Jalanan

Draft Kisah Tragis Amoy Siantar

Pengantin Brutal 5

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 5

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 6

Draft Hukuman Ayah Tiri 2

Draft Velin Mahasiswi Teladan