Langsung ke konten utama

Draft Kisah Tragis Amoy Siantar

By : Analconda13

Pagi itu kabut masih menyelimuti kota Pematang Siantar saat aku berdiri di depan rumah tua kami yang sudah usang. Aku Sui Ling berusia 20 tahun dengan kulit putih halus khas perempuan chindo dan rambut hitam lurusku terikat ponytail sederhana. Tas ransel tua di punggungku terasa berat meski hanya berisi baju secukupnya dan sedikit makanan bekal. Ayah dan ibuku berdiri di teras dengan wajah lelah namun penuh harap.

Kehidupan keluarga kami sangat sederhana. Papa hanya seorang pedagang kecil di pasar yang semakin sepi pembeli sementara mama mencari uang tambahan dengan menjahit baju tetangga sampai larut malam. Semakin lama tekanan ekonomi semakin mencekik keluarga kami apalagi aku juga masih mempunyai empat orang adik yang semuanya masih sekolah. Biaya SPP.. buku.. seragam dan makan sehari-hari saja sudah membuat orang tuaku sering berutang ke sana kemari.

Malam sebelum keberangkatan Papa memanggilku ke ruang tamu yang sempit. Ia memelukku erat dan suaranya serak serta berat seperti menahan tangis.

“Ling… kamu harus jaga diri baik-baik ya selama merantau di Jakarta. kata Papa pelan sambil mengusap punggungku.

Papa tahu ini berat buat kamu. Tapi keadaan kita sekarang sudah tidak bisa lagi seperti ini. Aku mengangguk di dalam pelukannya dan air mata sudah menggenang di pelupuk mata.

“Untuk sementara kamu tinggal sama Om Hendrik dulu di sana. Dia teman lama Papa pengusaha sukses dan punya banyak relasi bisnis. Nanti Om hendrik pasti bisa bantu kamu cari pekerjaan yang bagus. lanjut Papa sambil melepaskan pelukan tapi kedua tangannya masih memegang bahuku. Matanya memerah menahan sedih. 

"Begitu sudah dapat kerja dan gajian jangan lupa kirim uang tiap bulan ya Ling. Buat bantu biaya sekolah adik-adikmu makan sehari-hari dan obat-obatan Mama kalau kambuh. Papa mohon kamu adalah harapan keluarga sekarang.

Air mataku akhirnya jatuh juga. Aku buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan. “Iya Pa Sui Ling janji. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Buat adik-adik buat Mama dan Papa juga.

Mama yang berdiri di samping langsung memelukku erat dan tubuhnya bergetar menangis pelan. “Hati-hati di jalan ya Ling.. Jangan percaya orang sembarangan. Kalau ada apa-apa langsung telepon Papa atau Mama. Meski susah Mama selalu doain yang terbaik buat kamu.

Satu per satu aku mendekap adik-adikku yang masih mengantuk. Adik bungsu yang baru kelas 3 SD memeluk pinggangku sambil cemberut. "Cici.. jangan lama-lama di Jakarta ya.. 

Dada aku terasa sesak sekali. Aku mengangguk tegar sambil tersenyum meski air mata terus mengalir. “Iya Cici usaha biar cepat pulang bawa oleh-oleh buat kalian.

Setelah memeluk keluargaku satu per satu aku naik angkot menuju terminal bus dengan hati yang berat. Sepanjang perjalanan ke terminal aku memandang kota kelahiranku yang sejuk ini melalui jendela sehingga dada terasa semakin sesak. Malam itu aku naik bus ekonomi menuju Jakarta dan duduk di kursi sempit selama hampir dua puluh jam. Sepanjang jalan aku gelisah sambil memikirkan apa yang menanti di ibu kota. Tapi demi adik-adik demi Mama dan Papa aku siap menghadapi apa pun.

Setelah perjalanan bus yang melelahkan hampir dua puluh jam aku akhirnya tiba di Terminal Pulogadung Jakarta saat matahari sudah tinggi. Udara panas bau asap knalpot dan keramaian yang jauh berbeda dari kesejukan Pematang Siantar langsung membuatku pusing. Aku menelepon nomor teman papa bernama Hendrik yang diberikan ayahku. Tak lama kemudian sebuah mobil Fortuner hitam mengkilap menjemputku. Sopirnya seorang pria lokal yang tak banyak bicara. Kami melaju ke arah Jakarta Utara melewati gedung-gedung tinggi dan perumahan mewah.

