By : Analconda13
Sudah lebih dari dua puluh tahun Pak Hadi bekerja sebagai penjaga perpustakaan di kampus swasta elite ini. Pria pribumi paruh baya berusia lima puluh dua tahun itu memiliki perut sedikit membuncit kumis tipis yang selalu rapi serta suara pelan yang jarang terdengar. Ia sudah hafal setiap sudut rak buku setiap aroma kertas lama dan terutama setiap jenis gadis yang datang belajar di sini. Sejak dulu ia terbiasa dengan pemandangan para mahasiswi Chindo yang berpakaian modis. Mereka mengenakan kaos ketat yang menonjolkan lekuk dada.. ramping.. rok pendek atau plisket selutut yang sesekali tersingkap saat mereka duduk serta rambut hitam panjang yang harum saat lewat di depan meja peminjaman. Kacamata tipis mereka membuat wajah-wajah itu terlihat semakin polos dan menggoda. Bagi Pak Hadi pemandangan itu bukan lagi hal biasa melainkan candu harian yang membuat darahnya selalu sedikit lebih panas setiap kali perpustakaan mulai ramai sore hari.
Kegiatan sehari-harinya terasa monoton di permukaan tapi penuh rahasia di baliknya. Pagi hari ia datang pukul tujuh lalu membersihkan meja dan menyusun buku-buku yang dikembalikan. Ia diam-diam memilih rak-rak yang jarang dikunjungi untuk menyisipkan koleksi pribadinya yaitu buku cerita dewasa lusuh dengan deskripsi menggoda serta foto-foto mesum yang ia cetak sendiri. Siang hari ia duduk di balik meja peminjaman pura-pura sibuk mencatat atau menatap layar monitor sementara matanya terus mengawasi gerak-gerik para gadis. Ia hafal siapa yang suka duduk menyilangkan kaki siapa yang suka membungkuk saat mengambil buku dari rak bawah sehingga roknya naik sedikit dan siapa yang pipinya mudah memerah saat membaca bagian tertentu dari buku pelajaran. Kadang ia berjalan pelan di antara rak-rak dengan alasan memeriksa stok sebenarnya hanya untuk lewat dekat meja mereka dan mencium wangi parfum atau mendengar desah napas pelan saat mereka berkonsentrasi. Malam menjelang tutup saat perpustakaan mulai sepi itulah momen favoritnya karena ia bisa duduk diam dan menikmati gadis-gadis yang masih betah belajar sendirian dengan tubuh mereka yang lelah tapi tetap anggun di bawah cahaya lampu neon yang redup.
Suatu sore yang biasa Velin datang lagi seperti rutinitasnya. Gadis asisten dosen Chindo berusia dua puluh tahun yang manis dan lembut itu selalu mengenakan kemeja putih rapi yang sedikit ketat di bagian dada rok plisket selutut rambut hitam lurus tergerai rapi serta kacamata bingkai tipis yang membuat wajah inteleknya terlihat semakin polos dan menggoda. Ia datang untuk mencari referensi jurnal sekaligus menikmati ketenangan perpustakaan yang sepi di lantai tiga. Pak Hadi dari balik mejanya sudah mengenali langkah ringan sepatu flatnya. Ia melihat Velin berjalan ke rak buku yang sama seperti biasa lalu jari-jarinya yang halus menyusuri punggung buku. Tanpa sengaja ia menarik satu buku tebal yang sebenarnya sudah disisipi buku cerita dewasa di dalamnya oleh Pak Hadi. Pak Hadi menahan napas saat melihat Velin membuka halaman pertama dengan wajah tenang lalu perlahan pipinya yang putih mulai memerah di balik kacamata bingkai tipisnya. Bibir tipisnya sedikit terbuka dan jari-jarinya gemetar pelan saat membalik halaman demi halaman sementara kakinya yang ramping saling menekan di bawah meja. Ia tidak tahu bahwa mata tua Pak Hadi sedang memperhatikan setiap reaksi itu dengan hasrat yang sudah lama terpendam. Hasrat itu semakin membara melihat gadis polos dan intelek yang biasanya begitu tenang kini mulai gelisah karena kata-kata mesum yang tersembunyi di antara halaman-halaman buku pelajaran.
Velin duduk di kursi pojok favoritnya dekat jendela. Cahaya sore yang redup menyusup melalui tirai tipis dan menyinari halaman buku di depannya. Awalnya ia hanya berniat mencari referensi untuk materi kuliah besok tapi buku tebal yang ia tarik itu terasa berbeda. Sampulnya biasa saja tapi begitu ia membuka halaman ketiga kata-kata yang muncul bukan lagi istilah akademis.
“Tangan pria yang lebih tua itu menyusup pelan di bawah rok gadis muda merasakan kelembapan yang sudah mulai membasahi celana dalam tipisnya.
Velin mengerjap di balik kacamata bingkai tipisnya dan pipinya yang sudah memerah semakin panas. Ia melirik sekilas ke sekitar untuk memastikan tak ada orang lain di dekat rak itu. Perpustakaan memang sepi sore ini hanya ada suara AC yang pelan dan detak jantungnya sendiri yang mulai tak karuan. Jari-jarinya yang halus tetap membalik halaman seolah tak sanggup berhenti meski napasnya mulai sedikit tersengal. Di bawah meja lututnya saling menekan lebih erat sehingga rok plisket selututnya sedikit naik dan memperlihatkan kulit paha putihnya yang halus.
Dari balik meja peminjaman yang berjarak sekitar sepuluh meter Pak Hadi tak melepaskan pandangan sama sekali. Ia sudah terlatih menyembunyikan hasratnya selama bertahun-tahun namun melihat Velin yang biasanya tenang dan profesional kini duduk dengan bahu sedikit tegang serta bibir bawahnya digigit pelan membuat sesuatu di balik celana panjangnya mulai berdenyut. Ia ingat betul bagaimana Velin selalu datang tiga kali seminggu selalu duduk di tempat yang sama dan selalu membetulkan kacamata bingkai tipisnya dengan gerakan lembut saat konsentrasi. Sekarang Pak Hadi bisa melihat dada Velin naik turun lebih cepat di balik kemeja putih yang rapi. Puting susunya mungkin sudah mengeras karena deskripsi mesum yang ia baca meski tersembunyi di balik bra tipis.
Perlahan Pak Hadi bangkit dari kursinya dengan langkah pelan yang dibuat biasa saja. Ia berpura-pura memeriksa rak buku di lorong sebelah lalu sengaja lewat cukup dekat di belakang Velin. Jarak itu cukup untuk mencium wangi shampoo rambut hitamnya yang lembut dan melihat bagaimana jari-jarinya kini gemetar lebih jelas saat membalik halaman.
Velin tak menyadari kehadiran Pak Hadi di belakangnya. Matanya terpaku pada paragraf berikutnya. Gadis dalam cerita itu kini sedang berlutut di depan pria paruh baya dan mulutnya yang polos perlahan membuka untuk menerima sesuatu yang tebal dan panas. Tubuh Velin bereaksi tanpa izin karena ada kehangatan yang menyebar di antara pahanya sehingga celana dalam katun putihnya mulai terasa lembab. Ia menekankan paha lebih kuat untuk menahan desah kecil yang hampir lolos dari bibirnya. Kacamata bingkai tipisnya sedikit berkabut karena napasnya yang panas lalu ia buru-buru membersihkannya dengan ujung jari. Gerakan itu justru membuat kemejanya sedikit tertarik dan menonjolkan lekuk dada yang kencang. Di dalam benaknya ia tahu seharusnya ia tutup buku ini sekarang tapi rasa ingin tahu yang bercampur malu membuatnya terus membaca semakin dalam dan semakin basah.
Pak Hadi berhenti di rak sebelah pura-pura menyusun buku tapi matanya terus tertuju pada Velin. Ia bisa melihat bagaimana gadis itu mulai gelisah di kursinya dan pinggulnya bergeser pelan seolah mencari gesekan yang tak disengaja.
“Masih lama sebelum tutup” gumam Pak Hadi dalam hati. Senyum tipis tersembunyi di balik kumisnya. Ia memutuskan untuk memberi Velin sedikit waktu lagi agar gadis kalem itu semakin terbawa dan tubuhnya semakin siap sebelum ia mendekat dengan alasan sederhana.
