Beberapa hari setelah peristiwa mengerikan didalam rumahku sendiri. Aku terus menerus hidup dalam ketakutan. Setiap malam aku tidak bisa tidur dengan tenang dan selalu gelisah. Bahkan aku juga sering terbangun karena mimpi buruk tentang kelakuan biadap oknum ojol tsb yang sudah merenggut keperawananku secara paksa sekaligus mengancamku dengan berbagai foto foto mesum yang dia ambil waktu kejadian itu.
Sampai saat ini aku belum berani menceritakan apa pun kepada orang tuaku apalagi kepada orang lain karena ancaman mengerikan darinya dan foto-foto mesum itu menjadi senjata paling ampuh baginya. Hanya melihat preview di galeri HP-nya saja sudah membuatku gemetar.
Pagi itu sekitar pukul 06.15 HP-ku bergetar. Pesan singkat dari nomor bang Joko masuk.
"Pagi Angel. Hari ini abang mau kamu pergi ke sekolahnya gak pakai daleman sama sekali. Pokoknya celana dalam dan BH gak boleh dipakai. Kalau kamu melawan perintah maka abang akan kasih hukuman yang berat buat kamu. Kalau perlu foto dulu buat bukti sebelum berangkat sekolah terus kirim ke abang. Tulis Bang Joko dalam pesan singkatnya.
Aku membaca pesan itu sambil duduk di tepi ranjang sehingga wajahku memucat. Tangan kecilku gemetar. Aku hampir menangis lagi tapi ingat ancaman Joko tentang teman-teman ojol dan sekapan di pangkalan ojol membuatku akhirnya patuh. Dengan hati berat aku mandi pagi seperti biasa.
Setelah mandi aku berdiri di depan cermin kamar sehingga rambut hitam panjangku yang sampai sepinggang masih basah lalu aku kuncir rapi menjadi kuncir kuda tinggi yang polos. Kulitku putih mulus bersinar karena baru mandi dan wajahku klasik oriental dengan mata sipit lembut hidung kecil mancung bibir tipis alami serta pipi yang masih memerah karena air hangat. Aku mengenakan kemeja seragam putih rapi dan rok abu-abu lipit khas seragam sekolah swasta tetapi tanpa BH dan tanpa celana dalam seperti perintah Bang Joko. Payudaraku yang montok dan kencang terasa bebas di balik kain kemeja tipis sehingga puting susuku samar terlihat kalau dilihat teliti. Rokku terasa sangat tipis dan dingin di area intimku yang masih agak perih dari beberapa hari lalu.
Tak lama kemudian HP-ku berdering sehingga Joko menelepon.
“Angel.. hari ini kamu gak perlu pesan ojol kalau mau berangkat sekolah. Hari ini abang bakal jemput kamu didepan rumah. Kalau udah selesai semua langsung kedepan rumah aja. Tulis bang Joko dalam pesan singkatnya.
Aku menggigit bibir bawahku pelan lalu mengambil tas sekolahku. Aku turun ke lantai bawah rumah dengan langkah ringan. Di ruang tamu mama sudah duduk menunggu sambil mengatur meja altar leluhur.
"Angel.. khi hak hao sian mai lupa pai sin di altar dulu lah. Kata Mama dengan suara lembut. Kebiasaan ini memang sesuai tradisi keluarga kami yang sudah lama.
Aku mengangguk patuh. Aku mengambil dupa lalu menyalakannya di meja altar. Asap harum naik perlahan. Aku menutup mata sejenak dan berdoa dengan suara bergetar memohon keselamatan sepanjang hari ini. Setelah selesai aku membungkuk hormat ke arah altar lalu melanjutkan langkah keluar rumah.
Pagar hijau pudar terbuka pelan. Di depan sudah ada Bang Joko beserta motor Beat hitamnya. Begitu aku berjalan keluar mata Bang Joko langsung membesar. Aku terlihat segar polos dan sangat menggoda dengan rambut kuncir kuda yang rapi. Wajah innocent khas orientalku semakin terlihat jelas. Seragam sekolahku rapi tapi tanpa daleman di baliknya sehingga payudaraku sedikit menonjol dan paha mulusku terlihat saat angin meniup rok pendekku. Bang Joko langsung blingsatan. Kejantanannya mengeras cepat di balik celananya.
"Cepat naik.. jangan bikin keluargamu curiga. Perintah Joko dengan suara serak sehingga matanya tak lepas dari dada ku yang sedikit bergoyang saat aku naik ke motor.