Rumah Hendrik berada di daerah Kelapa Gading sebuah rumah besar bergaya modern dengan pagar tinggi dan halaman luas. Begitu masuk aku terkesima karena marmer mengkilap sofa kulit AC dingin dan aroma masakan yang mahal langsung menyambut. Hendrik adalah pria keturunan chinese yang lumayan sukses membuka usaha konveksi pakaian. Tapi suasana nyaman itu tak bertahan lama.

Teman papa keluar dari ruang tamu sambil memegang gelas whiskey. Usianya sekitar 58 tahun dengan tubuh gemuk perut buncit rambut yang sudah mulai menipis dan wajah merah karena mabuk. Dia memelukku cukup lama dan tangannya menekan punggungku lebih erat dari seharusnya.

“Wah Sui Ling ternyata kamu sudah besar ya sekarang. Padahal waktu om belum merantau ke jakarta dulu kamu tuh masih kecil banget dan suka om gendong. Kalau diperhatiin wajahmu juga cantik banget bener bener mirip mamamu waktu masih muda dulu” kata Hendrik dengan suara serak sambil tertawa.

Bau alkohol dan rokok langsung menyeruak ke hidungku sehingga membuatku merasa tidak nyaman. Tapi aku berusaha tersenyum sopan. Malam pertamaku di rumah ini Om Hendrik sudah minum berat bersama teman-temannya yang datang main judi. Aku mendengar mereka tertawa keras sambil melempar kartu sesekali memanggil nama perempuan-perempuan yang datang. Pagi harinya dua wanita berpakaian seksi keluar dari kamar tamu dengan riasan luntur dan rambut acak-acakan.

Om Hendrik hanya tertawa kecil saat melihat aku sedang membersihkan meja. Ia mendekat sambil memegang gelas kopi dan matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah.

“Kalau kamu mau sukses di Jakarta kamu harus berani ambil risiko dan siap berkorban Ling” katanya sambil tersenyum lebar. “Tapi buat gadis secantik kamu sebenarnya gak sulit kok dapat banyak uang di sini. Tinggal manfaatin yang kamu punya aja.

Aku merasa agak risih dengan nada bicaranya tapi tetap menjawab pelan. “Buat saat ini aku belum mikirin soal sukses Om. Kalau bisa dapat pekerjaan bagus dan punya penghasilan sendiri itu sudah lebih dari cukup buat aku.

Om Hendrik tertawa pelan lalu mendekat lebih dekat. Bau rokok dari mulutnya terasa kuat. “Ya Om tahu itu tapi jadi orang harus punya ambisi besar supaya bisa maju Ling. Jakarta ini keras buat gadis lugu kayak kamu. Gak usah khawatir Om pelan-pelan akan ajarin kamu cara survive di kota besar ini.

Ia menatapku dengan pandangan yang membuatku merasa tidak nyaman lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Kamu cantik banget Ling. Tubuhmu bagus kulitmu juga putih dan halus. Kalau mau cepat kaya Om bisa bantu kok. Banyak teman Om yang suka sama yang kayak kamu. Tinggal manis-manis dikit pasti langsung dibanjiri duit.

Aku menunduk dan tanganku mencengkeram lap pembersih lebih erat. “Om aku cuma mau cari kerja yang biasa aja. Tolong jangan bicara seperti itu.

Om Hendrik terkekeh dan tangannya menyentuh bahuku sebentar. “Hehe masih polos ya? Tenang aja Om sabar kok. Lama-lama kamu pasti ngerti sendiri. Di Jakarta kecantikan itu modal paling besar Ling.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Preman Tanah Abang

Draft Kisah Tragis Dibalik Pudarnya Kajayaan Pertokoan Glodok

Draft Pemburu Amoy Pecinan

Draft Aku Rela Dijadikan Budak Seks Saat Hamil

Draft Aksi Keji Komplotan Dul Petot

Draft Budak Napsu Sopir Bus Antarkota

Draft Rahasia Dibalik Seragam Sekolah

Draft Budak Napsu Ojol Jalanan 2

Draft Arisan sosialita Yang Brutal