Pak Hadi mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri karena denyut di balik celana panjangnya sudah terasa semakin kuat. Ia bangkit pelan dari kursi di meja peminjaman lalu berjalan menyusuri lorong rak buku dengan langkah yang sengaja dibuat biasa seolah sedang memeriksa stok seperti rutinitasnya setiap sore. Ia tidak mendekat langsung ke meja Velin melainkan berhenti di rak sebelah sekitar dua meter di belakang gadis itu. Jarak itu cukup dekat untuk bisa mengamati tanpa terlihat jelas. Dari posisinya yang tersembunyi di antara rak-rak tinggi Pak Hadi bisa melihat dengan jelas bagaimana Velin duduk di kursi pojok dengan tubuhnya sedikit tegang. Kacamata bingkai tipisnya masih berkabut karena napas panasnya. Gadis itu masih membuka buku tebal tersebut lalu jari-jarinya yang halus membalik halaman dengan gerakan yang semakin lambat dan ragu. Pipinya memerah hebat di balik lensa tipis. Ia melihat Velin melirik ke kiri dan kanan dengan cepat untuk memastikan tak ada orang lain di lantai tiga yang sepi ini sebelum matanya kembali tertunduk ke halaman buku.
Velin merasa tubuhnya semakin panas. Paragraf yang sedang dibacanya kini semakin vulgar karena gadis dalam cerita itu sedang menggesekkan tubuhnya sendiri di pangkuan pria paruh baya dengan roknya tersingkap dan celana dalamnya sudah basah kuyup. Velin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat lalu kakinya yang ramping saling menekan lebih erat di bawah meja untuk menahan kelembapan yang semakin deras mengalir ke celana dalam katun putihnya. Rok plisket selututnya sudah naik sedikit karena gerakan gelisahnya sehingga memperlihatkan lebih banyak kulit paha putih yang halus dan lembut. Napasnya mulai tersengal pelan dan dada yang tertutup kemeja putih rapi naik turun lebih cepat karena puting susunya sudah mengeras dan terasa nyeri menekan bra tipis. Ia merasa malu sekali tapi hasrat yang bangkit dari kata-kata mesum itu terlalu kuat untuk dihentikan. Dengan tangan kiri masih memegang buku tangan kanannya perlahan turun ke bawah meja lalu menyusup pelan di antara pahanya yang saling menekan. Jari-jarinya yang halus menyentuh bagian luar celana dalamnya yang sudah basah hanya menyentuh ringan dulu seolah takut tapi sensasi itu membuat tubuhnya tersentak kecil.
Dari balik rak buku Pak Hadi menahan napas. Matanya tak lepas sedikit pun dari Velin. Ia melihat bagaimana gadis kalem dan intelek itu kini mulai kehilangan kendali karena tangan kanannya bergerak pelan di bawah meja dan jari-jarinya menekan serta menggosok bagian sensitifnya melalui kain celana dalam yang lembab. Gerakan itu masih sangat hati-hati dan hampir tak terlihat dari jauh tapi Pak Hadi yang sudah terbiasa mengamati bisa melihat jelas bagaimana pinggul Velin bergeser pelan di kursi mencari gesekan yang lebih dalam. Kacamata bingkai tipisnya sedikit meluncur turun di hidungnya karena keringat tipis dan bibir tipisnya terbuka sedikit lalu mengeluarkan desah napas kecil yang tertahan. Velin menutup mata sejenak membayangkan adegan dalam buku lalu jari-jarinya semakin berani mengusap naik turun pelan dan menekan titik yang paling sensitif sehingga membuat tubuhnya menggelinjang kecil di kursi. Roknya naik lebih tinggi paha putihnya terlihat semakin jelas dan gerakan tangannya di bawah meja kini lebih ritmis meski masih diam-diam dan penuh rasa malu.
Pak Hadi berdiri diam di tempatnya dan tangannya mencengkeram punggung buku di rak agar tak tergoda mendekat lebih jauh. Ia bisa merasakan hasratnya sendiri membara melihat pemandangan itu karena Velin yang biasanya begitu polos dan profesional kini sedang menyentuh diri sendiri di pojok perpustakaan dengan kacamata tipisnya berkabut wajahnya memerah serta tubuh rampingnya yang lembut mulai bergoyang pelan mengikuti irama jari-jarinya. Ia tahu Velin belum sadar ada orang yang mengamati dan itu membuat momen ini semakin manis baginya. Pak Hadi hanya berdiri di sana mengamati setiap detail setiap desah kecil setiap gerakan pinggul dan setiap kali Velin menggigit bibirnya untuk menahan suara sambil merasakan denyut di celananya semakin kuat. Ia menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya di perpustakaan yang semakin sepi menjelang tutup.
Velin semakin larut dalam dunia buku mesum yang terbuka di depannya. Napasnya kini lebih berat dan cepat lalu dada yang tertutup kemeja putih rapi naik turun dengan ritme yang tak terkendali. Di balik kacamata bingkai tipisnya matanya setengah terpejam dan bulu matanya bergetar pelan setiap kali jari-jarinya menekan lebih kuat pada titik sensitif di antara pahanya. Celana dalam katun putihnya sudah benar-benar basah kuyup karena kainnya menempel erat pada bibir kewanitaannya yang membengkak dan licin. Gerakan tangan kanannya di bawah meja semakin berani karena jari tengahnya menggosok naik turun dengan ritme yang semakin cepat sesekali menekan klitorisnya yang tegang melalui kain tipis sehingga membuat gelombang kenikmatan kecil terus menerus menjalar ke seluruh tubuhnya. Pinggulnya bergeser pelan di kursi kayu dan rok plisket selututnya sudah naik cukup tinggi hingga hampir memperlihatkan pinggiran celana dalamnya yang basah. Velin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tak mengeluarkan suara tapi desah kecil yang lembut tetap lolos dari tenggorokannya.
“Ah… mmh…
Suaranya sangat pelan dan hampir tak terdengar tapi bagi Pak Hadi yang sedang mengamati diam-diam itu seperti musik yang paling menggoda.
Dari balik rak buku di lorong sebelah Pak Hadi berdiri diam tak bergerak karena tubuhnya tegang akibat hasrat yang sudah mencapai puncak. Matanya tak lepas sedikit pun dari Velin. Ia melihat bagaimana gadis kalem dan intelek itu kini benar-benar larut dengan kacamata bingkai tipisnya berkabut tebal karena napas panasnya pipinya merah membara serta bibir tipisnya yang biasanya rapi kini sedikit bengkak karena digigit terus-menerus. Ia bisa melihat gerakan tangan Velin di bawah meja yang semakin cepat pinggulnya yang bergoyang pelan mencari pelepasan dan bagaimana paha putih rampingnya menegang setiap kali gelombang kenikmatan mendekat. Pak Hadi merasakan kejantanan sendiri berdenyut keras di dalam celana lalu tangannya mencengkeram rak buku hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tak berani bergerak atau mendekat lebih jauh sehingga hanya berdiri di sana menikmati setiap detik pemandangan intim yang jarang sekali ia dapatkan. Velin yang biasanya begitu polos kini sedang hampir klimaks di pojok perpustakaan dengan tubuh lembutnya gemetar napasnya tersengal serta ekspresi wajahnya yang campur antara malu dan kenikmatan yang tak tertahankan.