Aku akhirnya naik ke atas motor Beat hitam itu dengan hati yang berdegup kencang. Aku duduk di belakang Joko dan merasakan rok abu-abuku yang tipis langsung menempel ke jok motor yang dingin. Tanpa celana dalam membuat area kewanitaanku terasa sangat terbuka. Payudaraku yang montok dan bebas tanpa BH bergoyang pelan ketika aku menyesuaikan posisi dudukku dan kedua puncak puting susuku yang mengeras karena angin pagi samar-samar menekan kain kemeja putih tipis.
Sepanjang perjalanan Joko sengaja memperlambat laju motornya sehingga ia bisa menikmati situasi ini lebih lama. Sesekali Joko mengeram gas motor dengan mendadak dan tiba-tiba sehingga tubuhku terdorong ke depan. Akibatnya buah dadaku yang kencang dan lembut itu langsung menempel kuat di punggung Joko dan bergesekan nikmat setiap kali motor melambat atau berhenti mendadak. Joko bisa merasakan kehangatan dan kenyalnya payudaraku dengan jelas meski hanya melalui kemeja seragam tipis.
Ia tersenyum puas di balik helmnya dan terus mengulangi gerakan yang sama berulang kali agar gesekan itu semakin terasa. Aku hanya bisa menggigit bibirku kuat-kuat dan berusaha menahan diri tanpa berani mengeluh.
Sesampainya di dekat sekolah Joko malah membelokkan motornya ke sebuah gang sempit yang sepi di samping gedung sekolah. Gang itu biasanya sepi di pagi hari karena hanya ada tembok tinggi dan sedikit sampah. Ia mematikan mesin motor di ujung gang yang tersembunyi.
"Turun.. katanya tegas. Aku turun dengan kaki yang gemetar. Joko menarikku lebih ke dalam gang lalu mendorong punggungku ke tembok.
“Angkat rokmu sekarang. Abang mau liat kamu nurut perintah apa nggak. Perintahnya lagi. Aku menunduk malu dengan pipi yang merah padam. Dengan tangan gemetar aku mengangkat rok abu-abuku perlahan hingga pinggang. Bagian intimku yang mulus bersih dan tanpa celana dalam langsung terpapar udara pagi. Joko tersenyum lebar karena sorot matanya yang dipenuhi napsu binatang. Tangan kasarnya langsung meraba paha dalamku lalu naik ke area intimku yang masih agak sensitif.
“Bagus nggak pakai daleman tapi abang harus cek semuanya” katanya. Jari tengah Joko mengusap pelan bibir intimku yang kering karena gugup lalu naik ke dada. Ia meremas payudaraku dari luar kemeja dan merasakan puting susuku yang mengeras karena angin pagi dan sentuhan kasar. BH juga nggak pakai ternyata kamu benar-benar patuh ya sekarang. tanyanya.
Tiba tiba ojol itu mendekatkan wajahnya lalu mencium leherku yang masih harum sabun mandi sambil terus meraba intimku dengan jari-jarinya yang kasar. Joko melirik kanan kiri gang sempit itu sekali lagi. Pagi masih sepi dan hanya terdengar suara burung serta daun pohon yang bergoyang pelan. Tidak ada orang lewat. Nafsunya sudah tidak tertahan lagi melihatku yang berdiri di depannya dengan rok terangkat sampai pinggang tanpa celana dalam dan wajah polos yang memerah karena malu.
“Tahan roknya.. perintah Joko dengan suara serak. Aku patuh meski tanganku gemetar. Joko mendekatkan wajahnya yang kasar ke wajahku yang mulus. Napasnya panas menyapu bibirku sebelum akhirnya ia mencium bibirku dengan penuh nafsu. Bibir Joko tebal dan kasar. Lidahnya langsung memaksa masuk ke mulutku yang masih kaku dan polos. Ia menghisap bibir bawahku menjilat dan memainkan lidahnya di dalam mulutku dengan rakus. Aku hanya bisa mengerang pelan di antara ciuman mataku terpejam erat karena malu dan air liur Joko sedikit menetes di daguku.
Sambil terus mencium aku tangan Joko naik ke baju putih seragam sekolahku. Dengan lincah ia membuka dua kancing paling atas sehingga belahan dada putih mulusku yang tidak terhalang BH langsung terpapar. Payudaraku yang montok dan kencang sedikit terlihat dengan puting susuku yang sudah mengeras karena angin pagi dan ketegangan. Joko melepaskan ciuman kami dengan benang liur tipis lalu menatap dadaku dengan mata lapar.