Tepat saat Velin merasa gelombang itu semakin mendekat karena otot-otot di perut bawahnya menegang jari-jarinya menekan lebih kuat dan cepat serta mulutnya terbuka sedikit siap melepaskan desah panjang ada gangguan kecil yang tiba-tiba datang. Suara langkah kaki pelan dari tangga lantai tiga terdengar samar diikuti suara pintu perpustakaan yang sedikit berderit karena angin sore yang masuk. Bukan orang yang masuk hanya angin yang mendorong pintu sedikit terbuka sebelum menutup kembali dengan suara klik pelan. Tapi itu cukup membuat Velin tersentak hebat. Tubuhnya menegang seketika tangan kanannya berhenti bergerak di antara pahanya mata di balik kacamata tipisnya terbuka lebar karena panik dan gelombang klimaks yang sudah di ambang pintu itu tertahan begitu saja. Hal itu meninggalkan sensasi nyeri yang manis dan frustrasi di antara selangkangannya. Velin buru-buru menarik tangannya keluar dari bawah meja lalu merapikan rok plisketnya dengan gerakan cepat dan gemetar. Wajahnya memerah lebih hebat karena malu yang tiba-tiba membanjiri. Ia menutup buku mesum itu dengan cepat napasnya masih tersengal dan melirik ke sekitar dengan cemas. Ia tidak tahu bahwa Pak Hadi masih berdiri diam di balik rak tersenyum tipis di balik kumisnya sambil menikmati momen gangguan yang membuat Velin semakin gelisah dan tubuhnya semakin sensitif.
Pak Hadi tetap di posisinya mengamati bagaimana Velin kini duduk tegang di kursi dengan kakinya saling menekan erat untuk menahan denyut yang belum reda kacamata tipisnya masih berkabut serta tangannya yang basah diam-diam diseka ke roknya. Ia tahu Velin belum mencapai pelepasan dan itu membuat hasratnya semakin membara. Mungkin gadis itu akan mencoba lagi setelah gangguan kecil tadi atau mungkin akan menyerah dan pergi dengan tubuh yang masih panas dan basah.
Velin duduk tegang di kursi pojoknya karena jantungnya masih berdegup kencang setelah gangguan kecil tadi. Gelombang kenikmatan yang sudah hampir mencapai puncak itu kini tertahan sehingga meninggalkan sensasi panas yang menyiksa di antara pahanya. Celana dalam katun putihnya basah kuyup dan menempel lengket pada bibir kewanitaannya yang masih membengkak serta berdenyut. Ia merasa malu sekali karena hampir kehilangan kendali di tempat umum dan karena tubuhnya bereaksi begitu kuat hanya karena buku mesum yang tak seharusnya ia baca. Dengan tangan gemetar Velin cepat-cepat merapikan rok plisket selututnya yang sudah acak-acakan lalu menariknya turun sebisanya agar tak memperlihatkan terlalu banyak kulit paha putihnya. Ia membersihkan kacamata bingkai tipisnya yang berkabut dengan ujung kemeja lalu menutup buku tebal itu dengan keras seolah menutup pintu pada godaan yang hampir membuatnya jatuh.
“Aku Harus pulang sekarang” gumam Velin dalam hati.
Tubuhnya masih panas dan denyut di selangkangannya belum reda sepenuhnya tapi ia tak berani tinggal lebih lama. Perpustakaan sudah mulai sepi dan lampu neon di langit-langit terasa terlalu terang untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia berdiri pelan dari kursi karena kakinya terasa lemas dan sedikit goyah akibat sensasi yang belum tuntas. Roknya masih sedikit kusut dan setiap langkah membuat celana dalam basahnya bergesek pelan dengan kulit sensitifnya sehingga ia menggigit bibir untuk menahan desah kecil. Velin menyusun buku-buku referensinya dengan cepat memasukkan buku mesum itu ke paling bawah tumpukan agar tak terlihat lalu berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang sengaja dibuat tenang. Tapi dari dalam ia merasa setiap gerakan roknya dan setiap gesekan paha mengingatkannya pada apa yang baru saja terjadi. Wajahnya tetap tertunduk kacamata tipisnya sedikit meluncur di hidung karena keringat tipis dan ia berharap tak ada yang memperhatikan betapa gelisahnya ia saat ini.
Dari balik rak buku di lorong sebelah Pak Hadi masih berdiri diam mengamati setiap gerakan Velin dengan mata yang tak berkedip. Ia melihat gadis itu berdiri merapikan rok lalu mulai berjalan menuju pintu dengan langkah yang agak kaku karena pinggulnya bergoyang pelan akibat usaha menahan sensasi di antara pahanya. Pak Hadi bisa membayangkan betul bagaimana celana dalam Velin basah dan lengket bibir intimnya masih berdenyut karena klimaks yang tertahan serta bagaimana kemeja putihnya menempel sedikit di dada karena keringat. Hasratnya sendiri masih membara kejantanan tegang dan berdenyut di dalam celana tapi ia tak bergerak. Ia hanya mengikuti Velin dengan pandangan dari kejauhan menikmati pemandangan punggung ramping gadis itu rambut hitam lurus yang tergerai serta cara ia sesekali menekankan paha saat berjalan.
Saat Velin melewati meja peminjaman Pak Hadi dengan cepat kembali ke kursinya lalu duduk di balik meja seolah tak pernah meninggalkan tempatnya. Ia tersenyum tipis di balik kumisnya ketika Velin lewat di depannya.
“Selamat sore Pak…
Velin mengangguk kecil dengan wajah masih memerah lalu buru-buru keluar dari perpustakaan.
Di luar angin sore kampus menyapu wajah Velin yang panas tapi itu tak cukup mendinginkan tubuhnya. Ia berjalan menuju parkiran dengan langkah cepat karena merasa setiap hembusan angin di bawah roknya seperti sentuhan yang menggoda. Di dalam benaknya gambar dari buku mesum itu masih berputar bercampur dengan bayangan tangan kasar Pak Hadi yang tadi sempat lewat dekat. Velin menggenggam tali tasnya kuat-kuat berusaha mengusir pikiran itu tapi denyut di antara pahanya mengingatkannya bahwa malam ini ia mungkin tak akan bisa tidur tenang. Sementara itu di perpustakaan yang kini benar-benar sepi Pak Hadi duduk di mejanya memandang pintu keluar tempat Velin tadi menghilang. Ia tahu gadis itu pergi dengan tubuh yang masih basah dan gelisah sehingga itu membuatnya semakin bersemangat untuk besok sore. Mungkin ia akan menyisipkan buku yang lebih berani lagi atau mungkin kali ini ia akan mendekat lebih dekat.
Malam itu setelah Velin pergi dengan tubuh yang masih gelisah dan basah Pak Hadi tidak langsung pulang. Ia menunggu hingga perpustakaan tutup lalu kembali ke rak pojok yang menjadi tempat favorit Velin. Dengan tangan yang sudah berpengalaman ia menyisipkan kejutan baru yang lebih berani. Kali ini bukan hanya buku cerita dewasa biasa. Ia memasukkan sebuah novel erotis tipis berjudul Forbidden Touch ke dalam sampul buku referensi tebal tentang sejarah seni lalu menyelipkan beberapa lembar foto mesum berwarna yang lebih eksplisit. Gambar itu menunjukkan seorang gadis Asia berambut hitam panjang berkacamata tipis sedang berlutut di depan pria paruh baya dengan mulutnya penuh serta foto close-up yang menunjukkan cairan kental menetes dari bibir intim yang basah. Di halaman pertama novel itu Pak Hadi menuliskan catatan kecil dengan tulisan tangan yang rapi.
“Baca sampai habis kalau berani. Malam ini perpustakaan tutup pukul 21.00.
Ia tersenyum tipis di balik kumisnya membayangkan reaksi Velin besok. Sebelum pulang ia memastikan rak itu terlihat biasa saja tapi mudah ditemukan oleh gadis yang sudah hafal tempat duduknya.
Keesokan harinya Velin berusaha menahan diri sepanjang hari. Kuliah dan tugas asisten dosen berjalan seperti biasa tapi pikirannya terus kembali ke perpustakaan ke buku mesum itu dan sensasi klimaks yang tertahan kemarin. Celana dalamnya terasa lembab lagi hanya karena mengingatnya. Setelah makan malam ia memutuskan untuk kembali ke kampus. Sudah hampir pukul dua puluh tiga puluh saat ia tiba di perpustakaan lantai tiga. Kampus sudah sepi hanya ada lampu darurat yang redup dan suara AC yang pelan. Hanya beberapa mahasiswa yang tersisa di lantai bawah dan lantai tiga hampir kosong total. Velin mengenakan kemeja putih yang sama seperti kemarin tapi kali ini dipadukan dengan rok plisket yang sedikit lebih pendek rambut hitam lurusnya tergerai rapi serta kacamata bingkai tipisnya bertengger manis di hidungnya. Ia berjalan langsung ke kursi pojok favoritnya karena jantungnya sudah berdegup lebih cepat.
“Hanya sebentar saja. katanya dalam hati. “Ambil referensi lalu pulang.
Tapi begitu ia menarik buku referensi sejarah seni yang biasa ia gunakan, novel tipis itu langsung jatuh ke pangkuannya. Velin mengerjap, mengenali sampul yang sama dengan kemarin. Jari-jarinya gemetar saat membuka halaman pertama dan menemukan catatan tulisan tangan. Pipinya langsung memanas. Ia melirik ke sekeliling—perpustakaan benar-benar sepi, hanya ada dirinya dan cahaya lampu yang temaram. Pak Hadi, yang sudah sengaja tinggal lebih lama malam ini dengan alasan “membersihkan rak”, duduk diam di balik meja peminjaman yang agak tersembunyi. Dari posisinya, ia bisa melihat Velin dengan jelas tanpa harus mendekat. Matanya tak lepas dari gadis itu saat Velin mulai membaca novel tersebut.
Velin membuka halaman demi halaman dengan napas yang semakin berat. Cerita itu jauh lebih vulgar dari kemarin: gadis muda berkacamata sedang diam-diam bertemu penjaga perpustakaan paruh baya di ruangan sepi, pria itu menyuruhnya membaca buku mesum sambil menyentuh diri sendiri, lalu perlahan mendekat dan… Velin menggigit bibirnya kuat-kuat. Tangan kanannya kembali turun ke bawah meja, menyusup di antara pahanya yang sudah mulai lembab lagi. Kali ini ia tak langsung menyentuh—ia hanya menekan telapak tangannya di atas rok, merasakan panas yang menyebar. Tapi semakin ia membaca deskripsi lidah pria tua yang menjilat pelan di antara paha gadis itu, semakin kuat keinginannya. Jari-jarinya akhirnya menyelinap ke bawah rok, menyentuh celana dalam yang sudah basah, dan mulai menggosok pelan melalui kain tipis. Kacamata bingkai tipisnya berkabut lagi, pinggulnya bergeser di kursi, dan desah kecil mulai lolos dari bibirnya yang terbuka.
Pak Hadi mengamati dari kejauhan dengan napas tertahan. Ia melihat Velin semakin larut malam ini—roknya naik lebih tinggi, kakinya terbuka sedikit di bawah meja, tangan kanannya bergerak ritmis di antara pahanya. Gadis itu kini duduk sendirian di perpustakaan yang hampir gelap, tubuh rampingnya gemetar pelan, dada naik-turun cepat di balik kemeja putih. Pak Hadi merasakan miliknya sendiri tegang keras, tapi ia tetap diam di tempatnya, hanya mengawasi dengan sabar, menunggu Velin semakin dalam terjebak dalam hasratnya sendiri di malam yang sepi ini.
Velin semakin tenggelam dalam novel tipis itu. Halaman demi halaman membuat napasnya semakin pendek, jari-jarinya bergerak semakin cepat di bawah rok, menggosok celana dalamnya yang sudah basah kuyup. Ia tak sadar bahwa Pak Hadi sudah bangkit dari meja peminjaman dan mendekat pelan dari belakang, langkahnya hampir tak terdengar di karpet perpustakaan yang sepi malam itu.
Saat Velin menggigit bibir menahan desah, tiba-tiba sebuah tangan kasar dan hangat menyentuh bahu kanannya. Velin tersentak keras, tubuhnya menegang seketika. Ia buru-buru menarik tangan dari antara pahanya dan menutup buku dengan cepat.
“P-Pak Hadi…?” suaranya bergetar, wajahnya memerah hebat.
Pak Hadi berdiri tepat di belakang kursinya, tubuhnya yang agak gemuk membayangi gadis itu. Ia membungkuk, suaranya rendah dan serak di telinga Velin, “Sudah lama Bapak perhatiin Non Velin berbuat kayak gini.. ternyata Malam ini non datang lagi… non makin penasaran ya sama cerita novel nya ?
Velin mencoba bangkit, tapi tangan Pak Hadi di bahunya menahannya pelan. “Pak… saya mau pulang. Maaf..
Belum sempat ia selesai bicara, tangan Pak Hadi yang lain sudah turun ke lengannya, mengusap kulit halusnya dengan lambat. Velin menggigil. Ia mencoba menepis tangan itu, “Pak, jangan… ini tidak boleh!
Pak Hadi tersenyum tipis, matanya penuh nafsu mesum. Ia makin berani, tangannya berpindah ke pinggang Velin dan meremas lembut dari atas kemeja. “Bapak tahu kok Non lagi kepengen banget ngelakuin yang ada di novel itu. Non baca sambil ngocok sendiri sampai basah gini… Bapak lihat dari tadi.
Velin menggeleng kuat-kuat, suaranya kecil ketakutan, “Tidak, Pak! Saya tidak… lepasin saya! Tolong…
Pak Hadi malah tertawa pelan, napasnya panas di leher Velin. Tangan kanannya menyusup ke depan, meraba dan meremas payudara Velin dari atas kemeja putih. Jempolnya mengusap puting yang sudah keras melalui bra tipis. “Aduh Non… bohong banget. Payudara Non udah ngaceng gini, loh.”
Velin menarik napas tajam, tangannya mencoba mendorong lengan Pak Hadi, “Pak… tolong… jangan sentuh saya… ini salah!
Tapi Pak Hadi sudah tak tahan. Tangan kirinya turun ke paha mulus Velin, mengusap naik pelan di bawah rok plisket. “Non bilang stop, tapi celana dalam Non udah banjir gini. Basah banget, Non…
Velin meronta pelan di kursi, suaranya panik, “Pak, stop! Saya serius… jangan! Lepasin!
Dengan gerakan kasar penuh nafsu, Pak Hadi menarik rok plisket Velin hingga ke pinggang dalam satu sentakan. Celana dalam katun putih yang sudah tembus basah langsung terpampang jelas. Velin terkesiap keras, kedua tangannya buru-buru berusaha menutup roknya kembali.
“Ii—iyaa Pak! Jangan…! Jangan angkat rok saya kayak gitu dong! Bapak sengaja mau melecehkan saya ya?!” hardik Velin dengan suara gemetar, wajahnya merah padam karena malu dan takut.
Pak Hadi terkekeh mesum, tangannya masih merayap di paha dalam Velin. “Jangan sembarangan nuduh, Non. Bapak cuma mau bantu Non aja. Lagian… tubuh Non sendiri yang ngajak. Kalau Non gak mau, kenapa basahnya sampe tembus gini? Hehe…
Pak Hadi tidak peduli. Ia berlutut di depan kursi Velin dengan cepat, kedua tangannya memegang paha putih ramping gadis itu dan membukanya lebar. Wajahnya mendekat ke selangkangan Velin yang basah, napas panasnya menerpa kain celana dalam yang lembab. Tanpa aba-aba lagi, ia mencumbu Velin dengan liar—mulutnya menempel kuat pada kain tipis itu, lidahnya menjilat dan mengisap melalui celana dalam, merasakan rasa manis cairan yang sudah membasahi kain. Satu tangannya memegang pinggul Velin agar tak bisa menutup kaki, sementara tangan lainnya meremas payudara gadis itu dengan kasar dari atas kemeja.
Velin menggeliat hebat, suaranya campur antara erangan tertahan dan penolakan, “Ah… Pak… jangan… lepas… mmh!” Tubuhnya berkhianat—pinggulnya sedikit terangkat sendiri saat lidah Pak Hadi menekan lebih dalam, meski mulutnya terus berkata “Tidak… tolong berhenti…
Pak Hadi semakin kalap, giginya menggigit pelan pinggiran celana dalam Velin, siap menariknya ke samping untuk mencicipi langsung kulit basah yang sudah mengkilap di depannya.