"Abang paling suka tetek amoy yang kayak gini.. putingnya pink bikin penasaran.. Gumamnya. Tangan kasarnya langsung meremas kedua buah dadaku bergantian dan merasakan kelembutan serta kehangatan kulit halusku. Jari-jarinya menjepit puting susu yang kecil dan pink lalu memilin pelan hingga aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan erangan.
“Abang mau nyusu sama kamu sebentar Angel” bisik Joko di telingaku dengan suara berat penuh nafsu.
Ia menunduk lalu mulutnya langsung menyedot puting kiri ku dengan rakus. Lidahnya berputar-putar menghisap kuat sambil sesekali menggigit pelan. Tangan kanannya terus meremas payudara kananku sementara tangan kirinya memegang pinggulku agar tetap berdiri tegak. Suara slurp slurp basah terdengar pelan di gang sepi itu. Aku merintih pelan dengan satu tanganku mencengkeram bahu Joko dan tangan satunya masih memegangi rok yang terangkat. Rasa malu bercampur sensasi aneh membuat tubuhku panas dingin.
Joko berganti ke puting kanan lalu melumatnya lebih rakus lagi. Ia menghisap dalam-dalam seperti bayi kelaparan dengan pipi cekung dan lidahnya menekan serta memutar puting susuku yang sudah basah dan merah. Sesekali ia menjauhkan wajah sebentar untuk melihat puting yang basah oleh air liurnya lalu kembali menyedot dengan bunyi nyaring. Matanya sesekali melirik kanan kiri gang karena ia waspada kalau ada orang yang lewat.
Tiba-tiba terdengar suara motor mendekat dari ujung gang. Joko langsung melepaskan puting susuku dengan bunyi pop pelan. Ia cepat menarik kemejaku untuk menutupi dada tapi tidak sempat mengancingkannya semua. Tubuhnya menekan aku ke tembok sehingga menyembunyikan tubuhku di balik tubuh kekarnya sambil berpura-pura memeluk. Motor itu lewat cukup dekat dan pengendaranya hanya melirik sekilas tanpa berhenti.
Joko menunggu suara motor menjauh dengan napasnya yang masih memburu. Payudaraku masih menempel di dada Joko sementara kejantanannya yang sudah keras menekan perutku dari luar celana.
“Untung nggak ada yang curiga” gumamnya sambil tersenyum licik. Tangannya kembali turun lalu meraba intimku yang kini sudah agak basah. “Lihat kamu mulai basah lagi badan kamu emang suka diperlakukan kasar ya” katanya.
Ia kembali menunduk hendak melanjutkan menyusu tapi kali ini lebih hati-hati sambil tetap melirik ke ujung gang. Joko tersenyum puas melihat reaksi tubuhku. Jarinya yang kasar dan tebal kembali mengusap bibir intimku yang sudah mulai lembab. “Basah ya meskipun kamu malu memek kecilmu jujur” bisiknya serak. Perlahan ia memasukkan satu jari tengahnya ke dalam lubang sempitku yang masih agak kaku dan sensitif. Aku menggigit bibir bawahku kuat dengan tubuhku yang menegang dan kedua tanganku mencengkeram lengan Joko.
“Uh Bang pelan” rintihku pelan. Joko mulai menggerakkan jarinya masuk keluar dengan ritme lambat tapi dalam sementara ibu jarinya sesekali menggosok klitoris kecil yang sudah membengkak. Ia menambah satu jari lagi sehingga meregangkan dinding dalamku yang hangat dan semakin licin. Suara basah slosh slosh pelan terdengar di gang sepi itu. Joko terus memompa jarinya sambil sesekali menunduk melumat puting susuku lagi dengan lidahnya yang berputar rakus di puncak dada yang sudah basah air liur.
Tubuhku mulai gemetar hebat. Pinggulku tanpa sadar bergerak maju mundur mengikuti irama jari Joko. Napasku semakin pendek. Mata sipitku setengah terpejam dan pipiku terasa panas merah padam. Sensasi panas yang kuat mulai menumpuk di perut bawahku.
“Bang ah aneh mau mau keluar” erangku pelan dengan suara gemetar hampir mencapai klimaks.
Tepat saat aku hampir mencapai puncak Joko langsung menarik kedua jarinya keluar dengan cepat. Aku mengeluarkan erangan kecewa yang tertahan. Tubuhku masih gemetar hebat. Kakiku terasa lemas dan intimku berkedut-kedut mencari pelepasan yang hilang. Cairan bening menetes pelan di paha dalamku.