Velin menggeliat hebat di kursi, kedua tangannya mencoba mendorong kepala Pak Hadi yang sudah berada di antara pahanya yang terbuka lebar. “Pak… tolong… berhenti…” suaranya gemetar, hampir menangis karena campuran malu dan sensasi yang tak terkendali. Tapi Pak Hadi sudah terlalu kalap. Lidahnya terus menjilat dengan rakus melalui kain celana dalam katun putih yang basah kuyup, menekan kuat pada klitoris Velin yang sudah tegang dan sensitif. Setiap kali lidahnya bergerak naik-turun, Velin merasakan gelombang panas yang membuat lututnya lemas. Ia mencoba menutup kakinya, tapi tangan Pak Hadi yang kasar memegang paha dalamnya dengan kuat, jari-jarinya meninggalkan bekas merah di kulit putih halus itu.
“Non… rasanya manis sekali,” gumam Pak Hadi serak di antara cumbuannya, napas panasnya menerpa selangkangan Velin. Ia mengisap kain celana dalam itu kuat-kuat, menarik cairan Velin ke mulutnya melalui kain tipis. Velin menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah, mencoba menahan erangan yang ingin keluar. “Ah… jangan… Pak… saya tidak mau…” katanya lagi, tapi suaranya sudah lemah, tubuhnya malah sedikit mengangkat pinggulnya sendiri saat lidah Pak Hadi menemukan titik yang paling sensitif.
Pak Hadi makin berani. Dengan satu tangan masih memegang paha Velin agar tetap terbuka, tangan satunya naik ke atas, merobek dua kancing kemeja putih Velin dengan kasar. Kemeja itu terbuka, memperlihatkan bra putih tipis yang menutupi payudara kencang Velin. Pak Hadi langsung meremas payudara kanannya dengan kasar, jempolnya memutar puting yang sudah mengeras melalui kain bra. Velin tersentak, punggungnya melengkung di kursi. “Tidak… Pak… lepasin…” Ia mencoba menarik tangan Pak Hadi dari dadanya, tapi tenaganya tak sebanding dengan pria paruh baya yang sudah dikuasai nafsu.
Dengan gerakan yang semakin liar, Pak Hadi menarik celana dalam Velin ke samping dengan giginya, memperlihatkan bibir kewanitaannya yang halus, pink, dan sudah basah mengkilap. Tanpa memberi Velin waktu untuk protes lagi, ia langsung mencumbu langsung kulit itu. Lidahnya yang panas dan kasar menjilat dari bawah ke atas, menyelip di antara lipatan basah Velin, lalu mengisap klitorisnya dengan rakus. Velin tak bisa menahan lagi—erangan kecil lolos dari bibirnya, “Mmh… ahh…!” Tubuhnya gemetar hebat, tangannya kini bukan lagi mendorong, melainkan mencengkeram rambut Pak Hadi, entah untuk menariknya menjauh atau menekannya lebih dalam.
Pak Hadi mendongak sebentar, kumisnya basah oleh cairan Velin, matanya gelap penuh nafsu. “Non bohong kalau bilang tidak mau,” katanya serak sambil terus mengusap klitoris Velin dengan jempolnya yang kasar. “Lihat… Non sudah banjir begini. Cerita di buku itu kan Non bayangkan Bapak yang lakuin ini sama Non.
Velin menggeleng lemah, air mata malu menggenang di balik kacamata bingkai tipisnya yang sudah miring. “Pak… tolong… saya… saya tidak…” Tapi kata-katanya terputus saat Pak Hadi kembali menunduk dan memasukkan lidahnya lebih dalam ke dalam lubang Velin yang sempit dan berdenyut, menjilat dinding dalamnya dengan gerakan memutar yang membuat Velin hampir kehilangan akal.
Pinggul Velin kini bergerak sendiri, menggesek pelan ke wajah Pak Hadi meski mulutnya masih mencoba menolak dengan suara kecil yang semakin lemah. Perpustakaan yang sepi hanya diisi suara desah Velin yang tertahan, suara jilatan basah dari mulut Pak Hadi, dan napas pria paruh baya itu yang memburu karena nafsu yang sudah tak terbendung lagi.
Pak Hadi semakin kalap, tangannya kini menarik celana dalam Velin turun hingga ke lutut, siap membuka kakinya lebih lebar lagi untuk mencicipi lebih dalam.
Velin merasa dunia di sekitarnya berputar. Lidah Pak Hadi yang kasar dan panas terus bergerak di dalam lipatan intimnya, menjilat dinding-dinding lembab yang berdenyut, lalu keluar untuk mengisap klitorisnya dengan ritme yang lambat tapi kuat. Setiap isapan membuat pinggulnya tersentak kecil, cairan beningnya terus mengalir keluar, membasahi kumis tipis Pak Hadi dan dagunya. Celana dalam katun putihnya sudah tertarik turun hingga ke lutut, tergantung longgar di sana, memperlihatkan seluruh kewanitaannya yang terbuka lebar di depan pria paruh baya itu.
“Pak… ah… tolong… berhenti…” Velin masih mencoba menolak, suaranya lemah dan terputus-putus. Kedua tangannya mencengkeram rambut Pak Hadi, jari-jarinya yang halus menarik pelan, tapi entah kenapa tak pernah cukup kuat untuk menjauhkan kepala itu. Air mata malu mengalir pelan di pipinya yang memerah, tapi tubuhnya berkhianat—pinggulnya bergoyang pelan mengikuti gerakan lidah Pak Hadi, seolah meminta lebih dalam. Kacamata bingkai tipisnya sudah miring parah, hampir jatuh dari hidungnya karena kepalanya yang sesekali mendongak karena kenikmatan yang tak diinginkan.
Pak Hadi mendongak sebentar, wajahnya mengkilap oleh cairan Velin. Matanya penuh nafsu liar yang sudah lama terpendam. “Non Velin… tubuh Non ini sudah bilang lain dari mulut Non,” katanya serak sambil terus mengusap klitoris gadis itu dengan jempolnya yang kasar, membuat Velin menggigit bibir kuat-kuat hingga erangan kecil lolos lagi. “Bapak sudah lama lihat Non datang ke sini… selalu duduk manis, selalu baca buku sambil kaki Non saling menekan. Sekarang Non dapat apa yang Non inginkan.
Dengan tangan kirinya yang masih memegang paha dalam Velin agar tetap terbuka lebar, Pak Hadi bangkit sedikit dari posisi berlututnya. Tangan kanannya naik ke dada Velin, merobek sisa kancing kemeja putih hingga terbuka sepenuhnya. Bra putih tipis Velin kini terpampang jelas, payudaranya yang kencang naik-turun cepat karena napas tersengal. Pak Hadi langsung menarik bra itu ke atas tanpa melepasnya, memperlihatkan dua payudara putih mulus dengan puting pink yang sudah mengeras sempurna. Ia meremas keduanya dengan kasar, jari-jarinya mencubit puting Velin pelan-pelan, memutarnya, membuat Velin melengkungkan punggungnya di kursi.
“Ahh…! Pak… sakit… jangan…” Velin menggeleng lemah, tapi suaranya sudah bercampur dengan erangan yang lebih dalam. Tubuhnya gemetar hebat saat Pak Hadi kembali menunduk dan melanjutkan cumbuannya yang liar. Kali ini lidahnya lebih rakus—menjilat dari anus kecil Velin yang berkedut hingga ke klitoris, lalu memasukkan lidahnya sebanyak mungkin ke dalam lubang sempit yang terus mengeluarkan cairan manis. Suara jilatan basah terdengar jelas di perpustakaan yang hening, bercampur dengan desah Velin yang semakin sulit ditahan.
Velin merasa gelombang yang kemarin tertahan itu mulai naik lagi, lebih kuat kali ini. Perut bawahnya menegang, otot-otot pahanya bergetar, kakinya yang ramping terbuka lebar di atas bahu Pak Hadi. “Pak… saya… saya mau… ah… jangan di sini…” katanya dengan suara hampir hilang, tangannya kini bukan lagi menolak, melainkan mencengkeram bahu Pak Hadi lebih erat, jari-jarinya menekuk karena sensasi yang membanjiri.
Pak Hadi merasakan itu. Ia semakin kalap, mulutnya mengisap klitoris Velin dengan kuat sambil dua jarinya perlahan menyusup masuk ke dalam lubang basah yang sempit. Jari-jarinya bergerak keluar-masuk dengan pelan tapi dalam, merasakan dinding dalam Velin yang panas dan berdenyut kuat, seolah menyedot jarinya. “Non mau keluar ya? Keluar saja… Bapak mau lihat Non klimaks di mulut Bapak,” bisiknya serak di antara jilatan.
Velin menggeleng lemah, air mata terus mengalir, tapi pinggulnya kini menggesek wajah Pak Hadi dengan ritme yang tak bisa dikendalikan lagi. Gelombang itu semakin mendekat, napasnya tersengal-sengal, kacamata tipisnya hampir jatuh, dan tubuh rampingnya yang biasanya kalem kini gemetar hebat di kursi pojok perpustakaan yang sepi.
Pak Hadi terus menyentuh dan mencumbu dengan liar, tak memberi Velin ruang untuk mundur lagi, menunggu saat gadis itu akhirnya tak mampu menahan pelepasan yang sudah di ambang.
Gelombang itu akhirnya datang dengan hebat, tak bisa ditahan lagi. Velin mencengkeram bahu Pak Hadi kuat-kuat, tubuhnya menegang hebat di kursi, pinggulnya terangkat sendiri ke wajah pria paruh baya itu. “Pak… ahh…! Saya… saya…” Suaranya terputus menjadi erangan panjang yang tak bisa ditahan. Tubuh rampingnya bergetar hebat, otot-otot di perut bawah dan paha dalamnya berkedut keras. Cairan hangatnya menyembur keluar dari lubang sempitnya, membasahi mulut, lidah, dan kumis Pak Hadi. Velin klimaks dengan keras di pojok perpustakaan yang sepi, kakinya yang ramping mengejang di atas bahu Pak Hadi, kacamata bingkai tipisnya akhirnya jatuh ke lantai dengan suara kecil. Matanya terpejam rapat, bibir tipisnya terbuka lebar mengeluarkan desah panjang yang lembut dan putus-putus, “Ahh… mmhh…!” Pinggulnya masih bergoyang kecil secara tak sadar saat sisa-sisa orgasme menyapu tubuhnya, membuatnya lemas total di kursi.
Pak Hadi menjilat habis cairan Velin yang masih menetes, lalu bangkit dengan napas memburu. Wajahnya basah dan mengkilap, matanya gelap penuh nafsu yang sudah tak terbendung. Ia melihat Velin yang kini lunglai di kursi, kemeja putih terbuka lebar, bra tersingkap ke atas, rok plisket terangkat hingga pinggang, dan celana dalamnya tergantung longgar di lutut. Gadis Chindo yang biasanya kalem dan intelek itu kini tampak benar-benar kacau dan rentan.
Tanpa memberi Velin waktu untuk pulih sepenuhnya, Pak Hadi menarik tubuh gadis itu berdiri dengan kasar tapi kuat. Velin masih lemas, kakinya goyah, “Pak… tunggu… saya… lelah…” protesnya pelan, suaranya masih serak karena klimaks tadi. Tapi Pak Hadi tak peduli. Ia membalik tubuh Velin dengan cepat, menekan dada gadis itu ke meja perpustakaan yang dingin dan lebar. Velin kini tertelungkup di atas meja, pipinya menempel pada permukaan kayu yang dingin, rok plisketnya sudah tersingkap tinggi hingga pinggang, pantat putih mulusnya terpampang jelas di depan Pak Hadi.
Pak Hadi berdiri di belakang Velin, tangannya cepat membuka ikat pinggang dan resleting celana panjangnya. Miliknya yang sudah tegang keras sejak tadi langsung melompat keluar—tebal, panjang, dengan kepala yang membengkak dan sudah mengeluarkan cairan bening. Ia menggesekkan batangnya yang panas di antara belahan pantat Velin yang halus, merasakan kelembapan yang masih tersisa dari orgasme tadi. “Non… sekarang giliran Bapak,” gumamnya serak sambil memegang pinggul Velin dengan kedua tangan.
Velin mencoba mengangkat tubuhnya, tangannya bertumpu di meja, “Pak… jangan… tolong… ini sudah cukup…” Suaranya masih lemah, tapi Pak Hadi menekan punggungnya kembali ke meja dengan satu tangan. Dengan tangan satunya, ia mengarahkan kepala miliknya yang besar ke lubang Velin yang masih basah dan sensitif setelah klimaks. Ia mendorong pelan tapi pasti, kepala tebalnya membelah bibir intim Velin yang masih berdenyut.
“Ahh…! Pak… sakit… pelan…” Velin menggelinjang, tangannya mencengkeram pinggir meja. Tapi Pak Hadi terus mendorong, batangnya yang tebal masuk perlahan ke dalam lubang sempit yang masih berkedut karena sisa orgasme. Begitu sudah setengah masuk, ia tak bisa menahan diri lagi. Dengan satu hentakan kuat dari belakang, Pak Hadi menghantamkan seluruh batangnya hingga pangkal ke dalam tubuh Velin.
Velin menjerit kecil, tubuhnya tersentak maju di atas meja, “Aahh…! Udaahh pakk cukup.. jangan didorong lagi.. milik Pak Hadi memenuhi dirinya hingga ke dalam, menekan titik-titik sensitif yang baru saja klimaks. Pak Hadi langsung mulai bergerak, tangannya memegang pinggul Velin erat, menariknya ke belakang setiap kali ia mendorong maju. Hentakan demi hentakan terdengar basah dan keras di perpustakaan yang sepi—plak… plak… plak… tubuh Pak Hadi yang agak membuncit menghantam pantat putih Velin dari belakang dalam posisi berdiri.
Velin mencengkeram meja kuat-kuat, kakinya yang goyah hampir tak mampu berdiri, roknya tergantung acak-acakan di pinggang. Setiap hantaman membuat payudaranya bergoyang di atas meja, putingnya menggesek permukaan kayu yang dingin. “Pak… terlalu dalam… ah… pelan saja…” erangnya, tapi suaranya sudah mulai bercampur dengan desah kenikmatan yang tak bisa disembunyikan lagi.
Pak Hadi semakin liar, tangannya meraih rambut hitam lurus Velin dan menariknya pelan ke belakang, membuat punggung gadis itu melengkung. Ia menghantam lebih cepat dan dalam dari belakang, napasnya memburu di leher Velin. “Non… enak sekali… Bapak sudah lama mau ngelakuin ini sama Non…
Tubuh Velin bergoyang hebat mengikuti irama hantaman Pak Hadi, meja perpustakaan berderit pelan setiap kali ia didorong maju. Sensasi penuh dan dalam dari belakang membuat gelombang baru mulai naik lagi di perut bawahnya, meski ia masih berusaha menahan suara dan menolak dalam hati.
Velin mencengkeram pinggir meja perpustakaan dengan kuat, tubuhnya bergoyang hebat setiap kali Pak Hadi menghantamkan pinggulnya dari belakang. Batang tebal pria paruh baya itu masuk keluar dengan ritme kasar dan basah, memenuhi lubang Velin yang sudah licin dan panas hingga ke pangkal. Setiap hantaman membuat pantat putih mulusnya bergoyang, rok plisketnya tergantung acak-acakan di pinggang, dan payudaranya yang telanjang menggesek permukaan meja yang dingin. “Ah… Pak… terlalu keras…” erang Velin pelan, suaranya serak dan putus-putus, meski pinggulnya sedikit terdorong ke belakang mengikuti irama.
Pak Hadi memegang pinggul Velin erat dengan kedua tangan, jari-jarinya menekan kulit halusnya hingga memerah. Napasnya memburu di punggung gadis itu, “Non… enak sekali… Bapak mau keluar di dalam…” Ia semakin cepat memompa, suara plak-plak-plak basah terdengar jelas di ruangan yang sepi. Velin merasa gelombang kedua mulai naik lagi, lubangnya berdenyut kuat menggenggam batang Pak Hadi.
Tiba-tiba, dari arah rak buku di lorong sebelah, terdengar suara langkah kaki pelan dan suara buku yang diletakkan kembali ke rak dengan pelan. Seseorang—mungkin mahasiswa yang baru selesai membaca—masih berada di lantai tiga dan sedang berjalan mendekat ke arah meja pojok. Langkah itu semakin jelas, hanya beberapa meter lagi.