“Lihat kamu sudah sange berat ya” Joko tertawa pelan sambil menunjukkan jari-jarinya yang basah oleh lendir kawinku. “Berlutut sekarang Abang mau kamu puasin dulu” perintahnya.
Aku masih terengah-engah dengan pikiran kabur karena gairah yang tertahan. Aku perlahan berlutut di depan Joko di atas tanah gang yang agak kotor. Joko duduk menyamping di jok motor Beat-nya dengan satu kakinya menapak tanah dan kaki satunya di atas motor. Posisi itu membuat celananya mudah dibuka. Ia menurunkan resleting lalu mengeluarkan kejantanannya yang sudah keras tegak besar dengan ujungnya mengkilap cairan praejakulasi.
“Masukin ke mulut kulum pelan dulu jangan gigit” perintahnya sambil memegang rambut kuncir kudaku dan menarik kepalaku mendekat.
Aku membuka mulutku yang kecil dengan ragu. Bibir tipisku menyentuh kepala penis Joko yang panas sebelum akhirnya aku mengulumnya perlahan. Mulutku yang hangat dan basah membuat Joko mendesah nikmat. “Bagus hisap lebih dalam lidahnya gerak juga” katanya. Aku mencoba menggerakkan kepalaku naik turun dengan lidahku yang polos menjilat batang tebal itu dengan kikuk. Joko memegang kepalaku lebih erat lalu mendorong pelan hingga lebih masuk ke tenggorokanku.
Beberapa menit berlalu dan suara gluck gluck pelan terdengar saat aku berusaha memuaskan Joko. Penisnya semakin berdenyut di dalam mulutku semakin keras dan panas. Joko mulai mendesah kasar dengan pinggulnya maju mundur pelan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan obrolan dua orang pelajar laki-laki yang melintas di mulut gang. Joko langsung menarik kepalaku menjauh dari penisnya. “Berdiri cepat” bisiknya tegang. Aku buru-buru berdiri membersihkan air liur di daguku dengan punggung tangan sambil menunduk. Aku cepat merapikan rok dan mengancingkan kemejaku dengan tangan gemetar. Dua pelajar itu lewat sambil mengobrol melirik sekilas ke arah kami tapi tidak berhenti.
Tubuhku masih gemetar setelah klimaks tadi. Aku melihat Joko menarik napas lega sementara penisnya masih keras dan basah oleh air liurku. Ia menatapku dengan mata penuh nafsu. Joko menunggu sampai suara langkah kedua pelajar itu benar-benar menjauh sehingga gang kembali sepi. Ia menatapku dengan napas memburu dan kejantanannya yang basah masih tegak berdenyut di depan wajahku.
“Lanjutkan” perintahnya dengan suara rendah dan tegas. “Masukin lagi Abang mau keluar di mulut kamu.
Aku masih terengah-engah dengan pipi merah padam karena malu tapi aku tak berani menolak. Dengan lutut gemetar aku berlutut kembali di depan Joko yang masih duduk menyamping di motor. Bibir tipisku yang sudah bengkak membuka lagi lalu mengulum kepala penisnya yang panas dan licin.
“Hisap lebih dalam ya seperti tadi” desah Joko sambil memegang kuncir kudaku dengan satu tangan dan mendorong kepalaku pelan agar lebih masuk. Aku berusaha menenggak lebih dalam sehingga mulut hangatku membungkus hampir setengah batang tebal itu. Lidahku bergerak kikuk di bawah permukaan penisnya sesekali menjilat urat-urat yang menonjol. Suara basah gluck gluck slurp pelan tapi jelas terdengar di gang sepi.
Joko mendesah nikmat dengan pinggulnya maju mundur pelan mengikuti irama mulutku. “Enak banget mulut Amoy polos semakin dalam Angel jangan pakai gigi” katanya. Ia mendorong kepalaku lebih kuat hingga ujung penisnya menyentuh tenggorokanku. Aku tersedak pelan dengan air mata menggenang di mata sipitku tapi Joko tidak melepaskan. Air liurku menetes deras di sepanjang batang penisnya dan menetes ke tanah.
Semakin lama gerakanku semakin teratur meski masih kaku. Joko mulai mendesah lebih kasar dengan otot pahanya yang menegang. “Akh sebentar lagi teruskan” katanya. Napasnya memburu dan tangan kirinya memegang kepalaku kuat lalu mendorong naik turun lebih cepat. Beberapa detik kemudian tubuh Joko menegang hebat. Dengan erangan rendah yang tertahan ia menyemburkan cairan panas dan kental langsung ke dalam mulutku. Semprotan demi semprotan tebal memenuhi lidah dan tenggorokanku. Aku tersedak dengan sebagian cairan lolos dari sudut bibirku karena terlalu banyak. Joko menahan kepalaku agar tetap di tempat sampai semburan terakhir habis.