Velin tersentak panik, matanya melebar ketakutan. “Pak…! Ada orang… lepas…!” bisiknya ketakutan, tubuhnya mencoba meronta untuk melepaskan diri. Tapi Pak Hadi tidak berhenti. Malah ia langsung bereaksi cepat. Tangan kanannya yang besar dan kasar langsung membekap mulut Velin dari belakang dengan kuat, menutup bibir tipis gadis itu sepenuhnya. Hanya desah hidung yang tersisa.
“Sstt… diam, Non…” bisik Pak Hadi tepat di telinga Velin, suaranya rendah dan tegas sambil terus memompa pinggulnya dengan ritme yang sama cepatnya. Batangnya tetap menghantam dalam dan keras dari belakang, meski gerakannya kini lebih terkontrol agar suara tak terlalu keras. “Kalau Non berisik… kita ketahuan bareng.
Velin menggeleng lemah, air mata ketakutan dan malu mengalir di pipinya. Tangan Pak Hadi menutup mulutnya begitu rapat sehingga erangannya hanya menjadi dengusan tertahan di telapak tangan yang kasar. Tubuhnya masih bergoyang mengikuti hantaman Pak Hadi, pantatnya bergesekan dengan perut pria itu setiap kali batang tebal itu masuk hingga pangkal. Lubangnya yang sensitif berdenyut hebat, semakin licin karena campuran ketakutan dan kenikmatan yang terlarang.
Langkah kaki itu semakin dekat. Suara orang itu terdengar samar—mungkin sedang mencari buku lain di rak dekat mereka. Pak Hadi tidak memperlambat gerakannya. Ia malah menekan tubuh Velin lebih rapat ke meja, pinggulnya terus bergerak maju-mundur dengan kuat, batangnya menggesek dinding dalam Velin yang panas dan berdenyut. Tangan kirinya memegang pinggul Velin agar tetap stabil, sementara tangan kanannya tetap membekap mulut gadis itu dengan kuat, jempolnya menekan pipi Velin.
Velin merasa hampir gila. Setiap hantaman dari belakang membuat klitorisnya bergesek dengan pinggir meja, sensasi itu semakin kuat karena posisi tertelungkup. Ia mencoba menahan napas, tubuhnya gemetar hebat, kakinya yang goyah hampir tak mampu menopang. Desahannya teredam total di telapak tangan Pak Hadi, hanya terdengar suara basah kecil dari persetubuhan mereka dan napas Pak Hadi yang memburu di telinganya.
Orang itu berhenti sebentar di rak sekitar tiga meter dari mereka, seolah ragu-ragu memilih buku. Pak Hadi terus memompa Velin dengan liar tapi diam-diam, batangnya yang tebal keluar-masuk cepat, kepalanya membentur titik paling dalam setiap kali. Velin merasa klimaks kedua sudah di ambang lagi, tubuhnya menegang hebat, lubangnya menggenggam Pak Hadi dengan kuat.
Pak Hadi berbisik serak di telinga Velin sambil tetap membekap mulutnya, “Non mau keluar lagi ya? Keluar saja… tapi diam…
Langkah kaki itu mulai bergerak lagi, kali ini semakin mendekat ke arah meja mereka.
Langkah kaki itu semakin dekat, hanya tinggal satu rak lagi dari meja pojok. Velin panik luar biasa, tubuhnya menegang hebat, matanya melebar ketakutan. “Pak… ada orang… lepas…!” bisiknya putus asa, tapi Pak Hadi sudah bertindak cepat.
Dengan kekuatan kasar, ia menarik batangnya keluar dari Velin dengan suara basah kecil, lalu mendorong tubuh gadis itu ke bawah meja perpustakaan yang lebar. Dalam gerakan cepat, Pak Hadi memutar tubuh Velin sehingga gadis itu kini berada di kolong meja dalam posisi **menungging**. Lutut Velin bertumpu di lantai karpet yang agak kasar, kedua tangannya bertumpu di depan untuk menahan tubuh, pantat putih mulusnya terangkat tinggi ke belakang, rok plisketnya tersingkap sepenuhnya hingga pinggang, dan celana dalamnya masih tergantung longgar di salah satu lutut.
Pak Hadi langsung duduk di kursi di depan meja, kakinya terbuka lebar di bawah meja. Ia meraih pinggul Velin dari belakang dengan kedua tangan, menarik pantat gadis itu ke arahnya. Tanpa aba-aba, ia mengarahkan batangnya yang tebal dan basah ke lubang Velin yang masih terbuka dan berdenyut, lalu mendorong masuk dengan satu hentakan kuat hingga pangkal.
“Mmmh—!!” Velin menjerit tertahan. Pak Hadi langsung membekap mulutnya dari belakang dengan tangan kanan yang besar, menekan kuat agar suara gadis itu tak keluar. Batangnya yang panas dan tebal kini sepenuhnya tertanam di dalam Velin dari belakang dalam posisi menungging di kolong meja yang sempit dan gelap.
Tepat saat itu, mahasiswa laki-laki itu muncul di depan meja. Ia berdiri hanya satu meter dari mereka, meletakkan buku yang dibawanya di permukaan meja dengan pelan, lalu mulai mencari buku lain di rak samping. Dari kolong meja, Velin bisa melihat jelas sepatu orang itu tepat di depan matanya, hanya beberapa senti dari wajahnya yang memerah dan basah air mata.
Pak Hadi tidak berhenti. Ia malah mulai menggenjot Velin dengan kasar dari belakang sambil tetap duduk di kursi. Pinggulnya naik-turun pelan tapi kuat, menghantam pantat Velin dari belakang dengan ritme dalam dan ganas. Setiap hantaman membuat tubuh Velin tersentak maju, payudaranya yang telanjang bergoyang dan hampir menyentuh lantai, roknya tergantung acak-acakan. Suara basah plak-plak kecil terdengar pelan di kolong meja yang tertutup, bercampur dengan dengusan napas Velin yang tertahan di telapak tangan Pak Hadi.
Velin gemetar hebat, lututnya lemas di lantai. Posisi menungging membuat batang Pak Hadi masuk lebih dalam dari belakang, kepalanya membentur titik paling sensitif setiap kali pria paruh baya itu mendorong. Tangan Pak Hadi yang membekap mulutnya semakin kuat, jari-jarinya menekan pipi Velin, sementara tangan kirinya memegang pinggul gadis itu erat, menariknya ke belakang setiap kali ia menghantam maju.
Orang itu masih berdiri di depan meja, bahkan menarik kursi lain dan duduk sebentar untuk melihat daftar buku di rak. Velin hampir pingsan karena ketakutan — setiap gerakan Pak Hadi membuat pantatnya bergoyang kasar, lubangnya yang licin menggenggam batang tebal itu dengan kuat, dan cairannya terus menetes pelan ke lantai karpet. Ia merasa klimaks kedua sudah sangat dekat lagi, tubuhnya menegang hebat meski mulutnya dibekap rapat.
Pak Hadi berbisik sangat pelan di telinga Velin sambil terus menggenjotnya tanpa ampun, “Diam… Non… kalau berisik… kita ketahuan bareng…” Pinggulnya terus bergerak kasar dari belakang, batangnya keluar-masuk lubang sempit Velin dengan ritme yang semakin cepat dan dalam di kolong meja yang pengap.
Mahasiswa itu akhirnya bangkit setelah hampir dua menit yang terasa seperti selamanya. Ia menaruh buku kembali ke rak dan berjalan menjauh menuju tangga. Langkah kakinya perlahan menghilang.
Begitu suara langkah itu tak terdengar lagi, Pak Hadi melepaskan bekapan mulut Velin sedikit, tapi tetap memegang pinggulnya erat. Ia langsung menggenjot Velin dengan liar dan tanpa kendali, suara hantaman basah kini lebih jelas terdengar di kolong meja. “Sekarang Non boleh erang… tapi pelan,” gumamnya serak sambil terus menghantam dari belakang dengan ganas, pantat Velin yang menungging bergoyang hebat setiap kali ia memompa.
Velin terengah-engah, tubuhnya sudah di ambang ledakan lagi, lubangnya berdenyut kuat menggenggam batang Pak Hadi.
Begitu langkah mahasiswa itu benar-benar menghilang ke tangga, Pak Hadi langsung melepaskan bekapan mulut Velin sepenuhnya, tapi tangannya tetap mencengkeram pinggul gadis itu dengan kuat. Ia menggenjot Velin dengan liar dari belakang dalam posisi menungging di kolong meja yang sempit dan pengap. Setiap hantaman keras membuat pantat putih Velin bergoyang hebat, batang tebalnya keluar-masuk lubang basah gadis itu dengan suara plak-plak-plak yang basah dan tak lagi tertahan.
Velin sudah tak kuat lagi menahan. Posisi menungging membuat batang Pak Hadi masuk sangat dalam, kepalanya berulang kali membentur titik paling sensitif di dalamnya. Setiap hantaman juga membuat klitorisnya bergesek pelan dengan lantai karpet kasar di bawah meja. Gelombang kenikmatan yang ketiga datang dengan sangat cepat dan kuat.
“Ahh… Pak… saya… lagi…!” Velin erang pelan, suaranya serak dan gemetar. Tubuhnya menegang hebat, lututnya yang bertumpu di lantai gemetar tak terkendali. Lubangnya berdenyut kuat, menggenggam batang Pak Hadi seperti ingin memerasnya. “Mmh… ahh… keluar… saya keluar lagi…!
Pak Hadi merasakan itu. Ia mempercepat gerakan pinggulnya, menghantam Velin dengan kasar dan dalam, tangannya menarik pinggul gadis itu ke belakang setiap kali ia mendorong maju. “Keluar saja, Non… Bapak juga mau keluar… di dalam…” gumamnya serak, napasnya memburu di punggung Velin.
Velin tak bisa menahan lagi. Klimaks keduanya datang dengan hebat. Tubuh rampingnya mengejang keras, punggungnya melengkung dalam posisi menungging, pantatnya terdorong ke belakang sendiri. Cairan hangatnya menyembur keluar lagi, membasahi batang Pak Hadi, paha pria itu, dan lantai karpet di bawah mereka. Velin menggigit bibirnya kuat-kuat agar tak berteriak, tapi erangan panjang yang lembut tetap lolos, “Aahh… mmhh…!” Seluruh tubuhnya bergetar hebat, lubangnya berkedut-kedut kuat menggenggam batang Pak Hadi, seolah ingin menyedotnya lebih dalam.
Pak Hadi tak tahan lagi melihat dan merasakan Velin klimaks di pangkal batangnya. Dengan beberapa hantaman terakhir yang sangat kasar dan dalam ia mendesah serak di telinga Velin.
“Bapak keluar
Ia menekan pinggul Velin kuat-kuat ke belakang sehingga batangnya tertanam hingga pangkal di dalam lubang gadis itu. Tubuhnya menegang lalu menyemburkan cairan panas dan kental berulang kali ke dalam Velin. Semprotan demi semprotan menyembur jauh ke dalam rahimnya dan memenuhi dinding dalam yang masih berdenyut karena orgasme. Pak Hadi terus memompa pelan sambil menyembur memastikan setiap tetes masuk dalam-dalam hingga cairannya meluber keluar dari celah lubang Velin yang penuh lalu menetes pelan ke lantai karpet.
Keduanya terengah-engah di kolong meja yang gelap. Velin masih dalam posisi menungging dengan tubuhnya lemas total kakinya gemetar dan cairan campuran mereka menetes dari lubangnya yang masih terbuka. Pak Hadi masih duduk di kursi karena batangnya yang mulai melunak tetap tertanam di dalam Velin. Tangannya mengusap pinggul gadis itu dengan kasar sambil menikmati denyut sisa orgasme.
Setelah gelombang orgasme mereka mereda Pak Hadi akhirnya menarik batangnya yang sudah melunak keluar dari dalam Velin dengan suara basah kecil. Cairan kental putih campuran miliknya dan Velin langsung menetes pelan dari lubang gadis itu yang masih terbuka dan merah membengkak lalu jatuh ke lantai karpet di kolong meja. Velin masih dalam posisi menungging dengan tubuhnya lemas sekali lututnya gemetar dan napasnya tersengal-sengal. Pak Hadi mengusap pantat Velin pelan dengan telapak tangannya yang kasar lalu menepuk ringan sebelum akhirnya membantu gadis itu bangkit.
Velin merangkak keluar dari kolong meja dengan susah payah. Kakinya lemas dan hampir tak mampu berdiri tegak. Rok plisketnya masih tersingkap tinggi celana dalam katun putihnya tergantung di salah satu lutut basah kuyup dan kotor. Kemejanya terbuka lebar bra tersingkap ke atas serta payudaranya yang putih masih memerah karena remasan tadi. Wajahnya sangat memerah kacamata bingkai tipisnya sudah kotor dan miring serta rambut hitam lurusnya acak-acakan menempel di keringat di pipi dan lehernya. Ia terisak pelan karena air mata malu masih mengalir.
Pak Hadi keluar dari kursi lalu berdiri di depan Velin sambil cepat menarik celana panjangnya ke atas dan merapikan ikat pinggang. Ia membantu Velin berdiri dengan memegang lengannya lalu mulai merapikan pakaian gadis itu dengan tangan yang masih kasar. Ia menarik bra Velin ke bawah merapikan kemeja putihnya satu per satu meski beberapa kancing sudah copot. Rok plisket ditarik turun kembali ke posisi semula meski kusut berat. Celana dalam yang basah ditarik naik pelan lalu menempel lengket di lubang Velin yang masih penuh cairan Pak Hadi. Velin hanya diam dengan tubuhnya gemetar setiap kali tangan Pak Hadi menyentuh kulitnya.
“Sudah jam sembilan malam Non” kata Pak Hadi dengan suara rendah yang masih serak sambil melirik jam dinding perpustakaan. “Perpustakaan tutup sekarang.
Velin tidak menjawab. Ia hanya mengangguk lemah buru-buru merapikan rambutnya dengan jari gemetar dan memungut kacamata bingkai tipisnya dari lantai. Kacamata itu dibersihkan asal-asalan dengan ujung kemeja sebelum dipakai kembali. Lubangnya masih terasa penuh dan lengket karena setiap langkah membuat cairan Pak Hadi sedikit meluber keluar dan membasahi celana dalamnya. Ia merasa kotor malu dan lemas luar biasa.
Pak Hadi mengantar Velin sampai ke pintu perpustakaan dengan langkah biasa seolah tak terjadi apa-apa. Saat Velin melangkah keluar ke koridor kampus yang sudah gelap dan sepi Pak Hadi hanya berkata pelan di belakangnya.
“Hati-hati di jalan Non Velin. Besok sore datang lagi ya.
Velin tidak menoleh. Ia berjalan cepat menuju parkiran motornya dengan lututnya masih goyah. Angin malam kampus terasa dingin di kulitnya yang masih panas. Setiap langkah membuat roknya bergesekan dengan celana dalam yang basah sehingga mengingatkannya pada apa yang baru saja terjadi di kolong meja. Cairan kental Pak Hadi masih terasa hangat di dalamnya sesekali menetes pelan ke paha dalamnya.
Sesampainya di kostan kecilnya yang sederhana Velin langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia bersandar di pintu sejenak dengan napasnya masih berat. Dengan tangan gemetar ia melepas semua pakaiannya yang kusut dan basah lalu berdiri di depan cermin. Tubuhnya penuh bekas merah di dada pinggul dan paha dalam. Lubangnya masih agak terbuka dan mengkilap sisa cairan. Velin duduk di tepi tempat tidur memeluk lututnya lalu menangis pelan. Malam itu ia mandi lama sekali mencoba membersihkan semua jejak tapi rasa penuh dan sensasi hantaman Pak Hadi dari belakang masih terasa jelas di tubuhnya.
Di dalam benaknya ia berjanji tidak akan kembali ke perpustakaan lagi. Tapi entah kenapa saat ia berbaring di tempat tidur kost yang gelap pikirannya malah kembali ke buku mesum itu dan tangan kasar Pak Hadi.


Komentar
Posting Komentar