“Telan telan semuanya” perintah Joko sambil masih mendesah. Aku menelan dengan susah payah dan wajahku meringis karena rasa asin serta pahit yang asing. Beberapa tetes putih masih menetes di daguku saat Joko akhirnya menarik penisnya keluar dari mulutku.
Tanpa memberi aku waktu untuk bernapas lega Joko berdiri memutar tubuhku dengan cepat lalu mendekapku erat dari belakang. Tubuh kekarnya menempel sempurna di punggungku yang mungil. Satu tangannya memeluk dadaku dari depan meremas payudara kiriku yang masih terbuka karena kancing kemeja sementara tangan kanannya langsung turun ke bawah rok.
“Giliran kamu sekarang” bisik Joko di telingaku dengan suara serak. Jari tengah dan telunjuknya langsung mengusap bibir intimku yang sudah sangat basah dan licin. Tanpa aba-aba ia memasukkan kedua jari sekaligus ke dalam liang kewanitaanku yang masih sensitif lalu mengobelinya dengan cepat dan kuat.
“Ahh Bang” erangku sambil menggigit bibir kuat sehingga tubuhku langsung mengejang. Joko menggerakkan jarinya masuk keluar dengan kecepatan tinggi sementara ibu jarinya menekan dan menggosok klitorisku tanpa henti. Suara slosh slosh slosh basah sangat jelas terdengar di gang pagi yang sepi. Payudaraku diremas kasar dari belakang dengan puting susuku yang dijepit dan dipilin.
“Kamu mau keluar kan keluar aja di pinggir jalan gini” goda Joko sambil terus mengobeli dengan cepat. Pinggulku bergetar hebat dan kakiku hampir tak kuat berdiri. Sensasi yang tadi tertahan kini meledak-ledak. Tubuhku menegang kepalaku mendongak ke belakang menyandar di dada Joko dan akhirnya aku mencapai klimaks yang kuat.
“Aaahh hiks Bang” rintihku panjang dengan suara tertahan. Tubuhku kejang-kejang hebat sehingga cairan bening hangat menyembur keluar dari intimku membasahi jari Joko dan menetes ke tanah. Joko terus memompa jarinya selama klimaks aku berlangsung sehingga memperpanjang gelombang kenikmatan yang membuatku hampir pingsan di pelukannya.
Setelah aku selesai gemetar dan lemas total Joko menarik jarinya yang basah kuyup lalu mengusapkannya ke bibirku. “Lihat kamu crot banyak banget sekolah sana tapi ingat hari ini kamu nggak pakai daleman seharian Bang tunggu kabar kamu nanti” katanya.
Aku berjalan memasuki gerbang sekolah dengan langkah goyah dan lemas. Pahaku masih terasa lengket karena cairanku sendiri yang tadi menyembur cukup banyak. Rok abu-abuku terasa sangat tipis dan dingin tanpa celana dalam sehingga setiap hembusan angin pagi membuatku merinding. Kemejaku sudah dirapikan tapi dua kancing atas masih agak longgar dan payudaraku terasa berat serta sensitif setelah diremas dan disusu tadi. Bibirku bengkak daguku sempat dibersihkan buru-buru dan mulutku masih terasa asin pahit sisa sperma Joko.
Aku berusaha berjalan normal tapi setiap langkah terasa lembab dan sensitif di area intimku. Beberapa teman perempuan menyapa biasa sehingga aku hanya bisa tersenyum tipis sambil menunduk karena takut ada yang curiga. Sepanjang pelajaran pagi hingga siang aku duduk gelisah di bangku kelas. Tanpa BH puting susuku sering menggesek kain kemeja setiap kali aku bergerak sehingga membuatku terus teringat apa yang terjadi di gang. Tanpa celana dalam aku merasa sangat telanjang dan rentan. Kursi plastik yang dingin terasa langsung menyentuh kulit intimku yang masih basah dan bengkak.
Menjelang jam pulang sekolah HP-ku bergetar diam-diam di bawah meja.
Bang Joko:
“Tar siang kita main di kelas ya sekolah udah sepi nanti kamu tunggu di kelas aja jangan pulang dulu Abang yang nyusul ke dalam.

ihiyy cocol teruss pak jokooo
BalasHapusAyo bang ojol
BalasHapus